Posts Tagged ‘wonosobo’

Mengambil Ibrah

23 September 2010

Dalam perjalanan kembali ke Jogja dari Wonosobo naik sepeda motor (setelah mendaki Gunung Sumbing), sampai Temanggung anak lanang kirim SMS: “Aduh banku bocor..!”.

Kubalas SMS-nya: “Yo wis sabar wae. Pasti ada hikmahnya… Believe me!“. Kulanjutkan SMS-ku: “Gunakan kesempatan untuk mengambil ibrah (pelajaran). Tuhan tidak sedang ‘iseng mbocori‘ ban motormu, melainkan sedang menyuruh kamu untuk berpikir… Let’s do it!”.

Yogyakarta, 17 September 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Kabut Gunung Sumbing

20 September 2010

Sore tadi anak lanang memberi kabar bahwa dia dan teman-temannya sudah turun dari puncak Gunung Sumbing dan tiba kembali ke desa terakhir di Wonosobo. Cuaca baik tapi kabutnya masya Allah, komentarnya sambil menyebut kabut “jenis baru”. Syukurlah, setidak-tidaknya bapaknya tidak perlu menyusul membawa tim SAR…”Congrats!“, bunyi SMS-ku.

Yogyakarta, 16 September 2010
Yusuf Iskandar

Enjoy Tapi Tetap Waspada

20 September 2010

Malam ini anak lanang kirim SMS, katanya sudah mulai jalan meninggalkan desa terakhir Garung, kec. Kalikajar, kab. Wonosobo. Tadi saya wanti-wanti benar: “Pertimbangkan baik-baik kondisi cuaca, jangan memaksakan diri. Jangan sampai besok bapak harus nyusul membawa tim SAR”.

“Waaaaa……”, jawabnya dengan ‘a‘ panjang.
“OK, berdoa dulu bersama…, enjoy tapi tetap waspada”, pesanku kemudian.

Yogyakarta, 15 September 2010
Yusuf Iskandar

Kupy Purwaceng

16 April 2010

Jogja seharian ini agak muram. Tansoyo sore tansoyo peteng (semakin sore semakin gelap), gerimis mengundang hujan. Woenake menikmati secangkir kupy purwaceng…, agar semangat lebih kenceng menuju masjid saat sebentar lagi panggilan maghrib mengumandang… (rupanya saya masih punya sisa kupy spesial dari Wonosobo yang namanya mau saya ganti itu…)

(Seorang teman mengoreksi, bahwa kata yang benar adalah sangsoyo, bukan tansoyo)

Yogyakarta, 11 April 2010
Yusuf Iskandar

Ramuan Purwaceng

19 Maret 2010

Ketika di Dieng, saya minum ramuan kopi purwaceng yang konon mampu meningkatkan stamina pria dewasa. Saya datangi pabriknya di Wonosobo. Setelah di Jogja, berhari-hari minum kopi purwaceng kok nggak terasa bedanya, stamina tetap datar-datar saja. Padahal tadinya saya berharap akan menjadi lebih bergairah… untuk mengangkat galon Aqua 19 liter ke atas dispenser.

Pasti ada yang salah nih! Kalau bukan kopinya, ya orang yang minumnya, atau jangan-jangan… galon Aquanya?

***

Saat berkunjung ke pabrik purwaceng, saya tanya si empunya pabrik: “Apa benar khasiat purwaceng seperti yang ditulis ini?”. Jawabnya kira-kira begini: “Banyak orang termsuk saya sudah membuktikannya, tapi setiap orang kan tidak sama, lain-lain kondisinya..”.

Woo, kalau begitu sekarang saya baru ‘ingat’, jangan-jangan saya termasuk orang yang ‘lain kondisinya’ itu. Ah! Kalau begitu nama ‘purwa-ceng’ mau saya usulkan diganti saja. Mungkin jadai ‘purwa-wes-ewes-ewes’ atau…’purwa-purwa-dalam-perahu’

Yogyakarta, 19 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Dari Wonosobo Kembali Ke Jogja

25 Februari 2010

Wonosobo – Jogja via Kertek, Sapuran, Borobudur, ditambah dengan ramuan purwaceng (ini rahasianya…), ternyata dapat diselesaikan dalam 2,5 jam lebih sedikit. Saya pikir, cukuplah… (Memangnya mau berapa jam sih?)

Yogyakarta, 23 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Sate Kambing Bang Mamat

25 Februari 2010

Turun dari Dieng menuju Wonosobo gelap bin gulita (lha wong malam, maksudnya karena jalan berkabut), berliku, menurun, untung rute ini sudah dibuka (minggu yll putus karena longsor). Tiba di Wonosobo, dilanjut dengan berburu kuliner. Selalu dan selalu… Pilihan jatuh ke sate kambing dan tongseng kambing muda Bang Mamat (Mamat ini juga bukan nama kambing), yang katanya top-markotop

(Saya mampir ke warung sate kambing Bang Mamat yang di cabang Jl. A. Yani, Wonosobo, jalan yang menuju arah ke Banjarnegara)

Wonosobo, 22 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Menuju Purbalingga

12 Februari 2010

On the way to Purbalingga from Jogja, lewat jalan pintas via Borobudur, Wonosobo, Banjarnegara, tapi lupa jalurnya…

(Seorang teman melalui Facebook, berbaik hati memberi ancar-ancar : Borobudur, Salam, sampai pertigaan ambil arah Sapuran, ati-ati di pertigaan…… perhatikan GPS-nya, Gambar Plang Seng…)

Magelang, 11 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Nyambung Mendaki Ke Gunung Sumbing

7 Januari 2010

Belum 24 jam sejak tiba dari Rinjani kemarin, pagi ini sahabat kecilku sudah minta diantar ke terminal bis, katanya mau mendaki Gunung Sumbing. Piyeeee iki…

(Gunung Sumbing berlokasi di selatan kota Wonosobo, Jawa Tengah, berketinggian sekitar 3371 mdpl).

Yogyakarta, 5 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono

9 Februari 2009

Sebenarnya jarum jam masih belum memukul angka tujuh, tapi cuaca pagi di Wonosobo sepertinya masih sangat pagi. Sang mentari rada kesulitan menebar lepas cahayanya karena terhalang awan pagi pegunungan. Saat sedang menikmati sruputan secangkir kopi, pandangan saya terpancing menoleh ke luar rumah karena terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil : “Megono……, megono……”. Saya pikir, itu suara seorang ibu yang sedang mencari anaknya yang tadi lari kabur masih telanjang ketika sedang dimandikan dengan air sumur yang dingin.

Rupanya pikiran saya yang kelewat kotor. Ibu paruh baya bergaun hijau kusam yang sedang berjalan melenggang sambil menggendong bakul atau tenggok itu sedang menjajakan menu sarapan pagi. Nasi megono, nama makanan yang dijajakannya.

Menu sarapan pagi nasi megono sepertinya sudah menjadi bagian keseharian warga masyarakat Wonosobo. Mereka layak membanggakan hal itu. Ungkapan yang pas untuk menggambarkan suasana ini adalah : “Serasa belum sarapan kalau belum menyantap nasi megono”, atau lebih ekstrim lagi dikatakan “tiada hari tanpa nasi megono”. Menu yang hampir sama racikannya sebenarnya juga ada di daerah Pekalongan dan Temanggung, meski agak beda komponen produknya.

Penjual nasi megono banyak dijumpai di pinggir atau sudut-sudut kota Wonosobo setiap pagi hari. Para pegawai, pelajar, buruh dan umumnya masyarakat Wonosobo pun bisa membekali perutnya sebelum pergi meninggalkan rumah dengan praktis dan berbiaya murah. Sebungkus nasi megono yang dibungkus daun pisang berlapis kertas seadanya bisa diperoleh dengan pengganti uang Rp 500,- sampai Rp 1.000,- tergantung takaran dan menu tambahannya.

Citarasa masakan setiap orang pasti tidak sama meskipun racikan bumbunya sama, maka biasanya setiap orang sudah memiliki bakul favoritnya masing-masing. Seperti keluarga teman saya yang tinggal di kawasan dusun Karangkajen, desa Wonosobo Timur, juga sudah punya langganan bakul nasi megono (atau terbalik, bakul nasi megono yang punya pelanggan keluarga teman saya….). Masakan nasi megono Bu Peno terasa lebih pas di lidah. Setiap pagi Bu Peno yang berparas ayu seperti dawet Banjarnegara, selalu menyempatkan mampir ke rumah teman saya itu untuk menjajakan nasi megono. Maka Bu Peno yang pagi itu tampil lugu dan sportif dengan lilitan kain kebaya agak nyingkrang (tampil sportif tidak harus dengan berkaus ketat plus celana pendek oleh artis sinetron) pun dengan sigap bak satpol PP siap beroperasi, membongkar bakul atau tenggok-nya dan segera membungkus nasi megono sebanyak yang dipesan.

Kopi secangkir yang belum sempat saya habiskan segera saya tinggalkan, lalu gantian membedah bungkusan nasi megono bikinan Bu Peno. Sepiring tempe kemul yang masih panas kebul-kebul, dilengkapi setoples peyek teri pun menemani sarapan pagi dengan nasi megono. Hmmm….. nikmat benar (mengingatkan saya akan sarapan pagi dengan gudangan yang dibeli di pasar Sentul Jogja). Nasi megono yang masih hangat, sepertinya pas benar dilahap sebagai sarapan pagi di kala udara Wonosobo yang masih dingin.  

Sebungkus nasi megono yang tampilan warnanya semburat kecoklatan itu sepintas memang telihat kurang membangkitkan nafsu makan. Tapi bersabarlah sedikit, hirup aroma wanginya, sempatkan menelisik komponen produknya, lalu cicipi sedikit demi sedikit. Maka itu adalah hasil pencampuran nasi dan sayur-mayur antara lain daun pepaya dan polong atau kol hijau yang dirajang kecil-kecil, diramu dengan parutan kelapa muda, dan dimasak bersama-sama dengan cara dikukus atau orang Jawa menyebutnya di-dang. Hasilnya adalah nasi megono yang gurih dan hoenak, beraroma merangsang selera dan nyamleng tenan…..

Mengunyah dan menelan nasi megono, diselang-seling dengan menggigit tempe kemul (tempe goreng yang dibalut dengan adonan tepung terigu dan tepung beras ditambah sedikit kunyit dan rempah penyedap) dipadu dengan kriuk-kriuk peyek teri, adalah sebuah pengalaman menyantap sarapan pagi yang sungguh nikmat. Sebuah tradisi sarapan pagi yang perlu dipertahankan. Bukan saja mengandung nilai nostalgia bagi mereka warga Wonosobo yang sudah tua atau kini merantau di tanah seberang, melainkan juga lebih sehat dan bergizi alami.

Di Temanggung ada juga nasi gono atau sego gono. Mirip-mirip nasi megono, tapi campurannya lebih bervariasi dan biasanya berbumbu pedas. Dulu banyak dijumpai saat tiba musim panen, menjadi bekal makan para petani saat harus seharian berada di sawah. Entah sekarang apa masih menjadi tradisi atau sudah berganti.

Di Pekalongan juga ada nasi megono yang nasinya berupa nasi liwet yang disajikan terpisah dengan sayur-mayur semacam urap. Sayurnya pun biasanya berupa buah nangka muda atau gori yang dirajang agak kasar, lalau dikukus bercampur parutan kelapa muda dan bunga kecombrang. Makanya lebih beraroma wangi dan (juga) sedap. Sajian komplit nasi megono Pekalongan bisa merupakan perpaduan dengan nasi putih, dan bisa juga dinikmati bersama menu pelengkap berupa tumis tauco, sayur lodeh, sambal kering tempe, balado telor, ikan asin dan lalapan mentimun.

Sajian nasi megono Wonosobo agaknya lebih sederhana tapi gurih dan numani (membuat ketagihan). Karena itu, sebaiknya jangan lewatkan menikmati nasi megono jika sempat menjumpai suasana pagi hari dan kebetulan pas berada di kota Wonosobo.

Yogyakarta, 9 Januari 2009
Yusuf Iskandar

Belum Ke Wonosobo Kalau Belum Makan Mie Ongklok

8 Februari 2009

img_1692_r3Ketika Anda berkunjung ke kota Wonosobo, Jawa Tengah, tidak perlu heran kalau kemudian ada yang berkata kepada Anda : “Belum ke Wonosobo kalau belum makan mie ongklok”. Inilah tag line kebanggaan masyarakat Wonosobo ketika ada teman atau koleganya yang bertamu ke kotanya. Kebanggaan yang memang seharusnya ada dan dimiliki oleh setiap wilayah di mana pun. Intinya tentu saja berpromosi.

Andai setiap kota atau wilayah di Indonesia memiliki tag line yang semodel itu, lalu pesankan kepada warganya, termasuk yang sedang berada di perantauan untuk mengenalkan potensi daerahnya masing-masing. Maka kota itupun akan semakin dikenal dan dipenasarani oleh orang lain. Terutama dengan adanya sesuatu yang khas dari kota itu dan lebih terutama lagi kalau itu menyangkut makan atau pengalaman kuliner. Tak terkecuali kota Wonosobo.  

Merasa tertantang dengan tag line Wonosobo dengan mie ongkloknya, Sabtu dini hari yang lalu sekitar jam 1:00 saya berangkat dari Jogja menuju Wonosobo (dasar enggak ada kerjaan….!). Waktu tidur dikorbankan demi sebuah tantangan agar dibilang sudah pernah ke Wonosobo. Perkara kemudian di sana ada peluang bisnis yang dapat dikerjakan, maka itu menjadi bagian cerita berbeda. Seingat saya sudah beberapa kali saya singgah ke kota nan cantik dan indah bak negeri di atas awan yang terletak di kaki selatan pegunungan Dieng dan berada di lereng gunung Sindoro dan Sumbing, tapi masak dibilang belum pernah ke Wonosobo.

***

img_1691_r2Mie ongklok Wonosobo memang khas dan jenis makanan ini sudah merakyat sejak jaman dulu kala. Sepertinya tidak saya temukan di kota lain. Kalau makanan mie-miean banyak di mana-mana, tapi yang ongklok-ongklokan rupanya hanya ada di Wonosobo.

Sebenarnya tidak sulit menemukan penjual mie ongklok di Wonosobo, sama seperti mencari penjual mie atau bakmi di setiap pelosok nusantara. Namun ada beberapa lokasi penjual mie ongklok yang sudah kesohor punya nama dan banyak disebut-sebut penggemar wisata kuliner. Di antara yang sudah punya nama itu adalah mie ongklok pak Muhadi di Jl. A. Yani dan mie ongklok Longkrang di Jl. Pasukan Ronggolawe.

Mie ongklok Pak Muhadi sebenarnya lebih terkenal. Namun sejak dikelola oleh generasi penerusnya, konon kini taste-nya sudah agak berbeda dengan ketika dulu masih ditangani (benar-benar diracik dan dilayani sendiri dengan tangannya) Pak Muhadi. Cerita ini mirip-mirip bakmi Kadin Jogja yang sekarang juga dikelola oleh generasi keduanya, sehingga terasa kurang “punya taste“, tak lagi se-mak nyus dulu ketika masih digemari oleh almarhum pak Harto atau kerabat Kraton Jogja.

Pilihan lalu diarahkan ke mie ongklok Longkrang yang warungnya biasanya buka menjelang sore hingga malam hari. Longkrang bukan nama orang, melainkan nama desa dimana rumah makan mie ongklok ini berada. Lokasinya mudah dicapai, tidak sampai 1 km dari alun-alun kota Wonosobo menuju ke utara arah Dieng, kemudian belok kanan. Tampilan mukanya sangat sederhana, nyaris menyerupai rumah tinggal kalau bukan karena di depannya terpasang spanduk warna kuning muda (sudah kusam maksudnya).

img_1694_r1

Mie Ongklok Longkrang

Tidak perlu waktu lama untuk menunggu semangkuk mie ongklok disajikan, tidak seperti kalau pesan bakmi goreng atau rebus yang harus dimasak dulu. Segumpal mie kuning ditambah irisan kol dan daun kucai mentah dimasukkan ke sebuah wadah menyerupai saringan, lalu direndam ke dalam kuah panas berkaldu ayam. Proses pematangan campuran mie dan sayuran itu dilakukan sambil di-ongklok-ongklok atau di-opyok-opyok di dalam kuah panas. Begitulah, maka disebut mie ongklok.

Setelah dirasa agak matang, lalu dituang ke dalam mangkuk dan ditambah dengan bumbu penyedap. Setelah itu disiram dengan kuah kental berwarna kecoklatan campuran adonan kanji (tepung tapioka) dan ebi (udang kering), lalu diguyur dengan sambal kacang. Terakhir ditaburi bawang goreng sebelum disajikan. Tampilan akhir sajian mie ongklok ini memang kurang menggairahkan, seonggok mie yang dilumuri kuah kental jadi terlihat nglentrek-nglentrek……, berkuah nyemek kental kecoklatan, gimana gitu….

Baiknya langsung saja diaduk agar bumbu, kuah kental dan sambal kacangnya merata di saat masih fanas (saking panasnya). Tapi sebelum itu cobalah untuk mencicipi sedikit kuah kentalnya dulu, lalu rasakan sambal kacangnya, baru kemudian diaduk. Jika suka pedas, campurkan cabe rawit yang sudah digerus dengan sendok di dalam mangkuk, begitu cara membuat sambalnya. Lalu rasakan sensasi nglentrek-nglentrek-nya dan nikmati citarasa khas kelezatan mie ongklok yang semangkuknya dihargai Rp 4.000,- ini.    

img_1695_tempe-kemul

Tempe Kemul

img_1693_geblek2

Cireng (Leko atau Geblek)

Menu pendamping untuk menikmati mie ongklok adalah leko atau cireng (aci goreng) yang berupa gorengan tepung beras gurih dan enak berwarna putih. Makanan ini juga disebut geblek (huruf ‘e‘ kedua dibaca seperti pada kata ‘imlek”). Barangkali karena bentuknya menyerupai geblek (dalam bahasa Jawa geblek berarti pemukul) kasur jaman dulu sewaktu kasur masih terbuat dari kapuk dan perlu dijemur seminggu-dua minggu sekali agar mengembang, menghalau bau apek dan mengusir tinggi (bahasa Jawa tinggi berarti kutu busuk, yang kalau di-pithes bau busuknya minta ampun….., sekarang binatang tinggi ini layak tergolong binatang langka yang tidak perlu dilindungi…..).

Selain dimakan dengan cireng atau geblek, mie ongklok perlu ditemani menu asesori tambahan yaitu sate sapi berbumbu sambal kacang dan tempe kemul (dalam bahasa Jawa kemul berarti selimut), yaitu tempe goreng yang dibungkus dengan adonan tepung. Maka ketika semangkuk mie ongklok disanding dengan cireng, tempe kemul dan sate sapi, bersiaplah untuk bingung mau dimakan apanya dulu…. “Habis semuanya terlihat enak sih……”, begitu pembelaan dalam hati. Jika jalan keluarnya kemudian adalah mencampur semuanya ke dalam satu mangkuk pun bukan soal. Sebab citarasanya tetap enak dan nyemmm….  (hanya sebaiknya Anda duduk agak menyudut agar tidak disenyumi pembeli lain….).

Menilik sajian mie ongklok plus menu pelengkap yang seakan menggunung di dalam mangkuk, maka memang cocoknya mie ini dinikmati saat sedang lapar berat. Kalau kemudian saya sukses menghabiskan dua mangkuk mie ongklok termasuk menu pelengkapnya, itu karena makan siangnya agak terlambat alias sedang lapar berat itu tadi. Dan yang penting, ada bukti lebih dari cukup bahwa saya sudah ke Wonosobo….

Yogyakarta, 8 Januari 2009
Yusuf Iskandar

NB :
Terima kasih untuk mas Hadi Kuntoro (pemilik usaha selimut Jepang Hasuko) dan mas Yoyox Sancoyo (distributor baju muslim Rabbani) yang telah menjerumuskan saya hingga akhirnya saya benar-benar telah ke Wonosobo.

Saya (berkacamata), Hadi Kuntoro dan Yoyox Sancoyo

Dari kiri ke kanan : Saya (berkacamata), Hadi Kuntoro dan Yoyox Sancoyo

Cireng alias geblek...., hmmm enaaak....

Cireng alias geblek...., hmmm enaaak....

Bersama keluarga mas Hadi dan mas Yoyox
Bersama keluarga mas Hadi dan mas Yoyox