Archive for April, 2008

Nasi Tumpang, Bosok Tapi Nendang

18 April 2008

Kepingin makan nasi pecel? Tidak sulit untuk menemukan tempatnya. Campuran sayur-mayur yang diguyur dengan sambal kacang lalu ditambah kerupuk atau peyek, tahu atau tempe, sebagai asesori tambahannya, banyak dijual dan menyebar hampir di setiap kota. Cari saja warung nasi pecel.

Lain halnya kalau mau mencoba makan nasi sambal tumpang atau biasa disebut nasi tumpang saja. Ke kota Kedirilah tempatnya. Bahan dasarnya nyaris sama, yaitu sayur-mayur. Akan tetapi di kota Kediri tempat asal nasi tumpang, varian sayurnya biasanya tertentu, yaitu daun pepaya, buah pepaya muda yang diiris kecil-kecil, kecambah dan terkadang ada tambahan mentimun. Yang beda adalah sambalnya, yang disebut dengan sambal tumpang.

Sepintas sambal tumpang ini mirip sambal pecel, tapi sebenarnya beda. Tidak menggunakan tumbukan kacang melainkan tempe bosok (busuk) yang rasa dan aromanya agak semangit (sangit). Hanya saja busuknya tempe ini bukan sebab tempe basi atau sisa yang sudah beberapa hari tidak laku dijual, melainkan memang sengaja dibusukkan (seperti kurang kerjaan saja…., bukannya makan tempe segar malah ditunggu setelah busuk baru dimasak). Inilah salah satu kekayaan budaya permakanan Indonesia. Anehnya, justru cita rasa semangit yang diramu dengan kencur, serai, daun salam, daun jeruk, bawang merah-putih dan santan, itulah yang diharapkan mak nyusss….

Bagi kebanyakan masyarakat Kediri dan sekitarnya, menu nasi tumpang ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai bekal sarapan pagi yang murah, meriah, bergizi dan hoenak tenan…. Warung nasi tumpang dapat dengan mudah dijumpai di banyak tempat di kampung-kampung atau di pinggir-pinggir jalan. Mirip warung-warung gudeg saat pagi hari di Jogja. Harga sepincuk nasi tumpang cukup murah wal-meriah, sekitaran Rp 2.000,- per porsi kecil.

***

Sarapan nasi tumpang….. membangkitkan kembali ingatan masa kecil hingga muda saya, sewaktu saya masih sering mengunjungi rumah nenek di Kediri. Mbah saya yang tinggal di kampung Banjaran ini setiap pagi buta beliau sudah kluthikan (bersibuk-sibuk) di dapur saat yang lain masih terlelap, untuk persiapan jualan nasi tumpang di depan rumah kecilnya saat matahari menjelang terbit.

Pelanggannya ya para tetangga sendiri, terutama para pegawai dan buruh yang hendak berangkat ke tempat kerja atau pelajar yang mau berangkat ke sekolah. Orang-orang tua, muda, anak-anak, silih berganti dan rela ngantri membeli nasi tumpang barang sepincuk dua pincuk (wadah daun yang berbentuk corongan lebar). “Ritual” pagi ini berlangsung dalam suasana semanak (penuh kekeluargaan), sambil becanda dan saling berbagi cerita ringan keseharian tentang apa saja. Ah, indah sekali….! Khas kehidupan keseharian para akar rumput dalam suasana penuh guyub, guyon, gayeng…..

Simbah memang sudah meninggal enam tahun yll. Namun saat-saat indah bersama simbah itu sepertinya masih lekat di ingatan, setiap kali saya berkunjung ke Kediri. Sebuah kenangan sederhana yang begitu terasa mengesankan…..

Masih terbayang bagaimana simbah meladeni saya dan cucu-cucunya yang lain dengan sabar dan telaten. Menyiapkan nasi tumpang yang disajikan dalam pincuk daun pisang made-in mbah saya sendiri. Lebih khas lagi, masih ada asesori peyek kacang atau ikan teri yang digoreng sendiri, berukuran kecil-kecil dan bentuknya tidak beraturan tapi berasa gurih dan kemripik. Hingga enam tahun yang lalu ketika simbah masih sugeng (hidup), beliau masih suka mengirimi anak dan cucunya sekaleng biskuit kong guan merah berisi peyek kacang dan teri.    

***

Kini, setiap kali saya ke Kediri, menu nasi tumang nyaris tidak pernah saya lewatkan. Rasanya yang khas dengan sambal tempe bosok yang sama sekali tidak terkesan sebagai makanan busuk, bahkan nendang tenan sensasi semangit-nya…..

Seperti seminggu yang lalu saya berkunjung ke Kediri. Meski bukan saat pagi hari, tapi tetap saja yang pertama saya cari adalah nasi tumpang. Salah satu warung nasi tumpang yang cukup dikenal adalah nasi tumpang Bu Wandi yang berada di bilangan jalan Panglima Polim. Warung ini adalah cabang dari warungnya yang sejak lama ada di kawasan Pasar Paing.

Porsi sepiring nasi tumpang Bu Wandi cukup banyak. Tambahan berupa beberapa lembar peyek yang berukuran setelapak tangan orang dewasa semakin melengkapi kekhasan menu ini. Jika kurang lengkap, bisa ditambah dengan gorengan tahu kuning yang diceplus dengan cabe rawit. Sedangkan sambal tumpangnya sendiri biasanya memang sudah cukup pedas.

Tidak puas dengan satu porsi, saya pun masih nambah dengan seporsi lagi sayur dan sambal tumpangnya thok, tanpa nasi. Pokoknya benar-benar puas, puas, puas….. setelah sekian lama tidak menikmati menu ini. Bahkan anak saya yang sebenarnya kurang suka makan pecel saja bisa menghabiskan seporsi nasi tumpang Bu Wandi dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Enak, katanya.

Sesekali di Jogja saya meminta ibunya anak-anak untuk membuatkan sambal tumpang. Tapi ternyata memang semangitnya tempe Jogja yang dibusukkan sendiri, berbeda dengan yang saya rasakan di Kediri.

Ke Kediri aku kan kembali, menikmati nasi tumpang yang benar-benar membuat kenyang dan nendang sensasi semangit tempe bosok-nya…..

Yogyakarta, 18 April 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Bebeknya Bu Suwarni Prambanan, Enak Dibacem Dan Perlu

18 April 2008

Sekali waktu berkunjunglah ke Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sekitar satu kilometer sebelum mencapai Prambanan dari arah Solo atau kalau dari arah Jogja sekitar satu kilometer setelah candi Prambanan, membelok ke selatan menuju ke stasiun Prambanan. Di jalan depan stasiun ke arah barat, sebelum belok melintas persimpangan rel kereta api, di pojok kanan ada sebuah warung makan yang cukup terkenal. Namanya Rumah Makan Bu Suwarni.

Menu utama warungnya Bu Suwarni ini adalah menu bebek-bebekan, terutama bebek goreng dan soto bebek. Bagi penggemar rasa khas daging bebek, warung ini layak dipertimbangakan untuk menjadi pilihan. Bebek gorengnya yang dibumbu bacem, terasa benar bacemannya. Baceman khas Jogja dengan rasa manis yang agak kuat. Bumbu bacemnya merasuk hingga menyentuh bagian paling dalam dari daging bebek yang tekstur seratnya lebih kentara dibanding daging ayam.

Kalau kurang suka dengan bebek goreng bumbu bacem khas Jogja, masih ada pilihan soto bebek. Soto bebeknya Bu Suwarni memang beda. Kalau umumnya daging bebek digoreng, dibakar, atau dipanggang, maka soto bebeknya miraos tenan…. Dari sruputan kuahnya sudah terasa kaldu daging bebeknya. Sotonya sendiri tidak jauh beda dengan ramuan soto ayam. Ada campuran tauge kecil (untuk membedakan dengan umumnya tauge yang ukurannya besar), irisan kol dan loncang (daun bawang), ditambah irisan ampela bebek, lalu diguyur kuah soto berkaldu bebek. Khas sekali rasanya.  

Warung makan Bu Suwarni ini memang tipikal bisnis keluarga. Sejak berdiri lebih 25 tahun yang lalu, manajemen warung ini tidak jauh-jauh dari sentuhan keluarga besarnya. Bahkan semua pelayannya adalah juga masih ada hubungan kekeluargaan. Hingga kini warung bebek-bebekan ini sepertinya tak goyah oleh aneka badai ekonomi. Tetap beroperasi dan bahkan semakin berkibar.

Dulu-dulunya, warung Bu Suwarni hanya menempati petak kecil di pinggiran jalan raya Prambanan. Sejak tahun 1987, bu Suwarni yang berasal dari dukuh Pereng, Prambanan, pindah ke dalam. Ya, di jalan stasiun barat itu hingga sekarang. Tahun 2006 sewaktu terjadi gempa Yogya, dimana sebagian Prambanan termasuk wilayah yang cukup parah terkena gempa, Rumah Makan Bu Suwarni pun roboh. Kini bangunan warungnya nampak jauh lebih representatif, seiring dengan perkembangan usahanya.

Melihat keberhasilan warungnya bu Suwarni berbisnis menu bebek pada saat ini hingga rata-rata menghabiskan 50 ekor bebek per harinya, terbayang bagaimana gigihnya sosok bu Suwarni muda ketika memulai membuka warung makan bebek goreng. Tentu dengan kondisi yang sangat sederhana pada masa itu. Kalau kini usia bu Suwarni sekitar 47 tahunan, berarti bu Suwarni masih berusia sekitar 21 tahun ketika memulai bisnis ini pada tahun 1982.    

Kita sering “terjebak” hanya melihat ujung dari perjalanan hidup seseorang ketika kesuksesan sudah diraih. Tapi kita sering alpa melihat dan mempelajari bagaimana jatuh-bangunnya sesorang dalam merintis, mengembangkan, mempertahankan dan akhirnya menjaga prestasi usahanya. Bu Suwarni layak menjadi sebuah cermin bagi semangat enterpreneurship di jaman kini. Istilah kewirausahaan yang pada masa itu belum dikenal orang, kecuali sekedar bagaimana bertahan hidup dengan cara yang halal dan barokah. Tipikal cara berpikir orang-orang desa yang lugu dan tidak neko-neko. Kalau akhirnya semangat bertahan hidup itu mampu memberikan hasil yang lebih dari cukup, maka itu adalah berkah dari kerja kerasnya selama meniti masa-masa sulit sekian tahun yang lalu.

***

Sebelum meninggalkan warungnya bu Suwarni, saya sempatkan untuk melongok dapurnya dan memesan seekor bebek utuh tanpa kepala untuk di bawa pulang. Saya baru tahu kalau beli bebek utuh rupanya tidak termask kepalanya seperti halnya kalau beli seekor ayam utuh. Tapi, apalah artinya sepenggal kepala bebek (sedang kepala-kepala yang lain saja kita sering tidak perduli) jika dibandingkan dengan kepuasan menyantap sepotong bebek goreng dan semangkuk soto bebek yang rasanya khas dan miraos (enak) dengan ganti harga yang wajar.

Bebeknya bu Suwarni, memang enak dibacem dan perlu (perlu dicoba maksudnya).  

Yogyakarta, 6 April 2008 
Yusuf Iskandar

Sambal Bawangnya Bu Santi Di Babarsari Jogja

18 April 2008

Usai membereskan SPT pajak yang lumayan menyita waktu dan pikiran. Ya maklum, meskipun sebenarnya mudah (apalagi selama ini tidak pernah mengurus pelaporan pajak sendiri), tapi pengalaman pertama selalu berarti petualangan baru. Sialnya, pengalaman pertama ini selalu terjadi (karena tidak ada manusia lahir kok ujug-ujug sudah berpengalaman).

Lalu muncul ide untuk mencari makan siang yang memberi sensasi beda. Pilihan jatuh ke rumah makan Bu Santi di dekat pertigaan Jl. Babarsari – Seturan, Jogja. Di sana ada menu ikan sederhana dengan sambal bawangnya yang khas dan pedas.

Warungnya kecil dan tidak terlihat jelas dari luar. Lokasinya strategis, nyaris tepat di pojok pertigaan jalan yang selalu padat. Saking strategisnya sehingga terkadang jadi sulit memperoleh tempat parkir untuk mobil. Hanya selembar spanduk bertuliskan “Rumah Makan Sambal Bawang Yang Asli Bu Santi” yang dipasang tepat di depan warung selebar empat meteran, menandai adanya warung ini. Rasanya, setiap orang di kawasan ini pasti tahu dimana lokasi warung makannya Bu Santi.

Membaca tulisan spanduknya saya menyimpulkan bahwa berarti selama ini banyak rumah makan sejenis yang tidak asli, tentu maksudnya adalah menyontek kesuksesan menu sambal bawang bu Santi. Dalam bisnis, sah-sah saja.

Meski dari luar tampak kecil, tapi rupanya di bagian dalamnya meluas. Ruangan berukuran sekitar 15 m x 12 m itu terbagi menjadi ruangan bermeja-kursi, sebagian ruang untuk lesehan dan dapur terbuka dengan lebih 15 kompornya yang non-stop siap melayani para pencari makan. Warung ini menyediakan menu ikan dan ayam sebagai menu utamanya, dilengkapi dengan sayur asam dan tentu saja lalapan plus sambal bawangnya yang terkenal di kalangan mahasiswa yang kampusnya berada di seputar Seturan, Babarsari, Condong Catur, Jogja.

Masuk warung langsung pesan ikan bawal dan udang goreng garing, sayur asam dan ceker ayam bumbu rica-rica. Sepertinya sudah tidak sabar untuk segera melahapnya.

***

Dua macam nasi putih tersedia, tinggal pilih mau nasi putih biasa atau nasi uduk. Boleh mengambil sesukanya dan sekenyangnya karena sudah menjadi satu dengan harga yang dibayar untuk setiap porsi makan. Agaknya ada juga pengunjung yang memanfaatkan “peluang bisnis” dari kebebasan mengambil nasi ini. Indikasinya, saya melihat tulisan besar yang terpasang di dinding yang berbunyi : “1 porsi lauk untuk 1 orang”. Barangkali ada juga pengunjung yang datang untuk romantis-romantisan dengan sepiring berdua. Ngirit maksudnya. Pesan satu porsi lauk lalu mengambil nasi uduk sesukanya bersama temannya.

Pertama yang saya sukai di warung ini adalah konsep cepat saji, maksudnya pelayanan penyajiannya cepat. Pelanggan tidak dibiarkan berlama-lama menelan ludah karena menunggu pesanan. Sementara bau ikan dan ayam goreng plus sambal bawangnya menyebar dari dapur terbukanya.    

Begitu pesanan tersaji, secepat kilat bawal goreng garing yang masih panas segera saya cuwil, saya sobek-sobek….., lalu saya cocolkan ke sambal bawangnya dan …. nyem…nyem…nyem…. Aroma dan rasa bawangnya benar-benar nendang. Menu utama warung ini memang hanya cocok bagi mereka yang menyukai aroma bawang putih. Sebab di warung ini hanya tersedia satu macam sambal saja, yaitu cabe rawit hijau yang ditumbuk halus dengan aroma kuat bawang putih. Satu hal lagi, hanya ada satu ukuran tingkat kepedasannya. Maka bagi orang seperti saya yang tidak tahan pedas, mesti diakali dengan mencocol sambalnya jangan terlalu banyak dan itupun lalu dicampur kecap manis.

Sebagai penggemar rempah bawang putih, menu bu Santi ini benar-benar pas di selera saya. Udang goreng garingnya juga kemriuk kriuk… kriuk…  ketika dimakan habis sekulit-kulitnya, sekepala-kepalnya, sekaki-kakinya. Tentu saja rada megap-megap kepedasan. Namun, citarasa sedap sambal bawangnya seakan mengalahkan rasa pedasnya. Sampai-sampai keringat mulai membuat gatal di kepala….

Untuk menetralisir pedasnya sambal, segera saya sruput kuah sayur asam. Cilakak dua belas, ternyata sayur asamnya juga pedas. Sayur asam yang berasa nano-nano…., asam, manis, asin, dengan komposisinya kacang panjang, jipang (labu siam), terong, jagung dan irisan cabe rawit. Berhubung rasanya pas dan hoenak tenan…, apa boleh buat, terpaksa dihabiskan juga. Cuma mesti agak hati-hati jangan sampai keceplus mengunyah irisan cabenya. Cara memasak kacang panjangnya yang setengah matang rupanya memberi sensasi kemrenyes ketika digigit. Ini ilmu baru ang saya peroleh tentang memasak sayur asam.

Berhubung tersedia dua macam nasi putih, maka keduanya perlu dicoba. Sepiring pertama habis dengan nasi uduk, maka yang kedua nambah dengan nasi putih biasa. Lha wong mengambil nasinya bebas….

Pada bagian akhir, potongan kecil-kecil telapak kaki ceker ayam bumbu rica-rica lumayan menghibur sebagai makanan penutup. Yang saya maksudkan menghibur adalah karena tidak terlalu pedas, melainkan hanya agak repot nithili…. , menggigit dan mengelupas kulit tipis yang menyelimuti ruas-ruas jari kaki ayam.

Warung bu Santi kelihatannya memang didesain untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa yang banyak tinggal di lingkungan Babarsari – Seturan. Harganya relatif murah untuk rasa masakan yang lumayan enak terutama paduan sambal bawangnya.

Meskipun demikian, untuk tujuan berekreasi makan-makan bersama keluarga, lokasi dan suasana warung ini kurang representatif. Tetapi untuk tujuan berpetualang makan-makan, warung ini sekali waktu perlu dicoba. Warung milik bu Santi yang asal Muntilan dan sehari-harinya diawasi oleh putrinya ini, 16 orang awaknya siap melayani para petualang kuliner dari jam 10 pagi hingga dini hari jam 1 atau jam 2. Dua baskom sambal bawang pedas pun menunggu untuk dihabiskan.

Maka, jika tujuannya adalah mencari kenikmatan dari berpetualang makan-makan, kiranya perlu memperhatikan jam-jam padat di rumah makan bu Santi ini, yaitu biasanya pada saat waktu makan malam. Saat para mahasiswa mengisi perut menjelang belajar di kost-nya (tentu saja yang belajar, yang tidak belajar lebih banyak lagi…. ).

Yogyakarta, 29 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Udangnya Mang “Engking”

17 April 2008

Ini cerita soal makan, hasil perburuan selama cuti ke Yogya musim libur kenaikan kelas kemarin. Siapa tahu dapat menjadi alternatif bagi mereka yang hendak berlibur atau ada perjalanan bisnis ke Yogya. Bosan dengan menu yang ada di dalam kota? Maka cobalah sedikit ke luar kota. Tepatnya di desa Sendangrejo, kecamatan Minggir, Sleman. Di sana ada banyak tambak udang galah yang di sekitarnya dibangun pondok-pondok atau gubuk-gubuk tempat makan. Salah satunya, dan yang menjadi pelopor bisnis ini adalah Pondok Udang Mang “Engking” (menilik namanya, pasti asal Jawa Barat).

Sebut saja Pondok Udang di Minggir, Godean, maka orang akan dengan mudah menemukan lokasinya. Setidak-tidaknya kalau sudah sampai Godean, tanya orang di pinggir jalan pasti tahu. Berjalanlah (pakai motor atau mobil tentunya, jangan sekali-kali jalan kaki) dari Yogya menuju Godean. Lanjutkan sedikit ke barat kira-kira 1,5 km akan ketemu perempatan, lalu belok kanan menuju arah Tempel. Terus ke utara sekitar 4-5 km, akan terlihat banyak tambak-tambak udang di antara areal persawahan di pinggir jalan ini. Paling tidak ada lebih 7 lokasi pondok makan di kawasan ini, tinggal pilih mau makan di pondok mana. Tapi mempertimbangkan bahwa Mang Engking adalah pelopor usaha perudangan di daerah ini, maka saya cari-cari tulisan Mang Engking di sisi kiri jalan. Begitu ketemu, lalu belok kiri masuk ke jalan kecil belum beraspal. Inilah satu-satunya jalan termudah menuju lokasinya Mang Engking, hanya beberapa ratus meter saja dari jalan aspal Godean – Tempel.

Namun jika Anda kesana hari Sabtu atau Minggu pas jam makan siang, bersiap-siaplah untuk agak kerepotan memasuki jalan ini, saking banyaknya mobil-mobil (banyak juga berplat nomor luar kota) keluar-masuk atau berebut parkir di jalan tanah pinggir sawah atau tambak. Asyik. Berikutnya cari pondok yang kosong. Ada sekitar 7 pondok dengan beberapa meja di dalamnya. Jika kebetulan lagi penuh, maka harap sabar mengantri. Asyik lagi, bisa kepanasan.

Setelah duduk, pesan makanan dengan berbagai pilihan menu ikan air tawar, selain menu utamanya udang galah. Bisa direbus, digoreng atau dibakar. Sekilo udang galah harganya Rp 70.000,- Jika khawatir terlalu banyak dan biar menunya merata, bisa “diakalin”, pesan saja udang, ikan bawal dan ikan nila masing-masing seperempat kilogram. Atau, pesan sekilo tapi terdiri dari dua atau tiga atau empat macam ikan. Tinggal terserah mau dimasak bagaimana. Bumbu asam-manis adalah salah satu yang bisa membuat ngelek idu (menelan air liur). Jangan lupa, tumis kangkung dan sambal terasinya uenak tenan. Lalu tunggu sebentar, terkadang ya agak lama juga. Asyik lagi, menanti disajikan.

Perut lapar, makan udang goreng, di atas tambak, anginnya semilir, perut kemlakaren (kekenyangan), malas berdiri (asal jangan malas bayar, saja….). Wis to, yang ini huaaasyik tenan.

***

Lebih duapuluh tahun yang lalu Mang Engking Sodikin boro dari Ciamis ke Yogya, lalu merintis usaha tambak udang galah di kecamatan Minggir, tidak jauh dari Kali Progo, dekat dengan selokan Mataram. Selama itu ya biasa-biasa saja, pasang-surut bisnis tambak udang dialaminya. Di atas tambak didirikannya pondokan tempat Mang Engking istirahat kalau capek ngurus tambaknya. Sekitar tiga tahun yang lalu, pondoknya diperbaiki, lalu ngiras-ngirus sambil jualan udang untuk konsumsi pembeli eceran. Kata Bu Engking (yang ini pasti istrinya Mang Engking), ketika saya tanya sejak kapan mulai usaha ini?. Jawabnya dengan logat Sunda yang masih kentara, kira-kira begini : pondoknya sih dibangun sejak 3-4 tahun yang lalu, waktu itu yang beli udang paling-paling sebulan hanya 1-2 orang saja.

Lha, kok lama-lama pembelinya semakin banyak, malah seringkali ada “orang-orang kota” yang minta dimasakkan sekalian dan dimakan di situ. Walhasil, sejak awal tahun 2004, Mang Engking sudah menambah jumlah pondoknya, juga agak dipercantik (meskipun masih terkesan sangat sederhana), dan kebetulan koran Kedaulatan Rakyat mengangkat dan mensponsori publikasinya. Jadilah kisah sukses Pondok Udang Mang “Engking” yang sekarang ini. Lha, siapa yang nyangka, wong cuma jualan udang eceran di tambak kok malah jadi buka restoran besar. Pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Namun yang pasti, Mang Engking perlu waktu “pencarian” dua puluh tahun dengan tanpa disadarinya.

Melihat tanda-tanda kesuksesan Mang Engking, jamaknya lalu para petambak udang di sekitarnya mulai ikut-ikut membangun pondok-pondok makan juga. Maka berdirilah beberapa lokasi pondok udang di kecamatan Minggir. Setidaknya bisa sebagai pilihan untuk menikmati udang jika ternyata pondoknya Mang Engking sudah penuh. Lagi, pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Dan, meniru sukses orang lain adalah bukan tindakan yang salah (menjadi salah kalau disertai dengan “kampanye negatif”)

Kepingin mencoba? Monggo……

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 20 Juli 2004

Bakminya Mbah “Mo”

17 April 2008

Lagi, cerita tentang makan. Bagi para penggemar bakmi, kalau lagi ada di Yogya, rasanya nama bakmi Kadin di mBintaran atau juga bakmi Pele di alun-alun lor di depan sebelah kanan keraton, sudah tidak asing lagi. Komentar sementara orang yang pernah atau malah sering mencoba bakmi Kadin : “enak sekali”. Namun, tunggu dulu! Jika Anda adalah penggemar bakmi, maka ada pilihan lain untuk jenis makanan ini yang perlu untuk sesekali dicoba. Lokasinya ada di luar kota Yogya, bagian selatan. Namanya bakmi Mbah “Mo” (pakai tanda petik).

Untuk mencapainya memang rada susah, karena warung bakmi Mbah “Mo” ini berada di tengah perkampungan, di Kabupaten Bantul. Jalan paling mudah kalau dari kutho Ngayogyokarto, ikuti jalan Parangtritis terus ke selatan. Saya tidak ingat hingga kilometer ke berapa, nanti akan ketemu dengan perempatan besar dan ramai yang berlampu lalu lintas, yang kalau lurus menuju Parangtritis, dan kalau belok kanan atau barat akan tembus ke kantor Pemda Bantul (ada rambu-rambunya).

Nah, ikuti jalan yang belok kanan ini, terlihat banyak pedagang kerajinan kulit. Menuju ke arah barat sekitar 1-2 km, di antara areal persawahan, ada jalan beraspal masuk ke kanan atau utara. Ikuti jalan ini hingga sekitar 500 meter akan terlihat gapura besar dan tugu kecil di sisi kanan, jalan masuk ke perkampungan. Masuk pelan-pelan menyusuri jalan kampung pinggir sawah, bebarapa puluh meter kemudian masuk gang yang ke kiri sejauh kira-kira 30 meteran, lalu belok kanan. Sampailah di warung bakmi Mbah “Mo”.

Yang membuat agak susah adalah karena warung Mbah “Mo” ini bukanya sore hari hingga malam, sementara sepanjang jalan masuknya gelap gulita, maka diperlukan sedikit kejelian untuk mencapainya. Namun jika Anda bisa mencapai perkampungan ini, maka tidak sulit lagi untuk bertanya kepada orang kampung. Layaknya warung di kampung, maka hanya ada rumah dan sekumpulan meja plus bangku, dengan halaman tanah diselingi pepohonan. Di halaman ini Anda bisa memarkir mobil atau sepeda motor di sela-sela pepohonan.

Namun jangan heran, pada saat musim liburan, akan terlihat banyak mobil berplat nomor asing (bukan AB) yang parkir di sini, yang ditinggal penumpangnya nongkrong menikmati bakmi di warung bakmi Mbah “Mo”. Lalu apa kehebatannya? Secara lahiriah tidak ada yang istimewa, wong namanya juga warung bakmi di kampung. Namun jangan tanya soal rasa bakminya. Saya berani bertaruh, bakmi Kadin dan bakmi Pak Pele, “lewat”….. jika dibanding bakminya Mbah “Mo”.

Saking huenaknya, sampai saya lupa tanya siapa sebenarnya nama lengkap Mbah Mo ini. Seperti halnya bakmi Kadin, maka bakmi Mbah “Mo” yang sekarang adalah penerus dari generasi Mbah Mo, anak-anaknyalah yang meneruskan usaha warung bakmi hingga sekarang ini. Usaha yang dirintis Mbah Mo di kampung (entah sejak kapan), kini semakin berkembang dan disukai pelanggannya.

Sekali waktu Purdie Chandra (bosnya Primagama) mengangkat tema bakmi Mbah “Mo” ini dalam salah satu tulisannya. Maka moncerlah bintangnya bakmi Mbah “Mo” sejak itu. Banyak pengunjung luar kota atau rombongan dari berbagai lembaga atau instansi yang menyempatkan mampir menikmati bakmi Mbah “Mo” kalau malam.

Ketika Mbah Mo masih sugeng (hidup), barangkali beliau tidak pernah menyangka kalau warung bakminya yang berada di tengah kampung, kelak akan dikunjungi rombongan-rombongan tamu bermobil yang berdatangan dari tempat-tempat yang jauh. Kini, generasi penerusnya sedang meneruskan dan meniti kesuksesan buah ketekunan orang tuanya. Sekali lagi terpikir oleh saya, pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Namun, kesungguhan, keuletan dan keikhlasan dalam usaha mencari rejeki “secukupnya” khas wong cilik seperti yang ditekuni Mbah Mo, akhirnya toh membuahkan hasil.

Sajian bakminya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bakmi pada umumnya, ada dicampur daging ayam dan telur juga. Namun taste-nya seperti yang sudah saya gambarkan di atas, pokoknya tidak kalah nikmatnya dibanding dengan bakmi Kadin dan bakmi Pele. Karena itu, jangan keburu puas setelah menikmati bakmi Kadin, kalau belum mencoba bakmi Mbah “Mo”.

Bakmi Mbah “Mo” buka jam 5 sore, tapi jangan ke sana selewat jam 9 malam, seringkali sudah kehabisan. Tinggal sebut mau bakmi goreng atau bakmi rebus. Yang saya sukai adalah bakmi rebus yang dicampur balungan (tulang ayam yang masih menyisakan sedikit dagingnya). Dimakan masih agak panas, dikecroti kecap manis dan dikeceri irisan jeruk nipis, lalu disesep-sesep kuahnya. Hmmmm………

Penasaran? Monggo….., kalau suatu saat ingin mencobanya.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 21 Juli 2004

Ikan Bakar “Lumintu 101”

17 April 2008

Masih perkara makan. Sekedar memberi alternatif menu dan suasana berbeda dalam memenuhi hajat perut. Soal makan ikan bakar, tentu sudah terlalu banyak pilihan, terutama ikan air tawar semisal gurami, bawal, nila, tombro, lele atau udang. Namun tidak ada salahnya sekali waktu mencoba menu yang sama tapi dengan suasana rekreasi yang berbeda, terutama kalau pergi bersama keluarga dan anak-anak. Mari kita pergi ke arah utara agak jauh dari Yogya, yaitu ke jurusan kota Delanggu, Klaten. Tepatnya di desa Janti, kecamatan Polanhardjo, disana ada pondok makan “Lumintu 101”.

Ke pondok makan “Lumintu 101”, lebih untuk alasan rekreasi, sebab kalau soal menu ikan bakar saja sebenarnya tidak jauh beda dengan yang disediakan oleh rumah makan di tempat-tempat lain. Meskipun masakan “Lumintu 101” dapat saya kategorikan sebagai “enak”. Kelebihannya terletak pada keberanian pondok makan “Lumintu 101” untuk memberi added value bagi warung makannya yang menurut lokasinya sebenarnaya nyaris tidak mudah dikenal orang.

Ada kolam pemancingan kecil tapi cukup representatif, sehingga cocok bagi anak-anak untuk sekedar mencoba memancing ikan. Di sana disewakan perlengkapan mancing bagi anak-anak, termasuk walesan (tongkat pancing dan senarnya), umpan dan ember kecil tempat hasil pancingan. Anak-anak akan senang sekali memancing jenis ikan mas kecil seukuran telapak tangan anak-anak. Tidak terlalu sulit bagi anak-anak untuk sekedar memancing beberapa ekor ikan. Hasilnya, silakan ditimbang dan dibeli. Dapat juga dinegosiasi untuk dikembalikan lagi ke kolam. Mengasyikkan. Buktinya, anak-anak saya yang laki-laki maupun perempuan yang belum pernah mancing, jadi keasyikan dan ogah-ogahan diajak pulang.

Selain kolam pemancingan, tersedia juga kolam renang ukuran sedang. Cukup menghibur bagi yang hobi renang. Maka kalaupun pengunjung merasa biasa-biasa saja dengan menu ikan dibakar atau digoreng, setidak-tidaknya ada hiburan menyenangkan bagi anak-anak. Kalau ada yang perlu disayangkan, adalah upaya menjaga penampilan dan mempercantik lingkungan yang agak kurang diperhatikan. Selebihnya tidak ada yang perlu disesali kalau sudah sampai di sana, meskipun letaknya agak jauh dari Yogya, tapi sungguh mengasyikkan dan santai.

Untuk mencapai desa Janti, ikuti jalur ke timur jalan Yogya – Solo. Sekitar 1,5 km selepas kota Delanggu, setelah tikungan ke kiri, ada pertigaan jalan kecil yang masuk ke kiri (ke arah utara). Masuklah ke jalan ini, lalu terus ke utara melalui jalan aspal yang agak sempit, sehingga jika harus berpapasan dengan kendaraan lain perlu untuk saling mengurangi kecepatan. Setelah berjalan kira-kira 5 km melalui bulak dan persawahan, maka akan sampai pada pertigaan jalan, tepatnya sudah berada di desa Janti. Desa Janti ini terkenal dengan banyaknya usaha kolam pemancingan.

Dari pertigaan Janti ini dapat mengambil rute yang ke kiri atau yang lurus. Jika ambil jalur ke kiri, maka sekitar 100 meter kemudian lalu masuk ke jalan kampung tidak beraspal di sebelah kanan. Di sepanjang jalan kampung yang berbelok-belok ini banyak dijumpai usaha kolam pemancingan yang terletak di belakang rumah-rumah penduduk. Terus saja hingga tembus ke jalan aspal kelas III jalur Klaten – Boyolali. Lalu belok kanan sedikit, mengikuti jalan aspal ini, maka rumah makan “Lumintu 101” berada di sisi kanan.

Jika dari pertigaan Janti lalu mengambil jalur lurus (rute ini lebih mudah), maka akan ketemu dengan jalan Klaten – Boyolali, dan beloklah ke kiri. Nanti akan ketemu dengan pabrik pengolahan ikan PT Aquafarm Nusantara di sisi kiri jalan. Maju terus maka akan ketemu dengan rumah makan “Lumintu 101” juga di sisi kiri jalan Klaten – Boyolali.

Ihwal nama “Lumintu 101” inipun agak kedengaran aneh. Kata lumintu (bahasa Jawa) sebenarnya bukan kata yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Artinya kira-kira, kalau tidak salah….. berkelanjutan atau terus menerus. Misalnya, harta atau rejeki yang lumintu, artinya harta atau rejeki yang langgeng atau terus-menerus membawa berkah bagi pemiliknya. Lalu bagaimana dengan angka 101? Jangan-jangan wak haji si empunya warung terobsesi dengan popularitas anjing Dalmation 101……….

Ada banyak tempat makan dan kolam pemancingan di sana, tapi entah kenapa “Lumintu 101” paling banyak diminati tamu. Sempat terpikir oleh saya, apapun pemicu kesuksesan rumah makan “Lumintu 101”, yang pasti ide untuk memberi nilai tambah berupa kolam pemancingan dan kolam renang telah memberi daya pikat bagi para pengunjung yang tidak sekedar ingin makan, melainkan juga rekreasi dalam suasana santai alam pedesaan.

Ingin makan sekaligus rekreasi keluarga? Monggo….. jalan-jalan ke desa Janti sambil bawa anak-anak.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 22 Juli 2004

Pecel Lele “Sabar Menanti”

16 April 2008

Maaf, bukannya mau ngiming-imingi, tapi makan itu memang enak dan perlu. Kali ini info pilihan makan untuk kondisi ingin cepat, enak dan murah. Suatu ketika Anda sedang dalam perjalanan menuju Yogya dari arah timur, perut keroncongan, bingung dan malas untuk blusukan mencari-cari restoran yang enak. Maka rumah makan “Sabar Menanti” bisa menjadi jujugan yang tidak akan mengecewakan. Lokasinya di pinggir jalan raya dan mudah dicapai.

Kalau dari arah timur mau masuk Yogya, lokasinya kira-kira 500 meter sebelum pertigaan bandara Adisutjipto, sebelah kiri atau selatan jalan sebelum tikungan. Kalau dari arah Yogya, ya kebalikannya to……, kira-kira 500 meter setelah pertigaan bandara Adisutjipto, setelah tikungan, di sisi kanan jalan. Ada puluhan bahkan ratusan rumah makan di sepanjang jalan Yogya – Solo, dan Sabar Menanti layak dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan.

Di antara kelebihannya adalah pelayananan yang cepat, karena self-service. Tidak sesuai dengan namanya, di rumah makan ini Anda tidak perlu menanti berlama-lama untuk makan. Pasalnya, diterapkan sistem prasmanan….. Jadi ingat seperti jaman kost di Bandung belasan tahun yang lalu : masuk, ambil piring, ambil nasi-lauk-sayur, dihitung kasir, bayar, makan, pulang. Kalau perlu tanpa ngomong sepatah kata pun.

Kelebihan yang kedua, tersedia segala macam masakan. Ibaratnya, kepingin menu apa saja ada. Tinggal ambil sedikit atau sebanyak yang dimaui, lalu ditunjukkan kepada petugas kasir, maka kasir akan menghitung harganya. Untuk menu-menu tertentu perlu pesan dulu, biasanya tidak harus menunggu lama. Ketersediaan menunya lebih komplit dibanding rumah makan padang.

Kelebihan ketiga, lha ini yang penting……, ada menu istimewa yang jangan dilewatkan, yaitu pecel lele plus lalapan sambal terasi dan oseng-oseng cabai hijau. Sueeedap sekale. Jangan lupa pesan juga es dawet ndeso. Mak nyesss….. Seprana-seprene makan di restoran, jarang-jarang saya sampai keringatan, hingga terasa gatal di kulit kepala.

Soal harga? Kategori wajar, bahkan cenderung murah untuk “performance” yang seperti pernah saya alami.

Tahun 1985, rumah makan ini sebenarnya hanya berupa gubuk reot di sisi utara jalan. Jadi ampiran para buruh, pegawai dan sopir-sopir. Eh, lha kok sekarang sudah berdiri magrong-magrong tepat di seberang jalan dari gubuknya yang lama, yang kini masih terlihat sosoknya. Ketika siang itu saya mampir untuk makan siang menjelang sore, di sana masih terlihat banyak kendaraan berplat nomor luar Yogya. Rupanya rombongan keluarga yang baru melakukan perjalanan liburan. Itulah, menilik lokasinya memang cocok menjadi salah satu pilihan untuk tempat singgah makan yang cepat, enak dan murah. Suasana makannya bukan seperti makan lesehan bersuasana pedesaan, melainkan suasana restoran.

Entah pemicu kesuksesan macam apa yang dialami oleh pemilik resto “Sabar Menanti” ini. Namun kalau menilik perjalanan rentang waktu yang dilaluinya, pasti karena keuletan dan kesabaran saja yang jadi kuncinya.

Jadi, kalau lagi jalan-jalan menuju Yogya dan ingin segera cari makan yang cepat, enak dan murah? Monggo……., “Sabar Menanti” bisa jadi pilihan. (Jangan lupa ya? Pecel lele dan oseng-oseng lombok hijaunya hueenak tenan…..).

Wis, ah….

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 23 Juli 2004.

Kambing Muda “Pujaing”

16 April 2008

Eh, lha ternyata masih ada pilihan tempat makan lainnya, kali ini di sisi tenggara Yogyakarta, bagi Anda yang bosan dengan suasana restoran. Jika Anda sedang dalam perjalanan dari Yogya menuju Piyungan atau Wonosari, atau sebaliknya sedang menuju Yogya dari arah Wonosari, maka ada pilihan tempat makan pinggir jalan yag dapat dipertimbangkan.

Namanya “Pujaing”, kependekan dari Pusat Jajan Pasar Paing, karena letaknya persis di depan pasar Paing, Tegalsari, Jalan Wonosari Km 8,5. Kalau dari arah Yogya letaknya di sisi kanan jalan, sekitar 1,5 km sebelum Taman Rekreasi Kid’s Fun.

Bagi yang belum pernah tahu Kid’s Fun, ini adalah taman bermain untuk anak-anak. Konon pemiliknya adalah mantan KSAD, HS. Subagyo (entah benar, entah tidak). Saya tidak ingin cerita lebih jauh tentang Kid’s Fun karena memang tidak ada yang istimewa tentang tempat bermain ini. Tempat ini sebenarnya pernah menjadi pilihan para orang tua di Yogya untuk menggiring anak-anaknya berekreasi dengan aneka sarana hiburan dan bermain. Namun belakangan agak turun pamornya. Maklum untuk ukuran Yogya, untuk bermain di tempat ini diperlukan biaya yang tergolong mahal bagi masyarakat umum Yogya.

Kembali ke “Pujaing” tadi, ngomongin soal makan terasa lebih nyem-nyem…… Meskipun disebut oleh pemiliknya sebagai pusat jajan, jangan dibayangkan seperti yang ada di kota-kota besar. “Pujaing” ini hanya sekedar warung di pinggir jalan yang ukurannya agak lebar, yang di sana tersedia beberapa pilihan makanan yang digelar bersama-sama di satu warung. Jadi suasananya ya suasana makan di warung pinggir jalan. Sederhana saja.

Yang khas, jenis makanan yang disediakan punya nama yang luar biasa, maksudnya di luar kebiasaan. Misalnya ada baskom (yang ini jelas bukan sejenis wadah yang terbuat dari alumunium), tapi entah rumusan tata bahasa dari mana hingga baskom ini ternyata singkatan dari bakso kumis. Tapi dijamin kalau Anda pesan bakso ini tidak akan dicampur dengan kumis penjualnya. Barangkali sekedar julukan bagi penjualnya, Pak Kumis.

Ada lagi, mie pitik. Ya, benar-benar disebut pitik (bahasa Jawa yang artinya ayam). Lalu ada soto babat, es teler, sate atau tongseng kempol kambing muda. Lagi-lagi, dipilih sebutan kempol (bahasa Jawa yang artinya paha). Dengan menyebut kempol memang terkesan lebih mantap ketimbang menyebut paha.

Bagi mereka yang suka mengembik alias penggemar daging kambing muda, barangkali mampir ke “Pujaing” tidak ada salahnya dicoba. Ihwal kambing muda ini memang susah dibuktikan, mudah-mudahan benar. Lha, wong umur seseorang di KTP yang ada fotonya saja mudah dimanipulasi, apalagi kambing yang tidak pernah punya KTP dan tidak terlihat prejengan-nya (profil wajahnya).

Jika sudah memilih jenis makanannya, maka tinggal pesan atau jika ingin lebih puas dapat juga langsung mendatangi counter (baca : gerobak) masing-masing.

Soal rasa, menurut lidah saya bisa ber-rating “enak” saja. Namun kalau memperhatikan cukup banyaknya pengunjung yang mampir ke warung “Pujaing” ini, nampaknya bagi lidah orang lain bisa tergolong “enak banget”. Jika penilaian ini benar, memang pas sekali dengan motto yang disandang warung ini, yang berbunyi : “Dijamin uenak tenan” (saya tulis sesuai tulisan aslinya).

Selebihnya, terserah Anda. Paling tidak, “Pujaing” ini dapat menjadi pilihan makan siang yang tidak mengecewakan. Nyatanya anak saya sampai menghabiskan dua baskom, maksudnya dua mangkok baksonya.

Siapa tahu Anda kesasar ke jalan Wonosari……… Monggo, kalau mau mampir di warung “Pujaing” sambil mengingat-ingat jalan pulang.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 24 Juli 2004.

Menu Ikan “Boyong Kalegan”

16 April 2008

Makan lagi, makan lagi dan makan lagi. Bagi orang Yogya dan sekitarnya, barangkali nama “Boyong Kalegan” sudah cukup dikenal. Ini terkait dengan nama rumah makan yang menyediakan menu ikan air tawar, seperti gurami, nila atau bawal, dibakar atau digoreng.

Bagi yang belum kenal, rumah makan “Boyong Kalegan” adalah generasi penerus (maksudnya, mengikuti dan meneruskan) kesuksesan rumah makan “Moro Lejar” yang sudah lebih dahulu populer. Sejak “Moro Lejar” ngetop, bermunculanlah rumah-rumah makan sejenis ini di seputaran Yogya. Sejenis dalam hal menu yang disajikan, sejenis dalam hal pilihan lokasinya, dan sejenis dalam hal penataan ruangnya. Karena itu, “Boyong Kalegan” sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat makan lainnya yang juga menawarkan menu ikan air tawar.

Soal penyajian biasa-biasa saja. Soal rasa, lidah saya menilainya “cukup enak” saja, masih di bawah kategori “uenak tenan”. Meskipun begitu toh apa yang saya pesan, lalu disajikan, ternyata habis juga saya lahap bersama istri dan anak-anak. Ya dasarnya memang suka makan, dan siang itu sedang terlambat makan siang.

Namun, “Boyong Kalegan” mempunyai keunggulan yang jarang dijumpai di rumah makan sejenis lainnya di Yogya. Pertama, lokasinya strategis dan pencapaiannya mudah. Dari Yogya, ikuti saja jalan Kaliurang dan terus naik sampai menjelang masuk daerah Pakem. Lalu belok kiri atau ke barat di pertigaan jalan alternatif menuju Turi dan jalan raya menuju Magelang. Ikuti terus jalan alternatif yang naik-turun dan belak-belok ini hingga sampai pada jembatan sungai Boyong, dimana di sisi kiri dan kanan sebelum jembatan ada terlihat pondok-pondok rumah makan. Nah, “Boyong Kalegan” ada di sisi yang kanan.

Demikian juga jika masuk dari arah jalan raya Yogya – Magelang, maka belok ke kanan atau timur ketika ketemu dengan pertigaan Tempel yang menuju ke jalan alternatif menuju Kaliurang dan Prambanan. Ada rambu jalan yang cukup mudah diikuti. Letaknya pun berada agak di bawah badan jalan alternatif, sehingga pondok-pondok makannya nampak jelas terlihat dari jalan.

Keunggulan kedua, memiliki pemandaan alam yang cukup bagus dan angin yang semilir karena lokasinya berada agak di lembah, di sisi sungai, selain topografinya memang lebih tinggi dari kota Yogya.

Keunggulan ketiga, di tengah kawasan pondok makan ini dibuat kolam ikan yang di sana disediakan gethek (rakit bambu). Kolamnya memang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk anak-anak berakit-rakit (tanpa berenang-renang). Dengan naik rakit itu, anak-anak bisa ikut memberi makan para ikan yang ada di kolam. Orang tuanya kalau mau ikutan naik rakit juga boleh.

Untuk ukuran Yogya, tempat ini cukup enak dikunjungi. Meskipun sebenarnya biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan pondok-pondok makan sejenis yang banyak bertebaran di daerah Jawa Barat. Intinya adalah, jika kita berkunjung ke “Boyong Kalegan” lalu harus membayar agak mahal, maka harus dipahami bahwa sebenarnya kita memang sedang membeli nilai tambah dari keunggulan-keunggulan yang ditawarkan. Selebihnya, tidak lebih dari sekedar membeli makan sambil relaks beristirahat.

Sejenak beristirahat ketika sedang berada di sisi utara kota Yogya, sambil makan siang dan berekreasi bersama keluarga………… Monggo, “Boyong Kalegan” bisa menjadi salah satu pilihan.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 25 Juli 2004

Salak Pondoh Taman Agrowisata

16 April 2008

Ketika sudah kenyang makan segala macam di sana-sini, di Yogya, ada baiknya membeli salak pondoh, baik untuk dimakan sendiri maupun untuk oleh-oleh. Jenis salak khas dari kabupaten Sleman ini memang cukup terkenal (meskipun di daerah lain juga ada, seperti di kabupaten Karanganyar misalnya). Untuk mudahnya, orang sering menyebutnya sebagai salak pondoh Yogya. Rasa salak pondoh yang dapat dibilang selalu manis, kalaupun asam tetap saja asam-asam manis, menjadi keunggulan tersendiri bagi jenis buah salak ini.

Mumpung, atau jika Anda masih berada di kawasan utara Yogya, sempatkan untuk singgah di Taman Agrowisata, Sleman. Selain berekreasi di kawasan yang rimbun pepohonan dan berhawa segar, di sana Anda dapat memperoleh salak pondoh, langsung atau dekat dengan sumbernya.

Kawasan Taman Agrowisata dapat dicapai dari jalan alternatif atau jalan tembus Magelang – Solo di sisi utara Yogya, yaitu jalan yang sama dimana berada rumah makan “Boyong Kalegan”. Kalau dicapai dari arah Pakem, jalan Kaliurang, maka Taman Agrowisata berada setelah kecamatan Turi, dan jika dari arah Tempel, jalan Yogya – Magelang, maka berada kira-kira 5 km dari Tempel, sebelum kecamatan Turi. Ada petunjuk arah cukup jelas. Ikuti saja jalan kecil beraspal yang masuk menuju utara hingga sampai ke pintu masuk Taman Agrowisata.

Taman Agrowisata yang terletak di desa Bangunkerto, kecamatan Turi, kabupaten Sleman, ini dilengkapi dengan fasilitas rekreasi seperti kolam pemancingan, kolam renang, kolam rekreasi dengan sepeda air, taman bermain, taman bunga dsb. Sayangnya, seperti jamaknya taman rekreasi di tempat lain, fasilitas-fasilitas itu kurang terawat dengan baik.

Taman Agrowisata yang luasnya mencakup kawasan ratusan bahkan ribuan hektar, melibatkan tanah-tanah penduduk setempat ini memang dikhususkan untuk kebun salak pondoh. Oleh karena itu di sana kita bisa memetik sendiri salak pondoh langsung dari pohonnya.

Bagi mereka yang tidak sempat memasuki Taman Agrowisata, salak pondoh dapat dibeli di banyak tempat di sentra-sentra penjualan salak pondoh di sepanjang jalur Yogya – Magelang, bahkan di gubuk-gubuk kios pinggir jalan. Tinggal pandai-pandai menawar harga saja. Namun jika sempat pergi ke kawasan Taman Agrowisata, ada keuntungan yang dapat diperoleh. Selain berekreasi, maka ada peluang untuk membeli dengan harga lebih murah. Di sepanjang jalan masuk ke Taman Agrowisata juga banyak dijajakan salak pondoh langsung oleh pemilik kebun di depan rumahnya.

Namun yang utama sebenarnya, di Taman Agrowisata kita bisa memilih salak pondoh yang baru dipetik, yang batangnya masih terlihat kuning kehijauan dan belum kering. Demikian halnya kalau kita kupas kulitnya bagian dalam masih nampak kehijauan dan belum kering.

Salak pondoh ditanam di hampir semua kecamatan di kabupaten Sleman, kecuali Prambanan. Sentra produksinya berada di tiga kecamatan, yaitu Tempel, Pakem dan Turi. Di kecamatan Turi inilah yang paling banyak penduduknya menanam salak pondoh. Produksinya pun dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Kondisi geologi daerah Sleman sebagai daerah hasil pengendapan material erupsi gunung Merapi memang sangat cocok untuk budidaya salak pondoh. Selain faktor cuaca dan suhu sejuk di dataran tinggi, juga adanya unsur sulfur dari material tumpahan aktifitas vulkanis memang sangat mendukung kualitas produksinya.

Dari sekian banyak jenis salak pondoh, yang selama ini dikenal adalah salak pondoh super, salak pondoh kuning (atau coklat) dan salak pondoh hitam. Masing-masing mempunyai ciri-ciri dan rasa yang tipikal.

Ringkasnya, pokoknya salak pondoh itu uenak tenan. Rasa buahnya manis, bahkan tanpa menunggu yang sudah masak pun tetap manis, dan mempunyai kandungan air cukup sehingga tetap terasa segar, tanpa khawatir berasa seret di tenggorokan.

Manisnya salak pondoh memang semanis nilai ekonomis yang dihasilkan petani salak, dibandingkan jika tanah pertaniannya ditanami padi. Tentu, faktor resiko kegagalan tetap harus diperhitungkan. Kejayaan budidaya salak pondoh ini juga ditunjang oleh adanya paguyuban Kelompok Tani, sehingga persaingan usaha yang tidak sehat dapat dihindari. Bahkan para petani dapat saling membantu mengatasi masalah teknis produksi pertanian maupun ekonomis perkembangan dan persaingan pasar.

Kini, produk turunan dari salak pondoh sudah mulai berkembang. Tiba saatnya sentuhan teknologi yang mampu memberi nilai tambah salak pondoh mulai diperhatikan. Jangan heran kalau sekarang Anda jumpai di toko-toko adanya produk turunan salak pondoh seperti dodol salak, emping salak, manisan salak, sirup salak, kue salak, kripik salak, dsb. Untuk produk-produk yang terakhir ini Anda tidak perlu ke Taman Agrowisata.

Jadi, masih ingin yang segar-segar manis langsung dari pohonnya? Monggo, jalan-jalan ke Taman Agrowisata, Sleman.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 26 Juli 2004

Bakpia Glagahsari

16 April 2008

Jika tiba saatnya harus membeli oleh-oleh makanan khas Ngayogyokarto. Jangan lupakan bakpia. Siapa tidak kenal bakpia Yogya. Makanan atau nyamikan yang terbuat dari adonan tepung terigu dan minyak kelapa lalu diisi adonan kacang hijau ini memang memiliki citarasa yang khas. Wis…..setuju enggak setuju, pokoknya uenak.

Selama ini orang banyak mengenal nama bakpia Pathuk, karena memang penjual dan produsen bakpia banyak bertebaran di sepanjang jalan Pathuk (sekarang bernama Jl. KS. Tubun), yang berada di kawasan kecamatan Ngampilan, Yogyakarta. Jika musim liburan tiba, maka dapat dipastikan jalan sepanjang kurang dari satu kilometer, dua lajur dua arah ini akan padat dan sumpek penuh dengan kendaraan para pembeli bakpia. Tidak sulit bagi pendatang dari luar Yogya untuk menemukan lokasi ini. Siapapun orang Yogya pasti tahu kalau ditanya dimana letaknya.

Tidak mengherankan kalau di kawasan Pathuk ini ada lebih 100 pedagang dan produsen bakpia. Ada yang sudah bermerek dan ada yang masih industri kecil-kecilan. Di antara yang sudah punya nama, selama ini dikenal ada bakpia Pathuk 25, 35, 38, 55, 67, 75, 99, dan entah nomor berapa lagi. Angka-angka itu umumnya menunjukkan angka nomor alamat rumah.

Entah bagaimana asal-muasalnya sehingga mereka tanpa kesepakatan menggunakan nomor alamat rumah sebagai merek dagangnya. Barangkali karena di jaman dulu mengambil praktisnya, sehingga begitu saja mengambil nomor rumah sebagai label produknya. Saking banyaknya nomor bakpia, sehingga calon pembeli sering malah bingung mau beli yang nomor berapa. Akhirnya ya pokoknya beli bakpia, berapapun nomornya, yang penting bukan pia-pia yang lain, lunpia, nopia, apalagi sepia….. 

Popularitas bakpia memang luar biasa. Dapat dipastikan setiap harinya ada belasan bahkan puluhan ribu bakpia bergelindingan di Yogya, apalagi di musim liburan. Harganya rata-rata berkisar Rp 10.000,- untuk setiap dos isi 20 butir, ada yang lebih mahal dan ada yang lebih murah. Cukup murah (dibanding kalau bikin sendiri, itupun belum tentu jadi bakpia, bisa-bisa malah jadi onde-onde…..).

Meskipun tampaknya usaha bakpia ini maju pesat, namun jangan dikira tanpa masalah non-teknis. Persaingan tidak sehat, bahkan saling manjatuhkan, diam-diam tumbuh di kalangan sesama pedagang atau produsen bakpia. Sangat disayangkan memang. Berbeda dengan para petani salak pondoh yang berhasil berhimpun dalam Kelompok Tani, di kalangan para pedagang atau produsen bakpia ini belum memiliki paguyuban yang mampu melindungi kepentingan bersama.

Semakin runyamnya persaingan ini, berdampak kepada semakin runyamnya jasa calo bakpia di seputaran Pathuk. Tidak saja mengganggu calon pembeli, terlebih meresahkan para pedagang bakpia karena akan mengurangi keuntungan pedagang. Bahkan seringkali permintaan imbalan oleh para calo kepada pedagang bakpia ini dilakukan setengah memaksa.

Oleh karena itu jangan kaget kalau Anda pergi membeli bakpia ke Pathuk, begitu turun dari mobil atau memarkir kendaraan, Anda akan dikerubuti para calo yang menawarkan jasanya mengantar ke pedagang bakpia tertentu.

Atau, jika Anda malas membeli langsung ke jalan Pathuk, bisa juga membelinya di sejumlah pusat jajan dan oleh-oleh yang menyebar di jalan Mataram, yaitu jalan yang paralel di sebelah timur jalan Malioboro. Di sini pun bisa dijumpai bakpia Pathuk dengan berbagai nomornya dan juga masih baru, bukan produk kemarin.

***

Nama bakpia yang sekarang identik dengan Yogya, sebenarnya bukan makanan produk asli Ngayogyokarto. Konon dulu-dulunya berasal dari Cina, yang nama aslinya Tou Luk Pia yang berarti pia atau kue kacang hijau. Entah lidah siapa yang pertama kali “kepeleset” menyebutnya menjadi bakpia. Pada tahun 1948, keluarga Goei Gee Oe (ini pasti pendatang dari Cina) mencoba-coba membuat bakpia sebagai industri rumahan. Lalu dijajakan eceran, dari rumah ke rumah, dalam wadah besek (wadah kotak berupa anyaman dari bambu), tanpa label.

Semakin tahun semakin banyak peminatnya, hingga sekitar tahun 1980 mulai muncul produsen-produsen baru yang membuat bakpia. Mulai muncul kemasan baru dalam dos atau kertas karton, dan mulai menggunakan label merek dagang berbeda. Anehnya, merek dagang yang digunakan pun mudah saja dengan mengambil nomor rumah para pembuatnya.

Demikian pesatnya perkembangan industri per-bakpia-an di Yogya, hingga pada awal tahun 1990-an bakpia mengalami booming dan sampai sekarang pun nampaknya masih menjadi komoditi unggulan oleh-oleh makanan khas Yogya.

Namun sudah sepuluh tahunan ini saya sendiri tidak pernah lagi membeli bakpia Pathuk, berapapun nomornya. Sejak sekitar tahun 1993, saya menemukan produsen bakpia lain yang setelah saya rasa-rasakan taste-nya jauh lebih enak dibanding bakpia Pathuk. Saya menemukannya di sebuah warung yang merangkap jualan bakpia di jalan Glagahsari, kecamatan Umbulharjo. Bedanya dibandingkan bakpia Pathuk, bakpia Glagahsari ini lebih renyah, lebih mumpur dan lebih kemripik (embuh, apa bahasa Indonesianya). Pokoknya beda dan lebih uenak…… Penilaian ini disetujui oleh beberapa kawan warga Yogya yang pernah mencobanya.

Waktu itu warung ini hanya menjual bakpia kecil-kecilan, bikin sendiri, dijual sendiri, kalau enggak laku juga dimakan sendiri barangkali. Wadahnya pun seadanya. Namun kini rupanya semakin berkembang, dan sudah punya judul sendiri, yaitu bakpia “Kurnia Sari”. Tepatnya, warung ini berada di Jl. Galagahsari No. 112. Jalan Glagahsari adalah jalan yang membentang utara – selatan yang menghubungkan antara Jl. Kusumanegara dengan terminal bis Umbulharjo. Kalau dari arah Jl. Kusumanegara, warung bakpia ini berada di sisi kanan jalan, sebelum kantor Kecamatan Umbulharjo yang berada di sisi kiri jalan.

Seiring dengan tuntutan selera lidah masyarakat, maka bakpia “Kurnia Sari” pun memproduksi bakpia tidak hanya yang biasanya berisi kacang hijau, melainkan ada juga isi kumbu hitam, coklat dan keju. Siapa tahu kelak akan ada bakpia rasa strawberry atau vanilla……

Jika ingin membeli bakpia untuk keperluan beberapa hari atau dibawa keluar kota, maka bakpia Glagahsari bisa jadi pilihan yang sesuai. Asal jangan dibungkus rapat ketika masih dalam keadaan panas, melainkan diangin-anginkan dulu. Setelah sampai di tempat tujuan, simpanlah di lemari es. Bakpia ini akan tahan hingga lebih seminggu tanpa ada perubahan rasa. Sudah seringkali saya coba untuk dibawa ke Papua, dan hingga lebih seminggu masih terasa enak, apalagi kalau malam-malam saya nggayemi sambil nulis cerita soal makan. Lebih nikmat lagi, kalau ada microwave, dihangatkan dulu barang 10-15 detik. Hmmm……

Nah, jika ingin mencoba bakpia dengan rasa sebagai ukurannya, bukan label Pathuk-nya? Monggo….., bakpia Glagahsari bisa dicoba sebagai pilihan. Dijamin tanpa diganggu calo dan tanpa kesulitan parkir, karena masih belum padat pembeli.

Yusuf Iskandar,
Tembagapura, 27 Juli 2004

Kisah Seekor Pitik Ayam Alas Dan Seekor Burung Beo

9 April 2008

Dasar bukan penggemar burung, dikapakno-kapak (diapa-apakan) ya tetap saja malas kalau disuruh ngurusi hewan piaraan bangsa unggas ini. Biarpun punya banyak waktu longgar, tetap saja berat rasanya kalau mesti membersihkan kandang burung, memandikan burungnya, mengisi air minumnya dan menyuplai makanannya setiap pagi. Tapi, kok ya dilakoni juga.

Kalau akhirnya semua itu saya lakukan setiap pagi, semata-mata hanya karena rasa peri kebinatangan yang masih saya punyai. Hanya karena rasa kasihan, kok burungnya tidak diurus. Hanya karena takut kuwalat sama burung, mau menyangkarkan tapi kok tidak mau menghidupinya. Kecuali membersihkan kandangnya yang saya lakukan hanya kalau pas lagi agak berlubang pusarnya, alias kalau pas mau saja.

Kalau memang tidak suka merawat burung, lha ngapain repot-repot piara burung? Itulah masalahnya. Saya sendiri juga herman bin gumun. Sejak jadi pengangguran terselubung, saya terkadang suka berlaku “bodoh”, mengada-ada dan ngoyoworo…..  Namun karena semua itu bisa saya nikmati, saya syukuri dan saya hikmahi, maka hal-hal “bodoh” itupun seolah-olah menjadi motivator dan inspirator munculnya banyak ide dan peluang baru yang tak terduga. Termasuk inspirasi untuk menulis cerita ini…..

***

Hampir setahun yang lalu, ada seorang bekas tetangga yang menawari saya untuk memelihara ayam hutan, orang kampung saya dulu suka menyebutnya pitik ayam alas. Biar halaman depan rumah saya tampak lebih “wah”, katanya. Biar seperti halaman rumahnya orang-orang gedean, katanya. Kalau tidak ayam hutan ya ayam bekisar, katanya. Kebetulan tempat tinggal saya di Jogja berada nylempit di gang Bekisar, Umbul Harjo.  

Sangat menyadari bahwa saya bukan penggemar manuk dan tidak telaten merawat manuk, maka tawaran simpatik itupun saya tolak. Padahal dia akan memberi saya ayam hutan yang sudah “jadi” dengan percuma. Bekas tetangga saya yang kini tinggal di Imogiri itu punya seekor ayam hutan berusia remaja. Diperolehnya dari hutan Wonosari. Dibelinya dari orang hutan (maksudnya orang yang tinggal di kawasan hutan) ketika masih anak ayam. Sekarang sudah terampil kluruk kalau pagi buta membangunkan orang tidur. Nyuaring bunyinya. Ayam itulah yang ditawarkan akan diberikan kepada saya.

Karena tawaran itu disampaikan kepada saya tidak hanya sekali-dua, akhirnya goyah juga iman saya. Apa salahnya dicoba?. Toh, no risk at all. Maka pitik ayam alas itu akhirnya boyongan dari Imogiri ke halaman rumah saya. Boyongan, karena bukan hanya ayamnya yang pindah tapi sekalian kandangnya. Bekas tetangga saya ini sempat pula membuatkan kandang baru berbahan kayu dengan tampilan yang tergolong cantik. Lengkap dengan bekal makanan berupa butiran beras merah untuk persediaan selama seminggu.

Maka sejak itu, saya punya kegiatan baru, yaitu memberi makan beras merah kepada warga baru halaman depan rumah saya. Sesekali diberi suplemen berupa kroto (telur semut cangkrang). Menurut promosi tetangga saya itu, katanya kalau pagi umun-umun kluruk-nya sangat menawan.

Waktu berlalu. Seminggu, dua minggu, tiga minggu, kok pitik ayam alas saya tidak juga kluruk. Saya complaint kepada tetangga saya, kenapa ayam hutannya membisu. Dijawabnya, mungkin masih stress karena kini tinggal di kandang terpisah di halaman rumah di tempat yang baru. Sebelumnya ayam itu tinggal menjadi satu dengan dapur di dalam rumah. Masuk akal, pikir saya. Hingga satu purnama berlalu sudah, dan pitik ayam alas saya tetap bergeming diam seribu basa. Malah takut kalau didekati dan krubyuk-krubyuk nabrak-nabrak dinding kandang. Boro-boro kluruk kalau pagi, sekarang malah telek-nya berwarna putih.

Pengalaman masa kecil saya mengajarkan, kalau ayam sudah berwarna putih tahi atau telek-nya, maka itu pertanda bahwa ayam sedang sakit. Ya sudah, mau diapakan lagi. Makan dan minum terus saya suplai, kandang pun saya bersihkan, dan telek-nya tetap putih. Hingga akhirnya pitik ayam alas saya yang semata wayang itu menghembuskan napas terakhirnya tanpa sempat saya tunggui. Karena hanya seekor, maka tidak terjadi gegeran di kampung. Coba kalau jumlahnya puluhan, pasti geger genjik isu flu burung akan merebak Hari itu juga liang lahat digali di pinggir selokan, lalu dimakamkan di sana. Rest in peace. Tinggal kandangnya yang masih terlihat baru, melompong menghiasi halaman depan rumah.

***

Beberapa bulan kemudian, ada teman lain memberi saya seekor burung berusia remaja, warna bulunya hitam dan paruhnya kuning. Burung beo, katanya. Entah beo apa. Saya ya percaya saja, wong memang tidak familiar dengan urusan permanukan atau perburungan. Kalau pun dia bilang burung manuk dadali, saya juga tidak akan protes. Sebenarnya saya rada malas menerimanya. Lagi-lagi demi alasan peri kebinatangan, daripada burung itu telantar lantaran tidak diurus majikannya dan mau dibuang, akhirnya saya suruh saja memasukkannya ke bekas kediaman pitik ayam alas yang sudah almarhum. Katanya kalau sudah dewasa suaranya bagus. Saya percaya saja, dan memang bukan karena itu saya mau menerima kehadirannya. Mau suaranya baguskah, atau malah tidak mau bersuara pun tidak soal benar. Asal burung itu masih mau hidup saja di sangkar bekas ayam hutan, rasanya sudah prestasi yang bagus.

Hingga hari ini, burung beo itu masih menghiasi halaman depan rumah saya. Terpaksa saya menambah jadwal kegiatan harian kalau pagi. Setelah ngojek anak-anak ke sekolah, lalu baca koran, kemudian ngurusi manuk. Makanan pokoknya jenis buah-buahan. Seperti lagu anak-anak,  pepaya….., mangga, pisang, jambu….. Buah pisang paling disukainya, apalagi kalau jenis pisang kepok. Kalau lagi kehabisan pisang, saya carikan jambu klutuk tetangga yang pada jatuh karena kelewat masak. Sekali waktu persediaan pisang makanan burung habis, terpaksa pergi dulu ke warung terdekat membeli sesisir pisang kepok. Siangnya saya lihat, lho pisangnya kok sudah habis lagi…..? Eee….., rupanya sudah direbus sama ibunya anak-anak. Habis pisang kepok kok untuk makanan burung, katanya. 

Menurut nasehat orang-orang penggemar burung, yang sudah berpengalaman dalam urusan nuk-mannuk, sekali-sekali perlu diselingi dengan makanan nasi campur sambal pedas. Biar burungnya kepedasan dan belajar ngoceh, katanya. Nasehat itu pun saya turuti, walau sebenarnya berbau pemerkosaan terhadap peri kebinatangan. Saya sendiri sebenarnya tidak perduli perihal ngoceh-mengoceh ini. Mau ngoceh, mau bengong, sebodo teuing. Mudah-mudahan berumur panjang dan tidak buru-buru meninggal dunia saja.

Anak laki-laki saya malah sudah mem-booking kandangnya. Katanya kalau nanti burungnya mati, kandangnya untuk memelihara hamster saja. Dia memang suka hamster sejak kecil, sewaktu masih tinggal di Tembagapura dulu. Malah sampai beranak-pinak hingga belasan ekor jumlahnya, dan sempat dibagi-bagikan kepada teman-temannya. Hingga ibunya suka mencak-mencak karena pipis hamster baunya enggak karu-karuan.

Anak saya ini juga yang suka tanya-tanya, katanya burung beo bisa bicara dan suka menirukan suara manusia. Saya jelaskan bahwa hal itu terjadi karena dilatih dan dibiasakan. Maka kalau kepingin beonya bisa bicara dan menirukan suara, saya sarankan agar anak saya menyanyikan lagu “Balonku Ada Lima” dan batuk-batuk di depan kandang setiap pagi sebelum berangkat sekolah selama kira-kira 99 hari. Pasti nanti sang beo bisa menirukannya. Sebodoh-bodohnya beo pasti bisalah kalau cuma menirukan “dor”…..dan batuk-batuk…..

Namun, dasar saya bukan (setidaknya belum menjadi) penggemar burung, kecuali sekedar sayang dan suka saja, disuruh rajin merawat burung ya rada malas-malasan. Maka burung beo saya pun nampaknya sudah mafhum, sudah ada saling pengertian, bahwa kandangnya akan jarang-jarang dibersihkan oleh majikannya. Seminggu atau dua minggu sekali sudah cukuplah. Kalau terlambat membersihkan kandangnya, terkadang malah tikus-tikus selokan yang membantu membersihkannya, plus dibuatkan lubang kecil oleh tikus di bagian bawah kandangnya yang terbuat dari kayu, untuk jalan masuk ke kandang.

Sehari-harinya cukup dibersihkan bagian luarnya yang tampak saja, sekalian sambil ngguyang (memandikan) burung. Saya baru tahu kalau burung pun rupanya perlu dimandikan, dengan cara disemprot air. Bedanya kalau penggemar burung yang sejati nyemprotnya pakai alat sprayer kecil, lha kalau saya pakai selang plastik yang biasa untuk nyuci mobil dari jarak agak jauh. Sama-sama basah asal burungnya tidak gelagapan saja.

Sampai hari ini burung beo saya masih sehat walafiat. Entah sedang lapar, entah sedang kenyang, dia suka teriak-teriak, kaok…..kaok…..kaok….. Ya cuma begitu bunyinya. Barangkali hanya sekedar mau lapor bahwa dia masih hidup. Seandainya besok teriakannya berubah jadi meong….. meong….., atau guk….. guk….. pun sebenarnya saya juga tidak perduli, dan akan terus saya kirimi pisang setiap pagi. Maka kalau kini burung beo saya setiap pagi masih rajin berkaok….. kaok….., sesungguhnya dia sedang berteriak : “Send me a banana, boss…..!”.

Yogyakarta – 30 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Lebih Baik Jangan Sakit Gigi

9 April 2008

Ada lagu ndang-ndut yang dinyanyikan mendayu-dayu, katanya lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Dulu saya pikir ini hanyalah bunga kata-kata yang tidak berarti apapun selain sekedar agar lagunya laku dijual. Dalam hati saya nggrundel, kayak yang kehabisan kata-kata puitis saja. Dulu ada teman sekost yang kalau sakit gigi matanya merah dan jadi sensitif mudah marah. Ada yang salah sedikit saja langsung methentheng (naik darah). Dalam hati saya pun meremehkan, sakit gigi saja kayak korban banjir sedang menunggu bantuan yang tak kunjung tiba lalu dicabuti bulu hidungnya.

Sampai beberapa malam yang lalu, tiba-tiba gigi saya terasa cekut-cekut. Tan soyo dalu tan soyo cuekot-cuekot (semakin malam semakin menjadi-jadi). Maksud hati hendak pergi tidur agak sore, apa daya jam 10 masih mendengar lonceng jam. Jam 11, 12, sampai jam 1, 2 lalu 3 pun bunyi tanda waktu masih terdengar nyaring di telinga. Selama itu pula tidur berganti-ganti posisi tidak pernah pas. Di atas tempat tidur terlentang, tengkurap, serong ke kiri dan ke kanan, duduk, berdiri, bahkan dipakai jalan-jalan pun gigi kanan terasa semakin cuekot-cuekot menusuk keatas ke bagian kepala sebelah kanan. Kemudian pindah tidur ke karpet di lantai ruang tengah, masih juga tidak menemukan posisi yang pas.

Akhirnya ketemu posisi yang paling mendekati enak adalah menungging sambil mengerang ah..uh..ah..uh, karena kepala sebelah kanan seperti mau meledak. Kedengarannya saja ah..uh..ah..uh.., tapi sungguh ini mengerang yang paling tidak enak. Enggak ketulungan sakitnya. Tanpa terasa air mata pun keluar, sangking suuuakitnya. Saya tidak sedang mendramatisir kalau saya katakan bunyi tanda waktu seperti lonceng kematian, apakah saya masih bisa bertahan melewati malam panjang dengan menanggung rasa sakit yang sangat luar biasa itu hingga esok hari. Tanda waktu jam 4 pun akhirnya tidak kedengaran lagi. Bukan karena rasa sakitnya mereda melainkan karena sangking ngantuknya hingga tertidur dalam posisi nungging.

Bak sebuah pentas seni, sebuah resital tari tanpa musik, berlangsung non-stop selama beberapa jam, di kegelapan malam saat anggota keluarga yang lain tertidur lelap. Tahu saya mengeluh sakit gigi, istri saya menyarankan untuk meminum tablet ponstan penghilang rasa sakit yang kebetulan masih ada tersisa. Nasehat itupun saya turuti. Tapi nampaknya tidak membawa hasil dan gigi yang cekut-cekut tak kunjung mereda. Istri saya juga menyarankan untuk berkumur-kumur dengan air hangat dicampur garam. Nasehat yang ini tidak saya penuhi. Bukan karena tidak percaya, melainkan karena saya sudah tidak sanggup lagi mengerjakan pekerjaan lain selain gulung koming, mlungker-mlungker, menahan rasa sakit. Malah jadi kepingin marah saja, bukannya membantu membuatkannya malah perintah-perintah di saat rasa sakit sedang memuncak.

Itulah pengalaman pertama saya mengalami sakit gigi. Seumur-umur belum pernah saya merasakan sakit gigi, apalagi seperti yang saya alami malam itu. Sekarang saya tidak percaya kalau ada lagu ndang-ndut melantunkan lagu lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Orang yang mengarang lagu itu pasti benar-benar ngarang dan belum pernah sakit gigi. Kalau orang sakit hati masih bisa melamun, masih bisa bermain dengan perasaan melankolisnya, masih bisa curhat, masih bisa mencari penasehat spiritual, sementok-mentoknya masih bisa bersujud kepada Sang Pencipta agar hati dan jiwa jadi adem dan tenang.

Tapi coba sakit gigi, rasain sendiri lu…..!. Semakin melamun semakin cekut-cekut. Boro-boro curhat atau cari penasehat spiritual, bisa-bisa malah berantem dengan yang dicurhati atau penasehatnya. Saya baru benar-benar paham, kenapa teman sekost saya dulu kalau sakit gigi menjadi sensitif, mudah tersinggung dan gampang marah. Tersenyum lewat di depannya pun bisa dikira ngeledek. Kurang tepat memilih kata dalam bertegur sapa pun bisa ditanggapi negatif. Bahkan ada kucing meang-meong pun bisa kena gampar.

Pendeknya, paling aman adalah menghindari berinteraksi dengan orang yang lagi sakit gigi. Sebaliknya kalau kita sedang sakit gigi lebih bijaksana kalau kita mengisolasi diri dari berinteraksi dengan orang lain. Dijamin bahwa kita tidak akan mampu mengendalikan diri ketika melihat, merasakan, mendengar atau mengalami sesuatu yang biasanya biasa-biasa saja, tiba-tiba menjadi sesuatu yang memancing emosi.  

***

Esok paginya rasa sakit memang mulai agak mereda. Saya coba menceritakan apa yang baru saya alami tadi malam kepada beberapa rekan lain, dengan harapan ada yang bisa memberi solusi yang mujarab. Sampai kemudian ada yang menyarankan agar sedia minyak cengkeh. Mudah diperoleh di toko obat atau apotik, harganya sangat murah tapi dijamin mengatasi rasa sakit ketika gigi sedang cekut-cekut   

Tanpa pikir panjang, sore harinya saya suruhan saudara untuk membeli minyak cengkeh di apotik terdekat. Diperolehlah minyak cengkeh cap Gajah (sebuah merek yang sama sekali tidak komersial, tapi yang penting khasiatnya) buatan PT USFI Surabaya, dalam botolan kecil warna hijau bentuknya jelek isi 10 ml, dan harganya cuma seribu perak. Menilik komposisinya 100% minyak cengkeh. Indikasinya mengobati sakit gigi (jadi memang sengaja minyak itu dijual untuk mengobati sakit gigi). Cara pakainya (saya kutip sesuai aslinya) : Kapas dibasahi dengan obat ini dan dimasukkan ke dalam lubang gigi yang sakit. Naluri bakul spontan bertanya-tanya, ini komoditas penting dan sebenarnya sangat dibutuhkan orang, tapi kenapa tidak pernah dipromosikan. Juga memberi ide bagi toko saya “Madurejo Swalayan” untuk menyediakan produk ini.

Ketika malam tiba, saya pun mulai was-was. Jangan-jangan akan terulang lagi pentas seni seperti tadi malam. Tapi kali ini saya merasa lebih siap menghadapi sliding tackle di depan gawang, berkat tersedianya minyak cengkeh cap Gajah. Benar juga, prolog pentas seni mulai terasa agak cekut-cekut tanda-tandanya. Bedanya kali ini saya menghadapinya dengan agak senyum-senyum sombong. Segera ambil sedikit kapas, dibasahi dengan minyak cengkeh lalu tempelkan di sekitar gigi dan gusi yang sakit di dalam mulut, sebab menentukan posisi mana gigi yang lubang juga rada sulit. 

Aneh bin ajaib. Rasa sakit mereda spontan tanpa ponstan. Hanya perlu agak dijaga agar jangan kebanyakan menuangkan minyaknya ke kapas. Sebab kelebihan minyaknya kalau sampai tertelan menimbulkan rasa tidak enak di tenggorokan. Meskipun kalau sampai hal itu terjadi pun sebenarnya masih dalam kategori tidak ada apa-apanya dibandingkan kalau rasa cekut-cekut datang menyerang. 

Kini, sisa minyak cengkeh yang masih ada dalam botol kecil jelek saya simpan dan saya jaga dengan baik. Jangan sampai terjadi, pas sakit gigi menyerang, minyak cengkeh terselip entah kemana, sementara di toko obat atau apotik sedang kehabisan persediaan. Benar-benar cilaka dua-belas namanya…..! Pokoknya pengalaman berpentas seni sendirian di tengah malam ini harus menjadi pengalaman pertama dan (mudah-mudahan ) terakhir. Seorang teman yang merekomendasikan saya membeli minyak cengkeh ini malah kemana-mana botol kecil jelek itu selalu dibawanya serta.

Ngayogyokarto Hadiningrat – 12 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Munggah Molo

9 April 2008

( 1 )

Merenovasi rumah barangkali bukan pekerjaan yang rumit-rumit amat kalau itu hanya sebatas memperbaharui bagian-bagian rumah yang sudah usang atau rusak atau sekedar ingin memberi tampilan baru. TMenjadi agak rumit kalau renovasi rumah harus disertai dengan merubuhkan atap bangunan utamanya. Nyaris dapat dikatakan menjadi seperti membangun rumah baru. Itulah yang saat ini sedang saya kerjakan, jarak jauh, antara Tembagapura dan Yogya.

Resminya pekerjaan sudah dimulai sejak tanggal 14 April 2004, diawali dengan membongkar rumah yang lama. Kata para tukangnya, tidak sulit untuk melakukan pembongkaran, tidak terlalu menguras energi. Pasalnya, rumah lama yang sudah berusia hampir sepuluh tahun itu kualitasnya sangat-sangat buruk. Maklum waktu pembangunannya dulu saya pasrahkan sepenuhnya kepada pemborong kampung dengan harga yang sangat murah untuk ukuran waktu itu. Untuk rumah satu lantai seluas kira-kira 110 m2, saya dan pemborong sepakat dengan harga Rp 17 juta rupiah, yang lalu membengkak menjadi sekitar Rp 20 juta rupiah, dan selesai dibangun dalam waktu sekitar enam bulan.

Kini, hampir sepuluh tahun usia rumah itu. Memang jarang saya dan keluarga saya tinggali (meskipun ada yang diserahi untuk mengurusnya). Paling-paling setahun dua kali pada saat kami cuti pada musim liburan sekolah. Sebelum saya memutuskan untuk merenovasinya, sudah banyak bagian-bagian yang bocor dan membuat kesal karena tidak kunjung teratasi setiap kali diperbaiki. Kayu-kayunya sudah pada keropos, dinding-dindingnya retak dan lantai-lantai keramiknya pada pecah.

Pendeknya, impian tentang “rumahku istanaku – rumahku sorgaku” tidak pernah terwujud dan ternikmati, lantaran istana dan sorganya semakin hari semakin menjengkelkan setiap kali ditempati. Bukan kami tidak bersyukur dengan “rumah kita sendiri”, melainkan acara cuti liburan sering tersita untuk mengurusi tambal sulam perbaikan rumah. Uh……!

Saat ini pekerjaan renovasi atau pembangunan kembali rumah kami sedang berjalan, sejauh ini lancar. Ketika pekerjaan renovasi sudah berjalan sekitar dua bulan dan volume pekerjaan selesai sekitar 60%, yaitu sebulan yang lalu, tiba saatnya pada tahap pemancangan blandar yang akan menjadi atap wuwungan, bagian tertinggi dari bangunan rumah.

Waktu itu, pelaksana saya mengirimkan SMS ke Tembagapura. Saya sebut pelaksana, karena dia memang bukan pemborong, melainkan orang kepercayaan yang tugasnya ngecakke (membelanjakan) uang, melaksanakan pekerjaan sekaligus mengawasi kualitas bangunannya (quality assurance dan quality control) dan melaporkan status keuangannya. Pendeknya dia adalah seorang “Project Manager”.

Bunyi SMS yang dikirimkan pelaksana saya ini, intinya saya ringkas seperti ini (maklum, namanya juga SMS, suka banyak menggunakan singkatan gaul yang tidak baku) :

Pelaksana saya bertanya: “Sebentar lagi kita akan naik atap, Pak. Apa akan diadakan acara munggah molo?”.

Saya malah balik tanya : “Munggah molo itu apa, Pak?”.

Lalu, jawabnya : “Menurut tradisi Jawa, sebelum dilakukan pemasangan blandar ada acara selametan …..”

Saya tanya lagi : “Lha, biasanya bagaimana, Pak?”. Maklum, saya memang baru kali ini mendengar istilah munggah molo, alih-alih tahu artinya.

Agar pokok permasalahannya menjadi lebih jelas, maka pembicaraan dilanjutkan melalui tilpun. Intinya adalah, bahwa para tukangnya merasa lebih mantap kalau diadakan acara selamatan sebelum munggah molo. Saya pun akhirnya setuju dengan keinginannya para tukang. Bagaimanapun saya menganggap para tukang adalah aset yang harus dijaga, bukan sekedar memperlakukannya sebagai likuiditas. Mereka memang tidak menghasilkan pemasukan finansial kepada saya, tetapi mereka saya harapkan akan menghasilkan produk berkualitas seperti yang saya harapkan, yang ujungnya akan memberi nilai tambah bagi rumah saya. Dan ini yang susah diukur nilainya.

Demi kemantapan hati para tukang, akhirnya saya menyetujui untuk diadakan semacam ritual munggah molo. Meskipun sempat terlintas pemikiran konservatif saya : “…..kira-kira sejalan enggak ya, dengan keyakinan akidah agama saya sebagai seorang muslim…..?”.

Selanjutnya saya menyerahkan sepenuhnya teknis pelaksanaan acara tersebut kepada pelaksana saya. Pokoknya saya nderek (menurut) saja bagaimana kebiasaannya, dan saya akan menanggung semua biaya yang diperlukan. Lalu, diaturlah waktunya pas saya cuti ke Yogya pada bulan Juni yang lalu.

Mula-mula saya usulkan diadakan pada hari Minggu saja, maksud saya karena hari Minggu biasanya hari longgar bagi kebanyakan orang. Tapi rupanya justru karena hari longgar itu maka para tukang yang sebagian besar berasal dari daerah Salaman, Magelang, justru pada libur pulang ke kampungnya. Acara lalu diundur ke hari Rabu. Namun mendadak hari Rabunya saya ada layatan ke Cepu, ada saudara yang meninggal dunia. Akhirnya acara digeser lagi menjadi hari Kamis.

Dengan pertimbangan bahwa semua hari adalah baik, maka bagi saya tidak ada bedanya antara hari Minggu, Rabu atau Kamis, apapun hari pasarannya. Tinggal bagaimana kita me-manage-nya saja yang akan membedakan sebuah hari itu baik, buruk atau biasa-biasa saja.

Tiba saatnya pelaksanaan ritual munggah molo yang sebelumnya saya sudah pasrah bongkokan (total) kepada pelaksana saya soal tetek-bengek teknisnya. Rupanya bukan hanya pelaksana saya yang sibuk mempersiapkan acaranya, melainkan para tetangga dekat saya juga turut sibuk. Segala macam ubo rampe (perlengkapan) selamatan disiapkan dan diatur oleh para tetangga saya itu.

Saya baru menyadari artinya tetangga. Sungguh saya tidak pernah membayangkan, seperti menemukan sesuatu yang selama ini saya anggap sudah hilang. Betapa ruh kekeluargaan, gotong royong dan hidup guyub-rukun, ternyata masih tumbuh dalam masyarakat saya. Lha, saya yang seharusnya punya hajat, kok jadi malah tetangga saya yang sibuk. Sementara saya sendiri tidak pernah tahu bahwa ada tata cara yang cukup rumit dalam tradisi Jawa yang perlu dipersiapkan dalam acara selamatan munggah molo. –

 

( 2 )

Bagi masyarakat Jawa pada umumnya, simbolisasi atau perlambang dalam sistem tata kehidupan manusia seperti sudah menjadi bagian tak terpisahkan. Seperti halnya tentang rumah, dalam konsep pemikiran masyarakat Jawa, rumah adalah model alam mikrokosmos. Simbol dari miniatur alam jagad raya yang di dalamnya terpancar tentang adanya kekuatan supranatural yang sulit untuk dijelaskan dengan logika.

Membangun rumah adalah ibarat membangun sebuah alam raya dimana penghuninya akan hidup dan menjalankan misi hidupnya. Maka, membangun rumah seringkali disertai dengan penghayatan dan menghidupkan kembali tradisi untuk membangunkan nilai-nilai spiritual. Tak terkecuali acara munggah molo, yaitu menaikkan atau memasang bagian rumah yang paling tinggi, sebagai simbolisasi puncak jagad raya.

Dengan demikian, tahap menaikkan molo sebuah rumah tinggal biasanya didahului dengan acara selamatan. Bahkan malam sebelumnya diadakan melekan atau lek-lekan yang maksudnya tidak tidur malam, meletakkan sesaji dan memilih hari baik. Masih ada lagi, pemancangan paku emas di bagian puncak rumah yaitu di bagian blandar di bawah wuwungan.

Demikian yang pernah saya baca dalam tulisan-tulisan tentang tradisi Jawa, sebuah pemahaman filosofis yang sampai kini masih hidup di tengah sebagian masyarakat Jawa. Terlalu naif kalau kemudian saya mengatakan bahwa saya bukanlah bagian dari sistem yang seperti itu. Dan, saya sangat mengagumi, membanggakan dan mencintai kekayaan budaya Jawa.

***

Begitulah, acara munggah molo jadi dilaksanakan pada hari Kamis (pas hari pasaran) Pahing, 24 Juni 2004, bertepatan dengan tanggal 6 Jumadil Awal 1425H. Rangkaian acaranya adalah selamatan dan doa bersama pada hari Rabu malam, dengan mengundang para tonggo teparo (tetangga sekitar rumah), termasuk para tukang, serta mengundang seorang ustadz warga kampung dimana rumah saya berada.

Menu gudeg Yogya pun disajikan, untuk dinikmati  bersama bagi yang ingin langsung menikmatinya atau kalau mau dibawa pulang juga mudah karena sudah diwadahi dalam kotak kardus. Sebelumnya didahului dengan wejangan dan doa yang dipimpin oleh Pak Ustadz. Lalu acara dilanjutkan dengan silaturrahmi hingga larut malam sebagai wujud tradisi lek-lekan (tidak tidur malam). Meskipun toh akhirnya acara lek-lekan dipermudah, tidak perlu semalaman sampai pagi, tapi cukup sampai kalau merasa sudah ngantuk saja. Kasihan kepada para tamu yang besoknya mesti pergi bekerja, yang dalam terminologi Islam hukumnya lebih wajib dibandingkan dengan lek-lekan.

Esoknya, hari Kamis sekitar jam 12 siang atau usai dhuhur, diadakan selamatan lagi sebelum menaikkan molo. Kali ini hanya melibatkan para tukang (memang untuk merekalah sebenarnya acara ini diselenggarakan) dan mengundang beberapa tetangga dekat saja. Juga dengan mengundang Pak Ustadz yang tadi malam, sekali lagi untuk menyampaikan sedikit wejangan dan memimpin doa.

Tiba saatnya menaikkan molo. Saya sendiri merasa surprise, rupanya yang disebut ubo rampe atau asesori bagi acara munggah molo ini luar biasa (menurut saya) ribetnya. Sebelum doa, para tukang memasang bendera merah-putih berukuran sedang yang dibungkuskan di bagian tengah blandar. Lalu masih ada sesisir pisang ambon, seonggok padi yang sudah menguning dan seikat tebu, yang kesemuanya juga diikat dan digantungkan pada blandar. Pendeknya, blandar-nya dihias dengan ubo rampe tersebut, lalu dinaikkan dan dipasang pada posisinya, pada ketinggian kira-kira 13, 5 meter di atas muka tanah. Cukup tinggi untuk ukuran sebuah rumah berlantai dua.

Maka usailah sudah acara munggah molo siang itu (esoknya saya lihat pisang ambonnya sudah bablasss…..). Biasanya ada disertai pemancangan paku emas pada blandar. Tapi karena sebelumnya saya memutuskan tidak akan membeli paku emas, maka ya tidak ada yang perlu ditancapkan di blandar. Bukan karena apa-apa, hanya karena saya malas dan tidak mau repot-repot memesan dan membeli paku emas. Padahal ukuran paku emas ini hanya kecil saja, paling-paling cukup dibutuhkan satu gram emas. Tapi, ya itu tadi, saya kurang tertarik untuk mengurusi ubo rampe yang satu ini, yang menurut saya agak “aneh-aneh”. 

Sudah cukup? Belum rupanya. Para tukang lalu kumpul melingkari nasi tumpeng yang dilengkapi gudangan (urap), tempe, ayam goreng, telur, lalapan plus sambalnya, ditambah ikan bawal hasil coba-coba ternak ikan sendiri. Masih ada lagi, jajan pasar komplit, buah-buahan komplit (kelihatannya hanya buah kedondong yang tidak ada). Lalu ada bubur merah dan putih lima motif, daun kluwih, sewadah bunga dan entah ubo rampe apa lagi saya tidak ingat.

Setelah doa bersama yang dipimpin Pak Ustadz, saya disuruh memotong tumpeng yang lalu saya berikan kepada anak kedua saya yang laki-laki. Sengaja saya tidak pernah tanya apa makna di balik semua ubo rampe dan tata cara itu. Suatu saat nanti akan saya tanyakan kepada yang tahu. Ketika itu, saya takut terjebak ke dalam pemikiran mitos yang dapat mempengaruhi pemahaman saya tentang adanya kekuatan supranatural yang muncul dari ritual munggah molo, yang menurut keyakinan saya (maaf) cenderung mistis. Namun bagaimanapun juga saya adalah bagian tak terpisahkan dari sistem tradisi masyarakat yang seperti itu.

Alhamdulillah……, semua acara berlangsung lancar, santai, diwarnai canda dan cengengesan (untuk mengelabuhi nuansa sakral), dan yang penting semua senang dan kenyang. Para tukang pun semakin giat melanjutkan pekerjaan dengan perasaan hati yang lebih mantap.

Sungguh, bukan upaya yang mudah untuk menyiapkan segala macam asesori selamatan semacam itu. Dan, semua itu dilakukan oleh para tetangga saya. Betapa ribetnya. Betapa semangatnya para tetangga saya. Betapa ruh kekeluargaan, gotong royong dan guyub-rukun itu masih ada. Saya yang punya gawe, tapi mereka para tetangga saya dengan ikhlas menyiapkan serangkaian acara yang kaya akan nuansa warna-warni tradisi atau budaya Jawa yang indah. Unsur keindahan inilah yang ingin terus saya dan keluarga saya mengenangnya……. 

 

( 3 ) 

Membicarakan masalah tradisi yang disertai dengan simbolisasi melalui ubo rampe yang banyak macamnya serta serangkaian tata caranya, memang batasnya sangat tipis terhadap keyakinan akidah, khususnya bagi masyarakat yang beragama Islam. Ritual tradisi Jawa, tidak dipungkiri memang penuh dengan nuansa mistis yang terkadang sukar dicerna oleh logika. Tapi believe it or not, berbagai macam tradisi yang kaya akan keindahan itu masih hidup dan diyakini pemahamannya oleh sebagian masyarakat Jawa. 

Soal itu pula yang sebenarnya sempat mengganggu pikiran saya sebelum saya memutuskan untuk mengadakan ritual tradisi munggah molo. Ujungnya saya mencoba untuk berpikir positif saja, dengan menitik-beratkan pemikiran saya pada unsur-unsur yang konstruktif, yang berbobot amal saleh dan yang apresiatif terhadap kekayaan budaya. 

Apapun ubo rampe dan tata caranya, maka semua itu adalah warna-warni kehidupan masyarakat Jawa. Layaknya warna-warni balon ulang tahun atau warna-warni lampion dan umbul-umbul perayaan tujuh-belasan. Selebihnya adalah ungkapan rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta, berbagi nikmat rejeki kepada sesama, mempererat tali silaturrahmi dengan para tetangga dan merendahkan hati terhadap kekuasaan Sang Maha Kuasa. 

Maka, …..Bismillah…. Lalu acara selamatan munggah molo pun dikemas sebagai acara syukuran (demikian yang saya bisikkan kepada Pak Ustadz agar ditekankan dalam wejangannya). Para tetangga pun turut senang dan terutama para tukang menjadi semakin semangat. Material bangunan terus dapat dibeli (meskipun harga besi sempat naik gila-gilaan), hutang-hutang ke toko bangunan pun dapat dibayar, upah tukang terbayar sebagaimana haknya, pelaksana saya juga lega untuk melanjutkan tugas yang saya amanahkan kepadanya. 

Sejauh ini hasil kerja pelaksana saya dan para tukangnya cukup membuat kami sekeluarga puas, baik dari sisi teknis maupun artistiknya. Semoga kalau rumah kami kelak sudah jadi, akan menjadi tempat tinggal yang menyenangkan sebagai representasi alam jagad raya dimana kami hidup di dalamnya. 

*** 

Hal yang susah untuk saya jawab adalah kalau ada yang bertanya kenapa tidak membeli rumah di kompleks perumahan saja, atau kenapa tidak diborongkan saja pembangunannya kepada pemborong yang bonafid sehingga tidak perlu repot-repot mengurusi dan memonitor pekerjaannya. Pokoknya tahu-tahu sudah jadi, dibayar harganya dan tinggal menempati di lingkungan yang sudah terencana. Namun, kami mempunyai pertimbangan lain, yang justru disitulah nilai lebih dan seninya.

Pertama, di kampung Kalangan, kecamatan Umbul Harjo, Yogya, dimana rumah kami berada, kami sudah terlanjur suka dengan lokasi dan lingkungannya, meskipun berada terjepit di belakang kampung dengan akses jalan masuk yang kurang leluasa. Terasa seperti benar-benar berada di belahan mikrokosmos jagad Jawa yang kaya raya dengan warna-warni tradisi masyarakatnya.

Kedua, kalau saya pasrah bongkokan kepada seorang pemborong dalam pembangunannya, maka kemungkinan saya akan kehilangan kesempatan yang lebih bebas dan leluasa untuk meminta ini-itu atau mengubah rancangan dan asesori rumah sesuai dengan hasrat estetika yang kami inginkan. Sementara ide-ide semacam itu biasanya justru muncul ketika rumah sedang dalam tahap demi tahap penyelesaiannya, bukan pada awal ketika sedang membuat rancang bangun rumah.

Dengan menunjuk seorang pelaksana (yang Insya Allah dapat dipercaya), maka kami dapat mendiskusikan setiap jengkal bagian rumah, setiap kali muncul ide-ide baru atau menginginkan inovasi berbeda, dari gambar desainnya yang sebenarnya sudah ada. Sewaktu kami cuti ke Yogya sebulan yang lalu, kami dan pelaksana kami juga sempat beberapa kali bersama-sama berburu perlengkapan rumah dan material bangunan yang sesuai dengan yang kami inginkan. Komunikasi tidak lagi menjadi masalah. Telpon, SMS, fax dan email adalah piranti yang kami gunakan selama ini dalam berkomunikasi jarak jauh.

Dengan mengandalkan rasa saling percaya, kejujuran dan iktikad baik kedua belah pihak, maka mudah-mudahan kami akan dapat menghemat biaya, atau mengurangi kecepatan pekerjaannya bilamana suatu saat sumber dana sedang menyurut, dan yang lebih penting kami puas dengan kualitas dan tampilan yang kami inginkan. Hal ini jika dibandingkan dengan membeli rumah yang sudah jadi di kompleks perumahan atau menyerahkan pembangunannya pada pemborong umum.

Pertanyaannya menjadi : “Apa di jaman sekarang ini masih ada pelaksana yang jujur dan dapat dipercaya?”. Well……, saya belum dapat menjawabnya sekarang. Namun, mudah-mudahan keluguan cara berpikir saya akan direstui dan oleh karena itu dimudahkan oleh Tuhan Sang Maha Pencipta. Sejak awal saya sekeluarga memang berniat merenovasi dan membangun ulang rumah kami ini adalah sebagai bagian dari ibadah kami.

***

Munggah molo, hanyalah bahagian kecil saja dari pernik-pernik tahapan panjang kehidupan manusia. Ada yang jauh lebih penting, yaitu bagaimana manusia itu me-manage sisa hidup dan kehidupannya di dunia fana yang sesungguhnya, apapun ubo rampe-nya. Seindah dan seheboh apapun rencana hidup manusia, masih ada yang lebih Maha Indah dan Maha Merencanakan. Tinggal bagaimana manusia mampu menjaga kemesraannya agar semua rencana hidupnya yang indah itu “matching” dengan sistem kosmos jagad raya dan Sang Pemiliknya.

Tembagapura, 31 Juli 2004
Yusuf Iskandar

Mbah Pono

9 April 2008

Menjelang tengah malam, Kamis malam Jum’at, 25 Juli 2002, mendadak saya kepingin makan bakmi. Sebagai warga Bintaran (setidaknya KTP saya masih beralamat Bintaran Kulon), pilihan utama tentu saja Bakmi Kadin yang warungnya berada di jalan yang sama. Dari rumah Eyangnya anak-anak saya hanya perlu berjalan kaki beberapa puluh meter ke utara sudah sampai di depan Bakmi Kadin.

Lha, ternyata warung Bakmi Kadin masih penuh pengunjung. Saya timbang-timbang, kalau saya pesan bakmi goreng di sini pasti akan sangat lama menunggunya. Lalu saya putuskan untuk menyeberang jalan ke sisi timurnya. Di situ juga ada tukang bakmi. Juga ramai pengunjung, tapi tidak seramai Bakmi Kadin. Di warung ini rasanya saya tidak akan terlalu lama menunggu untuk pesan bakmi goreng dibungkus untuk dibawa pulang.

Berbeda dengan Bakmi Kadin yang dari jauh saja mudah ditandai karena ada papan namanya. Itu pun masih ditambahi tulisan “Yang Asli”. Seakan ingin meyakinkan para pelanggan baru agar tidak keliru dengan “yang tidak asli”, “yang palsu”, “yang tiruan” atau “yang imitasi”. Tukang bakmi yang saya beli malam itu tanpa papan nama. Tapi karena lokasinya ada di depan Bakmi Kadin, saya sebut saja Bakmi Depan Bakmi Kadin.

Sambil menunggu pesanan saya disiapkan, saya duduk-duduk di bangku agak mojok di samping meja penyaji minuman bajigur. Seperti sudah menjadi ciri khasnya, bahwa pasangan dari tukang bakmi adalah tukang bajigur. Persis sama seperti di warung Bakmi Kadin, di warung Bakmi Depan Bakmi Kadin inipun juga tersedia bajigur. Tukang bajigurnya adalah seorang nenek berusia sekitar tujuh puluhan tahun. Orang-orang mBintaran biasa memanggilnya Mbah Pono.

***

Mbah Pono ini rupanya termasuk orang tua yang suka diajak ngobrol. Ini tentu membuat saya merasa nyaman duduk berlama-lama di bangku panjang itu menunggu pesanan bakmi goreng sambil ngobrol dengan Mbah Pono. Ngobrol dalam bahasa Jawa krama hinggil tentunya.

Omong-omong tentang bakmi. Bagi lidah saya sebenarnya tidak ada perbedaan taste yang signifikan antara Bakmi Kadin dengan Bakmi Depan Bakmi Kadin. Kalaupun ada perbedaan, maka parameternya adalah “tingkat kelaparan” kita saat itu, dan harga per porsi yang lebih murah di warung Bakmi Depan Bakmi Kadin.

Namun rupanya masing-masing warung itu sudah memiliki pelanggannya sendiri-sendiri. Hanya untuk pendatang baru, biasanya akan langsung menuju ke Bakmi Kadin “Yang Asli”. Saya anggap wajar-wajar saja kalau ada seseorang yang belum merasa puas kalau belum sempat mencicipi Bakmi Kadin “Yang Asli” yang kini dikelola oleh Mbah Karto perempuan (yang bergelar Hajjah sejak dua musim haji yll, sedang Mbah Karto Kasidi yang laki-laki sudah lama meninggal) dan Pak Rohadi putranya.

Sejak mundurnya Mbah Amat (yang meninggal dunia sebulan yll.) dari dunia per-bajigur-an di awal tahun 70-an, maka Mbah Pono adalah salah satu penerusnya. Lalu ber-partner dengan Mbah Karto, berdua melanjutkan usaha bakmi-bajigur. Seperti Mbah Amat almarhum, pasangan Mbah Karto laki-laki dan Mbah Pono perempuan inipun menempati emperan kantor Kadin.

Ketika kantor Kadin direnovasi sekitar sepuluh tahun yll. Mbah Karto melanjutkan warung bakminya di belakang bangunan Kadin, tepatnya di Jalan Bintaran Kulon 6 yang ditempatinya hingga kini. Namun nasib kurang mujur bagi Mbah Pono. Rupanya Mbah Karto perempuan punya rencana bisnis baru, beliau merencanakan akan menyajikan sendiri minuman bajigur. Dengan kata lain, bakminya Mbah Karto sudah tidak memerlukan tenaga Mbah Pono lagi untuk menjadi partnernya menyediakan bajigur, demikian tutur Mbah Pono malam itu.

Hebatnya, Mbah Pono tidak sakit hati. Beliau nrimo dengan adanya rencana bisnis Mbah Karto yang hingga kini telah berkembang menjadi Bakmi Kadin. Sedangkan Mbah Pono memilih untuk pensiun saja dan tinggal di rumahnya di belakang Jalan Bintaran Kidul.

***

Nampaknya garis hidup Mbah Pono memang tidak jauh-jauh dari dunia per-bajigur-an. Ketika beberapa tahun yll. di depan Bakmi Kadin dibuka warung bakmi baru dan Mbah Pono ditawari untuk menyediakan bajigurnya, beliau pun bersedia. Maka jadilah seterusnya Mbah Pono kembali menjadi tukang bajigur hingga kini, di warung bakmi baru yang tadi saya sebut sebagai Bakmi Depan Bakmi Kadin yang tanpa papan nama.

Bajigurnya Mbah Pono ini rupanya punya taste berbeda, maka tidak heran kalau Mbah Pono punya pelanggan tersendiri. Menurut pengakuannya, banyak pelangan lamanya yang pernah kenal bajigur Mbah Pono sejak masih bersama Mbah Karto laki-laki di depan kantor Kadin yang lama, kini kembali kepadanya. Pengakuan yang bagi saya sukar dibuktikan, tapi saya percaya saja.

Lalu apa rahasianya? Entahlah. Barangkali tangan si pembuatnya saja yang lain. Nampaknya racikan bajigurnya ya begitu-begitu juga. Ada air santan, ada irisan kelapa muda dan kolang-kaling. Yang saya baru tahu adalah bahwa ternyata ada tambahan air kopi barang satu-dua sendok dalam setiap gelas bajigur yang disajikan.

Pilihan hidup Mbah Pono, terkadang memang susah dipahami. Di usia senjanya yang bahkan sudah di ambang malam, beliau memilih untuk tetap tekun menggelar jualan bajigurnya. Dua dandang besar bajigur dihabiskannya mulai jam 4 sore hingga tengah malam menyertai bukanya warung bakmi. Sekitar 150 gelas disajikan setiap hari. Kalau harga per gelasnya Rp 1.500,- maka artinya seorang Mbah Pono telah memutar uang, sebut saja Rp 200.000,- per harinya.

Salut untuk Mbah Pono, dan Mbah-mbah lainnya yang senantiasa tekun dengan kerja kerasnya, saat sebagian mbah-mbah yang lain duduk di kursi goyang menikmati hari tuanya. Orang-orang seperti Mbah Pono ini memang tidak pernah terimbas apalagi mengenal apa itu krismon. Yang dia tahu kalau harga gula atau kelapa naik, ya harga bajigurnya juga ikut naik. Lalu para pelanggannya pun kudu paham. Sesederhana itu, tapi entah sampai kapan.

Sugeng ndalu (selamat malam), Mbah…”. Sekantong plastik bajigur panas langsung saya bawa pulang dan habiskan malam itu juga.-

Yogyakarta, Juli 2002
Yusuf Iskandar

Mbah Amat

9 April 2008

Jum’at sore, 28 Juni 2002, saya tiba di Yogya. Seperti biasa, anak-anak lebih suka langsung menuju ke rumah Eyangnya di Bintaran Kulon. Setiba di rumah Eyangnya anak-anak, terlihat sebuah bendera putih berkibar di pingir jalan di sebelah rumah. Siapapun tahu bahwa bendera putih semacam ini bukan pertanda terjadi genjatan senjata setelah tawuran antar kampung, melainkan tanda ada yang sedang kesripahan (berduka cita).

Dalam hati, saya berprasangka : “Jangan-jangan Mbah Amat yang meninggal…..”. Ini memang prasangka buruk yang (saya yakin) kalau di dengar orang tidak akan menimbulkan amarah. Lantaran semua orang di bilangan mBintaran tahu bahwa Mbah Amat ini memang sudah sangat sepuh (tua), sehingga “wajar” saja kalau misalnya sudah sampai waktunya dipanggil oleh Sang Maha Pencipta. 

“Innalillahi wa-inna ilaihi ro-ji’un” (sesungguhnya semua berasal dari Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya). Meskipun sungguh tidak saya harapkan, ternyata prasangka saya benar. Mbah Amat Sadari menghembuskan nafas terakhirnya siang tadi, setelah menderita sakit tua sejak beberapa waktu sebelumnya.

***

Kabar tentang orang meninggal dunia sebenarnya hal yang biasa saja. Namun kabar meninggalnya Mbah Amat ini memberi kesan yang luar biasa bagi saya.

Sejak saya menjadi menantunya Eyangnya anak-anak lebih 10 tahun yll, saya mengenal Mbah Amat sebagai sosok orang sangat tua yang pantang menyerah dalam mengarungi hidup dan taat beribadah. Terakhir saya ketemu Mbah Amat setahun yll, beliau masih tekun sholat lima waktu dengan berjamaah di masjid Bintaran, yang berjarak sekitar 50 meter dari rumahnya. Padahal berjalannya saja sudah tertatih-tatih dibantu dengan tongkatnya.

Ketika jenasahnya akan diberangkatkan ke pemakaman esok harinya, seperti biasa ada acara sambutan oleh pihak keluarga. Hal yang menakjubkan saya adalah saat diumumkan bahwa almarhum Mbah Amat mempunyai dua orang anak, sekian cucu, sekian buyut (anaknya cucu) dan sekian canggah (cucunya cucu). Dengan kata lain, di masa hidupnya Mbah Amat ini sempat ketemu dengan keturunan generasi kelimanya.

Luar biasa. Di masa kini, sangat jarang seseorang yang sempat ketemu dengan canggahnya. Alih-alih ketemu canggah (generasi ke-5), sempat ketemu buyut (generasi ke-4) saja sudah merupakan karunia Tuhan yang sangat besar. Bahkan Mbah Amat ini sudah lebih dahulu ditinggal mati oleh seorang anaknya.

Menurut catatan di Kartu Keluarga, Mbah Amat lahir tahun 1904 yang berarti meninggal dunia dalam usia 98 tahun. Namun sangat diyakini oleh keluarganya bahwa sesungguhnya usia Mbah Amat lebih dari seabad ketika meninggal dunia. Pasalnya, menurut ceritera seorang cucunya yang setia menemani Mbah Amat hingga detik-detik akhir hidupnya, suatu kali beberapa minggu sebelum meninggal pernah omong-omong santai dengan Mbah Amat serta menanyakan usianya. Dan Mbah Amat dengan sangat yakin dan gaya humornya menjawab bahwa usianya lebih dari seratus tahun. Sebuah usia yang rasanya memang masuk akal.

Kalau demikian halnya, berapa usia sebenarnya? Sayang sekali, Kartu Keluarga model lama yang masih tertulis dengan huruf Arab Jawa, tulisannya sudah sangat buruk, rusak dan kabur, sehingga tidak terbaca. Itu sebabnya maka dibuatlah Kartu Keluarga model baru, sebagaimana yang dimilikinya saat ini yang menyebut beliau lahir tahun 1904.

***

Siapakah Mbah Amat ini? Orang-orang tua atau orang-orang lama di sekitar Bintaran mengenal almarhum sebagai tukang bajigur. Bajigurnya Mbah Amat dulu sempat sangat populer dan digemari, hingga berhenti mbajigur sejak sekitar 30 tahun yll. sebelum generasi tukang bajigur berikutnya muncul melanjutkan berjualan bajigur.

Tidak jelas benar kenapa sebagai orang Yogya, Mbah Amat menekuni usaha menjadi tukang bajigur, yang sebenarnya lebih dikenal sebagai minuman khas daerah Jawa Barat. Namun yang jelas, Mbah Amat pernah berjaya dengan bajigurnya hingga puluhan tahun dan setiap malam menggelar dagangannya di tritisan (emperan) kantor yang kelak kemudian dikenal sebagai kantor Kadin, berpasangan dengan tukang bakmi bernama Mbah Karto Kasidi. Kini bakminya Mbah Karto dikenal sebagai Bakmi Kadin.

Di saat-saat akhir hayatnya, saat periode pikun dialaminya, Mbah Amat suka meminta cucunya untuk menyediakan anglo di dekat tempat tidurnya. Lalu beliau mengambil kipas dan berlaku seolah-olah sedang menghidupkan arang di atas anglo yang sedang memanaskan dandang berisi bajigur. Kalau diingatkan cucunya bahwa Mbah Amat kini sudah tidak lagi berjualan bajigur, beliau hanya tesenyum.

Kini, Mbah Amat mantan tukang bajigur Bintaran itu telah tiada. Meninggalkan kesan yang luar biasa menurut ukuran akal saya. Wafat dalam usia seabad. Sempat bertemu dengan canggahnya (keturunan kelima) sebelum meninggalnya. Di hari tuanya nyaris tidak pernah absen sholat lima waktu berjamaah di masjid.

Suka guyon (bercanda) dan nrimo (ikhlas) menjalani hidup, agaknya bisa menjadi salah satu laku Mbah Amat yang layak dicontoh. “Selamat jalan, Mbah……!”.  

Yogyakarta, Juli 2002.
Yusuf Iskandar

Suatu Pagi Di Pasar Sentul

9 April 2008

Usai sholat subuh, anak laki-laki saya yang berumur 6,5 tahun ikut bangun. Sekitar jam 05:15 pagi, saya ajak dia untuk jalan-jalan pagi ke pasar Sentul, Yogya, yang jaraknya tidak terlalu jauh. Jalanan masih terlihat sepi. Berdua anak saya, kami dapat jalan melenggang santai di bawah udara pagi yang segar dan belum terganggu kesibukan dan kebisingan lalulintas kota Yogya.

Tidak terlalu lama kami sampai di pasar Sentul yang pagi itu tampak sudah ramai dan sibuk. Halaman depan pasar yang normalnya adalah halaman parkir, pagi itu sudah penuh sesak dengan para pedagang yang menggelar dagangannya berjajar tidak rapi, menyisakan sekedar lorong sempit tempat orang-orang berjalan menyusuri sela-sela gelaran dagangan.

Kebisingan khas pasar tradisional mewarnai suasana pasar Sentul. Riuh rendah suara pedagang dan pembeli yang sedang melakukan transaksi, bunyi pisau yang beradu dengan landasan kayu dari pedagang ayam yang sedang memotong-motong daging ayam, dan gemuruh bunyi mesin pemarut kelapa.

Saya dan anak laki-laki saya lalu menerobos masuk ke dalam pasar dan turut berdesak-desakan di antara lalu-lalang pedagang dan pembeli yang umumnya kaum ibu dan para kuli pasar yang menggotong barang dagangan.

Tujuan kami pagi itu adalah mencari penjual gudangan atau urap, salah satu jenis makanan kesukaan saya. Setelah lebih dua tahun tinggal di New Orleans, maka ada semacam rasa kangen ingin menikmati jenis masakan tradisional ini. Meskipun bisa membuatnya sendiri di rumah, tapi tak bisa disangkal bahwa gudangan atau urap bikinan si mbok penjual urap pasar Sentul ternyata mampu memberikan taste berbeda.   

Tidak mudah menemukan lokasi si mbok penjual urap ini. Ya, maklum wong sudah lama tidak masuk pasar. Setelah berjalan putar-putar kesana-kemari beberapa kali, akhirnya terpaksa tanya kepada seorang pedagang tahu. Si mbok penjual tahu menjawab dengan sangat sopan menjelaskan bahwa pedagang urap belum datang. “Dipun entosi kemawon sekedap malih, Pak” (ditunggu saja sebentar lagi, Pak), jelasnya.

Sambil menunggu kedatangan si mbok penjual urap, saya ajak anak saya untuk mencari pedagang tempe bungkus kesukaan saya. Saat jalan berdesak-desakan ini anak saya sempat melapor : “Kaki saya diinjak orang, Pak”, katanya ringan sambil agak meringis. Ya, inilah pasar. Setelah menyodorkan uang Rp 1.000,- untuk 12 buah tempe bungkus, kami lalu kembali menuju ke lokasi penjual urap. Rencananya, sore harinya saya ingin menikmati hangatnya tempe goreng Yogya sambil minum kopi.

*** 

Rupanya si mbok penjual urap baru saja selesai menggelar dagangannya. Langsung saya memesan lima bungkus urap. Dengan cekatan si mbok membuka selembar sobekan kertas koran, lalu dilapis dengan sesobek kecil daun pisang di atasnya. Tangannya menjumput (mengambil dengan ujung-ujung jari) nasi putih, lalu dijumputnya serba sedikit daun ubi, daun pepaya, daun kencur, kecambah, bijih mlandingan, daun bayam, dsb., lalu ditambahkan bumbu parutan kelapa, dan akhirnya sepotong tempe besengek (jenis masakan berbahan tempe atau tahu).

Harga per bungkus nasi urap yang dua tahun yll. masih berkisar Rp 150,- atau Rp 200,-, kini sudah naik menjadi Rp 500,- Agaknya semua pihak sudah maklum dengan harga ini. Para pembeli pun terkadang tanpa perlu banyak ngomong untuk memperoleh sebungkus nasi urap. Cukup dengan menyodorkan selembar uang limaratusan, lalu tinggal menyebut tahu atau tempe, setelah dibungkuskan lalu ngeloyor pergi.

Saya suka menyebut peristiwa semacam ini dengan mekanisme pasar tradisional, yang tentu berbeda maknanya dengan istilah mekanisme pasar seperti yang sering disebut di koran atau televisi.

Mekanisme pasar tradisional yang tumbuh dari perhitungan ekonomi yang sederhana saja. Karena harga bahan mentahnya naik maka harga jualnya juga naik dan pembeli pun mafhum dengan harga yang disesuaikan itu. Demikian seterusnya, tanpa perlu pusing-pusing menghitung yang rumit-rumit tentang margin keuntungan guna break even.

Juga tidak perlu pusing-pusing tentang siapa presiden negerinya atau wakil presiden atau menteri kabinet atau pejabat ini dan itu, dimana hari-hari ini televisi sedang menyiarkan agenda Sidang Istimewa MPR. Lha, wong presiden dan para pejabat itu juga tidak pernah pusing-pusing memperhitungkan mekanisme pasar ala si mbok penjual urap ini.  

Nyatanya toh dengan cara yang demikian itu si penjual tetap meraih keuntungan yang barangkali tidak seberapa asal masih layak guna mencukupi kebutuhan hidup  keluarganya. Si pembeli pun ikhlas membayarkan uangnya guna memenuhi kebutuhan sarapan paginya. Dan salah satu di antara pembeli pagi itu adalah saya dan anak saya.

***

Tiba di rumah dari pasar Sentul pagi itu, kelima bungkus nasi urap langsung ludes. Kenikmatan sarapan pagi yang saya rasa luar biasa yang sudah lama tidak saya rasakan. Dalam hati saya sangat berterima kasih kepada si mbok penjual urap atau mbok-mbok lainnya di pasar. Pagi itu saya temukan sebuah kenikmatan sarapan pagi yang sangat saya syukuri.

Bukan saja lantaran taste dari nasi urap dan tempe besengek bikinan si mbok, melainkan juga lantaran untuk memperolehnya saya bersama anak saya harus berdesak-desakan di tengah hiruk-pikuknya pasar Sentul. Sungguh pengalaman berbeda yang menyenangkan khususnya bagi anak laki-laki saya.

Menyenangkan? Ketika selesai sarapan saya bertanya kepada anak saya :

Le, bagaimana kalau besok pagi jalan-jalan lagi ke pasar Sentul” (terkadang saya menyapa anak saya dengan Le, sapaan akrab ala desa di Jawa).

Jawab anak saya : “No, too crowded…..”, dengan logat bahasa Inggrisnya yang lebih baik dari saya. Tapi jawaban anak saya rupanya masih berlanjut : “…..tapi saya senang jalan-jalan ke pasar….”-

Yogyakarta, 26 Juli 2001
Yusuf Iskandar

Foto-foto Berau

8 April 2008

RM Rizky Muara Wahau

Di depan Rumah Makan “Rizky” Muara Wahau. Dari kiri ke kanan : Daru, Levi, Ashri, Yusuf dan Pak Sopir (yang motret Darsun)

Taman Hutan Sei Tangap

Taman Hutan Wisata “Sei Tangap” – Milik Inhutani dan sekarang kondisinya sudah tidak terurus.

Trigana ATR 42

Pesawat ATR 42 Trigana Air Jurusan Tanjung Redeb – Balikpapan

Bandara1 Kalimarau

Bandara Kalimarau Tanjung Redeb – Saat pagi hari dan masih sepi

Makan Malam

Makan Malam di “New Family Cafe” Tanjung Redeb

Bakau

Pohon Bakau di Tepi Sungai Segah

Akar

Akar Bakau

Pelabuhan Batubara

Salah Satu Pelabuhan Batubara di Sungai Segah

Teluk Bayur1

Kampung Nelayan di Pelabuhan Teluk Bayur

Perahu3

Pelabuhan Nelayan Teluk Bayur

Jalan2

Jalan Aspal Menjelang Tiba di Teluk Bayur

Jalan Tanah

Jalan Tanah di Kecamatan Keley Antara Km 575-630 Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Antri

Terjebak Lumpur di Km 535 Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Menara Masjid di Tanjung Redeb

Menara Masjid Agung “Baitul Hikmah” – Kini banyak menyimpan sarang burung walet

Lorong Masjid

Salah Satu Lorong Masjid Agung “Baitul Hikmah”

Beringin

Beringin Tua di Kecamatan Teluk Bayur

Teluk Bayur

Salah Satu Sudut Perkampungan Nelayan di Pelabuhan Teluk Bayur

Makan Malam, Akhirnya Datang Juga…

7 April 2008

Mencari makan malam di Tanjung Redeb sebenarnya mudah. Kalau mau yang lebih merakyat dan murah meriah, datanglah ke kawasan Tepian sungai Segah. Di sana banyak pilihan menu di warung-warung tenda yang berjajar di sepanjang jalan yang menuju ke Tepian dari arah selatan. Atau kalau mau yang agak eksklusif, ada beberapa resto yang dapat dipilih. Meskipun untuk jenis yang terakhir ini plihan belum sebanyak di kota-kota lain.

Salah satu yang menjadi tujuan makan malam kami waktu itu adalah New Family Cafe. Ini adalah nama tempat makan yang menyebut dirinya dengan embel-embel Resto dan Tempat Pemancingan Umum. Lokasinya berada di Jalan Pulau Sambit, Gg. Aren, kira-kira di pertengahan dari arah Tanjung Redeb menuju Teluk Bayur, lalu masuk gang kecil ke kiri kira-kira 25 meter. Lokasinya memang tidak terlalu jelas terlihat dari jalan raya, tapi ada papan nama di pinggir jalan.

Memperhatikan lokasinya, resto ini menempati lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas untuk model resto kebun atau terbuka, tapi cukup rimbun dengan pepohonan. Deretan meja-kursi berada di bangunan utama dan di sekeliling kolam ikan. Resto yang dibangun dengan konstruksi kayu ini juga menawarkan kegiatan rekreatif berupa pemancingan dengan disediakannya kolam ikan di bagian tengah, meski tidak terlalu besar ukurannya. Tentunya kegiatan pemancingan hanya kalau siang hari saja. Juga tersedia musik hidup (live), bukan sekedar organ tunggal. Suasananya cukup santai.

Menu ikan-ikanan (maksudnya berbahan dasar ikan) adalah menu unggulannya. Banyak pilihan ikan, terutama ikan laut. Juga banyak pilihan cara memasaknya, dibakar atau digoreng dengan aneka bumbunya. Cah kangkung, jamur, sambal tomat adalah asesori yang menjadi pasangan beraneka menu ikan.

***

Begitu mengambil tempat yang agak mojok, kami segera didatangi oleh seorang pelayan yang siap mencatat order makanan. Karena belum paham karakteristik dari setiap menu dan penyajiannya, maka sudah menjadi kebiasaan saya untuk tanya-tanya dulu kepada mbak pelayan. Antara lain, tentang menu unggulan yang ditawarkan, seperti apa memasaknya, seberapa besar ukurannya, cukup untuk berapa orang, dsb.

Maksudnya agar jangan sampai kurang, tapi jangan juga tersisa berlebihan. Ini karena kami memilih pesan makanan secara rombongan, bukan sendiri-sendiri. Kalau saja sedang di kota sendiri bersama keluarga, sisa makanan (maksudnya makanan yang tidak habis dimakan di resto) bisa dibungkus untuk dibawa pulang. Lha, kalau sedang di kota lain, mau diapakan?

Tapi sayang, agaknya si mbak pelayan kurang terampil dan kurang responsif dalam memahami model pelanggan seperti saya. Ketika ditanya seekor ikan patin goreng dan ikan putih bakar masing-masing cukup untuk berapa orang? Dijawabnya cukup untuk 2-3 orang. Maka yang terlintas di benak saya adalah seekor ikan yang sama ukuran dan penyajiannya dengan kalau kita pesan ikan di resto ikan-ikanan di tempat lain.

Setelah menunggu agak lama (ini yang agak membuat kesal, apalagi sedang lapar-laparnya, sementara resto malam itu sedang tidak terlalu ramai pengunjung), akhirnya datang juga….. Seperti acara televisi dimana seorang pemainnya belum tahu terhadap plot yang akan dimainkan. Dan pemain itu adalah saya dan rombongan.

Nasi sudah dibagikan secara adil dan merata di dalam piring masing-masing pemain, bukan di dalam cething atau tempat nasi. Lha ikannya? Dua ekor ikan berukuran sedang masing-masing sudah berada di piringnya dan sudah dipotong-potong. Kalau dihitung potongannya, memang setiap orang akan kebagian satu atau dua potong ikan. Tapi tentu bukan seperti itu maksud dari pertanyaan saya semula. Melihat gelagatnya bahwa sajian ikan tentu tidak memenuhi yang dibutuhkan, maka pelayan dipanggil dan segera pesan lagi dua porsi tambahan, ikan yang sama.     

Sambil menunggu rombongan ikan kloter kedua mendarat, acara makan malam segera dimulai. Para pemain segera meraih ikan sepotong demi sepotong dari piringnya. Karena pesanan enggak datang-datang, lama-lama nasi di piring masing-masing pemain habis sendiri (maksudnya terpaksa dihabiskan meski hanya dengan cah kangkung, tempe goreng dan dengan jumlah ikan yang terbatas, daripada bengong menunggu pesanan tidak datang-datang…..).

Akhirnya datang juga……, dua piring ikan kloter tambahan segera mendarat di atas meja makan. Tapi nasinya sudah telanjur habis. Terpaksa pesan beberapa piring nasi putih tambahan, dengan maksud untuk teman menghabiskan dua piring ikan susulan tadi. Ee…., judulnya kini ganti, nasi nan tak kunjung tiba……

Sambil menunggu ransum tambahan nasi putih, dua piring ikan pun di-thithili (dimakan sedikit-sedikit) rame-rame seperti potong padi di sawah. Lama-lama ya habis juga itu ikan, tepatnya tinggal sedikit, itu pun bagian ekor dan endhas (kepala). Dan, judulnya masih tetap nasi nan tak kunjung tiba…..

Setelah disusuli oleh seorang rekan ke dapur (jadi tahu seperti apa dapurnya), akhirnya datang juga….. , dan nasi putih kemudian tersaji di atas meja. Terpaksa lagi, nasi putih pun di-thithili dengan sisa potongan ikan yang masih ada, daripada mubazir wong sudah dipesan. Jadi, perlu pesan ikan lagi? Lalu nasi putih lagi?

Maka, acara “akhirnya datang juga” terpaksa distop, sebelum “guyonan” pelayan resto semakin menjadi-jadi…….

***

Perihal menu ikan dan ramuan bumbunya, sejujurnya harus diacungi jempol. Rasanya cocok, hoenak dan pas di indra pencecap. Cah kangkungnya juga lezat, meski agak kematangan memasaknya, tapi tetap memberikan taste yang delicious, kata orang sono. Apalagi sambal tomatnya, wuih…. beberapa kali saya cecap-cecap untuk menyelidiki bagaimana membuatnya. Ya, enggak bisa juga wong bukan ahlinya. Pendeknya, dari sisi cita rasa resto ini layak diunggulkan untuk dicoba dan dinikmati rasanya.

Hanya saja, mesti “hati-hati” sebelum menjatuhkan pilihan pesanan makanan. Jangan sampai diajak “guyonan” sama pelayannya. Sebab betapapun enaknya rasa masakannya, menjadi tidak bisa dinikmati kalau mesti menunggu kelewat lama. Perut yang semula lapar keburu kenyang dengan sendirinya, lalu lapar lagi, lalu kenyang lagi.

Cita rasanya memang pantas untuk dibayar mahal, tapi “guyonan” ala acara televisi “akhirnya datang juga”….., ngngngng….. caaapek, deh! (nunggunya). Mudah-mudahan pengalaman malam itu adalah satu-satunya kejadian di New Family Cafe, agar saya tetap bisa merekomendasikan untuk mencoba berpetualang dengan menu lezatnya New Family Cafe.

Madurejo, 19 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Ketika Pasutri Bugis Dan Manado Membuka Rumah Makan

7 April 2008

Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-istri itu menyapa masyarakat Balikpapan dengan “Hai”. Maka, jadilah rumah makan “Bumahai”.

Sesederhana itu. Mulanya rumah makan ikan bakar yang terletak di jalan Marsma R. Iswahyudi itu mau diberi nama “Sepinggan”, karena lokasinya memang berada di jalan utama menuju bandara Sepinggan, Balikpapan. Kurang dari sepuluh menitan dari bandara. Tapi mengingat kata sepinggan bisa berarti sepiring, Pak dan Bu Tahir ini ciut juga nyalinya. Jangan-jangan nanti pelanggannya hanya memesan sepiring dua saja lalu pergi. Akhirnya ditemukanlah judul “Bumahai” itu.

Apalah artinya sebuah nama. Tapi pilihan nama memang perlu karena dia adalah brand image, dan selalu ada harapan atau filosofi di baliknya. Perkara maknanya pas atau plesetan, itu soal lain.

***

Restoran yang menyediakan menu masakan Bugis dan Manado dengan bahan dasar ikan ini memang layak untuk disambangi. Sejak berdiri 12 tahun yang lalu ketika masih berada di pinggir jalan, hingga kini pindah agak masuk di belakang pertokoan dan menempati area yang lebih longgar, rumah makan ini banyak dan sering dikunjungi para pengudap dan penikmat makan. Racikan bumbu dan olahan setiap menunya tergolong huenak dan pas di lidah siapa saja. Bukan saja penggemar menu Bugis atau Manado.

Sebut saja aneka ikan baronang, terkulu, bawal, kakap, patin, kerapu, udang, cumi dan kawan-kawannya dari laut yang diolah menjadi menu gorengan atau bakaran. Salah satu menunya adalah woku belanga, yaitu ikan dimasak kuah ditambah dengan asam dan sedikit kunyit. Coba dan rasakan sruputan pertama kuahnya. Wuih….cesss…., kuah agak bening kekuningan mengalir di tenggorokan dengan taste yang khas.

Juga ikan bakar atau goreng dengan bumbu kuning, rica atau goreng biasa, rasa gurihnya terasa tidak berlebihan dan proporsional. Oseng kangkungnya divariasi dengan bunga pepaya (biasanya dari jenis pohon pepaya laki-laki, dan entah kenapa pohon pepaya perempuan kok tidak keluar bunganya sebanyak pepaya laki-laki), dengan ramuan bumbu khas Manado yang pas benar pedasnya. Sehingga bagi lidah Jogja yang terbiasa dengan rasa manis pun tidak terasa terganggu.

Daun ubi dicampur dengan daun pepaya rebus, dipadu dengan sambal tomat dan irisan bawang merah, memaksa saya menambah pesanan sepiring lagi. Perkedel jagungnya juga beda dari yang biasa saya jumpai di Jawa. Perkedel dengan prithilan jagungnya dibiarkan utuh, tidak diparut atau di-ulek (dihaluskan), dicampur dengan adonan tepung sehingga menyelaputi tipis saja. Tapi tetap terasa renyah, empuk dan butir jagungnya tidak menggangu kerja gigi untuk mengunyahnya.

Rasanya pantas kalau rumah makan “Bumahai” ini pada tahun 2001 pernah dianugerahi ASEAN Social and Economic Cooperation Golden Award, khusus bidang Food and Service. Hingga kini rumah makan “Bumahai” tetap ramai dikunjungi pelanggan, terutama pada jam-jam makan siang. Buka seharian hingga malam, kecuali kalau hari Minggu, sore hari sudah tutup.

Demi menjaga kualitas sajiannya, Bu Jetty turun tangan sendiri untuk masalah quality control terhadap bumbu dan cita rasa. Agaknya unit usaha rumah makan ini tetap menjadi andalan bagi keluarga Pak Tahir, kendati tetap menekuni bidang-bidang bisnis lainnya.

Harga yang mesti dibayar untuk kepuasan urusan selera lidah dan perut ini termasuk wajar untuk ukuran biaya hidup di Balikpapan yang rata-rata lebih tinggi dibanding kota-kota besar di Indonesia lainnya. Pelayanannya pun cukup memuaskan. Kalau ada kesempatan dibayari, rasanya saya tidak akan menolak untuk diajak mampir ke “Bumahai” lagi. Namanya juga dibayarin…, enggak ada ruginya….

Cengkareng, 9 Januari 2008
Yusuf Iskandar