Archive for Agustus, 2008

Selamat Berpesta Ramadhan-ria

31 Agustus 2008

Email dan SMS berdatangan berduyun-duyun berebut menghampiri kita, di mailbox dan di ponsel kita. Nyaris tak terbendung banyaknya. Saking banyaknya terkadang tak sempat terbaca semua pesan yang disampaikan, kata demi kata, kalimat demi kalimat.

Oleh karena itu, tidak perlu merasa bersalah kalau tidak sempat membaca semuanya, bahkan terkadang tak juga sempat membuka semuanya. Bukan karena si pengirim tidak bakal tahu, tapi rasanya akan dapat dimaklumi ketika puluhan bahkan ratusan SMS pathing pecothot di hape kita.

Berbagai kata, kalimat, gaya bahasa, ungkapan, parikan, plesetan, mewarnai unjuk rasa dan unjuk hati akan datangnya bulan suci Ramadhan 1429 H. Namun, apapun kata-katanya, tujuanya tetap satu, yaitu ungkapan kegembiraan menyambut Ramadhan dan ungkapan saling bermaafan yang tulus sebagai salah satu kunci pembuka pintu Ramadhan. Agar hati menjadi bersih, lega dan longgar guna menampung berjuta kebaikan yang dibawa dan akan ditebar oleh Ramadhan, bagi mereka yang memang berniat memperolehnya.

Ya, hanya mereka yang sungguh-sungguh berniat dan berharap. Rugi sekali mereka yang tidak berniat, sebab akhirnya menjadi tidak berusaha meraihnya. Rugi sekali mereka yang setengah hati menyambut kehadiran Ramadhan. Rugi sekali mereka yang enggan mengelu-elukan tebaran rahmat, berkah dan maghfirah yang sedang diangkut oleh Ramadhan dari atas langit paling atas untuk dibagi-bagikan kepada peminta dan pengharapnya. Karena itu, Ramadhan perlu disongsong dan disambut dengan sepenuh rasa suka-cita, kegembiraan dan semangat (jangan membuang waktu untuk mempertimbangkannya sekalipun dengan sangat dan sungguh-sungguh).

Hanya dengan itu, maka bulan mega-bonus ini akan benar-benar menebarkan bonusnya. Lebih dari sekedar gebyar hadiahnya, melainkan Ramadhan tidak akan pilih-pilih siapa pemenangnya. Kalaupun empat milyar warga bumi menjadi pemenangnya, maka sebanyak itu pula hadiah akan ditebarkan.

Ramadhan adalah bulan mega-promo, lebih dari sekedar bulan penuh rahmat, berkah dan maghfirah, melainkan hadiah yang dijanjikan akan mencakup lebih dari segala macam rahmat, berkah dan ampunan. Jauh lebih besar, lebih luas dan lebih dahsyat dari itu.

Ramadhan adalah bulan penuh kedahsyatan bagi mereka yang tahu dan mau tahu. Ramadhan adalah bulan penuh pesta bagi mereka yang suka begadang dan dugem, hanya diperlukan sedikit ilmu dan usaha untuk memahaminya. Ramadhan adalah bulan penuh peluang bisnis. Bisnis dengan Tuhan yang margin keuntungannya tak terhingga, tak terukur dan tak terbandingkan. Maka, Ramadhan layak dielu-elukan. Ramadhan pantas disambut dengan gembira.

Mari kita rayakan pesta Ramadhan-ria. Sekarang juga. Ya, saat ini juga. Saat kita masih punya kesempatan untuk berpesta bersama Ramadhan. Mumpung pesta itu baru saja dimulai. Mumpung pesta itu baru akan berakhir sebulan kemudian. Sebab tak seorang jua mampu menggaransi kalau tahun depan kita masih punya kesempatan untuk kembali bisa hadir dalam pesta Ramadhan.

Mari kita tangkap peluang bisnis terdahsyat yang pernah dijanjikan oleh Tuhan. Yang profit-nya tak cukup ditebar dari seluas langit. Yang kebaikannya tak pandang bulu akan diberikan kepada siapa saja yang berniat tulus-ikhlas-khusyuk mengharapkannya. Sampai-sampai nabi Muhammad saw. memberi wanti-wanti, seandainya manusia ini tahu kedahsyatan Ramadhan, mereka pasti akan meminta agar sepanjang tahun dikoversi menjadi Ramadhan semua. Inilah sebuah pertanda bahwa pesta itu memang ada masa kadaluwarsanya dan pertanda agar jangan sampai kita gagal menangkap peluang bisnis yang luar biasa ini.

Semoga kita akan keluar dari pesta Ramadhan-ria ini, dan bergabung ke dalam kelompok orang-orang yang kembali kepada kesucian dan orang-orang yang meraih kemenangan. Dan, kita adalah pemenangnya.

NB :
Kepada rekan-rekan muslim : Selamat berpesta Ramadhan-ria.

Yogyakarta, 31 Agustus 2008 (malam 1 Ramadhan 1429H)
Yusuf Iskandar

Iklan

Tugu Khatulistiwa (Equator Monument)

30 Agustus 2008

Tugu Khatulistiwa (Equator Monument) terletak di sekitar 5 km sebelah utara Pontianak, menuju ke arah kota Singkawang. Dibangun pertama kali tahun 1928, direnovasi tahun 1990 dan diresmikan pada tanhggal 21 September 1991. Tugu yang dibangun tepat di atas garis Lintang 0o (Garis Katulistiwa) yang membelah bumi menjadi dua bagian utara dan selatan, pada garis Bujur Timur 109o 20′ 00”.

Bagian atas tugu ini kini “dilengkapi” dengan sarang burung sriti….. (siapa tahu sebentar lagi burung walet pun singgah dan menyedekahkan sarangnya…..).

Setiap tahun dikunjungi oleh sekitar 3000 wisatawan mancanegara dan sekitar 30.000 wisatawan domestik. Menilik nilai historis dan kekhasan tugu ini, mestinya layak memiliki “nilai jual” tinggi, lebih dari yang ada sekarang, dan menjadi unggulan tujuan pariwisata pemerintah provinsi Kalbar. Namun nampaknya sejauh ini masih terkesan dikelola ala kadarnya….

Yogyakarta, 30 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Tugu Di Bagian Dalam Bangunan

Tugu Di Bagian Dalam Bangunan

Tugu Di Bagian Luar Monumen

Tugu Di Bagian Luar Monumen

Garis Lintang Nol Derajad (Equator) Berdasarkan Satelit

Pelangi Di Istana Kadriah, Pontianak

29 Agustus 2008

Sore di istana Kadriah, sepenggal pelangi melintas di langit utara yang sedang cerah. Istana kesultanan Kadriah yang konstruksi bangunannya seperti rumah panggung, berbahan kayu ulin, beratap sirap, berdiri sejak tanggal 23 Oktober 1771. Sultan pertamanya adalah Abdurrahman Habib Husain. Berdirinya kesultanan Kadriah sekaligus mengawali sejarah terbentuknya kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Istana Kadriah yang terletak di desa Dalam Bugis, kecamatan Pontianak Timur, kota Pontianak itu kini masih berdiri kokoh. Tapi sayang, nampaknya kurang memperoleh perhatian serius dari pemerintah setempat, sedang sebenarnya sangat potensial untuk “dijual” sebagai salah satu obyek wisata unggulan propinsi Kalimantan Barat, baik kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Istana ini, nampak berdiri merana dan jauh dari kesan kebanggaan yang mestinya terpancar dari setiap aspek keberadaannya, baik bagi ahli waris atau kerabat kesultanan, pemerintah maupun lebih-lebih masyarakat. Tidak sebagaimana sepenggal berkas pelangi memamerkan pesona warna-warninya…..

Pontianak, 29 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Endapan Pasir Kwarsa

28 Agustus 2008

Ini bukan salju di pegunungan Eropa, melainkan endapan pasir kwarsa yang berwarna putih, di sebuah lokasi bekas tambang di Tayan Hilir, kabupaten Sanggau, sekitar 100 km sebelah timur Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Lokasi yang merupakan bekas tambang emas PETI (pertambangan tanpa ijin) yang telah lama ditinggalkan ini memberikan bentang alam yang sangat menawan, padahal semestinya kawasan ini dapat dikelola dan dimanfaatkan secara lebih produktif.

Endapan pasir kwarsa, baik yang merupakan hasil proses alami maupun sebagai timbunan limbah bekas tambang, banyak dijumpai di berbagai kawasan di Indonesia. Sebagian telah dikelola sebagai komoditas bahan tambang untuk memenuhi kebutuhan industri. Pasir kwarsa antara lain dimanfaatkan sebagai bahan pembuat keramik dan bahan pelapis (coating).

Pontianak, 28 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Mie Koba Yang Bertahan Turun-temurun

25 Agustus 2008

Berkendaraan dari kota Pangkal Pinang, ibukota provinsi Bangka-Belitung, kira-kira sejauh 55 km ke arah tenggara akan membawa kita ke kota Koba. Perjalanan menuju Koba, ibukota kabupaten Bangka Tengah, lumayan enak dan menyenangkan. Kondisi jalan secara umum bagus dan mulus, hanya pada menjelang masuk kota lebar jalannya agak pas-pasan untuk papasan.  

Sekitar 20 km sebelum Koba, rute perjalanan melintasi kawasan pantai utara pulau Bangka dengan tebaran pohon kelapa menghiasi di sepanjang pandangan ke arah kiri, khas pemandangan indah di pesisir. Sedang di sisi kanan jalan umumnya adalah dataran terbuka dengan semak dan sedikit pepohonan tinggi.

Lima tahun yang lalu, sebelum pembentukan provinsi baru Bangka-Belitung, Koba hanyalah kota kecamatan. Hingga kini populasinya tidak terlalu padat, hanya dihuni oleh sekitar 50 ribu jiwa penduduknya. Karena itu kenampakan kota ini relatif sepi, tidak hiruk maupun pikuk. Hanya saja saat saya melintas di kota ini beberapa hari yang lalu, sepanjang jalan utamanya penuh dengan sampah dan tampak sangat kotor. Maklum, karena sehari sebelumnya ada keramaian 17-an dan kelihatannya terlambat dibersihkan. Mudah-mudahan terlambatnya tidak kebablasan agar kota yang menjuluki dirinya “Bumi Selawang Segantang” itu tetap tampil asri dan bersih.

Koba memang sedang berbenah, mengejar ketertinggalannya dengan kota-kota kabupaten lainnya. Berbagai sektor sedang digarap oleh pemerintahnya, tak terkecuali pariwisata. Cuma pemerintah daerah Koba sedang agak gusar menemukan apa makanan khas Bangka Tengah. Sebab urusan makan-memakan ini seringkali menjadi menu unggulan dalam menjual potensi daerah agar menarik dikunjungi.

Nampaknya pemerintah setempat tidak kurang akal. Di Koba ada warung mie kuah yang cukup terkenal. Mie kuah ini memang agak berbeda dengan bakmie rebus yang banyak dijumpai di daerah-daerah lain. Belakangan terbersitlah ide untuk mengangkat mie kuah yang selama ini disebut sebagai mie koba, menyontek nama warung “Mie Koba” yang ada di kota Koba, menjadi salah satu makanan unggulan dari Bangka Tengah.

Kalau langkah ini berhasil, tentu merupakan langkah terobosan yang menarik. Popularitas tidak selalu terkait dengan bawaan alamiah. Banyak contoh produk jadi-jadian yang bisa populer karena kepiawaian dalam melakukan “packaging” dan “branding”, hingga akhirnya orang tidak perlu lagi mengingat dari mana asal bin muasalnya melainkan seperti apa produk akhirnya.

***

Di salah satu sudut deretan warung-warung makan di Jl. Pos, kota Koba, ada sebuah warung yang sangat sederhana. Saking sederhananya malah kemudian cenderung berkesan kumuh dan seadanya. Nama warungnya “Mie Koba”. Warung ini sudah ada di sana sejak puluhan tahun lalu dan dikelola secara turun-temurun.

Namun warung ini banyak dikunjungi orang yang kebetulan atau bahkan sering melintas di kota Koba. Hanya ada menu tunggal disediakan di warung ini, ya mie koba itu. Satu jenis masakan mie kuah yang sebenarnya tidak terlalu istimewa. Di daerah lain mie kuah jenis ini juga banyak dijumpai.

 Agak berbeda dengan menu bakmi rebus yang juga berkuah, yang kalau kita pesan baru akan diracikkan, direbus lalu disajikan dalam piring, dilengkapi dengan asesori suwiran atau potongan daging ayam. Sedangkan mie kuah di Koba ini cara penyajiannya mirip tukang bakso atau mie ayam. Bahan utama mie dan asesorinya ditebar di atas piring lalu diguyur dengan kuah panas.

Barangkali racikan mie kuah “Mie Koba” ini memang agak berbeda. Mula-mula seonggok tauge atau kecambah (istilah Jogjanya, thokolan) ditaruh di atas piring, lalu mie kuning diletakkan di atasnya, setelah itu ditenggelamkan dengan guyuran kuah panas, baru ditaburi irisan daun seledri dan bawang goreng. Tanpa daging ayam, tanpa bakso, tanpa nasi. Ketika disajikan, maka dari aroma uap panas kuahnya saja sudah mengundang selera.

Aromanya khas, karena kuahnya diramu dengan kayu manis dengan takaran yang pas. Pada sruputan pertama kuahnya, seperti membangkitkan sensasi untuk jangan terlambat dilanjutkan dengan sruputan kedua dan ketiga. Setelah panasnya agak reda, baru disendok mienya. Lalu rasakan taugenya yang kemrenyes saat dikunyah. Tidak perlu hingga 33 kali untuk mengunyahnya, keburu kuahnya dingin dan hilang hoenaknya….

Sebuah sajian mie kuah yang sebenarnya sangat sederhana. Hanya karena ada tambahan ramuan kayu manis pada takaran yang pas yang membuat mie koba ini terasa lain dari biasanya. Tapi juga aroma kayu manis ini yang membuat penikmat mie koba enggan untuk nambah, sebab habis sepiring saja rasanya sudah kenyang, nikmat dan puas. Sebuah takaran makan yang kiranya juga pas dengan takaran kantong pembelinya.  

Hanya yang agak mengherankan, kendati warung mie koba ini laris manis sejak dahulu kala, tampilan warungnya ya tetap begita-begitu saja. Sangat sederhana dan terkesan seadanya. Entahlah, barangkali memang di situlah letak “keberuntungannya”, sama seperti bangunan lama milik restoran seafood Mr. Asui di Pangkal Pinang yang meski berkembang pesat dan berada di tepi jalan raya, ya dibiarkan begitu saja apa adanya.

Tapi baiknya lupakan soal “keberuntungan”, melainkan ingat saja bahwa kelezatan yang tercipta dari keterampilan memasak mie kuah “Mie Koba” itulah yang menjadi kunci kelanggengan usahanya yang hingga kini bagai tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Tetap banyak didatangi para penggemarnya.  

Yogyakarta, 25 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Seafood Mr. Asui, Sebuah Ikon Kuliner Di Pangkal Pinang

24 Agustus 2008

Sebuah bangunan lama dengan tampilan luar sangat sederhana, bahkan terkesan tidak terawat, dan tetap dibiarkan seperti itu hingga kini. Bangunan itu dulunya adalah restoran seafood yang hingga kini sangat terkenal di kawasan pulau Bangka, provinsi Babel (Bangka-Belitung). Seafood Restaurant Mr. Asui, namanya. Cara penamaannya yang keminggris, telah menjadi merek dagangnya sendiri.

Kini restoran Mr. Asui menempati bangunan yang tampilannya relatif lebih baru yang berada di belakangnya. Ada sebuah gang selebar 2,5 meteran sepanjang 15 meteran yang menghubungkan jalan besar menuju restoran yang berada di dalam gang. Lokasi restoran ini nyaris berada di posisi tusuk sate, di Jl. Kampung Bintang, Pangkal Pinang. Sangat mudah dicapainya, terutama dari jalan protokol Jl. Jendral Sudirman. Rasanya siapapun pasti tahu dimana restoran Mr. Asui berada.

Seafood Restaurant Mr. Asui seperti sudah menjadi ikon kuliner menu ikan laut di Pangkal Pinang. Menjadi tempat jujukan para penggemar menu masakan seafood yang kebetulan berkunjung ke Pangkal Pinang, tak terkecuali para pejabat dan selebriti. Menu masakan mahluk laut yang ditawarkan cukup komplit dengan citarasa yang tergolong enak.

***

Malam itu, kami tertarik untuk mencoba menu ikan jebung bakar, kakap bakar dan kepiting saos tiram, di antara sekian banyak pilihan ikan laut. Lalu, sepiring ca kangkung adalah asesori sayuran yang kami pesan.

Nama ikan jebung agak asing di telinga saya. Di tempat lain ikan jebung ini disebut juga ikan kambing-kambing (entah kenapa nama kambing tidak cukup disebut sekali saja, melainkan diulang dua kali). Disebut kambing-kambing karena memang profil wajah ikan ini kalau dilihat dari samping sangat mirip dengan prejengan wajah kambing yang sedang meringis kelihatan gigi-giginya.

Tidak seperti ikan bakar biasanya di tempat lain, ikan bakarnya engkoh Asui, baik ikan jebung maupun kakap yang kami pesan, dibakar begitu saja dengan tanpa dibumbui terlebih dahulu. Kalau digado atau dimakan ikannya saja tentu terasa hambar tak berasa. Yang khas di restoran ini adalah sambal cairnya yang menjadi teman makan ikan bakar. Sambalnya berasa manis dan asam. Pas benar kalau dicocol dengan suwiran ikan bakar yang tak berbumbu.

Sambal cair yang warnanya menyerupai saos tomat ini selalu tersedia di atas meja bersama dengan jeruk kunci dan cabe rawit merah. Jeruk kunci adalah salah satu jenis jeruk yang sepertinya jarang saya jumpai di tempat lain. Berukuran sebesar kelereng, sedikit lebih kecil dari jeruk purut, kulitnya halus dan biasa digunakan sebagai penambah rasa asam seperti halnya cuka atau jeruk nipis.    

Sebaiknya dimakan pada saat masih fanas (pakai awalan ‘f’, saking masih panasnya…) atau sebelum dingin. Sebab kalau sudah dingin, serat-serat ikan jebung akan menjadi agak keras ketika digigit dan rasa seafood-nya menjadi kurang mak nyuss… dan malah membuat mudah nek

Bumbu tiram yang mengguyur kepitingnya juga begitu lebih berasa dan berasa lebih. Lebih-lebih kalau dapat kepiting perempuan dengan gumpalan butir-butir telurnya yang berwarna jingga dan kenyal digigit. Kalau kebanyakan nasinya, maka kuah saos tiramnya pun pas benar dicampur untuk menghabiskan nasi putih.

Bagi penggemar menu seafood, Seafood Restaurant Mr. Asui sebaiknya jangan dilewatkan bila sekali waktu berkesempatan berkunjung ke Pangkal Pinang, Bangka. Konon sudah banyak orang-orang Pangkal Pinang yang mencoba berwirausaha membuka restoran sejenis, tapi kebanyakan tidak mampu bertahan lama. Tidak sebagaimana restorannya engkoh Asui yang seperti melegenda dan identik dengan menu masakan seafood di kawasan kota Pangkal Pinang pada khususnya dan pulau Bangka pada umumnya. Entah apa rahasianya.

Yogyakarta, 24 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Suatu Malam Di Mangga Besar

17 Agustus 2008

Namanya Nurul. Berparas manis imut-imut. Rambut lurus lepas sebahu. Postur tubuh kecil padat semampai. Mengaku umurnya 16 tahun. Setelah agak didorong-dorong oleh seorang perempuan setengah baya, akhirnya Nurul duduk di antara beberapa lelaki yang sudah lebih dahulu duduk di pinggir ruangan cukup luas yang di bagian tengahnya juga tertata beberapa set meja-kursi.

Di bawah cahaya remang-remang, dilatari suara musik jedak-jeduk, membuat siapapun yang mau bercakap-cakap harus bersuara agak berteriak. Tidak sepatah katapun diucapkan Nurul, melainkan hanya senyum yang dimanis-maniskan ditebar sebisanya. Sementara di bagian lain ruangan itu terlihat beberapa teman Nurul duduk manis di sofa panjang yang disorot lampu, seperti sedang menunggu tetamu. Beberapa teman Nurul lainnya malah sedang asyik bercengkerama dengan tamu lelaki lainnya. Tentu saja, sebagian besar para lelaki itu adalah tamu tak diundang dan tak dikenal sebelumnya.

Rupanya Nurul memang bukan tipe perempuan muda yang grapyak, supel atau pintar bicara. Tidak menunjukkan sikap dimanja-manjakan atau dimesra-mesrakan, sebagaimana teman-temannya. Melihat Nurul yang sepertinya salah tingkah, lelaki yang duduk rapat di sebelah kanannya terpaksa membuka pembicaraan.

Dari ngobrol-ngobrol dengan Nurul, muncullah banyak pengakuan. Pengakuan yang tidak perlu lagi diperdebatkan kejujuran atau kebenarannya. Tidak ada bedanya, karena bukan itu plot cerita fragmen satu babak malam itu. Nurul mengaku, berasal dari keluarga petani di Indramayu, anak sulung dari tiga bersaudara dan hanya tamatan SD. Nurul juga mengaku, belum setahun tinggal di Jakarta. Orang tuanya di desa tidak tahu apa yang dikerjakannya di Jakarta, kecuali sering menerima uang kiriman dari anak sulungnya yang mengadu peruntungan di Jakarta yang dulu pamitnya mencari pekerjaan.

“Tidak kepingin mencari pekerjaan lain?”, tanya lelaki itu.

“Ya, kepingin sih. Tapi apa? Saya tidak punya ketrampilan lain”, jawab Nurul. Lelaki itu hanya mengangguk-angguk. Bukan setuju, bukan juga tidak setuju, melainkan sekedar memberi kesan bahwa jawaban Nurul didengarnya. Jawaban Nurul adalah seperti layaknya jawaban keterpaksaan, jawaban orang yang merasa tidak punya pilihan. Kalaupun pilihan itu ada, maka itu pun dipilihnya karena merasa tidak bisa untuk tidak memilihnya.      

Perempuan setengah baya yang tadi menggandeng Nurul untuk didudukkan di sebelah kiri lelaki itu, dari tadi terus mencuri-curi pandang ke arah Nurul. Sebentar pergi mengatur teman-teman Nurul lainnya untuk menemui tamu tak diundang dan tak dikenal yang baru datang, sebentar kemudian berada tidak jauh dari Nurul.

Sesekali dengan menggunakan bahasa isyarat muka dan mimiknya, seperti memberi dorongan kepada Nurul agar lebih agresif. Seolah-olah berkata : “Cepat ajak ke kamar”. Tapi sayang, Nurul memang bukan tipe perempuan muda yang agresif dan memiliki rasa percaya diri tinggi. Dia tetap bergeming dengan senyum yang hambar dan terkesan dipaksakan. Bahkan Nurul cenderung kelewat sopan untuk ukuran pekerjaannya malam itu. Sementara teman-temannya enteng saja minta rokok kepada tamunya, Nurul baru menerimanya setelah ditawari. Itupun rokoknya diisap sekedar sebagai pantas-pantas saja.

Tubuh padatnya yang kecil imut-imut dibungkus celana jeans ketat yang dipadu dengan baju kaus warna hijau gelap berlengan cingkrang yang sama ketatnya, dengan bahan kausnya agak kurang panjang sehingga pinggangnya terlihat selebar 2-3 cm. Jelas memperlihatkan postur tubuh dambaan kaum hawa, yang kalau saku belakang celananya disisipi HP suka tidak terasa. Tidak kalah dengan artis sinetron jadi-jadian di televisi.

Duduknya yang merapat ke arah lelaki di sebelah kanannya membuat sentuhan lengannya begitu halus, dingin dan lembut. Setidak-tidaknya lengan Nurul tergolong lengan yang sering dipoles dengan aneka lotion yang sering ditawarkan iklan televisi. Juga bau parfumnya yang tidak sumegrak melainkan terkesan lembut biasa-biasa saja. Namun itu saja tentu tidak cukup menjadi senjata marketing bagi Nurul untuk menjual dagangannya (lha yang dijual itu ya apa……..). Lelaki mana tidak tergoda. Kalau saja Nurul mau sedikit belajar tentang ilmu kepribadian. Setidak-tidaknya ilmu ndableg untuk agak nakal, agak genit atau agak norak.

Lama-lama perempuan setengah baya yang berdiri sekitar 3 meter di depan Nurul menjadi tidak sabar. Sambil agak mendekat, perempuan itu lalu berkata kepada sang lelaki. Meski suasana musik agak bising, tapi dari gerak bibirnya jelas terbaca : “Langsung saja ke kamar, mas”, sambil menunjuk ke arah bilik-bilik kamar yang dimaksud.

***

Sang lelaki kemudian kembali memancing pembicaraan, langsung ke pokok persoalan bisnisnya. “Kalau saya ajak kamu ke kamar, berapa saya mesti bayar?”.

“Sekitar Rp 350.000,-. Nanti bayarnya ke kasir.”, jawab Nurul polos dengan nada datar, sedikitpun tanpa ekspresi semangat perjuangan empat-lima agar dagangannya dibeli.

Eit…. (seperti kata Luna Maya dalam iklan operator ponsel di televisi), kok jadi seperti belanja di toko swalayan. Masuk toko, ambil barang sendiri lalu dimasukkan ke keranjang belanja, dibawa ke kasir dan bayar di sana. Keranjangnya ditinggal dan barangnya dibawa pulang. Bedanya hanya Nurulnya tidak bisa dibawa pulang, kecuali memang sedang merencanakan perang dunia ketiga.

“Tapi tidak semuanya saya terima. Paling-paling sekitar setengahnya. Terkadang ada tamu yang kasih tip lebih….”, kata Nurul kemudian. Dan lelaki itu hanya bisa berkata : “Oooo……”. Sudah pasti, yang setengah lagi adalah margin keuntungan toko dan pengelolanya. Namanya juga bisnis.

“Sudah dapat berapa tamu malam ini?”, tanya lelaki itu lagi.
“Belum ada”, jawab Nurul datar.

Ya, belum ada tamu atau sudah dapat lima tamu, sebenarnya tidak ada bedanya dalam konteks bisnis yang sedang berjalan malam itu. Meski begitu toh Nurul tetap perlu menerapkan sebuah trik bisnis dalam mempromosikan dirinya. 

Lama kelamaan lelaki itu tidak tega juga menyita waktu Nurul terlalu lama, sedang sebenarnya dia tidak berniat melakukan transaksi bisnis dengan Nurul. Hingga akhirnya lelaki itu berkata lembut penuh penyesalan : “Nurul, kalau saya mau ditinggalkan, enggak apa-apa. Saya hanya ingin duduk-duduk saja kok…… Terima kasih, ya”.

Lalu Nurul pun segera berdiri dan pamit : “Iya, saya kesana dulu ya”. Entah kesana mana, tidak lagi penting. Lelaki itu menyaksikan kepergian Nurul dengan penuh penyesalan. Dia merasa telah menyita waktu Nurul yang seharusnya bagi Nurul mungkin cukup berharga untuk menerima tamu lainnya yang lebih prospek. Tapi jelas Nurul tidak berani meninggalkan begitu saja tamu lelakinya itu, sebab kalau tamu lelaki itu sampai komplain, bakal menjadi mimpi buruk bagi Nurul.     

Good luck, Rul. Semoga harimu lebih baik”, kata lelaki itu dalam hati sambil agak melamun (melamun kok agak…), ngelangut, gusar, kasihan, dan setumpuk perasaan yang sukar dilukiskan. Sementara waktu di Mangga Besar menunjukkan sebentar lagi tengah malam, lelaki itu ingat anak perempuannya yang sebaya Nurul yang pada malam itu tentu sudah tidur di kamarnya di Jogja, karena besok pagi harus pergi ke sekolah……

***

“Tuhaaaaaaannnnnnn………! Kami memang sudah merdeka. Tapi belum bagi Nurul dan teman-temannya……………”, teriak lelaki itu dalam hati.

Dan, lelaki itu adalah seorang bekas buruh tambang yang sudah terlatih melakukan pekerjaan “controlled drilling and blasting”. Karena itu, seperti tulisan yang sering muncul di televisi : “Jangan meniru adegan ini. Adegan ini dilakukan oleh orang yang sudah terlatih”.

NB :
Merdeka adalah kalau seseorang itu merasa bebas dan ikhlas untuk memilih dan tidak memilih. Apa saja…….

Yogyakarta, 17 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Membangunkan Sopir Ngantuk

15 Agustus 2008

Niat ingsun mau menuju bandara Soeta (Soekarno – Hatta) naik taksi lalu meninggal tidur sopirnya. Maka begitu nyingklak taksi, segera mengomando sopirnya : “Ke bandara, pak”, dan lalu duduk santai. Pak sopir yang kelihatan sudah cukup tua, saya taksir umurnya 60an tahun, dengan lincahnya segera masuk ke jalan tol. Siang hari jalan menuju bandara masih relatif sepi, tidak kemruyuk seperti ketika hari beranjak sore. Taksi pun melaju lancar.

Belum lama melaju di jalan tol yang masih belum gegap-gempita, saya perhatikan gerak laju taksinya kok rada mereng-mereng. Injakan gasnya memunculkan bunyi mesin yang tidak konstan. Kendaraan lebih sering berada di atas marka pembagi lajur jalan (bukannya di antara garis putih putus-putus).

Tidak biasanya sopir taksi memilih berada di lajur paling kiri dengan kecepatan sedang-sedang saja (padahal jalanan lagi sepi dan longgar). Gerak-gerik sopirnya terlihat gelisah, kaki kirinya (kaki yang kanan tidak kelihatan) sering digoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Tangan kirinya (tangan yang kanan juga tidak kelihatan) sebentar-sebentar menggaruk kening yang sepertinya tidak gatal dan mengusap belakang kepala yang sepertinya dari tadi tidak ada apa-apanya. Sesekali berdehem, sengaja batuk dan melenguh seperti sapi.

Tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa pak sopir taksi sedang ngantuk berat. “Wah, bahaya, nih”, pikir saya. Terpaksa saya jadi ikut waspada memperhatikan jalanan di depan. Niat untuk tidur di taksi saya batalkan, sebab saya merasa sedang berada dalam situasi unsafe condition. Sekali saja pak sopir mak thekluk….., tersilap sedetik saja karena ngantuknya, maka bahaya mengancam keselamatan taksi dan penumpangnya. Gimana nih? Mau minta berhenti lalu ganti taksi di tengah jalan tol kok ya gimana gitu loh…..

Maka saya putuskan untuk mengajak ngobrol sopirnya. Itulah yang kemudian saya lakukan.

“Pak…”, panggil saya memecah keheningan (sebenarnya ya tidak hening, wong deru kendaraannya cukup bising). “Bapak kelihatannya capek sekali…”, kata saya.

“Iya pak, saya agak kurang tidur”, jawab pak sopir. “Kurang tidur kok agak. Ya tetap saja tidurnya kurang”, kata saya tapi dalam hati.

“Ngantuk ya pak?”, tanya saya lagi berbasa-basi memastikan, karena tujuan saya hanya untuk mengajak bicara (lha wong sudah jelas ngantuk kok ditanya juga….)

Di luar dugaan saya, pak sopirnya malah berkata jujur : “Iya pak, saya sendiri heran. Mungkin cobaan saya, ya…..”, sampai di sini saya masih belum ngerti apa maksud perkataan pak sopir. Lalu, lanjutnya : “Kalau sedang tidak narik penumpang, saya enak saja nyusup-nyusup jalan. Tapi kalau sedang membawa penumpang rasanya sering sekali ngantuk”.

“Waduh, gawat nih”, kata saya dalam hati. Lha, saat itu saya sedang jadi penumpang yang ditarik pak sopir je….. Ini kejujuran yang jelas tidak pada tempatnya. Ini adalah perilaku jujur yang tidak dianjurkan dan tidak terpuji (yang mau memuji ya siapa……). Jujur yang malah bikin takut.

Tiba-tiba saya ingat kalau di dalam saku tas ransel saya ada tersimpan permen “Davos”. Permen “Davos” adalah permen jadul (jaman dulu) yang bungkusnya berwarna biru tua dengan rasa peppermint yang tajam. Rasa pedasnya sangat nyegrak, sehingga sering membuat pengulumnya rada megap-megap. Tapi jangan heran kalau permen pedas ini masih banyak penggemarnya.

Segera saya rogoh saku ransel, saya ambil permennya, saya sobek bungkusnya, lalu saya tawarkan kepada pak sopir. Agak malu-malu tapi mau juga pak sopir menerimanya. Akhirnya saya dan pak sopir kompak mengulum permen “Davos” bersama-sama.

Entah karena kepedasan ngemut permen, entah karena kemudian saya ajak ngobrol, yang jelas kemudian pak sopir sudah tampak lebih sumringah, tidak lagi ngantuk seperti tadi. Tampaknya pak sopir sudah lupa dengan ngantuknya. (Aha… Ini dia. Tips baru untuk menghilangkan ngantuk, yaitu berusahalah untuk melupakan ngantuknya. Cuma cilakaknya, cara termudah untuk melupakan ngantuk, ya tidur….. Huh…!).

Permen pedas cap “Davos” berhasil menjadi pemecah kesuntukan yang dialami pak sopir taksi. Menit-menit berikutnya suasana berubah menjadi obrolan di dalam taksi. Obrolan yang makin asyik aja…. Apalagi kalau topiknya adalah kisah “kepahlawanan”. Maksud saya adalah kisah nostalgia pada jaman “perjuangan” episode kehidupan seseorang.

Bagi pak sopir taksi, kisah itu adalah tentang pekerjaannya sepuluh tahun yang lalu sebelum menjadi sopir taksi. Masa keemasan pak sopir ketika masih menjadi koordinator Satpam di kawasan pertokoan Mangga Dua. Dengan semangat empat-lima, pekerjaan hebatnya yang dulu itu diceritakannya dengan runtut sampai ke detil-detilnya, hingga akhirnya beliau terpaksa lengser keprabon saat terjadi kerusuhan Mei 1998. Dengan getir dituturkannya bahwa beliau akhirnya di-PHK karena saat terjadi kerusuhan rupanya banyak anak buahnya yang terbukti turut menjadi aktivis. Maksudnya, turut aktif menjarah toko-toko yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya.  

***

Ada dua pelajaran tidak terlalu penting tapi nyata. Pertama, tentang membangunkan sopir ngantuk. Kedua, tentang “menjinakkan” orang tua agar suka diajak bicara (tidak semua orang tua suka diajak cerita-cerita, lho…..)..

Untuk yang pertama, siapkanlah permen pedas. Semakin pedas semakin baik, asal bukan permen rasa sambal…. Untuk yang kedua, menggiring pembicaraan ke arah kisah “kepahlawanan”, “perjuangan”, “semangat empat-lima”, atau pokoknya yang sejenis itulah…..

Maka bagi kawan-kawan muda yang sedang mencari calon mertua, ada baiknya melakukan orientasi medan dan studi referensi tentang kisah “kepahlawanan” dari kandidat mertua. Hanya satu hal sebaiknya jangan dilakukan, yaitu ketika tahu sang kandidat mertua sudah ngantuk, janganlah lalu disuruh ngemut permen pedas…..

Yogyakarta, 15 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Di Tepinya Danau Sentani, Papua

5 Agustus 2008

Sebuah rumah gubuk, di tepinya danau Sentani, Papua

Sudah Tahu Tidak Etis, Tapi Diulang-ulang Juga

4 Agustus 2008

Kita tentu masih ingat kejadian beberapa waktu yang lalu tentang laporan kemajuan teknologi ponsel berkamera yang diperankan oleh penyanyi Maria Eva dengan seorang anggota DPR (peristiwanya maksud saya, bukan film-nya…). Di tengah asyiknya menikmati acara infotainment bersama keluarga, lalu tiba-tiba tersaji adegan liar di layar.

Meski ada bagian yang ditutupi, tapi toh hakekatnya rekaman itu tetap ditayangkan. Dan, televisi pun tidak merasa puas hanya menayangkan cukup sekali-dua, melainkan berrrrrr-ulang-ulang disajikan sejak pagi, siang, sore, malam hingga keesokan harinya lagi. Apa tidak terbayangkan bagaimana perasaan keluarga pelaku skandal yang notabene tidak tahu ujung-pangkalnya, saat melihat tayangan yang berulang-ulang itu. Apa tidak terbayang bagaimana blingsatannya para orang-tua yang sedang duduk di depan televisi bersama anak-anaknya, saat adegan itu ditayangkan.

***

Hari-hari ini, rekaman kotak hitam tentang percakapan dalam cockpit pesawat Adam Air DHI 574 yang hilang di selat Makassar pada 1 Januari 2007 yll. bertebaran di mana-mana. Tidak hanya dengan mudah diunduh dari internet, melainkan juga tidak henti-hentinya ditayangkan di televisi lengkap dengan transkrip dialognya.

Pertama, saya merasa merinding membayangkan suasana detik-detik terakhir sebelum pesawat itu hilang ditelan laut. Kedua, saya merasa trenyuh dengan apa yang dirasakan oleh para keluarga korban setelah mendengar percakapan itu. Ketiga, saya nggrundel kok tega-teganya stasiun televisi mengulang-ulang tayangan itu. 

Terlepas dari kontroversi kebenaran rekaman kotak hitam yang telanjur menyebar bak virus flu burung (sedang virus flu burung saja tidak segegap-gempita itu). Jelas itu tidak asli, wong rekaman aslinya ada di gudangnya KNKT. Barangkali yang dimaksudkan adalah kontroversi apakah rekaman itu sesuai aslinya atau rekayasa atau sebuah “karya seni” seperti pertunjukan operet kampung hasil gabungan dari penggalan lagu-lagu.

Juga terlepas dari kontroversi bagaimana mungkin dokumen yang bersifat rahasia itu bisa bocor di tengah masyarakat. Kalau setrum PLN atau air PDAM bocor masih “masuk akal” karena jaringannya ada di mana-mana dan untuk memperolehnya harus membayar (semakin) mahal. Atau soal-soal ujian nasional bocor masih “wajar” karena menyangkut gengsi dan biaya sekolah yang (juga semakin) mahal. Lha, kalau arsip kotak hitam kan hanya ada satu dan masyarakat sebenarnya tidak pernah menginginkan bocorannya.

Anggaplah rekaman itu benar sesuai aslinya. Tersiarnya rekaman itu tentu menjadi berita eksklusif yang bernilai tinggi bagi media. Akan tetapi bagi keluarga korban atau mereka yang memiliki sangkut dan paut apalagi hubungan darah dengan keluarga korban, jelas itu bukan peristiwa yang menyenangkan. Bahkan cenderung menyakitkan yang membuka luka dan kepedihan lama.

Sedang saya yang bukan siapa-siapanya saja rasanya kok tidak tega berulang-ulang mendengarkan rekaman itu. Tapi media televisi malah seperti berlomba menayangkan berulang-ulang. Tidak cukup sekedar memberitakan, membahas, mendiskusikan atau mengkajinya, melainkan lengkap dengan ilustrasi dan transkrip yang semakin mendramatisir.

Saya membayangkan, apa yang akan dirasakan oleh keluarga korban ketika sedang santai menonton televisi bersama keluarga di rumah kemudian terhidang di layar televisi tayangan itu. Tidak cukup sekali bahkan. Pagi, siang, sore, malam, seperti tiada jeda. Betapa kepedihan hati tiba-tiba seperti diublek-ublek.

Apa televisi kita sudah kehilangan empati tentang kejadian-kejadian semacam ini? Apa tidak cukup ditayangkan sekali saja, lalu selebihnya cukuplah dengan kajian atau diskusi yang lebih berbobot dan elegan, ketimbang memutar-mutar rekaman berulang-ulang. Toh, bagi masyarakat pada umumnya rekaman semacam itu sebenarnya tidak banyak membawa manfaat.

Semua pihak rasanya tidak seberapa bodoh untuk memahami bahwa tayangan seperti itu sebenarnya tidak etis dan juga tidak memberi nilai tambah apapun bagi masyarakat. Tapi kok ya tidak seberapa pintar untuk memutuskan bahwa tidak perlu diulang-ulang penayangannya.    

Itulah televisi kita. Seperti tidak bisa membedakan kapan siang dan kapan malam. Kapan acaranya ditonton orang dewasa dan kapan ditonton anak-anak. Kapan televisinya bisa bernilai informatif, kapan menghibur, kapan mendidik dan kapan menyakitkan. Atau, jangan-jangan untuk turut mencerdaskan bangsanya pun, ya…..kapan-kapan saja…..

Atau, memang…..

(Maaf, mengutip penggalan transkrip kotak hitam yang beredar di internet :
Voice on DHI 574 cockpit : ok….. that’s confirm… that’s confirm
affirm
iya khan.. ngaco
ngaco FIDSnya udah —-, FMSnya…
FMS telah mengacaukan dirinya sendiri… UEDANN opo….)

Yogyakarta, 3 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Jujur Tapi Khilaf, Atau Malu?

2 Agustus 2008

Panggilan boarding untuk penumpang pesawat dengan nomor penerbangan Garuda Wiro Sableng (GA 212) jurusan Jakarta-Jogja dikumandangkan di Terminal F bandara Soekarno-Hatta. Penumpang segera bergegas menuju pintu keberangkatan. Kali ini penumpang tidak langsung diarahkan memasuki lorong belalai gajah menuju kabin pesawat, melainkan turun untuk naik bis pengantaran dulu. Wah, sopir pesawatnya tadi parkir kejauhan, pikir saya.

Satu per satu penumpang menaiki tangga pesawat melalui pintu depan. Nampaknya saya harus agak bersabar, sebab saya kebagian nomor tempat duduk 19 yang berarti jauh berada di belakang. Ketika sudah berada di dalam pesawat, saya lihat ada sekelompok penumpang berdiri bergerombol di ujung belakang. Agak riuh. Ada demo? Pasti bukan, karena terlihat pada cengengesan.

Setelah tiba di belakang barulah saya tahu, rupanya pesawat Garuda yang narik trayek ke Jogja sore itu baris tempat duduknya hanya sampai nomor 18. Sementara penumpang yang berdiri bergerombol adalah pemegang karcis bernomor tempat duduk 19 sampai 21, termasuk saya. Hanya karena penumpang percaya bahwa Garuda akan mampu mengatasinya, artinya tidak bakalan tidak dapat tempat duduk, maka penumpang tetap bersabar sambil ketawa-ketiwi.

Akhirnya seorang petugas datang sambil membawa daftar penumpang yang sudah diperbaiki rupanya. Lalu satu-persatu penumpang yang masih berdiri dibelakang itu dibacakan namanya dan diberitahu nomor tempat duduk yang benar. Legalah, semua penumpang. Setidak-tidaknya tidak harus berdiri bergelantungan atau duduk di bangku yang disisipkan di lorong pesawat.

Entah kenapa pesawat Boeing 737-300 yang jumlah baris tempat duduknya sampai nomor 21 yang biasa narik trayek Jakarta-Jogja, kali itu diganti dengan Boeing 737-500 yang lebih kecil. Tapi rupanya penggantian pesawat ini mendadak sehingga tidak nyambung ke petugas check-in, walhasil pengaturan tempat duduk sewatu check-in belum disesuaikan.

Penghargaan pantas diberikan untuk petugas Garuda yang cukup lincah dan dengan sigap mengatasi kesemrawutan di ujung belakang kabin pesawat, sehingga urat kesabaran penumpang belum sempat menegang, melainkan masih bersuasana goyonan plesetan ala Jogja (“sambil menunggu disediakan bangku yang akan dipasang di lorong seperti naik bisa antar kota saat mudik lebaran”).

Akhirnya pesawat pun siap tinggal landas dengan tanpa kehilangan banyak waktu penundaan. Saya pikir, masalah dan hambatan senantiasa ada dalam pengelolaan sistem angkutan udara. Cuma yang membedakan antara maskapai yang satu dan lainnya adalah keterampilan petugasnya untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, lincah dan ramah. Ora klelat-klelet…… (tidak ogah-ogahan atau asal-asalan). Sayangnya keterampilan seperti ini tidak ada sekolahnya, melainkan bisa dilatih sebagai bagian dari tanggungjawab profesional, apapun profesinya.

Awalnya saya melihat dan merasakan peristiwa ini sebagai kejadian yang biasa-biasa saja. Tidak menarik untuk saya ingat-ingat. Sampai kemudian ada halo-halo dari ujung depan sana yang menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan keberangkatan. Dan ini yang berbeda : “karena alasan kurangnya profesional petugas……….”. Pada bagian titik-titik dari halo-halo awak kabin ini tidak terlalu jelas saya dengar. Tapi kedengarannya mirip-mirip ucapan garuda.., gadura.., garadu.. atau gadaru….., gitu…

Tapi okelah. Dalam banyak hal kita sering menganggap bahwa “Siapa” tidaklah terlalu penting, karena biasanya cenderung untuk subyektif. Jauh lebih penting mengetahui “Kenapa” atau “Bagaimana”, sebab dari sana biasanya akan lebih obyektif dan ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan itu sudah terjawab, yaitu “kurangnya profesional petugas…..”, seperti pengakuan jujur awak pesawat.

Ini sesuatu yang baru bagi saya. Selama ini, ilmu permintaan maaf ini sudah saya hafal di luar kepala. Kalau bukan “karena alasan teknis”, ya “karena alasan operasional”. Tapi rupanya perbendaharaan alasan di kepala saya harus ditambah. Masih ada alasan yang lain, yaitu “karena alasan kurangnya profesional”. Sebuah pengakuan yang kedengaran begitu jujur dan menyentuh (bukan hati, melainkan rasa tangungjawab).

Pengakuan jujur yang rasanya pantas diapresiasi. Hanya sedikit saja sayangnya, yaitu kedengaran agak malu-malu burung…… Pasalnya seingat saya, baru kali itulah saya mendengar pengumuman yang diperdengarkan di dalam pesawat dengan tanpa disertai terjemahan bahasa Inggrisnya……

Moga-moga prasangka saya salah. Bukan karena malu menerjemahkan di hadapan penumpang asing, melainkan hanya karena khilaf saja. Tapi khilaf bisa jadi adalah bagian dari profesionalisme kalau keseringan, alias bolak-balik khilaf….

Yogyakarta, 2 Agustus 2008
Yusuf Iskandar