Posts Tagged ‘bandung’

Catatan Harian Untuk Merapi (12)

28 Desember 2010

(102). Tambang Pasir Di Tengah Kota

Berkah Merapi… Pasir yang terendap dari gelontoran lahar dingin di sepanjang kali Code yang membelah Yogyakarta, ternyata menjadi berkah tersediri bagi masyarakat yang tinggal di lembah Code. Lihatlah antrian truk yang memanjang menunggu giliran untuk diisi pasir. Dan itu terjadi di tengah kota Jogja.

Ya benar, tambang pasir di tengah kota, di sepanjang aliran kali Code. Mudah-mudahan mereka tidak lupa bahwa banjir lahar dingin masih berstatus AWAS..!

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(103). Berkah Lahar Dingin Merapi

Mau menambang pasir tanpa ijin tapi diijinkan? Malah difasilitasi pemerintah? Maka tambanglah pasir kali Code.

Berkah bagi masyarakat karena nilai ekonomisnya. Pemerintah pun berkepentingan untuk menormalisasi kedalaman sungai yang dangkal total karena endapan lahar dingin. Sebab jika tidak, maka fungsi sungai akan hilang, lalu siap-siap saja mbludak di musim penghujan. Semua pihak kini jadi berkepentingan atas penambangan pasir kali Code.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(104). Purnama Terakhir

Malam ini
purnama keduabelas
purnama terakhir di penghujung tahun 1431H
purnama yang tersaput abu vulkanik
sebentar mengantar sisa waktu
lalu tahun berganti…

Betapa anugerah tak terjumlah telah kita raih dan nikmati
keindahan pun telah terasakan
Tapi juga kesalahan kita lakukan
di antara kebaikan yang tak seimbang jumlahnya…

Masih mampukah kita jalani purnama selanjutnya
dengan cara yang benar
dengan segenap cinta dalam kesadaran penghambaan kepadaNya

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(105). Tak Tersentuh Karena Tersembunyi

Matahari tepat di cakrawala barat, masih menyisakan semburat merahnya. Aku tiba di dusun Babadan, desa Butuh, kecamatan Sawangan, Magelang. Lokasinya sekitar 10 km timurlaut dari Blabak, Jl. Raya Jogja-Magelang, menuju arah Ketep lalu belok ke utara ke kaki gunung Merbabu.

Kesanalah petang tadi aku membawa tiga karung beras titipan seorang teman di Bandung bagi korban Merapi non-pengungsi yang tak tersentuh bantuan karena tersembunyi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(106). Mereka Tak Berdaya

Dusun Babadan terletak di baratlaut Merapi pada radius sekitar 12 km, dikelilingi hutan sengon. Ketika letusan besar Merapi terjadi (5/11), warganya terisolir. Pohon-pohon patah menghalangi jalan. Di dalam rumah takut kalau rumahnya roboh oleh abu dan pasir vulkanik. Mereka pun berkumpul di tanah terbuka di bawah guyuran abu panas Merapi dengan perlindungan seadanya. Tangis histeris wanita dan anak-anak nyaris hilang ditelan gemuruh Merapi yang menggetarkan bumi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(107). Posko Mandiri Untuk Korban Merapi Non-Pengungsi

Masyarakat dusun Babadan dan dusun-dusun tetangganya tidak mengungsi. Makanya mereka tidak punya gelar pengungsi. Di sinilah dilema. Karena bukan pengungsi maka lalu “tidak perlu” dibantu. Padahal sama-sama korban Merapi.

Tengoklah, semua bantuan berlabel “pengungsi”. Bahkan di posko-posko sampai berlimpah. Sedang mereka yang non-pengungsi? Jatah pemerintah sangat terbatas, minta ke posko prosedurnya belit-belit. Akhirnya mereka menggalang posko mandiri.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(108). Warga Soronalan Butuh Bantuan Segera

Baru saja dapat kontak dari posko mandiri di desa Soronalan, Sawangan, Magelang. Ada 50 KK di kaki gunung Merbabu yang butuh bantuan mendesak. Sejak letusan besar Merapi (5/11) belum pernah ada bantuan dan warganya makan seadanya (keladi, ketela, dkk). Beras yang saya kirim ke dusun tetangganya tadi malam akhirnya dialihkan ke sana. Cukup untuk 1 kg per KK.

Tuhan…, pliiis…turunkan berasMu yang masih ada di langit (fissama-i fa-anzilhu)…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(109). Berharap Hujan Beras

Mereka bukan pengungsi (makanya tidak ada bantuan), tapi penduduk setempat yang menderita akibat letusan Merapi. Mereka buruh tani, sedang semua ladang hancur. Sebagai penderes kelapa, pohon kelapa rusak. Sebagai pengrajin keranjang, tidak ada yang beli. Sebagai peternak, tidak ada pakan, sedang singkong harus berebut dengan pemiliknya. Pohon pisang rusak oleh abu. Sayur dan tanaman bumbu musnah. Untuk bertahan hidup? Berharap hujan abu berganti hujan beras…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

Iklan

KA Eksekutif Kehabisan Air

26 Desember 2010

Seingatku, karcis yang kubeli untuk sepur Lodaya jurusan Bandung-Solo ini kelasnya eksekutif. Tapi ternyata air di toilet habis di tengah jalan. Kutanyakan kepada petugas kereta kenapa sampai bisa kehabisan air, jawabnya: “Waktu di Bandung tadi ngisi tankinya tidak full…”.

Wooo, dasar geblek…! Sudah tahu sepur eksekutif jarak jauh kok modal beli airnya ngecer… Kalau berangkatnya tadi dari stasiun Gunung Kidul mungkin saya maklum…

Antara Bandung-Jogja, 21 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Semalam Di Haur Mekar

20 Desember 2010

Semalam di Haur Mekar, Bandung… Kuniatkan untuk menjumpai orang-orang tua, sesepuh yang dulu sangat kurasakan kebaikannya. Ada yang ternyata sudah lebih dahulu berpulang (semoga Allah menerima ibadahnya), ada yang tidak berhasil kutemui (semoga aku masih punya sempat di lain waktu), tapi ada yang begitu sukacita menyambut silaturrahimku…

Alhamdulillah, aku masih sempat menatap wajahnya yang nampak letih di penghujung usianya yang kini menjelang 70 tahunan…

Bandung, 20 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Keluarga Haur Mekar C-41

20 Desember 2010

Menghadiri acara pernikahan seorang sahabat di Bandung, menjadi kesempatan silaturrahim bertemunya (walau tidak semua) sebuah keluarga besar yang lama saling terpisah. Keluarga besar itu adalah teman-teman sekost yang telah 20 tahun tidak bertemu. Keluarga besar yang akan terus kukenang. Keluarga Haur Mekar C-41 Bandung, di seputar tahun 1986-1988.

Bandung, 20 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Jajan Pasar Di Acara Pernikahan

20 Desember 2010

Aneka jajan pasar, di sebuah acara syukuran pernikahan seorang teman di Bandung utara.

Bandung, 20 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Sang Penjaga Mushola Yang Ingin Naik Haji

29 Agustus 2010

Suatu ketika saya hendak kembali ke Jogja dari Bandung dan berencana naik kereta api Malabar yang berangkat dari Stasiun Hall Bandung jam 15:30. Rupanya hari itu saya keasyikan melewatkan waktu siang ditambah dengan lalu lintas kota yang cukup padat, sehingga terlambat tiba di stasiun. Sebagai gantinya saya mencari karcis kereta jam-jam sesudahnya, karena sebelumnya saya sempat menilpun call centre katanya tiket masih banyak. Ternyata sore itu semua tiket kereta menuju arah timur untuk hari itu sudah habis. Mencoba menghubungi agen travel sebagai alternatif ternyata juga sudah tidak tersedia perjalanan hari itu.

Saya memutuskan untuk menginap semalam di Bandung dan pulang ke Jogja dengan kereta besok paginya. Sementara saya dheleg-dheleg (terbengong-bengong) karena harus menunda kepulangan ke Jogja, mampirlah saya ke mushola yang ada di ujung kiri stasiun, untuk sholat Dzuhur wal-Ashar, sambil berdoa agar pikiran tidak kemrungsung dan semoga ada pencerahan. (Jadi kalau lain kali Anda dheleg-dheleg, dimanapun Anda berada, mampirlah ke mushola atau masjid terdekat. Insya Allah akan menemukan hikmahnya. Tapi ya sholat, jangan hanya pindah dheleg-dheleg).

Usai sholat saya sempatkan mengobrol dengan penjaga mushola yang ternyata orangnya beda dengan yang pernah saya jumpai beberapa bulan sebelumnya. Dari obrolan dengan penjaga mushola yang belakangan saya ketahui bernama pak Syahroni itu saya ditanya : “Tadi tidak ada orang yang nawarin tiket?”. Saya langsung paham apa yang dimaksud, pasti beli tiket ke calo. Sejenak kemudian saya pamit kepada pak Syahroni sambil menitipkan tas. Saya hendak melihat-lihat ke bagian penjualan tiket di stasiun siapa tahu dapat inspirasi.

Benar juga. Saya dihampiri seorang bapak tua yang katanya bisa mengusahakan tiket ke Jogja malam itu. Tapi harga tiketnya Rp 100.000,- lebih mahal di atas harga loket. Tanpa pikir panjang langsung saya setujui, ketimbang harus menginap semalam di Bandung. Akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket KA Lodaya keberangkatan jam 8 malam, dengan harga calo tentu saja.

Menunggu waktu keberangkatan malam harinya, sore itu saya memiliki banyak waktu luang yang kemudian saya habiskan untuk mengobrol dengan pak Syahroni sang penjaga mushola. Rupanya pembicaraan semakin mengasyikkan dan akrab. Bahkan pak Syahroni yang tidak punya pekerjaan tetap selain mengurusi mushola stasiun itu menawari saya untuk dipesankan minuman ke kedai di dekat situ, juga menawari akan dibelikan rokok. Tentu saja, yang pertama saya setujui tapi yang kedua saya tolak. Tak terasa obrolan terus berlanjut hingga masuk waktu maghrib bahkan isya, sampai akhirnya saya berpamitan sesaat menjelang keberangkatan kereta Lodaya yang akan meninggalkan Bandung.

***

Pak Syahroni yang kini bertempat tinggal di daerah Soreang, Bandung, bersama seorang istri dan ketiga anaknya itu rupanya seorang yang sederhana tapi berwawasan cukup luas. Meski sehari-harinya bertugas mengurusi dan menjaga mushola, namun beliau sering diminta untuk mengisi pengajian agama di lingkungan pegawai stasiun Bandung. Di kampungnya pun beliau membantu memberi pengajaran agama kepada sekitar 40 orang anak-anak di lingkungan rumah tinggalnya. Semuanya dilakukan semata-mata untuk tujuan ibadah tanpa berharap imbalan, alias dilakukannya dengan gratis. Di kampungnya pula pak Syahroni sering terlibat dan dipercaya mengisi kegiatan keagamaan.

Sudah 18 tahun pak Syahroni (kini berusia 45 tahun) menekuni pekerjaannya sebagai penjaga mushola stasiun tanpa pernah mengeluh. Tanpa gaji, tanpa honor, dan satu-satunya sumber penghasilannya adalah dari pemasukan kotak infak mushola stasiun yang dibagi dua dengan seorang teman kerjanya sesama penjaga mushola (yang juga pernah saya kenal, bernama pak Nanang). Hasil infak itu pun masih dipakai sebagiannya untuk biaya operasi mushola antara lain untuk perbaikan-perbaikan kecil, kebersihan, dsb. Bisa saya bayangkan, pasti tidak seberapa nilai “take home pay” yang bisa diperolehnya untuk menghidupi keluarganya.

Di balik semangatnya untuk terus ingin mengurus mushola dan menekuni pengabdian ibadahnya mengajarkan agama kepada siapapun tanpa berharap imbalan lebih, pak Syahroni memimpikan ingin pada suatu saat nanti bisa pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Pak Syahroni menceritakan impiannya itu sambil tertawa, seolah menyadari bahwa impiannya itu memang sekedar impian yang nyaris tak mungkin bakal terwujud. Namun beliau sangat yakin bahwa jika Allah menghendaki maka tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan saking kepinginnya untuk dapat pergi ke Mekkah, tanpa ragu-ragu setiap kali membicarakan tentang ibadah haji, dengan percaya diri pak Syahroni mengatakan kepada siapapun: “Insya Allah tahun depan saya akan pergi ke tanah suci”. Kini entah sudah tahun ke berapa kalimat itu diwiridkannya. Tapi doanya tak pernah putus.

Tentu saja, saya harus memberi dorongan semangat kepada beliau. Bak seorang “tukang kompor” (motivator, maksudnya), saya katakan : “Benar pak, jangan berhenti berharap dan berdoa. Insya Allah impian bapak akan terwujud. Dan, Insya Allah jika umur saya panjang, saya ingin menyaksikan bapak benar-benar berangkat ke tanah suci pada suatu saat nanti”.

***

Pengalaman sejenak bersama pak Syahroni itu saya tuliskan sebagai cersta (cerita status) di Facebook, sekedar ingin berbagi pengalaman kepada sahabat-sahabat saya di Facebook. Bunyi status saya begini:

Sdh 18 th ngurus mushola stasiun. Tanpa gaji ato honor, mlainkn hasil kotak infak. Pak Syahroni (45 th), asal Soreang, kpingin skali naik haji. Stiap thn mngatakn: “insya Allah thn depan ke tnh suci”. Kini entah sdh thn ke brp kalimat itu diwiridkan. Tp doanya tak pernah putus. Melihat niat tulusnya, kubilang: “Pak, insya Allah jika umur sy panjang, sy ingin mnyaksikan Bpk benar2 brngkat ke tanah suci…”. (02/08/2010)

Setelah saya mem-posting status di Facebook itu, ternyata beberapa sahabat memberi respon yang di luar dugaan saya yang membuat saya merinding dan membangkitkan semangat. Beberapa sahabat malah berniat ingin menyumbangkan sejumlah dana untuk pak Syahroni. Maka kutulis cerita status berikutnya:

Awalnya hnya ingin sharing pngalaman ‘3 jam brsama sang penjaga mushola’ di stasun Bandung. Pak Syahroni, pnjaga mushola itu ingin skali naik haji, tp satu2nya smber pnghasilan adlh kotak infak. Sy lalu mnjelma mnjd “tukang kompor”. Sy yakinkan: “Insya Allah, niat Bpk akn terwujud. Jngn brhenti berdoa”. Respon rekan2 sungguh mmbuat sy merinding, ketika ada 4 rekan berniat sedekah @Rp 1 juta. (03/08/2010)

Sebenarnya saya sendiri tidak pernah berencana membantu pak Syahroni dari sisi materi, melainkan dalam hati saya berniat membantunya dengan doa. Maka saya pun menuliskan cerita status berikutnya:

Msh ttg impian pak Syahroni (18 th mjd pnjaga, muadzin & imam mushola stasiun Bandung) utk naik haji, sdg pnghsilannya hnya dr kotak infak. Sy tdk prnah brencana mmbantu kcuali dg doa, tdk jg prnh brniat mnggalang dana apalg jd Panitia. Tp mmbaca respon para sahabat, sy jd brgairah spt ktika mlm Jum’at tiba (utk lbh bnyak tadarus, maksudnya) & adrenalin sy mningkat spt ktika mndaki gunung. (03/08/2010)

Siang tadi sy bicara via telp dg pak Syahroni. Trdengar dr bicaranya beliau terkejut, dgn terbata2 mngucap syukur & ‘hatur nuhun’. Sgr akan dibuka Tabungan Haji a/n beliau, shg siapapun yg berniat sedekah utk pak Syahroni, tinggal transfer ke rek tsb (boleh jg via sy). Ini akan mnjd bukti ksungguhan seorg hamba utk mmnuhi undangan Khaliknya. Kekurangannya biar Sang Pengundang yg mnggenapi.  (03/08/2010)

Pak Syahroni ini memang bukan apa-apa saya, selain sekedar seseorang yang baru saya kenal di stasiun Bandung. Namun semangatnya untuk bisa menunaikan ibadah haji sungguh sangat menginspirasi, bahkan di mata sahabat-sahabat saya yang tersentuh hatinya untuk berempati kepada pak Syahroni. Kemudian saya pun menuliskan cerita status berikutnya:

Prlu dketahui bhw pak Syahroni ini bkn apa2 sy. Ttangga bkn, famili apalg, teman jg br kenal, tinggalnya pun jauh. Tapi kesungguhan & ketulusan niatnya utk pergi haji benar2 mnginspirasi sy. Klo ada yg tanya knapa mau repot2 mmbantunya? Sy tdk tahu. Smua trjd bgitu sj tnpa prnah sy rencana. Brngkali itulah jln rejeki bg pak Syahroni.. “min khoitsu laa yahtasiib (dr sumber yg tak trduga)”. (04/08/2010)

Hingga akhirnya atas bantuan seorang teman di Bandung, pak Syahroni telah membuka rekening Tabungan Haji. Saya tuliskan dalam cerita status saya:

Mmfasilitasi semangat brsedekah rekan2 FB utk pak Syahroni, pnjaga mushola stasiun Bdg (lihat status2 sy sblmnya). Hr ini telah dibuka rekening Tabungan Haji a/n Pak Syahroni di bank Mandiri No. Rek. 132-00-1019316-8, dg setoran awal Rp 8,5 jt. Sy pesankan kpd beliau: “Jaga niat seolah2 bpk akn sgr brngkt ke tanah suci…. Tabunglah brppun rejeki yg bpk ada & tdk usah dipikir kurangnya, biar Allah swt yg menggenapi…”. (09/08/2010)

Alhamdulillah, hingga saat ini telah terkumpul saldo sejumlah Rp 9,5 juta di rekening Tabungan Haji pak Syahroni. Memang masih jauh dari jumlah minimal yang diperlukan untuk memperoleh nomor urut daftar tunggu.

Ucapan terima kasih ingin saya sampaikan kepada segenap sahabat yang dengan niat tulus ikhlasnya mentransfer sejumlah dana untuk pak Syahroni. Bukan soal jumlah rupiahnya, melainkan berapapun nilai sedekah itu, insya Allah akan menjadi pembuka jalan bagi terwujudnya mimpi pak Syahroni untuk berkunjung ke tanah suci, entah kapan hal itu akan menjadi kenyataan. Semoga semua kebaikan para sahabat itu akan memperoleh balasan yang jauh lebih baik dari Allah swt. Amin.

NB : Jika masih ada sahabat yang ingin bersedekah untuk pak Syahroni, silakan mentransfer dananya, bisa melalui saya atau langsung ke no. rekening yang tertulis di atas dan tolong kesediannya untuk mengkonfirmasi kepada saya agar saya dapat membantu memonitornya.

Yogyakarta, 29 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Cerita Tentang Penjaga Mushola Stasiun Bandung

10 Agustus 2010

(1)

Sudah 18 tahun ngurus mushola stasiun. Tanpa gaji atau honor, melainkan hasil kotak infak. Pak Syahroni (45 th), asal Soreang, kepingin sekali naik haji. Setiap tahun mengatakan: “Insya Allah tahun depan ke tanah suci”.

Kini entah sudah tahun ke berapa kalimat itu diwiridkan. Tapi doanya tak pernah putus. Melihat niat tulusnya, kubilang: “Pak, insya Allah jika umur saya panjang, saya ingin menyaksikan Bapak benar-benar berangkat ke tanah suci…”.

Yogyakarta, 2 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

(2)

Awalnya hanya ingin sharing pengalaman “3 jam bersama sang penjaga mushola” di stasiun Bandung. Pak Syahroni, penjaga mushola itu ingin sekali naik haji, tapi satu-satunya sumber penghasilan adalah kotak infak.

Saya lalu menjelma menjadi “tukang kompor”. Saya yakinkan: “Insya Allah, niat Bapak akan terwujud. Jangan berhenti berdoa”. Respon rekan-rekan sungguh membuat saya merinding, ketika ada 4 rekan berniat sedekah @Rp 1 juta. (Lihat status saya sebelumnya).

***

(3)

Masih tentang impian pak Syahroni (18 tahun menjadi penjaga, muadzin dan imam mushola stasiun Bandung) untuk naik haji, sedang penghasilannya hanya dari kotak infak. Saya tidak pernah berencana membantu kecuali dengan doa, tidak juga pernah berniat menggalang dana apalagi jadi Panitia.

Tapi membaca respon para sahabat, saya jadi bergairah seperti ketika malam Jum’at tiba (untuk lebih banyak tadarus, maksudnya) dan adrenalin saya meningkat seperti ketika mendaki gunung. (Lihat 2 status saya sebelumnya)

***

(4)

Siang tadi saya bicara via telpun dengan pak Syahroni. Terdengar dari bicaranya beliau terkejut, dengan terbata-bata mengucap syukur dan  hatur nuhun. Segera akan dibuka Tabungan Haji a/n beliau, sehingga siapapun yang berniat sedekah untuk pak Syahroni, tinggal transfer ke rekening tsb. (boleh juga via saya).

Ini akan menjadi bukti kesungguhan seorang hamba untuk memenuhi undangan Khaliknya. Kekurangannya biar Sang Pengundang yang menggenapi (Lihat 3 status saya sebelumnya).

Yogyakarta, 3 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

(5)

Perlu diketahui bahwa pak Syahroni ini bukan apa-apa saya. Tetangga bukan, famili apalagi, teman juga baru kenal, tinggalnya pun jauh. Tapi kesungguhan dan ketulusan niatnya untuk pergi haji benar-benar menginspirasi saya.

Kalau ada yang tanya kenapa mau repot-repot membantunya? Saya tidak tahu. Semua terjadi begitu saja tanpa pernah saya rencana. Barangkali itulah jalan rejeki bagi pak Syahroni.. Min khoitsu laa yahtasiib (dari sumber yang tak terduga). (Lihat 4 status saya sebelumnya).

***

(6)

Terima kasih untuk para sahabat yang tergerak berniat membantu pak Syahroni, penjaga mushola stasiun Bandung, untuk mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji (lihat 5 status saya sebelumnya). Insya Allah saya akan memfasilitasi –

Alhamdulillah, sudah ada 9 orang yang mengkonfirmasi untuk bersedekah (DS, ESSC, EH, WDSY, AP, EPJ, FW, YAAR, BW). Sebelum membuka Tabungan Haji, saya bersedia menampung dulu. Info lebih lanjut via Inbox. Siapa mnyusul?

Yogyakarta, 4 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

DSM

14 Mei 2010

Pagi ini anak lanang (Noval) kirim SMS, katanya sudah sampai Bandung, (mulai) tanding habis dhuhur. Klubnya ‘Puma’ (klub Bandung tapi orangnya dari Jogja) mau bertanding street ball (main bola di jalan?), di Bandung Super Mall (lho, kok malah di Mall?).

Lalu kukirimi SMS: “Dsm”.
Dijawab: “Iya”.
Kutanya lagi: “Apanya yang iya?”.
Dijawab: “Gak tahu”.
Akhirnya kubalas: “Huahahaha…. Dsm = Doaku selalu menyertaimu (seperti tulisan di bak belakang truk”.

Yogyakarta, 8 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Visi Ibadah Nanang

4 Mei 2010

Namanya Nanang, 38 tahun. Sehari-hari ngurus musholla stasiun Hall Bandung. Hidup dari hasil kotak infak. Itu pun sebagan untuk operasional musholla. Tidak banyak Rupiah bisa dibawa pulang untuk istri dan dua anaknya. Tapi faktanya, sudah 15 tahun kerja itu dilakoni tanpa pernah mengeluh. Visi ibadahnya jauh lebih penting ketimbang visi duniawinya. Sederhana tapi ikhlas. Yen tak pikir-pikir.., ternyata ‘kelasku’ masih jauh di bawahnya. Kalau begitu ya nggak usah dipikir aja..

Yogyakarta, 3 Mei 2010
Yusuf Iskandar

(1) Catatan Perjalanan: Antara Lembang – Katumiri

18 April 2010


Tepat jam 05:25 KA Lodaya tiba di Stasiun Hall, Bandung setelah menempuh perjalanan hampir delapan jam dari Jogja. Sekitar jam 06:00 lebih sedikit segera meluncur ke Lembang membelah kota Bandung yang mulai sibuk. Inginnya mencari sarapan pagi yang berbeda karena sejak siang kemarin di Jogja perut satu-satunya ini belum terisi nasi, meski sudah kemasukan segala macam makanan (dasar perut Jawa…!). Eh, dapatnya malah roti bakar. Yo wis…, dipadu dengan kopi pun jadilah sarapan pagi yang cukup mengenyangkan, sambil menyasikan kesibukan pagi cerah berhawa sejuk kota Lembang.

Datang seorang ibu menawarkan bungkusan nasi kuning. Sebenarnya kami tidak berminat membelinya. Tapi rasa kasihan timbul saat melihat bungkusan nasi kuning yang dibawa oleh si ibu terlihat masih banyak, menandakan pagi itu belum banyak laku terjual. Akhirnya dua bungkus nasi kuning pun kami beli, bahkan si ibu itu masih berbaik hati menambahnya menjadi tiga bungkus tanpa tambahan biaya. Kami lanjutkan perjalanan dengan membawa serta bungkusan nasi kuning yang belum tahu selanjutnya mau diapakan.

Turun dari Lembang membelok ke jalan tembus Lembang – Cisarua – Cimahi. Jalan menurun tajam, berpemandangan lereng menuju lembah kota Bandung. Melewati kawasan sekolah Advent yang berlanskap tampak tertata rapi, bersih dan indah. Akhirnya sampai di sebuah masjid di pinggir jalan di kompleks PT Biofarma, di desa Kertawangi, kecamatan Cisarua, termasuk wilayah kabupaten Bandung Barat. Masjid Al-Aafiyah namanya. Sebuah nama yang sebenarnya jarang dipakai untuk menamai sebuah masjid.

Bangunan masjid ini sederhana namun terlihat masih baru dan bersih membuat betah siapapun yang menyinggahinya. Tempat yang cukup nyaman untuk menunaikan sholat Dhuha, lalu beristirahat sejenak sambil menikmati suguhan pemandangan indah berlatar gunung Burangrang. Bercengkerama dengan teman seperjalanan dan ngobrol dengan penjaga masjid, di bawah buaian hawa pegunungan yang menyegarkan, terasa waktu seperti cepat berlalu.

Perjalanan kemudian dilanjutkan berbalik kembali naik ke arah sekolah Advent, lalu membelok menuju kawasan wisata Katumiri yang berada di punggungan perbukitan. Kawasan wisata Katumiri ini biasanya ramai dikunjungi para wisatawan, terutama wisatawan domestik pada hari Minggu atau hari libur Di luar hari-hari itu kawasan ini nampak lengang dan sepi, bahkan sebenarnya tertutup bagi wisatawan.

Di sebuah gardu pemandangan, seluas mata memandang tampak bentang alam kawasan lembah yang adalah kota Bandung, Cimahi dan sekitarnya terlihat indah nun jauh di sisi selatan, tersaput pantulan cahaya matahari yang sedang terik. Tidak jauh di bawah gardu pemandangan berada, terhampar area kebun sayur tidak terlalu luas di bidang tanah yang miring, di lereng yang cukup landai. Seorang petani terlihat di lokasi agak ke bawah sedang menggarap ladangnya, mencangkul dan membersihkan lahan kebunnya. Tiba-tiba teringat akan bekal bungkusan nasi kuning yang sebelumnya dibeli di Lembang. Segera kami turun menghampiri paman petani yang sedang bekerja di ladangnya, menyusuri pematang kecil yang membatasi petak-petak ladang yang rata-rata berukuran sempit.

Petak-petak ladang itu dibentuk berteras-teras menyesuaikan kemiringan lerengnya. Maka untuk dapat berjalan menyusuri pematang pembatas ladang terkadang harus mencari-cari jalan yang agak landai dan sesekali harus meloncat dari satu teras ke teras di bawahnya. Agak merepotkan karena sesekali bisa terjatuh atau terpeleset, tapi inilah sepenggal pengalaman yang barangkali tidak pernah terbayang akan sempat dilakukan di tengah rutinitas kehidupan di kota.

Sekedar menyapa dan berbasa-basi dengan paman petani sebagai tanda persahabatan, untuk kemudian bungkusan nasi kuning pun kami berikan. Ekspresi terima kasihnya terlihat di wajah ceria dan senang dari paman petani yang dari raut mukanya terlihat lebih tua dari usianya. Sebuah pemberian yang nilai nominalnya tidak seberapa sebenarnya, tapi berbagi kebahagiaan hingga bersusah menuju tempat kerja paman petani itulah yang menjadi intinya.

Sejenak kemudian beristirahat di sebuah saung (gubuk) entah milik siapa, menikmati semilir angin pegunungan yang terasa menyejukkan di tengah cuaca yang sedang panas. Pemandangan lembah kota Bandung masih jelas terlihat memesona membentang jauh di bawah. Hingga akhirnya sayup-sayup di kejauhan terdengar adzan tanda waktu sholat dhuhur tiba.

Di sebuah musholla di kawasan wisata Katumiri, kami berjamaah menjalankan sholat dhuhur. Kesempatan sholat berjamaah, di sebuah kawasan pegunungan yang indah, sepi dan berhawa sejuk, yang akhir-akhir ini suka kami angankan bahkan impikan, akhirnya datang juga. Dan, keinginan untuk sholat berjamaah pun kesampaian. Puji Tuhan wal-hamdulillah….

Usai sholat dhuhur semula ingin segera mencari makan siang, tapi tertunda karena ingin lebih lama menikmati suasana alam pegunungan. Sebelum meninggalkan Katumiri, beristirahat sejenak sambil mengobrol di dalam kendaraan di bawah keteduhan rerimbunan pepohonan di tempat parkir, dibuai hembusan lembut angin pegunungan adalah pilihan yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Sebab kesempatan seperti ini memang tidak mudah diperoleh saat di tengah keseharian yang sudah cukup menyita waktu dan kepentingan.

Kalau kemudian terselip suasana indah, dalam nuansa hati yang menggetarkan dan memberikan kenangan yang mengesankan, maka itu adalah karunia Tuhan yang tiada terkira. Yang oleh karenanya pantas dinikmati, disyukuri sekalius dihikmahi. Sebab disadari atau tidak, di sana ada kebaikan, ada perenungan dan mungkin juga ada kesalahan, yang sudah semestinya dipetik ibrah atau pembelajarannya. Semua terangkai dalam sebuah percikan rahmat dan anugerah dari Yang Maha Pencipta Alam Seisinya, yang cinta kasihNya tak terbatas sekaligus tak terbalas seberapa besarpun penghambaan pernah diberikan oleh mahlukNya.

Bandung, 13 April 2010
Yusuf Iskandar

(2) Catatan Perjalanan : Antara Lembang – Maribaya

18 April 2010

Lembang memang kota kecil di punggungan utara Bandung yang enak disinggahi dan disusuri jalanannya, ketimbang hiruk-pikuknya kota besar di seputarannya. Meski suasana kotanya cukup padat dan sibuk, masih saja terselip nuansa damai dengan belaian hawa pegununan yang menyegarkan. Di tengah cuaca siang yang cukup terik, kami kembali membelok ke jalan tembus Lembang – Cisarua – Cimahi. Namun kali ini untuk tujuan mencari tempat makan yang bernuansa desa dan berbeda dari kebanyakan rumah makan yang betebaran di sepanjang kawasan Lembang dan sekitarnya.

Sampailah ke rumah makan Saung Wargi yang berlokasi persis di sisi kanan bawah jalan yang menurun dan berkelok tajam, tidak jauh dari Lembang. Rumah makan bergaya tradisional yang di tengahnya terdapat sebuah kolam pemancingan besar dan beberapa kolam kecil serta di sekelilingnya terdapat saung-saung atau gubuk-gubuk berkonstruksi bambu. Para pengunjung dapat memilih antara duduk lesehan di atas tikar atau duduk di kursi.

Di salah satu saung itulah kami duduk lesehan sambil memandang kolam kecil yang di tengahnya sedang mekar bunga teratai. Menu sederhana ayam bakar, tahu, tempe dan lalapan cukup menjadi sajian makan siang yang terasa sungguh nikmatnya. Melahap makan siang sambil bercengkerama tentang apa saja. Tentang muhasabah (perenungan) perjalanan hidup dan kehidupan seseorang, dulu, kini dan yang akan datang. Tentang romantisme perjalanan ibadah yang sudah terlewati lebih dari setengah umur manusia. Tentang cobaan dan hikmah yang seharusnya dapat diambil pembelajarannya bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sebelum meninggalkan Saung Wargi untuk melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan sholat berjamaah di musholla yang ada di sana. Sebagai musafir, maka sholat Dhuhur dan Ashar sekaligus kami tunaikan secara jamak ta’dim (menggabung di waktu awal). Suasana musholla yang sempit itu sepertinya menjadi begitu indah ketika sholat berjamaah didirikan sejak takbir pertama hingga salam terakhir. Di sana ada Tuhan yang sedang memberi kesempatan yang luar biasa. Kesempatan yang tak pernah terpikirkan dan terencanakan, yang bisa berarti anugerah dan bisa juga musibah, tinggal bagaimana setiap dari hambaNya menerima dan menjalaninya.

Kalau ada percikan kemesraan Tuhan kepada mahlukNya dan kalau ada pelukan kasih sayang Tuhan kepada hambaNya, maka semua terbingkai dalam kesucian dan keagungan Sang Maha Pencipta ketika menebarkan rahmatNya kepada segenap jagat raya dan seisinya tanpa pernah pandang perbedaan. Di mataNya, semua mahluk ciptaanNya adalah sama.

***

Hari semakin bergeser menjelang sore. Perjalanan kami lanjutkan menuju ke kawasan wisata Maribaya yang berjarak sekitar 15 km dari arah Lembang menuju lebih ke utara. Semula tidak ada niat untuk berjalan-jalan menikmati obyek wisata Maribaya, namun tiba-tiba saja keinginan itu melintas di pikiran, sekedar ingin mengenang perjalanan lintas alam yang pernah kami lakukan sekitar 22 tahun yang lalu.

Di sana ada air terjun yang dahulu pernah kami kunjungi. Kini tentu sudah banyak yang berubah. Tapi air terjun itu masih ada di sana, tak jua berubah keindahannya di bawah belaian kesejukan hawa pegunungan. Hijau semak belukar dan rimbunnya pepohonan yang ada di seputaran kawasan Maribaya adalah bagian dari wilayah luas Taman Hutan Raya Ir. Juanda yang sesungguhnya dapat dijangkau dari kawasan Dago atas di Bandung.

Tiada satupun ciptaan Tuhan yang tersia-sia. Tak juga hutan dan flora-fauna seisinya, tak juga gemericik aliran air dan air terjunnya. Semua menjadi saksi atas kuasaNya, semua menjadi bukti atas cinta Sang Khalik kepada setiap ciptaanNya, seperti semua menjadi saksi atas keindahan dan kemesraan yang terbangun di antara setiap mahluk yang menghamba dan bersujud kepadaNya.

Segenap kenangan indah seolah tak kan pernah terulang. Namun seperti rentang waktu 22 tahun yang sepertinya tak pernah terencana untuk terulang kembali, tetapi Tuhan nampaknya memiliki skenario berbeda sehingga berkenan memberi kesempatan kedua kali. Hanya segenap puja-puji rasa syukur yang dapat dipersembahkan dalam hati sanubari. Pada saat yang sama desir darah mengalir menyadari betapa rentannya mahluk ciptaanNya yang dhoif dan tak berdaya.

Tak terasa hari semakin sore. Perjalanan pun harus segera diakhiri. Ke stasiun Hall Bandung kami segera menuju, mengejar kereta malam yang akan membawa kembali ke Jogja. Taksi yang kami tumpangi melaju kencang membelah kala petang kota Bandung, di bawah rintik hujan dan terpaan angin dingin yang berhembus kencang serta degupan denyut jantung, seolah tiada lagi kereta malam yang akan lewat. Segenap rasa syukur, keharuan dan keindahan tertumpah menjadi satu dalam sebuah kesadaran bahwa semua perjalanan itu bisa jadi hanya sebuah mimpi. Dan jika secara kebetulan perjalanan di alam mimpi itu sejenak menjelma menjadi nyata…., maka Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan bumi dan seisinya tanpa pernah ada setitik materi pun yang sia-sia… (rabbana ma kholaqta hadza bathila).

komitmen harus diberikan,
kesadaran harus dibangkitkan,
bahwa ada yang lebih Maha Merencanakan di atas semua rencana-rencana yang ada.
bahwa biarlah Sang Maha Pemilik Alam Seisinya memilihkan jalan lurus yang seharusnya ditempuh,
hanya keikhlasan menyertai sepanjang waktu yang diberikan
waktu dimana ada mimpi-mimpi yang tak nyata
waktu dimana ada salah dan dosa
waktu dimana ada kebaikan yang dapat direngkuh
waktu dimana antara indah dan haru menyatu
entah sampai kemana akan menuju…

Bandung, 14 April 2010
Yusuf Iskandar

Kopi Shang Hai

7 April 2010

Jogja hujan sejak fajar hingga menjelang siang, sejak subuh hingga penghujung dhuha. Air tertumpah dari langit mengiringi sepenggal doa dhuha, semoga rejeki yang masih di langit sedang dihamburkan ke muka bumi (fis-sama’i fa-anzilhu). Dan, kusambut rejeki itu dengan secangkir kopi Shang Hai (haaaa… varian baru dari Cianjur, selain stok yang masih ada di almari, kopi dari Papua, Bandung, Jambi, Medan dan Aceh. Entah kapan habisnya!)

Yogyakarta, 7 April 2010
Yusuf Iskandar

Tetes Kopi Penghabisan

19 Maret 2010

Akhirnya, sampailah pada tetes kopi penghabisan (dari 0,5 kg kopi Aroma). Sepertinya perlu ke Bandung lagi khusus untuk beli kopi, kecuali… (nah, ini bagian terpentingnya) ada yang berbaik hati membelikannya.

Tapi no worries, tidak sedramatis itu lah, di rumah saya masih punya kopi purwaceng (oppo iki..!), atau ngambil saja dari toko ‘boss’ saya (nah, ini bagian terindahnya, mempunyai ‘boss’ jualan kopi, nggak laku dijual ya diminum sendiri…)

Yogyakarta, 18 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Menikmati Kopi ‘Aroma’

12 Februari 2010

Jogja hujan deras sore ini. Dan, secangkir ‘Koffie Fabriek Aroma Bandoeng’ menghangatkan suasana lahir maupun batin. Suasana lahir, karena sensasi ‘theng...’ kopinya ruar biasa, jannn cocok tenan… Suasana batin, karena untuk membelinya butuh ‘perjuangan’ (maksudnya, mutar-mutar enggak karuan mencari alamat tokonya di Bandung membelah lalulintas yang super semrawut).

(Kopi ‘Aroma’ dapat dibeli langsung ke pabriknya di Jl. Banceuy 51, Bandung)

Yogyakarta, 7 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Di Kereta Argo Wilis Bandung – Jogja

10 Februari 2010

Di kereta Argo Wilis, di tengah perjalanan antara Bandung dan Jogja, seorang bapak membaca sebuah buku kecil bertulisan Arab. Lama dan cukup keras hingga terdengar dari jarak 3 meter. Hatiku berkata: “Orang ini pasti enggak punya kerjaan…”.

Tapi kemudian saya berpikir : Bukankah lebih baik membaca sesuatu yang tidak tahu artinya tapi hatinya meyakini kebenaran tersiratnya, daripada bebas buta aksara tapi hatinya tak mampu membaca apa-apa?

Antara Bandung – Jogja (Di Kereta Argo Wilis), 7 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Di Stasiun Hall Bandung

10 Februari 2010

Mendung tipis di atas stasiun Hall, Bandung, membawa salam dan doa indah mengantar keberangkatanku kembali ke Jogja, sebab di sana ‘boss’ saya sudah menunggu minta segera menangani komputer tokonya yang lagi macet… Puji Tuhan, betapa indahnya ada yang menunggu kepulanganku (untuk alasan apapun), sedang di luar sana banyak orang yang kepulangannya tidak pernah ada yang menunggunya…

Bandung, 7 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Di Café Bali

10 Februari 2010

Diundang makan malam di Cafe Bali, Bandung. Sesuai namanya, untuk main course saya pilih ‘beef steak cafe bali’. Utk minumnya, apa ya? Lha kok ujuk-ujuk mbak pelayan muncul dengan ide cemerlang: “Mau coba ‘gadis bali’, pak?”. Tentu saja saya jawab “Wah, ya mau sekale...”. Tidak menunggu lama, datanglah sang ‘gadis bali’ teronggok di atas nampan, dia adalah jus blasteran antara mangga, sirsat dan strawberry…

(Café Bali berlokasi di Jl. Riau, Bandung. Di tempat inilah saya bertemu dengan sahabat lama mas Eko Utomo, dulu teman kerja di Freeport, dan Kang Dedi Samsudin, dulu teman kerja di Lebong Tandai, Bengkulu, sudah 15 tahunan tidak bertemu )

Bandung, 6 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

“Waiting For…”

10 Februari 2010

Kemarin seharian (menempuh perjalanan) Bandung – Jakarta – Bandung untuk urusan ketemu orang (ya masak ketemu kucing…). Ketemu orangnya sih sebentar saja, tapi ketemu macetnya itu lho yang mengagumkan…

Today, another business is waiting for…, still here in Bandung coret. Cuma sering-seringnya kok waitiiiiiiing terus…, seperti pepatah Jawa : waiting tresno jalaran seko kulino‘. …Akhirnya ya waitiiiiing terus itu tadi…

Bandung, 6 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

‘Nasi Bancakan’

10 Februari 2010

Ada ‘Bancakan’ di Bandung, pesertanya full tiap hari, menu Sunda komplit, pake piring dan cangkir seng jaman baheula. Namun, Abah Barna sang pemilik melalui spanduk besarnya berkata : “Upami tuang 5 ulah ngaku 1, sing karunya ka emang. Da Gusti mah Maha Uninga…ha ha ha” (Kalau makan 5 jangan ngaku 1, kasihanilah sama Emang. Tuhan Maha Tahu lho… Ha ha ha). Sebab ini adalah ‘bancakan’ (kenduri) tapi mbayar...

(Lokasi warung ‘Nasi Bancakan’ ini di Jl. Trunojoyo, Bandung)

Bandung, 4 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Santap Malam Di Punclut, Bandung Utara

10 Februari 2010

Di perbukitan Punclut, Bandung utara, menyantap nasi merah, pepes peda dan jamur, lalapan, petai bakar, sambal dadak… Sekedar bernostalgia kala lebih 20 tahun yll. hiking-camping ke Punclut lalu ke Lembang melalui jalan desa yang kini beraspal mulus… Walau tadi malam disambut hujan deras, petir, geluduk bersahut-sahutan, atap warung bocor, listrik padam…, tapi yang penting puas dengan makannya (keukeuh we…)

(Punclut, ada juga yang menyebut Puncrut, dapat dicapai dari ujung utara Jl. Ciumbuleuit, Bandung, melalui jalan tembus menuju Lembang)

Bandung, 4 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar