Posts Tagged ‘purnama’

Purnama Keduabelas

26 Desember 2010

Malam ini
purnama keduabelas
purnama terakhir di penghujung tahun 1431H
purnama yang tersaput abu vulkanik
sebentar mengantar sisa waktu
lalu tahun berganti

Betapa anugerah tak terjumlah telah kita raih dan nikmati
keindahan pun telah terasakan
Tapi juga kesalahan kita lakukan
di antara kebaikan yang tak seimbang jumlahnya

Masih mampukah kita jalani purnama selanjutnya
dengan cara yang benar
dengan segenap cinta dalam kesadaran penghambaan kepadaNya

Yogyakarta, 22 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Di Lintas Batas Setengah Abad Perjalanan

23 September 2010

Purnama tepat di atas kepala
tersaput awan tipis
namun tetap tak akan menghalangi sempurnanya
jutaan berkas cahaya memancar
cerah menerangi bumi

Sejenak kutundukkan hati dan pikiran
bersyukur atas setengah abad perjalanan
sungguh melelahkan
penuh suka dan duka
penuh duri menghalang
tapi juga kumudahan

Syukurku tak terkira
tapi juga khawatir tak terbendung
berharap penggal perjalanan berikutnya sanggup kujalani
menjadi lebih baik
menjadi lebih bermanfaat
menjadi tidak sia-sia

Setumpuk lembaran halaman telah penuh kugoresi
dengan tinta biru, hitam, merah
Tumpukan halaman kosong pun menanti
goresan demi goresan berikutnya
berharap tinta emas yang kuguna
apapun warnanya

Sesaat lagi kan kutinggalkan
setengah abad perjalanan ini
yang tak kan pernah kuulangi
tak juga pernah kuhampiri kembali

Mata harus lebih tajam menatap
hati harus lebih peka merasa
pikiran harus lebih arif menimbang
agar hikmah kehidupan tak berlalu tanpa makna
agar perjalanan selanjutnya lebih bijaksana

Purnama tepat di atas kepala
menjadi saksi atas usainya setengah abad perjalanan yang telah kujalani
juga menjadi saksi atas niat suci untuk memulai tahap perjalanan selanjutnya

Tuhan,
ingin rasanya aku mendaki
menuju ke puncak purnama
agar lebih terang kumemandang
mengamati kesalahan dan kebodohan yang kulakukan
agar lebih arif berintrospeksi
lalu turun lagi kebumi
bersama pancaran sang rembulan

Walau awan tipis menghalangi
namun tetap tak akan menghalangi sempurnanya
jutaan berkas cahaya memancar
cerah menerangi bumi

Tuhan,
terima kasihku atas nikmat yang telah Kau anugerahkan
walau sering aku tak pandai mensyukuri
walau sering aku seperti mengingkari
Namun ijinkan aku melanjutkan sujudku
beri aku kesempatan untuk membalas semua anugerahMu
mengagungkan asmaMu
mensyukuri nikmatMu
menghikmahi karyaMu

Agar aku tidak menjadi bodoh
atau menambah jumlah orang-orang yang sudah bodoh
yang dibodohkan oleh ketidakmauanku belajar dari ciptaanMu…
Agar aku tidak menjadi buta
atau menambah jumlah orang-orang yang sudah buta
yang dibutakan oleh silaunya kepentingan dunia semata…
Agar aku tidak menjadi hina
atau menambah jumlah orang-orang yang sudah hina
yang dihinakan oleh kelalaianku atas kesempurnaan kuasaMu…

Tuhan,
ijinkan aku menyempurnakan setengah abad perjalanan ini
dan sertai aku menyempurnakan sisa perjalanan yang segera akan kumulai
akan selalu kurindu kemesraanMu
akan selalu kudamba pelukan kasihMu
akan selalu kuharap petunjukMu
karena sesungguhnya aku takut bila harus jauh dariMu
aku tidak sanggup bila harus berjalan sendiri tanpaMu
sebab semua kuniatkan semata-mata karena penghambaanku kepadaMu
dan hanya bagiMu..

Hanya dengan menyebut namaMu yang Maha Rahman dan Rahim
Ya Allah…
Telah tiba aku di lintas batas setengah abad perjalananku
bersiap melanjutkan perjalanan ke lintasan berikutnya
Ingin segera kumulai, ingin segera kulanjutkan
sepenuh harap
insya Allah selalu ada dalam ridhoMu

Yogyakarta, 23 September 2010 – jam 00:00 WIB
Yusuf Iskandar

Gerhana Bulan

4 Juli 2010

Bulan gerhana, di awal purnama Sya’ban. Betapa tanda keagungan Sang Pencipta itu sering terabaikan. Mungkin karena letaknya jauh, sehingga nggak ngaruh, nggak kerasa. Sedang yang dekat saja sering ora urus, yang di depan mata sering tak nampak.

Kita memang aneh, baru sibuk pasang gembok setelah kecurian, sibuk tuding-tudingan setelah tabung gas pada njeblug, sibuk mengelus dada setelah ada yang “mirip” Ariel. Baru ngeh kepada yang menghidupi setelah hidupnya nyaris…..

Yogyakarta, 26 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tujuh Purnama Kita Lalui

25 Juni 2010

Sudah tujuh purnama kita lalui
Sejak kehadiranmu kembali dari pengembaraan panjang, nyaris tak kukenali
Langit terang temaram silih berganti
Pasang surut air laut menyisakan genangan membasahi
Angin badai datang dan pergi

Kau bisikkan kata-kata indah
Kau ajari aku tentang ibadah
Kau sertai aku menyusuri hati yang gundah
Kau ingatkan aku ketika salah
Kehadiranmu adalah anugerah
Seolah menjadi jawaban atas permohonan panjangku penuh pasrah

Kubalas dengan ketulusan hati tanpa pamrih
Sebab aku yakin di sana ada Tuhan yang Maha Kasih
Yang akan membimbingku dari kesalahan, dalam galau hati yang terkadang terasa perih

Sudah tujuh purnama kita lalui
Semesta keindahan telah bersama kita nikmati
Adalah kedalaman rasa yang selayaknya kita syukuri
Tak lalai untuk kita hikmahi
Walau hanya di alam maya kita bermimpi

Tapi nampaknya keindahan itu kian terusik
Karena kita tak mampu menjaganya, bahkan menjadi semakin pelik
Menjadikan jalan panjang itu seperti berbalik
Menjauh dari fitrah penghambaan kepada Sang Maha Pemilik
Tak sebagaimana saat semua bermula

Sudah tujuh purnama kita lalui
Masa-masa indah yang cukup untuk kita arungi
Namun petualangan dan perjalanan itu kemudian seolah semakin hilang kendali
Nyaris mencapai suatu titik yang seumur hidup akan kita sesali

Tapi, Tuhan…….
Betapa Engkau sangat menyayangi kami
Engkau tahu kami menjadi semakin liar tanpa kami menyadari
Lalu Kau paksa kami menghentikan perjalanan ini
Dengan caraMu, Kau paksa kami menoleh kembali ke dalam diri

Kini aku paham
Bukan karena Engkau marah atas kedhoifan dan kealpaan kami
Tapi justru begitu sayangnya Engkau kepada kami
Kini aku tahu itu
Engkau tidak rela kalau kami terperosok ke lembah dimana tak ada jalan kami bisa kembali

Sesungguhnya kami takut berada jauh dariMu, wahai zat yang Maha Suci
Namun jika ada khilaf terjadi di antara kami
Sungguh itu bukan kami sengaja mengingkari
Melainkan semata kebodohan dan kelemahan kami

Segala puji hanya bagiMu, Ya Robb…
Terima kasih, wahai zat yang Maha Rahman dan Rahim
Telah Kau ajari kami tentang pemahaman cinta kasihMu
Namun ampuni kami yang lemah dan hina ini
Yang tak selalu mampu menjaga hikmahMu

Kini perkenankan kami melanjutkan perjalanan panjang ini
Dan perkenankan pula kami memohon agar Engkau senantiasa menyertai

Yogyakarta, 20 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tentang Malam Purnama

2 Mei 2010

(1)

Langit Jogja bersih sekali
purnama datang terlambat di horizon timur
Batara Guru sedang duduk di antara dua sujud
dan rombongan bintang tujuh menjadi penanda di langit selatan

Listrik di kampungku mati
seperti sedang memberi kesempatan kepada rembulan menerangi bumi
dan gelapnya malam ini
suara santri mengaji ilmu sharaf mengalun bersahutan silih berganti…

(2)

Lamunanku, mengawang ke masa kecil di kampung kami
Teman-teman berkumpul dan bernyanyi
tembang dolanan ‘Padhang Mbulan’
yang kini hilang ditelan jaman

Yo prakanca dolanan ing njaba
padang mbulan padange kaya rino
rembulane sing awe-awe
ngelekake ojo podo turu sore…

(Yuk kawan bermain di luar
terang bulan terangnya seperti siang
rembulannya melambai-lambai
mengingatkan jangan tidur sore-sore)

(3)

Kubangunkan ibunya anak-anak dari tidurnya
kuundang untuk duduk di depan rumah
bersama menikmati, bermandi cahaya rembulan
listrik PLN (sialan) yang masih mati seperti harus disyukuri
karena ada terbangun kemesraan malam ini…

Tiba-tiba ibunya anak-anak komplain: “Kok banyak nyamuk sih?”.
“Itu karena kamu rasakan gigitannya. Coba jangan dirasakan, dicuekin aja”, jawabku.

Yogyakarta, 30 April 2010
Yusuf Iskandar

***

(4)

Langit bersih sekali malam ini
bintang bertaburan
sebentar lagi bulan kan datang menjelang
sayup-sayup terdengar di televisi
seorang biduan melagukan….

Yen ing tawang ono lintang, cah ayu
Rungokno tangising ati
Lintang2 ngiwi-iwi, cah ayu
Ngenteni mbulan ndadari…

(Ketika di langit ada bintang, kasihku
Dengarlah hati yang sedang menangis
Bintang-bintang melambai, kasihku
Menanti datangnya rembulan)

(5)

Dek semono (ketika itu)….

Wis ah, tidak usah diteruskan. Kasihan teman-teman yang malam ini sedang berada jauh dari mana-mana, jauh dari rumah, jauh dari keluarga, jauh dari kekasih hati, jauh dari sanak saudara. Nanti malah jadi…, nglangut (menerawang jauh…), njuk kelingan sing ora-ora (jadi ingat yang enggak-enggak…). Hiks

Selamat bermalam Minggu, dimanapun sampeyan berada.

Yogyakarta, 1 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Glenak-glenik Peluang Bisnis

27 April 2010

Pepaya, mangga (tanpa pisang dan jambu), rambutan, sawo, kelengkeng, sirkaya, kedondong, sudah tertanam di halaman belakang toko. Entah kapan berbuahnya, tidak lagi sepenting menanamnya… Kolam pun sudah siap ditabur lele. Halaman sudah dibersihkan. Tinggal malam ini glenak-glenik (rembukan bisik-bisik) sama ‘boss’, sambil menikmati purnama yang mulai mekar di langit Jogja. Njuk habis ini apa?. Aneka peluang bisnis pun berseliweran di dalam mimpi…

Yogyakarta, 26 April 2010
Yusuf Iskandar

Purnama Di Kala Subuh

2 April 2010

Langit Jogja cerah subuh ini. Pulang subuhan duduk-duduk sebentar di depan rumah. Menyaksikan bulan purnama yang mulai condong ke barat. Kalau tidak tertutup awan, mestinya tadi malam tepat di atas kepala. Indah sekali, seperti tak ingin aku berpaling menatapnya.

Kucoba mengingat-ingat, kapan terakhir aku menyaksikan yang seperti ini, namun ingatanku tak setajam kesadaran jiwaku… Rabbana ma kholaqta hadza bathila (Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dg sia-sia…..)

Yogyakarta, 1 April 2010
Yusuf Iskandar

Bulan Di Atas Kepala

31 Maret 2010

Menjelang setengah malam, hari
purnama belum sampai
tapi bulan di atas kepala
dan awan tipis menyelimuti silih berganti

Menjelang setengah abad, usia
beberapa purnama mesti dihampiri
tapi bulan akan tetap di atas kepala
awan hitam putih masih akan datang dan pergi

Rembulan harus tetap ditinggikan
agar cukup waktu matahari bangkit mengganti
Kesadaran harus ditancapkan
agar nurani tidak lalai menerangi hati

Ribuan lembar halaman kosong telah penuh dengan goresan pena
Entah masih ada berapa banyak lagi halaman kosong menanti kata dan makna
Sekali tinta memercik mengotori
Tak kan pernah putih kembali
Tak sekali jua waktu berbalik memutari

Tuhan, tak kan pernah sia-sia Engkau perlihatkan kuasa-Mu
seperti rembulan mengantarkan malam menuju pagi
seperti matahari menandai pergantian hari

Tuhan, kumohon ijin-Mu
agar dapat kujelang dan kulalui beberapa purnama lagi
melengkapi perjalanan usia setengah abad

Tuhan, kumohon ijin-Mu
agar dapat kubaktikan hidupku lebih lama lagi
seribu purnama ingin lebih kumaknai

Tuhan,
akan kusaksikan purnama terus menerangi
akan kujaga tanda kekuasaan-Mu
seperti bulan di atas kepala malam ini

Yogyakarta, tengah malam 30 Maret 2009
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(6).  Purnama Di Tanjung Pinang

Malam ini langit bersih dan cerah sekali. Menurut kalender Jawa atau Arab, ini hari sudah dekat-dekat pertengahan bulan alias saatnya purnama datang menjelang. Semakin malam, sang rembulan pun semakin tinggi dan nyaris bunder-ser… Kami memutuskan untuk keluar mencari makan malam agak larut malam sekalian, wong tadi makan siangnya sudah sore. Perut belum terburu-buru untuk diisi lagi.

Jam sembilan malam lewat barulah kami jalan keluar. Kami menuju ke kawasan kota untuk makan malam di “Potong Lembu” rame-rame…… Rame-rame karena memang kebetulan ada kawan dan relasi lain yang menyusul ikut bergabung sambil bercengkerama, ya soal ha-ha-hi-hi, ya soal bisnis.

“Potong Lembu” adalah nama sebuah arena terbuka dimana berkumpul banyak pedagang makanan, minuman dan pokoknya macam-macam urusan perut, sehingga pengunjung tinggal memilih hendak memesan menu apa. Kebanyakan tentu saja menu ikan-ikanan khas Melayu punya dengan aneka cara memasaknya. Termasuk siput gonggong yang sempat saya coba pada malam sebelumnya, yaitu jenis siput laut yang banyak dijumpai di daerah Riau pada umumnya. Siput ini direbus dan disajikan bersama rumah siputnya sekalian. Kalau daging siputnya susah dikeluarkan dari rumahnya, cukup ditusuk pakai tusuk gigi, lalu dicocolkan ke sambal seperti makan kerang rebus. Rasanya lumayan enak, namun bagusnya kalau dimakan saat perut sedang benar-benar lapar. Soalnya bagi saya taste-nya terasa membuat nek….. Namun ada juga tersedia menu jawatimuran, seperti pecel lele dan ayam penyet.

Kawasan ini berada di seputaran ujung persimpangan jalan yang dikelilingi oleh kompleks pertokoan lama, umumnya berstruktur bangunan tingkat dan berkonstruksi kayu. Khas rumah atau ruko masyarakat Cina-Melayu atau Melayu-Cina. Konon menurut sohibul-cerita, dulu-dulunya kawasan tempat makan serbaneka ini merupakan tempat pemotongan hewan. Kebanyakan dari hewan yang dipotong adalah jenis lembu-lembuan. Makanya jalan dimana kegiatan pemotongan hewan itu berada disebut jalan Potong Lembu, dan arena tempat makan itu pun lalu disebut “Potong Lembu”. Kalau di Jawa bisa disamakan dengan riwayat Jalan Pejagalan, yang berarti tempat menjagal atau menyembelih hewan.

Setiap malam kawasan makan-memakan ini nyaris selalu penuh didatangi pengunjung. Kebetulan saja malam ini bulan purnama dan pengunjung masih ramai saja hingga larut malam. Bukan karena purnamanya kalau pengunjung masih ramai, melainkan karena hari tidak hujan. Sebab arena makan ini adalah gelanggang terbuka. Akhirnya baru menjelang tengah malam kami kembali ke penginapan.

***

Tiba di hotel bukannya langsung masuk kamar, melainkan ngobrol dulu di lobi. Lalu muncul ide ingin menikmati suasana malam purnamanya kota Tanjung Pinang. Kalau ada orang keluar malam, kemungkinannya hanya ada dua, yaitu orang yang kerja malam (night shift) atau orang kurang kerjaan. Mempertimbangkan saya termasuk kategori kedua, maka ya cari-cari kerjaan.

Mempertimbangkan lagi kalau di hotel satu-satunya kerjaan yang saya lakukan adalah nggeblak di tempat tidur, maka dipilihlah option keluar hotel. Dengan semangat menemukan sesuatu yang beda dan khas di tempat yang baru, maka kami pun meluncur membelah malam menyusuri jalan-jalan kota Tanjung Pinang. Ya tentu saja sudah banyak toko tutup dan masyarakat terlelap di peraduan (peraduan adalah bahasa puitis yang di kampung saya sebutannya nglekerrr……).

Menurut hemat kami (sak jane iki mung alasan……), dengan berada di luar hotel lalu duduk-duduk di suatu tempat, sambil menikmati bulan purnama, sambil berha-ha-hi-hi, sambil mengobrolkan hasil pekerjaan seharian tadi dan sambil merencana apa yang perlu dilakukan di sisa waktu setengah hari besok, sebelum siangnya meninggalkan Tanjung Pinang. Kenapa tidak di hotel saja? Ya, itu tadi. Di hotel kok diskusi, ya lebih baik nglekerrr……..

Tanjung Pinang terasa sepi dan tenang, sangat bertolak belakang dengan saat siangnya yang lalu lintasnya cenderung semrawut. Di salah satu perempatan jalan besar yang berlampu lalu lintas dimana biasanya pengendara kendaraan cenderung ngebut, saya lihat sudah dipasang lampu hitung mundur (count down). Lampu ini akan menunjukkan berapa sisa detik yang masih ada sebelum lampu hijau berganti menjadi merah. Harapannya tentu agar pengendara dari jarak agak jauh sudah ancang-ancang untuk berhenti jika sekiranya sisa waktu menyalanya lampu hijau tinggal sedikit. Tapi biasanya yang terjadi sebaliknya, sisa detik itu menjadi golden seconds untuk tuancap gas setancap-tancapnya agar lolos dari lampu merah…… Huh! 

Sampailah kami di “Melayu Square” yang masih buka tapi sudah mulai sepi pengunjung. Di dekat tempat ini ada café, biasa disebut “Sunset Café”. Barangkali karena di café ini ada balkon terbuka di lantai atasnya yang posisinya menghadap pantai sehingga pada saat matahari tenggelam akan tampak pemandangan indah ke arah pantai dan laut. Sedangkan di bagian bawahnya juga ada café-nya, tapi dilengkapi dengan pentas musik yang genjrang-genjreng suaranya.

Kami memilih duduk-duduk di balkon atas saja, agar tidak terlalu bising ketika ngobol melewatkan malam purnama. Baru sedetik meletakkan pantat, seorang gadis berpenampilan seronok seksi dengan warna bajunya didominasi hijau menghampiri sambil menawarkan menyebut beberapa merek minuman bir. Berhubung saya tidak suka minum jenis bir-biran maka saya minta menu lainnya. Terpilihlah es jus jagung, yang saya anggap tidak biasa. Biasanya kalau jagung itu dibakar, dibuat perkedel, brondong, marning, popcorn atau dithothol pitik (ayam). Ini pasti bukan jagung dari Klaten, melainkan dari Malaysia yang rasanya manis.

Sambil menikmati jus jagung sinambi leyeh-leyeh dan bercengkerama ngalor-ngidul, sambil menatap sang rembulan purnama yang tepat menggantung di atas kepala, semakin malam semakin bergeser sedikit-sedikit. Kantuk pun tiba, lalu kami kembali ke hotel meninggalkan purnama di Tanjung Pinang……. Uah! 

Tanjung Pinang, Kepri – 12 April 2006
Yusuf Iskandar