Posts Tagged ‘yogya’

Musim Libur Panjang Di Yogya

29 Desember 2008
Malam, padat, merayap, di depan stasiun Tugu, Yogyakarta

Malam, padat, merayap, di depan stasiun Tugu, Yogyakarta

Inilah hari-hari padat dan merayap di kota Yogyakarta (sering disingkat dengan Yogya, saja). Ya, musim libur panjang telah tiba, yaitu hari-hari libur dan hari-hari kejepit yang membentang antara tanggal 25 Desember 2008 (Hari Natal), 29 Desember 2008 (Tahun Baru 1430 Hijriyah) dan 1 Januari 2009 (Tahun Baru Masehi).

Bertumpuknya 3 (tiga) hari libur nasional ini memang jarang terjadi. “Berkumpulnya” Hari Natal, Tahun Baru Hijrah (1 Muharam atau 1 Suro) dan Tahun Baru Masehi (1 Januari) adalah tergolong kejadian langka. Peristiwa ini (menurut perhitungan) akan terulang 32 tahun lagi atau tahun 2040.

Ribuan pendatang sedang berkunjung dan berlibur ke Yogya. Nampaknya kota Yogya tetap menarik minat wisatawan domestik menjadi kota tujuan wisata. Jalan Malioboro, gudeg Jogja, keraton Ngayogyokarto Hadiningrat, Taman Sari,  adalah sebagian dari obyek-obyek yang sering menjadi impian para pendatang untuk sekali waktu ingin menyempatkan bisa mengunjunginya. Bukan saja dalam kota Yogya, di seputaran kawasan kota Yogya, masih ada candi Prambanan, Borobudur, Mendut, pantai Parangtritis, kawasan pegunungan Kaliurang, gunung Merapi, dsb. yang juga tetap menarik minat wisatawan, domestik maupun mancanegara.

Inilah hari-hari padat dan merayap di kota Yogyakarta. Petugas lalulintas kewalahan mengatur kepadatan kota yang pada hari-hari biasa saja sudah padat dan semrawut. Bagi penduduk Yogya, inilah hari-hari tidak menyenangkan untuk keluar rumah dan jalan-jalan ke kota. Namun bagi pedagang dan pebisnis sektor non-formal khususnya, pedagang makanan, penjual cendera mata, pewarung, pemilik resto, pengusaha ritel, tukang parkir, pengusaha angkutan, pengelola obyek wisata, copet (ugh…), dan lain-lain yang sejenis itu, maka inilah hari-hari penuh berkah dan panen raya. 

Selamat berlbur dan tetap berhati-hati menjaga keamanan dan keselamatan diri dan keluarga. Semoga menjadi liburan yang mengesankan.

Yogyakarta, 29 Desember 2008
Yusuf Iskandar

Malam, padat, merayap, di depan stasiun Tugu, Yogya

Iklan

Yang Terpaksa Dan Yang Ingin

4 Mei 2008

Jam sudah menunjukkan lebih jam sepuluh malam di Yogya, ketika HP milik seorang teman tiba-tiba berdering memanggil-manggil. Di seberang sana terdengar suara seseorang meminta agar besok bertemu di Jakarta. Karena sisa waktu yang sangat sempit dan mendadak, maka satu-satunya cara untuk mencapai Jakarta dengan cepat adalah pagi-pagi besoknya pergi ke bandara lalu terbang.

Hanya masalahnya, teman yang mau ke Jakarta ini adalah seseorang yang agak-agak mengidap aviophobia (takut terbang). Tentu saja ini adalah situasi yang sangat tidak disukainya, karena berarti dia tidak punya alternatif untuk nyepur.

Semalaman sengaja dia tidak segera berangkat tidur, melainkan justru berusaha mengurangi jam tidurnya. Bagaimana agar sisa waktu tidur malamnya tinggal sesedikit mungkin, sebelum besok paginya naik pesawat ke Jakarta. Hal ini memang disengaja dan bukan karena didera rasa gelisah.

Hasilnya ternyata cukup mujarab untuk menyiasati atau menaklukkan rasa takut terbang. Begitu pantat menempel tempat duduk di dalam pesawat ketika masih di bandara Adisutjipto, tidak lama kemudian teman saya tertidur pulas. Hal yang sama terulang kembali sebelum pesawat mendarat di Cengkareng.

Maka, ketika teman saya ini terpaksa harus naik pesawat terbang juga, dia pun rela kehilangan detik-detik take-off dan landing……

***

Barangkali kita masih ingat ketika dulu pernah punya keinginan : bagaimana ya rasanya naik pesawat terbang?. Akhirnya kesampaian juga. Itupun karena naik pesawat kemudian menjadi bagian dari tuntutan pekerjaan. Terutama bagi mereka yang menjadi orang lapangan (maksudnya, bukan pekerja kantoran), sehingga harus mibar-miber kesana-kemari naik pesawat terbang.

Namun lain halnya kalau yang kepingin merasakan naik pesawat terbang itu adalah para kepala sekolah di sebuah kecamatan di lereng gunung Merbabu, tetangganya gunung Merapi yang mau njeblug itu. Boro-boro tuntutan pekerjaan, menuntut pun belum tentu kesampaian.

Maka beramai-ramailah para kepala sekolah beserta keluargnya urunan untuk melakukan darmawisata ke Jakarta dan Bandung tiga hari dua malam. Jangan dilupakan bahwa selain menjadi kepala sekolah, mereka umumnya adalah juga petani di desanya. Itinerary pun disusun, pokoknya berangkat naik pesawat terbang, pulangnya naik kereta api. Entah selama di Jakarta mau berdarma dan berwisata kemana tidak penting, asal ada acara naik pesawat dan naik kereta api. Pasalnya, dari 47 orang anggota rombongan itu hanya tiga orang.diantaranya yang pernah merasakan naik pesawat terbang dan hanya sepuluh orang diantaranya yang pernah merasakan naik kereta api.

Maka pada Jum’at pagi umun-umun kemarin berkumpullah serombongan kepala sekolah dan keluarganya turun gunung lalu berduyun-duyun menuju bandara Adisutjipto. Belum jam enam pagi mereka sudah bergerombol di depan terminal keberangkatan. Tidak ketinggalan masing-masing sudah membawa sekotak kardus berisi kue resoles, arem-arem dan klethikan untuk bekal sarapan pagi.

Lalu tiba saatnya sang pimpinan rombongan memberi komando kepada 47 orang berseragam kaos putih untuk memasuki terminal keberangkatan. Tidak lama lagi mereka bakal menikmati bagaimana rasanya naik pesawat terbang….. ngueng…ngueng…ngueeeeeng….., lalu lusa naik kereta api….. tut…tut…tuuuut……

Sayang, saya tidak berada dalam satu pesawat dengan rombongan itu. Terbayang betapa sang pimpinan rombongan harus pandai mengontrol urat sabarnya melayani anggota rombongannya. Pasti seru bin heboh di dalam kabin sana, atau sebaliknya malah sama sekali sunyi-senyap, tegang….. “Have a nice flight pak dan bu guru…..!”.

Cengkareng, 13 Mei 2006.
Yusuf Iskandar

Udangnya Mang “Engking”

17 April 2008

Ini cerita soal makan, hasil perburuan selama cuti ke Yogya musim libur kenaikan kelas kemarin. Siapa tahu dapat menjadi alternatif bagi mereka yang hendak berlibur atau ada perjalanan bisnis ke Yogya. Bosan dengan menu yang ada di dalam kota? Maka cobalah sedikit ke luar kota. Tepatnya di desa Sendangrejo, kecamatan Minggir, Sleman. Di sana ada banyak tambak udang galah yang di sekitarnya dibangun pondok-pondok atau gubuk-gubuk tempat makan. Salah satunya, dan yang menjadi pelopor bisnis ini adalah Pondok Udang Mang “Engking” (menilik namanya, pasti asal Jawa Barat).

Sebut saja Pondok Udang di Minggir, Godean, maka orang akan dengan mudah menemukan lokasinya. Setidak-tidaknya kalau sudah sampai Godean, tanya orang di pinggir jalan pasti tahu. Berjalanlah (pakai motor atau mobil tentunya, jangan sekali-kali jalan kaki) dari Yogya menuju Godean. Lanjutkan sedikit ke barat kira-kira 1,5 km akan ketemu perempatan, lalu belok kanan menuju arah Tempel. Terus ke utara sekitar 4-5 km, akan terlihat banyak tambak-tambak udang di antara areal persawahan di pinggir jalan ini. Paling tidak ada lebih 7 lokasi pondok makan di kawasan ini, tinggal pilih mau makan di pondok mana. Tapi mempertimbangkan bahwa Mang Engking adalah pelopor usaha perudangan di daerah ini, maka saya cari-cari tulisan Mang Engking di sisi kiri jalan. Begitu ketemu, lalu belok kiri masuk ke jalan kecil belum beraspal. Inilah satu-satunya jalan termudah menuju lokasinya Mang Engking, hanya beberapa ratus meter saja dari jalan aspal Godean – Tempel.

Namun jika Anda kesana hari Sabtu atau Minggu pas jam makan siang, bersiap-siaplah untuk agak kerepotan memasuki jalan ini, saking banyaknya mobil-mobil (banyak juga berplat nomor luar kota) keluar-masuk atau berebut parkir di jalan tanah pinggir sawah atau tambak. Asyik. Berikutnya cari pondok yang kosong. Ada sekitar 7 pondok dengan beberapa meja di dalamnya. Jika kebetulan lagi penuh, maka harap sabar mengantri. Asyik lagi, bisa kepanasan.

Setelah duduk, pesan makanan dengan berbagai pilihan menu ikan air tawar, selain menu utamanya udang galah. Bisa direbus, digoreng atau dibakar. Sekilo udang galah harganya Rp 70.000,- Jika khawatir terlalu banyak dan biar menunya merata, bisa “diakalin”, pesan saja udang, ikan bawal dan ikan nila masing-masing seperempat kilogram. Atau, pesan sekilo tapi terdiri dari dua atau tiga atau empat macam ikan. Tinggal terserah mau dimasak bagaimana. Bumbu asam-manis adalah salah satu yang bisa membuat ngelek idu (menelan air liur). Jangan lupa, tumis kangkung dan sambal terasinya uenak tenan. Lalu tunggu sebentar, terkadang ya agak lama juga. Asyik lagi, menanti disajikan.

Perut lapar, makan udang goreng, di atas tambak, anginnya semilir, perut kemlakaren (kekenyangan), malas berdiri (asal jangan malas bayar, saja….). Wis to, yang ini huaaasyik tenan.

***

Lebih duapuluh tahun yang lalu Mang Engking Sodikin boro dari Ciamis ke Yogya, lalu merintis usaha tambak udang galah di kecamatan Minggir, tidak jauh dari Kali Progo, dekat dengan selokan Mataram. Selama itu ya biasa-biasa saja, pasang-surut bisnis tambak udang dialaminya. Di atas tambak didirikannya pondokan tempat Mang Engking istirahat kalau capek ngurus tambaknya. Sekitar tiga tahun yang lalu, pondoknya diperbaiki, lalu ngiras-ngirus sambil jualan udang untuk konsumsi pembeli eceran. Kata Bu Engking (yang ini pasti istrinya Mang Engking), ketika saya tanya sejak kapan mulai usaha ini?. Jawabnya dengan logat Sunda yang masih kentara, kira-kira begini : pondoknya sih dibangun sejak 3-4 tahun yang lalu, waktu itu yang beli udang paling-paling sebulan hanya 1-2 orang saja.

Lha, kok lama-lama pembelinya semakin banyak, malah seringkali ada “orang-orang kota” yang minta dimasakkan sekalian dan dimakan di situ. Walhasil, sejak awal tahun 2004, Mang Engking sudah menambah jumlah pondoknya, juga agak dipercantik (meskipun masih terkesan sangat sederhana), dan kebetulan koran Kedaulatan Rakyat mengangkat dan mensponsori publikasinya. Jadilah kisah sukses Pondok Udang Mang “Engking” yang sekarang ini. Lha, siapa yang nyangka, wong cuma jualan udang eceran di tambak kok malah jadi buka restoran besar. Pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Namun yang pasti, Mang Engking perlu waktu “pencarian” dua puluh tahun dengan tanpa disadarinya.

Melihat tanda-tanda kesuksesan Mang Engking, jamaknya lalu para petambak udang di sekitarnya mulai ikut-ikut membangun pondok-pondok makan juga. Maka berdirilah beberapa lokasi pondok udang di kecamatan Minggir. Setidaknya bisa sebagai pilihan untuk menikmati udang jika ternyata pondoknya Mang Engking sudah penuh. Lagi, pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Dan, meniru sukses orang lain adalah bukan tindakan yang salah (menjadi salah kalau disertai dengan “kampanye negatif”)

Kepingin mencoba? Monggo……

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 20 Juli 2004

Bakminya Mbah “Mo”

17 April 2008

Lagi, cerita tentang makan. Bagi para penggemar bakmi, kalau lagi ada di Yogya, rasanya nama bakmi Kadin di mBintaran atau juga bakmi Pele di alun-alun lor di depan sebelah kanan keraton, sudah tidak asing lagi. Komentar sementara orang yang pernah atau malah sering mencoba bakmi Kadin : “enak sekali”. Namun, tunggu dulu! Jika Anda adalah penggemar bakmi, maka ada pilihan lain untuk jenis makanan ini yang perlu untuk sesekali dicoba. Lokasinya ada di luar kota Yogya, bagian selatan. Namanya bakmi Mbah “Mo” (pakai tanda petik).

Untuk mencapainya memang rada susah, karena warung bakmi Mbah “Mo” ini berada di tengah perkampungan, di Kabupaten Bantul. Jalan paling mudah kalau dari kutho Ngayogyokarto, ikuti jalan Parangtritis terus ke selatan. Saya tidak ingat hingga kilometer ke berapa, nanti akan ketemu dengan perempatan besar dan ramai yang berlampu lalu lintas, yang kalau lurus menuju Parangtritis, dan kalau belok kanan atau barat akan tembus ke kantor Pemda Bantul (ada rambu-rambunya).

Nah, ikuti jalan yang belok kanan ini, terlihat banyak pedagang kerajinan kulit. Menuju ke arah barat sekitar 1-2 km, di antara areal persawahan, ada jalan beraspal masuk ke kanan atau utara. Ikuti jalan ini hingga sekitar 500 meter akan terlihat gapura besar dan tugu kecil di sisi kanan, jalan masuk ke perkampungan. Masuk pelan-pelan menyusuri jalan kampung pinggir sawah, bebarapa puluh meter kemudian masuk gang yang ke kiri sejauh kira-kira 30 meteran, lalu belok kanan. Sampailah di warung bakmi Mbah “Mo”.

Yang membuat agak susah adalah karena warung Mbah “Mo” ini bukanya sore hari hingga malam, sementara sepanjang jalan masuknya gelap gulita, maka diperlukan sedikit kejelian untuk mencapainya. Namun jika Anda bisa mencapai perkampungan ini, maka tidak sulit lagi untuk bertanya kepada orang kampung. Layaknya warung di kampung, maka hanya ada rumah dan sekumpulan meja plus bangku, dengan halaman tanah diselingi pepohonan. Di halaman ini Anda bisa memarkir mobil atau sepeda motor di sela-sela pepohonan.

Namun jangan heran, pada saat musim liburan, akan terlihat banyak mobil berplat nomor asing (bukan AB) yang parkir di sini, yang ditinggal penumpangnya nongkrong menikmati bakmi di warung bakmi Mbah “Mo”. Lalu apa kehebatannya? Secara lahiriah tidak ada yang istimewa, wong namanya juga warung bakmi di kampung. Namun jangan tanya soal rasa bakminya. Saya berani bertaruh, bakmi Kadin dan bakmi Pak Pele, “lewat”….. jika dibanding bakminya Mbah “Mo”.

Saking huenaknya, sampai saya lupa tanya siapa sebenarnya nama lengkap Mbah Mo ini. Seperti halnya bakmi Kadin, maka bakmi Mbah “Mo” yang sekarang adalah penerus dari generasi Mbah Mo, anak-anaknyalah yang meneruskan usaha warung bakmi hingga sekarang ini. Usaha yang dirintis Mbah Mo di kampung (entah sejak kapan), kini semakin berkembang dan disukai pelanggannya.

Sekali waktu Purdie Chandra (bosnya Primagama) mengangkat tema bakmi Mbah “Mo” ini dalam salah satu tulisannya. Maka moncerlah bintangnya bakmi Mbah “Mo” sejak itu. Banyak pengunjung luar kota atau rombongan dari berbagai lembaga atau instansi yang menyempatkan mampir menikmati bakmi Mbah “Mo” kalau malam.

Ketika Mbah Mo masih sugeng (hidup), barangkali beliau tidak pernah menyangka kalau warung bakminya yang berada di tengah kampung, kelak akan dikunjungi rombongan-rombongan tamu bermobil yang berdatangan dari tempat-tempat yang jauh. Kini, generasi penerusnya sedang meneruskan dan meniti kesuksesan buah ketekunan orang tuanya. Sekali lagi terpikir oleh saya, pemicu untuk sukses memang bisa bermacam-macam kejadiannya. Namun, kesungguhan, keuletan dan keikhlasan dalam usaha mencari rejeki “secukupnya” khas wong cilik seperti yang ditekuni Mbah Mo, akhirnya toh membuahkan hasil.

Sajian bakminya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan bakmi pada umumnya, ada dicampur daging ayam dan telur juga. Namun taste-nya seperti yang sudah saya gambarkan di atas, pokoknya tidak kalah nikmatnya dibanding dengan bakmi Kadin dan bakmi Pele. Karena itu, jangan keburu puas setelah menikmati bakmi Kadin, kalau belum mencoba bakmi Mbah “Mo”.

Bakmi Mbah “Mo” buka jam 5 sore, tapi jangan ke sana selewat jam 9 malam, seringkali sudah kehabisan. Tinggal sebut mau bakmi goreng atau bakmi rebus. Yang saya sukai adalah bakmi rebus yang dicampur balungan (tulang ayam yang masih menyisakan sedikit dagingnya). Dimakan masih agak panas, dikecroti kecap manis dan dikeceri irisan jeruk nipis, lalu disesep-sesep kuahnya. Hmmmm………

Penasaran? Monggo….., kalau suatu saat ingin mencobanya.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 21 Juli 2004

Pecel Lele “Sabar Menanti”

16 April 2008

Maaf, bukannya mau ngiming-imingi, tapi makan itu memang enak dan perlu. Kali ini info pilihan makan untuk kondisi ingin cepat, enak dan murah. Suatu ketika Anda sedang dalam perjalanan menuju Yogya dari arah timur, perut keroncongan, bingung dan malas untuk blusukan mencari-cari restoran yang enak. Maka rumah makan “Sabar Menanti” bisa menjadi jujugan yang tidak akan mengecewakan. Lokasinya di pinggir jalan raya dan mudah dicapai.

Kalau dari arah timur mau masuk Yogya, lokasinya kira-kira 500 meter sebelum pertigaan bandara Adisutjipto, sebelah kiri atau selatan jalan sebelum tikungan. Kalau dari arah Yogya, ya kebalikannya to……, kira-kira 500 meter setelah pertigaan bandara Adisutjipto, setelah tikungan, di sisi kanan jalan. Ada puluhan bahkan ratusan rumah makan di sepanjang jalan Yogya – Solo, dan Sabar Menanti layak dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan.

Di antara kelebihannya adalah pelayananan yang cepat, karena self-service. Tidak sesuai dengan namanya, di rumah makan ini Anda tidak perlu menanti berlama-lama untuk makan. Pasalnya, diterapkan sistem prasmanan….. Jadi ingat seperti jaman kost di Bandung belasan tahun yang lalu : masuk, ambil piring, ambil nasi-lauk-sayur, dihitung kasir, bayar, makan, pulang. Kalau perlu tanpa ngomong sepatah kata pun.

Kelebihan yang kedua, tersedia segala macam masakan. Ibaratnya, kepingin menu apa saja ada. Tinggal ambil sedikit atau sebanyak yang dimaui, lalu ditunjukkan kepada petugas kasir, maka kasir akan menghitung harganya. Untuk menu-menu tertentu perlu pesan dulu, biasanya tidak harus menunggu lama. Ketersediaan menunya lebih komplit dibanding rumah makan padang.

Kelebihan ketiga, lha ini yang penting……, ada menu istimewa yang jangan dilewatkan, yaitu pecel lele plus lalapan sambal terasi dan oseng-oseng cabai hijau. Sueeedap sekale. Jangan lupa pesan juga es dawet ndeso. Mak nyesss….. Seprana-seprene makan di restoran, jarang-jarang saya sampai keringatan, hingga terasa gatal di kulit kepala.

Soal harga? Kategori wajar, bahkan cenderung murah untuk “performance” yang seperti pernah saya alami.

Tahun 1985, rumah makan ini sebenarnya hanya berupa gubuk reot di sisi utara jalan. Jadi ampiran para buruh, pegawai dan sopir-sopir. Eh, lha kok sekarang sudah berdiri magrong-magrong tepat di seberang jalan dari gubuknya yang lama, yang kini masih terlihat sosoknya. Ketika siang itu saya mampir untuk makan siang menjelang sore, di sana masih terlihat banyak kendaraan berplat nomor luar Yogya. Rupanya rombongan keluarga yang baru melakukan perjalanan liburan. Itulah, menilik lokasinya memang cocok menjadi salah satu pilihan untuk tempat singgah makan yang cepat, enak dan murah. Suasana makannya bukan seperti makan lesehan bersuasana pedesaan, melainkan suasana restoran.

Entah pemicu kesuksesan macam apa yang dialami oleh pemilik resto “Sabar Menanti” ini. Namun kalau menilik perjalanan rentang waktu yang dilaluinya, pasti karena keuletan dan kesabaran saja yang jadi kuncinya.

Jadi, kalau lagi jalan-jalan menuju Yogya dan ingin segera cari makan yang cepat, enak dan murah? Monggo……., “Sabar Menanti” bisa jadi pilihan. (Jangan lupa ya? Pecel lele dan oseng-oseng lombok hijaunya hueenak tenan…..).

Wis, ah….

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 23 Juli 2004.

Kambing Muda “Pujaing”

16 April 2008

Eh, lha ternyata masih ada pilihan tempat makan lainnya, kali ini di sisi tenggara Yogyakarta, bagi Anda yang bosan dengan suasana restoran. Jika Anda sedang dalam perjalanan dari Yogya menuju Piyungan atau Wonosari, atau sebaliknya sedang menuju Yogya dari arah Wonosari, maka ada pilihan tempat makan pinggir jalan yag dapat dipertimbangkan.

Namanya “Pujaing”, kependekan dari Pusat Jajan Pasar Paing, karena letaknya persis di depan pasar Paing, Tegalsari, Jalan Wonosari Km 8,5. Kalau dari arah Yogya letaknya di sisi kanan jalan, sekitar 1,5 km sebelum Taman Rekreasi Kid’s Fun.

Bagi yang belum pernah tahu Kid’s Fun, ini adalah taman bermain untuk anak-anak. Konon pemiliknya adalah mantan KSAD, HS. Subagyo (entah benar, entah tidak). Saya tidak ingin cerita lebih jauh tentang Kid’s Fun karena memang tidak ada yang istimewa tentang tempat bermain ini. Tempat ini sebenarnya pernah menjadi pilihan para orang tua di Yogya untuk menggiring anak-anaknya berekreasi dengan aneka sarana hiburan dan bermain. Namun belakangan agak turun pamornya. Maklum untuk ukuran Yogya, untuk bermain di tempat ini diperlukan biaya yang tergolong mahal bagi masyarakat umum Yogya.

Kembali ke “Pujaing” tadi, ngomongin soal makan terasa lebih nyem-nyem…… Meskipun disebut oleh pemiliknya sebagai pusat jajan, jangan dibayangkan seperti yang ada di kota-kota besar. “Pujaing” ini hanya sekedar warung di pinggir jalan yang ukurannya agak lebar, yang di sana tersedia beberapa pilihan makanan yang digelar bersama-sama di satu warung. Jadi suasananya ya suasana makan di warung pinggir jalan. Sederhana saja.

Yang khas, jenis makanan yang disediakan punya nama yang luar biasa, maksudnya di luar kebiasaan. Misalnya ada baskom (yang ini jelas bukan sejenis wadah yang terbuat dari alumunium), tapi entah rumusan tata bahasa dari mana hingga baskom ini ternyata singkatan dari bakso kumis. Tapi dijamin kalau Anda pesan bakso ini tidak akan dicampur dengan kumis penjualnya. Barangkali sekedar julukan bagi penjualnya, Pak Kumis.

Ada lagi, mie pitik. Ya, benar-benar disebut pitik (bahasa Jawa yang artinya ayam). Lalu ada soto babat, es teler, sate atau tongseng kempol kambing muda. Lagi-lagi, dipilih sebutan kempol (bahasa Jawa yang artinya paha). Dengan menyebut kempol memang terkesan lebih mantap ketimbang menyebut paha.

Bagi mereka yang suka mengembik alias penggemar daging kambing muda, barangkali mampir ke “Pujaing” tidak ada salahnya dicoba. Ihwal kambing muda ini memang susah dibuktikan, mudah-mudahan benar. Lha, wong umur seseorang di KTP yang ada fotonya saja mudah dimanipulasi, apalagi kambing yang tidak pernah punya KTP dan tidak terlihat prejengan-nya (profil wajahnya).

Jika sudah memilih jenis makanannya, maka tinggal pesan atau jika ingin lebih puas dapat juga langsung mendatangi counter (baca : gerobak) masing-masing.

Soal rasa, menurut lidah saya bisa ber-rating “enak” saja. Namun kalau memperhatikan cukup banyaknya pengunjung yang mampir ke warung “Pujaing” ini, nampaknya bagi lidah orang lain bisa tergolong “enak banget”. Jika penilaian ini benar, memang pas sekali dengan motto yang disandang warung ini, yang berbunyi : “Dijamin uenak tenan” (saya tulis sesuai tulisan aslinya).

Selebihnya, terserah Anda. Paling tidak, “Pujaing” ini dapat menjadi pilihan makan siang yang tidak mengecewakan. Nyatanya anak saya sampai menghabiskan dua baskom, maksudnya dua mangkok baksonya.

Siapa tahu Anda kesasar ke jalan Wonosari……… Monggo, kalau mau mampir di warung “Pujaing” sambil mengingat-ingat jalan pulang.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 24 Juli 2004.

Menu Ikan “Boyong Kalegan”

16 April 2008

Makan lagi, makan lagi dan makan lagi. Bagi orang Yogya dan sekitarnya, barangkali nama “Boyong Kalegan” sudah cukup dikenal. Ini terkait dengan nama rumah makan yang menyediakan menu ikan air tawar, seperti gurami, nila atau bawal, dibakar atau digoreng.

Bagi yang belum kenal, rumah makan “Boyong Kalegan” adalah generasi penerus (maksudnya, mengikuti dan meneruskan) kesuksesan rumah makan “Moro Lejar” yang sudah lebih dahulu populer. Sejak “Moro Lejar” ngetop, bermunculanlah rumah-rumah makan sejenis ini di seputaran Yogya. Sejenis dalam hal menu yang disajikan, sejenis dalam hal pilihan lokasinya, dan sejenis dalam hal penataan ruangnya. Karena itu, “Boyong Kalegan” sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat makan lainnya yang juga menawarkan menu ikan air tawar.

Soal penyajian biasa-biasa saja. Soal rasa, lidah saya menilainya “cukup enak” saja, masih di bawah kategori “uenak tenan”. Meskipun begitu toh apa yang saya pesan, lalu disajikan, ternyata habis juga saya lahap bersama istri dan anak-anak. Ya dasarnya memang suka makan, dan siang itu sedang terlambat makan siang.

Namun, “Boyong Kalegan” mempunyai keunggulan yang jarang dijumpai di rumah makan sejenis lainnya di Yogya. Pertama, lokasinya strategis dan pencapaiannya mudah. Dari Yogya, ikuti saja jalan Kaliurang dan terus naik sampai menjelang masuk daerah Pakem. Lalu belok kiri atau ke barat di pertigaan jalan alternatif menuju Turi dan jalan raya menuju Magelang. Ikuti terus jalan alternatif yang naik-turun dan belak-belok ini hingga sampai pada jembatan sungai Boyong, dimana di sisi kiri dan kanan sebelum jembatan ada terlihat pondok-pondok rumah makan. Nah, “Boyong Kalegan” ada di sisi yang kanan.

Demikian juga jika masuk dari arah jalan raya Yogya – Magelang, maka belok ke kanan atau timur ketika ketemu dengan pertigaan Tempel yang menuju ke jalan alternatif menuju Kaliurang dan Prambanan. Ada rambu jalan yang cukup mudah diikuti. Letaknya pun berada agak di bawah badan jalan alternatif, sehingga pondok-pondok makannya nampak jelas terlihat dari jalan.

Keunggulan kedua, memiliki pemandaan alam yang cukup bagus dan angin yang semilir karena lokasinya berada agak di lembah, di sisi sungai, selain topografinya memang lebih tinggi dari kota Yogya.

Keunggulan ketiga, di tengah kawasan pondok makan ini dibuat kolam ikan yang di sana disediakan gethek (rakit bambu). Kolamnya memang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk anak-anak berakit-rakit (tanpa berenang-renang). Dengan naik rakit itu, anak-anak bisa ikut memberi makan para ikan yang ada di kolam. Orang tuanya kalau mau ikutan naik rakit juga boleh.

Untuk ukuran Yogya, tempat ini cukup enak dikunjungi. Meskipun sebenarnya biasa-biasa saja jika dibandingkan dengan pondok-pondok makan sejenis yang banyak bertebaran di daerah Jawa Barat. Intinya adalah, jika kita berkunjung ke “Boyong Kalegan” lalu harus membayar agak mahal, maka harus dipahami bahwa sebenarnya kita memang sedang membeli nilai tambah dari keunggulan-keunggulan yang ditawarkan. Selebihnya, tidak lebih dari sekedar membeli makan sambil relaks beristirahat.

Sejenak beristirahat ketika sedang berada di sisi utara kota Yogya, sambil makan siang dan berekreasi bersama keluarga………… Monggo, “Boyong Kalegan” bisa menjadi salah satu pilihan.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 25 Juli 2004

Salak Pondoh Taman Agrowisata

16 April 2008

Ketika sudah kenyang makan segala macam di sana-sini, di Yogya, ada baiknya membeli salak pondoh, baik untuk dimakan sendiri maupun untuk oleh-oleh. Jenis salak khas dari kabupaten Sleman ini memang cukup terkenal (meskipun di daerah lain juga ada, seperti di kabupaten Karanganyar misalnya). Untuk mudahnya, orang sering menyebutnya sebagai salak pondoh Yogya. Rasa salak pondoh yang dapat dibilang selalu manis, kalaupun asam tetap saja asam-asam manis, menjadi keunggulan tersendiri bagi jenis buah salak ini.

Mumpung, atau jika Anda masih berada di kawasan utara Yogya, sempatkan untuk singgah di Taman Agrowisata, Sleman. Selain berekreasi di kawasan yang rimbun pepohonan dan berhawa segar, di sana Anda dapat memperoleh salak pondoh, langsung atau dekat dengan sumbernya.

Kawasan Taman Agrowisata dapat dicapai dari jalan alternatif atau jalan tembus Magelang – Solo di sisi utara Yogya, yaitu jalan yang sama dimana berada rumah makan “Boyong Kalegan”. Kalau dicapai dari arah Pakem, jalan Kaliurang, maka Taman Agrowisata berada setelah kecamatan Turi, dan jika dari arah Tempel, jalan Yogya – Magelang, maka berada kira-kira 5 km dari Tempel, sebelum kecamatan Turi. Ada petunjuk arah cukup jelas. Ikuti saja jalan kecil beraspal yang masuk menuju utara hingga sampai ke pintu masuk Taman Agrowisata.

Taman Agrowisata yang terletak di desa Bangunkerto, kecamatan Turi, kabupaten Sleman, ini dilengkapi dengan fasilitas rekreasi seperti kolam pemancingan, kolam renang, kolam rekreasi dengan sepeda air, taman bermain, taman bunga dsb. Sayangnya, seperti jamaknya taman rekreasi di tempat lain, fasilitas-fasilitas itu kurang terawat dengan baik.

Taman Agrowisata yang luasnya mencakup kawasan ratusan bahkan ribuan hektar, melibatkan tanah-tanah penduduk setempat ini memang dikhususkan untuk kebun salak pondoh. Oleh karena itu di sana kita bisa memetik sendiri salak pondoh langsung dari pohonnya.

Bagi mereka yang tidak sempat memasuki Taman Agrowisata, salak pondoh dapat dibeli di banyak tempat di sentra-sentra penjualan salak pondoh di sepanjang jalur Yogya – Magelang, bahkan di gubuk-gubuk kios pinggir jalan. Tinggal pandai-pandai menawar harga saja. Namun jika sempat pergi ke kawasan Taman Agrowisata, ada keuntungan yang dapat diperoleh. Selain berekreasi, maka ada peluang untuk membeli dengan harga lebih murah. Di sepanjang jalan masuk ke Taman Agrowisata juga banyak dijajakan salak pondoh langsung oleh pemilik kebun di depan rumahnya.

Namun yang utama sebenarnya, di Taman Agrowisata kita bisa memilih salak pondoh yang baru dipetik, yang batangnya masih terlihat kuning kehijauan dan belum kering. Demikian halnya kalau kita kupas kulitnya bagian dalam masih nampak kehijauan dan belum kering.

Salak pondoh ditanam di hampir semua kecamatan di kabupaten Sleman, kecuali Prambanan. Sentra produksinya berada di tiga kecamatan, yaitu Tempel, Pakem dan Turi. Di kecamatan Turi inilah yang paling banyak penduduknya menanam salak pondoh. Produksinya pun dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Kondisi geologi daerah Sleman sebagai daerah hasil pengendapan material erupsi gunung Merapi memang sangat cocok untuk budidaya salak pondoh. Selain faktor cuaca dan suhu sejuk di dataran tinggi, juga adanya unsur sulfur dari material tumpahan aktifitas vulkanis memang sangat mendukung kualitas produksinya.

Dari sekian banyak jenis salak pondoh, yang selama ini dikenal adalah salak pondoh super, salak pondoh kuning (atau coklat) dan salak pondoh hitam. Masing-masing mempunyai ciri-ciri dan rasa yang tipikal.

Ringkasnya, pokoknya salak pondoh itu uenak tenan. Rasa buahnya manis, bahkan tanpa menunggu yang sudah masak pun tetap manis, dan mempunyai kandungan air cukup sehingga tetap terasa segar, tanpa khawatir berasa seret di tenggorokan.

Manisnya salak pondoh memang semanis nilai ekonomis yang dihasilkan petani salak, dibandingkan jika tanah pertaniannya ditanami padi. Tentu, faktor resiko kegagalan tetap harus diperhitungkan. Kejayaan budidaya salak pondoh ini juga ditunjang oleh adanya paguyuban Kelompok Tani, sehingga persaingan usaha yang tidak sehat dapat dihindari. Bahkan para petani dapat saling membantu mengatasi masalah teknis produksi pertanian maupun ekonomis perkembangan dan persaingan pasar.

Kini, produk turunan dari salak pondoh sudah mulai berkembang. Tiba saatnya sentuhan teknologi yang mampu memberi nilai tambah salak pondoh mulai diperhatikan. Jangan heran kalau sekarang Anda jumpai di toko-toko adanya produk turunan salak pondoh seperti dodol salak, emping salak, manisan salak, sirup salak, kue salak, kripik salak, dsb. Untuk produk-produk yang terakhir ini Anda tidak perlu ke Taman Agrowisata.

Jadi, masih ingin yang segar-segar manis langsung dari pohonnya? Monggo, jalan-jalan ke Taman Agrowisata, Sleman.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 26 Juli 2004

Bakpia Glagahsari

16 April 2008

Jika tiba saatnya harus membeli oleh-oleh makanan khas Ngayogyokarto. Jangan lupakan bakpia. Siapa tidak kenal bakpia Yogya. Makanan atau nyamikan yang terbuat dari adonan tepung terigu dan minyak kelapa lalu diisi adonan kacang hijau ini memang memiliki citarasa yang khas. Wis…..setuju enggak setuju, pokoknya uenak.

Selama ini orang banyak mengenal nama bakpia Pathuk, karena memang penjual dan produsen bakpia banyak bertebaran di sepanjang jalan Pathuk (sekarang bernama Jl. KS. Tubun), yang berada di kawasan kecamatan Ngampilan, Yogyakarta. Jika musim liburan tiba, maka dapat dipastikan jalan sepanjang kurang dari satu kilometer, dua lajur dua arah ini akan padat dan sumpek penuh dengan kendaraan para pembeli bakpia. Tidak sulit bagi pendatang dari luar Yogya untuk menemukan lokasi ini. Siapapun orang Yogya pasti tahu kalau ditanya dimana letaknya.

Tidak mengherankan kalau di kawasan Pathuk ini ada lebih 100 pedagang dan produsen bakpia. Ada yang sudah bermerek dan ada yang masih industri kecil-kecilan. Di antara yang sudah punya nama, selama ini dikenal ada bakpia Pathuk 25, 35, 38, 55, 67, 75, 99, dan entah nomor berapa lagi. Angka-angka itu umumnya menunjukkan angka nomor alamat rumah.

Entah bagaimana asal-muasalnya sehingga mereka tanpa kesepakatan menggunakan nomor alamat rumah sebagai merek dagangnya. Barangkali karena di jaman dulu mengambil praktisnya, sehingga begitu saja mengambil nomor rumah sebagai label produknya. Saking banyaknya nomor bakpia, sehingga calon pembeli sering malah bingung mau beli yang nomor berapa. Akhirnya ya pokoknya beli bakpia, berapapun nomornya, yang penting bukan pia-pia yang lain, lunpia, nopia, apalagi sepia….. 

Popularitas bakpia memang luar biasa. Dapat dipastikan setiap harinya ada belasan bahkan puluhan ribu bakpia bergelindingan di Yogya, apalagi di musim liburan. Harganya rata-rata berkisar Rp 10.000,- untuk setiap dos isi 20 butir, ada yang lebih mahal dan ada yang lebih murah. Cukup murah (dibanding kalau bikin sendiri, itupun belum tentu jadi bakpia, bisa-bisa malah jadi onde-onde…..).

Meskipun tampaknya usaha bakpia ini maju pesat, namun jangan dikira tanpa masalah non-teknis. Persaingan tidak sehat, bahkan saling manjatuhkan, diam-diam tumbuh di kalangan sesama pedagang atau produsen bakpia. Sangat disayangkan memang. Berbeda dengan para petani salak pondoh yang berhasil berhimpun dalam Kelompok Tani, di kalangan para pedagang atau produsen bakpia ini belum memiliki paguyuban yang mampu melindungi kepentingan bersama.

Semakin runyamnya persaingan ini, berdampak kepada semakin runyamnya jasa calo bakpia di seputaran Pathuk. Tidak saja mengganggu calon pembeli, terlebih meresahkan para pedagang bakpia karena akan mengurangi keuntungan pedagang. Bahkan seringkali permintaan imbalan oleh para calo kepada pedagang bakpia ini dilakukan setengah memaksa.

Oleh karena itu jangan kaget kalau Anda pergi membeli bakpia ke Pathuk, begitu turun dari mobil atau memarkir kendaraan, Anda akan dikerubuti para calo yang menawarkan jasanya mengantar ke pedagang bakpia tertentu.

Atau, jika Anda malas membeli langsung ke jalan Pathuk, bisa juga membelinya di sejumlah pusat jajan dan oleh-oleh yang menyebar di jalan Mataram, yaitu jalan yang paralel di sebelah timur jalan Malioboro. Di sini pun bisa dijumpai bakpia Pathuk dengan berbagai nomornya dan juga masih baru, bukan produk kemarin.

***

Nama bakpia yang sekarang identik dengan Yogya, sebenarnya bukan makanan produk asli Ngayogyokarto. Konon dulu-dulunya berasal dari Cina, yang nama aslinya Tou Luk Pia yang berarti pia atau kue kacang hijau. Entah lidah siapa yang pertama kali “kepeleset” menyebutnya menjadi bakpia. Pada tahun 1948, keluarga Goei Gee Oe (ini pasti pendatang dari Cina) mencoba-coba membuat bakpia sebagai industri rumahan. Lalu dijajakan eceran, dari rumah ke rumah, dalam wadah besek (wadah kotak berupa anyaman dari bambu), tanpa label.

Semakin tahun semakin banyak peminatnya, hingga sekitar tahun 1980 mulai muncul produsen-produsen baru yang membuat bakpia. Mulai muncul kemasan baru dalam dos atau kertas karton, dan mulai menggunakan label merek dagang berbeda. Anehnya, merek dagang yang digunakan pun mudah saja dengan mengambil nomor rumah para pembuatnya.

Demikian pesatnya perkembangan industri per-bakpia-an di Yogya, hingga pada awal tahun 1990-an bakpia mengalami booming dan sampai sekarang pun nampaknya masih menjadi komoditi unggulan oleh-oleh makanan khas Yogya.

Namun sudah sepuluh tahunan ini saya sendiri tidak pernah lagi membeli bakpia Pathuk, berapapun nomornya. Sejak sekitar tahun 1993, saya menemukan produsen bakpia lain yang setelah saya rasa-rasakan taste-nya jauh lebih enak dibanding bakpia Pathuk. Saya menemukannya di sebuah warung yang merangkap jualan bakpia di jalan Glagahsari, kecamatan Umbulharjo. Bedanya dibandingkan bakpia Pathuk, bakpia Glagahsari ini lebih renyah, lebih mumpur dan lebih kemripik (embuh, apa bahasa Indonesianya). Pokoknya beda dan lebih uenak…… Penilaian ini disetujui oleh beberapa kawan warga Yogya yang pernah mencobanya.

Waktu itu warung ini hanya menjual bakpia kecil-kecilan, bikin sendiri, dijual sendiri, kalau enggak laku juga dimakan sendiri barangkali. Wadahnya pun seadanya. Namun kini rupanya semakin berkembang, dan sudah punya judul sendiri, yaitu bakpia “Kurnia Sari”. Tepatnya, warung ini berada di Jl. Galagahsari No. 112. Jalan Glagahsari adalah jalan yang membentang utara – selatan yang menghubungkan antara Jl. Kusumanegara dengan terminal bis Umbulharjo. Kalau dari arah Jl. Kusumanegara, warung bakpia ini berada di sisi kanan jalan, sebelum kantor Kecamatan Umbulharjo yang berada di sisi kiri jalan.

Seiring dengan tuntutan selera lidah masyarakat, maka bakpia “Kurnia Sari” pun memproduksi bakpia tidak hanya yang biasanya berisi kacang hijau, melainkan ada juga isi kumbu hitam, coklat dan keju. Siapa tahu kelak akan ada bakpia rasa strawberry atau vanilla……

Jika ingin membeli bakpia untuk keperluan beberapa hari atau dibawa keluar kota, maka bakpia Glagahsari bisa jadi pilihan yang sesuai. Asal jangan dibungkus rapat ketika masih dalam keadaan panas, melainkan diangin-anginkan dulu. Setelah sampai di tempat tujuan, simpanlah di lemari es. Bakpia ini akan tahan hingga lebih seminggu tanpa ada perubahan rasa. Sudah seringkali saya coba untuk dibawa ke Papua, dan hingga lebih seminggu masih terasa enak, apalagi kalau malam-malam saya nggayemi sambil nulis cerita soal makan. Lebih nikmat lagi, kalau ada microwave, dihangatkan dulu barang 10-15 detik. Hmmm……

Nah, jika ingin mencoba bakpia dengan rasa sebagai ukurannya, bukan label Pathuk-nya? Monggo….., bakpia Glagahsari bisa dicoba sebagai pilihan. Dijamin tanpa diganggu calo dan tanpa kesulitan parkir, karena masih belum padat pembeli.

Yusuf Iskandar,
Tembagapura, 27 Juli 2004

Suatu Pagi Di Pasar Sentul

9 April 2008

Usai sholat subuh, anak laki-laki saya yang berumur 6,5 tahun ikut bangun. Sekitar jam 05:15 pagi, saya ajak dia untuk jalan-jalan pagi ke pasar Sentul, Yogya, yang jaraknya tidak terlalu jauh. Jalanan masih terlihat sepi. Berdua anak saya, kami dapat jalan melenggang santai di bawah udara pagi yang segar dan belum terganggu kesibukan dan kebisingan lalulintas kota Yogya.

Tidak terlalu lama kami sampai di pasar Sentul yang pagi itu tampak sudah ramai dan sibuk. Halaman depan pasar yang normalnya adalah halaman parkir, pagi itu sudah penuh sesak dengan para pedagang yang menggelar dagangannya berjajar tidak rapi, menyisakan sekedar lorong sempit tempat orang-orang berjalan menyusuri sela-sela gelaran dagangan.

Kebisingan khas pasar tradisional mewarnai suasana pasar Sentul. Riuh rendah suara pedagang dan pembeli yang sedang melakukan transaksi, bunyi pisau yang beradu dengan landasan kayu dari pedagang ayam yang sedang memotong-motong daging ayam, dan gemuruh bunyi mesin pemarut kelapa.

Saya dan anak laki-laki saya lalu menerobos masuk ke dalam pasar dan turut berdesak-desakan di antara lalu-lalang pedagang dan pembeli yang umumnya kaum ibu dan para kuli pasar yang menggotong barang dagangan.

Tujuan kami pagi itu adalah mencari penjual gudangan atau urap, salah satu jenis makanan kesukaan saya. Setelah lebih dua tahun tinggal di New Orleans, maka ada semacam rasa kangen ingin menikmati jenis masakan tradisional ini. Meskipun bisa membuatnya sendiri di rumah, tapi tak bisa disangkal bahwa gudangan atau urap bikinan si mbok penjual urap pasar Sentul ternyata mampu memberikan taste berbeda.   

Tidak mudah menemukan lokasi si mbok penjual urap ini. Ya, maklum wong sudah lama tidak masuk pasar. Setelah berjalan putar-putar kesana-kemari beberapa kali, akhirnya terpaksa tanya kepada seorang pedagang tahu. Si mbok penjual tahu menjawab dengan sangat sopan menjelaskan bahwa pedagang urap belum datang. “Dipun entosi kemawon sekedap malih, Pak” (ditunggu saja sebentar lagi, Pak), jelasnya.

Sambil menunggu kedatangan si mbok penjual urap, saya ajak anak saya untuk mencari pedagang tempe bungkus kesukaan saya. Saat jalan berdesak-desakan ini anak saya sempat melapor : “Kaki saya diinjak orang, Pak”, katanya ringan sambil agak meringis. Ya, inilah pasar. Setelah menyodorkan uang Rp 1.000,- untuk 12 buah tempe bungkus, kami lalu kembali menuju ke lokasi penjual urap. Rencananya, sore harinya saya ingin menikmati hangatnya tempe goreng Yogya sambil minum kopi.

*** 

Rupanya si mbok penjual urap baru saja selesai menggelar dagangannya. Langsung saya memesan lima bungkus urap. Dengan cekatan si mbok membuka selembar sobekan kertas koran, lalu dilapis dengan sesobek kecil daun pisang di atasnya. Tangannya menjumput (mengambil dengan ujung-ujung jari) nasi putih, lalu dijumputnya serba sedikit daun ubi, daun pepaya, daun kencur, kecambah, bijih mlandingan, daun bayam, dsb., lalu ditambahkan bumbu parutan kelapa, dan akhirnya sepotong tempe besengek (jenis masakan berbahan tempe atau tahu).

Harga per bungkus nasi urap yang dua tahun yll. masih berkisar Rp 150,- atau Rp 200,-, kini sudah naik menjadi Rp 500,- Agaknya semua pihak sudah maklum dengan harga ini. Para pembeli pun terkadang tanpa perlu banyak ngomong untuk memperoleh sebungkus nasi urap. Cukup dengan menyodorkan selembar uang limaratusan, lalu tinggal menyebut tahu atau tempe, setelah dibungkuskan lalu ngeloyor pergi.

Saya suka menyebut peristiwa semacam ini dengan mekanisme pasar tradisional, yang tentu berbeda maknanya dengan istilah mekanisme pasar seperti yang sering disebut di koran atau televisi.

Mekanisme pasar tradisional yang tumbuh dari perhitungan ekonomi yang sederhana saja. Karena harga bahan mentahnya naik maka harga jualnya juga naik dan pembeli pun mafhum dengan harga yang disesuaikan itu. Demikian seterusnya, tanpa perlu pusing-pusing menghitung yang rumit-rumit tentang margin keuntungan guna break even.

Juga tidak perlu pusing-pusing tentang siapa presiden negerinya atau wakil presiden atau menteri kabinet atau pejabat ini dan itu, dimana hari-hari ini televisi sedang menyiarkan agenda Sidang Istimewa MPR. Lha, wong presiden dan para pejabat itu juga tidak pernah pusing-pusing memperhitungkan mekanisme pasar ala si mbok penjual urap ini.  

Nyatanya toh dengan cara yang demikian itu si penjual tetap meraih keuntungan yang barangkali tidak seberapa asal masih layak guna mencukupi kebutuhan hidup  keluarganya. Si pembeli pun ikhlas membayarkan uangnya guna memenuhi kebutuhan sarapan paginya. Dan salah satu di antara pembeli pagi itu adalah saya dan anak saya.

***

Tiba di rumah dari pasar Sentul pagi itu, kelima bungkus nasi urap langsung ludes. Kenikmatan sarapan pagi yang saya rasa luar biasa yang sudah lama tidak saya rasakan. Dalam hati saya sangat berterima kasih kepada si mbok penjual urap atau mbok-mbok lainnya di pasar. Pagi itu saya temukan sebuah kenikmatan sarapan pagi yang sangat saya syukuri.

Bukan saja lantaran taste dari nasi urap dan tempe besengek bikinan si mbok, melainkan juga lantaran untuk memperolehnya saya bersama anak saya harus berdesak-desakan di tengah hiruk-pikuknya pasar Sentul. Sungguh pengalaman berbeda yang menyenangkan khususnya bagi anak laki-laki saya.

Menyenangkan? Ketika selesai sarapan saya bertanya kepada anak saya :

Le, bagaimana kalau besok pagi jalan-jalan lagi ke pasar Sentul” (terkadang saya menyapa anak saya dengan Le, sapaan akrab ala desa di Jawa).

Jawab anak saya : “No, too crowded…..”, dengan logat bahasa Inggrisnya yang lebih baik dari saya. Tapi jawaban anak saya rupanya masih berlanjut : “…..tapi saya senang jalan-jalan ke pasar….”-

Yogyakarta, 26 Juli 2001
Yusuf Iskandar

Sate Kambing “Ibu Laminah” Gombong

7 April 2008

Menempuh jalur lintas selatan dari arah Yogyakarta menuju ke kota-kota di sebelah baratnya terkadang membosankan. Hari Sabtu yang lalu saya mencoba menggunakan jalan alternatif, yaitu jalan yang membentang sejajar di sebelah selatannya jalur utama lintas selatan dari Yogyakarta menuju kecamatan Buntu, yaitu perempatan yang menuju Cilacap, Purwokerto dan propinsi Jawa Barat. Ini adalah jalan alternatif yang sedang dikembangkan ke arah timur sebagai jalan alternatif di pinggir selatan, dekat laut, menghubungkan dengan wilayah selatan Bantul, Gunung Kidul, hingga ke Pacitan.

Kondisi jalan ini sekarang jauh lebih baik dan lebih lebar. Dulunya hanya jalan kecil atau tepatnya jalan lintas pedesaan. Kini kondisi jalannya ada yang sudah beraspal halus dan ada yang masih kasar, tapi tidak banyak berlubang-lubang sehingga bisa melaju kencang, karena bentangan jalannya relatif lurus dan sepi. Melintasi kawasan persawahan, tegalan dan menerobos pedesaan. Tidak banyak berpapasan dengan kendaraan atau sepeda motor, kebanyakan orang desa yang bersepeda dan pada jam-jam tertentu banyak anak-anak berangkat atau pulang sekolah. Bagi orang-orang yang sudah tahu, melintasi jalan ini akan sangat menghemat waktu.

Dari arah Yogyakarta, saya masuk ke jalur jalan ini setelah melewati kota Wates, tepatnya pada persimpangan jalan yang menuju ke pantai Congot. Setelah itu tinggal mengikuti papan petunjuk arah terus melaju ke arah barat. Jika menginginkan kembali ke jalur utama lintas selatan, maka pada beberapa persimpangan akan terdapat tanda dimana bisa menuju kota-kota Purworejo, Kebumen, Karanganyar, Gombong, dsb. Hanya saja, di sepanjang jalan alternatif selatannya lintas selatan ini tidak akan dijumpai SPBU dan tidak banyak warung makan.

Oleh karena itu ketika tiba di wilayah Gombong, saya menyempal ke utara menuju jalur utama di kota Gombong. Tujuannya ya mencari warung makan. Kalau tengki kendaraan sudah dipenuhi BBM sejak berangkat dari Yogyakarta, tapi tengki pengemudi dan penumpangnya sudah mulai memainkan musik klenengan alias minta diganjal.

Tapi kemana enaknya? Kata-kata “enaknya” ini dalam arti yang sebenarnya, yaitu makan yang enak. Sedang saya merasa belum familiar dengan kota ini.

Atas rekomendasi teman, sampailah saya di warung makan “Ibu Laminah”. Menilik namanya, jelas pemilik warung makan ini adalah seorang perempuan. Maka di sanalah aku berdiri…… (tentu saja setelah keluar dari mobil), lalu masuk ke sebuah warung di pinggir jalan. Suguhan menu utamanya adalah sate, gule dan tongseng kambing. Bagi sebagian orang yang sudah over sek (lebih seketan, lebih lima puluhan umurnya) memang terkadang perlu agak hati-hati dengan menu perkambingan.

***

Namanya juga warung, tampilan luarnya memang tidak terlalu bagus dan tidak pula terlalu menarik. Sangat sederhana, entah kenapa tidak direnovasi menjadi lebih bagus dan permanen. Tidak seperti resto-resto masa kini yang sedang menjamur. Nyaris biasa-biasa saja tak beda dengan warung-warung makan pinggir jalan lainnya. Lokasinya berada di sisi utara jalan raya utama kota kecamatan Gombong, kabupaten Kebumen. Persisnya di Jl. Yos Sudarso, di seberang depannya Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong, agak ke timur sedikit.

Meskipun sepintas seperti warung makan murahan di pinggir jalan raya, tapi rasa satenya, boo……… Saya kategorikan di atas rata-rata. Sate kambingnya disajikan dengan bumbu sambal kecap dan irisan bawang merah. Daging satenya uuuempuk tenan …..(diucapkan sambil kedua ujung jari jempol dan telunjuk seperti sedang memencet irisan daging, lalu gerak-gerakkan sedikit naik-turun…..), dan tidak berkecenderungan nylilit atau nyangkut di gigi (kecuali yang memang giginya sudah aus parah).

Seporsinya berisi sepuluh tusuk daging kambing dengan irisan agak kecil. Belum lagi tongsengnya, wow…… Pas benar bumbunya ibu Laminah ini. Bukan hanya mak nyusss..., tapi mak nyoouusss..…..karena keceplus cabe rawit yang ada di tongseng…..

Warung makan “Ibu Laminah” ini sudah beroperasi sejak tahun 1980. Selama ini pula sudah memiliki penggemarnya sendiri, khususnya mereka yang tinggal di Gombong, Kebumen dan sekitarnya, termasuk para dokter terbang Rumah Sakit PKU di seberangnya. Pelanggan dari luar kota hanya mereka yang sudah tahu dan kebetulan sedang dalam perjalanan melewati kota Gombong.

Menilik bahwa sehari rata-rata menghabiskan seekor kambing, tentu sebuah prestasi dagang yang cukup lumayan untuk ukuran warung kecil di pinggir jalan. Prestasi tertingginya dicapai waktu musim lebaran, sehari bisa mengorbankan tiga ekor kambing.

Kiranya bagi mereka yang sedang dalam perjalanan di jalur lintas selatan dan kebetulan tiba di Gombong pas lapar dan perlu mengisi tengki dua belas jari, serta menyukai menu kambing-kambingan, maka warung makan “Ibu Laminah” adalah salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan. Setidak-tidaknya, kalau suatu saat saya melintas di kota Gombong lagi, saya berniat untuk menyinggahi “Ibu Laminah”, lengkap dengan sate dan tongsengnya.

Yogyakarta, 30 Nopember 2006
Yusuf Iskandar

Membeli Selera Makan Di Moro Lejar

7 April 2008

Nama Moro Lejar rasanya sudah tidak asing di telinga orang Yogya atau mereka yang sering bepergian ke Yogya. Meskipun mungkin belum berkesempatan mengunjunginya, tapi umumnya kenal dengan nama ini. Ini adalah nama sebuah restoran yang berada di luar kota di sisi utara Yogyakarta. Restoran ini dikenal karena lokasinya yang bernuansa alami dan sajian menunya yang khas.

Lokasinya relatif berada di daerah pegunungan, meskipun sebenarnya masih jauh di kaki timur gunung Merapi. Namun setidak-tidaknya pemandangan alam di sekitarnya memberi nuansa alam pegunungan. Cara termudah untuk mencapainya adalah melalui jalan Kaliurang menuju utara ke arah Pakem. Menjelang tiba di pusat kota (kalau boleh disebut kota) Pakem, ada persimpangan jalan yang membelok ke kanan menuju ke timur yang merupakan jalan alternatif menuju kota Solo. Sekitar 3-4 km menyusuri jalan ini maka akan ketemu dengan restoran Moro Lejar.

Kalau misalnya dari Pakem salah jalan dan lalu mengambil persimpangan yang membelok ke kiri yang merupakan jalan alternatif menuju Magelang, maka di sana juga ada dua restoran sejenis. Tapi entah kenapa Moro Lejar lebih punya nama. Mungkin karena restoran ini yang pertama kali berdiri dan sukses, sehingga ditiru orang.

***

Sajian menu khas yang disediakan antara lain menu ikan air tawar, sayur asam, lalapan lengkap dengan sambal terasi, serta aneka minuman. Ada pilihan ikan segar gurami, emas, nila atau bawal, lalu tinggal minta mau digoreng atau dibakar, dibumbui asam pedas atau asam manis, dengan ukuran sajian kecil hingga super besar.

Salah satu jenis minuman yang khas adalah bir “plethok”, bir yang tidak mengandung alkohol. Minuman ini sebenarnya adalah sejenis minuman penghangat seperti halnya wedang jahe, sekoteng atau bajigur. Bir “plethok” terbuat dari sari jahe, gula, bijih bunga selasih dan sejenis akar-akaran yang membuatnya berwarna merah (saya lupa namanya dan beberapa pelayannya ternyata tidak mampu menyebut nama akar-akaran ini ketika saya tanya).

Setiap hari restoran ini buka hingga jam 21:00 malam sehingga cukup leluasa bagi mereka yang datang dari luar kota. Jumlah pengunjungnya pun tergolong luar biasa banyaknya, apalagi kalau musim liburan. Di sana terdapat puluhan gubug (saung) yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar yang sengaja dibuat di lereng permukaan tanah yang konturnya berteras-teras. Umumnya pengunjung makan sambil duduk lesehan seperti gudeg Malioboro, meskipun tersedia juga sarana meja-kursi.

Harganya relatif tidak terlalu mahal. Sekedar gambaran, kami sekeluarga berempat pada hari Jum’at, 17 Agustus 2001, yll. (kami tidak ikut upacara bendera), hanya menghabiskan sekitar Rp 70.000,- sudah pada “kemlakaren” (perut terasa penuh terisi seperti tidak ada lagi ruang yang tersisa).

Kalau melihat banyaknya pengunjung hampir setiap hari, tentu akan ada pertanyaan : Apakah memang masakannya enak? Kalau saya rasa-rasakan sebenarnya kok ya biasa-biasa saja. Menu dan rasanya tidak jauh berbeda dengan menu sejenis di restoran atau warung makan lainnya. Tapi kenapa Moro Lejar banyak dikunjungi orang?

***

Moro Lejar secara fisik berani tampil beda sebagai sebuah restoran. Suasana makan lesehan di gubug yang berdiri di atas kolam-kolam ikan air tawar, di kaki kawasan pegunungan yang tentunya berhawa menyegarkan, dengan menu ikan segar, ternyata dapat membangkitkan selera makan. Apalagi kalau memang sedang lapar. Dan, itulah yang ditawarkan oleh Moro Lejar.

Moro Lejar berhasil memberi nilai tambah atas menu makanan khas yang sebenarnya biasa-biasa saja, menjadi pilihan makanan yang banyak diminati dan dibeli pengunjung atau calon pengunjungnya.

Oleh karena itu, kalau kelak saya akan kembali ke sana, itu karena saya akan datang dengan kesadaran bukan untuk membelanjakan uang guna membeli makanan yang masakannya luar biasa, melainkan saya akan membeli selera makan yang akan disajikan oleh Moro Lejar dengan sangat baik dan memuaskan.

Jadi, saya memang siap dan rela untuk membeli nilai tambah guna melampiaskan keinginan untuk dapat menikmati makan di Moro Lejar.

New Orleans, 20 Agustus 2001
Yusuf Iskandar