Archive for September, 2009

Catatan Di Hari-hari Silaturrahmi (Lebaran 1430H)

30 September 2009

Usai Panen Raya Ramadhan

Panen raya itu sudah bubar… Lontong, ketupat, opor menthok atau enthok (dagingnya lebih padat, tidak segurih daging ayam, berminyak, nek, tapi hoenak dan tampil beda…), mengiringi penutupan panen….. Kini, tinggal hati masing-masing menghitung pembukuan keuntungan yang dapat diraih setelah sebulan berbisnis dengan Ramadhan, atau jangan-jangan hanya sekedar….. “capek deh…”

(Panen raya yang saya maksudkan adalah panen pahala dan balasan kebaikan yang dijanjikan Allah swt dengan beribadah Ramadhan, dan pembukuan keuntungan yang saya maksudkan adalah catatan amal ibadah selama Ramadhan)

Yogyakarta, 20 September 2009 (1 Syawal 1430H)

——-

Ke Kendal

Bosan dengan opor ayam & menthok (enthok), mampir warung sate kerbau bumbon di Pegandon, Kendal. Bukan sekedar beda, tapi hoenaknya….

(Dalam perjalanan ke kampung halaman di Kendal, di sela-sela nyekar ke makam orang tua, bersilaturrahim, lalu nyate…..)

Kendal, 21 September 2009 (2 Syawal 1430H)

***

Bosan dengan kue lebaran…. Kebetulan sepulang dari rumah embahnya, anakku ngangkut singkong dari hasil kebun sendiri. Rupanya mbakar singkong yang kemudian dilakukan anakku…… (juga bapaknya….).

Yogyakarta, 22 September 2009 (3 Syawal 1430H)

——-

Kembali Ke Toko

Menata kembali isi toko yg morat-marit setelah “diobrak-abrik” pembeli yang belanja keperluan lebaran, sejak H-2. Capek tapi senang….. Bahkan H+4 pembeli masih ramai lebih dari hari biasanya. Rupanya kebutuhan harian tidak bisa ditunda…

Puasa bukan berarti mengurangi makan, melainkan me-reschedule. Lebaran juga bukan berarti banyak makan, melainkan kebanyakan enggak apa-apa. Inilah salah satu keunggulan bisnis ritel….

Yogyakarta, 23 September 2009 (4 Syawal 1430H)

——-

Ultah

Satu-satunya kejadian yang menandai bahwa hari ini saya berulangtahun adalah sindiran-guyonan anak perempuan saya tadi siang. Katanya : “Wah, hari ini bakal ada yg nraktir makan, nih….”. Selebihnya live must go on as usual‘….. Ndeso tenan….

Yogyakarta, 23 September 2009 (4 Syawal 1430H)

——-

Ke Semarang

Jalur Jogja-Semarang hari ini ramai-lancar-padat-merayap… Intinya, kudu sabar & enggak boleh terburu-buru sampai (tujuan)…

(Jalur merayap ini terutama antara Muntilan-Magelang-Secang dimana hanya terdiri dari satu lajur untuk masing-masing arah. Di seputaran Ungaran, Kab.,Semarang, juga kembali merayap)

Semarang, 24 September 2009 (5 Syawal 1430H)

***

Serabi Ngampin

Mampir mencicipi kue serabi di Ngampin, selatan Ambarawa. Lumayan, ketemu model jajanan berbeda. Semangkuk 4000 rupiah isi 5 (lembar) serabi + santan manis….

(Banyak warung-warung penjual serabi di sepanjang pinggiran jalan selewat kota Ambarawa kalau dari arah utara. Kawasan ini ramai dengan penjual serabi sejak beberapa tahun terakhir ini. Sebelumnya serabi Ngampin pinggir jalan hanya muncul kalau Ramadhan dan Lebaran, tapi sekarang sepanjang waktu ada, bergabung dengan penjual kelengkeng, durian, rambutan, dan aneka jajanan….)

Ambarawa, 24 September 2009 (5 Syawal 1430H)

——-

Ramai-Lancar-Padat-Merayap

Istilah baru (oleh wartawan TV) yang mulai akrab di telingaku : Lalulintas ‘ramai-lancar’….., agaknya lawan dari ‘padat-merayap’ yang lebih dulu populer. Meski begitu, waktu menjalani jalur Jogja-Semarang kemarin, ternyata ‘ramai-lancar-padat-merayap’….. (enggak usah dicari lawannya).

Yogyakarta, 25 September 2009 (6 Syawal 1430H)

——-

Bersama Para Miner Di Banaran Café Jogja

Tadi malam hadir di acara silaturrahim informal dengan para miner (buruh tambang alumni UPN) di Banaran Cafe, Jogja. Rupanya ini cafe masih ada hubungan saudara dengan dua Warung Kopi Banaran yang ada di Bawen dan Ambarawa, tapi lain ayah & lain ibu (alias beda manajemen). Kopinya yang di Banaran Jogja kalah theng dibanding yang di Bawen atau Ambarawa….

(Banaran café Jogja berada di lantai bawah gedung LPP, Jl. Solo. Rupanya semua café milik PTP di Indonesia bernama Banaran… Di Jogja termasuk café kecil dan tidak sekomplit yang di Bawen atau Ambarawa)

Yogyakarta, 27 September 2009 (8 Syawal 1430H)

***

Menjamu Sahabat Lama Di Resto Numani Jogja

Makan malam dengan sahabat lama (ex teman kerja & teman mendaki Rinjani) di Resto ‘Numani’ Jl. Parangtritis Jogja spesialis gurameh segar yang bisa bikin tuman (bhs Jawa : ketagihan)…. Gurameh bakar, cumi dan udang goreng …tapi tidak panas, cah kangkung, petai goreng, sambal mentah, dan trancam (sejenis karedok, bukan terancam)…. Yang terakhir ini pas di pencecap…..

(Lokasi Resto Numani berada di sekitar km 7 Jl. Parangtitis, kalau dari arah utara selewat perempatan Ringroad dan setelah Taman Seni Gabusan Bantul)

Yogyakarta, 27 September 2009 (8 Syawal 1430H)

——-

Antara Mendaki Gunung Dan Omset Toko

Mendaki gunung adalah mencapai puncak tertentu setelah itu turun lagi ke elevasi pengalaman & keterampilan lebih tinggi. Anakku sudah membuktikannya — Sama seperti mengejar omset warung saat lebaran : muncak lalu turun lagi pada elevasi omset lebih tinggi dari sebelumnya. Giliran saya membuktikannya.

Inilah yang paling saya sukai ketika ngurus warung mracangan… Puji Tuhan walhamdulillah

(Anakku mendaki gunung Lawu, 25-27 Sepember 2009, sebagai pendakian yang kesekian kalinya. Di sisi lain, omset “Madurejo Swalayan” mulai menurun sejak mencapai puncaknya pada H-1 Lebaran kemarin, tapi Alhamdulillah masih lebih tinggi dibanding hari-hari sebelum Ramadhan)

Yogyakarta, 28 September 2009 (9 Syawal 1430H)
Yusuf Iskandar

Iklan

Bakmi Jawa Jogja Mbah Hadi

29 September 2009

Mbah Hadi3_rPada sekitar tahun 1997 mbah H. Hadi memulai usaha warung bakmi kaki lima di pinggiran depan terminal Terban, Yogyakarta. Kini bakmi khas Jogja itu dikenal dengan nama bakmi jawa atau jowo, lebih afdhol lagi kalau disebut bakmi jowo Jogja. Bahkan ketika warung sejenis dibuka di kota lain pun tetap menggunakan label bakmi jowo atau bakmi Jogja.

Kalau kebetulan sedang berada di Jogja, maka banyak pilihan tempat untuk mencicipi bakmi Jowo sejenis ini. Sekedar menyebut nama yang sudah dikenal, di antaranya ada bakmi Mbah Mo, bakmi Pak Pele, bakmi Kadin, dan masih banyak lainnya yang tersebar di seantero wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, beserta segenap penerus, peniru dan pengikutnya. Dan, bakmi jowo Mbah Hadi adalah satu di antaranya.

Lokasi bakmi Mbah Hadi relatif mudah dicari dan dicapai karena berada di tengah kota Jogja. Berada di kawasan bekas terminal Terban, Jl. C. Simanjuntak, tepatnya sebelah utara SPBU. Sejak Mbah Hadi meninggal dunia bulan Mei 2009 yll, kini usaha warung bakminya diteruskan oleh putra-putranya. Dimotori oleh Pak Sukiran, putra kedua Mbah Hadi, dan dibantu oleh adik-adik serta sanak-saudara lainnya, maka kini warung bakmi Mbah Hadi yang semakin dikenal para pelanggannya terus mengibarkan bendera bakmi jowonya.

“Sakjatosipun meniko inggih namung samben kok pak…”, kata Pak Sukiran yang maksudnya menjelaskan bahwa jualan bakmi ini sebenarnya cuma sekedar sambilan. Tentu saja ini gaya merendah versi pak Sukiran. Sepenuhnya dapat dimaklumi karena pak Sukiran merasa pekerjaan utamanya sebenarnya seorang PNS di Jogja, tapi setiap sore hingga malam jualan bakmi. Begitu kira-kira logika pikirannya. Dan saya cuma tersenyum mengiyakan.

Kalau saya pikir-pikir, ya sambilan bagaimana kalau warung bakminya setiap  hari rata-rata menghabiskan 10 ekor ayam dan 300 butir telur bebek, yang berarti sekitar 300 porsi bakmi godok (rebus) dan goreng terjual habis. Pak Sukiran dan pasukan keluarganya bahu-membahu melayani penggemar dan penikmat bakmi jowo setiap malam dan buka mulai jam 5 sore, tentu ini bukan pekerjaan sambilan atau pengisi waktu belaka. Belum lagi kalau tiba musim liburan atau lebaran, 14-15 ekor ayam siap dihabiskan.

Mbah Hadi1_rRasa bakminya memang tidak diragukan lagi bakal membuat ketagihan penggemar bakmi jowo. Tergolong hoenak…. Sekelas dengan bakminya Mbah Mo yang ada di pedalaman mBantul sana (yang konon kini kelezatan taste-nya yang sudah kondang itu mulai rada menurun, tapi ya tetap saja enak….). Dalam upayanya menjaga kualitas rasa bakminya, pak Sukiran menerapkan rejim satu wajan satu porsi. Betapapun banyaknya pelanggan yang mengantri, tetap saja pemasakannya akan dilayani sesuai prosedur yang sudah ditetapkan, yaitu setiap porsi dimasak masing-masing dan sangat dihindari untuk memasak sekaligus lebih dari satu porsi. Prosedur inilah yang diyakini oleh pak Sukiran dan timnya akan mampu menjaga cita rasa khas bakmi jowonya dan ramuan bumbu yang pas bagi setiap porsinya.

Meski pelayanannya sebenarnya tergolong lincah dan cekatan, dan meski didukung oleh dua wajan yang beroperasi non-stop sejak buka, tetap saja berakibat menjadi kurang cepat ketika banyak pelanggan menunggu dilayani. Meski demikian toh dengan tenangnya pak Sukiran berkata : “Kalau sabar ya monggo ditunggu…. Kadang-kadang ada juga yang kurang sabar lalu tidak jadi beli”. Dalam hal seperti ini pun pak Sukiran bergeming, pokoknya satu wajan tetap satu porsi. Akibatnya hanya pelanggan-pelanggan yang fanatik dengan cita rasa khas bakminya Mbah Hadi saja yang sanggup mengemban judul “sabar menanti”, menanti dilayani maksudnya…

Seperti pengalaman saya malam kemarin, puluhan orang rela dengan sabar menanti dilayani. Warung bakmi ini sebenarnya hanya menempati sepetak kios kecil yang hanya diisi oleh dua buah meja kayu panjang dengan empat bangku berhadap-hadapan, tapi di luar warungnya tergelar kursi dan tikar tambahan. Itu pun penuh diisi pelanggan. Dalam menjalankan bisnisnya, bakmi Mbah Hadi berkolaborasi dengan pedagang angkringan yang menyediakan minuman teh jahe.

Harga per porsinya tergolong murah-meriah jika dibandingkan dengan warung-warung bakmi kategori hoenak tenan, yang ada di Jogja. Sebanding juga dengan kesabaran menunggunya. Kalau tidak salah tiap porsinya dihargai sekitar Rp 8.000,-. Harga persisnya saya lupa (maklum saking enaknya jadi lupa….). Menirukan kata seorang rekan setelah makan bakmi Mbah Hadi ini lalu mengekspresikan kepuasannya : linak, litu, linggo, lico, lijo….., njuk liyar. Maksudnya, lali anak (lupa anak), lali putu (lupa cucu), lali tonggo (lupa tetangga), lali konco (lupa teman), lali bojo (lupa istri), dan akhirnya lali mbayar (lupa mbayar)….. Kalau yang terakhir ini memang rada nekat……

Pak Sukiran memang pantas kalau sekarang bisa menikmati hasil rintisan dan kerja keras almarhum Mbah Hadi sejak lebih sepuluh tahun yll. Maka menjaga kualitas cita rasa bakminya adalah menjadi prioritasnya. Jamaknya sebuah kesuksesan, maka kini banyak pihak investor mulai melirik ingin membuka cabang bakmi Mbah Hadi. Namun pak Sukiran nampaknya belum tergerak. Khawatir tidak tertangani dengan baik (bahasa moderennya, manajemennya tidak siap), nanti malah bubrah semua. Sederhana sekali. Dan kita sering dibuat tertegun menyaksikan kesuksesan yang terjadi di balik sebuah kesederhanaan sikap dan cara berpikir.

Yogyakarta, 29 September 2009
Yusuf Iskandar

Bapak-bapak menunggu pesanan

Bapak-bapak menunggu pesanan

Ibu-ibu kekenyangan

Ibu-ibu kekenyangan

Matur Nuwun Gusti

29 September 2009

Satu-satunya kejadian yang menandai bahwa hari ini hari ulang tahunku adalah sindiran-guyonan anak perempuanku tadi siang. Katanya : “Wah hari ini bakal ada yang nraktir makan, nih….”. Itu saja. Selebihnya live must go on as usual, seperti-hari-hari kemarin, seperti tidak ada yang spesial…

Entah kenapa sejak saya kecil dulu orang tua saya tidak pernah membiasakan mengadakan perayaan ulang tahun. Mungkin karena himpitan ekonomi keluarga, mungkin karena kebiasaan seperti itu tidak jamak di lingkungan masyarakat sekitar kami tinggal, atau mungkin memang dianggap bukan sesuatu yang perlu dirayakan. Boro-boro pesta, bahkan sekedar bancakan selamatan bubur merah bubur putih pun tidak.

Yang kemudian terjadi ketika saya dan adik-adik saya kemudian tumbuh dewasa dan mulai mengenal ada tradisi yang oleh keluarga lain selalu dirayakan, adalah merayakannya sendiri dengan caranya sendiri. Aneh, lucu, tapi juga tidak perduli….

Kebiasaan tidak perduli dengan hari ulang tahun itu terbawa sampai kini, sampai usia saya menyongsong setengah abad, tapi kata teman saya masih ABG (Aku Belum Gocap..). Pernah suatu kali kami sekeluarga lupa sama sekali bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku. Baru teringat saat tanggal ulang tahun itu sudah berganti, maka sekedar makan bersama di luar rumah pun baru dilakukan ketika ingat dan ketika sempat. Pernah juga suatu kali justru orang lain yang mengirim tumpeng ulang tahun atau mengadakan tumpengan untukku (akan saya kenang kebaikan orang-orang yang bukan sanak bukan kadang…, bukan siapa-siapa ini…). Maka karena saya tidak pernah paham akan pentingnya merayakan ulang tahun, ketika lupa pun tidak pernah saya sesali apalagi saya pikirkan. Biasa saja….

Sungguh bukan karena balas dendam kalau kemudian di lingkungan keluarga saya sekarang, tradisi itu pun tidak tumbuh. Apakah itu ulang tahunku, istriku atau anak-anakku, tidak pernah menjadi urusan yang harus dipersiapkan apalagi dipikirkan secara khusus, dipikir sambil tidur pun tidak. Kalau ingat dan sempat merayakannya syukur, kalau tidak ingat juga tidak masalah. Paling-paling sekedar makan-makan di luar. Itu pun kalau sempat. Kalau tidak sempat, bisa dijadwalkan ulang kapan sempatnya. Mengucapkan selamat ulang tahun pun tidak selalu saling kami lakukan. Ndeso tenan….

Saya tidak tahu apakah ini sesuatu yang baik atau kurang baik atau biasa-biasa saja. Tapi ada pengalaman buruk, beberapa kali saya gagal mengingat tanggal ulang tahun istriku dan anak lelakiku, sehingga harus buka-buka catatan atau bertanya lebih dahulu. Sedang untuk anak perempuanku tidak pernah salah karena tanggalnya sama dengan tanggal kelahiranku.

Meski demikian, bagaimanapun juga saya ingin memberi pengalaman berbeda bagi kedua anakku. Saat mereka masih balita dulu, untuk pantes-pantes kami orang tuanya juga mengadakan perayaan ulang tahun dengan mengundang teman-teman kecilnya. Itu berlangsung dua-tiga kali saja. Selebihnya, ya itu tadi…. live must go on as usual…., seperti hari-hari biasanya. Soal cara merayakannya juga terserah selera masing-masing. Istriku pernah bikin nasi kuning untuk dirinya sendiri ketika berulang tahun. Pernah juga membikinkan nasi kuning untuk kedua anakku sekaligus. Karena tanggal dan bulan ulang tahun kedua anakku itu berdekaan, maka nasi kuning dibuat pada tanggal kira-kira tengah-tengah antara keduanya. Sesederhana itu.

Pernah juga ketika menjelang ulang tahun kedua anakku. Saya cuma bilang kepada mereka bahwa ini ada anggaran dana sekian rupiah, lalu saya ajukan usulan kepada mereka : Mau dipakai makan-makan bersama teman-temannya silakan, atau datanglah ke panti asuhan dan sedekahkan uang itu kepada anak-anak yatim. Sekali waktu mereka memilih yang pertama dan pada waktu lain mereka memilih yang kedua. Namun ketika memilih yang kedua, sesudah itu tetap saja menagih untuk yang pertama. Dasar, anak-anak…..!

Bagi saya hari ulang tahun adalah bisnis pribadi saya dengan Tuhan. Hal yang sama saya tanamkan kepada anak-anakku, agar melakukan introspeksi diri (bahasa agamanya muhasabah) ketika memasuki hari ulang tahun, kalau kebetulan hari itu mengingatnya. Kalau lupa ya esoknya atau esoknya lagi…

Kini saya tersenyum sendiri…. Sepanjang badan mengandung hayat, hingga usia saya menjelang setengah abad, baru sekali inilah (berkat teknologi Facebook dan SMS) teman-teman dan sahabat-sahabat baik saya bertubi-tubi menyampaikan ucapan selamat ulang tahun. Sumprit…, belum pernah saya menerima perlakuan seperti ini. Saya merasa bak seorang selebriti tanpa wartawan infotainment yang kurang kerjaan…..

Matur nuwun……, matur nuwun Gusti…….

Kabulkanlah doa para sahabat baik saya itu, dan ijabahi pula agar doa yang sama kembali tertuju kepada para sahabat saya itu bersama keluarganya….

Matur nuwun….., matur nuwun Gusti…..

Ampuni hambaMu yang ndeso ini. Jadikanlah hambaMu yang naif ini menjadi orang yang selalu besyukur kepadaMu. Dan jangan Engkau biarkan hambaMu ini berjalan melenceng dari jalan yang Engkau kehendaki.

Matur nuwun….., matur nuwun Gusti…..

Telah Kau ijinkan hambaMu yang lemah ini memasuki usia ke empat puluh sembilan….. Dan beri hambaMu ini kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ibadah yang senantiasa memberi manfaat bagi sesama mahlukmu…..

Amin…..

Yogyakarta, 23 September 2009
Yusuf Iskandar

Anakku Ke Gunung Lawu

29 September 2009

Tanggal 25-27 September 2009, sehari sebelum hutan Lawu kebakaran, anakku (Noval, 15 th) bersama empat orang teman sekolahnya mendaki gunung Lawu di perbatasan Jateng-Jatim. Bagi Noval, ini pendakian kedua kali, setelah yang pertama pada Tahun Baru 2008 saya temani karena waktu itu adalah pertama kali Noval mendaki gunung. Sejak itu dia mejadi ketagihan naik gunung. Dan kali ini adalah pengalaman petualangannya yang ke-15 dalam 1,5 tahun terakhir. Gunung atau bukit lainnya yang sudah didaki antara lain : Merapi, Merbabu, Sindoro, Menoreh, Nglanggeran, dll, diantaranya sampai 2-3 kali. Penggalan catatan berikut ini saya posting di Facebook.

——-

Rencana mau silaturrahim ke luar kota batal, karena rupanya anak lanang sudah ngajak teman-temannya mau silaturrahim ke puncak Lawu. “Yo wis, ati2 le…”

(1) Tadi pagi ngantar anak lanang (Noval, 15th) yang memimpin 4 orang temannya ke terminal bis Giwangan, setelah (sebelumnhya) saya briefing dulu di rumah. Mereka naik bis menuju Cemorosewu, sebelum mendaki gunung Lawu. Ini pendakian kedua ke Lawu buat Noval. “Selamat jalan, le…. Jaga kekompakan tim…”.

(2) Sekitar jam 14:30 dia kirim SMS, katanya hampir sampai ke Pos 2. Berarti mereka langsung mendaki (wah… ini di luar rencana semula mau aklimatisasi dulu…). Lalu belum ada kabar lagi…. Mungkin nge-camp di jalan atau langsung ke Pos terakhir, Hargodalem.

Yogyakarta, 25 September 2009

***

(3) Kemarin sore anakku kirim SMS katanya sudah di basecamp, berarti sudah turun dari puncak. Lalu, tadi pagi berangkat pulang dari Cemorosewu. Dan, siang ini alhamdulillah tim pendaki sudah sampai rumah dalam situasi ramai-lancar….

Alhamdulillah juga, nasi se-magic jar… + rendang sewajan yang dibikin ibunya tadi pagi langsung boablasss… diserbu lima pendaki kelaparan. Untung enggak sewajan-wajannya……

Yogyakarta, 27 September 2009
Yusuf Iskandar

Ke Jakarta

28 September 2009

Alarmku

Alarmku yang bunyinya seperti ayam jago kluruk, baru jam 1 dini hari sudah mbeker-mbeker… Istriku kaget terbangun. Rupanya saya lupa, setelan jamnya masih WIT..

(Malamnya baru tiba dari Papua, dan lupa mengubah penunjuk waktu pada HP yang biasa saya gunakan sebagai pengganti jam)

Yogyakarta, 15 September 2009

——-

‘Another Mission’

‘Another mission’ hr ini goagal…. Sebagai pelipur lara, berbuka nasi opor + sop ayam pangsit boanyak-boanyak di Terminal F Cengkareng…

(Hari ini ada misi khusus menagih tunggakan pembayaran dari klien di Jakarta. Eh, masih juga dijanjikan… Sabar, sabar…)

Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta – 15 September 2009

——

Kembali Nyopir

‘Back to basic’, kembali jadi Sopir-intendant, ngurus warung, wal-angkat wal-junjung, lanjut bisnis dengan Ramadhan, ngurus zakat di kampung. Indahnya…

(Siap-siap membantu ‘Boss’ mempersiapkan warung menyongsong panen raya lebaran…)

Yogyakarta, 16 September 2009
Yusuf Iskandar

Ke Tembagapura (6-14 September 2009)

28 September 2009

Berikut ini penggalan-penggalan catatan perjalanan ke Tembagapura (6-14 September 2009) yang sempat saya posting di Facebook).

——-

Walah.., mau buka bersama di SBY kok ya gagal….. Gara-gara Batavia Air Jogja-SBY delay 2 jam, jadi buka bersama penumpang lain di bandara Jogja saja….

(SBY : Surabaya)

Bandara Adisutjipto – Yogyakarta, 6 September 2009

——-

Insya Allah, melewatkan malam ini di angkasa antara Suroboyo-Timika. Moga-moga pramugarinya menyediakan makan sahur di pesawat, entah dimana…

Bandara Juanda – Surabaya, 6 September 2009

——-

Ngopi dan ngudut dulu di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar… Bandara bagus dan megah, tapi buruk akustiknya…

(Transit di Makassar lumayan lama….)

Bandara Sultan Hasanuddin – Makassar, 7 September 2009

——-

Tadi malam ke UGD Tembagapura, ngobrol-ngobrol dengan dokter, dicek ini-itu + EKG (rekam jantung), siang nanti check up, sore uji nyali dengan treadmill (biar kalau haus sudah dekat berbuka), lalu ngabuburit dengan dokter lagi….. Alhamdulillah, ibadah Ramadhan jalan terus….

(Ketika di pesawat kemarin malam, tiba-tiba sesak nafas, mual, keringat dingin, lemas dan les-lesan… Angin duduk atau jangan-jangan serangan jantung? Begitu pikirku…. Esoknya teman-teman saya menyuruh agar segera saja cek ke dokter, takut ada apa-apa. Akhirnya malamnya saya ke rumah sakit. Uji treadmill diundur karena dokternya pergi mendadak ke Jakarta…)

Tembagapura – Papua, 8 September 2009

——-

Pagi ini saya kirim SMS ke anakku : “Tadi malam ada gempa ya?”. Jawab anakku : “Ya, aku terbangun. Karena gak ada orang lain yang bangun, ya tidur lagi….”.

Kemudian saya balas : “Kalau nanti ada gempa lagi, bangun lagi, lalu tidur lagi ya….”. Ha..ha..ha..ha…

(Pagi ini memperoleh kabar ada gempa cukup kuat terasa di Jogja. Segera saya hubungi anak perempuanku menanyakan kabar mereka…)

Tembagapura – Papua, 8 September 2009

——-

Plong rasanya….. Usai rekam jantung sambil menjalani treadmill siang ini, kata dokter kondisi jantung baik dan normal. Walhamdulillah…

(Menurut analisa dokter, yakin sekali dia bahwa yang saya alami di pesawat waktu malam beberapa hari yll bukan serangan jantung melainkan gejala maag… Sementara kesimpulan ini membuat saya lega dan tersenyum, karena sebelumnya sudah buruk saja pikiranku tentang kemungkinan gangguan jantung….)

Tembagapura – Papua, 12 September 2009

——-

Waduh… Tsel Flash-ku kumat lagiiiii…

(Setelah rada jengkel beberapa jam, akhirnya…)

Selamet…selamet…, Tsel Flash sudah bisa on-line lagi….

(Akhirnya bisa nginternet lagi, di Tembagapura, di atas pegunungan selatan Papua…)

Tembagapura – Papua, 13 September 2009

——-

Alhamdulillah, mission accomplished. Siap-siap mbonceng chopper dari Tembagapura ke Timika, siang terbang ke Solo via Makassar, njuk pulang Jogja…

(Situasi akibat insiden tembak-tembakan di jalur Timika – Tembagapura masih dianggap rawan, makanya saya turun ke Timika dijadwalkan naik helikopter)

Tembagapura – Papua, 14 September 2009

——-

1) Tembagapura-Timika naik heli batal karena cuaca buruk. Lewat darat, pakai rompi anti peluru, ditemani tentara bersenjata, polisi + TNI + panser betebaran…

2) Seperti daerah konflik tanpa musuh. Yang tetap tak terjawab : konflik dengan siapa? musuhnya mana? Biarlah tembaga yang jadi peluru yang nembak kemana2 menjawabnya..

Bandara Mozes Kilangin, Timika – Papua, 14 September 2009

——

Puasa berarti menahan haus dan lapar. Tapi kalau harus menempuh perjalanan Timika-Solo lalu waktu berbukanya diundur 2 jam….. Aaaaaaaalhamdulillah...

(Akibat dari perjalanan dari wilayah WIT ke WITA lalu ke WIB)

Bandara Adisoemarmo – Solo, 14 September 2009

——-

Jam 19:30 WIB masuk rumah… puji Tuhan walhamdulillah. Badan agak nggregess…. Insya Allah, siap-siap dengan another important mission tomorrow…

Yogyakarta, 14 September 2009
Yusuf Iskandar

Catatan Tertinggal (Awal September 2009)

28 September 2009

Gempa

Setiap kali ada gempa, orang2 pada kabur berhamburan keluar gedung…. Rupanya gempa itu suka menakut-nakuti orang yg kerjanya di dalam gedung…..

(Intermezzo saja…. Akhir-akhir ini gempa sering terasa di Jogja, meski intensitasnya tidak terlalu besar, tapi bikin deg-degan juga…)

Yogyakarta, 2 September 2009
Yusuf Iskandar

——-

Telat Bangun Sahur

Bangun sahur bersama terdengarnya adzan subuh….. Maka : Lanjutkan….! Ya puasanya, ya tidurnya….

(Inilah sekali-sekalinya sekeluarga terlambat bangun untuk makan sahur…)

Yogyakarta, 2 September 2009
Yusuf Iskandar

——-

Sarang Semut

Waduh… tobat tenan….! Ngerebus jamu sarang semut Papua, lupa, sampai kering…. Tinggal sarangnya gosong, semutnya pada kabur….

(Pada kunjungan saya ke Papua beberapa bulan yll, saya sempat mampir ke pasar tradisional Swadaya, Timika, membeli sarang semut yang konon mujarab sebagai obat tradisional untuk aneka ria macam penyakit — Tidak lama setelah itu pasar Timika terbakar….)

Yogyakarta, 1 September 2009
Yusuf Iskandar

Catatan Tertinggal (Agustus 2009)

25 September 2009

Antar-teman Tunai Mandiri

Gara-gara kartu ATM dicaplok mesin di Mampang Jakarta, sementara belum sempat ngurus yang baru di Jogja, kini kalau mau ambil (uang) tunai mesti transfer dulu ke teman via internet banking lalu minta tolong untuk diambilkan ke ATM (Antar-teman Tunai Mandiri).

(Setelah lapor ke Call Center, lalu kartu diblokir demi keamanan dan diminta bikin baru saja. Setelah diurus di kantor cabang bank Mandiri di Jogja, rupanya hanya perlu waktu beberapa jam saja untuk minta penggantian kartu).

Yogyakarta, 31 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

——-

Nasib Tiket Promo

Mulanya senang dapat karcis Garuda murah JOG-CGK pp. Begitu jadwal kembali ke Newyork-arto diundur, ternyata tidak bisa, Garuda mbegegek karcisnya hangus… Terpaksa oknum yang mengubah jadwal, mau tanggungjawab membelikan karcis baru + ubo rampenya…

(Tiket murah adalah kategori tiket promo yang tidak dapat ‘diubah-ubah’. Yang saya maksud ‘oknum’ adalah pihak yang telah mengundang saya ke Jakarta dan kemudian juga meminta untuk menunda kepulangan ke Jogja…. He..he..)

Jakarta, 27 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

——-

Ada Gempa (Lagi) Di Jogja

Baru saja ada gempa di Jogja…. Beberapa detik, tidak besar, tapi bikin mak jenggirat + deg-degan, teringat gempa Jogja 3 tahun yll…

(Bagaimanapun juga wilayah Jogja dan umumnya kawasan selatan Jawa adalah wilayah rawan gempa)

Yogyakarta, 22 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

——-

Di Terminal A Cengkareng

Check-in di Terminal A Cengkareng, lambat bin menjengkelkan. Penumpang padat tapi SDM petugas keteteran (kata lain untuk tidak profesional)…

(Heran juga, sudah jelas penumpang menumpuk dan antrian panjang, kok tidak ada inisiatif agar bisa dilayani lebih cepat…. Ini malah sedikit-sedikit counter-nya ditinggal pergi, ambil ini-itu, tanya ini-itu, atau entah ngapain. Penumpang gelisah sambil huuuu… pun dicuekin aja…..Ugh..!)

Ada bule heran, ‘smoking area’ menjadi satu dengan ruang tunggu, sehingga asap tetap saja kemana-mana seperti gendongannya Mbah Surip. Dia pun turut ngudut & berfoto…

(Kata saya : Lha saya saja heran, apalagi Sampeyan….)

Jakarta, 15 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

Selamat Idul Fitri 1430H

20 September 2009

Perjalanan sebulan penuh usai sudah. Kini kita harus siap-siap menyongsong untuk menjalani dengan penuh hikmah perjalanan sebelas bulan berikutnya, hingga berjumpa kembali kepada (Insya Allah) Ramadhan tahun depan.

Ijinkan kami, saya dan segenap keluarga menghaturkan :

SELAMAT IDUL FITRI 1430H
Mohon maaf lahir & batin

Semoga kita semua termasuk ke dalam gerombolannya orang-orang yang kembali kepada kesucian, meraih kemenangan dan kebahagiaan.

Wass.
Yogyakarta, 20 September 2009 (1 Syawal 1430H)
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Para Pekerja Borongan

13 September 2009

Hari sudah bergeser lewat tengah malam, memasuki hari ke 21 bulan Ramadhan atau disebut juga malam selikuran. Baru saja kitab lusuh itu saya tutup setelah menyelesaikan membaca surat As-Sajadah. Enaknya langsung nggeblak saja di atas kasur empuk, ingin segera beristirahat untuk nanti bangun lagi saat makan sahur.

Tiba-tiba terdengar nada suara jangkerik, tanda ada SMS masuk. Sembari malas-malasan membuka mata, saya lihat rupanya SMS dari istriku di Jogja. “Kok tumben-tumbenan kirim SMS malam-malam”, kata saya dalam hati. Agaknya dia lupa kalau suaminya sedang berada di wilayah yang waktunya dua jam lebih cepat.

Ketika saya baca SMS-nya berbunyi (ditulis dalam bahasa Jawa) : “Mas, coba lihat Mario Teguh di TV One”.

Saya tersenyum sendiri. Sambil agak kurang bergairah saya balas SMS-nya : “Waduh, lha di kamarku ndak ada TV, je…”. Boro-boro…., TV rusak saja tidak ada, apalagi TV One.

Lalu HP saya letakkan di samping tempat tidur. Maksudnya agar saya bisa mendengar dengan keras, ketika alarm yang saya setel jam setengah empat nanti berbunyi. Itupun sekali waktu pernah kebablasan tidak bangun dan akhirnya tidak makan sahur (lebih tepatnya, ketika alarm berbunyi lalu terbangun sejenak, mematikan alarm, tidak langsung bangun, dan akhirnya tertidur lagi kebablasan hingga terdengar adzan Subuh).

Rupanya SMS berbunyi lagi, kata istriku : “Mengenai lebaran, banyak orang menonjolkan diri padahal banyak utang, berarti sebenarnya tidak bahagia…”, pasti menirukan tuturan Mario Teguh.

Sejenak kemudian menyusul lagi SMS : “Wah, apik tenan…”. Istriku memang penggemar Mario. Sebenarnya saya juga, hanya bedanya kalau istriku penggemar Mario Teguh, kalau saya Mario yang suka cat warna kuning temannya Maria.

Akhirnya saya jadi terjaga dan terpancing memberi komentar : “Kata lainnya : Orang-orang itu menjadikan lebaran sebagai tujuan. Padahal mestinya lebaran itu hasil, sedang tujuannya adalah sempurnanya puasa Ramadhan”.

Tidak lama kemudian datang SMS sambungan : “Kesimpulannya, lihatlah diri sendiri sebagaimana apa adanya, jangan……. Terusnya lupa…..he..he..”, tulis istriku.

“Terusnya : Jangan menjadikan orang lain sebagai ukuran. Lalu perhatikan apa yang terjadi…”, balasku kemudian.
“Ngarang!”, balas istriku dengan cepat.
Lha, coba saja diingat-ingat….., kalau enggak percaya”, balas saya lagi.
Yo wis, nanti tak ingat-ingatnya sambil tidur”, balasan cepat dari seberang sana.
“Ya, betul itu”, kataku. Berbalas SMS akhirnya selesai dengan SMS penutup dari saya : “Ini malam selikuran, tambahi tahajudnya”.

Dan, hilang sudah kantuk saya. Kini malah jadi tidak bisa tidur. Berganti dengan rasa lapar yang ditandai dengan munculnya suara kruyuk-kruyuk dari dalam perut. Tolah-toleh di kamar tidak ada yang bisa dimakan, kecuali ada sedikit sisa kacang kulit yang katanya baik untuk jantung. Maksudnya kalau dimakan secukupnya, sebab untuk jenis perut tertentu kalau makan kacang kebanyakan esoknya mencret.

***

Malam selikuran adalah tradisi yang ada di kalangan sebagian masyarakat Jawa yang maksudnya malam tanggal duapuluh satu Ramadhan yang biasanya diwarnai dengan peningkatan aktifitas beribadah di malam hari. Ya tadarus baca Qur’an, dzikir, sholat malam, i’tikaf, sedekah, kajian di masjid, mushola atau surau, dsb. Disebut tradisi karena tidak ada dasarnya. Namun maksudnya adalah…., eh siapa tahu lailatul-qodar (malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan) turun di malam itu, maka banyak orang sudah siap menyongsong kedatangannya dengan ibadah yang lebih giat dari malam-malam lainnya.

Masalahnya, adalah kalau giat beribadah hanya pada malam selikuran saja dengan harapan berjumpa dengan lailatul-qodar, maka itu sama artinya dengan pasang nomor lotere. Berharap ibadah borongannya pada malam itu dapat bernilai lebih dari seribu bulan, sementara pada malam-malam lainnya acuh tak acuh. Berharap mendapatkan kemuliaan pada malam itu, sementara pada malam-malam lainnya tidak mulia tidak apa-apa. Masih lebih baik kalau disertai harap-harap cemas, artinya ada niat kesungguhan di balik ikhtiarnya. Lha kalau berharap thok, berarti dapat ya syukur, tidak dapat yo wis….

Ibadah borongan ini tentu bukan yang dikehendaki Tuhan bagi hambanya yang sedang berbisnis dengan Ramadhan. Salah satu rahasia kenapa Allah swt. tidak memberitahu kapan lailatul-qodar tiba adalah agar hambanya menjaga kontinyuitas ibadah malamnya. Dan bukan diborong dalam satu malam saja seperti Bandung Bondowoso mborong seribu candi dalam semalam dan terakhir mbangun candi Mendut yang nilainya lebih baik dari seribu candi.

Jika demikian, taruhlah lailatul-qodar benar-benar turun pada malam itu. Rasanya cukup fair kalau kemudian para pekerja borongan itu hanya memperoleh lail-nya (malamnya) saja. Sementara qodar-nya (kemuliaannya) numpang lewat untuk melanjutkan perjalanan mencari dan menemui orang lain yang setiap malamnya bersujud penuh rasa harap-harap cemas menunggu datangnya kemuliaan dan ampunan dari Sang Pemilik Malam.

Pada malam itu lalulintas di angkasa sangat padat dan penuh sesak oleh para malaikat yang sibuk naik-turun menggendong kemuliaan kemana-mana untuk dibagi-bagikan gratis kepada setiap hamba yang bersungguh-sungguh dengan ibadah Ramadhannya. Saking padatnya angkasa raya oleh milyaran malaikat dengan kesibukannya, sehingga…

malam yang cerah menjadi temaram dan syahdu…
udara tidak terlalu dingin tidak terlalu hangat
tapi badan merinding tanpa sebab…
suasana terasa hening seolah semua isi bumi sedang bersujud
sambil menitikkan air mata penuh penghambaan….
dan  angin pun berhembus halus memberdirikan helai-helai bulu kuduk
ketika menyapunya dengan belaian lembut….
Subhanallah!

***

Cara beribadah para pekerja borongan itu tidak beda dengan mereka yang menjadikan lebaran sebagai tujuan. Apapun akan dilakukan untuk memanfaatkan momen lebaran sebagai momen memperoleh pengakuan atas sukses yang telah diraih, yang diwujudkan dalam perlambang-perlambang yang tampak di mata. Meski untuk itu mereka berkorban apa saja yang terkadang menjadi tidak rasional. Karena lebaran yang menjadi tujuannya, maka lebaran itulah yang kemudian akan diperolehnya. Bukan kemenangan, bukan kebahagiaan…

Mestinya lebaran adalah sebuah hasil, tujuannya adalah sempurnanya ibadah Ramadhan, prosesnya adalah penghambaan yang ikhlas selama Ramadhan siang dan malam semata-mata karena mengharap keridhoan-Nya. Dalam konteks beribadah, tujuan dan proses (cara mencapainya) adalah sama pentingnya. Adalah tidak benar kalau untuk tujuan beramal lalu diupayakan dengan merampok atau korupsi. Juga tidak betul kalau melakukan sholat, puasa atau sedekah tetapi tujuannya agar disanjung orang lain. Meski antara tujuan dan proses itu hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu.

Jika tujuan dan prosesnya ditunaikan dengan landasan la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa), maka Insya Allah hasil yang diraih akan datang dengan sendirinya, yaitu kemenangan dan kebahagiaan yang tak terukur nilainya di hari fitri nanti. Tak juga dapat disebandingkan dengan mobil atau sepeda motor baru meski kreditan berplat nomor B, pakaian dan perhiasan gemerlap hasil gesekan kartu kredit, lembar uang baru yang dibagi-bagikan kepada anak-anak tetangga, dan aneka perlambang yang semacam itu.

Dan, sang Hasil ini sekarang sedang gelisah merindukan ingin segera berjumpa dengan orang-orang yang tujuan dan proses ibadah Ramadhanya karena imaanan wahtisaban (karena iman dan berharap ridho-Nya). Semoga dalam Ramadhan kali ini (enggak tahu kalau Ramadhan tahun lalu atau tahun depan), kita semua termasuk ke dalam gerombolannya orang-orang yang sedang dirindukan oleh sang Hasil itu. Amin..

Tembagapura, 11 September 2009 (21 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Malam Ke Tujuhbelas

11 September 2009

Ketika mendadak saya diminta datang ke Tembagapura, Papua, di pertengahan Ramadhan ini dan tidak bisa ditawar untuk ditunda usai Lebaran, hati kecil saya rada ngelangut….. Bukan karena jauhnya, bukan karena situasi kurang kondusif pasca insiden tembak-tembakan, dan bukan juga karena komitmen kerja yang menanti di sana. Melainkan lebih disebabkan kekhawatiran jangan-jangan komitmen pribadi untuk berbisnis dengan Ramadhan akan gagal tidak seperti niat ingsun di awalnya. Atau memang ini tantangan menuju kesempurnaan berbisnis dengan Ramadhan?

Apa bedanya ber-Ramadhan di rumah sendiri dengan di tempat orang? Hanya pada keleluasaan kesempatan, kekhusyukan dan tantangannya. Setiap keputusan dan pilihan tentu mengandung konsekuensi dan resiko. Adanya komitmen untuk memenuhi undangan, berakibat waktu yang tersisa menjadi tidak seleluasa dibandingkan dengan komitmen untuk menjalankan rencana kegiatan sendiri di rumah. Ya, ini memang hanya kegalauan perasaan hati yang tidak tampak di mata yang bagi sebagian orang barangkali kedengaran seperti mengada-ada.

Akhirnya, saya mengiyakan permintaan itu. Sempat saya pesimis lalu menyampaikan excuse kepada anak lelaki saya : “Wah, boss…”, kata saya kepada anak lelaki saya. “Sepertinya bapak bakal tidak bisa khatam baca Qur’an kali ini….”. Komentar anak saya malah bernada manas-manasin : “Ah, bapak pasti bisa…!”. Lalu sebuah kitab suci lusuh yang lebih setengahnya sudah saya baca di Ramadhan kali ini pun saya sisipkan di samping laptop di dalam tas ransel yang sama lusuhnya yang akan saya gendong kemana-mana.

***

Hari Minggu, 6 September 2009 sore saya siap terbang meninggalkan bandara Adisutjipto, Jogja. Menurut jadwalnya, Batavia Air yang akan saya tumpangi akan mendarat di bandara Juanda, Surabaya, bersamaan dengan waktu berbuka. Rupanya pesawat ke Surabaya mengalami penundaan sekitar sejam. Tapi itu justru berakibat waktunya jadi nanggung terhadap waktu berbuka puasa, akhirnya pesawat ditunda lebih dua jam guna memberi kesempatan kepada penumpang untuk berbuka dahulu di bandara Jogja sekaligus sholat maghrib. Barangkali inilah jenis penundaan keberangkatan pesawat yang tidak digerutui penumpangnya. Sekotak nasi padang yang rasa padangnya kurang mak nyuss pun dibagikan sebagai teman berbuka.

Tiba di Surabaya langsung check-in ke pesawat Airfast Indonesia yang akan terbang jam 22:35 menuju Makassar dan Timika. Waktu menunggunya cukup lama. Kebetulan, pikir saya. Cukup waktu untuk mampir mushola menunaikan sholat Isya’, lalu sholat tarawih, dan kitab suci lusuh pun saya keluarkan dari tas ransel. Surat An-Nur (surat ke 24 yang berarti cahaya) dapat saya selesaikan membacanya di mushola bandara sambil menunggu saat panggilan boarding. Akhirnya pesawat MD 82 Airfast Indonesia mengangkasa menjelang tengah malam menuju Makassar dan Timika. Sudah terbayang kalau sepanjang malam itu bakal saya lewatkan di angkasa antara Surabaya dan Timika hanya dengan duduk atau tertidur.

Selewat tengah malam, belum lama meninggalkan bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, yang indah, megah dan bertampilan futuristik tapi akustik sistem suaranya mengecewakan, saat liyer-liyer hendak tidur, mendadak dada saya terasa seperti ditekan benda berat. Tarikan nafas menjadi berat sekali, keringat dingin membasahi badan, perut terasa kembung, mata seperti berat untuk dibuka sepertinya ingin segera terlelap, kepala kliyengan dan les-lesan… (entah apa bahasa Indonesianya) seperti berada antara sadar dan menjelang pingsan.

Benar-benar situasi yang tak terlukiskan tidak enaknya. Seumur-umur midar-mider naik pesawat belum pernah saya mengalami situasi yang seperti malam itu. Saya lihat penumpang di sekeliling saya semua ngleker dalam tidurnya, di bawah cahaya temaram kabin pesawat. Sementara saya sendiri klisikan (sibuk dalam hening) menahan sakit dan ketidak-nyamanan yang tak terperikan.

Hampir saja saya memanggil pramugari minta pertolongan saking tidak tahannya merasakan apa yang saya alami. Tapi sempat terpikir, kalau hal itu saya lakukan, betapa seisi pesawat akan geger oleh ulah saya. (Heran juga masih sempat mikir. Inilah jadinya kalau punya otak terbiasa digunakan mikir apa saja. Hanya sedekah dan hajat yang terbuang saja rasanya yang tidak ingin saya pikir…).

Sempat mengingat-ingat tentang hal yang pernah saya dengar dan saya baca terkait fenomena yang saya alami saat itu, sepertinya menyerupai tanda-tanda orang terkena serangan jantung. Sementara saya menyadari adalah seorang yang rentan dengan kemungkinan mengalami hal itu. Seorang perokok, pemalas olah raga, jenis hewan berakal pemakan segala, dan rekam jejak saya dulu pernah divonis dokter memiliki gejala penyumbatan pembuluh jantung, meski kemudian dinyatakan sehat kembali. Uiiih…, klop sudah. Semua syarat terpenuhi. Kemungkinan terburuk segera membayang di pikiran saya. Jangan sampai mengikuti cara Munir, sang tokoh Kontras, menghadap Sang Khalik.

Hal yang kemudian saya lakukan adalah berusaha sekuat tenaga agar tidak pingsan supaya saya tahu persis apa yang terjadi pada setiap detik yang saya lalui dan memastikan bahwa jantung saya tetap berdetak. Selain itu tentu saja berdoa. Segera kalimat-kalimat dzikir menghiasi bibir, hati dan pikiran saya. Sementara penumpang lain tetap terlelap dalam tidurnya, saya berjuang mengatasi masalah saya sendiri.

Saya gunakan kedua kuku ibu jari untuk menekan dan menusuk-nusuk sekuat-kuatnya ujung-ujung jari yang lain, dengan tujuan untuk menciptakan sensasi rasa sakit sesakit-sakitnya agar saya tetap terjaga. Kalaupun sampai berdarah, barangkali saya tidak perduli. Sesekali saya mencoba batuk sebatuk-batuknya meskipun saya tidak sedang sakit batuk, dengan tujuan agar jantung saya terangsang untuk terus bekerja. Kalimat-kalimat dzikir pun terus saya lafalkan dalam hati nyaris tanpa putus.

Sekitar 4-5 menit yang bagi saya malam itu begitu menegangkan, kemudian mereda dan berlalu, kondisi berangsur normal, saya bisa menarik nafas panjang, sedang kalimat dzikir tetap terus tak terputus. Akan tetapi sekitar 15 menit kemudian situasi dramatis itu berulang kembali. Perjuangan yang sama kembali saya lakukan melawan datangnya serangan kedua.

Hingga detik itu sebenanya saya belum tahu pasti apakah itu serangan jantung, serangan perut, serangan atau sebab lain, karena memang saya belum pernah mengalami hal semacam itu sebelumnya. Akan tetapi saya pikir, kemungkinan terburuk haruslah menjadi satu-satunya alasan saya untuk bertindak semaksimal mungkin dalam situasi yang tanpa punya pilihan. Konon, orang dulu sering menyebutnya angin duduk. Tapi duduknya angin ini pun memang tak terduga duduk penyakitnya, artinya bisa berarti macam-macam penyebabnya. Sekitar 4-5 menit serangan kedua berlangsung, lalu situasi kembali mereda.

Tidak berapa lama setelah serangan kedua, kemudian lampu kabin pesawat menjadi terang. Rupanya tiba saatnya pramugari membagikan makan malam menjelang pagi, atau makan sahur bagi yang berpuasa. Tidak sabar rasanya saya ingin segera minum teh manis hangat. Menu pagi itu rupanya lontong opor, mengingatkan saya pada menu unggulan saat Lebaran. Lima iris kecil lontong dengan opor daging (bukan ayam kampung) ditemani sambal dalam sachet dan sebungkus kecil kerupuk, dengan lahap saya habiskan, meski taste opornya sebenarnya agak kurang pas (heran juga, kalau sudah urusan makan sepertinya tak terpengaruh dengan derita yang barusan saya alami).

Serangan fajar rupanya belumlah usai. Kejadian yang pertama dan kedua sebelumnya sungguh membuat saya trauma ketika beberapa menit setelah makan saya mulai merasakan tanda-tanda yang sama seperti sebelumnya. Itulah kemudian datangnya serangan ketiga dan keempat yang berselang sekitar 10-15 menit. Hanya kali ini kekuatannya tidak seberat yang pertama dan kedua. Bagai gempa susulan yang biasanya intensitasnya menurun dibanding gempa utamanya. Tapi perlawananan yang sama kerasnya tetap saya lakukan. Saya tidak ingin lengah sedetikpun. Jangan sampai serangan kelima dan seterusnya datang lagi di saat saya sedang terlelap. Entah sudah berapa ribu kalimat dzikir saya lafalkan tanpa henti, tak juga saat makan dan minum. Karena hanya itu senjata pamungkas yang saya miliki.

Hingga akhirnya saya kecapekan sendiri dan tertidur selama beberapa menit. Sebelum kemudian terbangun dan saya lihat jam di ponsel (saya tidak punya arloji) menunjukkan sekitar pukul 3:30 WITA atau 4:30 WIT, dan saya tidak tahu sedang berada di atas mana. Sholat subuh segera saya tunaikan sambil duduk di pesawat yang sedang menuju ke timur. Kalau dunia ini bulat maka terus menuju ke arah timur akhirnya akan sampai ke barat juga, dan di sana ada kiblat. Tidak lama kemudian dari jendela pesawat tampak langit mulai cerah dengan semburat awan putih mulai menghiasi angkasa Indonesia.

Sekitar jam 5:30 WIT, hari Senin, 7 September 2009, akhirnya pesawat Airfast Indonesia mendarat dengan selamat di bandara Mozes Kilangin, Timika. Lengkap beserta seorang penumpangnya yang semalam tadi merasa nyaris “wassalam”…. Dari pintu kedatangan bandara lalu berpindah menuju ke landasan helikopter, naik ojek bayar Rp 5.000,- dan akhirnya tiba di Tembagapura setelah menempuh perjalanan dengan chopper bersama tumpukan sayur-mayur (harga sayurnya pasti jadi mahal, lha wong naik chopper) sekitar 20 menit menyusuri punggungan pegunungan Papua selatan.

***

Tinggal kemudian saya dheleg-dheleg…. diam tepekur, sambil mencoba merenungi pengalaman dramatis yang saya alami malam itu. Sederet pertanyaan menggelayut di pikiran dan mencari jawabannya. Lakon apa sebenarnya yang sedang diajarkan Tuhan kepada saya dalam perjalanan malam itu? “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya di malam hari minal-Surabaya ilal-Timika…”, begitu yang ingin saya kaji, kalau boleh saya menyitir penggal ayat pertama kitab Qur’an surat Al-Isra’.

Kaidah pertama yang harus saya pegang adalah bahwa saya harus berprasangka baik kepada Tuhan, karena “Aku mengikuti prasangka hambaKu dan Aku menyertainya di mana saja ia ingat Aku”, kata Allah dalam sebuah Hadits Qudsi. Kaidah kedua adalah bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam ini yang kebetulan belaka. Apakah itu adalah cara Tuhan memaksa saya agar beribadah di malam itu, sementara tidak mungkin dengan sholat atau baca kitabnya, maka semalaman saya “dipaksa” berdzikir sejak dini hari hingga pagi tanpa terputus.

Tapi untuk apa Tuhan repot-repot memaksa saya? Jangan-jangan itu adalah jawaban atas kegelisahan dan kegalauan hati saya sebelum saya berangkat yang ketika itu khawatir tidak bisa berbisnis dengan Ramadhan secara sempurna sebagaimana kalau saya tinggal di rumah.

Tapi kenapa harus malam itu saat saya sedang di angkasa entah dimana? Kenapa bukan pada malam berikutnya saja ketika saya sudah santai-santai di pelukan dinginnya hawa pegunungan di Tembagapura? Tiba-tiba…. Subhanallah, Maha Suci Allah, saya baru ngeh bahwa rupanya malam itu adalah malam tujuh belas Ramadhan. Malam dimana segepok ayat-ayat Qur’an diturunkan dari lauhil mahfudz (langit tertinggi) ke baitul izzah (langit dunia), sebelum kemudian di-icrit-icrit (bertahap) diwahyukan kepada nabi Muhammad saw selama 23 tahun.

Malam lailatul qodar? Kalau iya, maka Tuhan sungguh telah menjawab dan memberikan solusi atas kegalauan hati saya. Kalau tidak, maka Tuhan telah menegur dan mengingatkan saya agar jangan terputus berdzikir kepada-Nya kapanpun dan dimanapun saya berada, baik sedang sehat maupun sakit, sedang lapang maupun sempit, sedang suka maupun duka. Wallahu a’lam.

Tembagapura, 9 September 2009 (19 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Goyang Jabar

3 September 2009

Gempa 7,3 SR melanda Jabar, berpusat di laut selatan baratdaya Tasikmalaya, Jawa Barat. Sementara data melaporkan ada sekian puluh jiwa melayang, sekian ratus manusia terluka, sekian ribu rumah rusak parah, dan tak terhitung jumlahnya yang resah wal-gelisah terantuk musibah.

Pikiran saya melayang teringat gempa Jogja 5,9 SR, 27 Mei 2006, ketika di pagi hari tiba-tiba bumi Jogja bergoyang patah-patah selama 57 detik. Padahal pantasnya kalau Jogja itu goyangnya lemah gemulai bak tari Bedoyo, bukannya patah-patah seperti di Jabar yang kemudian menyebakan rumah-rumah rubuh mak breg….., dan sekian ribu manusia pun berpulang ke haribaan Sang Maha Penggoyang.

Siapapun mafhum bahwa gempa itu pasti akan terjadi tanpa aba-aba. Musibah itu akan tetap melanda bumi Jabar dan kawasan sekitarnya, karena memang demikian kepastian yang telah ditulis di dalam buku besarnya Sang Pemilik Bumi. Bukan peristiwa kebetulan, melainkan skenario yang sudah terencanakan dengan manis dan indah. Hanya manusia saja yang seringkali kurang pandai membaca tanda-tanda kebesaran Sang Maha Pemilik Rencana.

Seandainya manusia ini mempunyai kemampuan untuk terbang ke langit tingkat tujuh yang berjuta tahun jaraknya dan kemudian menyaksikan bagaimana sistem tata surya ini bermanuver, niscaya akan paham bahwa bagi Tuhan, bumi ini bak sebutir pasir terbawa angin muter-muter. Maka tahulah bahwa bumi Jabar hanyalah bagian kecil saja dari butir pasir itu, apalagi manusia-manusianya yang pethenthang-pethentheng tidak paham juga kalau keberadaannya nyaris tak terdefinisikan.

Apa artinya? Untuk mengacak-acak bumi Jabar, bagi Tuhan adalah semudah menghembuskan asap rokok Marlboro merah yang diarahkan ke kerumunan pasir, tinggal clik….. seperti menggesekkan ibu jari dan jari tengah…. Lalu berantakanlah bumi Jabar dan manusia-manusianya, Ada yang mati, ada yang hilang, ada yang cedera, dan ada yang menangis, ketakutan, stress, bingung, menggerutu. Tapi ada juga yang ikhlas dan hatinya semeleh, pasrah dan nerimo…., bahwa ini adalah sebuah kepastian. Siap atau tidak siap, sudah kaya atau masih miskin, sudah dilantik jadi anggota Dewan atau masih berperkara, sebodo teuing….. bumi Jabar akan tetap digoyang.

Kalau sedemikian mudahnya Tuhan mengoyang bumi Jabar dan manusia-manusianya. Maka akan sedemikian mudah pula Tuhan menatanya kembali. Bahkan sama mudahnya dengan mengabulkan apapun permintaan manusia-manusia yang barusan dijungkir-balikkan. Tapi coba kita ingat-ingat, kapan terakhir kali kita berdoa mengajukan permohonan dengan penuh kesadaran dan penghambaan kepada Sang Khalik? Padahal itu adalah perintah-Nya dan sekaligus disertai dengan janji-Nya yang pasti bakal dipenuhi. Anehnya, sudah disuruh minta, kemudian dijanjikan bakal dipenuhi, enggak mau juga… Tidak cukup sampai di situ. Bulan mega-bonus pun ditawarkan-Nya. Gratis tanpa modal. Itu pun masih disisipi dengan sebuah malam yang nilainya lebih dari seribu bulan.

Maka penghuni bumi Jabar dan sekitarnya sepertinya pantas bersyukur. Mereka yang kemudian meninggal dunia setelah digoyang patah-patah sedang mereka dalam keadaan berpuasa dengan ikhlas dan khusyuk karena iman dan semata mengharap ridho-Nya (imaanan wah-tisaaban), sepertinya mereka telah menutup episode hidupnya dengan happy ending (khusnul khotimah). Sungguh sebuah anugerah.

Puasa yang ikhlas adalah puasa yang dikerjakan bukan karena enggak enak sama tetangga atau teman kerja sebelah meja. Puasa yang ikhlas adalah puasa yang targetnya seperti diperintahkan-Nya agar la’allakum tattaquun… agar kalian bertakwa. Maka tidak siapapun dapat menilai kualitas ibadah puasa seseorang, karena puasa itu memang diperuntukkan hanya bagi Tuhan dan tidak siapapun bisa turut campur.

Mereka yang kemudian selamat jiwanya sedang mereka ikhlas menerima musibah dan tetap bersyukur, maka mereka sesungguhnya sedang berada sangat dekat di sisi Tuhannya. Doanya sangat dekat dengan kunci terkabulkannya. Ya, doanya mereka yang sedang berpuasa, doanya mereka yang teraniaya oleh musibah, doanya mereka yang sabar dan khusyuk.

(Memang diperlukan skill yang terlatih untuk bisa bersyukur di tengah musibah…, sebuah keterampilan yang tidak begitu saja akan dimiliki seseorang. Benar-benar tidak mudah, belum lagi kalau wartawan televisi memfasilitasi untuk muring-muring di depan kamera ketika bantuan terlambat).

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang penuh keberkahan bagi masyarakat Jabar dan sekitarnya. Goyang Jabar adalah pertanda kecintaan Tuhan kepada manusia yang dipilihnya. Tinggal manusianya dipersilakan untuk memilih : Mau?.

Yogyakarta, 3 September 2009 (13 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Kisah Sebuah Kitab Lusuh

2 September 2009

Sebuah kitab yang tampak lusuh seperti tiba-tiba muncul terselip di rak buku. Mulanya biasa saja, setiap kali menatapnya tak sekali pun tergerak ingin tahu lebih jauh, padahal buku asing itu sebelumnya tak pernah ada di sana. Dari kenampakannya saya yakin buku lusuh itu adalah kitab Al-Qur’an.

Sampai kemudian bulan Ramadhan tiba. Saya pikir, inilah waktu yang tepat untuk pegang-pegang kitab suci. Cara pikir yang lugu tenan…., yang tanpa disadari sering muncul dalam pikirannya orang-orang pemegang KTP Islam. Seolah-olah waktu di luar Ramadhan adalah bukan waktu yang tepat untuk berurusan dengan kitab suci. Mau pegang kitab suci saja kok menunggu musimnya, seperti musim ujian bagi mahasiswa, musim liburan, musim durian, dan musim-musim lainnya. Mirip-mirip kalau orang baru terpikir soal pajak setiap tiba bulan Maret, atau baru berencana memiliki sarung dan kopiyah baru ketika Lebaran menjelang.

Ketika kemudian kitab lusuh itu benar-benar saya ambil, betapa saya rada terperanjat, surprise…. Lho, ini kan kitab yang dulu saya miliki dan pernah saya cari-cari, kok tiba-tiba muncul di sini? Kemana saja selama ini? Kata istri saya yang menemukannya ketika sedang bersih-bersih rumah : “Ya embuh, wong ada di situ….”.

Kitab kecil dengan sampul hardcover warna biru tua sekali, berukuran 10 cm x 15 cm dan tebal 2 cm itu adalah oleh-oleh almarhum ayah saya ketika dulu pulang dari tanah suci. Dulu kitab itu selalu menghiasi di dalam tas punggung saya. Menghiasi tapi di dalam tas, itu karena memang yang menikmati hiasan itu bukan mata melainkan hati, jadi tidak harus nampak di mata. Sampai ketika saya pensiun dari pekerjaan saya di Papua dan kembali ke Jogja, kitab itu tiba-tiba menghilang dari peredaran. Hanya karena saya memiliki banyak penggantinya, maka saya merasa tidak perlu mempersoalkan raibnya kitab suci itu. Toh, apapun jenis dan modelnya selama masih bernama Qur’an isinya pasti sama. Dan, saya hanya perlu isinya.

Saya memang punya kebiasaan menyisipkan kitab suci di dalam tas, termasuk tas punggung. Ya pergi kerja, ke lapangan, traveling, sampai mendaki gunung pun kitab suci selalu ada di dalam tas punggung yang tak gendong kemana-mana…. Untuk apa? Kalau sempat akan saya baca-baca (tapi lebih sering tidak sempatnya….). Hanya karena saya percaya bahwa pasti ada gunanya, minimal menjaga aura, maka tetap saja kitab suci itu tak gendong kemana-mana… Pengalaman terakhir adalah saat menunggu ayah saya yang sedang sakaratul maut di sebuah rumah sakit di Semarang setahun yll, saya tinggal merogoh tas punggung untuk meraih Qur’an kecil yang pada bagian surat Yasin sudah saya lipat halamannya.

Seperti halnya kitab suci lusuh yang barusan saya temukan dan saya yakin itu adalah kitab suci saya yang raib sekian tahun yll, karena pada beberapa bagian tertentu masih terlihat halaman yang saya lipat agar kalau saya mau membaca surat-surat tertentu dari Al Qur’an, maka mudah mencarinya. Saya memang punya surat-surat favorit, seperti surat Yasin, Yusuf, Fush-shilat, As-Sajadah, dan beberapa lainnya. Entah kenapa saya menyukai surat-surat itu sehingga relatif lebih sering saya baca ketimbang surat-surat lainnya. Meski begitu, seprana-seprene… ya enggak hafal juga, karena itu kitabnya perlu tak gendong kemana-mana. Hanya agak celingukan ketika hendak mampir ke toilet, mau dibawa masuk kok enggak etis amat, mau ditinggal di luar khawatir orang lain nanti yang nggendong kemana-mana….

Baru sekarang saya tahu bahwa rupanya dulu kitab itu diambil dan sering dibawa anak lelaki saya ke sekolah, yang waktu itu masih kelas 5 SD. Maka kalau kemudian kitab itu jadi terlihat lusuh, sampul luarnya kusam, halaman putihnya berubah lethek (berwarna kehitaman agak kotor), ada halaman yang lepas lalu dipasang lagi semaunya…, ya maklum, namanya juga anak-anak. Bahkan juga kehujanan, buktinya lebih 600 halamannya pada lengket. Untungnya itu buku suci bikinan luar negeri, produksi percetakan Madinah di atas kertas berkualitas bagus, sehingga ketika halaman-halaman lengket yang jumlahnya lebih 600 itu saya buka satu persatu, bisa dengan mudah diurai. Saya bayangkan kalau kualitas kertasnya seadanya seperti banyak kitab bikinan dalam negeri, pasti pada sobek dan terkelupas tulisannya.

Meski kitab kecil itu kini tampak lusuh, tapi saya bangga memilikinya. Sebab, berarti selama ini kitab itu sering dibuka dan dibaca, entah oleh siapa. Setidaknya ada manfaatnya dibanding kalau kitab itu saya taruh di dalam sangkar lemari kaca bening berlampu sehingga selalu terlihat bagus dan bersih karena tidak pernah disentuh, bahkan di “musim beribadah” di bulan Ramadhan. Disentuh saja tidak, apalagi dibuka, dibaca dan dikaji isinya.

Kini, kitab lusuh itu kembali menghiasi isi tas ransel saya (menghiasi tapi tidak terlihat mata). Mudah-mudahan membantu upaya saya untuk berbisnis dengan Ramadhan, ketika saya sedang ke luar kota. Ukurannya yang agak kecil memudahkan untuk nyisip di dalam ransel yang tak gendong kemana-mana….

Yogyakarta, 2 September 2009 (12 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar