Posts Tagged ‘kendal’

Memanfaatkan Sepetak Tanah

9 Januari 2011

Masalahnya adalah, siapa yang telaten (tekun dan sabar) memanfaatkan sepetak tanah, mengolah seperlunya, menyebar bibit cabe, menyiramnya, menunggunya 2-3 bulan… Lalu diceplus (dimakan) sampai mulas… (Desa Tanjungsari, Kec. Rowosari, Kendal)

Kendal, 8 Januari 2011
Yusuf Iskandar

“Jalan” Hidup Padat Merayap

20 September 2010

Masih suasana lebaran. Tukang parkir di pasar Kendal, Jateng, dibayar Rp 2.000,- ngotot mengembalikan yang seribu. “Niki kunduripun..! (ini kembaliannya)”. Tukang parkir di sebuah bank di Jogja, disodori uang ditolaknya mentah-mentah. “Mboten usah, mboten usah…! (nggak usah)”. Lho kok masih ada yang memilih “jalan” hidup dengan konsekuensi padat-merayap begitu, di saat banyak “jalan alternatif” dapat ditempuh ramai-lancar tanpa komplain..

Yogyakarta, 16 September 2010
Yusuf Iskandar

Bakso Balungan, Soto Ayam Dan Sate Kerang

16 September 2010

Hari kedua lebaran, cita-citanya mau menikmati bakso balungan (tulang) “Sido Muncul” di depan pasar Kendal (Jateng). Tapi berhubung balungan-nya habis, bakso zonder balungan pun jadi untuk tombo ati. “Harus ada kompensasi”, kata anak lanang. Maka selesai mbakso pindah ke warung di seberangnya, lalu nyoto ayam dan sate kerang “Pak No”.

Jadi? Sekali memarkir kendaraan, dua-tiga menu ternikmati… Lebaran je…!

Yogyakarta, 12 September 2010
Yusuf Iskandar

Petani Itu Pun Menangis

16 September 2010

Melintasi rute Temanggung – Kendal, via Parakan, Sukorejo, Weleri. Ini salah satu kawasan sentra tembakau di Jateng, yang para petaninya bisa sekali waktu kaya mendadak dan di saat yang lain terpuruk-ruk-ruk-ruk…

Seperti lebaran kali ini, udan salah mongso (hujan salah musim) telah menghancurkan mimpi indah para petani itu, produksi tembakaunya hancur. Tidak ada lebaran bagi mereka. Dan, para petani itu pun menangis…

Yogyakarta, 12 September 2010
Yusuf Iskandar

Perjalanan Silaturrahim Ke Kendal

12 September 2010

Trip of the silaturrahim’s day: Jogja – Magelang – Temanggung – Parakan – Sukorejo – Weleri – Kendal, tidak padat tidak merayap ramai lancar, kondisi jalan relatif bagus, pemandangan pegunungan cukup menarik.

***

Akhirnya tiba kembali di Jogja setelah menempuh perjalanan sore – malam: Kendal – Semarang – Magelang – Jogja, ramai lancar tidak padat tidak merayap, kecuali penggal Secang – Magelang yang benar-benar puadet merayap. Hujan deras antara Ungaran – Bawen dan Muntilan – Jogja. Kelancaran perjalanan hari ini tak seburuk yang saya kira sebelumnya.

Kendal – Jogja, 11 September 2010
Yusuf Iskandar

Tertidur Di Masjid

29 Agustus 2010

Usai dzuhur di masjid langgananku. Lalu berbaring di terasnya, yang sejuk lantainya, semilir anginnya, tapi berisik karena ada di pinggir jalan raya. Terlena juga akhirnya, lumayan bisa terlelap sebentar, cukup beberapa puluh menit saja (90 menitan kale…).

Kuingat-ingat kapan ya terakhir aku tidur di masjid saat siang puasa Ramadhan yang terik seperti ini…. Ya, sepertinya itu kualami puluhan tahun yll, saat masa kecil di Kendal, pantura Jateng.

Yogyakarta, 28 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Dari Kendal Ke Dieng

25 Februari 2010

Hari ini menjajal trayek: Kendal – Batang – Subah – Bandar – Batur – Dieng – Wonosobo. Rute ini belum pernah saya lalui. Mudah-mudahan kondisi jalan layak untuk didaki dengan ‘Jazz’. Kalau ternyata tidak? Lha ya balik lagi. Gitu aja kok repot…! Maka agar Jazz kuat mendaki, sopirnya berhenti dulu makan sate kambing ‘Bu Tris’ (Bu Tris ini bukan nama kambing) di Banyuputih, Batang.

Banyuputih – Batang, 22 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Mbelah Duren Di Boja

25 Februari 2010

Menjalani trayek Jogja – Klaten – Boyolali – Salatiga – Semarang – Kendal. Mampir kec. Boja mbelah duren… Aaah, ritual mbelah duren langsung di sumbernya, dimana durian berjatuhan dari pohonnya… (Trims untuk Kang Djumarno dan keluarga, serta teman-teman se-SMA 30 tahun yll).

Yogyakarta, 21 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Sehari Di Kendal

2 Desember 2009

Makan siang dengan menu ikan blanak bakar + kerang rebus, sambal terasi campur petis sedikit, di warung ‘Lek Di’, Jl. Tentara Pelajar, Kendal.

Tiga kegiatan penting hari ini: Pertama, takziah kepada keluarga teman yang meninggal karena kecelakaan kerja. Kedua, ziarah ke makam kedua orangg tua. Ketiga, silaturahim ke Kepsek SMP saya dulu, umur 74 tahun tapi masih sehat-bugar. Note: 1 & 2 untuk mengingat mati, 3 untuk tahu rahasia umur panjang.

Kendal, 1 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Soto Betawi Slipi

2 Desember 2009

Nyoto Betawi di Slipi, lalu ngejar burung Garuda ke Semarang.

(Usai meeting di Jakarta, segera meluncur ke bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Semarang dan selanjutnya mampir ke kampung halaman di Kendal, meski hanya untuk semalam saja. Mengingat belum sempat makan siang, seorang teman mengajak mampir ke warung soto Betawi di bilangan Slipi. Ternyata memang enak tenan…)

Jakarta, 30 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Kendal Kaline Banjir

15 November 2009

Sewaktu tempat-tempat lain tidak banjir, kota Kendal banjir. Sewaktu tempat-tempat lain kena banjir, Kendal tambah buuuanjir. Begitu karakter kota kelahiran saya, Kendal yang letaknya 30 km di sebelah barat Semarang, yang identik dengan banjir.

Mereka yang dulu sering menjalani rute pantura Semarang – Jakarta, pasti familiar dengan kota ini setiap kali datang musim rendeng (penghujan). Sampai kini pun kota ini tetap menjadi langganan banjir. Bedanya, kalau dulu banjir sering memutus jalan raya seperti yang sekarang terjadi di jalur Pati – Rembang. Kalau sekarang karena jalan raya semakin ditinggikan, tinggal perkampungan di sekitarnya tetap banjir.

Nampaknya sudah jadi tradisi alam, bahwa “berkahnya” Kendal datang bersama datangnya banjir. Siapa tahu?

Banjir kali ini munculnya seperti guyonan, silih berganti banjir-surut-banjir-surut, berulang kali. Baru saja selesai membersihkan latri (istilah lokal untuk tanah laterit atau lumpur) di dalam rumah, ngos-ngosannya belum hilang, lalu datang banjir mengirim lumpur lagi. Dibersihkan lagi, lalu datang lagi. Begitu dalam dua minggu terakhir ini. Kalau lumpur sudah masuk rumah, tinggi se-polok (tumit) atau se-gares (betis) tidak ada bedanya, sama-sama kudu brangkangan ngosek latri (sambil merangkak membersihkan lumpur) di dalam rumah.

Untungnya Pemkab Kendal cepat tanggap, bantuan beras, uang, dapur umum, cepat mengalir dan in-action. Tapi ya selalu saja ada pihak yang kurang puas dan juga yang “nakal”. Nampaknya dimana-mana kok ya begitu. Pihak Pemkab “cepat berbuat sesuatu” rasanya sudah sangat baiklah, tinggal dibutuhkan orang (pejabat) yang mau belajar bagaimana membenahi sistemnya agar semakin baik dalam management penanganan bencana.

(Padahal banjir sudah datang sejak dahulu kala, tapi belajarnya kok enggak selesai-selesai?)

Tadi malam, dari Jakarta saya mampir Kendal. Jalan Semarang – Kendal rusak parah. Pengemudi kendaraan, lebih-lebih sepeda motor di malam hari, perlu ekstra sabar dan hati-hati. Sangat berbahaya. Banyak lubang tidak terlihat. Taksi yang saya tumpangi dari bandara Ahmad Yani Semarang yang biasanya suka ngebut, kali ini sopirnya agak spaneng (stress), menthelengi dalan (melototi jalan), ngiwo-nengen milih dalan (ke kiri-ke kanan memilih jalan bagus), bolak-balik mak jeglak-jegluk….. terjebak lubang.

Sejak kemarin hingga hari ini, hujan seperti tidak berhenti. Cuaca memang membuat malas. Kasihan anak-anak sekolah. Belum lagi mereka yang rumahnya kebanjiran sejak Senin, bahkan sejak akhir minggu lalu dan belum tuntas membersihkannya, pasti sangat direpotkan.

Tinggal “uji nyali”, siapa yang mampu menjadi “pemenang” dalam keterdesakan, kesulitan dan cobaan semacam ini.

Saya ke Kendal bukan dalam rangka mau “banjiran” (istilah lokal yang maksudnya berekreasi banjir bagi mereka yang tidak kebanjian, wong rekreasi kok menikmati banjir…..) melainkan menjenguk orang tua yang sedang sakit. Rumah masa kecil saya sekarang kalau musim banjir mulai sering ikut-ikutan dimasuki air plus lumpur. Padahal dulu kampung saya termasuk daerah bebas banjir.

Memang benar, sungai-sungai semakin dangkal sehingga air cepat meluber kemana-mana seperti lumpur Sidoarjo. Waktu kecil dulu seingat saya permukaan air berada jauh dari permukaan jalan. Kalau ciblon (mandi di sungai) dengan meloncat dari jembatan ke permukaan sungai, serasa seperti sedang meloncat dari papan loncat kolam renang bertaraf internasional. Tapi kini permukaan air sepertinya mudah untuk diraih, juga semakin buthek (keruh).

Keadaan pendangkalan sungai semacam ini sepertinya juga terjadi di berbagai daerah. Semakin tanggul pelindung rumah atau kampung ditinggikan, air pun semakin mencari celah untuk melampauinya. Semakin jalan ditinggikan, air pun semakin leluasa nyambangi rumah dan perkampungan di sekitarnya.

Menyitir lagunya Waljinah :

Kendal kaline wungu, ajar kenal karo aku…..
Kendal kaline banjir, yen ora kenal ora usah dipikir…..

Kendal kaline banjir, yen pingin kenal (Kendal) yo monggo mampir….. ngrewangi ngosek lumpur (membantu membersihkan lumpur) maksudnya.

Salam banjir dari Kendal, 21 Pebruari 2008
Yusuf Iskandar

Catatan Di Hari-hari Silaturrahmi (Lebaran 1430H)

30 September 2009

Usai Panen Raya Ramadhan

Panen raya itu sudah bubar… Lontong, ketupat, opor menthok atau enthok (dagingnya lebih padat, tidak segurih daging ayam, berminyak, nek, tapi hoenak dan tampil beda…), mengiringi penutupan panen….. Kini, tinggal hati masing-masing menghitung pembukuan keuntungan yang dapat diraih setelah sebulan berbisnis dengan Ramadhan, atau jangan-jangan hanya sekedar….. “capek deh…”

(Panen raya yang saya maksudkan adalah panen pahala dan balasan kebaikan yang dijanjikan Allah swt dengan beribadah Ramadhan, dan pembukuan keuntungan yang saya maksudkan adalah catatan amal ibadah selama Ramadhan)

Yogyakarta, 20 September 2009 (1 Syawal 1430H)

——-

Ke Kendal

Bosan dengan opor ayam & menthok (enthok), mampir warung sate kerbau bumbon di Pegandon, Kendal. Bukan sekedar beda, tapi hoenaknya….

(Dalam perjalanan ke kampung halaman di Kendal, di sela-sela nyekar ke makam orang tua, bersilaturrahim, lalu nyate…..)

Kendal, 21 September 2009 (2 Syawal 1430H)

***

Bosan dengan kue lebaran…. Kebetulan sepulang dari rumah embahnya, anakku ngangkut singkong dari hasil kebun sendiri. Rupanya mbakar singkong yang kemudian dilakukan anakku…… (juga bapaknya….).

Yogyakarta, 22 September 2009 (3 Syawal 1430H)

——-

Kembali Ke Toko

Menata kembali isi toko yg morat-marit setelah “diobrak-abrik” pembeli yang belanja keperluan lebaran, sejak H-2. Capek tapi senang….. Bahkan H+4 pembeli masih ramai lebih dari hari biasanya. Rupanya kebutuhan harian tidak bisa ditunda…

Puasa bukan berarti mengurangi makan, melainkan me-reschedule. Lebaran juga bukan berarti banyak makan, melainkan kebanyakan enggak apa-apa. Inilah salah satu keunggulan bisnis ritel….

Yogyakarta, 23 September 2009 (4 Syawal 1430H)

——-

Ultah

Satu-satunya kejadian yang menandai bahwa hari ini saya berulangtahun adalah sindiran-guyonan anak perempuan saya tadi siang. Katanya : “Wah, hari ini bakal ada yg nraktir makan, nih….”. Selebihnya live must go on as usual‘….. Ndeso tenan….

Yogyakarta, 23 September 2009 (4 Syawal 1430H)

——-

Ke Semarang

Jalur Jogja-Semarang hari ini ramai-lancar-padat-merayap… Intinya, kudu sabar & enggak boleh terburu-buru sampai (tujuan)…

(Jalur merayap ini terutama antara Muntilan-Magelang-Secang dimana hanya terdiri dari satu lajur untuk masing-masing arah. Di seputaran Ungaran, Kab.,Semarang, juga kembali merayap)

Semarang, 24 September 2009 (5 Syawal 1430H)

***

Serabi Ngampin

Mampir mencicipi kue serabi di Ngampin, selatan Ambarawa. Lumayan, ketemu model jajanan berbeda. Semangkuk 4000 rupiah isi 5 (lembar) serabi + santan manis….

(Banyak warung-warung penjual serabi di sepanjang pinggiran jalan selewat kota Ambarawa kalau dari arah utara. Kawasan ini ramai dengan penjual serabi sejak beberapa tahun terakhir ini. Sebelumnya serabi Ngampin pinggir jalan hanya muncul kalau Ramadhan dan Lebaran, tapi sekarang sepanjang waktu ada, bergabung dengan penjual kelengkeng, durian, rambutan, dan aneka jajanan….)

Ambarawa, 24 September 2009 (5 Syawal 1430H)

——-

Ramai-Lancar-Padat-Merayap

Istilah baru (oleh wartawan TV) yang mulai akrab di telingaku : Lalulintas ‘ramai-lancar’….., agaknya lawan dari ‘padat-merayap’ yang lebih dulu populer. Meski begitu, waktu menjalani jalur Jogja-Semarang kemarin, ternyata ‘ramai-lancar-padat-merayap’….. (enggak usah dicari lawannya).

Yogyakarta, 25 September 2009 (6 Syawal 1430H)

——-

Bersama Para Miner Di Banaran Café Jogja

Tadi malam hadir di acara silaturrahim informal dengan para miner (buruh tambang alumni UPN) di Banaran Cafe, Jogja. Rupanya ini cafe masih ada hubungan saudara dengan dua Warung Kopi Banaran yang ada di Bawen dan Ambarawa, tapi lain ayah & lain ibu (alias beda manajemen). Kopinya yang di Banaran Jogja kalah theng dibanding yang di Bawen atau Ambarawa….

(Banaran café Jogja berada di lantai bawah gedung LPP, Jl. Solo. Rupanya semua café milik PTP di Indonesia bernama Banaran… Di Jogja termasuk café kecil dan tidak sekomplit yang di Bawen atau Ambarawa)

Yogyakarta, 27 September 2009 (8 Syawal 1430H)

***

Menjamu Sahabat Lama Di Resto Numani Jogja

Makan malam dengan sahabat lama (ex teman kerja & teman mendaki Rinjani) di Resto ‘Numani’ Jl. Parangtritis Jogja spesialis gurameh segar yang bisa bikin tuman (bhs Jawa : ketagihan)…. Gurameh bakar, cumi dan udang goreng …tapi tidak panas, cah kangkung, petai goreng, sambal mentah, dan trancam (sejenis karedok, bukan terancam)…. Yang terakhir ini pas di pencecap…..

(Lokasi Resto Numani berada di sekitar km 7 Jl. Parangtitis, kalau dari arah utara selewat perempatan Ringroad dan setelah Taman Seni Gabusan Bantul)

Yogyakarta, 27 September 2009 (8 Syawal 1430H)

——-

Antara Mendaki Gunung Dan Omset Toko

Mendaki gunung adalah mencapai puncak tertentu setelah itu turun lagi ke elevasi pengalaman & keterampilan lebih tinggi. Anakku sudah membuktikannya — Sama seperti mengejar omset warung saat lebaran : muncak lalu turun lagi pada elevasi omset lebih tinggi dari sebelumnya. Giliran saya membuktikannya.

Inilah yang paling saya sukai ketika ngurus warung mracangan… Puji Tuhan walhamdulillah

(Anakku mendaki gunung Lawu, 25-27 Sepember 2009, sebagai pendakian yang kesekian kalinya. Di sisi lain, omset “Madurejo Swalayan” mulai menurun sejak mencapai puncaknya pada H-1 Lebaran kemarin, tapi Alhamdulillah masih lebih tinggi dibanding hari-hari sebelum Ramadhan)

Yogyakarta, 28 September 2009 (9 Syawal 1430H)
Yusuf Iskandar

Sukses

31 Oktober 2008

Lebaran yang lalu saya menghadiri acara temu kangen dengan teman-teman SMA dulu, di sebuah pendopo kecamatan di Kendal. Kemasan acaranya pun rodo ndeso, yaitu sunatan masal sekaligus halal-bihalal. Lha wong namanya lagi asyik ketemu teman-teman yang 30-an tahun yang lalu pernah se-SMA, maka anak-anak yang sunat ya silakan nyincing sarung sunat-sunatan dan yang pada kangen ya silakan kangen-kangenan.

Beberapa hari yang lalu saya juga menghadiri acara reuni dan halal-bihalal dengan teman-teman sealmamater yang tinggal di seputar Jakarta, di sebuah hotel berbintang. Berbeda dengan reuni di kampung, kemasan acara di Jakarta sudah barang tentu lebih berbintang dengan tema yang lebih canggih.

Topik utama yang seringkali menjadi menu obrolan saat orang-orang bereuni adalah tema tentang kesuksesan. Siapa yang tidak turut merasa bangga kalau ada teman sekolahnya dulu, sekarang sudah jadi orang. Ada yang jadi pejabat negeri, jadi pengusaha sukses, jadi selebriti terkenal, atau jadi-jadian lainnya.

“Padahal dia itu dulu sangat pendiam dan kurang gaul….”, kata seorang teman berkomentar.
“Dulu dia itu bodoh banget lho…”, guyon yang lain.
“Malas sekali dia dulu, dan suka nyontek…”, celetuk yang lain lagi.

Atau sebaliknya : “Kasihan ya, dulu kan bintang kelas, ranking satu terus….”. Dan seterusnya, yang kesemuanya dibingkai dalam suasana cengengesan penuh canda dan keakraban.

***

Ukuran kesuksesan selalu dikaitkan dengan apa yang tampak di luarnya. Jadi apa dia, atau punya apa dia. Kita pun sering terkagum dalam hati menyaksikan kesuksesan teman-teman kita. Tentu, sudah semestinya kita turut merasa bangga dan memberi apresiasi atas pencapaian itu. Bagaimanapun juga, kesuksesan itu adalah buah dari kerja kerasnya.

Namun terkadang saya tidak bisa dan merasa tidak cukup hanya berhenti sampai di situ saja. Ada hal lain yang seringkali menggelitik hati saya. Hal lain yang tidak kasat mata, yang tidak tampak di luarnya, melainkan harus dicari dan digali melalui obrolan dan percakapan. Hal lain inilah, bagi saya adalah juga sebuah kesuksesan.     

Dari obrolan dan perbincangan akrab dengan teman lama, akhirnya saya temukan kesuksesan-kesuksesan yang tidak kasat mata itu. Teman yang sewaktu sekolah dulu kurang gaul itu ternyata sekarang sudah menjadi seorang pengusaha. Bahkan berhasil membantu temannya yang lain yang sedang terpuruk usahanya untuk bangkit lagi.

Teman lain yang dulu suka nyontek dan kini sudah jadi pejabat negeri juga berhasil membantu membuka jalan bagi teman lainnya yang seprana-seprene masih tidak jelas pekerjaannya. Ada juga yang telah berhasil membuka banyak lapangan pekerjaan kecil-kecilan di desanya. 

Seorang teman lain yang dulu nduablek setengah mati dan sering dianggap madesu (masa depan suram), lha kok sekarang jadi orang alim. Dulu suka “prek” dengan urusan ibadah, sekarang sering mengingatkan agar jangan lupa bersedekah.

Ada juga teman yang kehidupannya biasa-biasa saja, tapi sering mengintip 40 keluarga tetangganya apakah ada yang kesulitan makan. Ada teman juga yang meski mampu tapi memilih untuk menunda pergi haji karena lebih mementingkan lebih dahulu ingin mengantarkan adik-adiknya menyelesaikan studi hingga bisa hidup mandiri. Teman lain lagi di tengah kesibukannya masih menyempatkan ngumpulke balung pisah (mengumpulkan tulang yang berserakan)….., rajin mengumpulkan dan mengontak teman-teman lama agar terus terjaga tali silaturrahim.

Kesuksesan-kesuksesan kecil yang tidak tampak dari luar seperti ini seringkali lebih bisa saya nikmati. Seringkali mampu menjadi penerang hati yang lagi temaram bahkan gelap. Seringkali terasa lebih sejuk dan membangunkan saya dari mimpi.

Kesuksesan yang pertama memang lebih pada ukuran kuantitas, berdimensi duniawi dan karena itu tidak abadi. Jika Sang Empunya Dunia menghendaki, bisa bablasss tak berbekas dalam sekejap, bahkan lebih cepat dari sakit mencret. Sedang kesuksesan yang kedua lebih pada ukuran kualitas, berdimensi akherat dan karena itu lebih hakiki. Kalaupun segera mati, kebaikannya akan terus mengalir tiada henti.

Oleh karena itu, hal yang paling saya sukai dan nikmati ketika berada dalam forum pertemuan dan silaturrahim adalah kalau saya dapat menyibak dan menemukan kesuksesan-kesuksesan kecil yang tidak kasat mata itu. Kesuksesan lahiriah tetap perlu, kesuksesan batiniah lebih perlu. Keduanya perlu dipuji, diapresiasi, diteladani, dihikmahi dan disyukuri.

Tapi sayang, seringkali saya hanya bisa menggunakan otak saya thok. Akibatnya saya lebih sering menerima sinyal SMS alias merasa Senang Melihat (orang lain) Susah atau Susah Melihat (orang lain) Senang. Padahal ketika saya mau menyedekahkan sedikit saja tempat di hati saya……, walah…. hidup berjama’ah di muka bumi ini kok jebulnya yo elok tenan……

Yogyakarta, 31 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Semua Pasti Kembali Kepada-Nya

22 Oktober 2008

Beberapa waktu terakhir ini saya agak jauh dari internet. Itu karena lagi sibuk mengurusi bapak saya yang sedang kritis sakitnya hingga akhirnya berpulang ke hadirat Illahi, Tuhan Seru Sekalian Alam Raya, pada hari Minggu Kliwon, 19 Oktober 2008, jam 12:00 WIB di Rumah Sakit Telogorejo Semarang, dalam usia 75 tahun. Jenazah dimakamkan pada hari itu juga jam 16:30 WIB di Kendal (Jawa Tengah).

Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.
Sesungguhnya semua itu berasal dari Allah, dan (akhirnya) semua pasti akan kembali kepada-Nya jua.

Kendal, 22 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

5 Februari 2008

Pengantar :

Berikut ini catatan perjalanan saya ketika mendadak harus pulang kampung saat ibu saya meninggal dunia dan saya tidak sempat menangi untuk mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Semoga ada hikmah yang bisa diambil di balik pengalaman perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans menuju Kendal yang sangat melelahkan. Terutama bagi rekan-rekan yang garis nasibnya telah membawanya untuk bekerja di tempat yang jauh dari sanak famili.-

(1).     Jika Mendadak Harus Pulang Kampung
(2).     Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba
(3).     Jika Waktu Dzuhur Begitu Panjang
(4).     Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat
(5).     Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa
(6).     Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo
(7).     Jika Ingin Tilpun dari Tilpun Umum Di Bandara Narita
(8).     Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi
(9).     Jika Pilihan Saya Ternyata Salah
(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency
(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir
(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(1).   Jika Mendadak Harus Pulang Kampung

Hari itu, Jum’at, 11 Pebruari 2000. saya harus memutuskan untuk segera pulang kampung karena ibu saya dalam kondisi kritis dan sudah masuk ICU di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Sejak tiga hari sebelumnya ketika pertama kali menerima kabar dari kampung bahwa ibu saya masuk Rumah Sakit, saya memang sudah mulai berhitung untuk pulang ke tanah air. Tapi kapan ?

Ternyata memilih hari adalah keputusan yang tidak mudah. Barangkali karena saya punya pengalaman yang tidak menguntungkan, yaitu saat menanti kelahiran anak pertama saya. Tahun 1991, saat saya masih bertugas di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara, dimana komunikasi ke luar job-site masih jadi kendala. Saya berangkat cuti sekitar dua hari sebelum hari H yang diperkirakan dokter anak saya akan lahir.

Harap-harap cemas menyertai hari-hari cuti saya di Yogya. Lewat satu minggu cuti belum ada tanda-tanda bayi akan lahir. Hingga hari kesepuluh, masih juga belum. Hari ke-11, 12, 13, terlewati masih juga belum ada tanda-tanda istri akan melahirkan. Dalam hati saya sempat ngedumel : “doktere ngapusi” (dokternya bohong). Apa boleh buat, jatah cuti dua minggu habis, maka terpaksa pulang ke job-site tinggal membawa rasa cemas saja, rasa harapnya sudah saya titipkan istri saya di Yogya. Sebenarnya bisa saja memperpanjang cuti, tapi masalahnya harus jelas sampai kapan memperpanjangnya. Dan ini yang susah.

Hari kedua setiba di job-site, saya terima tilgram bahwa istri saya sudah melahirkan dengan selamat. Akhirnya, ya cuti lagi, tapi tidak menangi (sempat melihat atau mengalami) detik-detik kemerdekaan jabang bayi anak pertama saya. Pengalaman inilah yang membuat saya sulit untuk memutuskan kapan harus pulang menjenguk ibu yang sedang ada di Rumah Sakit. Meskipun akhirnya, hari Jum’at itu saya putuskan untuk secepatnya harus pulang.

Kemudian ternyata tidak mudah untuk memperoleh tiket penerbangan dari New Orleans menuju Semarang, sebelum nantinya saya sambung dengan taksi ke Kendal. Kesulitan memperoleh tiket ini disebabkan oleh dua alasan : mendadak dan di akhir pekan. Saya dan keluarga sempat bimbang, antara saya pulang sendirian atau bersama semua keluarga. Keputusan akhirnya, saya pulang sendirian. Bukan soal biayanya, melainkan karena pertimbangan cuti pamit dari kantor yang hanya dua minggu padahal perjalanan cukup jauh, juga lantaran anak-anak sedang enjoy dengan sekolahnya.

Anak saya yang kelas 3 SD kelihatan gelo (menyesal) untuk meninggalkan sekolah sewaktu mau saya ajak pulang ke kampung. Selain itu juga lebih sulit mendapatkan tiket untuk empat orang dalam keadaan mendadak. Dengan akhirnya saya berangkat sendirian, ternyata nantinya ini akan memudahkan perjalanan saya untuk ber-manouver lebih bebas guna mencari alternatif penerbangan yang lebih cepat dalam situasi emergency seperti ini.

Agaknya, di Amerika sarana transportasi udara sudah menjadi kebutuhan, layaknya kereta api atau bis malam di Jawa. Bukan lagi kemewahan untuk mendapatkan privilege. Jika harus membeli tiket pesawat mendadak, maka selain sulit untuk membuat pilihan-pilihan, juga mesti siap dengan harga tiket yang lebih tinggi.

Dalam situasi tidak mendadak, peluang untuk memperoleh harga tiket murah sangat dimungkinkan, bahkan bisa kurang dari seperempatnya. Demikian halnya di saat akhir pekan (biasanya hari Jum’at hingga Minggu) adalah saat padat penumpang yang akan liburan ke luar kota atau pulang ke daerah asalnya bagi para pekerja pendatang dari lain kota.

Untungnya soal harga tiket ini sudah tidak menjadi perhitungan saya, karena perjalanan saya dibiayai oleh kantor. Meskipun demikian toh saya tidak berhasil memperoleh tiket untuk hari Sabtu besoknya.

Berkat bantuan sekretaris kantor yang berbaik hati menguruskan tiket (meskipun saat itu dia sedang berakhir pekan), saya bisa berangkat hari Minggunya. Pemesanan tiket melalui layanan 24 jam tiket elektronik (e-ticket) melalui media internet, memudahkan saya untuk hari Minggunya tinggal datang saja langsung ke bandara. Dengan menunjukkan kartu identitas, maka tiket kertas (paper ticket) bisa dikeluarkan.

Rutenya adalah hari Minggu pagi berangkat dari New Orleans ke Dallas-Ft.Worth, langsung sambung ke Tokyo dan akan tiba di Tokyo hari Senin sore. Menginap semalam di Tokyo, untuk Selasa besoknya menuju Jakarta, dan dijadwalkan tiba di Jakarta sudah menjelang malam. Saat itu saya tidak terlalu memusingkan tentang rencana perjalanan tersebut. Bisa berangkat hari Minggu saja sudah senang rasanya.

Itu sebabnya, kemudian saya belakangan khawatir apa kira-kira masih bias nyambung ke Semarang malam itu juga untuk selanjutnya menuju ke Kendal. Jika tidak, artinya saya baru akan tiba di rumah hari Rabunya. Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi juragan milisi Upnvy*), siapa tahu beliau bisa membantu memberi info, karena saat itu saya sudah telanjur unsubscribe.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

__________

*) milisi Upnvy : sebutan untuk mailing list alumni UPN “Veteran” Yogyakarta, serta para simpatisan.

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(2).   Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba

Minggu pagi, 13 Pebruari 2000, jam 05:30, sekitar setengah jam sebelum saya berangkat menuju bandara New Orleans, tiba-tiba datang kabar duka dari Kendal bahwa ibu saya telah meninggal dunia sekitar satu  jam yang lalu, yang berarti Minggu sore di Kendal. Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.

Ternyata Tuhan telah merencanakan berbeda dari yang saya rencanakan. Sudah pasti saya tidak akan menangi almarhum ibu saya. Lha wong baru akan tiba di rumah hari Selasa malam atau mungkin malah hari Rabunya. Maka saat itu juga saya pesankan agar secepatnya dilakukan persiapan pemakaman tanpa perlu menunggu kedatangan saya.

Dengan perasaan tidak menentu di sepanjang perjalanan menuju bandara New Orleans, saya mantapkan niat bahwa musibah ini harus dihadapi dengan ikhlas dan tawakal. Hanya dalam doa di sepanjang perjalanan pulang dari New Orleans ke Kendal, saya bisa menyertai ibu saya yang sudah lebih dahulu menghadap Sang Maha Pencipta.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(4).   Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat

Sepanjang perjalanan terbang menyeberangi Samudra Pasifik yang 16 jam itu saya tidak bisa tidur dengan enak. Setiap saat pikiran saya melayang ke rumah saya di Kendal, membayangkan persiapan pemakaman ibu saya yang dijadwalkan hari Senin pagi jam 10:00 WIB. Hampir setiap jam otak saya bermatematika : kira-kira di Kendal sedang jam berapa. Hitungan matematika menjadi mudah lantaran di layar monitor yang ada di pesawat selalu ditayangkan petunjuk waktu saat itu (saat posisi pesawat berada, saat di Dallas dan saat di Tokyo). Sehingga saya tinggal menambahkan beda waktu antara tempat-tempat tersebut dengan WIB.

Di tengah-tengah Samudra Pasifik (lagi-lagi saya lihat posisi pesawat di layar monitor), pada saat yang saya perkirakan di Kendal sudah menunjukkan hari Senin jam 09:00 pagi, saya berniat menilpun bapak saya dari pesawat. Saya hanya ingin memastikan bahwa persiapan pemakaman ibu saya berlangsung lancar dan sudah benar tata caranya sebagai mayat seorang muslim. Meskipun sebenarnya di dalam hati saya sudah yakin akan hal itu, tetapi ada dorongan kuat untuk berbicara langsung dengan bapak dan adik-adik saya di Kendal.

Saya tatap terus gagang tilpun di depan saya. Saya buka berkali-kali majalah di kantong kursi pesawat yang memuat petunjuk cara penggunaan tilpun di pesawat. Lagi-lagi sambil saya bermatematika : kira-kira berapa biayanya. Kartu kredit saya siapkan. Tata cara penggunaan tilpun saya baca berulang-ulang hingga saya yakin hapal di luar kepala (seolah-olah sudah terbiasa menggunakannya).

Saya pahami benar bahwa biaya tilpun dari atas Samudra Pasifik adalah US$ 10.00 per menit. Artinya kalau saya bicara 10 menit, saya akan kena tagihan dari kartu kredit minimal US$ 100.00 plus pajak.

Maka, gagang tilpun segera saya angkat, saya gesekkan kartu kredit, lalu saya ikuti instruksi di layar kecil di gagang tilpun sesuai dengan prosedur yang sudah saya hapal, dan ternyata memang langsung ….. kring, di Kendal sana (saya sedemikian percaya diri, bahwa seandainya penumpang di sebelah saya memperhatikan tingkah saya, pasti dia akan berpikir bahwa saya tidak ndeso. Wong sudah saya hapalkan tata caranya).

Pembicaraan dengan bapak dan adik saya ternyata lebih singkat dari yang saya rencanakan sebelumnya. Bukan mau irit, tapi lebih karena tidak tahu lagi apa yang mau diomongkan banyak-banyak. Yang paling pokok, saya sudah dapat kepastian bahwa jenazah almarhum ibu saya sudah diperlakukan sebagaimana mestinya mayat seorang muslim, dan sesaat lagi siap diberangkatkan ke pemakaman (saat itu sudah menjelang jam 10:00 pagi di Kendal). Mak plong ….., rasanya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali

Selasa siang, 15 Pebruari 2000, sekitar tengah hari saya tiba di Kendal. Dari masjid kota yang berada tidak jauh dari rumah saya terdengar adzan (panggilan sholat) waktu Dzuhur. Ya, saya sudah tiba di rumah, di Kendal. Sebuah perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans ke Kendal yang sangat melelahkan baru saja usai.

Saya disambut adik-adik saya. Lalu saya salami bapak saya. Mana ibu? Rasanya seperti tidak percaya, kalau tidak ada lagi seorang ibu yang biasanya menyambut kedatangan anaknya dengan suka-cita. Terharu? Ya. Sedih? Ya. Tapi sungguh, agama yang saya peluk tidak pernah mengajarkan yang berlebihan. Pemakaman ibu saya memang baru Senin pagi kemarinnya dilaksanakan, saat saya berada di atas Samudra Pasifik dalam perjalanan dari Dallas menuju Tokyo.

Beberapa saudara saya yang lebih sepuh (tua) menepuk-nepuk bahu saya, sambil mengingatkan bahwa tidak ada kewajiban lain bagi seorang anak terhadap orang tuanya yang sudah tiada, kecuali mendoakannya. Memang begitu kata guru-guru mengaji saya sewaktu kecil dulu.

Seorang ibu, kehadirannya seperti lumrah-lumrah saja saat dia berada di tengah-tengah kita, atau saat kita berada di sekitarnya. Tapi baru terasa betapa dia adalah sebuah sosok yang kita butuhkan sebagai panutan, justru ketika dia “hilang” dari tengah-tengah kita.

Tidak ada yang perlu disesali dengan kepergiannya yang mendadak untuk mendahului menghadap Allah, kembali kepada Sang Khalik, Sang Pencipta. Juga tidak ada yang harus disesali, sekalipun saya tidak menangi (sempat mengalami) saat-saat terakhir menjelang pemakaman ibu. Kalaupun ada yang harus disesali, ternyata justru jawaban kalau kita ditanya : “Apakah kita sudah siap jika sewaktu-waktu dipanggil menghadap-Nya?”.-

Kendal, 20 Pebruari 2000.
Yusuf Iskandar

Tentang Konser Musik Woodstock

2 Februari 2008

(2).  Tentang Konser Musik Woodstock (Bagian 2)

Barangkali diilhami oleh konser musik “Woodstock69”, maka para pemusik dan penyandang dana Indonesia menggelar acara yang mirip-mirip “Woodstock69” di TIM (Taman Ismail Marzuki) tahun 1973. Konser musik itu diberi nama “Summer28” singkatan dari Suasana Malam Hari Kemerdekaan Ke 28, yang dilangsungkan pada malam hari tanggal 16 Agustus 1973.

Turut memeriahkan pagelaran musik (terutama yang berirama rock) pertama dan terbesar pada masa itu, antara lain God Bless (Ahmad Albar, dkk. dari Jakarta), AKA (Ucok Harahap, dkk dari Surabaya), Giant Step (Benny Subardja, dkk dari Bandung), Minstreals (Jelly Tobing dkk dari Medan), dan banyak lagi group-group musik yang lagi jaya-jayanya pada masa itu.

“Summer28” memang sempat kisruh, namun tidak separah “Woodstock69”. Sayangnya kini tidak ada lagi impressario yang berminat menggelar konser musik besar yang sejenis itu. Barangkali khawatir, pertunjukan musiknya akan kalah seru dan kalah heboh dengan “pertunjukan tawuran antar penontonnya”.

***

Itu tahun 1973, saya yang masih sekolah di kelas 1 SMP di kampung saya di Kendal, memandang kota Jakarta tampak seperti jauuuuuuuh ……. sekali. Apalagi datang ke Jakarta, nyaris seperti sebuah mimpi. Namun di tahun yang sama dan tahun-tahun sesudah itu, saya berkali-kali menyaksikan penampilan group-group musik itu di Semarang yang jaraknya hanya 30 km dari Kendal.

Di Semarang, mereka biasanya tampil di THD (Taman Hiburan Diponegoro) dan GOR Simpang Lima. Kedua tempat dan bangunan itu sekarang sudah bablasss…sak angin-anginnya, entah dimakan butho (raksasa) dari mana. Padahal THD waktu itu termasuk Taman Hiburan yang murah-meriah.

Meskipun itu adalah pengalaman masa kecil saya lebih 25 tahun yll. Namun saya masih ingat persis karena saya lakukan berkali-kali. Setiap kali ada pementasan di THD (biasanya sebulan atau dua bulan sekali), hari Sabtu sore saya minta uang kepada almarhum ibu saya Rp 500,- (lima ratus rupiah). Perinciannya : Rp 300,- untuk ongkos naik Colt angkutan Kendal – Semarang pp. Setiba di terminal Pasar Johar lalu berjalan kaki sekitar 750 meter menuju THD di Bubakan. Sisanya untuk bayar tiket masuk THD yang besarnya Rp 200,-

Saat pertunjukan musik di mulai, saya biasanya langsung menyusup ke depan panggung di dekat loud speaker, meskipun bunyinya memekakkan telinga tapi saya dapat nonton dengan bebas dan jelas. Sebab kalau saya tidak melakukan itu, saya akan kalah bersaing dan terhalang oleh penonton-penonton lain yang umumnya lebih dewasa dan lebih besar dari saya. Maklum, wong namanya panggung terbuka murah-meriah, jadi tempat duduknya terkadang jadi tempat berdiri. Apalagi kalau habis hujan, dapat dipastikan menjadi basah.

Berangkat dari Kendal jam 19:00 malam, jam 20:00 tiba di Semarang, jam 20:30 acara dimulai, jam 22:30 acara selesai dan lalu berjalan kaki kembali ke terminal Pasar Johar menunggu angkutan, jam 00:00 tengah malam tiba kembali di rumah di Kendal. Saat menunggu Colt di Pasar Johar, biasanya sambil duduk nongkrong di pagar tempat parkir di halaman sangat luas antara Pasar Johar dengan Masjid Besar dan gedung bioskop “Rahayu”, bersamaan dengan bubaran pasar Ya’ik yang digelar sore hingga malam (sebelum ada bangunan permanen Pertokoan Ya’ik Permai).

Catatan ini memang saya maksudkan untuk sekedar bernostalgia. Namun ada sedikit terselip sebuah kebanggaan, karena pengalaman semacam ini umumnya tidak dialami oleh anak-anak kecil sebaya saya pada jaman itu. Buktinya? Kalau sehabis nonton pertunjukan musik lalu keesokan harinya saya berceritera kepada teman-teman main saya, ternyata tidak nyambung. Kedengaran seperti sebuah “dongeng yang aneh”. Kalau begitu, ya cukup untuk saya nikmati sendiri saja.

New Orleans, 4 Januari 2001.
Yusuf Iskandar