Archive for April, 2009

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 3

25 April 2009

Anak lelaki saya minta ibunya membelikan buah melon, tapi ibunya lupa. Kebetulan suatu siang saya berada di dekat kios buah pinggir jalan di Jogja, maka langsung saja saya membelikan sebutir melon, sebelum nanti lupa lagi. Kepada penjual buah saya utarakan maksud saya, kemudian saya minta dipilihkan yang bagus, sekalian dimasukkan ke tas kresek, saya tanya harganya, lalu saya bayar tunai begitu saja.

Kami (saya dan tukang buah) siang itu menjalankan bisnis kepercayaan. Saya tepis jauh-jauh pikiran bagaimana kalau ternyata saya dibohongi dengan dipilihkan buah melon yang jelek, toh buahnya tidak saya lihat lagi setelah dimasukkan ke dalam tas kresek warna hitam. Atau bagaimana kalau ternyata harganya dimahalkan atau kemahalan, sebab saya langsung membayarnya begitu saja dengan tanpa menawar sedikitpun atas harga yang disebutkannya.

Sampai di rumah saat sorenya, sebutir melon yang beratnya dua kilogram setengah lebih sedikit itu saya pamerkan ke istri. Tujuan saya tentu memberikan surprise karena kemarin dia lupa membelikan buah melon pesanan anak saya. Lalu istri saya bertanya : “Beli melon, berapa harganya?”.

“Sekilo enam ribu rupiah”, jawab saya.

“Ditawarkan berapa?”, tanya istri saya lagi.

“Ya, enam ribu rupiah”, jawab saya tanpa merasa ada yang salah. Ya, memang sebenarnya tidak ada yang salah kok

“Mestinya masih bisa ditawar lebih murah”, komentar istri saya kemudian sambil memotong setengah buah melon itu lalu mengirisnya menjadi tipis-tipis menyerupai bulan sabit. Dialog saya dan istri kemudian terhenti sebentar karena kami berpikir dengan jalan pikiran masing-masing.

Sesaat kemudian, sambil leyeh-leyeh di depan televisi saya berkata dengan nada datar : “Kapan ya…. terakhir kali kita membeli buah tanpa menawar…. Lima tahun lalu, sepuluh tahun lalu, atau malah belum pernah sama sekali…..”.

***

Dasar ibu-ibu, merasa belum afdol kalau belanja kok tidak nawar, kecuali di pasar moderen sekalipun tahu harga yang dipasang sebenarnya lebih mahal. Bila perlu mati-matian bertahan di depan bakul pasar hanya perkara uang seribu-dua ribu rupiah. Tapi itu memang sangat manusiawi (mungkin lebih tepat disebut ibuwi). Terkadang bukan masalah rupiahnya, melainkan kepuasannya.

Sama seperti ketika sekali waktu tawar-menawar dengan tukang becak di Jogja. Sang penumpang berlagak sok tahu bahwa biasanya biayanya tidak segitu. Dan sang tukang becak tidak mau kalah dengan berlakon memelas agar tawaran ongkosnya disetujui. Akhirnya mereka sepakat dengan ongkosnya. Begitu tiba di tujuan, sang penumpang malah menggandakan ongkos becaknya, tinggal sang tukang becak munduk-munduk berterima kasih. Kalau memang begitu kenapa tadi mesti buang-buang waktu untuk bernegosiasi alot menawar ongkosnya? Ya itu tadi, improvisasi atas nama kepuasan. Kepuasan telah berhasil memenangi negosiasi (menang melawan tukang becak kok sombong….), kepuasan memberi lebih banyak tanpa diminta kepada tukang becak (seringkali antara berharap pujian dan ikhlas batasnya tipis sekali), dan kepuasan melakukan improvisasi dalam hidup.

Ya, apa yang saya lakukan siang itu adalah sekedar ingin berimprovisasi. Keinginan itu terbersit begitu saja tanpa saya rencanakan. Bukan saya tidak bisa melakukan tawar-menawar. Sekali waktu saya pun bisa ikut menawar kalau lagi membeli buah. Sekedar ingin membuktikan bahwa saya juga bisa nyinyir bernegosiasi untuk bertahan memperoleh penghematan seribu-dua ribu rupiah. Suatu jumlah rupiah yang sebenarnya persentasenya relatif sangat kecil dibanding jumlah pengeluaran bulanan keluarga. Tapi kok ya dilakukan juga dan malah hampir selalu dilakukan.

Artinya, kalau sekali waktu kita melakukan improvisasi kecil melakukan bisnis kepercayaan semodel cerita di atas, sebenarnya kita sedang membicarakan sesuatu yang nyaris tidak terlihat, tidak berpengaruh, tidak ada artinya apa-apa dalam penggalan kehidupan kita. Tapi faktanya, susah nian melakukannya dengan sepenuh keikhlasan.

Yogyakarta, 25 April 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Pahala Betebaran Di Pasar

18 April 2009

img_2098_pasar2

Hampir tiga minggu saya menghabiskan waktu berkunjung ke Tembagapura Papua, belahan Indonesia dimana saya pernah tinggal cukup lama di sana. Kesempatan berharga itu saya manfaatkan untuk bersilaturahim dengan teman-teman lama. Bertemu dan bercengkerama dengan teman lama selalu menjadi bagian kehidupan yang mengasyikkan. Satu demi satu, terkadang berkelompok, bekas teman kerja saya dulu saya jumpai. Bertegur sapa, bertukar pikiran, sekedar guyon sampai cekakakan, sesekali agak serius menimbang-nimbang hari esok (meski dari waktu ke waktu bobot timbangannya kok ya tetap saja sama…..).

Hingga sehari menjelang meninggalkan Tembagapura, menyesal sekali ternyata masih ada dua orang sahabat lama yang belum sempat saya jumpai. Padahal sebelumnya saya sangat berharap akan bisa bertemu. Sudah saya sempatkan datang ke tempat kerjanya dan tidak ketemu juga. Ya, sudah. Hingga malam terakhir di Tembagapura, saya berpikir barangkali memang belum menjadi rejeki saya dan kedua teman saya itu untuk bertemu. Atau ini justru pertanda baik bahwa saya bakal punya kesempatan lagi untuk kembali berkunjung ke sana.

***

Tiba harinya saya harus meninggalkan Tembagapura. Pagi harinya saya sempatkan untuk mampir ke “Shopping”. “Shopping” adalah sebutan salah kaprah bagi warga Tembagapura untuk sebuah kompleks perbelanjaan, dimana masyarakat yang adalah karyawan PT Freeport Indonesia biasa pergi berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidup ataupun sekedar jalan-jalan. “Shopping” adalah sebuah tempat semacam pasar moderen (yang bukan tradisional).

Tujuan saya pergi ke “Shopping” sebenarnya adalah untuk membeli oleh-oleh. Sebab anak saya di Jogja yang dulu sempat menghabiskan sebagian masa kanak-kanaknya di Tembagapura sudah pesan agar dibelikan oleh-oleh berupa coklat yang tidak ada di Jogja. Weleh…., permintaan yang rada susah. Telanjur saya sudah berjanji untuk memenuhi pesan anak saya.

Seingat saya, coklat di sana yang tidak ada di Jogja setidaknya ada dua pilihan. Yang pertama coklat impor yang memang sesekali didatangkan langsung dari negeri seberang. Yang kedua adalah tahi babi. Jelas, yang kedua saya kesampingkan tanpa perlu berpikir (wong begini kok ya diceritakan…., ya salah sendiri kok dibaca…). Akhirnya saya temukan juga coklat merk “Dove” buatan Australia, meski harganya jauh lebih mahal dibanding coklat sejenis buatan dalam negeri yang dari segi rasa, aroma dan keenakannya sebenarnya sama.

Ee… ndilalah…. , di pasar “Shopping” itu tiba-tiba saya bertemu dengan salah seorang dari dua sahabat lama saya. Padahal hingga semalamnya saya pikir kesempatan itu sudah berlalu. Kok ya pagi itu ketemu di pasar “Shopping”. Alhamdlillah, saya seperti menerima bonus menjelang saya meninggalkan Tembagapura.

Siang harinya saya sudah sampai ke kota Timika setelah menempuh perjalanan dua jam dari Tembagapura. Saya memang berencana ingin singgah semalam di Timika sebelum besoknya menuju Jakarta. Di siang yang cukup terik itu saya jalan-jalan masuk ke pasar tradisional “Swadaya” di tengah kota Timika. Suasana pasar masih tampak ramai. Menyusuri lorong-lorong pasar tradisional memang memberi nuansa yang berbeda. Kesan panas, sumpek, padat, bau, becek dan berisik, segera terasa. Kalau tidak becek dan tidak bau pasti bukan pasar tradisional.

Ee… ndilalah lagi…., di tengah pasar tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara panggilan seseorang. Rupanya dia adalah seorang lagi dari dua sahabat lama saya yang kemarinnya belum sempat ketemu. Kok ya siang itu ketemu di dalam pasar Timika. Puji Tuhan, saya merasa seperti menerima tambahan bonus.

Hari itu, saya benar-benar seperti menerima berkah yang luar biasa. Bisa jadi ini bukti bekerjanya “law of attraction”, atau wujud dari rahasianya “the Secrets”, atau Tuhan telah merealisasikan prasangka baik saya dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Tapi kenapa Tuhan memilih pasar sebagai lokasi pertemuan saya dengan masing-masing dari kedua sahabat lama saya itu. Suatu kebetulan? Kejadiannya, mungkin “Iya”. Tapi hakekatnya tentu saja “Tidak”. Karena di dunia ini tidak ada yang kebetulan, melainkan semuanya ada dalam skenario Tuhan, bagi yang percaya tentu saja. Lha bagi yang tidak percaya? Ya, tetap saja masuk dalam skenario Tuhan juga.

***

Hal yang kemudian mengusik rasa ingin tahu saya adalah kenapa Tuhan memilih pasar (Memang ada apa dengan pasar? Ya tidak apa-apa. Wong hanya pikiran saya saja yang kelewat tidak ada yang dipikirin…). Lha, wong namanya pasar, adalah tempat bertemunya para pencari kebutuhan dan penyedia kebutuhan, barang atau jasa. Pasar adalah tempat berkumpulnya pembeli dan penjual, tempat orang-orang melakukan transaksi, berbisnis, ber-mu’amalah, bersosialisasi, yang baik maupun yang buruk. Bisa jadi yang disebut pasar ini bentuknya bukan sebuah tempat yang bisa dikunjungi seperti pasar “Shopping” yang moderen atau pasar tradisional yan becek dan bau, melainkan sebuah keadaan atau suasana berinteraksi bisnis, perniagaan nyata maupun maya.

Herannya, saya percaya bahwa tentu bukan tanpa maksud kalau Tuhan mempertemukan saya dengan dua orang yang saya pikir tidak akan sempat ketemu itu justru di pasar. Saya pikir, barangkali karena di sanalah tempat atau momen paling strategis bagi para malaikat Tuhan untuk sibuk nyontrengi kolom pahala atau dosa. Untuk menjadikan pertemuan kami sebagai sebuah ujian bagi kebaikan atau keburukan, berkah atau bencana, manfaat atau mudharat.

Kalau orang bertemu di rumah ibadah atau majelis peribadatan, Wow… “enak sekali” tugas malaikat untuk langsung mencontreng pada kolom pahala, karena relatif kebanyakan akan cenderung masuk ke kategori itu. Tapi kalau di pasar…?, peluang masuk kategori pahala dan dosa menjadi sama besar. Sebab pasar adalah tempatnya pahala dan dosa betebaran. Tempatnya orang jujur dan penipu besatu, kesalehan dan kemaksiatan berbaur, syarikat dan konspirasi terbangun, prasangka baik dan buruk bersilangan, rejeki keberuntungan dan kebangkrutan silih berganti.

Karena itu kalau kita ingin sukses, kaya, beruntung dan meraih keberkahan (kemanapun tempat ibadah yang biasanya kita kunjungi, kecuali yang tidak biasa…), sering-seringlah berada di pasar, tapi juga berhati-hatilah. Mau mencontreng pahala atau dosa, memilih berkah rejeki atau bencana, mau koaya-roaya mendadak atau untung kecil tapi lumintu (langgeng), itu tergantung pilihan kita dalam berbisnis di pasar. Sebab tidak ada yang kebetulan. Tuhan telah menyediakan surat suaranya, tinggal kita mencontrengnya. Dan jika kita ternyata memilih golput, jangan-jangan itu pertanda bahwa kehidupan kita sudah berakhir.

Yogyakarta, 18 April 2009
Yusuf Iskandar

img_2099_pasar1

Di Bawah Purnama Menyantap Udang Bakar Mang Engking

14 April 2009

img_2116_rBagi penggemar kuliner menu udang, nama Mang Engking Jogja sepertinya sudah bukan nama asing lagi. Apalagi sekarang Mang Engking sudah buka cabang di Depok dan Surabaya. Mang Engking yang asli Ciamis dengan nama lengkap Engking Sodikin ini boleh dibilang pelopor dalam bisnis kuliner perudangan di Jogja. Tambak udangnya yang berlokasi di kecamatan Minggir, Sleman, adalah cikal bakal usahanya yang bernama Pondok Udang Mang Engking dengan menu unggulannya udang galah.

Setelah sekitar enam tahunan Pondok Udangnya berkibar di Minggir Sleman, sejak akhir 2007 Mang Engking masuk kota membuka cabang di kawasan jalan Godean. Jurus jemput bola diterapkannya guna menangkap “bola” yang sedang mencari makan malam atau yang merasa kejauhan kalau harus minggir-minggir ke Minggir.

Awalnya Mang Engking masuk kota bergandengan tangan dengan pemilik Banyu Mili Resto yang kemudian buka warung di kompleks Griya Mahkota Regency. Namun gandengan mesra itu hanya berlangsung setahun, sebab setelah itu Banyu Mili Resto menangkap peluang bisnis perkulineran untuk berdiri sendiri. Mang Engking pun terpelanting yang lalu kemudian membuka warung sendiri tidak jauh dari situ. Tepatnya kalau dari arah Jogja menuju Jl. Godean, tidak sampai 1 km kemudian ketemu perempatan pertama belok kiri sejauh 200 m. Judul warungnya adalah Gubug Makan Mang Engking Soragan Castle.

Kalau disebut Gubug Makan, itu karena arena permakanannya berupa sebuah gubug besar dan beberapa gubug (saung) kecil, baik dalam formasi meja-kursi maupun lesehan. Kalau Mang Engking agak gaya dengan nama asing Soragan Castle, itu karena di sana sudah berdiri sebuah bangunan (yang dari depan tampak) megah menyerupai sebuah istana. Rupanya tempat itu sebelumnya merupakan sebuah resto bermenu asing bernama Soragan Castle. Resto masakan asing ini sendiri sempat melayani tetamu turis asing selama lima tahunan sebelum kini ditempati Mang Engking. Dan, istana itu kini masih kokoh berdiri.     

***

Di saat malam purnama, saya sekeluarga mengunjungi istana barunya Mang Engking. Siluet sosok Soragan Castle nampak angker tapi indah di bawah cahaya rembulan yang sedang bundar-bundarnya bagai bertengger di atas bentengnya. Sebuah tampilan malam yang indah sekali. Tidak sabar saya jeprat-jepret dengan kamera digital pinjaman yang sengaja saya bawa. Kami kemudian menju ke sebuah gubuk lesehan agak ke sudut kanan belakang. Lokasi itu saya pilih karena berhadapan dengan sebuah kolam dan dekat dengan persawahan umum di belakang lokasi gubuknya Mang Engking.

img_2112_rSetengah kilogram menu udang bakar madu lalu kami pesan. Ditambah dengan gurami goreng sambal cobek, tumis kangkung, lalapan sambal dadak, dan belakangan menyusul kepiting rebus. Tidak terlalu lama kami menunggu hingga pesanan disajikan. Sebenarnya dalam hati saya agak surprise, kok cepat sekali….. (Sementara sebuah keluarga lain di sebelah saya yang lebih dahulu duduk di sana mulai menggerutu karena pesanannya belum juga keluar. Rupanya tadi sang pelayan salah mengantar pesanan mereka ke tamu yang lain, tapi bukan saya….. Nampaknya malam itu bukan purnama keberuntungan bagi keluarga itu).

Udang bakarnya disajikan berupa empat tusuk udang masing-masing berisi empat ekor udang mlungker ukuran sedang. Sajian ini berbeda dengan sebelumnya ketika saya sempat makan menu sama di Pondok Udang Mang Engking yang di Minggir. Sajian bentuk sate seperti ini mengingatkan saya pada menu sate udangnya Bu Entin di Labuan, Banten. Agaknya kini disajikan agar lebih praktis, baik dalam mengolah, menghitung maupun menyajikannya. Tapi jadi terasa kurang alami dan gimana gitu….. Kalau tentang enaknya, tidak saya ragukan, masih sama. Meski pusatnya Mang Engking masih ada di Minggir, Sleman, tapi semua kokinya termasuk yang di cabang Depok dan Surabaya sudah melalui pelatihan ketat di Minggir sebelum diterjunkan ke resto cabang-cabangnya.

img_2111_r1Gurami goreng sambal cobek (tapi sambalnya disajikan di cawan kecil) berhasil kami ludeskan, kecuali duri dan kepalanya tentu saja. Sambalnya yang diracik dengan tambahan bawang merah sekulit-kulit keringnya dan sedikit rasa jahe, terasa pas benar. Saya sengaja memesan setengah kilogram kepiting (rajungan) rebus dengan maksud agar lebih merasakan taste dagingnya yang belum banyak terkontaminasi oleh rasukan bumbu-bumbu pelengkapnya. Rupanya anak-anak saya juga menyukainya. Kalau rasa tumis kangkungnya standar, biasa-biasa saja. Sedang lalapan dengan sambal dadaknya lebih berasa (berasa pedas maksudnya). Namanya juga sambal mentah yang mendadak dibikin dengan campuran irisan tomat. Cukup untuk membuat agak megap-megap disaksikan oleh sang purnama yang menghiasi angkasa Jogja.  

Untuk kenikmatan makan malam plus nuansa indah malam purnama di sebuah gubuk di samping istana Sorogan malam itu, kami sekeluarga berempat harus membayar ganti rugi kepada Mang Engking sekitar Rp 250.000,- (persisnya lupa, karena notanya terselip), belum termasuk ongkos parkir dua ribu rupiah. Kami puas karena semua sajian ludes kecuali nasi putih yang masih tersisa di cething.

Yogyakarta, 14 April 2009
Yusuf Iskandar

img_2120_r

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 2

11 April 2009

Mengisi waktu sore pada sehari sebelum Pemilu 9 April 2009, saya mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan rumah, lalu merapikan tumpukan sampah di pojokan (meski jelas sampah kadangkala perlu dirapikan juga). Saya sudah siap dengan sebuah korek api dan seberkas kertas bekas. Saya memang hendak mengisi waktu dengan membakar sampah dedaunan kering agar tidak terlalu menggunung di pojokan pelataran rumah.

Kegiatan bakar sampah seperti sore itu memang sudah seperti ritual yang saya lakukan setiap beberapa hari sekali, kecuali kalau saya lagi keluar kota atau hujan. Sambil jongkok membakar dedaunan kering, sesekali bergeser menghindari asap putihnya yang tertiup angin dan sesekali kucek-kucek mata yang berair karena asap putihnya mampir dan terasa pedas di mata. Ini memang sekedar kegiatan iseng dan sepele, tapi saya yakin tidak setiap orang sempat dan bisa melakukannya. Membakar sampah adalah kegiatan mengisi waktu yang cukup menghibur. Saya begitu menikmatinya.

***

Tiba-tiba lewat seorang ibu, lalu mendekat dan dengan suara tidak terdengar terlalu jelas, dia berkata : “Pak, minta sedekah…”. Dengan pandangan agak melongo setengah tidak percaya saya menatap ibu itu. Benarkah yang saya dengar tadi? Sepertinya saya tidak percaya. Sebab menilik penampilan ibu yang saya taksir berumur 40-an tapi terlihat muda yang sore itu tampil berbusana kebaya warna merah muda, berkerudung rapi, wajahnya terlihat kuning bersih dan terawat, senyumnya pun tampak manis (entah kalau dimanis-maniskan). Pendeknya, sama sekali bukan wajah susah yang perlu disedekahi. 

Kemudian terjadi percakapan pendek yang semakin membuat saya tidak konsentrasi pada pokok persoalannya bahwa ibu itu meminta sedekah. Terutama ketika dia menceritakan bahwa dia tinggal di gang sebelah kampung saya. Nyaris saya tidak percaya, sebab itu berarti ibu itu adalah tetangga saya. Lebih empat tahun saya tinggal di situ kok saya tidak pernah tahu keberadaan ibu itu. Sungguh, hal inilah yang mendadak membuat hati saya gelisah berkepanjangan. Pikiran saya melayang kemana-mana sambil saya tetap berdialog.

Kalau benar apa yang diceritakannya tentang tempat tinggalnya. Itu berarti kalau saya terbang agak ke atas dan saya lihat kenampakan dari Google Earth, jarak lurus antara rumah saya dan rumahnya tidak sampai 50 meter. Bagaimana mungkin saya bisa tinggal empat tahun di sana sementara di belakang rumah saya ada orang yang mengalami kesulitan hidup sehingga harus meminta sedekah kepada tetangganya? Dan tetangga itu adalah saya? Tetangga macam apa saya ini……

Berbagai pikiran dan prasangka berkecamuk menjadi satu di otak saya. Apakah perlu saya verifikasi dulu kata-katanya baru saya ulurkan sedekah, atau saya berikan sedekah dulu baru nanti menyusul diverifikasi kebenarannya? Akhirnya saya tepis pikiran buruk itu, lalu saya niatkan memberikan sedekah kepada seseorang yang membutuhkan, tidak perduli apakah dia tetangga saya atau bukan. Sejumlah uang lumayan besar saya berikan kepada ibu itu, sekedar sebagai improvisasi hidup sembari membakar sampah, menyambut Pemilu esok hari (jangan-jangan saya tidak jadi bersedekah kalau tidak ada Pemilu….). Ah, lupakan saja….

Percakapan masih saya lanjutkan, agar saya bisa lebih mengenalnya. Rupanya dia memang seorang ibu yang ramah. Sebut saja namanya Mak Isah, seorang janda yang ditinggal mati suaminya beberapa tahun lalu, tidak memiliki pekerjaan tetap dan mempunyai tiga orang anak remaja yang semuanya tidak sekolah dan tidak bekerja. Mak Isah dan anak-anaknya rupanya selama ini tinggal berpindah-pindah dan terakhir mengontrak sebuah kamar di belakang kampung yang saya tinggali, hanya beda RT. Pantesan saya tidak mengenal keberadaannya.

Ketika saya tanya sore itu dia dari mana, jawabnya : “Baru saja keluar dari rumah”. Ketika saya tanya mau kemana, jawabnya : “Menemui orang-orang”. Pandangan saya cukup lama mengantar kepergiannya meninggalkan saya, sambil pikiran saya terus memproses data-data yang saya kumpulkan : “Jangan-jangan pekerjaannya memang meminta-minta…..”.

***

Malamnya saya panggil seorang takmir musholla dari RT sebelah, sekaligus karena kebetulan ada urusan lain. Setelah mendengar informasi dari takmir musholla itu, barulah saya percaya bahwa semua keterangan Mak Isah itu benar. Bahkan ketika saya ketemu pak RT-nya, saya jadi semakin tahu siapa Mak Isah itu. Rupanya almarhum suaminya dulu adalah seorang pejabat kaya di Sumatera, yang karena tersandung kasus korupsi sehingga semua hartanya disita dan jatuh miskin (rupanya bukan hanya batu yang bisa nyandungin, melainkan korupsi juga…). Lalu keluarga mereka pindah ke Jogja dan harus memulai hidup dari awal. Tragis memang. Lebih tepat kalau almarhum suaminya bukan disebut koruptor, melainkan tupai. Seperti bunyi pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Dan ketika tupai itu jatuh, maka istri dan anak-anaknya yang menjadi korban. Beruntung tupai itu “cepat” meninggal, tapi “cilakak duabelas” bagi istri dan anak-anaknya yang tergelepar-gelepar berusaha kembali ke pohon. Kini rupanya Mak Isah tidak sanggup bekerja keras menggapai ranting pepohonan.  

Mak Isah kini menempuh jalan termudah untuk melanjutkan kehidupannya, yaitu dengan meminta-minta. Beberapa kali tetangganya membantunya dengan memberi pekerjaan sebagai pembantu, buruh cuci, dan apa saja. Tapi rupanya mental Mak Isah tidak siap dengan pekerjaan seadanya seperti itu. Tahulah saya kini, bahwa setiap hari Mak Isah menempuh perjalanan panjang menyusuri jalan-jalan kota Yogyakarta hingga larut malam baru pulang ke rumahnya. Menyambangi dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu toko ke toko lainnya, dari satu warung makan ke warung makan lainnya, demi meminta sedekah. Perasaan malunya sudah sirna di balik paras wajahnya yang tergolong cantik. Sampai-sampai seorang tetangga saya mengatakan, kalau saja Mak Isah ini dimasukkan ke salon kecantikan, maka ketika keluar pasti dikira Meriam Bellina (padahal setahu saya wajah Meriam Bellina jauh berbeda dengan Mak Isah…).

Kini tetangga-tetangga Mak Isah sudah maklum, setiap kali Mak Isah datang, diberinya seribu-dua ribu sekedar sebagai sedekah hari itu.Ya, hari itu. Karena di hari lain Mak Isah akan datang lagi dan minta lagi. Peristiwa sore itu memang tidak seorang pun tahu, tak juga istri dan anak-anak saya. Bahkan tangan kiri saya pun tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan saya. Saya memang ingin melupakannya. Tapi ketika kemudian saya ceritakan apa yang terjadi, mereka malah memberitahu bahwa Mak Isah memang sering mampir ke rumah. Kini tinggal saya menggerutu dalam hati : “Siwalan….., tiwas sore itu saya bersedekah banyak, besok pasti akan datang lagi dan datang lagi….. Tahu begitu, saya cukup memberi sedikit-sedikit saja…..”. Sial benar! Setelah tahu cerita lengkapnya justru membuat saya jadi tidak ikhlas dengan sedekah yang telah saya berikan.

Untuk apa kisah ini saya ceritakan? Saya hanya ingin berbagi kepada siapa saja, bahwa betapa sulitnya menjaga keikhlasan. Improvisasi hidup yang saya lakukan sore itu ternyata rentan terhadap ketidak-ikhlasan. Saya pikir ini adalah perkara keseharian yang sangat manusiawi. Siapa pun pasti pernah mengalaminya. Bahwa suatu ketika malaikat akan mencontreng kolom ikhlas amal kita, di saat yang lain gantian kolom tidak ikhlas yang dicontreng. Meski kemudian score-nya seri bin impas, namun saya berharap punya tambahan contrengan positif karena telah mengingatkan pembaca dongeng ini bahwa menjaga keikhlasan itu tidak mudah. Sangat manusiawi kalau sesekali kita tergelincir menjadi tidak ikhlas. Melakukan improvisasi tetap perlu, tapi menjaga keikhlasannya jauh lebih perlu. Sama perlunya sesekali saya mengisi waktu sore dengan membakar dedaunan kering agar pelataran rumah saya tetap terlihat bersih.

Yogyakarta, 11 April 2009
Yusuf Iskandar

Contreng-menyontreng Menjadi Satu, Itulah Indonesia

8 April 2009

Hari ini adalah H-1 menjelang hari pesta demokrasi Indonesia, 9 April 2009 bertepatan dengan hari Kamis Pahing, 13 Rabi’ul Awal 1430 H. Besok adalah hari dimana orang se-Indonesia contreng-contrengan (hajindul…, pas wetonku wong sak Indonesia contreng-contrengan…), Agenda contreng-menyontreng ini serentak dilaksanakan di segenap penjuru tanah dan airnya daripada Indonesia. Maka besok adalah Hari Contreng Nasional, dan bisa jadi inilah adegan 17 tahun ke atas (menurut KTP) yang tidak akan berulang kembali di belahan bumi manapun.

Sebenarnya sejak awal saya tidak suka dan merasa jengkel dengan diri sendiri setiap mendengar istilah ‘contreng’ ini. Kosa kata ini tidak ada dalam bahasa Jawa, dan dalam kamus Bahasa Indonesia pun tidak terdaftar. Tapi karena telanjur diakui dalam legalitas dunia persilatan perpemiluan Indonesia periode tahun ini, ya apa boleh buat. Kata ‘centang’ yang lebih dulu akrab di telinga terpaksa ditinggalkan, diganti dengan ‘contreng’.

Karena itu, ajakannya adalah : Mari kita sukseskan HCN (Hari Contreng Nasional). Ada baiknya pergunakanlah hak Anda sebaik-baiknya. Ya, hak istimewa untuk menyontreng empat lembar kertas suara yang lebarnya bisa untuk menutup dinding jumbleng kita yang berlubang karena lapuk kayunya. Bahkan warga negara Amerika atau Eropa pun tidak akan pernah mengalami peristiwa contreng-menyontreng berjamaah yang dikoordinir oleh pemerintahnya.

Mari kita beramai-ramai mendatangi TPS-TPS terdekat, lalu gunakan hak istimewa ini. Walaupun Anda memutuskan memilih untuk tidak memilih, atau kepingin memilih tapi belum tahu pilihannya apa, atau bahkan malah belum tahu mau memilih atau tidak, cobalah untuk tetap berduyun-duyun mendatangi TPS-TPS. Di sana sedang ada pesta. Pergunakan saat-saat ketika harus mengantri sambil bersilaturrahim dengan tetangga dekat tapi jauh (karena jarang ketemu), sambil menceritakan bisnis Anda, memprospek teman duduk Anda, dan bila perlu sambil mempromosikan produk usaha Anda. Jadikanlah pesta ini kesempatan untuk melakukan sedikit improvisasi hidup, bawalah segenggam permen lalu bagikanlah kepada teman-teman duduk di dekat Anda. Sebab antrian untuk meyontreng bisa panjang dan lama sekali. Bayangkan kalau setiap orang menyontreng empat lembar kertas suara seperti membuka dan melipat koran. Mendingan melipat koran bisa asal-asalan, sedang kartu suara harus tetap rapi dan bersih.

Itu saja belum terlalu penting. Lebih penting lagi adalah rasakan dan nikmati saat Anda seorang diri berada di dalam bilik suara. Bayangkan siapa calon pemimpin Anda, akan seperti apa negeri daripada Indonesia ini lima tahun ke depan, dan seterusnya.

Itu pun belum seberapa. Jauh lebih penting adalah rasakan dan nikmati detik-detik ketika Anda menggoreskan pena untuk menyontreng. Rasakan sensasinya. Sambil agak menahan nafas, Anda menorehkan garis pendek dari atas ke bawah dengan agak menekan, lalu torehan itu bersambung berganti arah ke kanan atas, sambil ditarik dan dilepas sekuatnya (jika perlu sampai bunyi mak jeduk…. karena tangan Anda membentur dinding kanan bilik suara, asal jangan sampai mak gedubrak … dindingnya roboh). Lalu lepaskan nafas panjang Anda……Ulangi hingga empat kali dan rasakan sensasinya, seperti saat pengalaman pertama Anda mencoblos dulu….

Sungguh, ini pengalaman sekali seumur hidup. Bersyukurlah mereka yang masih bisa menyontreng tanggal 9 April besok. Belum tentu cara pemilu paling ndueso biyanget yang dikenal oleh peradaban perpemiluan yang pernah ada ini akan terulang lima tahun lagi. Karena itu jangan sia-siakan hak Anda, jangan diberikan dengan percuma kepada orang lain hak istimewa untuk menikmati sensasi menyontreng seorang diri di dalam bilik suara. Sekalipun Anda tidak punya pilihan, tetap lakukanlah ritual menyontreng ini di bagian manapun yang Anda sukai. Sekalipun Anda tidak ingin memilih alias golput, tetap datangilah bilik suara dan lakukanlah untuk alasan menikmati sensasi menyontreng. Jika belum puas, contrenglah dinding bilik suaranya. Biarlah kartu-kartu suara itu menjadi contreng-montreng (coreng-moreng, maksudnya) karena Anda begitu bergairah melampiaskan hasrat menyontreng sebagai pengalaman sekali seumur hidup.

Ada baiknya siapkanlah kondisi fisik dan mental Anda besok pagi. Sarapan dulu sebelum menuju TPS. Nikmati suguhannya jika disediakan oleh Panitia. Bawalah segenggam permen. Dan, biarkanlah Indonesia Raya ini gegap-gempita dengan pesta demokasi alias pesta contreng-menyontreng. Dari Sabang sampai Merauke akan berjajar TPS-TPS, contreng-menyontreng menjadi satu, itulah Indonesia besok tanggal 9 April 2009. Hidup contreng…!      

Yogyakarta, 8 April 2009
Yusuf Iskandar

Sop Sapi Mas Gandhul Jogja

8 April 2009

img_2105_r

Bagi penggemar masakan sop sapi, barangkali tidak terlalu sulit menemukan warung penjual sop kaki di banyak pinggiran jalan. Salah satu pilihan yang mudah dicapai kalau kebetulan sedang berada di Jogja adalah sop kaki Mas Gandhul. Lokasinya berada di pinggir Jalan Solo km 8,5 yang merupakan jalan utama akses Jogja – Solo. Kira-kira 100 meter barat pertigaan Ring Road timur, seberang hotel Sheraton agak ke kanan sedikit.

Dalam perjalanan pulang dari mengantar istri saya belanja keperluan toko, kami sengaja mampir ke warung ini karena ingin mencicipi menu sop sapi yang ditawarkan. Siang menjelang sore itu, rumah makan Mas Gandhul sedang sepi. Kata seorang mbak pegawainya, biasanya ramai kalau jam makan siang dan terkadang juga saat sarapan pagi. Rumah makan ini memang buka mulai jam 7 pagi sampai jam 7 malam, terkadang juga molor lebih malam.

img_2108_rPilihan menunya beragam. Menu unggulannya adalah sop sapi dan soto ayam kampung. Ada pilihan sop daging, sop babat, sop kikil atau sop komplitan yang berisi campuran daging, babat dan kikil sekaligus. Juga tersedia pilihan soto dan pecel lele. Menyesuaikan judul menu yang diunggulkan, akhirnya saya memesan sop komplit. Dengan harapkan sekali sendok, dua-tiga sop ternikmati. Alias pesan sekali tapi bisa mencicipi rasa daging, babat dan kikil sapinya sekaligus. Bukan mau ngirit, tapi sekedar menyesuaikan kemampuan tembolok.

Puji Tuhan walhamdulillah, saya masih dikaruniai kemampuan menjadi pemakan segala, sehingga tidak ada kekhawatiran akan bayang-bayang hantu kolesterol dan hantu-hantu makanan sejenisnya. Bahkan nambah sop babatnya pun, siapa takut?.  Meski cuaca Jogja sedang panas, menyeruput kuah sop sapi Mas Gandhul terasa segar dan nikmat. Kuah sopnya terasa pas di lidah, mengalir lembut melalui tenggorokan menuju tembolok meninggalkan kelezatannya. Campuran irisan tipis daging, babat dan kikil sapi (namanya juga sop komplit), dengan irisan kentang, tomat, seledri, serta taburan bawang goreng dan remukan emping, menimbulkan aroma sop yang cukup merangsang. Jangan lupa tambahkan kecrotan jeruk nipis dan kecap manis secukupnya (kalau suka), khas selera wong Jogja yang suka dimanis-maniskan.

Rumah makan Mas Gandhul ini terbilang baru dalam upayanya turut meramaikan blantika perkulineran Jogja. Terbukti mampu bertahan setahun ini dan kata pegawainya setiap hari hampir selalu ludes, meski masih dalam tingkat omset yang terbatas. Artinya, setiap hari selalu tersaji bahan baru, bukan sisa kemarin. Lokasinya pun cukup strategis, mudah dijangkau, berada di pinggir jalan yang cukup ramai di Jogja. Tapi tampilannya yang sangat sederhana untuk ukuran rumah makan di pinggir jalan besar, menyebabkan agak kurang menyolok sehingga berpotensi terlewati ketika berada di depannya. Sementara label “Mas Gandhul” sebenarnya cukup menjual.

img_2106_rPemiliknya boleh berbangga dengan nilai lebih dari lokasinya. Setidak-tidaknya, para pegawai hotel Sheraton dan perkantoran di seputarannya adalah pelanggan setia sop sapi dan soto ayam Mas Gandhul yang masing-masing dibanderol Rp 10.000,- dan Rp 5.000,- per porsi lengkap dengan nasinya. Cukup untuk membuat perut merasa tenteram sambil terkadang keringatan (di kepala tentu saja, bukan di perut).   

Menilik cita rasa sop kaki yang ditawarkan oleh Mas Gandhul ini kiranya bisa menjadi pilihan untuk sarapan pagi atau makan siang saat berada di seputaran Jogja timur dengan harga yang terjangkau. Konon trade mark Mas Gandhul adalah panggilan kecil sang empunya warung yang walaupun masih menjadi pegawai di Jakarta tetapi berani berwirausaha di bidang yang persaingannya cukup ketat di Jogja.

Yogyakarta, 7 April 2009
Yusuf Iskandar

NB :
Apresiasi untuk teman saya Agung “Mas Gandhul” Nurcahyo, yang meski masih mburuh di Jakarta tetapi keberanian, kreatifitas dan semangatnya untuk berwirausaha di Jogja terus menyala-nyala dan layak ditiru.-

Jadi Penerjun Tidak Boleh Merokok

7 April 2009

Duduk lesehan berdua anak lelaki saya (Noval) di depan televisi menjelang maghrib. Saluran TV One sedang menyiarkan diskusi tentang tragedi jatuhnya pesawat Fokker-27 milik TNI AU di hanggar pangkalan udara Husein Sastranegara kemarin siang. Di sela-sela dialog, ditayangkan rekaman kegiatan prajurit TNI AU, di antaranya ada terjun payung. Anak saya tampak serius memperhatikan adegan terjun payung massal oleh Paskhas TNI AU.

Tiba-tiba Noval bertanya : “Pak…, bapak berani enggak terjun payung?”. Saya diam sesaat mecoba menerka-nerka kemana arah pertanyaan anak saya yang satu ini yang seringkali tak terduga.

“Kalau sekarang ya enggak berani”, jawab saya kemudian.  Rupanya jawaban itu tidak memuaskan Noval. Dengan nada mengejek dia melanjutkan : “Wah, bapak kan hobby petualangan, suka dengan tantangan, masak enggak berani ikut terjun payung…”.

Siwalan!“, kata saya dalam hati. Jelas saya tidak terima diejek anak saya begitu. Lalu saya mencoba menjelaskan dengan sabar : “Ya, seberani-beraninya orang, sebelum melakukan kegiatan apapun, apalagi yang beresiko tinggi, harus melakukan pelatihan terlebih dahulu. Tidak boleh begitu saja ikut ini, ikut itu…”, jawab saya.

Noval masih belum puas dengan jawaban saya. Dia pun melanjutkan : “Seandainya bapak ikut latihan dulu, apa bapak berani melakukan terjun payung?”. Waduh, modar aku…! Mendidih juga darah setengah tua saya.

“Berani saja!”, jawab saya tidak mau kalah. “Tapi di usia bapak sekarang, ya jelas bapak tidak bisa”. Jawaban ini membuat Noval jadi penasaran.

“Memang kenapa?”, tanyanya ingin tahu.
“Pertama, karena kondisi fisik bapak sudah menurun. Berbeda halnya kalau sejak muda kondisi fisiknya memang terlatih untuk kegiatan terjun payung. Kedua, bapak seorang perokok”, jawab saya.

“Ooo, seorang penerjun tidak boleh merokok ya…”, kata Noval seakan-akan memahami (meski saya tahu sebenarnya dia belum paham).
Lha, iyalah“, jawab saya merasa menang.
“Tapi kenapa ya, pak”. Eh, masih ngeyel juga dia.
Asal-asalan saja saya menjawab : “Ya, karena susah….. Begitu meloncat terjun dari pesawat terus menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke langit. Pasti akan merepotkan sekali…”.
“Aaaaaaaah…..”, teriak Noval, bersamaan dengan kumandang adzan magrib dari masjid dekat rumah.

Yogyakarta, 7 April 2009
Yusuf Iskandar

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu

5 April 2009

Dalam perjalanan pulang dari Tembagapura, Papua, saya menyempatkan untuk menginap semalam di Timika. Saya menginap di Base Camp yang merupakan salah satu fasilitas dan berada di dalam kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia. Tentu saja gratis. Base Camp ini lokasinya dekat dengan bandara Mozes Kilangin yang berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Timika, ibukota kabupaten Mimika.

Tujuan saya menginap semalam di Timika adalah ingin mampir ke warung seafood “Surabaya” sekedar melepas kangen menikmati karakah (kepiting) Timika. Terakhir kali saya mampir ke sana sekiar lima tahun yang lalu. Karena Base Camp ini lokasinya berada di dalam kawasan pertambangan, maka tidak terjangkau oleh angkutan umum yang oleh masyarakat setempat disebut taksi. Sedang kendaraan milik perusahaan tidak diijinkan keluar dari kawasan pertambangan, kecuali yang sudah dilengkapi dengan plat nomor polisi, berkepala “DS” jika terdaftar di kabupaten Mimika.

Kalau mau sewa mobil plat hitam alias taksi gelap yang memang sudah lazim digunakan, ongkosnya sekitar Rp 40.000,- per jam. Menimbang saya hanya seorang diri, akhirnya memilih naik ojek saja. Di Timika ada ribuan ojek berseliweran setiap saat. Moda angkutan ini menjadi alternatif paling praktis, mudah dan murah tapi tidak meriah (lha wong sendirian…), plus agak deg-degan karena biasanya tukang ojeknya suka ngebut. Kalau tidak suka mbonceng ojek, sepeda motornya disewa juga boleh. Per jam ongkos sewanya Rp 20.000,- dan malah bisa ngebut sendiri…. Saking banyaknya ojek di Timika, sampai-sampai tidak mudah membedakan mana pengendara sepeda motor biasa dan mana tukang ojek.

***

Kota Timika yang ketika siangnya begitu panas, malam itu agak kepyur (bahasa Jawa untuk turun titik-titik air dari langit, lebih rintik dibanding rintik hujan). Berbalut selembar jaket, segera saya nyingklak mbonceng tukang ojek dan mengomandonya untuk menuju ke warung seafood “Surabaya”. Ongkos ojek dari Base Camp, sama juga kalau dari bandara, menuju kota Timika adalah Rp 7.000,- sekali jalan. Angka nominal yang sebenarnya nanggung, tapi ya begitulah…. Semua pihak sudah saling paham bahwa ongkos normalnya memang segitu.

Sampai di tujuan, segera saya keluarkan tiga lembar uang kertas dan saya bayarkan ke tukang ojek. Semula uang itu diterima begitu saja oleh tukang ojeknya dan segera hendak berlalu tancap gas. Tapi tiba-tiba tukang ojek itu agak ragu, lalu dilihatnya kembali uang pemberian saya tadi di bawah temaram lampu jalan yang tidak terlalu terang. Agaknya dia kurang yakin dengan penglihatannya. Sebab jika membayar uang pas dengan tiga lembar uang kertas, biasanya terdiri dari selembar berwarna kecoklatan dan dua lembar berwarna kebiruan, sehingga totalnya Rp 7.000,-. Tapi ini ketiganya kok warna coklat semua, jangan-jangan uangnya bercampur daun kering. Setelah yakin yang diterimanya tiga lembar uang lima-ribuan, segera pak tukang ojek itu tancap gas tanpa sempat berterima kasih. Mungkin khawatir keburu penumpangnya menyadari “kekeliruan” jumlah pembayarannya.

Malamnya saya kembali menggunakan jasa ojek menuju Base Camp. Cukup dengan berdiri di pinggir jalan saja. Sebab saya pun sebenarnya juga ragu mau nyetop ojek, jangan-jangan bukan tukang ojek yang saya panggil. Akhirnya salah satu dari tukang ojek yang berseliweran memberi kode dengan membunyikan klakson yang maksudnya : “Naik ojek, pak?”. Saya cukup membalasnya dengan melambaikan tangan di pinggir jalan yang agak terang.

Sesampai di Base Camp segera saya sodorkan selembar uang sepuluh-ribuan. Tukang ojek itu pun dengan gesit mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya untuk mengambil tiga lembar uang seribuan sebagai uang kembalian. Kali ini saya hanya berkata pendek : “Kembaliannya untuk bapak saja…”. Kalimat pendek itu rupanya mengawali percakapan saya dengan tukang ojek yang rupanya perantau dari Lamongan, Jatim, dan baru 3 bulan ngojek di Timika, selama beberapa menit di depan gerbang Base Camp. Sampai seorang petugas Satpam Base Camp menghampiri saya karena dikira saya yang adalah seorang tamunya sedang ada masalah dengan tukang ojek. Apresiasi saya berikan untuk sikap tanggap seorang Satpam.

***

Apa yang saya lakukan dengan membayar lebih dari yang semestinya kepada seseorang? Tidak lebih karena sekedar saya ingin melakukan sedikit improvisasi dalam bertransaksi bisnis. Sebagai pembeli jasa ojek, saya ingin memberi sedikit “surprise” yang menyenangkan kepada partner bisnis saya yang adalah penjual jasa ojek. Improvisasi yang berjalan begitu saja, tanpa skenario, tanpa rekayasa. Besar-kecilnya atau banyak-sedikitnya, bukan itu soalnya. Terpuji-tidaknya atau berpahala-tidaknya, juga bukan itu substansinya.

Sekali waktu ketika di Jogja saya membayar parkir di Jl. Solo. Saat membayar ongkos parkirnya saya sodorkan uang Rp 3.000,- dari semestinya hanya Rp 1.500,-, sambil saya pesan kepada tukang parkirnya : “Tolong yang seribu lima ratus untuk ongkos parkir mobil di sebelah kanan saya ya, pak…”. “Nggih, pak…”, jawab tukang parkir. Saya tidak tahu siapa pengemudi mobil yang parkir di sebelah kanan saya. Saya juga tidak tahu apakah tukang parkir itu benar-benar menjalankan pesan saya. Tapi saya hanya sekedar ingin berimprovisasi dalam bertransaksi. Apakah itu baik atau buruk, bukan itu yang ada di pikiran saya.

Beberapa tahun yang lalu saat melewati jalan tol di Semarang yang ongkosnya hanya Rp 500,- sekali lewat, saya sodorkan selembar uang seribuan disertai pesan kepada penjual tiket tol : “Sisanya untuk mobil di belakang saya ya…”.

Ya, sekali waktu improvisasi itu perlu. Bukan untuk sok-sokan, bukan juga untuk wah-wahan, melainkan agar irama hidup ini tidak membosankan. Perlu ada “surprise-surprise” kecil mengisi di antaranya. Toh, belum tentu hal itu terjadi sebulan sekali. Setahun sekali pun terkadang tidak sempat terpikir. Termasuk juga dalam berbisnis, improvisasi itu (terkadang) perlu. Kalau boleh kejadian itu disebut dalam rangka melaksanakan “bisnis memberi”, entah sebagai penjual atau pembeli. Semoga saja Alam Jagat Raya ini akan mencatatnya sebagai tabungan di rekening liar (yang digaransi tidak akan terendus KPK) yang suatu saat nanti akan cair dengan sendirinya pada waktu dan tempat yang pasti tepat.

Yogyakarta, 5 April 2009
Yusuf Iskandar

Suatu Malam Di Malioboro

3 April 2009

img_0810_r1Keluar dari toko buku Gramedia Malioboro Mall Yogyakarta, saya bergabung dengan seorang teman yang sebelumnya sudah menunggu di depan Mall. Teman saya ini baru pertama kali datang ke Yogyakarta dan minta ditemani untuk jalan-jalan malam di Malioboro sambil mencari-cari sebarang pesanan seorang temannya. Sebagai orang Jogja, saya sendiri sebenarnya sudah sangat lama tidak pernah menikmati jalan-jalan malam di kawasan Malioboro.

Bagi saya, atau barangkali juga kebanyakan orang Jogja, sengaja menghabiskan waktu malam dengan menyusuri penggal Jl. Malioboro adalah bukan pilihan menyenangkan. Kalau bukan karena keperluan yang mengharuskan pergi ke toko yang ada di kawasan Malioboro, ada acara khusus di sana, atau menemani orang yang baru pertama kali datang ke Jogja, rasanya lebih baik pergi ke kawasan jalan yang lain di Jogja. Meski tidak dipungkiri sebagian orang justru menyukai tempat ini.

Kawasan ini serasa terlalu padat menyesakkan dan kurang lagi nyaman untuk dinikmati sebagai obyek wisata jalan-jalan bersama keluarga, kecuali di bagian ujung selatan seputaran Gedung Agung dan benteng Vredenburg saja yang terasa masih nyaman untuk menghela napas agak panjang. Selebihnya perlu agak ngos-ngosan untuk melaluinya. Jangan sekali-sekali jalan meleng, sebab puluhan andong dan kudanya, ratusan becak dan tukangnya, atau ribuan pejalan kaki dan teman-temannya, belum lagi pedagang kali lima di sepanjang trotoar pertokoan dan sepeda motor yang keluar-masuk tempat parkir, siap menyerempet atau menginjak kaki sesama pejalan kaki tanpa perlu mencari tahu siapa yang salah. Idenya Malioboro adalah kawasan street mall, tapi salah bentuk. 

***

Sekitar pukul 20:30 WIB kami kembali sampai di teras Malioboro Mall setelah berjalan kaki ke arah selatan Malioboro, baik di sisi barat maupun timur jalan. Teman saya mengajak makan lesehan. Saya sarankan bukan di Jl. Malioboro-nya sebab kawasan ini terlalu crowded, nanti jadi kurang nyaman untuk menikmati santap malam sambil duduk lesehan. Kami putuskan untuk mencari warung lesehan di Jl. Perwakilan, sebuah penggal jalan di sebelah utara Malioboro Mall, relatif tidak terlalu hiruk bin pikuk.

Masih berjalan santai di teras Mall, di tengah keramaian pejalan kaki, seorang pemuda tampan berbusana rapi, berkaos hitam dan bercelana warna gelap, menghampiri dari sebelah kanan saya. Lalu katanya :
 
“Mau pijat pak?”. Saya hanya menoleh acuh tak acuh. Sang pemuda lalu menambahkan : “Yang mijat cewek pak….”.

Ah, tergoda juga saya. Tergoda untuk tanya lebih lanjut, maksudnya.
“Cantik, enggak?”, tanya saya iseng, masih sambil jalan perlahan.

“Wah, dijamin pak”, jawab sang pemuda itu meyakinkan. Saya tidak tahu, ini dijamin tidak luntur atau luntur tidak dijamin. Namun akhirnya saya berkata : “Enggaklah, mas. Terima kasih”.

Eh, rupanya sang pemuda masih ngotot juga. Setengah memaksa dia menyodorkan dua buah kartu nama agar saya terima (mungkin karena dilihatnya saya berjalan berdua teman saya), sambil katanya : “Barangkali nanti bapak membutuhkan…”. Dan kedua kartu nama itu pun lalu saya masukkan ke saku baju, karena saya tahu teman saya pasti tidak tertarik dengan kartu nama itu.

Sesampai di warung lesehan, sambil menunggu pesanan gudeg, ayam dan burung dara goreng plus lalapannya disajikan, saya lihat kembali karta nama yang tadi saya selipkan di saku baju saya.

Selembar kertas kecil seukuran kartu nama (lha, namanya juga kartu nama…) dengan desain sangat sederhana. Berwarna dasar hitam, bertuliskan “Pijat Panggilan”, di bagian bawahnya ada tulisan warna kuning “Hub. : 085 sekian-sekian-sekian… INDRA/ENY/MITA” (ditulis dengan huruf kapitas menyolok).

Sejenak saya menelan ludah….. Bukan, bukan karena membaca nama tiga diva yang ada di kartu nama itu, melainkan karena asap burung dara goreng dan petai goreng yang masih mengepul sudah tersaji di depan hidung lengkap dengan lalapan dan sambalnya. Kartu nama itu lalu saya masukkan kembali ke saku baju.

Sesampai di rumah, kartu nama tadi saya selipkan di buku tipis “Innovative Leadership” karya Dennis Stauffer yang tadi saya beli di Gramedia, lalu bukunya saya masukkan ke dalam tas ransel kebanggaan saya. Saya perlu ekstra hati-hati menyimpan buku ini. Jangan sampai perang dunia ketiga pecah di dalam rumah. Cukup gempa bumi 5,9 Skala Richter yang telah memporak-porandakan separuh isi lemari kaca dan beberapa keramik, tiga tahun yll.

Kini, diam-diam buku itu saya buka dan saya lihat kembali kartu nama hitam bertulisan nama tiga diva pebisnis panggilan dari Malioboro. Usai menulis kisah ini, kartu nama itu saya sobhek-sobhek… (diucapkan sambil menirukan mulut Thukul Arwana) hingga kecil-kecil lalu saya buang di tempat sampah paling bawah. Agar kalau ada pembaca yang ingin tahu no HP yang tertulis di kartu itu jangan menghubungi saya, melainkan jalan-jalan saja sendiri ke Malioboro sana….. 

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar

Maaf, Saya Ke Papua Tanpa Pamit

3 April 2009
Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Mohon maaf, blog ini saya tinggalkan selama tiga minggu karena pergi ke Papua tanpa pamit. Semula saya pikir saya akan mudah mengakses internet di sana. Tapi rupanya saya mengalami beberapa kendala non-teknis yang menyebabkan saya tidak bisa meng-update Catatan Perjalanan saya, praktis selama sebulan.

Tepatnya, dari tanggal 10-31 Maret 2009 saya jalan-jalan ke Papua, tepatnya ke kota Tembagapura dan Timika. Perjalanan ini terlaksana atas undangan teman-teman saya yang bekerja di PT Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas. Ini mirip-mirip perjalanan nosalgia, karena saya pernah bekerja di sana selama periode tahun 1995 hingga 2004.

Selama berada di Tembagapura dan sekitarnya yang lokasinya berada naik-turun di ketinggian antara 2000 – 2400 m di atas permukaan laut, saya mengalami keterbatasan mengakses internet. Fasilitas internet milik perusahaan sangat terbatas. Sementara fasilitas internet yang selama ini saya gunakan, yaitu IM2 dan Smart ternyata tidak dapat saya gunakan karena rupanya hanya sinyal Telkomsel saja yang “berani” naik gunung. Walhasil, saya hanya bisa membuat catatan-catatan kecil yang Insya Allah akan saya posting menyusul.

Itu alasan pertama. Alasan keduanya, meskipun saya ke sana dalam rangka jalan-jalan, tapi acara jalan-jalan itu terlaksana akibat dari sebuah komitmen. Maka saya berkewajiban menjaga amanat penderitaan komitmen. Sekali sebuah komitmen dibuat, maka semestinya siap dengan segala konsekuensi yang terjadi, termasuk kesibukan yang seringkali baru selesai hingga malam. Komitmen yang terbingkai dalam acara jalan-jalan dibayarin.

Masih ada alasan ketiga, yaitu bahwa selama di sana saya sering diundang oleh teman-teman lama saya untuk sekedar diajak berbagi tentang pengalaman saya bagaimana mengisi waktu setelah tidak lagi menjadi pegawai alias pensiun alias pengangguran. Teman-teman saya ingin tahu bagaimana saya memulai dan merintis bisnis atau berwirausaha. Tentu saja acara ini hanya bisa dilakukan saat malam hari di sisa waktu yang ada.

Demikian, kini saya kembali ingin melanjutkan catatan-catatan dan dongengan apa saja untuk sekedar berbagi unek-unek, pengalaman, info, curhat, termasuk cerita-cerita yang tidak seberapa bermutu, sekedar sebagai bacaan yang (mudah-mudahan) menghibur kepada siapa saja yang menyukainya. Salam….    

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar