Archive for Juni, 2010

Marem Pondok Seafood

25 Juni 2010

Anak lanang yang beberapa hari ini tekapar sakit di rumah, tiba-tiba malam ini mengajak makan seafood. Maunya ke “Marem Pondok Seafood”, Jl. Wonosari Km 7, Jogja. Menu unggulannya udang galah hotplate, gurami bakar/goreng asam manis dan ca kangkung. Sayang, di penghujung week-end ini kangkungnya keburu habis.

Jika sedang berada di wilayah tenggara Jogja, resto ini layak dipertimbangkan untuk dikunjungi. Jangan lupa ca kangkungnya, so special…!

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Musim Kawin

25 Juni 2010

Musim kawin telah tiba. Seperti kebiasaan umumnya masyarakat Jawa memilih bulan Rajab sebagai waktu yang dipandang “pas” untuk hajatan… Minggu siang ini, menghadiri pesta pernikahan seorang pegawai (di sebuah desa di Berbah, Sleman, Jogja). Betapa bertolak-belakangnya dengan pesta pernikahan yang kuhadiri beberapa hari yll. di gedung megah.

Pelajarannya: Bagaimana menikmati sepiring nasi menu ndeso bukan sebagai asesori pesta, melainkan bagian dari ritual kesyukuran…

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Setelah Tetes Terakhir

25 Juni 2010

Tetes terakhir kopi Amungme dari Papua sudah berlalu. Pagi ini disusul dengan kopi Kupu-kupu Bola Dunia dari Bali. Kuat pahitnya, mantap kentalnya, halus bubuknya, terasa kafeinnya, dan… sensasi “theng”-nya itu terasa sekali. Perlu tambahan gula bagi yang tidak suka ‘kopi rasa jamu’…

Terima kasih untuk sahabat yang telah mengirim oleh-oleh kopi. Di atas secangkir kopi itu kulihat wajahmu… (Maka bagi yang ingin wajahnya juga kulihat, kirimlah kopi…)

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tujuh Purnama Kita Lalui

25 Juni 2010

Sudah tujuh purnama kita lalui
Sejak kehadiranmu kembali dari pengembaraan panjang, nyaris tak kukenali
Langit terang temaram silih berganti
Pasang surut air laut menyisakan genangan membasahi
Angin badai datang dan pergi

Kau bisikkan kata-kata indah
Kau ajari aku tentang ibadah
Kau sertai aku menyusuri hati yang gundah
Kau ingatkan aku ketika salah
Kehadiranmu adalah anugerah
Seolah menjadi jawaban atas permohonan panjangku penuh pasrah

Kubalas dengan ketulusan hati tanpa pamrih
Sebab aku yakin di sana ada Tuhan yang Maha Kasih
Yang akan membimbingku dari kesalahan, dalam galau hati yang terkadang terasa perih

Sudah tujuh purnama kita lalui
Semesta keindahan telah bersama kita nikmati
Adalah kedalaman rasa yang selayaknya kita syukuri
Tak lalai untuk kita hikmahi
Walau hanya di alam maya kita bermimpi

Tapi nampaknya keindahan itu kian terusik
Karena kita tak mampu menjaganya, bahkan menjadi semakin pelik
Menjadikan jalan panjang itu seperti berbalik
Menjauh dari fitrah penghambaan kepada Sang Maha Pemilik
Tak sebagaimana saat semua bermula

Sudah tujuh purnama kita lalui
Masa-masa indah yang cukup untuk kita arungi
Namun petualangan dan perjalanan itu kemudian seolah semakin hilang kendali
Nyaris mencapai suatu titik yang seumur hidup akan kita sesali

Tapi, Tuhan…….
Betapa Engkau sangat menyayangi kami
Engkau tahu kami menjadi semakin liar tanpa kami menyadari
Lalu Kau paksa kami menghentikan perjalanan ini
Dengan caraMu, Kau paksa kami menoleh kembali ke dalam diri

Kini aku paham
Bukan karena Engkau marah atas kedhoifan dan kealpaan kami
Tapi justru begitu sayangnya Engkau kepada kami
Kini aku tahu itu
Engkau tidak rela kalau kami terperosok ke lembah dimana tak ada jalan kami bisa kembali

Sesungguhnya kami takut berada jauh dariMu, wahai zat yang Maha Suci
Namun jika ada khilaf terjadi di antara kami
Sungguh itu bukan kami sengaja mengingkari
Melainkan semata kebodohan dan kelemahan kami

Segala puji hanya bagiMu, Ya Robb…
Terima kasih, wahai zat yang Maha Rahman dan Rahim
Telah Kau ajari kami tentang pemahaman cinta kasihMu
Namun ampuni kami yang lemah dan hina ini
Yang tak selalu mampu menjaga hikmahMu

Kini perkenankan kami melanjutkan perjalanan panjang ini
Dan perkenankan pula kami memohon agar Engkau senantiasa menyertai

Yogyakarta, 20 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Ke Kedai “Déjà Vu”

24 Juni 2010

Malam minggu ngobrol bisnis di luar rumah. Pilihan kali ini ke Kedai “Deja Vu” di Jogja Selatan. Nggak punya kerjaan? Memang iya… Justru itu maka diisi dengan “studi banding” per-cafe-an, sambil ngopi, ngobrol dan observasi tata ruang.

Ternyata memang lebih efisien. Berdua (tidak usah tanya dengan siapa), ngopi, ngeteh rosella, misang bakar, habis Rp 15 ribu, nongkrong 3 jam, tidak repot menyajikan dan menyuci. Dan, bisnis itu pun terus dibeli orang.

Yogyakarta, 20 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Mang Engking Lagi

24 Juni 2010

Udang bakar “Mang Engking”, lagee... (Di Jl. Godean, Jogja). Sepertinya ini tempat makan yang mudah dan layak dituju (walau bukan terenak dan terbaik), saat mendadak ada teman SMP datang dari luar kota, tilpun ngajak ketemuan dan makan.

Akhir-akhir ini saya merasa perlu punya list tempat-tempat semacam ini di beberapa wilayah Jogja, agar kalau tiba-tiba ditanya teman dari luar kota tidak kebingungan memberi jawaban segera sesuai selera menu, gaya, suasana dan tingkat harga…

Yogyakarta, 19 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Antara Ariel Dan Maria Eva

24 Juni 2010

Pengantar:

Hingar-bingar video sarunya “mirip” Ariel – “mirip” Luna Maya – “mirip” Cut Tari mengingatkan saya (heran, kok ya ingat saja…) kepada “insiden” yang sama sarunya dengan yang melibatkan tokoh “mirip” artis Maria Eva dan “mirip” anggota Dewan yang terhormat empat tahun yll. Sekedar bernostalgia dengan hikmah atau pelajaran apa yang dapat dipetik, berikut ini tayang-ulang dongeng saya empat tahun yll.

*******

Gunung Es-nya Maria Eva

Gunung esnya Maria Eva ini tentu tidak mak nyusss…, seperti gunung es campurnya “Pak San” di Cilacap. Tapi ini kisah tentang sebuah fenomena, yang bisa jadi benar, bisa jadi salah. Bukan hanya penderita HIV/AIDS saja yang bisa membentuk fenomena gunung es, tapi penderita (sebenarnya lebih tepat disebut penyuka, karena memang tidak menderita) selingkuh juga bisa membentuk fenomena gunung es.

Ini hanya sebuah unek-unek tentang semangat yang rada mengada-ada, mungkin su’udzdzon (berprsangka buruk), tapi mungkin juga make sense…..!

***

Hari-hari ini sebagian besar penonon televisi di Indonesia sedang “terjebak’ untuk terpaksa mengambil bagian dalam menggunjing aib orang lain. Sebut saja penggunjing pasif. Pasalnya tidak turut ngomong, melainkan ter-fait-acompli untuk turut mengikuti perkembangan ceritanya. Kemanapun saluran TV di-ceklek-kan, kisah aib orang lainlah yang muncul pathing pecothot….., berhamburan tak terkendali. Puncak tangganya diduduki oleh beredarnya film adegan saru (lebih enak didengar ketimbang mesum) perselingkuhan yang berujung perseteruan, antara Maria Eva versus Yahya Zaini. Keduanya public figure (meskipun sebelumnya saya juga tidak pernah tahu kiprah maupun seluk dan beluknya kedua orang itu). Karena itu, tentu saja tidak bebas dari kepentingan, baik kepentingan diri sendiri maupun (apalagi) orang lain..

Anggap saja aib perselingkuhan itu sebagai sebuah “insiden” (tapi direncanakan), yang kalau dijabarkan menjadi : sebuah insiden perselingkuhan, yang konangan (ketahuan) istri dari pelaku laki-laki, sempat direkam, hasil rekamannya sempat beredar, dan pilem itu jadi pembicaraan orang (karena menyangkut tokoh atau selebriti).

Anggap saja “insiden” Maria Eva ini bak sebuah puncak gunung es, maka lereng, tebing, lembah dan kaki gunung es yang berada di bawah permukaan air itu bisa jadi lebih nggegirisi (mengerikan). Ambil saja perbanyakannya mengikuti deret ukur kelipatan sepuluh, maka rekonstruksi ceritanya bisa menjadi demikian :

Ada sebuah “insiden” Maria Eva.
Ada sepuluh “insiden” yang filmnya tidak menjadi pembicaran orang.
Ada seratus “insiden” yang filmnya tidak sempat beredar.
Ada seribu “insiden” yang tidak sempat direkam.
Ada sepuluh ribu “insiden” yang tidak konangan isri atau keluarganya.

Lalu, bagaimana kalau ternyata kaki gunung es yang berada di bawah permukaan air laut itu membentuk dataran yang mbleber kemana-mana seperti lumpur Lapindo? Perbanyakannya bisa-bisa lebih dari deret ukur kelipatan sepuluh, melainkan eksponensial?

Barangkali ada seratus ribu, sejuta atau lebih banyak lagi, “insiden” yang tidak direncanakan, “just-in-time”, ujug-ujug terjadi begitu saja………, dimana-mana, tak kenal papan lan panggonan (waktu dan tempat), dan pakaian seragam (toh akan dilepas juga).

***

Waktu terus berlalu. Yang sudah terjadi akan tetap terjadi, tidak bisa di-tip-ex atau di-delete. “Maria Eva” lainnya yang kini masih thenguk-thenguk (diam tepekur) di dasar lautan semakin hari semakin gerah. Bukan soal salah siapa. Melainkan kalau ada sepasang pelaku “insiden”, kenapa satu pihak tetap tampak disubyo-subyo (disanjung-sanjung) dan malah menikmati aneka keistimewaan. Sementara pihak lainnya menanggung derita batin, tenggelam dalam nasi yang sudah kadung jadi bubur. Itu tentu karena kepentingan telah berganti antara yang dulu dan sekarang. Kepentingan (interest) memang tidak tak lekang oleh panas, tidak tak lapuk oleh hujan, apalagi gempa atau banjir lumpur. Belum lagi karena karir, prestise, kemapanan dan kenyamanan yang berfluktuasi dari waktu ke waktu.

Mudah-mudahan kaki gunung esnya Maria Eva tidak mencair, yang lalu mbleber ke wartawan infotainment. Pertama, agar waktu dan energi bangsa ini tidak terbuang percuma. Kedua, agar saya tidak perlu menjual TV di rumah yang gambarnya sudah agak rusak akibat digulingkan oleh Gempa Yogya dan kini semakin rusak gambarnya oleh tayangan aib orang lain, plus dengan lugu-nya (maksudnya : lu guoblok…) dimunculkannya cuplikan adegan saru itu. Ya, hanya oknum televisi guoblok saja yang menganggap cuplikan tayangan itu pantas muncul di tengah keluarga.

Jagad….jagad……., yang namanya aib memang tidak ada yang sopan. Sama aib dan tidak sopannya adalah mereka yang suka mengutak-atik aib orang lain, lalu mengumbarkannya kepada tetangganya sebangsa dan setanah air. Seolah berkata : Mari kita melakukan aib rame-rame seperti potong padi di sawah atau berjama’ah seperti jum’atan…..

Yogyakarta, 9 Desember 2006
Yusuf Iskandar
(Tidak punya ponsel yang ada kameranya)

“Sa Pi Basket”

21 Juni 2010

Rembang petang anak lanang ‘mblandang masuk kandang’, baru pulang….
Bertanyalah ibunya: “Leee…, ko pi mana?”.
“Sa pi basket”, jawabnya.

Sirkus kah? Ada sapi main basket….

(Note – dialek Indonesia Timur: ko=kamu, pi=pergi, sa=saya).

Yogyakarta, 18 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Kekenyangan Di Kondangan

21 Juni 2010

Kondangan malam ini agak spesial. Saya bilang ke istri: “Nampaknya tidak banyak tamu yang kita kenal…”. Berarti, waktunya tidak banyak tersita untuk halal-bihalal, melainkan uji-coba semua hidangan yang ada kecuali nasi.

Maka usai menyalami pengantin, langsung ambil steak bbq, lalu bakso, zuppa soup, mie oriental, es puter, mpek-mpek, buah segar, es buah, salad, tidak ada yang terlewat. Semuanya diselesaikan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya…

***

Nampaknya di acara kondangan yang spesial itu istriku menyerah di tengah jalan. Maklum, kapasitas “sapiteng”-nya terbatas. Sementara kapasitas “sapiteng”-ku 12 kali panjang badan… (Dasar!).

Meninggalkan arena kondangan, kemlakaren (kekenyangan)…, langsung melaju pulang. Baru ngeh setelah ditegur istri: “Lho, kok pulang?”. Oops! Sorry, sampai lupa mau singgah dulu ke rumah mertua….

(Note : sapiteng = safety tank)

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Menulis Dongeng Tambang

21 Juni 2010

Ketiduran usai “mirip” ibadah kebaktian fajar, terbangun oleh dering tilpun dari seberang samudera.
Intinya: “Mas, bisa bantu nulis tentang dongeng tambang tapi dengan gaya populer agar mudah dipahami orang awam?”.
Spontan jawabku: “Insya Allah, siap!”.

Untuk urusan dongeng-mendongeng, apalagi temanya sesuai dengan bidang yang pernah saya tekuni selama 19 semester, membuat adrenalinku melonjak seperti ketika mendaki gunung…

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tentang Angka Empat

21 Juni 2010

Masih tentang angka 4: Seorang teman pembaca blog saya dari Malaysia membenarkan bahwa di sana seringkali untuk menghindari penggunaan angka 4 (empat), dilakukan modifikasi. Misalnya: lantai 4 menjadi 3A, 14 menjadi 13A, 24 menjadi 23A. Ini gara-gara bunyi lafal ’empat’ dalam bahasa Mandarin yang “mirip” dengan bunyi lafal ‘mati’, yaitu ‘se’

(Sementara menurut kamus daripada infotainment daripada Indonesia, kata “mirip” berarti: “iya, tapi tolong jangan paksa aku mengiyakan”)

(Note: Dunia infotainment lagi gencar-gencarnya merilis berita tentang video porno “mirip” artis Ariel, Luna Maya dan Cut Tari)

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Dari Mana Datangnya Rejeki

21 Juni 2010

Petang itu saya agak terlambat tiba di masjid, agak lama setelah gaung adzan maghrib menghilang dari angkasa. Sambil menunggu iqomat tanda dimulainya sholat maghrib, saya jalan melenggang di pinggiran dalam dinding masjid sambil mata melihat-lihat apa saja yang bisa dilihat. Tiba-tiba pandangan saya tertuju pada sebuah Qur’an kecil lusuh yang sampul luarnya sudah hilang dan menyisakan sebundel lembaran-lembaran bertulisan huruf Arab. Lembaran-lembaran itu pun sudah sobek-sobek bagian luarnya. Di sebelahnya ada setumpuk kitab Qur’an yang kondisinya terlihat jauh lebih baik.

Entah kenapa justru kitab lusuh itu lebih menarik perhatian saya. Segera kuraih, lalu kubuka asal saja di bagian tengah, entah pada halaman berapa. Spontan seperti ada yang mengarahkan pandangan mataku pada sebuah ayat yang setelah kubaca bunyi lafalnya sepertinya sangat familiar. Walau tulisan di buku kecil itu terlihat terlalu kecil, tapi bagian awal dari ayat itu masih dapat kubaca, yang berbunyi : “Allahu yabsuthur-rizqo limayyasyaak…..”. Saya juga masih bisa membaca tulisan di bagian atas halaman kitab kecil itu, yaitu surat Al-Ankabuut. Tapi mata plus-minus saya sudah tidak mampu membaca nomor ayatnya sebab ukuran hurufnya terlalu kecil. Karena saya merasa sangat mengenal ayat itu tapi lupa artinya, dengan meninggalkan rasa penasaran saya berkata dalam hati : “Akan kucari artinya nanti di rumah”.

Sepulang dari masjid, setelah bertadarus sebentar segera saya ambil buku tarjamah dan saya cari penggal ayat tadi. Tidak terlalu sulit mencarinya, walau tadi tidak terbaca nomor ayatnya, tapi saya tahu nama suratnya. Akhirnya kutemukan juga. Agak terhenyak saya setelah membaca terjemahan lengkapnya yang berbunyi : “Allah melapangkan rejeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hambanya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya…” (QS. 29:62).

Entah kenapa saya merasa agak galau. Barangkali karena timing saja. Sebagai “penganggur terselubung” akhir-akhir ini saya agak risau tentang hakekat sumber datangnya rejeki. Padahal terjemahan ayat itu sebenarnya biasa-biasa saja. Makna tersiratnya juga sudah sejak dulu saya pahami. Namun pada petang itu, bunyi sepenggal ayat yang secara kebetulan saya baca di Qur’an sobek di masjid itu, kedengaran bagai sebuah teguran atau peringatan. Sebuah kebetulan?

Ya, tentang rejeki. “Binatang klangenan” yang setiap menit, setiap jam, setiap hari senantiasa diburu dan didambakan orang. Saya atau mungkin orang lain, selama ini sering terlena. Setiapkali bicara ihwal rejeki konotasinya selalu uang dan materi. Referensi pertamanya selalu pemilik uang atau atasan, atau orang-orang kaya. Akibatnya peranan Tuhan seolah-olah “terkesampingkan” dari akal pikiran, dan justru pikiran tentang penguasa uanglah yang kemudian datang melintas lebih dahulu.

Mencarinya memang wajib. Mengupayakan dengan segala daya upaya juga harus. Tapi titik tolak tindakannya (baca : amaliyah) mestinya bukan “kepada siapa” melainkan “atas nama siapa”. Seringkali yang kemudian melintas di pikiran adalah “melobi” kepada penguasa uang, walaupun hal itu dilakukan juga sebagai upaya pelengkap, tapi mestinya bukan itu sebagai esensi penghambaan atas nama Sang Maha Pemberi Rejeki.

Saya tahu bahwa pemikiran terlena seperti itu tidak terlalu salah. Saya juga percaya bahwa sudah ada yang Maha Pengatur Rejeki. Namun yang terjadi seringkali salah kaprah. Alam bawah sadar saya seolah-olah memerintahkan bahwa untuk memperoleh rejeki itu harus fokus dan begitu tergantung kepada pemilik uang atau oknum-oknum lain selain Tuhan.

Lha, kalau sebenarnya Tuhan sendiri sudah mengatakan bahwa Dialah yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Kenapa mesti pusing dengan penguasa uang, orang kaya atau atasan? Kenapa tidak langsung saja berfokus kepada Tuhan? Perkara nanti rejeki itu akan dititipkan siapa atau dikirimkan lewat jasa kurir apa, biarlah Tuhan yang mengurusnya. Begitu, pikiran jernih saya kemudian.

Ya, ketika kita butuh rejeki lebih, mestinya ‘kan tinggal berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan, agar kita termasuk dalam kelompok yang dikehendaki-Nya untuk dilapangkan rejekinya? Tapi kenapa selama ini tidak banyak yang mau berbaik-baik, bermanis-manis dan merayu Tuhan? Jangan-jangan karena kita merasa malu dan tidak pantas melakukan itu. Atau, malah sebenarnya tahu bahwa dirinya tidak pantas tapi tetap “nekat” merajuk kepada Tuhan. Seperti seorang yang tahu kalau dirinya tidak pantas mencintai gadis yang “mirip” bidadari tapi keukeuh mengubernya? Dan, Jaka Tarub pun kemudian akan mencuri pakaian “mirip” bidadari yang sedang mandi agar dapat merengkuhnya. Maka, jalan pintas ditempuh, sehingga rejeki pun dapat diperoleh. Tinggal keberkahannya yang akan membedakan. “Ora dadi daging (tidak menjadi daging)”, kata orang di kampung saya.

Jika demikian halnya, maka yang perlu dilakukan sebenarnya sangat sederhana, hanya berusaha memantaskan diri untuk hadir dan “melobi” Tuhan. Sebab Dialah yang melapangkan rejeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya. Dia juga yang berjanji memenuhi kebutuhan hambanya, bahkan Dia pula yang berjanji akan mengabulkan setiap permohonan hambanya.

So, kurang apa lagi? Kurang pantas, jawabnya. Jangan-jangan kita memang kurang pantas untuk hadir dan meminta kepada Tuhan agar diturunkan rejeki dari langit atau dikeluarkan rejeki dari muka bumi. Dan ketika rejeki itu kemudian benar-benar didatangkan, jangan-jangan kita juga sebenarnya kurang pantas diberi amanah mengelolanya.

Yogyakarta, 14 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Enthok Bu Gendut

21 Juni 2010

Mampir makan siang ke warungnya Bu Ndut, kantin lantai bawah sebuah gedung di Warung Buncit, Jakarta. Mau makan sayur lodeh malah ditawari enthok (itik manila) goreng yang ukuran potongannya seiring-sebangun dengan postur yang jualnya, Bu Gendut. Sayang cara masaknya kurang pas, masih agak keras, tapi aromanya lebih lembut tidak amis seperti daging bebek. Lalapan daun kemangi dan poh-pohan, dan sambalnya benar-benar joss…, ngangenin…

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Catatan:
Daun poh-pohan rasanya seperti mint. Orang Sunda bilang daun keresmen.

Akibat Nonton Bola

21 Juni 2010

Jam 10 lebih, jalan tol dari arah bandara Soeta menuju Jakarta padat-merayap-tersendat, padahal biasanya jam-jam segitu sudah mulai lancar. “Orang Jakarta ramai-ramai keluar rumahnya agak siang karena semalam nonton bola, pak…”, kata sopir taksi datar bernada menghibur diri. Woooo……

(Soeta : Soekarno – Hatta)

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

VIP Lounge

21 Juni 2010

Jika sedang menunggu boarding di bandara dan ingin makan-minum sepuasnya, carilah VIP Lounge, terutama bagi pemilik kartu kredit tertentu. Jika tidak punya kartu kredit, tetap masuklah ke sana karena jatuhnya lebih murah. Biaya Rp 50.000,-/orang (terkadang ada diskon), makan-minum sepuasnya, sekalian buang hajatnya. Dibanding kalau di resto di luarnya mungkin jadi lebih mahal. Nggak nyamannya…, diuber sales kartu kredit…

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Mati Listrik Di Pesawat

16 Juni 2010

Burung ‘Singo’ Boeing 737-400 baru mendarat di Cengkareng, penumpang siap-siap turun. Tapi tiba-tiba ada Mati Listrik (ML) di pesawat. Mesin, lampu, AC, semua mati. Rupanya “bisnis” ML bukan monopoli PLN, penerbangan juga.

Ketika turun, kutanya mbak pramugari: “Kenapa tadi tiba-tiba mati, mbak?”.
Jawabnya sambil cengengesan tapi manis: “Baru coba-coba kok pak”.

Walah, blaiiik..! Lha, ML di pesawat kok coba-coba. Kalau mau coba-coba ML mbok cari yang “mirip” pesawat.

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tiket Murah

16 Juni 2010

Di Terminal 1 Cengkareng, seseorang mendekati: “Tiket murah, pak”. Di musim tiket mahal seperti sekarang kok ada yang menawari tiket murah?

Kok bisa jual murah?”, tanyaku.
“Kita beli harga awal pak”, jawabnya.
“Berarti atas nama orang lain, dong?”.
“Tidak pak”, jawabnya.
“Pasti hanya orang-orang tertentu yang dapat”, kataku.
“Tidak juga”.

— Dialog tidak perlu saya lanjutkan, karena kesimpulannya jelas, bahwa “Masih ada calo yang akan lewat…” (bermain bersama orang dalam).

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Kehilangan Orientasi

16 Juni 2010

Sudah puluhan kali kudatangi, puluhan kali pula kusholati. Di mushola bandara Adisutjipto pagi ini aku benar-benar kehilangan orientasi. Mushola sudah dibersihkan, sajadah sudah digulung, tidak ada petunjuk kiblat, tidak bawa kompas, mau sholat safar wal-dhuha bingung menghadapnya kemana. Akhirnya tanya orang: “Arah barat mana ya?” (Ini Jogja lho mas, tempat KTP-ku diterbitkan… Uuugh…!)

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Kamar 14

14 Juni 2010

Bulan lalu ketika hendak menaiki sebuah gedung bertingkat di Jakarta, saya perhatikan angka penunjuk lantai di lift tidak memiliki angka 4, 14 dan 24. Biasanya angka 13 yang tidak ada, tapi kali ini semua yang mengandung angka 4 (empat) tidak ada. Jangan-jangan  biar “dikira” lantainya banyak lalu pengangkaannya diloncat-loncat?

Ketika akan naik ke lantai 18 gedung Menara Summit di Subang Jaya, Malaysia, dua tahun yll, saya berpikir kok tidak ada lantai 14? Sang pemilik gedung yang naik lift bersama saya, yang adalah seorang pebisnis properti di Malaysia, rupanya tahu keheranan saya. Beliau lalu menjelaskan perihal tidak adanya lantai 14 ini.

Rupanya angka 4 (empat) memang adalah angka yang dihindari oleh kebanyakan masyarakat Cina. Pasalnya bunyi lafal ‘empat’ dalam bahasa Mandarin bunyinya hampir sama dengan lafal ‘mati’ juga dalam bahasa Mandarin. Kedengarannya sama-sama ‘se’. Maka jalan pikirannya adalah jangan sampai ketika seseorang hendak menuju lantai 14 justru kedengaran seperti menyebut hendak menuju mati. Atau dapat diperlambangkan bahwa angka 4 (empat) dapat membawa seseorang tidak kepada hokinya atau keberuntungannya, melainkan “memelesetkannya” menuju kesialan, kegagalan, kehancuran, atau dalam lingkup bisnis adalah kebangkrutan.

Akan tetapi di Menara Summit pula saya juga heran: “Tapi kok ada lantai empat?”. Sang pemilik gedung pun sudah siap dengan jawabannya : “Lantai empat tidak dipakai bisnis, melainkan digunakan sebagai gudang”. Oo…, asal jangan menjadi lantai kematian atau kehancuran, kataku becanda dalam hati (becanda saja dalam hati…).

Dengan demikian menjadi dapat dipahami kalau diperhatikan di gedung-gedung tinggi milik orang Cina, kebanyakan tidak terdapat lantai empat, 14, 24, dst. Berbeda dengan orang Barat yang umumnya menghindari angka 13 yang berkonotasi sebagai angka sial. Maka kalau kedua “kepercayaan” itu berkolaborasi dalam sebuah gedung tinggi, misalnya gedung berlantai 15, maka hilanglah lantai empat, 13 dan 14… Berarti pengangkaan lantai gedungnya menjadi sampai lantai 18, atau malah cukup membuat 12 lantai saja?.

Demikian halnya dengan nomor kamar hotel atau tempat duduk di pesawat, adakalanya kamar No. 13 atau Row 13 di pesawat tidak ada. Entah kalau kamar hotel di Cina atau pesawat buatan Cina (saya belum pernah memperhatikan), jangan-jangan juga tidak memiliki kamar No. 4, 14, 24, dst. atau Row 4, 14, 24, dst. (becanda lagi, dalam hati…).

Maka ketika saya menempati sebuah kamar dengan No. 14, tentu saja tidak serta-merta pikiran saya harus berasosiasi dengan keyakinan tentang kesialan. Sebab “kepercayaan” saya berbeda. Walaupun di kamar itu saya langsung nggeblak….., seperti kebiasan saya setiap pertama kali masuk kamar hotel, merebahkan badan melampiaskan penat….. Angka 14 hanyalah sebuah angka, sebagaimana banyak angka atau nomor yang mengandung komponen angka 4 (empat) betebaran di mana-mana.

Untungnya saya bukan artis, sehingga apa yang terjadi di dalam kamar No. 14 tidak akan menarik perhatian orang. Kalaupun ada yang tertarik mengunggah dan menyebarkannya di internet, ya saya biarkan saja. Paling-paling adegan sedang buang hajat…., atau malah buang sial? (Jangan-jangan tergolong pornoaksi juga kah? Tapi masak sih pak polisi mau repot-repot menyidik orang buang hajat?).

Yogyakarta, 12 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Cara Keluar Yang Berbeda

14 Juni 2010

Doa yang selalu kumohonkan nyaris setiap hari: “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar…” (QS.17:80).

Dan jika kemudian yang terjadi ternyata tidak seperti yang kudoakan, maka itu pasti karena Tuhan telah menyiapkan cara keluar yang berbeda, dan (itu) pasti lebih baik…

Yogyakarta, 11 Juni 2010
Yusuf Iskandar