Posts Tagged ‘sleman’

Tour d’ Gendol

30 Januari 2011

“Tour d’ Gendol”… Wisata bencana sebagai tujuan wisata alternatif di kawasan yang terkena hempasan awan panas (wedhus gembel) di sepanjang aliran sungai Gendol, wilayah kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, DIY

Yogyakarta, 27 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Ketika “Crop Circle” Muncul Di Berbah, Sleman

26 Januari 2011

Fenomena “Crop Circle” di areal persawahan desa Jogotirto, kecamatan Berbah, Sleman, yang terjadi pada hari Minggu (23/01/11). Lukisan alam berupa tanaman padi yang roboh beraturan membentuk lingkaran dan lengkungan. Perlu tanya kepada alam dulu: “What the hell is this?” – (Saya mengambil foto dari puncak bukit Suru, 25/01/11 jam 10:45 WIB).

Masih menunggu penjelasan para ahli tentang seluk wal-beluknya…

(1)

Fenomena “Crop Circle” Berbah, Sleman…
Sementara masyarakat berbondong-bondong datang ke pinggir sawah dan bertanya-tanya kepada para ahli tentang apa gerangan yang terjadi, aku bertanya kepada pak Jumiran pemilik sawah. Jawabnya sambil terkekeh di tengah kerumunan masyarakat yang penasaran: “Nggih pantun kulo sami ambruk niku…(Ya padi saya pada rubuh itu…)”.

(2)

Tidak dipungkiri, fenomena “Crop Circle” memang membuat dahi mengernyit. Kalau dibuat orang pasti ada bekasnya, ditiup angin kok begitu terukur membentuk lukisan indah, bukan patah bukan roboh tapi melengkung rapi, tepat di atasnya ada SUTET (saluran udara tegangan tinggi), di bawahnya ada saluran pipa Pertamina. Hanya Bandung Bondowoso yang dapat melakukan ini selesai sebelum fajar, bahkan lebih cepat dari cinta satu malam.

(Note: Catatan obrolan dengan pak Jumiran sang pemilik sawah dan seorang pengunjung yang penasaran)

(3)

Hujan deras, angin kencang, geluduk, merata melanda Jogja siang ini. Waspada… (siapa tahu “Crop Circle” berubah menjadi “Crop Square” karena semua tanaman padi di seluas sawah pada roboh oleh angin…).

(4)

Banyak pohon tumbang di Jogja, akibat hujan deras dan angin kencang siang ini. Waspada..! Dalam perjalanan menuju Madurejo melalui rute klasik via Berbah, terlihat kawasan dimana ada “Crop Circle” masih ramai. Entah sengaja hujan-hujanan, entah kepalang kehujanan di tengah persawahan.

“Boss” saya penasaran tentang “Crop Circle”. Kujawab: “Ya sannaa... hujan-hujanan kalau mau lihat, aku tak nunggu di mobil…” (Saya belum cerita kalau paginya sudah ke sana).

(5)

Tuhan memang ruarrr biasa untuk urusan membagi rejeki. Ribuan orang berduyun-duyun datang ke lokasi “Crop Circle” di desa Jogotirto, Berbah, Sleman, setiap hari sejak hari Minggu yll.

Mobil dan sepeda motor mbayar parkir harga premium. Pedagang segala macam betebaran bahkan hingga ke puncak bukit Suru dimana lukisan alam terlihat bentuknya. Para petugas dan pejabat negara berdatangan dengan ngantongi SPJ. Maka terbagilah rejeki dari langit.

(6)

Entah malam Minggu, entah Minggu dini hari ketika proses “pembuatan” lukisan “Crop Circle” terjadi. Tahu-tahu pagi harinya, pak Jumiran dilapori tetangganya: “Itu sawah sampeyan pada ambruk”. “Ya sudah…”, pikir pak Jumiran.

Baru sorenya pak Jumiran melongo. Sawah yang padinya hampir menguning itu diributkan orang. Malah dibatasi pita kuning sama pak polisi dan dijaga. Kalau ada orang mau lihat dan lewat garis, disemprit dari jauh.

(7)
Bergaya seperti wartawan infotainmen kehabisan berita kawin-cerai, kutanya pak Jumiran, satu dari tujuh pemilik sawah yang ketiban “sial” itu: “Sebelumnya pernah ada firasat, mimpi aneh atau kode nomor, gitu pak?”.

Mboten wonteeen…(tidak ada)”, jawabnya.

Eh, malah seseorang di sebelahnya tanya saya: “Suka pasang lotre Singapur pak?”. Weleh, lha lotre pasar malam Sekaten yang tinggal jalan kaki saja saya ‘girap-girapen’, boro-boro harus terbang ke Singapur…

(8)

Pak Jumiran jelas tidak paham apa itu “Crop Circle” (bisa terpelintir lidahnya mengucapkan kata itu), apalagi Alien, UFO atau makanan lain sejenis itu. Pak Jumiran hanya menggerutu gusar (dalam bahasa Jawa halus): “Kalau sawah saya rusak, nanti dapat ganti rugi enggak ya?”.

Uuugh, pak Jum, pak Jum…, membumi sekali kegusaran Sampeyan. (Dalam hati saya becanda: Waduh, dananya telanjur dipakai untuk studi banding pak…).

(9)

Berdiri di pinggir sawah untuk melihat “Crop Circle”, memang ya hanya tanaman padi ambruk yang akan terlihat. Selain dengan terbang di atasnya (itu juga kalau tidak kesetrum jaringan listrik tegangan tinggi), satu-satunya cara untuk melihat keanehan padi ambruk itu adalah dengan mendaki bukit Suru yang ada di sebelah baratnya.

Maka ini juga keanehan lain, orang-orang tua, muda, anak, ramai-ramai seperti ikut lomba kebut gunung, mendaki bukit yang sebenarnya cukup terjal dan licin.

(10)

Berjalan di depanku saat mendaki bukit Suru seorang nenek (belum terlalu tua), ndeso, sambil mengangkat kain jaritnya, berjalan pelan. Saya agak miris melihat si nenek, walau bukit Suru ini kecil tapi terjal dan licin (diwartakan hari ini ada seorang yang tewas terjatuh).

Untuk menyalipnya saya perlu menyapa (dengan bahasa Jawa halus). “Mbah, panjenengan ini kok ya nekat ikut mendaki”. “Saya kan juga ingin lihat”, jawab nenek itu tidak mau kalah. Betapa…

(11)

Ini kisah tentang bukit Suru yang tidak ada hubungannya dengan “Crop Circle” –

Hari-hari ini orang ramai mendaki gunung Suru karena ingin melihat lukisan misterius. Hingga sekitar lima tahun yll. bukit Suru dipercaya banyak menyimpan kekayaan. Buktinya dulu banyak orang mendakinya saat malam Jum’at Kliwon dengan membawa sesaji. Tapi sejak sekitar gempa Jogja 2006, kekayaan bukit ini seolah hilang amblas bumi dibawa kabur Ontorejo.

(12)

LAPAN meyakini “Crop Circle” di Berbah, Sleman, itu bikinan manusia. Jika benar demikian, berharap akan terungkap.

Namun siapapun manusianya, dia adalah seorang yang kreatif dan luar biasa (nekatnya, maksudnya). Hasil proses kreatif yang layak diapresiasi untuk diarahkan ke hal yang lebih produktif. Dan bukan dikait-kaitkan dengan politik atau urusan tetek bin bengek yang semakin menguras energi yang sudah banyak diecer-ecer mubazir di Jakarta…

Yogyakarta, 25 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Gule Kambing Dan Sate Goreng “Marto Gule” Madurejo Sleman

7 Januari 2011

Gule kambing, sederhana tapi agak manis gimana gitu… “Marto Gule”, perempatan pasar Gendeng, Madurejo, Prambanan, Sleman. Menu sederhana (kolesterolnya yang tidak sederhana) tapi bertahan puluhan tahun di tempat yang sama. Sekarang adalah generasi ketiga dari penggiat dan pengusaha pergulean di pinggir timur kota Jogja.

Selain gule, warung “Marto Gule” di Madurejo, Prambanan, ini juga menyediakan menu kambing lainnya, yaitu sate goreng dan tongseng. Sate goreng sebenarnya adalah daging yang dipotong kecil-kecil seperti untuk sate, bumbunya langsung dicampur saat menggoreng. Berbumbu kecap, manis.

Warung ini sekarang dikelola dan dijurumasaki oleh keponakan mbah Marto sejak 1989. Sedang mbah Marto sendiri mewarisi dari ortunya, berarti sudah sejak puluhan tahun sebelumnya.

Yogyakarta, 30 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Mbah Arjo Dan Bekalnya

26 Desember 2010

Mbah Arjo Sudarmo, 83 tahun, sedang beres-beres setelah usai ashar, di masjid At-Taqwa Sidoharjo, Jl. Turi-Tempel, Sleman. Lalu mbah Arjo yang kalau bicara harus dekat hadap-hadapan itu berkata terkekeh: “Namung pados sangu mbenjang…(cuma cari bekal untuk besok)”. Padahal siapapun mafhum, yang disebut mbenjang itu mungkin tinggal selangkah dua di depannya.

Pesannya: “Ikhlas mawon…(ikhlas saja)”. Yang terakhir itulah yang tidak terukur timbangannya…

Yogyakarta, 30 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Candi “Candisari” Kalasan

24 September 2010

Candi “Candisari” Kalasan, adalah satu dari beberapapeninggalan Hindu yang ada di kawasan kecamatan Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Yogyakarta, 21 September 2010
Yusuf Iskandar

Museum Gunungapi Merapi

23 September 2010

Museum Gunungapi Merapi (MGM), Pakem, Sleman, Jogja. Obyek wisata edukatif yang layak dipertimbangkan untuk dikunjungi. Baru berumur setahun, belum selesai semua, megah, indah, nyaman, informatif, rekreatif, tidak kalah dengan museum di negara maju.

Jika Anda berkunjung, (ada baiknya) sempatkan berdoa sejenak sebelum pulang, agar siapapun yang ngurus museum ini, mereka adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya dan bukan koruptor… “Sumprit.., I luv this museum!”.

(Lokasi : Jl Kaliurang Jogja km-21, setelah Pakem, masuk ke kiri/barat sekitar 2 km, ikuti petunjuk yang ada. Atau, dari Pakem ke kiri/barat mengikuti jalan alternatif menuju Magelang, 3 km kemudian masuk kanan/utara sekitar 6,5 km, ikuti petunjuk yang ada).

Yogyakarta, 19 September 2010
Yusuf Iskandar

Saat Doa Diijabah

10 Juli 2010

Siang di Madurejo, Sleman, Jogja… Sambil ML di belakang toko (melamun & leyeh-leyeh), memandang hamparan padi yang menguning, berlatar perbukitan di kejauhan. Tapi siang ini langit gelap, mendung menghampar rata di angkasa, hujan turun deras sekali, angin berhembus kencang menderu, geluduk sayup-sayup bersahutan, padi yang siap panen pun tak mampu menahan tegak batangnya. Kata temanku, itulah orkestra alam yang menyertai saat diijabahnya doa….

Madurejo – Sleman, 8 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Musim Kawin

25 Juni 2010

Musim kawin telah tiba. Seperti kebiasaan umumnya masyarakat Jawa memilih bulan Rajab sebagai waktu yang dipandang “pas” untuk hajatan… Minggu siang ini, menghadiri pesta pernikahan seorang pegawai (di sebuah desa di Berbah, Sleman, Jogja). Betapa bertolak-belakangnya dengan pesta pernikahan yang kuhadiri beberapa hari yll. di gedung megah.

Pelajarannya: Bagaimana menikmati sepiring nasi menu ndeso bukan sebagai asesori pesta, melainkan bagian dari ritual kesyukuran…

Yogyakarta, 21 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Rumah Teletubbies

29 Mei 2010

Rumah Teletubbies alias Rumah Dome di dusun Sengir, desa Sumberharjo, Sleman, DIY. Salah satu “monumen kenangan” gempa Jogja, 27 Mei 2006. Penghuninya adalah para korban gempa dari kawasan sekitar yang rumahnya tidak layak huni. Di antaranya berasal dari dusun Nglepen dimana tanahnya amblas dan bergeser sampai 20 meter. Rumah Teletubbies itu kini jadi obyek wisata lokal (lokasinya sekitar 3 km timur Madurejo, Sleman)

Yogyakarta, 27 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Rumah Makan ‘Jejamuran’

14 Mei 2010

‘Jejamuran’, rumah makan special menu jamur-menjamur, di Sleman, Yogyakarta. Coba tengok (tengok saja dulu…), sate jamur dan tongseng jamurnya. Sampeyan tidak akan percaya kalau yang disajikan itu berbahan jamur. Masih ada gudeg jamur, oseng jamur dan aneka jejamuran lainnya.

Rasanya? Wow…, digaransi tidak akan menyesal.
Harganya? Lebih wow lagi…

Yogyakarta, 9 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Bahasa Jawa

20 April 2010

Hadir di sebuah acara pesta pernikahan di pelosok Madurejo, Sleman, Jogja. Sang pembawa acara (pranata adicara) menggunakan bahasa Jawa hinggil penuh bunga-bunga. Ternyata hanya sekitar 50% kata-kata yang diucapkan yang dapat saya pahami maksudnya, selebihnya hanya bisa saya kira-kira.

Lha kalau aku yang telah berpengalaman menjadi orang Jawa hampir 50 tahun saja susah paham, lalu bagaimana dengan anak-anakku atau anak-anak muda lainnya? Jangan-jangan bahasa Jawa telah menjadi bahasa asing di tanahnya sendiri..

Yogyakarta, 18 April 2010
Yusuf Iskandar

Musim Membajak Tiba

7 April 2010

Musim panen berlalu, musim membajak pun tiba

Kemana kerbauku kini?

APAPON tidak boleh buang

(Mohon maaf bila foto kurang tajam, karena diambil menggunakan kamera Blackberry)

Madurejo – Sleman, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

Musim Panen Di Madurejo

28 Maret 2010

Musim panen telah tiba. Hamparan sawah dengan padi menguning di kawasan Madurejo mulai dipanen, seolah berpacu dengan datangnya musim hujan. Tanaman padi dipotong di pangkalnya, kemudian dirontokkan bulir padinya dengan cara dipukul-pukulkan, lalu rontokan padinya dimasukkan karung, untuk kemudian diangkut ke penggilingan padi dijadikan beras.

Tiada lagi pemandangan petani yang menuai padi seperti nyanyian: “potong padi ramai-ramai, di sawah…”.

(Madurejo adalah nama sebuah desa di wilayah kecamatan Prambanan, kabupaten Sleman, DIY)

Yogyakarta, 27 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Sepatu Crocs

17 Maret 2010

Di Jakarta: Saya pernah mengantar teman beli sepatu karet merk Crocs, harganya Rp 699.000,- tapi sekarang sedang obral dan diperebutkan ribuan orang dalam sehari.

Di tokoku Madurejo, Sleman: Sepatu karet merk ‘seadanya’, harganya Rp 27.500,- tapi sepi pembeli hingga berminggu-minggu.

Keduanya saya test dengan cara saya tekan sekuat-kuatnya dengan kuku jempol, sama-sama tidak membekas. Bukan soal salah-benar atau baik-buruk, cuma ya huweran saja…

Yogyakarta, 16 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Tengkleng Kepala Ayam

5 Maret 2010

Tengkleng (sejenis tongseng) kepala ayam, citarasanya beda.

(Saya temukan di sebuah warung kecil di kawasan Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Selain tengkleng, juga tersedia ayam rica-rica dan ikan bakar)

Yogyakarta, 4 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Salak Pondoh Taman Agrowisata

16 April 2008

Ketika sudah kenyang makan segala macam di sana-sini, di Yogya, ada baiknya membeli salak pondoh, baik untuk dimakan sendiri maupun untuk oleh-oleh. Jenis salak khas dari kabupaten Sleman ini memang cukup terkenal (meskipun di daerah lain juga ada, seperti di kabupaten Karanganyar misalnya). Untuk mudahnya, orang sering menyebutnya sebagai salak pondoh Yogya. Rasa salak pondoh yang dapat dibilang selalu manis, kalaupun asam tetap saja asam-asam manis, menjadi keunggulan tersendiri bagi jenis buah salak ini.

Mumpung, atau jika Anda masih berada di kawasan utara Yogya, sempatkan untuk singgah di Taman Agrowisata, Sleman. Selain berekreasi di kawasan yang rimbun pepohonan dan berhawa segar, di sana Anda dapat memperoleh salak pondoh, langsung atau dekat dengan sumbernya.

Kawasan Taman Agrowisata dapat dicapai dari jalan alternatif atau jalan tembus Magelang – Solo di sisi utara Yogya, yaitu jalan yang sama dimana berada rumah makan “Boyong Kalegan”. Kalau dicapai dari arah Pakem, jalan Kaliurang, maka Taman Agrowisata berada setelah kecamatan Turi, dan jika dari arah Tempel, jalan Yogya – Magelang, maka berada kira-kira 5 km dari Tempel, sebelum kecamatan Turi. Ada petunjuk arah cukup jelas. Ikuti saja jalan kecil beraspal yang masuk menuju utara hingga sampai ke pintu masuk Taman Agrowisata.

Taman Agrowisata yang terletak di desa Bangunkerto, kecamatan Turi, kabupaten Sleman, ini dilengkapi dengan fasilitas rekreasi seperti kolam pemancingan, kolam renang, kolam rekreasi dengan sepeda air, taman bermain, taman bunga dsb. Sayangnya, seperti jamaknya taman rekreasi di tempat lain, fasilitas-fasilitas itu kurang terawat dengan baik.

Taman Agrowisata yang luasnya mencakup kawasan ratusan bahkan ribuan hektar, melibatkan tanah-tanah penduduk setempat ini memang dikhususkan untuk kebun salak pondoh. Oleh karena itu di sana kita bisa memetik sendiri salak pondoh langsung dari pohonnya.

Bagi mereka yang tidak sempat memasuki Taman Agrowisata, salak pondoh dapat dibeli di banyak tempat di sentra-sentra penjualan salak pondoh di sepanjang jalur Yogya – Magelang, bahkan di gubuk-gubuk kios pinggir jalan. Tinggal pandai-pandai menawar harga saja. Namun jika sempat pergi ke kawasan Taman Agrowisata, ada keuntungan yang dapat diperoleh. Selain berekreasi, maka ada peluang untuk membeli dengan harga lebih murah. Di sepanjang jalan masuk ke Taman Agrowisata juga banyak dijajakan salak pondoh langsung oleh pemilik kebun di depan rumahnya.

Namun yang utama sebenarnya, di Taman Agrowisata kita bisa memilih salak pondoh yang baru dipetik, yang batangnya masih terlihat kuning kehijauan dan belum kering. Demikian halnya kalau kita kupas kulitnya bagian dalam masih nampak kehijauan dan belum kering.

Salak pondoh ditanam di hampir semua kecamatan di kabupaten Sleman, kecuali Prambanan. Sentra produksinya berada di tiga kecamatan, yaitu Tempel, Pakem dan Turi. Di kecamatan Turi inilah yang paling banyak penduduknya menanam salak pondoh. Produksinya pun dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Kondisi geologi daerah Sleman sebagai daerah hasil pengendapan material erupsi gunung Merapi memang sangat cocok untuk budidaya salak pondoh. Selain faktor cuaca dan suhu sejuk di dataran tinggi, juga adanya unsur sulfur dari material tumpahan aktifitas vulkanis memang sangat mendukung kualitas produksinya.

Dari sekian banyak jenis salak pondoh, yang selama ini dikenal adalah salak pondoh super, salak pondoh kuning (atau coklat) dan salak pondoh hitam. Masing-masing mempunyai ciri-ciri dan rasa yang tipikal.

Ringkasnya, pokoknya salak pondoh itu uenak tenan. Rasa buahnya manis, bahkan tanpa menunggu yang sudah masak pun tetap manis, dan mempunyai kandungan air cukup sehingga tetap terasa segar, tanpa khawatir berasa seret di tenggorokan.

Manisnya salak pondoh memang semanis nilai ekonomis yang dihasilkan petani salak, dibandingkan jika tanah pertaniannya ditanami padi. Tentu, faktor resiko kegagalan tetap harus diperhitungkan. Kejayaan budidaya salak pondoh ini juga ditunjang oleh adanya paguyuban Kelompok Tani, sehingga persaingan usaha yang tidak sehat dapat dihindari. Bahkan para petani dapat saling membantu mengatasi masalah teknis produksi pertanian maupun ekonomis perkembangan dan persaingan pasar.

Kini, produk turunan dari salak pondoh sudah mulai berkembang. Tiba saatnya sentuhan teknologi yang mampu memberi nilai tambah salak pondoh mulai diperhatikan. Jangan heran kalau sekarang Anda jumpai di toko-toko adanya produk turunan salak pondoh seperti dodol salak, emping salak, manisan salak, sirup salak, kue salak, kripik salak, dsb. Untuk produk-produk yang terakhir ini Anda tidak perlu ke Taman Agrowisata.

Jadi, masih ingin yang segar-segar manis langsung dari pohonnya? Monggo, jalan-jalan ke Taman Agrowisata, Sleman.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 26 Juli 2004