Posts Tagged ‘sate kambing’

Ketika Tuhan “Memaksa”

10 Februari 2011

Kesialan, ketidak-beruntungan, keburukan dan bencana, hampir setiap saat kita jumpai. Tapi tidak setiap saat kita dapat melihat kebaikan yang ada di baliknya.

Berikut ini kumpulan cersta (cerita status) saya di Facebook, sekedar ingin berbagi…

(1)

Akhirnya benar-benar terjadi. Mobilku tidak bisa keluar karena terhalang bangunan di pojok jalan kampung. Orang lain yang bersengketa, mobilku yang jadi korban (kalau pemiliknya baik-baik saja). Yo wiss, bensinnya utuh…

Sudah 3 hari saya pergi ke toko Bintaran naik sepeda (uuuh.., sudah lama tidak bersepeda). Siang kemarin ke toko Madurejo menempuh jarak lebih 30 km pp. bersepeda motor boncengan dengan “boss” (hmmm.., untuk pertama kali kami lakukan ini sejak toko itu berdiri lebih lima tahun yll).

(Repotnya kalau membangun rumah di tengah persawahan ketika belum tahu kawasan itu kelak akan menjadi seperti apa. Tapi karena niat awal membangunnya adalah untuk tujuan ibadah, ya biar saja Tuhan yang mengurus jalan keluarnya…, maksudnya benar-benar jalan agar mobilku bisa keluar…)

(2)

Tertutupnya akses jalan mobil di rumah adalah satu hal. Bersepeda ke toko adalah hal lain. Tapi berboncengan sepeda motor jarak jauh adalah cara Tuhan “memaksa” saya untuk lebih kompak bekerja berdua “boss”.

Hmmm… Sebab filosofinya adalah, tidak ada hal yang kebetulan melainkan ada dalam perencanaan-Nya. Maka bersepeda motor ke Madurejo untuk yang pertama kali itu pun sesuai rencana-Nya.

(3)

Berboncengan sepeda motor, dengan kecepatan 30-40 km/jam, membelah persawahan di wilayah kecamatan Berbah yang padinya mulai menguning dan sebagian mulai panen… Uuugh, serasa seperti sedang yang-yangan (pacaran).

Dengan “menutup” akses mobil di kampung, Tuhan sedang “memaksa” memberi kesempatan kami untuk melakukan “revitalisasi”. Kami pun bisa bersepeda motor ke Madurejo dengan santai sambil cengengesan… Untung tidak kehujanan…

(Seorang teman “cemburu”… Saya katakan, bayangkan seperti melihat adegan kemesraan dalam film-film jadul, bukan dalam film-film jaman sekarang…)

(4)

Pulang dari Madurejo saat sore. Mampir ke warung sate kambing “Pak Tarno”, di Jl. Piyungan-Prambanan km 4,5. Seporsi sate yang terdiri dari enam tusuk dengan potongan kecil-kecil, empuk sekali dagingnya… Seporsi gule melengkapinya.

Jam terbang Pak Tarno yang lebih 22 tahun menekuni dunia persatean di Jogja, tidak diragukan lagi kompetensinya untuk menyajikan seporsi sate kambing…, hmmm..! Terbukti dua ekor kambing ludes dimakan pelanggannya tiap hari.

(Memang tidak ada hubungannya antara kemesraan dengan sate kambing. Sate kambing itu sepenuhnya hak prerogatif lidah hingga perut untuk mak nyus atau tidak , sedang kemesraan itu seperti angin segar yang berhembus di persawahan karena selalu diharapkan agar jangan cepat berlalu…)

Yogyakarta, 9 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

NB:
Catatan ini kupersembahkan kepada sahabat-sahabat saya yang kini usianya telah berada di ambang atau sekitar periode “over-sek” (lebih seket, lebih lima puluh tahun). Teriring salam hormat semoga selalu berbahagia bersama keluarga.

Iklan

Sate Kambing “Pak Tomek”

20 September 2010

Pulang dari toko, lha kok “boss” ngajak nyate. Ya jelas tak kuasa kumenolaknya. Maka mampir ke warung sate kambing “Pak Tomek” Jl. Wonosari km 10,5, Jogja. Potongan dagingnya kecil-kecil tapi empuk, dengan aroma irisan daun kencur yang khas. Satenya disajikan sudah lepas dari tusuknya.

Pasangan sate adalah tongseng kepala kambing. Biasanya ada le lung (gule balung) dan seng lung (tongseng balung), tapi sore tadi sudah habis. Minumnya saparella…

Yogyakarta, 16 September 2010
Yusuf Iskandar

Sate Kambing Babadan Jogja

25 Agustus 2010

Lebih 30 tahun pak Tupan menggeluti kambing, yang dijadikan sate dan tongseng, yang dagingnya terasa empuk dan lembut, yang berbumbu sambal kecap dengan banyak taburan merica.

Warungnya yang tanpa judul itu dikenal orang sebagai “Sate Babadan” karena lokasinya tepat di perbatasan dusun Babadan, Maguwoharjo, dari arah kota Jogja. Ke sanalah sore tadi saya dan teman-teman bukber alias buka bersama (setidak-tidaknya, bersama penikmat sate lainnya).

(Ancar-ancar lokasi : Ring Road utara-timur, pas di tikungan Makro belok ke utara ke arah pasar Stan dan stadion Sleman tapi terus naik ke utara, di sisi kiri jalan akan terlihat tulisan batas Dusun Babadan dan warung satenya tepat ada di sisi kanan jalan).

Yogyakarta, 20 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Sate Kambing Warung ‘Baskom’

10 Juli 2010

Sore-sore pulang dari toko, lha kok ‘boss’ saya ngajak nyate. Ya jelas, mau..mau..mau..! Mampirlah di warung ‘Baskom’ (bakso komplit) depan pasar Paing, Jl. Jogja-Wonosari km 9. Makan siang yang terlambat dengan menu 1 porsi sate kambing + 1 porsi tongseng kepala kambing, whaaa.… Lha ternyata ini malam Jum’at to

Habis makan saya tolah-toleh, rupanya semua sudah masuk tembolok, termasuk punya ‘boss’ yang tidak habis dilahap…

(Tentang rasanya, sebenarnya standar saja, sebanding dengan harganya)

Yogyakarta, 8 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Sate Kambing Bang Mamat

25 Februari 2010

Turun dari Dieng menuju Wonosobo gelap bin gulita (lha wong malam, maksudnya karena jalan berkabut), berliku, menurun, untung rute ini sudah dibuka (minggu yll putus karena longsor). Tiba di Wonosobo, dilanjut dengan berburu kuliner. Selalu dan selalu… Pilihan jatuh ke sate kambing dan tongseng kambing muda Bang Mamat (Mamat ini juga bukan nama kambing), yang katanya top-markotop

(Saya mampir ke warung sate kambing Bang Mamat yang di cabang Jl. A. Yani, Wonosobo, jalan yang menuju arah ke Banjarnegara)

Wonosobo, 22 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Dari Kendal Ke Dieng

25 Februari 2010

Hari ini menjajal trayek: Kendal – Batang – Subah – Bandar – Batur – Dieng – Wonosobo. Rute ini belum pernah saya lalui. Mudah-mudahan kondisi jalan layak untuk didaki dengan ‘Jazz’. Kalau ternyata tidak? Lha ya balik lagi. Gitu aja kok repot…! Maka agar Jazz kuat mendaki, sopirnya berhenti dulu makan sate kambing ‘Bu Tris’ (Bu Tris ini bukan nama kambing) di Banyuputih, Batang.

Banyuputih – Batang, 22 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Sate Khas Senayan Yang Tidak Terasa Khasnya

5 Juli 2009

Seorang relasi mengajak makan siang di bilangan mal Citywalk, Jl. Mas Manysur, Jakarta. Terpilihlah resto Sate Khas Senayan Express, satu dari sekian banyak cabangnya yang ada di Jakarta. Koleksi menunya cukup komplit dan katanya semua menu masakannya serba enak. Lha wong namanya ditraktir, ya saya manut saja. Meski begitu, naluri untuk melakukan icip-icip atas apa yang saya makan tetap berjalan.

Merasa terprovokasi oleh judul restonya, yaitu ‘sate khas’, saya menjadi antusias ingin mencobanya. Wajar kalau kemudian saya berharap akan menemui sate dengan rasa khas atau paling tidak ada sesuatu yang khas di sana. Siang itu resto ini cukup penuh dipadati pemakan (orang yang makan). Memperhatikan padatnya pengunjung, saya menjadi semakin bersemangat ingin segera mencobanya. Kami pun rela menunggu beberapa menit sampai ada tempat yang kosong ditinggal pemakan sebelumnya.

Meski banyak menu ditawarkan, saya fokus pada menu utama sesuai judulnya, yaitu memesan sate kambing. Saya baca harganya 37 (angka ini harus dibaca dalam ribuan), sedang kalau sate saja 27, artinya ada selisih harga 10 untuk seporsi nasi atau lontong. Sedang minumnya sengaja saya pilih yang namanya rada aneh, yaitu wedang angsle seharga 18. Minuman ini mirip-mirip wedang ronde, disajikan hangat berbahan minuman jahe dengan tambahan ramuan macam-macam ada kolang-kaling, kacang hijau, cendhol, dll.

Tidak perlu menunggu lama, sate pun tersaji di meja. Kata relasi saya yang biasa makan di situ, kebiasaannya kalau menyajikan pesanan sate atau tongseng seringkali nasi atau lontongnya terlambat disajikan, tidak sekaligus disertakan bersama sate atau tongsengnya. Dengan kata lain, jangan diam saja meski pesanan satenya sudah disajikan, melainkan perlu mengingatkan pelayannya agar nasi atau lontongnya segera disusulkan. Pengalaman relasi saya, pernah nasinya kelamaan disajikan, hingga satenya habis dithithili (dimakan sedikit-sedkit) satu-satu karena nasinya lama tidak datang-datang. Ketika sang nasi akhirnya muncul, tentu saja disuruh mengembalikan (takut dikira sedang mutih…, laku prihatin hanya makan nasi putih thok…).

Seporsi sate kambing terdiri dari enam tusuk dan setiap tusuknya terdiri dari empat iris kecil daging kambing. Bumbu satenya berupa kecap ditambah dengan sedikit sambal dan irisan bawang merah. Kemudian satu demi satu potongan daging satenya saya coba mengunyah pelan-pelan, sambil berharap akan menemukan dan merasakan kekhasannya. Sayangnya pada siang itu (entah pada siang-siang lainnya…), proses pembakarannya agak kurang matang. Ada beberapa potong daging yang agak alot dikunyah hingga terpaksa saya lepeh (dibuang dari mulut) karena gigi saya tidak mampu mengunyahnya.

Usai makan, sambil ngobrol, sambil menghabiskan dan menikmati wedang angsle, sambil saya mikir-mikir (jarang ada orang yang bisa melakukan, kekenyangan habis makan kok mikir….). Kalau rasa satenya ternyata standar alias biasa-biasa saja, lalu apanya yang khas? Selain minuman penutup wedang angsle yang rasanya memang rada khas, akhirnya saya temukan juga kekhasan resto ini. Bahwa pengunjung rela membayar mahal karena membeli suasananya, maksudnya suasana khas makan di mal yang ramai, gemebyar dan penuh pandangan warna-warni, termasuk kaum hawa yang berseliweran mengenakan pakaian berbahan kurang.

Maka kalau tujuannya hendak makan sekedar mencari pengganjal perut yang lagi kosong, makan sate di kaki lima akan lebih puas dan efisien dari segi biaya. Tetapi kalau tujuannya hendak menemukan suasana entertainment dan gengsi, tempat ini dapat menjadi alternatif. Anda yang punya kantong, Anda yang punya isinya, dan Anda pula yang punya hak menyontreng pilihan menunya.

Yogyakarta, 5 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Menyantap Sate Padali Sebelum Masuk Sumur

12 Mei 2008

Warung sate itu bernama Padali. Jangan salah, bahwa Padali itu bukan suaminya Bu Dali. Awalnya saya juga mengira demikian (sebutan khas orang Sunda yang biasa menulis Pa untuk Pak). Padali adalah nama tempat atau kampung dimana warung itu berada.

Warung Sate Padali saya jumpai di rute perjalanan dari arah Labuan menuju Legon, dermaga penyeberangan ke pulau Umang, Pandeglang, Banten. Kira-kira 13 km sebelum masuk Sumur, perlu hati-hati (namanya juga mau masuk sumur……). Di sana ada perempatan jalan kecil yang cukup padat kalau siang hari karena selain jalannya relatif sempit meski beraspal, tapi lokasinya berdekatan dengan pasar dan pusat kegiatan ekonomi masyarakat kampung Padali.

Untuk menuju ke Sumur, sesampai di perempatan Padali belok ke kanan. Tapi kalau mau mengisi perut dulu, ambil jalan lurus sedikit dan berhenti di sebelah kanan jalan. Sebuah spanduk warna putih bertuliskan cukup jelas memberitahu keberadaan Warung Sate Padali. Di daerah sepanjang rute ini memang tidak banyak pilihan warung makan. Setidak-tidaknya saya sudah berusaha mencarinya sejak dari kawasan Sumur dan belum menemukan yang pas di hati, hingga akhirnya ketemu warung sate Padali. Maka warung sate Padali bisa jadi pilihan di antara yang tidak banyak itu.

Apa menu yang ditawarkan? Menu unggulannya adalah sate kambing, sate sapi dan sop kikil kambing. Masih ada asesori tambahan yaitu krecek kambing. Krecek di sini bukan seperti krecek-nya orang Jogja yang disebut koyoran yang berbahan kulit sapi dan biasanya dimasak sambal goreng pelengkap gudeg atau sayur brongkos. Krecek kambing di sini adalah potongan-potongan jerohan kambing, seperti babat, usus, limpa dan kawan-kawannya, yang digoreng dan berasa gurih. Meski tersedia juga menu lainnya bagi yang tidak suka daging-dagingan.

Menyesuaikan dengan kondisi perut yang sudah mendendangkan irama macam-macam, maka malam itu saya memesan sate kambing, sopi kikil kambing, sedikit krecek kambing karena penasaran ingin mencoba rasanya, ditambah dengan petai bakar. Tidak terlalu lama untuk menunggu disajikan. Satenya disajikan dengan bumbu ganda, ada bumbu kecap dan ada bumbu kacang. Bumbu kacangnya sungguh sedap, agak manis dan agak pedas. Lebih sedap lagi ketika setusuk sate kambing panas dioleskan pada kedua bumbu yang dicampurkan. Wuih……, sepertinya tidak sabar ingin segera menelan semuanya……

Tapi namanya juga manusia, panjang ususnya tentu saja terbatas. Belum habis seporsi sate yang terdiri dari 10 tusuk, diselingi dengan mengerokoti kulit kikil kambing yang lunak dengan bumbu sopnya pas benar, masih diselingi dengan gigitan-gigitan krecek kambing, akhirnya ibarat lomba lari belum sampai garis finish sudah klepek-klepek……., kecepatan terpaksa dikurangi. Perut kemlakaren……., kekenyangan.

Paduan rasa dan bumbunya secara keseluruhan cukup memuaskan. Hanya sayangnya agak kurang pandai memilih daging, sehingga ada beberapa potong daging kambing yang kenyal dan alot dikunyah. Tapi, it’s OK. Harganya tidak semahal di kota. Di kawasan ini harga makanan relatif murah, meski lokasinya jauh dari mana-mana.

***

Penjual sate yang saya lupa menanyakan namanya dan mengaku berasal dari Purwakarta ini rupanya sudah sekitar empat tahunan berjualan sate di Padali. Kini warung satenya semakin ramai dikunjungi para pemakan (orang yang mencari makan di luar, maksudnya). Terutama sejak di dekat sana ada aktifitas ekonomi baru, yaitu usaha pertambangan emas di wilayah kecamatan Cibaliung.

Kawasan barat wilayah kabupaten Pandeglang yang selama ini dikenal sebagai daerah yang kurang subur untuk usaha pertanian, kini kehidupan ekonomi sebagian penduduknya menjadi agak terangkat. Terutama mereka yang mempunyai keterampilan untuk dididik menjadi tenaga kerja tambang. Kawasan itu juga menjadi lebih ramai dibanding sebelumnya, dengan adanya penduduk pendatang yang bekerja di tambang.

Sepasang suami-istri penjual sate itu pun kini bisa tersenyum gembira, tiga ekor kambing siap disembelih setiap harinya guna memenuhi permintaan penggemar satenya. Kalau daging sapinya cukup dengan membelinya di pasar.

Warung sate ini dari luar masih terlihat sangat sederhana dan terkesan ndeso, meja dan bangkunya juga seadanya, dan sebaiknya tidak dibayangkan seperti warung sejenis di kota. Namun saya yakin tidak lama lagi warung sate ini akan tampil beda, baik tampilan tempat maupun pelayanannya. Racikan bumbu sate dan sopnya cukuplah menjadi modal bagi kesuksesan warung ndeso ini kalau saja mereka pandai mengelola warungnya yang ada sekarang.

Belum lagi kalau pengunjung ke obyek wisata pantai Sumur, pulau Umang dan sekitarnya semakin ramai. Bolehlah pemilik warung sate ini berharap agar dalam perjalanan wisatanya orang-orang mau mampir menyantap sate Padali dulu sebelum masuk Sumur.

Yogyakarta, 11 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Kambing Muda “Pujaing”

16 April 2008

Eh, lha ternyata masih ada pilihan tempat makan lainnya, kali ini di sisi tenggara Yogyakarta, bagi Anda yang bosan dengan suasana restoran. Jika Anda sedang dalam perjalanan dari Yogya menuju Piyungan atau Wonosari, atau sebaliknya sedang menuju Yogya dari arah Wonosari, maka ada pilihan tempat makan pinggir jalan yag dapat dipertimbangkan.

Namanya “Pujaing”, kependekan dari Pusat Jajan Pasar Paing, karena letaknya persis di depan pasar Paing, Tegalsari, Jalan Wonosari Km 8,5. Kalau dari arah Yogya letaknya di sisi kanan jalan, sekitar 1,5 km sebelum Taman Rekreasi Kid’s Fun.

Bagi yang belum pernah tahu Kid’s Fun, ini adalah taman bermain untuk anak-anak. Konon pemiliknya adalah mantan KSAD, HS. Subagyo (entah benar, entah tidak). Saya tidak ingin cerita lebih jauh tentang Kid’s Fun karena memang tidak ada yang istimewa tentang tempat bermain ini. Tempat ini sebenarnya pernah menjadi pilihan para orang tua di Yogya untuk menggiring anak-anaknya berekreasi dengan aneka sarana hiburan dan bermain. Namun belakangan agak turun pamornya. Maklum untuk ukuran Yogya, untuk bermain di tempat ini diperlukan biaya yang tergolong mahal bagi masyarakat umum Yogya.

Kembali ke “Pujaing” tadi, ngomongin soal makan terasa lebih nyem-nyem…… Meskipun disebut oleh pemiliknya sebagai pusat jajan, jangan dibayangkan seperti yang ada di kota-kota besar. “Pujaing” ini hanya sekedar warung di pinggir jalan yang ukurannya agak lebar, yang di sana tersedia beberapa pilihan makanan yang digelar bersama-sama di satu warung. Jadi suasananya ya suasana makan di warung pinggir jalan. Sederhana saja.

Yang khas, jenis makanan yang disediakan punya nama yang luar biasa, maksudnya di luar kebiasaan. Misalnya ada baskom (yang ini jelas bukan sejenis wadah yang terbuat dari alumunium), tapi entah rumusan tata bahasa dari mana hingga baskom ini ternyata singkatan dari bakso kumis. Tapi dijamin kalau Anda pesan bakso ini tidak akan dicampur dengan kumis penjualnya. Barangkali sekedar julukan bagi penjualnya, Pak Kumis.

Ada lagi, mie pitik. Ya, benar-benar disebut pitik (bahasa Jawa yang artinya ayam). Lalu ada soto babat, es teler, sate atau tongseng kempol kambing muda. Lagi-lagi, dipilih sebutan kempol (bahasa Jawa yang artinya paha). Dengan menyebut kempol memang terkesan lebih mantap ketimbang menyebut paha.

Bagi mereka yang suka mengembik alias penggemar daging kambing muda, barangkali mampir ke “Pujaing” tidak ada salahnya dicoba. Ihwal kambing muda ini memang susah dibuktikan, mudah-mudahan benar. Lha, wong umur seseorang di KTP yang ada fotonya saja mudah dimanipulasi, apalagi kambing yang tidak pernah punya KTP dan tidak terlihat prejengan-nya (profil wajahnya).

Jika sudah memilih jenis makanannya, maka tinggal pesan atau jika ingin lebih puas dapat juga langsung mendatangi counter (baca : gerobak) masing-masing.

Soal rasa, menurut lidah saya bisa ber-rating “enak” saja. Namun kalau memperhatikan cukup banyaknya pengunjung yang mampir ke warung “Pujaing” ini, nampaknya bagi lidah orang lain bisa tergolong “enak banget”. Jika penilaian ini benar, memang pas sekali dengan motto yang disandang warung ini, yang berbunyi : “Dijamin uenak tenan” (saya tulis sesuai tulisan aslinya).

Selebihnya, terserah Anda. Paling tidak, “Pujaing” ini dapat menjadi pilihan makan siang yang tidak mengecewakan. Nyatanya anak saya sampai menghabiskan dua baskom, maksudnya dua mangkok baksonya.

Siapa tahu Anda kesasar ke jalan Wonosari……… Monggo, kalau mau mampir di warung “Pujaing” sambil mengingat-ingat jalan pulang.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 24 Juli 2004.

Sate Kambing “Ibu Laminah” Gombong

7 April 2008

Menempuh jalur lintas selatan dari arah Yogyakarta menuju ke kota-kota di sebelah baratnya terkadang membosankan. Hari Sabtu yang lalu saya mencoba menggunakan jalan alternatif, yaitu jalan yang membentang sejajar di sebelah selatannya jalur utama lintas selatan dari Yogyakarta menuju kecamatan Buntu, yaitu perempatan yang menuju Cilacap, Purwokerto dan propinsi Jawa Barat. Ini adalah jalan alternatif yang sedang dikembangkan ke arah timur sebagai jalan alternatif di pinggir selatan, dekat laut, menghubungkan dengan wilayah selatan Bantul, Gunung Kidul, hingga ke Pacitan.

Kondisi jalan ini sekarang jauh lebih baik dan lebih lebar. Dulunya hanya jalan kecil atau tepatnya jalan lintas pedesaan. Kini kondisi jalannya ada yang sudah beraspal halus dan ada yang masih kasar, tapi tidak banyak berlubang-lubang sehingga bisa melaju kencang, karena bentangan jalannya relatif lurus dan sepi. Melintasi kawasan persawahan, tegalan dan menerobos pedesaan. Tidak banyak berpapasan dengan kendaraan atau sepeda motor, kebanyakan orang desa yang bersepeda dan pada jam-jam tertentu banyak anak-anak berangkat atau pulang sekolah. Bagi orang-orang yang sudah tahu, melintasi jalan ini akan sangat menghemat waktu.

Dari arah Yogyakarta, saya masuk ke jalur jalan ini setelah melewati kota Wates, tepatnya pada persimpangan jalan yang menuju ke pantai Congot. Setelah itu tinggal mengikuti papan petunjuk arah terus melaju ke arah barat. Jika menginginkan kembali ke jalur utama lintas selatan, maka pada beberapa persimpangan akan terdapat tanda dimana bisa menuju kota-kota Purworejo, Kebumen, Karanganyar, Gombong, dsb. Hanya saja, di sepanjang jalan alternatif selatannya lintas selatan ini tidak akan dijumpai SPBU dan tidak banyak warung makan.

Oleh karena itu ketika tiba di wilayah Gombong, saya menyempal ke utara menuju jalur utama di kota Gombong. Tujuannya ya mencari warung makan. Kalau tengki kendaraan sudah dipenuhi BBM sejak berangkat dari Yogyakarta, tapi tengki pengemudi dan penumpangnya sudah mulai memainkan musik klenengan alias minta diganjal.

Tapi kemana enaknya? Kata-kata “enaknya” ini dalam arti yang sebenarnya, yaitu makan yang enak. Sedang saya merasa belum familiar dengan kota ini.

Atas rekomendasi teman, sampailah saya di warung makan “Ibu Laminah”. Menilik namanya, jelas pemilik warung makan ini adalah seorang perempuan. Maka di sanalah aku berdiri…… (tentu saja setelah keluar dari mobil), lalu masuk ke sebuah warung di pinggir jalan. Suguhan menu utamanya adalah sate, gule dan tongseng kambing. Bagi sebagian orang yang sudah over sek (lebih seketan, lebih lima puluhan umurnya) memang terkadang perlu agak hati-hati dengan menu perkambingan.

***

Namanya juga warung, tampilan luarnya memang tidak terlalu bagus dan tidak pula terlalu menarik. Sangat sederhana, entah kenapa tidak direnovasi menjadi lebih bagus dan permanen. Tidak seperti resto-resto masa kini yang sedang menjamur. Nyaris biasa-biasa saja tak beda dengan warung-warung makan pinggir jalan lainnya. Lokasinya berada di sisi utara jalan raya utama kota kecamatan Gombong, kabupaten Kebumen. Persisnya di Jl. Yos Sudarso, di seberang depannya Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong, agak ke timur sedikit.

Meskipun sepintas seperti warung makan murahan di pinggir jalan raya, tapi rasa satenya, boo……… Saya kategorikan di atas rata-rata. Sate kambingnya disajikan dengan bumbu sambal kecap dan irisan bawang merah. Daging satenya uuuempuk tenan …..(diucapkan sambil kedua ujung jari jempol dan telunjuk seperti sedang memencet irisan daging, lalu gerak-gerakkan sedikit naik-turun…..), dan tidak berkecenderungan nylilit atau nyangkut di gigi (kecuali yang memang giginya sudah aus parah).

Seporsinya berisi sepuluh tusuk daging kambing dengan irisan agak kecil. Belum lagi tongsengnya, wow…… Pas benar bumbunya ibu Laminah ini. Bukan hanya mak nyusss..., tapi mak nyoouusss..…..karena keceplus cabe rawit yang ada di tongseng…..

Warung makan “Ibu Laminah” ini sudah beroperasi sejak tahun 1980. Selama ini pula sudah memiliki penggemarnya sendiri, khususnya mereka yang tinggal di Gombong, Kebumen dan sekitarnya, termasuk para dokter terbang Rumah Sakit PKU di seberangnya. Pelanggan dari luar kota hanya mereka yang sudah tahu dan kebetulan sedang dalam perjalanan melewati kota Gombong.

Menilik bahwa sehari rata-rata menghabiskan seekor kambing, tentu sebuah prestasi dagang yang cukup lumayan untuk ukuran warung kecil di pinggir jalan. Prestasi tertingginya dicapai waktu musim lebaran, sehari bisa mengorbankan tiga ekor kambing.

Kiranya bagi mereka yang sedang dalam perjalanan di jalur lintas selatan dan kebetulan tiba di Gombong pas lapar dan perlu mengisi tengki dua belas jari, serta menyukai menu kambing-kambingan, maka warung makan “Ibu Laminah” adalah salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan. Setidak-tidaknya, kalau suatu saat saya melintas di kota Gombong lagi, saya berniat untuk menyinggahi “Ibu Laminah”, lengkap dengan sate dan tongsengnya.

Yogyakarta, 30 Nopember 2006
Yusuf Iskandar