Posts Tagged ‘tambang’

Kenangan Itu Untuk Disyukuri

10 April 2010

(Catatan Kenangan Untuk Teman Sekamarku, Prof. Dr. H. Didit Welly Ujianto, MS.)

Pengantar :

Pada hari ini, teman sekamar kostku 30 tahun yll, yang sekarang menjabat sebagai Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta periode kedua, dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi Manajemen, Prof. Dr. H. Didit Welly Udjianto, MS. Sebagai tanda turut bangga atas pencapaiannya itu, saya membantu menyunting sebuah tulisannya yang sangat menyentuh yang berjudul “Syukurku Hanya Kepada Allah” dan saya sendiri juga menuliskan sebuah catatan kenangan yang saya persembahkan kepada beliau, seperti di bawah ini.

***

Sebagai seorang calon mahasiswa UPN “Veteran” yang telah diterima di Fakultas (sekarang Jurusan) Tambang, pada sekitar pertengahan tahun 1979 saya mencari pemondokan di kawasan belakang kampus Tambak Bayan. Akhirnya sampailah saya di sebuah pemondokan bernama Pondok Siswa yang beralamat di Jl. Tambak Bayan IV/1. Setelah bertemu dengan bapak kost (Alm. Bp. H. Abdul Karim) saya diberitahu bahwa biasa kost per bulan untuk satu kamar adalah Rp 25.000,- Saya tidak langsung menyetujuinya mengingat biaya sebesar itu merupakan jumlah yang cukup besar bagi umumnya mahasiswa pada waktu itu.

Untungnya pihak pemilik kost memberi kemungkinan untuk sharing atau sekamar ditempati dua orang. Ketika secara kebetulan tidak lama kemudian siang itu juga datang seorang calon mahasiswa Fakultas Ekonomi yang berasal dari Delanggu, Klaten, yang juga berniat tinggal di pemondokan yang sama, saya mengajak mahasiswa itu untuk gotong-royong menempati sekamar berdua, sehingga masing-masing dari kami iuran per bulan hanya Rp 12.500,- Maka sejak saat itu, saya dan mahasiswa itu tnggal di sebuah kamar berukuran 3 m x 3 m yang di dalamnya sudah dilengkapi dengan dua dipan tempat tidur, sebuah meja belajar dan sebuah almari kecil. Kami pun berbagi menggunakan meja belajar dan almari kecil yang ada.

Mahasiswa Ekonomi teman sekamar saya itu bernama Didit Welly Ujianto. Seorang muda yang ramah, murah senyum (malah terkadang cenderung cengengesan), enerjik dan pandai bergaul. Di kemudian hari saya tahu ternyata Didit juga seorang yang tekun dan ulet dalam belajar, teman diskusi yang menyenangkan (semula saya berprasangka jangan-jangan terpaksa karena telanjur tinggal sekamar) dan memiliki daya ingat yang di atas rata-rata dibanding saya dan teman-teman sekost waktu itu.

Ketekunannya tidak saja dalam bidang akademik, namun juga dalam soal menjalankan ibadah. Sebagai seorang penganut Katholik, Didit adalah seorang yang rajin pergi ke gereja Kotabaru. Bahkan di dalam kamar un Didit tekun membaca Alkitab nyaris setiap pagi bangun tidur, menjelang tidur malam dan sesekali saat istirahat siang. Diam-diam saya cemburu memperhatikan ketekunannya dalam beribadah.

Namun satu hal yang belakangan ini baru kami sadari dan akan terus kami kenang adalah bahwa kehidupan pertemanan antara saya dan Didit sebagai teman sekamar barangkali merupakan contoh cara hidup bertoleransi agama yang pernah kami banggakan. Sebagai seorang muslim, setiapkali saya menjalankan sholat di kamar yang sempit itu, Didit yang sedang belajar harus menggeser kursinya dan terkadang berpindah ke atas tempat tidurnya.

Ketika saya bertadarus membaca Al-Qur’an dan pada saat yang bersamaan Didit membaca Alkitab, itupun tidak pernah saling menggangu atau terganggu. Padahal kami masing-masing memiliki kebiasaan membaca kiab suci sambil bersuara, bukan di dalam hati. Kami tetap konsisten dan saling menghargai dengan niat baik masing-masing tanpa perlu mempersoalkan apa yang sedang kami lakukan sesuai keyakinan kami. Bahkan sekali waktu kalau saya malas membaca Al-Qur’an, Didit pun mengingatkan saya dengan gaya bercandanya, kok tumben saya tidak membaca Qur’an. Demikian keseharian yang terasa demokratis dan penuh toleransi itu berlangsung selama dua tahun hingga akhirnya kami masing-masing pindah kost karena perkuliahan pada tahun ketiga berpindah dari kampus Tambak Bayan ke Ketandan.

Kebiasaan khas dari Didit yang paling saya sukai adalah selalu memakai sarung berwarna merah (mungkin satu-satunya yang dimiliki) dengan digulung tinggi dan bagian atas terbuka alias tidak memakai baju, kalau sedang berada di kost. Nyaris hanya ketika pergi ke kampus dan ke gereja saja Didit memakai celana panjang dan itu pun selalu tampil necis dan rapi.

Didit adalah seorang yang suka bercanda, dengan dialek bahasa Jawa ndesonya yang sangat kentara membuat suasana di kamar sering ger-geran berdua. Kesukaannya dengan lagu-lagu Jawa dan keroncong, serta mendengarkan siaran wayang di radio telah mewarnai suasana khas dalam pergaulan di pemondokan.

Semangat toleransi dan tenggang rasa yang dimiliki oleh Didit memang sudah terlihat sejak kami masih tahun-tahun awal mahasiswa terutama dalam pergaulan sehari-hari di pemondokan. Orang Jawa mengatakan Didit adalah seorang yang “entengan” tanpa pretense apapun. Ketika saya sebagai mahasiswa Tambang melakukan praktikum lapangan dan pulang membawa baju kotor, dengan santainya Didit membantu merendam pakaianku tanpa ada perasaan mendongkol atau kesal. Demikian pula sebaliknya ketika saya membantu merendam sarung merahnya yang sudah sekian hari atau minggu tidak dicuci.

Ungkapan khas Didit ketika sedang berdebat atau adu argumentasi tentang suatu hal lalu mentok tidak tahu jawabannya, maka dengan pasrah Didit akan mengatakan : “Lha witekno piye….?” (kira-kira bahasa Indonesianya : “Habis gimana dong?”. Kalau sudah begitu diskusi pun berhenti dan kami tertawa.

Semangatnya sebagai seorang mahasiswa yang memang sejak awal bercita-cita menjadi dosen juga sudah terlihat dari kebiasaan belajarnya. Didit adalah seorang yang rajin dan tekun dalam belajar, sejak dulu tidak saya ragukan. Hampir setiap malam Didit rajin mengulang apa yang telah dipelajarinya di kampus hari itu. Bahkan ketika teman-teman sekost lainnya memilih untuk berkegiatan lain, Didit seperti tidak tergoyahkan tetap belajar sendiri di kamar. Maka tidak heran jika sejak mahasiswa baru Didit sering menjadi rujukan bagi teman-teman seperkuliahannya di Fakultas Ekonomi. Sering teman-teman seperkuliahannya datang untuk belajar bersama di kamar Didit, yang berarti kamarku juga.

Kebiasaan Didit dalam belajar memang unik. Seringkali sambil berjalan memegang buku midar-midar di alam kamar, di depan kamar, di ruang tamu, ndremimil membaca buku, sambil tangannya menunjuk-nunjuk seolah-olah seorang dosen yang sedang mengajar mahasiswanya. Biasanya kami teman-temannya akan tertawa saja melihat tingkah kebiasaan Didit, meski terkadang rada jengkel karena belajar kami dan teman-teman lainnya jadi terganggu oleh suara Didit. Namun tidak saya pungkiri bahwa Didit memiliki kemampuan menghafal yang luar biasa dibanding saya dan teman-teman sepemondokan. Maka Didit pun sering menjadi rujukan belajar kami ketika pada tahun-tahun awal kami mempelajari mata kuliah yang sama seperti mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.

Hingga pertengahan tahun 1981, akhirnya kami berpisah ketika kami masing-masing harus pindah mencari tempat pemondokan baru guna mendekati kampus Ketandan. Beberapa tahun setelah itu saya masih agak sering bertemu Didit karena kami sesekali masih saling mengunjungi. Hingga akhirnya ketika kami masing-masing sampai pada tahap akhir masa perkuliahan yang wakt itu masih menerapkan sistem kenaikan tingkat, kami mulai jarang bertemu.

Hingga saya lulus sebagai sarjana Tambang dan Didit sudah lebih dahulu lulus sebagai sarjana Ekonomi, praktis Didit dan saya dan juga dengan teman-teman lainnya tidak pernah bertemu lagi. Bahkan antara Didit dan saya pun tidak pernah saling tahu kabarnya. Hingga akhirnya saya mendengar kabar bahwa Didit terpilih menjadi Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta pada tahun 2005. Sejak tahun itulah jalinan silaturrahim saya dan Didit terbangun kembali hingga sekarang.

Satu hal yang membuat saya surprise adalah ketika saya mendengar kabar bahwa Didit sudah menunaikan ibadah haji. Nyaris saya tidak percaya kalau mengingat bagaimana kami 25 tahun sebelumnya saling bertoleransi dalam kehidupan keberagamaan saat tinggal sekamar di pemondokan Pondok Siswa di Tambak Bayan. Bukan soal hajinya yang menarik perhatian saya. Kalau sekedar haji siapa saja yang memiliki biaya dapat dibilang mudah untuk melakukan, melainkan apa yang terjadi dan bagaimana muasal kisahnya.

Kini, pada hari ini teman sekamarku, sahabatku, saudaraku, Didit Welly Ujianto sedang mempersiapkan diri untuk menerima anugerah dan derajad berikutnya dari Allah swt. berupa gelar akademik tertinggi dengan dikukukannya sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Ekonomi, setelah untuk kedua kali dipercaya menjabat sebagai Rektor UPN “Veteran” Yogyakarta.

Semua kenangan indah bersama Didit teman sekamaku dan teman-teman yang pernah sekost dengannya memang tak akan mudah dilupakan. Namun sudah semestinya sebagai bagian yang pernah mewarnai suka-duka dari episode hidup kami masing-masing, maka kenangan itu untuk disyukuri. Sebab Allah swt. senantiasa akan menyertai orang-orang yang ikhlas dalam bersyukur atas segala nikmat dan karunia-Nya.

“Saudaraku Didit Welly Ujianto, engkau memang pantas menerima anugerah itu dan aku bangga padamu. Selamat, Prof…!

Yogyakarta, 10 April 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Buku “The Art of Practical Leadership”

13 Maret 2010

Hari ini saya menerima kiriman 3 exp buku berjudul “The Art of Practical Leadership – Memimpin Puluhan Ribu Karyawan Menuju Sukses” oleh Armando Mahler (Presdir PT Freeport Indonesia), tebal 261 halaman, tahun 2009, penerbit CV Aksara Buana, dimana saya dipercaya menjadi editor merangkap ghost writer. Rencananya akan saya distribusikan 1 exp untuk Perpustakaan Tambang UPN, 1 exp untuk Paguyuban Pensiunan Freeport, 1 exp untuk arsip pribadi.

(Jurusan Tambang UPN “Veteran” Yogyakarta adalah almamaterku — Buku tersebut dapat diperoleh di toko buku Gramedia))

Yogyakarta, 11 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Pengukuhan Prof. D. Haryanto

7 Maret 2010

Hari ini saya catat sebagai hari istimewa, menghadiri acara pengukuhan guru besar pertama Jurusan Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta, Prof. Ir. Dahono Haryanto, MSc, PhD. (akrab dipanggil Mas De). “Selamat Prof., kami bangga padamu…”

***

Hari ini di Jogja, saya bertemu kembali dengan dua dosen tua yang pernah menjadi pembimbing skripsiku, 22 tahun yll di Bandung, sungguh membersitkan rasa hormat yang tidak biasa. Terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya saya haturkan kepada dua orang sesepuh Jurusan Tambang ITB, Prof. Ambyo S. Mangunwijaya dan Prof. Partanto Prodjosumarto.

Meski saya ‘digembleng’ 8 bulan hingga lulus (jaman itu…hiks), itu adalah masa-masa ‘prihatin tapi indah’ yang menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Yogyakarta, 6 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Endapan Pasir Kwarsa

28 Agustus 2008

Ini bukan salju di pegunungan Eropa, melainkan endapan pasir kwarsa yang berwarna putih, di sebuah lokasi bekas tambang di Tayan Hilir, kabupaten Sanggau, sekitar 100 km sebelah timur Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar). Lokasi yang merupakan bekas tambang emas PETI (pertambangan tanpa ijin) yang telah lama ditinggalkan ini memberikan bentang alam yang sangat menawan, padahal semestinya kawasan ini dapat dikelola dan dimanfaatkan secara lebih produktif.

Endapan pasir kwarsa, baik yang merupakan hasil proses alami maupun sebagai timbunan limbah bekas tambang, banyak dijumpai di berbagai kawasan di Indonesia. Sebagian telah dikelola sebagai komoditas bahan tambang untuk memenuhi kebutuhan industri. Pasir kwarsa antara lain dimanfaatkan sebagai bahan pembuat keramik dan bahan pelapis (coating).

Pontianak, 28 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(3).  Pulau Penghasil Bauksit

Sejak jaman Sekolah Dasar dulu, pelajaran Ilmu Bumi adalah salah satu pelajaran yang saya sukai. Hingga saya sangat hafal bahwa bauksit sebagai salah satu hasil tambang di Indonesia dihasilkan di pulau Bintan. Lokasinya di sebelah mana pun dengan mudah dapat saya cari. Bauksit mengandung mineral bahan penghasil alumunium, antara lain untuk membuat pesawat terbang. Selalu begitu yang diajarkan oleh guru saya. Saya tidak tahu kenapa tidak pernah disebut sebagai bahan pembuat panci, sendok atau cething (wadah nasi) misalnya, melainkan selalu dihubungkan dengan pesawat terbang. Baru kali inilah saya benar-benar menginjakkan kaki saya di pulau Bintan.

Herannya, kedua anak saya tidak tahu ada pulau yang namanya Bintan yang luasnya dua kali luas pulau Batam. Apalagi menemukan letaknya dan mengetahui hasil utamanya. Terpaksa saya membuka buku atlas Indonesia untuk sekedar menunjukkan kemana bapaknya hendak pergi selama beberapa hari. Menuju ke sebuah pulau dimana ibukota propinsi baru Kepuluan Riau (Kepri) berada. Kepri adalah propinsi ke-32 yang baru diresmikan berdirinya pada tanggal 1 Juli 2004. Diam-diam terbersit kekhawatiran dalam hati, jangan-jangan masih banyak anak-anak Indonesia lainnya yang juga tidak tahu pulau Bintan dan hasil utamanya, belum lagi pulau-pulau yang lebih kecil.

Barangkali karena letaknya yang berdekatan dengan Batam, Singapura dan Johor Bahru, Malaysia, maka keberadaan Bintan nyaris tidak banyak dipromosikan kepada wisatawan dalam negeri. Padahal konon, pantai utaranya yang masih asri dan alami menjanjikan nilai jual tinggi untuk industri pariwisata. Saya ingat ketika di tahun 2002 sempat jalan-jalan ke Singapura dan menyeberang ke Johor Bahru, Malaysia, di sana banyak saya peroleh brosur-brosur promosi wisata tentang pulau Bintan. Sesuatu yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Yang paling populer adalah kawasan Bintan Resort, dan salah satu hotel mewahnya adalah Mayang Sari Beach Resort (jelas nama hotel ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Bambang Trihatmojo……, ya memang tidak ada hubungannya……).  

***

Bauksit yang banyak dijumpai di pulau Bintan dan pulau-pulau di seputarannya dijumpai dalam bentuk endapan laterit. Berada bersama-sama dengan lapisan tanah penutupnya yang kesemuanya menampakkan perwujudan berupa endapan tanah merah. Maka dengan mengupas sedikit tanah penutupnya saja sudah diperoleh endapan laterit mineral bauksit. Dan itu ada di mana-mana. Memandang ke arah mana pun di pulau Bintan ini akan tampak tanah merah yang mengandung bauksit. Oleh karena itu tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pulau Bintan ini adalah pulau bauksit. Di mana pun kita berdiri, maka sesungguhnya kita sedang berdiri di atas endapan bauksit. Demikian halnya dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Sungguh sebuah “Maha Karya” yang luar biasa dari Si Empunya jagat raya.

Tidak heran kalau bangsa Belanda yang “lebih dahulu” pandai, sudah sejak lama mengeksploitasi bauksit di pulau Bintan ini, yang hingga sekarang masih berlanjut di bawah manajemen PT Aneka Tambang. Lokasi-lokasi bekas penambangan itu sekarang masih tampak. Sebagian diantaranya kini sudah berdiri bangunan perumahan, perkantoran dan pertokoan di atasnya. Sebagian lainnya ada yang menjadi kolam dan cerukan. Salah satunya, kolam di tengah kota Kijang yang malah menambah asri suasana kota.

Sedangkan area bekas penimbunan tailing (limbah hasil penambangan) maupun area bekas tambang lainnya, kini sudah mulai menghijau ditumbuhi aneka tanaman, baik yang direncana melalui program reklamasi maupun yang dibiarkan sak thukule (asal tumbuh dengan sendirinya). Sebagian dari endapan tailing ini ada juga yang dimanfaatkan sebagai bahan pembuat bata, dicetak seperti batako. Katanya mutu batanya lebih bagus, dan sudah banyak juga masyarakat yang memanfaatkannya. Tailing ini pun tidak mengandung B3 (bahan beracun dan berbahaya), sehingga tidak terlalu “merepotkan”. Malah bagi masyarakat yang mempunyai jiwa seni bercocok-tanam, kawasan tailing ini dapat diolah menjadi lahan pertanian yang menghasilkan sayur-sayuran.

*** 

Seharian ini cuaca rada murung, mendung bergelantungan di mana-mana dan hujan. Sebelum kami bekendaraan ke arah barat dari Tanjung Pinang, kami mampir dulu ke Bintan Center untuk sarapan pagi. Cari model sarapan yang berbeda. Ketemulah sarapan roti prata plus tentu saja kopi atau teh O.

Konon roti prata ini jenis masakaan peninggalan orang India yang dulu-dulunya banyak ada di pulau Bintan. Bentuk, rasa dan bahannya seperti martabak, dan dimakan bersama kuah kari atau pokoknya yang mirip-mirip itulah, wong saya juga enggak tahu. Satu-satunya yang saya tahu adalah rasanya enak dan mak sek, bikin kenyang…… Roti prata ini memang biasa dipilih oleh masyarakat Bintan sebagai salah satu jenis makanan untuk sarapan pagi.  

Segera kami melaju ke arah barat mengikuti jalan yang menuju kota kecamatan Tanjung Uban yang terletak sekitar 90 km arah barat dari Tanjung Pinang dan berada di pantai barat pulau Bintan. Jalannya termasuk beraspal bagus tapi sepi. Sekira di km 60-an kami berbelok masuk ke selatan, ke desa Penaga (baca : Penage). Jauh meninggalkan jalan raya ke arah pedalaman mendekati pantai selatan. Niatnya ingin menuju ke tepian dan muara sungai Ekang Anculai. Namun malah menemui jalan buntu dimana terlihat petani-petani Cina bercelana kolor pendek dan ote-ote (tidak pakai baju) yang lagi pada nongkrong di rumahnya. Di sepanjang jalan tanah merah ini banyak dijumpai pohon karet, durian dan duku. Sayangnya saat ini bukan sedang musim durian berbuah.

Karena jalan tanah sudah mentok dan tidak ketemu sungai, maka kami kembali lagi ke jalan raya dan mencoba jalur lain. Upaya kedua inipun tidak membuahkan hasil. Jalan tanah mentok lagi di perkampungan petani lokal. Malah hujan turun agak lebat sehingga terpaksa numpang berteduh di salah satu rumah penduduk di sana. Namun dari ceritanya, lokasi sungai sebenarnya sudah dekat, hanya saja terlalu sulit untuk dicapai dengan berjalan kaki, apalagi naik mobil, karena banyak kawasan rawa berhutan bakau atau mangrove yang tebalnya berkisar 20-200 m dari bibir sungai.

Upaya mencari muara sungai lewat darat hari ini dibatalkan untuk rencananya besok dicoba lagi dengan mencapainya lewat laut. Meski demikian, semua tempat yang kami kunjungi tetap kami petakan menggunakan alat GPS agar dapat diketahui lebih pasti dimana posisi kami ketika kesasar dan mentok di jalan buntu, kalau diplotkan di peta. Segera kami kembali ke Tanjung Pinang, untuk selanjutnya menuju kota kecamatan Kijang yang letaknya di sudut tenggara pulau Bintan. Jarak dari Tanjung Pinang ke Kijang sekitar 28 km.

Namun sebelum kami melaju jauh, kami menyempatkan untuk melihat dermaga sungai milik perusahaan penambangan batu granit yang lokasi tambangnya tidak jauh dari jalan raya. Batu granit hasil penambangannya dimuat ke dalam tongkang melalui dermaga sungai yang juga berada di sungai Anculai, tetapi lebih ke arah hulu dari lokasi yang rencananya hendak kami datangi. Setelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan menuju kota Kijang. Kali ini kami mengambil jalur memutar melalui sisi utara pulau Bintan agar dapat melihat pemandangan alam berbeda.

***

Sebenarnya bukan kota Kijang yang menjadi tujuan utama kami, melainkan melihat lokasi dan operasi tambang bauksit. Diantaranya yang saat ini dikelola oleh PT Aneka Tambang. Ya, sekedar melihat saja. Wong namanya juga orang tambang, ya lumrah kalau kepingin melihat tambang (siapa tahu ada peluang membuka cabang “Madurejo Swalayan” ……). Setidak-tidaknya, dengan melihat, maka informasi yang dapat diserap akan lebih banyak dibandingkan dengan hanya mendengar dan membaca saja. Setidak-tidaknya lagi, kalau terpaksanya ngomong soal tambang bauksit maka tidak akan pathing pecothot karena memang sudah melihat sendiri kenyataannya di lapangan.

Sebelum memasuki kota Kijang kami menyimpang ke selatan, menuju lokasi penambangan bauksit, lalu melihat lokasi pencuciananya. Dilanjutkan melihat dermaga sungai dimana selanjutnya bauksit akan diangkut dengan tongkang menuju ke pelabuhan. Di pelabuhan inilah bauksit dipindahkan ke kapal yang akan membawanya ke pembeli bijih bauksit di luar negeri.

Dengan proses penambangan, pencucian dan pengangkutan yang seperti itulah aktifitas penambangan bauksit di pulau Bintan ini terus berjalan. Bukan saja oleh PT Aneka Tambang, melainkan juga oleh pihak swasta lainnya. Sepanjang pengelolaan areal penambangan dan lingkungannya dikerjakan secara professional, rasanya pemerintah daerah kabupaten Bintan atau propinsi Kepri layak bangga memiliki potensi kekayaan alam yang jarang dijumpai di kawasan lain di negeri ini. Daerah lain yang memiliki potensi cadangan bauksit adalah Kalimantan Barat.

Tinggal pandai-pandai saja pihak pemerintah setempat mengawasi dan mengelola dengan segenap perencanaan yang matang. Tidak asal memperoleh Pendapatan Asli Daerah, melainkan optimasi pendayagunaan sumber daya alam yang diikuti dengan perencanaan yang komprehensif terhadap Rencana Tata Ruang dan Wilayah kota dan kawasan penyangganya. Kalau sudah demikian, maka kegiatan ekonomi dan bisnis pun akan tumbuh menyertainya. Peluang untuk memajukan Bintan melalui sektor industri pertambangan masih sangat terbuka. Bauksit hanyalah satu di antara sekian banyak jenis bahan galian lainnya yang ada, seperti granit, andesit, basalt, pasir kwarsa, kaolin, dsb. 

Pengalaman yang terjadi di pulau Singkep (masih tetangga Bintan di Kepri), dimana kini meninggalkan bentang alam bopeng dan kota Dabo yang kini menjadi kota hantu, hendaknya menjadi pelajaran berharga. Letak geografis Bintan yang dekat dengan Batam dan Singapura tentunya menjadi nilai tambah tersendiri, dimana aktifitas perdagangan lintas pulau lintas negara sudah lebih dahulu terbangun sejak lama. Berbeda halnya dengan Singkep yang adoh lor adoh kidul. Semoga pemerintah Bintan dan Kepri lebih cerdas menyikapinya demi kemajuan masyarakatnya.

Tanjung Pinang, Kepri – 11 April 2006
Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (4)

2 Maret 2008

Brisbane, 1 Nopember 2000 – jam 7:50 (4:50 WIB)

Meskipun saya tidak bertemu dengan banyak delegasi dari Indonesia dalam MassMin 2000 ini, tapi paling tidak saya ketemu dua orang rekan kerja yang datang dari Tembagapura, seorang alumni ITB yang lulus S2 dari Colorado School of Mines dan seorang lagi adik kelas di Tambang UPN, Mas Rudy Poedjono. Selain itu saya juga ketemu dua orang mahasiswa yang sedang melanjutkan kuliah di UQ (University of Queensland), keduanya lulusan Tambang ITB, seorang mengambil S2 bidang Ventilasi dan seorang lagi dosen ITB yang sedang menyelesaikan S3 bidang Rock Mechanics.

Forum-forum semacam ini memang menjadi forum menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang sering tidak dilewatkan oleh para mahasiswa. Paling tidak, karena status student mereka memungkinkan untuk hadir dengan biaya yang lebih murah.

Saya agak kurang tahu apakah mahasiswa di Indonesia juga sering memanfaatkan forum-forum semacam ini. Tetapi saya punya pengalaman sewaktu kuliah dulu sempat beberapa kali memanfaatkan forum-forum pertemuan nasional dan internasional di Jakarta dengan status saya sebagai student. Terkadang berstatus student dalam periode yang cukup luuuamaaaa juga ada manfaatnya.

Jika di Jakarta ada pertemuan atau konferensi yang diselenggarakan oleh IMA (Indonesian Mining Association) dan saya berminat hadir, maka segera dengan berbagai cara akan saya hubungi Panitia guna memperoleh harga khusus, jika perlu saya melakukan lobby bagaimana agar bisa gratis. Untuk itu saya menggunakan sarana melalui surat-menyurat, tilpun atau fax. Perlu biaya? Ya pasti. Hanya perlu diketahui bahwa tidak harus beruang saku banyak untuk melakukan semua itu. Sekedar mengikuti pepatah : Banyak jalan (halal) menuju Roma.

Waktu itu email masih menjadi sesuatu yang baru dan belum memasyarakat seperti sekarang. Mestinya komunikasi semacam itu sekarang pasti lebih mudah. Sebagaimana yang sering terjadi di Amerika, seringkali semangat seperti ini dihargai oleh pihak Panitia. Nyatanya, saya bisa mendapatkan keringanan biaya. Ya…, saya sadar bahwa tidak ada added value yang tanpa pengorbanan biaya, karena itu adanya keringanan biaya sudah cukup membantu.

***

Agenda MassMin 2000 hari ketiga ini akan lebih banyak membicarakan makalah-makalah lebih teknis. Dari jadwal acaranya saya melihat bahwa hari ini konferensi akan dibagi menjadi dua bagian yang pertemuannya berjalan parallel. Satu rangkaian sesi akan memfokuskan pada topik-topik yang berkaitan dengan metoda penambangan bawah tanah caving methods dan satu rangkaian sesi lainnya membahas stoping methods.

Pagi ini saya sudah mulai memilih dan memilah topik-topik mana saja yang sekiranya menarik diikuti, menarik menurut kriteria saya. Sehingga saya sudah merencanakan kapan harus berpindah dari satu ruangan untuk ke ruangan yang lain. Juga kapan saya bisa tidak berada di kedua ruangan itu, alias ngobrol-ngobrol dengan kolega di luar arena sidang sambil menghisap rokok, atau ngobrol-ngobrol dengan para pedagang di arena eksibisi.

Eh, sudah menjelang jam 8:00 pagi, saya mau berangkat dulu menuju ke arena konferensi. Ooops….., saya lihat di BBC World berita tentang pesawat Singapore Airlines yang kecelakaan di Taiwan.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (5)

2 Maret 2008

Brisbane, 2 Nopember 2000 – jam 7:00 (4:00 WIB)

Sebelum memasuki ruang sidang kemarin, saya melihat dari dua sesi yang akan berjalan paralel banyak topik-topik menarik berada di kelompok sesi caving methods. Penilaian ini memang subyektif, karena kebetulan pekerjaan saya banyak berkaitan dengan metode penambangan ini. Karena itu saya memutuskan dari pada mesti berpindah-pindah ruangan, lebih baik mengikuti kelompok ini saja terus sampai selesai sorenya.

Makalah pertama tentang tambang tembaga Palabora di Afrika Selatan, disambung dengan tambang intan Premier juga di Afrika Selatan. Lalu tentang tambang tembaga El Teniente di Chili dan tambang tembaga DOZ (Deep Ore Zone) PT Freeport Indonsia di Papua. Saya tertarik mengikuti pembahasan ini karena selain membahas tentang metode caving juga karena akan membahas beberapa kajian khusus tentang desain, permasalahan yang dihadapi, pemikiran-pemikiran baru serta visi ke depan dari perencanaan tambangnya.

Banyak hal positif yang saya peroleh dari paparan mereka, terutama yang berkaitan dengan bagaimana melakukan operasi tambang bawah tanah secara effektif dan effisien. Istilah effektif dan effisien memang berkesan umum dan kabur kalau tidak disertai dengan contoh kasus dan pencapaiannya. Tentu tidak cukup waktu untuk mengungkapkan semuanya di catatan ini. Tetapi kira-kira, sepintas saya dapat menggambarkan istilah itu mengacu kepada operasi tambang yang tidak boros uang, tidak boros tenaga kerja, aman, memberi hasil produksi tinggi, memberi nilai tambah bagi ketrampilan dan keahlian karyawannya, dsb.

Sesi berikutnya diisi dengan paparan upaya perbaikan rancangan tambang, pendekatan dan pengembangan baru dari metode caving yang ada yang diterapkan antara lain di tambang nikel Trojan di Zimbabwe, tambang nikel Perseverance di Australi dan tambang bijih besi Kiruna di Swedia dan tambang bijih molibdenum Henderson di USA, tambang tembaga dan emas Northparkes di Australia dan tambang tembaga Kennecott di USA. Selain itu juga disajikan beberapa hasil studi tentang kestabilan batuan, aliran bijih dengan gravitasi, dan draw control.

Belajar dari keberhasilan perusahaan-perusahaan tambang itu, terkadang terlintas keinginan (lebih tepat saya katakan “impian”) untuk sekali waktu berkunjung ke sana guna melihat dan belajar langsung bagaimana mereka menerapkannya di lapangan.

***

Saat istirahat makan siang ada kejadian yang membuat surprise. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama saya, ternyata dia adalah mantan General Manager saya sewaktu saya bekerja di tambang emas bawah tanah PT Lusang Mining di Bengkulu. Namanya Donald Hunter, waktu itu biasa disapa dengan Pak Don. Sejak Pak Don yang asal Afrika Selatan ini meninggalkan Bengkulu sekitar tahun 1992, saya tidak tahu lagi kemana beliau bekerja. Rupanya setelah keliling-keliling ke Australia, Suriname dan Chili, akhirnya kini mendarat di kota Brisbane.

Benar kata sementara orang : “dunia tambang itu sempit”. Kemanapun perginya, selalu saja ada kesempatan untuk ketemu. Ya melalui ajang seminar, konferensi, pertemuan atau kunjungan-kunjungan tambang. Seperti halnya dengan rekan-rekan yang bekerja sebagai inspektur tambang di Direktorat Jendral Pertambangan Umum. Sekalipun kita berpindah-pindah tempat kerja, ya di sana pula ketemu lagi dan ketemu lagi.

***

Hingga hari ketiga kemarin, nampaknya memang banyak topik-topik menarik yang dibahas. Buktinya, saya benar-benar dapat mengikuti dan menikmati konferensi ini dengan tanpa mengantuk. Biasanya kalau sehabis makan siang adalah saat-saat kritis untuk mempertahankan mata tetap membuka, apalagi saya baru melakukan perjalanan jauh sekitar 20 jam yang membuat siklus hidup berubah. Saat-saat kritis ini biasanya sering saya alami setiap kali mengikuti acara seminar, konferensi, kursus atau sejenisnya. Dulu sewaktu kuliah kalau saya ikut Pertemuan Ilmiah Tahunan Geofisika atau pertemuan sejenis itu, saat-saat kritis ini selalu saya atasi dengan mengajak teman ngobrol di luar ruangan sambil merokok atau ngemil.

Semula saya ada niat untuk sore hari kemarin mau meninggalkan arena konferensi dan jalan-jalan di Brisbane. Tapi kemudian berubah pikiran, karena merasa sayang untuk meninggalkan beberapa topik menarik lainnya yang dipresentasikan siang hingga sore harinya. Terpaksa keinginan untuk mencuri waktu buat jalan-jalan sore saya batalkan.

Malam harinya saya bersama rekan-rekan yang datang dari Tembagapura dijamu oleh seorang kolega makan malam di sebuah restoran seafood di Brisbane. Wah, cocok sekali. Hingga keenakan dan ngantuk. Kali ini benar-benar terus tidur, dan tidak mencoba-coba menghidupkan laptop.

***

Hari keempat ini akan dilanjutkan dengan acara workshop dengan pokok bahasan tentang metode penambangan caving. Karena forumnya workshop, tentu akan lebih banyak kesempatan untuk berdiskusi dibandingkan forum konferensi sejak hari pertama hingga ketiga yang kesempatan diskusinya sangat terbatas. Kelihatannya akan ada diskusi menarik kalau melihat topik-topik kertas kerja yang akan dipresentasikan. Mudah-mudahan saya masih dapat melewati saat-saat kritis di hari keempat atau hari terakhir konferensi ini.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (8 – Selesai)

2 Maret 2008

Sydney, 4 Nopember 2000 – jam 23:45 (19:45 WIB)

Sekitar jam 1:00 siang saya sudah tiba di hotel di Sydney, setelah tadi pagi meninggalkan kota Parkes. Di bandara Sydney, saya dan rombongan saling besalaman dengan sesama peserta kunjungan tambang lainnya yang segera akan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Ada yang langsung nyambung pesawat ke USA, Swedia, Finlandia atau Afrika Selatan, atau pulang ke rumahnya di Australia. Ada juga yang masih mempunyai urusan bisnis atau jalan-jalan di Sydney, seperti peserta dari Jepang, Cina, Zimbabwe, dsb.

Yang pasti, rangkaian kegiatan konferensi MassMin 2000 sudah selesai. Seperti diinformasikan oleh panitia sebelumnya saat di Brisbane, bahwa konferensi MassMin berikutnya akan diselenggarakan di Chili pada tahun 2005. Diharapkan tentunya dalam periode lima tahun mendatang akan lebih banyak topik-topik dan hasil-hasil perkembangan baru dalam dunia tambang bawah tanah khususnya yang beroperasi dengan metode caving.

Saya sendiri akan tinggal di Sydney semalam untuk hari Minggu besok baru kembali menuju New Orleans. Sementara di Sydney, saya sudah janjian dengan Mas Yusram Rantesalu yang alumni Tambang UPN angkatan 1986 yang saat ini sedang menyelesaikan program S2 di University of New South Wales mengambil bidang studi Geomekanik.

***

Akhirnya, catatan ini saya sudahi. Insya Allah, setiba di New Orleans saya akan melanjutkan perjalanan “Keliling Setengah Amerika”. Eh, sebentar. Hari Selasa, 7 Nopember 2000 nanti Amerika pemilu, antara lain untuk memilih siapa di antara George W. Bush dan Al Gore yang bulan Januari tahun depan akan menuju Gedung Putih melengser Bill Clinton. Kita lihat saja nantilah, kalau tidak capek ingin saya infokan breaking news-nya. Wassalam. (Selesai).-

Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia

Pagi tadi sekitar jam 09:30 saya mendarat di kota kecil Parkes, di wilayah New South Wales, Australia. Mata masih terasa agak ngantuk. Itu karena ada beda waktu maju 3 jam dibanding waktu di Yogya. Sedangkan perjalanan itu sendiri dilakukan pada malam hari sehingga kebutuhan tidur malam di perjalanan tidak dapat terpenuhi sepenuhnya sejak berangkat dari Yogyakarta hari Minggu sore, 29 Juli 2001, kemarin.

Perjalanan dari Yogyakarta menuju Parkes saya tempuh estafet dengan ganti pesawat di Denpasar dan di Sydney. Meskipun kota Parkes ini hanyalah sebuah kota kecil, namun setiap harinya ada transportasi udara yang melayani penerbangan dari Sydney ke Parkes dan sebaliknya. Paling tidak, sehari ada tiga kali penerbangan, kecuali di akhir pekan hanya ada dua kali penerbangan.

Seperti yang saya alami tadi pagi, perusahaan penerbangan Hazelton dibawah bendera Ansett Australia menerbangkan 12 orang penumpang dengan pesawat kecil berkapasitas 19 tempat duduk yang bersusun dua-dua masing-masing di kiri dan kanan lorong pesawat. Bahkan untuk masuk ke pesawat pun mesti menundukkan kepala karena atapnya yang rendah. Pesawat baling-baling jenis Metro 23 ini hanya disertai oleh dua awak penerbangnya dengan tanpa pramugari.

Dari Sydney ke Parkes yang jarak daratnya sekitar 365 km normalnya ditempuh dalam satu jam perjalanan udara, akan tetapi pagi tadi ternyata mampu ditempuh oleh pesawat kecil ini selama kurang dari satu jam. Sekitar jam 09:30 pagi saya sudah mendarat di bandara kota Parkes.

Ini adalah kunjungan saya yang kedua di kota Parkes. Bulan Nopember tahun lalu saya pernah datang ke kota ini untuk mengunjungi tambang bawah tanah Northparkes. Waktu itu saya bersama rombongan hanya sempat tinggal di Parkes semalam saja. Kali ini untuk kedua kalinya saya akan berada di kota ini selam dua minggu.

Tujuan saya kali ini juga dalam rangka melakukan kunjungan tambang ke Northparkes Mine, namun kali ini lebih spesifik dalam rangka mempelajari banyak hal tentang penerapan metode penambangan bawah tanah “Block Caving”, yang dalam terminologi birokrat sering disebut dengan studi banding.

***

Begitu tiba di Parkes, seorang pegawai perempuan tambang Northparkes sudah menjemput di bandara. Sebuah sedan Holden Commodore warna putih, entah produksi tahun kapan, sudah menunggu untuk selanjutnya akan saya gunakan sebagai sarana transportasi ke dan dari lokasi tambang Northparkes.

Pegawai perempuan itu lalu menunjukkan jalan menuju ke sebuah rumah di kota Parkes dimana saya akan menempatinya selama dua minggu. Jarak dari bandara ke kota Parkes sekitar 5 km. Setelah beristirahat sebentar, saya langsung menuju ke lokasi tambang Northparkes dengan diantar oleh pegawai perempuan itu. Jarak ke lokasi tambang sekitar 30 km.

Mula-mula saya agak kagok mengemudikan mobil di Australia yang sistem lalulintasnya berjalan di sisi kiri, sama seperti di Indonesia. Ini karena dua minggu sebelumnya saya masih mengemudi dengan sistem lalulintas di sisi kanan di Amerika. Namun ini tidak berlangsung lama, selanjutnya menjadi biasa.

***

Parkes hanyalah sebuah kota kecil yang populasinya hanya sekitar 10.000 jiwa atau jika dihitung beserta kawasan sekitarnya yang disebut dengan The Parkes Shire jumlah penduduknya hanya sekitar 15.000 jiwa.

Di perbatasan kota sebelum memasuki kota ini terpampang tulisan yang sangat jelas terbaca : “Parkes is the 50 km/h town”, tentu maksudnya adalah bahwa semua jalan-jalan di dalam kota Parkes mempunyai batas kecepatan maksimum 50 km/jam. Perkecualian hanya di kawasan sekolah yang biasanya 40 km/jam.

Para pemakai jalan pun umumnya patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Hal ini membuat mengemudi menjadi enak dan mudah sepanjang saya juga patuh pada rambu-rambu yang ada. Rasanya selama dua minggu ini saya tidak akan mengalami kesulitan untuk berkendaraan sendiri di Parkes khususnya dan Australia umumnya.

Parkes, 30 Juli 2001.
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(10).   Membaca Koran Dan Memburu Kanguru

Hari Jum’at ini adalah hari terakhir saya masuk kerja ke tambang Northparkes. Tadi pagi saya memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor di luar tambang dan tidak ke bawah tanah seperti beberapa hari terakhir ini. Memeriksa kembali catatan-catatan yang saya kumpulkan, mengkonfirmasi ulang data-data, menambah informasi yang kurang serta mendiskusikannya dengan beberapa rekan lain. Mengambil beberapa foto tambang juga tidak saya lewatkan dan tentu juga saya sempatkan membaca koran terbaru saat istirahat makan siang.

***

Dari koran The Australian yang baru terpilih sebagai “Newspaper of the Year” untuk kawasan Pacific, di halaman utama terbitan hari ini saya baca berita bahwa akhirnya Megawati berhasil membentuk kabinetnya. Salah seorang menteri yang menarik perhatian saya adalah ditunjuknya Pak Dorodjatun Kuntjoro-Jakti sebagai Menko Ekuin.

Akhirnya Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti jadi menteri juga. Saya sebut akhirnya, karena beberapa tahun yll. nama beliau pernah sempat menjadi rumor bakal menduduki posisi yang sama tapi tidak jadi. Dan, kini jadi.

Ingatan saya menuju ke tahun 1999 di Houston atau tepatnya di kantor Konsulat Jendral RI di Houston, Texas. Sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat waktu itu Pak Djatun hadir sebagai pembicara kunci dalam seminar sehari tentang peranan industri minyak dan gas di Indonesia.

Saya masih menyimpan catatan-catatan kecil dari pemikiran-pemikiran beliau yang disampaikan secara berapi-api. Sayang catatan-catatan itu kini sedang dalam perjalanan pengiriman ke Indonesia ketika saya pindahan beberapa minggu yll. sehingga saya tidak dapat membuka-buka kembali selengkapnya.

Namun ada hal yang (saya anggap) penting yang saya ingat, yaitu kepedulian beliau berkaitan dengan peranan tenaga ahli Indonesia dalam mengembangkan industri tambang khususnya migas sebagai kekayaan alam yang tak terbarukan. Menurut pemikirannya — seingat saya beliau mengatakan — bahwa umumnya tenaga ahli kita kurang terkondisikan dan kurang berani untuk mengambil resiko menjadi petualang atau wirausaha (entrepreneur) dalam menerjuni dunia usaha atau industri.

Apakah kira-kira kini beliau masih ingat dengan pemikirannya itu? Dan lalu “membantu” membuat terobosan, paling tidak mengkondisikan, agar tenaga ahli Indonesia lebih berperan dalam industri pertambangan khususnya migas? Atau, barangkali malah “lupa” kalau Indonesia masih punya sumber daya alam antara lain migas yang saat ini masih didominasi oleh para “entrepreneur” asing.

***

Berita kedua yang menarik perhatian saya berada di halaman tengah koran yang sama. Berita itu adalah tentang ditangkap dan dihukumnya sepasang suami-istri pengusaha situs pornografi di Amerika karena situsnya mengeksploitasi tentang pornografi anak di bawah umur.

Di beberapa negara bagian di Amerika, pornografi untuk orang dewasa adalah legal, tapi tidak dan cenderung sangat ketat pengawasannya kalau itu menyangkut anak di bawah umur. Seperti halnya ketatnya pengawasan terhadap anak di bawah umur yang membeli produk tembakau dan minuman beralkohol.

Sebagai tambahan illustrasi, ketatnya pengawasan yang sama juga saya lihat di Australia, setidaknya di negara bagian New South Wales. Toko-toko yang menjual produk tembakau kepada mereka yang berusia di bawah 18 tahun adalah pelanggaran kriminal yang dendanya bisa mencapai A$5.500. Demikian halnya terhadap produk minuman beralkohol. Kalau ingat ini kok saya jadi bertanya-tanya tentang kondisi di Indonesia yang demikian bebas.

Tentang situs porno itu tadi, apanya yang menarik? Ternyata supplier dari situs (website) porno yang bermarkas di Dallas, Texas, itu berasal dari tiga negara, yaitu Amerika sendiri, Rusia dan Indonesia. Lha, saya kok jadi miris (merasa ngeri). Rupanya diam-diam (ya memang harus diam-diam) produk Indonesia mampu menempati tiga besar dalam “memasok” konsumsi dunia akan produk haram dan nggegirisi (membuat perasaan ngeri) ini.

Tercatat dari sekitar 300.000 pelanggan situs yang per bulannya membayar US$29.95, sebesar 60% dari hasil bersihnya adalah bagian keuntungan bagi supplier yang tentunya termasuk para webmaster dari Indonesia itu tadi.

Polisi Amerika pun kini sedang mengejar tiga orang supplier produk pornografi anak di bawah umur dari Indonesia itu. Weh….., lha jebulnya (ternyata) “hebat” juga para webmaster kita ini dalam memanfaatkan celah peluang pasar dunia.

***

Sore hari sebelum pulang kantor, saya mengajak seorang rekan untuk menemani keliling tambang guna mengambil gambar tentang tambang Northparkes dan lingkungannya. Di antara fakta yang menarik dari tambang ini adalah bahwa Northparkes tenyata menguasai sekitar 6.000 hektar kawasan tambang dan sekitarnya.

Dari areal seluas itu hanya sekitar 1.630 hektar saja yang dikerjakan sebagai lokasi penambangan. Selebihnya yang tiga-perempat bagian dikelola sebagai ladang pertanian sebagai kawasan penyangga yang mengelilingi lokasi penambangan, dan hasilnya termasuk sebagai pemasukan perusahaan. 

Di kawasan ladang perusahaan ini sering dijumpai kanguru liar yang berkeliaran. Sore itu dengan berkendaraan, saya dan seorang rekan mencoba blusukan (menerobos masuk) ke areal semak-semak hingga ke luar kawasan perusahaan. Tujuannya adalah mencari kanguru. Ternyata kanguru memang ada di sana, maka acara berganti menjadi memburu kanguru yang berlari kian-kemari karena terganggu oleh bunyi kendaraan.

Sebenarnya ada jenis binatang lain yang menyerupai kanguru, yaitu wallaby. Secara sepintas, prejengan (profil binatang) ini adalah sama persis. Susah untuk dibedakan antara kanguru dan wallaby, bahkan orang Australia sekalipun akan kesulitan untuk melihat bedanya. Sama seperti susahnya membedakan antara buaya (crocodile) dengan alligator.

Memang tidak mudah untuk menjumpai kanguru atau wallaby di alam aslinya, karena biasanya mereka akan segera berloncatan lari menjauh kalau terusik. Namun setidak-tidaknya, saya sempat menjumpai sekelompok kanguru di habitat aslinya sore itu. Ya, sekedar ingin tahu dan merasakan pengalaman berbeda saja. 

Parkes, 10 Agustus 2001
Yusuf Iskandar