Archive for September, 2008

Sepenggal Doa Di Hari Fitri

27 September 2008

Catatan Pengantar :

Dua buah tulisan di bawah ini adalah tulisan lama saya yang saya tulis dua tahun yll. Karena saya pikir isinya masih pas, dan (yang lebih penting) saya ingin merenungkannya kembali. Maka semoga ada setitik hikmah yang bisa dipetik. Disertai ucapan tulus :

“Selamat Idul Fitri 1429H – Mohon Maaf Lahir dan Batin”

Wassalam.

Yogyakarta, 27 Setember 2008 (27 Ramadhan 1429H)
Yusuf Iskandar

——-

Sekian lama sekian tahun, saya sempat midar-mider numpang lewat, hingga akhirnya suatu kali berkesempatan singgah dan menjelajah negeri jiran yang bernama Singapura. Saya pernah nyinyir nggrundel sendiri, Singapura itu sebuah pulau yang jelas-jelas tidak punya apa-apa tapi sepertinya apa-apa punya. Pengurus pulau sak uplik itu telah berhasil mengamalkan sebuah titah agar mendayagunakan ilmu pengetahuan semaksimal-maksimalnya demi kesejahteraan umat manusia penghuninya. Dari sudut pandang (sempit) ini, saya merasa bahwa pengelola pulau itu ternyata kok ya lebih islami daripada saya (sebut saja “saya”) yang seprana-seprene cuma piya-piye saja…..

Kita ini (maksudnya, saya bersama segenap tetangga saya dan Sampeyan semua), baru kecopetan dompet plus kartu-kartu utang saja sudah lenger-lenger. Baru terkena cobaan hidup kecil saja sepertinya merasa dunia sudah tidak berpihak kepada kita. Apalagi ketimpa musibah besar, kontan nelangsa seperti dunia tiba-tiba kiamat, merasa paling kasihan sedunia, paling tidak berdaya, paling miskin dan tidak punya apa-apa lagi.

Padahal yang terakhir itu amat dekat dengan kekufuran (begitu agama saya mengajarkan). Sedangkan kalau sudah telanjur kufur (lawan dari syukur), maka itu adalah tanda-tanda awal dari cilakak duabelas dunia wal-akhirat.

Ketika sedang jatuh lalu tertimpa tangga, padahal sedang sakit gigi dan ingat cicilan rumah sudah ditogah-tagih saja sama bank, pas mau bangkit ndilalah tangannya mencekal telek lencung……. Uh! Dunia seperti gelap bin gulita….., tidak punya apa-apa lagi, tidak berdaya-upaya, boro-boro sisa tabungan buat modal. Mau bayar zakat pitrah saja berat rasanya, kepala berbintang-bintang. Padahal tahun lalu masih bisa menyisihkan sedikit zakat maal (bukan mall), meskipun hitungannya diminim-minimkan agar tidak kebanyakan.

Mak deg…! Mungkin benar, tampaknya tidak punya apa-apa lagi. Padahal mestinya kita masih punya hati dan ilmu. Sebuah kekayaan, sebuah “apa-apa” yang menurut Sang Maha Pemberi Apa-apa adalah bekal untuk bangkit, berpikir dan bekerja, terus dan terus tiada henti.

Mak deg…! Kenapa tidak mencoba untuk berperilaku islami seperti pengelola pulau Singapura dalam mendayagunakan ilmunya. Merubah dari yang tidak punya apa-apa menjadi apa-apa punya. Paling tidak, ruh dan semangat untuk apa-apa punya tetap tumbuh, sehingga yakin bahwa dunia tetap berpihak kepada kita. Hanya ilmunya yang perlu dipelajari dan dipikiri, dan itu adalah titah Sang Khalik. Tidak diperlukan sertifikat S1, S2 atau S3 untuk bisa mempelajari dan memikiri hal semacam itu.

***

Sebulan ini kita sudah menceburkan diri ke dalam kawah candradimuka (karena candra Ramadhan ada sebelum candra Syawal, kalau Ramadhan sesudah Syawal namanya candradibelakang). Ada yang sebulan penuh dan ada yang sebulan kurang sehari tapi tetap saja dibilang sebulan penuh, kita menempuh beraneka ria mata ujian ulangan setiap tahun, siang dan malam, pendeknya duapuluh empat jam non-stop, berlapar-lapar, berhaus-dahaga, berngantuk-ngantuk, ngempet semburan nafsu liar, mengkaji ayat-ayat kauliyah dan kauniyah, dan ber-mu’amalah dalam kesalehan. Dalam lapar dan “pura-pura” miskin, dalam kebodohan dan “pura-pura” tidak punya apa-apa dan tidak berdaya apa-apa. Itupun kita bisa (bagi yang berniat untuk bisa, sebab ada yang memang tidak berniat untuk bisa). Padahal sendiri saja, tidak bersama, karena ini memang urusan pribadi antara kita dan Sang Pencipta.

Maka faktanya adalah, ketika kita sedang “apa-apa punya”, ternyata kita sanggup untuk “tidak punya apa-apa”. Jadi betapa kita ini sebenarnya bisa menjadi lebih singapura ketimbang Singapura. Wong kita punya hati dan ilmu. Sementara hati dan ilmunya persis sama plek.

***

Duh, Gusti Allah….., tolong Panjenengan berkati para pemimpin dan pengurus tanah kami. Bantu kami menyingkap hijab (tabir) yang menghalangi pandangan kami, agar kami semua ngeh, bahwa tanah kami ini sesungguhnya apa-apa punya. Terangi hati dan pikiran kami, agar kami mampu membedakan mana minyak dan mana emas, mana lumpur panas dan mana telek lencung hangat, mana asap dan mana parsel, mana menolong dan mana menyolong, mana sapaan mesraMu dan mana teguran kerasMu….. 

Duh, Gusti Allah….., di hari yang fitri ini (maap Gusti, bukannya saya mau ikut-ikutan kalau hari fitri saya adalah Senin 23 Oktober 2006, tapi itu juga menurut ilmu yang Panjenengan ajarkan…..). Semoga Engkau mengelompokkan kami ke dalam gerombolannya orang-orang yang mudik rame-rame menuju ke ranah kesucian dan kemenangan.

Agar kami tidak menjadi buta, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah buta, yang dibutakan oleh silau-gemerlapnya dunia.

Agar kami tidak menjadi bodoh, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah bodoh, yang dibodohkan oleh kesombongan seakan-akan kami tidak butuh siapa-siapa.

Agar kami tidak lemah, atau menambah jumlah orang-orang yang sudah lemah, yang dilemahkan oleh ketidak-mau-tahuan kami bahwa sesungguhnya negeri kami ini negeri yang apa-apa punya.

Duh, Gusti Allah….., kabulkanlah doa kami. Engkau kabulkan sedikiiiiit saja dulu, kami sudah bersyukur kok, sisanya tolong disusulkan…… Amin.

PS :
Selamat Idul Fitri 1427H
Mohon Maaf Lahir & Batin

Yogyakarta – 23 Oktober 2006 (1 Syawal 1427H)
Yusuf Iskandar

Iklan

Lebaran Sebentar Lagi

27 September 2008

Lebaran sebentar lagi.

Dengan berharap memperoleh lailatul-lebaran, maka berarti kita (yang muslim) punya peluang untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan sebulan penuh, komplit seisi-isinya yang tak terukur nilai ibadahnya. Ya kualitasnya, ya kuantitasnya.

Tidak ada hari-hari dimana khalayak ramai (orang muslim tentunya) berebut memaksimalkan kuantitas ibadahnya, keculi di hari-hari Ramadhan. Tidak ada hari-hari dimana orang ramai-ramai seperti potong padi di sawah berlomba meraih kualitas ibadah sekuali-kualinya, selain di hari-hari Ramadhan.

Inilah hari-hari dimana malaikat Rakib (malaikat pencatata kebaikan) super sibuk nyenthangi (memberi tanda centhang.….) pada kolom ibadah dengan kode : bermutu tinggi (karena selama sebelas bulan sebelumnya ternyata mutu ibadahnya rendah terus, bahkan tekor…..). Sejak kita tidur sampai bangun sampai tidur lagi…..

Nyaris semua orang muslim sepakat (meski belum tentu menghayati), bahwa Ramadhan adalah sebuah peluang. Peluang untuk meraih bonus, mengumpulkan angka cum, menumpuk poin positif dan menutupi ketekoran. Tapi, lha wong namanya peluang, jadi ya terserah bagi siapa saja yang mau menerkamnya atau melepaskannya. Siapa cepat dia dapat? Bukan…..! Itu permainan gaya kita.

Inilah huebatnya Sang Maliki Yaumiddin (Yang menguasai hari pembalasan). Siapa saja pasti dapat. Sebab kalaupun orang se-Sidoarjo, se-Aceh atau se-Jogja semuanya cepat menangkap peluang, maka digaransi semua akan dapat balasannya bersama-sama. Sebaliknya, taruhlah semua kelelat-kelelet menangkap peluang, juga dijanjikan masih akan dapat hasilnya beramai-ramai. Horo... coba…..! Tidak ada janji yang akan selalu ditepati melainkan janji-Nya. Kita saja yang suka semaunya sendiri. Tidak mau menangkap peluang tapi nagih bonusnya terus….. Bagita (bagi rata), katanya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi Ramadhan lebih sebentar lagi, lagi. Hari-hari indah selama sebulan datang menjelang. “MARHABAN YA RAMADHAN”, kata teman kecil saya, Sayid Bakar namanya. “ASAUP NALUB HALITAMROH”, kata spanduk yang memasangnya terbalik di sudut perempatan kampung. Lha, yang disuruh menghormati bulan puasa itu siapa?

Wong puasa kok minta dihormati. Minta diistimewakan. Kalau begitu mah keciiil.…. (sambil menjentikkan seruas ujung jari kelingking). Kalau puasa kok minta dihormati, ya anak sekolah Taman Nak-Kannak saja mampu. ‘Gak ada tantangan! Justru nilai kualitasnya terletak karena banyaknya tantangan, godaan dan rayu-bujukan. Barangkali yang dimaksud sekedar tenggang rasa. Maksudnya : “Awas, ada orang sedang merasa lapar, tenggang dia, jangan ganggu dia…..!”.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi hari-hari luar biasa sebentar lagi mau lewat. Karena hanya lewat, biasanya tidak berlangsung lama. Meski sebenarnya lama atau sebentarnya tergantung pada bagaimana cara menangkap yang mau lewat itu. Kalau dianggapnya sebagai “aktifitas ngoyoworo”, ya lebaran jadi luamaaa sekali…… Tapi kalau dianggapnya sebagai sebuah rahmat dan nikmat, sungguh terlalu cepat dia berlalu. Tahu-tahu sudah mau lebaran. Padahal rasanya belum banyak detik-menit-jam-hari-minggu yang telah dialokasikan untuk menggapai rahmat dan ampunan-Nya. Belum banyak waktu-waktu senggang digunakan untuk menutup nilai tekor selama sebelas bulan sebelumnya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi tidak banyak orang yang ngeh bahwa sebulan sebelum lebaran adalah sebuah peluang bisnis. Bisnis yang margin keuntungannya dijamin kekal bin abadi dunia wal-akhirat. Bisnis yang dijamin tidak akan pernah rugi. Bisnis yang dijamin memberikan Return on Investment ribuan bahkan jutaan persen. Nyaris dengan modal bodong. Boro-boro bermodal sarung kumel plus kupluk bolong, tidak punya dengkul pun bisa meraup yield jutaan persen. Itu kalau tahu “trik”-nya…… Namun sayang-sayang seribu kali sayang. “Trik” itu hanya bisa diperoleh kalau seseorang mau mengaji (ini bahasa kampung saya). Bahasa moderennya adalah mau melakukan kajian, mau belajar, mau berpikir, mau menyadari kebodohannya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi saya hanya bisa melamun, berimajinasi mewanti-wanti kepada anak-anak saya (yang sialnya tidak pernah berhasil, sebab selalu ditanggapi sambil cengengesan). Boro-boro kepada anak-anak orang lain atau orang tuanya……., anak sendiri saja syusyahnya bukan main…..

Cobalah nak…….. Saat malam pertama Ramadhan tiba, tarik napas dalam-dalam, resapi aliran udaranya. Nikmati bahwa itu adalah udara Ramadhan, yang setiap molekulnya bernilai ibadah. Kalau kau tahu…..!

Hisap aromanya, agar aroma tubuhmu adalah aroma Ramadhan. Masukkan ke dalam darah dan biarkan dia mengalir ke seluruh tubuh, agar tubuhmu adalah tubuh Ramadhan. Gerakkan ke seluruh anggota badan, agar ayunan tangan dan langkahmu adalah irama gerak Ramadhan. Rambatkan ke indera pandangan matamu, gerak bibirmu, pendengaran telingamu dan sentuhan lembut kulitmu, agar getaran inderamu adalah getaran Ramadhan.

Cobalah nak…….., untuk melakukannya malam demi malam. Tidak usah dululah melakukan yang lain-lain, melainkan menyatulah dengan aura Ramadhan. Agar nanti di malam terakhir Ramadhan kalian tidak menyesal karena tahu-tahu esok lebaran tiba. Dan kalian baru menyadari bahwa bulan super deal barusan berlalu….. Air matamu akan menetes tak terbendung bagai lumpur panas. Namun (siapa tahu) itu terlambat, karena tidak ada yang bisa menggaransi tahun depan akan berjumpa kembali dengan Ramadhan

Lebaran sebentar lagi.

Hanya rasa ikhlas menyambut kedatangan Ramadhan yang akan membedakan apakah lebaran benar-benar sebentar lagi atau masih lama. Rasa ikhlas yang mengejawantah menjadi tetesan air mata saat bersujud keharibaan-Nya, di tengah malam….. sunyi….. sepi….. sendiri…..

Rasa ikhlas yang diawali dengan kesadaran untuk saling memaafkan.

PS.
“Mohon maaf lahir dan batin”

Yogyakarta, 22 September 2006 (29 Sya’ban 1427H)
Yusuf Iskandar

Jika Harus Mudik : Berhati-hatilah…!

27 September 2008

Mudik lagi…, mudik lagi…

Semakin tahun, perjalanan mudik sebagai agenda tahunan masyarakat Indonesia di seputar hari lebaran, sepertinya semakin meriah, padat, rumit, berbiaya tinggi, tidak aman dan bahkan belakangan cenderung tidak rasional.

Maka jika tetap harus menempuh perjalanan mudik : “Berhati-hati dan waspadalah…..!”.

Ini bukan lagi soal hari raya orang muslim atau non-muslim. Juga bukan soal ketaatan beribadah. Belakangan maknanya malah cenderung tidak melulu soal silaturrahim dengan sanak keluarga. Melainkan soal mnempuh perjalanan untuk pulang kampung. Maka hajatan tahunan masyarakat Indonesia itu pun berulang kembali.

Sekian tahun yang lalu, mudik identik dengan berebut naik angkutan umum, kereta api dan kapal laut. Lalu, seiring dengan tingkat kemakmuran masyarakat, bertambah menjadi berebut naik pesawat terbang dan kendaraan pribadi. Nah, beberapa tahun terakhir ini semakin mencengangkan dengan berbondong-bondong naik sepeda motor. Seperti tidak peduli berapa kilometer jarak harus dijalani dan berapa jam perjalanan harus ditempuh. Maka, faktor keselamatan (safety) di perjalanan nampak semakin memprihatinkan, nggegirisi dan nyaris terabaikan.

Infrastruktur perhubungan dan perjalanan nampaknya tidak bisa mengikuti pesatnya hajatan tahunan ini, sehingga para pengguna jalan dan sarana transportasi yang berniat mudik pun harus siap berhadapan dengan segala resiko atas keterbatasan infrastruktur itu. Ugh….., sungguh berat dan penuh resiko….  Tapi ya tetap harus mudik, begitu yang terpikir oleh para pemudik.

Selamat menempuh perjalanan mudik. Senantiasa berhati-hati dan waspada. Jangan lupa melakukan persiapan yang semestinya. Berdoa dan terus berdoa, agar selamat sampai tujuan dan kembali dari perjalanan melelahkan.

Semoga pesta Ramadhan 1429 H dapat disempurnakan, agar bisa meraih nilai kemenangan yang hakiki di hari Idul Fitri 1429 H.

Saling memaafkan bagi dan untuk segenap handai taulan dan sanak kerabat.

Taqabbalullahu minna wa-minkum, taqabbal Yaa Karim……

Yogyakarta, 27 September 2008 (27 Ramadhan 1429 H)
Yusuf Iskandar

Di Dermaga Tayan, Sanggau, Kalbar

6 September 2008

Perahu-perahu motor cepat (speed boat) tertambat di dermaga Tayan, siap mengantar penumpang yang hendak menyeberang ke pulau Tayan menyeberangi sungai Tayan yang cukup lebar. Dermaga sungai Tayan terletak sekitar 100 km di sebelah timur kota Pontianak, termasuk dalam wilayah kecamatan Tayan Hilir, kabupaten Sanggau, provinsi Kalimantan Barat.

Belum ada jembatan yang menghubungkan wilayah Tayan dengan wilayah di seberangnya. Selain penumpang, kendaraan pun bisa diseberangkan menggunakan kapal penyeberangan menuju jalan lanjutan di sisi timurnya. Kelak kalau jembatan penyeberangan sudah dibangun, maka lintasan ini akan menjadi bagian penting dari jalur tengah Lintas Kalimantan yang akan menghubungkan kota Pontianak (Kalbar) dengan Palangkaraya (Kalteng), melalui wilayah Ketapang dan Nanga Tayap.

Kini, kegiatan penyeberangan di dermaga Tayan menjadi urat nadi aktifitas kegiatan ekonomi masyarakat setempat, baik antara wilayah di sebelah barat sungai dengan di sebelah timur sungai, maupun dengan pasar pulau Tayan yang ada di tengah sungai Tayan.  

Yogyakarta, 6 September 2008
Yusuf Iskandar

Perahu motor tempel menunggu penumpang di dermaga Tayan

Kawasan pemukiman Pulau Tayan yang berada di tengah sungai Tayan

Rumah kayu di tepian dermaga Tayan

Sebuah masjid di seberang dermaga Tayan

Dermaga penyeberangan Tayan

Kawasan terminal, pasar dan jalan utama Tayan