Archive for Februari, 2009

“CD Remix Special Edition” Penangkal Hujan

21 Februari 2009

Minggu lalu teman saya melepas masa lajangnya di Balikpapan. Menurut undangan, resepsi pernikahan diselenggarakan jam 10 pagi. Kebiasaan kita di tempat lain, pada undangan disebutkan resepsi dari jam sekian sampai jam sekian. Namun tradisi di Balikpapan rupanya agak berbeda, undangan acara resepsi biasa ditulis jam sekian sampai selesai. Maka kalau undangan mulai jam 10 pagi, berarti tuan rumah beserta mempelai harus siap-siap menyambut tamu hingga langkah tamu yang terakhir, jam berapapun datangnya.

Menurut pikiran teman saya, sang penganten lelaki, tentu saja ini situasi yang “kurang menguntungkan”. Hari sepertinya kok enggak malam-malam…… Selalu standby di pelaminan menunggu barangkali ada tamu yang baru bisa datang saat malam menjelang.    

Lain cerita tentang enggak malam-malam…., lain lagi cerita tentang keadaan cuaca. Sedari pagi hingga menjelang jam 10 saat resepsi hendak dimulai, ternyata hujan deras mengguyur Balikpapan seolah tak hendak berhenti. Tuan rumah pun gelisah. Kalau hujan tidak berhenti juga, bisa-bisa “jualan”-nya tidak laku.

Mertua teman saya yang sebenarnya juga orang Jawa tapi tinggal di Balikpapan, rupanya punya ide “nyleneh”. Sang pengantin lelaki dan perempuan diminta mengumpulkan CD (baca : cede) masing-masing satu eksemplar, lalu kedua benda itu dibungkus plastik. Bungkusan spesial berisi campuran dua CD jantan dan betina itu pun lalu dilempar ke atas atap rumah bagai meteor jatuh dari angkasa. Sayangnya, teman saya tidak tahu rumah siapa yang kejatuhan bungkusan berisi sepasang CD itu. Atau mungkin memang sebaiknya tidak perlu ada yang tahu. Takut kalau terus diambil lagi…..

Lha kok ndilalah….., hujannya kok ya terus berhenti, dan terus berhenti sampai malamnya, hingga langkah tamu terakhir meninggalkan gelanggang resepsi yang tak sudah-sudah sejak pagi. Aneh bin ajaib, pikir teman saya. Sebab kesimpulannya menjadi : Sepasang CD yang dilempar ke atas atap telah berhasil menangkal guyuran air hujan.   

Kalau ditanya apa hubungan antara CD yang dilempar ke atas atap dengan hujan? Ya, sama sekali tidak ada. Mau ditelisik dari disiplin ilmu apapun tidak akan ketemu perkaranya. Satu-satunya yang bisa menjelaskan adalah bahwa ada sebuah tradisi yang masih dipercaya oleh sebagian kalangan masyarakat Jawa tentang urusan lempar-melempar CD dikala sedang punya hajatan tapi hujan tak kunjung reda. Terkesan indah sekali (tradisinya tentu saja, bukan CD-nya…).

Barangkali karena merasa “gimana gitu….”, maka alternatifnya kini ritual lempar-melempar CD banyak ditinggalkan dan diganti dengan mengundang pawang hujan. Sebab kalau kemudian acaranya adalah upacara tujuhbelasan, lalu CD siapa saja yang mau dikumpulkan lalu dilempar, dan atap siapa yang mau ditimpukin CD…..

***

Tidak sampai seminggu kemudian, teman saya itu sudah boyongan bersama keluarga barunya ke Yogyakarta. Saat pertama kali bertemu di Yogya, saya mengusulkan kepada teman saya itu agar coba “CD Remix Special Edition” yang dilempar ke atas atap itu dicari dan diambil kembali. Baru seminggu berlalu, belum lama. Dan lagi, pasangan CD itu kan dibungkus plastik, pasti kondisinya masih baik. Teman saya tertawa ngakak. “Buat apa?”, katanya.

Ya, buat apa…. Seperti kurang kerjaan saja. Barangkali kita pun akan berkata begitu. Saya melihat sisi “nyleneh” lainnya. Benda “sakti” yang telah menangkal hujan itu kelak akan menjadi sebuah benda kenangan yang tak ternilai harganya. Sebuah memorabilia yang siapa tahu bernilai tinggi di pasar lelang Christy di New York. Tak seorang pun tahu, kalau 20 tahun lagi ternyata teman saya atau anaknya sukses menjadi seorang selebriti, syukur-syukur kelas dunia.

Lho, siapa yang menyangka anak laki-laki kecil, dekil, hitam, njelehi bernama Obama yang dulu pernah sekolah di Menteng itu kini jadi Presiden Amerika. Atau, Soeharto yang anak petani itu pernah menggegerkan Indonesia. Atau Tukul yang kelewat katrok dan tampak bodo itu penghasilannya susah dihitung. Atau, Inul yang penyanyi ndang ndut ndeso itu bisa mengundang simpati dan dielu-elu dimana-mana. Orang-orang ini hanyalah contoh. Diakui atau tidak, diam-diaman atau terang-terangan, punya memorabilia yang bagi sebagian orang bernilai tinggi.   

Bagian terakhir dari cerita ini memang berbau mengada-ada. Tapi yang pasti adalah kalau sekarang kita mengatakan “Ah, itu tidak mungkin…..”. Maka yang akan terjadi kelak adalah ketidakmungkinan itu. Lha, kalau sebaliknya? Maka diri kita akan menjadi seperti yang sebaliknya itu. Dan sesungguhnya yang mengatakan demikian itu bukan saya, melainkan kitab suci.

Jadi? Sebaiknya teman saya itu mempertimbangkan untuk mencari dan mengambil kembali “CD Remix Special Edition” yang sekarang entah berada di atas atap rumahnya siapa di Balikpapan sana. Kelak akan ada sebuah kisah yang tak kunjung habis untuk ditulis. Kisah tentang sebuah tradisi yang indah yang masih dilakoni oleh sebagian masyarakat Jawa. Kisah tentang memorabilia cinta kasih sepasang anak manusia. Kisah tentang janji Sang Pencipta Kitab Suci yang pasti akan ditepati. Kisah tentang orang yang kehabisan ide sampai sempat-sempatnya menuliskan kisah ini…..

(Sengaja tulisan ini tidak disertai ilustrasi foto….)  

Yogyakarta, 21 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar

Sepenggal Nyanyian Hujan

17 Februari 2009

Hari semakin malam, hujan tak berhenti juga sejak sore. Terkadang mereda sebentar, tidak lama kemudian deras lagi, dan sesekali menyisakan gerimis meski tak sudah jua.

Mencoba online dengan fasilitas IM2 seperti yang biasa saya lakukan hampir setahun ini, nampaknya tak mau dipacu juga kecepatannya. Perlahan-lahan bisa konek, lalu sesekali ngebut. Kalau hari hujan gini malah seringkali tiba-tiba mbegegek, diam seribu basa, tak mau jalan. Tapi lumayan masih bisa membalas email dan membuka Facebook.

Saya coba ganti ke pesawat Smart yang baru saya beli belum seminggu, masih bau plastik dan masih mengkilat tampilannya. Rupanya tetap saja berkecepatan setara genjotan sepeda onthel. Memang lebih stabil, ya… stabil alon-alon waton kelakon. Dasar Punokawan…. Smart, Gareng, Petruk, Bagong (mbayar murah kok minta bagus….).

Yo wis, matikan laptop lalu pindah ke ruang tengah di depan pesawat televisi yang sedang ditonton ibunya anak-anak. Sementara anak-anak sedang berada di kamarnya masing-masing.

***

Agak jengkel juga saya. Ibunya anak-anak ini dari tadi nyetel sinetron sambil tiduran (di ruang tengah rumah saya memang belum dibelikan meja-kursi, dan sejak lebih empat tahun yang lalu masih juga belum).  Maka sambil ikut-ikutan lumah-lumah (berbaring) di samping istri, di atas kambal warna merah yang dibeli di Madinah, segera remote control saya kudeta, lalu saya matikan televisinya. Serta-merta suasana malam berubah menjadi hening, tak lagi ada berisik suara televisi melainkan suara hujan dan sayup-sayup guruh terdengar di kejauhan. Sudah barang tentu istri saya protes keras. Lalu, berlagak bak seorang resi, saya berkata lembut sambil mendesah…..

“Ssssst…., coba dengarkan bunyi hujan tok-tok-tok di teras depan….. (Lho, kok bukan tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting? Ya, karena airnya menetes di atas polikarbonat…). Dan suara gemericik air di halaman belakang….. Kapan terakhir kita sempat menikmati suara hujan dalam keheningan malam seperti ini…..”.Tanya saya meski sebenarnya saya tidak memerlukan jawaban.

Istri saya malah komplain memberitahu : “Tuh…., dengarkan atapnya bocor…..”. Terdengar suara tek-tek-tek, air hujan yang lolos dari genting lalu jatuh ke atas plafon gypsum.

Kembali bak seorang resi seolah tak hirau atas komplain istri saya tadi. saya berkata lembut sambil mendesah…..

“Ssssst…..,  terdengar seperti suara musik alam ya……”.

Lalu kata istri saya : “Musik opo….., wong genah bocor ngono…..(musik apaan, wong jelas-jelas bocor gitu…..)”.

“Apa sempat terpikir….., kenapa rumah bagus seperti ini kok atapnya bocor. Pasti Tuhan punya maksud dengan mbocori atap rumah kita…..”, balas saya datar. Dan malam pun terasa semakin hening, kecuali hanya bunyi hujan yang tak juga kunjung reda.

“Coba kita renungkan pesan yang disampaikan oleh alam kepada kita…..
Sekali waktu,
dengarkan , nikmati, hayati hingga lubuk hati yang paling dalam,
suara nyanyian alam di saat malam turun bersama titik-titik air hujan
yang menjatuhi atap polikarbonat, halaman belakang dan detak air yang menetes di atas plafon….
Lalu perhatikan apa yang terjadi”.

Begitu kata saya kepada ibunya anak-anak yang masih terbaring di samping saya yang adalah penggemar Mario Teguh.

Dan, istri saya yang dua hari lalu berulang tahun tapi saya lupa, pun menjawab santai : “Yang terjadi ya rumah kita atapnya bocor…..!”

Yogyakarta, 17 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar

“Bune Haba Mbojo”

12 Februari 2009

Kemarin saya beli HP baru cap Smart, tipe Haier D1200P. Harga banderolnya 333 ribu rupiah, tapi saya dapat diskon. Harga itu sudah termasuk pulsa 10 ribu, enam bulan internetan ditambah bonus 2000 SMS tiap bulan. Lumayan sebagai alternatif IM2 yang saya pakai selama ini. Lumayan juga kecepatannya. Cukup stabil (stabil pelan, maksud saya). Kira-kira stabil seperti orang nggenjot sepeda di pematang sawah, gitulah…..

Baru hari ini piranti yang sengaja saya beli untuk menunjang kegiatan online itu dapat bekerja lancar, meski kemarin sempat rada uring-uringan karena beberapa kali dicoba kok enggak konek-konek. Pas tadi sore berhasil konek, tiba-tiba muncul YM (Yahoo Messenger) dari seseorang yang kalau melihat namanya, saya belum familiar. Sebut saja namanya Sri (bukan nama sebenarnya, selanjutnya nama aslinya saya ganti dengan Sri).

Bunyi pesan YM-nya begini : “aba iskandar lagi ngapain? bune haba mbojo”.

Agak lama saya pelototin pesan itu. Kalimat sapaannya kok susah saya pahami. Jelas bukan bahasa Jawa. Dialek preman Jogja, rasanya juga bukan. Plesetan gaya Jogja, apalagi…. Sambil mikir-mikir, ini Sri siapa ya?  Berharap kalau tahu orangnya, maka saya akan bisa menebak apa maksudnya. Tapi kok ya tidak nyambung juga.

Kemudian saya membalasnya sambil iseng saja: “lagi mbalas YM. maaf ini Sri mana?”

Selama ini saya sering menambah teman YM begitu saja. Maksudnya, setiap kali ada permintaan pertemanan, tanpa pikir panjang langsung saya iyakan dan klik “Finish”. Saya berasumsi baik saja, bahwa kalau ada yang minta ditambahkan namanya ke daftar kontak YM, berarti orang tersebut tahu saya. Entah kenal langsung atau lewat tulisan.

Sri lalu membalas pertanyaan saya: “nae………..adek sendiri lupa.skrg sri lagi di padang….msh dibima. kapan nikah???”.

Waduh, tambah bingung aku….. Lha, anak saya sudah dua gede-gede je….. Saat itu juga saya langsung menduga bahwa Sri ini pasti salah menyasar orang. Yang membuat saya tertarik bukan Sri-nya, melainkan Sri ini orang mana sih kok bahasa yang digunakannya kedengaran asing di telinga saya. Tapi toh saya penasaran juga, jangan-jangan saya yang lupa sama Sri ini. Untuk memancingnya saya asal balas saja: “sebentar… saya ingat-ingat….. ini Sri Bandung?”.

Jawaban Sri malah membuat saya tersenyum sendiri, karena semakin meyakinkan dugaan saya bahwa jelas Sri ini sedang berkomunikasi dengan orang yang salah. Masih dengan logat bahasanya, Sri menjawab : “ini sri anak om jahar itu, blkg rumahnya eti anaknya ibu madu………… ih bonae…………..”.

Agar dialog tidak semakin kebablasan, sementara saya bukanlah orang yang dimaksud oleh Sri, maka baiknya segera saya akhiri saja. Dan saya jawab: “Oooo, kalau gitu saya yakin Sri pasti salah orang. Coba Sri pastikan lagi, kelihatannya bukan saya (Yusuf Iskandar) yang Sri maksudkan…….”.

Tanpa sedikitpun menunjukkan rasa bersalah setelah menyadari kekeliruannya, Sri lalu mengakhiri pembicaraan dengan enteng saja: “ya udah dech kalo gitu……………………….” (titik-titik di belakangnya poanjang banget).  Saya pun membalas: “OK”.

Tapi beberapa menit kemudian gantian Sri yang rupanya penasaran, lalu begini katanya: “yusuf mana sih kamu? org mana?”. Dan tidak lama kemudian muncul tulisan : Sri has signed out.

***

Ngabuburit menjelang maghrib di Yogya pun usai. Tinggal menyisakan rasa penasaran saya, yaitu tentang bahasa apa atau dialek mana sih yang digunakan oleh Sri? Sepertinya saya kurang familiar dan nyaris belum pernah saya dengar. Terpaksa saya cari tahu juga lewat internet.

Legalah saya akhirnya, setelah tahu bahwa rupanya mbak Sri ini orang Bima (Sumbawa, Nusa Tenggara Barat), dan bahasa yang digunakannya adalah bahasa Bima. Kalimat sapaan “bune haba mbojo”, dalam bahasa Bima berarti : “Apa kabar Bima” (mudah-mudahan tebakan saya benar, wong namanya juga mencoba mengotak-atik bahasa orang lain). Mbojo adalah nama lain untuk Bima. Tiwas (telanjur) saya berprasangka buruk, karena mbojo dalam dialek Jawa bisa berkonotasi negatif.

Terima kasih, Sri. Kini saya jadi kenal dan suka mbojo, eh nggahi mbojo (bahasa Bima, maksudnya), sebagai salah satu kekayaan negeri tercinta. Kapan-kapan ke sana, ah….

Yogyakarta, 11 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar

Nikmatnya Sarapan Pagi Nasi Megono

9 Februari 2009

Sebenarnya jarum jam masih belum memukul angka tujuh, tapi cuaca pagi di Wonosobo sepertinya masih sangat pagi. Sang mentari rada kesulitan menebar lepas cahayanya karena terhalang awan pagi pegunungan. Saat sedang menikmati sruputan secangkir kopi, pandangan saya terpancing menoleh ke luar rumah karena terdengar suara seorang wanita memanggil-manggil : “Megono……, megono……”. Saya pikir, itu suara seorang ibu yang sedang mencari anaknya yang tadi lari kabur masih telanjang ketika sedang dimandikan dengan air sumur yang dingin.

Rupanya pikiran saya yang kelewat kotor. Ibu paruh baya bergaun hijau kusam yang sedang berjalan melenggang sambil menggendong bakul atau tenggok itu sedang menjajakan menu sarapan pagi. Nasi megono, nama makanan yang dijajakannya.

Menu sarapan pagi nasi megono sepertinya sudah menjadi bagian keseharian warga masyarakat Wonosobo. Mereka layak membanggakan hal itu. Ungkapan yang pas untuk menggambarkan suasana ini adalah : “Serasa belum sarapan kalau belum menyantap nasi megono”, atau lebih ekstrim lagi dikatakan “tiada hari tanpa nasi megono”. Menu yang hampir sama racikannya sebenarnya juga ada di daerah Pekalongan dan Temanggung, meski agak beda komponen produknya.

Penjual nasi megono banyak dijumpai di pinggir atau sudut-sudut kota Wonosobo setiap pagi hari. Para pegawai, pelajar, buruh dan umumnya masyarakat Wonosobo pun bisa membekali perutnya sebelum pergi meninggalkan rumah dengan praktis dan berbiaya murah. Sebungkus nasi megono yang dibungkus daun pisang berlapis kertas seadanya bisa diperoleh dengan pengganti uang Rp 500,- sampai Rp 1.000,- tergantung takaran dan menu tambahannya.

Citarasa masakan setiap orang pasti tidak sama meskipun racikan bumbunya sama, maka biasanya setiap orang sudah memiliki bakul favoritnya masing-masing. Seperti keluarga teman saya yang tinggal di kawasan dusun Karangkajen, desa Wonosobo Timur, juga sudah punya langganan bakul nasi megono (atau terbalik, bakul nasi megono yang punya pelanggan keluarga teman saya….). Masakan nasi megono Bu Peno terasa lebih pas di lidah. Setiap pagi Bu Peno yang berparas ayu seperti dawet Banjarnegara, selalu menyempatkan mampir ke rumah teman saya itu untuk menjajakan nasi megono. Maka Bu Peno yang pagi itu tampil lugu dan sportif dengan lilitan kain kebaya agak nyingkrang (tampil sportif tidak harus dengan berkaus ketat plus celana pendek oleh artis sinetron) pun dengan sigap bak satpol PP siap beroperasi, membongkar bakul atau tenggok-nya dan segera membungkus nasi megono sebanyak yang dipesan.

Kopi secangkir yang belum sempat saya habiskan segera saya tinggalkan, lalu gantian membedah bungkusan nasi megono bikinan Bu Peno. Sepiring tempe kemul yang masih panas kebul-kebul, dilengkapi setoples peyek teri pun menemani sarapan pagi dengan nasi megono. Hmmm….. nikmat benar (mengingatkan saya akan sarapan pagi dengan gudangan yang dibeli di pasar Sentul Jogja). Nasi megono yang masih hangat, sepertinya pas benar dilahap sebagai sarapan pagi di kala udara Wonosobo yang masih dingin.  

Sebungkus nasi megono yang tampilan warnanya semburat kecoklatan itu sepintas memang telihat kurang membangkitkan nafsu makan. Tapi bersabarlah sedikit, hirup aroma wanginya, sempatkan menelisik komponen produknya, lalu cicipi sedikit demi sedikit. Maka itu adalah hasil pencampuran nasi dan sayur-mayur antara lain daun pepaya dan polong atau kol hijau yang dirajang kecil-kecil, diramu dengan parutan kelapa muda, dan dimasak bersama-sama dengan cara dikukus atau orang Jawa menyebutnya di-dang. Hasilnya adalah nasi megono yang gurih dan hoenak, beraroma merangsang selera dan nyamleng tenan…..

Mengunyah dan menelan nasi megono, diselang-seling dengan menggigit tempe kemul (tempe goreng yang dibalut dengan adonan tepung terigu dan tepung beras ditambah sedikit kunyit dan rempah penyedap) dipadu dengan kriuk-kriuk peyek teri, adalah sebuah pengalaman menyantap sarapan pagi yang sungguh nikmat. Sebuah tradisi sarapan pagi yang perlu dipertahankan. Bukan saja mengandung nilai nostalgia bagi mereka warga Wonosobo yang sudah tua atau kini merantau di tanah seberang, melainkan juga lebih sehat dan bergizi alami.

Di Temanggung ada juga nasi gono atau sego gono. Mirip-mirip nasi megono, tapi campurannya lebih bervariasi dan biasanya berbumbu pedas. Dulu banyak dijumpai saat tiba musim panen, menjadi bekal makan para petani saat harus seharian berada di sawah. Entah sekarang apa masih menjadi tradisi atau sudah berganti.

Di Pekalongan juga ada nasi megono yang nasinya berupa nasi liwet yang disajikan terpisah dengan sayur-mayur semacam urap. Sayurnya pun biasanya berupa buah nangka muda atau gori yang dirajang agak kasar, lalau dikukus bercampur parutan kelapa muda dan bunga kecombrang. Makanya lebih beraroma wangi dan (juga) sedap. Sajian komplit nasi megono Pekalongan bisa merupakan perpaduan dengan nasi putih, dan bisa juga dinikmati bersama menu pelengkap berupa tumis tauco, sayur lodeh, sambal kering tempe, balado telor, ikan asin dan lalapan mentimun.

Sajian nasi megono Wonosobo agaknya lebih sederhana tapi gurih dan numani (membuat ketagihan). Karena itu, sebaiknya jangan lewatkan menikmati nasi megono jika sempat menjumpai suasana pagi hari dan kebetulan pas berada di kota Wonosobo.

Yogyakarta, 9 Januari 2009
Yusuf Iskandar

Belum Ke Wonosobo Kalau Belum Makan Mie Ongklok

8 Februari 2009

img_1692_r3Ketika Anda berkunjung ke kota Wonosobo, Jawa Tengah, tidak perlu heran kalau kemudian ada yang berkata kepada Anda : “Belum ke Wonosobo kalau belum makan mie ongklok”. Inilah tag line kebanggaan masyarakat Wonosobo ketika ada teman atau koleganya yang bertamu ke kotanya. Kebanggaan yang memang seharusnya ada dan dimiliki oleh setiap wilayah di mana pun. Intinya tentu saja berpromosi.

Andai setiap kota atau wilayah di Indonesia memiliki tag line yang semodel itu, lalu pesankan kepada warganya, termasuk yang sedang berada di perantauan untuk mengenalkan potensi daerahnya masing-masing. Maka kota itupun akan semakin dikenal dan dipenasarani oleh orang lain. Terutama dengan adanya sesuatu yang khas dari kota itu dan lebih terutama lagi kalau itu menyangkut makan atau pengalaman kuliner. Tak terkecuali kota Wonosobo.  

Merasa tertantang dengan tag line Wonosobo dengan mie ongkloknya, Sabtu dini hari yang lalu sekitar jam 1:00 saya berangkat dari Jogja menuju Wonosobo (dasar enggak ada kerjaan….!). Waktu tidur dikorbankan demi sebuah tantangan agar dibilang sudah pernah ke Wonosobo. Perkara kemudian di sana ada peluang bisnis yang dapat dikerjakan, maka itu menjadi bagian cerita berbeda. Seingat saya sudah beberapa kali saya singgah ke kota nan cantik dan indah bak negeri di atas awan yang terletak di kaki selatan pegunungan Dieng dan berada di lereng gunung Sindoro dan Sumbing, tapi masak dibilang belum pernah ke Wonosobo.

***

img_1691_r2Mie ongklok Wonosobo memang khas dan jenis makanan ini sudah merakyat sejak jaman dulu kala. Sepertinya tidak saya temukan di kota lain. Kalau makanan mie-miean banyak di mana-mana, tapi yang ongklok-ongklokan rupanya hanya ada di Wonosobo.

Sebenarnya tidak sulit menemukan penjual mie ongklok di Wonosobo, sama seperti mencari penjual mie atau bakmi di setiap pelosok nusantara. Namun ada beberapa lokasi penjual mie ongklok yang sudah kesohor punya nama dan banyak disebut-sebut penggemar wisata kuliner. Di antara yang sudah punya nama itu adalah mie ongklok pak Muhadi di Jl. A. Yani dan mie ongklok Longkrang di Jl. Pasukan Ronggolawe.

Mie ongklok Pak Muhadi sebenarnya lebih terkenal. Namun sejak dikelola oleh generasi penerusnya, konon kini taste-nya sudah agak berbeda dengan ketika dulu masih ditangani (benar-benar diracik dan dilayani sendiri dengan tangannya) Pak Muhadi. Cerita ini mirip-mirip bakmi Kadin Jogja yang sekarang juga dikelola oleh generasi keduanya, sehingga terasa kurang “punya taste“, tak lagi se-mak nyus dulu ketika masih digemari oleh almarhum pak Harto atau kerabat Kraton Jogja.

Pilihan lalu diarahkan ke mie ongklok Longkrang yang warungnya biasanya buka menjelang sore hingga malam hari. Longkrang bukan nama orang, melainkan nama desa dimana rumah makan mie ongklok ini berada. Lokasinya mudah dicapai, tidak sampai 1 km dari alun-alun kota Wonosobo menuju ke utara arah Dieng, kemudian belok kanan. Tampilan mukanya sangat sederhana, nyaris menyerupai rumah tinggal kalau bukan karena di depannya terpasang spanduk warna kuning muda (sudah kusam maksudnya).

img_1694_r1

Mie Ongklok Longkrang

Tidak perlu waktu lama untuk menunggu semangkuk mie ongklok disajikan, tidak seperti kalau pesan bakmi goreng atau rebus yang harus dimasak dulu. Segumpal mie kuning ditambah irisan kol dan daun kucai mentah dimasukkan ke sebuah wadah menyerupai saringan, lalu direndam ke dalam kuah panas berkaldu ayam. Proses pematangan campuran mie dan sayuran itu dilakukan sambil di-ongklok-ongklok atau di-opyok-opyok di dalam kuah panas. Begitulah, maka disebut mie ongklok.

Setelah dirasa agak matang, lalu dituang ke dalam mangkuk dan ditambah dengan bumbu penyedap. Setelah itu disiram dengan kuah kental berwarna kecoklatan campuran adonan kanji (tepung tapioka) dan ebi (udang kering), lalu diguyur dengan sambal kacang. Terakhir ditaburi bawang goreng sebelum disajikan. Tampilan akhir sajian mie ongklok ini memang kurang menggairahkan, seonggok mie yang dilumuri kuah kental jadi terlihat nglentrek-nglentrek……, berkuah nyemek kental kecoklatan, gimana gitu….

Baiknya langsung saja diaduk agar bumbu, kuah kental dan sambal kacangnya merata di saat masih fanas (saking panasnya). Tapi sebelum itu cobalah untuk mencicipi sedikit kuah kentalnya dulu, lalu rasakan sambal kacangnya, baru kemudian diaduk. Jika suka pedas, campurkan cabe rawit yang sudah digerus dengan sendok di dalam mangkuk, begitu cara membuat sambalnya. Lalu rasakan sensasi nglentrek-nglentrek-nya dan nikmati citarasa khas kelezatan mie ongklok yang semangkuknya dihargai Rp 4.000,- ini.    

img_1695_tempe-kemul

Tempe Kemul

img_1693_geblek2

Cireng (Leko atau Geblek)

Menu pendamping untuk menikmati mie ongklok adalah leko atau cireng (aci goreng) yang berupa gorengan tepung beras gurih dan enak berwarna putih. Makanan ini juga disebut geblek (huruf ‘e‘ kedua dibaca seperti pada kata ‘imlek”). Barangkali karena bentuknya menyerupai geblek (dalam bahasa Jawa geblek berarti pemukul) kasur jaman dulu sewaktu kasur masih terbuat dari kapuk dan perlu dijemur seminggu-dua minggu sekali agar mengembang, menghalau bau apek dan mengusir tinggi (bahasa Jawa tinggi berarti kutu busuk, yang kalau di-pithes bau busuknya minta ampun….., sekarang binatang tinggi ini layak tergolong binatang langka yang tidak perlu dilindungi…..).

Selain dimakan dengan cireng atau geblek, mie ongklok perlu ditemani menu asesori tambahan yaitu sate sapi berbumbu sambal kacang dan tempe kemul (dalam bahasa Jawa kemul berarti selimut), yaitu tempe goreng yang dibungkus dengan adonan tepung. Maka ketika semangkuk mie ongklok disanding dengan cireng, tempe kemul dan sate sapi, bersiaplah untuk bingung mau dimakan apanya dulu…. “Habis semuanya terlihat enak sih……”, begitu pembelaan dalam hati. Jika jalan keluarnya kemudian adalah mencampur semuanya ke dalam satu mangkuk pun bukan soal. Sebab citarasanya tetap enak dan nyemmm….  (hanya sebaiknya Anda duduk agak menyudut agar tidak disenyumi pembeli lain….).

Menilik sajian mie ongklok plus menu pelengkap yang seakan menggunung di dalam mangkuk, maka memang cocoknya mie ini dinikmati saat sedang lapar berat. Kalau kemudian saya sukses menghabiskan dua mangkuk mie ongklok termasuk menu pelengkapnya, itu karena makan siangnya agak terlambat alias sedang lapar berat itu tadi. Dan yang penting, ada bukti lebih dari cukup bahwa saya sudah ke Wonosobo….

Yogyakarta, 8 Januari 2009
Yusuf Iskandar

NB :
Terima kasih untuk mas Hadi Kuntoro (pemilik usaha selimut Jepang Hasuko) dan mas Yoyox Sancoyo (distributor baju muslim Rabbani) yang telah menjerumuskan saya hingga akhirnya saya benar-benar telah ke Wonosobo.

Saya (berkacamata), Hadi Kuntoro dan Yoyox Sancoyo

Dari kiri ke kanan : Saya (berkacamata), Hadi Kuntoro dan Yoyox Sancoyo

Cireng alias geblek...., hmmm enaaak....

Cireng alias geblek...., hmmm enaaak....

Bersama keluarga mas Hadi dan mas Yoyox
Bersama keluarga mas Hadi dan mas Yoyox

Bandeng Tambak Kropok, Pilihan Menu Bandeng Bebas Duri

1 Februari 2009

img_0804_rIkan bandeng memang memiliki citarasa berbeda dibanding ikan lainnya. Namun untuk menikmatinya acapkali nyali si calon pemakan sudah ciut kalau ingat duri bandeng kelewat banyak termasuk duri-duri kecil yang seakan tersusun rapi menyelimuti sekujur tubuh ikan bandeng.

Makan bandeng presto atau yang juga dikenal sebagai bandeng berduri lunak adalah salah satu solusi menikmati bandeng tanpa takut terganggu duri. Namun pada bandeng presto yang dimasak pada temperatur tinggi itu duri-durinya masih tetap melekat di dalam dagingnya, hanya saja durinya menjadi lunak atau empuk ketika digigit atau dikunyah.

Pilihan lain untuk menikmati bandeng adalah makan bandeng tanpa duri. Duri-durinya benar-benar dihilangkan sehingga dijamin si pemakan bandeng akan terbebas dari tertelan duri. Sungguh sebuah pengalaman yang menyesakkan, saat enak-enaknya makan ikan tiba-tiba durinya tertelan dan tersangkut di tenggorokan. Selezat apapun masakan yang disajikan, segera buyar selera kenikmatannya.

Peristiwa tertelan duri ikan, oleh orang Jawa disebut ke-lek-an ri, yang lebih berkesan dramatis ketimbang menyebut tertelan duri. Kalau orang Jawa mengatakan ke-lek-an ri, seolah menggambarkan telah terjadi sebuah tragedi yang sukar dilukiskan penderitaannya. Herannya, kebanyakan peristiwa ini dialami oleh anak-anak. Entah karena tenggorokan anak kecil masih berlubang sempit atau karena anak kecil biasanya belum mampu mengamalkan prosedur yang aman untuk makan ikan berduri.

Ingat masa kecil ketika mengalami ke-lek-an ri (tertelan duri)? Sedang enak-enaknya muluk (menjumput) nasi putih hangat yang di-ciprat-i kecap manis, tiba-tiba mak sek……, nafas serasa terhenti, dada sesak, gigi meringis menahan rasa sakit, mata agak melotot tertahan (karena malu dilihat orang) tapi titik air mata tak bisa ditahan juga, ketika sebatang duri kecil tertelan dan nyangkut di tenggorokan. Ugh…..! Diminumi banyak-banyak hanya membuat perut kembung saja, karena air minum hanya permisi lewat di tenggorokan.

Orang tua kita biasanya lalu menganjurkan : “Nge-lek sego…, nge-lek sego…!” (menelan nasi). Kita pun disuruh makan nasi tapi tidak dikunyah dulu melainkan langsung ditelan saja. Tujuannya agar gerombolan butir nasi tadi rame-rame mendorong duri yang nyangkut di tenggorokan seperti para demonstran yang mendorong-dorong pintu pagar gedung DPR, sehingga duri akan terdorong masuk ke perut. Perkara di dalam perut kemudian duri nusuk-nusuk lagi ya itu urusan nanti.

Cilakanya, menelan nasi tanpa dikunyah adalah bukan pekerjaan mudah. Perlu energi ekstra untuk mampu melakukannya. Belum lagi kalau setelah rombongan nasi ditelan beberapa kali ternyata pertahanan duri di tenggorokan tak kunjung roboh juga. Akibatnya perut pun lalu merasa sudah kenyang sebelum makan. Ya, makan nasi putih thok itu tadi….

(Weleh…., lha saya ini mau cerita ikan bandeng bebas duri kok malah tentang keloloden ri…, tertelan duri).

***

img_0803_rDi kota Yogyakarta, salah satu pilihan menikmati ikan bandeng tanpa duri ada di Gama Candi Resto yang berlokasi di penghujung selatan Jl. P.Mangkubumi. Tepatnya di depan seberang timur stasiun Tugu, pas di pojokan jalan yang membelok ke kiri yang di pojokan jalannya terdapat tugu jam kota yang salah satu jamnya tanpa jarum (heran juga sama Pemkot Jogja ini, lha wong jam tanpa jarum kok ya nekat dipasang di tengah kota…..).

Menempati sebagian ruangan di sisi sebuah bangunan tua yang sudah direnovasi, restoran Gama Candi menyandang judul menu nasi uduk dan ikan bakar. Lokasinya memang sangat strategis, memandang ke arah selatan dari teras smoking-area resto ini terlihat bangunan hotel Garuda, kepadatan ujung utara Jl. Malioboro dan rangkaian kereta api (kalau pas ada kereta lewat, tentu saja)

Bandeng tanpa duri yang disebut sebagai bandeng tambak kropok adalah salah satu menu unggulannya. Selain bandeng, juga tersedia cumi-cumi, kerang, kepiting, udang, ikan jepang (shisamo), tahu goreng, sayuran, trancam (bukan terancam dengan sisipan huruf ‘e‘), ca baby buncis (yang ini hoenak tenan….), ca taoge ikan asin dan aneka sayuran lainnya serta jus. Ada pilihan nasi biasa dan nasi uduk.   

Bandeng tambak kropok (sampai sekarang saya juga tidak tahu kenapa disebut demikian), daging bandengnya memang benar-benar tak mengandung duri (entah siapa pula yang tekun nduduti…, mencabuti duri-duri kecil ikan bandeng ini hingga begitu bersih). Ikan bandeng ini disajikan di atas piring oval putih sebagai bandeng bakar atau goreng yang sudah dibumbui gurih dipadu dengan guyuran sambal kecap manis bercampur irisan cabe dan bawang merah mentah. Dipotong dengan pisau di atas piringnya, lalu disendok atau atau digarpu atau bisa juga di-usek-usek dengan tangan ke sambal kecapnya, lalu dikunyah bebas saja tanpa khawatir ada duri yang nyisip, sebelum akhirnya ditelan.

Sebaiknya dimakan saat dalam kondisi masih agak panas dan jangan lupa dengan sambal kecapnya. Bumbunya terasa seperti kurang merasuk ke dagingnya, karena itu cocolan ke sambal kecap akan membantu mengantarkan si pemakan pada kesimpulan : “hoenakeee….”.. Meski suka akan bandeng, sebaiknya jangan tinggalkan untuk menikmati menu cumi-cumi, tahu goreng dan ca baby buncisnya.

Suasana tata ruang resto yang dirancang demikian rapi dan enak ditempati, dipadu dengan pelayanan yang bagus dan ramah, lalu akhirnya dibayar dengan harga yang sangat wajar, membuat penikmat masakan ikan-ikanan kiranya cukup merasa puas. Seporsi bandeng tambak kropok harganya Rp 35.000,- cukup untuk 2-3 orang yang tidak sedang kemaruk baru sembuh dari sakit.  

Gama Candi Resto di Yogyakarta yang sudah berdiri setahunan terakhir ini masih seduluran dengan resto yang sama yang lebih dahulu ada di Semarang dan hingga kini masih diminati penggemarnya. Karena itu ada pilihan makan bandeng bebas duri ketika sedang berada di Yogya atau Semarang.   

Yogyakarta, 1 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar

img_0816_r

img_0815_r