Archive for the ‘> Seputar Adelaide’ Category

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

Pengantar :

Serangkaian catatan Seputar Adelaide berikut ini adalah bagian awal sebuah perjalanan panjang melalui jalan darat (traveling) membelah Australia dari kota Adelaide (South Australia) menuju Darwin (Northern Theritory). Perjalanan ini kami lakukan dalam rangka liburan bersama keluarga pada tanggal 16-25 Desember 2003.

(1).  Kacang Bawang Pun Harus Dilaporkan
(2).  Jemputan Yang Tak Kunjung Datang
(3).  Jalan-jalan Sore Di Victoria Square
(4).  Wisata Kota Rundle Mall
(5).  Ke Kebun Anggur Barossa Valley

Iklan

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(1).   Kacang Bawang Pun Harus Dilaporkan

Hari masih pagi ketika pesawat Garuda yang membawa kami sekeluarga dari Denpasar mendarat di bandara Adelaide. Hari itu, Selasa, 16 Desember 2003, sekitar jam 06:45 pagi waktu setempat dan matahari belum menampakkan cahayanya.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi dan mengambil bagasi, lalu tiba di bagian karantina yang akan memeriksa barang bawaan para penumpang. Seorang petugas dari The Australian Quarantine and Inspection Services (AQIS), seorang perempuan muda cantik yang kalau menilik wajahnya saya duga seorang keturunan Cina, menanyai saya : “Apakah semua formulir isian sudah diisi dengan benar?”. Saya mengiyakan. Lalu dia tanya lagi : “Ada yang kurang jelas?”. Saya diam sejenak, lalu saya jawab : “Tidak”.

Eh, masih ditanya lagi : “Are you sure?”, sambil membawa lembar isian yang sudah lengkapi. Saya jadi agak ragu. Lalu saya coba mengingat-ingat saat mengisi formulir Incoming Passanger Card tadi di dalam pesawat. Seingat saya semuanya sudah cukup jelas dan saya yakin juga mengisinya dengan benar. Maka lalu saya yes-kan saja.

Si mbak petugas karantina meminta saya membuka tas yang saya bawa. Tas pertama OK. Tiba tas kedua, dia melihat sebungkus plastik makanan kecil yang berisi kacang bawang. Dia tanya, kenapa saya tidak melaporkan dalam formulir isian bahwa saya membawa makanan kacang-kacangan. Saya agak terkejut, lalu saya jelaskan bahwa itu adalah makanan kecil seperti yang banyak dijual di toko-toko.

Rupanya sang mbak petugas tidak terima. Bagaimanapun juga barang itu adalah produk tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan yang seharusnya dilaporkan. Agar urusannya tidak pajang, serta-merta saya minta maaf atas ketidaktahuan saya. Sekali lagi, sang mbak petugas merasa tidak cukup hanya diselesaikan dengan permintaan maaf saja.

Pokok persoalannya menjadi, saya telah memberikan statement yang tidak benar tentang barang-barang yang saya bawa masuk ke Australia. Spontan terbayang, denda paling tidak A$220 harus saya bayar. Iya kalau hanya itu saja, lha kalau ternyata lebih dari itu…….? Sekali lagi, saya menyampaikan permohonan maaf atas keteledoran ini.

Maka, keputusan pun dijatuhkan. Saya dinyatakan telah melanggar peraturan AQIS, dan Alhamdulillah….., saya hanya diberi peringatan keras karena ini kejadian yang pertama. Lalu selembar kertas berisi peringatan yang ditandatangani oleh si embak petugas diberikan kepada saya, disertai ancaman bahwa kalau hal serupa terulang lagi maka saya harus membayar denda atau berurusan dengan pengadilan. Akhirnya kemudian saya dipersilakan meninggalkan meja pemeriksaan. Dalam hati saya nggerundel, “masak kacang bawang saja harus dilaporkan…”. Australia memang termasuk ketat dalam hal pengontrolan barang-barang yang masuk ke negaranya.

Kacang bawang memang salah satu makanan kletikan kegemaran keluarga kami, terutama menjadi favoritnya ibunya anak-anak. Jadi sewaktu mau berangkat dari Tembagapura dan di rumah masih ada setoples kacang bawang, tanpa banyak pertimbangan lalu dibungkus dan dibawa untuk ngemil di perjalanan. Eh, ternyata malah nambahin urusan. Bukannya tidak boleh dibawa masuk Australia, melainkan harus dilaporkan.

Harus saya akui bahwa saya telah salah menafsirkan (atau lebih tepatnya menyepelekan) pernyataan dalam formulir Incoming Passanger Card yang kira-kira intinya adalah bahwa semua produk tanaman atau buah-buahan harus dilaporkan. Dan, kacang bawang ternyata dianggap termasuk produk turunan atau hasil tanaman yang harus dilaporkan. Lha, saya pikir ini makanan kecil biasa seperti yang banyak dijual di mana-mana, yang terkadang juga disajikan di dalam pesawat. Inginnya biar cepat dan tidak banyak urusan, eee….malah lama jadinya…….

Yusuf Iskandar

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(2).   Jemputan Yang Tak Kunjung Datang

Di lobby kedatangan bandara Adelaide kami duduk-duduk menunggu jemputan, setelah selesai berurusan dengan petugas imigrasi dan karantina di pagi tanggal16 Desember 2003. Sesekali melongok keluar bandara barangkali ada orang yang berdiri membawa tulisan nama saya. Menurut pegawai biro travel di Denpasar tempat saya mengatur rencana perjalanan, akan ada orang yang menjemput di bandara Adelaide. Selanjutnya saya harus menyelesaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan sewa-menyewa kendaraan dengan si penjemput itu.

Hampir setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda adanya orang yang akan menjemput. Saya coba mencari-cari counter Budget, perusahaan yang akan saya sewa mobilnya. Ternyata masih tutup. Sementara di lobby kedatangan tidak juga muncul si penjemput yang dijanjikan.

Saya kemudian ingat, pegawai biro travel di Denpasar pernah menuliskan nomor tilpun yang harus saya hubungi jika ada masalah di Adelaide. Lalu saya cari tilpun umum. Untuk menilpun perlu koin Australia. Cara termudah untuk memperoleh koin di bandara adalah dengan menukarkan uang dollar Amerika dengan uang Australia, disertai permintaan khusus bahwa saya perlu uang koin untuk menilpun.

Saya kembali menuju ke kotak tilpun umum. Sejenak mempelajari aturan mainnya, lalu pencet-pencet tombol tilpun. Usaha pertama gagal, usaha kedua masih tulalit juga. Rupanya saya dibingungkan dengan penggunaan kode area. Usaha ketiga kali berhasil nyambung, tapi terdengar nada sibuk di seberang sana. Saya jadi kurang yakin, jangan-jangan ada yang salah. Saya coba tanya kepada petugas Satpam bandara yang kebetulan sedang lewat, tentang urut-urutan nomor yang harus dipencet sambil saya tunjukkan nomor yang akan saya hubungi. Ternyata yang tadi saya lakukan sudah benar. Hanya belum berhasil nyambung saja.

Usaha keempat barulah berhasil. Setelah berhalo-halo dan basa-basi sebentar, saya perhatikan suara wanita di seberang sana sepertinya tidak berdialek bahasa Inggris-Australi, melainkan Inggris-Indonesia. Maka, langsung saja saya lanjutkan dengan ngomong Indonesia, dan ternyata nyambung. Kebetulan, pikir saya. Jadi lebih enak suasana sebangsa dan setanah airnya. Lalu saya jelaskan duduknya persoalan. Si ibu di seberang sana, yang saya duga adalah dari partnernya perusahaan travel yang di Denpasar, meminta saya menutup tilpun dulu karena dia akan melakukan pengecekan. Saya diminta menilpun lagi beberapa menit kemudian. OK, permintaan saya turuti. Wong saya memang dalam posisi butuh bantuannya.

Sempat juga agak ragu, jangan-jangan dia hanya berkilah, yang kalau kemudian saya tilpun lagi pesawatnya sibuk terus. Ya maklum kalau ada prasangka seperti ini, soalnya sudah trauma dengan banyak pengalaman di dalam negeri yang mengajarkan hal yang demikian. Untungnya kekhawatiran saya tidak benar. Saat saya tilpun ulang, jawabannya sungguh melegakan. Saya diminta menunggu di luar bandara karena seseorang akan menjemput saya.

Lega rasanya, ketika si penjemput yang ramah muncul tidak lama kemudian. Lalu diibawanya kami memutar bandara dan diantarkan ke counter Budget di terminal kedatangan dalam negeri yang berada di seberang agak ke ujung dari terminal internasional, guna menyelesaikan urusan administrasi lebih dahulu. Wow, lha mestinya kan saya tidak perlu repot-repot tilpun dan menunggu cukup lama, seandainya sebelumnya saya diberitahu. Saya bisa langsung cari tumpangan untuk menuju ke terminal yang satunya. 

Urusan administrasi yang mesti diselesaikan antara lain meliputi pembayaran tambahan biaya sewa kendaraan, pendataan paspor dan SIM Internasional, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan perjanjian sewa-menyewa. Setelah urusan beres, lalu kunci kontak diberikan plus sedikit penjelasan rute yang harus saya lalui untuk menuju hotel. Barang bawaan rupanya sudah dipindahkan oleh si penjemput yang ramah tadi.

Meskipun biaya sewa kendaraan sebenarnya sudah saya bayar di Denpasar, tetapi perlu ada biaya tambahan yang harus saya urus sendiri. Ini karena saya mengambil kendaraannya di bandara Adelaide dan akan mengembalikannya di bandara Darwin. Jarak antara kedua kota itu lebih dari 3.500 km. Wajar kalau untuk itu dikenai biaya tambahan.

Sebelum men-start kendaraan, saya pergunakan beberapa menit pertama untuk mempelajari sejenak situasi kendaraan, termasuk tombol lampu depan, lampu belok, pengatur kaca spion, pengatur wiper, pengatur tempat duduk, pembuka bagasi, lokasi tanki BBM, serta indikator-indikator lainnya yang ada di dashboard mobil sedan Mitsubishi putih bergigi otomatis. Paling penting tentunya mempelajari peta dan rute untuk mencapai hotel. Maklum, dalam beberapa hari ke depan saya akan bertugas rangkap, ya sebagai driver, ya sebagai navigator. Bandara kemudian kami tinggalkan, memasuki kota Adelaide menuju ke hotel yang sudah kami pesan. Lokasi bandara sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 6 km di sisi barat kota Adelaide.

Pagi itu, kota Adelaide sudah mulai sibuk. Sebelum mencapai hotel, saya sempat salah mengambil lajur jalan. Semestinya saya berada di lajur paling kiri dari tiga lajur jalan yang ada, agar mudah untuk membelok ke arah kiri. Karena saya terlanjur berada di lajur tengah, maka kalau saya paksakan juga untuk belok ke kiri pasti akan dimaki oleh pengemudi lain. Daripada baru di hari pertama sudah memperoleh pengalaman buruk dimaki orang, lebih baik saya teruskan saja dulu untuk kemudian memutar lagi mengambil lajur yang benar sehingga mudah untuk berbelok masuk ke hotel. Untungnya, saya cukup berpengalaman untuk urusan salah jalan, sehingga tidak terlalu bingung kecuali memerlukan waktu tambahan untuk mempelajari ulang rute jalan yang benar, dan tentunya juga kehilangan waktu untuk menemukannya.

Saya memperoleh pelajaran berharga pada hari pertama di Adelaide. Pertama, perlunya memahami lebih dahulu situasi bandara yang belum dikenal, jika hendak menempuh perjalanan dengan menyewa kendaraan. Urusannya tidak terlalu repot jika perjalanan akan ditempuh dengan taksi atau ikut rombongan wisata. Kedua, mengantongi nomor-nomor tilpun penting yang terkait dengan rencana perjalanan. Ketiga, memiliki koin uang recehan akan sangat bermanfaat, karena terkadang kotak tilpun umum hanya menerima uang koin saja. Keempat, jika bepergian dengan mengemudi kendaraan sendiri, perlu memastikan terlebih dahulu lokasi tempat tujuan berada di sebelah mananya persimpangan jalan apa.

Yusuf Iskandar

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(3).   Jalan-jalan Sore Di Victoria Square

Hari masih terlalu pagi untuk check-in di hotel yang sudah kami pesan, sehingga kamar belum siap karena masih diisi orang lain yang belum check-out. Mau ditinggal jalan-jalan dulu, anak-anak masih merasa malas dan setengah ngantuk setelah menempuh perjalanan tengah malam dari Denpasar menuju Adelaide. Terpaksa mesti menunggu dulu sambil leyeh-leyeh di lobby hotel yang kebetulan sedang sepi.

Sore hari musim panas di Adelaide, tanggal 16 Desember 2003, kami keluar hotel menuju ke pusat kota. Berniat untuk jalan-jalan sore di kota Adelaide dengan tujuan utama ke alun-alun Adelaide, orang-orang menyebutnya sebagai Victoria Square. Tidak sulit untuk mencapai tempat ini dari hotel. Meluncurlah kami ke arah selatan melalui jalan utama King William Road menuju alun-alun Victoria. Ada beberapa tempat yang hendak kami tuju. Apalagi kalau bukan pusat perbelanjaan untuk sight seeing di kala sore hari.

Waktu sudah menunjukkan lewat pukul lima sore. Matahari pun sudah agak condong ke barat. Cuaca mulai agak teduh. Saya pikir, inilah saat yang pas buat JJS (jalan-jalan sore), yang benar-benar jalan kaki dan bukan dengan kendaraan. Setelah mengitari alun-alun Victoria, kami menuju ke Central Market yang terletak di sebelah barat alun-alun. Mencari tempat parkir di kompleks pasar, lalu keluar jalan kaki.

Lho, pasarnya kok sepi? Tempat parkirnya juga tidak ada yang jaga? Saya curiga, jangan-jangan pasarnya sudah bubar.

Benar juga, ternyata pasar memang sudah tutup. Masih tampak kesibukan orang menutup kios-kiosnya, tapi pintu gerbang sudah ditutup rapat. Rupanya hari itu pasar ditutup jam 5:30 sore. Wah, bukankah ini musim panas, matahari baru tenggelam selewat jam 8:00 malam. Cuaca masih terang-benderang, belum nampak remang apalagi gelap, tapi kios-kios di Central Market sudah pada tutup. Semula kami ingin ke Central Market untuk mencari makan. Pasar ini merupakan pusatnya segala macam jenis makanan. Yo wis, akhirnya JJS kami alihkan untuk berkeliling di sisi barat alun-alun Victoria.

Central Market ini adalah sebuah pasar tua di Adelaide. Umurnya sudah lebih dari 130 tahun. Tahun 1869 pasar ini mulai ada sebagai sebuah pasar tradisional yang menjual aneka buah dan sayuran segar, tapi baru awal tahun 1870 dibuka secara resmi. Setelah mengalami pasang surut dan berkali-kali renovasi, baru akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1965 pasar tradisional ini resmi disebut Central Market. Di sana ada beraneka makanan segar, pakaian dan layaknya toko-toko kelontong dengan harga pasar. Letaknya bersebelahan dengan China Town, tempat favoritnya lidah melayu kalau sedang kepingin makan nasi.

Jalan-jalan sore di Victoria Square, di pusat kota Adelaide, yang di sekelilingnya masih berdiri kokoh bangunan-bangunan tua. Keanggunan kota Adelaide masih mengesan dari banyaknya bangunan-bangunan kuno di pusat kota. Bangunan-bangunan kuno yang masih tampak bersih dan terawat, dengan arsitektur yang indah dipandang. Banyak di antara bangunan-bangunan itu masih berfungsi sebagai gereja. Wajarlah kalau kota Adelaide yang jumlah penduduknya hanya sekitar satu juta manusia lebih sedikit ini juga dijuluki sebagai “City of Churches”.

Sebagai ibukota negara bagian South Australia, kehidupan kota Adelaide relatif tenang, tidak terlalu hiruk-pikuk jika dibandingkan dengan kota-kota besar metropolitan lainnya di Australia. Negara bagian South Australia dikenal juga sebagai “festival state”. Di sinilah, di Australia tempat sering diadakannya berbagai acara festival yang menarik wisatawan untuk mengunjunginya.

Pada tahun 1836, seorang berkebangsaan Inggris kelahiran Kuala Kedah, Malaysia, mendarat di Adelaide. Dialah Kolonel William Light, seorang penjelajah yang kemudian mengawali tumbuhnya komunitas kota Adelaide. Sayangnya, Kolonel Light meninggal dunia tiga tahun kemudian karena terserang TBC. Sebuah tugu dibangun untuk mengenang jasa Kolonel Light. Lokasi keberadaan tugu ini kini disebut dengan Light’s Vision yang lokasinya berada di dataran agak tinggi di sisi utara Adelaide. Nama Adelaide sendiri diambil dari nama Ratu Adelaide, permaisuri dari Raja Inggris William IV.

***

Setelah lumayan capek jalan-jalan di Victoria Square dengan bangunan-bangunan tuanya, segera kami beralih menuju ke Rundle Mall yang lokasinya tidak terlalu jauh. Mudah-mudahan di sana masih banyak toko yang buka sehingga lebih puas untuk cuci mata. Sore itu, angin terasa mulai semakin kuat berhembus dan hawa dingin pun semakin menyengat.     

Yusuf Iskandar

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(4). Kawasan Wisata Kota Rundle Mall

Dari alun-alun Victoria kami mengalihkan tujuan ke Rundle Mall. Tidak terlalu jauh jaraknya, hanya sekitar 500 meter di sebelah utara alun-alun Victoria. Rundle Mall adalah kompleks pertokoan yang terletak di sepanjang jalan Rundle, sebuah kompleks pertokoan yang biasa disebut dengan street mall, yang pertama ada di Australia. Ada ratusan toko di sepanjang jalan sepanjang 400 meter, menjadikan tempat ini sebagai salah satu tujuan belanja wisatawan.

Nama Rundle diabadikan dari nama seorang tokoh swasta perusahaan South Australia Company yang hidup antara tahun 1791 – 1864, tahun-tahun awal terbentuknya komunitas kota Adelaide. Rundle Mall resminya didirikan tahun 1976, dari sebelumnya sebuah kompleks pertokoan padat pengunjung di sepanjang jalan Rundle.

Lokasi Rundle Mall ini berdekatan dengan banyak obyek wisata lainnya, diantaranya berbagai museum, galeri seni, tempat-tempat rekreasi, termasuk perguruan tinggi. Sehingga menjadikan kawasan ini menjadi kawasan wisata kota yang cukup menarik. Pemerintah daerah pun kemudian menyediakan berbagai kemudahan, termasuk adanya sarana transportasi keliling yang dapat dinikmati secara gratis.

Ada bis wisata yang disebut City Loop dan Bee Line, yang dapat dinaiki para wisatawan dengan gratis untuk berpindah atau mengunjungi dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Adanya Visitor Information Centre tentunya juga sangat membantu bagi siapa saja yang ingin mengenal seluk-beluk kawasan wisata kota ini. Pokoknya, pengunjung benar-benar dimanjakan, tinggal megukur kesiapan bekal uang saku yang mau dibelanjakan saja.

Tapi, sekali lagi sayang……., seperti halnya di Central Market, di Rundle Mall pun masih sore banyak toko yang sudah pada tutup. Rupanya hari itu jam buka pertokoan di Rundle Mall hanya sampai jam 5:30 sore. Hanya pada hari Jum’at toko-toko biasanya buka sampai malam. Beruntung, sore itu masih ada toko-toko yang buka, sehingga masih tampak kesibukan di sana-sini. Lebih-lebih, warung cepat saji banyak yang masih melayani pembeli. Tidak kecewalah jadinya kami berjalan-jalan sore di Rundle Mall. Masih bisa keluar-masuk toko yang masih buka.

Setelah agak capek dan hari pun menjelang senja, kami berhenti di sebuah warung fast food. Biasa, makanan model cepat saji ini memang paling diminati anak-anak. Ada dua warung fast food yang letaknya berhadapan di Rundle Mall. Lha repotnya….., anak saya yang gede maunya ke KFC, anak yang kecil milih MacD. Terpaksalah mampir di kedua warung itu. Mau saos? Kalau di negeri sendiri, bahkan di Amerika, penjualnya akan dengan suka hati memberi kita se-krawuk saos (segenggam sachet kecil isi saos), di sini mesti dihitung dulu dan dikalkulasikan ke total harga makanannya. Pelit? Tidak juga, tapi memang begitu kebiasaannya. Lalu kami pun menikmatinya sambil duduk-duduk santai di depan kedua warung fast food, di tengah jalan Rundle. Seperti yang juga dilakukan oleh anak-anak penggemar KFC dan MacD lainnya di situ.

Sore musim panas, tapi angin bertiup cukup kuat dengan membawa udara sejuk, mungkin karena Adelaide terletak di kawasan yang tidak jauh dari pantai. Hawa segar menyelimuti, hari pun semakin gelap, lalu kami tinggalkan Rundle Mall untuk kembali ke hotel.

***

Malam pun tiba, di luar turun hujan dan angin bertiup sangat kencang hingga bunyi gemuruhnya sampai terdengar dari lantai empat kamar hotel. Menyibak jendela kamar, tampak pucuk-pucuk pohon berayun-ayun tertiup kencangnya angin malam musim panas. Daun-daun tampak beterbangan. Suara gemuruhnya agak menakutkan karena jarang-jarang mengalami kejadian yang seperti ini di musim panas. Terbersit pertanyaan dalam hati, apakah fenomena alam seperti ini memang sudah biasa.

Cilaka….., persediaan rokok saya ternyata habis. Jam sudah menunjukkan lewat jam 9 malam. Terpaksa keluar dari hotel, mencari toko yang masih buka. Nekat berjalan cepat menerobos hembusan angin kencang dan hujan gerimis, akhirnya saya sampai di sebuah toko buku. Kenekatan yang sesungguhnya bukan semata-mata didorong oleh rasa “ketagihan” akan lintingan tembakau yang dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin (sepenggal kalimat yang dihafal anak saya dan sering diucapkan ketika saya merokok). Melainkan lebih terdorong karena ingin memperoleh pengalaman berbeda di negeri orang, yang belum tentu akan sempat terulang.

Beruntung, ternyata toko itu buka 24 jam dan berada tidak jauh dari hotel. Sambil membeli rokok, sambil membuka-buka koran, sambil sedikit ngobrol dengan penjaga toko yang ternyata orang Irak yang sudah lama tinggal di Adelaide. Rupanya cuaca yang seperti malam itu memang sudah biasa. Ngobrol pun jadi berkepanjangan. Sampai akhirnya saya pamit kembali ke hotel dan berangkat tidur.

Yusuf Iskandar 

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(5). Ke Kebun Anggur Barossa Valley

Hari kedua di Adelaide, Rabu, 17 Desember 2003. Hari itu kami merencanakan untuk menuju ke Barossa Valley, sebuah kawasan lembah yang dikenal sebagai kawasan perkebunan anggur dan pusat industri minuman anggur di Australia Selatan.

Barossa Valley berada sekitar 55 km di arah timur laut Adelaide. Untuk mencapainya, saya menempuh rute utara mengikuti Main North Road yang juga disebut sebagai Jalan A20. Karena kurang jeli membaca rambu-rambu, setiba di kota Gawler saya kehilangan arah dan tidak menemukan persimpangan yang menuju Barossa Valley. Kami kebablasan sehingga mesti memutar agak jauh. Daripada pusing-pusing mencari arah jalan, maka saya putuskan untuk berhenti di stasiun BBM di tengah kota. Setelah melayani sendiri mengisi bensin, maka sambil membayar bensin di dalam tokonya, sambil tanya arah yang benar menuju Barossa Valley kepada seorang ibu yang jualan bensin. Jawabannya klasik, yang kalau saya terjemahkan kira-kira begini : “Sampeyan terus saja, nanti di perempatan lampu merah kedua, belok kanan”.

Akhirnya ketemu juga lampu merah kedua yang ditunjukkan si ibu penjual bensin. Saya lalu belok memasuki jalan Barossa Valley Way, atau dikenal juga sebagai Jalan B19. Memasuki jalan ini, suasana pedesaan Australia atau lebih tepat suasana pegunungan sudah mulai tampak. Tiba di kota kecil Lyndoch yang berpopulasi sekitar 1140 jiwa, kami berhenti sejenak untuk buang air sambil istirahat menghirup udara segar pegunungan. Akhirnya tiba di kota Tanunda yang adalah kota terbesar di kawasan Barossa Valley yang berpopulasi sekitar 3500 jiwa.

Barossa Valley memang sebuah kawasan lembah pegunungan yang menarik untuk dikunjungi. Bentang alamnya kira-kira mirip-mirip kawasan perkebunan teh. Berhawa sejuk, berpemandangan indah dengan morfologi tanahnya yang berbukit-berlembah, dimana kebun anggur membentang di kawasan seluas tidak kurang dari 25 km x 11 km. Tidak mengherankan kalau lebih seperempat produksi anggur Australia dihasilkan dari daerah ini.

Aslinya Barossa Valley dibuka oleh pendatang para petani Lutheran Jerman di tahun 1830-an, yang tidak hanya menanam anggur tapi juga membawa minuman anggur dari negerinya dan teknik pengolahannya. Lalu tahun 1842, seorang mineralogist asal Jerman, Johann Menge, ditugaskan menyelidiki kawasan ini. Namun yang terangkat dalam laporan penyelidikannya justru bukan adanya potensi geologi melainkan kebun anggur, jagung dan anggrek. Meskipun sebuah ladang emas, Barossa Goldfields, pernah ada di kawasan ini hingga penghujung abad 19. Yang kemudian berkembang hingga sekarang adalah kawasan kebun anggur dan industri minuman anggurnya.

Maka kini Barossa Valley dikenal sebagai daerah tujuan wisata pegunungan yang cukup populer di Australia Selatan. Nama Barossa sebenarnya berasal dari sebuah nama di Spanyol, Barrosa (double ‘r’), yang kemudian terpeleset hingga kini menjadi Barossa (double ‘s’). Salah satu warisannya, kini masih banyak nama-nama yang berbau-bau Jerman.

Ada ribuan hektar kebun anggur tersebar di Barossa Valley. Ada lebih lima ratus petani anggur, sebagian diantaranya merupakan generasi keenam dari embah-buyutnya yang juga petani anggur. Sekitar enam puluh ribu ton buah anggur dipasok ke lebih 60 lokasi industri pengolahan minuman anggur yang ada di Barossa Valley. Sebagian ada yang hanya berupa industri rumahan berskala puluhan ton saja, sebagian lainnya adalah pabrik-pabrik yang memproses anggur hingga 10.000 ton.

Mengunjungi kebun anggur dan pabrik pengolahannya memang jadi pengalaman unik tersendiri. Sebagian besar dari pabrik-pabrik itu terbuka untuk dikunjungi para wisatawan. Ada juga yang menyediakan fasilitas piknik dan sarana bermain anak-anak. Sementara orang tuanya bisa nenggak anggur. Bagi pengunjung yang sekedar ingin mencicipi produk minuman wine pun disediakan secara gratis. Mencicipi tidak sama dengan nenggak. Kalau yang terakhir ini tentu saja mesti bayar, plus bonus mabuk.

Bagi penggemar dan penikmat wine, tinggal milih saja kepingin menikmati segarnya anggur putih, seperti riesling, chardonnay, semillon, atau kuatnya anggur merah seperti shiraz, grenache atau cabernet. Ada juga yang masih menyimpan anggur kuning kecoklatan yang sudah disimpan lama yang dibuat puluhan tahun yang lalu. Meskipun saya duluuuu…. pernah juga minum jenis-jenis anggur seperti ini, tapi tetap saja tidak bisa membedakan jenis dan tingkat kenikmatannya, kecuali dua hal yang saya ingat, terasa panas di badan dan kalau kebanyakan minum pulangnya mesti diantar.

***

Hari semakin siang ketika kami meninggalkan kota Tanunda, setelah sebelumnya sempat sejenak jalan-jalan dan mampir di Tourist Information Centre. Kami lalu mengambil jalan menuju jalur wisata yang disebut scenic drive, kami ingin mengunjungi salah satu kawasan kebun anggur sekaligus melihat-lihat lokasi pabriknya. Pertama kami coba masuk ke perkebunan Richmond Grove, lalu keluar lagi dan masuk ke lokasi perkebunan Peter Lehmann Wines. Dari sini pun kami keluar lagi hingga kemudian kami putuskan untuk menyinggahi lokasi yang berikutnya yaitu Langmeil Winery. Selain melihat pabrik pembuatan minuman anggur, tentu saja kami ingin berjalan-jalan berada dekat dengan hamparan tanaman anggur yang sedang berbuah.

Berjalan-jalan ke kebun anggur memang sebuah pengalaman baru bagi kami. Maklum, ini adalah pengalaman yang tidak setiap kali mudah untuk dilakukan. Meskipun cuaca siang itu cukup panas, namun rambatan tanaman anggur yang menghampar hijau dengan gerombolan butir buahnya, cukup untuk memanipulasinya. Ya, hanya cukup memandangi buah anggur saja, mau memetik takut diteriaki yang punya.

Di salah satu sudut kawasan Langmeil Winery, dekat dengan pabriknya, ada sebuah ruangan ber-AC yang di sana ada sebuah bar tempat dimana pengunjung dipersilakan untuk sekedar mencicipi anggur produksinya. Lalu di sekitarnya dipajang dan dipamerkan benda-benda dan foto-foto yang menceritakan sejarah industri anggur di kawasan Barossa Valley. Melihat foto-foto kuno hitam putih ini mengingatkan saya akan foto-foto kuno perkebunan tebu dan pabrik gula di Jawa jaman kumpeni dulu.

Meninggalkan lokasi Langmeil Winery, perjalanan kami lanjutkan melewati lokasi-lokasi winery dan vineyard lainnya. Kali ini tidak dengan berjalan kaki, melainkan dengan kendaraan yang sengaja berjalan perlahan. Terus dan terus menyusuri rute scenic drive kebun anggur. Lalu kami tiba di kota kecil Nuriootpa, masih di kawasan Barossa Valley.

Di Nuriootpa kami berbelok ke selatan menuju kota kecil berikutnya, Angaston yang populasinya sekitar 1800 jiwa. Masih terus melaju ke arah selatan hingga meninggalkan perkebunan anggur Barossa Valley menyusuri jalan-jalan sepi di tengah areal pertanian dan perkebunan. Jalannya sangat mulus dan lalu lintas pun sepi, sehingga kami dapat melaju cukup kencang sampai mencapai kota kecil Eden Valley yang hanya dihuni oleh kurang dari 50 jiwa penduduknya. Setelah melalui kota Springton dan Mt. Pleasant, akhirnya kami tiba di kota Birdwood.

Birdwood adalah salah satu tujuan kami berikutnya hari itu. Anak laki-laki saya sudah mengancam pokoknya harus mengunjungi museum motor yang ada di kota kecil Birdwood ini.

Yusuf Iskandar