Archive for Juli, 2008

Teman Seperjalanan Yang Baik Hati

31 Juli 2008

Akhirnya datang juga…., kesempatan memperoleh tiket burung Garuda dengan harga wajar untuk perjalanan Jayapura – Timika – Denpasar – Jakarta. Padahal sebelumnya hanya bisa naik maskapai murah-meriah karena harga tiket Garuda sudah melambung ke puncak tangga. Sudah terbayang bahwa perjalanan panjang kali ini bakal lebih bisa saya nikmati dibandingkan kalau saya naik burung-burung yang lain.

Malam sebelumnya masih di Jayapura, adalah malam yang panjang dan melelahkan, sementara esok paginya harus menuju bandara Sentani yang berjarak sekitar satu jam dari kota Jayapura. Saya sudah menyusun skenario bahwa selama perjalanan ke Jakarta, pilot Garudanya mau saya tinggal tidur saja. Sisa rasa kantuk semalam sebelumnya mau saya lampiaskan sepanjang perjalanan udara Jayapura – Jakarta.

Rupanya skenario perjalanan saya tidak berlangsung sesuai plot. Itu karena di samping atau sebelah kanan saya duduk dua orang penumpang yang asli orang Papua yang sedang menempuh perjalanan menuju Denpasar. Perjalanan mereka kali ini adalah perjalanan pertamanya dengan pesawat besar keluar dari tanah Papua. Selama ini hanya midar-mider naik pesawat di seputaran kota-kota kecil di Papua saja. Salah seorang tetangga saya, penumpang di sebelah kanan saya itu ternyata adalah teman seperjalanan yang sungguh baik hati.

Dalam perjalanan Jayapura – Timika, segera saya terlelap bahkan sejak sebelum pesawat tinggal landas dengan sempurna. Ketika ada pembagian makanan kecil dan minum oleh mbak pramugari, tetangga saya ini membangunkan saya sambil menyodorkan sekotak makanan yang diestafet dari mbak pramugari, tanpa sepatah kata pun.

Setelah itu saya tidak bisa tidur lagi karena cuaca yang sedang cerah memperlihatkan pemandangan indah pegunungan tengah daratan Papua di bawah sana. Sedangkan penumpang di sebelah kanan saya itu turut melongok mendekat ke jendela yang ada di sebelah kiri saya. Bukan cuma itu, melainkan sambil bercerita tentang kawasan di bawah sana yang dia sangat mengenalnya.

Dalam perjalanan Timika – Denpasar, saya tertidur lagi. Ketika tiba pembagian makan siang, penumpang di sebelah saya njawil (menyolek) tangan saya. Rupanya meja lipat di depan saya sudah dibukakan dan sekotak makan siang juga sudah tersaji. Kenyang makan, saya pun melanjutkan tidur.

Rupanya masih ada pembagian ransum makanan ringan. Sewaktu mbak pramugari berkeliling membagikannya lagi, penumpang di sebelah saya itu kembali membangunkan saya.

Barangkali tetangga di sebelah saya itu beranggapan bahwa tidak baik menolak pemberian suguhan makanan, sehingga saya perlu dibangunkan. Atau, dia sekedar berbuat baik agar saya tidak terlewat diberi suguhan. Tapi, njuk ora sido turu aku…… (saya jadi tidak bisa tidur….)

“Untungnya”, teman seperjalanan saya yang baik hati itu turun di Denpasar. Begitu baiknya sehingga mereka merasa perlu berpamitan kepada saya sebelum turun. Di Bali mereka hendak mengikuti pelatihan tentang radio, katanya. Saya membalas dengan menyampaikan ucapan selamat bertugas dan terima kasih. Ucapan terima kasih saya yang tulus atas kebaikannya, tapi tidak atas semangat pembangunannya (maksudnya, membangunkan orang yang sedang tidur ngleker di pesawat….).

Tidak disuguhi minuman, kehausan. Disuguhi kue thok tanpa minum, keseredan. Tapi terlalu banyak suguhan di dalam pesawat, ternyata juga bisa menjengkelkan……

Akhirnya, perjalanan lanjutan Denpasar – Jakarta dapat berlangsung dengan tenang, aman dan terkendali. Skenario untuk meninggal tidur pilot pun berjalan sesuai plotnya. Ya, karena tidak ada lagi aktifitas pembangunan oleh penumpang di sebelah saya.

Yogyakarta, 31 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Gratis Makanannya, Bayar Minumannya

31 Juli 2008

Coba bayangkan : Anda sedang bertamu. Kemudian tuan rumah berbaik hati menyuguhi Anda dengan kue donat yang dari tampilannya saja sudah membuat rasa tidak sabar menunggu dipersilakan menikmatinya. Akhirnya sebuah donat pun langsung membuat mak sek…., di tenggorokan hingga tembolok.

Lalu Anda menunggu lima menit, lima belas menit, setengah jam, hingga sejam, ternyata setetes air pun tidak disuguhkan kepada Anda. Sementara air liur di tenggorokan dan tembolok sudah terserap habis oleh donat yang barusan lewat dan semakin membuat Anda sesak napas. Mau minta minum takut dikatakan tidak sopan.

Cara terbaik untuk keluar dari situasi serba tidak enak ini adalah segera mohon diri, lalu mampir ke warung terdekat membeli minuman. Apapun makanannya, minumnya ya air…

***

Itulah yang terjadi dalam perjalanan udara dengan burung Singa dari Jakarta menuju Makasar pada suatu tengah malam. Kalau sebelumnya tak setetes air pun mengalir di pesawat, kini tetap juga tidak mengalir tapi diberi bonus ransum kue donat cap Dunkin’ Donuts dalam kantong kertas yang tampilan luarnya cukup menggairahkan. Sepotong donat gemuk yang di atasnya ditaburi gula pasir halus sungguh merangsang untuk segera dilahap.

Untung saya agak ngantuk, jadi ransum donat saya sisipkan dulu di kantong kursi. Sementara penumpang di sebelah saya yang nampaknya seorang dari Ambon langsung menyikatnya hingga habis. Sesaat kemudian, si Abang dari Ambon itu nampak tolah-toleh. Saya menduga pasti kehausan cari minum. Agak lama, barulah muncul mbak pramugari cantik di tengah malam di atas pesawat mendorong gerobak dagangannya menawarkan minuman. Kali ini tentu bukan pembagian gratis, melainkan siapa mau minum harus membelinya. Dan, laku keras………

Sebuah trik bisnis. Ya, trik bisnis….. Dalih, alasan, atau malah mau ngeyel seperti apapun, pokoknya itu pasti trik bisnis (Cuma, gimana ya…. rasanya kok enggak seberapa cerdas, gitu…). Makanannya disediakan gratis, tapi minumannya harus mbayar. Si burung Singa boleh berkilah. Toh, maskapai sudah berbaik hati menyuguhkan makanan gratis kepada penumpangnya. Perkara penumpangnya lalu mau beli minuman apa tidak, ya terserah saja…. Maka, penumpang pun ter-fait-a-compli pada situasi tidak ada pilihan, di atas ketinggian lebih 10 km.

Memang tidak ada yang salah dengan trik bisnis semacam ini. Dalam banyak kasus, banyak bentuk, banyak cara, banyak situasi, trik bisnis seperti ini banyak digunakan oleh para penjual atau pedagang dalam rangka meningkatkan omset penjualan dan keuntungannya. Sah-sah saja.

Gratiskan ikannya, kail dan umpannya mbayar. Gratiskan software-nya, jasa pelatihan dan purna jual-nya mbayar. Jual rugi mobilnya, suku cadang dan perawatannya dijual mahal. All you can eat, karcis masuk untuk bisa eat-nya mahal. Gratis biaya perawatan setahun, gratis ikut seminar, gratis nambah nasi, tapi biaya awalnya dinaikkan. Sepertinya lumrah-lumrah saja.

Ada yang bisa dipelajari dan dihikmahi dari trik bisnis semacam ini, baik oleh penjual maupun pembeli. Agaknya, ajakan teliti sebelum menjual dan membeli, atau jeli sebelum bernegosiasi dan bertransaksi, masih layak dikiblati. Agar tidak merasa dikibuli di belakang hari, melainkan tahu dan paham dengan apa yang sedang terjadi. Dengan demikian, maka kaidah-kaidah jual-beli (oleh kedua belah pihak) tetap tidak menyalahi kaidah bisnis yang saling menguntungkan dan saling ikhlas dalam berserah-terima jasa maupun barang.

Jadi? Sebaiknya Anda waspada kalau sedang dalam perjalanan dengan pesawat tiba-tiba disuguhi makanan gratis. Sabar dulu untuk menikmatinya. Atau malah tanyakan dulu ada pembagian minumannya atau tidak, kecuali Anda siap untuk membeli atau setidak-tidaknya Anda telah siap lahir-batin untuk kehausan atau keseredan (apa bahasa Indonesianya, ya…).

Juga kalau kebetulan Anda sedang bertamu, lalu tidak biasanya suguhan kue keluar lebih dahulu. Segera aktifkan piranti deteksi dini dan lakukan quick assessment. Jika kesimpulannya menunjukkan bahwa tuan rumahnya adalah penganut fanatik aliran burung Singa, segera tanyakan warung terdekat, lalu Anda pamit sebentar untuk beli minuman………..

Yogyakarta, 30 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Tumpuk-undung Di Jayapura

30 Juli 2008
Di sudut kota Jayapura
Di lereng bukit
Di ketinggian
Terbangun sebuah kawasan pemukiman
Dinding, atap, lantai, serpih demi serpih,
akhirnya rumah demi rumah
Bak rumah susun, flat, kondo, atau pagupon
Terbangun dengan sendirinya
Hingga tumpuk-undung
Entah mana depan, mana belakang
Entah dari mana mereka datang
Bahkan, entah dari mana mereka masuk dan keluar, naik dan turun
Mungkin datang dari langit, lalu menclok, lalu terbang lagi ke angkasa
Berangkat pagi, pulang senja
Begitu seterusnya
Bersatu dalam tumpuk-undung-nya kehidupan
 
Yogyakarta, 30 Juli 2008
Yusuf Iskandar
Pemukiman Di Lereng

Pemukiman Di Lereng (1)

Pemukiman di Lereng (2)

Pemukiman di Lereng (2)

Kandang Itu Kini Berubah Jadi Cantik

29 Juli 2008

(Terminal Baru Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua)

Dalam perjalanan dari Jayapura menuju Jakarta hari Rabu, 23 Juli 2008 yang lalu, burung Garuda yang saya tumpangi transit di Timika dan Denpasar. Saat transit di bandara Timika selama 30 menit, pramugari mengumumkan bahwa penumpang diberi pilihan untuk tetap menunggu di pesawat atau boleh juga kalau mau turun ke ruang tunggu.

Mulanya saya agak ragu hendak turun. Sebab segera terlintas di benak saya kondisi ruang tunggu di terminal keberangkatan bandara Timika yang oleh sebagian teman yang pernah transit di sana diolok-olok seperti kandang (terjemahannya, mana ada kandang yang menyenangkan….). Dan memang seperti itulah kesan dalam ingatan saya sejak terakhir saya ada di sana sekitar tiga setengah tahun yang lalu.

Namun seperti kebiasaan saya, selalu berharap siapa tahu ada yang berbeda atau ada pengalaman baru yang barangkali dapat mengungkit ide atau inspirasi. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut turun dari pesawat menuju ke terminal ruang tunggu keberangkatan.   

Sebelum memasuki bangunan terminal, mulailah ada yang saya rasakan agak beda, kok saya disuruh masuk ke ruang kedatangan. Padahal seingat saya terminal keberangkatan termasuk bagi penumpang transit berada di bangunan terpisah sekitar 250 meter dari terminal kedatangan. Dalam keraguan lalu saya tanyakan kepada mbak security alias satpam perempuan bandara : “Untuk yang transit dimana?”. Dijawabnya : “Masuk saja, pak”.

Begitu masuk ruang kedatangan, barulah saya lihat tampilan ruang kedatangan yang kini terlihat bagus, bersih, tertata rapi, dan pokoknya jauh berbeda dengan ruang kedatangan bandara Timika yang saya kenal sebelum ini. Penumpang transit kemudian diarahkan ke pintu keluar lalu masuk lagi ke ruang tunggu keberangkatan di sebelahnya.

Saat di luar depan bandara inilah saya baru tahu bahwa bandara ini sudah direnovasi. Semakin surprise ketika tiba di dalam ruang tunggu. Semua tampak baru, lantai dan dindingnya terlihat bersih, bangku-bangku tertata rapi, tata ruang dan dekorasinya terkesan indah, suasananya sejuk ber-AC, berhiaskan aneka informasi tentang kegiatan tambang PT Freeport Indonesia (mudah ditebak, pasti perusahaan tambang inilah yang mbangun) dengan display yang apik dan menarik.

Lalu saya masuk ke toiletnya, tercium bau harum (dalam arti sebenarnya) dan terlihat bersih bak toilet hotel berbintang. Saya pun dibuat kagum. Bukan kagum kepada bandara barunya, melainkan kagum kepada diri sendiri kenapa baru sekarang saya mengalaminya…. (bukan sepuluh tahun atau sebelum sepuluh tahun yang lalu, misalnya).

Sangking penasarannya, saya pun bertanya bodoh kepada seorang petugas yang ada disana : “Bandaranya baru, ya pak?”. Dengan bangga bapak petugas itu pun menjawab : “Iya pak, baru diresmikan Menteri Perhubungan beberapa hari yang lalu”.

Ooo…, pantesan….. Masih bau SIRSAT….. SIRSAT yang saya maksud bukanlah nama buah melainkan kependekan dari pasir sisa tambang, padanan bahasa Indonesia untuk pasir tailing yang berupa pasir atau material halus yang dihasilkan dari kegiatan penambangan.

Terminal baru bandara Mozes Kilangin, Timika (ibukota kabupaten Mimika), memang baru saja diresmikan pada tanggal 18 Juli 2008 oleh Menteri Perhubungan. Hal yang membanggakan, bahwa rupanya konstruksi bangunan bandara itu terbuat dari hasil pemanfaatan pasir sisa tambang (SIRSAT) yang memang jumlahnya melimpah ruah nyaris tak terhingga.   

Kalau boleh disebut bahwa prestasi pemanfaatan limbah SIRSAT ini sebagai sebuah kesuksesan, maka semestinya pemerintah dan masyarakat kabupaten Mimika pada umumnya akan bisa memanfaatkannya bagi kemudahan kegiatan pembangunan mereka, baik untuk keperluan pemerintah, kemasyarakatan maupun individual. Lha wong jumlahnya enggak bakal habis dipakai hingga tujuh turunan….. Tentu saja mesti ada aturan main yang benar.

***

Bandara Timika pertama kali dibangun tahun 1970 sebagai bandara perintis, terutama untuk menunjang operasi penambangan PT Freeport Indonesia. Lalu pada awal tahun 1990-an bandara ini diperbesar, diperlebar dan diperpanjang, hingga kini memiliki panjang landas pacu 2930 m. Tahun 2002 secara resmi nama bandara Mozes Kilangin mulai digunakan.   

Keberadaan sebuah bandara bagi sebagian besar kota kabupaten di kawasan Papua adalah sebuah pintu gerbang bagi kemudahan transportasi ke dan dari wilayah lain, apalagi lintas pulau dan negara. Ketertinggalan dan keterbatasan sarana transportasi darat antar wilayah di Papua ini agaknya mendesak untuk diatasi secepatnya, kalau tidak ingin begita-begitu saja perkembangan ekonominya. Perlu orang-orang yang berwawasan ke depan untuk membangunkan raksasa yang seprana-seprene dibiarkan tidur tidak bangun-bangun.  

Kini masyarakat kabupaten Mimika dan sekitarnya boleh bangga memiliki terminal baru bandara berkelas internasional dengan segala kelengkapan fasilitasnya yang jauh lebih baik dibanding sebelum tanggal 18 Juli yang lalu. Begitu pun bu Maria Kilangin boleh tersenyum bangga nama almarhum suaminya diabadikan sebagai nama bandara Timika yang kini tampil lebih cantik, nyaman dan “layak”.

(Sebenarnya dalam hati saya kepingin bertanya : kira-kira sampai kapankah kebersihan, kecantikan dan kerapiannya itu akan mampu bertahan? Tapi, enggak jadilah…. Nanti dikira berprasangka buruk dan sinis…..).

Singkat kata, berada di terminal bandara Mozes Kilangin kini…., benar-benar serasa sedang berada di terminal bandara……. (Lho, memang sebelumnya tidak? Ya serasa berada di dalam kandang, itu tadi……).

Yogyakarta, 27 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Bersama Keluarga, Kami Melancong ke Bledug Kuwu

28 Juli 2008
Siap-siap... Siap-siap...

Siap-siap... Siap-siap...

Perjalanan bersama keluarga selalu menjadi bagian penting dan mengesankan dalam episode hidup setiap orang (kecuali keluarga yang berantakan…). Ke Blora adalah tujuan kami sekeluarga kali ini dalam rangka bersilaturrahim dengan pak de, bu de, pak lik, bu lik, eyang, serta segenap sanak-sedulur dari anak-anak saya.

Seperti biasanya sejak empat tahun yang lalu, sebuah kijang LGX 2000 cc warna hitam metalik senantiasa menjadi kebanggaan kami setiap kali melakukan perjalanan keluarga. Juga perjalanan ke Blora kali ini, seekor kijang kelahiran tahun 2002 itu pun tetap setia menemani kami. Sudah terbayang sebelumnya kalau kijang yang saya kemudikan sendiri bakal melintasi penggal jalan yang ngombak-banyu dan mbrenjul-mbrenjul antara Solo – Purwodadi – Blora. 

Dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Blora, melewati kota Solo dan Purwodadi, saya sempatkan untuk mampir sejenak di obyek wisata Bledug Kuwu. Ini adalah obyek wisata yang sebenarnya sangat menarik. Terletak di desa Kuwu, kecamatan Kradenan, kabupaten Grobogan. Di sana terdapat semburan lumpur dingin tidak sebagaimana lumpur Sidoarjo, atau lebih tepat disebut letupan-letupan lumpur yang mengandung garam. Letupan lumpur berwarna abu-abu kehitaman itu terjadi secara periodik. Setiap kali muncrat, mengeluarkan uap air, gas belerang dan air garam, menimbulkan bunyi bledag-bledug….., seperti mercon bumbung (bambu), makanya disebut Bledug Kuwu.

Di pertengahan antara Purwodadi dan Blora yang berjarak sekitar 60 km ada desa Wirosari. Dari Wirosari menuju selatan sekitar 7 km, maka sampailah ke lokasi Bledug Kuwu. Ada penunjuk jalan yang mudah diikuti. Sayang obyek wisata ini belum terlalu populer. Kalau bukan karena sedang dalam perjalanan antara Purwodadi – Blora, rasanya orang malas untuk sengaja datang ke sana. Apalagi kalau tahu kondisi jalan antara Purwodadi – Blora yang tidak pernah nyaman dilalui.

Untuk mencapai lokasi Bledug Kuwu memang kurang menyenangkan. Jalur jalan Purwodadi – Blora, juga Solo – Purwodadi, adalah jalur jalan yang tidak pernah bagus. Sekarang sudah semakin lumayan kondisinya, meski masih tetap mbrenjul-mbrenjul. Kondisi tanahnya memang tidak stabil. Diperbaiki seperti apapun, nampaknya jalan raya beraspal itu kok ya enggak bagus-bagus juga. Berbagai teknik sudah dikerjakan dan terakhir dicoba dibeton seperti lajur busway di Jakarta.

Melaju dengan kijang di sepanjang penggal jalan Purwodadi – Blora kudu ekstra hati-hati. Kendati jalannya tampak beraspal mulus, tapi ngombak-banyu, meliak-liuk bak roller coaster. Sesekali bisa melaju kencang, terkadang perjalanan bisa dinikmati sambil lenggut-lenggut kayak sapi, tapi kali lain mak jegagik…. ada lubang perlu dihindari. Sejauh itu, kijang yang saya kemudikan masih mampu bergerak lincah di tengah jalan buruk yang terkadang kudu jeli memilih-milih dan terkadang terpaksa dijalani begitu saja.

Agaknya pemda kabupaten Grobogan belum tergerak untuk “menjual” Bledug Kuwu secara maksimal. Kesan pertama ketika tiba di lokasi ini adalah kurang terjaga kebersihan dan perawatannya, serta kurang menariknya tata ruang di dalam kompleks kawasan Bledug Kuwu. Masih terkesan dikelola seadanya. Padahal untuk masuk ke lokasi harus mbayar. Sayang sebenarnya kalau mengingat keunikan fenomena alam ini. Meski tidak sensasional seperti semburan lumpur Sidoarjo, namun bledug gelembung lumpur yang mengandung air garam yang muncrat di dataran yang jauh dari laut, rasanya tidak ada duanya di Indonesia, bahkan mungkin dunia. Mestinya ada yang bisa diraih lebih dari yang ada sekarang.

Di Amerika ada dataran luas bernama Salt Lake (padang danau garam) yang berasal dari dangkalan laut kemudian berubah menjadi daratan sangat luas. Sedangkan daratan Bledug Kuwu di Grobogan, menurut ilmu geologi dulu-dulunya berada di dasar laut. Proses pengangkatan dan penumpukan muncratan material yang mengandung garam yang tiada henti jaman demi jaman, akhirnya sekarang menjadi daratan yang berada pada ketinggian lebih 53 m di atas permukaan laut, mencakup kawasan seluas lebih 45 ha dengan suhu sekitar 31 derajat Celcius. Makanya orang menyebutnya sebagai lumpur dingin, meski sebelumnya saya mengasosiasikan dingin ini dengan dinginnya air pegunungan. Tapi rupanya dingin di sini adalah tidak panas.

Adanya kandungan air garam, ada yang oleh masyarakat setempat kemudian dimanfaatkan untuk diolah secara tradisional menjadi garam dapur. Konon kemasyhuran garam Bledug Kuwu pernah tercatat dalam sejarah keraton Surakarta. Ada juga yang mengambilnya untuk digunakan sebagai lulur agar terhindar dari penyakit kulit. Barangkali daripada membeli lulur buatan pabrik beraroma macam-macam, mendingan tubuhnya ditemploki lumpur beraroma belerang. Toh, kalau dilulurkan ke wajah akan sama-sama mampu merubah penggunanya tampil menyerupai hantu…..

Tapi kenapa muncratan lumpur dingin yang mengandung garam ini hanya ada di desa Kuwu? Karena duluuuuu…., menurut sohibul-dongeng, keanehan itu disebabkan adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan laut selatan (pokoknya kalau ada cerita tentang kehidupan bawah tanah di Jawa, ujung-ujungnya pasti laut selatan). Cerita ini ada kaitannya dengan legenda Ajisaka yang memerintah di Medang Kamolan dan legenda seekor naga bernama Jaka Linglung yang mengaku sebagai anak Ajisaka. Saya yakin kalau anak-anak sekarang pasti tidak kenal dengan kisah Ajisaka dan Bajul Putih. Padahal di jaman saya kecil dulu, kisah ini sangat populer.

Kocaping carito….. Terdorong keinginan untuk diakui sebagai anak, Jaka Linglung menyanggupi permintaan Ajisaka untuk membunuh Dewata Cengkar, seorang mantan penguasa yang dholim dan suka makan daging manusia yang ketika lengser keprabon berubah menjadi buaya putih (makanya hati-hati kalau jadi penguasa, matine dadi boyo….. kalau meninggal jadi buaya, sebuah petuah agar jangan jadi penguasa yang zalim, begitu kata orang-orang tua). Jaka Linglung pun segera berangkat. Oleh Ajisaka, Jaka Linglung tidak diperkenankan melalui jalan darat agar tidak mengganggu ketenteraman penduduk. Maklum, Jaka Linglung ini termasuk bonek, daripada nanti ekornya nimpukin rumah penduduk. Sebaliknya, Ajisaka mengharuskan Jaka Linglung agar menempuh perjalanan  ke Laut Selatan melalui subway, lewat dalam tanah.

Beberapa kali Jaka Linglung mencoba muncul ke permukaan, karena mengira telah sampai di tempat yang dituju, ternyata belum. Hingga terakhir nyembul di desa Kuwu. Di Kuwu inilah, konon Jaka Linglung sempat melepas lelah. Dan tempat munculnya Jaka Linglung inilah yang kini dipercaya menjadi asal muasal munculnya Bledhug Kuwu. Tapi kok asin? Ya, karena sebelumnya Joko Linglung nenggak air laut kidul…..

***

Jadi, kalau kebetulan berkesempatan melancong ke Bledug Kuwu, kita akan takjub menyaksikan fenomena alam yang unik dan memberi berkah bagi masyarakat sekitarnya. Sebaiknya  kalau mau berkunjung ke Bledug Kuwu jangan di siang hari bolong. Sebab lokasinya gersang, tandus dan poanas, nyaris tanpa pepohonan, meski ada juga orang-orang yang menjual jasa menyewakan payung.

Banyak “Pace-Mace” Di TOP TV

28 Juli 2008
Berita "Tanah Papua News Sepekan" di TOP TV
“Tanah Papua News Sepekan” di TOP TV

Salah satu saluran televisi yang sering saya tonton selama kunjungan singkat ke Jayapura adalah membuka saluran TOP TV. Ini adalah siaran TV lokal yang jangkauannya baru di wilayah kota Jayapura dan sekitarnya di bawah bendera PT Jayapura Televisi. TOP TV secara resmi mulai mengisi udara Papua sejak tanggal 1 Mei 2007 dan kini mengudara dari jam 11 siang sampai 11 malam pada kanal 26 UHF.

Salah satu acara yang menarik perhatian saya adalah siaran berita bertajuk “Tanah Papua News Sepekan”. Ini adalah acara siaran berita tentang berbagai peristiwa sosial maupun pemerintahan di seputaran Papua. Isi dan format berita dan tayangan berita TOP TV yang mengusung motto “Pancaran Cahaya Kasih” ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan TV-TV lokal di daerah lain.

Hanya yang menarik adalah penggunaan kata sapaan “pace-mace” oleh pembaca berita maupun peliput berita. Kata “pace-mace” yang dimaksudkan sebagai sapaan “bapak-ibu” diucapkan puluhan kali di sepanjang acara sebagai pengganti sapaan “saudara” atau “pemirsa” seperti halnya di siaran TV-TV Jakarta.

Menariknya, kata “pace-mace” diucapkan pada hampir setiap awal kalimat tanpa koma (disambung dengan kalimat berikutnya), seolah-olah si pembaca berita sedang berdialog dengan penontonnya dan bukan sekedar menuturkan sebuah peristiwa. Maka bagi pemirsa televisi yang baru pertama kali menonton saluran TOP TV akan memberi kesan aneh tapi enak didengar. Sapaan akrab “pace-mace” betebaran di sepanjang acara, baik berita maupun liputan atau reportase, selain kata paetua (bapak), su (sudah), dong (mereka), tong (kita), bilang (mengatakan), dsb.

TOP TV telah memulai sebuah langkah untuk mengglobal, mewakili geliat pembangunan (kata benda dari bangun yang maksudnya tidak tidur) masyarakat Jayapura khususnya dan Papua pada umumna. Maju dan jayalah saudaraku di Papua…!

Yogyakarta, 25 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Jalur Misteri Di Gunung Kelud

27 Juli 2008
Penggal jalan yang terlihat seperti naik, tapi sebenarnya turun

Penggal jalan yang terlihat seperti naik, tapi sebenarnya turun

Ada sepenggal jalan, panjangnya tidak sampai 100 m, berada di jalur utama menuju obyek wisata gunung Kelud. Tepatnya di desa Sugihwaras, kecamatan Ngancar, kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penggal jalan ini oleh masyarakat setempat dikenal sebagai jalur misteri. Pasalnya, jalan itu terlihat naik tapi semua kendaraan yang berhenti di atasnya mendadak bisa bergerak sendiri ke arah naiknya jalan.

Sejak gunung Kelud menunjukkan aktifitas vulkanologis tahun lalu, obyek wisata di kaki gunung Kelud ditutup untuk umum. Kini kabarnya sudah mulai dibuka kembali untuk umum. Bersama Kijang LGX 2000, saya dan anak kedua saya sempat berkunjung menyusuri jalan wisata itu ketika obyek wisata gunung Kelud yang waktu itu masih dinyatakan tertutup untuk wisatawan.

Pantesan ketika saya memasuki kawasan itu kok jalannya sepi, pintu gerbangnya tidak ada yang jaga sehingga saya bisa masuk gratis. Tidak ada rambu peringatan yang menyatakan ditutup, sehingga saya pikir siapa saja boleh ke sana. Sebenarnya memang boleh, hanya saja pengunjung tidak bisa mendekat ke danau di kaki gunung karena pagar jalan masuknya digembok.

Ketika memasuki kawasan wisata siang itu tiba-tiba turun hujan, padahal ketika masih di Kediri cuaca panas terik. Jalanan yang sempit dan berkelok-kelok itu tampak sedang diperbaiki di sana-sini. Lebar jalan yang aslinya pas-pasan juga sedang dilebarkan di beberapa lokasi, terutama di tikungan-tikungan tajam. Lalu lintas sepi sekali. Para pedagang dan warung-warungnya juga pada tutup. Tukang ojek banyak yang duduk-duduk saja dan ada pula yang nyambi mencari kayu bakar. Padahal biasanya setiap hari libur para pedagang dan tukang ojek itu panen raya.

Kendaraan kijang warna hitam metalik saya kemudikan perlahan menyusuri dan mendaki jalan yang menuju kaki gunung Kelud yang lokasinya berada sekitar 35 km dari kota Kediri. Karena saya punya tujuan lain untuk melihat jalur misteri di gunung Kelud, maka saya tidak perduli apakah obyek wisatanya buka atau tutup. Setelah bertanya kepada seseorang di Pos Pengamatan Gunung Kelud, akhirnya saya diberi ancar-ancar dimana lokasi penggal jalan misteri itu berada. Kalau lagi musim liburan sebenarnya tidak sulit menemukan lokasi itu, karena di situlah penggal jalan yang biasanya paling ramai dan padat dikunjungi orang, begitu kata tukang ojek. Berhubung hari itu lagi sepi, gerimis dan berkabut, maka saya mesti mencarinya sendiri.

Meski saya sudah menemukan lokasi jalan misteri, perjalanan masih saya teruskan karena ingin tahu dimana ujung dari jalan itu, sambil menikmati pemandangan alam kaki gunung Kelud yang puncak gunungnya memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut. Tetapi ya tetap saja tidak ada yang dapat dipandang, wong cuaca muram berkabut dan gerimis tidak kunjung mereda. Sampai akhirnya saya diteriaki oleh seorang tukang ojek yang lagi nongkrong di warung kopi yang memberitahukan agar sebaiknya tidak di teruskan karena tiga kilometer lagi jalan ditutup dan di sana tidak ada tempat untuk berputar.

Akhirnya saya dan anak saya malah ikut nongkrong di satu-satunya warung kopi yang buka di sana siang itu. Di bawah cuaca agak dingin, berkabut dan gerimis rintik-rintik, saya jadi ikut nimbrung ngobrol-ngobrol dengan seorang ibu pemilik warung dan empat orang tukang ojek yang lagi istirahat menjelang pulang. Segelas kopi panas dan beberapa potong singkong rebus yang saya makan di warung itu sungguh nikmat benar.

Seorang tukang ojek bernama pak Sukiran malah menawarkan diri memandu saya menuju ke lokasi penggal jalur misteri, saat saya pulang menuruni gunung sambil Pak Sukiran juga hendak sekalian pulang. Kebetulan, setidak-tidaknya saya ada teman cerita-cerita.

***

Di kedai kopi, berteduh dari hujan sambil berbincang dengan para tukang ojek

Di warung kopi, berteduh dari hujan sambil berbincang dengan para tukang ojek

Penggal jalan yang dikenal sebagai jalur misteri itu merupakan penggal jalan paling lebar dibanding lainnya. Rupanya pihak pengelola taman wisata gunung Kelud sudah mengantisipasi karena di situlah biasanya para wisatawan bergerombol ingin membuktikan sendiri adanya jalan “naik tapi turun” (atau, jalan turun tapi terlihat naik?). Di atas permukaan aspal jalan juga ada dibuat garis bercat putih sebagai tanda batas dimana “misteri” itu bekerja.

Pak Sukiran sangat antusias memperlihatkan buktinya. Sepeda motornya dihentikan di tengah jalan, lalu mesinnya dimatikan. Perlahan-lahan sepeda motor itu bergerak “naik” dengan sendirinya dan semakin cepat. Saya pun mencobanya. Kijang hitam 2000 cc saya hentikan tepat di tengah jalan (mumpung lagi sepi), mesin saya matikan, persneling posisi netral. Kijang yang saya kemudikan lalu merangkak perlahan dan semakin cepat ke arah “naik”. Belum puas, kijang pun kembali dalam posisi berbalik arah dan ternyata juga bisa berjalan mundur dan “naik” dengan sendirinya. Masih juga belum puas, sebotol air mineral ditidurkan di atas aspal jalan dan ternyata menggelinding “naik”, dan akhirnya malah hilang masuk semak-semak dan tidak jadi diminum. Ah, sial….!

Lho, kok bisa? Penjelasan ilmiah tentang misteri ini pernah disampaikan oleh Prof. Yohanes Surya, dedengkot Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Bahwa kejadian sebenarnya bukanlah misteri jalan “naik tapi turun” yang kesannya menjadi misterius, melainkan adanya ilusi mata. Diduga fenomena ilusi mata ini juga yang terjadi di Korea dan Arab Saudi yang konon juga terjadi misteri yang mirip-mirip. Dengan kata lain, hanyalah fenomena tipuan pandangan mata. Penggal jalan itu sendiri sebenarnya memang menurun, tapi kemiringannya kecil sekali. Ketika dilihat dari posisi jalan yang kemiringannya tinggi, maka penggal jalan menurun itu terlihat seperti naik. Dan seperti itulah yang terjadi. 

Saking penasarannya saya dan anak saya mencoba berdiri dan melihat penggal jalan itu dari berbagai posisi dan sudut pandang yang berbeda-beda (dasar kurang kerjaan…..). Memang dari satu posisi tertentu mata kita melihat bahwa jalan itu sedikit naik, tapi dari posisi lain terlihat juga bahwa jalan itu memang agak menurun. Penjelasan dan pembuktian inilah yang saya anggap sebagai paling masuk akal untuk menjelaskan misteri jalan “naik tapi turun” itu.

Namun pak Sukiran “tidak terima”. Beliau menceriterakan bahwa dulu pernah ada orang yang membuktikan menggunakan selang diisi air dan katanya hasilnya menunjukkan bahwa jalan itu memang naik. Ya, sudah. Keyakinan seperti yang dimiliki oleh pak Sukiran, juga teman-temannya dan masyarakat lainnya, agaknya memang tetap perlu “dipelihara”. Agar misteri tetap ada di sana dan kawasan kaki gunung Kelud tetap menarik untuk dikunjungi selain untuk alasan menikmati pemandangan alamnya yang indah.

Sayangnya, keyakinan itu menjadi kebablasan ketika tahun lalu ada sebuah truk masuk jurang di daerah itu lalu dihubung-hubungkan dengan adanya jalur misteri dan legenda gunung Kelud. Padahal ya memang sopirnya yang sembrono mengemudikan kendaraan besar di jalur sempit, naik-turun dan berkelok-kelok menyusuri lereng gunung Kelud.

Ingin Sembuh Dari Penyakit? Menulislah…

27 Juli 2008

Di dalam pesawat Jakarta – Jogja, saya membunuh waktu dengan membuka-buka koran Media Indonesia, terbitan tanggal 24 Juli 2008. Saya menemukan sebuah artikel yang sangat menarik. Menarik karena topiknya terkait dengan kesukaan saya menulis. Judul tulisan itu adalah “Menulis Bisa Sembuhkan Semua Penyakit” (selengkapnya di Media Indonesia, 24 Juli 2008).

Sangking semangatnya saya mencerna tulisan itu, sampai saya baca beberapa kali. Sebab saya menemukan sesuatu yang luar biasa yang selama ini tidak pernah terpikir meski bisa terasakan, dan ternyata kini ada yang sudah membuktikannya.

Tersebutlah Gatut Susanta yang telah membuktikan bahwa menulis itu sehat dan sehat itu bisa dicapai dengan menulis. Resep yang didapatnya tanpa sengaja itu kini dirasakan kemanjurannya. Komplikasi penyakit yang ada pada dirinya selalu dilawannya dengan menulis, setiap hari.

Itulah yang dialami langsung Gatut Susanta, 43, warga Kota Bogor, Jawa Barat, kelahiran Madiun, Jawa Timur. Lima komplikasi penyakit, yakni hepatitis, gagal ginjal, pengentalan darah dan penyempitan pembuluh otak, serta infeksi kandung kemih, yang dideritanya sejak Februari 2005, bisa sembuh total.

“Obatnya menulis dan terus menulis hingga akhirnya saya bisa menyelesaikan 15 judul buku,” tutur insinyur sipil itu saat ditemui Media Indonesia di ruang VIP RS Karya Bhakti Bogor.

Lalu, apa hubungannya antara giat menulis dan proses penyembuhan suatu penyakit, terutama penyakit yang sangat serius, seperti kanker dan sejenisnya?

“Mungkin dengan menulis, akan membuat orang selalu tenang, menerima dan mensyukuri apa yang diterima dan dialami saat itu, dan tetap berusaha untuk sembuh,” kata Gatut.

Penjelasan Gatut yang terakhir inilah yang bagi saya paling masuk akal. Bagi orang yang suka menulis, seringkali tidak ada bedanya antara pengalaman baik atau buruk, peristiwa menyenangkan atau menyedihkan. Situasi dan kondisi seperti apapun sepertinya membangkitkan energi untuk mengekspresikannya dengan penuh rasa menerima dan bersyukur. Bahkan ketika sedang tidak ada kejadian menarik pun lalu dicoba-coba berbuat keisengan untuk menciptakan sesuatu yang berbeda guna membangkitkan ide dan inspirasi.

Hal-hal yang menjengkelkan bagi orang lain, bagi seorang penulis justru menjadi pengalaman menarik dan menimbulkan inspirasi untuk menangkap hikmahnya untuk dituangkan ke dalam tulisan. Pengalaman buruk bagi seseorang, di pikiran seorang penulis bisa menjadi pengalaman yang berharga. Kejadian tidak biasa, bagi seorang penulis justru menjadi pengalaman langka yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Pendeknya tidak ada hal-hal buruk yang membuat jengkel, sedih, susah, repot, rumit, melainkan kemudian bisa dimanipulasi (bukan dihilangkan) untuk dinikmati agar tidak membuat stress, melainkan dapat dinikmati dan dihikmahi dengan rasa syukur.

Maka yang penting sekarang, sehatkanlah dan sembuhkanlah penyakit Anda dengan giat menulis. Tentang apa saja, tidak peduli apapun gaya penulisan Anda. Mau gaya dada, gaya punggung, gaya kupu-kupu, gaya batu atau tanpa gaya sekalipun. Berani menulis dulu, baik dan benar kemudian. Jadikanlah sehat dan sembuh sebagai salah satu tujuannya, agar Anda tidak punya waktu untuk memikirkan komentar “miring” orang lain, melainkan menjadikan komentar “miring” itu sebagai pengungkit ide dan inspirasi untuk menulis lagi dan lagi dan lagi…..

Tidak percaya? Menulis dan teruslah menulis….., maka nanti Anda baru akan mempercayainya. Selamat menulis.

Yogyakarta, 25 Juli 2008
Yusuf Iskandar

20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

25 Juli 2008
Kijang Innova Terpaksa Ditarik

Kijang Innova Terpaksa Ditarik

Hari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan bersama teman-teman ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Kijang Innova Tertatih-tatih Melewati Kubangan Lumpur

Kijang Innova Tertatih-tatih Melewati Kubangan Lumpur

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova sambil tertatih-tatih berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km dengan berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Terminum Air Keras

25 Juli 2008

Seperti tersambar geledek rasanya ketika di Jogja tiba-tiba saya menerima kabar dari seberang sana yang mengabarkan bahwa salah seorang tenaga lokal yang membantu survey nun jauh di Papua, terminum cairan asam klorida alias air keras. “Wuah…, modar…!”.

Kabar pertama menyebutkan bahwa salah seorang tenaga lokal yang asli Papua itu mengeluh sakit dan pamit pulang meninggalkan camp yang berada di atas bukit di tepian hutan. Belakangan dilaporkan bahwa kemarin tanpa sengaja dia meminum air di dalam botol akua yang ternyata berisi cairan asam klorida (HCl).

Apa benar sampai tertelan? Bagaimana kejadiannya? Bagaimana keadaannya sekarang? Pertanyaan itu silih berganti berkecamuk di pikiran saya, sebelum kabar yang lebih jelas menyusul kemudian.

Asumsi yang saya pikirkan kemudian, di tengah ketidakjelasan kabar awal itu adalah kemungkinan yang terburuk yang bisa terjadi, yaitu bahwa tenaga lokal itu benar-benar telah tertelan cairan asam klorida. Segera saya minta koordinator lapangan untuk turun dari camp, meninggalkan pekerjaannya, menyusul orang itu dan secepatnya membawanya ke rumah sakit. Agak sedikit melegakan ketika saya menerima pemberitahuan bahwa tindakan pertolongan pertama sudah dilakukan, yaitu dengan menyuruhnya minum air putih sebanyak-banyaknya, juga minum susu. Tapi tentu saja tidak cukup sebagai penolong, kecuali daripada tidak melakukan apa-apa.

Herannya, orang itu tidak mau dibawa ke rumah sakit. “Tidak apa-apa”, katanya. Dia memilih untuk beristirahat di rumah saja. Saya jadi berpikir lagi. Kalau terminumnya kemarin, lalu esoknya masih sanggup berjalan turun gunung, berarti kondisinya tidak parah. Jangan-jangan (dan mudah-mudahan) memang belum sempat terminum, melainkan baru sampai di mulut lalu dimuntahkannya. Tidak sampai masuk ke tembolok, apalagi usus duabelas jari.

***

Larutan HCl yang kenampakannya jernih, tidak berwarna dan berbau tajam pada kepekatan tinggi ini memang menjadi salah satu pirantinya seorang geolog ketika mendeskripsi batuan, antara lain untuk mengidentifikasi adanya kandungan batuan karbonat. Ketika ditetesi dengan larutan HCl, batuan karbonat segera akan bereaksi seperti air mendidih, menimbulkan gelembung udara dan gas klorida.

Untuk kepraktisan di lapangan, biasanya larutan asam ini disimpan dalam botol plastik kecil seperti botol cuka yang runcing ujungnya, sehingga menggunakannya tinggal meneteskan dengan cara memencet botolnya. Cairan HCl yang sebenarnya sudah agak diencerkan yang dibawa oleh tim survey ini tersimpan di dalam botol bekas air mineral cap Aqua, rupanya kemudian diambil dan diminum oleh seorang tenaga lokal yang sedang kehausan. Ini pelajaran sangat penting tentang keselamatan kerja (safety) untuk tidak boleh terjadi lagi.

Ketika dua hari kemudian saya menyusul ke Papua, segera saya lakukan safety talk dan investigasi singkat. Kesimpulannya, telah terjadi tindakan tidak aman (unsafe act) yang disengaja. Bukan oleh si penyimpan cairan asam, melainkan oleh teman-temannya si peminum cairan asam.

Apa pasal? Cairan air keras itu disimpan di dalam botol bekas air mineral yang label aslinya sudah dilepas dan sebagai gantinya diberi tulisan cukup jelas tentang isinya, lalu disimpan di dalam tas. Ketika tas sedang ditinggal pemiliknya, rupanya keberadaan botol itu terintip oleh salah seorang tenaga kerja yang sedang kehausan (tidak perlu naik pesawat murah-meriah untuk bisa kehausan…..). Botol itu kemudian diambil dan ditanyakan kepada temannya yang lain apakah air dalam botol itu air minum. Sialnya, temannya malah mengatakan bahwa kalau mau, ya diminum saja….. Dan guebleknya, kok ya diminum beneran. Ketika si peminum teriak-teriak kelocotan mulutnya, teman-temannya malah tertawa. Rasanya hanya ada satu kata yang pas untuk mengekspresikan kejadian itu…… “Oeddan…!”.

Ketika saya tanyakan kepada tim survey, apa orang itu buta huruf sehingga tidak bisa membaca label tulisannya? Jawabnya : “Tidak, wong dia bisa kirim SMS…” (Aha…, ini cara baru untuk mendeteksi apakah seseorang itu buta huruf atau tidak. Lihat saja apa dia nenteng-nenteng ponsel dan berkirim SMS. Tapi jangan terkecoh ketika melihat orang menenteng HP dan ketika HP berdering kemudian diangkatnya, lalu katanya : “Haloo… ini SMS dari siapa….?”).

***

Hari ketiga setelah kejadian saat saya sudah berada di Papua, dan saya tanyakan bagaimana kondisi orang itu sekarang? Dijawab bahwa orangnya tidak apa-apa. Hanya gigi-giginya ngilu semua dan tetap tidak mau diajak ke rumah sakit. Malah orang itu berkilah : “Tidak perlu ke rumah sakit, bapak…. Bisa sembuh kalau minum saguer…..!?!”. Saguer adalah legen kelapa, sejenis minuman keras lokal. Maksudnya, ya nenggak minuman keras.

Yaa…., memang tidak beda jauh antara minuman keras dengan air keras. Sama-sama tentang cairan dan sama-sama tentang keras (Ugh, tobat tenan……!).

Jayapura, 21 Juli 2008
Yusuf Iskandar

NB :
Suatu ketika ada seorang Papua terkapar di pinggir jalan. Rupanya dia mabuk berat sejak semalam. Akhirnya dia tersadar dari mabuknya ketika hari sudah agak siang dan dikerumuni orang-orang yang kebetulan lewat di dekatnya. Kepalang malu dilihat orang, dia pun berteriak serak-serak lantang : “Apa kamu lihat-lihat…….! Kau pikir mabuk itu gampang kah? Saya mabuk sampai terkapar badan kotor-kotor….”. Orang-orang yang berkerumun pun bubar jalan sambil tersenyum.

Lengang Di Perbatasan RI-PNG, Di Skouw Wutung

23 Juli 2008
Perbatasan RI-PNG di Skouw Wutung

Perbatasan RI-PNG di Skouw Wutung

Dua hari terakhir ini perbatasan Skouw Wutung yang memisahkan antara propinsi Papua (RI) dengan Papua Nugini (PNG) terlihat lengang oleh pelintas batas, tidak seperti hari-hari biasanya. Para petugas di Skouw, kecamatan Muara Tami (wilayah Indonesia) pun tidak terlalu jelas duduk permasalahannya. Tetapi bisik-bisik mengatakan bahwa pemerintah PNG melarang pelintas batas warga negaranya yang biasanya suka berbelanja ke pasar di luar negeri, maksudnya di wilayah Indonesia.

Demi melihat pintu gerbang wilayah PNG ditutup, dirantai dan digembok rapat-rapat, maka petugas perbatasan di wilayah RI pun lalu juga menutup pintu gerbangnya. Menurut petugas polisi, tentara dan masyarakat di wilayah Skouw, keadaan seperti itu relatif sering terjadi dan biasanya karena sedang ada masalah di pihak PNG. Akibatnya, seperti dua hari terakhir ini perbatasan Skouw Wutung antara RI – PNG terlihat lengang dan tidak nampak aktifitas masyarakat berlalu-lalang seperti hari biasanya dan pasar di wilayah RI pun tutup karena kurang pelanggan “asing”-nya.

(Foto diambil tanggal 22 Juli 2008, jam 11:00 WIT – Yusuf Iskandar)

Zona bebas selebar sekitar 20 m memisahkan antara gerbang PNG dan RI

Menara Suar Perbatasan RI-PNG milik Direktorat Jendral Perhubungan Laut

Memandang ke arah timur ke gerbang perbatasan RI-PNG

Papan peringatan tentang bahaya AIDS bagi pelintas batas yang memasuki wilayah PNG

Memandang ke arah barat menuju ke wilayah RI

Tiada Dulang Wajan Pun Berguna

18 Juli 2008

Mengais-ngais endapan pasir di sepanjang alur sungai di bukit Ungabo, Sentani Timur, Papua. Berharap ada butir-butir emas yang dapat ditemukan. Para pendulang emas pun berdatangan dari mana-mana. Tidak saja penduduk asli setempat, melainkan juga dari Sulawesi Utara.

Mendulang emas, adalah aktivitas mereka selama berhari-hari meninggalkan rumah dan tinggal di hutan. Kalaupun barang beberapa gram butir emas mereka dapatkan, maka itulah karunia Yang Kuasa yang mereka harapkan.

Peralatan mereka sangatlah sederhana. Yang utama adalah dulang (pan) yang terbuat dari kayu. Tapi kalaupun terpaksa tidak ada dulang dimiliki, maka wajan (yang telinganya patah satu) pun berguna.

(Foto diambil pada tanggal 23 Juni 2008, sekitar jam 14:00 WIT — Yusuf Iskandar)

Dibohongi Anak Saya (Mendaki Gunung Merbabu)

16 Juli 2008

Ke_Merbabu1

Pada penghujung tahun lalu (31 Desember 2007), anak laki-laki saya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP swasta di Jogja ngotot minta ijin ikut mas-mas mahasiswa mendaki gunung Lawu (+3265 meter dpl). Padahal cuaca lagi jelek-jeleknya. Karena bapak dan ibunya tidak bisa menolak tapi juga tidak tega melepasnya, akhirnya bapaknya turun kaki ikut menemani mendaki gunung juga.

Pada bulan Juli ini, dalam rangka mengisi kegiatan liburan kenaikan kelas sekolah SMP-nya, anak saya terlibat merencanakan kegiatan petualangan juga. Menjelang sore di awal minggu lalu (tepatnya 7 Juli 2008), mendadak anak saya minta diantar ke terminal Jombor, Jogja. Padahal rencana semula berangkatnya bersama-sama dari sekolahnya.

Anak saya minta ijin, katanya mau melakukan survey lokasi untuk kegiatan outbond teman-teman sekolahnya. Boleh juga, pikir saya. Anak saya dipercaya untuk melakukan survey pendahuluan. Tentu saja ada sepercik rasa bangga sebagai orang tua. Maka saya pun berangkat mengantarnya ke terminal Jombor. Selanjutnya bersama seorang teman dan gurunya akan naik bis, katanya menuju ke lokasi survey di daerah perbukitan Menoreh, Magelang.

Keesokan sorenya anak saya kirim SMS, entah dari HP siapa, isi pesannya minta dijemput di terminal bis yang sama seperti kemarin. Oke, memahami kondisi fisiknya yang pasti kecapekan, sementara dia juga membawa perlengkapan berkemah, maka saya legakan juga untuk menjemputnya.

Di perjalanan pulang dari terminal, saya tanyakan bagaimana hasil survey-nya? Jawabnya sambil nyengenges : “Saya tidak jadi survey kok, tapi kemarin langsung mendaki gunung Merbabu…”.

Wow…, tobil anak kadal……! Jebul aku diapusi anakku (ternyata saya dibohongi anak saya).

Ini pasti hasil karya akal-akalan. Mau mendaki gunung Merbabu (+3142 mdpl), tapi pamitnya survey lokasi outbond. Ya tidak salah juga. Mendaki gunung juga aktifitas outbond, untuk survey berarti juga melakukannya. Kalau anak saya kemarin berterus-terang pamit mau mendaki gunung, memang ya belum tentu akan diijinkan ibunya.

Dulu waktu turun dari gunung Lawu anak saya memang pernah usul bahwa kalau nanti liburan kepingin naik gunung lagi. Berhubung bapaknya sibuk keluyuran midar-mider kemana-mana, akhirnya ketika liburan tiba belum sempat membicarakan rencana atau angan-angan anak saya enam bulan yang lalu. Barangkali karena itu, agar bapak-ibunya tidak reseh lalu dia mencari cara agar bisa naik gunung. Ya, dengan alasan survey lokasi outbond itu tadi.

(Mestinya anak saya tidak perlu berbohong dan tidak perlu takut mengatakan yang sebenarnya. Sebab bapaknya pasti kepingin ikut juga kalau tahu mau naik gunung…….)

Kini anak saya sudah booking lagi, kalau nanti liburan minta diajak ke gunung Semeru (+3676 mdpl) atau Rinjani (+3726 mdpl)…. Ugh….! Alamat mesti pasang status waspada bakal dibohongi lagi nih….

Yogyakarta, 16 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Tip

15 Juli 2008

Sudah belasan kali saya numpang tidur dan buang hajat (numpang, tapi mbayar….) di sebuah hotel di bilangan Mampang, setiap kali saya singgah di Jakarta. Sudah belasan kali pula saya melebihkan pembayaran setiap kali pesan makanan untuk dikirim ke kamar, meski harga yang saya bayar sebenarnya sudah termasuk ongkos jasa pelayanan dan pajek (pakai huruf keempat ‘e’).

Ujuk-ujuk muncul ide iseng, apa yang bakal terjadi kalau saya tidak melebihkan uang pembayaran alias tidak memberi tip?

Maka ketika kemudian makanan dikirim lengkap dengan bon tagihan sejumlah Rp 52.000,- saya pun membayarnya dengan uang pas persis, selembar lima puluh ribuan dan dua lembar seribuan sambil berucap terima kasih. Reaksi spontan si pengantar makanan adalah tercenung diam sesaat sambil terlihat agak ragu mau melangkah keluar kamar.

Tiba-tiba si pelayan laki-laki itu berubah pikiran. Dia berbalik lalu bertanya : “Bapak ada deposit?”. Dan saya jawab : “Iya”.

Kemudian si pelayan mengajukan usul : “Kalau bapak mau, bisa tinggal ditandatangani saja bonnya”. Saya pun menjawab : “Kalau begitu lebih baik”.

Lalu bon tagihan saya tandatangani dan uang Rp 52.000,- pun saya tarik kembali dan masuk ke saku, tanpa sisa serebu-serebu acan….

Kelakuan saya ini rupanya diluar dugaan si pelayan. Dia pun bertanya : “Sudah, pak?”. Saya jawab : “Ya. Sudah. Terima kasih”.

Spontan reaksi si pelayan setelah menerima bon tagihan yang saya tandatangani adalah terlihat nesu (marah), membuang muka lalu ngeloyor pergi keluar kamar. Tanpa ucapan terima kasih, tanpa muka bersahabat, bahkan pintu kamar pun dibiarkannya terbuka dan ditinggal pergi. Inilah untuk kali yang pertama saya menerima pelayanan tidak bersahabat sejak belasan kali saya menginap di hotel itu.

Sambil tersenyum sendiri, lalu saya tutup pintu kamar dan berkata dalam hati : “Kena, deh….!”.

***

Saya yakin bahwa sebenarnya memang bukan karena ada tip atau tidak ada tip sehingga si pelayan berperilaku seperti itu. Nampaknya lebih disebabkan oleh karakter atau sikap pribadi si pelayan yang sudah telanjur “dididik oleh kebiasaan” sehingga beranggapan bahwa transaksi memberi dan menerima tip adalah ritual di hotel yang hukumnya wajib.

Seminggu kemudian saya numpang tidur dan buang hajat lagi di hotel yang sama. Kali ini pelayan yang berbeda ternyata menunjukkan penampilan lebih ramah. Setelah menyodorkan tagihan makan lalu mundur menunggu di luar pintu dengan tersenyum, padahal belum tentu saya akan memberi kelebihan pembayaran atau tidak.

Memberi tip memang perbuatan amal soleh yang baik (amal soleh ya pasti baik….), apalagi kalau diniatkan untuk berbagi rejeki atau sedekah, atau sekedar sebagai ucapan terima kasih.

Untung pengalaman di-mbesunguti (dicemberuti) pelayan ini adalah sesuatu yang saya sengaja. Kalau saja terjadinya adalah kebetulan dan tidak direncana, barangkali selanjutnya saya akan mencari tumpangan tidur dan buang hajat yang lain.

Jakarta, 15 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Apa Yang Sedang Dilakukannya?

12 Juli 2008

Adisutjipto1

Sebuah kendaraan kecil yang rupanya mesin pengepel atau pembersih itu sedang berputar-putar tak tentu arah, ngalor-ngidul, mojok, memutar, tanpa berhenti, di pelataran bandara Adisutjpto Yogyakarta. Piranti pembersih yang menempel di bagian bawah depan kendaraan pun dalam posisi terangkat atau tidak sedang mengepel. Adegan itu saya saksikan selama lebih satu jam, sambil minum kopi menunggu pesawat yang terlambat.
 

Adisutjipto2

Sementara di sisi barat pelataran sedang sibuk dengan pesawat yang datang dan pergi, di sisi timur mesin pengepel itu midar-mider tak jelas tujuannya.

Apa yang sedang dilakukan sopirnya? Entahlah….
(Foto diambil pada tanggal 10 Juli 2008, sekitar jam 08:00 pagi).

 

Yogyakarta, 12 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Berani Terbang Murah Harus Berani Kehausan

11 Juli 2008

Bepergian dengan pesawat pada seputar waktu peak season, seperti misalnya musim libur akhir tahun ajaran sekolah, mencari tiket pesawat minta ampun susahnya. Apalagi kalau tidak memesan jauh hari sebelumnya. Kalaupun akhirnya dapat juga, biasanya harus rela membayar harga tiket jauh lebih mahal dari biasanya. Belum lagi kalau inginnya naik burung garuda (maskapai Garuda Indonesia), dijamin bakal berebut seat yang tersisa dengan harga bisa lebih dua kali lipat harga tiket maskapai lain. Artinya, apapun pesawatnya, mbayarnya tetap lebih mahal dari biasanya.

Untuk alasan mencari harga termurah di antara yang mahal, maka pilihan terbang dengan burung garuda terpaksa dikesampingkan. Maka alternatifnya adalah harus berani menunggang pesawat dari maskapai bertarif murah. Tapi terkadang naik pesawat bertarif murah juga bukan pilihan, melainkan karena memang tinggal itu adanya. Ya, karena sedang peak season itu tadi.

Berniat terbang ke Jayapura dari Jogja. Rupanya karcis burung garuda sudah ludes. Lalu pilihan jatuh ke burung singa (Lion Air) yang ternyata harga tiketnya lebih murah. Rutenya Jogja – Jakarta – Makasar – Jayapura. Waktu tempuh di udara total 6,5 jam belum termasuk waktu transit. Waktu tempuhnya sih, oke saja. Hanya saja burung singa ini pelit ransum air, atau memang menerapkan prinsip hemat air. Sepanjang enam setengah jam yang terdiri dari satu jam tambah dua jam tambah tiga setengah jam, tak setetes air minum pun digelontorkan, apalagi mengalir sampai jauh……

Empat hari kemudian kembali dari Jayapura ke Jogja. Tidak ada pilihan lain selain kembali naik burung singa yang ternyata harga tiketnya sudah lebih dua kali harga ketika berangkatnya. Apa boleh buat. Tetap juga berlaku prinsip hemat air, tidak ada pembagian ransum sekalipun segelas air putih. Kalau kepingin minum dan lupa membawa bekal ya salahnya sendiri. Berani naik pesawat bertarif murah berarti harus siap kehausan di udara.

Dua hari kemudian harus menuju Kuala Lumpur. Kali ini sengaja memilih maskapai bertarif murah yang bebas tempat duduk (maksudnya, bebas memilih alias dulu-duluan masuk pesawat). Meskipun namanya Air Asia, tapi sumprit… selama dua setengah jam duduk di dalam pesawat tidak ada pembagian air. Kalau kepingin minum ya harus membeli ke gerobak dorongnya mbak pramugari. Empat hari kemudian kembali ke Jakarta naik burung asia yang sama, yang sudah pasti juga tanpa dropping air di udara.

Terkadang bukan soal harga airnya. Tapi, masak iya pelit amat sih……. Di warung saya harga segelas akua paling mahal gopek (lima ratus rupiah). Seingat saya maskapai bertarif murah di Amerika pun masih sempat membagikan segelas kecil air mineral. Membereskan sampah plastik kosongnya juga mudah. Sementara maskapai burung besi lainnya berlambang benang ruwet (Sriwijaya Air) dan perut semar (Batavia Air) masih berbaik membagi ransum.

Sebagai alternatif barangkali di dalam pesawat bisa disediakan kendi (tempat air dari tanah) seperti orang-orang desa yang suka menyediakan kendi di depan rumah saat musim panen tiba. Sehingga siapa saja yang sedang lewat dan kehausan bebas menggelonggong (minum dengan cara tidak menempelkan cucuk kendi ke mulut), sepuasnya………..

Ketika iseng-iseng saya kirim SMS kepada bagian customer care tentang usulan membagi ransum air putih, dijawab : “pesan anda akan segera kami tindak lanjuti”. Saya merasa perlu bersiap mafhum bahwa “ditindaklanjuti” tidak sama artinya dengan “dipenuhi”. Jadi, nampaknya saya harus tetap berpegang pada pesan bijak : berani terbang murah harus berani kehausan.

Yogyakarta, 11 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Petronas Twin Towers, Si Kembar Yang Gagah, Megah, Indah

8 Juli 2008
Twin_Tower_1

Atas undangan klien saya di Malaysia, selama tanggal 27 Juni s/d 1 Juli 2008 saya berkesempatan mengunjungi Kuala Lumpur dan sekitarnya. Tidak saya sia-siakan tentu saja untuk melihat dari dekat menara kembar Petronas Twin Towers. Dengan diantar seorang teman, hari Sabtu siang tanggal 28 Juni 2008 saya menuju ke kawasan menara kembar yang tampak terlihat gagah, megah dan indah, yang menjadi ikon dan kebanggaan negeri jiran.

Maksud hati hendak menjelajah ke atas menara, namun apa daya saya tiba di kompleks Twin Towers saat hari sudah beranjak siang menjelang sore, sehingga saya hanya disambut dengan pemberitahuan bahwa tiket untuk boleh naik ke menara pada hari itu sudah ludes.

Seorang petugas menyarankan agar besok pagi jam 08:30 mengambil tiket dulu. First come first serve dan tidak bisa mengambil sehari sebelumnya. Kata petugas itu pula, setelah mengambil tiket kemudian mulai jam 09:30 secara bergiliran setiap 40 orang akan dipersilakan naik ke menara, dan seterusnya hingga jam 19:00 malam. Mengingat keterbatasan waktu saya sementara masih ada agenda lain (ya agenda jalan-jalan juga…..), terpaksa saya simpan saja keinginan untuk bisa naik ke menara menikmati pemandangan kota Kuala Lumpur dari ketinggian.

Menara kembar setinggi 452 meter yang terdiri dari 88 tingkat dan di tengahnya terdapat jembatan angkasa (skybridge) yang menghubungkan kedua menara pada ketinggian 170 m, akhirnya hanya bisa saya nikmati dari seputaran kawasan bawahnya saja. Menara ini secara resmi mulai dibuka pada tanggal 31 Agustus 1999 dan peresmiannya dilakukan oleh Dr. Mahathir Mohammad.

Menara kembar yang berdiri di atas area seluas 39,5 hektar, di lantai bawahnya dilengkapi kompleks pertokoan, di seputar depan dan belakangnya membentang halaman luas, keberadaannya dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang juga tinggi, kiranya memang menjadi sebuah tempat yang sebaiknya jangan dilewatkan ketika bekunjung ke Kuala Lumpur.

Si kembar yang sungguh tampak gagah, megah dan indah. Pantaslah kalau saudara serumpun Malaysia begitu bangga akan keberadaan menara ini. Masyarakat Malaysia pada khususnya dan pengunjung pada umumnya cukup dimanjakan dengan tanpa perlu membayar biaya sepeserpun untuk bisa naik ke menara ini, alias free of charge. Cukup kalau mau bersabar mengantri. Padahal menara-menara tinggi di negara manapun setahu saya selalu menarik bayaran kalau ada yang mau naik.

Dan, masyarakat Malaysia pun dengan bangga berseru : Satu warisan. Satu matlamat ….. One Legacy. One Destiny …..

Yogyakarta, 8 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Twin_Tower_2