Posts Tagged ‘rinjani’

Belum Pernah Mendaki Tapi Kepingin Ke Rinjani

14 Juli 2010

Tiba-tiba dihubungi seseorang dari negara manca yang minta info tentang pendakian ke gunung Rinjani. Dengan jujur kawan baru ini memberitahu bahwa dia dan temannya sama sekali belum pernah punya pengalaman mendaki gunung.

Nasehat yang bisa kuberikan: “Pertama, Waduh….! (ini juga bagian dari nasehat). Kedua, Anda harus benar-benar punya persiapan fisik dan mental ekstra, karena lintasannya akan membuat Anda frustrasi. Ketiga, gunakan jasa guide/porter“.

Yogyakarta, 11 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Rinjani Tak Pernah Ingkar Janji

28 Januari 2010

Membaca perjalananku ke Rinjani, seorang pembaca blogku mengirim email, katanya dia merasa cemburu lebih dari melihat pacar dan selingkuhannya.

Maka jawabku :

Rinjani tak pernah ingkar janji.
Walau BMKG meramal ‘kan hujan badai,
Rinjani tetap setia menanti ‘tuk didaki…

Jakarta, 26 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Mendung Semburat Merah

22 Januari 2010

Tak selamanya mendung itu kelabu, nyatanya hari ini kulihat begitu ceria (kata Chrisye dalam “Kidung”). Buktinya ada juga mendung yang semburat merah di atas danau Segara Anak, di kaki Rinjani.

(Foto diambil pada senja tanggal 1 Januari 2010)

Yogyakarta, 20 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Musim Angin Kencang

18 Januari 2010

Angin kencang melanda Jogja malam ini. BMKG juga sudah kirim ‘warning’ badai akan terjadi di wilayah Indonesia bagian tenggara. Jadi ingat beberapa pendaki yang pernah menghubungi saya akan menuju puncak Rinjani pada pertengahan Januari. Semoga mereka aware akan hal ini, dan Tuhan bersama mereka…

Yogyakarta, 17 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Foto Pendakian Ke Rinjani (1 Jan 2010)

9 Januari 2010

Dokumentasi foto-foto Pendakian Ke Puncak Rinjani (30 Desember 2009 – 2 Januari 2010) sudah saya upload di Facebook. Bagi mereka yang tidak memiliki akun di Facebook dapat melihatnya di Flickr. Silakan klik di sini.

Sahabat Kecilku Ngajak Ke Gunung Slamet

8 Januari 2010

Senin pulang dari gunung Rinjani, Selasa naik (lagi) gunung Sumbing, Kamis pulang. Njuk ngajak ke gunung Slamet pada liburan berikutnya. Uuahhh…! Ada yang mau ikut?

(Gunung Slamet terletak di wilayah sebelah utara kota Purwokerto, Jawa Tengah, berketinggian sekitar 3418 mdpl. Kondisi medan cukup berat, perlu kesiapan fisik lebih baik…)

Yogyakarta, 7 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Nyambung Mendaki Ke Gunung Sumbing

7 Januari 2010

Belum 24 jam sejak tiba dari Rinjani kemarin, pagi ini sahabat kecilku sudah minta diantar ke terminal bis, katanya mau mendaki Gunung Sumbing. Piyeeee iki…

(Gunung Sumbing berlokasi di selatan kota Wonosobo, Jawa Tengah, berketinggian sekitar 3371 mdpl).

Yogyakarta, 5 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Menggapai Matahari Baru 2010 Di Puncak Rinjani

7 Januari 2010

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan Sekalian Alam, bahwa akhirnya saya dan sahabat kecilku (Noval, 15 th) berhasil mencapai puncak gunung Rinjani (3726 mdpl) di Lombok, NTB, menggapai matahari baru pada pagi hari tanggal 1 Januari 2010.

Rencana awal kami memang akan melakukan duet pendakian ke puncak Rinjani, namun akhirnya pada hari terakhir sebelum berangkat menuju titik awal pendakian di Sembalun, Lombok Timur, bertambah dengan bergabungnya tiga pendaki dari Jakarta, yaitu : Insan (28 th), Angga Triangga (26 th) dan Ari Permana (19 th), yang masing-masing tiba di Mataram dalam waktu terpisah. Maka jadilah kami sebuah tim 5 pendaki yang masing-masing baru saling ketemu dan kenal.

Pendakian menuju puncak Rinjani sungguh merupakan perjalanan panjang yang sangat melelahkan dan menguras energi, bahkan sahabat kecilku sempat merasa putus asa ketika harus melalui penggal terakhir menuju puncak. Menempuh lintasan panjang dari Plawangan Sembalun mulai jam 3 pagi, menuju puncak adalah tahap paling berat. Melalui gigir gunung yang berlereng curam, di atas tanah kerikil dan batu vulkanik yang selalu merosot ketika diinjak membuat langkah semakin terasa berat. Angin gunung yang menerpa sangat kuat berlawanan arah juga menghambat gerak maju langkah kami. Udara yang sangat dingin dan oksigen yang menipis semakin menghambat pergerakan kami, sehingga untuk berbicara pun terasa berat. Bekal air yang kami bawa pun nyaris habis sebelum mencapai puncak.

Akhirnya, sekitar jam 6 pagi Noval lebih dahulu mencapai puncak lalu tidak lama kemudian disusul Angga. Saya baru berhasil mencapai puncak sekitar jam 7 pagi, lalu disusul Insan dan Ari. Cuaca pagi itu benar-benar sedang kurang bersahabat. Mestinya kami sudah menyadari hal itu, bahwa pendakian di bulan-bulan sekitar Desember dan Januari memang beresiko terhadap datangnya cuaca buruk yang tak terduga. Matahari baru 2010 tidak secara jelas dapat kami saksikan, sebab kabut dan awan datang dan pergi menyelimuti kawasan puncak Rinjani. Kami tidak mampu bertahan terlalu lama berada di puncak akibat hawa dingin yang begitu menusuk tulang dan terpaan angin yang sangat kuat. Bahkan Noval harus bersembunyi di balik batu demi menunggu saya yang tertinggal dan menyusulnya ke puncak.

Target awal untuk mengumandangkan adzan Subuh di puncak tidak berhasil kami penuhi, melainkan sholat subuh harus kami tunaikan sebelum mencapai puncak mengingat semakin habisnya waktu menjelang matahari terbit. Ini adalah pengulangan seperti yang pernah kami alami 18 tahun yll. ketika itu saya berduet dengan sahabat saya Riyadi Bakri juga terlambat mencapai puncak Rinjani pada tahun 1991.

“Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) adalah kata pertama yang saya ucapkan ketika akhirnya saya berhasil mencapai puncak bersama Noval yang kembali saya bawa naik setelah bersembunyi menunggu saya. Saya bersyukur telah berhasil mengantarkan Noval, anakku dan sahabat pendaki kecilku, ke puncak Rinjani sesuai dengan janji saya sebelumnya kepadanya.

Subhanallah (maha suci Allah), hanya semangat dan kemauan keras saja yang dapat membawaku ke sana. Semangat dan kemauan keras yang sama yang ingin saya tanamkan kepada Noval bahwa seberapa tinggi pun cita-cita yang dia miliki, tidak ada alasan untuk gagal sepanjang terus tertanam semangat dan kemauan keras untuk mencapainya. Berhenti, menyusun strategi, mengevaluasi, menghimpun kekuatan, adalah bagian dari tahapan untuk mencapai tujuan. Tapi tidak menyerah di tengah jalan. Noval bercerita bahwa sebelum mencapai puncak dia sempat merasa putus asa, “kok enggak sampai-sampai dan rasanya semakin berat, padahal puncak sudah kelihatan…”, Namun kemudian dia bisa melawan rasa putus asanya dengan semangat pantang menyerahnya.

Akhirnya, kepada segenap teman dan sahabat yang senantiasa mendukung, memberi semangat, bahkan memonitor situasi Rinjani, serta turut mendoakan perjalanan pedakian kami ke puncak Rinjani, yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu, baik disampaikan melalui media Facebook, SMS, email, blog, dsb, dengan segala kerendahan hati kami menghaturkan beribu terima kasih atas segenap ketulusan dan kebaikannya yang tak ternilai bagi pendorong semangat kami.

Sepanjang perjalanan kami terus berusaha meng-update status kami di Facebook, namun ternyata tidak semua lokasi dapat dijangkau sinyal tilpun seluler. Demikian halnya kami mohon maaf tidak dapat secara langsung menampilkan foto mengingat kami harus menghemat penggunaan battery Blackberry yang kami gunakan  (bahkan kami sudah menyiapkan sebuah battery cadangan) untuk meng-update status di Facebook. Insya Allah, dokumentasi foto-foto akan kami upload di Facebook secara bertahap, demikian pula akan kami usahakan menuliskan catatan perjalanan pendakian ini.

Terima kasih secara khusus saya sampakan kepada mas Insan, mas Angga dan mas Ari, yang telah membuktikan berhasil menjadi teman seperjalanan yang luar biasa dalam pendakian ke puncak Rinjani menyongsong matahari baru tahun 2010, meski sebenarnya kami baru saling bertemu dan mengenal sesaat sebelum memulai pendakian.

Semoga Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati kita semua, dan bahwa keagungan dan kebesaran-Nya tak kan pernah dapat kita ingkari.

Yogyakarta, 4 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Perjalanan Kembali Ke Jogja

7 Januari 2010

Dari Mataram ke Jogja naik singo, transit di Jakarta 3 jam, njelehi tenan

(Singo : Lion Air)

Setelah sukses berkolaborasi mencapai puncak Rinjani tgl 1-Jan-2010, akhirnya ke-5 pendaki yang baru bertemu tanggal 29 Desember 2009 di Mataram, hari ini masing-masing (Insan, Angga, Ari, Noval dan saya) kembali ke kampungnya dengan jadwalnya masing-masing. “Terima kasih sahabat-sahabat baruku, kalian telah membuktikan sebagai teman sependakian yang luar biasa..”

Alhamdulilllah, jam 12:45 masuk rumah. Bongkar-bongkar backpacks, pisahkan antara pakaian yang kotor dengan yang…….kotor biyangeth! Ibunya sahabat pendaki kecilku siap menerima laundry borongan wal-gratisan plus disediakan konsumsinya… Thanks for ibunya Noval, ketulusanmu tak kan pernah terlupakan oleh Noval (tapi malah oleh Bapaknya…hiks)

Mataram – Yogyakarta, 4 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Catatan Harian Pendakian Ke Puncak Rinjani (30 Des 2009 – 3 Jan 2010)

6 Januari 2010

Pengantar :

Catatan-catatan pendek ini secara real time (sepanjang ada sinyal) saya infokan melalui status saya di Facebook, meski tidak bisa selengkapnya dengan foto-foto mengingat saya harus menghemat penggunaan battery ponsel.

Hari-1 (30 Desember 2009) :

Mengawali pagi di Sembalun, saat mentari masih enggan bersinar

Damai di langit, damai di bumi Sembalun, subhanallah…

(1)   Bismillah… Kepala Adat Sembalun (Haji Purnipa) memimpin doa memulai pendakian. Maju sehari dari rencana awal.

(2)   Di ujung Desember ku datang padamu
kubimbing kau ke lereng Rinjani
burung-burung kan bernyanyi, alam kan berseri
oh indahnya Rinjani

(Adaptasi dari bait pertama lagunya para pendaki : “Mahameru”)

(3)   Membayangkan sejoli kejar-kejaran di padang ilalang seperti di film-film. Kalau sekarang saya lari-lari di padang ilalang itu karena ada asu (anjing) liar…

(4)   Jam 12:30 WITA tiba di Pos 1, di atas bukit padang ilalang, berkabut, trek pendakian menuju Pos 2 tampak jauh samar-samar di arah baratdaya.

(5)   Menuju Pos 2 (Tengengean) hanya perlu 30 menit, tapi gerimis, kabut tebal. Menuju Pos 3 masih kabut, gerimis, padang rumput & ilalang. Cenderung membosankan.

(6)   Tiba di Pos3 kemarin sudah jam 15:30 dan kehujanan. Rupanya sinyal HP tidak mau ikut naik gunung. Terpaksa kabar tertunda..

7) Pos2 – Pos3 sekitar 1,5 jam, masih padang ilalang, hujan deras, raincoat rupanya tak terbawa. Uh, judulnya : ‘Basah, basah, basah..’

(8) Tiba Pos3 langsung ganti baju dengan yang kering. Untung bawa handuk kecil tukang becak, maka kepala mesti kering dulu, pundak, lutut, kaki, menyusul..

(9) Sudah jam 15:30, basah, dingin, belum makan siang, eh..bekal dibawa teman yang masih tertinggal di belakang, judulnya jadi : ‘Sabar menanti..’

(10) Pos3 dekat aliran air. Sambil menunggu ransum tiba, sholat dhuhur wal-ashar diringkas-gabungkan, berjamaah dengan sahabat kecilku.

(11) Malam pertama di Pos3, cuaca lebih bersahabat, meski tetap dingin, bulan purnama di atas punggungan. Wow, elok nian…

(12) Secangkir STMJ, lalu kata sahabat kecilku: ‘Tiba saatnya PW (posisi woenaak)’, untuk tidur dengan sleeping bag dalam tenda maksudnya…

Hari-2 (31 Desember 2009):

(13) Bangun pagi subuhan enggak bisa wudlu karena sungai mengering, maka kuajak sahabat kecilku utk ber-tayyamum seperti kerupuk.

(14) Syair lagu yang kemarin sepertinya perlu diganti, sebab ternyata tidak ada nyanyian burung di pagi hari. Nampaknya burung-burung pun mlungker kedinginan.

(15) Dari Pos3 ke Plawangan adalah trek terberat hari ini. Baru jalan kurang 1 km perlu 45 menit, nanjak wal-ngos-ngosan..

(16) Tiba Plawangan jam 12:45, menempuh 3 jam lebih sedikit, trek terberat yang bikin frustrasi seperti enggak sampai-sampai, nanjak, gerimis, kabut, air tinggal sedikit..

(17) Di Plawangan (2600 m) nge-camp, simpan tenaga, untuk ‘summit attack’ puncak Rinjani (3726 m) insya Allah dini hari 01-Jan-10

(18) Lintasan terberat itu dikenal sebagai Tanjakan ‘Penyesalan’, mau balik Jogja kok jauh, mau ke puncak tidak jauh lagi tapi buuerat lintasannya

(19) Di Plawangan tidak boleh menyimpan makanan sembarangan, ada gerombolan monyet yang siap mencuri dan merebut jika perlu…

(20) Kami memang akhirnya mendaki tanpa porter. Ajakannya adalah: Keep on the right track. ‘Ora usah neko2, ora kakehan petingsing’, lalu perhatikan (apa) yang akan terjadi.

(21) Berwudlu dengan air dalam botol akua 600 ml, harus cukup dan bisa… Untung sudah punya pengalaman di Mekkah.

(22) Senja di kaki puncak Rinjani. Wow..! Fantastis..! (Maaf belum bisa upload foto demi menghemat battery)

(23) Purnama di Plawangan. Alhamdulillah, langit malam cerah, angin berhmbus lembut, udara begitu dingin. Hoping friendly weather for night walk will be..

Hari-3 (1 Januari 2010) :

(24) Dari kaki puncak Rinjani, kami ucapkan ‘Selamat Tahun Baru 2010’… Angin sangat kencang, suaranya menakutkan, ‘summit attack’ agak ditunda…

(25) Terlambat tahu gerhana bulan juga tampak di Rinjani. Alhamdulillah, sempat menyaksikan sedikit. Padahal langit cerah, tapi angin sangat kencang dan dingin.

(26) Puji Tuhan Walhamdulillah, akhirnya kami berhasil menggapai matahari baru 2010 di puncak gunung Rinjani (3726 m) sekitar jam 7:00 WITA

(27) Rencana jam 1 dinihari menuju puncak dari pos terakhir terpaksa mundur karena angin bertiup kencang dengan hawa dingin yang menusuk tulang, padahal langit cerah

(28) Jam 3 baru mulai night walk. Benar-benar perjalanan yang menguras tenaga, melalui pasir dan batu yang sering merosot kalau diinjak, melawan angin lembah yang sangat kuat.

(29) Sahabat kecilku langsung melejit di depan hingga jam 6 sudah nyampai puncak, sedang bapaknya keteter jam 7 baru nyampai. Faktor ‘u’ (umur) memang tidak bisa dibohongi.

(30) Tidak sempat berlama-lama di puncak. Angin lembah begitu kuat dan dinginnya tak tertahankan. Setelah berfoto (ben ora dikiro ngapusi), langsung turun ke camp.

(31) Menuju puncak Rinjani, perjalanannya membuat frustrasi, 4 jam jalan ngos-ngosan nggak sampai-sampai padahal puncaknya kelihatan. Ketika tiba di puncak: ‘Allahu akbar’…

(32) Dari camp terakhir Plawangan turun ke danau Segara Anak. Perlu waktu 3 jam melalui lereng curam (sayang sinyalnya takut turun…)

(33) Segara Anak bentuknya seperti bulan sabit, gunung Barujari (anak gunung Rinjani) di selatannya. Lanskap ini nampak di awal siaran adzan maghrib Trans7

(34) Senja tiba, cuaca berkabut, angin kuat dan dingin, enaknya berendam di sumber air panas, di balik danau (adegan ulang 19 tahun yll, full sensor…)

Hari-4 (2 Januari 2010) :

(35) Pagi di tepian danau Segara Anak berlatar perbukitan Rinjani, nyruput kopi + (maaf) malioboro... Masya Allah, indah dan nikmatnya…!

(36) Danau, bukit, pohon cemara, tenda, orang mancing dan semburat cahaya matahari… Eksotisme alam yang jangan sampai Anda tidak pernah menyaksikannya…

(37) Gunung Barujari aktif sekali, periodik meletupkan asap meninggi, lava pijar tak berhenti, tubuhnya semakin bongsor dan tinggi (dibanding 19 tahun yll)…

(38) Banyak ikan di Segara Anak. Memancing lalu ikannya dibakar atau digoreng, adalah improvisasi sarapannya pecinta alam (dan saya tinggal makan aja…)

(39) Jam 11 meninggalkan Segara Anak menuju Senaru, kaki utara Rinjani. Insya Allah hari ini adalah etape terakhir pendakian gunung Rinjani.

(40) Mendaki bukit Plawangan Senaru, terjal melewati lereng berbatu, 3 jam mencapai puncaknya. Setelah itu turun terus ke Senaru.

(41) Istirahat bikin teh manis dulu, habis ini langsung turun kebut gunung menuju desa terakhir Senaru. Mudah-mudahan 3-4 jam nyampai agar tidak terlalu kemalaman.

(42) Jam 19:30 ketemu warung di pinggir desa. Rehat makan, lanjut jalan, sampai Senaru jam 21:30. Alhamdulillah, tunai sudah perjalanan panjang 4 hari ini..

(43) Cari penginapan murah agar dapat mandi yang manusiawi (4 hari ini mandi hewani alias adus kucing…). Semalam (ini) di Senaru…

(44) Salah satu yang membanggakan adalah dapat menunaikan sholat berjamaah dengan sahabat kecilku, meski dengan cara dan kondisi darurat, sehingga dia tahu dan langsung praktek…

Hari-5 (3 Januari 2010) :

(45) Pagi di Senaru, menyaksikan siluet Rinjani yang 2 hari yll baru kami capai puncaknya melalui perjalanan yang umumnya orang akan ‘jera’ mengulanginya..

(46) Belum lagi meninggalkan Senaru, sahabat kecilku sudah pesan 2 gunung (dikira pesan onde-onde kale…), Semeru dan Kerinci. Wee.., lha modar maning kiye bapa-ke..

‘Blue lagoon’ of Malimbu, Lombok

(47) Siang ini akhirnya meninggalkan Senaru kembali menuju Mataram, makan durian Lelos, lewat jalur pantai Malimbu dan Senggigi nan elok…

(48) Sahabat kecilku gelisah: masak sudah ke Rinjani mau beli souvenir gantungan kunci saja nggak dapat… Lha memang kebetulan lagi pada out of stock. Waduh…

(49) Menyusuri lintasan pantai Malimbu dan Senggigi, Lombok. Sungguh sebuah Maha Karya yang harus di-masya-Allah-i

(50) Alhamdulillah, akhirnya jam 17 tiba di Mataram. Insya Allah besok pagi terbang kembali ke Jogja. Banyak pelajaran baik/buruk diperoleh sahabat kecilku…

(51) MOHON MAAF banget kalau foto-foto pendakian ke Rinjani sengaja tidak langsung saya upload berhubung harus hemat battery, karena PLN takut naik gunung…

(52) Makan malam balas dendam di Resto ‘Taliwang Irama’, menu ayam taliwang dan karper bakar, plecing kangkung, sayur lubui, beberuk. Wuih, kemaruk tenan

Gunung Rinjani – Lombok, 30 Desember 2009 – 3 Januari 2010
Yusuf Iskandar

5 Pendaki Bertemu Di Pelabuhan Ampenan

6 Januari 2010

(H-2) : Sore di pantai Ampenan, peserta terakhir baru tiba dari Jakarta. Maka lengkaplah 5 anggota dari tim Rinjani. Setelah diskusi ulang, disepakati rencana pendakian dimajukan sehari agar ‘summit attack’ untuk menyaksikan fajar hari baru 2010 dapat tercapai. Insya Allah. Maka tengah malam ini diputuskan berangkat menuju Sembalun.

(Sembalun adalah desa terakhir atau titik awal pendakian ke gunung Rinjani melalui pintu timur, di wilayah Kabupaten Lombok Timur)


5 pendaki, berkolaborasi ke puncak Rinjani (Dari kiri ke kanan : Noval, Insan, Ari, Angga + saya yang motret)

Mataram, 29 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Persiapan Terakhir

29 Desember 2009

Malam ini persiapan terakhir sebelum besok pagi terbang ke Mataram : packing dan kerokan (jannn.. ndeso tenan). Seorang teman dari Jakarta sudah tiba di Mataram, seorang lagi masih dalam perjalanan menuju Bali, seorang lagi dari Tasik nyusul besok malam. Siap-siap ‘jam session’ menyongsong matahari baru 2010 di puncak Rinjani. Insya Allah, semoga Tuhan memberkati…

Yogyakarta, 28 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Mau Ke Gunung Sumbing

25 Desember 2009

Ke Rinjani saja belum dilakukan, sahabat kecilku sudah minta ijin kalau sepulang dari Rinjani nanti, esoknya mau ke Gunung Sumbing. Sebagai ortu tentu saya harus bijaksana, lalu kata saya : “Ale.., bapa bole temani kah tidak…?”.

(Gunung Sumbing bertetangga dengan gunung Sindoro di utara dan gunung Slamet di barat daya. Ketiganya dikenal dengan puncak 3S yang berada di wilayah Jawa Tengah)

Yogyakarta, 25 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Menuju Pendakian Terindah Ke Puncak Rinjani

23 Desember 2009

Pada sekitar pertengahan Desember yll. saya bertanya kepada sahabat kecilku : “Tahun baru nanti mau kemana?”. Pertanyaan ini dipahami oleh sahabat kecilku (Noval, 15 tahun) yang mulai ‘gila’ mendaki gunung yang maksudnya adalah mendaki gunung apa? Tahun baru setahun yll. saya temani sahabat kecilku mendaki puncak Merapi dan tahun baru sebelumnya ke puncak Lawu. Rupanya kali ini Noval belum ada rencana. Ketika saya tanya apakah tahun baru nanti mau muncak? Noval mengiyakan.

Majalah National Geographic Traveler, Edisi Koleksi, yang bertajuk “55 Pendakian Terindah” yang barusan saya beli serta-merta saya sodorkan kepada Noval untuk dibacanya. Setelah itu saya beri penawaran : “Pilih satu gunung dan Insya Allah bapak temani untuk mencapai puncaknya pada Tahun Baru nanti, mumpung bapak masih sehat ‘gilanya’. Kecuali puncak Carstensz karena untuk yang satu itu memerlukan persiapan yang sangat khusus dan kita belum siap”. Akhirnya terpilih nominasi antara gunung Semeru atau Rinjani. Setelah kemudian mempertimbangkan tingkat kesulitan, tingkat bahaya dan kondisi cuaca, maka dipilihlah gunung Rinjani di pulau Lombok, NTB. Di balik itu sebenarnya saya bermaksud memenuhi janji saya untuk menemani Noval yang menyimpan obsesi ingin mendaki semua gunung di Indonesia dan mengalahkan bapaknya.

Puncak gunung Rinjani (3.726 mdpl) dapat disebut sebagai puncak tertinggi ketiga di Indonesia setelah Carstensz Pyramide (4.884 mdpl) sebagai bagian dari pegunungan Jayawijaya di Papua dan gunung Kerinci (3.800 mdpl) di Jambi. Tahun 1995 saya pernah mendaki Carstensz hingga mencapai batas esnya saja. Memang sengaja pendakian itu tidak dimaksudkan untuk mencapai puncaknya mengingat persiapan teknis maupun perlengkapan yang sangat terbatas jika harus mendaki gunung es.

Puncak Kerinci sudah pernah saya capai pada tahun 1995 dalam sebuah pendakian menuju puncak di bawah hujan lebat di tengah belantara Sumatera yang masih menyembunyikan harimau, berdua dengan ditemani seorang gadis sahabat saya Winda. Sedangkan puncak Rinjani pernah saya capai pada tahun 1991 juga berdua dengan seorang sahabat saya Riady Bakri yang kini menekuni hobi fotografi, dan sempat menikmati momen yang begitu menggetarkan hati ketika kami sholat subuh berjamaah menjelang mencapai puncak.

Melalui tulisan ini saya ingin mengenang dan menyampaikan terima kasih disertai penghargaan setinggi-tingginya kepada kedua sahabat saya itu (kalau mereka sempat membaca tulisan ini, terutama Winda yang sekarang entah dimana). Mereka telah membuktikan menjadi teman seperjalanan pendakian yang luar biasa di tengah upaya yang tidak mudah menaklukkan kedua puncak gunung itu menjadikannya sebagai pendakian terindah.

Pendakian ke Rinjani pada tahun 1991 kami tempuh selama tiga hari dengan mengambil rute mendaki melalui daerah Senaru di sisi utara dan turun melalui daerah Sembalun di sisi timur daratan pulau Lombok. Kali ini kami akan mengambil rute sebaliknya yaitu mengawali pendakian dari Sembalun dengan pertimbangan medan pendakiannya relatif landai dan akan turun melalui Senaru yang medannya lebih terjal selama empat hari karena akan menyempatkan untuk mengeksplorasi kawasan danau Segara Anak yang memiliki bentang alam yang sangat eksotis (seperti sering terlihat di awal acara kumandang adzan maghrib stasiun TV7).

Cuaca pada akhir tahun memang selalu kurang menguntungkan bagi pendaki gunung karena bersamaan dengan datangnya musim penghujan. Oleh karena itu kemungkinan terburuk harus sudah kami antisipasi termasuk jika harus gagal mencapai puncak ketika cuaca tiba-tiba berubah sangat ekstrim. Kerugian lain adalah kemungkinan tidak dapat menikmati pemandangan indah di puncak gunung akibat tebalnya awan, kabut atau malah hujan lebat. Situasi terburuk itu sangat kami sadari peluang terjadinya, termasuk biaya yang tidak sedikit Jogja – Lombok pp.

Oleh karena itu sambil bercanda tapi serius, saya bilang kepada Noval : “Kita memang akan mendaki Rinjani hanya berdua, tapi kita memohon kepada Sang Maha Pemilik Rinjani agar bersedia menjadi pemimpin pendakian. Maka mulai sekarang juga kita jangan berhenti berdoa agar rencana pendakian kita berjalan lancar dan cuaca pun cerah”.

Di balik semua rencana pendakian ini sebenarnya saya menyimpan misi khusus. Sebagai seorang ayah, saya akan menjadikan perjalanan pendakian ini sebagai media untuk mengajari Noval tentang kehidupan dan perjuangan hidup. Kedengarannya seperti ambisius. Tapi memang benar, lebih baik ambisius tetapi didahului dengan pematangan gagasan dan pemikiran, rencana aksi, strategi pencapaian dan pemahaman dalam pelaksanaannya, dari pada ambisius tapi tanpa bekal apa-apa seperti orang-orang yang sering kita lihat bergaya di televisi atau di koran-koran akhir-akhir ini.

Bagi mereka yang tidak suka dengan kegiatan ngoyoworo (membuang-buang waktu) seperti mendaki gunung ini mungkin akan berkata bahwa lebih baik biaya besar yang digunakan untuk mendaki gunung disalurkan kepada mereka yang lebih membutuhkan (mohon maaf, tak endhas-endhasi wae….). Jangan khawatir, untuk yang terakhir itu kami sudah mengalokasikan anggarannya tersendiri, dan sisanya baru dipakai untuk mendaki gunung (sisa tapi jumlahnya lebih banyak…..).

Kini saya ingin mengajak sekaligus mengantarkan sahabat kecilku yang adalah anak lelaki saya menuju ke puncak Rinjani mengawali hari baru tahun 2010. Semoga akan menjadi pendakian terindah bagi Noval, sahabat kecilku, dan mengulang salah satu pendakian terindah yang pernah saya lakukan 18 tahun yll.

Tertarik Bergabung?

Jika ada pembaca tulisan ini yang berminat bergabung melakukan pendakian ke puncak Rinjani bersama-sama dengan saya dan sahabat kecilku, silakan menghubungi saya di alamat email dan no. HP di bagian bawah. Siapkan perlengkapan pendakian Anda, sedangkan untuk transportasi lokal dan konsumsi selama pendakian silakan bergabung dengan kami tanpa biaya. Kami tunggu di Mataram, NTB, hingga tanggal 30 Desember 2009 pagi karena siangnya kami akan meluncur menuju desa terakhir di Sembalun, Lombok Timur.

Jika tidak ada aral melintang, rencana pendakian kami kira-kira sbb.:

31-Des-09 pagi : Memulai perjalanan menuju Plawangan Sembalun.

01-Jan-10 dini hari : Menuju puncak (summit attack) dan langsung turun ke danau Segara Anak.

02-Jan-10 pagi : Meninggalkan danau Segara Anak melalui Plawangan Senaru.

Saya akan berusaha mem-posting status perjalanan saya di Facebook, sepanjang ada sinyal dan battery tidak drop. Hidup pendaki gunung…..! (Email : yiskandar_2000@yahoo.com; HP. 08122787618).

Yogyakarta, 23 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Masih Ada Calo Yang Akan Lewat

21 Desember 2009

Setelah (tadi pagi subuh) nge-cek masjid (tikarnya masih ada), lalu nge-cek buku Qur’an (tulisan Arabnya juga masih terbaca), lalu cek email & FB, terus cek fisik (seperti mau jual mobil seken) naik sepeda keliling kecamatan. Sampai rumah, tetap saja ngopi wal-ngudut. “Wooo, piye iki?”, celetuk ibunya Noval…. Tinggal nanti siang cek tiket pesawat Jogja – Mataram (sepertnya ke puncak Rinjani akan menjadi pendakian terindah), berharap masih ada calo yang akan lewat…

Yogyakarta, 21 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Semeru Atau Rinjani?

21 Desember 2009

Semalam glenik-glenik (ngobrol kecil) dengan anak lanang (Noval, 15 th): “Tahun Baru mau kemana?” (maksudnya mendaki gunung mana). Tinggal tunjuk saja, kecuali Carstensz sebab perlu persiapan sangat khusus, mumpung bapaknya anak lanang ini masih sehat ‘gilanya’…. Nominasinya Semeru (3676 mdpl) atau Rinjani (3726 mdpl)…. Kedengaran ambisius, tapi berharap akan menjadi pendakian terindah…. God willing…

Yogyakarta, 21 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Anakku Mau Mendaki Sindoro

27 Juni 2009

Malam ini anakku minta ijin besok mau mendaki gunung Sindoro. Kali ini saya tidak gusar karena ada guru pembinanya yang menyertai. Sambil klecam-klecem lalu minta uang saku 200 ribu +++….. Ijinnya tak seberapa, uang sakunya ituuu…..

Tapi okelah, anggap saja pengganti janji saya mau ngajak ke gunung Rinjani tapi belum bisa saya penuhi karena kesibukan lain. Dasar ortu…, alasannya sibuk melulu, entah urusan apa, begitu pikir anakku……

(Ini adalah pendakiannya ke gunung Sindoro, 3153 mdpl, untuk yang kedua kalinya dan berombongan dengan teman-teman sekolah dan pembinanya. Pendakiannya yang pertama beberapa bulan yang lalu hanya berdua dengan pembinanya. Sebenarnya saya kepingin ikut mendaki juga, tapi ya itu tadi…., sebagai ortu ada kesibukan lain yang bersamaan waktunya).

Yogyakarta, 27 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Selamat Mendaki, Para Pendaki Kecil

9 Juni 2009

100_3786_MerbabuAwalnya anak saya (Noval, 15 tahun) mengajak mendaki gunung Rinjani (3726 mdpl), di pulau Lombok, dalam rangka mengisi waktu libur sambil menunggu hasil UAN SMP-nya. Tapi sayang, bekalnya belum memadahi. Pesawat Jogja-Mataram pp. plus akomodasi, konsumsi, transport lokal, dll, untuk berdua pasti lumayan banyak jumlah rupiahnya. Pada waktu yang bersamaan ibunya sedang butuh tambahan dana cukup banyak untuk membuka toko. Dengan sangat menyesal, saya menjanjikan untuk menjadwal ulang rencana pendakian ke gunung Rinjani.

Sudah berbulan-bulan ini Noval suka menunggu acara adzan maghrib di depan televisi. Bukan tanda waktu sholatnya yang ditunggu (wong waktu sholat Jakarta), melainkan gambar awal tayangan adzan maghrib di saluran Trans7 adalah pemandangan danau Segara Anak yang membentang indah di tengah perjalanan mendaki Rinjani.

Rupanya diam-diam Noval merencanakan pendakian alternatif. Beberapa temannya termasuk guru sekolahnya dihubungi dan diajak mendaki ke gunung Merbabu (3142 mdpl). Walhasil, tiga orang temannya jadi bergabung, sementara gurunya berhalangan. Lalu dimatangkanlah rencana pendakian ke gunung Merbabu, tanpa saya ketahui.

Tiba-tiba Noval minta ijin besok mau mendaki Merbabu. Waduh….. Lalu bermunculan aneka pertanyaan untuk memastikan kesungguhannya. Ternyata memang rencana sudah matang. Bahkan ketika gurunya berhalangan pun mereka tetap berniat berangkat. Jelas, rencana tidak mungkin dibatalkan, sebab semua sudah disiapkan oleh Noval dan ketiga temannya.

Terkadang terpikir juga, jangan-jangan saya ini tergolong orang tua yang kelewat reseh dan khawatiran. Ya, sementara saya berpikir panjang untuk mengijinkan anak saya mendaki gunung dengan tanpa pendamping orang yang lebih dewasa, sementara itu pula para orang tua dari ketiga temannya Noval sepertinya biasa-biasa saja.

Sebenarnya bukan soal diijinkan atau tidak diijinkan, melainkan saya hanya khawatir kalau anak-anak itu menganggap bahwa mendaki gunung itu sekedar olah raga kuat jalan mendaki sambil membawa beban di punggungnya. Seperti halnya anggapan para kawula muda umumnya yang baru menyukai hobi petualangan di alam liar. Sedang yang sesungguhnya mendaki gunung itu jauh lebih memerlukan kesiapan fisik dan mental yang tidak sesederhana itu. Berita terakhir tentang pendaki yang tersesat di gunung Argopuro (Jatim) dan Ciremai (Jabar), hanyalah sedikit contoh dari tidak sederhananya kegiatan mendaki gunung itu.

Rupanya tekad dan semangat untuk mendaki sudah telanjur tidak bisa dipadamkan. Akhirnya ijin orang tua pun turun, tinggal kewajiban orang tua memberi bekal ilmu dan pengarahan yang cukup.  Saya tidak ingin mereka sekedar berhasil mencapai puncak, melainkan harus ada yang mereka pelajari dan hikmahi melalui kegiatan yang tidak biasa bagi anak-anak seusianya itu.

Selasa pagi ini cuaca Jogja sedang rada muram. Sejak pagi teman-teman Noval sudah berdatangan ke rumah dengan masing-masing membawa tas ransel besarnya. Noval minta diantar ke terminal bis Jombor di Jogja utara. Saya pun segera menyiapkan kendaraan. Namun sebelum berangkat, Noval dan ketiga temannya (Alfian, 15 tahun; Irman 14 tahun dan Faisal 14 tahun) saya kumpulkan untuk diberi pengarahan. Sementara komentar ibunya sederhana saja : “Wah, harus siap-siap menerima setumpuk pakaian kotor, nih….”.

***

Hal pertama yang saya pastikan kepada ketiga teman Noval adalah apakah sudah memperoleh ijin dari orang tua masing-masing bahwa mereka akan mendaki Merbabu dengan tanpa guru pendamping. Jawaban mereka kompak : “Sudah”. Setelah itu saya tanyakan rencana perjalanan pendakiannya. Lalu saya ingatkan bekalnya harus cukup termasuk untuk antisipasi keadaan darurat jika harus bermalam lebih lama di gunung. Selanjutnya mulailah saya memberikan kultum (kuliah tujuh menit, lalu molor sampai 15 menit).

Hal-hal pokok yang saya ingin tegaskan adalah bahwa mendaki gunung itu tidak boleh dianggap sebagai kegiatan yang remeh. Tidak boleh sombong, betapapun kuatnya. Harus kompak dan bertenggang rasa dengan kondisi fisik temannya. Jangan memaksakan diri jika di tengah jalan cuaca menjadi buruk, dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Lalu saya suruh mereka sebelum mendaki supaya meminta bantuan penduduk setempat untuk menemani pendakian. Seseorang yang oleh para pendaki sering disebut dengan sebutan salah kaprah “ranger”. Terakhir saya minta supaya mengirim SMS setiap kali ketemu sinyal.

Gunung Merbabu sebenarnya bukan gunung dengan tingkat kesulitan tinggi. Bentang alam topografi dan pepohonannya relatif tidak menyulitkan. Untuk mencapai puncaknya tidak seberat dan seberbahaya puncak Merapi. Namun tetap saja kemungkinan terburuk harus diantisipasi, di antaranya adalah perubahan cuaca seputaran komplek gunung Merbabu-Merapi.

Itulah sebabnya kenapa saya sebagai orang tua menjadi kedengaran begitu reseh? Karena mereka adalah pendaki-pendaki kecil yang masih suka cengengesan, yang saya khawatirkan belum mampu berpikir jernih ketika terjadi keadaan darurat di tempat yang adoh lor adoh kidul (jauh dari mana-mana), sementara kondisi fisiknya sangat terkuras. Noval dan seorang temannya memang sudah dua kali mendaki Merbabu, tapi dua orang temannya yang lain belum pernah. Dan kali ini adalah pendakian pertama mereka dengan tanpa didampingi oleh seorang dewasa. Akhirnya, sebelum berangkat mereka saya suruh melakukan sholat safar, sebagaimana kebiasaan kami setiap kali sebelum bepergian jauh.

“Selamat mendaki, para pendaki kecil……”. Ibu kalian di rumah menunggu dan siap menerima order cucian pakaian kotor tanpa biaya….

Yogyakarta, 9 Juni 2009
Yusuf Iskandar

(Note : Ilustrasi foto di atas diambil dari http://morishige.wordpress.com)

Sebelum Meninggalkan Tembagapura

30 Mei 2009

Lanjutan catatan harian……
Minggu sore, 31 Mei 2009, terbang kembali ke Jogja.

Yusuf Iskandar

——-

Tiba-tiba Disapa Sang Motivator

Tiba-tiba tadi siang ditilpun Pak Yusef J. Hilmi (seorang motivator yang suka blusukan di wilayah nusantara). Katanya numpang lewat Jogja dalam perjalanan menuju Solo. Mudah-mudahan agenda workshop ‘Smart Parenting’ Minggu besok sukses dan lancar…. Sampai ketemu di belahan nusantara lainnya… Semoga kelak sampai juga ke wilayah Timur. Salam.

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Masih Ada Kereta Makan Yang Lewat

Rupanya kereta makan hari ini masih lewat dua kali….

Pertama, ada yang mengundang makan siang di pasar ‘Shopping’ Tembagapura, dengan tawaran menu londo, namanya chicken barbeque…. (Terima kasih Pak/Bu Widodo Margotomo).

IMG_2407_rIMG_2404_r

Kedua, ada yang menjemput untuk makan malam di rumahnya, dengan menu nasi uduk, ayam serundeng, teri-kacang-kering…. (Matur nuwun Pak Amal Rahman dan Bu Sylvia atas masakannya yang hmmmmm…… pingin lagi, deh…..)

IMG_2416_rIMG_2418_r

Insya Allah Minggu sore besok terbang dengan pesawat Airfast, kembali ke negeri Ngayogyokarto Hadiningrat yang rajanya urung jadi capres….

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Nyruput Kopi Amungme Gold

Pagi-pagi nyruput kopi arabika Amungme Gold dari pegunungan Nemangkawi, Papua. Mak thengngng… betul…! Nikmat sekali. Pokoknya beda.

IMG_2280_rKalau ingat kopi ‘Jasa Ayah’ hanya theng.. kalau disruput di Ulee Kareng, Aceh. Kopi ‘Hawaii’ hanya enak kalau diminum di Kijang, Bintan. Kopi ‘Asia’ hanya nikmat kalau diminum di Pontianak.

Tapi kopi Amungme Gold enak terus… aroma dan taste-nya sekelas Starbucks, juga harganya. Karena itu jangan ada yang minta oleh-oleh. Harap maklum budget Panitia terbatas… (he..he..he..).

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Anakku Ngajak Ke Rinjani

Ketika ada berita pendaki gunung yang hilang di G. Argopuro & G. Ciremai, saya SMS anak saya di Jogja agar melihat beritanya di TV.

Besoknya anak saya yang lagi suntuk nungguin hasil UAN SMP kirim SMS : “Bapak pulang kapan?”. Saya pikir berhenti sampai di situ saja. Esoknya lagi kirim SMS, katanya : “Bapak, kalau pulang dari Papua nanti kita ke Rinjani ya…?”. Mak glek... tenggorokanku. Dikiranya perjalanan Jogja – Lombok ki mbecak opo yo…..

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Ikan Laut, Ikan Ayam, Ikan Daging…

IMG_2402_rTadi malam diundang acara syukuran (mas Wahyu Sunyoto menempati rumah baru). Acara intinya… ya tetap makan-makan… Ada sup asparagus, sate kambing, mi goreng, tumis kangkung, mpek-mpek, apa lagi ya…….., oh ya…, ada ikan laut, ikan ayam, ikan daging… (he..he.. jawa biyangeth…).

Mudah-mudahanan masih ada kereta makan yang akan lewat…..

Tembagapura, 30 Mei 2009