Posts Tagged ‘banting setir’

Banting Setir Menjadi Penjual Es Kelapa Muda

7 Januari 2011

Pengantar:

Catatan di bawah ini adalah kumpulan dari catatan status saya di Facebook.-

——-

(1)

Di seberang jalan depan tokoku “Madurejo Swalayan”, Sleman, Jogja Istimewa, beberapa bulan ini saya lihat ada penjual es kelapa muda. Meja, keranjang dan perlengkapannya nampak masih baru.

Hari ini saya sempatkan datang membeli segelas dan saya minum sambil duduk di pinggir jalan di bawah pohon. Bukan karena saya haus dan ngidam kelapa muda, tapi karena saya ingin ngobrol dan mengenal lebih jauh tetangga baru saya itu…

(2)

Pak Rohmadi dan istrinya bekerja sebagai buruh. Ya buruh bangunan, pabrik, pelayan toko, kuli, dsb. Pendeknya, sejak muda menjadi orang gajian berganti-ganti bidang dengan penghasilan bulanan yang segitu-segitunya.

Beberapa bulan yll mereka membuat keputusan besar dalam hidupnya, mengakhiri “petualangan” sebagai buruh dan banting setir menjadi pengusaha. Usaha pertama yang dilakukannya adalah jualan es kelapa muda di pinggir jalan.

(3)

Keuntungan bersih pak Rohmadi dari hasil jualan es kelamud (kelapa muda) berkisar Rp 40-50 ribu/hari. “Tergantung cuaca”, katanya. Sebenarnya tidak jauh beda dengan pendapatannya ketika menjadi buruh.

Tapi kini pak Rohmadi melihat di depan matanya membentang ribuan peluang yang memungkinkannya untuk melipat-gandakan penghasilannya 10 kali, 100 kali, 1000 kali dari hasilnya yang sekarang. Keyakinan itu perlu, walau belum tahu apa yang dapat dilakukannya saat ini.

(4)

Memang belum setengah tahun pak Rohmadi menekuni bisnis es kelamud. Belum dapat diukur apakah usahanya berkembang atau mengempis. Tapi yang pasti bahwa sejak banting setir menjadi pengusaha, dia sudah berhasil masuk tahap MPP (Menangkap Peluang Pertama).

Perkara nanti akan terus jualan es kelamud atau harus ganti dengan peluang kedua, ketiga, dst., itu soal lain. Sebab banyak orang yang bahkan untuk MPP pun sepertinya harus kungkum (berendam) di sungai tujuh hari tujuh malam..

(5)

Keranjang dipasang di kiri-kanan sepeda motor pak Rohmadi. Setiap pagi suami-istri itu berangkat dari rumah membawa perlengkapan jualannya. Ditatanya di atas meja kayu sederhana di pinggir jalan di bawah pohon, di seberang jalan depan tokoku. Sore biasanya mereka pulang.

Penghasilan mereka memang masih pas-pasan. Tapi kebebasan untuk mengatur irama hidup yang dimilikinya.., itulah nampaknya buah pertama dari keputusannya banting setir.

‎(6)

Bu Rohmadi agak kaget saat tahu saya, pembelinya yang banyak tanya ini, adalah pemilik toko swalayan di depannya. Lalu sampailah pada saat yang kutunggu-tunggu. Bu Rohmadi berkata: “Kenapa tidak jual baju-baju? Banyak yang tanya lho pak…”. Ini adalah informasi yang sangat berharga.

Harus dipahami, tidak mudah berharap masyarakat desa mau tanya hal-hal seperti itu langsung ke toko, melainkan melalui obrolan dengan orang lain. Sementara fashion memang belum menjadi segmen yang saya garap.

Yogyakarta, 25 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Sopir Taksi Dan HP-nya

20 Desember 2010

Taksi di lajur kiri agak di depan saya itu mak jegagik…tiba-tiba sopirnya berbuat serong kanan. Tentu saja membuat kaget. Setelah diklakson keras (kalau pelan berarti klaksonnya rusak), alhamdulillah…sopir taksi itu banting setir kembali ke jalan yang benar.

Penasaran, lalu kujejerkan kendaraanku. Eee lhadhalah…, rupanya pak sopir taksi sedang ber-haha-hihi dengan hapenya. Pantesan…, ya gimana mau dapat tarikan.

Yogyakarta, 3 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Pak Burhanuddin Sang Tukang Ojek

9 Oktober 2010

Cara mengendarai motornya terkesan hati-hati, pelan-pelan saja, tidak grusa-grusu seperti tukang ojek umumnya. Dialah Haji Burhanuddin, asli Samarinda, kakek empat cucu dari empat anak. Telah 12 tahun mengojek, sejak memutuskan banting setir dari profesi sebelumnya sebagai bagian marketing toko alat tulis. Alasannya (banting setir) sederhana, karena pekerjaan sebelumnya membuat dia sulit menghindar dari perilaku “kong kalikong untuk korup” ketika harus bertransaksi dengan instansi pelanggannya.

Samarinda, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

“Banting Setir” Dan Orientasi Mind Set

29 September 2010

‎”Banting setir” (alih profesi) memang nampaknya sederhana. Tapi tidak demikian jika orientasi mind set tidak siap. Takut, kurang pede, bingung, awang-awangen (kebayang jauh)…

Ketika siang-siang datang ke (toko) Madurejo Prambanan seorang teman yang sedang cuti dari kerjanya di Saudi dan petang-petang datang ke (toko) Bintaran Jogja seorang teman dari Malang, maka adalah sebuah kesyukuran kalau sempat berbagi pengalaman. Ilmunya tak seberapa, tapi spirit-nya ittuu…

Yogyakarta, 26 September 2010
Yusuf Iskandar

Temanku (Juga) Panen Raya

20 September 2010

Seorang teman yang belum lama “banting setir” dari karyawan menjadi wirausahawan dan pernah studi banding per-minimarket-an ke tokoku di Jogja (atas biaya sendiri tentu saja, boro-boro minta dibayarin 240 juta tetangganya…), berbagi cerita. Katanya tokonya di Pati (Jateng) yang sudah buka sejak sebelum Ramadhan, sempat turut menikmati panen raya Lebaran. Puji Tuhan wal-hamdulillah, senang sekali rasanya mendengar kisah sederhana itu…

Yogyakarta, 16 September 2010
Yusuf Iskandar

Ketika Memutuskan Banting Setir

5 Agustus 2010

Seorang teman yang kelamaan berada dalam comfort zone, puluhan tahun bekerja di perusahaan di tempat jauh, kini pensiun dini untuk berwirausaha dan kembali ke kampungnya. Lalu kirim SMS: “Anakku bingung menjawab pertanyaan apa pekerjaan bapaknya…”. Sebab satu-satunya pekerjaan yang diketahui anaknya adalah menjadi karyawan PT ‘X’… (Ternyata banting setir dari Tangan Di Bawah menjadi Tangan Di Atas, terkadang tidak sesederhana membalik posisi tangan…).

(Tangan Di Bawah : simbolisasi untuk orang gajian, Tangan Di Atas : simbolisasi untuk pengusaha)

Yogyakarta, 26 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Kenapa Pesawat Tidak Bisa Mundur?

11 Juni 2010

Sambil becanda seorang teman bertanya : “Kenapa pesawat tidak bisa mundur ya?”.

Jawabku asal-asalan : “Agar sopirnya tidak ugal-ugalan”. Maka setiap gerakan majunya harus selalu tepat dan akurat karena tidak ada kesempatan mundur selangkah pun kecuali saat menjelang terbang, itupun dimundurkan…

(Barangkali, seperti itulah ketika seseorang memutuskan untuk banting setir berwirausaha. Maju terus pantang mundur, dengan gerakan dan resiko yang terukur).

Yogyakarta, 2 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Penjual Nasi Keliling

7 Mei 2010

Sang istri, dari buruh nyuci banting setir jual nasi keliling. Sang suami, dari tukang becak dan tukang parkir banting setir membantu istrinya. Penghasilan meningkat, walau masih sedikit tapi lebih nikmat. Mereka paham, ada peluang untuk menghasilkan lebih banyak. Mereka sadar, jual aneka menu nasi keliling dengan gerobak adalah sebuah terobosan bisnis. Yang mereka belum paham adalah apakah selamanya akan begitu dan apa perlunya pindah kuadran dari S ke B…

(Istilah pindah kuadran merujuk pada rumusan Robert Kiyosaki, tentang kuadran S – Self-Employee dan B – Business Owner.

Suami-istri itu adalah tetanggaku di sekitar toko “Bintaran Mart”. Sang suami biasa disapa Mas Totok sedang sang istri biasa dipanggil Mbak Giek)

Yogyakarta, 6 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Sapa Suru Datang Jakarta

22 Maret 2008

Hari sudah gelap di Kemang Timur. Akhirnya dapat taksi juga setelah agak lama menunggu di tepi jalan, gerimis lagi. Begitu duduk di jok belakang kiri, segera terasa bahwa kondisi kendaraan masih agak baru. Meski rada remang-remang, interior dalamnya terlihat bersih, tidak kusam, tidak terkesan jorok, tidak bau apek.  Pendeknya, sudah lama tidak ketemu taksi yang kondisinya seperti yang saya tumpangi pada petang menjelang malam itu.

Terasa nyaman dan enak ditumpangi (tentu saja mbayar…!). Pengemudinya terlihat masih sangat muda. Saya duga usianya setengah usia saya atau lebihnya sedikit, mungkin 24-an tahun. Bicaranya lembut dan sopan, malah terkesan pemalu.

Tiba giliran menyebut alamat tempat tujuan, dengan sopan sang sopir memohon. Kira-kira beginilah bunyinya : “Tolong bapak yang menunjukkan arah jalannya ya, pak…..”. Lho!?

Lha, salah satu alasan saya naik taksi petang itu adalah karena saya tidak tahu jalan dan agar diantar sampai alamat je…. Ini kok sopir taksi malah minta ditunjukkan jalannya. Karena itu saya lalu menjawab : “Ya, kalau begitu yuk kita sama-sama mencari jalannya, mas…..”.

Ini Jakarta, petang menjelang malam hari. Pertama-tama saya merasa tidak bersalah untuk berprasangka buruk.  Jangan-jangan ini adalah awal dari sebuah fragmen “goro-goro”. Meski arah jalan utamanya kami sepakat, tapi kami berdua tidak tahu persis mesti belok kemana di sebelah mana.

Sambil nyopir perlahan-lahan (sopir taksinya, bukan saya…) di tengah kepadatan lalulintas, sambil saya meng-interview sang sopir dan mengamati responnya, sambil tetap waspada jangan-jangan ada sesuatu yang mencurigakan. Sang sopir pun selalu menjawab pertanyaan saya dengan sopan dan rangkaian jawabannya pun logis. Di tengah jalan saya sempat berhenti dua kali untuk tanya kepada orang di pinggir jalan. Saya yang menentukan tempat berhentinya.

Hal lain yang saya perhatikan, sang sopir ini kelewat hati-hati dan terlihat tidak santai. Tidak sebagaimana biasanya sopir taksi yang selalu terlihat terburu-buru dan gesit menyerobot jalan, berbuat serong ke kanan dan ke kiri. Sedikit nyerempet pun jadi.

Hampir sepanjang perjalanan saya berbicara dengan sopir, dengan membolak-balik pertanyaan layaknya petugas screening untuk memperoleh surat keterangan bersih diri dan lingkungan di jaman Orba dulu. Hingga sampailah pada kesimpulan, bahwa sopir taksi itu tidak sedang berbohong dan tidak mengandung unsur tipu-tipu.

Rupanya, orang muda sopir taksi warna kuning nyeter yang ngakunya berasal dari Wonogiri itu adalah sopir anyar gress….., baru mengantongi 8 jam terbang. Dia benar-benar baru pertama kali jadi sopir sejak dilepas dari pool pada jam 11 siangnya, setelah selesai menjalani test dan training. Saya adalah penumpangnya yang keenam di hari pertama itu. Dan sebagai sopir taksi, malam itu adalah malam pertamanya. Pantesan aksi dan gayanya masih rada kaku.

Belum setahun dia lulus sarjana jurusan keperawatan di Solo. Lalu mengadu nasib ke Jakarta dengan menjadi perawat kontrak selama enam bulan di kawasan Depok.  Namanya Tri Wahyudi (seperti tertulis di kartu identitasnya).

Tanggal 6 Januari nanti mas Tri ini mau nikah di Cirebon. Calon istrinya sesama perawat di tempat kerjanya. Karena mau nikah, maka kontrak kerja mas Tri tidak diperpanjang sebab salah satu harus keluar. Mas Tri memilih mengalah keluar dan mencari pekerjaan lain. Hingga akhirnya banting setir menjadi seorang sopir taksi.

Dasar perawat, nyopirnya pun halus sekali (meski tidak semua perawat berperilaku halus, ada juga perawat yang seperti mantan sopir taksi…). Tampak masih takut-takut main serobot dan belum luwes menerobos di tengah kemacetan Jakarta malam itu.

***

Baiklah, lupakan saja dulu perihal pengalaman jadi navigator dadakan sopir taksi. Melainkan saya melihat lebih jauh lagi. Seorang sarjana yang akhirnya jadi sopir taksi karena kehabisan pilihan jenis pekerjaan yang sesuai. Dan, haqqun-yakil mas Tri ini bukan satu-satunya sarjana di Indonesia yang kehabisan pekerjaan. Masih lebih baik tidak menempuh jalan pintas.

Meski ini bukanlah hal yang luar biasa di era reformasi dan keterbukaan ini (termasuk keterbukaan aurat untuk diabadikan dengan ponsel). Cerita semacam inipun sudah berulang kali saya dengar. Tapi malam itu kok tiba-tiba mak gregel….. di hatiku. Setidak-tidaknya sepenggal pengalaman kecil ini mengingatkan saya, bahwa rasanya tidak lama lagi anak-anak saya (juga anak-anak teman sebaya saya) akan berada menjadi bagian dari dunia yang sama. Dunia persilatan rebutan sepotong kue lapangan kerja yang sempit dan tidak lapang (padahal yang namanya lapangan itu mestinya ya luas).

Bagaimanapun saya merasa perlu untuk memberi apresiasi terhadap semangat kerja dan kejujuran mas Tri (termasuk jujur ngajak mencari jalan bareng-bareng malam itu). Maka kalau akhirnya saya memberi ongkos lebih, itu saya niatkan untuk nyumbang rencana pernikahannya dan menyertainya dengan doa.

Bagaimana sebaiknya melihat hal ini? Padahal sebagai seorang sarjana mestinya mas Tri ini punya skill keperawatan. Tapi kenapa mesti keukeuh harus di Jakarta yang sudah umplek-umplekan…… Sapa suru datang Jakarta….!

Apakah memang tempat yang lebih layak sebagai seorang sarjana sudah tertutup bagi mas Tri ini? Mudah-mudahan menjadi sopir taksi hanyalah batu loncatan sebelum terjun ke dunia persilatan entrepreneurship yang tentunya akan bisa membuka lapangan kerja bagi teman-temannya yang lain. Mudah-mudahan tidak kedarung keenakan membanting setir taksi yang dikemudikannya.

Itu kalau tidak keburu keterusan berada dalam comfort zone yang tidak comfortable babar blasss….. hingga tahun 2026. Yang pasti pada saat itu gaya nyopirnya sudah semakin lincah dan gesit srobat-srobot wal serang-serong.

Yogyakarta, 15 Desember 2006
Yusuf Iskandar