Archive for Juli, 2009

Lebih Lama Lebih Baik

31 Juli 2009

Sebelah kiri rumah saya adalah pesantren. Malam ini ada acara tutup tahun ajaran. Acaranya roame, puadet wal-poanjang…. Bagi yg hadir (termasuk saya yang baru saja anjlok dari pesawat), bukan saja nambah pengalaman tapi juga kemalaman. “Tipikal” orang beribadah….. Lebih Lama, Lebih Baik…..

Yogyakarta, 31 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Makan Bakmi Jogja Di Jakarta

30 Juli 2009

Malam Jumat Kliwon, makan bakmi Jogja ‘Mas Tok’ di Jl. Taman Margasatwa, Ragunan. Yen tak pikir-pikir, ini rada enggak mutu…. jauh-jauh datang dari Jogja ke Jakarta, malah makan bakmi Jogja…. Tapi ya enak juga tuh.

(Menempati pelataran bengkel motor, yang kalau malam ramai penggemar bakmi Jawa. Seporsi bakmi biasa Rp 11.000,- ukuran standar, yang special campur ampela, sayap, paha atau kepala Rp 15.000,-. Minumnya teh poci + gula batu disajikan dengan cangkir model kuno)

Jakarta, 30 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Hari Keempat : Kembali Ke Jogja

25 Juli 2009

Transit di bandara Cengkareng…., menuju Jogja setelah meninggalkan Padang tadi pagi… Sayangnyo waktu ambo indak lamo di Padang, cuma malinteh sabanta sajo…

Bandara Cengkareng, 25 Juli 2009
Yusuf Iskandar

***

Alhamdulillah sudah sampai rumah di Jogja dengan aman, tertib dan bermartabak (beli martabak, maksudnya….). Oleh-oleh ikan bilih dari danau Singkarak siap digoreng kering…. Hmmm…

Seringkali ketika akan bepergian jauh, teman & saudara berpesan “Hati-hati….”. Lho, yang mestinya disuruh hati-hati itu kan sopir kendaraan (mobil, pesawat) yang saya tumpangi, bukan sayanya….. Lha, kalau saya sih tinggal numpang lalu tidur…. Atau, jangan-jangan mereka mengira saya sopir?

Malam ini malam Minggu kembali, di rumah, setelah dua minggu meninggalkan keluarga…. Perjalanan Panjang : Yogya – Timika – Padang – Yogya usai sudah dengan beragam kejadian. Ugh…. biasa saja, gak capek kok…. (mo bilang capek takut dikatain istri : “tuh, kan……”).

Yogyakarta, 25 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Hari Ketiga : Dari Sawahlunto Menuju Padang

25 Juli 2009

Jum’atan di kota Solok nan elok…

Di tepinya danau Singkarak… siang, panas, lapar, berhenti di tepi danau, angin semribit, makan pengek ikan sasau dan ikan bilih goreng kering, plus jus timun hijau…

Bukittinggi kota Wisata… Mengunjungi jam gadang, Ngarai Sianok, goa Jepang…

Perjalanan Sawahlunto-Bukittinggi-Padang, 24 Juli 2009
Yusuf Iskandar

***

Dari air terjun lembah Anai nongkrong dulu di pinggir jalan mbelah durian Kayu Tanam. Masuk Padang hari sudah gelap, semakin gelap karena listrik padam…

(Daerah Kayu Tanam terkenal dengan duriannya. Sekedar obat kepingin, beli dua butir seharga Rp 20.000,- Kalau kebanyakan takut nanti jadi malas makan malam….)

Semalam di Padang…, maunya..! Apa daya turun hujan. Mampir ke rumah makan ‘Tepi Laut’, sayang ikan kerapu bakarnya kurang segar… Gak lagi ah…..

Padang, 24 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Hari Kedua : Di Sawahlunto

25 Juli 2009

Hari ini banyak ketemu pemilik tambang rakyat di Sawahlunto, Sumbar. Sekarang mereka “tampak” serius membenahi tambangnya, sejak tragedi yang membunuh 33 org bulan yll.

(Ventilasi adalah masalah utamanya. Kini pemerintah menerapkan persyaratan ketat sehubungan dengan tata cara penambangan rakyat bawah tanah, yang biasa disebut dengan lubang-lubang tambang, batubara di bukit Ngalau Cigak)

Wisata Sawahlunto… Museum tambang “Mbah Soero”, museum Gudang Ransoem, museum kereta api, masjid agung bermenara bekas cerbong PLTU…

Sawahlunto, 23 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Hari Pertama : Tiba Di Ranah Minang

25 Juli 2009

Pagi… Untuk pertama kali menginjakkan kaki di ranah Minang, di bandara Minangkabau, Padang. Langsung meluncur ke Sawahlunto sekitar 100 km arah timur laut.

(Naik taksi bandara ongkosnya Rp 330.000 sampai Sawahlunto. Perjalanan melewati kota Solok nan elok dan jalan Lintas Sumatera yang menuju Muara Bungo, Jambi).

Siang… Mengunjungi tambang rakyat batubara. Lubang-lubang tambang rakyat bawah tanah yang digali dengan cara sangat sederhana, relatif seadanya. Tapi hasilnya luar biasa…

(Batubara yang dihasilkan tambang-tambang ini rata-rata 1 ton/orang/hari. Anggap saja ada sekitar 2.000 orang buruh gali batubara, maka produksinya menjadi sekitar 2.000 ton/hari atau 60.000 ton/bulan. Semuanya untuk memasok kebutuhan PLTU Ombilan 2 x 100 MW, yang menjadi bagian dari jaringan listrik interkoneksi Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumater Utara).

Malam… Mampir ke Ponsel (Pondok Selohan, alias lesehan) di Jalan Lintas Sumatera. Menikmati teh taluah (telur) dan soto padang. Hmmm…

Sawahlunto, 22 Juli 2009
Yusuf Iskandar

——-

Transit Di Jakarta (Dari Timika Menuju Padang)

Seharian tadi ngantor di kantor orang, di Jakarta… Insya Allah besok pagi terbang ke Padang, lalu menuju Sawahlunto, melihat-lihat tambang batubara yang beberapa waktu lalu njebluk…. (ya melihat-lihat saja.….)

Jakarta, 21 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Keluar Dari Tembagapura Naik Heli

20 Juli 2009

Alhamdulillah, pagi ini bisa sampai Timika…, naik chopper. Insya Allah nanti sore terbang ke Jakarta.

(Kebetulan cuaca pagi hari sedang bagus dan ada trip heli atau chopper dari Tembagapura ke Timika. Hanya butuh waktu tempuh 15 menit lebih sedikit, dibanding perjalanan darat 2 jam menyusuri gigir pegunungan)

Timika, 20 Juli 2009 (siang)
Yusuf Iskandar

***

Untung tadi pagi bisa mbonceng Heli, sehingga bisa keluar dari Tembagapura menuju Timika yang jalan keluar-masuknya masih ditutup.

Malam ini mendarat di Jakarta. Sampai hotel langsung nggeblak…. Terpaksa belum sempat pulang ke Jogja, karena perjalanan (Insya Allah) masih akan berlanjut….

(Dari Tembagapura jam 7:00 WIT. Rencana semula dari Timika mau langsung nyambung pesawat Airfast Indonesia jam 9:00 WIT, tapi ternyata pesawat ditunda jam 16:00 WIT sore. Lao-lao — santai – dulu di hotel Rimba Papua yang dulu bernama Sheraton Timika. Penerbangan dari Timika transit di Makassar dan Surabaya, hingga sekitar jam 19:30 WIB tiba di Jakarta)

Jakarta, 20 Juli 2009 (malam)
Yusuf Iskandar

Mexican Food Dan Daun Ciplukan

17 Juli 2009

Santap malam mexican food di resto ‘the Lups’, sambil ngobrol ngalor-ngidul soal tembak-tembakan, bom-boman, dan…… ya makan itu tadi….. Penutupnya minum jamu favorit, rebusan daun ciplukan. Wupps…., pahitnya minta ampyun.

(The Lups adalah kependekan oleh lidah bule untuk menyebut nama restoran di kota tambang Tembagapura yang lengkapnya bernama ‘Lupa Lelah Club’)

Tembagapura, 17 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Terpaksa Belum Bisa Meninggalkan Tembagapura

17 Juli 2009

Maksud hati Sabtu besok pulang ke Jogja, apa daya jalan dari Tembagapura menuju ke Timika masih ditutup karena (dinyatakan) belum aman. Terpaksa pulangnya mundur entah sampai kapan…. Ugh, tidur lagi aja ah…. (tahu-2 terbangun, ada bom njebluk di Jakarta…..)

(Sejak insiden penembakan hari Sabtu, Minggu, Selasa, Rabu dan terakhir Jumat, praktis selama empat hari terakhir ini jalan utama Timika – Tembagapura terutama antara Mile-50 – Mile-66 yang merupakan kawasan perbukitan ditutup, karena menurut aparat polisi masih dinyatakan belum aman)

Tembagapura, 17 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Pagi Mendung Di Tembagapura

16 Juli 2009

Pagi mendung berkabut tipis di Tembagapura
Berjalan menyusuri pepohonan cemara
yang sensasi baunya begitu menggairahkan
Melupakan sejenak mbak-temmbak…..
nun tidak terlalu jauh di luar sana…..

Tembagapura, 16 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Ke Tembagapura Di Saat Yang “Kurang Tepat”

13 Juli 2009

Alhamdulillah, malam ini sekitar jam 20:00 WIT sampai juga saya di Tembagapura, Papua. Setelah sempat 6 jam tertahan di area Mile-50, akhirnya ikut rombongan konvoi bis karyawan dikawal polisi melewati “medan tempur” Mile 51-53. Asyik…asyik…, soalnya sopir dan penumpang lainnya saya tinggal tidur di bis….

Tembagapura, 13 Juli 2009
Yusuf Iskandar

***

Tadi malam berangkat dari rumah JK terus ke SBY….., sore tadi sudah sampai TIM….. (JK: Jogjakarta; SBY: Surabaya; TIM: Timika)

Malam ini nginap di Timika dulu (hotel Rimba Papua, dulu bernama Sheraton Timika), sambil menunggu penembaknya pergi….. Menikmati menu healthy food, baramundi rebus + sayur mentah, dimakan pakai garam + merica, kentang panggang….

(Sejak ada insiden penembakan pada Sabtu pagi dan Minggu siang, 11-12 Juli 2009, di area Mile 52-53 jalur jalan dari Timika menuju kota tambang Tembagapura, lalu lintas semua kendaraan sangat diperketat dan dibatasi untuk alasan keamanan)

Timika, 12 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Usai Pilpres

9 Juli 2009

Suara Tuhan…

Sampai sekarang saya tidak habis pikir. Sehari sebelum pilpres saya memutuskan mau nyontreng JK. Lha ketika di dalam bilik kok yang saya contreng SBY… Cukup lama saya kami tenggengen (terbengong-bengong) di dalam bilik, sampai istri dan anak saya yang nyontreng setelah saya sudah di luar, saya baru melipat kartu suara.

Ah… suara Tuhan memang ‘aneh’. Yo wis, saya ikhlaskan saja… Dan, saya memutuskan tidak ingin bicara ‘aneh-aneh’ di televisi…….

Yogyakarta, 9 Juli 2009
Yusuf Iskandar

***

Antara Pesta Nyontreng Dan Ngurus Warung

Ikut pesta nyontreng : datang, nyontreng & pulang, tidak sampai 5 menit. Tapi nyontreng barang-barang di warung yang persediaan stoknya terlambat atau habis, bisa berjam-jam. Faktanya : masa depanku ada di depan warung, bukan di depan ‘pesta’. Jadi? Lebih baik ngurus warung seperti ngurus ‘pesta’, ketimbang ngurus ‘pesta’ seperti ngurus warung….

(Hari ini saya merayakan pesta demokrasi dengan nyontreng pada jam 10:25 WIB, di TPS 03, Wirogunan, Mergangsan, Yogyakarta, bersama istri dan anak. TPS ini lokasinya dekat “Bintaran Mart”. Setelah nyontreng langsung menuju “Madurejo Swalayan” yang berjarak sekitar 15 km. Alhamdulillah, di saat orang-orang berpesta justru warung ritel saya ramai pengunjung…)

Yogyakarta, 8 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Kenapa Kita Terjatuh?

7 Juli 2009

Menjelang tidur tadi malam, sekilas kujumpai sepenggal dialog di bioskop Trans TV :
“Kenapa kita terjatuh?”
“Agar kita tahu bagaimana caranya bangkit”.

Lalu TV kumatikan dan pergi tidur :
“Kenapa tidur?”
“Agar bisa mensyukuri indahnya bangun dari tidur”.
Lanjutkan menunda tidur, esok bisa terlambat berjumpa matahari… Lebih cepat tidur, belum tentu juga akan lebih baik… Jadi? Jual saja TV-nya…

(Film yang saya lihat menjelang tengah malam tadi malam itu rupanya berjudul “Batman Begins”)

Yogyakarta, 7 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Sate Khas Senayan Yang Tidak Terasa Khasnya

5 Juli 2009

Seorang relasi mengajak makan siang di bilangan mal Citywalk, Jl. Mas Manysur, Jakarta. Terpilihlah resto Sate Khas Senayan Express, satu dari sekian banyak cabangnya yang ada di Jakarta. Koleksi menunya cukup komplit dan katanya semua menu masakannya serba enak. Lha wong namanya ditraktir, ya saya manut saja. Meski begitu, naluri untuk melakukan icip-icip atas apa yang saya makan tetap berjalan.

Merasa terprovokasi oleh judul restonya, yaitu ‘sate khas’, saya menjadi antusias ingin mencobanya. Wajar kalau kemudian saya berharap akan menemui sate dengan rasa khas atau paling tidak ada sesuatu yang khas di sana. Siang itu resto ini cukup penuh dipadati pemakan (orang yang makan). Memperhatikan padatnya pengunjung, saya menjadi semakin bersemangat ingin segera mencobanya. Kami pun rela menunggu beberapa menit sampai ada tempat yang kosong ditinggal pemakan sebelumnya.

Meski banyak menu ditawarkan, saya fokus pada menu utama sesuai judulnya, yaitu memesan sate kambing. Saya baca harganya 37 (angka ini harus dibaca dalam ribuan), sedang kalau sate saja 27, artinya ada selisih harga 10 untuk seporsi nasi atau lontong. Sedang minumnya sengaja saya pilih yang namanya rada aneh, yaitu wedang angsle seharga 18. Minuman ini mirip-mirip wedang ronde, disajikan hangat berbahan minuman jahe dengan tambahan ramuan macam-macam ada kolang-kaling, kacang hijau, cendhol, dll.

Tidak perlu menunggu lama, sate pun tersaji di meja. Kata relasi saya yang biasa makan di situ, kebiasaannya kalau menyajikan pesanan sate atau tongseng seringkali nasi atau lontongnya terlambat disajikan, tidak sekaligus disertakan bersama sate atau tongsengnya. Dengan kata lain, jangan diam saja meski pesanan satenya sudah disajikan, melainkan perlu mengingatkan pelayannya agar nasi atau lontongnya segera disusulkan. Pengalaman relasi saya, pernah nasinya kelamaan disajikan, hingga satenya habis dithithili (dimakan sedikit-sedkit) satu-satu karena nasinya lama tidak datang-datang. Ketika sang nasi akhirnya muncul, tentu saja disuruh mengembalikan (takut dikira sedang mutih…, laku prihatin hanya makan nasi putih thok…).

Seporsi sate kambing terdiri dari enam tusuk dan setiap tusuknya terdiri dari empat iris kecil daging kambing. Bumbu satenya berupa kecap ditambah dengan sedikit sambal dan irisan bawang merah. Kemudian satu demi satu potongan daging satenya saya coba mengunyah pelan-pelan, sambil berharap akan menemukan dan merasakan kekhasannya. Sayangnya pada siang itu (entah pada siang-siang lainnya…), proses pembakarannya agak kurang matang. Ada beberapa potong daging yang agak alot dikunyah hingga terpaksa saya lepeh (dibuang dari mulut) karena gigi saya tidak mampu mengunyahnya.

Usai makan, sambil ngobrol, sambil menghabiskan dan menikmati wedang angsle, sambil saya mikir-mikir (jarang ada orang yang bisa melakukan, kekenyangan habis makan kok mikir….). Kalau rasa satenya ternyata standar alias biasa-biasa saja, lalu apanya yang khas? Selain minuman penutup wedang angsle yang rasanya memang rada khas, akhirnya saya temukan juga kekhasan resto ini. Bahwa pengunjung rela membayar mahal karena membeli suasananya, maksudnya suasana khas makan di mal yang ramai, gemebyar dan penuh pandangan warna-warni, termasuk kaum hawa yang berseliweran mengenakan pakaian berbahan kurang.

Maka kalau tujuannya hendak makan sekedar mencari pengganjal perut yang lagi kosong, makan sate di kaki lima akan lebih puas dan efisien dari segi biaya. Tetapi kalau tujuannya hendak menemukan suasana entertainment dan gengsi, tempat ini dapat menjadi alternatif. Anda yang punya kantong, Anda yang punya isinya, dan Anda pula yang punya hak menyontreng pilihan menunya.

Yogyakarta, 5 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Menikmati Pilpres Sebagai Acara Entertainment

4 Juli 2009

Pesta demokrasi kedua tahun ini segera berlangsung di seluruh pelosok negeri. Pesta itu bernama Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan digelar pada hari Rabu, 8 Juli 2009. Dari sekian puluh juta warga yang berhak hadir di pesta, ada yang menganggapnya penting dan siap melakukan langkah tegap menuju pesta, ada yang biasa-biasa saja lenggang-kangkung, ada yang cuek-bebek ogah-ogahan, ada juga yang “ah, prek…”. Kelompok yang terakhir ini lebih memilih jadi penggemar Michael Jackson melakukan moonwalk di bulan purnama Rabu Pahing, tanggal 15 Rajab 1430H.

Inilah pesta yang ditunggu-tunggu hasilnya oleh sebagian besar rakyat negeri, bahkan termasuk oleh kelompok “ah, prek…”. Yang ditunggu adalah hasilnya, bukan pestanya. Siapa diantara tiga kandidat yang akan menerima mandat rakyat untuk melanjutkan memimpin negeri ini. Mudah-mudahan kata ‘memimpin’ juga diterjemahkan sebagai membangun, memajukan, memakmurkan, mensejahterakan serta mengamankan. Bukan hanya memimpin thok…., setelah itu terserah rakyatnya disuruh bangun dan sejahtera sendiri-sendiri.

***

Capres No. 1 Megawati Soekarnoputri

Capres No. 1 - Megawati Soekarnoputri

Capres No. 2 - Susilo Bambang Yudhoyono

Capres No. 2 - Susilo Bambang Yudhoyono

Capres No. 3 - Muhammad Jusuf Kalla

Capres No. 3 - Muhammad Jusuf Kalla

Sejak acara pra-pesta antara lain kampanye dan debat capres/cawapres, saya mencoba menikmati suasananya, melalui media surat kabar, televisi maupun internet. Adakalanya seru, ada kalanya lucu, ada kalanya menggemaskan, sesekali menjengkelkan. Satu-satunya cara untuk bisa menikmati serangkaian acara pra-pesta itu adalah menjadikannya sebagai sebuah acara entertainment. Dengan begitu saya tidak perlu membuang energi untuk mikir, melainkan nikmati saja, enjoy aja

Ketika yang muncul di permukaan adalah tentang sesuatu yang logis dan masuk akal, saya manggut-manggut. Ketika yang terdengar adalah tentang mimpi, saya menghisap rokok dalam-dalam kemudian saya tiupkan asapnya ke layar televisi. Ketika ada yang lucu, segera saya mengingat lagunya Mbah Surip lalu tertawa bersama anak saya dengan irama serak patah-patah. Enak to…., mantep to….

Acara debat capres (terutama yang terakhir) lebih enak dinikmati. Tidak monoton dan datar seperti debat sebelumnya. Bak sebuah pertunjukan teater, ada pemainnya yang nampak piawai berimprovisasi dan melakukan blocking dengan manis di atas pentas. Ada juga muncul paparan dialog yang begitu runtut, sistematis dan enak didengar dengan mimik meyakinkan. Namun sesekali ada juga yang menyanyikan lagunya Kuburan Band, dari nada kunci C, A minor, D minor, ke G, ke C lagi…, ke C lagi…., ke C lagi…. Semuanya berlangsung wajar, apa adanya (ya memang seperti itulah adanya).

Sungguh saya begitu menikmatinya, membuat saya semakin bisa membaca apa yang ada di pikiran mereka, bagaimana cara mikirnya, serta bagaimana mereka menata, mendudukkan dan berbagi buah pikirannya. Akhirnya dapat mempersempit pilihan saya (meskipun sampai mendekati hari pesta rasanya kok masih enggak sempit-sempit juga, dan itu pun tidak terlalu menjadi soal). Kalaupun saya belum punya pilihan hingga detik terakhir, semoga sekian puluh juta tetangga saya sebangsa dan setanah air sudah menentukan pilihannya secara demokratis. Suka tidak suka dan setuju tidak setuju, negeri ini pasti akan dipimpin oleh seorang presiden, setidak-tidaknya oleh satu di antara ketiga kandidat yang ada.

Saya ingat ketika tahun lalu Barack Obama dan John McCain saling berdebat dan beradu argumen sebagai bagian dari agenda pesta demokrasi Amerika. Masing-masing kandidat menunjukkan kelasnya tanpa perlu merasa saling tidak enak atau tidak sopan, melainkan terbungkus dalam kemasan pesta demokasi. Rakyat Amerika pun tidak merasa bosan duduk di depan televisi mengikuti acara semacam itu, karena mereka menikmatinya sebagai acara entertainment yang mendidik, bernas dan menambah wawasan.

Saya berusaha menikmati acara debat tiga capres Indonesia seperti rakyat Amerika menikmati acara yang sama menjelang pemilihan presidennya. Maka yang melintas di pikiran saya adalah acara entertainment tentang bagaimana tiga selebriti politik negeri ini tampil di depan publik, mempertontonkan kapabilitas, kompetensi dan kelayakannya untuk dipilih.

Kalaupun kemudian masih juga saya merasa sulit untuk memilih, maka saya akan tetap ingin mengikuti pestanya untuk menikmati suasananya. Sebab ini adalah acara entertainment lima tahunan. Teriring doa seperti tulisan di atas pintu tol Bogor dari arah Jakarta : “Kutunggu Campur TanganMu Tuhan Pada 8 Juli 2009”.

Yogyakarta, 4 Juli 2009 (‘Met Ultah Amerika….!)
Yusuf Iskandar

Kisah Kecil Tentang Pesawat Salah Parkir

4 Juli 2009

IMG_2919_rMinggu lalu (27/06/09), pesawat Lion Air mengalami insiden di bandara Selaparang, Mataram, NTB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Berita di berbagai media menyebutkan pesawat tergelincir, ada juga yang menulis keliru belok dan ada yang melaporkan salah parkir. Apapun kejadian yang sebenarnya, yang pasti telah terjadi sesuatu yang tidak seharusnya yang berpotensi menyebabkan kecelakaan yang lebih fatal.

Media menceritakan bahwa pesawat jenis MD 90 yang seharusnya berputar di ujung landasan ternyata sudah memutar duluan sebelum mencapai ujung landasan. Sepertinya sang pilot tidak sabar menunggu mencapai ujung landasan yang berarti harus menambah jarak tempuh 500 meter lagi. Atau pilotnya “lupa” bahwa badan pesawat MD 90 tergolong langsing tapi bongsor memanjang, sehingga ketika memutar tidak bisa dipaksa untuk sekali “jadi”. Kalau mobil bisa atret maju-mundur, lha kalau pesawat perlu dibantu kendaraan pendorong.

Tulisan ini bukan bermaksud membahas apa yang terjadi, melainkan : “Kok bisa sih kesalahan yang tidak seharusnya itu terjadi?”. Jangan-jangan karena sikap keteledoran atau kesembronoan menganggap remeh masalah kecil dalam bisnis penerbangan. Untung masih di darat, lha kalau terjadinya di awang-awang, njuk piye (lalu bagaimana)?

***

Insiden di bandara Selaparang itu mengingatkan saya pada peristiwa kecil yang pernah saya alami di bandara Supadio, Pontianak, sekitar setahun yang lalu. Peristiwa yang terjadi sangat sederhana dan nyaris tidak ada yang memperdulikan. Tapi bagi saya dan seorang teman, kejadian ini menjadi bahan guyonan meski rada getir.

Menjelang tengah hari, pesawat Batavia Air yang saya tumpangi dari Yogyakarta mendarat di bandara Supadio, Pontianak. Sepanjang perjalanan baik-baik saja, meski keberangkatannya sempat terlambat dua jam. Ketika pesawat bergerak menuju apron area parkirnya, dari dalam pesawat saya lihat ada petugas darat yang kedua tangannya mengayun-ayunkan piranti pemberi tanda agar pesawat terus bergerak.

Petugas parkir itu (saya sebut saja begitu) berada di ujung slot parkir No. 7 (tulisan angka 7 berwarna putih sangat jelas tertulis buesar-buesar di aspal bandara). Ketika pesawat mendekat, tinggal satu tangan petugas parkir yang berayun yang berarti pesawat harus belok mengikuti garis slot parkir yang dimaksud. Eh,  lha kok ternyata pesawatnya bablas saja melewati slot No. 7 menuju ke slot No. 6. Melihat hal itu saya berpikir barangkali memang bukan di situ lokasi parkir pesawat yang saya tumpangi. Seandainya saya duduk di dekat sopir pesawatnya, mungkin pundak sopirnya saya seblak (tepuk) dan saya ingatkan : “Parkirnya kebablasan, mas…”.

Ternyata benar. Beberapa detik kemudian pesawat berputar 180 derajat, kembali menuju ke slot parkir No. 7. Untung area parkiran di slot No. 6 sedang kosong sehingga pesawat bisa bermanuver bebas untuk berbalik arah. Seandainya di situ ada pesawat lain yang parkir, pasti akan butuh kendaraan pendorong untuk mundur lagi. Dalam hati saya bertanya-tanya, kok bisa-bisanya salah parkir. Sebab sebelum pesawat menuju apron kawasan parkir tentunya sudah diberitahu oleh petugas darat dimana dia harus parkir dan petugas parkir pun sudah memberi tanda dengan eblek-eblek (piranti berwarna oranye yang diayun-ayunkan) di kedua tangannya.

Ketika akhirnya turun dari pesawat, teman seperjalanan saya bertanya menyindir kepada pramugarinya sambil guyon : “Pilotnya baru ya, mbak?”. Si mbak pramugari rupanya juga tidak menyadari apa yang terjadi dan menjawab serius : “Oh, tidak pak”.

***

Maka kalau kini saya mencatat ada dua kejadian pilot salah parkir atau salah belok atau kekeliruan apapun yang nampaknya kecil dan sederhana, itu terjadi di darat. Bagaimana kalau kekeliruan kecil semacam ini terjadinya di awang-awang langit? Jangan-jangan insiden atau malah tragedi kecelakaan pesawat yang akhir-akhir ini sering terjadi juga bermula dari kekeliruan kecil yang dilakukan entah oleh siapapun?

Hal-hal besar, baik atau buruk, sukses atau gagal, jatuh atau bangun, seringkali bermula dari hal-hal kecil yang nampaknya sederhana dan tidak apa-apa. Kisah tragis, kisah sukses, dan kisah-kisah tak terduga lainnya, seringkali berawal dari hal-hal kecil yang nampaknya tidak ada apa-apanya. Karena itu sebaiknya siapapun (baik mereka yang sedang sukses maupun yang sedang terpuruk) agar bisa belajar untuk memaknai setiap hal sebagai sebuah awal dari sesuatu yang (bisa menjadi) besar.

Para pendahulu kita (pendahulu dalam negeri maupun pendahulu luar negeri) telah membuktikannya tanpa mereka menyadari hasilnya. Maka kita para pewaris, pengikut dan penggembira mestinya bersyukur bisa belajar dari pendahulu kita itu.  Ungkapan “Small is Beautiful” hanya bermakna bagi mereka yang paham artinya besar itu apa, baik dalam hal yang positif maupun negatif, bencana maupun anugerah.

Yogyakarta, 4 Juli 2009 (‘Met Ultah Amerika….!)
Yusuf Iskandar

Di Terminal 1 Cengkareng

3 Juli 2009

Di Terminal 1-B bandara Cengkareng, Jakarta. Menatap layar monitor info keberangkatan Batavia Air sore tadi, hampir semua penerbangan berkode STD jam sekian, yang berarti… d-i-t-u-n-d-a berjamaah… Jadi kemalaman sampai rumah.

***

Kalau check-in di Terminal 1 A-B-C bandara Cengkareng, jangan percaya begitu saja pada No. Gate yang tertulis pada karcis boarding maupun layar monitor, sebab seringkali masih teka-teki….

(Beberapa kali saya kecele mengandalkan info No. Gate pada karcis boarding. Kenyataannya seringkali berubah tanpa pemberitahuan via halo-halo umum, sehingga ketika saya ngepas tiba waktu boarding baru masuk ruang tunggu ternyata ruangannya sepi karena penumpang lain sudah pindah ruangan).

Jakarta, 3 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Sate Khas Senayan Express

3 Juli 2009

Makan siang di ‘Sate Khas Senayan Express’ yang rasa satenya tidak khas sama sekali alias biasa-biasa saja. Seporsi terdiri 6 tusuk @ 4 iris daging kecil harganya 27 ribu + nasi putih 10 ribu (untung dibayarin…). Yen tak pikir-pikir…, resto ini hanya cocok untuk tujuan entertainment. Jika tujuannya sekedar agar tidak lapar, maka lebih hemat dan efisien nyate di kaki lima…

(Sebenarnya yang sedang dibeli dan dinikmati oleh konsumen adalah suasana dan gengsinya. Lebih dari itu rasa satenya standar. Maka pilihan ada di kantong konsumen…)

Jakarta, 3 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Slogan Di Tol Jagorawi

2 Juli 2009

Di atas gerbang tol (Jagorawi) sebelum masuk Bogor dari Jakarta, terpampang slogan dua baris kalimat besar-besar, bunyinya (ngngng… rada aneh…) :

KUTUNGGU CAMPUR TANGANMU TUHAN PADA 8 JULI 2009
GUNAKAN SABUK KESELAMATAN MELALUI AGAMA MASING-2

Sejujurnya, saya agak mengernyitkan dahi. Kepada siapa slogan itu ditujukan, bagaimana relevansinya, opo to mangsud-e…. Jangan-jangan Srimulat yang menulis….

Jakarta, 2 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Buah Apa Gerangan Namanya?

1 Juli 2009

Menggantung satu-satu (tidak bergerombol) di pohon-pohon kecil yang sedang berbuah di tepi jalan keluar dari bandara Cengkareng (Soekarno-Hatta, Jakarta), seperti mangga, berwarna hijau, seukuran jambu kluthuk atau bola tenis kecil sedikit. Kata sopir taksi, buah itu tidak enak dimakan…. Pantesan, aman tak terusik di sana…

Jakarta, 1 Juli 2009
Yusuf Iskandar