Posts Tagged ‘samarinda’

Pak Burhanuddin Sang Tukang Ojek

9 Oktober 2010

Cara mengendarai motornya terkesan hati-hati, pelan-pelan saja, tidak grusa-grusu seperti tukang ojek umumnya. Dialah Haji Burhanuddin, asli Samarinda, kakek empat cucu dari empat anak. Telah 12 tahun mengojek, sejak memutuskan banting setir dari profesi sebelumnya sebagai bagian marketing toko alat tulis. Alasannya (banting setir) sederhana, karena pekerjaan sebelumnya membuat dia sulit menghindar dari perilaku “kong kalikong untuk korup” ketika harus bertransaksi dengan instansi pelanggannya.

Samarinda, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Serangan Fajar

9 Oktober 2010

Berkat kepiting asap dan tumis pakis tadi malam, dan sambalnya itu lho….., kombinasi sambal terasi dan sambal mangga yang tidak terlalu pedas tapi manstaff tenan… Terpaksa harus rela menerima serangan fajar, pagi umun-umun (pagi sekali) sudah gedandapan (keburu-buru) ke peturasan melampiaskan hajat yang tidak bisa ditunda sedetikpun. Syukurlah, subuhnya jadi tidak terlambat…

Samarinda, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kepiting Asap RM “Pondok Borneo”

9 Oktober 2010

Seorang teman ngiming-iming menjamu makan malam kepiting asap di RM Seafood “Pondok Borneo”, Samarinda. Ya, jelas mau…

Kepiting perempuan yang mengandung telur, dibungkus alumunium foil, dibumbui mirip-mirip kare tapi tidak berkuah, diasap sampai masak, bumbunya begitu meresap. Huuh, membuat jadi nggak sabar… Ditambah kepiting laki-laki rebus berbumbu bawang putih sederhana, dilengkapi dengan tumis pakis… Wauw! Layak untuk disambangi lagi.

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Bandara Sepi…

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan, mbak pramugari Lion Air JT 670 jurusan Jogja – Balikpapan, memberitahu: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara sepi…..”. (Lho, ada apa kok bandaranya sepi, pikirku penuh tanda tanya). Sejenak kemudian diulangi: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan”…. Wooo, mbak pramugarinya tersedak to… Tersedak saja kok milih yang sepi…

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Nggak Sabaaar…!

9 Oktober 2010

Meninggalkan bandara Sepinggan Balikpapan, langsung meluncur ke Samarinda sejauh 115 km. Ada komitmen penting yang harus dipenuhi hari ini. Eh maksudnya, komitmen untuk memenuhi undangan karena sudah ditunggu sama kepiting asap…. Nggak sabaaaaar…!

Balikpapan, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

25 Juli 2008
Kijang Innova Terpaksa Ditarik

Kijang Innova Terpaksa Ditarik

Hari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan bersama teman-teman ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Kijang Innova Tertatih-tatih Melewati Kubangan Lumpur

Kijang Innova Tertatih-tatih Melewati Kubangan Lumpur

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova sambil tertatih-tatih berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km dengan berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Si Putih Yang “Mengganggu” (Sebuah Komposisi)

5 Juni 2008

Jembatan Kuning

Warna putih berkonotasi suci atau bersih. Tapi terkadang bisa juga “mengganggu”, seperti pengendara sepeda motor dalam foto ini. Pengendara sepeda motor nampaknya “salah” mengenakan warna baju, sehingga baju putihnya agak “mengganggu” komposisi warna yang tiba-tiba terbangun di tengah kepadatan lalulintas di atas jembatan sempit sungai Mahakam, di Samarinda.

(Foto : Yusuf Iskandar — Diambil tanggal 28 Mei 2008, sekitar jam 12:00 WITA)

Terjebak Lumpur Di Berau, Kaltim

28 Maret 2008

terjebak lumpur

Hujan semalam telah menyebabkan transportasi di jalan poros antara Samarinda – Tanjung Redeb, Kaltim, terhambat cebakan lumpur. Jalan poros ini adalah satu-satunya sarana transportasi darat bagi masyarakat dari kedua kabupaten, Berau dan Kutai Timur, baik untuk transportasi penumpang, logistik maupun keperluan ekonomi lainnya.

Cebakan terparah terjadi pada lokasi sekitar 535 km utara Balikpapan, atau jam ke-15 perjalanan darat dari Balikpapan, di tengah hutan di dekat perbatasan antara Kabupaten Kutai Timur dengan Berau.

(Foto – Ketika kijang Innova yang saya tumpangi sedang berusaha ditarik keluar dari cebakan lumpur setelah menunggu cukup lama, tanggal 5 Januari 2008, jam 14:00 WITA – Yusuf Iskandar)

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Muara WahauHari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Yogyakarta, 11 Januari 2007.
Yusuf Iskandar

Pantas Iri Dengan Kota Samarinda

19 Maret 2008

Orang akan mengatakan bahwa kota Balikpapan adalah pintu gerbang propinsi Kalimantan Timur, meskipun kota Samarinda adalah ibukotanya. Balikpapan memang telah beranjak menjadi kota besar, padat, ramai, dan berkembang pesat. Kelebihannya kota ini tergolong kota yang enak dikunjungi, rapi dan suasana kotanya relatif tertib.

Namun coba agak menjauh ke utara sejauh 115 kilometeran menuju kota Samarinda. Sungguh sayang, ibukota propinsi yang tahun depan akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional ini memang juga tergolong padat dan ramai, tapi suasana lalu lintas kotanya sungguh bertolak belakang. Cenderung semrawut.

Bagi mereka yang baru pertama kali mengemudikan kendaraan di kota ini rasanya mesti ekstra hati-hati. Dibandingkan dengan kota-kota besar ibukota propinsi lainnya di Indonesia, suasana berlalulintas di kota Samarinda terasa sekali sangat berbeda. Terutama dengan sopan-santun pengemudi kendaraan sepeda motor. Betapa begitu membahayakannya.

Kita akan dikejutkan dengan sliwar-sliwer-nya sepeda motor yang memaksa menyalip mak srunthul dari kiri dan dari kanan dengan kecepatan tinggi, mak jegagik memotong di depan, mak kluwer dari samping, dan pokoknya…… ampun deh…..! Sangat jarang saya jumpai pak polisi menjaga di persimpangan jalan, meki tentunya ketidakberadaan pak polisi bukanlah menjadi sebab.

Pendeknya, lalu lintas sepeda motor di Jakarta dan di Jogja yang konon sudah dianggap semrawut, maka itu masih kalah dibandingkan dengan di Samarinda. Ternyata pengalaman yang saya ceritakan ini memang dibenarkan oleh banyak teman, baik yang sering berkunjung ke Samarinda maupun yang sudah bertahun-tahun menetap di sana.

Puluhan kali saya jumpai di persimpangan jalan berlampu-lalulintas. Yang hampir selalu terjadi adalah, ekornya lajur jalan yang baru berubah menjadi merah akan tempuk dan bundhet dengan kepalanya lajur yang baru berubah menjadi hijau. Maka jangan hueran kalau meskipun lampu sudah berubah menjadi merah, tapi pengguna jalan dengan tenang saja masih nyelonong memaksa masuk ke persimpangan. Uh…!

***

Kendati demikian, agaknya kita pantas iri dengan kota Samarinda. Bagaimana tidak? Bulan lalu kota ini meraih penghargaan dari pemerintah berupa anugerah tropi Wahana Tata Nugraha, sebagai lambang ketertiban lalu lintas. Tidak tanggung-tanggung, anugerah ini adalah untuk yang kesembilan kalinya.

Luar biasa. Bagi saya ini adalah hal luar biasa. Luar biasa sulit dipahami. Bisa jadi pandangan saya sangat subyektif. Tapi melihat pengalaman selama ini, rasanya kok hil yang mustahal kalau bisa sembilan tahun berturut-turut meraih anugerah lambang ketertiban lalu lintas kota……

Rupanya warga kota Samarinda sendiri kelihatannya “risih” dengan penghargaan itu. Setiap kali tropi diraih, setiap kali pula diarak keliling kota, dan setiap kali pula warganya “cuek”, lebih memilih sibuk di warung kopi memperbincangkan kontroversi penghargaan yang diraih kota itu. Ini kata pak Walikotanya sendiri, yang saya baca di koran lokal.

Dan, pak Walikota pun bertekad untuk mempertahankan prestasi ini agar tahun depan berhasil menyabet penghargaan Wahana Tata Nugraha untuk digenapkan menjadi kesepuluh kali.

Dalam hati saya (mungkin juga sebagian warga kota Samarinda) bertanya-tanya, apanya yang sebenarnya hendak dipertahankan…… tropinya atau semrawutnya?

Yogyakarta, 27 Mei 2007
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda 9

15 Maret 2008

(9).   Menyeberang Ke Balikpapan

Di pelabuhan penyeberangan kota Penajam inilah jalan Trans Kalimantan penggal selatan, atau Jalan Ahmad Yani, atau Jalan Propinsi, atau Jalan Negara, atau Jalan Raya Penajam seolah-olah berujung, yaitu di pelabuhan penyeberangan menuju kota Balikpapan. Selanjutnya dari Balikpapan akan disambung lagi dengan jalan Trans Kalimantan penggal utara sampai terus ke atas entah dimana ujungnya (mudah-mudahan kelak saya akan mempunyai kesempatan untuk melihat ujungnya).

Tiba di pelabuhan penyeberangan, rupanya kami adalah kendaraan pertama yang masuk sejak kapal fery terakhir berangkat. Kami harus membayar biaya penyeberangan Rp 103.000,- untuk satu kendaraan, berapapun isi penumpangnya. Untungnya tidak perlu menunggu terlalu lama. Segera kami diaba-aba untuk masuk ke kapal fery yang akan menyeberangkan kami dari Penajam menuju Kariangau di pinggiran Balikpapan. Kapal fery itu katanya selalu penuh. Pada siang itu saya lihat setidaknya ada sekiar 10 kendaraan segala macam jenis turut menyeberang, masih ditambah puluhan sepeda motor. Kapalnya memang tidak terlalu besar, tidak sebesar kapal fery penyeberangan antara Jawa – Sumatera atau Jawa – Bali.

Angkutan penyeberangan ini termasuk sangat vital sebab inilah cara tercepat untuk menuju Balikpapan dan sebaliknya, termasuk semua aktifitas ekonomi akan menggunakan sarana ini. Kegiatan penyeberangan ini beroperasi 24 jam, karena itu tidak perlu khawatir jam berapapun kita tiba di pelabuhan Penajam. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, ada alternatif untuk menyeberang dengan menggunakan speed boat. Waktu tempuh untuk menyeberang dengan speed boat tentu lebih cepat dibanding fery, dengan ongkos per kepala yang lebih mahal.

Hanya perlu waktu satu jam untuk menyeberang, hingga akhirnya saya mendarat di sisi barat daya kota Balikpapan. Satu jam seperti tidak terasa. Sebab sambil beristirahat, bisa sambil menikmati pemandangan alam laut, pelabuhan dan pulau-pulau di sekitarnya. Bisa dipahami, karena ini adalah suasana baru setelah sekian hari melihat daratan yang membosankan.

Namun satu jam bisa jadi menjengkelkan kalau itu adalah perjalanan kembali dari cuti bagi para pekerja pendatang yang besoknya harus bekerja kembali menanti periode cuti berikutnya. Uh, apa boleh buat….     

***

Memasuki kota Balikpapan saya hanya sempat melewati pinggirannya saja, sebab perjalanan akan terus dilanjutkan menuju ke Samarinda. Saya jadi ingat, di kota ini tinggal cukup banyak teman-teman saya. Setidak-tidaknya kota ini sering diceritakan sebagai kota transit bagi banyak pekerja tambang, minyak dan geologi untuk cuti pulang kampung atau kembali ke tempat kerja. Tapi menyadari bahwa saya hanya akan numpang lewat saja di Balikpapan, beberapa teman hanya sempat saya halo-halo, numpang lewat. Mudah-mudahan lain kesempatan punya waktu lebih longgar untuk mengeksplorasi kota ini, yang kabarnya termasuk kota yang biaya hidupnya tergolong ngudubilah tingginya.

Perjalanan menuju kota Samarinda masih sekitar 115 km lagi. Hari sudah sore saat meninggalkan kota Balikpapan. Lalu lintas ke luar kota cukup padat. Juga jalan ini melintasi kawasan penduduk yang tampaknya juga padat. Kendaraan pun sepertinya semua melaju dengan kecepatan tinggi, melintasi jalur Balikpapan – Samarinda yang sangat bagus dan mulus kondisi jalannya. Sebagus berbagai jenis kendaraan yang melintasinya. Barulah ketika melewati sekitar kilometer 12 kondisi jalan mulai tampak kurang padat dan mulai memasuki kawasan yang kurang penduduknya. Pemandangan tampak lebih hijau dan banyak pepohonan.

Senja menjelang, perjalanan memasuki kawasan hutan Bukit Soeharto. Meski sudah rada-rada gelap, namun terkesan bahwa ini adalah tempat yang indah, teduh dengan udara menyegarkan di kala siang. Setidak-tidaknya bisa mengimbangi kota Balikpapan yang panas, padat dan berpolusi. Lokasi Bukit Soeharto pun tidak terlalu jauh dicapai dari Balikpapan, barangkali hanya sekitar 45 menit naik kendaraan agak ngebut.

Perjalanan terus kami lanjutkan menuju ke kota Samarinda, karena sudah kami jadwalkan malam itu untuk menginap di sana. Beberapa teman kuliah yang sejak lepas bangku kuliah dulu tidak pernah ketemu sudah hola-halo saja, kepingin reuni kecil-kecilan. Ya maklum wong sudah 20 tahunan tidak ketemu. Padahal dulu belajarnya sama-sama (itu juga enggak ngerti-ngerti juga). Padahal dulu tinggal sekamar berdua di Patehan Lor, demi menghemat biaya kost.

Yogyakarta, 10 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(10).   Di Tepinya Sungai Mahakam

Kira-kira sudah lewat jam tujuh malam, ketika akhirnya tiba di kecamatan Loa Janan. Tadinya saya pikir sudah masuk Samarinda, soalnya kota kecil Loa Janan malam itu demikian padat dan lalulintas berjalan merambat. Rupanya kota Samarinda masih delapan kilometeran lagi. Praktis, kota Loa Janan dan Samarinda sepertinya sudah menjadi satu. Tak ubahnya Jakarta dengan wilayah-wilayah penyangga di seputarannya. Hingga akhirnya memasuki kota Samarinda, serasa tak beda dengan memasuki kota-kota di Jawa. Ibukota propinsi Kalimantan Timur malam itu terlihat padat dan sibuk.

Jembatan sungai Mahakam seakan menjadi pintu gerbang untuk masuk kota Samarinda. Kota Samarinda memang tumbuh dan bewrkembang di sebelah-menyebelah sungai Mahakam, dengan pusat kotanya berada di sisi utara sungai. Dengan kata lain, sungai Mahakam mengalir membelah kota Samarinda.

Ihwal jembatan yang berwarna kuning dengan lebar delapan meter dan dibangun tahun 1983 itu saat ini kondisinya dinilai sudah menghawatirkan. Beban yang harus ditanggung oleh jembatan yang membentang sepanjang ratusan meter itu sungguh berat. Setiap harinya ada ribuan kendaraan yang melintas di atasnya, dari jenis angkutan kota hingga bis dan trailer. Inilah jalan utama di wilayah Kalimantan Timur yang menghubungkan kota Balikpapan dengan kota-kota lainnya di sebelah utara, termasuk Samarinda, Bontang, Sangatta dan Kutai Timur.

Ya bagaimana tidak menghawatirkan kalau rangka jembatan ini sudah robek di beberapa tempat akibat sering disenggal-senggol oleh kendaraan yang melintas di atasnya. Belum lagi di bawahnya setiap hari melintas hilir mudik ratusan kapal, perahu, kapal tunda dan ponton. Sebagian di antaranya suka main serempet besi dan kayu pelindung penyangga jembatan. Maka jangan lupa berdoa setiap kali hendak melintas di atas jembatan ini, semoga selamat sampai di seberang yang 480 meter jauhnya…..

Apalagi di musim kemarau seperti sekarang ini. Air sungai menyusut dan terus menyusut, sehingga menyebabkan beberapa bagian sungainya dangkal. Tampak endapan lumpur menebal di tepian sungainya. Akibatnya jalur lintas sungai menyempit, juga terkadang kapal tunda dan ponton pun seperti suk-sukan (berdesak-desakan).

***

Tidak kalah dengan kota-kota lain, kota Samarinda pun perlu memiliki semboyan atau motto kotanya. Menyadari letak geografisnya yang demikian, maka motto kota Samarinda lalu dipas-paskan, dan ketemulah Samarinda kota “Tepian”. “Tepian” adalah akronim dari Teduh, Rapi, Aman dan Nyaman. Maka, pas sudah! Apakah memang kotanya seperti itu? Itu soal lain, yang pembahasannya pun bisa dipas-paskan pula. Tapi pasti, bahwa kota ini memang terletak di tepian sungai Mahakam.

Cikal bakal kota Samarinda ini dulu-dulunya adalah pendatang dari masyarakat Bugis Wajo dari kerajaan Gowa di Sulawesi yang pada tahun 1668 mengungsi menyeberang ke wilayah kerajaan Kutai karena musuhan dengan Belanda. Kini penduduk kota Samarinda yang jumlahnya lebih setengah juta jiwa itu semakin heterogen dengan datangnya berbagai kalangan masyarakat yang mengadu nasib ke kota ini.

Perkembngan kota ini nyaris tidak dapat dipisahkan dari aktifitas perdagangan. Mulanya memang perdagangan hasil pertanian dan perikanan. Kini sudah semakin sibuk dengan aktifitas perkayuan (baik yang resmi maupun ilegal) dan pertambangan batubara. Maka tidak mengherankan kalau gerak bisnis properti dengan pembukaan kawasan pemukiman baru juga semakin semarak.

Wajarlah kalau kemudian pemerintah setempat mencanangkan visinya untuk menjadikan kota Samarinda sebagai kota jasa, industri, perdagangan dan pemukiman yang berwawasan lingkungan.

***

Karena kami belum mengenal kota ini, maka ketika memasuki kota Samarinda kami saling berkomunikasi melalui tilpun dengan teman-teman di Samarinda yang sudah berbaik hati mem-booking-kan hotel untuk kami. Niat semula sebenarnya hendak ketemuan dulu di rumah seorang teman di pinggiran kota sebelum menyeberang jembatan Mahakam, untuk selanjutnya nanti akan diantar menuju hotel. Namun apa daya, rupanya kami kelewat bersemangat hendak segera mencapai Samarinda hingga telanjur masuk kota.

Terpaksalah kemudian diputuskan untuk mencari tempat yang mudah bagi kami untuk ketemuan. Terpilih sebuah tempat di salah satu sudut di tepinya sungai Mahakam. Di sana banyak orang jual jagung bakar. Maka sambil beristirahat meregang otot, menggeliat, melepas lelah, sambil pesan kopi. Sialnya tidak ada kopi hitam, yang ada kopi instan three-in-one sachet-an. Ya sudah. Sekalian pesan jagung bakar buat pantes-pantes. Entah rasa apa. Saya sebut buat pantes-pantes karena dari kenampakannya sebenarnya sudah ketahuan bahwa rasanya bakal “biasa-biasa saja”. Tidak tampak tanda-tanda yang bisa membangkitkan selera. Tapi toh dipesan juga jagungnya, sekedar untuk pengisi waktu menunggu teman yang hendak menjemput.

Suasana di seputaran kedai remang-remang jagung bakar itu sebenarnya cukup indah di malam hari. Terletak di sebuah taman kota yang berada di antara jalan besar dengan sungai. Di sepanjang tepi sungai Mahakam ini memang terdapat ruang publik yang cukup leluasa bagi tempat rekreasi di dalam kota. Taman kota ini tepat berada di tepinya sungai Mahakam.

Namun, melihat nuansanya, naga-naganya kalau malam tempat ini sebenarnya bukan tempat yang “sehat”. Apalagi kalau niatnya adalah berjalan-jalan bersama keluarga. Saya akan menghindari tempat ini. Lain halnya kalau tujuannya ingin menyendiri menikmati suasana malam di tepi Mahakam mencari ilham atau wangsit, atau kunang-kunang…..

Akhirnya kami bertemu dengan teman yang hendak mengantarkan kami ke hotel. Acara malam itu dilanjutkan dengan reuni kecil-kecilan dengan beberapa teman lainnya, di sebuah tempat yang berbiaya mahal untuk sekedar makan dan minum. Malam pertama di Samarinda kemudian kami lalui dengan ngobrol ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, hingga malam pun semakin larut.   

Yogyakarta, 17 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(11).   Nggado Ikan Puyu Goreng Garing

Hari itu, Jum’at, 28 Juli 2006, agenda kami adalah urusan perkantoran. Maksudnya, pergi ke beberapa kantor, untuk bertemu dengan beberapa orang, untuk menyelesaikan beberapa urusan. Agenda tentang beberapa ini akan selesai pada tengah hari, sebelum tiba waktu jum’atan. Maka pada siang harinya akan saya manfaatkan untuk bersilaturahmi dengan sebuah keluarga yang masih ada hubungan “pernah-pernahan” dengan keluarga saya.

Saya rada kesulitan menerjemahkan kata “pernah” dalam kosakata pergaulan Jawa. Kira-kira maksudnya adalah hubungan keluarga yang kalau ditelusuri dengan pertanyaan “apanya siapanya-siapa”, lalu akan ketemu bahwa dia adalah “apanya” kita. Maka kesimpulannya bahwa dia masih keluarga atau famili dengan kita. Kata “saudara” atau “famili” bisa menjadi kata kunci yang sangat berharga apabila ketemunya di tempat yang jauh dari tempat asal kita. Tradisi semacam ini memang khas bagi bangsanya Indonesia (suku bangsa yang ada di Indonesia, atau yang sejenis dengan Indonesia).

Maka betapa senangnya ketika akhirnya kita ketemu dengan seseorang yang ternyata masih ada hubungan “pernah-pernahan” itu tadi. Adalah famili saya yang sejak saya mengeluargai istri saya sekian belas tahun yang lalu belum pernah ketemu. Hingga akhirnya famili saya itu menjemput ke hotel dengan naik sepeda motor, karena katanya mobilnya sudah lama masih saja dititipkan ke dilernya (dealer) entah sampai kapan.

Kocaping carito… (saya kok jadi merasa enak mengucapkan kata-kata ini), singkat cerita, siang itu saya mengunjungi famili saya. Kali ini ganti reuni kecil-kecilan antar dua keluarga. Bersilaturahmi, bercengkerama, bertukar cerita tentang nasib keluarga, dan rencana-rencana keluarga, dengan famili saya yang akhirnya terdampar di Samarinda sejak meninggalkan Jogja sekian belas tahun yang lalu.

Hingga tibalah pada salah satu bagian terpentingnya. Duduk bersama di depan meja makan. Bukan duduknya, bukan pula meja makannya, melainkan yang ada di atasnya. Tentu ini menjadi acara istimewa bagi saya dan terutama bagi tuan rumah yang kedatangan (lebih tepat, didatangi) tamu jauh yang masih “pernah” saudara. Di tengah kesederhanaan hidup yang sedang dijalani saudara saya di Samarinda ini, rupanya masih sempat untuk mempersiapkan menu makan siang yang terkesan agak istimewa. Syukur alhamdulillah. Inilah yang saya maksud dengan kata kunci yang sangat berharga tadi.

Ada ayam goreng, tempe goreng, ikan puyu goreng, sayur bening, lalapan dan sambal terasi tomat. Semua menjadi favorit saya. Pokoknya kalau yang enak-enak, semua harus difavoritkan. Tempe goreng dan ikan goreng ditambah lalapan dan sambal tomat agak pedas sedikit, wuiiih……, ruarrr biasa nikmatnya. Menikmati menu yang semacam ini memang harus turun tangan. Jangan sekali-kali menggunakan sendok, karena akan berkurang intensitas kenikmatannya. Ukuran intensitas kenikmatan siang itu hanya satu ukuran tunggal : nuuuikmat sekale….. Tidak ada skala lain yang “pas” untuk digunakan.

Lebih-lebih ikan puyu goreng garing (kering) yang rasanya gurih tenan. Ya baru pertama kali inilah saya mendengar nama ikan puyu. Sampai-sampai untuk memastikan namanya saya harus ha…he…ha…he… agar diulang penyebutannya untuk memastikan saya tidak salah dengar. Rupanya ikan air tawar ini memang menjadi kegemaran masyarakat Samarinda, Kalimantan pada umumnya. Nasibnya mirip-mirip dengan ikan haruan, yaitu bahwa ikan puyu ini kini semakin sulit diperoleh. Mangkanya kalau lagi ada dijual di pasar atau dimana saja orang akan berebut membelinya. Kebetulan pada hari itu, saudara saya berhasil memperolehnya, yang lalu menyajikannya sebagai menu unggulan untuk menjamu seorang tamunya dari Jogja yang masih “pernah” saudara tapi belum pernah ketemu.

Ikan puyu yang disajikan sepiring munjung, pada siang itu, rata-rata ukurannya hanya telong nyari (selebar tiga jari tangan). Badannya pipih. Banyak duri-duri kecilnya. Dagingnya sedikit tapi gurih. Karena itu ada seni tersendiri untuk menikmatinya. Memisahkan serpih demi serpih daging ikannya dari duri-duri kecilnya. Jangan sampai kloloden duri (durinya turut termakan dan nyangkut di tenggorokan). Sebab kalau itu sampai terjadi, maka bisa bikin mata mendelik (melotot).

Kalau accident itu terjadi juga, maka resep mengatasinya bukan digelontor air, apalagi lumpur panas, melainkan didorong dengan ngelek (menelan) nasi putih tanpa dikunyah atau dikunyah sedikitlah. Akan menyebabkan mendelik dan meringis sesaat, tapi setelah itu biasanya teratasi. Ini resep ampuh yang tidak pernah terpikirkan oleh dokter-dokter di negara maju. Kalau terjadinya di Amerika, maka segera dokter keluarga akan ditilpun, atau langsung call 911…… Kalau setelah diemploki nasi ternyata tidak berhasil juga, ya nasib namanya……. Ibarat berada di dalam rumah yang rubuh digoyang gempa tapi tidak sempat lari.

Ikan puyu ini adalah sejenis ikan sepat yang banyak hidup di kali, di sawah atau di lingkungan air tawar. Terkadang suka disebut juga dengan ikan pepuyu atau betok. Ikan puyu (istilah londo Latinnya : Anabas Testudineus) termasuk jenis ikan yang luar biasa dalam melakukan survival. Badannya yang bersisik dan bersirip keras memudahkan spesies ini bergerak di atas tanah yang berair sedikit. Pada musim hujan ikan ini suka hijrah dari satu tempat ke tempat lain, jika perlu meloncat dan memanjat tebing aliran air pun dilakoninya.

Ikan ini memiliki asesori tambahan alat pernapasannya yang disebut labirin di luar insangnya, sehingga dia mampu bertahan beberapa hari bahkan beberapa minggu tanpa air karena alat pernapasannya tetap basah. Jika musim kemarau tiba, ikan ini mampu bertahan dan bernafas dalam lumpur hingga selama beberapa waktu tertentu. Maka jangan hueran, kalau ada suatu kolam yang kelihatannya kering, ujug-ujug ada ikannya ketika hujan tiba. Bisa jadi mereka adalah masyarakat ikan puyu yang sembunyi di dalam tanah.

***

Butir-butir keringat mulai bermunculan di dahi, pelipis dan kulit kepala yang menyebabkan rasa agak gatal. Namun rasa gatalnya seolah termanipulasi oleh gurihnya ikan puyu (ini memang gaya bahasa, yang sebenarnya terjadi ya tetap saja goatal…..). Biarpun nasi sudah tanduk sekali atau tamboh ciek dan habis juga, namun episode makan ikan puyu belum selesai.

Atas seijin tuan rumah (itulah etikanya, mau menghabiskan sisa ikan di meja saja mesti minta ijin dulu, dan biasanya diijinkan dan malah senang kalau suguhannya habis), acara makan siang masih dilanjutkan dengan nggado (memakan tanpa nasi) ikan puyu goreng garing yang masih tersisa. Tentu sambil bercengkerama dan berbagi cerita tentang keluarganya mas anu, mbok de anu, eyang kakung anu dsb. Untuk alasan etika pula, akhirnya hanya setengah piring ikan yang saya habiskan. Yah…. kira-kira kalau saya hitung ada enam atau tujuh atau delapan ekoran ikan puyu saya gado. Habis huenak sih….., dan barangkali tidak akan saya temukan di Jogja.    

Yogyakarta, 19 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(14).   Rebutan Bukit Soeharto

Hari Sabtu, 29 Juli 2006 adalah hari terakhir kami di bumi Kalimantan, tepatnya propinsi Kalimantan Timur. Masyarakat setempat bangga menyebutnya “Banua Etam” (bahasa Kutai yang artinya “kampung kita”). Sudah sering disebut-sebut, bahwa propinsi Kalimantan Timur ini termasuk propinsi terkaya di Indonesia. Kekayaan yang berupa minyak bumi, gas alam, batu bara, emas dan hasil hutan sepertinya melimpah-ruah.

Namun ironisnya, dengan kekayaan yang melimpah dengan catatan angka Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang tinggi, hanya sekitar 10% yang kemudian kembali ke daerah dalam bentuk dana perimbangan (yang dinilai tidak berimbang karena sebagian besar nyangkut di pusat). Kenyataannya, dari sekitar 2,7 juta penduduk “Banua Etam” itu 11% penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Infrastruktur sosial pun sangat terbatas. Maka tidak heran kalau masyarakat Kaltim teriak-teriak menuntut pembagian dana perimbangan yang lebih berimbang dan adil.

Padahal masyarakatnya sangat antusias membangun daerahnya. Dimana-mana terpampang tulisan yang menggugah semangat “Etam bangga membangun Kaltim”. Tentu menjadi kurang fair kalau kemudian yang menikmati hasil pembangunan “etam” itu tadi justru bukan masyarakat Kaltim sebagian besarnya. Mendingan kalau masyarakat Indonesia lain yang menikmatinya, hitung-hitung “sedekah”…… Tapi masalahnya dikhawatirkan yang menikmati justru oknum nun jauh di sana (mengkambinghitamkan oknum memang paling enak…..). Begitu kira-kira kegundah-dan-gulanaan yang berkembang di tengah masyarakat Kaltim, yang kini siap menjadi tuan rumah bagi Pekan Olahraga Nasional (PON) ke XVII tahun 2008.

***

Agak siang kami harus meninggalkan Samarinda, ibukota “Banua Etam”, menuju ke Balikpapan. Perjalanan ke Balikpapan dengan menempuh jarak 115 km itu berarti kami akan kembali melalui jalur berkelok di Bukit Soeharto. Kali ini saat siang hari, sehingga nampak benar suasana hutan nan teduh dan asri dari kawasan perbukitan yang menghijau.

Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, terletak membentang sepanjang 32 km di jalur jalan Balikpapan – Samarinda, tepatnya di km 45 – 77, masuk wilayah kecamatan Semboja, kabupaten Kutai Kartanegara. Hutan seluas 61.850 hektar ini ditetapkan sebagai kawasan Taman Wisata Alam pada tanggal 20 Mei 1991. Di hutan ini tumbuh berbagai vegetasi hutan dengan semak dan alang-alang. Pepohonan yang ada merupakan hasil reboisasi, seperti akasia, sengon, mahoni, johar, sungkai dsb. Jenis satwa yang ada antara lain babi hutan, kancil, kera, biawak serta berbagai jenis burung-burungan.

Dengan bentang alamnya yang indah, sejuk dan nyaman, tak syak lagi tempat ini menjadi obyek wisata yang cukup diminati oleh para wisatawan. Beberapa lokasi di sepanjang jalur lintas hutan ini pun dimanfaatkan oleh para penduduk untuk membuka kedai-kedai yang menjual aneka macam. Tumbuhlah aktifitas ekonomi kecil, yang kalau tidak ditata dengan baik tentu berpotensi mengganggu keindahan dan kenyamanan berwisata.

Namun kini aktifitas ekonomi yang berskala lebih besar sedang menghadang. Hal ini terkait dengan ditengarainya bahwa di dalam perut Soeharto terkandung 122-150 juta ton cadangan batubara. Ini baru heboh!. Bukit Soeharto lalu seolah-olah jadi rebutan. Berbagai kepentingan pun lalu menyeruak. Maka persoalannya menjadi klasik. Antara yang hendak mengeksploitasi dengan yang hendak mengkonservasi. Antara yang pro hutan dan pro industri, tapi rupanya masih ada satu lagi yang pro hutan tanaman industri. Nah, loe! “Nggak ada loe, nggak rame…..”, kata iklan sebuah produk hijau (maksudnya produk yang bungkusnya berwarna hijau) di televisi…..

Riuh-rendah tentang Bukit Soeharto ini terlihat dari semangat pihak Bapedalda yang mengancam tidak akan mengeluarkan ijin jika Bukit Soeharto hendak dieksploitasi batubaranya. Tetapi, begitupun pihak Pemkab Kutai Kartanegara ternyata sudah mengkapling-kapling dan mengeluarkan ijin Kuasa Pertambangan batubara bagi sejumlah pengusaha dan Koperasi Unit Desa. Sementara itu, pihak Menhutbun juga sudah telanjur melepaskan sejumlah areal hutan untuk perluasan Hutan Tanaman Industri dan sarana penunjangnya. Lebih seru lagi, pada musim kemarau seperti sekarang ini kebakaran hutan mengancam ketiga kepentingan itu.

Bagai persamaan matematika, ada tiga buah garis yang hendak bertemu di satu titik perpotongan. Maka perlu dicari harga optimum dari titik perpotongannya, dimana menghasilkan minimum kemudharatan (keburukan) dan maksimum kemaslahatan (kebaikan). Biarlah orang-orang pintar di “Banua Etam” duduk bersama, bekerja dalam tim, untuk merumuskan titik perpotongan yang bernilai optimum, agar kelak anak-cucunya tidak tuding-tudingan. 

Ini hal yang lumrah saja. Sudah menjadi hukum alam, bahwa ketika ilmu dan teknologi semakin maju, maka semakin banyak pula peluang terjadinya benturan. Kenapa jaman dulu tidak banyak benturan (tepatnya, belum teridentifikasi)? Karena ilmu dan teknologi belum semaju sekarang dan orang-orangnya pun belum sepintar sekarang. Seratus tahun lagi benturan akan semakin hebat. Tapi kerepotan selalu muncul, yaitu ketika salah satu pihak menganggap dirinya yang paling benar. Uh…., repotnya!

***

Jalur melintasi Bukit Soeharto pun terlewati sambil mata terkantuk-kantuk tak tertahankan. Tahu-tahu kami sudah memasuki kota Balikpapan. Suasana kota yang padat dan ramai, di tengah cuaca siang yang panas sungguh membuat kurang nyaman. Waktu menunjukkan menjelng tengah hari. Masih ada beberapa jam sebelum pesawat ke Jogja tinggal landas dari bandara Sepinggan.

Rasanya ada yang kurang. Ya, oleh-oleh!. Lalu seorang teman di Balikpapan mengantarkan membeli makanan khas Kaltim, yaitu amplang. Amplang adalah sejenis kerupuk ikan, yang terbuat dari ikan dan tepung sebagai bahan utamanya, lalu dicampur dengan bumbu, telor dan sedikit gula. Maka jadilah makanan ringan berukuran kecil-kecil, yang kalau dimakan bunyinya antara kremes-kremes dan kriuk-kriuk. Rasanya mirip-mirip seperti kalau kita makan kerupuk udang atau kerupuk Palembang, dengan rasa bumbu ikannya lebih kuat. Lumayan enak untuk makanan selingan di rumah, agar tidak terus-terusan makan kacang rebus atau blanggreng (ubi goreng). Tetangga pun bisa turut kebagian kremes-kremes dan kriuk-kriuknya…. Itulah enaknya tinggal di kampung dekat tetangga, ada yang bisa diberi oleh-oleh……  

Yogyakarta, 22 Agustus 2006
Yusuf Iskandar