Archive for the ‘> Adventure of MAKAN-MAKAN’ Category

Tumis Kangkung Di Minggu Paskah

25 April 2011

Tumis kangkung dan telur orak-arik — Mengawali aktifitas Minggu Paskah dengan memasak tumis kangkung dan telur sayur orak-arik. Tumisnya tanpa terasi melainkan diganti dengan tempe umur 3 hari yang baunya sudah agak semangit. Sarapan serasa….., uuuhhhmmm….!!!

Yogyakarta, 24 April 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Mie Ayam “Virgo” Jogja

9 Januari 2011

Pulang dari Madurejo mampir ke warung mie ayam. Sering kuperhatikan warung kecil ini selalu ramai dan baru sore tadi kubuktikan ke-ramai-annya. Saat tersaji semangkuk mie ayam, kucoba mencecapnya. Mie dan sawinya biasa, tapi olahan ayamnya memang benar-benar woenak…

Pantesan, racikan pak Tanu yang berjudul Mie Ayam “Virgo” di Jl. Wonocatur Jogja itu bertahan sampai 21 tahun dan tetap digemari. Lha wong memang top-markotop je…

Yogyakarta, 1 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Semangkuk mie ayam yang penuh menggunung ini judul menunya ‘mie ayam x-tra sawi+ayam’ (dan kuhabiskan sore tadi), di warung mie ayam “Virgo” Jl. Wonocatur, Banguntapan, mBantul, Jogja (barat Ring Road). Semangkuk mie ayam biasa, harganya Rp 5 ribu. Tapi rasanya bo…

Pak Tanu siap meracik mie ayam kepada pelanggannya. Mie ayam “Virgo”, Jl. Wonocatur, Jogja. Kesederhanaan dan konsistensi untuk menjaga citarasanya, membuat warung mie ayam sederhana itu mampu bertahan hingga 21 tahun.

(Selain di Wonocatur, Pak Tanu juga membuka cabang di Berbah yang dikelola oleh anaknya)

Gule Kambing Dan Sate Goreng “Marto Gule” Madurejo Sleman

7 Januari 2011

Gule kambing, sederhana tapi agak manis gimana gitu… “Marto Gule”, perempatan pasar Gendeng, Madurejo, Prambanan, Sleman. Menu sederhana (kolesterolnya yang tidak sederhana) tapi bertahan puluhan tahun di tempat yang sama. Sekarang adalah generasi ketiga dari penggiat dan pengusaha pergulean di pinggir timur kota Jogja.

Selain gule, warung “Marto Gule” di Madurejo, Prambanan, ini juga menyediakan menu kambing lainnya, yaitu sate goreng dan tongseng. Sate goreng sebenarnya adalah daging yang dipotong kecil-kecil seperti untuk sate, bumbunya langsung dicampur saat menggoreng. Berbumbu kecap, manis.

Warung ini sekarang dikelola dan dijurumasaki oleh keponakan mbah Marto sejak 1989. Sedang mbah Marto sendiri mewarisi dari ortunya, berarti sudah sejak puluhan tahun sebelumnya.

Yogyakarta, 30 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Soto Surabaya “Cak Saheri” Jogja

7 Januari 2011

Nunggu service motor, nyoto dulu… Soto Surabaya “Cak Saheri”, Jl. Pramuka, Jogja, dicampur uritan (telur ayam yang belum jadi) ditaburi koya (bubuk krupuk) khas Suroboyo… “Urip iku mung sak dermo nunut nyoto” (hidup ini cuma numpang nyruput soto…)…

Yogyakarta, 29 December 2010
Yusuf Iskandar

Bakso Pak Marlan Bintaran Jogja

7 Januari 2011

Bakso pak Marlan… Sering lewat di depan tokoku “Bintaran Mart” tapi baru sore ini tertarik mencicipinya. Pesan spesial tidak pakai tahu dan gorengan, tapi banyak sayurnya. Taste-nya standar…, standar enak maksudnya.

Yogyakarta, 23 December 2010
Yusuf Iskandar

Nostalgia Es Murni Tukangan Jogja

7 Januari 2011

Pengantar:

Catatan di bawah ini adalah kumpulan dari catatan status saya di Facebook.-

——-

(1)

Alkisah, lebih 20 tahun yll ibunya anak-anak dan teman-teman gadisnya suka ngiras (ngudap) es teler di warung Es Murni, Jl. Tukangan 45, Jogja. Ke warung itu juga dia suka mentraktir pacarnya.

Jaman itu tidak banyak pilihan tempat jajan di Jogja. Resto, cafe dan sejenisnya baru muncul pada tahun-tahun belakangan. Yang lebih penting, Es Murni tergolong murah-meriah-wuuah rasanya. Kini, warung itu masih ada, warung “Murni 83” namanya (83 adalah nomor lama warung itu).

(2)

Sore kemarin, ketika pulang dari Madurejo, Sleman, tiba-tiba terlintas ide ingin bernostalgia. Kami lalu singgah ke warung es “Murni 83”. Tampilan warungnya sederhana. Dari jaman dulu ya begitu itu. Dengan becanda kubilang seperti di kandang macan karena dikelilingi pagar besi tinggi.

Menu unggulannya sebenarnya tidak ada yang khas, yaitu es teler, bistik dan bakso. Buka jam 8 pagi sampai jam 5 sore, tapi jangan kecewa kalau kehabisan baksonya.

(3)

Racikan es teler “Murni 83” sebenarnya biasa saja. Ada alpukat, nangka, kolang-kaling, cincau, tape ketan, roti tawar, kelapa muda, juga durian kalau sedang musimnya. Tapi takarannya begitu pas, hingga rasanya boo..., yang lain makin ketinggalan!

Setelah mangkuk pertama tandas, mangkuk lainnya seolah berkata: Jadikan aku yang kedua… Bakso mie atau kuahnya sering sudah habis sebelum jam tutup warungnya.
(4)

Salah satu menunya yang tak lekang oleh jaman tak lapuk oleh pergantian generasi adalah bistik (bestik). Aslinya sebenarnya beef steak. Tapi orang Jawa jaman kumpeni dulu lidahnya suka terpelintir kalau menyebut kata itu, maka lalu dimudahkan saja.

Daging sapi seperti pada burger dan gorengan wortel, buncis dan kentang, dilengkapi mentimun, tomat, lalu diguyur kuah tomat. Uuufff…, menu londo dengan citarasa tradisional yang berbeda…

(5)

Kalau menu sederhana warung Es Murni mampu bertahan lebih setengah abad dan hingga kini masih dikunjungi pelanggan, itu tentu bukan prestasi sederhana. Sebut saja pak Juwahir Setiabudi sang “founding father” Es Murni yang kini berusia 83 tahun.

Ketika saya ketemu kemarin sore, beliau sedang santai di depan warungnya yang kini dikelola anaknya. Beliau nampak letih, duduk di kursi roda dengan pandangan kosong mata tuanya.

(6)

Maka kalau kemarin sore saya menyengaja berkunjung ke warung Es Murni, bukan semata-mata hendak bernostalgia. Melainkan karena kangen dengan es teler, bakso dan bistik resep turunan dari pak Juwahir yang istrinya baru meninggal sekitar tiga bulan yll. Sekaligus menikmati pencapaian bisnis sederhananya.

Semangkuk bakso kuah dan semangkuk es teler pun tandas masuk tembolok, sedang bistiknya dibungkus untuk dimakan di rumah saja. Perut keburu kemlakaren… (penuh kekenyangan).

(7)

Sesaat di rumah, kunikmati sebungkus bistik warung “Murni 83”. Nyaaammm…pas tenan kuah tomatnya. Pantas  banyak penggemarnya yang suka minta dibungkus dibawa pulang.

Tak kuduga sejam kemudian…, perutku mulas banget. Langsung saja menghambur ke jumbleng. Rupanya perutku kebingungan milah-milah antara es teler, bakso dan bistik saat memprosesnya… Tapi ya kunikmati saja, alhamdulillah…!

Yogyakarta, 22 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Patin Goreng Lombok Ijo

20 Desember 2010

Ikan patin goreng lombok ijo, di Rumah Makan Sendang Ayu, Kalasan, Jl. Raya Jogja-Prambanan. Taste-nya manstaff nian…

Yogyakarta, 17 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Es Rujak Pakualaman Jogja

20 Desember 2010

Siang tadi memperoleh order dari “boss” untuk beli kantong plastik. Ternyata uangnya sisa. Ya apa boleh buat, mampir dulu membeli es rujak di Jl. Harjowinatan, Pakualaman, Jogja.

Gerobak kaki lima Es Rujak Pak Nardi, yang mengusung tagline “pertama di Jogja” dan mangkal di bawah pohon ini memang terkenal hoenaknya. Mak nyusss… (lha wong es).

Yogyakarta, 16 November 2010
Yusuf Iskandar

Makanan Tradisional Di Lempuyangan Jogja

20 Desember 2010

Sebuah gerobak penjual makanan tradisional di kawasan jalan depan pasar Lempuyangan, Jogja. Makanan tradisional: onde-onde (@Rp1000), putu (@Rp500), cenil (@Rp150), klepon (@Rp250). Murah-meriah-hmmmuah…

Yogyakarta, 9 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Jajanan Tradisional

25 Oktober 2010

Sore-sore gerimis, langit gelap lebih awal karena awan hujan merata di langit Jogja. Mampir membeli jajanan tradisional di depan pasar Lempuyangan. Ada getuk, klepon, cetil, putu, dkk, siap dibeli dengan harga terjangkau. Taruhlah uang seribu-dua ribu, maka sebungkus jajan pasar yang terbuat dari tepung beras dengan taburan kelapa dan bubuk gula cukup untuk membuat kenyang, sehat, dengan sensasi kunyahan berbeda ketimbang makanan goreng-gorengan

Yogyakarta, 23 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pesta Pecel Lele

25 Oktober 2010

Pagi-pagi mancing lele di kolam belakang toko. Itu yang tadi dilakukan seorang pegawai toko Madurejo, Jogja. Maka siang ini semua pegawai pesta pora makan siang dengan pecel lele sepuasnya. Pemiliknya juga…(kalau ini wajib). Lalapan mentimun, tomat dan daun kemangi yang dipetik di pinggiran sawah yang daunnya lebar-lebar.

Order kerja spesial untuk besok, besoknya dan besoknya besok, masih sama: Lanjutkan pestanya, habiskan lelenya…!

Yogyakarta, 21 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Nasi Bakar Wirosaban Jogja

25 Oktober 2010

“Nasi Bakar Wirosaban”, judul warungnya. Berlokasi di selatan RSUD Wirosaban Yogyakarta, berupa gubuk-gubuk sederhana di atas kolam.

Nasi bakar adalah nasi uduk + daun ubi dan kemangi dibungkus daun pisang lalu dibakar. Lauknya ikan nila kremes, juga ada gurami atau lainnya, bisa goreng/bakar. Harganya senada dengan kesederhanaan tampilan gubuk-gubuk dan fasilitasnya, alias murah-meriah-renyah. Rasanya tergolong oenak, buktinya saya habis dua porsi…

Yogyakarta, 19 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Menu Beda ‘Samudra Tea’

25 Oktober 2010

Ada yang spesial di Coffee Shop Santika Hotel Jogja. Menu tehnya diberi nama ‘Samudra Tea’ yang tampil beda.

Tersaji teh biasa dalam gelas penyeduh teh, secawan gula batu, gelas kosong, dan (ini yang beda) empat pilihan rasa (cengkeh, caramel, hazelnut, syrup) berupa larutan yang disajikan dalam tabung reaksi seperti digunakan di laboratorium kimia. Tinggal pilih, maka teh pun beraroma sesuai selera. Tampilan beda itulah yang harus dibayar lebih mahal…

Yogyakarta, 18 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Gudeg Bu Hj Ahmad Jogja

22 Oktober 2010

Seorang teman dari luar kota kepingin makan siang gudeg. Pilihan jatuh ke gudeg mBarek Bu Hj. Ahmad (terkadang ditulis tanpa ‘h’), Utara Selokan Mataram, Jogja. Terkenal karena rasanya (ya rasa gudeg itu…), begitu semboyannya. Tapi memang beda taste dengan gudeg Wijilan atau Yu Jum.

Pertanyaannya selalu: “Mana lebih enak?”. Jawabnya: “Tidak ada yang lebih, melainkan semua enak, hanya beda taste itu tadi”. Yang pasti.., woenak bangeth!

Yogyakarta, 16 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Seafood RM “Pari-Pari” Jogja

22 Oktober 2010

Pilih sendiri ikanmu, itu pesan Rumah Makan “Pari-Pari” di Jl. Monjali, Jogja. Setelah memilih ikannya lalu meminta tukang masaknya mengolah sesuai keinginan. Ikan stim, cumi bakar madu atau bakar gurih, gurami bakar, kepiting rebus, brokoli atau kacang panjang bumbu tiram, begitu sempurna cara memasaknya sehingga bumbunya terasa pas, menciptakan citarasa yang mak nyuss… Dan yang pasti, dijamin tanpa MSG (kecuali memintanya).

Yogyakarta, 15 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Buntil

22 Oktober 2010

Sejak pagi belum makan, sedang malas saja… Menjelang maghrib disuguh menu “spesial” di rumah mertua, yaitu buntil. Ini menu ndeso yang sudah tidak populer. Jarang yang bikin. Aslinya: daun talas yang tumbuh di tepi sungai direbus untuk membungkus adonan bumbu parutan kelapa. Kini suka di-modif, daun talas diganti daun papaya, karena kalau tidak pintar masaknya, daun talas bikin gatal di mulut… Soal woenaknya, jangan tanya (tanya saja nggak boleh..)

Yogyakarta, 15 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Soto Ayam “Bu Sisil” Bintaran Jogja

18 Oktober 2010

Sambil menunggu “boss” inspeksi ke tokonya di Bintaran, Jogja, tidak jauh dari toko ada warung soto ayam murah-meriah. Soto ayam “Bu Sisil” namanya. Kalau umumnya memakai judul panggilan sang bapak, agaknya Bu Sisil ingin tampil beda.

Biarpun ini jenis soto komboran pojok perempatan, tapi taste-nya lumayan. Pelanggannya para pelajar dan pegawai. Semangkok soto isinya komplit dengan suwiran ayam, irisan tempe dan tahu bacem, juga perkedel. Hmm…

Yogyakarta, 12 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Makan Indomie

18 Oktober 2010

Malam-malam, perut kelaparan, sesekali kepingin menu beda seperti yang dimakan pengungsi korban bencana, lalu masak Indomie rasa kari ayam dicampur telor dan sayur. Lha kok tiba-tiba mendengar siaran berita kalau produk Indomie di Taiwan ditarik dari peredaran… Wuah, jadi enggak enak makannya (jadi benar-benar beda rasanya)

Yogyakarta, 11 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Menikmati Roti Bakar Tersisa

18 Oktober 2010

Akhir-akhir ini ibunya anak-anak dan anak-anaknya juga, suka sekali beli roti bakar saat malam. Biasanya tidak habis dimakan, paginya masih tersisa, ya pasti sudah tidak enak lagi. Akhirnya dibuang ke kolam ikan di belakang rumah, jadi sarapan ikan-ikan. Lama-lama para ikan jadi kesenangan sering sarapan roti. Harus ada solusi.

Sisa roti bakar dimasukkan dalam kocokan sebutir telor ayam (kalau telor angsa kegedean), lalu digoreng dengan mentega pada api kecil. Huuu.., hoenaknya..

Yogyakarta, 8 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Kepiting Asap RM “Pondok Borneo”

9 Oktober 2010

Seorang teman ngiming-iming menjamu makan malam kepiting asap di RM Seafood “Pondok Borneo”, Samarinda. Ya, jelas mau…

Kepiting perempuan yang mengandung telur, dibungkus alumunium foil, dibumbui mirip-mirip kare tapi tidak berkuah, diasap sampai masak, bumbunya begitu meresap. Huuh, membuat jadi nggak sabar… Ditambah kepiting laki-laki rebus berbumbu bawang putih sederhana, dilengkapi dengan tumis pakis… Wauw! Layak untuk disambangi lagi.

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar