Posts Tagged ‘garuda’

Mendarat Lebih Cepat

1 September 2010

Jadi “sopir tembak” lageee… Karena mau ada peringatan nuzulul-qur’an dan jamaah tidak sebanyak biasanya, maka malam ini tidak ada kultum, melainkan langsung tarawih. Eee…, lha kok ada “penumpang” wanita yang usul: “Naik garuda, pak..”. Aku langsung paham maksudnya.

Saat tarawih selesai lebih cepat dari biasanya, sambil melewati gerombolan “penumpang” wanita, sambil aku berkata: “Kali ini mendarat lebih cepat di tujuan…”.

(kultum: kuliah tujuh menit)

Yogyakarta, 30 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Hoping Muslim Really Goes A Long Way

16 Desember 2009

Hal kebetulan yang saya ceritakan dalam dongeng saya tentang “Bocah Penyemir Sepatu Yang Bercita-cita Menjadi Pilot” memperoleh komentar dari seorang sahabat saya Daniel Sabirin, seorang teman diskusi yang tinggal di Bandung. Komentarnya terasa menyentuh, sekaligus membesarkan hati.

Berikut kutipannya :

“Karena tak percaya kebetulan, mau tak mau sayapun tergoda untuk ‘menafsirkan’ episode Cengkareng di bawah.

Dua kali pertemuan dengan Muslim telah diatur (diorkestrasi, ciri / telltale sign -nya tanggal yang sama), dan tampaknya diatur lebih untuk kepentingan Muslim, agar dia mendapat nasihat dari seorang musafir yang datang dari jauh…

A little bit of advice goes a long way...’rajin belajar dan berdoa setiap habis sholat…’ bila dilaksanakan dengan tekun oleh Muslim boleh jadi goes a long way betulan, misalnya menempatkan dia kelak di kokpit Boeing 777 yang telah dipesan Garuda untuk penerbangan non-stop ke Eropa…time will tell…”

Semoga orkestra itu belumlah usai (dan entah bagaimana sang conductor menyelesaikan permainannya) hingga akhirnya Muslim membaca penggalan email saya. Maka bukan saja Muslim then goes a long way from now on hingga menggapai cita-citanya, melainkan doa dan harapan…. hoping Muslim really goes a long way by his airplane, sometime….. bersama sang musafir. Till landing at their final destination…….

Yogyakarta, 16 Desember 2009
Yusuf Iskandar

“Kunanti Doamu Selalu…”

11 Desember 2009

Sambil ngopi di bandara Jogja, siap mbonceng burung Garuda ke Jakarta, kirim SMS kira-kira seperti tulisan di bak belakang truk : “Kunanti doamu selalu…”

Yogyakarta, 10 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Soto Betawi Slipi

2 Desember 2009

Nyoto Betawi di Slipi, lalu ngejar burung Garuda ke Semarang.

(Usai meeting di Jakarta, segera meluncur ke bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Semarang dan selanjutnya mampir ke kampung halaman di Kendal, meski hanya untuk semalam saja. Mengingat belum sempat makan siang, seorang teman mengajak mampir ke warung soto Betawi di bilangan Slipi. Ternyata memang enak tenan…)

Jakarta, 30 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Jus Martabe

12 November 2009

Menyeruput jus Martabe sambil makan malam di resto Garuda, Medan… Martabe yang ini bukan ‘marsipature hutana be’, melainkan ‘markisa terong belanda’…

(Resto Garuda menyediakan menu masakan perpaduan citarasa padang dan melayu, berlokasi di Jl. H. Adam Malik, Medan. Rasa masakannya lumayan enak….)

(Martabe sebenarnya singkatan dari marsipature hutana be, yaitu Gerakan Pembangunan Desa Terpadu yang pertama kali dipopulerkan oleh Raja Inal Siregar, waktu menjadi Gubernur Sumatera Utara. Sedang penggagas istilah itu sebenarnya adalah Basyral Hamidy Harahap, seorang tokoh dari Tapanuli).

Medan, 8 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Cuaca Panas, Pesawat Pun Begoyang Keras

28 Oktober 2009

Cuaca seminggu teIMG_2696_rrakhir ini terasa begitu panas, terutama di wilayah pulau Jawa. Beberapa hari yll suhu tertinggi di Jogja berhasil menembus angka 37,7 derajat Celcius. Panasnya seperti di Mekkah, kata seorang teman yang belum pernah ke Mekkah. Tapi hari-hari terakhir ini naga-naganya sudah mulai mau hujan. Lumayan, meski baru mau…..

Menjelang tengah hari minggu lalu, pesawat Garuda Boeing 737-800 yang saya tumpangi dari Jogja sudah mengurangi ketinggian dan siap-siap mendarat di bandara Cengkareng. Dari ketinggian nampak bentang kota metropolitan Jakarta. Suhu udara di darat dilaporkan 32 derajat Celcius. Cuaca langit Jakarta juga dilaporkan cerah. Namun tiba-tiba badan pesawat bergoncang agak keras. Goncangannya agak berbeda tidak seperti biasanya kalau sedang menabrak awan. Mulanya biasa saja. Namun makin lama goncangan itu berlangsung semakin kuat dan berulang-ulang, badan pesawat njumbul-njumbul naik-turun sambil sedikit goyang kiri goyang kanan, seperti sedang berkendaraan melewati jalan rusak. Penumpang mulai rada tegang.

Ketika saya lihat ke luar jendela ternyata cuaca sangat cerah dan bersih. “Waduh, ada apa ini”, pikiran saya mulai menerka-nerka. Jangan-jangan…… Tapi kok pilotnya tidak memberi informasi apapun. Goyangan berlangsung terus menyertai pesawat yang semakin menurun, hingga akhirnya…. mak jedug, menyentuh landasan bandara Cengkareng. Alhamdulillah, kata saya dalam hati masih diliputi ketidak-tahuan apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Ketika pesawat sudah berhenti, penumpang di sebelah kanan saya tiba-tiba menjadi akrab dengan penumpang lain di belakangnya. Rupanya mereka terakrabkan oleh rasa takut. Sepertinya sudah saling tidak bisa menahan diri untuk mengekspresikan ketakutannya selama beberapa menit menjelang mendarat tadi. Ketakutan membawa keakraban.

Saya menguping percakapannya. “Kedua kaki saya sudah gemetaran tadi”, kata penumpang di samping kanan saya kepada teman barunya yang duduk di belakangnya, yang kemudian menimpali : “Saya juga sudah sport jantung tadi. Saya hanya berusaha yakin dengan nama besar Garuda saja”. Rupanya memiliki nama besar ada juga gunanya, kata saya iseng dalam hati. Setidak-tidaknya lebih dipercaya, meski kalau memang mau celaka, ya celaka aja. Tidak ada hubungannya dengan nama besar atau nama kecil.

Penumpang yang di belakang tadi rupanya memang begitu ketakutan setelah pengalaman tadi, lalu katanya : “Pulangnya nanti saya mau naik kereta saja. Takut, saya…”, begitu kira-kira katanya kemudian.

“Kenapa?” tanya penumpang yang duduk di sebelah saya. Sudah jelas ketakutan kok ya ditanya kenapa. Namun jawaban jujur penumpang yang ditanya tadi membuat saya berteka-teki. Katanya : “Kalau naik kereta atau mobil, kalau ada apa-apa kan masih bisa ditemukan. Lha kalau naik pesawat, hilang entah kemana”. Agak tersenyum kecut juga saya mendengar kata-kata itu. Kemudian mereka berdua mulai berjalan keluar dari pesawat dan pembicaraan mereka pun terhenti. Padahal saya berharap penumpang di sebelah kanan saya tadi bertanya : Apanya yang hilang dan apanya yang ditemukan?.

***

Saya masih merasa penasaran kenapa tadi pesawat begitu bergoncang lebih dari biasanya ketika badan pesawat menabrak awan. Saya telanjur berprasangka buruk, jangan-jangan pilotnya baru dan belum cukup pengalaman. Baru ketika hendak keluar dari pesawat dan melewati seorang pramugari saya sempatkan bertanya : “Mbak, kenapa tadi goncangannya kuat sekali?”.

Jawab pramugari itu dengan kalem seperti tidak ada apa-apa (ya memang sebenarnya tidak ada apa-apa) : “Karena ada tekanan udara panas dari bawah, pak”.

Ooo, begitu to…… Sungguh baru paham saya bahwa suhu udara di darat yang demikian panasnya ternyata dapat menyebabkan adanya tekanan kuat hingga mendorong dan melawan gerak turun pesawat yang hendak mendarat.

Maka kalau pada hari-hari dimana suhu udara begitu panas dan terpaksa harus naik pesawat di saat tengah hari, bersiap-siaplah untuk mengalami goncangan yang rada menyiutkan nyali seperti dialami oleh dua penumpang tadi. Tapi memasuki musim penghujan dan langit mendung berawan, hal yang sama juga bisa terjadi. Kalau kemudian benar ada apa-apa, semoga saja dapat ditemukan…. Lho, apanya?

Yogyakarta, 26 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Sehari Di Jakarta

7 Juni 2009

Alhamdulillah, sudah tiba kembali ke Jogja, setelah seharian tadi cek-cek Jakarta sebentar. Terminal 3 bandara Soekarno-Hatta nampak bersih dan bagus meski arsitekturnya terkesan “biasa-biasa saja” (maklum, wong namanya juga masih baru…..). Mudah2an tahan lama…., bersih dan bagusnya….

(Pagi itu bandara Adisutjipto padat banget, terutama dengan penumpang Mandala. Enggak tahu lagi ada apa. Meski begitu, senangnya petugas counter Mandala bekerja lincah….., sehingga check-in bisa cepat, dan pesawat pun tepat waktu mabur ke Jakarta. Jarang-jarang mengalami situasi seperti ini. Trims, Mandala… Malamnya, Garuda juga tepat waktu terbang ke Jogja. Rasanya senang sekali kalau semua perjalanan udara bisa selalu tepat waktu…).

Yogyakarta, 6 Juni 2009
Yusuf Iskandar

NB :
Suasana di depan Terminal 3 bandara Soekarno-Hatta

IMG_2466_rIMG_2465_r1

Menyaksikan Hari Baru 2009 Di Puncak Merapi

2 Januari 2009
Puncak Garuda, gunung Merapi (2.965 mdpl) - 1 Januai 2009

Puncak Garuda, gunung Merapi (2.965 mdpl) - 1 Januari 2009

Ada banyak cara dilakukan orang dalam menyambut datangnya tahun baru 2009. Di antaranya adalah dengan meninggalkan hiruk pikuk perkotaan, menuju ke alam bebas pegunungan. Noval dan bapaknya memilih untuk mendaki gunung Merapi (2.965 mdpl) yang menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber bencana, lalu berdiri di puncak Garuda menjadi saksi atas datangnya hari baru 1 Januari 2009.

Pendakian ini dicapai dari desa Selo, Boyolali, sekitar 60 km arah utara Yogyakarta, pada tanggal 31 Desember 2008 – 1 Januari 2009.

Merapi…..
sumber penghidupan sekaligus sumber bencana

Menggapai puncaknya adalah sebuah perjalanan mencari inspirasi
tentang gairah menemukan pencerahan baru
tentang semangat mengatasi tantangan
tentang kesadaran pengagungan kepada Sang Pencipta.

Namun,
Hari baru hanyalah sebuah keseharian
Menyaksikan sebuah mahakarya adalah kesempatan

Dan bilamana kesempatan itu datang dan kita memilikinya
Subhanallah…..
Maha Suci Allah Sang Pemilik Mahakarya itu
yang telah menciptakannya bersamaan dengan seruan-Nya :
“Hendaklah kalian berfikir…….”

Yogyakarta, 2 Januari 2009
Yusuf Iskandar

img_0902_noval-di-puncak-garuda

img_0860_watu-gajah

img_0905_di-watu-gajah

img_0862_daun-merah-dan-merbabu

img_0852_noval-dan-bapaknya

img_0865_monumen

Jujur Tapi Khilaf, Atau Malu?

2 Agustus 2008

Panggilan boarding untuk penumpang pesawat dengan nomor penerbangan Garuda Wiro Sableng (GA 212) jurusan Jakarta-Jogja dikumandangkan di Terminal F bandara Soekarno-Hatta. Penumpang segera bergegas menuju pintu keberangkatan. Kali ini penumpang tidak langsung diarahkan memasuki lorong belalai gajah menuju kabin pesawat, melainkan turun untuk naik bis pengantaran dulu. Wah, sopir pesawatnya tadi parkir kejauhan, pikir saya.

Satu per satu penumpang menaiki tangga pesawat melalui pintu depan. Nampaknya saya harus agak bersabar, sebab saya kebagian nomor tempat duduk 19 yang berarti jauh berada di belakang. Ketika sudah berada di dalam pesawat, saya lihat ada sekelompok penumpang berdiri bergerombol di ujung belakang. Agak riuh. Ada demo? Pasti bukan, karena terlihat pada cengengesan.

Setelah tiba di belakang barulah saya tahu, rupanya pesawat Garuda yang narik trayek ke Jogja sore itu baris tempat duduknya hanya sampai nomor 18. Sementara penumpang yang berdiri bergerombol adalah pemegang karcis bernomor tempat duduk 19 sampai 21, termasuk saya. Hanya karena penumpang percaya bahwa Garuda akan mampu mengatasinya, artinya tidak bakalan tidak dapat tempat duduk, maka penumpang tetap bersabar sambil ketawa-ketiwi.

Akhirnya seorang petugas datang sambil membawa daftar penumpang yang sudah diperbaiki rupanya. Lalu satu-persatu penumpang yang masih berdiri dibelakang itu dibacakan namanya dan diberitahu nomor tempat duduk yang benar. Legalah, semua penumpang. Setidak-tidaknya tidak harus berdiri bergelantungan atau duduk di bangku yang disisipkan di lorong pesawat.

Entah kenapa pesawat Boeing 737-300 yang jumlah baris tempat duduknya sampai nomor 21 yang biasa narik trayek Jakarta-Jogja, kali itu diganti dengan Boeing 737-500 yang lebih kecil. Tapi rupanya penggantian pesawat ini mendadak sehingga tidak nyambung ke petugas check-in, walhasil pengaturan tempat duduk sewatu check-in belum disesuaikan.

Penghargaan pantas diberikan untuk petugas Garuda yang cukup lincah dan dengan sigap mengatasi kesemrawutan di ujung belakang kabin pesawat, sehingga urat kesabaran penumpang belum sempat menegang, melainkan masih bersuasana goyonan plesetan ala Jogja (“sambil menunggu disediakan bangku yang akan dipasang di lorong seperti naik bisa antar kota saat mudik lebaran”).

Akhirnya pesawat pun siap tinggal landas dengan tanpa kehilangan banyak waktu penundaan. Saya pikir, masalah dan hambatan senantiasa ada dalam pengelolaan sistem angkutan udara. Cuma yang membedakan antara maskapai yang satu dan lainnya adalah keterampilan petugasnya untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, lincah dan ramah. Ora klelat-klelet…… (tidak ogah-ogahan atau asal-asalan). Sayangnya keterampilan seperti ini tidak ada sekolahnya, melainkan bisa dilatih sebagai bagian dari tanggungjawab profesional, apapun profesinya.

Awalnya saya melihat dan merasakan peristiwa ini sebagai kejadian yang biasa-biasa saja. Tidak menarik untuk saya ingat-ingat. Sampai kemudian ada halo-halo dari ujung depan sana yang menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan keberangkatan. Dan ini yang berbeda : “karena alasan kurangnya profesional petugas……….”. Pada bagian titik-titik dari halo-halo awak kabin ini tidak terlalu jelas saya dengar. Tapi kedengarannya mirip-mirip ucapan garuda.., gadura.., garadu.. atau gadaru….., gitu…

Tapi okelah. Dalam banyak hal kita sering menganggap bahwa “Siapa” tidaklah terlalu penting, karena biasanya cenderung untuk subyektif. Jauh lebih penting mengetahui “Kenapa” atau “Bagaimana”, sebab dari sana biasanya akan lebih obyektif dan ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan itu sudah terjawab, yaitu “kurangnya profesional petugas…..”, seperti pengakuan jujur awak pesawat.

Ini sesuatu yang baru bagi saya. Selama ini, ilmu permintaan maaf ini sudah saya hafal di luar kepala. Kalau bukan “karena alasan teknis”, ya “karena alasan operasional”. Tapi rupanya perbendaharaan alasan di kepala saya harus ditambah. Masih ada alasan yang lain, yaitu “karena alasan kurangnya profesional”. Sebuah pengakuan yang kedengaran begitu jujur dan menyentuh (bukan hati, melainkan rasa tangungjawab).

Pengakuan jujur yang rasanya pantas diapresiasi. Hanya sedikit saja sayangnya, yaitu kedengaran agak malu-malu burung…… Pasalnya seingat saya, baru kali itulah saya mendengar pengumuman yang diperdengarkan di dalam pesawat dengan tanpa disertai terjemahan bahasa Inggrisnya……

Moga-moga prasangka saya salah. Bukan karena malu menerjemahkan di hadapan penumpang asing, melainkan hanya karena khilaf saja. Tapi khilaf bisa jadi adalah bagian dari profesionalisme kalau keseringan, alias bolak-balik khilaf….

Yogyakarta, 2 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Teman Seperjalanan Yang Baik Hati

31 Juli 2008

Akhirnya datang juga…., kesempatan memperoleh tiket burung Garuda dengan harga wajar untuk perjalanan Jayapura – Timika – Denpasar – Jakarta. Padahal sebelumnya hanya bisa naik maskapai murah-meriah karena harga tiket Garuda sudah melambung ke puncak tangga. Sudah terbayang bahwa perjalanan panjang kali ini bakal lebih bisa saya nikmati dibandingkan kalau saya naik burung-burung yang lain.

Malam sebelumnya masih di Jayapura, adalah malam yang panjang dan melelahkan, sementara esok paginya harus menuju bandara Sentani yang berjarak sekitar satu jam dari kota Jayapura. Saya sudah menyusun skenario bahwa selama perjalanan ke Jakarta, pilot Garudanya mau saya tinggal tidur saja. Sisa rasa kantuk semalam sebelumnya mau saya lampiaskan sepanjang perjalanan udara Jayapura – Jakarta.

Rupanya skenario perjalanan saya tidak berlangsung sesuai plot. Itu karena di samping atau sebelah kanan saya duduk dua orang penumpang yang asli orang Papua yang sedang menempuh perjalanan menuju Denpasar. Perjalanan mereka kali ini adalah perjalanan pertamanya dengan pesawat besar keluar dari tanah Papua. Selama ini hanya midar-mider naik pesawat di seputaran kota-kota kecil di Papua saja. Salah seorang tetangga saya, penumpang di sebelah kanan saya itu ternyata adalah teman seperjalanan yang sungguh baik hati.

Dalam perjalanan Jayapura – Timika, segera saya terlelap bahkan sejak sebelum pesawat tinggal landas dengan sempurna. Ketika ada pembagian makanan kecil dan minum oleh mbak pramugari, tetangga saya ini membangunkan saya sambil menyodorkan sekotak makanan yang diestafet dari mbak pramugari, tanpa sepatah kata pun.

Setelah itu saya tidak bisa tidur lagi karena cuaca yang sedang cerah memperlihatkan pemandangan indah pegunungan tengah daratan Papua di bawah sana. Sedangkan penumpang di sebelah kanan saya itu turut melongok mendekat ke jendela yang ada di sebelah kiri saya. Bukan cuma itu, melainkan sambil bercerita tentang kawasan di bawah sana yang dia sangat mengenalnya.

Dalam perjalanan Timika – Denpasar, saya tertidur lagi. Ketika tiba pembagian makan siang, penumpang di sebelah saya njawil (menyolek) tangan saya. Rupanya meja lipat di depan saya sudah dibukakan dan sekotak makan siang juga sudah tersaji. Kenyang makan, saya pun melanjutkan tidur.

Rupanya masih ada pembagian ransum makanan ringan. Sewaktu mbak pramugari berkeliling membagikannya lagi, penumpang di sebelah saya itu kembali membangunkan saya.

Barangkali tetangga di sebelah saya itu beranggapan bahwa tidak baik menolak pemberian suguhan makanan, sehingga saya perlu dibangunkan. Atau, dia sekedar berbuat baik agar saya tidak terlewat diberi suguhan. Tapi, njuk ora sido turu aku…… (saya jadi tidak bisa tidur….)

“Untungnya”, teman seperjalanan saya yang baik hati itu turun di Denpasar. Begitu baiknya sehingga mereka merasa perlu berpamitan kepada saya sebelum turun. Di Bali mereka hendak mengikuti pelatihan tentang radio, katanya. Saya membalas dengan menyampaikan ucapan selamat bertugas dan terima kasih. Ucapan terima kasih saya yang tulus atas kebaikannya, tapi tidak atas semangat pembangunannya (maksudnya, membangunkan orang yang sedang tidur ngleker di pesawat….).

Tidak disuguhi minuman, kehausan. Disuguhi kue thok tanpa minum, keseredan. Tapi terlalu banyak suguhan di dalam pesawat, ternyata juga bisa menjengkelkan……

Akhirnya, perjalanan lanjutan Denpasar – Jakarta dapat berlangsung dengan tenang, aman dan terkendali. Skenario untuk meninggal tidur pilot pun berjalan sesuai plotnya. Ya, karena tidak ada lagi aktifitas pembangunan oleh penumpang di sebelah saya.

Yogyakarta, 31 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Berani Terbang Murah Harus Berani Kehausan

11 Juli 2008

Bepergian dengan pesawat pada seputar waktu peak season, seperti misalnya musim libur akhir tahun ajaran sekolah, mencari tiket pesawat minta ampun susahnya. Apalagi kalau tidak memesan jauh hari sebelumnya. Kalaupun akhirnya dapat juga, biasanya harus rela membayar harga tiket jauh lebih mahal dari biasanya. Belum lagi kalau inginnya naik burung garuda (maskapai Garuda Indonesia), dijamin bakal berebut seat yang tersisa dengan harga bisa lebih dua kali lipat harga tiket maskapai lain. Artinya, apapun pesawatnya, mbayarnya tetap lebih mahal dari biasanya.

Untuk alasan mencari harga termurah di antara yang mahal, maka pilihan terbang dengan burung garuda terpaksa dikesampingkan. Maka alternatifnya adalah harus berani menunggang pesawat dari maskapai bertarif murah. Tapi terkadang naik pesawat bertarif murah juga bukan pilihan, melainkan karena memang tinggal itu adanya. Ya, karena sedang peak season itu tadi.

Berniat terbang ke Jayapura dari Jogja. Rupanya karcis burung garuda sudah ludes. Lalu pilihan jatuh ke burung singa (Lion Air) yang ternyata harga tiketnya lebih murah. Rutenya Jogja – Jakarta – Makasar – Jayapura. Waktu tempuh di udara total 6,5 jam belum termasuk waktu transit. Waktu tempuhnya sih, oke saja. Hanya saja burung singa ini pelit ransum air, atau memang menerapkan prinsip hemat air. Sepanjang enam setengah jam yang terdiri dari satu jam tambah dua jam tambah tiga setengah jam, tak setetes air minum pun digelontorkan, apalagi mengalir sampai jauh……

Empat hari kemudian kembali dari Jayapura ke Jogja. Tidak ada pilihan lain selain kembali naik burung singa yang ternyata harga tiketnya sudah lebih dua kali harga ketika berangkatnya. Apa boleh buat. Tetap juga berlaku prinsip hemat air, tidak ada pembagian ransum sekalipun segelas air putih. Kalau kepingin minum dan lupa membawa bekal ya salahnya sendiri. Berani naik pesawat bertarif murah berarti harus siap kehausan di udara.

Dua hari kemudian harus menuju Kuala Lumpur. Kali ini sengaja memilih maskapai bertarif murah yang bebas tempat duduk (maksudnya, bebas memilih alias dulu-duluan masuk pesawat). Meskipun namanya Air Asia, tapi sumprit… selama dua setengah jam duduk di dalam pesawat tidak ada pembagian air. Kalau kepingin minum ya harus membeli ke gerobak dorongnya mbak pramugari. Empat hari kemudian kembali ke Jakarta naik burung asia yang sama, yang sudah pasti juga tanpa dropping air di udara.

Terkadang bukan soal harga airnya. Tapi, masak iya pelit amat sih……. Di warung saya harga segelas akua paling mahal gopek (lima ratus rupiah). Seingat saya maskapai bertarif murah di Amerika pun masih sempat membagikan segelas kecil air mineral. Membereskan sampah plastik kosongnya juga mudah. Sementara maskapai burung besi lainnya berlambang benang ruwet (Sriwijaya Air) dan perut semar (Batavia Air) masih berbaik membagi ransum.

Sebagai alternatif barangkali di dalam pesawat bisa disediakan kendi (tempat air dari tanah) seperti orang-orang desa yang suka menyediakan kendi di depan rumah saat musim panen tiba. Sehingga siapa saja yang sedang lewat dan kehausan bebas menggelonggong (minum dengan cara tidak menempelkan cucuk kendi ke mulut), sepuasnya………..

Ketika iseng-iseng saya kirim SMS kepada bagian customer care tentang usulan membagi ransum air putih, dijawab : “pesan anda akan segera kami tindak lanjuti”. Saya merasa perlu bersiap mafhum bahwa “ditindaklanjuti” tidak sama artinya dengan “dipenuhi”. Jadi, nampaknya saya harus tetap berpegang pada pesan bijak : berani terbang murah harus berani kehausan.

Yogyakarta, 11 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Dinaikkan Kelas Oleh Garuda

4 Mei 2008

Seperti biasa ketika panggilan boarding dikumandangkan, para penumpang termasuk saya segera berbaris antri menuju pintu 2 bandara Adisutjipto, Jogja. Tiba giliran kartu boarding saya diperiksa, saya dipersilakan untuk menyisih dulu. “Wah, ada masalah apa ini?”, begitu pikir saya spontan, karena tidak biasanya hal seperti ini terjadi.

Rupanya saya diberitahu bahwa kartu boarding saya diganti, yang tadinya berwarna hijau bertuliskan “Economy Class” ditukar dengan yang berwarna ungu bertuliskan “Executive Class”. Tanpa basa-basi kalimat pengantar, kecuali sekadar : “Boarding pass-nya diganti ya, pak”. Begitu saja kata si embak petugas Garuda..

Jelas saya “tidak puas” (maksudnya, kok tidak ada penjelasannya…). Ketika saya tanya kenapa? Jawabnya singkat : “Di-upgrade”. Lha ya sudah tahu kalau di-upgrade.

Biar tidak kelamaan, akhirnya ya saya komentari sendiri saja sekenanya : “Up grade otomatis ya, mbak”.

“Iya”, jawab pendek si embak (rupanya bukan hanya senjata, pintu dan kunci yang bisa otomatis, upgrade juga bisa…).

Ya sudah. Tiba-tiba saja ayunan langkah saya menuju pesawat yang parkirnya agak jauh terasa lebih ringan, cara berjalan saya pun menjadi agak gaya, dan pandangan ke sekeliling pelataran parkir pesawat pagi itu terasa lebih jernih. Itu karena tadi pagi saat matahari belum mecungul, sebelum jam enam pagi, saya sudah mendapat rejeki dinaikkan kelas oleh Garuda.

Sebenarnya memang bukan peristiwa yang luar biasa. Hanya karena sudah lama saya tidak menerima jenis rejeki seperti ini maka menjadi begitu istimewa. Saking istimewanya hingga saya berpikir, bagaimana caranya agar rejeki semacam ini bisa berulang kembali.

***

Sebagai penumpang pesawat kelas eksekutif, tentu saja berhak menerima fasilitas, perlakuan dan pelayanan berbeda dibanding penumpang kelas ekonomi. Tempat duduk lebih longgar dan lebar, sajian pembukanya bukan permen melainkan jus, diberi pinjaman handuk kecil hangat, bekal untuk sarapan plus penyajiannya juga beda, bolak-balik ditanya dan ditawari apa mau ditambah minumnya (tapi makanannya tidak).

Bukan itu yang menjadi pemikiran saya (diperlakukan enak saja masih dipikir, apalagi kalau tidak enak…), melainkan kenapa tiket saya bisa di-upgrade?

Saya memang anggota Frequent Flyer Garuda, tapi kalau karena itu mestinya banyak juga penumpang lain yang juga jadi member Frequent Flyer. Sementara ketika saya coba mengamati tempat duduk kelas eksekutif, di sana masih ada 6 kursi kosong dari 16 kursi kelas eksekutif yang tersedia. Jangan-jangan diundi? Rasanya tidak mungkin juga. Kurang kerjaan amat…!

Mestinya bagian pertiketan atau pelaporan penumpang yang tahu jawabannya. Tapi kok jadi saya yang kurang kerjaan kalau mau menanyakan kepada mereka.

Yang ada di pikiran saya sebenarnya adalah kalau saya tahu apa alasannya, maka saya akan tahu apa persyaratannya (conditions). Kalau tahu persyaratannya, maka lain waktu saya akan berusaha memenuhi persyaratan itu. Untuk apa lagi kalau bukan agar dinaikkan kelas lagi oleh Garuda.

Bagaimana menjadikan peristiwa tadi pagi sebagai lesson learn. Jika ada kemenangan kecil (small winning) bisa kita raih untuk mendatangkan keuntungan, maka hanya dengan mengetahui dan memahami kondisinya maka kemenangan-kemenangan kecil berikutnya akan dapat kita kumpulkan sehingga menjadi keuntungan besar.  

He…he…he…,  terima kasih Garuda. Sampeyan tidak salah memilih penumpang untuk diberi rejeki…. (atau dikasihani?).

Jakarta, 2 April 2008
Yusuf Iskandar

Ketika Harus Naik Pesawat ”Pokoke Mabur”

4 Mei 2008

Maunya terbang ke Jakarta dari Jogja naik burung Garuda, namun apa daya terkadang harga tiket yang tersisa melonjak tinggi sekali. Seperti tadi pagi, harga tiket burung besi Garuda hampir empat kali lipat harga tiket murah-meriah-resah-gelisah dari maskapai “Pokoke Mabur” yang cuma Rp 229.000,-. Selisih yang hampir 900 ribu rupiah tentu sangat cukup untuk mandi pakai 60 liter minyak goreng yang juga lagi melonjak harganya.

Namanya juga pokoke mabur (yang penting terbang), maka jangan heran kalau awaknya pun pokoke mramugari (pakai huruf depan ‘m’, yang artinya yang penting menjalankan tugas sebagai pramugari).

Baru saja pesawat atret mundur hendak siap-siap menuju landasan, peragaan busana emergency segera dimulai. Seorang pramugari bertugas di bagian tengah kabin dan seorang pramugara di ujung depan kabin. Seorang lagi hanya kedengaran suaranya sebab bertugas membacakan tatacara penggunaan piranti emergency dalam dua bahasa.

Paras cantik tidak menjamin identik dengan cara membaca yang cantik pula alias enak didengarkan. Ya, karena pokoke (yang penting) dibacakan, itu tadi. Soal cara membaca ini, kalau dipikir-pikir (meskipun tidak usah dipikir sebenarnya juga sudah ketahuan) hanya beda sedikit saja dengan cara membacanya keponakan saya yang belum tamat SD.

Asal dilarak… diseret saja membacanya agar cepat selesai. Tidak jelas mana koma mana titik. Tidak jelas urut-urutannya, seperti kepulauan Indonesia yang sambung-menyambung menjadi satu minus Sipadan dan Ligitan. Termasuk tidak ada jeda mana yang bahasa Indonesia mana yang coro Londo. Pendeknya, buru-buru seperti kebelet mau ke belakang…..

Akibatnya, antara bacaan naskah dan peragaannya nyaris seperti balapan, dulu-duluan selesai. Jangankan penumpangnya, pramugari yang memeragakan pun sebenarnya bingung mengikuti urut-urutan tatacara yang sedang dibacakan. Ketika penggunaan masker oksigen masih dibacakan dalam bahasa Inggrisnya, tapi sang peraga sudah mengangkat tinggi-tinggi kartu petunjuk keselamatan.

Maka ketika penggunaan kartu petunjuk keselamatan dalam bahasa Inggris belum selesai dibacakan, pramugara yang di depan sudah balik kanan menuju kabin depan dan pramugari yang di tengah langsung kabur duluan ke kabin belakang. Jadi benar, memang sedang kebelet ke belakang….. (bagian belakang pesawat maksudnya).

Entah karena telanjur terbiasa begitu atau memang saking tidak menariknya “acara” peragaan itu, maka penumpang pun seperti tidak ada yang memerdulikannya. Penumpang nampak asyik dengan jalan pikiran masing-masing. Ibarat sebuah acara pementasan, maka ini adalah pementasan yang gagal.

Belum lama pesawat take-off dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman belum dipadamkan, tiba-tiba penumpang yang duduk tepat di sebelah kiri saya berdiri hendak ke WC. Tentu saja langsung diberi kode oleh pramugari agar duduk kembali. Barulah saya tahu rupanya penumpang di sebelah saya itu sejak awal tadi tidak mengenakan sabuk pengaman dan tidak ketahuan.

***

Malamnya saya kembali ke Jogja naik pesawat “Pokoke Mabur” lainnya. Rasanya sudah belasan kali saya ikut penerbangan terakhir ke Jogja dengan pesawat ini dan belum pernah sekali pun mabur (terbang) tepat waktu. Saking seringnya, sehingga kalau “hanya” terlambat satu jam sudah tidak perlu dihalo-halo lagi. Semua pihak sepertinya sudah sama-sama maklum. Mestinya sekalian saja secara resmi jadwalnya dimundurkan satu jam. Wong sudah terbukti sering sekali begitu.

Tiba saatnya boarding, rupanya hanya pintu depan pesawat Boeing 737-900ER yang dipasangi tangga, sedangkan pintu belakang tidak digunakan. Karuan saja dua ratusan penumpang tumplek-blek bergerombol di depan tangga menunggu giliran naik satu-persatu. Jarang-jarang saya mengalami kejadian seperti ini.

Ada seorang penumpang yang rupanya cukup kritis menanyakan kepada seorang awak kabin, kenapa pintu belakang tidak dibuka. Lalu dijawab bahwa tidak ada tangganya. Penumpang itu rupanya belum puas dan masih ingin memastikan bahwa tidak dibukanya bukan karena macet.

Pertanyaan yang sangat logis. Sebab masih lebih baik pintu tidak dibuka karena tidak ada tangga (meskipun sebenarnya aneh bin ajaib), daripada tidak dibuka karena pintunya macet atau rusak.

***

Meski pesawat jenis Boeing 737-900ER itu tergolong pesawat baru, tapi ketika roda-rodanya menjejak bumi bandara Adisutjipto, tak urung mak jegluk…. Menghentak cukup keras sehingga mengagetkan sebagian besar penumpangnya.

Maka, kalau terpaksa menggunakan jasa maskapai “Pokoke Mabur”, perlu memperbanyak doa untuk mengendalikan rasa resah-gelisah di atas tiket murah-meriah, agar pokoke tekan nggone (yang penting sampai tujuan dengan selamat). Jangan sampai pesawatnya mabur ….. tinggi sekali dan tidak kembali lagi….. (diucapkan dengan logat Banyumasan).-

Yogyakarta, 5 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Oops…. Saya Ketumpahan Teh Panas

4 Mei 2008

Saat sedang mengantri untuk boarding di bandara Adisutjipto Yogya, tiba-tiba saya disapa oleh seorang teman lama. Karuan saja suasana jadi seru, ngobrol ngalor-ngidul sambil bergerak mengikuti antrian. Saking asyiknya, obrolan masih terus berlanjut sambil jalan memasuki pesawat hingga di dalam pesawat, ketika peragaan busana emergency oleh awak kabin, sampai pesawat take-off, hingga tiba saatnya pembagian makanan dan minuman.

Pembicaraan sepertinya tidak habis-habis, ditambah lagi teman lama saya ini tergolong manusia yang suka cerita-cerita. Rencana semula mau tidur di pesawat pertama yang menuju Jakarta jadi batal.

Sajian teh panas sesuai pesanan pun segera dibagikan oleh pramugari. Saat mbak pramugari menyodorkan segelas, eh… seplastik, eh… segelas plastik (gelas kok plastik, pokoknya ya itulah……), tiba-tiba mak grujug…….! Segelas teh panas tumpah di atas pangkuan, membasahi baju, celana dan yang ada di baliknya. Mak nyosss…., lha wong wedhang (air minum) panas je….. Mau bergerak bangkit ya susah. Terpaksa harus agak menahan rasa panasnya.

Mau marah sama siapa? Malah nanti jadi tontonan penumpang lain, mengalahkan lucunya acara “Just for Laugh” yang lagi ditayangkan di televisi kecil yang menggantung di tengah kabin pesawat.

Mbak pramugari pun berkali-kali meminta maaf. Juga teman saya yang duduk di sebelah kanan saya di dekat jendela. Karena saya duduk di tengah, maka acara serah-terima segelas teh panas itu terjadi tepat di depan saya. Ya sudah. Kedua pihak saya beri maaf. Inilah akibatnya kalau kelewat asyik ngobrol, sampai kurang konsentrasi sewaktu acara serah-serahan teh panas.

Mbak pramugari mungkin merasa sudah menyerahterimakan segelas teh panas kepada teman saya, sementara teman saya sambil terus ngobrol meski sudah mengulurkan tangannya tapi sebenarnya belum benar-benar menerima segelas teh panas itu. Maka segelas teh panas itu telah berada dalam ketidakseimbangan antara lepas dari tangan lentik mbak pramugari tapi belum diterima oleh tangan kasar teman saya yang buruh tambang. Tinggal saya yang jadi pelanduk tak berkutik di tengah-tengah. Ya ke-sok-an (ketumpahan) teh panas itu tadi jadinya….

Dua gepok tisu putih lalu disodorkan oleh mbak pramugari dalam dua kali pemberian, lalu masih ditambah dengan dua gulung handuk kecil putih untuk menyeka air. Tapi ya tetap saja telanjur basah. Apa ya mau buka baju dan celana untuk mengusap bagian tubuh yang basah. Tapi saya menghargai langkah tanggap darurat mbak pramugari, meski itu tidak menyelesaaikan masalah.

Untungnya…. (sudah jelas-jelas sial kok masih untung), yang tumpah adalah teh tawar panas, dan bukan kopi manis panas. Saya pun tidak sedang mengenakan kemeja putih.

Nampaknya mulai saat ini saya mesti lebih waspada, atau memasang status “Siaga” hingga “Awas” seperti menyongsong gejolak gunung Merapi, jika tiba acara serah-serahan minuman di dalam pesawat. Siapa tahu penumpang di sebelah saya sedang kurang konsentrasi, atau justru pramugari atau garanya yang tidak konsentrasi.

Sekalipun bisa marah dan berbunyi-bunyi, tapi kalau sudah telanjur basah apalagi plus meninggalkan noda di baju, padahal mau hadir di meeting atau melakukan presentasi. Njuk terus mau ngapain?

Yogyakarta, 1 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Garuda Mengembalikan Kelebihan Uangku

4 Mei 2008

Kebetulan urusan di Jakarta selesai lebih cepat dari rencana, maka saya langsung menuju bandara Soekarno-Hatta untuk kembali ke Jogja. Harapan saya, e-tiket yang sudah dipesan via tilpun untuk penerbangan GA216 tujuan Yogyakarta jam 19:25 WIB, siapa tahu dapat saya majukan jadwalnya ikut penerbangan yang lebih awal.

Tiba di counter Garuda terminal F, saya langsung lapor dengan menyebutkan kode booking. Setelah itu saya tanyakan apakah bisa ikut penerbangan lebih awal. Oleh petugas dijawab bisa, tapi tinggal yang penerbangan GA214 jam 18:30. Sedangkan penerbangan yang lebih awal yaitu GA212 jam 16:30 sudah penuh. Saya setuju untuk diubah ke GA214. Lumayan, lebih awal satu jam. Meski untuk itu dikenakan biaya rebooking sebesar Rp 50.000,-

Sampai di counter check-in di dalam, saya tergoda untuk iseng menanyakan apakah bisa maju ikut penerbangan GA212 jam 16:30. Pasti akan sangat menghemat waktu, dibandingkan kalau mesti menunggu di bandara sampai jam penerbangan terakhir. Oleh petugasnya dijawab sudah penuh, tapi bisa dicoba sebagai cadangan. Saya pun mengiyakan tanda setuju. Maka tiket yang sudah terdaftar untuk penumpang GA214 lalu didaftar sebagai penumpang cadangan GA212.

Tiba waktunya, nama saya dipanggil tanda status cadangan saya lolos untuk ikut terbang bersama GA212. Tapi…. (ada tapinya), tiket saya harus di-upgrade berubah dari kelas dari B ke M. Embuh, apa artinya….., yang saya tahu adalah saya dipersilakan pergi ke kasir dan membayar biaya tambahan. Setelah tanya kasir, ternyata biaya tambahannya Rp 285.000,- Sejenak saya berpikir, diambil atau tidak? Apakah ini biaya tambahan yang layak dibayar untuk memperoleh tempat di GA212?

Pilihannya : tidak diambil berarti tidak perlu menambah biaya dan tetap terbang jam 18:30, atau diambil dengan menambah biaya tetapi bisa tiba di rumah lebih awal sebelum waktu maghrib. Akhirnya saya putuskan untuk diambil dan saya bayar biaya tambahan. Setelah lunas, lalu check-in, kemudian menuju ruang tunggu. Tiba di ruang tunggu untuk lewat saja karena langsung dipersilakan masuk pesawat yang akan segera mengangkasa menuju Yogyakarta.   

Pintu pesawat sudah siap ditutup ketika tiba-tiba ada seorang petugas Garuda perempuan berwajah cukup ayu (lha wong perempuan…..) tergopoh-gopoh mencari-cari saya. Waduh……! Salah opo aku……. Jangan-jangan ada kekeliruan sehingga saya harus balik kanan batal naik pesawat itu, atau biaya tambahannya kurang? Pasalnya, di depan penumpang lainnya yang sudah “sit biyuti” (bahasa Thukul, maksudnya duduk manis) di dalam pesawat menunggu berangkat, mbak petugas Garuda itu menanyakan kertas bersampul biru, bukti pembayaran biaya tambahan tadi.

Setelah saya tunjukkan kertas bersampul warna biru tua berlambang Garuda yang diminta, mbak petugas Garuda mengatakan bahwa kertas birunya diminta lagi karena tadi ada kekeliruan…. Sampai di sini…mak deg atiku…… Lalu disambung, bahwa tadi ada kelebihan pembayaran, maka tiket birunya diganti dan kelebihan pembayaran dikembalikan. Sampai di sini… baru mak plong atiku……

Rupanya jumlah biaya tambahan untuk naik kelas sebagai penumpang pesawat GA212, yang seharusnya saya bayar adalah Rp 171.000,- dan bukan Rp 285.000,- (saya benar-benar tidak tahu bagaimana rumus hitungannya). Pokoknya ya saya iyakan saja.

Saya sempat bertanya : “Kok bisa ketahuan kalau kelebihan, mbak?”.

Mbak petugas Garuda hanya menjawab cepat : “Iya, pak”, sambil tersenyum, sambil memberikan bukti pembayaran pengganti dan kelebihan uangnya (saya maklum, pertanyaan saya pasti susah dijawab cepat, karena saya tidak memberi pilihan jawaban seperti soal test pilihan ganda).

Mbak petugas Garuda segera meninggalkan saya menuju keluar pesawat. Saya pun duduk kembali. Pintu pesawat lalu ditutup dan pesawat segera mundur lalu bersiap terbang. Beberapa saat kemudian, baru iseng-iseng saya hitung uang kelebihannya, dan jumlahnya ternyata Rp 114.000,- pas.

Saya berpikir dalam hati (mestinya kalau berpikir ya dalam otak, tapi kok kedengaran aneh kalau saya katakan “saya berpikir dalam otak”). Sudahlah, pokoknya saya cuma mbatin. Pertama (mbatin saja kok ya ada urut-urutannya…..), kok sempat-sempatnya petugas Garuda memeriksa kembali bahwa saya telah membayar lebih. Kedua, kok sempat-sempatnya menyusul saya ke dalam pesawat yang siap berangkat (padahal jaraknya lumayan jauh dari counter kasir), dengan membawa uang kelebihan yang pas jumlahnya. Ketiga, seandainya kelebihan itu tidak dikembalikan pun sebenarnya saya tidak tahu dan tidak perduli.

Maka untuk kejadian yang simpatik ini, saya menaruh apresiasi setinggi-tingginya kepada Garuda. Untuk hal yang baik ini saya berharap mudah-mudahan bukan karena oknum, melainkan memang perbaikan kinerja. Kalau karena oknum, maka ganti petugas, ya embuh…… kejadiannya. Tapi kalau karena perbaikan kinerja……., jayalah burung besi pembawa benderaku Indonesiaku…..

Saya mengapresiasi, bukan karena Garuda telah mengembalikan kelebihan uangku (Rp 114.000,- mungkin dapat dibelikan 228 potong tempe kedelai goreng tepung, irisan tipis, ukuran 6 cm x 8 cm, cukup dibagikan tetangga se-RT sama anak-anak dan kucingnya), tapi lebih karena perwujudan professionalisme kerja. Terima kasih Garuda!

Yogyakarta, 22 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Uluk Salam

4 Mei 2008

Selama ini kalau saya bisa memilih untuk terbang di dalam negeri, maka saya akan menggunakan pesawat cap Garuda. Menurut pendapat para penerbang (orang yang suka bepergian dengan pesawat terbang), pesawat Garuda kalau landing masih lebih enak dan mulus dibandingkan pesawat lainnya. Sebab (masih katanya) di banyak pengalaman, pesawat cap lainnya kalau landing suka njumbul-njumbul dan tidak terasa mulus. Belum lagi terkadang diberi bonus berhenti di luar lapangan alias terpeleset kebablasan.

Meski saya tahu bahwa ini adalah kesimpulan yang digeneralisir, toh (diam-diam) saya sepakat. Lha iya, mana ada hubungannya antara mendaratnya pesawat dengan perusahaan penerbangannya, apalagi dengan keterampilan pilotnya. Tapi, ya gitu lah…

Maka ketika saya hendak terbang ke Jakarta dari Yogyakarta pada tanggal 26 Desember 2006 beberapa waktu yang lalu, pertama yang terlintas dalam pikiran adalah pesan tiket dengan penerbangan pertama di pagi hari dengan pesawat Garuda. Tapi begitu tahu harga tiketnya, saya jadi berpikir dua tiga kali. Pasalnya ketika pesan tiket dua hari sebelum tanggal keberangkatan, harga tiket Garuda untuk penerbangan Jogja – Jakarta pulang pergi adalah Rp 1,25 juta lebih. Sementara harga tiket pesawat Adam Air untuk jurusan dan waktu yang sama hanya Rp 550 ribu lebih sedikit. Wah, kok njeglek sekali bedanya….?

Ya jelas, akhirnya saya memilih terbang dengan pesawat Adam Air yang warna body-nya dominan kuning keoranye-oranyean (wah, angel tenan…..). Mau landing njumbul-njumbul ya biarin sudah! Lha harga yang harus dibayar untuk tiket Garuda bisa saya pakai ke Jakarta dua kali bolak-balik, atau mengajak tetangga saya ke Jakarta naik Adam Air. Bahkan masih sisa. (Tapi kalau ingat kejadian terbaru pesawat Adam Air jurusan Surabaya – Manado kehilangan kontak dan entah mampir kemana, rasanya jadi bergidik bulu romaku…..).

Memang terkadang harga tiket pesawat dan penentuan harganya suka membingungkan. Konon tergantung waktu dan tempat yang dipersilakan. Konon lainnya tergantung biro travel dimana kita pesan. Terkadang dengan Garuda bisa diperoleh dengan harga lebih rendah dibanding perusahaan penerbangan lainnya. Tapi kalau lagi apes, malah dapat harga jauh lebih mahal.

***

Ada yang agak berbeda dengan pesawat Adam Air yang saya tumpangi pagi itu. Biasanya sang pramugari berhalo-halo menyambut penumpangnya dengan awalan salam Selamat Pagi, Selamat Siang atau Selamat Malam kepada para penumpang yang terhormat. Ucapan salam semacam ini, atau dalam istilah Jawa suka disebut dengan uluk salam, memang menjadi prosedur wajib bagi setiap perusahaan penerbangan.

Namun pagi itu uluk salamnya berbeda. Bukan Selamat Pagi, melainkan Assalamualaikum dan Salam Sejahtera kepada para penumpang yang terhormat. Rasa-rasanya saya belum pernah mendengar uluk salam seperti ini sepanjang pengalaman saya terbang domestik. Seperti kebiasaan saya, saya mereka-reka…….. Apa memang prosedur uluk salamnya Adam Air sudah ganti? Atau karena kebetulan hari itu berada di antara hari Natal dan hari Idul Adha? Namun yang pasti, saya merasakan nuansa batin yang agak berbeda.

Ketika keesokan malamnya saya masuk ke dalam pesawat guna menempuh perjalanan kembali ke Jogja, juga dengan Adam Air, diam-diam saya menanti-nanti uluk salam seperti apa yang akan disampaikan oleh sang pramugari.

Eh, rupanya si embak pramugari kembali beruluk salam dengan ucapan Selamat Malam dan Good Evening. Jadi rupanya kemarin pagi itu hanya sekedar improvisasi atas inisiatif sang pembaca naskah saja, saya pikir. Ya sudah. Namun setidak-tidaknya kemarin saya telah menemukan suasana batin yang agak berbeda.

Good Morning Selamat Pagi.
Pesawat kuning uluk salamnya ganti, tapi hanya sekali…..  

Yogyakarta, 2 Januari 2007.
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Yang (Maksudnya) Baik

22 Maret 2008

Pagi itu, kira-kira sebulan yang lalu, saya mesti buru-buru menuju bandara Cengkareng. Menurut tiket pesawat yang sudah di tangan, saya akan kembali ke Yogya dengan pesawat Mandala penerbangan pagi. Sebenarnya saya rada ogah-ogahan naik pesawat ini. Waktu berangkat ke Jakarta kemarinnya naik Garuda, tapi kembali ke Yogya terpaksa menggunakan jasa pesawat Mandala karena kehabisan tiket Garuda.

Akhir-akhir ini pesawat Garuda banyak dipilih penumpang udara. Termasuk saya yang semula juga ngotot kudu naik pesawat Garuda pergi-pulang Yogya-Jakarta, sampai terbukti bahwa untuk hari itu dan jam itu tiket Garuda sudah tandas tak bersisa. Memang, sejak Adam Air ditengarai amblas laut bak Werkudoro yang slulup ke laut dalam sekali, menancapkan kukunya ke dasar samudra dan tidak njumbul lagi, banyak calon penumpang beralih ke Garuda. Tanya kenapa… Tanya kenapa… Sehingga maskapai non-Garuda seperti ditinggal pelanggannya, kecuali terpaksa. Dan, pagi itu saya termasuk yang terpaksa.

Cerita tentang raibnya pesawat Adam Air pun masih merebak menjadi buah bibir. Menghiasi halaman koran dan layar televisi, hampir setiap hari. Juga di pagi itu. Tak luput saya pun ngobrol sama sopir taksi tentang tragedi awal tahun yang menimpa Adam Air. Kebetulan rute yang kami lalui menuju Cengkareng cukup lancar membelah Jakarta, atau tepatnya belum padat, sehingga oborolan pun ikut lancar mengisi waktu.

Taksi yang saya naiki disopiri oleh seorang muda. Dari logatnya saya menebak kalau dia pasti setanah tumpah darah dengan Wapres negeri tetangganya Republik Mimpi, yaitu dari Solo….. Solowesi, maksudnya. Cara bicaranya ramah, bersahabat dan rasanya jarang-jarang saya ketemu sopir taksi seperti yang nyopiri saya pagi itu. Suasana dalam taksi sepanjang perjalanan menuju bandara serasa jadi nyaman.

Menjelang memasuki bandara, sang sopir menanyakan saya naik pesawat apa. Ketika saya jawab Mandala, dia sudah tahu mesti menuju ke terminal sebelah mana. Hingga sampailah taksi yang saya tumpangi, berhenti di depan terminal keberangkatan yang tampak sudah mulai ramai.

Setelah membayar ongkosnya, plus sekedar tip atas keramah-tamahannya, saya lalu membuka pintu taksi sebelah kiri hendak keluar. Baru sesisih kaki melangkah keluar, mas sopir taksi tiba-tiba memanggil (untung saya tidak meloncat gedrug bumi seperti presiden Bush waktu di Bogor), sehingga saya sempat mendengar suara mas sopir taksi.

Lalu kata mas sopir taksi : “Hati-hati, Pak. Jangan lupa berdoa…..”.

Spontan saya pun menjawab : “Ya, terima kasih….”.

Setiba di teras bandara, sejenak saya tercenung. Pertama, saya teringat kebaikan mas sopir yang berbaik hati mengingatkan saya. Kedua, pikiran saya tiba-tiba melayang jauh, memunculkan flash-back penggal-penggal berita tragedi Adam Air. Apa kalau berdoa, lalu akan selamat……., dan kalau tidak berdoa, tidak selamat…….. Begitu pokok soal lamunan saya.

Pesan yang disampaikan oleh mas sopir taksi sebenarnya sangat simpatik. Tapi entah kenapa kesan yang melintas di pikiran saya jadi sepertinya sedang menakut-nakuti……

Kalau sebelum berangkat ada yang wanti-wanti agar berdoa, tentu enak didengar. Tapi justru ketika hendak naik pesawat yang semula mau saya hindari, lalu ada yang mengingatkan agar jangan lupa berdoa, rasanya kok hati ini malah jadi deg-degan.

Dalam hati saya nggrundel, sopir taksi yang (mungkin bermaksud) baik, tapi siwalan (pakai “w” di tengah)…! Wong, berniat baik kok tidak lihat waktu dan tempat…….

Yogyakarta, 17 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(6).   Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo

Saat di depan petugas AA itulah, tiba-tiba muncul ide di pikiran saya, untuk minta tolong kepada kedua orang Jepang itu agar bersedia membantu mencarikan alternatif penerbangan tercepat menuju Jakarta, dengan tanpa harus menginap semalam di Tokyo. Kalau saja saat itu bukan dalam perjalanan emergency, rasanya kesempatan menginap semalam di Tokyo akan menjadi pilihan yang cukup mengasyikkan.

Melihat betapa pedulinya mereka terhadap persoalan saya sebagai pengguna jasa penerbangan AA, pasti mereka mau membantu, pikir saya. Apalagi saya punya alasan kuat bahwa saya sedang dalam perjalanan emergency karena ibu saya meninggal dunia. Tentu saja untuk yang terakhir ini saya sambil berakting macak melas (berlaku seolah perlu dikasihani, dan rasanya memang begitu…..) sedramatis mungkin.

Benar juga, dengan cara yang sangat simpatik mereka mau membantu saya, dan lalu meminta saya untuk menunggu sebentar. Saya begitu yakin dengan kata-kata “sebentar”-nya. Salah seorang dari mereka, seorang gadis Jepang berperawakan gemuk, segera berjalan cepat meninggalkan saya. Benar-benar sebentar, gadis Jepang yang saya lupa membaca label nama di dadanya itu segera kembali, lalu menghidupkan komputer “kuno”-nya yang ternyata masih berfungsi baik, pencet-pencet keyboard, lalu keluar secarik kertas berisi alternatif penerbangan menuju Jakarta. Ini dia yang memang saya harapkan.

Sambil menunggu petugas AA memainkan komputernya, pandangan saya tertuju kepada seorang ibu muda yang tadi sama bingungnya dengan saya. Saya perhatikan si ibu tampak asyik bercakap-cakap dengan petugas penerbangan lain.

Rupanya bukan asyik mengobrol, melainkan karena si ibu muda itu tidak paham bahasa Inggris, hanya bisa bahasa Spanyol. Sedangkan dua orang petugas penerbangan yang juga orang Jepang tidak ngerti bahasa Spanyol. Jadi tampak seru. Yang mengherankan saya, tidak tampak sedikitpun ekspresi panik pada wajah si ibu, malah cengengesan karena setiap kata yang mereka saling ucapkan tidak pernah sambung.

Petugas AA telah selesai dengan komputer “kuno”-nya. Lalu dikatakannya bahwa sudah tidak ada penerbangan langsung ke Jakarta hari itu juga. Wah! Tapi menurutnya ada alternatif, untuk malam itu juga saya bisa terbang ke Singapura dengan Singapore Airlines (SQ) dan akan tiba di sana jam 1:30 dini hari Selasa. Lalu esoknya jam 7:00 pagi saya bisa terbang ke Jakarta. Saran yang bagus, saya pikir lebih baik menghabiskan waktu di Singapura karena penerbangan menuju Jakarta dari Singapura akan lebih banyak pilihan.

Sebagai konsumen pengguna jasa penerbangan AA, saya diperlakukan dengan sangat baik. Padahal setelah itu saya sudah tidak lagi menggunakan jasa mereka, melainkan ganti dengan SQ atau Garuda. Rasanya saya harus mengakuinya, bahwa itulah kelebihan mereka dalam me-manage pelanggannya. Dalam hati saya berprasangka, kok yang demikian itu jarang ada perusahaan jasa di Indonesia yang mau meniru.

Salah seorang petugas yang laki-laki kemudian membawa saya ke counter AA di bagian keberangkatan (saya tidak jadi meminta shore pass untuk keluar bandara melewati imigrasi), dan lalu mempertemukan saya dengan petugas lain di bagian tiket AA. Di bagian ini saya menunggu agak lama.

Rupanya sang petugas sedang bingung, padahal mestinya saya yang bingung. Rupanya dia juga merasa berkepentingan untuk ikut bingung, membantu saya. Rasa turut berkepentingan atas kesulitan yang sedang dihadapi orang lain ini rasanya dijaman kini terasa sangat mahal harganya, di jaman reformasi sekalipun.

Dia bingung karena alternatif pertama penerbangan lanjutan ke Jakarta esok hari dari Singapura adalah dengan Garuda Indonesia (GA), sedangkan tiket GA ternyata tidak bisa dikeluarkan oleh pihak AA di Tokyo, padahal tempat duduknya bisa confirm. Alternatifnya, ada 3 penerbangan SQ pada jam-jam sesudah jadwal GA yang tiketnya bisa dikeluarkan saat itu juga, tapi tempat duduk berstatus stand by. Lalu agak sore ada lagi Thai Airways (TG), yang tempat duduknya OK dan tiket juga bisa langsung dikeluarkan.

Yang membuat dia bingung adalah kenapa tiket GA tidak bisa dikeluarkan di Tokyo saat itu (sebenarnya kalau mau dia tidak perlu bingung, bisa saja dia berlaku cuek dan bilang bahwa hanya tiket SQ yang bisa dikeluarkan, dan toh pasti saya akan percaya juga). Untuk meyakinkan saya, sang petugas tiket AA itu pun meminta saya untuk melongok ke layar komputernya. Dan memang di situ saya lihat ada tulisan “non ticketable“. Sang petugas AA akhirnya menyerahkan keputusan kepada saya, mau ambil tiket yang mana, karena pihak AA hanya bisa melakukan endorsement guna pengalihan tiket dengan harus menyebutkan nama penerbangannya.

Ini membuat saya harus berpikir keras, mengatur strategi agar terhindar dari kesulitan esok harinya di Singapura. Pilihan dengan penerbangan lanjutan apa sebaiknya tiket dikeluarkan. Dalam waktu yang singkat, pikiran saya menguji beberapa kemungkinan yang bisa terjadi atas beberapa alternatif penerbangan lanjutan yang diberikan. Akhirnya saya pilih penerbangan dengan TG.

Pertimbangan saya waktu itu adalah meskipun jadwal TG agak sore tapi tempat duduk OK dan tiket bisa langsung dikeluarkan saat itu juga, sambil berasumsi bahwa di Singapura saya akan melakukan jurus macak melas yang sama seperti tadi untuk mencari peluang berangkat dengan penerbangan lebih awal. Toh sesial-sialnya, saya sudah pegang tiket TG untuk penerbangan sore (belakangan ketika di Singapura saya baru menyadari bahwa pilihan dan strategi saya ini ternyata salah).

Setelah semua tiket sudah dikeluarkan oleh pihak AA, saya langsung check-in untuk penerbangan SQ ke Singapura. Tiba-tiba saya baru ingat, lha bagasi saya bagaimana?. Wong menurut labelnya bagasi tersebut harus saya ambil dulu di Tokyo. Dengan sangat meyakinkan, petugas AA itupun ngayem-ayemi (menenangkan pikiran) saya bahwa soal bagasi saya tidak perlu khawatir. AA akan mengaturnya, dan saya tinggal mengambilnya di Singapura nanti.

Ada perasaan ragu-ragu. Lha bagaimana tidak, wong di labelnya sejak di New Orleans sudah jelas-jelas tertulis bahwa tujuan akhir bagasi itu adalah Tokyo. Sementara lalu lintas penerbangan di Narita sangat sibuk, hari sudah malam lagi. “Wis embuh“, pikir saya. Pokoknya segera berangkat ke Singapura malam itu juga, yang artinya saya berhasil mengurangi waktu tempuh perjalanan dibanding dengan rencana sebelumnya yang harus nginap di Tokyo.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir

Saya merasa bersyukur karena akhirnya tiba di Jakarta masih cukup pagi, sekitar jam 09:30 WIB, Selasa, 15 Pebruari 2000. Ini berarti, kekhawatiran saya akan kemalaman di Jakarta, hingga perlu meng-email juragan milisi Upnvy pada Sabtu malam sebelumnya, tidak terjadi. Keluar dari Terminal E Cengkareng, langsung berjalan terburu-buru menuju Terminal F, setelah melalui pemeriksaan imigrasi tentunya.

Beberapa tawaran taksi liar saya jawab dengan kata-kata : “mboten” (tidak), dengan senyum kemenangan. Saya tidak perduli apakah mereka ngerti bahasa Jawa atau tidak. Eh, lha kok malah kemudian ada sopir taksi yang nyahut : “Monggo, kalih kulo mawon, Pak” (Mari sama saya saja, Pak). Ya tetap “mboten” jawaban saya.

Tiba di terminal F, saya langsung cari tiket penerbangan tercepat menuju Semarang. “Sudah full booked”, kata gadis di balik kaca loket penjualan tiket. “Cadangan”, jawab saya singkat. Dalam hati saya berkata, jika perlu akan saya mainkan lagi lakon emergency untuk kesekian kalinya.

Penumpang cadangan biasanya baru akan dilayani 30 menit menjelang jam keberangkatan pesawat. Saya tahu itu, tapi saya tidak ingin kehilangan momentum. Saya tongkrongin di depan counter cadangan (biasanya kalau tidak meja no. 24, ya no. 25, saya hapal karena saking seringnya menjadi penumpang cadangan Garuda atau Merpati, sekian tahun yang lalu).

Ternyata saya tidak perlu menunggu hingga 30 menit menjelang jam keberangkatan, saya sudah dipanggil oleh petugas tiket cadangan. Entah karena memang ada kursi kosong, atau barangkali mbak petugasnya risih karena saya tongkrongin di depan mejanya sambil bolak-balik pura-pura tanya tentang status seat saya.

Saat check-in itu, saya tanyakan bagaimana mengenai barang bawaan saya, apakah tidak terlambat kalau tas saya dibagasikan. Dengan sangat meyakinkan saya dipersilahkan untuk membagasikannya. Terus terang, sebenarnya dalam hati saya ragu-ragu dengan jawabannya. Apakah tidak sebaiknya saya tenteng ke dalam kabin saja, pikir saya. Tapi sudahlah, toh pengalaman di Tokyo dan di Singapura sebelumnya tidak ada masalah. Maka saya pun kemudian dapat terbang ke Semarang dengan penerbangan pertama Garuda.

Sekitar jam 11 pagi, saya sudah menginjakkan kaki di bandara Ahmad Yani Semarang. Selangkah lagi saya akan tiba di kampung saya di Kendal. Saya menunggu untuk ambil bagasi. Satu-satu penumpang mulai keluar bandara sambil membawa bagasinya masing-masing. Hingga orang terakhir pergi, lha tas saya mannnnnaaa……? Saya datangi petugas yang ngurus bagasi, lalu dihalo-halo dengan handy-talky-nya ke pesawat. Ya memang bagasi sudah habis.

Ternyata rasa khawatir saya terhadap jawaban petugas check-in Garuda saat di Cengkareng sebenarnya beralasan. Ironisnya, entah kenapa justru terhadap ucapan bangsa saya sendiri saya merasa tidak yakin. Pertanyaan ini sulit saya jawab. Faktanya memang demikian.

Apa mau dikata, saya terima selembar kertas sebagai tanda bukti bahwa bagasi saya belum saya terima. Dijanjikan bagasi tersebut akan dibawa oleh penerbangan Garuna sore harinya, karena memang masih tertinggal (atau ditinggal?) di Jakarta. Masih ada tapinya, kalau tidak ya dengan pesawat Garuda esoknya, dan saya diminta untuk cek-cek via tilpun ke bandara Semarang. Wah, “puuuancen” (memang)……

Perjalanan menuju Kendal sekitar 45 menit saya lanjutkan dengan taksi. Baru esok harinya terpaksa saya mampir lagi ke bandara Ahmad Yani Semarang untuk mengambil bagasi saya. Masih untung, tas saya utuh tidak tampak ada tanda-tanda bekas dijahilin.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar