Posts Tagged ‘gunung’

Jangan Menganggap Remeh Pendakian

20 September 2010

Menyertai keberangkatan anak lanang dan teman-temannya mendaki Gunung Sumbing, dengan naik motor ke arah Temanggung. “Kenekatan” yang tidak pernah dimiliki bapaknya dulu, tapi pernah ditanamkan kepada anaknya (kini).

Sedikit “kultum” wajib diberikan. Jangan pernah sekali-sekali menganggap remeh perjalanan pendakian betapapun mudahnya jalur yang akan dilalui, sebab pengalaman mengajarkan, banyak faktor tak terduga dapat terjadi sewaktu-waktu. “Hati-hati dan selamat mendaki, Le..!”.

Yogyakarta, 15 September 2010
Yusuf Iskandar

Sahabat Kecilku Ngajak Ke Gunung Slamet

8 Januari 2010

Senin pulang dari gunung Rinjani, Selasa naik (lagi) gunung Sumbing, Kamis pulang. Njuk ngajak ke gunung Slamet pada liburan berikutnya. Uuahhh…! Ada yang mau ikut?

(Gunung Slamet terletak di wilayah sebelah utara kota Purwokerto, Jawa Tengah, berketinggian sekitar 3418 mdpl. Kondisi medan cukup berat, perlu kesiapan fisik lebih baik…)

Yogyakarta, 7 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Cita-cita Anakku

21 Juni 2009

Sampai di rumah di Jogja, ibunya anak-anak menunjukkan buku kenang-kenangan SMP anakku, SMP Islam Terpadu Abu Bakar di Umbulharjo Jogja,  yang tadi malam diwisuda tapi tidak sempat menghadiri acaranya.

Dalam buku kenang-kenangan SMP, tiap siswa menuliskan cita-cita, pesan dan kesan. Kebanyakan menulis cita-citanya jadi dokter, ustadz, pengusaha, dosen, ahli ini-itu sampai jadi menteri. Tapi anakku menulis cita-citanya : menaiki semua gunung di Indonesia….

Kata ibunya : “Kamu ini memang aneh….”.
Kata bapaknya : “Insya Allah akan tercapai…”.
Dan anakku, Noval, cuma tertawa…

Yogyakarta, 21 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Para Pendaki Kecil Yang Ruarrr Biasa

10 Juni 2009

IMG_2624_rJanjinya anak-anak akan selalu meng-update bapaknya via SMS… Lha ini sampai malam kok tidak ada kabarnya, padahal mestinya sudah turun gunung dan pasti ada sinyal. Jangan-jangan harus nge-camp di gunung semalam lagi? Ujuk-ujuk masuk SMS : “Lg dlm p’jlanan plg”. Kontan saya tilpun mereka. Suara kecil di seberang sana : “Sudahlah…., bapak tenang aja….”. Dalam hati saya, antara bilang ‘kurang ajar’ & ‘alhamdulillah’ jadi satu… Rupanya kita para ortu ini suka under estimate terhadap anak-anaknya..

(Malam ini menjelang pukul 20:00 WIB, anak-anak itu sampai di rumah dari pendakiannya ke gunung Merbabu sejak berangkat dari Jogja kemarin, sambil cengengesan…. Selamat… selamat…., para pendaki kecil…. Kalian memang ruarrr biasa…)

Yogyakarta, 10 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Menyaksikan Hari Baru 2009 Di Puncak Merapi

2 Januari 2009
Puncak Garuda, gunung Merapi (2.965 mdpl) - 1 Januai 2009

Puncak Garuda, gunung Merapi (2.965 mdpl) - 1 Januari 2009

Ada banyak cara dilakukan orang dalam menyambut datangnya tahun baru 2009. Di antaranya adalah dengan meninggalkan hiruk pikuk perkotaan, menuju ke alam bebas pegunungan. Noval dan bapaknya memilih untuk mendaki gunung Merapi (2.965 mdpl) yang menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber bencana, lalu berdiri di puncak Garuda menjadi saksi atas datangnya hari baru 1 Januari 2009.

Pendakian ini dicapai dari desa Selo, Boyolali, sekitar 60 km arah utara Yogyakarta, pada tanggal 31 Desember 2008 – 1 Januari 2009.

Merapi…..
sumber penghidupan sekaligus sumber bencana

Menggapai puncaknya adalah sebuah perjalanan mencari inspirasi
tentang gairah menemukan pencerahan baru
tentang semangat mengatasi tantangan
tentang kesadaran pengagungan kepada Sang Pencipta.

Namun,
Hari baru hanyalah sebuah keseharian
Menyaksikan sebuah mahakarya adalah kesempatan

Dan bilamana kesempatan itu datang dan kita memilikinya
Subhanallah…..
Maha Suci Allah Sang Pemilik Mahakarya itu
yang telah menciptakannya bersamaan dengan seruan-Nya :
“Hendaklah kalian berfikir…….”

Yogyakarta, 2 Januari 2009
Yusuf Iskandar

img_0902_noval-di-puncak-garuda

img_0860_watu-gajah

img_0905_di-watu-gajah

img_0862_daun-merah-dan-merbabu

img_0852_noval-dan-bapaknya

img_0865_monumen

Anak Saya Mulai ”Gila” Mendaki Gunung

26 Desember 2008

img_0658_gunung1

Sepuluh minggu terakhir ini saya perhatikan anak saya (Noval, 14 tahun, kelas 3 SMP) sudah mendaki empat gunung. Mula-mula gunung Welirang (3.159 meter di atas permukaan laut) di Jawa Timur, lalu gunung Merbabu (3.142 mdpl), puncak perbukitan Menoreh (1.019 mdpl), dan terakhir gunung Sundoro (3.150 mdpl) di Jawa Tengah. Belum termasuk kegiatan outdoor lainnya seperti rapeling (turun dengan tali) yang biasanya dilakukan di jembatan Babarsari, Condong Catur, Sleman. Terakhir, hiking dari gua Ceremai hingga menyusuri pantai Parangtritis.

Setiap ada tanggal merah di kalender, dia mulai kasak-kusuk untuk mencari teman agar bisa mengadakan kegiatan mendaki gunung. Nyaris saban hari yang terlintas di pikirannya adalah soal daki-mendaki dan kegiatan adventure lainnya.

Ibunya yang belakangan jadi manyun kalau anak laki-lakinya ini sudah mulai merengek-rengek minta uang untuk membeli perlengkapan outdoor. Sekali waktu saya minta dia membuat daftar inventaris, perlengkapan apa saja yang sudah dimiliki atau dibelinya, dan berapa total nilai rupiahnya. Rupanya dia sudah siap, lalu disodorkannya sebuah daftar panjang yang antara lain tertulis : tenda, sleeping bag, nesting (alat masak), tas punggung dan cover bag-nya, matras, sarung tangan, sepatu, sabuk, sentolop (senter jarak jauh), aneka piranti untuk mengikatkan tali ke tubuh saat naik atau turun, seperti carabiner, figure of 8, tali prusik, webbing. Masih ada lagi kompas, pisau komando dan termasuk kantong HP. Daftar itupun masih ditambah dengan perlengkapan lain yang direncanakan mau dibelinya juga (sambil menunggu pusar ibunya bolong… katanya biar dikasih uang).

Ketika ibunya menggerutu : “Lha uang yang sudah keluar kok banyak sekali?”.

Jawabnya ringan saja : “Makanya ibu jualan perlengkapan outdoor saja, nanti untungnya untuk saya…., untuk beli alat-alat lainnya…..”.

Mendengar dialog spontan ini, yang terlintas di pikiran saya justru sisi peluang bisnisnya… Barangkali benar juga, buka toko outdoor bisa jadi adalah peluang bisnis yang berprospek bagus di kawasan Yogyakarta dimana banyak orang-orang muda yang hobi adventure alias kegiatan di alam terbuka. Soal kegiatan outdoor, masyarakat Yogya memang tergolong termanjakan oleh fasilitas alam. Dekat gunung, sungai, pantai, gua, bukit terjal, dsb.

Sebagai orang tua, memperhatikan anak yang gejala-gejalanya mulai “gila” dengan aktifitas mendaki gunung ini, tentu saja lama-lama membuat khawatir. Bukan soal kegiatannya yang bertubi-tubi, melainkan khawatir kalau jadi lupa atau abai dengan tugas sekolahnya, sebab sebentar lagi ujian akhir SMP. Sementara orang tuanya tahu, bahwa Noval bukanlah tergolong anak yang mudah dalam belajar, alias perlu didorong-dorong, dikejar-kejar, disemangati dan terkadang agak dipelototi, itu pun masih ngos-ngosan untuk dapat nilai di atas 7. Agaknya, IQ-nya memang tidak dirancang untuk menghafal atau mengerjakan matematika.

***

Sejak beberapa waktu yang lalu, Noval membujuk-bujuk bapaknya agar mau menemani mendaki gunung Semeru (3.676 mdpl) di Jawa Timur atau Rinjani (3.726 mdpl) di pulau Lombok, pada penghujung tahun 2008 ini. Sebenarnya ingin juga saya memenuhinya, karena perjalanan pendakian ke kedua gunung itu memang sangat menarik. Selain medannya cukup menantang, pemandangan alamnya begitu indah. Terakhir saya mendaki Semeru tahun 1983 dan Rinjani tahun 1989.

Namun saya mencoba memahamkan Noval untuk menunda rencana itu, pasalnya akhir tahun adalah bukan waktu yang tepat untuk menikmati pemandangan gunung. Cuaca lebih sering mendung, hujan atau setidaknya banyak kabut. Telanjur jauh-jauh pergi dari Yogya dengan pengorbanan waktu, tenaga dan biaya, kalau kemudian tidak bisa melihat apa-apa di sepanjang perjalanan pendakian, rasanya rugi sekali. Sedangkan menikmati cantiknya pemandangan alam adalah salah satu hal yang sebaiknya jangan dilewatkan ketika mendaki gunung. Mudah-mudahan saya masih punya kesempatan untuk menemaninya, entah kapan.

Akhirnya Noval dapat menerima alasan saya. Tapi….. (lha ini yang bikin deg-degan), harus ada gantinya. Kata Noval, pokoknya tahun baru mau muncak (menggapai puncak gunung), seperti tahun baru setahun yang lalu ke puncak gunung Lawu (3.265 mdpl). Rupanya kemudian diam-diam dia sudah punya rencana untuk mendaki gunung Merbabu, untuk yang ketiga kalinya.

Ibunya hanya bisa nggrundel….. : “Naik gunung kok terus-terusan ki ngopo to, Le?” (Le, adalah panggilan ndeso untuk anak laki-laki).

Noval hanya nyengenges sambil berkata : “Saya mau ngalahin bapak….”.

Weleh, blaik, ki….. Daripada…daripada…., saya terpaksa ngalah lagi (selain ya karena memang kepingin juga….), kami berdua kemudian merencanakan untuk mendaki gunung Merapi (2.968 mdpl), melalui jalur Selo, Boyolali.

Saya sendiri pernah mendaki Merapi pada tahun 1985, lebih duapuluh tahun yang lalu. Kali ini saya ingin menemani Noval, bukan karena takut dikalahin seperti tekatnya, melainkan ngiras-ngirus ingin saya manfaatkan untuk menanamkan pelajaran filosofi hidup tentang kemampuan untuk survive dalam menghadapi rintangan atau tantangan. Saya pikir, ini adalah salah satu bekal penting bagi seorang entrepreneur.

Insya Allah pada tanggal 31 Desember 2008 nanti kalau tidak ada aral melintang, kami berdua, Noval dan bapaknya, akan mendaki dan menggapai fajar baru tahun 2009 di puncak Merapi. Itulah sebabnya hari Kamis kemarin (25 Desember 2008), saya bersama kedua anak saya jalan-jalan rekreasi sambil melakukan survey ke daerah Selo yang pada sore kemarin berkabut cukup tebal.

Ingin Bergabung Ke Puncak Merapi?

Jalur melalui Selo adalah lintasan pendakian termudah (tapi ya tetap saja bakal melelahkan), jarak tempuh menuju puncak Merapi hanya sekitar 4-5 jam. Rencananya kami berangkat dari Yogya hari Rabu, 31 Desember 2008 siang dan akan memulai pendakian dari Selo pada tengah malam saat pergantian tahun. Mudah-mudahan ketika fajar baru tahun baru 2009 menyingsing, kami sudah berada di puncak Merapi. Hari itu juga langsung turun dan kembali ke Yogya.

Jika ada rekan-rekan yang ingin bergabung dalam pendakian ke Merapi ini, silakan hubungi saya. Bisa berkumpul di Yogya atau langsung ketemu di Selo. Kalau tidak ada yang ikut, ya sudah…. Biar kami berdua saja yang menikmati capeknya……..

Yogyakarta, 26 Desember 2008
Yusuf Iskandar
(HP. 08122787618)

img_0638_puncak_sundoro

img_0591_puncak_sundoro2

img_0490_batu1

img_0786_r

Noval Berulang Tahun Di Puncak Welirang

14 Oktober 2008
Gunung Welirang (3159 mdpl)

Gunung Welirang (3159 mdpl)

Lebaran H-3 yll, Noval, 14 tahun, kelas 3 SMP, minta ijin kepada bapaknya mau ke Gunung Welirang dan Arjuna di Jatim bersama gurunya. Perjalanan pendakian ini (katanya) dalam rangka survey pendahuluan sebelum dia dan rombongan sekolahnya mendaki berjamaah usai Lebaran.

Sayang, bapaknya tidak mengijinkan. Bukan masalah mendakinya, melainkan karena beberapa alasan “rada gaib”. Pertama, bahwa hari-hari di penghujung bulan Ramadhan, terutama malam harinya adalah “the golden nights” yang teramat sayang untuk dilewatkan kecuali untuk alasan yang sangat mendesak. Dan, mendaki gunung adalah tidak termasuk alasan yang mendesak itu.

Kedua, mendaki gunung di bulan Ramadhan adalah pekerjaan yang cenderung ngoyoworo….., membuang waktu. Peluang untuk gagal puasa lebih besar ketimbang berhasilnya. Lebih dari itu, maslahat (kebaikan) yang bakal diraih dari mendaki gunung di bulan puasa tidak sebanding dengan “nilai gaib” yang dapat dikumpulkan dari ibadah puasa dengan tanpa daki-mendaki.

Akibatnya, Noval mecucu …., cemberut karena kecewa tidak memperoleh ijin bapaknya. Padahal keinginannya begitu menggebu-gebu. Telanjur dia “berkorban” tekun berpuasa, rajin sholat tarawih, menghatamkan tadarus Qur’an sebelum Ramadhan berakhir. Telanjur dia rela tidak dibelikan asesori lebaran yang serba baru melainkan diganti dengan perlengkapan baru untuk mendaki gunung. Tas punggung, baju kaos, matras, lampu darurat, adalah sebagian diantaranya. Namun toh akhirnya bisa menerima juga, setelah Noval berhasil di-rih-rih bapaknya…. ditenangkan dan dijelaskan kenapa-kenapanya.

Tiba hari Lebaran H+5, Noval yang telah ditunjuk untuk membantu gurunya menjadi pendamping bagi tim teman sekolahnya dalam Ekspedisi Welirang – Arjuna 2008, akhirnya diijinkan bapaknya berangkat. Aura wajahnya kembali sumringah….

Pagi hari menjelang pamit berangkat, bapaknya menyempatkan untuk memberi kuliah sekadarnya tentang mendaki gunung. Bagaimanapun juga, briefing semacam ini perlu, dalam rangka memberi wanti-wanti oleh orang tua kepada anaknya. Sekurang-kurangnya sekadar berbagi pengalaman. Kalaupun toh orang tuanya tidak punya pengalaman mendaki gunung, setidak-tidaknya orang tua pasti punya pengalaman hidup. Wong jam hidupnya lebih banyak.

Di mata bapaknya Noval, mendaki gunung adalah kegiatan yang resikonya tergolong tinggi. Karena ketidak-tahuan, kebanyakan anak-anak muda atau pendaki pemula sering menyepelekan hal ini. Bapaknya pun dulu juga berpikir begitu. Dikiranya mendaki gunung hanya soal kuat-kuatan jalan kaki. Padahal banyak aspek perlu diketahui. Yang utama tentu aspek keselamatan.

Belum lagi tentang penanganan perbekalan yang nanti akan digembol di punggungnya. Bagaimana kalau hujan, kalau udara teramat dingin, kalau terpisah dari kelompoknya, kalau tersesat, kalau kemalaman di tengah hutan, kalau kehilangan arah, dsb. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat jarang sempat dipikirkan oleh anak-anak muda atau para pendaki pemula. Tahunya asal kuat jalan sambil menggendong ransel saja.

Meski pengarahan singkat sudah diberikan kepada Noval. Tak urung, bapaknya memonitor perjalanan Noval via ponsel, sejak naik bis dari Jogja menuju Surabaya sampai kembali ke Jogja. Sampai mana? Lagi ngapain? Sedang menuju kemana? ….. Namanya juga orang tua, dan salah satu syarat menjabat sebagai orang tua adalah berani cerewet, meski ini jelas tidak disukai anaknya.

Akhirnya, berhasil juga Noval mencapai puncak gunung Welirang, 3159 mdpl. Hal yang paling membuatnya bangga adalah ketika puncak gunung Welirang dicapainya tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 14, tanggal 8 Oktober 2008. Namun ada sedikit nada kekecewaan, ketika Noval dan timnya batal melanjutkan untuk muncak (istilah kesukaan Noval untuk menyebut menuju ke puncak) gunung Arjuna, 3339 mdpl. Rupanya setelah muncak ke Welirang, cuaca berubah drastis dari yang semula cerah menjadi hujan lebat. Maka rencana muncak ke gunung Arjuna dibatalkan agar jadwal kembali ke Jogja tidak berubah.

***

Pagi masih agak remang di Jogja, angka digital jam menunjukan menjelang jam 5 pagi, sebuah SMS masuk ke HP saya. Bunyinya : “Pak, bukain pin2”. Maka legalah saya. Noval, anak kedua saya, sudah pulang dengan wajah penuh kemenangan. Lalu saat siang hari sambil bersiap-siap tidur balas dendam, Noval berkata : “Tahun baru nanti ke Rinjani, ya pak?”. Mak glek……. air liurku.

Yogyakarta, 13 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Dibohongi Anak Saya (Mendaki Gunung Merbabu)

16 Juli 2008

Ke_Merbabu1

Pada penghujung tahun lalu (31 Desember 2007), anak laki-laki saya yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP swasta di Jogja ngotot minta ijin ikut mas-mas mahasiswa mendaki gunung Lawu (+3265 meter dpl). Padahal cuaca lagi jelek-jeleknya. Karena bapak dan ibunya tidak bisa menolak tapi juga tidak tega melepasnya, akhirnya bapaknya turun kaki ikut menemani mendaki gunung juga.

Pada bulan Juli ini, dalam rangka mengisi kegiatan liburan kenaikan kelas sekolah SMP-nya, anak saya terlibat merencanakan kegiatan petualangan juga. Menjelang sore di awal minggu lalu (tepatnya 7 Juli 2008), mendadak anak saya minta diantar ke terminal Jombor, Jogja. Padahal rencana semula berangkatnya bersama-sama dari sekolahnya.

Anak saya minta ijin, katanya mau melakukan survey lokasi untuk kegiatan outbond teman-teman sekolahnya. Boleh juga, pikir saya. Anak saya dipercaya untuk melakukan survey pendahuluan. Tentu saja ada sepercik rasa bangga sebagai orang tua. Maka saya pun berangkat mengantarnya ke terminal Jombor. Selanjutnya bersama seorang teman dan gurunya akan naik bis, katanya menuju ke lokasi survey di daerah perbukitan Menoreh, Magelang.

Keesokan sorenya anak saya kirim SMS, entah dari HP siapa, isi pesannya minta dijemput di terminal bis yang sama seperti kemarin. Oke, memahami kondisi fisiknya yang pasti kecapekan, sementara dia juga membawa perlengkapan berkemah, maka saya legakan juga untuk menjemputnya.

Di perjalanan pulang dari terminal, saya tanyakan bagaimana hasil survey-nya? Jawabnya sambil nyengenges : “Saya tidak jadi survey kok, tapi kemarin langsung mendaki gunung Merbabu…”.

Wow…, tobil anak kadal……! Jebul aku diapusi anakku (ternyata saya dibohongi anak saya).

Ini pasti hasil karya akal-akalan. Mau mendaki gunung Merbabu (+3142 mdpl), tapi pamitnya survey lokasi outbond. Ya tidak salah juga. Mendaki gunung juga aktifitas outbond, untuk survey berarti juga melakukannya. Kalau anak saya kemarin berterus-terang pamit mau mendaki gunung, memang ya belum tentu akan diijinkan ibunya.

Dulu waktu turun dari gunung Lawu anak saya memang pernah usul bahwa kalau nanti liburan kepingin naik gunung lagi. Berhubung bapaknya sibuk keluyuran midar-mider kemana-mana, akhirnya ketika liburan tiba belum sempat membicarakan rencana atau angan-angan anak saya enam bulan yang lalu. Barangkali karena itu, agar bapak-ibunya tidak reseh lalu dia mencari cara agar bisa naik gunung. Ya, dengan alasan survey lokasi outbond itu tadi.

(Mestinya anak saya tidak perlu berbohong dan tidak perlu takut mengatakan yang sebenarnya. Sebab bapaknya pasti kepingin ikut juga kalau tahu mau naik gunung…….)

Kini anak saya sudah booking lagi, kalau nanti liburan minta diajak ke gunung Semeru (+3676 mdpl) atau Rinjani (+3726 mdpl)…. Ugh….! Alamat mesti pasang status waspada bakal dibohongi lagi nih….

Yogyakarta, 16 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Jalur Misteri Di Gunung Kelud

16 Mei 2008

Ada sepenggal jalan, panjangnya tidak sampai 100 m, berada di jalur utama menuju obyek wisata gunung Kelud. Tepatnya di desa Sugihwaras, kecamatan Ngancar, kabupaten Kediri, Jawa Timur. Penggal jalan ini oleh masyarakat setempat dikenal sebagai jalur misteri. Pasalnya, jalan itu terlihat naik tapi semua kendaraan yang berhenti di atasnya mendadak bisa bergerak sendiri ke arah naiknya jalan.

Sejak gunung Kelud menunjukkan aktifitas vulkanologis tahun lalu, obyek wisata di kaki gunung Kelud ditutup untuk umum. Kini kabarnya sudah mulai dibuka kembali untuk umum. Saya sempat berkunjung menyusuri jalan wisata itu ketika obyek wisata gunung Kelud masih dinyatakan tertutup untuk wisatawan. Pantesan ketika saya memasuki kawasan itu kok jalannya sepi, pintu gerbangnya tidak ada yang jaga sehingga saya bisa masuk gratis. Tidak ada rambu peringatan yang menyatakan ditutup, sehingga saya pikir siapa saja boleh ke sana. Sebenarnya memang boleh, hanya saja pengunjung tidak bisa mendekat ke danau di kaki gunung karena pagar jalan masuknya digembok.

Ketika memasuki kawasan wisata siang itu tiba-tiba turun hujan, padahal ketika masih di Kediri cuaca panas terik. Jalanan yang sempit dan berkelok-kelok itu tampak sedang diperbaiki di sana-sini. Lebar jalan yang aslinya pas-pasan juga sedang dilebarkan di beberapa lokasi, terutama di tikungan-tikungan tajam. Lalu lintas sepi sekali. Para pedagang dan warung-warungnya juga pada tutup. Tukang ojek banyak yang duduk-duduk saja dan ada pula yang nyambi mencari kayu bakar. Padahal biasanya setiap hari libur para pedagang dan tukang ojek itu panen raya.

Kendaraan saya kemudikan perlahan menyusuri dan mendaki jalan yang menuju kaki gunung Kelud yang lokasinya berada sekitar 35 km dari kota Kediri. Karena saya punya tujuan lain untuk melihat jalur misteri di gunung Kelud, maka saya tidak perduli apakah obyek wisatanya buka atau tutup. Setelah bertanya kepada seseorang di Pos Pengamatan Gunung Kelud, akhirnya saya diberi ancar-ancar dimana lokasi penggal jalan misteri itu berada. Kalau lagi musim liburan sebenarnya tidak sulit menemukan lokasi itu, karena di situlah penggal jalan yang biasanya paling ramai dan padat dikunjungi orang, begitu kata tukang ojek. Berhubung hari itu lagi sepi, gerimis dan berkabut, maka saya mesti mencarinya sendiri.

Meski saya sudah menemukan lokasi jalan misteri, perjalanan masih saya teruskan karena ingin tahu dimana ujung dari jalan itu, sambil menikmati pemandangan alam kaki gunung Kelud yang puncak gunungnya memiliki ketinggian 1.730 meter di atas permukaan laut. Tetapi ya tetap saja tidak ada yang dapat dipandang, wong cuaca muram berkabut dan gerimis tidak kunjung mereda. Sampai akhirnya saya diteriaki oleh seorang tukang ojek yang lagi nongkrong di warung kopi yang memberitahukan agar sebaiknya tidak di teruskan karena tiga kilometer lagi jalan ditutup dan di sana tidak ada tempat untuk berputar.

Akhirnya saya dan anak saya malah ikut nongkrong di satu-satunya warung kopi yang buka di sana siang itu. Di bawah cuaca agak dingin, berkabut dan gerimis rintik-rintik, saya jadi ikut nimbrung ngobrol-ngobrol dengan seorang ibu pemilik warung dan empat orang tukang ojek yang lagi istirahat menjelang pulang. Segelas kopi panas dan beberapa potong singkong rebus yang saya makan di warung itu sungguh nikmat benar.

Seorang tukang ojek bernama pak Sukiran malah menawarkan diri memandu saya menuju ke lokasi penggal jalur misteri, saat saya pulang menuruni gunung sambil Pak Sukiran juga hendak sekalian pulang. Kebetulan, setidak-tidaknya saya ada teman cerita-cerita.

***

Penggal jalan yang dikenal sebagai jalur misteri itu merupakan penggal jalan paling lebar dibanding lainnya. Rupanya pihak pengelola taman wisata gunung Kelud sudah mengantisipasi karena di situlah biasanya para wisatawan bergerombol ingin membuktikan sendiri adanya jalan “naik tapi turun” (atau, jalan turun tapi terlihat naik?). Di atas permukaan aspal jalan juga ada dibuat garis bercat putih sebagai tanda batas dimana “misteri” itu bekerja.

Pak Sukiran sangat antusias memperlihatkan buktinya. Sepeda motornya dihentikan di tengah jalan, lalu mesinnya dimatikan. Perlahan-lahan sepeda motor itu bergerak “naik” dengan sendirinya dan semakin cepat. Saya pun mencobanya. Kijang hitam saya hentikan tepat di tengah jalan (mumpung lagi sepi), mesin saya matikan, persneling posisi netral. Kijang lalu merangkak perlahan dan semakin cepat ke arah “naik”. Belum puas, kijang pun kembali dalam posisi berbalik arah dan ternyata juga bisa berjalan mundur dan “naik” dengan sendirinya. Masih juga belum puas, sebotol air mineral ditidurkan di atas aspal jalan dan ternyata menggelinding “naik”, dan akhirnya malah hilang masuk semak-semak dan tidak jadi diminum. Ah, sial….!

Lho, kok bisa? Penjelasan ilmiah tentang misteri ini pernah disampaikan oleh Prof. Yohanes Surya, dedengkot Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI). Bahwa kejadian sebenarnya bukanlah misteri jalan “naik tapi turun” yang kesannya menjadi misterius, melainkan adanya ilusi mata. Diduga fenomena ilusi mata ini juga yang terjadi di Korea dan Arab Saudi yang konon juga terjadi misteri yang mirip-mirip. Dengan kata lain, hanyalah fenomena tipuan pandangan mata. Penggal jalan itu sendiri sebenarnya memang menurun, tapi kemiringannya kecil sekali. Ketika dilihat dari posisi jalan yang kemiringannya tinggi, maka penggal jalan menurun itu terlihat seperti naik. Dan seperti itulah yang terjadi. 

Saking penasarannya saya dan anak saya mencoba berdiri dan melihat penggal jalan itu dari berbagai posisi dan sudut pandang yang berbeda-beda (dasar kurang kerjaan…..). Memang dari satu posisi tertentu mata kita melihat bahwa jalan itu sedikit naik, tapi dari posisi lain terlihat juga bahwa jalan itu memang agak menurun. Penjelasan dan pembuktian inilah yang saya anggap sebagai paling masuk akal untuk menjelaskan misteri jalan “naik tapi turun” itu.

Namun pak Sukiran “tidak terima”. Beliau menceriterakan bahwa dulu pernah ada orang yang membuktikan menggunakan selang diisi air dan katanya hasilnya menunjukkan bahwa jalan itu memang naik. Ya, sudah. Keyakinan seperti yang dimiliki oleh pak Sukiran, juga teman-temannya dan masyarakat lainnya, agaknya memang tetap perlu “dipelihara”. Agar misteri tetap ada di sana dan kawasan kaki gunung Kelud tetap menarik untuk dikunjungi selain untuk alasan menikmati pemandangan alamnya yang indah.

Sayangnya, keyakinan itu menjadi kebablasan ketika tahun lalu ada sebuah truk masuk jurang di daerah itu lalu dihubung-hubungkan dengan adanya jalur misteri dan legenda gunung Kelud. Padahal ya memang sopirnya yang sembrono mengemudikan kendaraan besar di jalur sempit, naik-turun dan berkelok-kelok menyusuri lereng gunung Kelud.

Yogyakarta, 16 Mei 2008
Yusuf Iskandar