Archive for the ‘> Kehidupan Terus Berjalan Di Glagaharjo’ Category

Kehidupan Terus Berjalan Di Glagaharjo

30 Januari 2011

(1)

Mengunjungi desa Glagaharjo yang hancur oleh hempasan awan panas Nopember tahun yll, kini mulai terlihat ada denyut kehidupan. Sebagian masyarakat mulai membersih-bersihkan kawasan bekas rumah yang hancur.

Adanya wisatawan yang berdatangan saat hari libur kini menjadi peluang usaha bagi warung-warung seadanya yang mulai bermunculan. Warung Mandiri yang pertama dibangun tiga minggu yll, hanyalah langkah kecil untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang sempat lumpuh.

(2)

Keberadaan warung Mandiri (mencari donatur sendiri) desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, kini mulai dirasakan hasilnya. Bahkan ada tiga warung lagi kini sudah beroperasi.

Saat hari libur dimana Glagaharjo, seperti halnya desa-desa lain di lereng Merapi menjadi obyek wisata, omset jualannya bisa mencapai Rp 200-300 ribu. Tidak besar, tapi aktifitas ekonomi mulai tumbuh, sementara aktifitas lainnya masih mandek

Tiga petak Warung Mandiri sudah berdiri dan beroperasi melayani para wisatawan bencana Merapi yang kehausan di padang tandus Glagaharjo. Oleh mereka, warung itu disebut warung “Upaya” (upaya untuk melanjutkan kehidupan, maksudnya)

(Note: Saya menyebutnya warung Mandiri – Mencari donatur sendiri – agar kedengaran lebih provokatif untuk ngomporin calon donatur)

(3)

Warung Mandiri yang satu unitnya (termasuk perlengkapan) berbiaya sekitar Rp 1,8 juta itu masih akan dibangun beberapa unit lagi. Lokasinya menyebar, selain desa Glagaharjo, juga Kepuharjo dan Kinahrejo. Bahkan dua anak Mbah Maridjan juga minta dibantu. Namun masih tertunda karena belum ketemu dengan donatur yang akan membiayai atau mensponsori pembuatannya.

Kalau ada yang tanya kenapa tidak minta pemerintah? Sungguh pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

(4)

Senang rasanya menyaksikan warung Mandiri di desa Glagaharjo itu sudah beroperasi. Saat saya berkunjung, saya disuguhi teh manis hangat oleh bu Suraji, salah seorang warga yang menempati warung itu. Serasa lebih nikmat dari segelas teh biasanya. Mungkin karena gratis…

Sebenarnya ya nggak tega. Tapi itulah ungkapan terima kasih yang tidak harus dinilai dari wujud pemberiannya, melainkan ketulusannya.

(5)

Desa Glagaharjo yang terpanggang awan panas hampir tiga bulan yll kini mulai nampak menghijau oleh rumput, keladi dan pisang. Aneka bibit tanaman baru juga sudah banyak ditanam dan akan terus ditanam.

Masyarakat yang masih tinggal di pengungsian, sebagian mulai rajin datang ke bekas rumahnya walau sekedar untuk bersih-bersih. Kabar gembira yang beredar adalah bahwa pemerintah Sleman mulai membagikan dana penggantian ternak yang mati.

(6)

Ada yang beda yang dilakukan oleh salah seorang warga bernama Rohmadi. Dengan inisiatifnya sendiri pak Rohmadi memanfaatkan pasir Merapi yang menimbun di rumahnya untuk dibuat batako.

Memang tidak dikerjakan sendiri, melainkan dibantu oleh orang lain yang sudah pengalaman. Niatnya batako itu akan digunakan sendiri untuk membangun kembali rumahnya yang tinggal fondasi. “Tapi kalau ada yang mau beli ya saya jual”, katanya.

Apresiasi untuk pak Rohmadi (beranak satu dan istrinya sedang hamil), dengan kreatifitasnya memanfaatkan timbunan pasir di petak lahannya untuk dibuat batako. Sebuah pemikiran sederhana tapi mletik (cemerlang)…

(7)

Apa yang dilakukan pak Rohmadi dengan membuat batako adalah ide kreatif yang pantas diacungi dua jempol.

Di saat sebagian besar tetangganya masih terpuruk, pak Rohmadi membuka wawasannya. Nalurinya menangkap sebuah potensi sumberdaya. Bahkan sebenarnya dia tidak bisa membuat batako sendiri tapi toh mampu memproduksinya. Minimal untuk membangun kembali rumahnya.

“Kalau bisa, nyuwun (minta) dibantu genting”, katanya.

“Insya Allah”, jawabku.

(8)

Kompas hari ini (29/01/11) menurunkan berita di halaman depan, berjudul “Merapi Mengubah Segalanya”. Itulah kawasan desa Balerante (Klaten, Jateng) dan Glagaharjo (Sleman, DIY) yang akhir-akhir ini sering saya datangi.

Banyak kisah sarat makna kehidupan ada di baliknya. Itu baru dari dua desa di sisi timur kali Gendol. Ada banyak desa di sisi barat kali Gendol yang juga menyimpan cerita yang sama…

‎‎

(9)

Sore itu ada segerombol orang naik mobil bak terbuka turun dari Glagaharjo. Rombongan itu biasanya naik saat pagi. Mereka adalah sekelompok warga dari kota Bantul, selatan Jogja, yang jaraknya lebih 40 km dari Glagaharjo.

Mereka datang lalu ramai-ramai seperti potong padi di sawah, tapi kali ini ramai-ramai membantu warga membenahi desa, rumah, prasarana yang porak-poranda. Kepedulian terhadap derita sesamalah yang mendorong mereka melakukannya.

(10)

Rombongan orang-orang desa itu adalah relawan yang tidak mau disebut relawan. Mereka tidak mewakili lembaga atau bendera tertentu. Mereka datang hanya untuk membantu saudara-saudaranya di lereng Merapi.

Mereka dapat merasakan derita itu. Sebab ketika tahun 2006 wilayah Bantul hancur oleh gempa, warga Glagaharjo melakukan hal yang sama bagi saudara-saudaranya di Bantul. Tidak semua warga dan semua wilayah, tentunya. Tapi apa bedanya? Kearifan lokal itu memang nyata adanya…

(11)

Hari beranjak sore saat saya tinggalkan Glagaharjo, Sleman. Perjalanan sore itu akan saya lanjutkan ke Jumoyo, Magelang, yang sebagian wilayahnya lenyap disapu dan ditimbun banjir lahar dingin.

Sebagian warga Glagaharjo nampak ada yang masih sibuk beres-beres puing rumahnya, sebagian lainnya ada yang mulai kembali ke barak pengungsian. Orang tua, ibu-ibu, anak-anak, semua nampak giat di lahan masing-masing. Tidak setiap hari, tapi kesibukan itu sering mereka lakukan.

(12)

Seorang sahabat dari belahan Indonesia Timur mentransfer sejumlah dana dan berpesan agar dibuatkan dua buah warung Mandiri untuk warga yang benar-benar membutuhkan. Segera saya membantu mempersiapkannya. Betapapun, itu akan sangat membantu memutar roda kehidupan di sana…

Insya Allah, amanah saya tunaikan bekerjasama dengan relawan yang ada di sana (Terima kasih untuk mas Joko Basyuni di Papua).

Yogyakarta, 27-29 Januari 2011
Yusuf Iskandar

(NB:  Tulisan di atas adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng)

Iklan