Posts Tagged ‘gempa’

Gempa Tengah Malam

16 September 2010

Jogja digoyang gempa malam ini jam 23:39 selama beberapa detik, tidak terlalu kuat, melainkan cukup mengagetkan…Bubu lagee…

(Menurut BMKG, gempa berskala 5,0 SR)

Yogyakarta, 12 September 2010
Yusuf Iskandar

Gempa Saat Berbuka

25 Agustus 2010

Gempa cukup kuat barusan (19:45 WIB) terasa di Jogja sekitar 6 detik. Semoga tidak ada hal yang buruk terjadi entah dimana.

(BMKG — Info Gempa : 5.0 SR, 21-Aug-10, 18:41:38 WIB, Lokasi : 15 km Tenggara BANTUL – DIY, Kedalaman:10 Km)

Yogyakarta, 21 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Bingung Berjamaah

7 April 2010

Penyiar TV itu bertanya kepada seorang Kapolres di Aceh: “Sebesar apa gempanya, pak?”. Pak Kapolres pun kebingungan menjawabnya. Sebenarnya saya ingin membantu menjawab, tapi saya juga bingung… Lha sebesar apa ya? Sebesar rumah Gayus atau sebesar gunung? Sebesar gempa Aceh atau Jogja? Akhirnya pak Kapolres menemukan jawabannya: “Ya cukup besar mbak”. Mbak penyiar pun nampaknya puas.

Bingung berjamaah, agaknya menjadi ‘identitas baru’ bangsa ini…

(Pagi ini sekitar pukul 05:26 WIB terjadi gempa berkekuatan 7,2 SR di wilayah pulau Sinabang, Nanggroe Aceh Darussalam)

Yogyakarta, 7 April 2010
Yusuf Iskandar

Gempa Rutin

17 Maret 2010

Rupanya info gempa 4 SR di Jogja beberapa hari yll, dapat membangkitkan trauma bagi seorang teman di tempat lain. Kepada temanku itu lalu saya pesankan (menirukan himbauan ‘normatif’ petugas BMKG): “Itu gempa rutin dan kecil saja, tidak perlu cemas” (Tapi di dalam hati sebenarnya saya terjemahkan himbauan itu menjadi: “Cemaslah kalau itu gempa buesar, karena ketika hal itu terjadi, rumah sampeyan sudah telanjur pada rubuh…”)

(SR : Skala Richter)

Yogyakarta, 14 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Gempa Petang Di Jogja

13 Maret 2010

Sedang asyik-asyiknya dzikir habis maghrib di masjid, tiba-tiba terjadi gempa cukup keras dan mengagetkan, di Jogja. Sebentar saja, sekitar 3 detik. Tapi… Waspadalah! Waspadalah! Bencana terjadi bukan hanya karena niat (Maha) Pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan (Karena itu tutuplah peluang timbulnya kesempatan itu, dengan “berbaik-baik” kepada Sang Maha Pelakunya…)

Yogyakarta, 11 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

Gempa di Jogja kemarin petang, tepatnya pukul 18:27 WIB, 4 skala Richter, berpusat di tenggara mBantul. Menurut BMKG Jogja, agar warga tidak perlu cemas, wong gempa seperti ini terjadi setiap hari, hanya kemarin itu skalanya sedikit lebih besar sehingga agak terasa getarannya. Yen tak pikir-pikir….semua juga begitu. Asal jangan nanti terjadi gempa rutin, tapi ketika itu skalanya 8,9 Richter…..

Yogyakarta, 12 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Sedia Sepeda Motor Sebelum Tsunami Menggelontor

15 November 2009

Hari Minggu, 23 Desember 2007, adalah hari “keramat” yang sangat mendebarkan bagi sebagian besar masyarakat Bengkulu dan sekitarnya. Pasalnya, sejak sebulan terakhir telah beredar rumor bahwa pada hari itu akan terjadi gempa besar berkekuatan 8,5 SR yang “rencananya” akan diikuti dengan terjangan gelombang tsunami. Apa tidak nggegirisi (mengerikan)……

Spontan yang ada di pikiran masyarakat Bengkulu adalah trauma terhadap gempa besar yang belum lama memporak-porandakan Bengkulu Utara pada September lalu dan bencana tsunami di Aceh tiga tahun yang lalu.

Ini gara-gara adanya sebuah fax yang dikirim oleh Prof. Jucelino Nobrega da Luz, seorang (konon) pengamat gempa dari Brazil. Jelas, siapapun yang paham tentang pergempaan akan menolak prediksi semacam ini. Namun tak ayal, isu ini telah membuat sebagian masyarakat Bengkulu cemas bin resah.

***

Tentang gempanya, yang ternyata hari Minggu kemarin Bengkulu baik-baik saja, biarlah menjadi porsi para ahli untuk mengkajinya. Namun saya melihat ada “kejadian” lain yang menarik.

Sejak beberapa minggu menjelang tanggal 23 Desember 2007, saya jumpai di koran lokal “Rakyat Bengkulu” sebuah iklan produk sepeda motor yang menawarkan kemudahan untuk kredit kepemilikan sepeda motor Honda. Bunyi iklannya kira-kira bermaksud mengingatkan masyarakat bahwa bila bencana tsunami terjadi, maka diperlukan sarana transportasi yang gesit untuk mencari tempat berlindung (mengungsi, maksudnya). Dan, sepeda motor adalah salah satu diantara moda transportasi yang fleksibel itu.

Ternyata bukan hanya iklan yang kemudian saya jumpai, melainkan juga dalam format berita. Tidak salah juga kalau disebut iklan terselubung, meskipun kalau menilik isi beritanya jelas bukan lagi terselubung, alias sudah terang-terangan. Bahkan bernada sangat provokatif. Penggalan iklannya berbunyi begini :

….. Jalur evakuasi ini terletak diberberapa titik di daerah Bengkulu, apabila benar terjadi gempa 23 Desember, jalur ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang akan berlomba menyelamatkan nyawa dan harta masing-masing. Sepeda motor merupakan alat transportasi yang paling praktis, aman dan cepat dalam usaha menyelamatkan nyawa dan harta…..

….. Honda menawarkan kepada masyarakat Bengkulu segala kemudahan dalam memiliki sepeda motor yang praktis, aman dan cepat. Cukup dengan hanya Rp 500 ribu, subsidi Rp 700 ribu ditambah dengan cash back Rp 300 ribu, masyarakat Bengkulu sudah dapat memiliki sebuah motor FIT X…..

Aha! Ini sebuah berita yang tampaknya cukup simpatik memberitahu masyarakat tentang perlunya alat transportasi yang praktis di saat bencana dan kepanikan melanda. Namun ini juga sebuah bujukan kepada masyarakat agar segera membeli sepeda motor cap Honda.

Hanya saja yang membuat saya risih adalah judul beritanya berbunyi : “Honda Investasi Terbaik”. Lha ya, ketemu pirang perkoro (ketemu berapa perkara – ungkapan bahasa Jawa) wong membelanjakan uang untuk kabur dari kejaran tsunami kok disebut investasi.

***

Saya mengapresiasi idenya. Jeli menangkap peluang bisnis. Ini sah-sah saja. Sebuah strategi pemasaran yang jitu. Memanfaatkan momen tertentu untuk diubah menjadi sebuah peluang bisnis. Hanya, kebetulan saja momennya kok ya menakutkan….

Tak beda halnya kalau ada orang mempromosikan produk sepatu booth guna mengantispasi datangnya banjir. Atau orang menawarkan produk payung atau ponco sebelum musim hujan tiba. Soal banjirnya benar-benar datang atau tidak, hujannya jadi turun atau tidak, ya tidak menjadi soal.

Tapi mestinya pengusaha tidak perlu “mengelabuhi” konsumen dengan mengatakan bahwa membeli sepatu booth dan payung adalah sebuah investasi. Yang sebenarnya adalah konsumsi pada tingkat kebutuhan, kalau masih tingkat keinginan maka kecenderungannya konsumtif. Lain hanya kalau sepatu booth atau payung itu kemudian disewakan kepada orang lain, di dekat halte bus atau di ujung jalan yang kebanjiran.

Sayangnya saya tidak memiliki akses untuk mengetahui seberapa besar impak dari iklan sepeda motor itu terhadap tingkat penjualannya kemudian.

Saya hanya ingin menggarisbawahi sisi positif dari kejelian si pemasang iklan atau pengirim berita dalam menangkap peluang bisnis di tengah situasi yang sedang berkembang. Bagaimanapun juga ada pelajaran bisnis tentang trik pemasaran yang dapat dipetik dari kejadian itu. Seperti menerapkan peribahasa : sedia sepeda motor sebelum tsunami menggelontor.

Yogyakarta, 24 Desember 2007
Yusuf Iskandar

Salawatan Di Toilet

4 November 2009

Suatu ketika Anda (yang laki-laki) sedang membuang hajat kecil di sebuah toilet, semisal di toilet perkantoran, mal atau bandara. Toilet laki-laki jaman moderen sekarang ini memang dirancang untuk kencing sambil berdiri (maka bagi para guru harap hati-hati, sebab kalau murid-murid Anda tahu nanti mereka akan kencing sambil pada berlari, kan jadi repot…..). Mau tidak mau begitulah cara cepat untuk kencing di toilet umum, ya sambil berdiri itu. Kecuali kalau Anda mau agak bersabar masuk ke kamar kecilnya.

Sedang enak-enaknya kencing (kencing kok enak….), malah terkadang sambil sedikit bergidik, badan bergetar tanpa kendali, kepala agak mendongak ke atas dengan tatapan nanar barangkali ada cicak atau buaya di dinding, apalagi sambil membayangkan cerita-cerita lucu……, tiba-tiba ponsel Anda berbunyi keras mengejutkan Anda. Mendingan kalau bunyinya pelan dengan nada dering standar. Sering-sering malah volume nada panggilnya disetel cukup keras dan nada deringnya dipilih lengkingan musik atau lagu-lagu. Apalagi kalau si pengencing (maksudnya orang yang kencing) adalah penggemar lagu-lagu lawas seperti Bengawan Solo dimana air mengalir sampai jauh.

Ponsel Anda berdering saat kencing belum selesai. Oo, repotnya….. Mau diterima, kok merepotkan. Ibarat sedang naik sepeda mau “lepas setang” takut nabrak pagar. Mau dibiarkan dulu, kok musiknya makin keras. Dan Bengawan Solo pun terus mengalir sampai jauh……Sementara orang di sekitar senyam-senyum sambil malu-malu melirik Anda (padahal mestinya Anda yang malu) bagai bertemu seorang selebriti yang sedang kencing. Serba salah dan sering-sering malah membuat panik.

***

Selama ini kita mengenal ada beberapa kebiasaan yang berlaku umum yang meminta seseorang agar mematikan ponselnya. Pertama, ketika berada di dalam kabin pesawat. Alasan resminya dapat mengganggu sistem komunikasi dan navigasi pesawat. Bahkan ketentuan ini sudah disertai dengan ancaman sangsi denda sampai 200 juta rupiah bagi yang melanggarnya. Namun toh banyak juga yang diam-diam melanggarnya tanpa malu-malu dan tanpa merasa bersalah kalau perilakunya yang meremehkan aturan itu berpotensi mengancam keselamatan penumpang sepesawat. Benar demikian atau tidak, itu soal lain. Tapi begitulah bunyi peraturannya.

Kedua, ketika berada di dalam tempat ibadah, taruhlah di gereja atau masjid. Alasannya mengganggu ketenangan dan kekhusyukan jamaah. Jangan sampai terjadi saat di mimbar depan sedang ada khotbah tahu-tahu yang di belakang ada yang menyanyi “Bangun tidur, tidur lagi….”. Kalau lupa? Maksudnya lupa mematikan ponsel, paling-paling kalau tidak disenyumi ya dicemberuti oleh sesama jamaah di masjid atau peserta ibadah lainnya.

Nah, yang ketiga ini yang sering dilupakan orang, yaitu ketika kencing di toilet. Dering tilpun memang datangnya suka tak terduga seperti gempa. Tapi ketika dering itu terjadi, sangat mudah untuk mengetahui dimana episentrumnya dan intensitasnya. Lebih-lebih kalau kencingnya di toilet berdiri ramai-ramai, dijamin akan serba salah dan panik. Salah-salah dalam mengambil langkah tanggap darurat, celana atau sepatu Anda yang basah. Kalau berada di dalam kamar kecilnya masih lumayan, paling-paling orang-orang yang di luar hanya akan mendengar suara lengkingan musiknya sambil tersenyum atau menahan cekikikan, sementara Anda sendiri bisa cuek pura-pura tidak ada apa-apa.

Maka ingat-ingatlah terutama aturan mematikan ponsel yang ketiga itu. Kalau aturan yang pertama, pramugari pesawat dengan setia selalu akan mengingatkan Anda. Aturan yang kedua, biasanya di tempat-tempat ibadah sudah dipasang himbauan atau peringatan tertulis. Sedang aturan yang ketiga, Anda harus mengingat-ingatnya sendiri. Kalau lupa? Bersiaplah untuk terkejut lalu panik… Namun usahakan untuk tetap konsentrasi agar langkah tanggap darurat sebagai reaksi spontan Anda tidak salah. Dan jangan tersinggung kalau Anda disenyumi orang disekitar Anda yang pasti tidak bisa menahan geli. Apalagi kalau pemilik ponselnya orang Islam yang nada deringnya berbunyi bacaan salawat. Maka orang-orang pun akan tersenyum sambil memuji dalam hati : “Hebat orang ini, buang hajat pun sambil salawatan…..”. Malunya tak seberapa, tapi paniknya itu……

Yogyakarta, 3 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Banjir Bandang

7 Oktober 2009

Banjir Bandang di Tanggamus, Lampung…..

Belum reda petaka gempa
banjir dan longsor datang menjelma
kian lengkap bencana mendera
satu-dua korban tiada bukan berarti lantas dilupa
sungguh berat beban Sumatera
menunaikan langkah demi langkah di alam fana
menjadi cermin bagi siapa hamba
menyempurnakan cita menuju tanah sorga….

Yogyakarta, 6 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Catatan Tertinggal (Awal September 2009)

28 September 2009

Gempa

Setiap kali ada gempa, orang2 pada kabur berhamburan keluar gedung…. Rupanya gempa itu suka menakut-nakuti orang yg kerjanya di dalam gedung…..

(Intermezzo saja…. Akhir-akhir ini gempa sering terasa di Jogja, meski intensitasnya tidak terlalu besar, tapi bikin deg-degan juga…)

Yogyakarta, 2 September 2009
Yusuf Iskandar

——-

Telat Bangun Sahur

Bangun sahur bersama terdengarnya adzan subuh….. Maka : Lanjutkan….! Ya puasanya, ya tidurnya….

(Inilah sekali-sekalinya sekeluarga terlambat bangun untuk makan sahur…)

Yogyakarta, 2 September 2009
Yusuf Iskandar

——-

Sarang Semut

Waduh… tobat tenan….! Ngerebus jamu sarang semut Papua, lupa, sampai kering…. Tinggal sarangnya gosong, semutnya pada kabur….

(Pada kunjungan saya ke Papua beberapa bulan yll, saya sempat mampir ke pasar tradisional Swadaya, Timika, membeli sarang semut yang konon mujarab sebagai obat tradisional untuk aneka ria macam penyakit — Tidak lama setelah itu pasar Timika terbakar….)

Yogyakarta, 1 September 2009
Yusuf Iskandar

Catatan Tertinggal (Agustus 2009)

25 September 2009

Antar-teman Tunai Mandiri

Gara-gara kartu ATM dicaplok mesin di Mampang Jakarta, sementara belum sempat ngurus yang baru di Jogja, kini kalau mau ambil (uang) tunai mesti transfer dulu ke teman via internet banking lalu minta tolong untuk diambilkan ke ATM (Antar-teman Tunai Mandiri).

(Setelah lapor ke Call Center, lalu kartu diblokir demi keamanan dan diminta bikin baru saja. Setelah diurus di kantor cabang bank Mandiri di Jogja, rupanya hanya perlu waktu beberapa jam saja untuk minta penggantian kartu).

Yogyakarta, 31 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

——-

Nasib Tiket Promo

Mulanya senang dapat karcis Garuda murah JOG-CGK pp. Begitu jadwal kembali ke Newyork-arto diundur, ternyata tidak bisa, Garuda mbegegek karcisnya hangus… Terpaksa oknum yang mengubah jadwal, mau tanggungjawab membelikan karcis baru + ubo rampenya…

(Tiket murah adalah kategori tiket promo yang tidak dapat ‘diubah-ubah’. Yang saya maksud ‘oknum’ adalah pihak yang telah mengundang saya ke Jakarta dan kemudian juga meminta untuk menunda kepulangan ke Jogja…. He..he..)

Jakarta, 27 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

——-

Ada Gempa (Lagi) Di Jogja

Baru saja ada gempa di Jogja…. Beberapa detik, tidak besar, tapi bikin mak jenggirat + deg-degan, teringat gempa Jogja 3 tahun yll…

(Bagaimanapun juga wilayah Jogja dan umumnya kawasan selatan Jawa adalah wilayah rawan gempa)

Yogyakarta, 22 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

——-

Di Terminal A Cengkareng

Check-in di Terminal A Cengkareng, lambat bin menjengkelkan. Penumpang padat tapi SDM petugas keteteran (kata lain untuk tidak profesional)…

(Heran juga, sudah jelas penumpang menumpuk dan antrian panjang, kok tidak ada inisiatif agar bisa dilayani lebih cepat…. Ini malah sedikit-sedikit counter-nya ditinggal pergi, ambil ini-itu, tanya ini-itu, atau entah ngapain. Penumpang gelisah sambil huuuu… pun dicuekin aja…..Ugh..!)

Ada bule heran, ‘smoking area’ menjadi satu dengan ruang tunggu, sehingga asap tetap saja kemana-mana seperti gendongannya Mbah Surip. Dia pun turut ngudut & berfoto…

(Kata saya : Lha saya saja heran, apalagi Sampeyan….)

Jakarta, 15 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Goyang Jabar

3 September 2009

Gempa 7,3 SR melanda Jabar, berpusat di laut selatan baratdaya Tasikmalaya, Jawa Barat. Sementara data melaporkan ada sekian puluh jiwa melayang, sekian ratus manusia terluka, sekian ribu rumah rusak parah, dan tak terhitung jumlahnya yang resah wal-gelisah terantuk musibah.

Pikiran saya melayang teringat gempa Jogja 5,9 SR, 27 Mei 2006, ketika di pagi hari tiba-tiba bumi Jogja bergoyang patah-patah selama 57 detik. Padahal pantasnya kalau Jogja itu goyangnya lemah gemulai bak tari Bedoyo, bukannya patah-patah seperti di Jabar yang kemudian menyebakan rumah-rumah rubuh mak breg….., dan sekian ribu manusia pun berpulang ke haribaan Sang Maha Penggoyang.

Siapapun mafhum bahwa gempa itu pasti akan terjadi tanpa aba-aba. Musibah itu akan tetap melanda bumi Jabar dan kawasan sekitarnya, karena memang demikian kepastian yang telah ditulis di dalam buku besarnya Sang Pemilik Bumi. Bukan peristiwa kebetulan, melainkan skenario yang sudah terencanakan dengan manis dan indah. Hanya manusia saja yang seringkali kurang pandai membaca tanda-tanda kebesaran Sang Maha Pemilik Rencana.

Seandainya manusia ini mempunyai kemampuan untuk terbang ke langit tingkat tujuh yang berjuta tahun jaraknya dan kemudian menyaksikan bagaimana sistem tata surya ini bermanuver, niscaya akan paham bahwa bagi Tuhan, bumi ini bak sebutir pasir terbawa angin muter-muter. Maka tahulah bahwa bumi Jabar hanyalah bagian kecil saja dari butir pasir itu, apalagi manusia-manusianya yang pethenthang-pethentheng tidak paham juga kalau keberadaannya nyaris tak terdefinisikan.

Apa artinya? Untuk mengacak-acak bumi Jabar, bagi Tuhan adalah semudah menghembuskan asap rokok Marlboro merah yang diarahkan ke kerumunan pasir, tinggal clik….. seperti menggesekkan ibu jari dan jari tengah…. Lalu berantakanlah bumi Jabar dan manusia-manusianya, Ada yang mati, ada yang hilang, ada yang cedera, dan ada yang menangis, ketakutan, stress, bingung, menggerutu. Tapi ada juga yang ikhlas dan hatinya semeleh, pasrah dan nerimo…., bahwa ini adalah sebuah kepastian. Siap atau tidak siap, sudah kaya atau masih miskin, sudah dilantik jadi anggota Dewan atau masih berperkara, sebodo teuing….. bumi Jabar akan tetap digoyang.

Kalau sedemikian mudahnya Tuhan mengoyang bumi Jabar dan manusia-manusianya. Maka akan sedemikian mudah pula Tuhan menatanya kembali. Bahkan sama mudahnya dengan mengabulkan apapun permintaan manusia-manusia yang barusan dijungkir-balikkan. Tapi coba kita ingat-ingat, kapan terakhir kali kita berdoa mengajukan permohonan dengan penuh kesadaran dan penghambaan kepada Sang Khalik? Padahal itu adalah perintah-Nya dan sekaligus disertai dengan janji-Nya yang pasti bakal dipenuhi. Anehnya, sudah disuruh minta, kemudian dijanjikan bakal dipenuhi, enggak mau juga… Tidak cukup sampai di situ. Bulan mega-bonus pun ditawarkan-Nya. Gratis tanpa modal. Itu pun masih disisipi dengan sebuah malam yang nilainya lebih dari seribu bulan.

Maka penghuni bumi Jabar dan sekitarnya sepertinya pantas bersyukur. Mereka yang kemudian meninggal dunia setelah digoyang patah-patah sedang mereka dalam keadaan berpuasa dengan ikhlas dan khusyuk karena iman dan semata mengharap ridho-Nya (imaanan wah-tisaaban), sepertinya mereka telah menutup episode hidupnya dengan happy ending (khusnul khotimah). Sungguh sebuah anugerah.

Puasa yang ikhlas adalah puasa yang dikerjakan bukan karena enggak enak sama tetangga atau teman kerja sebelah meja. Puasa yang ikhlas adalah puasa yang targetnya seperti diperintahkan-Nya agar la’allakum tattaquun… agar kalian bertakwa. Maka tidak siapapun dapat menilai kualitas ibadah puasa seseorang, karena puasa itu memang diperuntukkan hanya bagi Tuhan dan tidak siapapun bisa turut campur.

Mereka yang kemudian selamat jiwanya sedang mereka ikhlas menerima musibah dan tetap bersyukur, maka mereka sesungguhnya sedang berada sangat dekat di sisi Tuhannya. Doanya sangat dekat dengan kunci terkabulkannya. Ya, doanya mereka yang sedang berpuasa, doanya mereka yang teraniaya oleh musibah, doanya mereka yang sabar dan khusyuk.

(Memang diperlukan skill yang terlatih untuk bisa bersyukur di tengah musibah…, sebuah keterampilan yang tidak begitu saja akan dimiliki seseorang. Benar-benar tidak mudah, belum lagi kalau wartawan televisi memfasilitasi untuk muring-muring di depan kamera ketika bantuan terlambat).

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang penuh keberkahan bagi masyarakat Jabar dan sekitarnya. Goyang Jabar adalah pertanda kecintaan Tuhan kepada manusia yang dipilihnya. Tinggal manusianya dipersilakan untuk memilih : Mau?.

Yogyakarta, 3 September 2009 (13 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(1).  Tiba Di Bandara Fatmawati Soekarno

Ada yang berbeda dengan Adam Air yang saya tumpangi hari Minggu kemarin. Sejak dari Yogyakarta menuju Jakarta, lalu dilanjutkan menuju Bengkulu, semua pramugari Adam Air tidak mengenakan seragam seperti biasanya. Para pramugarinya tampil santai. Mereka hanya mengenakan kaos yang warnanya tidak seragam dipadu dengan celana denim biru berbagai merek. Kaos yang dikenakan ada yang berwarna dasar oranye, kuning, dan ada pula yang putih.

Didorong rasa penasaran, akhirnya saya tanyakan juga kepada salah dua dari mereka. Kenapa tidak memakai seragam? Jawabnya, memperingati World Cup. Piala Dunia kok diperingati. Tentu yang dimaksudkan adalah turut berpartisipasi merayakan pesta akbar pertandingan sepak bola dunia yang sedang digelar di Jerman. Makanya kaos yang dikenakan pun menyamai seragam kesebelasan sepak bola berbagai negara peserta putaran final, antara lain ya regu Belanda dengan warna dasar oranye dan regu Brasil dengan warna dasar kuning. Sayangnya (atau bagusnya) tidak mengenakan celana pendek kombor dan sepatu bola, melainkan blujin biru ketat berbagai merek dan sepatu olah raga putih.

Kesannya memang nanggung, bukan seragam pramugarinya yang nanggung melainkan ide dasarnya Adam Air ini. Kalau maksudnya berpartisipasi merayakan pesta Piala Dunia, kenapa hanya seragam peladen (pelayan) pesawat saja yang tampil beda. Sementara tak satupun ada atribut lain yang menandakan sedang turut merayakan hajatan sepak bola dunia. Tidak juga ada poster atau brosur atau atribut lainnya, sejak saat keberangkatan hingga kedatangan. Tapi, yo wis-lah….. Wong namanya turut berpartisipasi, ya sesukanya dan seikhlasnya…..

Kalau ada yang sedikit “berbeda” adalah ketika pesawat yang dari Jakarta hendak berangkat menuju Bengkulu, pintunya susah ditutup. Engselnya ngadat. Sekali, dua kali, tiga kali, sampai enam kali dicoba ditarik-tarik untuk ditutup, tetap tidak mau nutup juga. Mau tersenyum melihatnya, bagaimana seorang pramugara bersusah-payah menarik-narik pintu sambil sesekali memukul-mukul engselnya, didampingi oleh seorang pramugarinya, tetap tidak mau nutup juga. Tapi juga deg-degan, lha bagaimana nanti kalau tiba-tiba malah membuka sendiri sewaktu sedang di awang-awang? Setelah usaha yang kesekian kalinya, akhirnya semua lega ketika akhirnya pintu pesawat berhasil ditutup. Tidak perlu ada tepuk tangan untuk “kebodohan” semacam ini….. Kebodohan yang menakutkan…..

***

Sekitar jam 14:30 siang saya mendarat di Bengkulu, yang juga menyebut dirinya dengan bumi Raflesia. Entah mana tulisan yang benar, di bandara ada yang menulis besar-besar dengan Rafflesia (double “f”) dan ada yang menulis Raflessia (double “s”). Saya baru tahu kalau nama bandara Bengkulu yang dulu bernama bandara Padang Kemiling ini rupanya sejak direnovasi tahun 2001 telah berubah nama menjadi Fatmawati Soekarno Airport. Begitu nama resmi yang tertulis di sana.

Sebelas tahun lebih sedikit yang lalu, saya meninggalkan kota ini setelah enam setengah tahun sebelumnya midar-mider melalui kota ini saat masih bekerja di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara. Lebong Tandai, nama tempatnya.

Tahun 1995 terpaksa saya dan teman-teman lainnya eksodus dari perusahaan tambang yang mulai salah urus. Operasi tambang yang sebenarnya masih berprospek bagus itu ternyata pengelolaannya amburadul. Maka sebagian besar pegawainya, tidak staff tidak non-staff, akhirnya merelakan untuk melupakan satu-dua bulan gaji terakhirnya dan memilih eksodus meninggalkan lokasi kerja.

Pihak pemerintah daerah dan departemen teknis terkait yang sesungguhnya sangat diharapkan untuk turun tangan mencarikan jalan keluar, ternyata turun kaki pun tidak. Maka sekitar seribu lima ratus sisa pegawainya akhirnya bagai anak-anak ayam kehilangan induknya. Bubar mencari selamat masing-masing nyaris tanpa bekal. Patut bersyukur bagi mereka yang akhirnya bisa tiba di kampung halaman dengan selamat dengan sisa bekal yang ada.

Kota Bengkulu yang saya jumpai siang itu tampak damai dan sepertinya tidak banyak perubahan. Kota ini memang tidak terlalu ramai dan padat. Jalan-jalan kotanya lebar dan lalu lintas sangat lancar, hingga terasa enak sekali berkeliling kota ini. Sebagai sebuah ibukota propinsi, maka Bengkulu tergolong kota propinsi yang relatif sepi. Barangkali karena letak geografisnya kurang strategis. Bukan kota dagang, bukan juga menjadi kota perlintasan dagang. Belum banyak industri, selain beberapa perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan.

***

Hari pertama di Bengkulu saya sempatkan untuk napak tilas jalan-jalan dan tempat-tempat yang sebagian masih saya ingat arah, rute, lokasi dan namanya. Diantaranya kawasan simpang lima, pasar Minggu, daerah Kampung (tapi ada di pusat kota), daerah pantai dengan benteng Fort Marlborough dan Tapak Padri, pantai Panjang (karena memang pantainya puanjang), bekas rumah ibu Fatmawati dan rumah Bung Karno sewaktu dalam pengasingannya di Bengkulu.

Tidak lupa, tentu saja menikmati makan malam (untuk urusan yang satu ini wajib hukumnya…..). Pilihan jatuh pada menu pindang tulang, di rumah makan “Tanjung Karang”, Jl. Mayjen Sutoyo. Pokoknya ya mampir saja. Entah lagi lapar entah memang enak, pokoknya huenak tenan… Sehingga masuk kembali ke kamar hotel pun dapat nggeblak dengan nyaman.

Ee….., lha kok pas enak-enaknya mulai menyaksikan Piala Dunia babak enam belas besar, tiba-tiba bumi seperti digoyang-goyang. Meskipun goyangannya tidak keras, melainkan goyangan lembut dan mesra, feeling saya dengan cepat dapat mengidentifiksi bahwa sedang terjadi gempa bumi. Tentu saja, mak deg….. terbayang gempa Jogja. Untung hanya sekali saja dan tidak ada gempa-gempa susulan, sehingga tidak menimbulkan keresahan.

Esok hari baru saya memperoleh kepastian setelah melihat televisi, bahwa memang telah terjadi gempa di Bengkulu dengan kekuatan 5,2 skala Richter. Darimana lagi kalau bukan dari gerakan palung Jawa, masih segaris keturunan dengan gempa Aceh, Nias, Jogja, Padang dan terakhir Lampung. Barangkali karena efek getarannya sangat halus dan tidak mengagetkan, maka masyarakat Bengkulu sepertinya tidak terganggu, karena memang gempa-gempa lembut semacam ini sering dirasakan.

Saya hanya kepikiran, bahwa gempa yang sama dengan intensitas lebih lemah atau lebih kuat sepetinya tinggal menunggu tanggal mainnya saja bagi kawasan-kawasan lain yang berdekatan dengan palung Jawa. Tidak ada salahnya untuk waspada.

Bengkulu – 26 Juni 2006
Yusuf Iskandar