Posts Tagged ‘lebaran’

Tradisi Halal Bihalal

9 Oktober 2010

Sejak lebaran sudah berkali-kali ketemu dan salaman, ya di jalan, di tempat kerja, di kampung, di masjid, bahkan berbalas pantun SMS halal bihalal. Tapi toh merasa belum afdol kalau belum diadakan acara khusus halal bihalal dengan makan-makan. Padahal pesertanya sama, salamannya sama, sambutannya juga sama.

Atas nama tradisi, terasa nian nuansa indahnya. Tapi jadi sedih kalau ingat di tempat lain malah subur tradisi tawuran, bentrok, amuk, amarah, timpuk-timpukan…

Yogyakarta, 3 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Rejeki Pak Giman

20 September 2010

Warung soto-bakso Pak Giman tetanggaku di Madurejo, lebaran ini laris manis. Siang tadi saya mampir silaturrahim, ternyata sudah ludes bahkan banyak yang kecele. Hari-hari biasa habis sekitar 3 kg daging, lebaran ini sampai 15 kg/hari. Wow!

Semakin hujan.., semakin pantat pak Giman tidak kelihatan, saking larisnya (memangnya tidak pake celana?)…. Tuhan memang luar biasa! (ngurus rejeki setiap mahluk maksudnya, bukan ngurus celana pak Giman)

Yogyakarta, 14 September 2010
Yusuf Iskandar

Sedia Opor Ayam Sebelum Lebaran

12 September 2010

Salah satu “syarat” sahnya perayaan Idul Fitri di kampungku adalah sedia opor ayam dan sambal goreng hati sebelum lebaran. Maka ketika ditawari ayam kampung siap masak dengan harga antara Rp 50-80 ribu/ekor, saya langsung pesan dua ekor yang harganya paling murah, yang penting tetap ayam dan ada brutu-nya (lha itu yang paling hoenak je..).

Dan, siang ini terpaksa turun tangan membantu memotong-motong daging ayam sebelum siap naik ke panci pengoporan.

(brutu : dubur ayam)

Yogyakarta, 9 September 2010
Yusuf Iskandar

Pendakian Berbeda

11 Agustus 2010

Rencana pendakian ke Carztens nampaknya belum bisa diwujudkan. Hingga akhir Juli/awal Agustus belum ada juga green light perijinan dari otoritas lokal.

Anak lanang datang dengan usulan baru: “Ke Semeru yuk pak. Sekarang!”.
Kujawab: “Weleh.., ya Insya Allah usai lebaran lah, kita rencanakan ke sana…”. Sekarang fokus dulu berjuang menempuh perjalanan pendakian berbeda. Pendakian itu bernama Ramadhan dan puncaknya bernama Idul Fitri…

Yogyakarta, 9 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Kabel Jaringan Digerogoti Tikus

24 Juli 2010

Komputer kasir mendadak ngaco, data tidak ter-update. Wah, bisa runyam ini. Lacak-dilacak hingga ke wuwungan (ruang bawah atap), ternyata ada kabel yang digerogoti tikus. Terpaksa narik-narik kabel jaringan yang cukup panjang dan diganti baru. Perlu pengaman ekstra agar tidak lagi mudah di-plekotho (diperdaya) tikus. Lebih baik rada repot sekarang daripada nanti pas ramai-ramainya menjelang lebaran ada trouble transaksi tiba-tiba… Bisa mati berdiri…!

Madurejo – Sleman, 17 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Ancang-ancang Lebaran

8 Juli 2010

“Lebaran sebentar lagi”, begitu kata pebisnis ritel mracangan. Tiba waktunya untuk menyetok komoditas unggulan kala Lebaran, seperti sirup, roti kaleng, susu kaleng, dll. Hitung-hitungan cermat dilakukan. Berapa banyak masing-masing item harus disetok agar tidak meleset jauh dari kebutuhan. Begitu pun ‘boss’ saya mulai ancang-ancang…

Ancang-ancangnya sih gampang, tapi yang untuk mengancang itu yang bikin ‘gerah’, membayangkan besarnya modal ekstra yang nanti akan parkir beberapa waktu.

Yogyakarta, 1 Juli 2010
Yusuf Iskandar

“Manna Janjimu…?”

1 Oktober 2009

Hari masih pagi. Noval, 15 tahun, baru bangun tidur akibat kecapekan karena kemarinnya baru pulang dari mendaki gunung Lawu. Bersama empat orang teman sekolahnya Noval mencapai puncak gunung Lawu pada Sabtu akhir pekan lalu, sehari sebelum hutan Lawu terbakar. Dia tidak mau mengngaku kalau dituduh pendakian silaturrahim lebaran ke Lawu ini pasti odo-odonya (idenya). Ini pendakian ke Lawu yang kedua, pendakian pertamanya satu setengah tahun yll. ditemani bapaknya.

Sejak lebaran H-0 (1 Syawal, teng…!) dia sudah mulai kasak-kusuk sama ibunya. “Kapan ke dealer?”, katanya. Pasalnya, deal waktu awal Ramadhan dengan bapaknya rupanya diingat betul, bahwa kalau bisa khatam tadarus Qur’an dua kali selama Ramadhan disetujui akan dibelikan sepeda motor untuk sekolah (judul resminya begitu, tidak resminya ya untuk dolan….). Dan, dia berhasil memenuhi kesepakatan menyelesaikan dua kali membaca buku bertuliskan huruf Arab yang belum dipahami maknanya itu, kecuali ayat yang pertama.

Lebaran sudah lewat seminggu dan di televisi tersiar arus balik para pemudik sepeda motor yang terlihat ramai-lancar-padat-merayap kembali ke ibukota, tapi belum juga ada tanda-tanda pemenuhan janji bapaknya. Begitu mungkin pikirnya. Padahal sekolah sebentar lagi dimulai, sementara teman-temannya sering pada datang ke rumah membawa sepeda motor. SIM juga telanjur sudah dimiliki meski harus nombok umur karena kurang dua tahun.

Berkali-kali sindirannya terceplos melalui omongannya : “Kapan nih kita ke dealer…”. Berkali-kali pula bapaknya menjawab : “Sabar to, Le…. Toko sepeda motornya masih pada tutup…”, jawab bapaknya asal-asalan karena tidak mau diburu-buru.

Rupanya kesabaran Noval semakin njegrak ke ujung rambutnya. Jangan-jangan setan Lawu yang ikut ke rumah turut memprovokasinya. Meski mata masih dikucek-kucek habis balas dendam tidur panjang sepulang dari gunung Lawu (untungnya bangun tidur tidak tidur lagi, lalu bangun lagi….), Noval glenik-glenik…, omong-omong pelan dengan ibunya. Kalau urusan pendekatan personal begini, Noval tidak berani langsung menghadap bapaknya. Bukan takut dimarahi, melainkan agaknya bosan mendengar ceramahnya (padahal salah satu syarat untuk menjadi orang tua yang baik adalah harus pintar ceramah di depan anaknya…..). Baru kemudian ibunya yang lapor sama bapaknya. Ini sebenarnya jenis birokrasi keluarga yang enggak mutu…..

Seperti sedang bicara sendiri saat duduk di samping ibunya, Noval ngomong sambil cengengesan : “Bu, kapan kita ke dealer-nya?”. Ibunya menjawab pendek : “Yo sana tanya sama bapak”. Lalu tukas Noval lagi : “Ibu aja yang bilang, ah…!”.

Sesaat kemudian Noval berkata : “Tapi sebenarnya bapak itu punya uang enggak, sih….. Saya jadi enggak enak. Sebenarnya saya ya tidak ingin merepotkan orang tua, tapi gimana ya…..”, katanya kemudian dengan nada pasrah tapi masih dengan nyengenges. Maka luluhlah pertahanan bapaknya….

Sebagai seorang anak, rangkaian kata-katanya kedengaran bijaksana, tapi penuh berbau rayuan. Memelas tapi menohok. Halus dan sopan tapi memojokkan. Tentu saja sebagai orang yang telah mengantongi jam terbang cukup lama sebagai orang tua, omongan itu harus diterjemahkan cukup dengan dua kata saja : “Manna janjimu…?”.

Akhirnya dengan setengah terpaksa (terpaksa kok nanggung, cuma setengah…), segera saya berseru kepada Noval, anak keduaku yang rodo nggregetke (menggemaskan bercampur menjengkelkan) itu : “OK, ayo mandi…mandi…mandi…. Ke dealer kita pagi ini…..!”.

Yogyakarta, 1 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Noval Berulang Tahun Di Puncak Welirang

14 Oktober 2008
Gunung Welirang (3159 mdpl)

Gunung Welirang (3159 mdpl)

Lebaran H-3 yll, Noval, 14 tahun, kelas 3 SMP, minta ijin kepada bapaknya mau ke Gunung Welirang dan Arjuna di Jatim bersama gurunya. Perjalanan pendakian ini (katanya) dalam rangka survey pendahuluan sebelum dia dan rombongan sekolahnya mendaki berjamaah usai Lebaran.

Sayang, bapaknya tidak mengijinkan. Bukan masalah mendakinya, melainkan karena beberapa alasan “rada gaib”. Pertama, bahwa hari-hari di penghujung bulan Ramadhan, terutama malam harinya adalah “the golden nights” yang teramat sayang untuk dilewatkan kecuali untuk alasan yang sangat mendesak. Dan, mendaki gunung adalah tidak termasuk alasan yang mendesak itu.

Kedua, mendaki gunung di bulan Ramadhan adalah pekerjaan yang cenderung ngoyoworo….., membuang waktu. Peluang untuk gagal puasa lebih besar ketimbang berhasilnya. Lebih dari itu, maslahat (kebaikan) yang bakal diraih dari mendaki gunung di bulan puasa tidak sebanding dengan “nilai gaib” yang dapat dikumpulkan dari ibadah puasa dengan tanpa daki-mendaki.

Akibatnya, Noval mecucu …., cemberut karena kecewa tidak memperoleh ijin bapaknya. Padahal keinginannya begitu menggebu-gebu. Telanjur dia “berkorban” tekun berpuasa, rajin sholat tarawih, menghatamkan tadarus Qur’an sebelum Ramadhan berakhir. Telanjur dia rela tidak dibelikan asesori lebaran yang serba baru melainkan diganti dengan perlengkapan baru untuk mendaki gunung. Tas punggung, baju kaos, matras, lampu darurat, adalah sebagian diantaranya. Namun toh akhirnya bisa menerima juga, setelah Noval berhasil di-rih-rih bapaknya…. ditenangkan dan dijelaskan kenapa-kenapanya.

Tiba hari Lebaran H+5, Noval yang telah ditunjuk untuk membantu gurunya menjadi pendamping bagi tim teman sekolahnya dalam Ekspedisi Welirang – Arjuna 2008, akhirnya diijinkan bapaknya berangkat. Aura wajahnya kembali sumringah….

Pagi hari menjelang pamit berangkat, bapaknya menyempatkan untuk memberi kuliah sekadarnya tentang mendaki gunung. Bagaimanapun juga, briefing semacam ini perlu, dalam rangka memberi wanti-wanti oleh orang tua kepada anaknya. Sekurang-kurangnya sekadar berbagi pengalaman. Kalaupun toh orang tuanya tidak punya pengalaman mendaki gunung, setidak-tidaknya orang tua pasti punya pengalaman hidup. Wong jam hidupnya lebih banyak.

Di mata bapaknya Noval, mendaki gunung adalah kegiatan yang resikonya tergolong tinggi. Karena ketidak-tahuan, kebanyakan anak-anak muda atau pendaki pemula sering menyepelekan hal ini. Bapaknya pun dulu juga berpikir begitu. Dikiranya mendaki gunung hanya soal kuat-kuatan jalan kaki. Padahal banyak aspek perlu diketahui. Yang utama tentu aspek keselamatan.

Belum lagi tentang penanganan perbekalan yang nanti akan digembol di punggungnya. Bagaimana kalau hujan, kalau udara teramat dingin, kalau terpisah dari kelompoknya, kalau tersesat, kalau kemalaman di tengah hutan, kalau kehilangan arah, dsb. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sangat jarang sempat dipikirkan oleh anak-anak muda atau para pendaki pemula. Tahunya asal kuat jalan sambil menggendong ransel saja.

Meski pengarahan singkat sudah diberikan kepada Noval. Tak urung, bapaknya memonitor perjalanan Noval via ponsel, sejak naik bis dari Jogja menuju Surabaya sampai kembali ke Jogja. Sampai mana? Lagi ngapain? Sedang menuju kemana? ….. Namanya juga orang tua, dan salah satu syarat menjabat sebagai orang tua adalah berani cerewet, meski ini jelas tidak disukai anaknya.

Akhirnya, berhasil juga Noval mencapai puncak gunung Welirang, 3159 mdpl. Hal yang paling membuatnya bangga adalah ketika puncak gunung Welirang dicapainya tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 14, tanggal 8 Oktober 2008. Namun ada sedikit nada kekecewaan, ketika Noval dan timnya batal melanjutkan untuk muncak (istilah kesukaan Noval untuk menyebut menuju ke puncak) gunung Arjuna, 3339 mdpl. Rupanya setelah muncak ke Welirang, cuaca berubah drastis dari yang semula cerah menjadi hujan lebat. Maka rencana muncak ke gunung Arjuna dibatalkan agar jadwal kembali ke Jogja tidak berubah.

***

Pagi masih agak remang di Jogja, angka digital jam menunjukan menjelang jam 5 pagi, sebuah SMS masuk ke HP saya. Bunyinya : “Pak, bukain pin2”. Maka legalah saya. Noval, anak kedua saya, sudah pulang dengan wajah penuh kemenangan. Lalu saat siang hari sambil bersiap-siap tidur balas dendam, Noval berkata : “Tahun baru nanti ke Rinjani, ya pak?”. Mak glek……. air liurku.

Yogyakarta, 13 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Berlebaran Di Rumah Sakit

7 Oktober 2008

Puji Tuhan wal-hamdulillah, pada tanggal 1 Syawal 1429 H ini bapak saya masih sakit dan dirawat di rumah sakit di Semarang. Maka kami, anak-anak beserta keluarga dan ekor-ekornya pun berkumpul berlebaran di rumah sakit. Bagi ketiga adik perempuan saya yang tinggalnya di Kendal, cukup mudah untuk mencapai Semarang karena hanya berjarak sekitar 30 km dari Semarang. Sedang bagi saya, usai sholat Ied dan silaturrahim sebentar di Yogya, lalu nunggang kijang meloncati jarak 120 km menuju Semarang melawan arus mudik.

Jadilah kami sekeluarga berlebaran di sebuah kamar di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Ritual silaturahim dan sungkeman lebaran kali ini terasa lain dari biasanya. Tanpa kue, tanpa suguhan, tanpa lontong opor ayam sambal goreng petai, tanpa bersimpuh, tanpa sungkeman. Lha, wong bapak terbaring di tempat tidur. Tinggal emosi tak terucapkan tertahan di dalam hati dan perasaan masing-masing. 

Bagi keluarga kami, lebaran kali ini terasa tidak biasa (sebenarnya ingin saya sebut luar biasa, tapi khawatir kedengaran seperti sugesti motivator yang bisa bermakna sebaliknya). Lebaran kali ini terasa begitu indah. Ini juga gaya bahasa hiperbolis-puitis. Lha, mana ada wong lebaran di rumah sakit, kok indah….. Barangkali lebih tepat saya sebut saja dengan suasana yang lebih khidmat.  Jauh dari senyum kemenangan setelah sebulan berpuasa. Atau kegembiraan karena mengenakan pakaian baru. Atau kepuasan karena pagi-pagi sudah nyeruput kopi.

***

Bapak saya masuk (lebih tepat, dimasukkan oleh dokter) ke rumah sakit sejak malam pertama pada sepuluh hari kedua bulan Ramadhan (ini ungkapan matematika hitung-hitungan hari Ramadhan, yang maksudnya adalah hari ke sebelas bulan Ramadhan). Gara-garanya sepele. Dua hari sebelumnya bapak saya (usia 75 tahun) terkena serangan jantung. Saat tengah malam tiba-tiba tubuh lunglai, keringat dingin mengucur dari sekujur tubuh seperti tiada henti, beberapa bagian tubuh terasa nyeri.

Sialnya, tak seorangpun ngeh bahwa itu adalah serangan jantung. Dianggapnya wess-ewess-ewess masuk angin biasa. Maka serta-merta tubuhnya di-blonyoh (dibasahi) dengan minyak tawon biar hangat, sambil agak dipijit-pijit. Ajaibnya, dalam beberapa jam (belakangan baru diketahui bahwa itu adalah beberapa jam masa kritis) sakit yang diderita bapak saya pun mereda dan merasa sudah bablasss angine…. Setelah itu semua berjalan kembali normal seperti biasa. Sampai saat itu pun belum ada yang tahu bahwa bapak saya baru saja mengalami serangan jantung yang sebenarnya “mematikan”.

Baru pada malam kedua setelah serangan jantung itu bapak saya dibawa ke dokter langganannya oleh salah seorang adik saya. Setelah periksa sana periksa sini, dokternya yang terkejut. Rupanya dokter punya ilmu yang bisa mendeteksi bahwa ada yang tidak beres pada jantung bapak saya. Hanya dengan kalimat pendek “saya tidak mau mengambil resiko”, lalu bapak saya diminta segera masuk rumah sakit malam itu juga. Gantian bapak dan adik saya yang terkejut. Lha wong sejak berangkat dari rumah ketawa-ketiwi kok tiba-tiba dimasukkan rumah sakit. Perawat jaga di ICU juga bingung tanya mana orangnya yang sakit, wong semua yang hadir di situ tampak gagah dan sehat.

Selanjutnya, hari-hari Ramadhan dilalui bapak saya di ruang ICU, lengkap dengan selang oksigen, selang infus dan kabel pating tlalang menempel di dada dan ujung jari. Kami pun bergantian menunggui di rumah sakit. Saya juga terpaksa melakukan traveling Yogya-Semarang beberapa kali selama Ramadhan hingga datang Idul Fitri.

Sekali lagi, syukur alhamdulillah, kalau pada Hari Fitri kemarin bapak saya masih sakit dan kami bisa berlebaran di rumah sakit.

Barangkali saya tergolong anak durhaka, wong bapaknya dirawat di rumah sakit kok malah bersyukur. Itu kalau pembandingnya adalah saat bapak saya sehat. Akan tetapi kali ini pembanding saya adalah ucapan dokter beberapa hari sebelumnya. Kala itu dokter mengatakan, kira-kira begini bunyinya : “Upaya medis yang dilakukan sudah maksimum, tinggal pihak keluarga berdoa dan siap dengan hal yang terburuk”. Maka, bagaimana saya tidak bersyukur kalau akhirnya kami bisa berlebaran juga, meski di rumah sakit.

Kita memang suka menggunakan filosofi hidup perbandingan. Dan tanpa kita sadari ilmu perbandingan itu seringkali menjebak kita dalam suasana hati yang destruktif, yang menggiring kita menjadi lupa bersyukur. Itu karena pembanding yang kita gunakan seringkali atas pertimbangan nafsu dan bukan nurani.

Betapa kita sering merasa manjadi orang termiskin sedunia, karena pembandingnya adalah yang lebih kaya. Merasa menjadi orang bodoh karena pembandingnya yang lebih pintar. Merasa menjadi paling sial dan sengsara karena pembandingnya yang lebih bahagia. Merasa menjadi orang gagal karena pembandingnya yang lebih berhasil. Pendeknya, kita sering merasa menjadi orang yang paling karunya…. perlu dimesakke.… dikasihani….., karena pembandingnya adalah yang lebih baik dari kita.

Jarang sekali kita sedikit saja introspeksi, memilih pembanding pada orang-orang yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih sial, lebih sengsara, lebih gagal atau lebih kasihan daripada kita. Barulah nanti akan terlihat bahwa betapa kita selama ini lupa bersyukur (ya, selama ini, karena memang telah cukup lama kita lupa bersyukur).

***

Meski hanya sebentar, setidak-tidaknya berlebaran di rumah sakit telah menyadarkan kami sekeluarga akan artinya sehat. Idul Fitri 1429 H kali ini telah menjadi hari lebaran yang berbeda, yang terpaksa diindah-indahkan tapi tetap khidmat.

Hari menjelang sore ketika kemudian satu keluarga demi satu keluarga meninggalkan rumah sakit, kembali ke rumahnya, melanjutkan makan lontong opor ayam sambal goreng petai. Tinggal bapak saya terbaring lemah di balai-balai rumah sakit, kali ini sudah berkurang kabel-kabel yang menempel di tubuhnya….. Kami anak-anaknya, kembali bergantian menunggui setiap malam…..            

Yogyakarta, 3 Oktober 2008 (3 Syawal 1429 H)
Yusuf Iskandar

Lebaran Sebentar Lagi

27 September 2008

Lebaran sebentar lagi.

Dengan berharap memperoleh lailatul-lebaran, maka berarti kita (yang muslim) punya peluang untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan sebulan penuh, komplit seisi-isinya yang tak terukur nilai ibadahnya. Ya kualitasnya, ya kuantitasnya.

Tidak ada hari-hari dimana khalayak ramai (orang muslim tentunya) berebut memaksimalkan kuantitas ibadahnya, keculi di hari-hari Ramadhan. Tidak ada hari-hari dimana orang ramai-ramai seperti potong padi di sawah berlomba meraih kualitas ibadah sekuali-kualinya, selain di hari-hari Ramadhan.

Inilah hari-hari dimana malaikat Rakib (malaikat pencatata kebaikan) super sibuk nyenthangi (memberi tanda centhang.….) pada kolom ibadah dengan kode : bermutu tinggi (karena selama sebelas bulan sebelumnya ternyata mutu ibadahnya rendah terus, bahkan tekor…..). Sejak kita tidur sampai bangun sampai tidur lagi…..

Nyaris semua orang muslim sepakat (meski belum tentu menghayati), bahwa Ramadhan adalah sebuah peluang. Peluang untuk meraih bonus, mengumpulkan angka cum, menumpuk poin positif dan menutupi ketekoran. Tapi, lha wong namanya peluang, jadi ya terserah bagi siapa saja yang mau menerkamnya atau melepaskannya. Siapa cepat dia dapat? Bukan…..! Itu permainan gaya kita.

Inilah huebatnya Sang Maliki Yaumiddin (Yang menguasai hari pembalasan). Siapa saja pasti dapat. Sebab kalaupun orang se-Sidoarjo, se-Aceh atau se-Jogja semuanya cepat menangkap peluang, maka digaransi semua akan dapat balasannya bersama-sama. Sebaliknya, taruhlah semua kelelat-kelelet menangkap peluang, juga dijanjikan masih akan dapat hasilnya beramai-ramai. Horo... coba…..! Tidak ada janji yang akan selalu ditepati melainkan janji-Nya. Kita saja yang suka semaunya sendiri. Tidak mau menangkap peluang tapi nagih bonusnya terus….. Bagita (bagi rata), katanya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi Ramadhan lebih sebentar lagi, lagi. Hari-hari indah selama sebulan datang menjelang. “MARHABAN YA RAMADHAN”, kata teman kecil saya, Sayid Bakar namanya. “ASAUP NALUB HALITAMROH”, kata spanduk yang memasangnya terbalik di sudut perempatan kampung. Lha, yang disuruh menghormati bulan puasa itu siapa?

Wong puasa kok minta dihormati. Minta diistimewakan. Kalau begitu mah keciiil.…. (sambil menjentikkan seruas ujung jari kelingking). Kalau puasa kok minta dihormati, ya anak sekolah Taman Nak-Kannak saja mampu. ‘Gak ada tantangan! Justru nilai kualitasnya terletak karena banyaknya tantangan, godaan dan rayu-bujukan. Barangkali yang dimaksud sekedar tenggang rasa. Maksudnya : “Awas, ada orang sedang merasa lapar, tenggang dia, jangan ganggu dia…..!”.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi hari-hari luar biasa sebentar lagi mau lewat. Karena hanya lewat, biasanya tidak berlangsung lama. Meski sebenarnya lama atau sebentarnya tergantung pada bagaimana cara menangkap yang mau lewat itu. Kalau dianggapnya sebagai “aktifitas ngoyoworo”, ya lebaran jadi luamaaa sekali…… Tapi kalau dianggapnya sebagai sebuah rahmat dan nikmat, sungguh terlalu cepat dia berlalu. Tahu-tahu sudah mau lebaran. Padahal rasanya belum banyak detik-menit-jam-hari-minggu yang telah dialokasikan untuk menggapai rahmat dan ampunan-Nya. Belum banyak waktu-waktu senggang digunakan untuk menutup nilai tekor selama sebelas bulan sebelumnya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi tidak banyak orang yang ngeh bahwa sebulan sebelum lebaran adalah sebuah peluang bisnis. Bisnis yang margin keuntungannya dijamin kekal bin abadi dunia wal-akhirat. Bisnis yang dijamin tidak akan pernah rugi. Bisnis yang dijamin memberikan Return on Investment ribuan bahkan jutaan persen. Nyaris dengan modal bodong. Boro-boro bermodal sarung kumel plus kupluk bolong, tidak punya dengkul pun bisa meraup yield jutaan persen. Itu kalau tahu “trik”-nya…… Namun sayang-sayang seribu kali sayang. “Trik” itu hanya bisa diperoleh kalau seseorang mau mengaji (ini bahasa kampung saya). Bahasa moderennya adalah mau melakukan kajian, mau belajar, mau berpikir, mau menyadari kebodohannya.

Lebaran sebentar lagi.

Tapi saya hanya bisa melamun, berimajinasi mewanti-wanti kepada anak-anak saya (yang sialnya tidak pernah berhasil, sebab selalu ditanggapi sambil cengengesan). Boro-boro kepada anak-anak orang lain atau orang tuanya……., anak sendiri saja syusyahnya bukan main…..

Cobalah nak…….. Saat malam pertama Ramadhan tiba, tarik napas dalam-dalam, resapi aliran udaranya. Nikmati bahwa itu adalah udara Ramadhan, yang setiap molekulnya bernilai ibadah. Kalau kau tahu…..!

Hisap aromanya, agar aroma tubuhmu adalah aroma Ramadhan. Masukkan ke dalam darah dan biarkan dia mengalir ke seluruh tubuh, agar tubuhmu adalah tubuh Ramadhan. Gerakkan ke seluruh anggota badan, agar ayunan tangan dan langkahmu adalah irama gerak Ramadhan. Rambatkan ke indera pandangan matamu, gerak bibirmu, pendengaran telingamu dan sentuhan lembut kulitmu, agar getaran inderamu adalah getaran Ramadhan.

Cobalah nak…….., untuk melakukannya malam demi malam. Tidak usah dululah melakukan yang lain-lain, melainkan menyatulah dengan aura Ramadhan. Agar nanti di malam terakhir Ramadhan kalian tidak menyesal karena tahu-tahu esok lebaran tiba. Dan kalian baru menyadari bahwa bulan super deal barusan berlalu….. Air matamu akan menetes tak terbendung bagai lumpur panas. Namun (siapa tahu) itu terlambat, karena tidak ada yang bisa menggaransi tahun depan akan berjumpa kembali dengan Ramadhan

Lebaran sebentar lagi.

Hanya rasa ikhlas menyambut kedatangan Ramadhan yang akan membedakan apakah lebaran benar-benar sebentar lagi atau masih lama. Rasa ikhlas yang mengejawantah menjadi tetesan air mata saat bersujud keharibaan-Nya, di tengah malam….. sunyi….. sepi….. sendiri…..

Rasa ikhlas yang diawali dengan kesadaran untuk saling memaafkan.

PS.
“Mohon maaf lahir dan batin”

Yogyakarta, 22 September 2006 (29 Sya’ban 1427H)
Yusuf Iskandar

Jika Harus Mudik : Berhati-hatilah…!

27 September 2008

Mudik lagi…, mudik lagi…

Semakin tahun, perjalanan mudik sebagai agenda tahunan masyarakat Indonesia di seputar hari lebaran, sepertinya semakin meriah, padat, rumit, berbiaya tinggi, tidak aman dan bahkan belakangan cenderung tidak rasional.

Maka jika tetap harus menempuh perjalanan mudik : “Berhati-hati dan waspadalah…..!”.

Ini bukan lagi soal hari raya orang muslim atau non-muslim. Juga bukan soal ketaatan beribadah. Belakangan maknanya malah cenderung tidak melulu soal silaturrahim dengan sanak keluarga. Melainkan soal mnempuh perjalanan untuk pulang kampung. Maka hajatan tahunan masyarakat Indonesia itu pun berulang kembali.

Sekian tahun yang lalu, mudik identik dengan berebut naik angkutan umum, kereta api dan kapal laut. Lalu, seiring dengan tingkat kemakmuran masyarakat, bertambah menjadi berebut naik pesawat terbang dan kendaraan pribadi. Nah, beberapa tahun terakhir ini semakin mencengangkan dengan berbondong-bondong naik sepeda motor. Seperti tidak peduli berapa kilometer jarak harus dijalani dan berapa jam perjalanan harus ditempuh. Maka, faktor keselamatan (safety) di perjalanan nampak semakin memprihatinkan, nggegirisi dan nyaris terabaikan.

Infrastruktur perhubungan dan perjalanan nampaknya tidak bisa mengikuti pesatnya hajatan tahunan ini, sehingga para pengguna jalan dan sarana transportasi yang berniat mudik pun harus siap berhadapan dengan segala resiko atas keterbatasan infrastruktur itu. Ugh….., sungguh berat dan penuh resiko….  Tapi ya tetap harus mudik, begitu yang terpikir oleh para pemudik.

Selamat menempuh perjalanan mudik. Senantiasa berhati-hati dan waspada. Jangan lupa melakukan persiapan yang semestinya. Berdoa dan terus berdoa, agar selamat sampai tujuan dan kembali dari perjalanan melelahkan.

Semoga pesta Ramadhan 1429 H dapat disempurnakan, agar bisa meraih nilai kemenangan yang hakiki di hari Idul Fitri 1429 H.

Saling memaafkan bagi dan untuk segenap handai taulan dan sanak kerabat.

Taqabbalullahu minna wa-minkum, taqabbal Yaa Karim……

Yogyakarta, 27 September 2008 (27 Ramadhan 1429 H)
Yusuf Iskandar