Posts Tagged ‘cengkareng’

Berbuka Di Terminal 3

25 Agustus 2010

Alhamdulillah, tiba kembali ke Jogja setelah melewatkan waktu 6 jam di Jakarta. Saat berbuka di Terminal 3 Cengkareng, masuk ke Executive Lounge. Bayar Rp 50 ribu, lalu all you can eat, sak mblengere…(sekenyangnya).

Seperti orang kalap bin kemaruk (doyan makan seperti baru sembuh dari sakit), semua ingin dimakan.., buah, salad, mie ayam, tempe goreng, kopi susu, jus lemon, sup jagung dan… nyaris tak terbendung seperti air waduk Situ Gintung.

Yogyakarta, 18 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Mati Listrik Di Pesawat

16 Juni 2010

Burung ‘Singo’ Boeing 737-400 baru mendarat di Cengkareng, penumpang siap-siap turun. Tapi tiba-tiba ada Mati Listrik (ML) di pesawat. Mesin, lampu, AC, semua mati. Rupanya “bisnis” ML bukan monopoli PLN, penerbangan juga.

Ketika turun, kutanya mbak pramugari: “Kenapa tadi tiba-tiba mati, mbak?”.
Jawabnya sambil cengengesan tapi manis: “Baru coba-coba kok pak”.

Walah, blaiiik..! Lha, ML di pesawat kok coba-coba. Kalau mau coba-coba ML mbok cari yang “mirip” pesawat.

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Tiket Murah

16 Juni 2010

Di Terminal 1 Cengkareng, seseorang mendekati: “Tiket murah, pak”. Di musim tiket mahal seperti sekarang kok ada yang menawari tiket murah?

Kok bisa jual murah?”, tanyaku.
“Kita beli harga awal pak”, jawabnya.
“Berarti atas nama orang lain, dong?”.
“Tidak pak”, jawabnya.
“Pasti hanya orang-orang tertentu yang dapat”, kataku.
“Tidak juga”.

— Dialog tidak perlu saya lanjutkan, karena kesimpulannya jelas, bahwa “Masih ada calo yang akan lewat…” (bermain bersama orang dalam).

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Antara Malu Dan Tidak Tahu Malu

29 Mei 2010

Ketika berdoa agar “dimudahkan dan jangan Engkau sulitkan”, lalu kemudian hasilnya benar-benar “dimudahkan”, terkadang malu aku betapa seringnya aku memohon sementara hak Sang Termohon banyak yang belum mampu kupenuhi dengan baik.

Tapi sambil leyeh-leyeh wal-ngupy di Terminal 3 Cengkareng, kutemukan sebuah wangsit : “Yen tak pikir-pikir…, sesungguhnya ‘malu’ itu lebih baik ketimbang ‘tidak tahu malu’ minta terus tapi kewajiban tidak dipenuhi…”.

Jakarta, 25 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Masih Ada Kontrak Yang Akan Lewat

24 Mei 2010

Berangkat dari Jogja buru-terburu, malah nggak sempat dhuha. Tapi ketika menginjakkan kaki di Cengkareng, tiba-tiba ada sepenggal doa pendek turun dari langit Jakarta: “Ya Allah, please deh, mudahkanlah dan jangan Engkau sulitkan (Allohumma yasir wala tu’asyir)… urusanku hari ini”. Dan, kontrak proyek pun ditandatangani (ya ditandatangani aja…), sambil berharap masih ada kontrak yang akan lewat (semoga tidak lewat aja…)

Jakarta, 19 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Yang Rodo Edan

18 Desember 2009

Sopir (taksi) Bluebird yang membawa saya dari Pondok Indah ke Cengkareng siang ini kelihatannya memang rodo edan… Sering memaksakan nyusup-nyusup di tengah kepadatan Jakarta dengan kecepatan tinggi. Doa saya bukan mudah-mudahanan tidak tabrakan, melainkan kalau terpaksa nabrak juga, mudah-mudahan kami selamat…

(Sengaja saya tidak menegurnya karena adrenalin saya meningkat ingin tahu “hasil akhirnya”…. Dasar podo edane….)

Yogyakarta, 17 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Bocah Penyemir Sepatu Yang Bercita-cita Menjadi Pilot

11 Desember 2009

Sambil menunggu seorang teman yang akan menjemput saya di Terminal F bandara Cengkareng siang kemarin, saya memesan coffee mix di sebuah kantin kecil di dalam bandara. Sengaja saya mencari kantin yang tidak ramai dan tidak berisik agar asap rokok saya tidak menggangu banyak orang dan banyak orang tidak mengganggu kekhusyukan saya bermain-main blackberry (Lha, namanya memang blackberry, kalau saya sebut ponsel berarti saya mengatakan yang tidak sebenarnya).

Tiba-tiba datang seorang bocah penyemir sepatu menawarkan jasanya. Tawaran itu saya tolak. Namun entah kenapa kemudian saya berubah pikiran. Ada dorongan kuat dalam diri saya untuk melakukan improvisasi kecil, sekedar memberi orang lain rejeki yang halal meski saya tidak sedang membutuhkan jasanya. Jadi bukan agar sepatu saya bersih dan mengkilap yang menjadi tujuan saya. Mau setelah disemir tetap kusam pun saya tidak perduli.

Setelah menyelesaikan hasil semirannya, saya tanyakan kepada bocah penyemir itu : ”Sudah makan?”, yang kemudian dijawab bocah itu : ”Belum”. Lalu saya suruh dia duduk di sisi kanan meja di depan saya dan saya pesankan makan kepada mbak pelayan kantin. Rupanya kantin itu tidak menyediakan menu makan. Maka mie instan dalam mangkuk sterofoam pun jadilah sebagai pengganti.

Sambil anak itu melahap mie instan, saya ajak dia mengobrol. Kebiasaan mengeksplorasi sesuatu yang tidak biasa mulai saya lakukan. Ketika saya tanya namanya, dijawabnya : ”Muslim” (ditanya nama malah menjawab agama…., tapi namanya memang Muslim), Tiba-tiba saya ingat pengalaman setahun yll ketika saya mengajak sarapan pagi tiga orang bocah penyemir sepatu yang salah satunya bernama Muslim, di bandara ini juga. Saya tatap tajam-tajam wajah bocah itu hingga saya yakin ini memang Muslim yang dulu.

Ketika saya bilang bahwa setahun yll. kita pernah sarapan bersama, dia masih ingat. Bahkan ketika saya test nama kedua temannya, Muslim pun menjawab benar, yaitu Mamat (dulu saya mendengarnya Amat) dan Yudi. Saya tanya sekali lagi : ”Apa kamu masih ingat saya?”. Muslim pun menjawab : ”Ya”. Gaya bicaranya masih plengah-plengeh…. malu-malu sambil melenggak-lenggokkan kepalanya, khas seorang anak kecil ndeso.

Hanya bedanya, setahun yll. Muslim mengatakan umurnya 9 tahun dan sekolahnya kelas 3 SD, kini dia bilang umurnya 11 tahun dan kelas 5 SD. Ah, perbedaan setahun-dua yang tidak terlalu penting. Dulu Muslim mengatakan orang tuanya pengangguran, sekarang menjadi pemulung. Ini juga tidak terlalu penting, karena bisa saja setahun terakhir ini karir orang tuanya meningkat dari pengangguran menjadi pemulung. Yang penting bagi saya saat itu adalah dia memang benar Muslim yang saya jumpai setahun yll.

Komunikasi kami menjadi lebih cair, enak dan bersuasana lebih akrab, seolah dua sahabat lama yang setahun tidak berjumpa. Sampai-sampai mbak penjaga kantin pun penasaran dan kepingin tahu pembicaraan kami. Saya lirik mbak penjaga kantin berjalan mendekat ke tempat duduk kami sambil pura-pura membelakangi dan merapikan susunan minuman botol yang sebenarnya tidak banyak jumlahnya dan sudah sangat rapi (kalau sekedar mengidentifikasi gesture bahasa tubuh seorang perempuan sepertinya saya punya pengalaman…).

***

Untuk melakukan aksinya menjual jasa semir sepatu di bandara Cengkareng, hampir setiap hari sepulang sekolah Muslim naik angkot dari rumahnya menuju bandara dan akan pulang ke rumahnya lagi saat sore menjelang petang. Dulu dia naik sepeda karena sekolanya masuk siang, tapi kini menggunakan jasa angkot. Ongkos angkotnya sekali jalan Rp 3.000,- Jika rata-rata setiap hari Muslim berhasil mengumpulkan uang jasa menyemir sampai Rp 25.000,-, maka paling tidak Muslim setiap hari berhasil membawa pulang ke rumah uang sekitar Rp 19.000,-. Kalau lagi ramai, Muslim bisa mengumpulkan uang hingga Rp 50.000,- sehari. Begitu katanya.

Uang itu dikumpulkannya untuk biaya sekolah, karena menurut pengakuanya dia ingin melanjutkan sekolah ke SMP. Sebuah niat dan cita-cita jangka pendek yang sangat sederhana namun sungguh bersahaja. Ketika saya tanya apa kegiatannya kalau di rumah selain belajar? Jawabnya adalah mengaji.

”Mengajinya sudah sampai mana?”, tanya saya. ”Masih juz ’Amma”, jawabnya. ”Surat Idhazul…”, katanya lagi (yang maksudnya adalah Q.S. Zalzalah). Mendengar jawabannya itu saya menyimpulkan bahwa bocah ini pasti bersungguh-sungguh dengan mengajinya, bukan sekedar ikut-ikutan teman di kampungnya.

Pertanyaan saya masih berlanjut : ”Kamu sholat enggak?”. Jawabnya : ”Kadang-kadang”. Ketika saya desak kenapa? Jawabnya : ”Saya enggak hafal bacaannya”. Mendengar jawaban itu, naluri ’tukang kompor’ saya terusik. Lalu saya bilang : ”Lho, sholat itu tidak perlu hafalan-hafalan. Kalau kamu sholat, ikuti saja jungkar-jungkir seperti orang lain di masjid itu, terserah kamu mau baca apa bahkan enggak usah baca apa-apa, kecuali niatmu beribadah kepada Tuhan”. Muslim melongo…. Lalu saya lanjutkan : ”Setelah sholat kamu sempatkan berdoa apa saja yang kamu inginkan”.

Tentu saja nasehat saya itu saya sampaikan kepada Muslim yang memang tingkat logika berpikir dan pemahaman spiritualnya baru pada level seperti itu. Terhadap orang lain yang logika berpikirnya tentang nilai-nilai agama lebih tinggi, tentu pendekatannya berbeda. Dan perbedaan ini tidak berbanding lurus dengan usia melainkan pengalaman spiritual masing-masing.

Akhirnya saya tanya : ”Kamu punya cita-cita?”. Jawabnya : ”Punya”. ”Apa cita-citamu?”, tanya saya kemudian. ”Saya pingin jadi pilot”. Wow….dalam hati saya bertasbih kepada Allah. Sebab dalam keyakinan saya, berani bermimpi itu adalah setengah dari pencapaiannya menuju cita-citanya.

Bagi seorang ’tukang kompor’ seperti saya ini, atau bolehlah disebut provokator (asal jangan motivator, takut diundang seminar…..), pada dasarnya tidak ada cita-cita yang tidak bisa dicapai. Kalau kemudian banyak orang yang gagal mencapai cita-citanya, itu karena sejak cita-cita itu ditancapkan di ubun-ubunnya ternyata perilakunya sehari-hari sama sekali tidak mencerminkan sebagai seseorang seperti yang dicita-citakannya. Alias, sak karepe dhewe….. semaunya sendiri, tercapai ya syukur, enggak yo wis….. Tidak disertai dengan ikhtiar keras untuk mencapainya.

Akhirnya saya katakan kepada Muslim : ”Muslim, insya Allah saya akan berdoa agar kamu bisa menjadi pilot. Syaratnya hanya ada dua dan gampang, yaitu rajin belajar dan berdoa setiap habis sholat. Nanti Tuhan akan menunjukkan jalannya”. Seperti biasa, Muslim hanya nyengenges dengan mimik anak-anak banget. Provokasi saya masih berlanjut : ”Saya kepingin suatu saat nanti saya naik pesawat dari Cengkareng dan kamu yang jadi pilotnya. Kamu mau enggak?”. Sekali lagi Muslim hanya bereaksi cengengesan. ”Kamu mau enggak?”, ulang saya. Akhirnya dia menjawab malu-malu : ”Mau”.

Mengakhiri perjumpaan saya dengan Muslim, saya pegang pundak kirinya lalu saya katakan : ”Salam ke orang tuamu. Dan jangan lupa belajar dan berdoa dengan sungguh-sungguh setiap habis sholat mulai hari ini!” (maksud saya sebenarnya, untuk bisa berdoa kan berarti dia harus sholat dulu…..), sambil saya selipkan sejumlah uang lebih.

***

Ketika malam harinya saya tiba kembali ke rumah di Jogja, saya buka-buka laptop saya dan saya baca kembali catatan saya setahun yang lalu ketika pernah sarapan bersama Muslim dan teman-temannya di Cengkareng. Lho……, pandangan saya terpana seperti tidak percaya. Peristiwa setahun yang lalu itu rupanya terjadi pada tanggal 10 Desember 2008, dan pertemuan kembali dengan Muslim kemarin terjadi tanggal 10 Desember 2009. Jadi, kemarin adalah ulang tahun pertama sejak pertemua saya dengan Muslim bocah penyemir sepatu anak seorang pemulung yang sekarang bercita-cita besar menjadi seorang pilot.

Kejadiannya memang kebetulan belaka, tapi hakekat kejadian itu saya yakini pasti bukan kebetulan, pasti ada yang mengaturnya. Apa rahasia dibalik kejadian ’kebetulan’ yang saya alami itu?. Sayang sekali, meski sudah saya tinggal tidur semalam hingga ada yang membangunkan saya di pagi subuh, saya belum menemukan jawabnya kecuali bahwa tanggal 10 Desember adalah Hari Hak Asasi Manusia Sedunia.

Yogyakarta, 11 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Catatan :
Lihat catatan lama saya : ”Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat

Bocah Penyemir Bandara Cengkareng

11 Desember 2009

Siang tadi ketemu lagi dengan bocah penyemir sepatu (Muslim, 11th, kls 5, ortunya pemulung) yang setahun yll pernah saya ajak sarapan di KFC bandara Cengkareng. Cita-citanya ingin menjadi pilot. Setelah cerita-cerita sambil makan siang, lalu saya pegang bahunya sambil saya yakinkn dia: “Saya doakan insya Allah cita-citamu akan terwujud” (dasar tukang kompor…!), tapi saya serius…

(Pengalaman sarapan pagi bersama Muslim pernah saya lakukan tepat setahun yll. Lihat catatan : “Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat”)

Jakarta, 10 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Itu Bernama Ibrahim

15 November 2009

Kalau memperhatikan cara bicaranya, susunan kalimat dan pilihan kata yang digunakannya, saya yakin sopir taksi yang sore itu mengantar saya ke Cengkareng, pasti bukan sopir biasa. Mengesankan sebagai seorang yang terpelajar. Hal seperti ini seringkali merangsang rasa keingintahuan saya.

Mulailah saya membuka pembicaraan sebagai penjajakan bahwa dugaan saya benar. Percakapan tentang lalulintas Jakarta yang padat dan tersendat, tentang rute yang dipilih menuju bandara dan tentang taksi berwarna biru muda yang dikemudikannya. Semuanya dijawab dan dijelaskan dengan susunan kalimat dan tutur kata yang enak dan runtut.

Rupanya pak sopir taksi itu pernah kuliah di universitas negeri ternama di Jakarta, karena tidak lulus lalu pindah ke sebuah universitas swasta dan akhirnya berhasil meraih gelar sarjana ekonomi. Karir pekerjaannya dijalani dengan mulus dan lancar. Pernah bekerja di beberapa perusahaan, sampai yang terakhir berwiraswasta menjalankan usahanya di bidang kontraktor sipil dan konstruksi. Pendeknya, dari sisi materi untuk ukuran hidup bersama keluarganya di Jakarta nyaris tidak kurang suatu apapun, bahkan lebih dari cukup.

Hingga akhirnya musibah menimpa usahanya, seorang rekanannya membawa kabur uang proyek. Jadilah dia menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggungjawab. Semua asetnya terpaksa dijual dan hidup harus dimulai dari awal lagi. Cerita yang sebenarnya klasik, tapi tetap saja membangkitkan empati.

Sejak itu hidupnya tidak menentu. Jiwanya stress berat harus menanggung beban hidup yang tak pernah terbayangkan selama lebih 20 tahun karir pekerjaannya. Sejak musibah di-kemplang rekan sendiri menimpanya, kegiatan sehari-harinya tidak karuan. Seringkali ia terbengong-bengong di masjid Istiqlal saat orang-orang lain sibuk bekerja di siang hari. Keluarganya yang tinggal di Bekasi tentu saja menjadi kalang kabut dibuatnya.

Lelakon seperti ini sempat dijalaninya selama tiga bulan, hingga akhirnya ada seorang sahabatnya menyarankan untuk bekerja menjadi sopir taksi di salah satu kelompok perusahaan taksi paling terkenal berlambang burung biru.

Hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah bahwa kini pak sopir itu sangat menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi, lebih dari yang pernah dia jalani selama karir pekerjaannya. Demikian pengakuannya di balik wajah cerianya. Cara bercerita, ekspresi yang ditunjukkan, alasan-alasan yang dikemukakan dan semua latar belakang yang diceritakannya, meyakinkan saya bahwa pengakuannya jujur.

***

Lama-lama mengasyikkan juga ngobrol dengan sopir taksi itu. Hingga tak terasa waktu satu jam terlewati hingga saya tiba di Terminal B Cengkareng. Pak sopir taksi yang rupanya doyan ngobrol ini akhirnya justru yang memberi saya banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Setidak-tidaknya dari pengalamannya bagaimana ia terpuruk dari usahanya yang pernah membawanya membumbung ke angkasa dan bagaimana ia kini harus bangkit dari awal lagi.

Apa yang menarik dari pilihannya bekerja menjadi sopir taksi? Ada beberapa hal yang sempat saya ingat yang barangkali tak pernah terpikir di benak orang “normal” yang selama ini ketawa-ketiwi menaiki taksinya.

Pertama, menjadi sopir taksi burung biru ternyata membuatnya mempunyai kebebasan finansial (maksudnya bukan bebas secara finansial, melainkan bebas menentukan perfinansialannya). Meski dengan sistem kerja 2-1 (dua hari “on”, sehari “off”), tapi dia bebas menentukan mau bekerja berapa jam sehari dan berapa penghasilan perhari yang dianggapnya cukup. Semakin dia rajin dan tekun, semakin tinggi komisi dan bonus yang boleh diharapkannya. Ketekunannya dalam lima bulan ini telah membuatnya dipercaya oleh perusahaannya. Begitu pengakuannya.

Kedua, di group taksi burung biru ini dia menemukan banyak teman-teman senasib (maksudnya banyak sesama sopir yang juga bergelar sarjana dan banyak sesama sopir yang sebelumnya adalah pengusaha yang kemudian bangkrut karena menjadi korban tipu-tipu dan bukan sebab lain –  kalau tidak salah dulu juga ada mantan Direktur Bank Duta yang akhirnya memilih profesi ini). Sehingga pak sopir taksi ini merasa berada di “frekuensi” yang sama dengan banyak rekannya sesama sopir taksi.

Ketiga, pak sopir taksi yang grapyak-semanak (cepat akrab bagai saudara) dan pandai bicara ini akhirnya banyak berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi penumpangnya, dari beragam pekerjaan, latar belakang, dan permasalahannya masing-masing. Ini yang kemudian membuatnya merasa tidak sendiri dan lebih bisa menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi. Belum lagi seringkali ada juga penumpang yang memberi wejangan-wejangan keagamaan tentang kehidupan. Hal yang selama ini tidak pernah didengarnya.

Keempat, dan ini yang paling membuatnya merasa bersyukur, ikhlas dan lebih arif menyikapi lelakon hidupnya, yaitu bahwa rejeki itu memang sudah ada yang mendistribusikannya dari langit bagi setiap mahluk, dan ada hak orang lain yang menempel dalam rejeki itu. Selama ini dia merasa banyak berbuat salah dalam cara memperoleh kupon antrian pembagian rejeki dan cara mengelola rejeki yang diperolehnya.

Pak sopir taksi yang lancar mengutip ayat-ayat Qur’an ini merasa sangat beruntung. Ya, beruntung karena dia merasa memperoleh hidayah (petunjuk) untuk menyadari kesalahannya selama ini, dibandingkan dengan banyak orang lain yang kekeuh tidak mau menyadari kekeliruannya dalam menjalani sisa kehidupan.

Dari tanda pengenal di taksinya, akhirnya saya tahu bahwa pak sopir taksi yang arif itu bernama Ibrahim. Pak Ibrahim ini rupanya berasal dari Solo (Solowesi maksudnya…., tepatnya Makassar) dan sudah menikmai manis, asam, asin, pahit dan getirnya Jakarta sejak 27 tahun yang lalu saat lulus dari SMA di Makassar.

“Terima kasih pak Ibrahim, Sampeyan telah bersedia berbagi sehingga saya juga bisa ikut belajar dari pengalaman hidup yang Sampeyan jalani…”.

Yogyakarta, 10 April 2008
Yusuf Iskandar

Ke Jakarta

28 September 2009

Alarmku

Alarmku yang bunyinya seperti ayam jago kluruk, baru jam 1 dini hari sudah mbeker-mbeker… Istriku kaget terbangun. Rupanya saya lupa, setelan jamnya masih WIT..

(Malamnya baru tiba dari Papua, dan lupa mengubah penunjuk waktu pada HP yang biasa saya gunakan sebagai pengganti jam)

Yogyakarta, 15 September 2009

——-

‘Another Mission’

‘Another mission’ hr ini goagal…. Sebagai pelipur lara, berbuka nasi opor + sop ayam pangsit boanyak-boanyak di Terminal F Cengkareng…

(Hari ini ada misi khusus menagih tunggakan pembayaran dari klien di Jakarta. Eh, masih juga dijanjikan… Sabar, sabar…)

Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta – 15 September 2009

——

Kembali Nyopir

‘Back to basic’, kembali jadi Sopir-intendant, ngurus warung, wal-angkat wal-junjung, lanjut bisnis dengan Ramadhan, ngurus zakat di kampung. Indahnya…

(Siap-siap membantu ‘Boss’ mempersiapkan warung menyongsong panen raya lebaran…)

Yogyakarta, 16 September 2009
Yusuf Iskandar

Catatan Tertinggal (Agustus 2009)

25 September 2009

Antar-teman Tunai Mandiri

Gara-gara kartu ATM dicaplok mesin di Mampang Jakarta, sementara belum sempat ngurus yang baru di Jogja, kini kalau mau ambil (uang) tunai mesti transfer dulu ke teman via internet banking lalu minta tolong untuk diambilkan ke ATM (Antar-teman Tunai Mandiri).

(Setelah lapor ke Call Center, lalu kartu diblokir demi keamanan dan diminta bikin baru saja. Setelah diurus di kantor cabang bank Mandiri di Jogja, rupanya hanya perlu waktu beberapa jam saja untuk minta penggantian kartu).

Yogyakarta, 31 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

——-

Nasib Tiket Promo

Mulanya senang dapat karcis Garuda murah JOG-CGK pp. Begitu jadwal kembali ke Newyork-arto diundur, ternyata tidak bisa, Garuda mbegegek karcisnya hangus… Terpaksa oknum yang mengubah jadwal, mau tanggungjawab membelikan karcis baru + ubo rampenya…

(Tiket murah adalah kategori tiket promo yang tidak dapat ‘diubah-ubah’. Yang saya maksud ‘oknum’ adalah pihak yang telah mengundang saya ke Jakarta dan kemudian juga meminta untuk menunda kepulangan ke Jogja…. He..he..)

Jakarta, 27 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

——-

Ada Gempa (Lagi) Di Jogja

Baru saja ada gempa di Jogja…. Beberapa detik, tidak besar, tapi bikin mak jenggirat + deg-degan, teringat gempa Jogja 3 tahun yll…

(Bagaimanapun juga wilayah Jogja dan umumnya kawasan selatan Jawa adalah wilayah rawan gempa)

Yogyakarta, 22 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

——-

Di Terminal A Cengkareng

Check-in di Terminal A Cengkareng, lambat bin menjengkelkan. Penumpang padat tapi SDM petugas keteteran (kata lain untuk tidak profesional)…

(Heran juga, sudah jelas penumpang menumpuk dan antrian panjang, kok tidak ada inisiatif agar bisa dilayani lebih cepat…. Ini malah sedikit-sedikit counter-nya ditinggal pergi, ambil ini-itu, tanya ini-itu, atau entah ngapain. Penumpang gelisah sambil huuuu… pun dicuekin aja…..Ugh..!)

Ada bule heran, ‘smoking area’ menjadi satu dengan ruang tunggu, sehingga asap tetap saja kemana-mana seperti gendongannya Mbah Surip. Dia pun turut ngudut & berfoto…

(Kata saya : Lha saya saja heran, apalagi Sampeyan….)

Jakarta, 15 Agustus 2009
Yusuf Iskandar

Hari Keempat : Kembali Ke Jogja

25 Juli 2009

Transit di bandara Cengkareng…., menuju Jogja setelah meninggalkan Padang tadi pagi… Sayangnyo waktu ambo indak lamo di Padang, cuma malinteh sabanta sajo…

Bandara Cengkareng, 25 Juli 2009
Yusuf Iskandar

***

Alhamdulillah sudah sampai rumah di Jogja dengan aman, tertib dan bermartabak (beli martabak, maksudnya….). Oleh-oleh ikan bilih dari danau Singkarak siap digoreng kering…. Hmmm…

Seringkali ketika akan bepergian jauh, teman & saudara berpesan “Hati-hati….”. Lho, yang mestinya disuruh hati-hati itu kan sopir kendaraan (mobil, pesawat) yang saya tumpangi, bukan sayanya….. Lha, kalau saya sih tinggal numpang lalu tidur…. Atau, jangan-jangan mereka mengira saya sopir?

Malam ini malam Minggu kembali, di rumah, setelah dua minggu meninggalkan keluarga…. Perjalanan Panjang : Yogya – Timika – Padang – Yogya usai sudah dengan beragam kejadian. Ugh…. biasa saja, gak capek kok…. (mo bilang capek takut dikatain istri : “tuh, kan……”).

Yogyakarta, 25 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Di Terminal 1 Cengkareng

3 Juli 2009

Di Terminal 1-B bandara Cengkareng, Jakarta. Menatap layar monitor info keberangkatan Batavia Air sore tadi, hampir semua penerbangan berkode STD jam sekian, yang berarti… d-i-t-u-n-d-a berjamaah… Jadi kemalaman sampai rumah.

***

Kalau check-in di Terminal 1 A-B-C bandara Cengkareng, jangan percaya begitu saja pada No. Gate yang tertulis pada karcis boarding maupun layar monitor, sebab seringkali masih teka-teki….

(Beberapa kali saya kecele mengandalkan info No. Gate pada karcis boarding. Kenyataannya seringkali berubah tanpa pemberitahuan via halo-halo umum, sehingga ketika saya ngepas tiba waktu boarding baru masuk ruang tunggu ternyata ruangannya sepi karena penumpang lain sudah pindah ruangan).

Jakarta, 3 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Buah Apa Gerangan Namanya?

1 Juli 2009

Menggantung satu-satu (tidak bergerombol) di pohon-pohon kecil yang sedang berbuah di tepi jalan keluar dari bandara Cengkareng (Soekarno-Hatta, Jakarta), seperti mangga, berwarna hijau, seukuran jambu kluthuk atau bola tenis kecil sedikit. Kata sopir taksi, buah itu tidak enak dimakan…. Pantesan, aman tak terusik di sana…

Jakarta, 1 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Tengkleng Bakar Iga Sapi Omah Solo

16 Juni 2009

Jam 11:00 WIB mendarat di Terminal 2 bandara Cengkareng. Secara tak terduga, di pangkalan taksi ketemu sahabat saya mas Yusef Hilmi, seorang trainer motivasi yang sering blusukan ke berbagai kawasan Indonesia untuk berbagi ilmu dan menebar motivasi…..

***

IMG_2694_rSetelah sejak siang meetang-meeting, malamnya dalam perjalanan menuju penginapan di Pejaten Barat, diajak teman mampir ke Resto 30 Omah Solo, Warung Buncit. Menu makan unggulannya tengkleng bakar iga sapi dan minumnya es dawet pasar gede. Solo bangeth….!

Insya Allah besok pagi terbang ke Jambi…

Jakarta, 16 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat

12 Desember 2008

Tiba di bandara Cengkareng masih agak pagi. Paling enak ya ngopi dulu. Tidak banyak pilihan tempat ngopi di seputar terminal kedatangan. Seperti sering saya lakukan, akhirnya mampir ke warung ayam goreng Kentucky (KFC). Bukan untuk beli ayamnya, tapi sekedar minum kopinya. Entah apa kopi bubuknya, tapi jelas bukan paling enak, melainkan sekedar pokoknya ngopi…. dan ngudut…..

Baru beberapa saat duduk ngobrol sambil nyruput kopi, datang beberapa anak anggota laskar penyemir sepatu menawarkan diri untuk menyemir sepatu saya dan teman-teman saya. Dengan halus saya tolak karena memang saya tidak terbiasa menyemirkan sepatu di tempat umum, meski sebenarnya di rumah juga jarang saya menyemirnya. Paling-paling saya seka dengan lap saja.

Anak-anak itu ngotot menawarkan jasanya. Malah mengolok-olok kalau sepatu hitam saya kotor. Weleh…, lha sepatu saya belum dua bulan umurnya masak dibilang kotor. Itu juga bukan sepatu bermerek hasil membeli di toko, melainkan ndandakke…., pesan khusus di tukang sepatu pinggir jalan di Jogja. 

Terpancing juga saya untuk melongokkan kepala ke bawah memeriksa sepatu saya. Jelas masih tampak bersih meski tidak mengkilap. Tapi anak itu setengah merengek terus meminta untuk menyemirnya. Akhirnya luluh juga pertahanan saya. Sesaat kemudian sepatu saya sudah bertukar dengan sandal jepit. Anak itu lalu ndeprok (duduk di lantai) di pojok kedai KFC menyemir sepatu saya. Sepatu teman saya juga ikut disemir oleh anak lainnya. Saya perhatikan kedua anak itu begitu asyik menyemir sepatu sambil saling ngobrol di antara mereka. Rupanya ada seorang temannya yang ikut nimbrung.  

***

Tidak perlu waktu lama bagi anak-anak itu untuk nyemir sepatu. Segera mereka menyerahkan sepatu yang sudah selesai disemirnya. Entah kenapa saya tidak lagi tertarik melihat hasil semirannya, melainkan saya pegang pundak salah seorang yang paling kecil diantara mereka yang berdiri tepat di sebelah kiri saya, dan saya tanya : “Sudah sarapan?”. Mereka hanya kleceman (tersenyum malu) saja. Saya ulangi pertanyaan saya, dan seorang yang lebih besar menjawab malu-malu : “Belum”.

Lalu saya suruh mereka bertiga mengikuti salah seorang teman yang saya minta menemani mereka ke kasir untuk pesan sarapan pagi. Sambil menyimpan semir di sakunya, mereka pun segera beriringan menuju kasir KFC untuk pesan makanan. Tidak lama kemudian mereka kembali dengan membawa nampan berwarna coklat berisi nasi, ayam goreng dan softdrink. Saya suruh mereka duduk di sebuah meja kosong tidak jauh dari tempat saya duduk. Kali ini tidak lagi saya melihat wajah malu-malu mereka, melainkan dengan lahap mereka menghabiskan sarapannya.

Saya penasaran, apakah mereka ini tidak sekolah kok pagi-pagi sudah kluyuran di bandara. Segera saya berpindah duduk dan bergabung dengan ketiga anak itu menempati sebuah kursi yang kosong diantara empat kursi yang tersedia.

Diantara mereka bertiga, ternyata Muslim (9 tahun) masih duduk di kelas 3 SD dan Amat (12 tahun) saat ini kelas 6 di sebuah sekolah di dekat rumahnya di Tangerang. Sedangkan Yudi sudah berhenti sekolah sejak lulus SD tahun lalu.

Muslim yang terlihat paling kecil dan sumeh, setiap hari sekitar jam 5 mulai mengayuh sepedanya menuju bandara berbekal semir dan kain lap. Perlu waktu sekitar sejam untuk menuju bandara dari rumahnya. Sedangkan Amat terkadang harus naik ojek mbayar Rp 10.000,- sekali jalan. Karena masih sekolah dan masuknya siang, maka sekitar jam 11 biasanya mereka sudah pulang untuk segera berangkat ke sekolah. Kalau lagi bernasib baik, mereka bisa mengumpulkan uang lebih dari Rp 50.000,- untuk setengah hari bekerja sebagai penyemir sepatu di bandara.

Mereka bertiga hanyalah sebagian dari puluhan anak-anak laskar penyemir sepatu di bandara yang keberadaannya sering menjadi dilema bagi orang lain. Tapi pasti tidak bagi mereka. Jangankan mereka perduli dengan dilema tentang manajemen bandara, memahami keberadaannya saja tidak. Bagi mereka, asal bisa mengais sedikit rejeki yang betebaran di bandara hari itu untuk dibawa pulang, kiranya sudah cukup.

Ketika saya tanya : “Uangnya buat apa?”. Mereka menjawab untuk ditabung. Saya tersenyum menyambut jawabannya. Itulah jawaban yang memang saya harapkan.

Ketika saya tanya lagi : “Setelah terkumpul lalu untuk apa?”.

Si kecil Muslim menjawab untuk beli baju. Waduh, jawabannya agak membuat saya kecewa. Tapi segera saya coba berpikir positif. Jangan-jangan, baju pun masih menjadi kebutuhan dasar sandang yang belum terpenuhi bagi keluarganya Muslim yang orang tuanya pengangguran. Ya, beli baju bisa jadi konsumif, tapi itu bagi mereka yang kebutuhan dasar sandangnya sudah terpenuhi.  

Lain lagi jawaban si Amat : “Untuk beli play station“, katanya.

Wah…., saya agak mengernyitkan dahi. Kok jadi lebih konsumtif, pikir saya. Saya penasaran, dalam hati saya merasa kecewa dengan jawaban itu. Lalu saya desak lagi : “Kenapa beli play station?”.

Kini jawabannya justru membuat saya agak terperangah : “Untuk di-rental-kan, dan kakak saya yang ngurusnya..”.

Saya jadi terdiam sesaat. Dalam hati saya berkata, mletik (cemerlang) juga pikiran anak ini. Itu berati sudah tumbuh semangat wirausaha dalam diri si Amat yang mengaku orang tuanya bekerja mengumpulkan plastik akua (kata lain untuk pemulung). Semangat yang memang kelak akan sangat diperlukan oleh anak-anak yang tumbuh di lingkungan marginal seperti mereka.

Saya tidak sedang mempersoalkan aspek positif atau negatif dari bisnis persewaan play station, melainkan saya ingin memberi apresiasi pada jiwa kewirausahaan yang tumbuh dalam diri anak ini. Jiwa kewirausahaan yang dapat tumbuh dimana saja dan kapan saja, tanpa perlu hitung-hitungan yang rumit. Sedang mereka yang sudah berpendidikan tinggi pun tidak mudah untuk membangkitkan semangat entrepreneurship pada diri mereka.

Sebelum mereka beranjak pamit untuk melanjutkan pekerjaannya pagi itu, sempat saya tanyakan : “Sampai kapan kalian mau nyemir?”. Dan, mereka bertiga pun hanya nyengir.…. Saya tahu ini pertanyaan bodoh dan penuh basa-basi. Tapi saya tanyakan juga, karena sesungguhnya seringkali saya memperoleh jawaban tak terduga yang inspiratif dari anak-anak yang semangatnya juga tak terduga ini.

Anak-anak itu pun segera berlalu setelah menerima sekedar uang semir (tapi halal) dan mengucapkan terima kasih, untuk melanjutkan menjual jasa penyemirannya kepada pemilik sepatu lainnya. Pekerjaan yang tanpa lelah terus dijalaninya sejak 2-3 tahun yang lalu.

***

Pagi itu, saya hanya ingin sekedar berbagi kebahagiaan kecil dengan anak-anak penyemir sepatu bandara Cengkareng. Setidak-tidaknya bagi Yudi, Muslim dan Amat. Meski saya juga tahu, belum tentu mereka bisa menikmati secuil kebahagiaan yang saya niatkan untuk berbagi. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Tapi ada banyak pelajaran telah saya temukan.

Yogyakarta, 11 Desember 2008
Yusuf Iskandar

Yang Terpaksa Dan Yang Ingin

4 Mei 2008

Jam sudah menunjukkan lebih jam sepuluh malam di Yogya, ketika HP milik seorang teman tiba-tiba berdering memanggil-manggil. Di seberang sana terdengar suara seseorang meminta agar besok bertemu di Jakarta. Karena sisa waktu yang sangat sempit dan mendadak, maka satu-satunya cara untuk mencapai Jakarta dengan cepat adalah pagi-pagi besoknya pergi ke bandara lalu terbang.

Hanya masalahnya, teman yang mau ke Jakarta ini adalah seseorang yang agak-agak mengidap aviophobia (takut terbang). Tentu saja ini adalah situasi yang sangat tidak disukainya, karena berarti dia tidak punya alternatif untuk nyepur.

Semalaman sengaja dia tidak segera berangkat tidur, melainkan justru berusaha mengurangi jam tidurnya. Bagaimana agar sisa waktu tidur malamnya tinggal sesedikit mungkin, sebelum besok paginya naik pesawat ke Jakarta. Hal ini memang disengaja dan bukan karena didera rasa gelisah.

Hasilnya ternyata cukup mujarab untuk menyiasati atau menaklukkan rasa takut terbang. Begitu pantat menempel tempat duduk di dalam pesawat ketika masih di bandara Adisutjipto, tidak lama kemudian teman saya tertidur pulas. Hal yang sama terulang kembali sebelum pesawat mendarat di Cengkareng.

Maka, ketika teman saya ini terpaksa harus naik pesawat terbang juga, dia pun rela kehilangan detik-detik take-off dan landing……

***

Barangkali kita masih ingat ketika dulu pernah punya keinginan : bagaimana ya rasanya naik pesawat terbang?. Akhirnya kesampaian juga. Itupun karena naik pesawat kemudian menjadi bagian dari tuntutan pekerjaan. Terutama bagi mereka yang menjadi orang lapangan (maksudnya, bukan pekerja kantoran), sehingga harus mibar-miber kesana-kemari naik pesawat terbang.

Namun lain halnya kalau yang kepingin merasakan naik pesawat terbang itu adalah para kepala sekolah di sebuah kecamatan di lereng gunung Merbabu, tetangganya gunung Merapi yang mau njeblug itu. Boro-boro tuntutan pekerjaan, menuntut pun belum tentu kesampaian.

Maka beramai-ramailah para kepala sekolah beserta keluargnya urunan untuk melakukan darmawisata ke Jakarta dan Bandung tiga hari dua malam. Jangan dilupakan bahwa selain menjadi kepala sekolah, mereka umumnya adalah juga petani di desanya. Itinerary pun disusun, pokoknya berangkat naik pesawat terbang, pulangnya naik kereta api. Entah selama di Jakarta mau berdarma dan berwisata kemana tidak penting, asal ada acara naik pesawat dan naik kereta api. Pasalnya, dari 47 orang anggota rombongan itu hanya tiga orang.diantaranya yang pernah merasakan naik pesawat terbang dan hanya sepuluh orang diantaranya yang pernah merasakan naik kereta api.

Maka pada Jum’at pagi umun-umun kemarin berkumpullah serombongan kepala sekolah dan keluarganya turun gunung lalu berduyun-duyun menuju bandara Adisutjipto. Belum jam enam pagi mereka sudah bergerombol di depan terminal keberangkatan. Tidak ketinggalan masing-masing sudah membawa sekotak kardus berisi kue resoles, arem-arem dan klethikan untuk bekal sarapan pagi.

Lalu tiba saatnya sang pimpinan rombongan memberi komando kepada 47 orang berseragam kaos putih untuk memasuki terminal keberangkatan. Tidak lama lagi mereka bakal menikmati bagaimana rasanya naik pesawat terbang….. ngueng…ngueng…ngueeeeeng….., lalu lusa naik kereta api….. tut…tut…tuuuut……

Sayang, saya tidak berada dalam satu pesawat dengan rombongan itu. Terbayang betapa sang pimpinan rombongan harus pandai mengontrol urat sabarnya melayani anggota rombongannya. Pasti seru bin heboh di dalam kabin sana, atau sebaliknya malah sama sekali sunyi-senyap, tegang….. “Have a nice flight pak dan bu guru…..!”.

Cengkareng, 13 Mei 2006.
Yusuf Iskandar

Hari Tanpa Tembakau Di Lorong Asap

22 Maret 2008

Sehabis subuh, bersiap hendak terbang ke Bengkulu. Secangkir Coffee-Mix sudah siap di meja. Sambil menunggu taksi, sambil menyeruput kopi campur. Dan, tidak ketinggalan sebatang rokok putih, yang ternyata tinggal sebatang dalam bungkusnya yang berwarna merah-putih. 

Setelah membaca koran pagi, barulah saya ingat bahwa hari itu adalah tanggal 31 Mei sebagai Hari Tanpa Tembakau (World No Tobacco Day). Dunia memperingati hari itu dengan mengajak atau menganjurkan masyarakat perokok untuk tidak merokok. Sehari saja!. Sebagai tetenger (tanda) agar masyarakat dan khususnya perokok menyadari dampak negatif dan potensi bahaya dari aktifitas merokok. Kalau tembakaunya sebenarnya baik-baik saja, tapi merokoknya itu……

Lalu, niat ingsun (meski terlambat) untuk berpartisipasi memenuhi anjuran tidak merokok sehari saja. Apa untungnya atau apa manfaatnya? Tidak tahu! Pokoknya ikut merayakan. Terbersit sebuah semangat untuk membuktikan bahwa saya bisa. Tiga tahun yang lalu saya berhasil. Dua tahun yang lalu saya lupa. Setahun yang lalu saya sengaja tidak ambil bagian. Maka, tahun ini kembali ingin membuktikan bahwa saya (masih) bisa. 

Detik-detik yang sangat menantang biasanya terjadi ketika minum kopi di bandara, atau duduk tepekur menunggu pesawat, atau kemlakaren sehabis makan, atau ngobrol menjelang tidur. Sementara oknum perokok di sekitar klepas-klepus…

***

Ketika memasuki ruang tunggu terminal A bandara Cengkareng, menuju ke salah satu lorong dari tujuh galeri yang ada. Sebuah papan nama berdiri menghalangi jalan di tengah lorong, sehingga siapapun pasti membaca tulisan berwarna merah di papan putih itu. Bunyi tulisannya suangat jelas : “Dilarang Merokok” lengkap dengan terjemahannya “No Smoking”.

Namun apa daya….., tulisan itu diterjemahkan oleh oknum perokok sebagai dilarang merokok di atas papan nama itu. Artinya kalau merokok di seputarnya, boleh. Dan memang itu yang terjadi.

Alkisah, dari ujung lorong bak cuaca buruk sedang melanda ruang tunggu bandara. Itu karena asap rokok menyelaputi lorong menuju ruang tunggu. Rupanya para ahli hisap berkerumun di sepanjang salah satu sisi lorong di seputaran papan nama, sambil menduduki corongan pengatur udara (yang padahal bentuk corongan itu sebenarnya sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tidak enak untuk diduduki). Maka tak pelak lagi, asap pun menggumul di lorong.

Boro-boro tahu atau ingat hari itu adalah World No Tobacco Day. Wong tidak ada sosialisasi. Tidak ada publikasi. Tidak ada kampanye seperti pilkada, sedang pilkada saja suka mencuri start berkampanye. Tanggal 31 Mei pun berlalu tanpa kesan, tanpa greget.

Beberapa mbak dan ibu, berjalan cepat menerobos cuaca buruk di lorong sambil mengipas-ngipas hidungnya dengan telapak tangannya, padahal hidungnya sedang tidak kepanasan. Tidak ada yang menegur (atau mengingatkan) dan tidak ada yang perduli. Papan nama adalah satu kejadian dan merokok di sekitarnya adalah kejadian lain yang seolah-olah tidak ada hubungannya. Kedua kejadian berlangsung di lorong asap menuju ruang tunggu bandara terminal A.

Pengalaman berbeda terjadi dua minggu sebelumnya di lorong menuju ruang tunggu bandara Juanda yang masih terlihat baru. Ketika ada satu, dua atau tiga orang yang mencoba merokok sambil duduk di deretan kursi. Ada petugas yang dengan sopan mempersilakan kalau mau merokok sebaiknya di tempat yang telah disediakan. Toh, oknum perokok itu mau menurut juga. Kalaupun dari 10 oknum yang ditegur ada satu yang mbandel, kiranya itu masih sebuah prestasi. Secara akal waras, orang yang ditegur mestinya malu. Dengan perkataan lain, hanya orang yang tidak waras saja yang bisa ngeyel. Untung bukan saya…..

***

Alhasil, sehari itu, tanggal 31 Mei yang lalu, saya berhasil melewati uji nyali tidak merokok sehari (meskipun sempat kecolongan di awal pagi). Sungguh tidak ada untungnya dan manfaatnya sebenarnya. Wong tanggal 1 Juninya pak Sastro mulai merokok lagi……

Tapi ada sebuah hikmah, bahwa ternyata : saya bisa kalau saya mau! (Pada titik tertentu dalam episode hidup, ternyata hikmah ini menjadi modal berharga saya. Jauh lebih berharga ketimbang uang atau peluang).

Jadi bagi saya (bagi saya, lho…..), masalah stop merokok sebenarnya bukan soal telanjur kecanduan atau telanjur sulit, apalagi telanjur sayang……, melainkan karena belum mau. Buktinya? Stop 24 jam di tanggal 31 Mei bisa. Stop 14 jam sebulan penuh di Ramadhan juga bisa.

Kalau begitu, kenapa tidak stop total saja? Nah, justru menjawab pertanyaan ini yang saya belum bisa (atau belum mau?) …… 

Bengkulu, 1 Juni 2007
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Yang (Maksudnya) Baik

22 Maret 2008

Pagi itu, kira-kira sebulan yang lalu, saya mesti buru-buru menuju bandara Cengkareng. Menurut tiket pesawat yang sudah di tangan, saya akan kembali ke Yogya dengan pesawat Mandala penerbangan pagi. Sebenarnya saya rada ogah-ogahan naik pesawat ini. Waktu berangkat ke Jakarta kemarinnya naik Garuda, tapi kembali ke Yogya terpaksa menggunakan jasa pesawat Mandala karena kehabisan tiket Garuda.

Akhir-akhir ini pesawat Garuda banyak dipilih penumpang udara. Termasuk saya yang semula juga ngotot kudu naik pesawat Garuda pergi-pulang Yogya-Jakarta, sampai terbukti bahwa untuk hari itu dan jam itu tiket Garuda sudah tandas tak bersisa. Memang, sejak Adam Air ditengarai amblas laut bak Werkudoro yang slulup ke laut dalam sekali, menancapkan kukunya ke dasar samudra dan tidak njumbul lagi, banyak calon penumpang beralih ke Garuda. Tanya kenapa… Tanya kenapa… Sehingga maskapai non-Garuda seperti ditinggal pelanggannya, kecuali terpaksa. Dan, pagi itu saya termasuk yang terpaksa.

Cerita tentang raibnya pesawat Adam Air pun masih merebak menjadi buah bibir. Menghiasi halaman koran dan layar televisi, hampir setiap hari. Juga di pagi itu. Tak luput saya pun ngobrol sama sopir taksi tentang tragedi awal tahun yang menimpa Adam Air. Kebetulan rute yang kami lalui menuju Cengkareng cukup lancar membelah Jakarta, atau tepatnya belum padat, sehingga oborolan pun ikut lancar mengisi waktu.

Taksi yang saya naiki disopiri oleh seorang muda. Dari logatnya saya menebak kalau dia pasti setanah tumpah darah dengan Wapres negeri tetangganya Republik Mimpi, yaitu dari Solo….. Solowesi, maksudnya. Cara bicaranya ramah, bersahabat dan rasanya jarang-jarang saya ketemu sopir taksi seperti yang nyopiri saya pagi itu. Suasana dalam taksi sepanjang perjalanan menuju bandara serasa jadi nyaman.

Menjelang memasuki bandara, sang sopir menanyakan saya naik pesawat apa. Ketika saya jawab Mandala, dia sudah tahu mesti menuju ke terminal sebelah mana. Hingga sampailah taksi yang saya tumpangi, berhenti di depan terminal keberangkatan yang tampak sudah mulai ramai.

Setelah membayar ongkosnya, plus sekedar tip atas keramah-tamahannya, saya lalu membuka pintu taksi sebelah kiri hendak keluar. Baru sesisih kaki melangkah keluar, mas sopir taksi tiba-tiba memanggil (untung saya tidak meloncat gedrug bumi seperti presiden Bush waktu di Bogor), sehingga saya sempat mendengar suara mas sopir taksi.

Lalu kata mas sopir taksi : “Hati-hati, Pak. Jangan lupa berdoa…..”.

Spontan saya pun menjawab : “Ya, terima kasih….”.

Setiba di teras bandara, sejenak saya tercenung. Pertama, saya teringat kebaikan mas sopir yang berbaik hati mengingatkan saya. Kedua, pikiran saya tiba-tiba melayang jauh, memunculkan flash-back penggal-penggal berita tragedi Adam Air. Apa kalau berdoa, lalu akan selamat……., dan kalau tidak berdoa, tidak selamat…….. Begitu pokok soal lamunan saya.

Pesan yang disampaikan oleh mas sopir taksi sebenarnya sangat simpatik. Tapi entah kenapa kesan yang melintas di pikiran saya jadi sepertinya sedang menakut-nakuti……

Kalau sebelum berangkat ada yang wanti-wanti agar berdoa, tentu enak didengar. Tapi justru ketika hendak naik pesawat yang semula mau saya hindari, lalu ada yang mengingatkan agar jangan lupa berdoa, rasanya kok hati ini malah jadi deg-degan.

Dalam hati saya nggrundel, sopir taksi yang (mungkin bermaksud) baik, tapi siwalan (pakai “w” di tengah)…! Wong, berniat baik kok tidak lihat waktu dan tempat…….

Yogyakarta, 17 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

5 Februari 2008

Pengantar :

Berikut ini catatan perjalanan saya ketika mendadak harus pulang kampung saat ibu saya meninggal dunia dan saya tidak sempat menangi untuk mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir. Semoga ada hikmah yang bisa diambil di balik pengalaman perjalanan panjang lebih 40 jam dari New Orleans menuju Kendal yang sangat melelahkan. Terutama bagi rekan-rekan yang garis nasibnya telah membawanya untuk bekerja di tempat yang jauh dari sanak famili.-

(1).     Jika Mendadak Harus Pulang Kampung
(2).     Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba
(3).     Jika Waktu Dzuhur Begitu Panjang
(4).     Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat
(5).     Jika Harus Menilpun Tapi Entah Kepada Siapa
(6).     Jika Harus Mencari Penerbangan Tercepat Dari Tokyo
(7).     Jika Ingin Tilpun dari Tilpun Umum Di Bandara Narita
(8).     Jika Memilih Untuk Tidur Di Ruang Tunggu Bandara Changi
(9).     Jika Pilihan Saya Ternyata Salah
(10).   Jika Harus Kembali Memainkan Lakon Emergency
(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir
(12).   Jika Harus Ada Yang Disesali