Posts Tagged ‘northparkes’

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane

2 Maret 2008

Pengantar :

Selama sepekan ini saya berkesempatan berkunjung ke Australia dalam rangka mengikuti Konferensi Internasional Ke-3 The MassMin 2000, yaitu konferensi pertambangan khususnya tentang metode penambangan bawah tanah untuk endapan masif. Konferensi ini diselenggarakan dari tanggal 30 Oktober hingga 2 Nopember di Brisbane, Queensland, yang kemudian pada tanggal 3 Nopember dilanjutkan dengan kunjungan ke tambang tembaga bawah tanah Northparkes, New South Wales.

Melalui milis Upnvy dan Upntby saya ingin berbagi ceritera dan pengalaman selama mengikuti konferensi ini. Semoga apa yang akan saya sampaikan ini dapat menjadi tambahan informasi dan pengetahuan terutama bagi rekan-rekan yang bergerak di dunia pertambangan.

  1. Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 05:30 (14:30 WIB)
  2. Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 12:00 (21:00 WIB)
  3. Brisbane, 31 Oktober 2000 – jam 11:45 (20:45 WIB)
  4. Brisbane, 01 Nopember 2000 – jam 07:50 (4:50 WIB)
  5. Brisbane, 02 Nopember 2000 – jam 07:00 (4:00 WIB)
  6. Brisbane, 02 Nopember 2000 – jam 11:30 (20:30 WIB)
  7. Parkes, 03 Nopember 2000 – jam 11:30 (19:30 WIB)
  8. Sydney, 04 Nopember 2000 – jam 11:45 (19:45 WIB)

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (6)

2 Maret 2008

Brisbane, 2 Nopember 2000 – jam 23:30 (20:30 WIB)

Seharian tadi rangkaian acara hari terakhir konferensi MassMin 2000 diisi dengan Workshop dan Diskusi Panel. Jumlah pesertanya tinggal kira-kira setengah dari hari-hari sebelumnya, karena memang sudah banyak peserta yang pulang meninggalkan arena konferensi dan tidak mengikuti acara diskusi panel. Peserta pameran juga sudah pada bubar.

Makalah-makalah yang dibahas seharian tadi cukup menarik, sehingga banyak peserta yang bertahan hingga selesai. Padahal selesainya agak molor hingga 45 menit, karena waktu yang disediakan untuk diskusi panel ternyata memang kurang panjang. Apa boleh buat, diskusi tetap harus diakhiri.

Agenda Workshop yang mengisi setengah hari pertama diisi dengan paparan beberapa tema yang terutama berkaitan dengan studi rock mechanic dalam kaitannya dengan penerapan sistem penambangan metoda caving. Di antaranya di tambang tembaga Philex di Philiphina, tambang tembaga Tongkuangyu di China, tambang tembaga El Teniente di Chili, tambang tembaga dan emas Freeport di Indonesia dan tambang tembaga dan emas Northparkes di Australia. Kajian tentang mekanika batuan ini memang mendominasi berbagai topik pembahasan selama konferensi karena mekanika batuan adalah parameter utama dalam penerapan metode caving endapan bijih massif.

Selepas istirahat makan siang, lalu memasuki forum diskusi panel yang mengetengahkan tiga topik berbeda, yaitu : “Cave Predictability”, “Equipment Selection and Future Technology” dan “Cave Planning and Construction”. Topik kedua tentang teknologi baru dalam operasi penambangan termasuk salah satu yang cukup menarik. Meskipun makalah yang disajikan oleh perusahaan alat-alat tambang Sandvik Tamrock selaku sponsor utama konferensi ini agak berbau promosi dagang, namun tetap saja ada hal-hal yang menarik untuk dikaji.

Presentasi dari Sandvik Tamrock yang dibawakan sendiri oleh Presidennya ini antara lain diisi dengan pengenalan alat-alat tambang, bawah tanah khususnya, yang berteknologi baru. Penggunaan alat-alat baru ini pada gilirannya akan merubah operasi suatu tambang dapat dilakukan dengan tele-mining, yaitu operasi penambangan yang dilakukan dari jarak jauh. Diperlihatkan melalui tayangan video bagaimana operasi pemboran, pengisian bahan peledak dan peledakan bawah tanah dapat dilakukan hanya oleh seorang operator yang duduk di depan layar monitor di ruang kontrol. Demikian halnya operasi pengerukan, pengangkutan dan penumpahan hasil peledakan dengan menggunakan alat LHD, termasuk operasi pengangkutan dengan truck.

Bagi mereka yang sempat hadir di forum Minexpo 2000 di Las Vegas awal Oktober yll. Tentunya akan dapat berceritera lebih lengkap tentang peralatan tambang berteknologi tinggi dan tele-mining. Namun secara umum dapat dibayangkan ilustrasi seperti ini :

Seorang wanita cantik berpenampilan bak sekretaris di Jl. Sudirman – Jakarta, masuk ruangan kaca ber-AC, duduk manis di kursi yang empuk menghadap layar monitor, tangan dan jemarinya yang berkutek menggerak-gerakkan stick dan sesekali memencet tombol, sambil terus menatap layar monitor memainkan gambar alat bor, alat muat dan alat angkut. Pada saat yang sama alat-alat tambang yang sebenarnya sedang bergerak dan berjalan sendiri layaknya sebuah mainan mengeruk bongkahan bijih, memuat ke atas truck, mengangkut ke mulut crusher dan menumpahkan isinya.

Lalu pada kemana para underground miner yang memakai pakaian kerja tambang lengkap dengan lampu di topinya dan membawa self rescuer, mengoperasikan alat bor, alat muat, alat angkut, pagi masuk tambang sore baru keluar atau sebaliknya? Ya digantikan oleh wanita cantik itu.

Agaknya ilustrasi di atas (bukan tidak munkin) tidak lama lagi bakal menjadi kenyataan, demikian yang sempat saya lihat dari tayangan video promosi alat-alat berteknologi tinggi untuk operasi tele-mining. Sudah barang tentu tidak semua jenis pekerjaan di tambang bawah tanah akan dapat di-tele-mining-kan. Barangkali pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kejadian seperti ilustrasi di atas bukanlah hanya sebuah khayalan.

Apakah cocok diterapkan di setiap tambang, termasuk Indonesia? Itu soal lain. Mestinya akan ada peraturan yang mengaturnya. Kalau tidak, lha njuk mau dikemanakan tenaga kerja tambang yang ada saat ini, terutama yang ada di perusahaan-perusahaan besar yang dari segi investasi dan sumber dananya tidak mengalami masalah. Yang ingin saya katakan sebenarnya adalah bahwa harus ada pihak-pihak yang sudah mulai memikirkan untuk mengantisipasi hal-hal semacam itu, yang jelas bukan hil yang mustahal. Siapa ? Ya, embuh….. Asal jangan terlambat start saja dengan peserta lomba lari dalam rangka menyambut globalisasi.

***

Meskipun agenda konferensi sudah berakhir tadi sore, namun masih ada satu rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan besok tanggal 3 Nopember 2000 yaitu kunjungan tambang. Tambang yang akan dikunjungi adalah tambang tembaga Northparkes yang berada di wilayah kota Parkes di negara bagian New South Wales, Australia. Tambang Northparkes ini dikenal sebagai tambang yang mempunyai produktivitas paling tingi sedunia.

Malam ini saya mau mengepak barang karena besok pagi akan bergabung dengan rombongan yang akan menuju ke tambang Northparkes. Direncanakan perjalanan akan ditempuh dari Brisbane naik pesawat ke selatan menuju Sydney, lalu disambung dengan penerbangan lagi kira-kira satu jam dari Sydney ke arah barat menuju kota Parkes.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (7)

2 Maret 2008

Parkes, 3 Nopember 2000 – jam 23:30 (19:30 WIB)

Sekitar jam 8:45 tadi pagi pesawat yang membawa rombongan 22 orang peserta MassMin 2000 untuk mengikuti kunjungan tambang ke tambang Northparkes di New South Wales berangkat meninggalkan Brisbane. Sekitar tengah hari saya tiba di bandara Sydney yang masih tampak baru bekas direnovasi untuk Olimpiade yll. Di Sydney saya harus menambah satu putaran jarum jam lebih cepat.

Dari Sydney disambung dengan penerbangan sekitar satu seperempat jam menuju bandara di kota kecil Parkes. Ada keterlambatan dalam penerbangan ini, sehingga akhirnya baru sekitar jam 15:00 tiba di tambang Northparkes yang terletak sekitar 27 km dari kota kecil Parkes.

***

Setelah mengisi buku tamu, beristirahat sejenak, lalu diberikan penjelasan singkat oleh Manajer Tambang, Iain Ross, tentang pencapaian tambang tembaga dan emas ini, termasuk masalah prosedur keselamatan kerja tambang, dsb., maka sekitar jam 16:00 sore kunjungan ke lapangan dimulai. Rombongan dibagi dua, separuh ke tambang terbuka dan separuhnya lagi ke tambang bawah tanah, dan selanjutnya bergantian.

Saya ikut kelompok yang ke tambang terbuka (open pit) lebih dahulu. Tambang terbukanya sementara ini memang sedang tidak beroperasi karena kelebihan stock pile (persediaan batu bijih yang sudah ditambang). Setelah mengunjungi ke dua lokasi tambang terbuka, lalu dilanjuytkan ke ore processing plant (pabrik pengolahan bijih).  Sekitar jam 17:45 sore saya baru menuju ke tambang bawah tanah yang beroperasi dengan metode block caving.

Dunia pertambangan mengenal Tambang Northparkes yang berproduksi pada tingkat 16.000 – 19.000 ton per hari, karena prestasinya yang tergolong luar biasa. Dibandingkan dengan tambang-tambang bawah tanah di dunia yang menerapkan metode penambangan yang sama, tambang ini mempunyai tingkat produktifitas yang membuat decak kagum.

Rata-rata lebih dari 70.000 ton perkaryawan bawah tanah pertahun dihasilkan tambang ini. Sementara tambang-tambang lainnya di dunia umumnya masih berada di bawah 40.000 ton. Sebagai pembanding, tambang IOZ di Freeport yang menerapkan metode penambangan yang sama masih berada di bawah 10.000 ton. Ongkos produksi tambang ini sekitar US3 per ton bijih, sementara tambang-tambang lain umumnya di atas US$4 per ton, sedangkan tambang IOZ di Freeport masih di atas US$5 per ton bijih.

(Catatan tambahan : Angka-angka tersebut adalah angka yang disajikan oleh tambang Northparkes sebagai pembanding, yang saya yakin pasti menggunakan data-data lama Freeport atau menggunakan kriteria berbeda dalam perhitungannya, karena produktivitas IOZ sekarang jauh lebih baik. Tapi tidak apalah, karena intinya adalah bahwa tambang Northparkes memang jauh lebih produktif)).-

Memasuki tambang bawah tanahnya Northparkes ini tidak seperti umumnya kalau kita masuk ke tambang bawah tanah yang sedang beroperasi. Tidak tampak kesibukan karyawan (miner) yang lalu-lalang di lorong-lorong tambang.

Baru saja kemarin saya mendengarkan presentasi tentang tele-mining dan menggagas tentang implementasinya ke depan. Hari ini saya sudah melihat satu contoh awal yang membuktikan bahwa tele-mining memang bakal tidak terhindarkan.

Operasi crusher (alat peremuk bijih) dan conveyor (alat angkut ban berjalan) di bawah tanah hanya dilakukan oleh seorang gadis manis bernama Linda. Dia hanya duduk di control room (ruang pengendali) yang menghadap ke beberapa layar monitor. Dari tempat duduknya itulah, dia mengoperasikan sistem crusher dan conveyor di seluas tambang bawah tanah.

Saat ini ada tiga buah LHD (load-haul dump, alat bergerak bawah tanah yang berfungsi untuk memuat, mengangkut, menumpah bijih hasil tambang) yang beroperasi secara manual oleh tiga orang operator yang duduk di kabinnya. Namun saya melihat bahwa di sana sudah tersedia perlengkapan tele-remote yang siap untuk mengoperasikan LHD. Kalau perlengkapan itu sudah mulai beroperasi, artinya sopir-sopir LHD tidak diperlukan lagi, diganti dengan operator yang duduk di ruang pengendali menemani Linda.

Sekian waktu mendatang, alat-alat untuk pekerjaan pemboran, peledakan, alat bantu pemecah batuan, alat angkut truck, juga akan menyusul ber-automation. Lha alat semacam itu memang di antaranya sudah ada dan sudah diuji coba, tinggal tunggu waktu kapan dibeli orang dan kapan dioperasikan.

Sekitar jam 20:00 malam saya baru meninggalkan tambang Northparkes menuju hotel di kota Parkes. Meskipun hanya sempat beberapa jam saja mengunjungi tambang ini, tapi sangat membawa kesan yang dalam akan adanya sebuah operasi tambang yang sangat effektif dan effisien. Pada gilirannya, tentu bukan tidak mungkin juga tambang-tambang di Indonesia akan mengikutinya. Sekalipun kita akan berhadapan dengan akibat sampingannya yaitu tentang sebuah industri yang sangat berorientasi padat modal tetapi tidak lagi bersifat padat karya.

***

Kota Parkes malam ini sangat sepi, saat saya tiba di hotel. Sekitar jam 21:00 malam saya sengaja berjalan kaki sekitar 1,5 km menuju pusat kota untuk mencari makan nasi di restoran Cina. Sementara kawan-kawan yang lain cukup makan di restoran hotel karena mereka tidak perlu nasi. Eh, lha kok di restoran Cina, yang kebetulan masih buka, saya ketemu dengan rekan-rekan dari Freeport yang baru besok pagi akan melakukan kunjungan ke tambang Northparkes. Ya, sama-sama kelaparan dan ingin makan nasi.

Sialnya malam ini, saya lupa mempersiapkan penyambung colokan listrik model Australia yang berkaki tiga. Colokan listrik yang saya bawa adalah model Amerika yang kedua kaki depannya tegak lurus, sedangkan model Australia kedua kaki depannya pengkor (seperti kaki kanguru, barangkali). Sementara hotel yang saya inapi tidak menyediakan fasilitas penyambung colokan listrik ini seperti halnya di Brisbane.

Terpaksa malam ini saya tidak dapat mengirimkan catatan ini tepat waktu. Ya sudah, wong baterei laptop saya juga sudah hampir habis. Besok saja di-posting-nya, kalau sudah dapat penyambung colokan listrik.

Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 30 Juli sampai 11 Agustus 2001 saya berkesempatan berada di sebuah kota kecil di negara bagian New South Wales, Australia. Nama kotanya Parkes. Perjalanan ini adalah dalam rangka melakukan kunjungan dan studi lapangan di tambang tembaga bawah tanah Northparkes. Beberapa surat saya tulis, namun berhubung kesulitan mengakses internet dari kota ini di awal-awal kedatangan saya, maka surat ini terlambat saya kirimkan.

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia
(2).    Tambang Northparkes
(3).    Terserang Flu Dan Pilek
(4).    Mengakses Internet Di Perpustakaan Umum
(5).    Menuju Ke Canberra
(6).    Tiga Jam Di Canberra
(7).    Melintasi Jalur Segitiga Parkes – Dubbo – Orange
(8).    Tambang Northparkes Menuju Mine Automation
(9).    Perusahaan Tambang Tanpa Buruh
(10).  Membaca Koran Dan Memburu Kanguru
(11).  Malam Terakhir Di Parkes
(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia

Pagi tadi sekitar jam 09:30 saya mendarat di kota kecil Parkes, di wilayah New South Wales, Australia. Mata masih terasa agak ngantuk. Itu karena ada beda waktu maju 3 jam dibanding waktu di Yogya. Sedangkan perjalanan itu sendiri dilakukan pada malam hari sehingga kebutuhan tidur malam di perjalanan tidak dapat terpenuhi sepenuhnya sejak berangkat dari Yogyakarta hari Minggu sore, 29 Juli 2001, kemarin.

Perjalanan dari Yogyakarta menuju Parkes saya tempuh estafet dengan ganti pesawat di Denpasar dan di Sydney. Meskipun kota Parkes ini hanyalah sebuah kota kecil, namun setiap harinya ada transportasi udara yang melayani penerbangan dari Sydney ke Parkes dan sebaliknya. Paling tidak, sehari ada tiga kali penerbangan, kecuali di akhir pekan hanya ada dua kali penerbangan.

Seperti yang saya alami tadi pagi, perusahaan penerbangan Hazelton dibawah bendera Ansett Australia menerbangkan 12 orang penumpang dengan pesawat kecil berkapasitas 19 tempat duduk yang bersusun dua-dua masing-masing di kiri dan kanan lorong pesawat. Bahkan untuk masuk ke pesawat pun mesti menundukkan kepala karena atapnya yang rendah. Pesawat baling-baling jenis Metro 23 ini hanya disertai oleh dua awak penerbangnya dengan tanpa pramugari.

Dari Sydney ke Parkes yang jarak daratnya sekitar 365 km normalnya ditempuh dalam satu jam perjalanan udara, akan tetapi pagi tadi ternyata mampu ditempuh oleh pesawat kecil ini selama kurang dari satu jam. Sekitar jam 09:30 pagi saya sudah mendarat di bandara kota Parkes.

Ini adalah kunjungan saya yang kedua di kota Parkes. Bulan Nopember tahun lalu saya pernah datang ke kota ini untuk mengunjungi tambang bawah tanah Northparkes. Waktu itu saya bersama rombongan hanya sempat tinggal di Parkes semalam saja. Kali ini untuk kedua kalinya saya akan berada di kota ini selam dua minggu.

Tujuan saya kali ini juga dalam rangka melakukan kunjungan tambang ke Northparkes Mine, namun kali ini lebih spesifik dalam rangka mempelajari banyak hal tentang penerapan metode penambangan bawah tanah “Block Caving”, yang dalam terminologi birokrat sering disebut dengan studi banding.

***

Begitu tiba di Parkes, seorang pegawai perempuan tambang Northparkes sudah menjemput di bandara. Sebuah sedan Holden Commodore warna putih, entah produksi tahun kapan, sudah menunggu untuk selanjutnya akan saya gunakan sebagai sarana transportasi ke dan dari lokasi tambang Northparkes.

Pegawai perempuan itu lalu menunjukkan jalan menuju ke sebuah rumah di kota Parkes dimana saya akan menempatinya selama dua minggu. Jarak dari bandara ke kota Parkes sekitar 5 km. Setelah beristirahat sebentar, saya langsung menuju ke lokasi tambang Northparkes dengan diantar oleh pegawai perempuan itu. Jarak ke lokasi tambang sekitar 30 km.

Mula-mula saya agak kagok mengemudikan mobil di Australia yang sistem lalulintasnya berjalan di sisi kiri, sama seperti di Indonesia. Ini karena dua minggu sebelumnya saya masih mengemudi dengan sistem lalulintas di sisi kanan di Amerika. Namun ini tidak berlangsung lama, selanjutnya menjadi biasa.

***

Parkes hanyalah sebuah kota kecil yang populasinya hanya sekitar 10.000 jiwa atau jika dihitung beserta kawasan sekitarnya yang disebut dengan The Parkes Shire jumlah penduduknya hanya sekitar 15.000 jiwa.

Di perbatasan kota sebelum memasuki kota ini terpampang tulisan yang sangat jelas terbaca : “Parkes is the 50 km/h town”, tentu maksudnya adalah bahwa semua jalan-jalan di dalam kota Parkes mempunyai batas kecepatan maksimum 50 km/jam. Perkecualian hanya di kawasan sekolah yang biasanya 40 km/jam.

Para pemakai jalan pun umumnya patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Hal ini membuat mengemudi menjadi enak dan mudah sepanjang saya juga patuh pada rambu-rambu yang ada. Rasanya selama dua minggu ini saya tidak akan mengalami kesulitan untuk berkendaraan sendiri di Parkes khususnya dan Australia umumnya.

Parkes, 30 Juli 2001.
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(2).    Tambang Northparkes

Saat ini matahari sedang beredar di bumi belahan utara, sehingga kalau Amerika utara dan Eropa sedang musim panas (summer) maka di Australia sedang musim dingin (winter). Namun kota Parkes bukanlah kawasan yang bersalju di saat musim dingin. Hanya saja cuaca cukup membuat saya kedinginan di bawah suhu udara sekitar 8-12 derajat Celcius.

Paling-paling kalau pagi hari kaca-kaca mobil tertutup lapisan es tipis, sehingga perlu memanaskan mesin agak lama sebelum mulai menjalankannya. Demikian halnya di lokasi tambang Northparkes suhu udara cukup dingin meskipun matahari bersinar cerah.

Tadi pagi, sekitar jam 07:30 saya berangkat menuju ke lokasi tambang. Kota Parkes masih terasa sangat lengang dan dingin karena matahari belum lama terbit. Jalan dua lajur dua arah yang menuju ke lokasi tambang pun sangat sepi. Jarak sekitar 30 km menuju tambang Northparkes dapat saya tempuh sekitar 20 menit, itu karena saya dapat melaju sedikit di atas batas kecepatan maksimum 100 km/jam.

Pemandangan di sepanjang rute yang saya lalui hanya berupa dataran terbuka yang sangat luas dengan di sana-sini terdapat pepohonan. Di kejauhan tambak bukit-bukit kecil seperti gundukan tanah yang sebagian besar merupakan ladang-ladang pertanian ribuan hektar luasnya. Yang perlu diwaspadai melaju di jalan ini adalah kalau ada rombongan ratusan ekor sapi-sapi yang sedang melintas jalan dalam perjalanannnya dari satu lokasi pertanian menuju ke lokasi pertanian lainnya. Entah siapa pemiliknya.  

***

Acara saya di hari kedua di tambang Northparkes ini adalah mengikuti “safety induction” sesuai dengan peraturan keselamatan kerja yang diterapkan oleh pihak perusahaan. Dengan kata lain, saya tidak diperbolehkan “ngeluyur” kemana-mana di lokasi tambang ini, apalagi di bawah tanah, sebelum saya menyelesaikan program keselamatan kerja ini meskipun saya hanya sebagai tamu.

Tambang Northparkes adalah perusahaan tambang tembaga yang sahamnya 80% dimiliki oleh Rio Tinto dan sisanya yang 20% dimiliki Sumotomo, Jepang. Selain menghasilkan tembaga, tambang ini juga menghasilkan emas dan perak. Saat ini produksi tambang Northparkes dipenuhi dari hasil tambang terbuka (open pit) dan tambang bawah tanah (underground) yang menerapkan metode “Block Caving”.

Tingkat produksi dari tambang ini sebenarnya tidak terlalu tinggi. Tahun ini mentargetkan akan menambang 5,3 juta ton bijih tembaga atau rata-rata sekitar 15.000 ton per hari. Namun tambang ini dikenal sebagai tambang yang mampu beroperasi secara effisien dengan biaya operasi yang rendah dan termasuk salah satu tambang yang unjuk kerja keselamatan kerjanya baik. Untuk mempelajari lebih jauh tentang hal itulah yang menjadi alasan dari tujuan kunjungan saya ke tambang Northparkes ini.   

Mulai besok saya baru akan terlibat lebih jauh dalam aktifitas tambang Northparkes terutama dari bidang operasi produksi tambang bawah tanah.

***

Tadi sekitar jam 19:00 malam saya menuju ke pusat kota guna mencari makan malam. Rupanya di kota kecil ini ada tiga restoran Cina. Dalam hati saya heran juga, kok bisa-bisanya imigran dari Cina ini membuka usahanya di kota yang sebenarnya tergolong kecil dan tidak padat penduduknya. Keheranan yang sama sering saya alami sewaktu “blusukan” di kota-kota kecil di Amerika. Kalau mau diambil benang merahnya, barangkali dalam darah masyarakat Cina pada umumnya memang mengalir naluri bisnis yang sukar ditandingi.

Suasana kota Parkes yang cukup dingin sudah tampak sangat sepi dan lengang, bahkan di pusat kotanya. Toko-toko umumnya buka hanya sampai jam 5 sore, itupun hanya Senin sampai Jum’at. Restoran pun tidak semuanya buka hingga malam. Untungnya ada pasar swalayan yang buka hingga jam 9 malam, sehingga masih memberi kesempatan saya untuk mencari sekedar “kletikan” (makanan kecil).

Clarinda Street adalah jalan utama di pusat kota Parkes. Selain itu ada sebuah jalan raya yang disebut Newell Highway. Hanya di penggalan kedua jalan itulah di kota yang tidak memiliki “traffic light” ini yang dilengkapi dengan lampu penerangan jalan seperti di kota-kota besar. Sebagian jalan-jalan lainnya hanya diterangi dengan lampu neon biasa sebagai penerangan jalan, sebagian sisanya gelap-gulita pada malam hari tanpa penerangan jalan. Oleh karena itu, jika malam tiba terasa sekali bahwa saya sedang berada di sebuah kota kecil yang sepi, di Australia.

Parkes, 31 Juli 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(3).    Terserang Flu Dan Pilek

Hari Kamis ini tiba-tiba badan saya terasa nggreges (tidak enak badan). Nampaknya gejala flu atau pilek sedang saya alami. Entah kenapa. Kalau di kampung saya orang suka menyebut sebagai akibat dari perubahan cuaca. Lha, padahal cuacanya ya dari dulu memang begitu. Hanya saya saja yang berpindah-pindah dari daerah yang sedang bermusim panas dua minggu yll. di Amerika, kemudian pindah ke musim kemarau seminggu yll. di Indonesia, dan kini pindah lagi ke musim dingin di Australia.

Sebenarnya lebih tepat kalau dikatakan bahwa kondisi fisik saya memang sedang tidak prima. Yang pasti, akibat nggreges ini saya menjadi serba tidak enak untuk melakukan agenda kerja. Cuaca dingin di siang hari yang mestinya biasa-biasa saja, menjadi terasa sangat dingin di badan.Tapi ya tetap saya paksakan untuk dapat menyelesaikan agenda kerja saya. Termasuk observasi ke tambang bawah tanah bersama seorang Geotech Engineer. Dan dia adalah seorang wanita.

Rupanya di Australia ini sudah lazim kalau ada para insinyur wanita yang bekerja di tambang bawah tanah, juga di bagian lapangan. Seperti di tambang Northparkes ini, di bagian tambang bawah tanah (underground) ada insinyur wanita yang bekerja sebagai Geotech Engineer dan Draw Control Engineer yang tugasnya merangkap, ya pengumpulan data lapangan, ya pengolahan datanya dan penyajian laporannya.

Di bagian tambang terbuka (open pit) malah dipimpin oleh seorang Superintendent wanita yang bertanggung jawab kepada Mine Manager, selain ada juga Mine Engineer wanitanya. Belum lagi kalau masuk ke kantor tambang bawah tanah yang lokasinya memang berada di bawah tanah, di bagian pusat kontrol sistem tambangnya terdapat beberapa pegawai wanita.

Di Indonesia, para tukang insinyur wanita agaknya masih harus menunggu entah sampai kapan untuk dapat memiliki kesempatan bekerja di tambang bawah tanah sebagaimana para tukang insinyur pria. Bukan soal diskriminasi dan bukan juga soal kemampuan, melainkan lebih disebabkan masih adanya kepercayaan sebagai hal yang tabu.

Sulit dipercaya, tapi kenyataannya keadaan semacam itu masih berlaku di beberapa tambang bawah tanah yang pernah ada di Indonesia. Akhirnya daripada membuat karyawan yang lain resah akibat pelanggaran terhadap hal yang ditabukan itu, maka biasanya lalu pihak perusahaan memutuskan untuk tidak menerima pegawai wanita untuk bekerja di tambang bawah tanah.

Mudah-mudahan dalam perkembangannya nanti akan ada perubahan. Sayang kalau ada Mine Engineer wanita yang berkemampuan tinggi di bidang tambang bawah tanah tetapi tidak terbuka kesempatan untuk mengembangkannya.

***

Sore tadi saya pulang dari lokasi tambang sedikit lebih awal karena terburu-buru hendak mencari obat flu. Beberapa rekan menyarankan untuk mencarinya ke apotik (pharmacy), tetapi apotik sudah tutup jam 5 sore. Akhirnya saya coba mencarinya ke Shopping Center yang buka hingga jam 9:00 malam. Saya dapatkan juga tabletnya yang menurut petunjuknya dapat digunakan untuk mengobati gejala flu dan pilek. Mudah-mudahan manjur.

Malam ini saya ingin tidur lebih awal dengan berselimut rapat karena memang udaranya cukup dingin.

Parkes, 2 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(8).    Tambang Northparkes Menuju Mine Automation

Hari Senin dan Selasa, 6 dan 7 Agustus 2001 kemarin saya mempergunakan kesempatan untuk bergabung dengan para penambang (miner) di tambang bawah tanah Northparkes. Kali ini saya sengaja ikut dengan salah satu kru dengan maksud agar memperoleh gambaran lebih lengkap tentang bagaimana para pekerja tambang ini mengorganisasikan dan menyelesaikan pekerjaannya. Tentu saya berharap agar mereka tetap bekerja sebagaimana biasanya, dalam arti bukan lantaran diikuti orang lain lalu bekerjanya diproduktif-produktifkan.

Operasi tambang Northparkes yang berproduksi rata-rata 15.000 ton perhari ini dikerjakan oleh satu tim yang terdiri dari sembilan orang dalam setiap gilir kerja (shift) yang bekerja selama 12 jam. Oleh karena itu dalam satu hari ada dua gilir kerja. Jumlah sembilan orang ini sudah termasuk kepala timnya yang disebut team leader, 3 atau 4 orang operator alat muat (loader) yang disebut dengan alat LHD (load-haul-dum), seorang operator control room dan beberapa pekerja lainnya yang umumnya perkemampuan serba bisa.

Salah satu kru yang saya ikuti disebut dengan secondary breaker. Salah satu tugas dari kru ini adalah mengatasi bongkahan-bongkahan batuan besar (boulder) yang jika langsung dimuat, diangkut dan ditumpah ke dalam mesin pemecah batuan (crusher) maka dapat menggangu proses operasi mesin ini. Selain itu tim ini juga bertugas mengatasi draw point (tempat pengambilan bijih hasil penambangan) yang tersumbat, sehingga material bijih tidak mau turun atau keluar ke mulut draw point. Keadaan ini disebut dengan hung-up.

Untuk melakukan pekerjaannya, kru yang terdiri dari dua orang ini ternyata seringkali berpisah dengan masing-masing saling berbagi tugas. Kalaupun kemudian perlu melakukan pengeboran dan peledakan ulang, maka jika memungkinkan akan diselesaikan oleh salah seorang saja. Demikian halnya misalnya untuk pekerjaan perbaikan jaringan pipa, perbaikan lantai beton (concrete) yang rusak, penyanggaan batuan, dsb. jika memungkinkan mereka akan berbagi tugas dengan masing-masing menyelesaikan tugas yang berbeda.

Demikian seterusnya sehingga pekerjaan hari itu dapat dituntaskan. Seringkali dalam melakukan tugasnya mereka tanpa diawasi oleh team leader-nya, sepertinya sudah otomatis mereka tahu apa yang mesti dikerjakan. Padahal mereka juga menyelingi kegiatannya dengan berhenti untuk merokok, makan dan ngobrol sebagaimana lazimnya.

***

Di bagian ruang kontrol (control room) yang juga berlokasi di bawah tanah, seorang pekerja duduk di depan layar monitor sambil sesekali mengangkat tilpun dan ngomong di pesawat radio komunikasi. Di atas layar monitor utama terdapat enam layar monitor lainnya yang menayangkan hasil liputan kamera-kamera yang di pasang di banyak lokasi strategis sehingga sewaktu-waktu dapat dilihat apa yang sedang terjadi di lapangan dengan mengubah-ubah salurannya.

Semua sistem aliran bijih (ore flow) hasil penambangan mulai dari penumpahan batuan dari alat muat LHD, mesin pemecah batuan (crusher), pengangkutan dengan ban berjalan (belt conveyor) pengangkutan dengan alat pengerek (hoisting), hingga ban berjalan di permukaan tanah, dikendalikan dari ruang kontrol ini. Semuanya berlangsung secara otomatis tanpa perlu ada orang yang menjaga di tiap-tiap alat tersebut.

Oleh karena itu banyak sekali jenis pekerjaan yang dapat dirangkap oleh seorang operator di control room. Kalau di tambang-tambang lain umumnya perlu beberapa operator khusus yang menjalankan dan mengawasi masing-masing bagian crusher, conveyor, winder, dsb. maka di tambang Northparkes para pekerja itu tidak diperlukan lagi.

***

Saat ini operasi LHD masih dilakukan oleh seorang operator. Namun dalam rencana penambangan endapan bijih pada tahap pengembangan berikutnya, direncanakan operasi LHD juga akan dikendalikan dari ruang kontrol ini. Inilah yang kini disebut sebagai konsep otomatisasi tambang atau mine automation.

Pada saat ini tambang Northparkes sedang mempersiapkan rencana penambangan endapan yang ada tepat di bawah dari yang saat ini sedang ditambang yang disebut dengan Lift 2. Cadangan baru ini sebenarnya merupakan kelanjutan ke arah bawah dari endapan yang saat ini ditambang dan disebut sebagai Lift 1.

Lift 2 kini menjadi proyek tersendiri yang ditangani oleh sebuah tim khusus yang melibatkan semua disiplin ilmu terkait. Tujuannya tentu agar proyek Lift 2 tambang Northparkes ini dapat segera beroperasi secara tepat waktu pada saat tambang Lift 1 yang ada saat ini habis cadangannya. Dan hal itu diperkirakan akan terjadi pada akhir tahun 2003.

Parkes, 8 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(9).    Perusahaan Tambang Tanpa Buruh

Hari ini, kembali saya ngantor di kantor tambang bawah tanah. Kali ini saya banyak bergabung dengan bagian perawatan dan pemeliharaan tambang dan peralatannya (maintenance). Hal ini berkaitan dengan agenda saya untuk memahami masalah pembiayaan dalam operasi tambang Northparkes, mengingat bahwa biaya pemeliharaan (maintenance cost) tambang ini merupakan porsi terbesar dari biaya operasi penambangannya.

Dari omong-omong dengan para pekerja, saya baru tahu bahwa di lingkungan perusahaan tambang Northparkes tidak dikenal adanya penggolongan antara karyawan staff dan non-staff. Dapat dikatakan bahwa semua karyawannya adalah staff yang diatur melalui peraturan kepegawaian yang tertuang dalam Employee Handbook, mulai dari General Manager hingga operator dan administrasi. Tidak ada karyawan yang statusnya non-staff. Dengan kata lain, di perusahaan tambang ini tidak ada tidak memiliki buruh yang biasanya identik dengan karyawan non-staff.

Oleh karena itu, semua karyawan mempunyai jam kerja pokok yang banyaknya sesuai dengan aturan minimal yang dipersyaratkan. Tidak dikenal adanya jam kerja lembur (overtime). Rata-rata karyawan bagian operasional tambangnya bekerja 42 jam per minggu. Semua karyawan menerima gaji (salary) yang sesuai dengan jenjang kepangkatannya yang secara umum nilainya di atas rata-rata.

Pertanyaan saya lalu : Bagaimana kalau ada pekerjaan yang menuntut karyawan untuk bekerja di luar jam kerja yang semestinya atau perlu tambahan jam kerja? Maka secara guyon jawabnya adalah : “Ya, nasib…….”. Artinya, sebagai karyawan staff maka pada dasarnya siap untuk diminta atau tidak diminta bekerja kapan saja sepanjang memang dibutuhkan oleh perusahaan. Demikian kira-kira bunyi peraturan kerja karyawan staff.

***

Akibat dari tidak adanya karyawan non-staff, maka tidak pula dikenal adanya Serikat Buruh (Union) karena status kepegawaiannya menjadi tidak ada karyawan yang bersatus buruh.

Lalu bagaimana jika ada perselisihan perburuhan? Ya, tidak akan ada yang berselisih, wong tidak ada buruh. Semua karyawan diatur melalui peraturan kepegawaian karyawan sejak awal pertama kali mereka masuk kerja. Memang sulit untuk mengidentifikasi sisi untung-ruginya secara mendetail. Namun yang pasti sistem ini sudah berjalan sejak pertama kali perusahaan tambang ini berdiri pada tahun 1994.

***

Diterapkannya pola kepegawaian tambang tanpa buruh ini nampaknya ingin ditiru oleh perusahaan-perusahaan tambang lainnya. Barangkali karena melihat tidak pernah terjadinya perselisihan perburuhan (lha, wong memang tidak punya buruh…). Tapi kenyataannya memang tidak mudah untuk mengubah pola kepegawaian konvensional menjadi pola kepegawaian dengan tanpa buruh.

Sistem ini agaknya hanya mungkin untuk diterapkan pada perusahaan yang baru dibuka. Sehingga sejak pertama kali penerimaan karyawan memang sudah diatur dengan perjanjian kerja bahwa mereka semua akan diperlakukan sebagai karyawan layaknya karyawan staff.

Agaknya pola perusahaan tanpa buruh (non-staff) ini hanya pas untuk diterapkan di perusahaan yang jumlah karyawannya kecil, sebagaimana halnya di tambang Northparkes yang jumlah keseluruhan karyawannya hanya sekitar 170 orang dan itu sudah mencakup semua jenjang kepangkatan dan bidang kegiatan. Sedikitnya jumlah karyawan ini karena banyak bidang-bidang perkerjaan yang dikontrakkan atau diserahkan kepada pihak kontraktor.

Apakah mungkin pola kepegawaian semacam ini diterapkan di Indonesia?

Parkes, 9 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(10).   Membaca Koran Dan Memburu Kanguru

Hari Jum’at ini adalah hari terakhir saya masuk kerja ke tambang Northparkes. Tadi pagi saya memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor di luar tambang dan tidak ke bawah tanah seperti beberapa hari terakhir ini. Memeriksa kembali catatan-catatan yang saya kumpulkan, mengkonfirmasi ulang data-data, menambah informasi yang kurang serta mendiskusikannya dengan beberapa rekan lain. Mengambil beberapa foto tambang juga tidak saya lewatkan dan tentu juga saya sempatkan membaca koran terbaru saat istirahat makan siang.

***

Dari koran The Australian yang baru terpilih sebagai “Newspaper of the Year” untuk kawasan Pacific, di halaman utama terbitan hari ini saya baca berita bahwa akhirnya Megawati berhasil membentuk kabinetnya. Salah seorang menteri yang menarik perhatian saya adalah ditunjuknya Pak Dorodjatun Kuntjoro-Jakti sebagai Menko Ekuin.

Akhirnya Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti jadi menteri juga. Saya sebut akhirnya, karena beberapa tahun yll. nama beliau pernah sempat menjadi rumor bakal menduduki posisi yang sama tapi tidak jadi. Dan, kini jadi.

Ingatan saya menuju ke tahun 1999 di Houston atau tepatnya di kantor Konsulat Jendral RI di Houston, Texas. Sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat waktu itu Pak Djatun hadir sebagai pembicara kunci dalam seminar sehari tentang peranan industri minyak dan gas di Indonesia.

Saya masih menyimpan catatan-catatan kecil dari pemikiran-pemikiran beliau yang disampaikan secara berapi-api. Sayang catatan-catatan itu kini sedang dalam perjalanan pengiriman ke Indonesia ketika saya pindahan beberapa minggu yll. sehingga saya tidak dapat membuka-buka kembali selengkapnya.

Namun ada hal yang (saya anggap) penting yang saya ingat, yaitu kepedulian beliau berkaitan dengan peranan tenaga ahli Indonesia dalam mengembangkan industri tambang khususnya migas sebagai kekayaan alam yang tak terbarukan. Menurut pemikirannya — seingat saya beliau mengatakan — bahwa umumnya tenaga ahli kita kurang terkondisikan dan kurang berani untuk mengambil resiko menjadi petualang atau wirausaha (entrepreneur) dalam menerjuni dunia usaha atau industri.

Apakah kira-kira kini beliau masih ingat dengan pemikirannya itu? Dan lalu “membantu” membuat terobosan, paling tidak mengkondisikan, agar tenaga ahli Indonesia lebih berperan dalam industri pertambangan khususnya migas? Atau, barangkali malah “lupa” kalau Indonesia masih punya sumber daya alam antara lain migas yang saat ini masih didominasi oleh para “entrepreneur” asing.

***

Berita kedua yang menarik perhatian saya berada di halaman tengah koran yang sama. Berita itu adalah tentang ditangkap dan dihukumnya sepasang suami-istri pengusaha situs pornografi di Amerika karena situsnya mengeksploitasi tentang pornografi anak di bawah umur.

Di beberapa negara bagian di Amerika, pornografi untuk orang dewasa adalah legal, tapi tidak dan cenderung sangat ketat pengawasannya kalau itu menyangkut anak di bawah umur. Seperti halnya ketatnya pengawasan terhadap anak di bawah umur yang membeli produk tembakau dan minuman beralkohol.

Sebagai tambahan illustrasi, ketatnya pengawasan yang sama juga saya lihat di Australia, setidaknya di negara bagian New South Wales. Toko-toko yang menjual produk tembakau kepada mereka yang berusia di bawah 18 tahun adalah pelanggaran kriminal yang dendanya bisa mencapai A$5.500. Demikian halnya terhadap produk minuman beralkohol. Kalau ingat ini kok saya jadi bertanya-tanya tentang kondisi di Indonesia yang demikian bebas.

Tentang situs porno itu tadi, apanya yang menarik? Ternyata supplier dari situs (website) porno yang bermarkas di Dallas, Texas, itu berasal dari tiga negara, yaitu Amerika sendiri, Rusia dan Indonesia. Lha, saya kok jadi miris (merasa ngeri). Rupanya diam-diam (ya memang harus diam-diam) produk Indonesia mampu menempati tiga besar dalam “memasok” konsumsi dunia akan produk haram dan nggegirisi (membuat perasaan ngeri) ini.

Tercatat dari sekitar 300.000 pelanggan situs yang per bulannya membayar US$29.95, sebesar 60% dari hasil bersihnya adalah bagian keuntungan bagi supplier yang tentunya termasuk para webmaster dari Indonesia itu tadi.

Polisi Amerika pun kini sedang mengejar tiga orang supplier produk pornografi anak di bawah umur dari Indonesia itu. Weh….., lha jebulnya (ternyata) “hebat” juga para webmaster kita ini dalam memanfaatkan celah peluang pasar dunia.

***

Sore hari sebelum pulang kantor, saya mengajak seorang rekan untuk menemani keliling tambang guna mengambil gambar tentang tambang Northparkes dan lingkungannya. Di antara fakta yang menarik dari tambang ini adalah bahwa Northparkes tenyata menguasai sekitar 6.000 hektar kawasan tambang dan sekitarnya.

Dari areal seluas itu hanya sekitar 1.630 hektar saja yang dikerjakan sebagai lokasi penambangan. Selebihnya yang tiga-perempat bagian dikelola sebagai ladang pertanian sebagai kawasan penyangga yang mengelilingi lokasi penambangan, dan hasilnya termasuk sebagai pemasukan perusahaan. 

Di kawasan ladang perusahaan ini sering dijumpai kanguru liar yang berkeliaran. Sore itu dengan berkendaraan, saya dan seorang rekan mencoba blusukan (menerobos masuk) ke areal semak-semak hingga ke luar kawasan perusahaan. Tujuannya adalah mencari kanguru. Ternyata kanguru memang ada di sana, maka acara berganti menjadi memburu kanguru yang berlari kian-kemari karena terganggu oleh bunyi kendaraan.

Sebenarnya ada jenis binatang lain yang menyerupai kanguru, yaitu wallaby. Secara sepintas, prejengan (profil binatang) ini adalah sama persis. Susah untuk dibedakan antara kanguru dan wallaby, bahkan orang Australia sekalipun akan kesulitan untuk melihat bedanya. Sama seperti susahnya membedakan antara buaya (crocodile) dengan alligator.

Memang tidak mudah untuk menjumpai kanguru atau wallaby di alam aslinya, karena biasanya mereka akan segera berloncatan lari menjauh kalau terusik. Namun setidak-tidaknya, saya sempat menjumpai sekelompok kanguru di habitat aslinya sore itu. Ya, sekedar ingin tahu dan merasakan pengalaman berbeda saja. 

Parkes, 10 Agustus 2001
Yusuf Iskandar