Posts Tagged ‘tembagapura’

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (II)

15 November 2009

( 3 )

Saya rada terhenyak membaca tulisan berjudul “Bongkar Kejahatan Freeport” yang berisi wawancara dengan Amin Rais. Bukan soal kejahatannya. Kalau yang namanya kejahatan (bila memang terbukti benar) di manapun juga ya harus diberantas dan jangan dibiarkan meraja dan melela. Saya justru nglangut….. (menerawang jauh) perihal bongkarnya. Bukankah bangsa ini terkenal dengan sindiran pandai mbongkar tidak bisa masang (kembali)? Kata lain untuk pandai mengacak-acak setelah itu kebingungan untuk memperbaiki dan merapikannya kembali.

Di berbagai forum milis di internet, sempat muncul banyak tanggapan dan silang pendapat tentang topiknya Amin Rais ini. Sebenarnya saya agak enggan untuk memikirkannya (mendingan saya ngurusi toko saya “Madurejo Swalayan” agar semakin maju). Biar sajalah menjadi porsinya para ahli untuk membahasnya. Tapi lama-lama saya terusik juga dengan beberapa komentar rekan-rekan (yang pernah) seprofesi yang berada di dekat saya. Seorang rekan lain mengirim email agar saya menelaah lebih dalam tentang hal ini.

Sejujurnya, saya tidak memiliki kapasitas sedalam itu. Sedang wadah organisasi profesi maupun asosiasi industri yang lebih berkompeten pun tidak kedengaran suaranya. Karena topik ini sebenarnya sudah menyangkut banyak dimensi. Oleh karena itu saya akan mencoba menuliskan pikiran saya dan membatasi hanya dari sudut pandang seorang mantan pekerja tambang dan sesuai peran sosial saya sebagai anggota masyarakat, agar pikiran saya tetap jernih, netral dan logis.

***

Sekitar tahun 1996 (atau 1997, saya lupa persisnya), Amin Rais pernah datang ke Tembagapura atas undangan Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) di lingkungan PT Freeport Indonesia (PTFI). HMM adalah organisasi sosial keagamaan yang menjadi wadah bagi kegiatan keagamaan segenap keluarga besar PT Freeport Indonesia, kontraktor maupun perusahaan privatisasi, mencakup segenap karyawan dan keluarganya, yang tersebar dari puncak gunung Grassberg hingga pantai Amamapare. Organisasi yang belakangan saya sempat dipercaya untuk memimpinnya, dua tahun sebelum saya banting setir.

Menilik siapa pengundangnya, tentu saja Pak Amin Rais ini diundang dalam kerangka misi dakwah di lingkungan PTFI, setidak-tidaknya menyangkut peran belau sebagai tokoh Muhammadiyah dan dosen UGM. Maka selama di Tembagapura dan sekitarnya, selain mengisi berbagai kegiatan dakwah juga diskusi di masjid. Semua berlangsung sangat konstruktif dan menambah wawasan. Sebagai tamu HMM, beliau tentunya juga tamu PTFI, maka ada kesempatan bagi beliau untuk berkeliling melihat serba sekilas (baca : waktunya terlalu singkat untuk dapat mendalami) proses operasi pertambangan dari ujung ke ujung.

Semua kegiatan beliau di lingkungan PTFI telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur standar yang berlaku di perusahaan. Pak Amin Rais pun ketawa-ketiwi, manggut-manggut dan puas dengan berbagai penjelasan tentang berbagai tahapan produksi dan segala macamnya. Tidak sedikitpun muncul komentar bernada negatif dari mulut beliau. Para panitia dari HMM pun senang mendampingi beliau selama kunjungannya. Ya, siapa yang tidak bangga berada dekat dengan seorang tokoh sekaliber Amin Rais ini.

Namun apa yang kemudian terjadi esok harinya sungguh membuat kuping semua aktifis HMM dan pejabat PTFI merah dibuatnya. Baru sehari setelah meninggalkan Tembagapura dan Timika, Amin Rais sudah melempar komentar tajam tentang PTFI kepada wartawan dan masih dilanjutkan di DPR. Maka kalang kabutlah semua pejabat PTFI, terlebih aktifis HMM yang “terpaksa” menjadi pihak paling bertanggungjawab atas kehadiran Amin Rais.

***

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang kampung ke Kendal, seorang adik ipar saya bercerita tentang peluang berinvestasi untuk pembuatan batu bata. Pada saat itu adik ipar saya ini memang sedang menekuni bisnis pembuatan batu bata. Lokasinya di pinggiran sungai, tepatnya memanfaatkan tanah lempung hasil pengendapan yang membentang di sepanjang bantaran sungai. Tanah laterit endapan sungai itu memang dimanfaatkan oleh banyak masyarakat di sekitarnya untuk pembuatan batu bata.

Bahkan di tempat-tempat lain terkadang tanah persawahan pun dimanfaatkan untuk pembuatan batu bata. Tanah lempung sungai dan sawah memang paling bagus untuk bahan pembuat batu bata. Kalau kemudian ditanyakan apa sungai dan sawahnya lalu tidak rusak dan tergerus semakin dalam karena diambil tanah lempungnya? Maka jawabnya, itulah anugerah Sang Pencipta Alam agar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan penghuninya. Adakalanya tanahnya habis terkikis, adakalanya bertambah lagi endapan tanah di atasnya. Sang Pencipta Alam telah dengan sungguh-sungguh mencipta setiap butir tanah. Maka penghuninya pun mesti dengan sungguh-sungguh mendayagunakannya dengan bijaksana.

Di situlah kuncinya. Bijaksana. Maka jika diperlukan pengaturan atas segala sesuatunya, mesti dirancang dan diarahkan untuk menuju kepada pendayagunaan yang bijaksana. Bijaksana bagi alam ciptaan-Nya dan bijaksana bagi pengambil manfaatnya. Maka kalau kini kita sedang membangun, jangan lupa bahwa batu bata yang kita gunakan itu berasal dari galian ratusan bantaran sungai dan ribuan hektar sawah. Entah kita sedang membangun rumah, kantor, sekolah, mal, rumah sakit, pasar, pabrik, jembatan, bendungan, saluran irigasi atau monumen.

( 4 )

Pertambangan adalah industri yang padat modal dan beresiko tinggi. Maka wajar kalau tidak setiap pengusaha punya nyali untuk menanamkan investasinya di industri pertambangan, apalagi yang berskala raksasa. Terlebih pada masa itu, pada masa negeri ini sedang bangkit, pada masa pemerintah belum sepenuhnya siap menangani investasi asing yang sak hohah dollar (buanyak sekali) nilainya. Maka kalau pada tahun 1967 Freeport mau menanamkan modalnya di Papua, itu hasil perjuangan tidak mudah oleh para pelobi kelas tinggi di jajaran pejabat pemerintah Indonesia.

Banyak kekurangan pada mulanya memang, karena menangani Freeport adalah pengalaman pertama pemerintah Indonesia dalam menangani modal asing bidang pertambangan. Belum lagi lokasinya di kawasan yang masih sangat terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan. Namun tahun demi tahun kekurangan itu semakin diperbaiki hingga sekarang. Bangsa ini pun semakin pandai, baik dari segi teknis maupun manajerial.

Adalah fakta bahwa dalam perkembangannya, Freeport tidak tinggal mengeruk keuntungan. Kontribusi kepada pemerintah dan masyarakat juga semakin meningkat dalam berbagai bentuknya. Meskipun seperti pernah saya singgung sebelumnya, perlu ada perubahan paradigma dalam community development. Freeport mestinya tidak mengingkari akan hal ini. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Bahwa kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi dimana tambang Freeport berada saat ini berbeda jauh dengan kondisi lebih 35 tahun yang lalu, dimana masyarakatnya masih hanya bisa tolah-toleh kesana-kemari, kami tenggengen….. (bengong).

Adalah fakta bahwa masyarakat di sekitar Freeport berada, kini sebagian di antaranya sudah semakin pandai dan terdidik. Dan memang demikian seharusnya. Tidak bodoh turun-temurun, melainkan harus ada yang berani menjadi pandai. Sehingga mampu berpikir lebih komprehensif dan berwawasan luas tentang bagaimana masa depan masyarakat dan desanya.

Adalah fakta bahwa sekitar 90% saham Freeport kepemilikannya berada di tangan pihak asing (yang kebetulan berbangsa Amerika) dan pihak Indonesia hanya mengantongi sekitar 10% (saya sebut sekitar karena saya tidak hafal koma-komanya). Maka pembagian keuntungannya pun tentunya kurang lebihnya akan seperti itu juga. Dengan kata lain, hasil yang dibawa ke Amerika akan 9 kali lebih banyak daripada yang ditinggal di Indonesia. Akan tetapi hal ini pun harus dipahami karena memang sejak semula (meski sempat bertambah dan berkurang) pembagian porsi sahamnya demikian. Itulah kesepakatan yang ada sejak sebelum industri pertambangan itu dimulai. (Konyol sekali kalau saya urun 10% untuk investasi pembuatan batu-bata kok keuntungannya minta bagian 50%, misalnya).

Adalah fakta bahwa Freeport sudah menunaikan kewajiban pajaknya sesuai dengan kesepakatan Kontrak Karya yang pernah ditandatangani (yang kemudian pernah juga direvisi). Rasanya, saya tahu persis bahwa tidak ada satupun policy terselubung yang diterapkan Freeport untuk mengelabuhi sistem peraturan perpajakan yang sudah disepakati. Kalau kemudian ternyata dipandang bahwa sistem perpajakan yang berlaku itu merugikan Indonesia dan menguntungkan Freeport, maka tidak bijaksana kalau kemudian Freeport-nya yang disalahkan.

Adalah fakta bahwa ada kondisi lingkungan yang rusak sebagai akibat dari dampak operasi penambangan. Akan tetapi, hal yang perlu dipahami adalah bahwa semua sistem pengelolaan lingkungan itu sudah dikaji sangat mendalam dan memakan waktu bertahun-tahun, hingga akhirnya disetujui oleh pemerintah Indonesia yang notabene diwakili oleh para pakar di bidangnya, sebagai alternatif terbaik dalam pengelolaan dampak lingkungan pertambangan.

Adalah fakta bahwa keberadaan Freeport baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan lebih duapuluh ribu lapangan pekerjaan bagi orang Indonesia. Jika mereka yang bekerja di lingkungan Freeport itu rata-rata, katakanlah, menanggung seorang istri dan seorang anak, berarti ada puluhan ribu orang yang hidupnya bergantung dari perusahaan ini.

Adalah fakta bahwa sebagian posisi tertentu dalam manajemen Freeport masih dikuasai oleh tenaga kerja asing. Maka menjadi tugas pemerintah dan tanggung jawab pemilik perusahaanlah yang semestinya berbaku-atur bagaimana sebaiknya kebijakan ketenagakerjaan diterapkan. Taruhlah pemerintah mau menerapkan policy ketenagakerjaan yang ketat, tidak ada alasan bagi Freeport untuk mengelaknya. Tinggal pilihannya kemudian adalah : Pertama, sang pemerintah ini mau atau tidak…..? Kedua, tenaga kerja domestiknya siap atau tidak…..? Pilihan yang tidak sulit sebenarnya, asal kedua niat baik itu dapat dijembreng (digelar) dengan lugas dan tuntas, tanpa sluman-slumun-slamet…..

Adalah fakta bahwa yang namanya pertambangan itu ya pasti menggali tanah atau batu karena barang tambangnya berada di dalamnya. Karena mineral bijih tembaga, emas dan perak itu ada nyisip dalam bongkah batuan, maka untuk mengambilnya tentu berarti harus mengambil bongkah batuannya. Sama persis seperti kalau mau mengambil pasir ya harus menggali timbunan pasir. Untuk mengambil batatas (ubi) ya harus menggali akar tanaman batatas (ubi). Untuk mengambil sagu ya harus menebang dan menguliti pohon sagu. Untuk memperoleh batu bata ya harus mengambil endapan tanah lempung di bantaran sungai atau sawah. Yang menjadi masalah adalah kalau mau mengambil ubi tapi mencuri tanaman ubi orang lain, atau mengacak-acak lahan milik orang lain, atau tanah hasil galiannya ditimbun begitu saja di kebun orang lain. Atau penggalian pasir dan pembuatan batu bata itu dilakukan di halaman rumah orang lain tanpa ijin.

Pertanyaannya menjadi : Kalau kemudian dinilai ada yang salah dengan Freeport, apakah semua kerja keras itu akan di-stop atau diberhentikan sekarang juga? Dengan tanpa memperhitungkan rentetan akibat dan dampaknya, baik secara teknis, politis, ekonomis, sosial dan aneka sudut pandang lainnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini biarlah menjadi porsi para pakar di bidangnya dan para pengambil keputusan. Lebih baik saya tinggal tidur saja, apalagi barusan sakit gigi yang minta ampun sakitnya……

Namun kalau saya ditanya bisik-bisik (jangan keras-keras lho ya…..), saya akan mengatakan bahwa hanya orang yang lagi esmosi (emosi, maksudnya) dan berpikiran cupet (dangkal) saja yang akan menjawab : “Ya”.

Tapi penambangan Freeport di Papua itu sangat merugikan?. Nah, kalau masalah itu yang dianggap biang keladinya, ya mari dikumpulkan saja semua pihak yang terkait. Pemilik Freeport, pemerintah dan masyarakat yang berkepentingan untuk duduk bersama dengan kepala dan hati dingin, bagaimana merubah yang merugikan itu menjadi menguntungkan semua pihak. Semua kerumitan kemelut itu terjadi sebagai akibat dari adanya sistem peraturan dan pengaturan yang kurang pas yang selama ini telah diberlakukan dan disepakati. Tidak perlu ngeyel atau ngotot-ngototan. Hukum alam mengatakan, bahwa sesuatu itu terjadi pasti karena ada sesuatu yang lain yang tidak pas atau tidak seimbang.

Namun kabar baiknya adalah, selama sesuatu itu masih bernama peraturan (bukan hukum Tuhan), maka pasti merupakan hasil karya manusia. Ya tinggal mengumpulkan manusianya yang membuat peraturan dan kesepakatan itu, untuk kemudian bersepakat merubahnya. Pihak pemerintah memang menjadi juru kunci, maksudnya pihak yang memegang kunci untuk mengurai kemelut di depan gawangnya Freeport. Saya kok sangat yakin, meski sesungguhnya tidak mudah, bahwa banyak cara bisa dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki dan membenahi kekurangan, kekeliruan, ketidakadilan, kerugian, kegagalan, dan hal-hal lainnya, selain pokoknya di-stop saja.

( 5 )

Di sisi lain, kalau kemudian dari fakta-fakta di atas panggung dan di depan layar seperti yang saya kemukakan di atas, ternyata dijumpai ada penari latar yang numpang jingkrak-jingkrak lalu dapat honor gede, ya cancang (ikat) saja kakinya. Dan jika diketemukan indikasi adanya tindak penyelewengan, korupsi, kolusi, nepotisme, kejahatan, dan segala macam hal-hal buruk lainnya, ya bongkarlah dan berantaslah itu. Tangkap penjahatnya, adili dan kenakan sangsi hukuman yang setimpal. Tidak boleh ada kejahatan yang dilindungi atau ditutup-tutupi. Siapapun dia, tidak pandang bulu, kulit, rambut, warna atau baunya dari pihak manapun. Begitu saja kok freeport…..

Jangan karena ada fakta-fakta yang buruk atau tidak menguntungkan, lalu fakta-fakta yang baik dan menguntungkan malah dikorbankan. Sementara untuk meraih fakta-fakta yang baik dan menguntungkan itu diperlukan usaha dan waktu yang tidak sedikit dan tidak mudah.

Hanya masalahnya, ya jangan hanya pintar membongkar, setelah itu dibiarkan saja tidak dipasang lagi. Inilah yang membuat saya nglangut…… Kita cenderung suka mbongkar-mbongkar, mengacak-acak, mengobrak-abrik, setelah itu tidak bisa memperbaiki, menata ulang dan membenahinya menjadi lebih baik.

(Semalam saya bermimpi menjadi pemilik Freeport, lalu saya berpidato di depan khalayak. Begini pidato saya : “Wahai segenap karyawan Freeport, masyarakat Papua, pejabat pemerintah Indonesia, yang sangat saya cintai dan hormati. Sebagai seorang pengusaha tulen, maka saya akan mencari dan menggarap setiap peluang guna meraih keuntungan sebuuuanyak-buuuanyaknya, dengan tetap menjunjung tinggi peraturan dan kesepakatan yang pernah saya tandatangani……..”. Ketika kemudian saya terbangun, saya celatu : “Apa ya saya salah kalau punya pikiran seperti itu…..?”)

Madurejo, Sleman — 13 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Ke Tembagapura (6-14 September 2009)

28 September 2009

Berikut ini penggalan-penggalan catatan perjalanan ke Tembagapura (6-14 September 2009) yang sempat saya posting di Facebook).

——-

Walah.., mau buka bersama di SBY kok ya gagal….. Gara-gara Batavia Air Jogja-SBY delay 2 jam, jadi buka bersama penumpang lain di bandara Jogja saja….

(SBY : Surabaya)

Bandara Adisutjipto – Yogyakarta, 6 September 2009

——-

Insya Allah, melewatkan malam ini di angkasa antara Suroboyo-Timika. Moga-moga pramugarinya menyediakan makan sahur di pesawat, entah dimana…

Bandara Juanda – Surabaya, 6 September 2009

——-

Ngopi dan ngudut dulu di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar… Bandara bagus dan megah, tapi buruk akustiknya…

(Transit di Makassar lumayan lama….)

Bandara Sultan Hasanuddin – Makassar, 7 September 2009

——-

Tadi malam ke UGD Tembagapura, ngobrol-ngobrol dengan dokter, dicek ini-itu + EKG (rekam jantung), siang nanti check up, sore uji nyali dengan treadmill (biar kalau haus sudah dekat berbuka), lalu ngabuburit dengan dokter lagi….. Alhamdulillah, ibadah Ramadhan jalan terus….

(Ketika di pesawat kemarin malam, tiba-tiba sesak nafas, mual, keringat dingin, lemas dan les-lesan… Angin duduk atau jangan-jangan serangan jantung? Begitu pikirku…. Esoknya teman-teman saya menyuruh agar segera saja cek ke dokter, takut ada apa-apa. Akhirnya malamnya saya ke rumah sakit. Uji treadmill diundur karena dokternya pergi mendadak ke Jakarta…)

Tembagapura – Papua, 8 September 2009

——-

Pagi ini saya kirim SMS ke anakku : “Tadi malam ada gempa ya?”. Jawab anakku : “Ya, aku terbangun. Karena gak ada orang lain yang bangun, ya tidur lagi….”.

Kemudian saya balas : “Kalau nanti ada gempa lagi, bangun lagi, lalu tidur lagi ya….”. Ha..ha..ha..ha…

(Pagi ini memperoleh kabar ada gempa cukup kuat terasa di Jogja. Segera saya hubungi anak perempuanku menanyakan kabar mereka…)

Tembagapura – Papua, 8 September 2009

——-

Plong rasanya….. Usai rekam jantung sambil menjalani treadmill siang ini, kata dokter kondisi jantung baik dan normal. Walhamdulillah…

(Menurut analisa dokter, yakin sekali dia bahwa yang saya alami di pesawat waktu malam beberapa hari yll bukan serangan jantung melainkan gejala maag… Sementara kesimpulan ini membuat saya lega dan tersenyum, karena sebelumnya sudah buruk saja pikiranku tentang kemungkinan gangguan jantung….)

Tembagapura – Papua, 12 September 2009

——-

Waduh… Tsel Flash-ku kumat lagiiiii…

(Setelah rada jengkel beberapa jam, akhirnya…)

Selamet…selamet…, Tsel Flash sudah bisa on-line lagi….

(Akhirnya bisa nginternet lagi, di Tembagapura, di atas pegunungan selatan Papua…)

Tembagapura – Papua, 13 September 2009

——-

Alhamdulillah, mission accomplished. Siap-siap mbonceng chopper dari Tembagapura ke Timika, siang terbang ke Solo via Makassar, njuk pulang Jogja…

(Situasi akibat insiden tembak-tembakan di jalur Timika – Tembagapura masih dianggap rawan, makanya saya turun ke Timika dijadwalkan naik helikopter)

Tembagapura – Papua, 14 September 2009

——-

1) Tembagapura-Timika naik heli batal karena cuaca buruk. Lewat darat, pakai rompi anti peluru, ditemani tentara bersenjata, polisi + TNI + panser betebaran…

2) Seperti daerah konflik tanpa musuh. Yang tetap tak terjawab : konflik dengan siapa? musuhnya mana? Biarlah tembaga yang jadi peluru yang nembak kemana2 menjawabnya..

Bandara Mozes Kilangin, Timika – Papua, 14 September 2009

——

Puasa berarti menahan haus dan lapar. Tapi kalau harus menempuh perjalanan Timika-Solo lalu waktu berbukanya diundur 2 jam….. Aaaaaaaalhamdulillah...

(Akibat dari perjalanan dari wilayah WIT ke WITA lalu ke WIB)

Bandara Adisoemarmo – Solo, 14 September 2009

——-

Jam 19:30 WIB masuk rumah… puji Tuhan walhamdulillah. Badan agak nggregess…. Insya Allah, siap-siap dengan another important mission tomorrow…

Yogyakarta, 14 September 2009
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Para Pekerja Borongan

13 September 2009

Hari sudah bergeser lewat tengah malam, memasuki hari ke 21 bulan Ramadhan atau disebut juga malam selikuran. Baru saja kitab lusuh itu saya tutup setelah menyelesaikan membaca surat As-Sajadah. Enaknya langsung nggeblak saja di atas kasur empuk, ingin segera beristirahat untuk nanti bangun lagi saat makan sahur.

Tiba-tiba terdengar nada suara jangkerik, tanda ada SMS masuk. Sembari malas-malasan membuka mata, saya lihat rupanya SMS dari istriku di Jogja. “Kok tumben-tumbenan kirim SMS malam-malam”, kata saya dalam hati. Agaknya dia lupa kalau suaminya sedang berada di wilayah yang waktunya dua jam lebih cepat.

Ketika saya baca SMS-nya berbunyi (ditulis dalam bahasa Jawa) : “Mas, coba lihat Mario Teguh di TV One”.

Saya tersenyum sendiri. Sambil agak kurang bergairah saya balas SMS-nya : “Waduh, lha di kamarku ndak ada TV, je…”. Boro-boro…., TV rusak saja tidak ada, apalagi TV One.

Lalu HP saya letakkan di samping tempat tidur. Maksudnya agar saya bisa mendengar dengan keras, ketika alarm yang saya setel jam setengah empat nanti berbunyi. Itupun sekali waktu pernah kebablasan tidak bangun dan akhirnya tidak makan sahur (lebih tepatnya, ketika alarm berbunyi lalu terbangun sejenak, mematikan alarm, tidak langsung bangun, dan akhirnya tertidur lagi kebablasan hingga terdengar adzan Subuh).

Rupanya SMS berbunyi lagi, kata istriku : “Mengenai lebaran, banyak orang menonjolkan diri padahal banyak utang, berarti sebenarnya tidak bahagia…”, pasti menirukan tuturan Mario Teguh.

Sejenak kemudian menyusul lagi SMS : “Wah, apik tenan…”. Istriku memang penggemar Mario. Sebenarnya saya juga, hanya bedanya kalau istriku penggemar Mario Teguh, kalau saya Mario yang suka cat warna kuning temannya Maria.

Akhirnya saya jadi terjaga dan terpancing memberi komentar : “Kata lainnya : Orang-orang itu menjadikan lebaran sebagai tujuan. Padahal mestinya lebaran itu hasil, sedang tujuannya adalah sempurnanya puasa Ramadhan”.

Tidak lama kemudian datang SMS sambungan : “Kesimpulannya, lihatlah diri sendiri sebagaimana apa adanya, jangan……. Terusnya lupa…..he..he..”, tulis istriku.

“Terusnya : Jangan menjadikan orang lain sebagai ukuran. Lalu perhatikan apa yang terjadi…”, balasku kemudian.
“Ngarang!”, balas istriku dengan cepat.
Lha, coba saja diingat-ingat….., kalau enggak percaya”, balas saya lagi.
Yo wis, nanti tak ingat-ingatnya sambil tidur”, balasan cepat dari seberang sana.
“Ya, betul itu”, kataku. Berbalas SMS akhirnya selesai dengan SMS penutup dari saya : “Ini malam selikuran, tambahi tahajudnya”.

Dan, hilang sudah kantuk saya. Kini malah jadi tidak bisa tidur. Berganti dengan rasa lapar yang ditandai dengan munculnya suara kruyuk-kruyuk dari dalam perut. Tolah-toleh di kamar tidak ada yang bisa dimakan, kecuali ada sedikit sisa kacang kulit yang katanya baik untuk jantung. Maksudnya kalau dimakan secukupnya, sebab untuk jenis perut tertentu kalau makan kacang kebanyakan esoknya mencret.

***

Malam selikuran adalah tradisi yang ada di kalangan sebagian masyarakat Jawa yang maksudnya malam tanggal duapuluh satu Ramadhan yang biasanya diwarnai dengan peningkatan aktifitas beribadah di malam hari. Ya tadarus baca Qur’an, dzikir, sholat malam, i’tikaf, sedekah, kajian di masjid, mushola atau surau, dsb. Disebut tradisi karena tidak ada dasarnya. Namun maksudnya adalah…., eh siapa tahu lailatul-qodar (malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan) turun di malam itu, maka banyak orang sudah siap menyongsong kedatangannya dengan ibadah yang lebih giat dari malam-malam lainnya.

Masalahnya, adalah kalau giat beribadah hanya pada malam selikuran saja dengan harapan berjumpa dengan lailatul-qodar, maka itu sama artinya dengan pasang nomor lotere. Berharap ibadah borongannya pada malam itu dapat bernilai lebih dari seribu bulan, sementara pada malam-malam lainnya acuh tak acuh. Berharap mendapatkan kemuliaan pada malam itu, sementara pada malam-malam lainnya tidak mulia tidak apa-apa. Masih lebih baik kalau disertai harap-harap cemas, artinya ada niat kesungguhan di balik ikhtiarnya. Lha kalau berharap thok, berarti dapat ya syukur, tidak dapat yo wis….

Ibadah borongan ini tentu bukan yang dikehendaki Tuhan bagi hambanya yang sedang berbisnis dengan Ramadhan. Salah satu rahasia kenapa Allah swt. tidak memberitahu kapan lailatul-qodar tiba adalah agar hambanya menjaga kontinyuitas ibadah malamnya. Dan bukan diborong dalam satu malam saja seperti Bandung Bondowoso mborong seribu candi dalam semalam dan terakhir mbangun candi Mendut yang nilainya lebih baik dari seribu candi.

Jika demikian, taruhlah lailatul-qodar benar-benar turun pada malam itu. Rasanya cukup fair kalau kemudian para pekerja borongan itu hanya memperoleh lail-nya (malamnya) saja. Sementara qodar-nya (kemuliaannya) numpang lewat untuk melanjutkan perjalanan mencari dan menemui orang lain yang setiap malamnya bersujud penuh rasa harap-harap cemas menunggu datangnya kemuliaan dan ampunan dari Sang Pemilik Malam.

Pada malam itu lalulintas di angkasa sangat padat dan penuh sesak oleh para malaikat yang sibuk naik-turun menggendong kemuliaan kemana-mana untuk dibagi-bagikan gratis kepada setiap hamba yang bersungguh-sungguh dengan ibadah Ramadhannya. Saking padatnya angkasa raya oleh milyaran malaikat dengan kesibukannya, sehingga…

malam yang cerah menjadi temaram dan syahdu…
udara tidak terlalu dingin tidak terlalu hangat
tapi badan merinding tanpa sebab…
suasana terasa hening seolah semua isi bumi sedang bersujud
sambil menitikkan air mata penuh penghambaan….
dan  angin pun berhembus halus memberdirikan helai-helai bulu kuduk
ketika menyapunya dengan belaian lembut….
Subhanallah!

***

Cara beribadah para pekerja borongan itu tidak beda dengan mereka yang menjadikan lebaran sebagai tujuan. Apapun akan dilakukan untuk memanfaatkan momen lebaran sebagai momen memperoleh pengakuan atas sukses yang telah diraih, yang diwujudkan dalam perlambang-perlambang yang tampak di mata. Meski untuk itu mereka berkorban apa saja yang terkadang menjadi tidak rasional. Karena lebaran yang menjadi tujuannya, maka lebaran itulah yang kemudian akan diperolehnya. Bukan kemenangan, bukan kebahagiaan…

Mestinya lebaran adalah sebuah hasil, tujuannya adalah sempurnanya ibadah Ramadhan, prosesnya adalah penghambaan yang ikhlas selama Ramadhan siang dan malam semata-mata karena mengharap keridhoan-Nya. Dalam konteks beribadah, tujuan dan proses (cara mencapainya) adalah sama pentingnya. Adalah tidak benar kalau untuk tujuan beramal lalu diupayakan dengan merampok atau korupsi. Juga tidak betul kalau melakukan sholat, puasa atau sedekah tetapi tujuannya agar disanjung orang lain. Meski antara tujuan dan proses itu hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu.

Jika tujuan dan prosesnya ditunaikan dengan landasan la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa), maka Insya Allah hasil yang diraih akan datang dengan sendirinya, yaitu kemenangan dan kebahagiaan yang tak terukur nilainya di hari fitri nanti. Tak juga dapat disebandingkan dengan mobil atau sepeda motor baru meski kreditan berplat nomor B, pakaian dan perhiasan gemerlap hasil gesekan kartu kredit, lembar uang baru yang dibagi-bagikan kepada anak-anak tetangga, dan aneka perlambang yang semacam itu.

Dan, sang Hasil ini sekarang sedang gelisah merindukan ingin segera berjumpa dengan orang-orang yang tujuan dan proses ibadah Ramadhanya karena imaanan wahtisaban (karena iman dan berharap ridho-Nya). Semoga dalam Ramadhan kali ini (enggak tahu kalau Ramadhan tahun lalu atau tahun depan), kita semua termasuk ke dalam gerombolannya orang-orang yang sedang dirindukan oleh sang Hasil itu. Amin..

Tembagapura, 11 September 2009 (21 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Ramadhan Dan Malam Ke Tujuhbelas

11 September 2009

Ketika mendadak saya diminta datang ke Tembagapura, Papua, di pertengahan Ramadhan ini dan tidak bisa ditawar untuk ditunda usai Lebaran, hati kecil saya rada ngelangut….. Bukan karena jauhnya, bukan karena situasi kurang kondusif pasca insiden tembak-tembakan, dan bukan juga karena komitmen kerja yang menanti di sana. Melainkan lebih disebabkan kekhawatiran jangan-jangan komitmen pribadi untuk berbisnis dengan Ramadhan akan gagal tidak seperti niat ingsun di awalnya. Atau memang ini tantangan menuju kesempurnaan berbisnis dengan Ramadhan?

Apa bedanya ber-Ramadhan di rumah sendiri dengan di tempat orang? Hanya pada keleluasaan kesempatan, kekhusyukan dan tantangannya. Setiap keputusan dan pilihan tentu mengandung konsekuensi dan resiko. Adanya komitmen untuk memenuhi undangan, berakibat waktu yang tersisa menjadi tidak seleluasa dibandingkan dengan komitmen untuk menjalankan rencana kegiatan sendiri di rumah. Ya, ini memang hanya kegalauan perasaan hati yang tidak tampak di mata yang bagi sebagian orang barangkali kedengaran seperti mengada-ada.

Akhirnya, saya mengiyakan permintaan itu. Sempat saya pesimis lalu menyampaikan excuse kepada anak lelaki saya : “Wah, boss…”, kata saya kepada anak lelaki saya. “Sepertinya bapak bakal tidak bisa khatam baca Qur’an kali ini….”. Komentar anak saya malah bernada manas-manasin : “Ah, bapak pasti bisa…!”. Lalu sebuah kitab suci lusuh yang lebih setengahnya sudah saya baca di Ramadhan kali ini pun saya sisipkan di samping laptop di dalam tas ransel yang sama lusuhnya yang akan saya gendong kemana-mana.

***

Hari Minggu, 6 September 2009 sore saya siap terbang meninggalkan bandara Adisutjipto, Jogja. Menurut jadwalnya, Batavia Air yang akan saya tumpangi akan mendarat di bandara Juanda, Surabaya, bersamaan dengan waktu berbuka. Rupanya pesawat ke Surabaya mengalami penundaan sekitar sejam. Tapi itu justru berakibat waktunya jadi nanggung terhadap waktu berbuka puasa, akhirnya pesawat ditunda lebih dua jam guna memberi kesempatan kepada penumpang untuk berbuka dahulu di bandara Jogja sekaligus sholat maghrib. Barangkali inilah jenis penundaan keberangkatan pesawat yang tidak digerutui penumpangnya. Sekotak nasi padang yang rasa padangnya kurang mak nyuss pun dibagikan sebagai teman berbuka.

Tiba di Surabaya langsung check-in ke pesawat Airfast Indonesia yang akan terbang jam 22:35 menuju Makassar dan Timika. Waktu menunggunya cukup lama. Kebetulan, pikir saya. Cukup waktu untuk mampir mushola menunaikan sholat Isya’, lalu sholat tarawih, dan kitab suci lusuh pun saya keluarkan dari tas ransel. Surat An-Nur (surat ke 24 yang berarti cahaya) dapat saya selesaikan membacanya di mushola bandara sambil menunggu saat panggilan boarding. Akhirnya pesawat MD 82 Airfast Indonesia mengangkasa menjelang tengah malam menuju Makassar dan Timika. Sudah terbayang kalau sepanjang malam itu bakal saya lewatkan di angkasa antara Surabaya dan Timika hanya dengan duduk atau tertidur.

Selewat tengah malam, belum lama meninggalkan bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, yang indah, megah dan bertampilan futuristik tapi akustik sistem suaranya mengecewakan, saat liyer-liyer hendak tidur, mendadak dada saya terasa seperti ditekan benda berat. Tarikan nafas menjadi berat sekali, keringat dingin membasahi badan, perut terasa kembung, mata seperti berat untuk dibuka sepertinya ingin segera terlelap, kepala kliyengan dan les-lesan… (entah apa bahasa Indonesianya) seperti berada antara sadar dan menjelang pingsan.

Benar-benar situasi yang tak terlukiskan tidak enaknya. Seumur-umur midar-mider naik pesawat belum pernah saya mengalami situasi yang seperti malam itu. Saya lihat penumpang di sekeliling saya semua ngleker dalam tidurnya, di bawah cahaya temaram kabin pesawat. Sementara saya sendiri klisikan (sibuk dalam hening) menahan sakit dan ketidak-nyamanan yang tak terperikan.

Hampir saja saya memanggil pramugari minta pertolongan saking tidak tahannya merasakan apa yang saya alami. Tapi sempat terpikir, kalau hal itu saya lakukan, betapa seisi pesawat akan geger oleh ulah saya. (Heran juga masih sempat mikir. Inilah jadinya kalau punya otak terbiasa digunakan mikir apa saja. Hanya sedekah dan hajat yang terbuang saja rasanya yang tidak ingin saya pikir…).

Sempat mengingat-ingat tentang hal yang pernah saya dengar dan saya baca terkait fenomena yang saya alami saat itu, sepertinya menyerupai tanda-tanda orang terkena serangan jantung. Sementara saya menyadari adalah seorang yang rentan dengan kemungkinan mengalami hal itu. Seorang perokok, pemalas olah raga, jenis hewan berakal pemakan segala, dan rekam jejak saya dulu pernah divonis dokter memiliki gejala penyumbatan pembuluh jantung, meski kemudian dinyatakan sehat kembali. Uiiih…, klop sudah. Semua syarat terpenuhi. Kemungkinan terburuk segera membayang di pikiran saya. Jangan sampai mengikuti cara Munir, sang tokoh Kontras, menghadap Sang Khalik.

Hal yang kemudian saya lakukan adalah berusaha sekuat tenaga agar tidak pingsan supaya saya tahu persis apa yang terjadi pada setiap detik yang saya lalui dan memastikan bahwa jantung saya tetap berdetak. Selain itu tentu saja berdoa. Segera kalimat-kalimat dzikir menghiasi bibir, hati dan pikiran saya. Sementara penumpang lain tetap terlelap dalam tidurnya, saya berjuang mengatasi masalah saya sendiri.

Saya gunakan kedua kuku ibu jari untuk menekan dan menusuk-nusuk sekuat-kuatnya ujung-ujung jari yang lain, dengan tujuan untuk menciptakan sensasi rasa sakit sesakit-sakitnya agar saya tetap terjaga. Kalaupun sampai berdarah, barangkali saya tidak perduli. Sesekali saya mencoba batuk sebatuk-batuknya meskipun saya tidak sedang sakit batuk, dengan tujuan agar jantung saya terangsang untuk terus bekerja. Kalimat-kalimat dzikir pun terus saya lafalkan dalam hati nyaris tanpa putus.

Sekitar 4-5 menit yang bagi saya malam itu begitu menegangkan, kemudian mereda dan berlalu, kondisi berangsur normal, saya bisa menarik nafas panjang, sedang kalimat dzikir tetap terus tak terputus. Akan tetapi sekitar 15 menit kemudian situasi dramatis itu berulang kembali. Perjuangan yang sama kembali saya lakukan melawan datangnya serangan kedua.

Hingga detik itu sebenanya saya belum tahu pasti apakah itu serangan jantung, serangan perut, serangan atau sebab lain, karena memang saya belum pernah mengalami hal semacam itu sebelumnya. Akan tetapi saya pikir, kemungkinan terburuk haruslah menjadi satu-satunya alasan saya untuk bertindak semaksimal mungkin dalam situasi yang tanpa punya pilihan. Konon, orang dulu sering menyebutnya angin duduk. Tapi duduknya angin ini pun memang tak terduga duduk penyakitnya, artinya bisa berarti macam-macam penyebabnya. Sekitar 4-5 menit serangan kedua berlangsung, lalu situasi kembali mereda.

Tidak berapa lama setelah serangan kedua, kemudian lampu kabin pesawat menjadi terang. Rupanya tiba saatnya pramugari membagikan makan malam menjelang pagi, atau makan sahur bagi yang berpuasa. Tidak sabar rasanya saya ingin segera minum teh manis hangat. Menu pagi itu rupanya lontong opor, mengingatkan saya pada menu unggulan saat Lebaran. Lima iris kecil lontong dengan opor daging (bukan ayam kampung) ditemani sambal dalam sachet dan sebungkus kecil kerupuk, dengan lahap saya habiskan, meski taste opornya sebenarnya agak kurang pas (heran juga, kalau sudah urusan makan sepertinya tak terpengaruh dengan derita yang barusan saya alami).

Serangan fajar rupanya belumlah usai. Kejadian yang pertama dan kedua sebelumnya sungguh membuat saya trauma ketika beberapa menit setelah makan saya mulai merasakan tanda-tanda yang sama seperti sebelumnya. Itulah kemudian datangnya serangan ketiga dan keempat yang berselang sekitar 10-15 menit. Hanya kali ini kekuatannya tidak seberat yang pertama dan kedua. Bagai gempa susulan yang biasanya intensitasnya menurun dibanding gempa utamanya. Tapi perlawananan yang sama kerasnya tetap saya lakukan. Saya tidak ingin lengah sedetikpun. Jangan sampai serangan kelima dan seterusnya datang lagi di saat saya sedang terlelap. Entah sudah berapa ribu kalimat dzikir saya lafalkan tanpa henti, tak juga saat makan dan minum. Karena hanya itu senjata pamungkas yang saya miliki.

Hingga akhirnya saya kecapekan sendiri dan tertidur selama beberapa menit. Sebelum kemudian terbangun dan saya lihat jam di ponsel (saya tidak punya arloji) menunjukkan sekitar pukul 3:30 WITA atau 4:30 WIT, dan saya tidak tahu sedang berada di atas mana. Sholat subuh segera saya tunaikan sambil duduk di pesawat yang sedang menuju ke timur. Kalau dunia ini bulat maka terus menuju ke arah timur akhirnya akan sampai ke barat juga, dan di sana ada kiblat. Tidak lama kemudian dari jendela pesawat tampak langit mulai cerah dengan semburat awan putih mulai menghiasi angkasa Indonesia.

Sekitar jam 5:30 WIT, hari Senin, 7 September 2009, akhirnya pesawat Airfast Indonesia mendarat dengan selamat di bandara Mozes Kilangin, Timika. Lengkap beserta seorang penumpangnya yang semalam tadi merasa nyaris “wassalam”…. Dari pintu kedatangan bandara lalu berpindah menuju ke landasan helikopter, naik ojek bayar Rp 5.000,- dan akhirnya tiba di Tembagapura setelah menempuh perjalanan dengan chopper bersama tumpukan sayur-mayur (harga sayurnya pasti jadi mahal, lha wong naik chopper) sekitar 20 menit menyusuri punggungan pegunungan Papua selatan.

***

Tinggal kemudian saya dheleg-dheleg…. diam tepekur, sambil mencoba merenungi pengalaman dramatis yang saya alami malam itu. Sederet pertanyaan menggelayut di pikiran dan mencari jawabannya. Lakon apa sebenarnya yang sedang diajarkan Tuhan kepada saya dalam perjalanan malam itu? “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya di malam hari minal-Surabaya ilal-Timika…”, begitu yang ingin saya kaji, kalau boleh saya menyitir penggal ayat pertama kitab Qur’an surat Al-Isra’.

Kaidah pertama yang harus saya pegang adalah bahwa saya harus berprasangka baik kepada Tuhan, karena “Aku mengikuti prasangka hambaKu dan Aku menyertainya di mana saja ia ingat Aku”, kata Allah dalam sebuah Hadits Qudsi. Kaidah kedua adalah bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam ini yang kebetulan belaka. Apakah itu adalah cara Tuhan memaksa saya agar beribadah di malam itu, sementara tidak mungkin dengan sholat atau baca kitabnya, maka semalaman saya “dipaksa” berdzikir sejak dini hari hingga pagi tanpa terputus.

Tapi untuk apa Tuhan repot-repot memaksa saya? Jangan-jangan itu adalah jawaban atas kegelisahan dan kegalauan hati saya sebelum saya berangkat yang ketika itu khawatir tidak bisa berbisnis dengan Ramadhan secara sempurna sebagaimana kalau saya tinggal di rumah.

Tapi kenapa harus malam itu saat saya sedang di angkasa entah dimana? Kenapa bukan pada malam berikutnya saja ketika saya sudah santai-santai di pelukan dinginnya hawa pegunungan di Tembagapura? Tiba-tiba…. Subhanallah, Maha Suci Allah, saya baru ngeh bahwa rupanya malam itu adalah malam tujuh belas Ramadhan. Malam dimana segepok ayat-ayat Qur’an diturunkan dari lauhil mahfudz (langit tertinggi) ke baitul izzah (langit dunia), sebelum kemudian di-icrit-icrit (bertahap) diwahyukan kepada nabi Muhammad saw selama 23 tahun.

Malam lailatul qodar? Kalau iya, maka Tuhan sungguh telah menjawab dan memberikan solusi atas kegalauan hati saya. Kalau tidak, maka Tuhan telah menegur dan mengingatkan saya agar jangan terputus berdzikir kepada-Nya kapanpun dan dimanapun saya berada, baik sedang sehat maupun sakit, sedang lapang maupun sempit, sedang suka maupun duka. Wallahu a’lam.

Tembagapura, 9 September 2009 (19 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Keluar Dari Tembagapura Naik Heli

20 Juli 2009

Alhamdulillah, pagi ini bisa sampai Timika…, naik chopper. Insya Allah nanti sore terbang ke Jakarta.

(Kebetulan cuaca pagi hari sedang bagus dan ada trip heli atau chopper dari Tembagapura ke Timika. Hanya butuh waktu tempuh 15 menit lebih sedikit, dibanding perjalanan darat 2 jam menyusuri gigir pegunungan)

Timika, 20 Juli 2009 (siang)
Yusuf Iskandar

***

Untung tadi pagi bisa mbonceng Heli, sehingga bisa keluar dari Tembagapura menuju Timika yang jalan keluar-masuknya masih ditutup.

Malam ini mendarat di Jakarta. Sampai hotel langsung nggeblak…. Terpaksa belum sempat pulang ke Jogja, karena perjalanan (Insya Allah) masih akan berlanjut….

(Dari Tembagapura jam 7:00 WIT. Rencana semula dari Timika mau langsung nyambung pesawat Airfast Indonesia jam 9:00 WIT, tapi ternyata pesawat ditunda jam 16:00 WIT sore. Lao-lao — santai – dulu di hotel Rimba Papua yang dulu bernama Sheraton Timika. Penerbangan dari Timika transit di Makassar dan Surabaya, hingga sekitar jam 19:30 WIB tiba di Jakarta)

Jakarta, 20 Juli 2009 (malam)
Yusuf Iskandar

Mexican Food Dan Daun Ciplukan

17 Juli 2009

Santap malam mexican food di resto ‘the Lups’, sambil ngobrol ngalor-ngidul soal tembak-tembakan, bom-boman, dan…… ya makan itu tadi….. Penutupnya minum jamu favorit, rebusan daun ciplukan. Wupps…., pahitnya minta ampyun.

(The Lups adalah kependekan oleh lidah bule untuk menyebut nama restoran di kota tambang Tembagapura yang lengkapnya bernama ‘Lupa Lelah Club’)

Tembagapura, 17 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Terpaksa Belum Bisa Meninggalkan Tembagapura

17 Juli 2009

Maksud hati Sabtu besok pulang ke Jogja, apa daya jalan dari Tembagapura menuju ke Timika masih ditutup karena (dinyatakan) belum aman. Terpaksa pulangnya mundur entah sampai kapan…. Ugh, tidur lagi aja ah…. (tahu-2 terbangun, ada bom njebluk di Jakarta…..)

(Sejak insiden penembakan hari Sabtu, Minggu, Selasa, Rabu dan terakhir Jumat, praktis selama empat hari terakhir ini jalan utama Timika – Tembagapura terutama antara Mile-50 – Mile-66 yang merupakan kawasan perbukitan ditutup, karena menurut aparat polisi masih dinyatakan belum aman)

Tembagapura, 17 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Pagi Mendung Di Tembagapura

16 Juli 2009

Pagi mendung berkabut tipis di Tembagapura
Berjalan menyusuri pepohonan cemara
yang sensasi baunya begitu menggairahkan
Melupakan sejenak mbak-temmbak…..
nun tidak terlalu jauh di luar sana…..

Tembagapura, 16 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Ke Tembagapura Di Saat Yang “Kurang Tepat”

13 Juli 2009

Alhamdulillah, malam ini sekitar jam 20:00 WIT sampai juga saya di Tembagapura, Papua. Setelah sempat 6 jam tertahan di area Mile-50, akhirnya ikut rombongan konvoi bis karyawan dikawal polisi melewati “medan tempur” Mile 51-53. Asyik…asyik…, soalnya sopir dan penumpang lainnya saya tinggal tidur di bis….

Tembagapura, 13 Juli 2009
Yusuf Iskandar

***

Tadi malam berangkat dari rumah JK terus ke SBY….., sore tadi sudah sampai TIM….. (JK: Jogjakarta; SBY: Surabaya; TIM: Timika)

Malam ini nginap di Timika dulu (hotel Rimba Papua, dulu bernama Sheraton Timika), sambil menunggu penembaknya pergi….. Menikmati menu healthy food, baramundi rebus + sayur mentah, dimakan pakai garam + merica, kentang panggang….

(Sejak ada insiden penembakan pada Sabtu pagi dan Minggu siang, 11-12 Juli 2009, di area Mile 52-53 jalur jalan dari Timika menuju kota tambang Tembagapura, lalu lintas semua kendaraan sangat diperketat dan dibatasi untuk alasan keamanan)

Timika, 12 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Tiba Kembali Di Jogja

1 Juni 2009

Alhamdulillah…, pagi ini tiba kembali di Jogja, setelah sejak kemarin siang menempuh perjalanan poanjang… dari Tembagapura – Timika – Makasar – Denpasar – Surabaya – Jogja……

MD82(Tembagapura ke Timika lewat darat 2 jam, lalu naik pesawat MD 82/83 Airfast Indonesia terbang dari Timika jam 16:00 WIT dan tiba di Surabaya jam 20:30 WIB, lalu disambung dengan mobil Suzuki APV carteran berombongan, akhirnya tiba di Jogja Senin pagi)

Yogyakarta, 1 Juni 2009
Yusuf Iskandar

Sebelum Meninggalkan Tembagapura

30 Mei 2009

Lanjutan catatan harian……
Minggu sore, 31 Mei 2009, terbang kembali ke Jogja.

Yusuf Iskandar

——-

Tiba-tiba Disapa Sang Motivator

Tiba-tiba tadi siang ditilpun Pak Yusef J. Hilmi (seorang motivator yang suka blusukan di wilayah nusantara). Katanya numpang lewat Jogja dalam perjalanan menuju Solo. Mudah-mudahan agenda workshop ‘Smart Parenting’ Minggu besok sukses dan lancar…. Sampai ketemu di belahan nusantara lainnya… Semoga kelak sampai juga ke wilayah Timur. Salam.

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Masih Ada Kereta Makan Yang Lewat

Rupanya kereta makan hari ini masih lewat dua kali….

Pertama, ada yang mengundang makan siang di pasar ‘Shopping’ Tembagapura, dengan tawaran menu londo, namanya chicken barbeque…. (Terima kasih Pak/Bu Widodo Margotomo).

IMG_2407_rIMG_2404_r

Kedua, ada yang menjemput untuk makan malam di rumahnya, dengan menu nasi uduk, ayam serundeng, teri-kacang-kering…. (Matur nuwun Pak Amal Rahman dan Bu Sylvia atas masakannya yang hmmmmm…… pingin lagi, deh…..)

IMG_2416_rIMG_2418_r

Insya Allah Minggu sore besok terbang dengan pesawat Airfast, kembali ke negeri Ngayogyokarto Hadiningrat yang rajanya urung jadi capres….

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Nyruput Kopi Amungme Gold

Pagi-pagi nyruput kopi arabika Amungme Gold dari pegunungan Nemangkawi, Papua. Mak thengngng… betul…! Nikmat sekali. Pokoknya beda.

IMG_2280_rKalau ingat kopi ‘Jasa Ayah’ hanya theng.. kalau disruput di Ulee Kareng, Aceh. Kopi ‘Hawaii’ hanya enak kalau diminum di Kijang, Bintan. Kopi ‘Asia’ hanya nikmat kalau diminum di Pontianak.

Tapi kopi Amungme Gold enak terus… aroma dan taste-nya sekelas Starbucks, juga harganya. Karena itu jangan ada yang minta oleh-oleh. Harap maklum budget Panitia terbatas… (he..he..he..).

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Anakku Ngajak Ke Rinjani

Ketika ada berita pendaki gunung yang hilang di G. Argopuro & G. Ciremai, saya SMS anak saya di Jogja agar melihat beritanya di TV.

Besoknya anak saya yang lagi suntuk nungguin hasil UAN SMP kirim SMS : “Bapak pulang kapan?”. Saya pikir berhenti sampai di situ saja. Esoknya lagi kirim SMS, katanya : “Bapak, kalau pulang dari Papua nanti kita ke Rinjani ya…?”. Mak glek... tenggorokanku. Dikiranya perjalanan Jogja – Lombok ki mbecak opo yo…..

Tembagapura, 30 Mei 2009

——-

Ikan Laut, Ikan Ayam, Ikan Daging…

IMG_2402_rTadi malam diundang acara syukuran (mas Wahyu Sunyoto menempati rumah baru). Acara intinya… ya tetap makan-makan… Ada sup asparagus, sate kambing, mi goreng, tumis kangkung, mpek-mpek, apa lagi ya…….., oh ya…, ada ikan laut, ikan ayam, ikan daging… (he..he.. jawa biyangeth…).

Mudah-mudahanan masih ada kereta makan yang akan lewat…..

Tembagapura, 30 Mei 2009

Catatan Dari Tembagapura – Mei 2009

27 Mei 2009

Berikut ini catatan-catatan pendek perjalanan saya ke kota tambang Tembagapura, kabupaten Mimika, Papua, yang sempat saya posting di Facebook (saya tulis ulang dengan penyempurnaan penulisannya agar lebih enak dibaca).

Yusuf Iskandar

———-

Jamblang dan Sate Lilit

Kemarin malam saya diundang makan malam oleh seorang teman (mas Ridwan Wibiksana) dan disuguhi jamblang, masakan khas Cirebon (tumis cabe merah yang bijinya sebagian dibuang, diramu dengan irisan daging)…. hewes..hewes… kepedasan….

Malam ini diundang oleh seorang teman lainnya, yaitu keluarga Pak Ketut Karmawan (kalau tidak salah berasal dari Bali), disuguhi sate lilit (berbahan daging ayam), petai goreng lengkap dengan sambal terasi, bawal goreng dengan sambal tomat, tumis kacang panjang, dll. Wuih…, di saat malam-malam dingin di lokasi berketinggian lebih 2300 mdpl (meter di atas permukaan laut), tapi bisa juga kepala keringatan….

Tembagapura, 26 Mei 2009

—–

Alhamdulillah…..

Alhamdulillah….. pagi ini terasa sakit pada lutut dan paha setelah ikut lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’ hari Minggu kemarin. Kaki terasa sakit untuk jalan, mlanjer, njarem, kemeng, loro kabeh, terasa sakit semua…. Sepertinya sudah agak lama saya tidak menikmati hal seperti ini. Trims, Tuhan….

Tembagapura, 25 Mei 2009

—–

Kakap Woku Belanga

Seorang teman yang agak pinter masak dan hobi memancing, malam ini mengundang saya makan malam. Menu yg ditawarkan : kakap woku belanga (kakapnya hasil mancing di laut), ayam goreng, ca sawi campur telur, minumnya teh tubruk. Ya, jelas saya langsung berangkat ke rumahnya to…. Sampai perut kemlakaren…., kekenyangan. Lalu ngobrol ngalor-ngidul sampai malam. Terima kasih, kawan…. (kawan saya itu namanya pak Herry Siswanto).

Tembagapura, 24 Mei 2009

—–

Ikut ‘Race To The Clouds’

Bisa juga saya mencapai garis finish, lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’, di urutan ketiga (dari belakang… he..he.., peserta yang lain cukup butuh waktu 1,5 – 2 jam, saya selesai dalam 3 jam lebihnya banyak). Sangat menantang, start di lokasi berelevasi 1988 mdpl (meter di atas permukaan laut), lalu mendaki menuju lokasi berelevasi 2908 mdpl, dan turun lagi.

Bersyukur saya masih sempat ikut kegiatan “aneh” ini di lokasi yang tidak pernah saya sangka… Saya membayangkan seperti sedang perjalanan mendaki gunung. Meski belum cukup memacu adrenalin…

Tembagapura, 24 Mei 2009

—–

Mbah Wardi

Tadi siang ketemu teman lama yang ahli urut (pijat) sekaligus melakukan ‘scan’ penyakit. Sewaktu saya masih karyawan dulu, sering saya buktikan hasil ‘scan’-nya ternyata tepat dibanding angka hasil pengecekan laboratorium di Rumah Sakit yang saya lakukan esoknya, termasuk kadar asam urat, kolesterol, dsb. Edan…..

Setelah itu biasanya dia memberitahu resep jamu ramuan herbal atas penyakit yang diderita pasiennya. Ramuannya bisa dicari di halaman sekitar atau membeli di pasar. ‘Cilakaknya’, kok ya terbukti manjur…. Teman saya itu bernama Suwardi, teman-teman biasa memanggilnya Pak Wardi, tapi ada juga yang merasa lebih akrab memanggil Mbah Wardi….

Tembagapura, 23 Mei 2009

—–

Sepatu Baru

Akhirnya sepatu baruku bisa ditukar dengan yang lebih besar ukurannya. Waktu itu membelinya hanya titip teman di pasar Timika, harganya Rp 99.950,- tapi tidak ada kembaliannya. Hari Minggu besok mau dipakai ikut lomba kebut gunung ‘Race to the Clouds’, menempuh jarak lebih 13 km, mendaki 930 m, di elevasi 2000 – 3000 mdpl (meter di atas permukaan laut), di tengah Papua. Mudah-mudahan bisa mencapai sasaran, dan yang penting bisa turun kembali….., biarpun paling buntut saat semua panitia sudah bubar….

Tembagapura, 23 Mei 2009

—–

Dinner Di Lupa Lelah Club

Malam ini diajak dinner oleh seorang teman (namanya pak Joko Basyuni) di Lupa Lelah Club (nama sebuah resto di kota tambang Tembagapura, Papua). Bagi pengunjung tempat ini harapannya tentu agar dengan makan-minum di klab ini segera akan lupa dengan segenap rasa lelah, capek, kesal, dan sebangsanya sehabis seharian sibuk dengan kerja di lapangan.

Ketika pulang? Ya lelah lagi……., mendingan nggeblak tidur ah….

Tembagapura, 21 Mei 2009

—–

Tsel Flash

Tsel Flash benar-benar kemayu dan menggemaskan. Pingin tak pithes…. (tapi nanti malah tidak bisa online…). Sudah ditinggal ke belakang kok ya masih saja lenggut-lenggut kayak sapi kekenyangan…

Tembagapura, 20 Mei 2009

—–

Menyusuri Pepohonan Cemara

Hawa segar pagi hari, berjalan agak mendaki menyusuri pepohonan cemara yang aroma daun-daunnya sangat khas. Sensasi bau-bauan yang sering dijumpai saat melintasi hutan pertama ketika mendaki gunung…..

Tembagapura, 20 Mei 2009

—–

Online Di Tembagapura

Akhirnya bisa juga ng-online di Tembagpura (menggunakan Tsel Flash yang jalannya menggemaskan…). Ini adalah kota tambang di tengah Papua, berada di ketinggian +/- 2000 mdpl (meter di atas permukaan laut), di lembah pegunungan terjal, sering berkabut, hujan, dingin, mudah lapar, ingin kencing terus, paling enak kemulan sarung… terus enggak usah kerja….

Tembagapura, 19 Mei 2009

—–

Mendarat Di Timika

Jam 18:00 WIT pesawat Airfast yang saya tumpangi dari Surabaya mendarat di bandara Mozes Kilangin, Timika. Malamnya menikmati karakah (kepiting) goreng mentega di Rumah Makan ‘212’ (tapi pasti tidak ada hubungan saudara dengan Wiro Sableng), di Jl. Belibis, Timika. Alhamdulillah, bisa kembali mengunjungi kota ini……

Timika, 16 Mei 2009

Pahala Betebaran Di Pasar

18 April 2009

img_2098_pasar2

Hampir tiga minggu saya menghabiskan waktu berkunjung ke Tembagapura Papua, belahan Indonesia dimana saya pernah tinggal cukup lama di sana. Kesempatan berharga itu saya manfaatkan untuk bersilaturahim dengan teman-teman lama. Bertemu dan bercengkerama dengan teman lama selalu menjadi bagian kehidupan yang mengasyikkan. Satu demi satu, terkadang berkelompok, bekas teman kerja saya dulu saya jumpai. Bertegur sapa, bertukar pikiran, sekedar guyon sampai cekakakan, sesekali agak serius menimbang-nimbang hari esok (meski dari waktu ke waktu bobot timbangannya kok ya tetap saja sama…..).

Hingga sehari menjelang meninggalkan Tembagapura, menyesal sekali ternyata masih ada dua orang sahabat lama yang belum sempat saya jumpai. Padahal sebelumnya saya sangat berharap akan bisa bertemu. Sudah saya sempatkan datang ke tempat kerjanya dan tidak ketemu juga. Ya, sudah. Hingga malam terakhir di Tembagapura, saya berpikir barangkali memang belum menjadi rejeki saya dan kedua teman saya itu untuk bertemu. Atau ini justru pertanda baik bahwa saya bakal punya kesempatan lagi untuk kembali berkunjung ke sana.

***

Tiba harinya saya harus meninggalkan Tembagapura. Pagi harinya saya sempatkan untuk mampir ke “Shopping”. “Shopping” adalah sebutan salah kaprah bagi warga Tembagapura untuk sebuah kompleks perbelanjaan, dimana masyarakat yang adalah karyawan PT Freeport Indonesia biasa pergi berbelanja untuk memenuhi kebutuhan hidup ataupun sekedar jalan-jalan. “Shopping” adalah sebuah tempat semacam pasar moderen (yang bukan tradisional).

Tujuan saya pergi ke “Shopping” sebenarnya adalah untuk membeli oleh-oleh. Sebab anak saya di Jogja yang dulu sempat menghabiskan sebagian masa kanak-kanaknya di Tembagapura sudah pesan agar dibelikan oleh-oleh berupa coklat yang tidak ada di Jogja. Weleh…., permintaan yang rada susah. Telanjur saya sudah berjanji untuk memenuhi pesan anak saya.

Seingat saya, coklat di sana yang tidak ada di Jogja setidaknya ada dua pilihan. Yang pertama coklat impor yang memang sesekali didatangkan langsung dari negeri seberang. Yang kedua adalah tahi babi. Jelas, yang kedua saya kesampingkan tanpa perlu berpikir (wong begini kok ya diceritakan…., ya salah sendiri kok dibaca…). Akhirnya saya temukan juga coklat merk “Dove” buatan Australia, meski harganya jauh lebih mahal dibanding coklat sejenis buatan dalam negeri yang dari segi rasa, aroma dan keenakannya sebenarnya sama.

Ee… ndilalah…. , di pasar “Shopping” itu tiba-tiba saya bertemu dengan salah seorang dari dua sahabat lama saya. Padahal hingga semalamnya saya pikir kesempatan itu sudah berlalu. Kok ya pagi itu ketemu di pasar “Shopping”. Alhamdlillah, saya seperti menerima bonus menjelang saya meninggalkan Tembagapura.

Siang harinya saya sudah sampai ke kota Timika setelah menempuh perjalanan dua jam dari Tembagapura. Saya memang berencana ingin singgah semalam di Timika sebelum besoknya menuju Jakarta. Di siang yang cukup terik itu saya jalan-jalan masuk ke pasar tradisional “Swadaya” di tengah kota Timika. Suasana pasar masih tampak ramai. Menyusuri lorong-lorong pasar tradisional memang memberi nuansa yang berbeda. Kesan panas, sumpek, padat, bau, becek dan berisik, segera terasa. Kalau tidak becek dan tidak bau pasti bukan pasar tradisional.

Ee… ndilalah lagi…., di tengah pasar tiba-tiba saya dikejutkan dengan suara panggilan seseorang. Rupanya dia adalah seorang lagi dari dua sahabat lama saya yang kemarinnya belum sempat ketemu. Kok ya siang itu ketemu di dalam pasar Timika. Puji Tuhan, saya merasa seperti menerima tambahan bonus.

Hari itu, saya benar-benar seperti menerima berkah yang luar biasa. Bisa jadi ini bukti bekerjanya “law of attraction”, atau wujud dari rahasianya “the Secrets”, atau Tuhan telah merealisasikan prasangka baik saya dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Tapi kenapa Tuhan memilih pasar sebagai lokasi pertemuan saya dengan masing-masing dari kedua sahabat lama saya itu. Suatu kebetulan? Kejadiannya, mungkin “Iya”. Tapi hakekatnya tentu saja “Tidak”. Karena di dunia ini tidak ada yang kebetulan, melainkan semuanya ada dalam skenario Tuhan, bagi yang percaya tentu saja. Lha bagi yang tidak percaya? Ya, tetap saja masuk dalam skenario Tuhan juga.

***

Hal yang kemudian mengusik rasa ingin tahu saya adalah kenapa Tuhan memilih pasar (Memang ada apa dengan pasar? Ya tidak apa-apa. Wong hanya pikiran saya saja yang kelewat tidak ada yang dipikirin…). Lha, wong namanya pasar, adalah tempat bertemunya para pencari kebutuhan dan penyedia kebutuhan, barang atau jasa. Pasar adalah tempat berkumpulnya pembeli dan penjual, tempat orang-orang melakukan transaksi, berbisnis, ber-mu’amalah, bersosialisasi, yang baik maupun yang buruk. Bisa jadi yang disebut pasar ini bentuknya bukan sebuah tempat yang bisa dikunjungi seperti pasar “Shopping” yang moderen atau pasar tradisional yan becek dan bau, melainkan sebuah keadaan atau suasana berinteraksi bisnis, perniagaan nyata maupun maya.

Herannya, saya percaya bahwa tentu bukan tanpa maksud kalau Tuhan mempertemukan saya dengan dua orang yang saya pikir tidak akan sempat ketemu itu justru di pasar. Saya pikir, barangkali karena di sanalah tempat atau momen paling strategis bagi para malaikat Tuhan untuk sibuk nyontrengi kolom pahala atau dosa. Untuk menjadikan pertemuan kami sebagai sebuah ujian bagi kebaikan atau keburukan, berkah atau bencana, manfaat atau mudharat.

Kalau orang bertemu di rumah ibadah atau majelis peribadatan, Wow… “enak sekali” tugas malaikat untuk langsung mencontreng pada kolom pahala, karena relatif kebanyakan akan cenderung masuk ke kategori itu. Tapi kalau di pasar…?, peluang masuk kategori pahala dan dosa menjadi sama besar. Sebab pasar adalah tempatnya pahala dan dosa betebaran. Tempatnya orang jujur dan penipu besatu, kesalehan dan kemaksiatan berbaur, syarikat dan konspirasi terbangun, prasangka baik dan buruk bersilangan, rejeki keberuntungan dan kebangkrutan silih berganti.

Karena itu kalau kita ingin sukses, kaya, beruntung dan meraih keberkahan (kemanapun tempat ibadah yang biasanya kita kunjungi, kecuali yang tidak biasa…), sering-seringlah berada di pasar, tapi juga berhati-hatilah. Mau mencontreng pahala atau dosa, memilih berkah rejeki atau bencana, mau koaya-roaya mendadak atau untung kecil tapi lumintu (langgeng), itu tergantung pilihan kita dalam berbisnis di pasar. Sebab tidak ada yang kebetulan. Tuhan telah menyediakan surat suaranya, tinggal kita mencontrengnya. Dan jika kita ternyata memilih golput, jangan-jangan itu pertanda bahwa kehidupan kita sudah berakhir.

Yogyakarta, 18 April 2009
Yusuf Iskandar

img_2099_pasar1

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu

5 April 2009

Dalam perjalanan pulang dari Tembagapura, Papua, saya menyempatkan untuk menginap semalam di Timika. Saya menginap di Base Camp yang merupakan salah satu fasilitas dan berada di dalam kawasan pertambangan PT Freeport Indonesia. Tentu saja gratis. Base Camp ini lokasinya dekat dengan bandara Mozes Kilangin yang berjarak sekitar 3 km dari pusat kota Timika, ibukota kabupaten Mimika.

Tujuan saya menginap semalam di Timika adalah ingin mampir ke warung seafood “Surabaya” sekedar melepas kangen menikmati karakah (kepiting) Timika. Terakhir kali saya mampir ke sana sekiar lima tahun yang lalu. Karena Base Camp ini lokasinya berada di dalam kawasan pertambangan, maka tidak terjangkau oleh angkutan umum yang oleh masyarakat setempat disebut taksi. Sedang kendaraan milik perusahaan tidak diijinkan keluar dari kawasan pertambangan, kecuali yang sudah dilengkapi dengan plat nomor polisi, berkepala “DS” jika terdaftar di kabupaten Mimika.

Kalau mau sewa mobil plat hitam alias taksi gelap yang memang sudah lazim digunakan, ongkosnya sekitar Rp 40.000,- per jam. Menimbang saya hanya seorang diri, akhirnya memilih naik ojek saja. Di Timika ada ribuan ojek berseliweran setiap saat. Moda angkutan ini menjadi alternatif paling praktis, mudah dan murah tapi tidak meriah (lha wong sendirian…), plus agak deg-degan karena biasanya tukang ojeknya suka ngebut. Kalau tidak suka mbonceng ojek, sepeda motornya disewa juga boleh. Per jam ongkos sewanya Rp 20.000,- dan malah bisa ngebut sendiri…. Saking banyaknya ojek di Timika, sampai-sampai tidak mudah membedakan mana pengendara sepeda motor biasa dan mana tukang ojek.

***

Kota Timika yang ketika siangnya begitu panas, malam itu agak kepyur (bahasa Jawa untuk turun titik-titik air dari langit, lebih rintik dibanding rintik hujan). Berbalut selembar jaket, segera saya nyingklak mbonceng tukang ojek dan mengomandonya untuk menuju ke warung seafood “Surabaya”. Ongkos ojek dari Base Camp, sama juga kalau dari bandara, menuju kota Timika adalah Rp 7.000,- sekali jalan. Angka nominal yang sebenarnya nanggung, tapi ya begitulah…. Semua pihak sudah saling paham bahwa ongkos normalnya memang segitu.

Sampai di tujuan, segera saya keluarkan tiga lembar uang kertas dan saya bayarkan ke tukang ojek. Semula uang itu diterima begitu saja oleh tukang ojeknya dan segera hendak berlalu tancap gas. Tapi tiba-tiba tukang ojek itu agak ragu, lalu dilihatnya kembali uang pemberian saya tadi di bawah temaram lampu jalan yang tidak terlalu terang. Agaknya dia kurang yakin dengan penglihatannya. Sebab jika membayar uang pas dengan tiga lembar uang kertas, biasanya terdiri dari selembar berwarna kecoklatan dan dua lembar berwarna kebiruan, sehingga totalnya Rp 7.000,-. Tapi ini ketiganya kok warna coklat semua, jangan-jangan uangnya bercampur daun kering. Setelah yakin yang diterimanya tiga lembar uang lima-ribuan, segera pak tukang ojek itu tancap gas tanpa sempat berterima kasih. Mungkin khawatir keburu penumpangnya menyadari “kekeliruan” jumlah pembayarannya.

Malamnya saya kembali menggunakan jasa ojek menuju Base Camp. Cukup dengan berdiri di pinggir jalan saja. Sebab saya pun sebenarnya juga ragu mau nyetop ojek, jangan-jangan bukan tukang ojek yang saya panggil. Akhirnya salah satu dari tukang ojek yang berseliweran memberi kode dengan membunyikan klakson yang maksudnya : “Naik ojek, pak?”. Saya cukup membalasnya dengan melambaikan tangan di pinggir jalan yang agak terang.

Sesampai di Base Camp segera saya sodorkan selembar uang sepuluh-ribuan. Tukang ojek itu pun dengan gesit mengeluarkan dompetnya dari saku belakang celananya untuk mengambil tiga lembar uang seribuan sebagai uang kembalian. Kali ini saya hanya berkata pendek : “Kembaliannya untuk bapak saja…”. Kalimat pendek itu rupanya mengawali percakapan saya dengan tukang ojek yang rupanya perantau dari Lamongan, Jatim, dan baru 3 bulan ngojek di Timika, selama beberapa menit di depan gerbang Base Camp. Sampai seorang petugas Satpam Base Camp menghampiri saya karena dikira saya yang adalah seorang tamunya sedang ada masalah dengan tukang ojek. Apresiasi saya berikan untuk sikap tanggap seorang Satpam.

***

Apa yang saya lakukan dengan membayar lebih dari yang semestinya kepada seseorang? Tidak lebih karena sekedar saya ingin melakukan sedikit improvisasi dalam bertransaksi bisnis. Sebagai pembeli jasa ojek, saya ingin memberi sedikit “surprise” yang menyenangkan kepada partner bisnis saya yang adalah penjual jasa ojek. Improvisasi yang berjalan begitu saja, tanpa skenario, tanpa rekayasa. Besar-kecilnya atau banyak-sedikitnya, bukan itu soalnya. Terpuji-tidaknya atau berpahala-tidaknya, juga bukan itu substansinya.

Sekali waktu ketika di Jogja saya membayar parkir di Jl. Solo. Saat membayar ongkos parkirnya saya sodorkan uang Rp 3.000,- dari semestinya hanya Rp 1.500,-, sambil saya pesan kepada tukang parkirnya : “Tolong yang seribu lima ratus untuk ongkos parkir mobil di sebelah kanan saya ya, pak…”. “Nggih, pak…”, jawab tukang parkir. Saya tidak tahu siapa pengemudi mobil yang parkir di sebelah kanan saya. Saya juga tidak tahu apakah tukang parkir itu benar-benar menjalankan pesan saya. Tapi saya hanya sekedar ingin berimprovisasi dalam bertransaksi. Apakah itu baik atau buruk, bukan itu yang ada di pikiran saya.

Beberapa tahun yang lalu saat melewati jalan tol di Semarang yang ongkosnya hanya Rp 500,- sekali lewat, saya sodorkan selembar uang seribuan disertai pesan kepada penjual tiket tol : “Sisanya untuk mobil di belakang saya ya…”.

Ya, sekali waktu improvisasi itu perlu. Bukan untuk sok-sokan, bukan juga untuk wah-wahan, melainkan agar irama hidup ini tidak membosankan. Perlu ada “surprise-surprise” kecil mengisi di antaranya. Toh, belum tentu hal itu terjadi sebulan sekali. Setahun sekali pun terkadang tidak sempat terpikir. Termasuk juga dalam berbisnis, improvisasi itu (terkadang) perlu. Kalau boleh kejadian itu disebut dalam rangka melaksanakan “bisnis memberi”, entah sebagai penjual atau pembeli. Semoga saja Alam Jagat Raya ini akan mencatatnya sebagai tabungan di rekening liar (yang digaransi tidak akan terendus KPK) yang suatu saat nanti akan cair dengan sendirinya pada waktu dan tempat yang pasti tepat.

Yogyakarta, 5 April 2009
Yusuf Iskandar

Maaf, Saya Ke Papua Tanpa Pamit

3 April 2009
Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Mohon maaf, blog ini saya tinggalkan selama tiga minggu karena pergi ke Papua tanpa pamit. Semula saya pikir saya akan mudah mengakses internet di sana. Tapi rupanya saya mengalami beberapa kendala non-teknis yang menyebabkan saya tidak bisa meng-update Catatan Perjalanan saya, praktis selama sebulan.

Tepatnya, dari tanggal 10-31 Maret 2009 saya jalan-jalan ke Papua, tepatnya ke kota Tembagapura dan Timika. Perjalanan ini terlaksana atas undangan teman-teman saya yang bekerja di PT Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas. Ini mirip-mirip perjalanan nosalgia, karena saya pernah bekerja di sana selama periode tahun 1995 hingga 2004.

Selama berada di Tembagapura dan sekitarnya yang lokasinya berada naik-turun di ketinggian antara 2000 – 2400 m di atas permukaan laut, saya mengalami keterbatasan mengakses internet. Fasilitas internet milik perusahaan sangat terbatas. Sementara fasilitas internet yang selama ini saya gunakan, yaitu IM2 dan Smart ternyata tidak dapat saya gunakan karena rupanya hanya sinyal Telkomsel saja yang “berani” naik gunung. Walhasil, saya hanya bisa membuat catatan-catatan kecil yang Insya Allah akan saya posting menyusul.

Itu alasan pertama. Alasan keduanya, meskipun saya ke sana dalam rangka jalan-jalan, tapi acara jalan-jalan itu terlaksana akibat dari sebuah komitmen. Maka saya berkewajiban menjaga amanat penderitaan komitmen. Sekali sebuah komitmen dibuat, maka semestinya siap dengan segala konsekuensi yang terjadi, termasuk kesibukan yang seringkali baru selesai hingga malam. Komitmen yang terbingkai dalam acara jalan-jalan dibayarin.

Masih ada alasan ketiga, yaitu bahwa selama di sana saya sering diundang oleh teman-teman lama saya untuk sekedar diajak berbagi tentang pengalaman saya bagaimana mengisi waktu setelah tidak lagi menjadi pegawai alias pensiun alias pengangguran. Teman-teman saya ingin tahu bagaimana saya memulai dan merintis bisnis atau berwirausaha. Tentu saja acara ini hanya bisa dilakukan saat malam hari di sisa waktu yang ada.

Demikian, kini saya kembali ingin melanjutkan catatan-catatan dan dongengan apa saja untuk sekedar berbagi unek-unek, pengalaman, info, curhat, termasuk cerita-cerita yang tidak seberapa bermutu, sekedar sebagai bacaan yang (mudah-mudahan) menghibur kepada siapa saja yang menyukainya. Salam….    

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar

Sisi Lain Dari Insiden Timika

8 Januari 2009

Berikut ini adalah posting dari tulisan lama :

Banyak orang sudah tahu, setidak-tidaknya membaca atau mendengar berita tentang insiden di Timika, Papua. Tepatnya yang terjadi di lingkungan area kerja PT Freeport Indonesia pada hari Sabtu, 31 Agustus 2002 yll. Tiga orang tewas jadi korban penembak gelap. Gelap karena pada saat kejadian terhalang kabut tebal dan gelap karena hingga kini tidak ketahuan siapa mereka, apa motifnya dan lalu kemana perginya setelah menembak.

Bagi saya dan kita semua, kiranya hanya bisa turut merasa prihatin. Insiden memang sudah terjadi. Korban juga sudah terlanjur berjatuhan. Tinggal menyisakan PR (yang seringkali tidak pernah terjawab tuntas) bagi pemerintah dan aparat keamanan.

Melihat tragedi insiden Timika, lalu mencoba melongok ke layar lebih luas, yaitu Indonesia, terasa ada hal kecil yang mengganjal di sisi kemanusiaan kita. Sampai-sampai seorang rekan di Tembagapura menulis : “Bangsa lain, dalam momen paling sedihpun masih memikirkan kepentingan bersama. Bangsa kita, any moment, tilep uang rakyat !”. Apa pasalnya sehingga rekan saya ini demikian geram?

Rupanya rekan saya itu membaca berita di media. Isinya : Lembaga Swadaya Masyarakat di Sulawesi Utara meminta Presiden Megawati Soekarnoputri untuk tidak mengizinkan pimpinan dan seluruh anggota DPRD Sulut tour keliling Eropa dengan menggunakan dana APBD 2002. “Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi, tanpa mau melihat kehidupan rakyat Sulut sedang terhimpit kemiskinan dan kemelaratan akibat krisis ekonomi”, demikian kata Ketua Forum Advokasi Pemantau Parlemen (Foraper) Minahasa, Sulut. Sungguh ini ide dan rencana yang luar biasa. Dana APBD yang akan digunakan untuk tour ke Eropa tentu tidak sedikit jumlahnya.

Pada saat yang bersamaan, kita dengar tragedi gelombang pengungsi TKI di Nunukan, Kaltim. Betapa banyak dari mereka, orang dewasa maupun anak-anak, yang akhirnya meninggal akibat berbagai masalah kesehatan yang tak tertangani dengan baik. Betapa pemerintah (baca : saudara-saudara kita yang kebetulan sedang berkuasa) terkesan begitu lamban dan kurang cekatan menghadapi masalah kemanusiaan yang memerlukan penanganan cepat semacam ini.

Sementara di Tembagapura, beberapa hari setelah insiden Timika, ada pengumuman kepada masyarakat. Isinya : bagi masyarakat yang bersimpati kepada dua orang korban asal Amerika dan ingin menyampaikan sumbangan uang duka, maka diminta agar uang tersebut disampaikan kepada lembaga sosial di Amerika yang telah ditunjuk oleh masing-masing ahli waris, lengkap beserta alamatnya. Dalam kedukaan yang mendalam akibat tragedi penembakan, mereka masih ingin menyisihkan sebagian hatinya untuk sesamanya.

Lalu, dimana sebagian hati kita saat bencana kemanusiaan sedang melanda saudara-saudara kita lainnya, di belahan Indonesia lainnya? Mudah-mudahan rangkaian fragmen lelakon ini menjadi cermin kecil yang layak untuk dilongak-longok, apakah tampak di wajah kita bahwa kita masih punya sedikit hati untuk perduli kepada sesama.

Tembagapura, 6 September 2002
Yusuf Iskandar

Sampah Kita Sendiri

21 Maret 2008

Pengantar :

Cerita di bawah ini saya tulis karena terinspirasi oleh cerita sahabat saya (Mas Mimbar Saputro) tentang crew drumband yang merangkap tukang sampah di Singapura. Sebagian dari cerita di bawah ini pernah saya singgung dalam tulisan saya beberapa tahun yll. Namun tidak ada salahnya saya singgung lagi untuk menambah kelengkapan ilustrasi – yi

——-

Orang Jakarta pernah bingung ketika tidak bisa membuang sampahnya. Semakin kalang kabut ketika kawasan tetangga Jakarta yang biasanya tidak ada masalah untuk ditimbuni sampah, kemudian menolaknya. Itu karena jumlah sampahnya bergunung-gunung. Sementara ketika jumlah sampah di dalam rumah kita masih seukuran asbak atau sekantong tas kresek, seringkali kita kurang perduli. Nyaris tidak pernah terpikir akan diapakan atau dibuang kemana sampah itu nantinya, kecuali sebatas membuangnya ke tong sampah atau tempat pengumpulan sampah di kampung kita.

Jika kita berada di pedesaan di mana masih banyak kawasan terbuka dan tanah kosong yang belum padat penduduknya, urusan sampah nyaris jauh dari agenda keseharian kita, apalagi pemerintah.

Kalau Singapura sangat ketat dan keras untuk mengatur urusan sampah, tentu karena mereka menyadari bahwa sampah adalah urusan yang sangat serius mengingat terbatasnya luas daratan yang mereka miliki, yang harus dikapling-kapling untuk berjuta peruntukan dan kepentingan. Maka logis saja kalau kemudian kesadaran masyarakat akan keberadaan sampah harus dipaksakan. Mereka (tanpa pandang bulu, kulit, rambut atau ekor) yang sembrono, sangsinya denda yang tidak main-main. Bagi yang main-main, “Bayar S$ 5000…..!”. Tidak ada tawar-menawar.

***

Karnaval dan Peserta Terakhirnya

Di New Orleans, Louisiana, Amerika, setiap tahun digelar pesta rakyat yang disebut Mardi Gras. Biasanya diadakan pada sekitar bulan Pebruari-Maret. Mardi Gras adalah pesta masyarakat dan karnaval yang diselenggarakan di semua kawasan kota. Karnaval yang penuh nuansa hura-hura dan terkadang gila-gilaan ini diselenggarakan selama dua – tiga minggu penuh dan dua hari puncaknya dijadikan sebagai hari libur umum. Selain agar segenap masyarakatnya dapat menikmati pesta rakyat itu, juga bagi mereka yang terlibat dalam karnaval tidak perlu mbolos kerja atau sekolah.

Namanya juga karnaval, maka di sana ada barisan bendera, umbul-umbul, drumband, penari, kendaraan hias, dan segala macamnya. Namun karnaval Mardi Gras yang mempunyai ciri khas dominasi warna hijau-kuning-ungu, juga selalu disertai dengan membagi-bagikan kalung beraneka motif dan warna serta berbagai souvenir, dengan cara melempar dari atas kendaraan. Maka penonton akan ramai berebut memperolehnya, apalagi anak-anak.

Disebut gila-gilaan, karena di lokasi-lokasi tertentu, para perempuan peserta pesta hura-hura dan karnaval terkadang tidak malu-malu untuk mengangkat tinggi-tinggi bagian depan baju kaosnya sehingga terlihat bagian tubuh yang sebelumnya tertutupi oleh kaosnya itu. Saya tidak tahu apakah bagian terakhir ini yang kemudian menarik wisatawan asing maupun domestik dari penjuru Amerika untuk ingin berkunjung ke New Orleans ketika ada pesta Mardi Gras.

Ada yang menarik pada setiap kali ada karnaval Mardi Gras. Di bagian paling belakang dari peserta karnaval selalu ada peserta dari Dinas Kebersihan Kota. Sekelompok orang di barisan terakhir ini tugasnya mengumpulkan semua sampah yang ditinggalkan oleh barisan karnaval di depannya di sepanjang jalan yang dilalui. Lalu diikuti oleh mobil penyemprot air, mobil penghisap sampah dan mobil pengepel jalan (seperti mesin pel lantai yang bagian bawahnya berupa sapu putar yang menggosok dan mengepel). Maka ketika karnaval selesai, sepanjang jalan yang dilalui segera bersih seperti semula dan siap dibuka kembali untuk lalu lintas umum, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. 

Pesta dan hura-hura adalah kebutuhan rekreatif masyarakat, tapi lingkungan yang bersih adalah juga kebutuhan lain yang tidak boleh dikorbankan. Artinya, bukan tujuan pemenuhan kebutuhan saja yang diutamakan, melainkan janganlah lalu dikesampingkan dampaknya.

***

Sampah Rumah Tangga dan Beruang

Di Juneau, Alaska, Amerika, suatu ketika saya membaca pengumuman dari kantor Pemda setempat di sebuah media lokal tentang aturan membuang sampah rumah tangga. Bahkan aturan itu dibuat sedemikian rincinya. Kesadaran tentang tata cara menangani sampah rumah tangga bukan hanya ditujukan bagi diri individu masyarakat sendiri melainkan masyarakat juga diminta melaporkan kepada pemda atau polisi kalau mereka melihat ada orang lain yang tidak mau mengikuti aturan tersebut. Bagi yang mengabaikan aturan ini dapat dikenakan denda minimum US$100.  

Untuk apa harus diatur tentang prosedur membuang sampah? Rupanya di sana banyak berkeliaran beruang liar yang dilindungi. Dengan tidak membuang atau menyimpan sampah sembarangan, maka para beruang liar tidak akan tertarik untuk keluar dari hutan dan makan sembarangan di tempat-tempat sampah yang dapat berakibat sakit atau matinya hewan langka yang dilindungi itu. Jadi pengaturan penyimpanan dan pembuangan sampah itu memang tujuan utamanya bukan demi masyarakat melainkan demi beruang. Luar biasa. Jika kita bandingkan dengan keprihatinan kita atas saudara-saudara kita yang tidak beruntung yang menggelandang di kota-kota besar yang seringkali justru hidup dari mengais sisa-sisa makanan, tanpa banyak yang dapat kita perbuat.

Terlepas dari soal beruang Alaska. Menyimpan, menimbun atau membuang sampah rumah tangga secara asal-asalan memang bisa runyam. Kita memang sering berpikir praktis saja soal sampah domestik ini. Kita kira kalau sudah dibungkus dari rumah lalu dilempar ke tong sampah di luar rumah atau di pinggir jalan, sudah bayar uang bulanan ke tukang sampah (apalagi yang masih nunggak mbayar…..), maka tanggung jawab kita perihal sampah ini sudah tuntas.

Ya, memang hanya sampai di situ saja, apa lagi….? Entahlah, soal bagaimana cara kita membungkus dan menempatkan bungkusan sampah di dalam tong sampah di luar rumah seringkali kita anggap sebagai soal lain yang tidak ada hubungannya…………

***

Kisah Sepuntung Rokok di Madison

Di Madison, Wisconsin, Amerika, suatu siang saya istirahat sejenak dari sebuah perjalanan panjang, di halaman parkir sebuah supermarket menunggu istri dan anak-anak saya membeli perbekalan. Sambil menunggu di mobil, sambil menghisap sebatang Marlboro. Tanpa saya sadari, seorang ibu memperhatikan ulah saya ketika saya membuang puntung rokok di samping mobil yang saya parkir. Sang ibu menegur saya. Tidak cukup itu, diapun masih menegur saya dengan mimik serius, sampai saya benar-benar mengambil kembali puntung rokok yang tadi saya buang.

Sungguh saya dibuat malu sekali……, malu pada diri sendiri. Sampai saya terbengong-bengong. Padahal tidak ada seorang pun melihat kejadian di siang yang panas itu, di tengah halaman parkir yang sangat luas dan sedang sepi. Betapa masih ada warga masyarakat yang begitu perduli dengan setitik sampah yang mengotori kotanya. Ya…., hanya sepuntung Marlboro di tengah lapangan parkir yang luasnya lebih dari lapangan sepakbola.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Kata Tjuta

Di Taman Nasional Kata Tjuta, Northern Territory, Australia, suatu sore karena hari hujan saya berteduh di bawah shelter tempat istirahat. Sambil memainkan kamera, saya menyadari bahwa sebatang Marlboro yang sejak tadi menyelip di jari tangan kiri rupanya sudah pendek. Karena setelah saya tolah-toleh tidak terdapat tempat sampah, dengan tanpa salah sedikitpun puntung rokok lalu saya jatuhkan di pojok shelter.

Tanpa saya duga, tiba-tiba ada seseorang yang kalau saya tilik wajahnya adalah turis Jepang, berjongkok lalu mengambil puntung yang barusan saya jatuhkan. Lalu dimasukkan ke dalam wadah kertas yang dibawanya, karena dia juga sedang merokok. Dasar orang Jepang, dia pintar membuat kerajinan tangan Origami, kertas yang dilipat-lipat sehingga membentuk wadah menyerupai kotak kecil.

Bukan kerajinan kertasnya yang membuat saya terperangah, melainkan caranya memandang saya sehabis mengambil puntung rokok yang tadi saya buang. Sambil menganggukkan kepala dia tersenyum menyambut ucapan “I’m sorry” dan “thank you” saya. Di sekitar saya banyak turis yang juga sedang berteduh. Memang tidak ada yang memperhatikan saya, tapi sungguh si Jepang benar-benar membuat saya salah tingkah. Pokoknya, malu abizzzz…… Mau cepat-cepat pergi rasanya, tapi tidak bisa, wong hujan sedang turun dengan lebatnya ditambah kilatan petir yang menyambar.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Bandara Taipei

Suatu malam ketika transit di bandara Taipei, Taiwan, saya sedang sangat ingin sekali merokok karena sejak berangkat dari Jakarta dalam perjalanan menuju Los Angeles, tidak bisa merokok sebatangpun. Cilakanya, saya tidak menemukan “Smoking Room”, tapi juga tidak menemukan tulisan “No Smoking”. Sambil tengok kanan-kiri, saya temukan di sudut lorong ada pot bunga besar yang rupanya di sekitar tanamannya banyak tumbuh puntung rokok. “Ini dia…..”, pikir saya.

Maka, serta-merta saya curi kesempatan untuk mojok. Lalu cepat-cepat menghisap sebatang rokok, sambil agak melengos malu-malu kucing setiap kali ada orang lewat. Cepat saja, lalu puntung rokoknya saya tanam di sekitar tanaman yang ada di pot. Saya tahu bahwa ini tindakan curang, memanfaatkan situasi entah siapa yang pertama kali memulai menanam puntung rokok di pot bunga tersebut. Terbersit rasa malu dan penyesalan yang dalam, mudah-mudahan kelak saya tidak kembali berada dalam situasi yang tidak menyenangkan itu. Tidak menyenangkan bagi saya dan tidak menyenangkan bagi pemerintah Taiwan.

***

“Bungkusnya Dikantongin Dulu…..”

Suatu saat di Tembagapura, Papua, diadakan acara “Tembagapura Bersih”. Segenap lapisan masyarakat yang umumnya karyawan beserta keluarganya, dan anak-anak sekolah mengambil bagian untuk membersihkan kota Tembagapura. Di akhir acara, seorang anak ditanya oleh panitia, tentang apa yang paling banyak dijumpai di halte bis kota. Jawab keras sang anak : “Puntung rokok dan bungkus permen”.

Lalu sang anak ditanya lagi : “Bagaimana kalau pas di dalam bis kamu ingin makan permen dan tidak ada tempat sampah?”. Jawab sang anak : “Bungkusnya dikantongin dulu, nanti dibuang di tempat sampah ketika turun dari bis”. Sebuah jawaban lugu, jujur dan……. rasanya masuk akal. Lebih penting lagi, kita bisa belajar dari sang anak itu. Kalau mau …….

***

Soal sampah, memang bukan soal ada tempat sampah atau tidak. Bukan soal ada tulisan “Dilarang Buang Sampah Sembarangan”, atau tidak. Bukan soal jumlah sedikit atau banyak. Bukan soal sudah ada yang mengurusi atau belum. Masalah sampah, adalah masalah perilaku. Masalah kepedulian bahwa kita butuh lingkungan yang bersih. Masalah tanggung jawab sosial.

Enak sekali kedengarannya. Semua orang juga tahu. Tapi mari kita lihat asbak dan tempat sampah di rumah kita masing-masing, sebelum kita melihat tempat sampah orang lain. Ya, sampah kita sendiri. Bersih-bersih yuk……!

Tembagapura, 7 Agustus 2004.
Yusuf Iskandar

Hamster

21 Maret 2008

Anak laki-laki saya yang baru naik ke kelas 5 SD sangat menyukai hamster piaraannya. Prejengan (profil tubuh) hamster yang kecil imut-imut, lucu dan bersih itu barangkali yang menjadikan anak-anak banyak yang menyukainya. Sepulang dari liburan dua minggu yang lalu, induk hamsternya beranak lagi untuk ketiga kalinya. Padahal umurnya baru tujuh bulan.

Ketika umur hamsternya baru tiga bulan sudah beranak enam ekor, tapi mati satu. Kesemua anaknya habis diminta teman-teman anak saya. Beranak yang kedua waktu umurnya lima bulan, juga enam ekor jumlah anaknya. Empat ekor diantaranya juga diminta teman-teman anak saya. Lalu kini beranak lagi 12 ekor, tapi sayang di hari ketiga tinggal enam ekor, selebihnya dimakan oleh induknya.

Anak saya membeli hamster saat liburan semesteran bulan Januari awal tahun yang lalu. Pada suatu siang dia minta uang Rp 20.000,- pada ibunya untuk membeli hamster di pasar Ngasem. Ngasem adalah nama pasar burung di Yogya, meskipun tidak hanya burung yang dijual di pasar ini. Segala macam hewan berkaki dua ada di sini, termasuk ayam, bebek, menthok (itik), dsb. Ada juga ikan hias, termasuk kelinci dan hamster juga ada, serta hewan-hewan ukuran kecil lainnya.

Tanpa tanya ini-itu, setengah tidak perduli ibunya lalu memberinya uang yang diminta. Rupanya anak saya siang itu mengajak teman mainnya di Bintaran Kulon pergi ke pasar Ngasem dengan berjalan kaki. Jarak antara Bintaran dengan Ngasem sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 1,5 km saja. Tapi untuk mencapai Ngasem dia harus berjalan kaki melintasi pinggir kali Code, lalu menyeberang jembatan, terus menyusuri jalan besar utara plengkung Yudonegaran menuju alun-alun utara kraton. Setelah menyeberang alun-alun lalu ke selatan menuju pasar Ngasem.

Tidak berapa lama, anak saya pulang dengan membawa kantong kertas berwarna coklat yang ternyata berisi seekor hamster berwarna putih yang baru berumur tiga mingguan. Masih terlihat kecil sekali. Saya jadi merasa kasihan dengan kesungguhan anak saya yang ingin memelihara hamster. Kasihan yang kedua adalah terhadap hamsternya sendiri, masak hanya hidup sendiri tanpa pasangan di kandangnya yang hanya berupa kotak kardus kecil (belakangan saya baru tahu bahwa sebenarnya tidak ada masalah jika memelihara seekor hamster tanpa pasangan). Maka kemudian dia saya ajak untuk kembali ke penjualnya di Ngasem, sekalian bersama ibunya dan kakak perempuannya. Kali ini tidak berjalan kaki tentunya.

Si penjual hamster yang menempati petak agak di tengah pasar masih ada di sana. Ada banyak pasangan hamster yang ditawarkan. Harganya sepasang Rp 30.000,- Berumur rata-rata tiga mingguan. Masih terlalu kecil tampaknya, tetapi memang hewan ini sudah bisa dipisah dari induknya setelah berumur lebih dua minggu. Kali ini saya bilang kepada anak saya agar pasangannya yang berwarna krem dibeli sekalian saja, agar si hamster tidak kesepian sendiri. Lalu, sebuah kandang pun dibeli juga seharga Rp15.000,-, yaitu sebuah kandang kecil terbuat dari anyaman kawat yang di dalamnya ada mainan roda putarnya, seperti roda putar kandang tupai.

Tiba saatnya harus kembali ke Papua dan anak saya ingin membawa kedua hamsternya untuk dipelihara di Tembagapura. Artinya, hamster-hamsternya akan naik pesawat Garuda. Bagaimana caranya? Pasti ada aturan tersendiri untuk membawa binatang naik pesawat. Setelah tanya-tanya ke kantor Garuda, katanya biaya membawa binatang naik pesawat cukup mahal. Untuk dibagasikan bersama kandangnya kok kasihan. Maka perlu diakalin.

Kedua anak saya sepakat untuk berbagi tugas. Kedua hamster yang baru berumur tiga mingguan, masih sangat kecil tapi bulu-bulunya sudah tumbuh penuh, dimasukkan ke dalam sebuah tas cangklong kecil yang sengaja dikosongkan kecuali diisi makanan hamster. Ketika harus melewati pemeriksaan X-ray, mereka bersembunyi dulu dan terkadang bergantian ke toilet untuk memindahkan hamster dari tas cangklong ke saku celananya yang mempunyai ukuran saku cukup longgar. Setelah melewati pemeriksaan X-ray, mereka menuju toilet lagi dan memasukkan kembali hamster-hamsternya ke dalam tas cangklong. Demikian, SOP (Standard Operating Prosedur) ini dipraktekkan berulang-ulang, baik ketika di bandara Yogya maupun di Denpasar. Sementara kandangnya dimasukkan bagasi.

Maka selamatlah sang hamster tiba di bandara Timika, dan akhirnya di Tembagapura. Untungnya tidak diperlukan jaket khusus bagi hamster untuk hidup di Tembagapura yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya cuacanya cukup dingin bagi hamster yang nenek-moyangnya hidup di kawasan gurun.

***

Hamster adalah binatang sejenis tikus, ukuran tubuhnya juga kecil seperti tikus pithi atau curut. Bedanya hamster lebih bersih dan tidak jorok seperti tikus. Karena itu hewan ini banyak digemari anak-anak sebagai hewan piaraan. Seperti halnya tikus, hewan kecil ini suka ngrikiti (mengerat) apa saja. Jadi jangan mengira karena ukurannya kecil lalu ditempatkan dalam kandang yang terbuat dari kayu, apalagi kardus. Tidak lama, hamster akan berhasil membuat lubang untuk lolos.

Hamster jelas bukanlah hewan asli Indonesia. Habitat asal hewan ini sebenarnya di daerah dekat-dekat gurun. Di alam aslinya binatang suka membuat sarang di dalam liang-liang yang dalam seperti tikus tanah. Makanya memelihara hewan kecil ini sangat mudah, tidak perlu repot-repot memberi minum. Bukan tidak membutuhkan air, melainkan kebutuhan airnya biasanya cukup terpenuhi dari makanannya. Makanannya pun mudah, paling suka dengan jagung, terkadang divariasi dengan wortel, dan sayuran hijau seperti kangkung, bayam, kacang, boncis, kol, sawi, dsb. Sesekali diberi buah apel. Rakus sekali kalau diberi telur ayam, rebus maupun goreng.

Nama hamster sendiri berasal dari kata hamstern, bahasa Jerman yang artinya menimbun. Binatang kecil ini memang suka menimbun makanannya di dalam sarangnya. Diberi makanan sebanyak apapun akan disikatnya. Mula-mula disimpan di dalam mulutnya sehingga kedua pipinya menjadi gemuk. Setelah itu dia sembunyi ke sarangnya, lalu ditimbunnya makanan tadi di dekat sarangnya.

Di dunia ini ada banyak jenis hamster, tapi hanya sedikit saja yang biasanya dipelihara sebagai hewan piaraan di rumah, diantaranya jenis Syrian, Dwarf, Chinese dan Roborovski. Sedangkan species-species lainnya tidak lazim dipelihara orang. Warnanya pun bermacam-macam, ada putih coklat, abu-abu, hitam atau krem. Bulu-bulunya juga ada yang pendek dan ada yang panjang. Di alam aslinya, hamster ini termasuk binatang malam, kalau siang dia suka tidur dan kalau malam mulai aktif mencari makan.

Tentang hamster yang dibeli anak saya di pasar Ngasem, saya sendiri tidak tahu jenisnya. Penjualnya juga tidak tahu. Tapi kalau saya amat-amati, lebih dekat ke jenis Dwarf. Kata penjualnya, induknya dulu dibawa dari Australia oleh seorang pedagang Cina. Untuk jenis-jenis tertentu, harga di toko binatang bisa mencapai puluhan ribu bahkan lebih seratus ribu rupiah. Demikian halnya harga kandangnya jika membeli di toko. Anak saya menyimpan hamsternya di dalam ember plastik yang permukaannya lebar, agar hamster lebih leluasa bermain-main. Kandang dari ember ini cukup bagus dan aman karena hamster susah untuk mengerat permukaannya yang licin yang juga susah dipanjat.

Di dalam ember diberi sobekan-sobekan kertas yang lunak (sejenis kertas tissue), bisa juga serpihan-serpihan kayu. Yang agak merepotkan adalah harus rajin membersihkan kandang atau wadahnya. Tahinya kecil-kecil seperti beras tapi lebih besar sedikit, normalnya berwarna hitam, persis e’ek tikus. Tapi kencingnya cukup banyak, dan jika tidak rajin membersihkan kandangnya, baunya cukup mengganggu.

Perkembangbiakannya cepat sekali. Jika punya sepasang hamster yang sudah berumur 2 – 3 bulan, siap-siap untuk punya banyak hamster. Beberapa kali mereka bercinta, dalam waktu empat hari sang ibu segera hamil. Umur kehamilannya 16 sampai 18 hari, lalu melahirkan. Anaknya bisa berjumlah enam sampai 12 ekor. Ada yang sampai 17 ekor, tapi rata-rata 6 – 7 ekor. Ketika lahir, anak-anaknya seperti cindhil (anak) tikus, sebesar jari kelingking, berwarna merah, belum tumbuh bulu dan matanya masih tertutup. Setelah umur seminggu baru tampak warna bulunya, dan umur dua minggu baru terbuka matanya dan mulai keluyuran menjauh dari induknya.

Setelah melahirkan jangan coba-coba mengganggu anaknya sampai seminggu kemudian, jika induknya marah dia akan menelantarkan anaknya atau malah memakannya. Demikian juga kalau ada anaknya yang sakit, induknya akan tahu. Biasanya akan dimakan sendiri oleh induknya. Setelah berumur 2 – 3 minggu, anak-anak hamster sudah bisa hidup mandiri dan dapat dipisahkan dari induknya.

Setelah melahirkan, sebaiknya induk dan anak-anaknya dipisah dari hamster-hamster lainnya. Jika sudah siap untuk beranak lagi, baru dicampur dengan yang lain. Jadi dapat dibayangkan, betapa cepatnya perkembangbiakan hamster. Seperti dituturkan penjual hamster di pasar Ngasem, dari semula hanya memiliki sepasang hamster, kini sudah ratusan ekor keturunannya. Hamster memang termasuk binatang berumur pendek. Umur setahun biasanya sudah tampak tua dan tidak gesit. Umurnya rata-rata hanya 2 tahunan. Jika hanya ingin memelihara hamster untuk hiasan, sebaiknya ditempatkan hanya seekor dalam satu kandang.

***

Kini kedua hamster anak saya dan kedua anaknya hidup rukun dan damai di Tembagapura. Sebagian anak-anaknya dan saudara-saudaranya sudah hidup terpisah karena dibagikan kepada teman-teman anak saya. Paling tidak sudah ada sembilan ekor yang kini membina rumah tangganya masing-masing. Dan siap-siap untuk beranak-pinak, tergantung keinginan pemiliknya. Untuk enam ekor anaknya yang baru lahirpun sudah ada daftar pemesannya.

Menarik juga mengamati hamster-hamster ini. Kecil imut-imut, lucu, jinak (untuk jenis tertentu ada juga yang galak), tidak bersuara dan menggemaskan. Termasuk jenis binatang yang jarang membawa penyakit. Bisa menjadi hiburan yang mengasyikkan ketika pikiran sedang penuh sesak dengan urusan lain. Sama mengasyikkannya seperti ketika memandangi ikan-ikan di aquarium saat pikiran sedang stress. Boleh dicoba…..

Atau, melihatnya sebagai peluang bisnis? Seperti yang diceritakan oleh penjual hamster di pasar Ngasem, katanya hamsternya laku cukup keras. Harga untuk hamster seperti milik anak saya, sebut saja hamster “kampung”, harganya cukup murah. Banyak anak-anak yang suka. Bisa jadi klangenan anak-anak….. Habis, lucu sih …..

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 1 Agustus 2004.

Mbah Poniman Dan Kaweruh-nya

21 Maret 2008

Sebagaimana di daerah-daerah lain di Indonesia, perayaan menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-58, 17 Agustus 2003, kemarin juga diselenggarakan di Tembagapura, sebuah kota kecil di daratan Papua tengah. Demikian pula upacara pengibaran Merah Putih dan detik-detik proklamasi.

Namun, Tembagapura yang letaknya berada di ketinggian sekitar 1990 meter di atas permukaan laut, tentu mempunyai karakteristik agak berbeda, yaitu soal cuaca. Kabut dan awan mendung menyelimuti Tembagapura hampir setiap hari dan sudah menjadi pemandangan biasa. Semua masyarakat Tembagapura mafhum bahwa setiap saat awan akan dengan cepat berubah menjadi hujan. Maka lalu ada kekhawatiran setiap menjelang dilaksanakannya upacara 17-an, yaitu bagaimana kalau saat upacara lalu tiba-tiba hujan deras mengguyur?

Rupanya panitia selalu sudah mengantisipasi. Konon, seorang pawang hujan selalu disiapkan untuk membantu menjinakkan hujan. Entah apa terminologi yang tepat untuk kerja sang pawang ini, menjinakkan, mencegah, menunda atau mengalihkan turunnya hujan. Intinya adalah agar hujan tidak turun saat upacara sedang berlangsung sehingga tidak mengganggu kekhusyukan pengibaran Sang Merah Putih dan detik-detik proklamasi.    

Selama ini saya kurang tertarik dengan soal pawang hujan ini. Namun tanggal 17 Agustus 2003 kemarin ini pikiran saya rada terusik untuk ingin tahu lebih jauh tentang apa benar ada seorang pawang yang disewa panitia untuk menjinakkan hujan.

Usai upacara pengibaran bendera, lalu saya cari yang namanya pawang hujan itu. Akhirnya saya jumpai seorang kakek sedang santai-santai di belakang luar arena upacara. Menilik busananya saya langsung dapat menebak, pasti ini orang Jawa. Berbusana lusuh khas kampung di Jawa yang berwarna serba hitam dan mengenakan blangkon.

Setelah berbasa basi sedikit, ala Jawa, lalu saya tanya apakah beliau yang jadi pawang hujan. Dengan merendah beliau menjawab bahwa beliau cuma sekedar diminta untuk membantu agar tidak hujan saat acara sedang berlangsung. Kerendah-hatian yang kalau menilik gaya bahasa yang digunakannya memang khas orang desa di Jawa.

***

Itulah sekilas sosok Mbah Poniman yang kini sudah menginjak usianya yang ke-72, berarti saat proklamasi dikumandangkan Mbah Poniman ini berusia 14 tahun. Mbah Poniman ini asli Surabaya, dan sudah lama tinggal di dataran rendah kota Timika, tepatnya di kawasan Satuan Pemukiman transmigrasi wilayah 1, sering disebut dengan SP-1.

Menurut keterangan Mbah Poniman, keahliannya untuk “bermain-main” dengan hujan ini sudah ditekuninya sejak 37 tahun yang lalu, tepatnya sejak beliau berusia 35 tahun. Menilik jam terbangnya, tentu beliau sudah kategori expert untuk keahliannya itu. Dan katanya, dari tiga orang anaknya tidak ada yang tertarik mewarisi ilmunya. “Inggih lare sameniko, Pak…” (Ya maklumlah anak jaman sekarang, Pak), komentarnya pendek.

Itu sebabnya, beliau saat ini sedang “mengkader” seorang warga Papua, bernama Alex. Pak Alex, yang asal Biak dan tentu saja berambut keriting, sering diajak menemani gurunya ini kalau kebetulan Mbah Poniman dapat orderan, seperti yang dilakukannya kemarin ini di Tembagapura. Pak Alek hanya senyam-senyum dan berkata : “Saya cuma membantu saja”.

Mbah Poniman sehari-hari bekerja sebagai petani. Tentang keahliannya itu, beliau keberatan kalau disebut punya ilmu, atau disebut pawang hujan. Beliau lebih suka kalau keahliannya itu disebut dengan memiliki kaweruh. Istilah bahasa Jawa halus yang sebenarnya juga berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Lagi-lagi, saya menangkap kerendah-hatian khas Jawa.

Lalu apa yang dilakukan oleh Mbah Poniman kalau sedang dapat orderan mengendalikan hujan? Beliau menuturkan, sudah sejak tiga hari yang lalu menjalani laku puasa dan tidak tidur sama sekali (dalam hati saya berkata, mestinya ikut saja kontes touch the car di Mall Taman Anggrek, Jakarta, pasti pulang membawa mobil baru).

Selain itu ada rapalan (ucapan doa atau mantera) lainnya, yang ditulis dalam tulisan pego (tulisan Arab gundul berbahasa Jawa). Malah rapalan itu sempat diperdengarkan di depan saya, yang tentu saja tidak mudah untuk saya ingat. Ketika saya tanyakan apa maksudnya? Mbah Poniman itu menjelaskan bahwa yang penting memohon kepada Gusti Allah agar mengabulkan permohonan atau hajatnya. Ya hajat apa saja, termasuk yang berkaitan dengan harta, jabatan, keluarga, kehidupan, dsb. 

Tidak itu saja, saya ditunjukkan sebuah sesaji komplit yang diletakkan di salah satu sudut lapangan upacara. Di sebelahnya ada sebuah tombak yang dipancangkan dengan bagian ujungnya menghunjam ke atas. Entah apa maksudnya, yang tentu bisa panjang ceriteranya kalau saya tanyakan hal itu. Nah, di luar arena upacara beliau membakar kemenyan. Maka pada pagi kemarin itu, siapapun peserta upacara tahu bahwa saat itu ada kemenyan sedang dibakar karena memang baunya cukup menyengat.

Faktanya kemarin pagi, hujan tidak turun saat upacara pengibaran bendera berlangsung. Padahal saat itu Tembagapura sedang diselimuti awan sangat tebal, menggantung diam tidak bergerak, seperti tinggal tunggu waktu pecahnya bisul yang sudah matang. Tidak seperti hari-hari biasanya awan atau kabut bergerak berarak dihembus angin gunung.

Mbah Poniman memberitahu saya : “Meniko mboten saged dangu-dangu, amargi menyanipun kantun sekedik” (ini tidak akan berlangsung lama, karena kemenyannya tinggal sedikit). Maksudnya bahwa karena persediaan kemenyannya hampir habis maka beliau tidak bisa menahan tidak turun hujan terlalu lama. Beliau sudah memberitahu panitia, kalau ingin lebih lama tidak hujan maka perlu dibelikan tambahan kemenyan. Rupanya persediaan kemenyannya sudah terkonsumsi cukup banyak pada malam sebelumnya dimana Tembagapura diguyur hujan deras cukup lama sejak sore hingga tengah malam 17 Agustus. Begitu katanya.

Dalam hati saya membatin, lebih baik demikian. Daripada, konon pada perayaan 17-an tahun lalu, Mbah Poniman ini “keasyikan” mbakar kemenyan, sehingga kebablasan, yang berakibat seminggu kemudian Tembagapura kering tanpa hujan dan debu berhamburan dimana-mana.

Faktanya kemarin sore, hujan turun mengguyur lapangan dan peserta upacara pada saat upacara penurunan bendera sedang berlangsung. Usai upacara, saat hari mulai senja, saya cari-cari Mbah Poniman. Rupanya sudah kabur. Tidak saya lihat lagi sesaji dan tombak yang terpancang seperti yang saya lihat pagi harinya. Hanya bekas arang dan abu kemenyan yang basah oleh siraman hujan. Dalam hati saya membatin, barangkali “Service Agreement” dalam orderan untuk Mbah Poniman memang hanya sampai kemenyan habis, tidak ada klausul tentang suplai tambahan kemenyan. Apakah memang karena kemenyan Mbah Poniman habis, sehingga kemarin sore hujan mengguyur peserta upacara penurunan bendera? Wallahu a’lam.

Ada cerita lain dari Mbah Poniman, bahwa di sekitar Tembagapura ini ada dayangnya atau dalam istilah Jawa sering disebut Yang mBahurekso atau mahluk halus penguasa teritorial Tembagapura. Barangkali ini cerita yang pas untuk acara kisah misteri di saluran televisi.

Pada malam 17-an kemarin Mbah Poniman bercengkerama dengan dayang Tembagapura. Sang dayang bernama Mapuri, bertubuh pendek, hitam, berpakaian putih, berambut keriting, tapi anehnya bisa berbahasa Jawa. Menurut cerita Mbah Poniman, rupanya Mapuri keukeuh (ngotot) tidak bersedia pindah ke pemukiman lain. Sehingga dalam upaya penjinakan hujan ini Mbah Poniman perlu berkolaborasi dengan penguasa dunia permahlukhalusan Tembagapura. Mapuri lebih suka tinggal di pojokan lapangan tempat dimana sesaji diletakkan oleh Mbah Poniman. (Barangkali sang dayang Mapuri ini dulunya hobi main sepak bola, maka dengan tetap tinggal di pojok lapangan dia jadi bisa lebih sering nonton permainan sepakbola).

Di akhir obrolan dengan Mbah Poniman kemarin, beliau menawari saya. Kalau saya mau menyempatkan mampir ke rumahnya, maka saya akan diajari kaweruh-nya untuk menjinakkan hujan itu.

***

Mbah Poniman dan kaweruh-nya dan dunianya, adalah realitas hidup yang tak terpungkiri. Adalah fenomena menarik yang di jaman modern dan jaman informasi ini ternyata masih mempunyai nilai yang dibutuhkan orang, sekalipun dari lintasan yang paling pinggir yang nyaris tak terjamah oleh kesibukan modernitas di lintasan yang lebih dalam.

Satu hal yang patut dicontoh, terlepas dari apakah orang lain akan setuju atau tidak setuju dengan yang dilakukan oleh Mbah Poniman, apakah kaweruh-nya itu benar atau tidak benar menurut agama Islam yang dipeluknya, adalah sikap hidupnya yang sangat rendah hati. Sekalipun beliau punya kaweruh yang luar biasa, bahkan katanya mampu membantu melakukan approach dengan Gusti Allah agar mengabulkan setiap hajat pemintanya. Toh Mbah Poniman tetap biasa-biasa saja, sederhana dan bersahaja, tetap menjadi seorang petani dan tidak pernah bercita-cita menjadi konglomerat. Wallahu a’lam.

Tembagapura, 18 Agustus 2003
Yusuf Iskandar

Kisah Tentang Pak Wahib Dan Bu Inul

21 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah penggalan email (setelah saya revisi sedikit agar lebih sesuai untuk pembaca umum) yang pernah saya tulis untuk sebuah kelompok diskusi kecil di Tembagapura tentang tokoh Ahmad Wahib dengan bukunya “Pergolakan Pemikiran Islam” dan fenomena si ratu goyang ngebor Inul Daratista. Lalu meluncurlah catatan kecil “Kisah tentang Pak Wahib dan Bu Inul” ini. Sekedar untuk selingan saja.-
———–

(1)

Ing sawijining dino……. (pada suatu hari………)

Ahmad Wahib dengan pergolakan pemikirannya (sendiri dan sendirian), tidak pernah menyangka kalau catatan pribadinya kelak menyebabkan dirinya bakal diomongin orang (yang sebagian di antaranya “memusuhi” pemikirannya), dan dikafir-kafirin. Biarlah, Pak Wahib ini pernah berjuang dengan dunianya dan pemikirannya, bukan untuk siapa-siapa.

Inul Daratista dengan pergolakan kreatifitasnya (juga, sendiri dan sendirian), tidak pernah menyangka kalau bakal dikenal dan dibicarakan banyak kalangan (yang sebagian diantaranya “menyiriki” kreasinya), dan diharam-haramin. Biarlah, Bu Inul yang sedang berjuang memperoleh label “halal” dari MUI ini tenang menikmati produknya (entah labelnya nanti mau ditempel di mana).

Kini, Pak Wahib, Insya Allah, sudah tenang di alamnya — rest in peace. Dan, kita respek dengan pergolakan pemikiran Islamnya dan sikap amal sholehnya.

Pun, Bu Inul, sedang menikmati kreatifitasnya. Satu lagu konon dihargai Rp 6 juta (kini pasti lebih mahal lagi), complete with drilling style, FOB Jakarta. Kalau FOB Papua, barangkali jadi Rp 10 juta per lagu. Jadi kalau Bu Inul presentasi di kota Tembagapura, Kuala Kencana, Timika dan sekitarnya misalnya, masing-masing dengan 6 lagu, maka total purchasing cost-nya Rp 180 juta + bonus “saweran”. Lha iya, siapa yang tidak ngiri. Yang paling nyebelin ‘kan kalau ngiri-nya pakai embel-embel “nambahin gelar”, “mengatas-namakan”, dsb.

Nuwun sewu, saya bukan anggota FBI (Fans Berat Inul), hanya tertarik mencermati, atas dua alasan :

Pertama, Inul adalah fenomena yang bisa terjadi setiap saat di depan mata kita, untuk tema apa saja (kebetulan saat ini bertema drilling style).

Kedua, Inul adalah representasi kaum marginal yang di-fait-accompli (diterpaksakan) oleh kemarginalannya, sehingga harus struggling to surrender di haribaan “Sang Raja yang mengatas-namakan” (Anda pasti tahu, siapa Sang Raja ini. Bisa dibayangkan betapa nelangsa dan makan hatinya untuk berada dalam suasana seperti ini).

Maka tentang inul-menginul ini, saya mendukung gerakan FPI (Front Pembela Inul), bukan Inul sebagai Inul Daratista yang gedrug-gedrug di acara Duet Maut SCTV, melainkan Inul sebagai representasi kaum marginal yang termarginalkan semarginal-marginalnya. Mudah-mudahan beribu-ribu Inul lainnya yang ada di depan kita ini tidak lupa bahwa doanya sangat dekat di sisi Tuhannya. Kalau tidak, “Kasihan, deh lu…..”.-

Tembagapura, 30 April 2003
Yusuf Iskandar

——-
*) Ahmad Wahib — Salah seorang pelaku Angkatan ’66 yang kumpulan catatan hariannya dibukukan dengan judul “Pergolakan Pemikiran Islam”.

*****

(2)

Sejujurnya, saya sebenarnya juga merasa risih ketika enak-enak nonton TV bersama anak-anak dan istri kemudian muncul iklan produk “HORE”, dan lalu disuguhi bokong-nya Bu Ainur Rohimah meghal-meghol kayak menthok (itik manila). Saya bayangkan saat itu orang tua saya, mertua saya, tetangga saya, guru ngaji saya, para pejabat, Rhoma Irama dan termasuk alim ulama anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) beserta keluarganya, berada dalam suasana yang mirip-mirip yang saya alami. Karuan saja kalau kemudian mereka mencak-mencak : “Busyet…, Ini haram…!”.

Noval, anak saya yang kini kelas 3 SD, sambil tertawa bilang : “ngebornya kayak bey blade, ya Pak….”. Jangankan di luar sana, di rumah saya sudah jatuh korban. Sekali waktu Noval dimarahin ibunya, maka sambil cengengesan spontan dia membelakangi ibunya dan pantatnya di-meghal-meghol-kan menirukan ngebornya Inul. “Tuobat tenan….”, kata ibunya.

Jadi, Inul harus berhenti ngebor? Enteng saja Bu Inul yang penampilannya terkesan lugu, ndeso dan tidak neko-neko ini bilang : “Lha, saya sudah belajar 8 tahun untuk bisa ngebor kayak gini, kok sekarang disuruh berhenti”. Nah lu…!

Diam-diam, kaum ibu pun memuja Bu Inul, saking gemasnya dan kepinginnya bisa meniru lenturnya dan gemulainya liak-liuk tubuh Bu Inul ini. Para ibu berbusana muslimah pun berebut memeluk Bu Inul ketika ada kesempatan ketemu.

Dan…, “Kenapa harus Inul yang disalahkan?”, kira-kira demikian kilah para ibu. Di keramaian Jakarta, di pelosok Jawa Timur atau di Tembagapura, ada ratusan orang yang juga suka meliak-liukkan tubuhnya, tidak hanya Bu Inul.

Akhirnya, fatwapun dijatuhkan oleh IKADI, bahwa goyang ngebor Inul hukumnya haram. Agak “lega” sudah, setidak-tidaknya keputusan sudah dibuat (entah oleh siapa pun saja), dan kontroversi yang berkembang (untuk sementara) mereda.

Implikasinya adalah, barangsiapa mendukung, memfasilitasi, membantu, akan terselenggarakannya kegiatan dan tontonan ngebor-mengebor ala Inul, maka mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menjadi bagian dari perbuatan yang haram itu tadi. Demikian setidak-tidaknya yang hendak disampaikan oleh IKADI. Termasuk, penyelenggara acara TV, pemasang iklan, pendukung acara, penontonnya, dan pesawat TV-nya sendiri (berapa inch pun ukuran TV Anda).

Kini pertanyaannya : “Kenapa harus Inul?”. Pertanyaan yang cukup mengganggu, bagi orang yang tidak suka mikir yang lurus-lurus.

Ya, kenapa bukan para penari dan penyanyi latar yang beberapa tahun terakhir ini justru tampak lebih seronok dan erotis dan merangsang penampilannya?

Kenapa bukan Akbar Tanjung yang menyelewengkan dana Bulog yang diharamkan, sehingga semua pejabat Golkar yang mendukung keberadaannya kini juga akan termasuk orang-orang yang berbuat haram?

Kenapa bukan Tommy Suharto yang diharamkan, sehingga semua orang yang ada di sekitarnya adalah termasuk yang melakukan perbuatan haram?

Kenapa bukan para penguasa yang sepertinya membiarkan peredaran VCD porno merajalela?

Kenapa bukan mereka yang seakan menutup mata terhadap peredaran bebas minuman keras dan narkoba?

Atau, kenapa bukan mereka, ribuan “Inul-Inul” lainnya yang jauh lebih “Inul” daripada Inul.

Seorang rekan di milis ini berkomentar gusar : “…..padahal jaman sekarang ini susah lho, orang yang mampu meraih prestasi dan sukses dengan tanpa KKN, tanpa katabeletje, melainkan dengan usaha keras, merangkak dari bawah, seperti yang dilakukan Inul”.

Tahun depan, konon kalau jadi, rencananya Inul akan membiayai ibunya naik haji. Ibunya Inul saat ini tengah menerawang jauh, gamang memikirkan bagaimana dia harus melafalkan kalimat : “Kupenuhi panggilan-Mu Ya Allah….”, beruang-ulang. Ya, “kepenuhi panggilan-Mu” dengan uang haram, karena dia ingat uang pemberian Inul kini berstempel haram (menurut fatwa IKADI).

Jadi, Kenapa harus Inul?

Pertanyaan yang barangkali iramanya sama : Kenapa harus Marsinah, Kenapa harus Pak De (“pembunuh” Dice), Kenapa harus Prabowo Subianto, Kenapa harus Ahmad Wahib? Kenapa harus Abu Bakar Ba’asyir? Mereka adalah bagian dari orang-orang yang terpaksa terpinggirkan menjadi korban “pranata salah mangsa” (sistem salah musim).

Sistemnya sendiri sudah ada sejak dulu. Juga tidak ada yang salah. Namun, pada “musim-musim” tertentu sistem bisa saja salah, disalah-salahkan atau dipersalahkan. Apalagi kalau “musim penghujan yang basah”, sistem bisa menjadi licin dan rentan untuk terpeleset atau dipelesetkan. Wallahua’lam…..

Wassalam,

Tembagapura, 13 Mei 2003
Yusuf Iskandar