Posts Tagged ‘madurejo’

Ada Maling Di Tokoku

30 Juni 2011

Pengantar:

Seseorang tak di kenal gagal melakukan upaya percobaan pencurian di toko saya “Madurejo Swalayan”, Prambanan, Sleman, Yogya Istimewa, pada tanggal 2 Juni 2011 dini hari. Cerita itu saya tulis di Facebook pada tanggal 2-4 Juni 2011 dalam beberapa penggalan cerita status. Berikut ini rangkaian ceritanya.

***

(1)

Menjelang jam 3 dini hari di libur Kenaikan Isa Almasih, seseorang melompati pagar setinggi 3 m menggunakan tangga dari kebun belakang rumah tetangga toko Madurejo. Kemudian menuju bangunan di belakang toko, tolah-toleh sana-sini, mengintip ruang kantor, memeriksa pintu dan jendela, lalu naik ke lantai 2. Sekitar lima menit kemudian turun dari lantai 2.

Agaknya tadi melakukan slow motion, mengendap-endap, mengintip si penunggu toko yang tidur di lantai atas.

(2)

Seseorang yang agaknya ingat kalau sedang tanggal muda itu kemudian berjalan perlahan meninggalkan bangunan toko menuju ke bagian belakang. Mungkin memeriksa gudang di belakang yang kondisinya sedang kosong. Sekitar lima menit kemudian kembali lagi.

Aha.., dia kini mengenakan topi yang dipakai terbalik, bagian depan topinya menghadap ke belakang. Entah mengapa dia meloncati lubang jendela teras kantor, padahal ada ruang terbuka yang lebih mudah. Rupanya kini membawa obeng.

(3)

Dua jendela kantor dicoba dicongkel tapi gagal. Pintunya juga tidak bisa dibuka. Lalu mencoba membuka pintu belakang toko, juga gagal.

Merasa kurang nyaman, seseorang berjaket hijau dengan topi terbalik itu lalu kembali menuju tangga ke lantai atas. Barangkali ingin memastikan si penunggu toko masih terlelap. Dengan menggunakan senternya dia pun melompati barang-barang yang masih tergeletak di ujung bawah tangga, lalu mengendapendap naik.

(4)

Pada saat yang sama, si penunggu toko yang tidak lama sebelumnya baru kembali dari toilet di lantai bawah mendengar ada suara mencurigakan di bawah. Dia pun lalu waspada memasang pendengarannya tajam-tajam. Dia lalu memutuskan untuk memeriksanya. Dia bergerak keluar kamarnya, berjalan mengendap-endap menuju ke tangga. Pelan-pelan dilongokkan kepalanya mengintip ke bawah dari ujung atas tangga.

(5)

Waaa.., betapa kagetnya ketika dalam keremangan dilihat ada seseorang yang juga sedang mengendap-endap naik. Orang itu pun tak kalah kagetnya ketika tahu aksinya dipergoki.

Seperti adegan “Tom & Jerry”, seseorang tak di kenal itu langsung bubar jalan, turun dengan panik melompati tumpukan barang, lari sipat kuping (kencang) ke arah belakang, menembus kegelapan, menuju pojok halaman dimana ada bak sampah. Agaknya dia tahu ada posisi bagus untuk lompat pagar.

(6)

Sesaat kemudian si penunggu toko menyusul sambil teriak-teriak sekenanya. Namun dia memutuskan balik lagi mengambil senter dan membangunkan temannya. Dia khawatir kalau orang tak dikenal itu membawa senjata tajam dan berbuat nekad.

Tentu saja dia kehilangan banyak waktu. Orang tak dikenal itu sudah hilang ditelan malam. Sementara si penunggu toko memeriksa sekeliling halaman. Ketemu dengan pak tani yang sedang mengalirkan air di sawah yang tentu saja tidak ngeh.

(7)

Semua adegan di teras kantor dan belakang toko itu terekam oleh kamera CCTV toko “Madurejo Swalayan”. Sore tadi saya buat copy-nya untuk dilaporkan ke pak polisi Polsek Prambanan, tentang adanya percobaan pencurian. Walau tidak terlihat detil, tapi prejengan (profil wajah) dan postur tubuhnya cukup mudah dikenali.

Segenap pegawai pun saya kumpulkan untuk briefing tentang langkah antisipasi yang harus dilakukan, karena orang itu pasti akan kembali…

(8)

Orang itu pasti penasaran, maka dia akan belajar lebih baik untuk mengulangi. Entah kapan dan dengan cara apa.

Maka langkah antisipasi yang utama tentu saja meningkatkan kewaspadaan di semua bidang. Setelah itu, ada langkah pencegahan secara fisik dan non-fisik (kalau disebut metafisik asosiasinya jadi lain). Secara fisik adalah memperbaiki sistem pengamanan. Secara non-fisik adalah ndongo (berdoa) memohon perlindungan Tuhan sekaligus berserah menitipkan kepada-Nya.

(9)

Menyadari bahwa selalu saja ada hal-hal yang dapat terjadi di luar kontrol manusia, maka itulah perlunya langkah non-fisik. Sehebat-hebatnya upaya pengamanan, selalu ada celah yang dapat ditembus. Maka ndongo (berdoa) adalah upaya untuk menambal celah itu dan biar Tuhan yang melakukannya.

Kalau memang Tuhan mengijinkan celah itu ditembus orang jahat, maka pasti Dia sudah menyediakan kompensasinya. Maka dalam berbisnis pun sebaiknya melibatkan Dia serta semua system-Nya…

(10)

Tentang maling yang misinya gagal itu rupanya saat kabur meninggalkan sepasang sandal jepit warna hijau. Kutanya pada penunggu tokoku: “Mau dibuang atau dipakai?”.

“Saya pakai saja, pak”, jawabnya.

Yo wis… Kalau tidak, mau kubakar sambil kubaca-bacain (baca koran yang untuk membakar maksudnya). “Ben kobong silite…”, kataku.

Siapa tahu bisa membuat (maaf) duburnya terbakar. Bisa meloncat-loncat seperti jaran (kuda). Bisakah? Ya siapa tahu saja bisa…

(11)

Haha… ‘Boss’ saya dan penunggu toko tertawa ngakak mendengar gurauanku. Padahal saya mengatakannya sambil serius. Tentu saja saya tidak berharap itu terjadi. Si maling sudah berbaik hati “terpaksa” menyedekahkan sandalnya, masak mau dibalas dengan yang lebih buruk. Sementara tidak ada sedikitpun kerugian diderita, kecuali rasa jengkel diperdaya begundal iseng.

Perburuan sedang dilakukan. Mudah-mudahan berhasil agar cerita ini ada lanjutannya.

(12)

Pak polisi sudah mendatangi TKP. Kami pun membantu dengan memberikan info yang diperlukan. Kalau nantinya bisa dilacak, diburu dan ketahuan siapa pelakunya, lalu apa? Ya tidak ada apa-apa…

Tidak ada angan-angan untuk menghakimi sendiri (saya takut jadi hakim), melainkan hanya ingin mengingatkan agar jangan coba-coba mengulangi perbuatan nakalnya (mengingatkan tapi mengancam). Lebih dari semua itu, pencegahan dan kewaspadaan tetap harus diutamakan.

(13)

Ketika ngobrol-ngobrol dengan tetangga toko tentang insiden pencurian itu, seseorang bercerita bahwa di Yogya banyak toko-toko yang “dipagari”. Saya jelaskan bahwa toko saya pun sudah dipagar keliling setinggi 3 m. Itu yang kelihatan. Kalau yang tidak kelihatan sudah saya mintakan Tuhan untuk memagari dan saya pasrah bongkokan (total) kepada-Nya.

Maka kalau suatu saat Tuhan kok mengijinkan ada begundal iseng menerobos pagar bikinan-Nya. Ya monggo… Saya pun bisa tidur nyenyak.

(Note: Seorang teman menyarankan agar dipasang sensor gerak untuk mendeteksi gerakan orang tak diundang di saat yang tidak wajar. Tapi saya pikir-pikir, jangan-jangan nanti sistem keamanan toko saya lebih canggih ketimbang bank…hehe)

Yogyakarta, 2-4 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Kedondongku

28 April 2011

Kedondongku — Tinggi pohonnya kurang dari 2 meter. Terus berbunga, terus berbuah, dan akan terus kupetik, kubanting dan kubrakoti… (kumakan) setiap kali aku dinas ke tokoku di Madurejo, Prambanan, DIY. Seperti tak kan habis dalam semusim…

Yogyakarta, 26 April 2011
Yusuf Iskandar

Ketika Tuhan “Memaksa”

10 Februari 2011

Kesialan, ketidak-beruntungan, keburukan dan bencana, hampir setiap saat kita jumpai. Tapi tidak setiap saat kita dapat melihat kebaikan yang ada di baliknya.

Berikut ini kumpulan cersta (cerita status) saya di Facebook, sekedar ingin berbagi…

(1)

Akhirnya benar-benar terjadi. Mobilku tidak bisa keluar karena terhalang bangunan di pojok jalan kampung. Orang lain yang bersengketa, mobilku yang jadi korban (kalau pemiliknya baik-baik saja). Yo wiss, bensinnya utuh…

Sudah 3 hari saya pergi ke toko Bintaran naik sepeda (uuuh.., sudah lama tidak bersepeda). Siang kemarin ke toko Madurejo menempuh jarak lebih 30 km pp. bersepeda motor boncengan dengan “boss” (hmmm.., untuk pertama kali kami lakukan ini sejak toko itu berdiri lebih lima tahun yll).

(Repotnya kalau membangun rumah di tengah persawahan ketika belum tahu kawasan itu kelak akan menjadi seperti apa. Tapi karena niat awal membangunnya adalah untuk tujuan ibadah, ya biar saja Tuhan yang mengurus jalan keluarnya…, maksudnya benar-benar jalan agar mobilku bisa keluar…)

(2)

Tertutupnya akses jalan mobil di rumah adalah satu hal. Bersepeda ke toko adalah hal lain. Tapi berboncengan sepeda motor jarak jauh adalah cara Tuhan “memaksa” saya untuk lebih kompak bekerja berdua “boss”.

Hmmm… Sebab filosofinya adalah, tidak ada hal yang kebetulan melainkan ada dalam perencanaan-Nya. Maka bersepeda motor ke Madurejo untuk yang pertama kali itu pun sesuai rencana-Nya.

(3)

Berboncengan sepeda motor, dengan kecepatan 30-40 km/jam, membelah persawahan di wilayah kecamatan Berbah yang padinya mulai menguning dan sebagian mulai panen… Uuugh, serasa seperti sedang yang-yangan (pacaran).

Dengan “menutup” akses mobil di kampung, Tuhan sedang “memaksa” memberi kesempatan kami untuk melakukan “revitalisasi”. Kami pun bisa bersepeda motor ke Madurejo dengan santai sambil cengengesan… Untung tidak kehujanan…

(Seorang teman “cemburu”… Saya katakan, bayangkan seperti melihat adegan kemesraan dalam film-film jadul, bukan dalam film-film jaman sekarang…)

(4)

Pulang dari Madurejo saat sore. Mampir ke warung sate kambing “Pak Tarno”, di Jl. Piyungan-Prambanan km 4,5. Seporsi sate yang terdiri dari enam tusuk dengan potongan kecil-kecil, empuk sekali dagingnya… Seporsi gule melengkapinya.

Jam terbang Pak Tarno yang lebih 22 tahun menekuni dunia persatean di Jogja, tidak diragukan lagi kompetensinya untuk menyajikan seporsi sate kambing…, hmmm..! Terbukti dua ekor kambing ludes dimakan pelanggannya tiap hari.

(Memang tidak ada hubungannya antara kemesraan dengan sate kambing. Sate kambing itu sepenuhnya hak prerogatif lidah hingga perut untuk mak nyus atau tidak , sedang kemesraan itu seperti angin segar yang berhembus di persawahan karena selalu diharapkan agar jangan cepat berlalu…)

Yogyakarta, 9 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

NB:
Catatan ini kupersembahkan kepada sahabat-sahabat saya yang kini usianya telah berada di ambang atau sekitar periode “over-sek” (lebih seket, lebih lima puluh tahun). Teriring salam hormat semoga selalu berbahagia bersama keluarga.

Buah Favorit

7 Januari 2011

Kedondong cangkok di belakang tokoku di Madurejo, Sleman, mulai berbuah. Kali ini tidak sendiri…, melainkan gerombolan ramai-ramai. Satu-satunya alasan saya menanam kedondong adalah karena ini buah favoritku. Bukan pepaya, mangga, pisang, jambu…, apalagi apel, anggur atau strawberry….tapi kedondong.

Yogyakarta, 22 December 2010
Yusuf Iskandar

Sendiri…

7 Januari 2011

Sendiri… Rambutan cangkok di belakang toko di Madurejo, Sleman, sudah mulai berbuah. Buah pertama, tapi sendiliii… (sengaja tidak pakai ‘r’).

Yogyakarta, 21 December 2010
Yusuf Iskandar

Catatan Harian Untuk Merapi (4)

28 Desember 2010

(26). Bantuan Dari Papua

Rencana mau distribusi bantuan hari ini tertunda, karena barang-barang yang mau dibagi terlambat tiba. Gara-gara pesawat tidak bisa mendarat di Jogja, sehingga harus via bandara Semarang lalu diangkut lewat darat. Ini bantuan dari teman-teman di Papua yang berasal dari Jogja dan sekitarnya yang digabung dalam program Freeport Peduli. Insya Allah, baru besok bisa didistribusikan.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(27). Perlu Dukungan Logistik

Akibat letusan besar malam Jumat kemarin, pengungsian menjadi kurang terkontrol. Dapat dimaklumi, karena gelombang pengungsian terus berpindah-pindah seiring dengan perubahan radius Kawasan Rawan Bencana. Sekarang lokasi pengungsian sudah masuk wilayah kota Jogja. Tempat-tempat pengungsian dadakan ini perlu dukungan logistik yang tak terencana. Tak terkecuali desa Madurejo dan desa-desa sekitarnya di Prambanan, Sleman, juga kedatangan pengungsi.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(28). Air Mineral Untuk Tetamu Tak Diundang

Sekedar beberapa karton air mineral yang saya drop ke pak RT tadi siang, kiranya bisa membantu sebagai pelengkap nasi bungkus yang dibagikan oleh masyarakat desa Madurejo sebagai tuan rumah dadakan. Ini dalam rangka menyambut tetamu tak diundang, tapi jelas perlu bantuan dan disambut sepenuh rasa simpati. Lebih 500 pengungsi telah memenuhi Balai Desa Madurejo, Prambanan, Sleman, dan diperkirakan jumlahnya akan bertambah.

(Madurejo – Sleman, 6 Nopember 2010)

——-

(29). Awas Banjir Lahar Dingin

Awas Banjir Lahar Dingin…! Setelah kemarin siang, sore ini Kali Code kembali naik permukaannya. Arus yang sangat kuat mengalir deras membawa material Merapi. Nyaris melampaui tanggul di sepanjang bantaran sungai yang membentang 10 km membelah kota Jogja, melintasi 9 kecamatan kota. Masyarakat di sepanjang bantaran sungai sudah siap-siap mengungsi mengantisipasi kemungkinan terburuk banjir lahar dingin.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(30). Mbah Merapi Tidur Nyenyak

Seharian ini Jogja redup, mendung dan masih tersaput abu vulkanik tipis bergentayangan. Sore harinya hujan deras mengguyur seakan membersihkan lapisan abu yang menempel dimana-mana. Sementara Mbah Merapi nampak tidur nyenyak sejak semalam. Mudah-mudahan sama seperti Mbah Surip…, bangun tidur, tidur lagi, banguuuun… tidur lagi…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(31). Ketika Perangkat Desa Mendadak Sibuk

Ketika tempat-tempat pengungsian utama penuh, seperti Stadion, GOR dan kampus-kampus, maka Balai Desa menjadi alternatif. Seperti para pengungsi yang mendadak berdatangan ke desa Bokoharjo, Sumberharjo dan Madurejo, Prambanan, Sleman. Akibatnya, perangkat desa dan masyarakat setempat pun jadi mendadak sibuk kedatangan rombongan tamu ini. Tapi justru tempat-tempat pengungsian “kurang populer” seperti inilah yang jauh dari tujuan pemberian bantuan dari para dermawan.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(32). Sampai Kapan Bertahan

Sepulang dari toko tadi sore, mampir sebentar ke Posko pengungsian desa Madurejo. Sekalian survey, berbincang-bincang sebentar dengan petugas untuk mengetahui kebutuhan mendesak para pengungsi. Ternyata jumlah pengungsi ada 1200-an orang dari berbagai desa di wilayah lereng Merapi. Berjubel di tempat yang sangat terbatas. Uuugh…! Kalau ingat entah sampai kapan mereka harus bertahan…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(33). Kearifan Lokal Yang Luar Biasa

Tempat pengungsian dadakan seperti itu umumnya tidak (atau belum?) menyediakan fasilitas dapur umum. Selain masalah prasarana, juga tempat. Maka sibuklah ibu-ibu PKK warga desa, bergotong-royong memasak untuk para pengungsi. Sungguh kearifan lokal yang luar biasa, tapi lagi-lagi… akan bertahan sampai kapan? Sementara supply logistik bahan mentah begitu mendesak. Selain kebutuhan toiletris, makanan balita, selimut dan obat2an ringat juga mendesak…

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

(34). Tempat Pengungsian “Tidak Populer”

Siang tadi saya menerima transfer sejumlah dana dari teman di Jakarta dan insya Allah akan ada yang menyusul. Rencananya akan saya salurkan ke tempat-tempat pengungsian yang “tidak populer” seperti di desa-desa itu. Tempat seperti itu biasanya jauh dari jangkauan penyumbang yang pada umumnya sudah tertuju ke tempat-empat yang mudah didatangi.

(Yogyakarta, 6 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (6)

28 Desember 2010

(46). Senyampang Merapi Istirahat

Senyampang Merapi lagi istirahat sehari tadi, distribusi bantuan jalan terus untuk lokasi Desa Madurejo, Prambanan. Dana kiriman teman kemarin saya konversi menjadi 100 nasi bungkus untuk makan siang. Tambahan 200 nasi bungkus juga dapat dikirim dari sumber lain. Sementara sorenya masih bisa dikirim 200 nasi bungkus lagi untuk makan malam. Sekedar meringankan ibuibu PKK yang kewalahan harus menyiapkan ransum untuk sekitar 2000 pengungsi.

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(47). Semuanya Mendesak

Hari ini saya menerima transfer dana dari rekan di Papua dan Jakarta. Rencananya besok akan saya belanjakan untuk kemudian disalurkan sesuai kebutuhan pengungsi. Beberapa koordinator Posko sudah saya hubungi dalam rangka menyurvei barang kebutuhan yang paling mendesak. Lha kok ternyata semuanya mendesak…? Waduh, piye iki… Harus cari dana tambahan dari sumber lain…. (Thanks untuk mas Didiek Subagyo dan mbak Anita S. Nitisastro).

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(48). Biarkan Menemukan Keseimbangannya

Isi perut ini kalau sudah kebelet mau keluar memang tidak dapat ditahan. Tak juga hujan badai atau acara kondangan. Jangan pernah menyalahkan perut, melainkan manage-lah perut ini dengan arif. Biarkan perut menemukan keseimbangannya. Itu manusiawi…

Maka, jangan pernah menyalahkan Merapi. Jangan ditahan kalau isi perut Merapi kebelet keluar sesuai kodratnya. Manage-lah Merapi dengan arif. Biarkan Merapi menemukan keseimbangannya. Itu gunungwi…

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(49). Kampungku Juga Kedatangan Pengungsi

Malam ini aku baru tahu rupanya di kampungku juga kedatangan pengungsi yang menempati GOR sekolah. Jumlahnya sekitar 50 orang, al. dari kecamatan Cangkringan, daerah terparah korban Merapi. Kusempatkan untuk menengoknya, nampak sudah tertangani dengan baik. Tapi tetap saja perlu dukungan bantuan jika mengingat ketidakjelasan sampai kapan mereka akan bertahan. Semakin lama bisa semakin membuat “frustrasi” kedua belah pihak, ya pengungsinya, ya pengelolanya.

(Yogyakarta, 8 Nopember 2010)

——-

(50). Merapi Normal Dan Baik

Seorang teman dari luar kota tilpun dan bertanya: “Gimana Merapi, mas?”.

“Alhamdulillah, kondisi Merapi normal dan baik…”, jawabku. Lalu kulanjutkan…: “maksudku, normal aktif bererupsi, dan itu lebih baik ketimbang tidak ada apa-apa tahu-tahu terjadi letusan besar…”.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(51). Anak Wedok Jadi Relawan

Anak wedok “ikut-ikutan” menjadi relawan. Kemarin membantu ke posko pengungsian di kecamatan Kalasan, Sleman. Ada 1300 pengungsi yang akan menjadi tujuan saya untuk penyaluran bantuan. Ketika kutanya kebutuhan apa yang paling mendesak? Katanya: pakaian dalam, handuk, air mineral dalam galon, beras…

Tapi saking semangatnya, pesan yang ditulis adalah: “Cd sama bh pria wanita…”.
Ya, jelas kutanya: “Bh pria, adakah? Seperti apa…?”.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(52). Belanja Lima Karung Beras

Berhubung kendaraan angkutannya agak sakit, berobat dulu, maka baru siang ini sempat belanja dan ngedrop lima karung beras ke Posko pengungsian di desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman (ada 3000-an pengungsi di sana). Dapur umum yang dikelola ibu-ibu PKK itu sehari rata-rata memasak delapan kwintal beras

(Note: lima karung beras itu adalah alokasi dari sebagian dana bantuan yang saya terima, sisanya insya Allah masih akan saya salurkan menyusul)

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(53). Bahaya Lahar Dingin

Hujan terus mengguyur kawasan Jogja dan Merapi sejak siang, disertai kilat dan geledek. Udara akan menjadi bersih dari abu vulkanik, tapi AWAS bagi mereka yang tinggal di dekat-dekat aliran sungai yang berhulu di Merapi.

Untuk masyarakat kota Jogja, ancaman itu berada di sepanjang bantaran Kali Code. Potensi bahaya banjir lahar dingin bisa lebih besar dari banjir biasanya, sebab material lahar di seluas lereng Merapi akan kompak turun gunung rame-rame.

(Yogyakarta, 9 Nopember 2010)

——-

(54). Kurban Untuk Pengungsi

Sepekan lagi Hari Raya Kurban. Sebagian masyarakat muslim bersiap memilih kambing dan sapi untuk menjadi tunggangan “masa depan”. Tapi sebagian masyarakat lainnya sedang tak berdaya, juga hewan mereka lebih dulu tekapar oleh wedhus gembel.

Maka alangkah indahnya kalau para penerima daging kurban “langganan” selama ini, turut berkurban mengalihkan sebagian jatahnya kepada para pengungsi. Diberikan mentah atau matang, itu soal teknis. Yang pasti mereka berhak dan butuh…

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(55). Kesalehan Itu Masih Ada

Jogja pagi ini cerah sekali. Sejak dini hari tadi bintang berkelip di angkasa. Langitpun bersih tak berabu. Mengawali minggu ke-3 AWAS Merapi, tetap dengan KEWASPADAAN tinggi sambil menemani Merapi menanak magma. Pengungsi bertahan mengatasi kebosanan. Relawan terus berjuang mengabdi di bidangnya. Saatnya membuktikan bahwa kesalehan individual, sosial dan lingkungan masih ada. Sebab tak sia-sia semua itu tercipta (ma kholaqta hadza bathila)

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(56). Berkolaborasi Dengan Anak Wedok

Hari ini berkolaborasi dengan anak wedok belanja barang bantuan dan langsung mengirimnya. Setelah di-survey sebelumnya, maka segera menuju lokasi pengungsian Posko SMP I Kalasan ngedrop 12 lusin sandal jepit. Dilanjut ke Posko Balai Desa Madurejo, Prambanan, ngedrop 4 lusin handuk dan 80 lembar selimut. Sedang lima karung beras kemarin telah dikirim ke Posko Balai Desa Bokoharjo, Prambanan. (Thanks untuk mas Didiek, mbak Anita dan mas Budi Yuwono).

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

(57). Kaos Relawan

Koordinator relawan yang berbasis di Balai Desa Madurejo, kecamatan Prambanan, Sleman, menghubungi saya minta diusahakan kaos seragam bertuliskan RELAWAN. Tujuannya untuk membedakan dengan orang-orang tidak jelas yang membantu-bantu.

“Ada pesan sponsornya nggak apa-apa pak”, katanya.
Wuah…, dan jawab saya: “Nggak janji ya pak, hanya kalau nanti ada yang bersedia menjadi sponsor…”. Lha jumlahnya 60 orang je…

(Yogyakarta, 10 Nopember 2010)

——-

Pesta Pecel Lele

25 Oktober 2010

Pagi-pagi mancing lele di kolam belakang toko. Itu yang tadi dilakukan seorang pegawai toko Madurejo, Jogja. Maka siang ini semua pegawai pesta pora makan siang dengan pecel lele sepuasnya. Pemiliknya juga…(kalau ini wajib). Lalapan mentimun, tomat dan daun kemangi yang dipetik di pinggiran sawah yang daunnya lebar-lebar.

Order kerja spesial untuk besok, besoknya dan besoknya besok, masih sama: Lanjutkan pestanya, habiskan lelenya…!

Yogyakarta, 21 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

“Banting Setir” Dan Orientasi Mind Set

29 September 2010

‎”Banting setir” (alih profesi) memang nampaknya sederhana. Tapi tidak demikian jika orientasi mind set tidak siap. Takut, kurang pede, bingung, awang-awangen (kebayang jauh)…

Ketika siang-siang datang ke (toko) Madurejo Prambanan seorang teman yang sedang cuti dari kerjanya di Saudi dan petang-petang datang ke (toko) Bintaran Jogja seorang teman dari Malang, maka adalah sebuah kesyukuran kalau sempat berbagi pengalaman. Ilmunya tak seberapa, tapi spirit-nya ittuu…

Yogyakarta, 26 September 2010
Yusuf Iskandar

Angin Kencang Melanda Jogja

29 September 2010

Angin kencang dan hujan deras melanda Jogja dan sekitarnya. Status: Waspadaaaaa….

(Status siang jam 14:24 WIB)

***

Siang tadi Jogja dilanda angin kencang dan hujan deras. Saatnya pembelajaran. Anak wedok kirim SMS: “Wauuuw ada angin beliung gede di (toko) Bintaran…”. Lalu SMS “boss” saya: “(Toko) Madurejo anginnya kencang banget dan hujan deras…”.

Balasanku ke dua tujuan: “Saat yang sangat baik dimana doa sangat dekat untuk dikabulkan…”. Eh, dibalas cepat sama “boss” saya: “Amin”. Ya kubalas lagi: “Apanya yang diamini wong berdoa saja belum…”.

Yogyakarta, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Studi Banding Ke Madurejo

20 September 2010

Seorang pembaca blogku datang ke Madurejo ingin belajar tentang seluk wal-beluk membuka minimarket-nya yang ada di Banjarbaru, Kalsel. Bagaimana memulainya?. Pertanyaan pertama yang selalu saya dengar.

Saya mengapresiasi semangat entrepreneurship-nya, melakukan studi banding ke Desa Madurejo dalam rangka membekali diri sebelum Action. Jauh lebih baik ketimbang studi banding ke luar negeri minta dibayari 240 juta tetanggganya yang hanya bisa geleng-geleng kepala..

Yogyakarta, 15 September 2010
Yusuf Iskandar

Harga Telor Naik

20 September 2010

Pulang dari Madurejo, Prambanan, sore ini, ‘boss’ saya mampir warung beli telor ayam. “Wah, habis lebaran harga telor kok malah naik ya?”, katanya.

“Ya, karena ayam-ayam yang biasanya nelor sudah pada meninggal dibikin opor”, kataku…

Yogyakarta, 14 September 2010
Yusuf Iskandar

Rejeki Pak Giman

20 September 2010

Warung soto-bakso Pak Giman tetanggaku di Madurejo, lebaran ini laris manis. Siang tadi saya mampir silaturrahim, ternyata sudah ludes bahkan banyak yang kecele. Hari-hari biasa habis sekitar 3 kg daging, lebaran ini sampai 15 kg/hari. Wow!

Semakin hujan.., semakin pantat pak Giman tidak kelihatan, saking larisnya (memangnya tidak pake celana?)…. Tuhan memang luar biasa! (ngurus rejeki setiap mahluk maksudnya, bukan ngurus celana pak Giman)

Yogyakarta, 14 September 2010
Yusuf Iskandar

Rekreatif Dalam Kejengkelan

16 September 2010

Saya tahu jalur utama ke Madurejo via Jl. Wonosari hari ini sedang sangat ramai-merayap-padat-lancar. Saya juga tahu sebenarnya ada jalur pintas yang lebih lengang. Tapi kujalani juga jalur utama itu, karena ingin menikmati suasana beda di Jogja yang jarang-jarang mengalami kepadatan seperti itu.

Sekedar selingan, rekreasi dengan kemacetan, walau tetap saja rada jengkel. Judulnya: rekreatif dalam kejengkelan, atau jengkel dalam rekreasi… (Jangan meniru adegan ini!)

Yogyakarta, 12 September 2010
Yusuf Iskandar

Menuliskan Testimoni

27 Agustus 2010

Tiba-tiba datang permintaan untuk menuliskan sebuah testimoni (untuk endorsement) sebuah buku baru, yaitu buku terjemahan tentang “Bisnis Ritel” yang akan diterbitkan Tiga Serangkai Group; direncananya akan diluncurkan pada Oktober 2010. Teriring doa (mumpung lagi puasa Ramadhan), semoga buku itu nantinya laris manis tanjung kimpul, terjual habis rejekinya ngumpul, yang berkahnya mengalir juga ke Madurejo Swalayan…

Yogyakarta, 25 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

KD Jaga Toko

5 Agustus 2010

Diam-diam rada kesal juga melihat ‘boss’-ku akhir-akhir ini, pagi-siang-sore-malam, kalau lihat TV suka sekali memelototi berita tentang Kris Dayanti. “Sebenarnya Kris Dayanti itu malah kasihan..”. Halah.., sempat-sempatnya ibu ‘boss’ ini kasih komentar.

Tapi bagiku itu justru memunculkan ide cemerlang (rasanya belum pernah saya punya ide secemerlang ini). Lalu kubilang kepada ‘boss’: “Coba Kris Dayanti itu suruh jaga toko aja, di Madurejo sana…”.

Yogyakarta, 25 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Adzan Berirama Tembang Jawa

28 Juli 2010

Tiba waktu sholat dhuhur di Madurejo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Sayup-sayup terdengar kumandang adzan dari sebuah masjid di seberang hamparan luas persawahan di kaki perbukitan timur. Alunan iramanya bukan “lagu Arab” seperti pada umumnya, melainkan alunan adzan dengan irama tembang Jawa (yang ketika Subuh malah jadi nglaras dan membuat lebih “bersemangat” melanjutkan mimpi bagi orang-orang yang berselimut). Ah, khas sekali. Hanya ada di Jogja…

Yogyakarta, 22 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Saat Doa Diijabah

10 Juli 2010

Siang di Madurejo, Sleman, Jogja… Sambil ML di belakang toko (melamun & leyeh-leyeh), memandang hamparan padi yang menguning, berlatar perbukitan di kejauhan. Tapi siang ini langit gelap, mendung menghampar rata di angkasa, hujan turun deras sekali, angin berhembus kencang menderu, geluduk sayup-sayup bersahutan, padi yang siap panen pun tak mampu menahan tegak batangnya. Kata temanku, itulah orkestra alam yang menyertai saat diijabahnya doa….

Madurejo – Sleman, 8 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Menu “Baru” Soto-Bakso

2 Juli 2010

Warung tetanggaku di Madurejo menawarkan menu ‘soto-bakso’. Bakso saya tahu, soto apalagi… Lha ini ada menu “baru”. Ee, rupanya soto biasa dicemplungin glundungan bakso. Tiwas kusangka ada inovasi racikan. Inilah rupanya inovasi marketing cara ndeso. Kecil harapan ada seorang pembeli pesan dua mangkuk, soto dan bakso. Tapi semangkok ‘soto-bakso’ dengan harga lebih mahal, kenapa tidak? Istilah retailnya: baksonya di-banded ke soto.

Yogyakarta, 22 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Kolam Lele ‘Taman Sari’ Madurejo

24 Mei 2010

Kolam di belakang toko saya lama tak terurus. Kini sudah dirapikan. Kalau difoto keindahan lanskapnya mirip Taman Sari (padahal Taman Sari nggak mirip sama sekali dengan kolam ini… Maka sebaiknya lihat di fotonya saja).

Saya belikan 500 ekor bibit lele ukuran jari @Rp100,-/ekor, sekedar tanda bahwa kolam itu ada penghuninya. Enam minggu lagi siap untuk pesta pecel lele. Sak mblengere… (sampai kenyang). Silakan bawa bumbu sendiri dan nangkap lele sendiri…

(Tentu saja, kolam yang ada di belakang toko saya ini bukan ‘Taman Sari’ dalam arti sebenarnya, melainkan sekedar sebuah kolam ikan lele dimana saya sebagai pemiliknya bangga menyebutkannya bak sebuah Taman Sari… — Toko saya itu, “Madurejo Swalayan” berlokasi di Jl. Prambanan – Piyungan Km. 5, Sleman, Yogyakarta)

Madurejo – Sleman, 18 Mei 2010
Yusuf Iskandar