Archive for Januari, 2009

Davos, Permen Jadul Yang Tetap Gaul

29 Januari 2009

Belum lagi gerhana matahari cincin berlalu, anak-anak dan istri di depan televisi bersorak dan tertawa cekikikan. Ada apakah gerangan? Rupanya baru saja disiarkan berita tentang fatwa MUI bahwa rokok haram.

Kata anak laki-laki saya sambil cengengesan : “Ha..ha..ha.., uang saku saya bakal nambah Rp 10.000,- per hari…..”.

Celetukan ibunya lain lagi, kedengaran lebih bijaksana : “Yo wis, ganti ngemut permen Davos saja, semriwing……”.

img_0146_davos1Ya…ya…. Bukan soal rokoknya atau haramnya yang mengusik pikiran saya. Biarlah MUI berfatwa, perokok terus berlalu (tidak jadi mampir kios rokok, maksudnya). Melainkan sebutan permen Davos ibunya anak-anak tadi mengingatkan saya pada jenis permen jadul berbungkus warna biru tua yang rasa pedas semriwing-nya jadi ngangenin. Sensasi pedas mint-nya sangat khas dan tak tertandingi bahkan oleh aneka jenis perment rasa mint jaman sekarang.

Beberapa waktu yang lalu saya diherankan oleh sajian permen Davos di toko saya. Sempat saya pilang-piling (cermati) apakah memang benar ini permen yang sangat populer pada jaman saya kecil sekian puluh tahun yang lalu. Dan ternyata memang benar, bahwa itu adalah Davos permen jadul alias jaman dulu. Sepertinya sudah lama sekali saya tidak menjumpai permen ini.

Bungkusnya yang berwarna biru tua dengan tulisan warna putih terlihat begitu klasik. Sejak jaman dulu hingga sekarang tak juga berubah sedikitpun, baik warna, ukuran, desain bahkan rasanya. Kini permen produksi PT Slamet Langgeng, Purbalingga, Jateng, itu benar-benar langgeng memasuki usianya yang lebih 77 tahun.

Setiap bungkus permen Davos seberat 25 gram berisi susunan 10 buah permen warna putih berukuran diameter 22 mm dan tebal 5 mm (sengaja saya ukur dengan penggaris agar lebih jelas deskripsinya), dengan tulisan Davos melintang di tengahnya. Bentuk dari setiap biji permennya sangat presisi dan terlihat rapi. Komposisinya tertulis : gula, stearic acid, dextrin, gelatin, menthol dan pepermint oil. Di bungkus luarnya tertulis : Extra Strong Permen. Karena itu saya ingat waktu kecil dulu kalau mengulum permen Davos cukup separoh saja, sebiji dibagi dua. Selain karena pedasnya juga karena ukurannya yang terlalu besar. Tapi semriwing enak…

Meski dalam perjalanannya PT Slamet Langgeng pernah mencoba memproduksi berbagai varian dari permen ini, namun tetap saja jenis Davos yang berbungkus biru ini yang paling banyak digemari. Pak Budi Handojo Hardi selaku pimpinan perusahaan heran, produknya laris manis saat musim panen tiba, terutama untuk wilayah kotanya. Lihat saja ketika musim panen tiba, para buruh tani di Purbalingga sambil memanen padi sambil ngemut permen Davos. Juga halnya ketika musim haji tiba, permintaan permen Davosnya meningkat. Barangkali untuk bekal mut-mutan di pesawat. Tapi permintaan pasar turun saat musim buah dan musim penghujan tiba. Begitulah, musim-musim yang telah ditandai oleh Pak Budi.

Budi Handojo Hardi adalah generasi ketiga dari perusahaan produsen permen Davos. Perusahaan keluarga itu berdiri pertama kali pada tanggal 28 Desember 1931 oleh kakek Budi Handojo, yaitu Siem Kie Djian. Begitu seterusnya perusahaan ini turun-temurun berganti-ganti pimpinan dari keluarga kakek Siem. Juga mengalami pasang surut sejak jaman Belanda, Jepang hingga pasca kemerdekaan, dan akhirnya sejak tahun 1985 dipegang oleh Budi Handojo.

Pemilihan nama PT Slamet Langgeng pun dilandasi oleh filosofi dan cita-cita yang sangat sederhana. Kata “Slamet” dipilih karena perusahaan itu berada di kota Purbalingga yang terletak di kaki Gunung Slamet. Kata “Langgeng” adalah harapan agar perusahaan ini tetap abadi. Sedangkan nama “Davos” diambil dari nama sebuah kota kecil di Swiss yang berhawa sejuk, maka jadilah Davos dipilih sebagai merek permen rasa mentol yang pedas-pedas semriwing.

Meski peredaran produk permen Davos ini hanya di seputaran pedesaan Jateng, DIY dan sebagian Jabar, tetapi faktanya hingga kini produk permen Davos tetap eksis dan langgeng tak tertelan jaman. Padahal produk ini sejak dulu kala tidak pernah memasang iklan di media manapun. Hanya mengandalkan kekuatan promosi gethok tular (word of mouth) dan kepercayaan antar produsen, penjual dan konsumen.

Harganya relatif murah. Sebungkus permen Davos berisi sepuluh biji di toko saya (Madurejo Swalayan, kecamatan Prambanan, Sleman) dijual seharga Rp 900,- (sembilan ratus rupiah). Dijamin murah plus rada megap-megap kepedasan tapi semriwing enak dan tidak kering di tenggorokan.

Sejak saya jumpai permen Davos di toko saya, permen jadul ini sering nyisip di dalam ransel yang saya bawa kemana-mana. Minimal bisa untuk obat ngantuk seperti dulu pernah saya berikan kepada sopir taksi di Jakarta yang mengemudi sambil ngantuk, atau kalau kebetulan ikut pertemuan lalu terkantuk liyer-liyer. Meski ini permen jadul, tapi masih layak gaul terutama bagi generasi yang pernah mengalami kejayaan permen pedas ini sekian puluh tahun yang lalu dan bagi para buruh tani di pedesaan Jateng selatan.

Yogyakarta, 26 Januari 2009 (Tahun Baru Imlek 2560)
Yusuf Iskandar

NB  :  Cerita terkait dengan kenangan masa kecil akan permen Davos, lihat di sini.-

Iklan

Udang Bakar Madu Khas Banyu Mili Resto Yogyakarta

26 Januari 2009
Banyu Mili Resto

Banyu Mili Resto

Banyu mili, dalam bahasa Jawa berarti air mengalir. Tapi umumnya orang Jawa merasa lebih nyaman kalau mengucapkannya mbanyu mili (dengan imbuhan huruf ‘m’ di depannya) yang artinya kemudian menjadi : seperti air mengalir atau mengalir seperti air. Kosa kata banyu mili biasanya memberi kesan suasana segar, sejuk, indah, santai, disertai suara gemericik air yang mengalir. Nampaknya kesan itu pula yang hendak “dijual” oleh pemilik resto Banyu Mili di kawasan Jalan Godean, Yogyakarta.

Terdorong oleh rasa ingin mencoba menu masakan yang berbeda pada suatu malam di Yogyakarta, maka seperti air yang mengalir pula kami menuju kompleks perumahan Griya Mahkota Regency di Jalan Godean Km 4,5 Yogayakarta. Di sana ada Banyu Mili Resto & Country Club, sebuah pilihan tempat makan yang menawarkan aneka pilihan menu ikan yang bukan saja bernuansa alam melainkan juga bisa menjadi tempat rekreasi bersama keluarga.   

Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari pusat kota Jogja dan mudah dijangkau, berada di kawasan perumahan mewah dengan aneka fasilitas bermain dan rekreasi. Ada danau buatan yang dikelilingi oleh gubuk-gubuk (saung), lengkap dengan fasilitas pemancingan dan kolam renang, atau sekedar menikmati taman yang ditata asri, atau bermain remote control boat dan aero modelling.

Hanya karena tujuan kami malam itu adalah makan, dan bukan mau mandi atau mancing, maka mengalirlah saya dan rombongan berlima menuju ke salah sebuah meja makan di Banyu Mili Resto, yang pada malam itu suasananya tampak sepi.

Lupakan dulu soal kesegaran, kesejukan atau rekreasi, melainkan langsung fokus ke menu makan yang disajikan melalui dua lembar daftar menu berupa kertas dilaminasi bagus dan rapi. Meski sudah tahu menu unggulan resto ini adalah berbahan udang dan gurami, tak urung, bingung juga ketika hendak memesan makanan.

Sebuah kombinasi suasana hati yang nyaris hampir selalu terjadi ketika masuk ke dalam rumah makan yang sebelumnya sudah tersugesti bahwa makanannya berkategori enak atau enak sekali, yaitu lapar tapi bingung… Sudah tahu sedang lapar dan kepingin segera makan, juga sudah tahu kalau makanannya bakal enak, tapi urusan memilih menu ternyata tidak selesai dalam 5-10 menit.

Jalan keluarnya, percaya saja pada menu unggulan atau menu spesial yang ditawarkan, yaitu udang bakar madu ukuran standar (ada juga yang ukuran super), gurami bumbu cobek ukuran sedang (ada juga ukuran besar, tapi ukuran kecil tidak ada) dan kepiting telur saus tiram. Masih ditambah dengan asesori kangkung tumis, sambal terasi dadak, sambal tomat dan tahu-tempe goreng. Kalau menu pelengkapnya memang relatif berasa standar, tapi menu unggulannya itu yang brasa lebih dan lebih brasa….  

img_1040_udangCoba bayangkan….. (walah…., lha saya membayangkan saja serasa seperti benar-benar sedang menyantapnya….). Seporsi udang bakar madu terdiri dari empat tusuk yang setiap tusuknya terdiri dari empat ekor udang. Di balik warna merah-oranye udangnya, bumbunya mrasuk sekali (benar-benar meresap) sampai menembus kulit udangnya dan menyentuh dagingnya yang kenyal-kenyal gurih. Rasa asam berbalut rasa manis madunya terasa pas di selera. Meski sedikit kerepotan memisahkan kulit, kepala dan kaki-kaki udang, tak menghalangi untuk menghabiskan ekor demi ekor udang mlungker yang telah tersaji dua piring di atas meja.

img_1042_guramiGurami bumbu cobek sebenarnya hanya sebuah nama, yaitu gurami goreng disajikan di atas piring dengan guyuran sambal bawang merah, cabe rawit merah, tomat yang digoreng setengah matang, dan bisa ditambah dengan sedikit perasan jeruk nipis. Sebenarnya hanya menu gurami goreng sederhana, tapi takaran sambal setengah gorengnya begitu pas sehingga memberi sensasi sedap dan nikmat (selain karena memang sedang lapar…., dan terkadang ya terpaksa agak rakus juga daripada mubazir…).

img_1039_kepitingMeski bukan restoran spesial seafood, namun cara membumbui kepiting telornya pantas dipuji. Saus tiram yang menyelimuti kepiting goreng dipadu dengan irisan loncang atau daun bawang dan bawang bombay bagai membuat sang pemakan tak ingin berhenti. Sayang telor kepitingnya digoreng matang agak keras, sehingga agak merepotkan untuk diambil dari cangkangnya meski masih tetap bisa dirasakan kemrenyes tekstur kecil-kecil telur kepitingnya.  

Walhasil, semuanya wes…ewes…ewes… bablasss tak bersisa. Tinggal kulit udang, cangkang kepiting dan duri gurami yang njebubuk di atas meja. Soal harga secara umum memang sedikit di atas rata-rata menu sejenis di resto lain di Jogja, namun itu sebanding dengan kenikmatan, kelezatan dan kepuasan yang memang diidamkan oleh para pencari makan.

Resto Banyu Mili yang baru berumur setahunan ini memang termasuk baru di kalangan penikmat makan di Jogja. Namun kreatifitas pemiliknya yang memadukan wisata makan dengan fasilitas rekreasi keluarga yang bernuansa alam dan tertata rapi agaknya cukup menjadi daya tarik tersendiri.

Pengunjung bisa memilih untuk makan di gubuk-gubuk di tepi danau buatan, di ruangan bermeja-kursi, atau bisa juga lesehan. Restoran yang jam bukanya pukul 10.00 – 22.00 ini siap menampung hingga 500 orang tamu sekaligus. Sedangkan fasilitas rekreasinya buka setiap hari dari pukul 07.00 – 18.00. Satu lagi, sebuah pilihan bagi penikmat kuliner di Jogja, sekaligus tempat rekreasi keluarga yang elok dan bersih.

Yogyakarta, 26 Januari 2009 (Tahun Baru Imlek 2560)
Yusuf Iskandar

img_1045_r

Jeda Perang

8 Januari 2009

Ada perkembangan baru dari perang Israel vs. Hamas di Jalur Gaza, yaitu disepakatinya “perubahan jadwal” pada agenda harian perang, untuk tidak perang. Kedua belah pihak yang sedang bertikai sepakat  untuk menambah agenda harian berupa genjatan senjata alias jeda perang selama 3 jam (jam 13 s/d 16 waktu setempat) setiap harinya guna memberi kesempatan bagi misi kemanusiaan.

Dalam bayangan saya, begitu jam 1 teng….., para pejuang di kedua belah pihak akan segera meletakkan senjatanya dan melepas nafas panjang, lalu berhamburan ada yang melakukan upaya pertolongan pada pasukan yang cedera, menata kembali perlengkapan dan persenjataannya, mengatur strategi berikutnya, dsb. Bagi masyarakat sipil segera akan berhamburan menolong korban, menambah perbekalan dan kebutuhan hidup, memperbaiki kerusakan prasarana sebisanya, dsb. Hingga nanti kembali masuk lubang persembunyian menjelang jam 4 teng……., menunggu 21 jam berikutnya untuk kembali bisa menghirup udara segar tak berbau mesiu.

Ikhwal jeda perang ini mengingatkan saya pada peristiwa perang suku di Papua (masyarakat setempat mengucapkannya dengan perang tuku, huruf s dilafalkan t…). Sekali waktu terjadi tawuran antar kampung di wilayah kabupaten Mimika, karena umumnya di tanah Papua beda kampung sudah beda suku, maka sebut saja perang suku.

Pagi hari, usai sarapan (dan sepertinya jarang yang mandi) perang segera dimulai, entah siapa yang mendahului. Tanpa bunyi dar-der-dor dan tanpa suara dentum senjata, melainkan…..teriakan hooooooo….. huuuuuuuuu….. dengan tombak dan panah beracun siap membidik sasaran tembak (meski tidak menggunakan senjata yang ditembakkan….). Aura kemarahan demikian memuncak untuk saling melawan dan memusuhi antar kedua belah pihak yang saling berseteru, yang seringkali dipicu oleh sebab yang sepele.

Namun saat tiba waktunya istirahat ketika kedua belah pihak mulai lelah dan capek, begitu saja tiba-tiba keduan kelompok berhenti berperang. Ketika tiba waktunya makan siang, mereka akan berhenti untuk makan siang dulu. Pun jika tiba waktunya untuk minum kopi (sebut saja coffee break), kedua kelompok yang tadi saling berhadap-hadapan akan serentak berhenti mengambil jeda waktu untuk menjerang air, bikin kopi, merokok, makan pinang, merawat yang cedera, cengengesan, ejek-mengejek….. Lengkingan huuuuuuu….. pun berubah menjadi cekikikan ha-ha-hi-hi…. Perang akan dilanjutkan kembali setelah itu, entah bagaimana aba-abanya.

Saat sore hari tiba, masing-masing pasukan akan balik-kanan-bubar-jalan dan pulang beristirahat agar esok badan kembali segar dan siap perang lagi. Tidak tahu kapan berakhirnya. Namun jika korban jatuh tidak berimbang, amarah untuk membalas dendam akan terus membara, hingga akhirnya pemerintah terpaksa turun tangan mendamaikan mereka.  Sementara di Jalur Gaza nun jauh di sana, entah pemerintah mana yang harus turun tangan. Wong tangan-tangan yang ada semua berada naik menggenggam kepentingannya masing-masing. 

Meski perang suku di Papua terkesan primitif dengan memanfaatkan senjata tradisional seadanya, namun naluri kemanusiaan terbangun secara otomatis (yang mereka sendiri sebenarnya tidak paham benar naluri kemanusiaan itu jenis makanan apa).  Yang mereka tahu adalah bahwa ada kebutuhan manusia (yang sedang berperang) yang tetap harus dipenuhi, lebih penting ketimbang perang itu sendiri. Karena itu perlu ada jeda perang yang tidak harus diatur dengan jam, melainkan sesuai naluri alamiah seiring berjalannya waktu dan hajat kebutuhan manusia pelakunya.

Indah sekali….. (Lho, perang kok indah? Setidak-tidaknya, tidak lebih nggegirisi atau mengerikan, dibanding yang terjadi di Jalur Gaza).

Yogyakarta, 8 Januari 2009
Yusuf Iskandar

Perang Tuku

8 Januari 2009

Berikut ini adalah posting tulisan lama :

Kabar seru kembali datang dari kota Timika, di Papua bagian tengah sebelah selatan. Ada perang tuku, maksudnya perang suku (orang angsli Papua biasa melafal huruf ‘s’ dengan ‘t’, dan sebaliknya). Tepatnya keributan antar suku di daerah Kwamki Lama, yang kalau terjadinya di Jakarta biasa disebut tawuran. Akan tetapi karena, keseharian masyarakatnya memang berbusana sangat sederhana; juga mereka tidak biasa menggunakan clurit atau golok melainkan panah dan tombak; juga melibatkan kelompok sekampung (di Papua umumnya beda kampung sudah beda suku), maka kejadian tawuran antar kelompok bisa berubah kesan menjadi perang (antar) suku.

Meskipun judulnya perang suku, namun jangan heran kalau peserta perangnya ada yang pakai safety googgles (kacamata keselamatan), rubber booth (sepatu keselamatan), safety helmet (topi keselamatan), atau kalau cuaca agak mendung ada juga yang pakai rain coat (jas hujan) warna kuning. Darimana lagi kalau bukan “keluaran” Freeport. Maklum, sebagian matarakas (maksudnya, masyarakat) yang berperang adalah karyawan perusahaan tambang PT Freeport Indonesia.

Kalau sudah begini, para supervisor Freeport dibuat kelabakan, anak buahnya pada bolos kerja untuk ikut perang. Setelah perangnya usai, mereka masuk kerja dan melapor kemarin tidak kerja karena ikut perang. Bagi Freeport jadi serba salah, antara mau dianggap mangkir (dan oleh karena itu terkena sangsi dan potong gaji) atau ditolerir saja. Kalau dibiarkan, kejadian sejenis ini sering sekali dan selalu dimanfaatkan oleh mereka yang malas-malas kerja untuk absen, apapun sukunya. Akhirnya, mereka dianggap sebagai cuti tanpa bayar (secara peraturan tidak ada yang dilanggar oleh mereka, namun gajinya dipotong). Dengan kata lain, ketidak hadirannya “diijinkan”. Namun perlu diketahui bahwa “ijin perang” diberikan setelah perang terjadi, dan bukan sebelum perang.

Menangani soal ijin-mengijin ini memang gampang-gampang susah. Orang-orang asli Papua ini sangat lihai mencari alasan untuk tidak masuk kerja. Umumnya orang akan minta ijin kalau ada lelayu, atas saudara dekatnya yang meninggal, misalnya ayah, ibu, mertua, suami, istri, anak, dan kerabat dekat lainnya. Tapi itu saja ternyata tidak cukup bagi orang Papua, saudara jauh, pernah apanya-siapa, tetangga sekampung, bahkan babi piaraannya mati pun akan minta ijin tidak masuk kerja.

Ihwal perang juga aneh. Meskipun semangat kemarahan untuk membalas, melawan, memusuhi sedimikian memuncaknya, namun dijamin pada saat jam istirahat kedua belah pihak akan berhenti dan makan dulu. Demikian pula jika tiba waktunya untuk jeda minum (istilah sekarangnya coffee break), kedua belah pihak akan serentak berhenti dan beristirahat. Kemudian perang akan dimulai lagi setelah itu. Tidak ada gerilya, malam ya istirahat. Namun, jika korban jatuh tidak berimbang, amarah untuk membalas dendam terus membara.

Tentang sebab-musabab perang bisa macam-macam, rasanya tidak berbeda jauh dengan yang biasa menyebabkan tawuran. Lebih-lebih umumnya orang asli Papua hobi minum minuman keras sebagai hasil serapan budaya modern, maka tidak terlalu sulit untuk membuat pemicu. Belum lagi, situasi semacam ini rentan untuk dimanfaatkan oleh kalangan yang sudah agak berpikiran maju, yang dalam bahasa sekarang disebut provokator.

Yusuf Iskandar
(19/04/2004)

Sisi Lain Dari Insiden Timika

8 Januari 2009

Berikut ini adalah posting dari tulisan lama :

Banyak orang sudah tahu, setidak-tidaknya membaca atau mendengar berita tentang insiden di Timika, Papua. Tepatnya yang terjadi di lingkungan area kerja PT Freeport Indonesia pada hari Sabtu, 31 Agustus 2002 yll. Tiga orang tewas jadi korban penembak gelap. Gelap karena pada saat kejadian terhalang kabut tebal dan gelap karena hingga kini tidak ketahuan siapa mereka, apa motifnya dan lalu kemana perginya setelah menembak.

Bagi saya dan kita semua, kiranya hanya bisa turut merasa prihatin. Insiden memang sudah terjadi. Korban juga sudah terlanjur berjatuhan. Tinggal menyisakan PR (yang seringkali tidak pernah terjawab tuntas) bagi pemerintah dan aparat keamanan.

Melihat tragedi insiden Timika, lalu mencoba melongok ke layar lebih luas, yaitu Indonesia, terasa ada hal kecil yang mengganjal di sisi kemanusiaan kita. Sampai-sampai seorang rekan di Tembagapura menulis : “Bangsa lain, dalam momen paling sedihpun masih memikirkan kepentingan bersama. Bangsa kita, any moment, tilep uang rakyat !”. Apa pasalnya sehingga rekan saya ini demikian geram?

Rupanya rekan saya itu membaca berita di media. Isinya : Lembaga Swadaya Masyarakat di Sulawesi Utara meminta Presiden Megawati Soekarnoputri untuk tidak mengizinkan pimpinan dan seluruh anggota DPRD Sulut tour keliling Eropa dengan menggunakan dana APBD 2002. “Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi, tanpa mau melihat kehidupan rakyat Sulut sedang terhimpit kemiskinan dan kemelaratan akibat krisis ekonomi”, demikian kata Ketua Forum Advokasi Pemantau Parlemen (Foraper) Minahasa, Sulut. Sungguh ini ide dan rencana yang luar biasa. Dana APBD yang akan digunakan untuk tour ke Eropa tentu tidak sedikit jumlahnya.

Pada saat yang bersamaan, kita dengar tragedi gelombang pengungsi TKI di Nunukan, Kaltim. Betapa banyak dari mereka, orang dewasa maupun anak-anak, yang akhirnya meninggal akibat berbagai masalah kesehatan yang tak tertangani dengan baik. Betapa pemerintah (baca : saudara-saudara kita yang kebetulan sedang berkuasa) terkesan begitu lamban dan kurang cekatan menghadapi masalah kemanusiaan yang memerlukan penanganan cepat semacam ini.

Sementara di Tembagapura, beberapa hari setelah insiden Timika, ada pengumuman kepada masyarakat. Isinya : bagi masyarakat yang bersimpati kepada dua orang korban asal Amerika dan ingin menyampaikan sumbangan uang duka, maka diminta agar uang tersebut disampaikan kepada lembaga sosial di Amerika yang telah ditunjuk oleh masing-masing ahli waris, lengkap beserta alamatnya. Dalam kedukaan yang mendalam akibat tragedi penembakan, mereka masih ingin menyisihkan sebagian hatinya untuk sesamanya.

Lalu, dimana sebagian hati kita saat bencana kemanusiaan sedang melanda saudara-saudara kita lainnya, di belahan Indonesia lainnya? Mudah-mudahan rangkaian fragmen lelakon ini menjadi cermin kecil yang layak untuk dilongak-longok, apakah tampak di wajah kita bahwa kita masih punya sedikit hati untuk perduli kepada sesama.

Tembagapura, 6 September 2002
Yusuf Iskandar

Panen Cabai Di Pondok Bukit Sakinah

6 Januari 2009

cimg0531_permaisuri

Masih ingat Pondok Bukit Sakinah milik teman saya (mas Hari Prasetyo)? Kawasan ladang dengan fasilitas peristirahatan sederhana yang berlokasi di kaki gunung Salak, Sukabumi itu rupanya sudah pernah mengalami panen cabai. Sang istri tercinta (bu Hari) tidak mau kalah turun ke ladang dan memimpin operasi panen cabai.

Kontak mas Hari Prasetyo : HP. 08129581836.

cimg0532_putri

cimg0545_permaisuri3

Menyaksikan Hari Baru 2009 Di Puncak Merapi

2 Januari 2009
Puncak Garuda, gunung Merapi (2.965 mdpl) - 1 Januai 2009

Puncak Garuda, gunung Merapi (2.965 mdpl) - 1 Januari 2009

Ada banyak cara dilakukan orang dalam menyambut datangnya tahun baru 2009. Di antaranya adalah dengan meninggalkan hiruk pikuk perkotaan, menuju ke alam bebas pegunungan. Noval dan bapaknya memilih untuk mendaki gunung Merapi (2.965 mdpl) yang menjadi sumber kehidupan sekaligus sumber bencana, lalu berdiri di puncak Garuda menjadi saksi atas datangnya hari baru 1 Januari 2009.

Pendakian ini dicapai dari desa Selo, Boyolali, sekitar 60 km arah utara Yogyakarta, pada tanggal 31 Desember 2008 – 1 Januari 2009.

Merapi…..
sumber penghidupan sekaligus sumber bencana

Menggapai puncaknya adalah sebuah perjalanan mencari inspirasi
tentang gairah menemukan pencerahan baru
tentang semangat mengatasi tantangan
tentang kesadaran pengagungan kepada Sang Pencipta.

Namun,
Hari baru hanyalah sebuah keseharian
Menyaksikan sebuah mahakarya adalah kesempatan

Dan bilamana kesempatan itu datang dan kita memilikinya
Subhanallah…..
Maha Suci Allah Sang Pemilik Mahakarya itu
yang telah menciptakannya bersamaan dengan seruan-Nya :
“Hendaklah kalian berfikir…….”

Yogyakarta, 2 Januari 2009
Yusuf Iskandar

img_0902_noval-di-puncak-garuda

img_0860_watu-gajah

img_0905_di-watu-gajah

img_0862_daun-merah-dan-merbabu

img_0852_noval-dan-bapaknya

img_0865_monumen