Posts Tagged ‘pemilu’

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 2

11 April 2009

Mengisi waktu sore pada sehari sebelum Pemilu 9 April 2009, saya mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan di pelataran depan rumah, lalu merapikan tumpukan sampah di pojokan (meski jelas sampah kadangkala perlu dirapikan juga). Saya sudah siap dengan sebuah korek api dan seberkas kertas bekas. Saya memang hendak mengisi waktu dengan membakar sampah dedaunan kering agar tidak terlalu menggunung di pojokan pelataran rumah.

Kegiatan bakar sampah seperti sore itu memang sudah seperti ritual yang saya lakukan setiap beberapa hari sekali, kecuali kalau saya lagi keluar kota atau hujan. Sambil jongkok membakar dedaunan kering, sesekali bergeser menghindari asap putihnya yang tertiup angin dan sesekali kucek-kucek mata yang berair karena asap putihnya mampir dan terasa pedas di mata. Ini memang sekedar kegiatan iseng dan sepele, tapi saya yakin tidak setiap orang sempat dan bisa melakukannya. Membakar sampah adalah kegiatan mengisi waktu yang cukup menghibur. Saya begitu menikmatinya.

***

Tiba-tiba lewat seorang ibu, lalu mendekat dan dengan suara tidak terdengar terlalu jelas, dia berkata : “Pak, minta sedekah…”. Dengan pandangan agak melongo setengah tidak percaya saya menatap ibu itu. Benarkah yang saya dengar tadi? Sepertinya saya tidak percaya. Sebab menilik penampilan ibu yang saya taksir berumur 40-an tapi terlihat muda yang sore itu tampil berbusana kebaya warna merah muda, berkerudung rapi, wajahnya terlihat kuning bersih dan terawat, senyumnya pun tampak manis (entah kalau dimanis-maniskan). Pendeknya, sama sekali bukan wajah susah yang perlu disedekahi. 

Kemudian terjadi percakapan pendek yang semakin membuat saya tidak konsentrasi pada pokok persoalannya bahwa ibu itu meminta sedekah. Terutama ketika dia menceritakan bahwa dia tinggal di gang sebelah kampung saya. Nyaris saya tidak percaya, sebab itu berarti ibu itu adalah tetangga saya. Lebih empat tahun saya tinggal di situ kok saya tidak pernah tahu keberadaan ibu itu. Sungguh, hal inilah yang mendadak membuat hati saya gelisah berkepanjangan. Pikiran saya melayang kemana-mana sambil saya tetap berdialog.

Kalau benar apa yang diceritakannya tentang tempat tinggalnya. Itu berarti kalau saya terbang agak ke atas dan saya lihat kenampakan dari Google Earth, jarak lurus antara rumah saya dan rumahnya tidak sampai 50 meter. Bagaimana mungkin saya bisa tinggal empat tahun di sana sementara di belakang rumah saya ada orang yang mengalami kesulitan hidup sehingga harus meminta sedekah kepada tetangganya? Dan tetangga itu adalah saya? Tetangga macam apa saya ini……

Berbagai pikiran dan prasangka berkecamuk menjadi satu di otak saya. Apakah perlu saya verifikasi dulu kata-katanya baru saya ulurkan sedekah, atau saya berikan sedekah dulu baru nanti menyusul diverifikasi kebenarannya? Akhirnya saya tepis pikiran buruk itu, lalu saya niatkan memberikan sedekah kepada seseorang yang membutuhkan, tidak perduli apakah dia tetangga saya atau bukan. Sejumlah uang lumayan besar saya berikan kepada ibu itu, sekedar sebagai improvisasi hidup sembari membakar sampah, menyambut Pemilu esok hari (jangan-jangan saya tidak jadi bersedekah kalau tidak ada Pemilu….). Ah, lupakan saja….

Percakapan masih saya lanjutkan, agar saya bisa lebih mengenalnya. Rupanya dia memang seorang ibu yang ramah. Sebut saja namanya Mak Isah, seorang janda yang ditinggal mati suaminya beberapa tahun lalu, tidak memiliki pekerjaan tetap dan mempunyai tiga orang anak remaja yang semuanya tidak sekolah dan tidak bekerja. Mak Isah dan anak-anaknya rupanya selama ini tinggal berpindah-pindah dan terakhir mengontrak sebuah kamar di belakang kampung yang saya tinggali, hanya beda RT. Pantesan saya tidak mengenal keberadaannya.

Ketika saya tanya sore itu dia dari mana, jawabnya : “Baru saja keluar dari rumah”. Ketika saya tanya mau kemana, jawabnya : “Menemui orang-orang”. Pandangan saya cukup lama mengantar kepergiannya meninggalkan saya, sambil pikiran saya terus memproses data-data yang saya kumpulkan : “Jangan-jangan pekerjaannya memang meminta-minta…..”.

***

Malamnya saya panggil seorang takmir musholla dari RT sebelah, sekaligus karena kebetulan ada urusan lain. Setelah mendengar informasi dari takmir musholla itu, barulah saya percaya bahwa semua keterangan Mak Isah itu benar. Bahkan ketika saya ketemu pak RT-nya, saya jadi semakin tahu siapa Mak Isah itu. Rupanya almarhum suaminya dulu adalah seorang pejabat kaya di Sumatera, yang karena tersandung kasus korupsi sehingga semua hartanya disita dan jatuh miskin (rupanya bukan hanya batu yang bisa nyandungin, melainkan korupsi juga…). Lalu keluarga mereka pindah ke Jogja dan harus memulai hidup dari awal. Tragis memang. Lebih tepat kalau almarhum suaminya bukan disebut koruptor, melainkan tupai. Seperti bunyi pepatah, sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga. Dan ketika tupai itu jatuh, maka istri dan anak-anaknya yang menjadi korban. Beruntung tupai itu “cepat” meninggal, tapi “cilakak duabelas” bagi istri dan anak-anaknya yang tergelepar-gelepar berusaha kembali ke pohon. Kini rupanya Mak Isah tidak sanggup bekerja keras menggapai ranting pepohonan.  

Mak Isah kini menempuh jalan termudah untuk melanjutkan kehidupannya, yaitu dengan meminta-minta. Beberapa kali tetangganya membantunya dengan memberi pekerjaan sebagai pembantu, buruh cuci, dan apa saja. Tapi rupanya mental Mak Isah tidak siap dengan pekerjaan seadanya seperti itu. Tahulah saya kini, bahwa setiap hari Mak Isah menempuh perjalanan panjang menyusuri jalan-jalan kota Yogyakarta hingga larut malam baru pulang ke rumahnya. Menyambangi dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu toko ke toko lainnya, dari satu warung makan ke warung makan lainnya, demi meminta sedekah. Perasaan malunya sudah sirna di balik paras wajahnya yang tergolong cantik. Sampai-sampai seorang tetangga saya mengatakan, kalau saja Mak Isah ini dimasukkan ke salon kecantikan, maka ketika keluar pasti dikira Meriam Bellina (padahal setahu saya wajah Meriam Bellina jauh berbeda dengan Mak Isah…).

Kini tetangga-tetangga Mak Isah sudah maklum, setiap kali Mak Isah datang, diberinya seribu-dua ribu sekedar sebagai sedekah hari itu.Ya, hari itu. Karena di hari lain Mak Isah akan datang lagi dan minta lagi. Peristiwa sore itu memang tidak seorang pun tahu, tak juga istri dan anak-anak saya. Bahkan tangan kiri saya pun tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanan saya. Saya memang ingin melupakannya. Tapi ketika kemudian saya ceritakan apa yang terjadi, mereka malah memberitahu bahwa Mak Isah memang sering mampir ke rumah. Kini tinggal saya menggerutu dalam hati : “Siwalan….., tiwas sore itu saya bersedekah banyak, besok pasti akan datang lagi dan datang lagi….. Tahu begitu, saya cukup memberi sedikit-sedikit saja…..”. Sial benar! Setelah tahu cerita lengkapnya justru membuat saya jadi tidak ikhlas dengan sedekah yang telah saya berikan.

Untuk apa kisah ini saya ceritakan? Saya hanya ingin berbagi kepada siapa saja, bahwa betapa sulitnya menjaga keikhlasan. Improvisasi hidup yang saya lakukan sore itu ternyata rentan terhadap ketidak-ikhlasan. Saya pikir ini adalah perkara keseharian yang sangat manusiawi. Siapa pun pasti pernah mengalaminya. Bahwa suatu ketika malaikat akan mencontreng kolom ikhlas amal kita, di saat yang lain gantian kolom tidak ikhlas yang dicontreng. Meski kemudian score-nya seri bin impas, namun saya berharap punya tambahan contrengan positif karena telah mengingatkan pembaca dongeng ini bahwa menjaga keikhlasan itu tidak mudah. Sangat manusiawi kalau sesekali kita tergelincir menjadi tidak ikhlas. Melakukan improvisasi tetap perlu, tapi menjaga keikhlasannya jauh lebih perlu. Sama perlunya sesekali saya mengisi waktu sore dengan membakar dedaunan kering agar pelataran rumah saya tetap terlihat bersih.

Yogyakarta, 11 April 2009
Yusuf Iskandar

Contreng-menyontreng Menjadi Satu, Itulah Indonesia

8 April 2009

Hari ini adalah H-1 menjelang hari pesta demokrasi Indonesia, 9 April 2009 bertepatan dengan hari Kamis Pahing, 13 Rabi’ul Awal 1430 H. Besok adalah hari dimana orang se-Indonesia contreng-contrengan (hajindul…, pas wetonku wong sak Indonesia contreng-contrengan…), Agenda contreng-menyontreng ini serentak dilaksanakan di segenap penjuru tanah dan airnya daripada Indonesia. Maka besok adalah Hari Contreng Nasional, dan bisa jadi inilah adegan 17 tahun ke atas (menurut KTP) yang tidak akan berulang kembali di belahan bumi manapun.

Sebenarnya sejak awal saya tidak suka dan merasa jengkel dengan diri sendiri setiap mendengar istilah ‘contreng’ ini. Kosa kata ini tidak ada dalam bahasa Jawa, dan dalam kamus Bahasa Indonesia pun tidak terdaftar. Tapi karena telanjur diakui dalam legalitas dunia persilatan perpemiluan Indonesia periode tahun ini, ya apa boleh buat. Kata ‘centang’ yang lebih dulu akrab di telinga terpaksa ditinggalkan, diganti dengan ‘contreng’.

Karena itu, ajakannya adalah : Mari kita sukseskan HCN (Hari Contreng Nasional). Ada baiknya pergunakanlah hak Anda sebaik-baiknya. Ya, hak istimewa untuk menyontreng empat lembar kertas suara yang lebarnya bisa untuk menutup dinding jumbleng kita yang berlubang karena lapuk kayunya. Bahkan warga negara Amerika atau Eropa pun tidak akan pernah mengalami peristiwa contreng-menyontreng berjamaah yang dikoordinir oleh pemerintahnya.

Mari kita beramai-ramai mendatangi TPS-TPS terdekat, lalu gunakan hak istimewa ini. Walaupun Anda memutuskan memilih untuk tidak memilih, atau kepingin memilih tapi belum tahu pilihannya apa, atau bahkan malah belum tahu mau memilih atau tidak, cobalah untuk tetap berduyun-duyun mendatangi TPS-TPS. Di sana sedang ada pesta. Pergunakan saat-saat ketika harus mengantri sambil bersilaturrahim dengan tetangga dekat tapi jauh (karena jarang ketemu), sambil menceritakan bisnis Anda, memprospek teman duduk Anda, dan bila perlu sambil mempromosikan produk usaha Anda. Jadikanlah pesta ini kesempatan untuk melakukan sedikit improvisasi hidup, bawalah segenggam permen lalu bagikanlah kepada teman-teman duduk di dekat Anda. Sebab antrian untuk meyontreng bisa panjang dan lama sekali. Bayangkan kalau setiap orang menyontreng empat lembar kertas suara seperti membuka dan melipat koran. Mendingan melipat koran bisa asal-asalan, sedang kartu suara harus tetap rapi dan bersih.

Itu saja belum terlalu penting. Lebih penting lagi adalah rasakan dan nikmati saat Anda seorang diri berada di dalam bilik suara. Bayangkan siapa calon pemimpin Anda, akan seperti apa negeri daripada Indonesia ini lima tahun ke depan, dan seterusnya.

Itu pun belum seberapa. Jauh lebih penting adalah rasakan dan nikmati detik-detik ketika Anda menggoreskan pena untuk menyontreng. Rasakan sensasinya. Sambil agak menahan nafas, Anda menorehkan garis pendek dari atas ke bawah dengan agak menekan, lalu torehan itu bersambung berganti arah ke kanan atas, sambil ditarik dan dilepas sekuatnya (jika perlu sampai bunyi mak jeduk…. karena tangan Anda membentur dinding kanan bilik suara, asal jangan sampai mak gedubrak … dindingnya roboh). Lalu lepaskan nafas panjang Anda……Ulangi hingga empat kali dan rasakan sensasinya, seperti saat pengalaman pertama Anda mencoblos dulu….

Sungguh, ini pengalaman sekali seumur hidup. Bersyukurlah mereka yang masih bisa menyontreng tanggal 9 April besok. Belum tentu cara pemilu paling ndueso biyanget yang dikenal oleh peradaban perpemiluan yang pernah ada ini akan terulang lima tahun lagi. Karena itu jangan sia-siakan hak Anda, jangan diberikan dengan percuma kepada orang lain hak istimewa untuk menikmati sensasi menyontreng seorang diri di dalam bilik suara. Sekalipun Anda tidak punya pilihan, tetap lakukanlah ritual menyontreng ini di bagian manapun yang Anda sukai. Sekalipun Anda tidak ingin memilih alias golput, tetap datangilah bilik suara dan lakukanlah untuk alasan menikmati sensasi menyontreng. Jika belum puas, contrenglah dinding bilik suaranya. Biarlah kartu-kartu suara itu menjadi contreng-montreng (coreng-moreng, maksudnya) karena Anda begitu bergairah melampiaskan hasrat menyontreng sebagai pengalaman sekali seumur hidup.

Ada baiknya siapkanlah kondisi fisik dan mental Anda besok pagi. Sarapan dulu sebelum menuju TPS. Nikmati suguhannya jika disediakan oleh Panitia. Bawalah segenggam permen. Dan, biarkanlah Indonesia Raya ini gegap-gempita dengan pesta demokasi alias pesta contreng-menyontreng. Dari Sabang sampai Merauke akan berjajar TPS-TPS, contreng-menyontreng menjadi satu, itulah Indonesia besok tanggal 9 April 2009. Hidup contreng…!      

Yogyakarta, 8 April 2009
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (4)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 19:45 CST (8 Nopember 2000 – 08:45 WIB)

Hingga saat ini persaingan semakin ketat. Al Gore kini unggul tipis dengan 145 suara dari 12 negara bagian dan George Bush 130 suara juga dari 11 negara bagian. Masih cukup panjang jalan menuju angka kemenangan 270 suara hingga tengah malam nanti (tengah hari Rabu WIB), dan masih banyak kemungkinan dapat terjadi.

Kejar mengejar jumlah suara ini tentu mengingatkan kita pada Sidang Umum MPR yang lalu, ketika Gus Dur dan Megawati saling susul-menyusul dalam penghitungan perolehan suara. Hanya bedanya di sini tidak ada penggembira yang hobinya ngamuk (dulu, baru alasan dicari belakangan).

George Bush tadi siang mencoblos di kota Austin, negara bagian Texas, dimana dia saat ini menjabat sebagai Gubernur dan ternyata dia memang memenangi perolehan suara di kampungnya sendiri. Sementara Al Gore mencoblos di Tennessee, negara bagian di mana dia berasal, tepatnya di kota Elmwood yang hingga kini belum selesai penghitungan suaranya.

Kita tunggu perkembangan selanjutnya, karena setiap jam hingga tengah malam nanti beberapa negara bagian secara bertahap dari timur ke barat akan menutup TPS-nya dan menghitung jumlah perolehan suaranya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (6)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 23:45 CST (8 Nopember 2000 – 12:45 WIB)

Hingga menjelang tengah malam ini, ternyata persaingan semakin ketat. Kini George Bush masih unggul sangat tipis terhadap Al Gore dengan perbandingan perolehan suara 246 – 242, masing-masing dari 29 dan 18 negara bagian.

Masih ada empat negara bagian yang belum menyelesaikan hasil perhitungan akhir pemilu, diantaranya dua negara bagian yang akan mengkontribusi cukup besar jatah suaranya, yaitu Florida dan Wisconsin yang masing-masing mempunyai jatah suara 25 dan 11. Sedangkan dua negara bagian lainnya, Iowa dan Oregon, masing-masing menyisakan 7 suara.

Melihat perkembangan pergerakan angka perolehan suara ini terasa semakin mengasyikkan dan mendebarkan. Padahal saya tidak punya kepentingan apapun, tapi kok menarik. Seperti dilansir beberapa media, bahwa persaingan menuju kursi kepresidenan tahun ini adalah yang paling ketat sejak 40 tahun terakhir. Ternyata hingga diselesaikannya perhitungan di 47 negara bagian, masih belum tampak tanda-tanda siapa yang bakal mencapai garis finish pertama kali dengan meraih 270 suara, untuk muncul sebagai pemenangnya. Peluang keduanya untuk menang di sisa negara bagian yang belum selesai perhitungan suaranya sama besar.

Jika sampai lewat tengah malam nanti masih terjadi persaingan ketat, maka perhitungan suara akan menjadi lebih mendebarkan. Ini antara lain disebabkan karena ternyata di negara bagian Oregon, sistem coblosan-nya tidak dilakukan melalui TPS-TPS secara langsung malainkan dilakukan melalui surat yang harus diposkan pada hari Selasa ini. Lagi-lagi, penerapan aturan yang berbeda-beda untuk urusan yang bersifat nasional ini membuat saya heran.

Sebagai akibat dari sistem pemungutan suara lewat pos ini tentu saja hasilnya belum akan diketahui hingga tengah malam nanti, bahkan mungkin baru akan diketahui seluruhnya pada seminggu kedepan. Itu sebabnya jika sampai 50 negara bagian termasuk ibukota Washington DC selesai dengan hasil perhitungannya malam ini dan belum juga ada yang mencapai angka 270, artinya periode deg-degan bagi kedua kandidat akan masih berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Kalau benar demikian kejadiannya, maka barangkali peristiwa semacam ini baru terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah pemilu di Amerika.

Sebagai penonton, saya sendiri sangat menikmati pacuan presiden Amerika ini yang perolehan suaranya saling susul-menyusul silih berganti. Selain melalui saluran internet, saya juga menyaksikannya melalui saluran TV CNN yang ditayangkan sejak sore tadi, lengkap dengan hasil pemilu untuk anggota konggres, senat, gubernur, dsb. beserta komentar-komentarnya. Hingga rela menunda untuk pergi tidur…….-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (10)

2 November 2008

New Orleans, 9 Nopember 2000 – 18:00 PM (10 Nopember 2000 – 07:00 WIB)

Kini semua mata tertuju ke negara bagian Florida, apa yang sedang dan akan terjadi di sana. Perhatian tidak lagi pada jumlah jatah suara (electoral vote) secara nasional, melainkan lebih detail lagi ke jumlah kartu suara (popular vote) khusus di wilayah Florida. Dengan menang di Florida, maka Bush atau Gore akan berhak mengantongi tambahan 25 jatah suara (electoral vote), yang akan membuat total jatah suaranya secara nasional melebihi batas angka kemenangan 270. Oleh karena itu, setiap lembar kartu suara menjadi berarti sangat sensitif. Ini karena siapa pun yang menang di Florida meski hanya unggul dengan satu suara, maka dia akan menjadi presiden Amerika yang baru.

Tidak heran kalau kedua kubu, Bush maupun Gore, seakan-akan tidak ingin terlena sedetikpun menyaksikan setiap perhitungan ulang di 67 kabupaten (county) yang ada. Saking krusialnya hasil perhitungan ulang ini, maka segala kemungkinan mulai dipelototin, setiap hal yang dapat menyebabkan kalah atau menang mulai saling dicari alasan pembenaran atau kesalahannya. Mulai dari cetakan kartu suara yang membingungkan pemilih, kartu suara yang hilang, kartu suara yang dianggap tidak sah, mulai timbul rasa saling curiga, dsb. Yen tak pikir-pikir……, kalau sudah begini kok jadi sama saja dengan kita di Indonesia, ya…….

Bahkan, kelompoknya Al Gore sedang mempersiapkan permintaan agar dilakukan penghitung ulang secara manual terhadap empat kabupaten. Hal ini muncul karena adanya protes dari para pemilih Gore terhadap adanya cetakan kartu suara yang membingungkan sehingga dikhawatirkan suara yang seharusnya lari ke Gore oleh komputer “dibelokkan” ke Pat Buchanan, seorang kandidat dari partai gurem, Partai Reformasi. Agaknya komputer pun sudah mulai dicurigai dan tidak dipercaya. Ada-ada saja, tapi nyata dan kelihatannya kok ya masuk akal.-

Sesuai janji panitia pemilu Florida yang akan menyelesaikan penghitungan ulang kartu suara pada akhir jam kerja Kamis sore ini, ternyata hingga saya mau pulang kantor belum juga selesai. Menurut catatan CNN saat ini panitia sudah berhasil menyelesaikan penghitungan ulang di 64 kabupaten dan masih 3 kabupaten lagi.

Hasil sementaranya menunjukan selisih yang semakin tipis. Jumlah suara untuk George Bush terkumpul 2.909.720 suara dan untuk Al Gore 2.909.358 suara. George Bush unggul sementara dengan selisih “hanya” 362 suara. Apakah Al Gore akan berhasil mempersempit margin dan mengungguli George Bush, atau Bush akan tetap bertahan di posisinya dan terpilih menjadi presiden?

Tunggu dulu. Kalaupun Bush akan tetap unggul di 67 kabupaten, Al Gore tentu tidak akan terima begitu saja. Masih ada kartu suara yang belum dihitung, yaitu yang disebut dengan absentee ballots atau suara yang diberikan secara tidak langsung melalui pos. Suara jenis ini kebanyakan dari para petugas militer yang sedang bertugas di luar negeri. Pada pemilu tahun 1996 yang lalu jumlahnya sekitar 2.300 suara.

Dalam pemilu-pemilu sebelumnya suara jenis ini dapat diabaikan karena jumlahnya relatif tidak akan berpengaruh terhadap penentuan siapa yang menang atau kalah di setiap negara bagian. Tetapi kali ini menjadi sensitif, melihat kenyataan akan selisih yang sangat tipis antara jumlah suara yang dikumpulkan Bush dan Gore yang sedang dihitung ulang. Besar kemungkinan absentee ballots dapat menyebabkan Bush atau Gore berada di posisi yang sebaliknya.

Kalau jenis suara ini akan ditunggu kedatangannya, maka masa penantian bagi rakyat Amerika untuk mempunyai presiden yang baru masih akan panjang. Paling tidak, perlu tenggang waktu seminggu lagi. Bush dan Gore pun menjadi semakin berolah raga jantung ………….

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (15)

2 November 2008

New Orleans, 15 Nopember 2000 – 21:45 CST (16 Nopember 2000 – 10:45 WIB)

Hari ini di Florida banyak diwarnai dengan urusan pengadilan atas berbagai tuntutan yang berkaitan dengan penghitungan ulang kartu suara. Kedua belah pihak pun saling mengeluarkan pernyataan dan pandangan-pandangannya.

Siang tadi, Pengadilan Tinggi Florida telah menyatakan menolak upaya untuk menghentikan penghitungan ulang di tiga kabupaten. Pengadilan juga meminta agar Sekwilda Florida sebagai panitia tertinggi pemilu di negara bagian Florida dapat membuat keputusan yang terbaik untuk mempertimbangkan permintaan beberapa kabupaten melakukan penghitungan ulang secara manual.

Sekitar sejam yang lalu, setelah mempertimbangkan alasan-alasan yang dikemukakan oleh tiga kabupaten, yaitu Broward, Dade dan Palm Beach untuk melanjutkan penghitungan ulang secara manual, akhirnya Sekwilda Florida memutuskan menolak perubahan-perubahan terhadap hasil perhitungan suara yang telah masuk. Ini berarti tidak ada perpanjangan waktu guna menerima hasil penghitungan suara secara manual yang sedang diselesaikan di tiga kabupaten tersebut. Pihak Gore tentu saja menentang keputusan ini dan siap untuk bertarung lagi di pengadilan besok pagi.

Sementara pengadilan banding federal di Atlanta, Georgia, menyatakan akan mempertimbangkan tuntutan Bush untuk menyetop penghitungan ulang di Florida, setelah sebelumnya tuntutan Bush ini kalah di pengadilan negara bagian di Orlando.

Tadi siang, Wakil Presiden Al Gore mengajukan tawaran agar proses pemilihan presiden dapat segera diselesaikan, yaitu dengan menyatakan akan sangat menghargai jika dapat dilakukan penghitungan ulang secara manual di tiga kabupaten tersebut (atau seluruh Florida) dan meminta agar Gubernur George Bush menyetujuinya. Setelah itu tinggal menunggu hasil penghitungan dari suara luar negeri (absentee ballot).  Al Gore juga mengajak George Bush untuk bertemu secara pribadi, bukan untuk bernegosiasi tetapi untuk memperbaharui suasana dialog, demi demokrasi.

Usulan Gore ini ternyata ditolak oleh Bush. Beberapa menit yang lalu, Bush menyatakan menolak untuk melanjutkan penghitungan suara secara manual, karena penghitungan ulang dengan mesin sebenarnya telah dilakukan tiga sampai empat kali. Bush menyatakan agar proses pemilihan ini hendaknya fair, accurate and final. Bush juga menyatakan dengan senang hati akan melakukan pertemuan pribadi dengan Gore tetapi nanti setelah proses pemilu selesai.

Penghitungan suara dari luar negeri yang jumlahnya diperkirakan sekitar 4.000 suara akan dimulai hari Jum’at siang lusa dan akan diselesaikan hingga tengah malam. Hasilnya baru akan disahkan pada hari Sabtu siangnya. Diperkirakan, suara dari luar negeri ini akan banyak mendukung George Bush.

Dengan melihat perkembangan ini apakah pada hari Sabtu nanti semua proses penghitungan suara di Florida akan selesai dan berarti secara nasional juga akan dapat diketahui siapa pemenangnya? Dan mengakhiri periode yang oleh pers disebut too close to call (angkanya terlalu mepet untuk dapat disimpulkan siapa pemenangnya)?. Para pengamat, analis, wartawan maupun pejabat belum ada satupun yang berani menjawabnya.-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (18)

2 November 2008

New Orleans, 20 Nopember 2000 – 21:00 CST (21 Nopember 2000 – 10:00 WIB)

Kemelut di depan gawang Gedung Putih masih juga belum ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Berbagai proses peradilan pemilu baik di tingkat kabupaten maupun negara bagian Florida masih terus berlanjut. Saking banyaknya peristiwa peradilan, membuat saya sendiri bingung untuk memahami proses pemilu yang semakin rumit dan berlarut-larut ini. Untuk itu berikut ini akan saya coba ketengahkan gambaran besarnya saja.

Sidang Mahkamah Agung negara bagian Florida tadi sore mendengarkan argumen dari kedua belah pihak tentang sah tidaknya hasil penghitungan ulang di tiga kabupaten untuk ditambahkan ke dalam hasil penghitungan akhir sementara yang sudah disetujui oleh panitia pemilu Florida. Hingga saat ini masih belum ada keputusan peradilan, bahkan belum ada kejelasan kapan akan diputuskan. Jadi, ya masih menunggu.

Padahal Gore banyak berharap agar hasil penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara itu dapat disahkan untuk ditambahkan ke dalam hasil akhir sementara. Pasalnya ketiga kabupaten, yaitu Broward, Miami-Dade dan Palm Beach adalah termasuk wilayah basis pendukung Partai Demokrat. Beberapa TPS yang telah selesai menghitung memang mengindikasikan akan adanya penambahan suara bagi Gore, meskipun angka tersebut belum dilansir keluar.

Sementara proses peradilan masih berlanjut, sementara itu pula acara penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara yang jumlahnya ratusan ribu di tiga kabupaten juga masih terus dilanjutkan. Entah kapan selesainya, padahal di minggu ini akan ada dua hari libur nasional Thanksgiving Day, yaitu Kamis dan Jum’at.

Sementara itu lagi, tuntutan dari para pemilih di wilayah kabupaten Palm Beach untuk meminta pemilu ulang ternyata ditolak. Kini para pemilih tersebut sedang mengajukan banding atas keputusan penolakan dari peradilan State Circuit Court. Jadi, ya masih menunggu lagi kapan akan diputuskan.

Di lain pihak, adanya sekitar 40% suara (lebih 1.500 suara) dari absentee ballot yang kebanyakan berasal dari para anggota militer dan keluarganya yang sedang bertugas di luar negeri yang telah dinyatakan ditolak karena tidak sah, kini sedang diperjuangkan untuk ditinjau kembali. Para militer itu merasa haknya untuk memilih tidak dihargai, padahal kesalahan itu bukan semata-mata karena keteledorannya.

Bush sangat berharap atas suara luar negeri ini yang diyakini banyak berasal dari para pendukungnya. Sebagaimana telah terbukti dari suara luar negeri yang sudah sah dihitung, Bush mengumpulkan jumlah dua kali lebih banyak dibanding yang dikumpulkan Gore. Apakah suara dari luar negeri ini akan disetujui untuk dipertimbangkan kembali kesahannya. Hingga kini belum ada kepastian. Jadi, ya masih menunggu lagi apakah akan ada perubahan pengumpulan suara.

Ketiga persoalan di atas, dari sekian banyak persoalan yang masih dalam proses peradilan, kiranya cukup memberi gambaran bagi saya (dan kita), bahwa kesimpulan paling gampang adalah proses pemilu masih belum selesai dan tidak tahu kapan akan selesai. Dengan kata lain, presiden baru Amerika belum akan diketahui dalam waktu dekat ini dan penantian Amerika untuk memiliki presiden baru masih akan panjang.

Hingga hari ketigabelas setelah pemilu dilangsungkan tanggal 7 Nopember yll, kedudukan sementara pengumpulan jatah suara (electoral vote) masih tetap 255 untuk Gore dan Bush 246 untuk Bush. Kunci kemenangan akan ditentukan oleh siapa yang menang di Florida yang berhak memperoleh tambahan 25 jatah suara guna mencapai angka kemenangan 270.

Sedangkan kedudukan sementara pengumpulan kartu suara (popular vote) di Florida saat ini Bush masih unggul atas Gore dengan 930 suara. Bush sedang berusaha keras agar dapat memperbesar angka kemenangannya, sedangkan Gore sedang berusaha keras untuk memperkecil selisih kekalahannya untuk selanjutnya mengungguli Bush sekalipun hanya dengan sedikit suara saja. Untuk itulah berbagai trik dan cara ditempuh oleh kedua belah pihak melalui mekanisme hukum dan perundang-undangan yang berlaku.

Jadi, ya masih menunggu lagi. Entah sampai kapan proses pemilu yang semakin rumit dan berlarut-larut ini akan berakhir.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (20)

2 November 2008

New Orleans, 21 Nopember 2000  23:15 CST (22 Nopember 2000 – 12:15 WIB)

Ada breaking news. Baru saja malam ini Mahkamah Agung Florida membuat keputusan bahwa penghitungan ulang yang kini sedang berlangsung di tiga kabupaten bahkan di seluruh Florida dapat diterima dan disetujui untuk disahkan. Dan memerintahkan kepada Sekwilda Florida yang adalah ketua panitia pemilu harus memasukkan hasil penghitungan ulang tersebut ke dalam hasil akhir penghitungan suara Florida.

Tentu ini adalah kemenangan bagi Gore, karena ketiga kabupaten yang sedang menghitung ulang suaranya itu adalah basis pendukung Partai Demokrat. “Demokrasi yang jadi pemenangnya malam ini”, kata Gore. Tentu ini adalah kata-kata retorika atas rasa gembiranya bahwa tuntutan untuk menghitung ulang ternyata disetujui oleh mahkamah Agung. Sebaliknya, kubu Bush protes keras. “It’s unfair”, kata James Baker, juru bicara Bush. Kata-kata ini merujuk kepada keputusan Mahkamah Agung yang menurutnya telah merubah aturan main di saat pertandingan sedang berlangsung.

Mahkamah Agung Florida memberi batas waktu bagi penyelesaian penghitungan ulang kartu suara hingga hari Minggu jam 5 sore (Senin pagi WIB), jika kantor panitia pemilu Florida masih buka. Jika tidak, maka batas akhirnya adalah hari Senin pagi (Senin sore WIB). Dengan demikian, para tukang hitung suara ini pasti tidak jadi liburan Thanksgiving dan akhir pekan karena harus mengejar tenggat waktu penyelesaian penghitungan ulang.

Hasil sementara yang dilansir oleh Badan Pengawas Pemilu Florida, hasil penghitungan ulang suara hingga malam ini telah menunjukkan adanya penambahan angka bagi Gore sebanyak 278 suara. Masih cukup jauh untuk menutup 930 suara yang dimiliki Bush.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (23)

2 November 2008

New Orleans, 27 Nopember 2000 – 22:00 CST (28 Nopember 2000 – 11:00 WIB)

Dua jam yang lalu, sekitar jam 8:00 Senin malam ini. (Selasa pagi, 9:00 WIB), Al Gore tampil di depan publik dan menyampaikan pidatonya. Dia tetap akan melanjutkan upayanya untuk menentang pengesahan suara Florida kemarin malam. Dikatakannya bahwa warga Amerika adalah sama kedudukannya pada Hari Pemilu hanya jika semua kartu suaranya dihitung. Pernyataan ini merujuk kepada adanya kartu-kartu suara yang tidak dihitung yang jumlahnya lebih dari 10.000 suara, sebagai akibat dari tidak terdeteksinya hasil coblosan oleh mesin penghitung.

Gore juga merujuk kepada adanya penghitungan ulang dengan tangan atas kartu suara di beberapa kabupaten yang tidak berhasil diselesaikan hingga tenggat hari Minggu sore jam 5:00 yll. Padahal Sekwilda Florida sudah akan segera mengesahkan hasilnya sesuai dengan keputusan Mahkamah Agung Florida yang hanya memberi batas akhir penghitungan ulang hingga Minggu sore itu.

Itulah yang kini sedang diperjuangkan pihak Gore yang menginginkan agar semua hasil penghitungan ulang dapat diakui hasilnya dan semua suara yang belum dihitung dengan mesin dapat dilakukan penghitungan ulang. Apapun hasilnya.

Gore mengingatkan bahwa mengabaikan suara sama artinya dengan mengabaikan demokrasi itu sendiri. Dengan gaya retoriknya Gore mengatakan : “Dan jika kita mengabaikan ribuan suara di Florida dalam pemilu ini, bagaimana Anda atau siapapun warga Amerika mempunyai keyakinan bahwa suara Anda tidak akan juga diabaikan di pemilu mendatang?”.

Sementara pihak Bush tetap berkeyakinan akan kemenangannya sesuai dengan hasil akhir yang disahkan oleh panitia pemilu Florida kemarin malam. Bush pun sudah siap-siap membuka kantor di Gedung Putih dalam rangka masa transisi jabatan kepresidenannya.

Proses peradilan masih akan berlanjut dalam minggu ini dan hari-hari selanjutnya, di berbagai macam jenis peradilan dan tingkatan peradilan, yang menjadi tidak mudah dipahami oleh masyarakat awam. Rupanya tidak hanya saya yang bingung, penyiar CNN pun juga kebingungan memahami buuuanyaknya proses peradilan ini.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (25)

2 November 2008

New Orleans, 29 Nopember 2000 – 22:00 CST (30 Nopember 2000 – 11:00 WIB)

Sebagian dari perkembangan terakhir proses peradilan pemilu Florida adalah bahwa permintaan Al Gore agar segera dilakukan penghitungan atas kartu suara yang dipermasalahkan ditolak oleh hakim pengadilan Leon County Circuit. Ada sekitar 10.750 kartu suara yang dipermasalahkan dari kabupaten Miami-Dade dan 3.300 suara dari kabupaten Palm Beach.

Sebagai gantinya hakim memerintahkan agar semua kartu suara dari Miami-Dade dan Palm Beach dikirim ke ibukota Florida, Tallahassee, sebagai bukti untuk proses peradilan di tingkat Mahkamah Agung yang akan mulai digelar hari Sabtu nanti.

Padahal jumlah seluruh kartu suara dari kedua kabupaten itu ada lebih dari 1,1 juta kartu suara. Maka besok pagi semua kartu suara itu akan diangkut dengan truk berkonvoi menuju kota Tallahassee. Konvoi truck yang dikawal mobil polisi lengkap dengan Tim Special Response akan menempuh jarak lebih dari 750 km dan diperkirakan akan memakan waktu 8 jam perjalanan. Selanjutnya kita tunggu saja apa yang akan diputuskan Mahkamah Agung Florida atas tuntutan Al Gore itu yang pasti prosesnya akan memakan waktu beberapa hari.

Sementara George Bush yang sudah sangat yakin bahwa dirinya yang telah dinyatakan menang di Florida dan karena itu berhak menjadi presiden terpilih Amerika ke-43, segera akan membuka kantor sementara di dekat Washington DC dalam rangka masa transisi pekerjaan kepresidenan.

Meskipun ada banyak proses peradilan yang sedang berjalan, sejauh ini tetap dijadwalkan bahwa pada tanggal 12 Desember adalah hari penunjukan anggota Electoral College yang jumlahnya di setiap negara bagian sebanyak jatah suara (electoral vote) masing-masing. Sebagai contoh negara bagian Florida yang mempunyai jatah suara (electoral vote) 25, maka akan memilih 25 orang anggota Electoral College dari Partai yang menang.

Selanjutnya pada tanggal 18 Desember, semua anggota Electoral College akan bertemu di wilayah negara bagian masing-masing untuk melakukan pemungutan suara atas siapa yang akan menjadi Presiden. Agaknya forum ini lebih merupakan formalitas atas hasil pemilu yang sudah dicapai.

Sebagai contoh, di negara bagian Louisiaana misalnya yang mempunyai jatah suara 9 dan dimenangkan oleh Partai Republik, maka akan dipilih 9 orang anggota Electoral College dari unsur Partai Republik. Kesembilan orang tersebut tentunya akan memilih George Bush sebagai presiden. Kecuali, jika ternyata ada anggota yang tiba-tiba mbalelo memilih Gore. Itu artinya pihak Partai Republik telah salah pilih orang.

Dengan demikian maka secara nasional hasil pemungutan suara dari semua Electoral College akan sama dengan jumlah jatah suara (electoral vote) yang sekarang telah dimenangkan oleh masing-masing Partai. Jadi kalau sekarang ini sudah diketahui bahwa Bush memperoleh 271 jatah suara, maka secara teoritis nantinya Bush juga akan memperoleh suara 271 dari hasil pemungutan suara Electoral College. Hasil inilah yang selanjutnya akan dibawa ke sidang Senat dan DPR pada tanggal 6 Januari untuk disahkan.

Bagaimana jika hingga tanggal 18 Desember nanti semua proses peradilan pemilu ini tak kunjung tuntas? Inilah yang sejauh ini saya belum tahu, lalu akan bagaimana status dari 25 jatah suara Florida yang hari Minggu yll. telah disahkan menjadi haknya Bush dan kini dipersengketakan oleh pihak Gore. Padahal 25 jatah suara itu akan menjadi kunci kemenangan bagi kedua belah pihak.-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (33)

2 November 2008

New Orleans, 12 Desember 2000 – 22:45 CST (13 Desember 2000 – 11:45 WIB)

Baru saja sekitar jam 10:00 PM waktu Amerika Timur (09:00 PM waktu New Orleans), Mahkamah Agung Amerika (US Supreme Court) mengeluarkan keputusan pengadilan yang sangat ditunggu-tunggu sejak seharian tadi. Karena keputusan tersebut akan menentukan siapa bakal presiden Amerika ke-43. Surat keputusan yang dinilai mengandung pernyataan yang cukup rumit tersebut ternyata tidak mudah dan tidak dapat cepat dipahami secara rinci oleh kebanyakan para pengamat.

Intinya adalah bahwa 7 dari 9 hakim di Mahkamah Agung Amerika mnemukan adanya constitutional problems di dalam keputusan Mahkamah Agung Florida sebelumnya yang memerintahkan untuk dilakukannya penghitungan ulang atas kartu suara undervote di Florida. Oleh karena itu Mahkamah Agung Amerika sebagai lembaga peradilan tertinggi mengirimkan balik kasus tersebut kepada Mahkamah Agung Florida.

Sementara diketahui bahwa batas akhir penyelesaian kasus ini adalah tanggal 12 Desember 2000, yang berarti adalah malam ini dan tinggal tersisa 1-2 jam lagi. Tanggal 12 Desember adalah tanggal yang dijadwalkan bagi setiap negara bagian untuk pengangkatan utusan para pemilih yang akan duduk di lembaga Electoral College. Siapa yang diangkat sebagai utusan adalah partai yang menang di negara bagian tersebut.

Oleh karena itu, banyak pihak dapat menyimpulkan bahwa ini adalah kemenangan bagi George Bush. Melalui pengamat kampanyenya, James Baker, pihak Bush dan Cheney menyampaikan rasa puas atas keputusan Mahkamah Agung Amerika dan terima kasih kepada para pengacara serta pendukung setianya.

Banyak kalangan juga menilai, habis sudah upaya hukum yang masih dapat ditempuh oleh pihak Gore dan Lieberman atas kemelut pemilu di Florida. Sementara pihak juga menyarankan agar Al Gore sebaiknya segera menyatakan kekalahannya dalam pemilihan presiden yang berlarut-larut ini, yang berarti mengakui kemenangan George Bush.

Apakah akan demikian? Beberapa menit yang lalu pihak Gore dan Lieberman menyatakan masih sedang mempelajari amar putusan Mahkamah Agung Amerika yang dipandangnya sangat panjang dan kompleks sehingga perlu waktu untuk mempelajarinya lembar demi lembar. Reaksi apakah yang akan dikemukakan oleh pihak Gore dan Lieberman ini baru akan disampaikan besok (Rabu) pagi.

***

Itulah breaking news yang malam ini sedang dibahas hangat oleh para pengamat di berbagai saluran televisi. Sedangkan berbagai proses peradilan lainnya baik di tingkat lokal maupun negara bagian masih terus berlanjut, akan tetapi kurang berbobot politis dalam menentukan kemenangan kedua kandidat.

Agaknya hari-hari ini adalah hari-hari tanpa jam kerja bagi sebagian kantor pengadilan dan Mahkamah Agung, karena semua proses hukum yang sedang diupayakan oleh kedua belah pihak Gore maupun Bush berlangsung secara siang-malam. Seperti halnya malam ini, hasil persidangan yang beberapa menit sebelumnya oleh berbagai stasiun televisi dinyatakan tidak tahu kapan akan diputuskan, tahu-tahu keluar menjelang tengah malam.

Untuk sementara, kebanyakan para pengamat menganggap inilah saatnya penentuan kemenangan pemilihan presiden. Dan George Bush adalah pemenangnya. Namun, pernyataan pihak Gore bahwa baru besok pagi akan menyampaikan reaksinya atas putusan Mahkamah Agung Amerika, tentu saja membuat semua kalangan penasaran. Apa yang akan dilakukan Gore? Celah hukum apalagi yang masih dapat diupayakan? Atau, akankah Gore menyampaikan pernyataan kekalahannya? Kita tunggu besok pagi. 

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (34)

2 November 2008

New Orleans, 13 Desember 2000 – 22:00 CST (14 Desember 2000 – 11:00 WIB)

Terjawablah sudah kini siapa yang menjadi pemenang pemilu di Florida, setelah Al Gore di depan publik Amerika menyampaikan pidato kekalahannya pada jam 9:00 malam waktu Amerika Timur yang baru lalu (Kamis pagi jam 9:00 WIB). Pidato Al Gore itu disampaikannya di gedung Eisenhower Executive Office, yang terletak di sebelah Gedung Putih, Washington DC, dengan dihadiri oleh istrinya serta pasangannya Joe Lieberman yang juga bersama istrinya.

Mengawali pidatonya, Gore mengatakan bahwa ia baru saja menilpun George Bush guna menyampaikan menerima kekalahannya dan mengucapkan selamat atas terpilihnya George W. Bush sebagai Presiden Amerika ke-43. Di bagian lain pidatonya yang cukup puitis, Gore menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Mahkamah Agung Amerika kemarin malam, namun dia sangat menghargai keputusan itu dan menerimanya.

Gore mengajak segenap warga Amerika agar bersatu dan bersama-sama berdiri di belakang presiden baru Amerika. Sungguh sebuah ajakan yang sangat simpatik kalau melihat betapa selama 36 hari terakhir sejak hari pemilu tanggal 7 Nopember yll. kedua belah pihak saling bersaing dengan tajam guna memenangi pengumpulan suara di Florida.

Saat keluar dari gedung Eisenhower dimana Gore menyampaikan pidato kekalahannya, di luar gedung di bawah gerimis, puluhan pendukung Gore masih dengan setia mengelu-elukannya dan memberikan tepuk tangan penghormatan atas Al Gore sambil meneriakkan kata-kata ritmis : “Gore in four, Gore in four”. Tentu yang dimaksud adalah agar Gore berjuang lagi untuk menuju ke Gedung Putih pada tahun 2004 nanti dan mereka akan mendukungnya.

Sejam kemudian, Gubernur Texas George W. Bush juga menyampaikan pidatonya di ruang sidang DPR Texas, yang berada di gedung US Capitol di kota Austin. Sebelum Bush menyampaikan pidato penerimaan kemenangannya, terlebih dahulu dia diperkenalkan kepada segenap hadirin oleh juru bicara DPR yang adalah seorang senior Partai Demokrat, lawan dari partainya Bush, Partai Republik.

Di bagian awal pidatonya, Bush juga mengatakan bahwa ia telah menerima tilpun dari Wakil Presiden Al Gore. Bush sangat berterima kasih atas ucapan selamat dari Gore, karena Bush menyadari bahwa hal itu sungguh bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan oleh Gore pada saat seperti ini.

Bush menegaskan komitmennya untuk memajukan Amerika bersama-sama. Bukan untuk kepentingan Partai Republik atau Demokrat, melainkan untuk kepentingan segenap warga Amerika termasuk mereka yang tidak memilihnya.

***

Perjuangan panjang dan melelahkan, malahan membosankan bagi sementara kalangan awam, telah dilakukan pihak Gore sejak 36 hari yll. dengan isu utama dilakukannya penghitungan ulang secara manual atas kartu-kartu suara yang dinilai bermasalah. Dengan sendirinya pihak Bush juga mesti melawannya dengan perjuangan yang tidak kalah gigihnya. Maka yang terjadi lebih sebulan ini adalah saling adu argumentasi di berbagai forum pengadilan mulai dari tingkat paling rendah di kabupaten-kabupaten bermasalah hingga tingkat paling tinggi di kota Washington DC.

Kini semua telah selesai. Pagi tadi Gore telah melakukan konferensi jarak jauh dengan segenap tim hukumnya di Florida. Gore menyampaikan terima kasih dan salam perpisahan kepada sekitar 30 pengacara dan staff kampanyenya di Tallahassee yang telah bekerja keras sejak hari pemilu yll.

Setelah keluar keputusan Mahkamah Agung Amerika tadi malam, maka kubu Gore sudah merasa tidak ada lagi jalur upaya hukum yang dapat dilakukan guna memperjuangkan kemenangannya di Florida. Maka 25 jatah suara (electoral vote) Florida jatuh ke tangan George Bush. Dengan demikian, secara nasional Bush berhasil mengumpulkan 271 jatah suara, sedangkan Gore mengumpulkan 267 jatah suara. Menciptakan margin kemenangan yang sangat tipis yang belum pernah terjadi dalam sejarah pemilihan presiden Amerika sebelumnya. Meskipun dari jumlah pengumpulan kartu suara (popular vote) secara nasional Gore lebih unggul dibandingkan Bush.

Usai sudah proses panjang pemilihan presiden Amerika. Tinggal kini dilanjutkan dengan tahap formal selanjutnya hingga pelantikan presiden tanggal 20 Januari 2001 saat secara resmi George Bush melengser Bill Clinton menduduki Gedung Putih.

Selamat untuk George W. Bush menjadi presiden terpilih Amerika ke-43. Saya yakin kali ini saluran-saluran televisi pasti tidak akan salah lagi mengekspose presiden baru Amerika sebagaimana yang terjadi pada tanggal 7 Nopember tengah malam bulan lalu. Presiden Indonesia Gus Durrahman juga pasti sudah siap dengan kawat ucapan selamatnya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (35 – Selesai)

2 November 2008

New Orleans, 14 Desember 2000 – 22:30 CST (15 Desember 2000 – 11:30 WIB)

Setelah 35 kali saya menuliskan pertanyaan sebagai judul catatan ini, kini sudah terjawab yaitu bahwa akhirnya Gubernur Texas, George W. Bush, terpilih sebagai Presiden Amerika ke-43, setelah mengalahkan Wakil Presiden Al Gore melalui pertarungan sengit selama 36 hari.

Kedudukan akhir pengumpulan kartu suara secara nasional (popular vote) adalah : Gore mengumpulkan 50.158.094 suara (48%) dan Bush mengumpulkan 49.820.518 suara (48%), dengan sisanya diraih partai gurem penggembira pemilu lainnya. Meskipun Gore menang di popular vote, tetapi Gore hanya berhasil mengumpulkan 267 jatah suara (electoral vote) dari 21 negara bagian termasuk ibukota Washington DC, sedangkan Bush mengumpulkan 271 jatah suara dari 30 negara bagian. Karena pemilihan presiden didasarkan pada jumlah jatah suara yang berhasil dikumpulkan dari negara-negara bagian, maka Bush yang akhirnya berhak menjadi pemenangnya.

Banyak pelajaran akan dipetik oleh berbagai elit politik Amerika dari proses panjang pemilihan presiden yang akan menjadi catatan tersendiri bagi sejarah pemilu di Amerika. Berbagai kalangan kini mulai mengamat-amati perangkat peraturan dan perundang-undangan pemilu di wilayah negara bagian masing-masing, guna mengantisipasi jika seandainya kasus yang serupa akan kembali terjadi di masa-masa mendatang.

Sebagai catatan akhir, saya ingin menggaris-bawahi hal-hal sbb. :

Pertama :

Melihat proses pemilu yang tidak mulus kali ini, sebagian orang di belahan dunia lain mengkhawatirkan akan terjadinya krisis politik di Amerika. Bahkan sebagian lain mencemooh bahwa demokrasi Amerika yang dibangga-banggakan itu ternyata tidak berjalan. Saya justru berpendapat sebaliknya, inilah saatnya demokrasi Amerika sedang diuji. Bagaimana Amerika akan keluar dari kemelut berkepanjangan itu. Akhirnya memang terbukti bahwa Amerika dapat keluar dari kemelut pemilihan presiden dengan cara yang demokratis. Tanpa terjadi chaos, tanpa terjadi kekerasan, tanpa terjadi krisis politik.

Lha, kok justru di Amerika saya melihat pangejawantahan (manifestasi) dari semboyan para leluhur Jawa : kalah tanpa wirang, menang tanpa ngasorake (mudah-mudahan saya tidak salah mengkutip pemeo ini), yang artinya kalah tanpa kehilangan kehormatan dan menang tanpa merendahkan lawannya.

Setelah berbagai cara legal ditempuh oleh Al Gore, dan akhirnya tidak juga berhasil dan tidak ada cara “halal” lagi yang dapat ditempuh, maka dengan kesatria Al Gore mengakui kekalahannya dan siap bersama-sama pendukungnya berdiri di belakang George Bush, demi Amerika. Betatapun keputusan pengadilan sangat membuat Gore kecewa, namun toh Gore tetap menghormati keputusan itu dan menerimanya. Bush pun memuji Al Gore dan siap melayani semua warga Amerika baik yang memilih maupun tidak memilih Bush, menuju cita-cita bersama.

Saya sendiri sempat merasa miris, membayangkan seandainya peristiwa serupa terjadi di Indonesia misalnya, bencana apa lagi yang akan terjadi. Merinding rasanya membayangkan di Indonesia akan terjadi chaos, kekerasan di mana-mana, dan bukan tidak mungkin terjadi pertumpahan darah yang sia-sia.

Kedua :

Meskipun Gore unggul dalam pengumpulan suara secara nasional (popular vote), namun karena kemenangan ditentukan oleh pengumpulan jatah suara (electoral vote) dari setiap negara bagian, maka akhirnya Bush yang dinyatakan menang. Kenyataan ini sebenarnya mirip dengan sistem perwakilan dalam lembaga politik kita, dimana jumlah anggota DPR/MPR ditentukan secara proporsional oleh banyaknya partai yang menang di tiap-tiap propinsi.

Sebagai ilustrasi, tentunya kita masih ingat dengan hasil pemilu di Indonesia tahun lalu, dimana secara nasional PKB mengumpulkan jumlah suara lebih banyak dibandingkan Golkar (identik dengan popular vote). Akan tetapi kenyataannya jumlah anggota perwakilan Golkar di DPR/MPR lebih banyak daripada perwakilan PKB (identik dengan electoral vote). Maka seandainya di Indonesia ini hanya ada dua partai saja dan masing-masing mengajukan kandidat presidennya, sudah barang tentu kandidat Golkar yang akan menang karena mempunyai perwakilan pemilih yang lebih banyak.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada yang aneh dengan sistem pemilu dalam institusi politik kita. Kalaupun ada yang aneh jika dibandingkan dengan sistem pemilu di Amerika adalah bahwa di Amerika sejak tahap awal rakyat sudah melihat “kucing” yang mau dibeli, sedangkan bagi kita “kucing” itu masih dalam karung. Jika akhirnya “kucing”-nya diganti-ganti atau justru “kucing liar” (entah keluar dari karung atau sarungnya siapa), maka tidak ada yang boleh protes.

Keanehan yang kedua adalah adanya anggota perwakilan di DPR/MPR yang diangkat. Apapun alasannya, pasti tidak akan terhindarkan bahwa mereka yang diangkat akan berasal dari pihak yang sedang berkuasa. Maka tidak heran ketika mantan Presiden Soeharto keukeuh (berkeras) ketika menyampaikan sambutan tanpa teks di depan Rapim ABRI tahun 1980 di Pakanbaru, bahwa adanya sepertiga anggota DPR/MPR yang diangkat adalah demi mengamankan UUD 1945.

Belakangan saya baru sempat berprasangka buruk, jangan-jangan bukan UUD 1945-nya yang diamankan melainkan pelaksananya. Mudah-mudahan prasangka buruk saya keliru, dan kalaupun benar, ya sudah terlambat 20 tahun. Barangkali karena waktu itu saya adalah satu dari 180 juta orang yang menderita “sakit gigi”.   

***

Akhirnya saya berharap, semoga tim pemantau pemilu dari Indonesia yang (menurut Kepala Konsul Jendral RI di Houston) juga berangkat ke Amerika, dapat kembali ke tanah air dengan membawa hal-hal positif yang sekiranya dapat dipelajari dan diterapkan. Terutama bagi perbaikan sistem demokrasi Pancasila yang suuuangat kita bangga-banggakan. Sama bangganya dengan masyarakat Amerika atas sistem demokrasi mereka yang memang terbukti berjalan.

Saya percaya bahwa lain ladang memang lain belalangnya. Justru karena itu jangan hendaknya belalangnya jadi sak karepe dhewe (semaunya sendiri). George Bush saja mengajak segenap rakyat Amerika untuk berdoa kepada Tuhan, demi kejayaan Amerika. Marilah kita juga berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, demi kejayaan Indonesia.

Yusuf Iskandar