Posts Tagged ‘trans sulawesi’

Menyusuri Setengah Trans Sulawesi Dari Makassar Ke Palu

28 Desember 2010

Catatan Perjalanan:

Catatan berikut ini merupakan kumpulan dari penggalan catatan perjalanan yang sudah saya posting sebagai status di Facebook langsung pada saat saya masih berada di perjalanan. Hal ini karena lebih mudah dan praktis untuk dilakukan kapan saja, dimana saja dan sambil apa saja, tanpa saya harus membuka laptop.

Perjalanan menyusuri setengah jalan lintas Trans-Sulawesi dari Makassar sampai ke Palu, saya lakukan dari tanggal 26 sampai 30 Oktober 2010. Perjalanan ini melintasi tiga provinsi Sulsel, Sulbar dan Sulteng, dalam rangka survey batu besi di wilayah kabupaten Mamuju.

Karena tidak semua teman saya ada di Facebook, maka catatan-catatan pendek itu saya kumpulkan dan susun kembali dalam beberapa seri sebagai penggalan catatan perjalanan (setelah saya edit penulisan ejaannya agar lebih enak dibaca). Semoga dapat menjadi bacaan selingan yang menghibur.

Menyusuri Setengah Trans Sulawesi Dari Makassar Ke Palu (2)

28 Desember 2010

(10). Pagi Di Pantai Mamuju

Pagi di pantai Mamuju… Langit berawan redup. Air laut teluk Mamuju tampak tenang. Di kejauhan terlihat ujung daratan yang menjorok ke laut. Rupanya hotel tempat saya menginap (Mamuju Beach Hotel) berada di tepi pantai.

Keluar dari pintu belakang hotel langsung menghadap ke teluk, dipisahkan oleh jalan kecil. Sekedar jalan-jalan di pagi hari di sepanjang jalan itu cukup membuat suasana lebih segar. Hmmm…puji Tuhan wal-hamdulillah

(Mamuju, 27 Oktober 2010)

——-

(11). Menuju Karossa

Jam 11:00 WITA meninggalkan Mamuju menuju kecamatan Karossa, menyusuri jalur Trans-Sulawesi ke utara ke arah Palu (Sulteng). Kondisi jalan umumnya beraspal mulus walau lebarnya pas-pasan ketika berpapasan. Kendaraan bisa melaju kencang… Seems it will be another 5 hours on-land trip for today. Bismillah…

(Mamuju, 27 Oktober 2010)

——-

(12). Makan Sore Di “Pondok Selera” Karossa

Jam 15 WITA sampe Karossa, empat jam terjalani sudah sejak dari Mamuju tadi. Harus makan dulu, makan siang jelang sore di RMSS (rumah makan sangat sederhana) “Pondok Selera”. Menunya apalagi kalau bukan ikan-ikanan laut. Kupilih kepala batu bakar (kata yang jual namanya ikan batu dan kupilih kepalanya). Selalu ada asesori kuah (bisa sup, sayur bening atau apa saja, pokoknya kuah setengah mangkuk). Dan selalu disajikan dengan bumbu rica-rica. Hmmm…

(Karossa, 27 Oktober 2010)

——-

(13). Mimpi Itu Perlu

Hari ini saya baru ngeh bahwa ternyata lokasi yang mau saya datangi ini hanya berjarak 5-6 jam perjalanan dari Palu (Sulteng). Dibandingkan setelah ditempuh dari Makassar (Sulsel) via Mamuju (Sulbar) yang membutuhkan 19-20 jam.

Beginilah kalau informasi itu diterima begitu saja. Huahaha… Hikmahnya? Ternyata Tuhan sedang memberi kesempatan saya untuk menyusuri Trans-Sulawesi, impian saya sekian tahun yll. Believe it or not, bahwa mimpi itu perlu…

(Karossa, 27 Oktober 2010)

——-

Menyusuri Setengah Trans Sulawesi Dari Makassar Ke Palu (3)

28 Desember 2010

(14). Semalam Di Karossa

Semalam di Karossa… Sebuah kota kecil di pertengahan jalan poros Trans-Sulawesi antara Mamuju (Sulbar) – Palu (Sulteng). Hujan menyambut hingga setengah malam, kompak dengan jadwal nyala listriknya.

Bermalam di penginapan “Makmur”. Ini penginapan benar-benar murah-meriah-sederhana-seadanya, langganan para pejalan jauh dan sopirnya beristirahat atau transit semalam. Sebuah kamar 2 single-bed dan kipas angin seharga Rp 50ribu/malam.

(Karossa, 28 Oktober 2010)

——-

(15). Sarapan Sederhana Di Depan Pasar Karossa

Nasi goreng… Sarapan sederhana di depan pasar Karossa, Mamuju, Sulbar, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke desa Sanjango sekitar satu jam perjalanan ke arah timur laut dari Karossa.

(Karossa, 28 Oktober 2010)

——-

(16). Sebuah Pesan Doa

Seorang sahabat mengirim pesan doa : “Semoga kesulitan bersamamu”.

Alhamdulillah… A very challenging message… Adrenalin saya meningkat sebab saya akan belajar, hanya jika menghadapi kesulitan maka saya akan tahu bagaimana membuatnya menjadi mudah. Sebab saya yakin bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan (innama’al ‘usyri yushro). Di balik setiap threat pasti ada opportunity. Dan, perjalanan pun kulanjutkan…

(Karossa, 28 Oktober 2010)

——-

(17). Tidak Ada Sinyal Di Sanjango

Maka sampailah ke Sanjango, desa terakhir sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki beberapa kilometer lagi menuju perbukitan lokasi survey batu besi. Perbekalan pun sudah disiapkan untuk tinggal di camp (istilah halus untuk bedeng) di hutan. Hanya saja, sudah siap-siap memanjat pohon untuk mendapatkan sinyal, karena di sini tidak ada yang jual…

(Sanjango – Karossa, 28 Oktober 2010)

——-

(18.) “Capek Deh…”

Nissan Navara double gardan itu meliuk-liuk melalui jalan batu perbukitan, dari Karossa menuju desa Sanjango, seolah mengikuti irama lagu disco ndang-ndut yang diputar pak sopir berulang-ulang.

Lagu “Cinta Satu Malam” dinyanyikan Melinda, disambung lagu “Capek Deh”…

Cape deh, ngurusin kamu
Cape deh, terserah kamu

Membuat kepala nyut-nyutan. Bukan karena lagunya, tapi lengkingan volumenya berkekuatan penuh seperti tim Densus 88 menguber teroris.

(Sanjango – Karossa, 28 Oktober 2010)

——-

Menyusuri Setengah Trans Sulawesi Dari Makassar Ke Palu (5)

28 Desember 2010

(27). Meninggalkan Karossa

Jam 06:45 WITA meninggalkan Karossa ke arah utara menuju kota Palu (Sulteng). Perjalanan 4-5 jam akan saya tempuh untuk mengejar pesawat siang dari Palu yang akan terbang menuju Surabaya lalu Jogja.

(Karossa, 30 Oktober 2010)

——-

(28). Itulah Juga Indonesia

Dalam perjalanan antara Karossa (Sulbar) – Palu (Sulteng), seorang teman merasa kesal karena susah menghubungi saya dan sekalinya bisa nyambung, terputus beberapa kali.

Saya katakan: “Jangan dibayangkan seperti di Jawa”. Dari satu tempat sampai tempat lain, berjajar sinyal-sinyal, sambung-menyambung menjadi satu, itulah Indonesia. Di Sulawesi, sinyal tidak sambung-menyambung menjadi satu, tapi itulah juga Indonesia

(Antara Karossa – Donggala, 30 Oktober 2010)

——-

(29). Membunyikan Klakson Panjang-panjang

Saya tidak habis pikir, pak sopir ini setiap kali ada orang, sepeda, apalagi sepeda motor, selalu membunyikan klakson panjang-panjang seperti sedang marah. Membuat jadi risih di telinga. Jadi ingin tahu kenapa.

Rupanya orang-orang itu suka jalan atau menyeberang seenaknya, terutama penyepeda motor yang suka tiba-tiba jalan ke tengah, memotong jalan tidak tolah-toleh atau memberi tanda. Kalau di Jawa suka saya bilang ke ibunya anak-anak: “Kuwi jaran (itu kuda)…”.

(Antara Karossa – Donggala, 30 Oktober 2010)

——-

(30). Bukan Anak Anjing Tapi Batu

Setelah ‘kresss‘…mobil yang kunaiki melindas sesuatu menjelang kota Donggala tadi pagi, pak Sopir tampak gelisah, lalu mengurangi laju mobilnya yang sebelumnya ngebyut-byut. Aku bergumam: “Tadi itu anak anjing. Salah sendiri, tiduran kok di tengah jalan”.

Pak sopir menimpali santai: “Bukan pak. Itu tadi batu…”. Sejenak aku terpana…, lalu berkata: “Iya pak, tadi itu batu…”, lalu kata batinku: “dan batu itu bernama anak anjing…”.

(Donggala, 30 Oktober 2010)

——-

(31). Antara Donggala – Palu

Jalur sepanjang sekitar 30 km antara Donggala – Palu, menyusuri pesisir teluk Donggala yang berpemandangan cukup menarik (saya bayangkan kalau malam pasti tampak indah sekali dengan kerlip lampu kawasan Palu yang berada di perbukitan). Kota Donggala dan Palu memang baku hadap terpisah teluk.

(Donggala, 30 Oktober 2010)

——-

(32). Kaledo Khas Palu

Kaledo (kaki lembu donggala), menu khas Palu. Tulang dan sumsum kaki sapi dimasak dengan kuah rasa asam, dimakan tidak dengan nasi tapi ubi rebus, dengan asesori bawang goreng khas Palu dan paru goreng. Serasa belum makan (wong tanpa nasi), tapi kuenyangnya minta ampyun

Huhmm, mak nyusss tenan itu namanya sumsum kaki. Tapi menyesuaikan status Merapi, statusku pun meningkat ke Awas kolesterol… (Ya diawasin aja, kaledonya tetap buablass).

(Palu, 30 Oktober 2010)

——-

(33). Perjalanan Setengah Trans – Sulawesi

Tunai sudah perjalanan darat setengah Trans Sulawesi melintasi Makassar (Sulsel) – Mamuju (Sulbar) – Palu (Sulteng) sejauh lebih dari 800 km. Siang ini tiba di bandara Mutiara Palu, siap-siap melanjutkan perjalanan udara dengan “Burung Singa” Palu-Makassar-Surabaya-Yogyakarta.

(Palu, 30 Oktober 2010)

——-

(34). Mampir Ke Warung Kopi “Harapan” Palu

Mampir ke warung kopi “Harapan” Jl. M. Yamin, yang sudah kondang di Palu. Warkop milik mas Acang alias Arif Abdullah ini menjual minuman kopi racikan rahasia run-temurrun dari embahnya yang asli dari Tiongkok, yang sudah membuka warung kopi sejak tahun 1959.

Taste kopinya benar-benar spesial, sensasi theng-nya nuikmat tenan… Sayang tidak menjual bubuk kopinya. Perlu dirayu dulu untuk akhirnya sekantong kecil bubuk kopi bisa saya bawa pulang.

(Palu, 30 Oktober 2010)

——-

Temanku Yang Terkena Stroke

20 Desember 2010

(1)

Teman saya yang kena stroke datang ke rumah melapor badannya terasa lebih enak setelah minum jamu sarang semut Papua. Tentu saja masih jauh dari kesembuhan, ibarat menyusuri jalan lintas Trans Sulawesi, ini baru etape awal saja… Setidak-tidaknya dia merasakan badannya lebih enteng dan enak. Tapi justru karena itu dia jadi semakin tidak betah tinggal di rumah, karena badannya terasa enak buat jalan-jalan. Waaah…ya justru ini yang saya khawatirkan…

(2)

Masih tentang teman yang terkena stroke, sambil klecam-klecem (cengengesan) berkata: “Aku masih belum bisa gini...” (Maaaaaf, kata gini mewakili ekspresi kelelakiannya. Saya tidak bermaksud “horror”, tapi itulah potensi mimpi buruk yang dialami penderita stroke).

“Kata dokter, saya harus sabar menghabiskan obatnya dulu…”, jelasnya memelas. Sangat bisa saya pahami.

Pesan yang dapat saya sampaikan: “Semoga kamu dan istrimu masih memiliki cukup kesabaran…”.

Yogyakarta, 1 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Semalam Di Karossa

28 November 2010

Semalam di Karossa… Sebuah kota kecil di pertengahan jalan poros Trans-Sulawesi antara Mamuju (Sulbar) – Palu (Sulteng). Hujan menyambut hingga setengah malam, kompak dengan jadwal nyala listriknya.

Bermalam di penginapan “Makmur”. Ini penginapan benar-benar murah-meriah-sederhana-seadanya, langganan para pejalan jauh dan sopirnya beristirahat atau transit semalam. Sebuah kamar 2 single-bed dan kipas angin seharga Rp 50ribu/malam.

Karossa, 28 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Mimpi Itu Perlu

28 November 2010

Hari ini saya baru ngeh bahwa ternyata lokasi yang mau saya datangi ini hanya berjarak 5-6 jam perjalanan dari Palu (Sulteng). Dibandingkan setelah ditempuh dari Makassar (Sulsel) via Mamuju (Sulbar) yang membutuhkan 19-20 jam.

Beginilah kalau informasi itu diterima begitu saja. Huahaha… Hikmahnya? Ternyata Tuhan sedang memberi kesempatan saya untuk menyusuri Trans-Sulawesi, impian saya sekian tahun yll. Believe it or not, bahwa mimpi itu perlu…

Karossa, 27 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Di Kecamatan Kalukku – Mamuju

28 November 2010

Kec. Kalukku, di jalan poros Trans Sulawesi, Mamuju (Sulbar) – Palu (Sulteng)

Kalukku – Mamuju, 27 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Menuju Karossa

28 November 2010

Jam 11:00 WITA meninggalkan Mamuju menuju kecamatan Karossa, menyusuri jalur Trans-Sulawesi ke utara ke arah Palu (Sulteng). Kondisi jalan umumnya beraspal mulus walau lebarnya pas-pasan ketika berpapasan. Kendaraan bisa melaju kencang… Seems it will be another 5 hours on-land trip for today. Bismillah…

Mamuju, 27 Oktober 2010
Yusuf Iskandar