Archive for Maret, 2011

Mendarat Lebih Cepat

9 Maret 2011

Pesawat Garuda jurusan Jakarta-Jogja sore tadi mendarat di bandara Adisutjipto lebih cepat dari waktu yang semestinya. Awak pesawat pun menghalo-halo, memberitahukan bahwa pesawat telah mendarat lebih cepat (maksudnya, terlalu cepat) 8 menit… (jangan-jangan karena tidak ada polisi lalu sopirnya ngebut di udara).

Tapi kalau mendarat terlambat, sepertinya tidak pernah diumumkan sekian menit kelambatan… Padahal keduanya bukan prestasi.

Yogyakarta, 8 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Ke Sirahan Kami Kembali

9 Maret 2011

Kami kembali ke Sirahan setelah kunjungan awal beberapa waktu sebelumnya. Pada tanggal 25 Pebruari dan 5 Maret 2011 saya dan beberapa rekan mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang, dalam rangka mendistribusikan bantuan kepada dua buah sekolah TK dan sebuah SD. Bantuan ini merupakan titipan amanah dari para sahabat yang peduli dengan beban kesulitan yang dihadapi anak-anak di desa Sirahan.

Seperti biasa, selalu ada nuansa berbeda dalam setiap perjalanan saya yang ingin saya “dongengkan”. Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Semoga menjadi inspirasi…

***

Berbagi Dengan Anak-anak TK

(1)

Akhirnya kesampaian juga untuk membantu dua sekolah TK yang gedungnya satu hancur satunya lagi lenyap tak berbekas diangkut lahar dingin di desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang.

Alat tulis, mainan edukatif dsb. Jum’at yll (25/02/11) diserahkan ke TK Pertiwi dan TK Ibnu Hajjar. Kami disambut suka cita oleh para ibu guru TK (entah kenapa kok tidak pernah dengar ada pak guru TK, mungkin khawatir murid-muridnya diajari mbetulin genteng).

(2)

TK Pertiwi (25 murid) saat ini menumpang di salah satu rumah warga yang ditinggal mengungsi karena ancaman banjir lahar dingin kali Putih belum usai. Sekolahnya model lesehan seperti makan gudeg Malioboro.

Menurut Bu Atun sang kepala sekolah, pemilik rumah sudah memberitahu akan pulang menempati rumahnya. Jadi mereka harus pindah. “Tapi ya belum tahu mau pindah kemana?”, tutur bu Atun nglangut (menerawang jauh)…

(3)

Dari TK Pertiwi kami menuju TK Ibnu Hajjar (119 murid) yang kini terbagi di tiga lokasi sekolah darurat. Salah satunya menempati sebuah bangunan kosong milik warga di dusun Gudang Gedolon (warga suka menyebutnya nDolon saja), desa Sirahan. Model sekolahnya sama, lesehan.

Sama seperti TK Pertiwi, TK ini pun kini juga sedang menghimpun bantuan dari mana saja berupa apa saja, asal anak-anak tetap bisa tertangani pendidikannya.

(4)

Sempat menyaksikan sebuah kelas yang anak-anaknya belajar sambil duduk lesehan. Senang rasanya melihat anak-anak itu. Ceria sekali, seperti tidak peduli dengan serba daruratnya sarana belajar yang ada.

Tapi jangan salah. Kata bu guru Suryati: “Ketika cuaca berubah mendung gelap, anak-anak itu gelisah minta segera pulang…”. Rupanya trauma banjir lahar dingin yang telah menggondol sekolah mereka begitu membekas dalam pikiran anak-anak itu.

***

Kue nDeso Bolu Kelapa

(5)

Ada sembilan ibu guru TK Ibnu Hajjar (tidak ada pak guru) siang itu berseragam baju kaus warna biru-putih dan berkerudung menyambut kedatangan kami yang membawa bantuan untuk sekolah TK mereka.

Kami disuguh dengan penganan bolu kelapa. Tapi kok masih panas dan aromanya membuat tdk sabar ingin sgr mencicipi. Rupanya di belakang bangunan yg sementara digunakan untuk TK itu juga digunakan untuk usaha membuat penganan.

(6)

Bolu kelapa adalah penganan berbahan terigu seperti kue bolu kukus. Bedanya bolu kelapa ini terigunya dicampur dengn parutan kelapa yang sebelumnya sudah di-oven sehingga aroma kelapanya tajam merangsang, seperti kelapa yang dibakar untuk umpan tikus.

Itu baru aromanya. Rasanya? Hmmm, empat bolu bablass… “Usaha ini baru setahun”, kata ibu Bambang sang pengusaha yang juga tinggal di bangunan yang ditempati TK itu. Kini omsetnya terus meningkat.

(7)

Bolu kelapa… Kue bolu berbahan terigu bercampur parutan kelapa yang di-oven. Kue ndeso sederhana, dibuat dengan cara sederhana (siapapun mudah membuatnya, kalau mau), dijual dengan harga sederhana.

Tapi ribuan bolu kelapa berhamburan ke pasar-pasar dan warung-warung di sekitar Muntilan yang dapat dibeli dengan harga @Rp 500,- dengan merek DR (Doa Restu). Harga di pabriknya @Rp 400,- per biji.

***

Jum’atan Di Dusun nDolon

(8)

Menjelang tiba waktu dzuhur. TK Ibnu Hajjar, guru dan muridnya harus ditinggalkan sejenak untuk sholat Jum’at. Seorang bu guru menunjukkan jalan menuju masjid terdekat karena letaknya agak tersembunyi.

“Nurul Burhan”, nama masjidnya. Terlihat pak haji Furqon, takmir dan imam masjid, sedang duduk leyeh-leyeh seorang diri di selasar masjid. Waktu dzuhur sudah masuk, tapi masjid kecil itu kok sepi. “Jangan-jangan jum’atan di sini libur”, pikirku.

(9)

Kusalami pak haji Furqon. “Biasanya baru pada datang setelah bedug ditabuh”, kata pak haji tersenyum. Benar juga. Sesaat kemudian datang beberapa orang muda. Bedug ditabuh. 1-2 jama’ah mulai datang. Lalu adzan berkumandang.

Nuansa Islam tradisional kental terasa. Jum’atan dengan dua adzan, sang bilal banyak melagukan salawat, pak haji sebagai khatib sekaligus imam mencengkeram tongkat “komando” sebesar alu (alat tumbuk padi).

(10)

Khotbah Jum’at yang seluruhnya disampaikan dalam bahasa Jawa halus telah diselesaikan pak haji Furqon selaku khatib. Sholat Jum’at segera dimulai, pak haji Furqon pun siap di mimbar imam.

Tiba-tiba beliau membalikkan badan dan berkata: “Gus, Gus Yusuf, monggo…”, sambil tangannya mempersilakan. Aku menoleh ke kiri-kanan ingin tahu siapa yang diajak bicara. Astaghfirullah, rupanya ucapan itu ditujukan kepadaku.

(11)

Pak haji Furqon mempersilakanku menjadi imam. Aku memang agak kaget, tidak menyangka tiba-tiba dipersilakan seperti itu. “Monggo pak…”, jawabku balas mempersilakan sambil mengarahkan jempolku.

Bukan aku tidak mau atau tidak bisa, kalau aku menolak. Bukan juga karena aku hanya mengenakan celana blue-jeans belel dan T-shirt. Melainkan karena beliaulah sebenarnya orang yang paling pantas untuk mengemban tugas menjadi imam pada Jum’at siang itu.

(12)

Alasanku terbukti benar. Di usianya yang sudah lebih 70 tahun, pak haji Furqon ternyata masih mampu melantunkan surat Al-Fatihan dan Al-A’laa dengan makhroj dan tajwid yang jelas dan bersih.

Aku dibuatnya terkagum. Tidak banyak orang tua seusia beliau mampu melakukannya. Namun lebih dari semua itu, adalah kerendahan hatinya sehingga merasa perlu mempersilakan jamaah “barunya” di masjid yang memang jarang kedatangan “tamu” itu.

(13)

Usai jum’atan, kupamiti pak haji Furqon yang wajahnya tampak selalu tersenyum ramah dan kusalami dengan hangat. Subhanallah.., sungguh sepenggal pengalaman yang seharusnya dapat kupetik hikmahnya.

Pak haji Furqon mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah kami berikan. Aku tertegun sejenak. Apa “urusan” haji Furqon berterima kasih untuk bantuan kepada sekolah TK yang hanya numpang di situ… Sebuah kearifan yang sulit dijelaskan.

***

“Lahardi”

(14)

Sebelum kembali ke Jogja, kami sempatkan menengok seorg guru TK Pertiwi yang malam sebelumnya melahirkan anak pertamanya di RSIA Muntilan. Sekedar ingin memberi surprise kepada bu guru yang ketika hamil tua sempat menyaksikan detik-detik menegangkan bagaimana TK-nya dilabrak banjir lahar lalu lenyap.

Seorang teman usul agar bayi laki-laki bu guyu (sengaja pakai ‘y‘) Watik ini diberi nama “Lahardi” (agar selalu ingat dengan lahar dingin).

***

Entok Goreng “Pondok Rahayu” Muntilan

(15)

Agenda terakhir Jum’at siang itu adalah makan siang (ini juga bagian penting). Bagaimanapun juga harus makan, maka dipilihlah “Pondok Rahayu” di pojok Jl. KH A. Dahlan, Muntilan, Magelang.

Menu unggulannya bebek dan ayam kampong, tapi juga ada entok dan kalkun. Bakar atau goreng dengan sambal goreng atau sambal kosek. Dan, pilihanku adalah…entok goreng, yang dagingnya empuk, tekstur seratnya nyaman dikunyah, dan hmmm…

(16)

Tahun 1992 bu Rahayu memulai membuka usaha jualan menu ayam kampung dan bebek. Warungnya kecil dan bertahan di tempatnya yang sekarang dengan judul “Pondok Rahayu”.

Taste-nya tidak diragukan lagi. Terbukti bertahan hingga dua dekade, malah semakin kondang dan diburu pelanggannya. Bahkan sekarang bu Rahayu memiliki armada untuk melayani pesan-antar. Sampai sekarang belum buka cabang, walau niat itu ada.

(17)

Daging entok dan bebek dimasak sedemikian ahlinya sehingga tidak terasa amis (anyir), melainkan pas benar taste-nya. Tadinya mau nyoba kalkun, tapi rupanya harus pesan lebih dahulu mengingat besarnya (seperti kalkun yang disusupi kepalanya Mr. Bean yang dagingnya cukup untuk 25 porsi normal, kecuali yang makannya tidak normal…).

Rahasianya? “Nggih namung sabar…” (ya cuma sabar saja), katanya. Maksudnya, sabar memproses sesuai kebutuhan.

***

Anak-anak, Seragam Dan Semangatnya

(18)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan 1 itu sudah menunggu kedatanganku di teras “sekolah”, bersama para ibu guru dan muridnya. Saya datang mengantar bantuan berupa pakaian seragam pramuka untuk 84 muridnya (sumbangan dari seorang rekan di Jogja yang tidak mau disebut namanya).

Seragam (tepatnya baju sekolah) itu mereka butuhkan, apalagi bagi mereka yang rumah seisinya telah diangkut banjir lahar.

(19)

SDN Sirahan 1, di kecamatan Salam, Magelang, bagian depannya tertutup pasir lahar Merapi, ruang kantornya morat-marit diacak-acak banjir lahar luapan dari kali Putih. Warga yang kebanyakan wali murid, belum mengijinkan sekolah beroperasi mengingat ancaman bahaya banjir lahar masih belum sirna.

Sementara “sekolah” yang ditempati sekarang sebenarnya adalah beberapa rumah warga dusun Purwosari, desa Sirahan, yang ditinggal mengungsi pemiliknya.

(20)

Kabarnya pemilik rumah yang sekarang difungsikan untuk sekolah itu kini bersiap pulang karena jenuh tinggal di pengungsian. Karuan saja para gurunya harus berpikir keras. Ketika kutanya: “Terus belajarnya nanti gimana pak?”. “Ya gimana nanti saja…”, jawab pak Katam pasrah sambil tersenyum (susah lho, pasrah tapi tersenyum…).

Nanti gimana atau gimana nanti? Tergantung pilihannya, kekhawatiran atau ketenangan perasaan..

(21)

Namanya juga anak-anak… Tiap hari hanya bermain di pengungsian membuat ortu dan gurunya bingung. Terpaksa diusahakan angkutan antar-jemput siswa ke/dari “sekolah” barunya.

Setiap minggu sekolah harus menyediakan biaya Rp 240 ribu untuk sewa kendaraan. Entah sampai kapan. Bukan jumlah yang sedikit dalam situasi darurat. Tapi anak-anak gembira berdesakan naik mobil bak terbuka setiap hari. Dan, semangat anak-anak itu masih ada, juga gurunya…

Yogyakarta, 27-28 Pebruari dan 5 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Mushola Yang Didambakan

8 Maret 2011

Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Semoga menjadi inspirasi…

***

(1)

Suatu ketika warga dusun Srunen, Glagaharjo berbunga-bunga. Ada kunjungan pejabat dari Pemkab “antah-berantah” menyerahkan bantuan sekian ratus juta untuk membangun mushola. Tulisan angka besar-besar pun di serahkan dan difoto sebagai simbol serah-terima.

Sudah lama ternyata bantuan itu tidak juga menampakkan batang hidungnya (bantuan memang tidak punya hidung). Entah mampir leyeh-leyeh dimana.. Warga pun tersenyum…

(2)

Apalagi batang hidungnya, kabarnya pun tak ada. Wooo, dasarrr…! (Maksudnya dasar negara ‘daripada’ Indonesia adalah Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dan mushola juga bagian dari urusan ketuhanan itu).

Dasar juga wong cilik, boro-boro melacak bantuan yang angkanya ada di foto. Buang-buang waktu saja, mendingan melakukan hal-hal yang lebih nyata dan membumi, seperti menanam pohon, mengolah lahan, membereskan material sisa bekas rumahnya, dsb…

(3)

Lain lagi dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo, musholanya hilang tak berbekas digondol wedhus gembel. Rencana awalnya mau dibangun mushola pengganti ala kadarnya, yang penting bisa untuk sholat.

Tapi belakangan terpikir, nantinya kawasan Glagaharjo akan dikembangkan menjadi kawasan wisata. Kalau musholanya ala kadarnya, nanti orang-orang yang mau sholat juga ala kadarnya dan sholatnya pun ala kadarnya (masih lumayan kalau sempat…).

(4)

Dirancanglah mushola yang lebih layak untuk jangka waktu lebih panjang. Luasnya 8 x 8 m2, biayanya +/- 80 juta. Haduh..! (Panitia mengelus jidat). Darimana biayanya? “Faktor” pemerintah dikesampingkan dulu. Akhirnya diputuskan mushola Mandiri seperti warung-warung Mandiri yang sudah ada (Mandiri: mencari donatur sendiri).

Maka kusarankan (bisanya ya cuma menyarankan): Mulailah dengan Bismillah…. Selebihnya biar Tuhan yang “mencari dana”…

(5)

Proposal pendirian mushola di Kalitengah Lor, Glagaharjo sedang disiapkan. Idenya dengan konsep mushola tumbuh untuk menyiasati keterbatasan dana. Minimal cepat berdiri untuk digunakan.

Sekedar gambaran bahwa lokasi ini menarik untuk tujuan wisata. Tapi masih tampak panas, gersang dan tandus tanpa pepohonan, warga mulai mendirikan kembali rumah seadanya, sulit air, tanpa MCK… Maka mushola diharapkan menjadi “pusat kota” bagi Glagaharjo…

Yogyakarta, 5 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Teh Jahe Nasgithel

6 Maret 2011

Usai ngoprek-oprek database toko “Bintaran Mart” sejak sore tadi… Malam Jum’at Legi, duduk leyehan di pojok depan di luar toko seperti centeng terkantuk-kantuk, sambil nyruput teh jahe nasgithel (panas-legi/manis-kenthel)… Nglaraaasssss…

Yogyakarta, 3 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Tukang Rujak Pinggir Jalan

6 Maret 2011

Siang poanasss.., nyepeda ke toko Bintaran karena mendadak ada trouble komputer (namanya trouble ya pasti mendadak…). Mampir ke tukang rujak pinggir jalan sambil istirahat. Ternyata pak Harjono tukang rujak itu tetangga saya se-RW.

Sudah mengantongi 5 tahun jam ngulek (rujak), sekarang berencana buka cabang, tepatnya bikin gerobak kedua. Sebuah pencapaian bisnis sangat sederhana yang hanya dapat diapresiasi kalau kita berdiri di pinggir jalan…

Yogyakarta, 3 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Yang Tak Berdaya Dan Yang Peduli

6 Maret 2011

Tulisan berikut ini adalah kumpulan dari cerita status (cersta) yang saya tulis di Facebook.

***

Beberapa hari terakhir ini saya menerima amanah berupa barang dan transferan dana dari beberapa sahabat yang minta disalurkan untuk korban Merapi, erupsi maupun lahar dingin. Mereka minta untuk tidak disebutkan namanya. Haha.., terpaksa harus kupenuhi.

(Sebenarnya kalau selama ini saya menyebut nama itu bukan untuk pamer atau narsis, melainkan dalam rangka kompor-mengompor tentang kebaikan dan laporan bahwa amanahnya sudah saya tunaikan).

(1)

Sekecil apapun yang dapat saya lakukan, maka akan saya lakukan (insya Allah). Sama seperti yang dilakukan para relawan di lokasi bencana dan orang-orang lainnya. Saya hanya ingin menjadi bagian keciiil… saja dari kehidupan para korban bencana.

Sejauh ini saya tidak pernah sengaja menggalang dana, melainkan sekedar berbagi cerita ngalor-ngidul. Jika kemudian ada yang mengirim dana untuk disalurkan, maka saya berusaha menunaikan amanah itu sebaik-baiknya.

(2)

Beberapa sahabat mentransfer sejumlah dana yang nilainya tidak kecil. Warung Mandiri dua unit sudah berdiri di Glagaharjo (dari sorang rekan di Papua) dan dua unit lagi sedang disiapkan di Kepuharjo dan Kinahrejo (dari seorang rekan di Jakarta). MCK di Glagaharjo sedang dibangun, juga mushola sedang dirancang.

Glagaharjo, Kepuharjo dan Kinahrejo (Umbulharjo) adalah kawasan yang rata dengan tanah tersapu awan panas dan nyaris berubah menjadi padang pasir.

(Note: Saat ini, tiga bulan setelah hantaman awan panas Merapi, kawasan itu mulai menampakkan nuansa hijau oleh tanam-tanaman yang mulai tumbuh, walau masih sangat sedikit).

(3)

Tambahan material untuk dinding dan jendela huntara (hunian sementara) untuk pengungsi di dusun Sudimoro, desa Adikarto, kecamatan Muntilan, Magelang, sudah dikirim (dari dua orang rekan entah dimana). Sejumlah rumah lenyap tersapu lahar dingin di dusun ini.

Huntara ini adalah shelter semi permanen berupa rumah panggung terbuat dari konstruksi bambu di atas lahan persawahan. Layak untuk dihuni sebuah keluarga kecil dan dibangun secara swadaya.

(Note: Kalau saya sebut rekan entah dimana, itu karena saya memang tidak tahu dimana sesungguhnya kedua rekan ini berada, tapi transferan dananya saya terima).

(4)

Alat tulis dan permainan anak sudah dibelanjakan untuk dua TK di desa Sirahan, kecamatan Salam, yang sekolahnya lenyap disapu lahar dingin. Sedangkan anak-anak sementara sekolahnya menyebar di beberapa lokasi. Juga baju seragam pramuka untuk siswa SD yang sekolahnya tertimbun material pasir lahar sudah disiapkan. Pengiriman akan segera dilakukan. Tambahan bantuan logistik untuk pengungsi korban lahar dingin segera juga akan disusulkan…

(5)

Tentu saja semua aktivitas distribusi, alokasi dan penyiapan bantuan itu tidak saya lakukan sendiri melainkan bekerjasama dan didukung oleh banyak pihak, baik yang di Jogja maupun yang di lapangan. Khususnya saya banyak dibantu oleh tim relawan mandiri yang komitmen dan dedikasinya tidak diragukan. Sedang mereka adalah orang-orang yang tidak menerima upah dari siapapun malahan patungan untuk membiayai operasi mereka sendiri.

(6)

Bantuan berupa alat komunikasi HT menjadi “senjata” para relawan untuk saling komunikasi tentang perkembangan situasi. Saat ini, saat musim hujan tak menentu, saat jutaan m3 material vulkanik menunggu menggelontor, saat masyarakat di bantaran sungai was-was, saat ancaman banjir lahar dingin bisa tak terkira besarnya…

Maka para relawan tanpa tanda pengenal ini pun siaga full tidak setengah-setengah… memonitor situasi.

Yogyakarta, 22 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

(7)

Dua hari terakhir ini saya menerima transfer susulan sejumlah dana dari Papua dan Jakarta untuk disalurkan bagi korban bencana Merapi. Rekan dari Jakarta memberi catatan bahwa dana itu sebagai zakatnya. Maka saya merasa perlu memberi “special treatment” terhadap dana zakat ini agar tidak menyimpang dari SOP tentang per-zakat-an yang obyeknya lebih bersifat personal ketimbang prasarana umum.

(8)

Seorang relawan di kaki selatan Merapi yang mendampingi korban Merapi di wilayah Cangkringan melapor bahwa biaya pembuatan MCK membengkak karena atas permintaan warga konstruksinya dibuat lebih permanen. Belum lagi, ada 16 warga desa Glagaharjo yang meminta bantuan dinding gedheg untuk memulai “membangun kembali” rumahnya, sedang mereka tidak punya akses memperoleh bantuan dari luar. Hanya bisa kujawab: “Insya Allah…”.

(9)

Relawan lain di kaki barat Merapi yang memantau ancaman banjir lahar dingin dan memfasilitasi penyaluran bantuan untuk korban banjir lahar menyampaikan permintaan usulan bantuan untuk penyelesaian 10 huntara (huntian sementara) rumah bambu bagi warga bantaran sungai Pabelan di dusun Prumpung, Muntilan, yang rumahnya lenyap disapu lahar dingin. Juga hanya bisa kujawab: “Insya Allah…”.

(10)

Ya, ya… Memang ya tidak mungkin, membantu semua pihak yang tak berdaya yang membutuhkan bantuan, sementara sumber bantuan sangat terbatas.

Maka baiknya dicari yang paling mungkin, yaitu mempertemukan mereka yang tak berdaya dengan mereka yang peduli, dengan kesadaran dan keikhlasan atas segala keterbatasan masing-masing… Lalu katakana: “It’s a beautiful world!”.

Yogyakarta, 4 Maret 2011
Yusuf Iskandar

Oseng Campur Untuk Sarapan

6 Maret 2011

Saya tidak tahu apa nama masakan ini… Brokoli, buncis, wortel, dioseng dengan bumbu utama bawang putih, merica dan pala. Taruh di piring. Jika suka, tambahkan telor dan kentang rebus. Taburkan sedikit garam dan merica halus, saus jika ingin. Santaplah dengan menggunakan garpu, bukan sendok. Apa bedanya?

Sensasinya…! Itulah nikmatnya saat sarapan…

Yogyakarta, 28 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Rejeki Pertama

6 Maret 2011

Senin pagi hujan. Tukang koran itu kehujanan. Koran edisi Sabtu yang kupesan tetap diantarnya. Tapi harganya kok tetap? Itu kan koran kadaluarsa. Ah, kutepis pikiranku untuk menuntut “hak”. Lebih baik kuubah menjadi “kewajiban”.

Bahagianya.., saat mengulurkan uang tiga ribu untuk harga koran kadaluarsa. Bersyukurnya.., dapat menjadi lantaran bagi rejeki pertama seseorang di Senin pagi hujan (Kecil? Jangan terjebak pada dimensi nilai manusia..!).

Yogyakarta, 28 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Bunga Di Tepi Jalan

6 Maret 2011

Bunga di tepi jalan… Bunganya bunga kamboja merah. Bibitnya duluuu ambil dari kuburan. Tumbuhnya di tepi jalan kampung di depan rumah.

Pagi, tampak segar dan basah oleh titik air sisa gerimis. Siang, tampak jatuh dan terkulai di tanah oleh tangan usil…

Yogyakarta, 27 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Momen Kritis Di Subuh Gerimis

6 Maret 2011

Subuh gerimis, hawa sejuk, sedang libur Minggu, sayup-sayup panggilan adzan… Inilah momen kritis ketika satu sesi kehidupan harus membuat pilihan yang beraaat nian antara menarik selimut atau mengambil air wudhu (syukur-syukur lalu ke masjid)…

Kubayangkan sedang mimpi dikejar anjing lalu jongkok sambil berdoa untuk si anjing: summum bukmun ‘umyun (mereka tuli, bisu dan buta), maka tidaklah mereka akan kembali.., ke jalan yang benar. (QS 2:18)

Yogyakarta, 27 Pebruari 2011
Yusuf Iskanda

Galundeng

6 Maret 2011

Galundeng… (orang Semarang menyebutnya bolang-baling), penganan terbuat dari terigu. Enaknya dimakan untuk pengganti sarapan saat masih hangat baru dientas dari penggorengan. Apalagi ditemani teh nasgithel (panas, legi/manis, kental) sambil baca televisi atau nonton koran.

Di Jogja pagi ini saya jumpai tukang galundeng di Jl. Taman Siswa selatan penjara Wirogunan.

(Note: Orang Sunda menyebutnya odading)

Yogyakarta, 27 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Awan Gelap Di Atas Madurejo

6 Maret 2011

Awan gelap bergelayut di angkasa Madurejo, Prambanan, Sleman, Jogja Istimewa. Seperti hari-hari belakangan, sore-malam adalah waktu terbaik bagi alam menumpahkan air dari langit, setumpah-tumpahnya…

Sementara pak tani ingin menyegerakan panen padinya sebelum keburu pada rusak oleh hujan yang berkepanjangan… Sementara tokoku berkurang pengunjungnya…

Yogyakarta, 26 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Tahlilan Malam Terakhir

6 Maret 2011

Hadir di acara tahlilan malam terakhir. Menurut kalender matahari ini malam keenam, tapi menurut kalender bulan sudah malam ketujuh.

Saya tidak ingin cerita tentang tahlilan (itu soal klasik yang dapat memicu pertengkaran), lebih baik cerita yang enak-enak. Seperti saat disuguh kue dan nasi opor. Lha kok pulangnya masih dibekali nasi uduk dan lauk, apam, ketan, secuil pisang dan ketela, mie instan, gula, teh, beras dan telor. Maka nikmati nilai mu’amalah-nya dan bukan ritualnya…

Yogyakarta, 24 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Banyak Hal

6 Maret 2011

Cerahnya mentari pagi ini kusambut dengan mengumpulkan daun-daun kering yang berserakan, memangkas ranting-ranting tanaman yang mulai meranggas, menghimpun sampah di pojok halaman…

Banyak hal dapat dilakukan, banyak hal dapat dinikmati dan banyak hal dapat disyukuri. Tapi ternyata tidak banyak syukur yang sempat tumbuh dari kesadaran paling dalam…

Yogyakarta, 24 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Mie Ayam “Virgo”

6 Maret 2011

Mie Ayam “Virgo”, dusun Babadan, desa Sendangtirto, kecamatan Berbah, kabupaten Sleman (depan lapangan Paskhas). Cabang baru dari mie ayam Ringroad Wonocatur, Jogja, yang bertajuk “Pakar Mie Ayam”. Taste-nya woenaaak tenaaan.., apalagi dikathahi (dibanyaki) sawi dan ayamnya… Uuuhhhmmm!

Yogyakarta, 22 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Penyakit Komputer Toko

6 Maret 2011

Jogja hujan deras plus petir plus geluduk petang ini… Siap-siap menyambut penyakit PLN yang suka angot kalau cuaca seperti ini…, alias mati listrik. Bukan soal matinya, tapi justru saat hidupnya nanti, data komputer toko “Bintaran Mart” suka ngaco... Uuugh, belum ketemu juga penyakit komputer ini…

Yogyakarta, 22 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Tukang Kerupuk Langganan Kami

6 Maret 2011

Pagi-pagi tukang kerupuk tua langganan kami sudah di depan rumah, mendorong gerobaknya yang terbuat dari seng sehingga bunyinya mudah ditandai. Dengan suara berat-berat lemah dia memanggil-manggil. Kuberikan wadah plastik dan beberapa lembar uang ribuan. Bukan kerupuknya yang kubeli, melainkan aku ingin mengawali rejeki paginya.

Kenapa tidak diberikan saja uangnya? Karena aku khawatir akan menghalangi tukang kerupuk itu untuk meraih kebaikan dengan melayani pelanggannya…

Yogyakarta, 22 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Memasang Kancing Baju

6 Maret 2011

Tiba-tiba ingin memasang sendiri kancing baju yang copot. Cari-cari jarum dan benang warna seadanya. Menjahit dengan mesin atau tangan, apalagi cuma pasang kancing baju, adalah keterampilan yang dulu mudah saya lakukan. Tapi itu duluu…

Lha sekarang, untuk memasukkan benang ke lubang jarum minta ampyun susahnya. Agaknya usia memang tak lagi kompromi. Maka ujilah tingkat stress Anda dengan memasukkan benang ke lubang jarum, jangan-jangan “sebenarnya” Anda sudah setua saya…

Yogyakarta, 22 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Mie Ayam “Pelangi”

6 Maret 2011

Mie Ayam “Pelangi”, Lempuyangan, Jogja… Mienya ada tiga, rupa-rupa warnanya. Hijau, kuning, merah muda, tapi yang kelabu dan biru tidak ada. Daging ayamnya berbumbu kering, tidak seperti biasanya basah. Rasanya standar, tapi boleh berharap lebih sehat, sebab mienya terbuat dari tomat, wortel dan sawi dengan tanpa bahan pewarna dan pengawet. Di Jogja ada di empat lokasi. Di kota-kota lain juga ada…

Yogyakarta, 21 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Oseng-oseng Jipang

6 Maret 2011

Tidak biasanya saya sarapan pagi-pagi saat di rumah. Tapi berhubung pagi ini ibunya anak-anak bikin oseng-oseng jipang (labu siam) dikombinasi dengan sedikit kacang panjang dan irisan cabe besar, dan ini yang penting…, masih kemebul (berasap) di atas wajan. Waaaaaaaah…, apa boleh buat terpaksa segera ambil piring dan nasi panas sak pethuthuk… (sepiring penuh).

Yogyakarta, 19 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar