Archive for the ‘> Seputar JAKARTA’ Category

Juara Freestyle

25 Oktober 2010

Sejak berangkat ke Jakarta Kamis yll, tidak ada kabar apa-apa dari anak lanang. Tahu-tahu tadi sore memberitahu (itu pun setelah kutanya kabarnya): “Barusan aku jawara 1 pak, untuk freestyle nasional”, katanya via SMS. “Alhamdulillah. Great..!”, balasku —

Freestyle yang dimaksud adalah anak cabang olahraga bola basket yang tidak dikenal di jaman bapaknya muda dulu. Kira-kira sejenis keterampilan akrobatik memain-mainkan bola basket.

Yogyakarta, 23 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Bahagia Karena Melepas

29 September 2010

‎”Menderita karena melekat, bahagia karena melepas” — Kalimat itu tertulis di kaca belakang sebuah mobil keluarga yang kujumpai di sebuah jalan tol di Jakarta beberapa waktu yll. Ungkapan yang belum pernah kudengar sebelumnya, membuatku penasaran. Adakah ini kutipan dari sebuah kitab suci?

(Seorang teman berkomentar: Saya sudah lama mendengar kalimat ini dari seorang teman yang menghibur saya dari perasaan berduka yang berkepanjangan ketika bapak saya meninggal tahun 1998, “mantra” ini sangat membantu mencerahkan dan mengubahkan banyak sisi gelap kehidupan. Seorang teman lain berkomentar, katanya itu kutipan dari kitab Sansekerta).

Yogyakarta, 27 September 2010
Yusuf Iskandar

Seminar Tambang Tentang Harmonisasi Regulasi

5 Agustus 2010

Regulasi sudah dibuat sedemikian baiknya. Tapi aplikasinya di lapangan tak seharmonis idealisme yang dibayangkan. Maka bertemulah para professional praktisi tambang dengan para legislator dari kementrian pertambangan, kehutanan, kewilayahan dan lingkungan, di hotel Arya Duta Jakarta tadi pagi, guna menyamakan pemahaman.

Just a beginning,… further steps still have to be taken. Otherwise.., ya pethenthengan (bersitegang) saja tiap hari…

(Seminar Tambang yang diadakan oleh Ikatan Alumni Tambang – IKATA, UPN “Veteran” Yogyakarta di hotel Arya Duta Jakarta, 31 Juli 2010, dengan tema : “Harmonisasi Industri Pertambangan, Kehutanan, Tata Ruang dan Lingkungan Hidup Menuju Pembangunan Nasional Yang Berkelanjutan”)

Jakarta, 31 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Akibat Nonton Bola

21 Juni 2010

Jam 10 lebih, jalan tol dari arah bandara Soeta menuju Jakarta padat-merayap-tersendat, padahal biasanya jam-jam segitu sudah mulai lancar. “Orang Jakarta ramai-ramai keluar rumahnya agak siang karena semalam nonton bola, pak…”, kata sopir taksi datar bernada menghibur diri. Woooo……

(Soeta : Soekarno – Hatta)

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

VIP Lounge

21 Juni 2010

Jika sedang menunggu boarding di bandara dan ingin makan-minum sepuasnya, carilah VIP Lounge, terutama bagi pemilik kartu kredit tertentu. Jika tidak punya kartu kredit, tetap masuklah ke sana karena jatuhnya lebih murah. Biaya Rp 50.000,-/orang (terkadang ada diskon), makan-minum sepuasnya, sekalian buang hajatnya. Dibanding kalau di resto di luarnya mungkin jadi lebih mahal. Nggak nyamannya…, diuber sales kartu kredit…

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

“Udan Ketek Wewe Ngombe”

29 Mei 2010

Siang di Jakarta, hari hujan tapi matahari terang cahayanya… Pada masa kecil dulu teman-teman main di kampungku suka menyebut dengan ungkapan dolanan “udan ketek, wewe ngombe…”. Artinya? Opo yo…? Hujan (bagi) monyet, tapi (hantu) wewe gombel yang meminum airnya… Maksudnya? Yo embuh...! (Mau tanya simbah, sudah telanjur meninggal dunia…).

Jakarta, 25 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Antara Malu Dan Tidak Tahu Malu

29 Mei 2010

Ketika berdoa agar “dimudahkan dan jangan Engkau sulitkan”, lalu kemudian hasilnya benar-benar “dimudahkan”, terkadang malu aku betapa seringnya aku memohon sementara hak Sang Termohon banyak yang belum mampu kupenuhi dengan baik.

Tapi sambil leyeh-leyeh wal-ngupy di Terminal 3 Cengkareng, kutemukan sebuah wangsit : “Yen tak pikir-pikir…, sesungguhnya ‘malu’ itu lebih baik ketimbang ‘tidak tahu malu’ minta terus tapi kewajiban tidak dipenuhi…”.

Jakarta, 25 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Lagu Indonesia Raya

26 Mei 2010

Sebagai penganggur terselubung, jarang-jarang saya hadir di suatu acara informal yang dibuka dengan menyanyikan lagu ‘Indonesia Raya’ (itu terjadi tadi malam di hotel Kaisar Jakarta, Pelantikan PP IAUPN “Veteran” Yogya). “Makin Indonesia, makin cinta aja..”, menggetarkan hati!

Acara diakhiri dengan menyanyikan lagu-lagu yang lain (pop-dangdut-campursari). Juga, …”makin lain, makin cinta aja..”, menggetarkan yang lain, telinga maksudnya (mau ngobrol mesti teriak-teriak!)

Jakarta, 22 Mei 2010
Yusuf Iskandar

——-

Lirik lagu Indonesia Raya versi aslinya (barangkali ada yang lupa) :

Stanza 1:

Indonesia Tanah Airkoe Tanah Toempah Darahkoe
Disanalah Akoe Berdiri ’Djadi Pandoe Iboekoe
Indonesia Kebangsaankoe Bangsa Dan Tanah Airkoe
Marilah Kita Berseroe Indonesia Bersatoe

Hidoeplah Tanahkoe Hidoeplah Negrikoe
Bangsakoe Ra’jatkoe Sem’wanja
Bangoenlah Djiwanja Bangoenlah Badannja
Oentoek Indonesia Raja

Reff: Diulang 2 kali, red
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

Stanza 2:

Indonesia Tanah Jang Moelia Tanah Kita Jang Kaja
Disanalah Akoe Berdiri Oentoek Slama-Lamanja
Indonesia Tanah Poesaka P’saka Kita Semoenja
Marilah Kita Mendo’a Indonesia Bahagia

Soeboerlah Tanahnja Soeboerlah Djiwanja
Bangsanja Ra’jatnja Sem’wanja
Sadarlah Hatinja Sadarlah Boedinja
Oentoek Indonesia Raja

Reff: Diulang 2 kali, red
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja

Stanza 3:

Indonesia Tanah Jang Seotji Tanah Kita Jang Sakti
Disanalah Akoe Berdiri ’Njaga Iboe Sedjati
Indonesia Tanah Berseri Tanah Jang Akoe Sajangi
Marilah Kita Berdjandji Indonesia Abadi

S’lamatlah Ra’jatnja S’lamatlah Poetranja
Poelaoenja Laoetnja Sem’wanja
Madjoelah Negrinja Madjoelah Pandoenja
Oentoek Indonesia Raja

Reff: Diulang 2 kali
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Tanahkoe Negrikoe Jang Koetjinta
Indonesia Raja Merdeka Merdeka Hidoeplah Indonesia Raja.

Masih Ada Kontrak Yang Akan Lewat

24 Mei 2010

Berangkat dari Jogja buru-terburu, malah nggak sempat dhuha. Tapi ketika menginjakkan kaki di Cengkareng, tiba-tiba ada sepenggal doa pendek turun dari langit Jakarta: “Ya Allah, please deh, mudahkanlah dan jangan Engkau sulitkan (Allohumma yasir wala tu’asyir)… urusanku hari ini”. Dan, kontrak proyek pun ditandatangani (ya ditandatangani aja…), sambil berharap masih ada kontrak yang akan lewat (semoga tidak lewat aja…)

Jakarta, 19 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Sidang DPR

2 Mei 2010

Menyaksikan siaran langsung sidang DPR dengan partner kerjanya akhir-akhir ini, entah kenapa yang membersit di otak saya kok bukan substansi topiknya. Melainkan… (nyuwun sewu tenan), anggota DPR sekarang kok galak-galak, terkadang keminter (sok pinter meski memang pinter), tapi sayang ‘kurang pinter’ berbantah dengan partnernya dengan cara yang baik, sopan, enak… (waja dilhum billati hiya akhsan).

Yogyakarta, 29 April 2010
Yusuf Iskandar

Pameran Hanafi

7 April 2010

Mestinya hari ini aku hadir di Galeri Nasional Jakarta menyaksikan pembukaan pameran lukisan seorang sahabatku, merefleksi perjalanan kelimapuluh tahun. Tapi nampaknya Tuhan berkata: “Ko istirahatkan dulu ko pu kaki itu…“. Dan, ribuan halaman kertas yang telah penuh goresan pena pun kurenungi

(Selamat dan sukses buat sahabatku, Hanafi. Insya Allah aku ingin bersama menorehkan tinta di halaman selanjutnya, pada kesempatan berikutnya).

(Pameran lukisan dan instalasi oleh Hanafi berlangsung di Galeri Nasional Jakarta tanggal 6 s/d 18 April 2010)

Yogyakarta, 6 April 2010
Yusuf Iskandar

Kehilangan Rokok Dan Koreknya

18 Februari 2010

Rokok dan korek apiku hilang tertinggal di Pasar Festival waktu makan siang kemarin. Tapi seorang temanku malah tertawa ngakak dan berucap “Alhamdulillah”. Wooo… dasar! (dasar bukan dia yang kehilangan, maksudnya).

(Ini kali pertama saya masuk Pasar Festival, Jakarta, ke Food Court cari makan siang)

Yogyakarta, 18 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Redaksi Wikimu

18 Februari 2010

Sore ini berkesempatan mengunjungi dapurnya Wikimu.com (media online jurnalisme warga) dan berjumpa dengan tim ‘juru masaknya’. Terima kasih untuk mbak Melani dan mas Bayu atas sambutan dan jemputannya.

(Media online jurnalisme warga – Wikimu – adalah tempat dimana setiap warga, siapa saja, boleh mengirim informasi, berita, cerita, foto, atau apa saja untuk dibagikan kepada siapa saja….. Dengan mottonya : ‘Bisa-bisanya Kita’)

Jakarta, 17 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Yang Rodo Edan

18 Desember 2009

Sopir (taksi) Bluebird yang membawa saya dari Pondok Indah ke Cengkareng siang ini kelihatannya memang rodo edan… Sering memaksakan nyusup-nyusup di tengah kepadatan Jakarta dengan kecepatan tinggi. Doa saya bukan mudah-mudahanan tidak tabrakan, melainkan kalau terpaksa nabrak juga, mudah-mudahan kami selamat…

(Sengaja saya tidak menegurnya karena adrenalin saya meningkat ingin tahu “hasil akhirnya”…. Dasar podo edane….)

Yogyakarta, 17 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Hoping Muslim Really Goes A Long Way

16 Desember 2009

Hal kebetulan yang saya ceritakan dalam dongeng saya tentang “Bocah Penyemir Sepatu Yang Bercita-cita Menjadi Pilot” memperoleh komentar dari seorang sahabat saya Daniel Sabirin, seorang teman diskusi yang tinggal di Bandung. Komentarnya terasa menyentuh, sekaligus membesarkan hati.

Berikut kutipannya :

“Karena tak percaya kebetulan, mau tak mau sayapun tergoda untuk ‘menafsirkan’ episode Cengkareng di bawah.

Dua kali pertemuan dengan Muslim telah diatur (diorkestrasi, ciri / telltale sign -nya tanggal yang sama), dan tampaknya diatur lebih untuk kepentingan Muslim, agar dia mendapat nasihat dari seorang musafir yang datang dari jauh…

A little bit of advice goes a long way...’rajin belajar dan berdoa setiap habis sholat…’ bila dilaksanakan dengan tekun oleh Muslim boleh jadi goes a long way betulan, misalnya menempatkan dia kelak di kokpit Boeing 777 yang telah dipesan Garuda untuk penerbangan non-stop ke Eropa…time will tell…”

Semoga orkestra itu belumlah usai (dan entah bagaimana sang conductor menyelesaikan permainannya) hingga akhirnya Muslim membaca penggalan email saya. Maka bukan saja Muslim then goes a long way from now on hingga menggapai cita-citanya, melainkan doa dan harapan…. hoping Muslim really goes a long way by his airplane, sometime….. bersama sang musafir. Till landing at their final destination…….

Yogyakarta, 16 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Bocah Penyemir Sepatu Yang Bercita-cita Menjadi Pilot

11 Desember 2009

Sambil menunggu seorang teman yang akan menjemput saya di Terminal F bandara Cengkareng siang kemarin, saya memesan coffee mix di sebuah kantin kecil di dalam bandara. Sengaja saya mencari kantin yang tidak ramai dan tidak berisik agar asap rokok saya tidak menggangu banyak orang dan banyak orang tidak mengganggu kekhusyukan saya bermain-main blackberry (Lha, namanya memang blackberry, kalau saya sebut ponsel berarti saya mengatakan yang tidak sebenarnya).

Tiba-tiba datang seorang bocah penyemir sepatu menawarkan jasanya. Tawaran itu saya tolak. Namun entah kenapa kemudian saya berubah pikiran. Ada dorongan kuat dalam diri saya untuk melakukan improvisasi kecil, sekedar memberi orang lain rejeki yang halal meski saya tidak sedang membutuhkan jasanya. Jadi bukan agar sepatu saya bersih dan mengkilap yang menjadi tujuan saya. Mau setelah disemir tetap kusam pun saya tidak perduli.

Setelah menyelesaikan hasil semirannya, saya tanyakan kepada bocah penyemir itu : ”Sudah makan?”, yang kemudian dijawab bocah itu : ”Belum”. Lalu saya suruh dia duduk di sisi kanan meja di depan saya dan saya pesankan makan kepada mbak pelayan kantin. Rupanya kantin itu tidak menyediakan menu makan. Maka mie instan dalam mangkuk sterofoam pun jadilah sebagai pengganti.

Sambil anak itu melahap mie instan, saya ajak dia mengobrol. Kebiasaan mengeksplorasi sesuatu yang tidak biasa mulai saya lakukan. Ketika saya tanya namanya, dijawabnya : ”Muslim” (ditanya nama malah menjawab agama…., tapi namanya memang Muslim), Tiba-tiba saya ingat pengalaman setahun yll ketika saya mengajak sarapan pagi tiga orang bocah penyemir sepatu yang salah satunya bernama Muslim, di bandara ini juga. Saya tatap tajam-tajam wajah bocah itu hingga saya yakin ini memang Muslim yang dulu.

Ketika saya bilang bahwa setahun yll. kita pernah sarapan bersama, dia masih ingat. Bahkan ketika saya test nama kedua temannya, Muslim pun menjawab benar, yaitu Mamat (dulu saya mendengarnya Amat) dan Yudi. Saya tanya sekali lagi : ”Apa kamu masih ingat saya?”. Muslim pun menjawab : ”Ya”. Gaya bicaranya masih plengah-plengeh…. malu-malu sambil melenggak-lenggokkan kepalanya, khas seorang anak kecil ndeso.

Hanya bedanya, setahun yll. Muslim mengatakan umurnya 9 tahun dan sekolahnya kelas 3 SD, kini dia bilang umurnya 11 tahun dan kelas 5 SD. Ah, perbedaan setahun-dua yang tidak terlalu penting. Dulu Muslim mengatakan orang tuanya pengangguran, sekarang menjadi pemulung. Ini juga tidak terlalu penting, karena bisa saja setahun terakhir ini karir orang tuanya meningkat dari pengangguran menjadi pemulung. Yang penting bagi saya saat itu adalah dia memang benar Muslim yang saya jumpai setahun yll.

Komunikasi kami menjadi lebih cair, enak dan bersuasana lebih akrab, seolah dua sahabat lama yang setahun tidak berjumpa. Sampai-sampai mbak penjaga kantin pun penasaran dan kepingin tahu pembicaraan kami. Saya lirik mbak penjaga kantin berjalan mendekat ke tempat duduk kami sambil pura-pura membelakangi dan merapikan susunan minuman botol yang sebenarnya tidak banyak jumlahnya dan sudah sangat rapi (kalau sekedar mengidentifikasi gesture bahasa tubuh seorang perempuan sepertinya saya punya pengalaman…).

***

Untuk melakukan aksinya menjual jasa semir sepatu di bandara Cengkareng, hampir setiap hari sepulang sekolah Muslim naik angkot dari rumahnya menuju bandara dan akan pulang ke rumahnya lagi saat sore menjelang petang. Dulu dia naik sepeda karena sekolanya masuk siang, tapi kini menggunakan jasa angkot. Ongkos angkotnya sekali jalan Rp 3.000,- Jika rata-rata setiap hari Muslim berhasil mengumpulkan uang jasa menyemir sampai Rp 25.000,-, maka paling tidak Muslim setiap hari berhasil membawa pulang ke rumah uang sekitar Rp 19.000,-. Kalau lagi ramai, Muslim bisa mengumpulkan uang hingga Rp 50.000,- sehari. Begitu katanya.

Uang itu dikumpulkannya untuk biaya sekolah, karena menurut pengakuanya dia ingin melanjutkan sekolah ke SMP. Sebuah niat dan cita-cita jangka pendek yang sangat sederhana namun sungguh bersahaja. Ketika saya tanya apa kegiatannya kalau di rumah selain belajar? Jawabnya adalah mengaji.

”Mengajinya sudah sampai mana?”, tanya saya. ”Masih juz ’Amma”, jawabnya. ”Surat Idhazul…”, katanya lagi (yang maksudnya adalah Q.S. Zalzalah). Mendengar jawabannya itu saya menyimpulkan bahwa bocah ini pasti bersungguh-sungguh dengan mengajinya, bukan sekedar ikut-ikutan teman di kampungnya.

Pertanyaan saya masih berlanjut : ”Kamu sholat enggak?”. Jawabnya : ”Kadang-kadang”. Ketika saya desak kenapa? Jawabnya : ”Saya enggak hafal bacaannya”. Mendengar jawaban itu, naluri ’tukang kompor’ saya terusik. Lalu saya bilang : ”Lho, sholat itu tidak perlu hafalan-hafalan. Kalau kamu sholat, ikuti saja jungkar-jungkir seperti orang lain di masjid itu, terserah kamu mau baca apa bahkan enggak usah baca apa-apa, kecuali niatmu beribadah kepada Tuhan”. Muslim melongo…. Lalu saya lanjutkan : ”Setelah sholat kamu sempatkan berdoa apa saja yang kamu inginkan”.

Tentu saja nasehat saya itu saya sampaikan kepada Muslim yang memang tingkat logika berpikir dan pemahaman spiritualnya baru pada level seperti itu. Terhadap orang lain yang logika berpikirnya tentang nilai-nilai agama lebih tinggi, tentu pendekatannya berbeda. Dan perbedaan ini tidak berbanding lurus dengan usia melainkan pengalaman spiritual masing-masing.

Akhirnya saya tanya : ”Kamu punya cita-cita?”. Jawabnya : ”Punya”. ”Apa cita-citamu?”, tanya saya kemudian. ”Saya pingin jadi pilot”. Wow….dalam hati saya bertasbih kepada Allah. Sebab dalam keyakinan saya, berani bermimpi itu adalah setengah dari pencapaiannya menuju cita-citanya.

Bagi seorang ’tukang kompor’ seperti saya ini, atau bolehlah disebut provokator (asal jangan motivator, takut diundang seminar…..), pada dasarnya tidak ada cita-cita yang tidak bisa dicapai. Kalau kemudian banyak orang yang gagal mencapai cita-citanya, itu karena sejak cita-cita itu ditancapkan di ubun-ubunnya ternyata perilakunya sehari-hari sama sekali tidak mencerminkan sebagai seseorang seperti yang dicita-citakannya. Alias, sak karepe dhewe….. semaunya sendiri, tercapai ya syukur, enggak yo wis….. Tidak disertai dengan ikhtiar keras untuk mencapainya.

Akhirnya saya katakan kepada Muslim : ”Muslim, insya Allah saya akan berdoa agar kamu bisa menjadi pilot. Syaratnya hanya ada dua dan gampang, yaitu rajin belajar dan berdoa setiap habis sholat. Nanti Tuhan akan menunjukkan jalannya”. Seperti biasa, Muslim hanya nyengenges dengan mimik anak-anak banget. Provokasi saya masih berlanjut : ”Saya kepingin suatu saat nanti saya naik pesawat dari Cengkareng dan kamu yang jadi pilotnya. Kamu mau enggak?”. Sekali lagi Muslim hanya bereaksi cengengesan. ”Kamu mau enggak?”, ulang saya. Akhirnya dia menjawab malu-malu : ”Mau”.

Mengakhiri perjumpaan saya dengan Muslim, saya pegang pundak kirinya lalu saya katakan : ”Salam ke orang tuamu. Dan jangan lupa belajar dan berdoa dengan sungguh-sungguh setiap habis sholat mulai hari ini!” (maksud saya sebenarnya, untuk bisa berdoa kan berarti dia harus sholat dulu…..), sambil saya selipkan sejumlah uang lebih.

***

Ketika malam harinya saya tiba kembali ke rumah di Jogja, saya buka-buka laptop saya dan saya baca kembali catatan saya setahun yang lalu ketika pernah sarapan bersama Muslim dan teman-temannya di Cengkareng. Lho……, pandangan saya terpana seperti tidak percaya. Peristiwa setahun yang lalu itu rupanya terjadi pada tanggal 10 Desember 2008, dan pertemuan kembali dengan Muslim kemarin terjadi tanggal 10 Desember 2009. Jadi, kemarin adalah ulang tahun pertama sejak pertemua saya dengan Muslim bocah penyemir sepatu anak seorang pemulung yang sekarang bercita-cita besar menjadi seorang pilot.

Kejadiannya memang kebetulan belaka, tapi hakekat kejadian itu saya yakini pasti bukan kebetulan, pasti ada yang mengaturnya. Apa rahasia dibalik kejadian ’kebetulan’ yang saya alami itu?. Sayang sekali, meski sudah saya tinggal tidur semalam hingga ada yang membangunkan saya di pagi subuh, saya belum menemukan jawabnya kecuali bahwa tanggal 10 Desember adalah Hari Hak Asasi Manusia Sedunia.

Yogyakarta, 11 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Catatan :
Lihat catatan lama saya : ”Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat

Soto Betawi Slipi

2 Desember 2009

Nyoto Betawi di Slipi, lalu ngejar burung Garuda ke Semarang.

(Usai meeting di Jakarta, segera meluncur ke bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Semarang dan selanjutnya mampir ke kampung halaman di Kendal, meski hanya untuk semalam saja. Mengingat belum sempat makan siang, seorang teman mengajak mampir ke warung soto Betawi di bilangan Slipi. Ternyata memang enak tenan…)

Jakarta, 30 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Jika Harus Naik Ojek Membelah Kemacetan Jakarta

28 November 2009

Jam sudah menunjukkan pukul 18:15 waktu Pondok Indah Jakarta. Kendaraan yang akan mengantarkan saya menuju ke stasiun Gambir masih saja berjalan merayap, bahkan nyaris tidak bergerak. Jalan di depan Wisma Pondok Indah nampak demikian padatnya. Saya mulai gelisah. Pada tiket kereta api Argo Lawu yang akan saya tumpangi kembali ke Jogja malam itu jelas menunjukkan waktu keberangkatan jam 20:00 WIB.

Harus ada jalan keluarnya, kata hati saya. Sebab jika tidak, saya pasti akan ketinggalan kereta. Kalau sampai esok paginya saya belum tiba di Jogja, berarti saya tidak bisa sholat Idul Adha di kampung dan yang lebih saya khawatiri adalah kalau sampai saya gagal menjaga amanah dan komitmen untuk membantu Panitia Qurban di kampung saya.

Akhirnya saya putuskan turun dari kendaraan yang malam itu akan mengantar saya ke stasiun yang masih saja mbegegek (berhenti total) tertahan kemacetan parah. Segera saya menyeberang jalan untuk mencari taksi pada lajur jalan yang berlawanan yang tampak lebih lancar. Berdiri di pinggir jalan hingga lebih 15 menit ternyata tidak juga ketemu taksi kosong. Hati saya semakin gelisah disertai perasaan tegang. Tiba-tiba saya ingat kalau petang itu saya belum membatalkan puasa Arafah yang saya jalani. Saya lalu menuju tukang rokok di pinggir jalan membeli sebotol air mineral sekedar untuk membatalkan puasa saya. Sambil saya minta pendapat penjualnya tentang bagaimana cara tercepat menuju stasiun Gambir. Rupanya kalau perasaan sedang gelisah dan pikiran rada panik, kita sering tidak mampu berpikir jernah. Sampai perlu minta pendapat orang lain, siapapun dia termasuk tukang rokok pinggir jalan.

Solusi tukang rokok ternyata sederhana saja : “Kalau tidak ada taksi mending naik ojek, pak”, katanya. Ya, benar juga. Akhirnya usul itu saya setujui. Bapak penjual rokok pun berbaik hati membantu mencarikan ojek. Ketika saya tanya kira-kira berapa ongkosnya, dijawabnya sekitar 35 sampai 40 ribu rupiah. “Tapi ditawar saja, pak”, katanya lagi.

Pak tukang ojek meminta ongkos Rp 50.000,- sampai Gambir, setengah jam sampai katanya. Wah boleh juga, pikir saya. Tapi seperti saran tukang rokok tadi, saya pun menawar. Tawar-menawar berjalan rada alot (sudah tahu keadaan terdesak, masih juga gengsi untuk menerima begitu saja tawaran harga tukang ojek). Akhirnya kami sepakat dengan ongkos Rp 40.000,- Perasaan saya mulai agak lega, walau belum sepenuhnya. Ojek belum jalan tapi pikiran saya sudah membayangkan membonceng ojek malam-malam membelah kemacetan Jakarta.

Sebuah sepeda motor butut Suzuki Tornado yang spedo meternya sudah bolong ditutup plastik yang diplester, kedua kaca spion diganti kecil-kecil, lampu depan remang-remang dan suara mesinnya mbeker-mbeker…, segera meluncur menembus malam, menembus kemacetan Jakarta. Saya tidak ingat lagi jalan mana saja yang kami lalui malam itu, karena pandangan mata saya tajam ke depan mengikuti liak-liuknya sepeda motor yang saya boncengi sambil perasaan full tegang. Ya bagaimana tidak tegang, wong terkadang lampu merah diterobos, berpindah lajur asal wesss…. begitu saja, tidak perduli klakson kendaraan lain yang sedang melaju kencang di lajur yang dipotong.

Ketika sampai di kawasan Senayan, kami bertemu dengan kepadatan lalulintas lagi, sepeda motorpun mengendap-endap lalu tiba-tiba menyalip dengan cara menyusup celah sempit di antara dua buah bis yang sedang berjalan tidak terlalu cepat. “Oedan…”, kata saya dalam hati. Tiba di bundaran Hotel Indonesia, sepeda motor kembali beraksi dengan menambah kecepatan untuk mendahului bis kota dari sisi kanan dengan mencuri celah sempit di sudut antara moncong bis dengan separator jalan. Wusss…. berhasil, termasuk berhasil merobohkan dua buah traffic cones yang bentuknya menyerupai corongan warna oranye yang berada di ujung separator jalan sebelah kanan. “Huhhh….”, kata hati saya.

Mau saya tegur, saya khawatir nanti jalannya jadi pelan-pelan padahal saya berkepentingan untuk segera tiba di stasiun Gambir mengejar jadwal kereta Argo Lawu. Adrenain saya meningkat. Entah kenapa saya begitu menikmatinya. Sepeda motor pun kemudian melaju kencang menyusuri Jl. Thamrin ke arah utara menuju kawasan Monas, meski saya tidak sempat lagi memandang tugu itu. Lalu lintas mulai lancar dan tidak lagi merayap. Barangkali seperti itulah rasanya ikut balap road race.

Tiba di Jl. Medan Merdeka Barat, tiba-tiba tukang ojek mengajak bicara. Katanya : “Kita lurus pak”. Saya memang tidak terlalu hafal jalan-jalan di Jakarta. Tapi setahu saya kalau lurus berarti ke arah Kota, sedang stasun Gambir ada di sisi timurnya Monas. Spontan saya berteriak di tengah kebisingan lalu lintas : “Belok kanan, belok kanan….!”. Sepeda motor pun spontan memotong ke kanan tanpa tolah-toleh. “Huhhhh, lagi…..”.

Mulai feeling saya curiga, jangan-jangan tukang ojek ini tidak tahu dimana letak stasiun Gambir. Lalu saya tanya : “Bang, tahu stasiun Gambir kan?”. “Ya, tahu”, jawabnya meyakinkan.

Tiba di ujung Jl. Juanda, sepeda motor terus melaju kencang ke arah timur. Saya kembali curiga, tapi saya tepis keraguan saya. Mungkin dia tahu jalan pintas. Akhirnya, dugaan saya ternyata benar. Tukang ojek salah jalan hingga mutar-mutar kehilangan arah hingga ke kawasan Senen. “Wuahhh, modar aku!”.

“Bang, sebenarnya lu tahu stasiun Gambir enggak sih?”, tanya saya hendak memastikan. Jawabnya : “Tahu pak, tapi jalannya banyak berubah”. Sudahlah, hati saya mulai gemas. Ketika akhirnya tukang ojek itu beberapa kali tanya orang mencari arah yang benar, telinga saya mendengar yang ditanyakan bukan ‘stasiun Gambir’ melainkan ‘terminal kota’. “Aaahhhh…. Guoblog!”, kata saya misuh-misuh…, memaki dalam hati (heran, masih juga saya khawatir menyinggung perasaannya).

Lha kok tiba-tiba berhenti dan bilang : “Bapak turun sini saja lalu menyeberang sana”, maksudnya saya disuruh naik taksi. Wooo, wong edan tenan iki (orang gila beneran ini). Langsung saya bentak : “Jalan terus dan ikuti perintah saya!”. Kalau urusan tersesat kemudian kembali ke jalan yang benar (maksudnya kesasar) rasa-rasanya saya cukup punya pengalaman dan ini menjadi sebagian dari keahlian saya.

Meskipun saya tidak familiar dengan kawasan itu, entah saya sedang berada di sebelah mananya apa saya pun tidak tahu, tapi yang jelas di kawasan Senen. Setidak-tidaknya saya bisa membaca tulisan petunjuk arah yang berupa rambu berwarna dasar hijau dan berwarna tulisan putih. Akhirnya tukang ojek saya komando dari belakang menemukan jalan yang benar. Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya saya sampai ke pintu gerbang keluar stasiun Gambir. Tobat tenan aku!

Begitu berhenti, tukang ojek yang semula saya pikir orang Jakarte (pakai huruf akhir ‘e’) dan saya panggil ‘Abang’, ternyata kemudian bilang begini : “Dalane ora ceto, ora koyo nek awan pak (jalannya tidak jelas tidak seperti kalau siang pak)”, katanya dalam bahasa Jawa. Spontan saya jawab : “Lha wis ngerti aku nek awan serngengene cedak ngobong sirahmu (lha sudah tahu saya kalau siang mataharinya dekat membakar kepalamu)”, kata saya sambil rada jengkel.

Segera uang Rp 50.000,- saya sodorkan sambil saya pesan : “Turahane pek-en nggo tuku bensin (sisanya kamu ambil buat beli bensin)”, lalu saya tinggal pergi bergegas menuju ke dalam stasiun. Hitung-hitung saya sudah diberi bonus diajak wisata malam keliling Jakarta…..

Yogyakarta, 27 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Malam Takbiran Di Argo Lawu

27 November 2009

Di Argo Lawu menuju Jogja, duduk di samping seorang gadis manis. Sambil takbiran menghabiskan malam… membayangkan sedang mengumpulkan kerikil di Muzdalifah…

(Tadi siang terbang dari Jogja ke Jakarta karena ada keperluan mendadak. Sekitar dua jam saja di Jakarta lalu malamnya kembali ke Jogja naik kereta api Argo Lawu, agar esok pagi-pagi bisa sholat Idul Adha di rumah dan membantu panitia penyembelian hewan qurban di kampung)

Jakarta (di dalam KA Argo Lawu), 26 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Itu Bernama Ibrahim

15 November 2009

Kalau memperhatikan cara bicaranya, susunan kalimat dan pilihan kata yang digunakannya, saya yakin sopir taksi yang sore itu mengantar saya ke Cengkareng, pasti bukan sopir biasa. Mengesankan sebagai seorang yang terpelajar. Hal seperti ini seringkali merangsang rasa keingintahuan saya.

Mulailah saya membuka pembicaraan sebagai penjajakan bahwa dugaan saya benar. Percakapan tentang lalulintas Jakarta yang padat dan tersendat, tentang rute yang dipilih menuju bandara dan tentang taksi berwarna biru muda yang dikemudikannya. Semuanya dijawab dan dijelaskan dengan susunan kalimat dan tutur kata yang enak dan runtut.

Rupanya pak sopir taksi itu pernah kuliah di universitas negeri ternama di Jakarta, karena tidak lulus lalu pindah ke sebuah universitas swasta dan akhirnya berhasil meraih gelar sarjana ekonomi. Karir pekerjaannya dijalani dengan mulus dan lancar. Pernah bekerja di beberapa perusahaan, sampai yang terakhir berwiraswasta menjalankan usahanya di bidang kontraktor sipil dan konstruksi. Pendeknya, dari sisi materi untuk ukuran hidup bersama keluarganya di Jakarta nyaris tidak kurang suatu apapun, bahkan lebih dari cukup.

Hingga akhirnya musibah menimpa usahanya, seorang rekanannya membawa kabur uang proyek. Jadilah dia menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggungjawab. Semua asetnya terpaksa dijual dan hidup harus dimulai dari awal lagi. Cerita yang sebenarnya klasik, tapi tetap saja membangkitkan empati.

Sejak itu hidupnya tidak menentu. Jiwanya stress berat harus menanggung beban hidup yang tak pernah terbayangkan selama lebih 20 tahun karir pekerjaannya. Sejak musibah di-kemplang rekan sendiri menimpanya, kegiatan sehari-harinya tidak karuan. Seringkali ia terbengong-bengong di masjid Istiqlal saat orang-orang lain sibuk bekerja di siang hari. Keluarganya yang tinggal di Bekasi tentu saja menjadi kalang kabut dibuatnya.

Lelakon seperti ini sempat dijalaninya selama tiga bulan, hingga akhirnya ada seorang sahabatnya menyarankan untuk bekerja menjadi sopir taksi di salah satu kelompok perusahaan taksi paling terkenal berlambang burung biru.

Hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah bahwa kini pak sopir itu sangat menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi, lebih dari yang pernah dia jalani selama karir pekerjaannya. Demikian pengakuannya di balik wajah cerianya. Cara bercerita, ekspresi yang ditunjukkan, alasan-alasan yang dikemukakan dan semua latar belakang yang diceritakannya, meyakinkan saya bahwa pengakuannya jujur.

***

Lama-lama mengasyikkan juga ngobrol dengan sopir taksi itu. Hingga tak terasa waktu satu jam terlewati hingga saya tiba di Terminal B Cengkareng. Pak sopir taksi yang rupanya doyan ngobrol ini akhirnya justru yang memberi saya banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Setidak-tidaknya dari pengalamannya bagaimana ia terpuruk dari usahanya yang pernah membawanya membumbung ke angkasa dan bagaimana ia kini harus bangkit dari awal lagi.

Apa yang menarik dari pilihannya bekerja menjadi sopir taksi? Ada beberapa hal yang sempat saya ingat yang barangkali tak pernah terpikir di benak orang “normal” yang selama ini ketawa-ketiwi menaiki taksinya.

Pertama, menjadi sopir taksi burung biru ternyata membuatnya mempunyai kebebasan finansial (maksudnya bukan bebas secara finansial, melainkan bebas menentukan perfinansialannya). Meski dengan sistem kerja 2-1 (dua hari “on”, sehari “off”), tapi dia bebas menentukan mau bekerja berapa jam sehari dan berapa penghasilan perhari yang dianggapnya cukup. Semakin dia rajin dan tekun, semakin tinggi komisi dan bonus yang boleh diharapkannya. Ketekunannya dalam lima bulan ini telah membuatnya dipercaya oleh perusahaannya. Begitu pengakuannya.

Kedua, di group taksi burung biru ini dia menemukan banyak teman-teman senasib (maksudnya banyak sesama sopir yang juga bergelar sarjana dan banyak sesama sopir yang sebelumnya adalah pengusaha yang kemudian bangkrut karena menjadi korban tipu-tipu dan bukan sebab lain –  kalau tidak salah dulu juga ada mantan Direktur Bank Duta yang akhirnya memilih profesi ini). Sehingga pak sopir taksi ini merasa berada di “frekuensi” yang sama dengan banyak rekannya sesama sopir taksi.

Ketiga, pak sopir taksi yang grapyak-semanak (cepat akrab bagai saudara) dan pandai bicara ini akhirnya banyak berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi penumpangnya, dari beragam pekerjaan, latar belakang, dan permasalahannya masing-masing. Ini yang kemudian membuatnya merasa tidak sendiri dan lebih bisa menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi. Belum lagi seringkali ada juga penumpang yang memberi wejangan-wejangan keagamaan tentang kehidupan. Hal yang selama ini tidak pernah didengarnya.

Keempat, dan ini yang paling membuatnya merasa bersyukur, ikhlas dan lebih arif menyikapi lelakon hidupnya, yaitu bahwa rejeki itu memang sudah ada yang mendistribusikannya dari langit bagi setiap mahluk, dan ada hak orang lain yang menempel dalam rejeki itu. Selama ini dia merasa banyak berbuat salah dalam cara memperoleh kupon antrian pembagian rejeki dan cara mengelola rejeki yang diperolehnya.

Pak sopir taksi yang lancar mengutip ayat-ayat Qur’an ini merasa sangat beruntung. Ya, beruntung karena dia merasa memperoleh hidayah (petunjuk) untuk menyadari kesalahannya selama ini, dibandingkan dengan banyak orang lain yang kekeuh tidak mau menyadari kekeliruannya dalam menjalani sisa kehidupan.

Dari tanda pengenal di taksinya, akhirnya saya tahu bahwa pak sopir taksi yang arif itu bernama Ibrahim. Pak Ibrahim ini rupanya berasal dari Solo (Solowesi maksudnya…., tepatnya Makassar) dan sudah menikmai manis, asam, asin, pahit dan getirnya Jakarta sejak 27 tahun yang lalu saat lulus dari SMA di Makassar.

“Terima kasih pak Ibrahim, Sampeyan telah bersedia berbagi sehingga saya juga bisa ikut belajar dari pengalaman hidup yang Sampeyan jalani…”.

Yogyakarta, 10 April 2008
Yusuf Iskandar