Archive for the ‘> Seputar KALIMANTAN TIMUR’ Category

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau

13 April 2011

Pengantar:

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya ketika melakukan kunjungan ke lokasi survey pemboran batubara di wilayah kabupaten Berau, Kaltim, dari tanggal 25 -31 Maret 2011.

Penggalan catatan ini saya posting di status Facebook sebagai cersta (cerita status) selama periode tanggal 25 Maret s/d 3 April 2011. Tulisan ini sudah saya edit dari tulisan aslinya agar lebih mudah dibaca dan diikuti alur ceritanya. Sekedar ingin berbagi dongeng.

(1) Terbang Ke Tanjung Redeb
(2) Terjebak Kubangan Lumpur, Bermalam Di Jalan Hutan
(3) Menikmati Pagi Sunyi Di Jalan Hutan
(4) Keluar Dari Hutan Dengan Bantuan Bulldozer “Curian”
(5) Bermalam Lagi Di Tanjung Redeb
(6) Mencoba Tidak Menyerah Dengan Upaya Kedua Dan Ketiga
(7) Merenung Untuk Mencoba Sekali Lagi Esok Hari
(8) Berhasil Di Upaya Keempat
(9) Cerita Dari Penghuni Camp
(10) Blusukan Ke Hutan Dan Menemukan Gunung Sinyal
(11) Bersiap Meninggalkan Hutan
(12) Terpaksa Bermalam Di Bedeng Dekat Dermaga
(13) Antara Petuah, Doa Dan Kerja Keras
(14) Terbang Kembali Ke Jogja

Yogyakarta, 25 Maret – 3 April 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (1)

13 April 2011

(1) Terbang Ke Tanjung Redeb

(1)

Jogja – Balikpapan – Tanjung Redep (Berau)… “Tidak ada kemudahan melainkan karena Engkau mudahkan, dan sebaik-baik kemudahan adalah kemudahan yang Engkau berikan”.

(Note: Catatan pembuka, sambil duduk di ruang tunggu bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Siap-siap terbang dengan pesawat Lion Air dari Jogja ke Balikpapan)

(2)

Mestinya pesawat Batavia itu siang ini terbang ke Berau dari Balikpapan. Telanjur kubayangkan orang lain pada jumatan di darat, aku tidak jumatan di udara. Tapi kok ya ndilalah.., pesawat ke Berau delay tiga jam.

Setelah Tuhan “memaksa” aku terbang ke Berau alih-alih kemarin ke Bandung untuk melayat guruku, aku tetap diberi kesempatan untuk jumatan di Balikpapan. Maka “dirusak”-Nya sebuah pesawat Batavia, sehingga harus ada yang delay terbang. Betapa Maha Hebatnya Dia.

(Note: Guruku yang saya maksud adalah alm. Prof. Ir. RM Partanto Prodjosoemarto yang meninggal dunia kemarin di Bandung. Sesungguhnya saya berniat melayat, tapi rupanya sesaat sebelum saya mendengar kabar duka itu, saya telanjur mengkonfirmasi hari ini terbang ke Berau)

(3)

Bukan sekedar jumatan, syukurku bertambah karena sempat silaturrahim dengan mantan teman kerja yang sudah lebih enam tahun tidak bertemu. Lalu jumatan bersama di masjid “Istiqomah” di kompleks Total-Pertamina Balikpapan, lalu makan rawon di kantin masjid yang bergaya lesehan… Puji Tuhan wal-hamdulillah… (kenyang banget karena sejak pagi belum sarapan, hanya sempat ngupi…).

(4)

Jam 16:30 WITA pesawat yang delay lebih tiga jam dari Balikpapan akhirnya mendarat di bandara Kalimarau Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau (Kaltim). Rencana mau langsung menuju lokasi survey ditunda besok karena sudah kesorean.

Leyeh-leyeh dulu di hotel. Semalam di Tanjung Redeb. Insya Allah besok pagi baru menuju lokasi survey…

(5)

Bandara Kalimarau… Ini bandara yang sekitar tiga tahun yll aku pernah menjadi tukang buka pintu pagar depannya, gara-gara kepagian tiba di bandara. Bahkan kubangunkan Satpam yang ketiduran ditonton pemain bola di TV.

Kini tampak tidak banyak berubah, melainkan sebuah bandara baru sedang dibangun di dekatnya. Tidak besar, terkesan minimalis, dilengkapi dengan dua belalai (garbarata) kecil. Saya suka dengan belalai kecilnya. Menarik, untuk ukuran bandara kecil.

(6)

Bandara baru Kalimarau, Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau (Kaltim) yang sedang dalam tahap penyelesaian. Bandara kecil yang dilengkapi dengan dua belalai kecil… Sebuah lambang kemajuan kota seiring dengan meningkatnya kesibukan ekonomi daerah dimana mulai banyak aktifitas eksplorasi dan eksploitasi potensi tambang terutama batubara.

(7)

Taksi dari bandara Kalimarau adalah angkutan kota yang dicarter. Ongkosnya Rp 40 ribu ke kota Tanjung Redeb. Sampailah ke hotel “Sederhana” yang akhirnya saya pilih. Alasannya sederhana, ya karena hotel ini memang sederhana.

Agenda pertama biasa.., langsung nggeblak merebahkan badan, menggeliat, leyehan… Tak sesederhana namanya, hotel ini layak untuk tempat menginap, leyehan dan buang hajat. Ada AC, air panas, TV, mudah cari makan di luar…

(8)

Sambil menikmati suasana malam, mampir makan di sebuah warung dekat hotel. Dari ujung selatan Jl. Pangeran Antasari sampai tepian sungai Segah berjajar warung-warung menyajikan menu ikan-ikanan (tapi ikan beneran), ayam dan bebek.

Pilihanku bandeng goreng racikan seorang ibu asal Mojokerto yang sudah 12 tahun marung (membuka warung) di Tanjung Redeb. Selalu hati-hati kalau makan bandeng karena duri halusnya betebaran di sekujur tubuhnya.

(Jum’at, 25 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (2)

13 April 2011

(2) Terjebak Kubangan Lumpur, Bermalam Di Jalan Hutan

(9)

Cuaca Tanjung Redeb siang ini panas sekali, padahal matahari sudah lewat condong ke barat. Segera saya tinggalkan kota Tanjung Redeb ke luar ke arah barat untuk menuju ke lokasi survey mblusuk ke hutan di kawasan bernama Sambarata.

Jarak tempuhnya sekitar 70-an km, tapi waktu tempuhnya bakal bisa 3-4 jam melintasi jalan tanah serta naik-turun perbukitan. Itu kalau cuaca tidak hujan. Kalau hujan? Nggak tahu, mungkin malah nggak bisa lewat…

(10)

Kata teman seperjalananku yang sudah lebih dahulu naik-turun ke lokasi survey, cuaca cerah bin panas ini karena hari Jum’at kemarin mulai cerah. Maksudnya? “Biasanya kalau Jum’atnya cerah, maka dua-tiga hari kemudian juga akan cerah”, katanya sambil cengengesan.

Anyway, bismillahi tawakkaltu ‘alallohu laa haula walaa quwwata illa billahi… Maka Allahlah sebaik-baik penjaga…

(11)

Namanya juga mblusuk ke hutan. Sekitar 5 km menyusuri jalan raya Tanjung Redeb – Tanjung Selor, menyimpang ke barat ke Jl. Birang (menuju kampung Birang). Jalan berbatu, bertanah merah, berkubangan lumpur, hanya pepohonan menghiasi, mobil pun terseok-seok, entah untuk berapa jam ke depan. Sinyal ponsel mulai putus-putus, sebentar pasti akan menghilang, habis…

Dan, cerita status ini pun akan terputus dan berlanjut esok, lusa atau esoknya lusa. Insya Allah.

(12)

Baru sekitar setengah jam perjalanan dari Tanjung Redeb, sekitar 25 km, mobil 4WD yang kutumpangi terperosok kubangan lumpur… Uuugh! Dicoba diatasi tak juga berhasil.

Sore semakin remang, senja pun lenyap, gelap hadir di tengah jalan hutan. Jam 19 masih tak berkutik. Beruntung cuaca begitu cerah, bintang bertaburan di angkasa. Namun geluduk terdengar di kejauhan. Hanya nyanyian serangga malam dan serangga-serangga kecil beterbangan menemani. ‎

(13)

Tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain mencari pertolongan. Pak sopir mencoba berjalan menuju bulldozer perusahaan logging, tapi sudah tidak ada orang.

Mencoba berburu sinyal yang sesaat timbul, beribu saat tenggelam. Seorang teman mencoba memanfaatkan yang sesaat itu untuk mencari bantuan. Berharap bantuan datang, jam berapapun adanya. Sambil harap-harap cemas agar tidak keburu hujan. Jika terlambat, maka bantuan pun tak akan bisa menuju. ‎

(14)

Terperosoknya mobil yang kutumpangi ini sesungguhnya bukan karena semata-mata kondisi alam, tapi lebih disebabkan kecerobohan sang sopir. Sebab mestinya masih ada bagian jalan yang bisa dipilih untuk menghindari kubangan. Entah kenapa sang sopir pede sekali menerabas kubangan. Maka sang sopir dan teman satu lagi saling menyalahkan dan berbantahan. Walau dalam nuansa guyon, tapi terdengar getir di telinga. Toh, sudah terjadi… ‎

(15)

Semakin malam, gelap gulita. Ada mendung berjalan-jalan di langit, menutupi taburan gemintang. Semoga tidak kebelet mampir. Biar melanjutkan perjalanannya di atas sana…

Sang sopir yang kelelahan tidur terkapar di tanah. Lagu-lagi ndang-ndut muncrat dari HP-nya. Teman lain membuat perapian dengan membakar ranting kayu kering. Cahaya api menyibak gelapnya malam. Hanya ketika berada dalam kegelapan maka kita akan tahu artinya setitik cahaya. ‎

(16)

Jam 21 malam bantuan yang ditunggu tidak juga datang. Geluduk dan kilat bersahutan di batas cakrawala. Betapa bodohnya aku ini. Kenapa tadi mampir membeli bekal minum tapi tidak sekalian membeli sekedar makanan.

Mestinya, walau sedang tak berdaya di hutan, malam ini bisa menjadi sebuah pesta kecil, sambil tepekur bermalam Minggu di depan perapian. Bermusikkan nyanyian serangga malam dan geluduk, berpencahayaan kilat yang memantik di angkasa… ‎

(17)

Tiba-tiba teringat, aku belum sholat maghrib dan isya… Haruskah kulakukan sekarang? Air entah ada dimana. Atau nunggu nanti saja kalau sampai di lokasi yang layak? Tapi cukupkah kesempatannya? Tidak tahu jam berapa akan sampai. Atau absen dulu? Toh Tuhan pasti “maklum” dengan sikon yang sedang saya hadapi.

Tapi keputusanku adalah memanfaatkan segala fasilitas yang ada: tayamum, jama’-qoshor, di atas tanah terbuka, masih pakai sepatu, kira-kira menghadap kiblat… ‎

(18)

Jam 21:30 gerimis benar-benar turun dan menjadi hujan. Kami tinggalkan perapian lalu masuk mobil. Setengah jam kemudian gerimis reda. Sopir dan seorang teman mencoba lagi menangani mobil, menggali, mendongkrak, men-start, dalam gelap, tanpa hasil. Aku yang pegang senter. Hanya bisa setengah jam saja hingga gerimis kembali membesar.

Tipis harapan ada bantuan, semakin malam dan hujan. Tanpa komando kami masuk mobil, tidak lama kemudian semua terlelap… ‎

(19)

Bermalam di mobil adalah pilihan terbaik. Aku berusaha tidur senyaman mungkin di jok depan. Kubayangkan sama seperti ketika harus tidur di kereta malam, bis malam atau pesawat terbang malam.

Bukan sesuatu yang luar biasa. Yang luar biasa adalah, dan ini bagian menariknya, perut lapar tapi tidak membawa bekal… Untung masih ada air. Duduk leyehan di dalam mobil, membayangkan makan sego kucing dua bungkus dan teh jahe gula batu. ‎

(Sabtu, 26 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (3)

13 April 2011

(3) Menikmati Pagi Sunyi Di Jalan Hutan

(20)

Tidurku benar-benar lelap sampai pagi, sempat dua kali terbangun tapi tidur lagi. Untung tidak kliyengan… Tapi jelas pinggang dan leher terasa patah-patah, padahal tidak goyang…

Sholat subuh kutunaikan di dalam mobil. Kali ini fasilitas persolatan yang ada kugunakan habis-habisan: tayamum, sambil duduk di mobil menghadap ke tenggara…

Air bersih entah ada dimana, tanah berlumpur dan lengket, langit pagi makin terang… ‎

(21)

Kucoba keluar mobil untuk menikmati pagi. Nyanyian burung di pagi hari menyambut bangunku…

Gerimis malam masih tersisa rintiknya. Dengan mengenakan sepatu aku injakkan kaki keluar mobil, lalu menggeliat, berjalan-jalan sejenak, menghirup nikmatnya hawa pagi pegunungan. Kabut masih menggantung di pucuk-pucuk pepohonan. Makin berjalan, kakiku terasa makin berat. Ternyata lempung lengket itu menggelayuti sepatuku. Ah, lebih enak kulepas sepatu.. ‎

(22)

Aku masih punya air minum… Lumayan untuk melegakan tenggorokan, walau perut sebenarnya belum terisi sejak kemarin… Berharap ada mobil lain lewat sepertinya hil yang mustahal. Ini hari Minggu, pekerja logging pada libur. Sang sopir sudah jalan naik-turun bukit mencari bantuan. Teman satu lagi memilih tidur lagi.

Kucoba jalan ke tempat lebih tinggi siapa tahu ada sinyal. Berjalan terseok-seok karena lumpur lengket dan licin, padahal sudah lepas sepatu. ‎

(23)

Aha…dapat sinyal. Beberapa SMS berhasil kukirim keluar. Tapi untuk kirim status ke Facebook rupanya masih sulit, sementara baterei harus kuhemat.

Menikmati suasana pagi di jalan hutan. Bening tetes embun di dedaunan dan kuncup bunga warna ungu. Matahari masih samar terhalang awan, padahal sudah sepenggalah tingginya. Pucuk daun warna merah bata tampak kontras di antara hijau dedaunan. Aku berjalan turun kembali ke mobil…

(24)

Duduk nangkring di pintu bak belakang mobil, membunuh waktu menanti pertolongan, sambil menulis cersta Facebook yang baru dapat dikirim setelah nanti ketemu sinyal (mau duduk di tanah, berlumpur).

Tiba-tiba pandanganku tertuju ke bawah pada genangan air di belakang mobil. Kulihat seekor semut hutan yang panjang tubuhnya sekitar 1,5 cm, sedang berenang di tengah genangan air. Keenam kakinya menggapai-gapai seperti sedang berjuang agar tidak tenggelam. ‎

(25)

Kuperhatikan semut hitam itu dengan seksama. Kutunggu 5 menit, 10 menit, 15 menit.., masih juga tidak beranjak dari posisinya semula. Tak juga berhasil menggapai tepian genangan. Entah bagaimana semut itu bisa terjebak dalam genangan.

Akhirnya aku loncat turun, jongkok mendekati semut itu. Kuambil sepotong ranting, kuangkat tubuh semut itu dengan ranting karena khawatir kalau menyengat dan kupindahkan ke atas bongkah tanah di tepi jalan.

(26)

Semut itu diam sesaat lalu cepat merangkak menjauh (kalau berjalan nanti dikira sirkus). Kupandang lekat-lekat semut itu. Dalam hati aku berkata dan memohon: “Tuhan, sungguh aku ikhlas membebaskan semut yang tak kukenal itu dari genangan air. Maka kalau apa yang kulakukan pagi ini dapat Engkau catat sebagai ibadahku, tolong ulurkan tanganMu agar aku pun segera lepas dari perangkap kubangan lumpur di hutan ini…”.

(Minggu, 27 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (4)

13 April 2011

(4) Keluar Dari Hutan Dengan Bantuan Bulldozer “Curian”

‎(27)

Kurang dari sejam kemudian terdengar bunyi mesin bulldozer semakin mendekat. Lalu dari belokan muncul sebuah bulldozer CAT model kuno merayap naik. Tapi lho.., sopir dozer-nya kok sopir mobilku?

Sebentar, sebentar.., itu bulldozer siapa dan darimana? “Ya yang ada di pinggir jalan tadi, pak…”, jawabnya ringan.

Woo.., “ueddan”, kataku dalam hati. Tapi bagus juga punya sopir rada edan. Bisa “mencuri” bulldozer, jika terpaksa… ‎

(28)

“Kunci kontaknya gimana?”, tanyaku lugu. “Ya dikonsletkan saja…”, jawabnya lugu juga, yang maksudnya di-jumper seperti di film-film itu.

Ternyata mas Kentung, sopir mobil yang kusewa, pemuda gempal asal Solo yang sudah lima tahun tidak pulang itu dulu pernah bekerja di perush logging (penebangan kayu). Selama itu pula dia banyak berurusan dengan alat-alat berat. Pantesan, lincah sekali dia “mencuri” bulldozer… ‎

(29)

Maka ketika pagi-pagi sekali dia sudah berjalan naik-turun bukit meninggalkan kami berdua di mobil, rupanya dalam rangka mencari bantuan, ya dengan “mencuri” bantuan berupa bulldozer itu.

Yen tak pikir-pikir.., antara mencari dan mencuri itu kan hanya beda satu huruf saja. Ketika harus mencari dia berteriak agak kesal tapi semangat “aaah…” dan setelah berhasil mencuri dia berteriak lega tapi puas “uuuh…”. (Just kidding…). ‎

(30)

Kebetulan hari Minggu. Karyawan perusahaan kayu itu pada libur, maka dozer pun pada nongkrong ditinggal operatornya. Kebetulan tapi juga keharusan…

Kebetulan karena dozer-nya pada nganggur. Keharusan karena kalau tidak nekat “mencuri” kami tidak tahu berapa lama lagi kami harus menunggu bantuan datang sebab di lokasi itu tidak bakalan ada kendaraan yang lewat pada hari itu… ‎

(31)

Sekitar jam 10 pagi akhirnya mobilku lepas dari kubangan. Baru jalan tertatih-tatih beberapa kilometer, setelah mengembalikan dozer yang tadi “dicuri”, kami terjebak lagi di jalan berlempung licin. Rupanya double gardan mobilku tidak berfungsi.

Aagh… Praktis kami pun tak berkutik. Terpaksa sopirku yang rada edan itu beraksi kembali “mencuri” dozer lain. Giliran bulldozer Komatsu yang “dicurinya”, juga dengan cara mengkonsletkan entah kabel apa.. ‎

(32)

Sopirku yang sejak malam sebelumnya berbusana tarzan-tarzanan alias hanya menyisakan cd (celana dalam) dan kaos saja karena tubuhnya yang berkulit hitam itu jadi kecoklatan penuh berlumuran lumpur. Kali ini tidak tanggung-tanggung, bukan sekedar membebaskan mobil itu dari jalan yang licin yang membuatnya tak mampu bergerak, melainkan ditariknya terus hingga jauh. Dan dozer itu tidak dikembalikan lagi tapi ditinggal begitu saja di tepi jalan. Ngabuuur… ‎

(33)

Sekitar jam 14 siang akhirnya kami tiba kembali di Tanjung Redeb. Alhamdulillah… Hal pertama yang kami lakukan adalah makan nasi bungkus yang sedianya mau dikirim untuk menolong kami tapi keburu pak sopirku sukses dengan aksi “pencuriannya”.

Hmm… Nasi, ayam goreng, tempe dan lalapan yang banyak daun kemanginya, tandas tak bersisa kecuali bungkusnya. Lebih-lebih seikat daun kemangi segar membuat nafsu makanku memuncak sampai ke ubun-ubun… ‎

(Minggu, 27 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (5)

13 April 2011

(5) Bermalam Lagi Di Tanjung Redeb

(34)

Perjalanan akan dilanjutkan, tepatnya dicoba lagi, besoknya. Malamnya jalan-jalan saja keliling kota Tanjung Redeb hingga kemudian berhenti di kawasan dimana berjajar kedai-kedai sambung-menyambung menjadi satu, itulah kawasan Tepian.

Ini lokasi untuk santai di malam hari, berada di sisi selatan sungai Segah. Cukup nyaman dan indah dinikmati kalau cuaca sedang cerah. Aneka makanan dan minuman tinggal pilih.., mbayar tentu saja… ‎

(35)

Ada judul yang menarik perhatian saya, yaitu sarabba. Rupanya ini susu jahe. Jahe dikeprek, dibakar, lalu dicampur dengan susu panas. Lumayan untuk penghangat badan yang capek. Pasangannya roti bakar yang rotinya warna hijau, disayat tengahnya lalu diisi coklat atau selai. Tapi ya belum makan kalau belum nasi, maka pesan juga nasi goreng.

Uuuh.., bukan rasanya. Tapi karena tiba-tiba turun hujan lebat dan penjualnya kalang kabut memasang tenda. ‎

(36)

Huh, kenyang, capek, ngantuk… Jam 21:30, cari penginapan di luar kota arah barat, sekedar untuk melepas penat. Atas saran teman, saya menuju hotel “Beringin” di bilangan Teluk Bayur.

Sampe di depannya, bunyi musik keras sekali entah darimana sumbernya. Tidak nampak bentuk hotel. Di teras ada seorang gadis berkaos dan celana ketat nangkring di sepeda motor. Cengengesan sendiri dengan HP-nya, acuh saja melihat kedatanganku. ‎

(37)

Begitu masuk saya semakin ragu. Mana resepsionis? Hanya ada 3 wanita sedang ngobrol sambil duduk dengan posisi “tidak sopan”.

Kutanya salah satunya: “Hotelnya dimana?”.
“Disini”, jawabnya.
Aku ingin membatalkan saja tapi kepalang sudah di dalam. Kutanya seorang wanita paruh baya yang katanya resepsionis. “Ada kamar?”. “Penuh”, jawabnya pendek tanpa mengubah posisi “tidak sopan”-nya.

Hmmm, sukka… (suka dengan jawaban pendeknya, bukan posisinya). ‎

(38)

Setelah mendengar jawaban resepsionis itu segera saya pamit kabur. Hmm.., bisa-bisa tidak istirahat aku (karena bunyi musik yang keras itu).

Cari tempat lain, dekat batas kota. Ada hotel “Pelangi”. Ini baru benar hotel transit yang tarifnya di bawah Rp 250 ribu/malam. Ada TV dan AC, tapi tidak ada air panas. Lumayan, untuk sekedar nggeblak dan buang hajat. Baru 15 menit di kamar, sudah ML (mati lampu). Uuuh.., ya minta lilin. Rupanya sudah disiapkan.

(39)

Karena mati lampu jadi tidak bisa nge-charge HP. Yo wisss… Dalam keremangan cahaya lilin ingin segera melampiaskan rasa penat bin capek. Tidak lama turun gerimis, lalu hujan lebat, silih berganti sampai pagi.

Haaa…, nyanyian kodok ada di sebelah hotel. Nyaman sekali… Sudah bayar murah, dinina bobok sama nyanyian kodok. Paginya sudah disiapkan kopi dan kue. Ya, hotel transit, diman orang biasanya masuk malam, paginya keluar…

(Minggu, 27 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (6)

13 April 2011

(6) Mencoba Tidak Menyerah Dengan Upaya Kedua Dan Ketiga

(40)

Dua hari terjebak lumpur dan akhirnya bisa keluar setelah 17 jam tak berkutik di tengah jalan hutan, akhirnya bisa kembali ke Tanjung Redeb. Hari ini saya kembali menuju lokasi survey lewat jalan yang “seharusnya” yang menurut info jembatan yang kemarin putus sudah bisa dilalui. Berharap kondisi jalan lebih baik dan lancar sehingga tidak harus menginap lagi di jalan.

(41)

Walau menurut info kondisi jalan lebih bagus dari kemarin, agak trauma, kali ini mampir pasar Gayam Tanjung Redeb yang nampak megah dan mewah untuk makan dulu dan membeli bekal lebih banyak…hehe.

Tengah hari di Tanjung Redeb (Berau) yang panas terik, mobil Mitsubishi Strada 4WD segera melaju ke utara arah Tanjung Selor (Bulungan). Tidak lagi lewat rute yang kemarin yang kondisinya sensitif terhadap hujan, melainkan rute lain yang (katanya) lebih “bersahabat”.

(Note: Yang saya maksud dengan pasar Gayam sesungguhnya adalah pasar tradisional Gayam yang sudah direlokasi ke Pasar Sanggam Adji Dilayas yang masih terlihat baru, megah, luas, berarsitektur indah dan penataannya sangat bagus. Barangkali inilah pasar tradisional termegah di seluruh wilayah provinsi Kaltim).

(42)

Waaa.., dasar rejeki. Jembatan darurat sungai Birang yang katanya sudah dapat dilewati ternyata belum ada apa-apanya. Ya nampak sungai saja… yang berarus deras dengan kayu gelondongan teronggok di sana.

Terpaksa kembali ke rute yang kmarin. Semoga cuaca cerah siang ini bertahan hingga malam sehingga jalan berlumpur yang mulai mengering itu dapat dilalui dengan aman terkendali… Maka perjalanan hari ini adalah edisi “siaran ulang” perjalanan dua hari yll. Bismillah..!

(Note: Sementara lanjutan cersta yang kemarin belum sempat terkirim semuanya, siang ini segera saya akan kehilangan sinyal lagi. So, lanjutan cersta saya akan tertunda… Mohon dukungan doanya saja. Matur nuwun)

(43)

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih… Upaya kedua hari ini menuju ke lokasi survey ternyata juga harus gagal. Kali ini masalah kendaraan. Belum sejam perjalanan tiba-tiba double gardan kendaraan Strada 4WD tidak berfungsi…

Jelas perjalanan tidak dapat dilanjutkan. Telanjur mobil terjebak kubangan lumpur… Perlu waktu tiga jam untuk bergulat agar bisa lolos dari kubangan dan kembali lagi ke Tanjung Redeb. Benar-benar.., uuugh…!

(44)

Mencoba tidak menyerah, selagi masih punya pilihan… Begitu tiba di Tanjung Redeb, langsung bersiap melakukan upaya ketiga menembus lokasi survey. Senja tadi kami sepakat melakukan perjalanan malam melalui rute berbeda lagi.

Petang, maghrib menjelang, saya naik ke atas ketinting atau ces (perahu motor). Kali ini menuju ke arah hulu untuk nanti disambung dengan mobil yang beberapa hari yll ditinggal di sana karena ada kerusakan. Katanya sekarang sudah diperbaiki.

(45)

Ketinting segera melaju ke hulu sungai Segah yang lebarnya lebih 100 m. Sungai Segah adalah sungai yang melintasi kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau (Kaltim).

Senja di sungai Segah menyajikan pemandangan indah saat mentari tenggelam di cakrawala barat. Langit nampak bersih walau sedikit berawan. Ombak sungai terlihat tenang. Di rembang petang, orang-orang yang tinggal di sepanjang tepian sungai mulai mengakhiri kesibukan.

(46)

Perjalanan dengan ketinting selama 25 menit terasa nyaman saja. Tanaman rengas yang daunnya gatal kalau mengenai kulit membentang di sepanjang tepian sungai. Di antara kawasan pemukiman penduduk dengan kerlap-kerlip lampunya dan pelabuhan batubara yang terang benderang dengan lampu kuning mercury.

Namun awan hitam tiba-tiba menyeruak dari arah baratlaut menutup langit. Mendung gelap pun tiba, seperti begitu mendadak datangnya.

(47)

Ketinting tiba di pelabuhan sungai yang biasa disebut Logpond ketika gerimis mulai turun, kilat dan geluduk menyambar-nyambar. Berteduh di pondok bekas pelabuhan kayu yang dijaga pak Jakobus yang asli Timor. Sekalian numpang sholat maghrib wal-isya setelah ambil wudhu di sungai.

Hari makin gelap. Teman saya yang nyopir kendaraan nampak gelisah. Mobil yang mau saya tumpangi solarnya tinggal sdikit, sedang tukang solar yang biasanya kehabisan stok.

(48)

Sisa solar minim dan diperparah cuaca hujan, teman yang juga sopir itu menyatakan tidak berani jalan malam. “Daripada nanti terpaksa tidur di hutan lagi…”, katanya. “Wah, kapok…”, batinku.

Sekitar jam 19 malam akhirnya kami kembali naik ketinting. Menyusuri sungai Segah dalam gelap, hujan, gemuruh geluduk, menuju ke hilir kembali ke Tanjung Redeb. Lebih baik tidur di Tanjung Redeb. Aku hanya diam membenarkan… Sambil dheleg-dheleg (diam membisu)…

(Senin, 28 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (7)

13 April 2011

(7) Merenung Untuk Mencoba Sekali Lagi Esok Hari

(49)

Dalam diamku di perjalanan ketinting aku merenung, lelakon apa sebenarnya yang sedang kujalani ini… Ini hari ketiga saya berusaha menuju lokasi survey dan untuk ketiga kalinya usaha itu gagal.

Dalam diamku di perjalanan ketinting aku bermuhasabah, sejenak, rahasia apa yang sedang “dimainkan” Tuhan atasku… Sejak pesawatku delay di Balikpapan 4 hara yll sehingga rencana mau langsung ke lokasi tertunda esoknya.

Dalam diamku di perjalanan ketinting aku berdzikir…

(50)

Diamku adalah dzikirku
setiap tetes gerimis yang membasahi tubuhku adalah dzikirku
setiap bunyi kecepak ombak sungai yang dihantam ketinting adalah dzikirku setiap berkas kilatan petir adalah dzikirku
setiap gema geluduk adalah dzikirku
setiap tamparan angin sungai adalah dzikirku
setiap deru mesin ketinting adalah dzikirku
setiap tarikan nafasku adalah dzikirku
hingga setiap denyut nadiku adalah dzikirku
Dan dzikirku tak pernah berhenti…

(51)

Sayup-sayup terdengar adzan isya ketika ketinting merapat di dermaga di belakang rumah seorang teman. Segera aku turun dengan membawa serta barang bawaan. Duduk leyehan di ruang tamu, sambil ngupi, menghela nafas panjang…

Aku belum ingin menyerah! Upaya keempat untuk menembus lokasi survey akan kulakukan lagi besok. Insya Allah. Dan kuingat lagi doaku saat berngkat dari Jogja: “Tuhan, tidak ada kemudahan melainkan karena Engkau mudahkan…”.

(Senin, 28 Maret 2011)

(52)

Dalam subuhku aku bersujud, berserah diri dan menancapkan niat
Hari ini adalah hari keempat aku akan melakukan upaya keempat untuk menembus menuju lokasi survey tujuanku
Kubangkitkan kesadaranku bahwa sesungguhnya aku hanyalah setitik embun pagi yang menggantung di kelopak bunga hutan Aku hanyalah setetes air hujan yang semalaman mengguyur Tanjung Redeb
Aku hanyalah sebutir pasir tanah lumpur yang memerangkap kendaraanku selama tiga hari kemarin.

(53)

Kubangkitkan kesadaranku bahwa sesungguhnya aku hanya bagian sangat kecil dari rencana besar yang ada di luar jangkauanku
Niat kuat sudah dipancangkan, namun keadaan juga melemahkan
Usaha sudah dilakukan, namun halangan juga diterpakan
Ada doa yang kulupakan :
Tuhan, jika menurutMu perjalananku ini baik bagi ibadahku, tolong mudahkanlah
Tapi jika menurutMu ini buruk bagi ibadahku, maka berilah aku jalan keluar terbaik.

(54)

Pagi hujan di Tanjung Redeb, bahkan sejak semalaman seperti tak pernah berhenti. Gerimis berganti hujan silih berganti. Cuaca murung, mendung menggelayut. Tiba-tiba datang SMS dari seorang sahabat: “Lagi ngapain, mas?”. Kujawab: “Menikmati hujan pagi, sambil leyeh-leyeh, ngudut dan ngupi…”.

Tinggal gorengan saja yang kurang… (Menunggu cuaca cerah untuk mulai melangkahkan kaki melakukan upaya yang keempat kali…)

(Selasa, 29 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (8)

13 April 2011

(8) Berhasil Di Upaya Keempat

(55)

Maka mulailah pagi ini aku berangkat meninggalkan Tanjung Redeb, memulai upaya keempat untuk menembus menuju lokasi survey di pedalaman Sambarata, Berau.

Naik ketinting ke arah hulu sungai Segah dalam cuaca mendung dan rintik hujan. Perjalanan selanjutnya akan dilakukan dengan kendaraan darat mendaki pegunungan selama 2-3 jam kalau cuaca dan kondisi jalan bagus. Kalau tidak? Ya, embuh… Semoga kali ini berhasil. Bismillah…

(56)

Daihatsu Hi-Line yang beberapa hari terakhir ini rusak dan ditinggal di Logpond seberang sungai Segah, masih perlu sedikit perbaikan lagi. Tidak apa-apa, aku masih sabar menanti.

Akhirnya jam 12 siang kami berangkat dari Logpond melaju ke utara melalui jalan tambang batubara hingga km-50 belok ke bekas jalan logging. Naik-turun perbukitan, lewat jalan berlumpur lengket sekitar 30 km. Cuaca lumayan cerah, panas, tanah lumpur mulai mengering. ‎

(57)

Walau kendaraan 4WD itu harus berjalan megal-megol seperti entok, menjalani lintasan yang sebagian mulai kering, akhirnya sekitar jam 2 siang tiba di camp yang kutuju. Perjalanan darat itu hanya dua jam saja.

Hari-hari kemarin satu-satunya kendaraan itu rusak, sementara rute alternatif jaraknya lebih jauh dan kondisinya lebih buruk sehingga perlu kendaraan 4WD dan cuaca yang kondisinya juga bagus. Bersyukur, upaya keempat di hari keempat berhasil mencapai lokasi yang kutuju. ‎

(58)

Camp yang dihuni sekitar 30 orang pekerja pemboran itu adalah bedeng darurat dengan konstruksi kayu dan beratap plastik tebal. Ber-“kasur” karung plastik yang dibentang mencipta alas tidur empuk seperti mengambang di atas plastik. Cukup nyaman.

Kalau malam-malam ada beruang, orang utan atau ular yang merunduk-runduk berkunjung mengais sisa makanan, ya anggap saja itu sebagai bentuk berbagi.., “sesama mahluk yang butuh makan dilarang saling mendahului..”. ‎

(59)

Sore ini santai dulu di lokasi camp sambil ngobrol-ngobrol dengan para pekerja. Mendengar keluhan dan permasalahan yang terjadi kenapa pekerjaan dinilai lambat oleh klien.

Selalu banyak cerita dan kegiatan sampingan yang menarik. Salah satu yang menarik adalah acara mandi di sungai. Waaa, segarnya… Langit nampak cerah menyambut malam, gemintang di angkasa, angin lembut, nyanyian malam di hutan mulai mendendang (29/03) ‎

(60)

Tapi rupanya cuaca cerah tidak berlangsung lama sebab mendung segera berkunjung. Ketika genset sudah dimatikan dan digantikan dengan lampu minyak, orang-orang pun mulai lelap dalam peraduan malam di hutan.

Menjelang tengah malam kelelapan agak terganggu. Kilat dan petir menyambar-nyambar memekakkan telinga membangunkan semua yang tidur. Geluduk bersahutan. Hujan pun segera mengguyur lebat. Bahkan sampai pagi.

‎(Selasa, 29 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (9)

13 April 2011

(9) Cerita Dari Penghuni Camp

(61)

Pagi-pagi bu Siti yang tukang masak ribut. Bu Siti yang tidur di tempat yang bertabir karung plastik bercerita, katanya semalam ada binatang mendekat. Bu Siti tidak berani membuka tabir untuk melihat langsung, tapi dari bayangannya terlihat besar seperti orang utan. Ditunjukkan bekas tapak kaki berlumpur dimana-mana di bagian dapur.

Namun orang-orang sepertinya tidak merespon serius. Bukan tidak percaya, melainkan ya terus mau ngapain? Sepanjang tidak mengganggu… ‎

(62)

Belum selesai dengan ributnya bu Siti. Seseorang cerita, katanya tadi pagi ketika sedang sholat subuh, tiba-tiba dilewati ular kecil di pahanya. Karena yakin si ular hanya mau numpang lewat, ya dibiarkan saja. Pura-pura tidak tahu…

Ketika diceritakan ularnya jalan ke arah tempat tidur depan. Maka sibuklah semua yang tidur di situ membongkar tumpukan pakaian dan tasnya… Haha, ular kurang kerjaan kalau dia tidur di dalam tas… ‎

(63)

Romantika tidur di camp belum habis rupanya. Seorg lagi cerita, katanya kemarin malam ada beruang mengais-ngais di bawah tempat tidurnya. Bu Siti tidak mau kalah. “Iya, saya juga lihat bekasnya di tempat piring-piring kotor”.

Apapun kisahnya, tetaplah cerita yang akan selalu menarik diceritakan. Tapi pertanyaannya adalah: “Terus mau ngapain?”. Bedeng darurat adalah tempat terbuka yang siapapun dapat masuk dari arah manapun. ‎

(64)

Dan ini bagian menariknya: Ketika sore saya pulang dari hutan, tiba-tiba bu Siti yang asal Semarang itu bilang: “Pak, gimana caranya agar binatang-binatang itu tidak datang-datang kesini?”.

Menyadari saya tidak punya ilmu peri kebinatangan, sambil becanda kujawab saja: “Didongani wae, bu (didoain saja)”. Eh, rupanya ditanggapi serius: “Ya, tolong pak. Mumpung bapak masih disini”. Walah, aku yang jadi kelabakan, ya “terpaksa” aku benar-benar berdoa untuk itu… ‎

(65)

Apakah binatang-bnatang itu benar-benar tidak datang lagi? Entahlah… Semoga saja demikian. Bu Siti benar-benar lugu dan karena itu menjadi haqqun-yakil kalau doaku manjur seperti jamu pegal linu.

Tapi sebenarnya intinya bukan pada kemanjuran doa, melainkan keyakinannya bahwa binatang-binatang itu tidak akan mengganggu. Perkara mereka datang lagi.., lha namanya juga binatang cari makan kok tiba-tiba ada yang datang membawa makanan. Ya monggo saling berbagi…

(Rabu, 30 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (10)

13 April 2011

(10) Blusukan Ke Hutan Dan Menemukan Gunung Sinyal

(66)

Lokasi survey yang jalannya berlumpur dan berlempung lengket pada lintasan yang mendaki dan menurun sering membuat repot. Kalau pun ada kendaraan 4WD sering juga tidak mampu saking buruknya jalan. Kalau sudah begitu, terpaksa berjalan kaki.

Hmmm.., maka pagi itu saya tempuh juga lintasan 12 km pergi-pulang termasuk menerabas hutan, naik-turun lereng licin, nyebrang kali, plus bonus disruput pacet, si binatang kecil yang suka minta donor darah kotor. ‎

(67)

Menempuh lintasan 12 km dengan kondisi seperti saya ceritakan sebelumnya, memang bukan hal yang menyenangkan. Ada dua cara untuk membuatnya menjadi menyenangkan: jalani sebagai ibadah dan nikmati sebagai an adventure.

Seperti ketika sedang mendaki gunung, seberat dan sesulit apapun bila cita-cita untuk menggapai puncak sudah dipancangkan, maka semua yang terjadi di sepanjang perjalanan adalah bunga-bunga untuk dinikmati. Mengada-ada? Tanyakan kepada mereka yang suka mendaki gunung… ‎

(68)

Jangan pikirkan jauh dan capeknya, tapi coba hirup dan nikmati bau hutan basah oleh embun pagi atau tanah lempung becek habis hujan… Di sana ada sensasi alami yang ngangeni (menimbulkan rasa kangen).

Saya memahami, bagi sebagian orang kata-kata itu hanya ada di buku kumpulan puisi. Tapi bagi sebagian orang lainnya, itu nyata. Tanyakan kepada mereka yang suka blusukan ke hutan, dimana hutan menjadi bagian dari hidupnya…

(69)

Di tengah hutan ada sebuah tempat yang elevasinya lebih tinggi. Orang-orang suka beristirahat di situ karena lokasi itu rupanya satu-satunya lokasi yang dijumpai sering disambangi sinyal. Dan orang-orang pun menyebutnya gunung sinyal.

Tapi harus pandai-pandai menangkap sinyal yang singgah. Sekali waktu sinyal datang, tapi setiap kali HP goyang sedikit saja sang sinyal pun kabur. Aha.., untuk menangkap sinyal yang datang, orang-orang itu punya cara rupanya. ‎

(70)

Apa akal? HP dimasukkan kantong plastik, lalu digantungkan di ranting pohon yang ada. Diamkan beberapa saat sambil ditunggu dan dilihat layar HP-nya sehingga ketahuan ketika ada sinyal.

Kalau mau kirim SMS, tulis dulu pesannya, sehingga nanti tinggal klik kirim. Kalau mau telpun sebaiknya gunakan head set, sehingga nanti tinggal pencet tombol OK. Maka sinyal pun nyaman singgah di HP tanpa terganggu goyangan….

(71)

Cara menangkap sinyal — HP dimasukkan kantong plastik, lalu dibiarkan digantung di cabang pohon agar tidak goyang-goyang, lalu tunggu sampai sang sinyal datang. Di lokasi dimana sinyal sulit ditemukan, seperti di hutan misalnya, sinyal tidak suka dengan goyangan, apapun jenis goyangnya… ‎

(72)

Begitulah cara orang-orang yang sedang melintas di hutan itu berkomunikasi keluar. Mereka akan memanfaatkan waktu istirahat di bukit sinyal yang jaraknya sekitar 5 km dari camp.

Ketika mereka kembali ke camp waktu sore, mereka merasa terisolir lagi. Sinyal terdekat ada di gunung kapur (sebutan salah kaprah untuk sebuah lokasi yang warna tanahnya putih seperti kapur), jaraknya sekitar 15 km. Hanya bisa ditempuh saat cuaca bagus. Huuhh..! ‎

(Rabu, 30 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan

7 Januari 2011

Catatan Perjalanan:

Saya berkesempatan melakukan perjalanan singkat mengunjungi desa Binai, kecamatan Tanjung Palas Timur, kabupaten Bulungan dari tanggal 1-4 Desember 2010 dalam rangka kunjungan lapangan ke lokasi potensi batubara di salah satu wilayah kabupaten Bulungan (Kaltim).

Saya membuat catatan-catatan pendek tentang pikiran, renungan, inspirasi dan apa saja yang ringan, mengusik dan melintas di pikiran termasuk guyonan, selama perjalanan saya dan lalu menuliskannya di Facebook. Catatan-catatan pendek itu saya kumpulkan dan saya susun kembali sebagai penggalan catatan perjalanan (setelah saya edit penulisan ejaannya agar lebih enak dibaca).

Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan (1)

7 Januari 2011

(1). Dalam Dhuhaku Kubermohon

Dalam dhuhaku pagi ini di bandara Adisutjipto, kutambahkan permohonanku agar Mbah Merapi baik-baik saja, dan agar mengganti hujan abu dengan hujan beras bagi mereka yang sedang tak berdaya di lereng-lerengnya…

Kutinggalkan sebagian dari mereka sejenak… Perjalanan Jogja – Balikpapan – Tarakan – Tanjungselor, insya Allah segera kujalani…

(Yogyakarta, 1 Desember 2010)

——-

 

(2). Terlambat Take Off Di Adisutjipto

Pesawat pagi dari Adisutjipto Jogja terlambat take off, biasa… karena bersamaan dengan kesibukan siswa AAU yang sedang berlatih. Transit di Sepinggan Balikpapan numpang lewat sebentar saja, nggak sempat duduk (apalagi tiduran), langsung terbang lagi. Lewat tengah hari akhirnya Lion JT 670 mendarat mak jedug…!, di bandara Juwata Tarakan. Perjalanan masih dilanjutkan naik speed boat menyeberang pulau ke Tanjungselor, kabupaten Bulungan (Kaltim).

(Balikpapan, 1 Desember 2010)

——-

(3). Ikan Putih Bakar di RM “Turi” Tarakan

Mulanya mau makan siang di RM Kepiting Kenari, tapi sayang siang tadi sudah habis. Lalu pindah ke RM Ikan Bakar “Turi”, Jl. Yos Sudarso, Tarakan, Kaltim. Menu pilihannya ikan putih (trekulu) bakar dan udang goreng, dilengkapi sayur asam, lalapan dengan aneka macam-macam sambal. Hanya saja sayur lalapannya semua matang, kecuali mentimun dan daun kemangi… Tapi itu tidak penting, yang penting…, hmmm….berkeringat.!

(Tarakan, 1 Desember 2010)

——-

(4). Kepanasan Di Pelabuhan Penyeberangan Tarakan

Pelabuhan penyeberangan Tarakan, Kaltim, siang menjelang sore itu terasa panas. Tidak ada tempat menunggu yang layak bagi penumpang kapal penyeberangan. Tampak seperti ada bekas bongkaran bangunan ruang tunggu tapi tidak tampak ada aktifitas pembangunan kembali. Mudah-mudahan belum.

(Tarakan, 1 Desember 2010)

——-

(5). Tiba Di Tanjung Selor

Senja di pelabuhan Tanjung Selor, Bulungan, Kaltim, pemandangan terlihat teduh dan indah. Di saat seperti itu, speed boat yang membawa penumpang menyeberang dari Tarakan ke Tanjung Selor tiba. Speed boat yang dimuati sekitar 35 orang tanpa dilengkapi alat pelampung. Uuugh…!

(Tanjung Selor, 1 Desember 2010)

——-

(6). Masuk Hotel Lalu Nggeblak

Menjelang maghrib speed boat dari Tarakan merapat ke pelabuhan Tanjungselor, maka malam ini nginap dulu. Besok melanjutkan perjalanan ke lokasi survey batubara. Begitu masuk hotel, langsung menunaikan ritual utama, nggeblak.., merebahkan badan! Regangkan otot-otot, sedikit melamun dan leyehan, asal tidak kebablasan tidur walau nguantuk

Ya Allah, geblak-kan aku ke tempat nggeblak yang mberkahi (Robbi anzilni munzalan mubarrokan).

(Tanjung Selor, 1 Desember 2010)

——-

(7). Menu Ikan Di Mana-mana

Seperti umumnya daerah tepian pantai, di Tanjungselor, kabupaten Bulungan (Kaltim), menu ikan adalah makanan favorit. tidak banyak pilihan untuk menu non-ikan. Makan malam tadi kami mampir ke Warung “Etam” di wilayah tepian pantai (Jl. Sudirman, kalau nggak salah).

Pilih sendiri ikannya. Lalu, patin bakar, patin sayur asam, kakap asam manis, udang goreng, segera siap disajikan. Ikan-ikan yang masih segar itu memang memberi taste beda saat disantap…

(Tanjung Selor, 2 Desember 2010)

——-

Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan (2)

7 Januari 2011

(8). Kota Kecil Nyaman Dijalani

Pagi di Tanjung Selor, Bulungan. Ibukota kabupaten yang terlihat sepi, tidak padat, jalan lebar, bersih, nyaman dijalani… Sebuah kota kecil yang berkesan damai, walau konon sempat mencekam terimbas kerusuhan di Tarakan yang terjadi beberapa waktu yll.

(Tanjung Selor, 2 Desember 2010)

——-

(9). Kulewati Malam Di Peraduan Kamar Hotel

Semalam di Tanjung Selor…

“Tumben tidak hujan”, kata seorang teman yang tinggal di Tanjung Selor. Kulalui malam di peraduan kamar hotel, karena ingin menyaksikan kesebelasan negerinya para TKW ini memberangus negerinya majikan TKW dengan skor 5-1. “Tumben tidak kalah”, kata seorang teman juga…

Kulewati malam, dinihari, fajar hingga pagi, dalam syahdu, rindu, indah dan kesyukuran, menyongsong esok yang kan terus menjelang…

(Tanjung Selor, 2 Desember 2010)

——-

(10). Seperti Kuda

Tanjung Selor, ibukota kabupaten Bulungan (Kaltim), yang memiliki jalan-jalan lebar tapi lalulintasnya tidak padat ini terasa makin sepi saat malam menjelang. Walau begitu perilaku pengendara sepeda motor sering mengejutkan. Bludas-bludus, belak-belok, slonang-slonong… seperti kuda (padahal kuda saja masih nurut perintah kusirnya), sesuai selera pikiran pengendaranya. Aaaaah…, sami mawon ternyata…

(Tanjung Selor, 2 Desember 2010)

——-

(11). Ikan Senangin Goreng Di RM “Bagi Alam” Tanjung Selor

Makan siang… Ikan lagee, ikan lagee… Kali ini ke RM Ikan Bakar “Bagi Alam”, Jl. Sengkawit, Tanjung Selor, Bulungan (Kaltim). Pilihan jatuh ke ikan senangin goreng (tidak tahu apa nama lain dari ikan ini), lalapan (tapi matang) kacang panjang, kol, sawi hijau, paria… Menu pembukanya too-sottoo… Wah, menunya ikan terus? “Baik untuk orang seusia kita”, kata temanku… (asal tidak bosan saja…).

(Tanjung Selor, 2 Desember 2010)

——-

(12). Tidak Ada Sinyal Hape

Hari hampir malam ketika kemarin tiba di desa Binai, kecamatan Tanjung Palas Timur, kabupaten Bulungan, setelah menempuh perjalanan hampir dua jam ke arah tenggara dari Tanjung Selor. Di daerah ini ada batubara dan itulah tujuan kunjungan saya…

Tapi tidak ada sinyal hape, manjat pohon pun belum tentu dapat. Untuk mendapatkan sinyal harus pergi ke tempat terbuka yang berjarak sekitar 6 km. Coba kalau ada yang jual…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(13). Menu Sayur Pucuk Nibung

Angkasa Binai begitu cerah tadi malam. Kupandang langit penuh bintang bertaburan…, tapi bulan belum tiba waktunya berkunjung. Di sebuah rumah, kunikmati makan malam dengan menu sayur pucuk nibung. Sejenis pohon palem hutan. Setelah dimasak, bentuk dan rasanya seperti sayur keluwih atau jantung pisang.

Sebenarnya tidak ada rasanya. Kok… dimakan? Karena indra pencecap merasakan taste yang khas. Pokoknya woenak.., dan habis banyak…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(14). Disuguh Kopi Panas Dan Jagung Rebus

Kami tinggal di sebuah rumah penduduk. Pak Antung pemilik rumah itu, adalah salah seorang sesepuh desa Binai. Bercengkerama (kata dasarnya bukan ‘cengkeram’) di rumah panggungnya hingga tengah malam, menambah wawasan tentang masyarakat Binai. Sambil disuguh kopi panas dan jagung manis rebus masih panas yang jagungnya baru dipetik dari ladang. Hmmmm…, biar perut sudah kenyang tapi tetap saja habis dua jagung ukuran besar…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan (3)

7 Januari 2011

(15). Hujan Pagi Di Binai

Pagi cerah di desa Binai. Suasana masih terlihat sepi belum nampak ada aktifitas pagi di desa. Tapi kecerahan pagi itu hanya sebentar, sebab kemudian tiba-tiba turun hujan deras…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(16). Segarnya Air Binai

Semalam tidur nyenyak (jelas karena kelewat ngantuk) padahal tadi malam malas mandi, maka mandi pagi tadi terasa begitu menyegarkan. Kesegaran air desa itu mengalahkan kesan air sumur yang berwarna kecoklatan seperti air sungai, tapi jelas tidak sekeruh lahar dingin…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(17). Penduduk Asli Dayak Punan

Desa Binai yang dibelah oleh sungai Binai, dihuni hanya oleh sekitar 1000 jiwa dengan penduduk aslinya suku Dayak Punan. Tapi saat ini Binai juga dihuni suku pendatang. Selain pendatang lokal yaitu Dayak Kenyah yang malah menjadi penduduk mayoritas, juga pendatang interlokal dari Sulawesi (Bugis, Palopo, Pinrang, Sidrap, Bone, dll), dan ada juga dari Jawa.

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(18). Hutanku Tak Lagi Rimba

Penduduk Binai tinggal tersebar-sebar, walau ada yang mengelompok di satu kawasan, di desa yang begitu luas yang barangkali seluas sebuah kabupaten di Jawa. Jangan tanya bagaimana Pak Kades mengurus warga dan desanya, sedang prasarana jalan umumnya masih berupa jalan tanah berkerikil atau kerikil bertanah, di sela-sela hutan nan luas.

Tapi hutanku tak lagi rimba belantara, sebagian sudah dimangsa mesin HPH. Hingga rusa dan babi pun tak lagi nyaman diajak hidup bersama.

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(19). Hidup Dari Menggesek

Sebagian masyarakat Binai hidup berladang padi hutan, sayur, buah, dll. tapi terkesan tidak “serius” sehingga tidak berkembang karena tidak mudah untuk menjual hasilnya. Keterbatasan transportasi adalah masalahnya. Belum lagi harga premium yang bisa lebih dari Rp 10 ribu/liter. Sebagian lainnya menggesek alias menggergaji atau menebang pohon untuk dijual kayunya.

Illegal logging? Aah…, tak seujung gesekan mata gergajinya orang dari Jakarta…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(20). Sholat Jum’at Di Binai

Cuaca hari ini ternyata banyak mendung lalu hujan merata. Siang tadi Jum’atan di masjid At-Tawwabin di sisi timur sungai Binai, dimana banyak dihuni masyarakat dari Sulawesi, terutama Bugis. Konstruksi masjid ini menyerupai rumah-rumah lokal yaitu rumah panggung tapi tidak terlalu tinggi, berbahan kayu.

Hingga usai Jum’atan hujan semakin nampak awet, nggaak…selesai-selesai. Agenda ke lapangan jadi tidak efektif, maka agar efektif ya tidak usah ke lapangan..

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(21). Tumis Daun Singkong Ditumbuk

Karena hujan tidak juga reda, ke lapangan tidak bisa, ya makan saja… Kali ini oleh tuan rumah dimasakkan menu tradisional, yaitu daun singkong mentah ditumbuk lalu ditumis. Katanya itu masakan khas mereka. Kutanyakan apa namanya? Dijawab: “Daun singkong ditumbuk”.

Jadi namanya memang panjang, yaitu tumis daun singkong ditumbuk… Maka rahasia enak-tidaknya tergantung pada cara menumisnya. Dan memang enak…

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(22). Mengeroyok Singkong Rebus

Habis makan lalu leyeh-leyeh menunggu hujan yang belum reda juga. Lha kok disusul dengan suguhan kopi panas dan singkong rebus. Singkongnya mukibat alias singkong kuning. Enggak tega rasanya untuk diacuhkan begitu saja. Biarpun sudah terasa kenyang, tetap saja singkong rebusnya habis dikeroyok, ditemani segelas kopi panas. Huuuu…, dasar! (dasar enak, maksudnya).

(Binai – Bulungan, 3 Desember 2010)

——-

(23). Pisang Goreng Tanpa Rasa

Sebelum meninggalkan Binai sore tadi, disuguhi kue sederhana tapi mantap nian. Pisang goreng tanpa rasa… Pisang kepok (kapok) yang belum masak, dipenyet, digoreng, langsung disantap kalau suka, gurih rasanya… Jika tidak, bubuhi dengan susu coklat atau apa saja yang disukai, bahkan sambal dan saos.

Menu ini cocok untuk orang-orang yang tidak sabar menunggu pisangnya masak lebih dulu atau nggak punya alternatif lain… Tapi dijamin, woenak tenan rasanya…

(Tanjung Selor, 3 Desember 2010)

——-

(24). Terperosok Di Jalan Licin

Setengah dari rute Binai ke Tanjung Selor yang berjarak sekitar 75 km, berupa jalan tanah. Idealnya ditempuh dengan kendaraan 4WD karena ketika habis hujan, jalan yang naik-turun bukit itu menjadi sangat licin dan berlumpur.

Sore tadi dalam perjalanan kembali ke Tanjung Selor, Innova yang kami naiki serong kanan serong kiri hingga terpeleset lalu terperosok. Maka harus nunggu bantuan mobil lain untuk ditarik kembali ke jalan yang benar… Untung tidak menunggu lama…

(Tanjung Selor, 3 Desember 2010)

——-

(25). Ayam Bakakak Di RM “Parahyangan” Tanjung Selor

Makan malam di Saung & Lesehan “Parahyangan” Tanjung Selor. Resto lesehan yang bernuansa desa dengan kolam-kolam di bawahnya. Tapi itu hanya cocok saat siang hari. Kucoba menu beda selain ikan, pilihan pada ayam bakakak. Terbayang daging ayam kampung goreng yang kress ketika digigit.

Ternyata bayanganku meleset…, tersaji ayam yang dagingnya keras sehingga harus ditangani dengan kekerasan pula. Tapi lumayanlah, untuk ancang-ancang perjalanan pulang besok.

(Tanjung Selor, 3 Desember 2010)

——-

Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan (4-Selesai)

7 Januari 2011

(26). Menyeberang Dengan Jadwal Pertama

Gerimis pagi di Tanjung Selor… Bergegas menuju dermaga penyeberangan di sungai Kayan, mengejar jadwal pertama KM (kapal motor) yang menuju Tarakan. Ternyata KM Kalimantan yang kami tumpangi tidak ingkar janji… Jam 8:00 WITA teng.., kapal berkapasitas sekitar 30 orang tanpa alat pelampung (sejenis yang terbalik di Nunukan kemarin) pun melaju.

Perjalanan pulang ke Jogja hari ini segera dimulai… Tanjung Selor – Tarakan – Balikpapan – Jogja.

(Tanjung Selor, 4 Desember 2010)

——-

(27). Duduk Di Belakang Pak Nakoda

Duduk di belakang pak nakoda yang sedang bekerja, mengendarai speed boat supaya baik jalannya… (Menyeberang dari Tanjung Selor ke Tarakan). Ngobrol dan bercanda sejenak dengan pak nakoda sebelum beranjak meninggalkan KM Kalimantan sambil menunggu giliran penumpang turun dari kapal (turun dari kapal tapi sebenarnya justru naik ke dermaga).

(Tarakan, 4 Desember 2010)

——-

(28). Mampir Ke RM Kepiting Saos Kenari Tarakan

Aha…, akhirnya sempat juga mampir ke rumah makan Kepiting Saos Kenari, Tarakan. Setelah belanja oleh-oleh ikan jambal, sebelum tiba di bandara Juwata Tarakan, mampir dulu makan pagi merangkap siang (kaena itu makannya harus agak banyak) dengan menu kepiting asam manis dan lada hitam. Wow…, sebaiknya jangan lewatkan…

(Tarakan, 4 Desember 2010)

——-

(29). Ruang Tunggu Tanpa Fasilitas

Memasuki ruang tunggu keberangkatan bandara Juwata Tarakan, pastikan Anda sudah ngopi, sudah sholat dan sudah kencing… Sebab di ruang tunggu bandara internasional kelas 1 ini tidak dilengkapi (mudah-mudahan belum) fasilitas kantin, mushola dan toilet. Harus keluar dari gerbang security check dulu untuk menemukan fasilitas-fasilitas tsb. Jika Anda telanjur berada di dalam, maka bersiaplah untuk celingukan…

(Tarakan, 4 Desember 2010)

——-

(30). Sambil Berkumur-kumur Dikejar Anjing

Aku duduk di kursi dekat jendela darurat di pesawat Lion Air dari Tarakan ke Balikpapan. Seperti biasa, awak kabin memberi penjelasan tentang tugas penumpang yang duduk dekat “emergency exit”. Bicaranya cepat sekali secepat pesawat yang mau take off.

Penumpang di sebelahku berkomentar: “Ngomong kok seperti orang berkumur-kumur”. Kubalas komentarnya sambil tertawa kecil: “Iya, berkumur-kumur sambil dikejar anjing…”.

(Balikpapan, 4 Desember 2010)

——-

(31). Penumpang Sebelah Yang Luar Biasa

Penumpang di sebelah saya yang tadi ngatain pramugari berkumur-kumur itu memang luar biasa. Mulanya sekedar basa-basi sapa-menyapa. Lama-lama bercerita panjang-lebar ngalor-ngidul. Setelah tahu saya dari Jogja, lalu memberi kuliah tentang terjadinya letusan gunung berapi dan gempa. Walaupun ceritanya salah ya terpaksa saya tinggal tidur saja….

Ma’aaaaaf…, kondisi saya sedang nguwantuk berat karena beberapa hari ini kurang tidur…

(Balikpapan, 4 Desember 2010)

——-

(32). Antara Duduk Persoalan Dan Duduk Di Pesawat

Duduk dekat jendela darurat di pesawat memang enak, lebih longgar. Mereka disebut “Able Bodied Passanger” (penumpang yang mampu membantu awak kabin) dan punya tugas ekstra cukup berat ketika keadaan darurat. Tapi kertas petunjuk biasanya hanya dilirik saja.

Awak kabin pun cukup mengingatkan sebentar dan berkata: “Silakan baca petunjuknya, hubungi kami kalau ada pertanyaan”. Bertanya itu kan bagi yang paham duduk persoalan, sedang kebanyakan hanya paham duduk di pesawat..

(Balikpapan, 4 Desember 2010)

——-

(33). Terminal Lion Air Di Bandara Sepinggan

Pesawat Lion Air di bandara Sepinggan Balikpapan menempati fasilitas bangunan baru. Ketika transit di Balikpapan, begitu turun dari pesawat, penumpang akan diarahkan ke gedung berbeda, tapi terkadang tidak ada petunjuk yang jelas (pengguna Lion Air yang pertama kali transit di Balikpapan, kalau ragu sebaiknya tanya). Di gedung transit hanya dilayani sedikit petugas di antrian yang sempit. Siap-siap melonggarkan syaraf sabar Anda…

(Yogyakarta, 4 Desember 2010)

——-

(34). Ikan Asin Itu Bau

Boarding..! Masuk ruang tunggu bandara Balikpapan, pak Satpam minta saya membuka tas kabin. Dibukanya bungkusan rapat itu dan dicium, katanya: “Ini bau ikan asin, harus dibagasi”. Sejak nabi Adam ikan asin itu ya bau (padahal nabi Adam belum tentu kenal ikan asin). Kataku: “Sebelum bapak buka tadi bungkusannya rapat dan tidak bau”. Tetap dilarang.

Maka kutinggal saja dan saya sengaja tidak tersenyum (tidak tersenyum kok sengaja), pertanda ikhlas tapi kesal…

(Yogyakarta, 4 Desember 2010)

——-

(35). Bagasiku Tak Kunjung Datang

Jogja masih mendung tipis habis hujan menjelang petang, saat akhirnya saya mendarat di bandara Adisutjipto Jogja. Alhamdulillah…

Celingak-celinguk di tempat pengambilan bagasi sampai semua penumpang menghilang tapi bagasiku tak kunjung datang. Kemana gerangan itu sekotak ikan jambal dari Tarakan? Akhirnya saya tinggal pulang sambil tawakkal kepada bagian “Lost & Found” Lion Air. Semoga tidak ingkar janji…

(Yogyakarta, 4 Desember 2010)

——-

(36). Dilayani Sambil Melirik Facebook

Memasuki bagian “Lost & Found” Lion Air, terlihat ada dua orang petugas sedang mencermati layar monitor. Kubiarkan dulu agar tidak mengganggu kesibukan mereka. Lama-lama jadi penasaran, kok layarnya dominan warna biru. Kulongokkan kepalaku. Weee, ladhalah..! Lagi fesbukan to…

Yo wis, kubiarkan sesaat sampai kemudian salah seorang menyadari kehadiranku. Aku pun dilayani sambil halaman FB tetap ada di sana, sedang laporanku cukup ditulis tangan…

(Yogyakarta, 4 Desember 2010)

——-

Hari Pernikahan Ke-20

28 Desember 2010

Pagi-pagi kukirim SMS ke ibunya anak-anak: “Selamat hari pernikahan yang ke-20. Semoga kita selalu ada dalam lindungan dan ridho Allah swt”.

Jawabnya singkat: “Amin”. Jawaban yang harus saya pahami sebagai ekspresi syukur, bahagia, haru, atau biasa-biasa saja..?

Tapi jelas surprise, sebab inilah untuk pertama kali selama 20 tahun kami mengingatnya, saat saya ada di seberang pulau. Selama itu kami tidak pernah perduli. Apa artinya tanggal 2 Desember kalau setiap hari kami selalu bersyukur..

Tanjung Selor – Bulungan, 2 Desember 2010
Yusuf Iskandar

Kartu Magnet Vs HP

9 Oktober 2010

Semalam di Balikpapan… Kupilih menginap di hotel “Nuansa Indah”, hanya karena saya suka dengan namanya (selain karena baru direnovasi sehingga suasananya seindah nuansanya). Tapi sempat agak jengkel ketika kartu magnet yang berfungsi sebagai kunci kamar tidak bisa dipakai untuk membuka pintu lorong. Terpaksa turun lagi ke lobby. Kata mbak resepsionis: “Kartunya jangan didekatkan HP karena magnetnya rusak”. (Celathu… Kuterima juga penjelasannya, tapi benarkah?)

Balikpapan, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Lampu Penyeberang Jalan

9 Oktober 2010

Malam, di tempat penyeberangan “resmi” di Jl. Sudirman, Balikpapan. Mau nyeberang jalan saja susah 1/2 mati melebihi rasa rindu. Terbaca sebuah tulisan kecil di tiang lampu: “Menyeberang tekan tombol ini”. Langsung saya tekan saja tombolnya.

Ternyata benar, lampu tanda menyeberang berganti hijau dan lampu lalulintas berganti merah. Yang tidak benar adalah, pengguna jalan cuek bebek tetap saja tidak berhenti oleh lampu merah. Wooo.., tobil anak kadal!

Balikpapan, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Pak Burhanuddin Sang Tukang Ojek

9 Oktober 2010

Cara mengendarai motornya terkesan hati-hati, pelan-pelan saja, tidak grusa-grusu seperti tukang ojek umumnya. Dialah Haji Burhanuddin, asli Samarinda, kakek empat cucu dari empat anak. Telah 12 tahun mengojek, sejak memutuskan banting setir dari profesi sebelumnya sebagai bagian marketing toko alat tulis. Alasannya (banting setir) sederhana, karena pekerjaan sebelumnya membuat dia sulit menghindar dari perilaku “kong kalikong untuk korup” ketika harus bertransaksi dengan instansi pelanggannya.

Samarinda, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar