Archive for Maret, 2008

Terjebak Lumpur Di Berau, Kaltim

28 Maret 2008

terjebak lumpur

Hujan semalam telah menyebabkan transportasi di jalan poros antara Samarinda – Tanjung Redeb, Kaltim, terhambat cebakan lumpur. Jalan poros ini adalah satu-satunya sarana transportasi darat bagi masyarakat dari kedua kabupaten, Berau dan Kutai Timur, baik untuk transportasi penumpang, logistik maupun keperluan ekonomi lainnya.

Cebakan terparah terjadi pada lokasi sekitar 535 km utara Balikpapan, atau jam ke-15 perjalanan darat dari Balikpapan, di tengah hutan di dekat perbatasan antara Kabupaten Kutai Timur dengan Berau.

(Foto – Ketika kijang Innova yang saya tumpangi sedang berusaha ditarik keluar dari cebakan lumpur setelah menunggu cukup lama, tanggal 5 Januari 2008, jam 14:00 WITA – Yusuf Iskandar)

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

Pengantar :

Berhubung tidak kebagian tiket pesawat Balikpapan – Tanjung Redeb, maka akhirnya saya dan 4 orang teman nekat menempuh perjalanan darat menyusuri jalan Trans Kalimantan atau juga disebut dengan jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb. Perjalanan ini adalah dalam rangka kunjungan ke lokasi tambang batubara di wilayah Kabupaten Berau, Kaltim, dari tanggal 4 sampai 7 Januari 2008. Berikut adalah catatan perjalanan saya, dan masih ada beberapa catatan kuliner yang saya tulis terpisah. Sekedar ingin berbagi cerita.  

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb
(2).   Pesona Wisata Yang Luar Biasa Ada Di Berau
(3).   Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb
(4).   Ketika Gadis Jawa Tertipu Di Teluk Bayur
(5).   Penumpang Kepagian

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Muara WahauHari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Yogyakarta, 11 Januari 2007.
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(2).   Pesona Wisata Yang Luar Biasa Ada Di Berau

PerahuSebagai ibukota kabupaten Berau, Tanjung Redeb hanyalah sebuah kota kecil. Tidak perlu waktu lama untuk berkeliling melewati semua jalan yang ada di kota itu. Belum terlalu padat penduduknya. Demikian halnya lalulintas kota Tanjung Redeb relatif masih belum padat. Kalau sesekali tampak kesemrawutan lalulintas kotanya, itu seringkali karena ulah pengendara sepeda motor yang (sepertinya sama di hampir setiap kota) “belum pernah” belajar sopan santun berlalu lintas.

Saya ingin memberi penekanan pada kata “belum pernah”. Coba perhatikan proses seseorang sejak memiliki sepeda motor hingga ber-SIM di jalan raya. Sama sekali tidak ada tahap mempelajari tata tertib atau lebih lazim disebut sopan santun berlalulintas. Meski sebenarnya bukan monopoli pengendara sepeda motor saja, juga sopir-sopir mobil.

Tanpa mempelajari aturan berlalulintas pun siapa saja dapat memiliki SIM. Akibatnya? Rambu-rambu lalulintas ya hanya sekedar hiasan jalan. Piranti lampu sign ya hanya sekedar asesori sepeda motor. Sampai-sampai di Banjarmasin pak polisi perlu memasang spanduk di mana-mana yang mengingatkan agar menghidupkan lampu sign ketika belok. Atau di Jogja banyak sepeda motor tanpa lampu berkeliaran di malam hari. Ngebut lagi! Uedan tenan! (pernah saya singgung, wong sepeda motor tidak ada lampunya kok dibeli……)

***

Meski hanya sebuah kota kecil, kini Tanjung Redeb dan Berau sedang menggeliat. Pasalnya kota ini dipilih menjadi salah satu lokasi untuk ajang Pekan Olahraga Nasional ke-17 pada bulan Juli tahun 2008 ini, dimana provinsi Kaltim menjadi tuan rumah. Hampir di setiap sudut kota, terlebih jalan-jalan protokol, sedang dibenahi. Kondisi jalannya, trotoarnya, saluran airnya, dan berbagai fasilitas kota sedang direnovasi dan ditata agar tampil lebih baik.

Tanjung Redeb khususnya dan kabupaten Berau pada umumnya, memang sudah sepantasnya melakukan itu. Kabupaten ini memiliki pesona wisata yang luar biasa yang belum digarap maksimal oleh penguasa setempat. Keindahan alamnya, baik di darat maupun di laut dengan wisata baharinya. Wisata sejarah dan budaya dari sisa peninggalan kerajaan Berau serta museumnya. Juga masih bisa dijumpai jejak peninggalan jaman Belanda. Semuanya menawarkan pesona wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Tanjung Redeb yang letaknya berada di dekat muara sungai Berau, dari sana mudah untuk menjangkau kawasan pulau Derawan dan Sangalaki yang terkenal memiliki keindahan alam laut dan bawahnya. Sebagian wisatawan menyebutnya sebagai sorga bawah laut terindah di dunia. Tentu ini adalah ekspresi untuk melukiskan betapa keindahan yang ditawarkan oleh pesona alam di daerah ini. Belum lagi kekayaan biota laut dan keindahan ekosistem kelautan yang banyak dikagumi oleh para wisatawan.

Kawasan kepulauan Derawan ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari ratusan buah pulau yang berada di delta sungai Berau. Sebagian sudah bernama, sebagian lainnya belum punya nama. Mudah-mudahan saja pemerintah Berau mampu mengurusnya agar tidak dicaplok oleh negeri jiran seperti nasib tetangganya, pulau Sipadan dan Ligitan, hanya karena pemerintah Indonesia dianggap tidak mampu mengurusnya.     

Hutan yang ada di wilayah kabupaten Berau termasuk yang terbesar yang masih utuh di Indonesia. Salah satu tipe hutan yang istimewa di Berau adalah hutan kapur dataran rendah. Tipe hutan ini hanya ada di Kalimantan Timur, sementara yang ada di tempat lain kondisinya sudah tidak sebaik yang ada di Berau. Keistimewaan lain kabupaten Berau adalah masih dijumpainya populasi orangutan. Bisa jadi kawasan ini kelak akan menjadi benteng pelestarian orangutan alami, agar tidak semakin punah populasinya.

Menilik sejarah pemerintahan di jaman baheula, kerajaan Berau berdiri pada abad 14 dengan rajanya yang memerintah pertama kali adalah Baddit Dipattung yang bergelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan permaisurinya bernama Baddit Kurindan yang bergelar Aji Permaisuri. Dalam perjalanan pemerintahan kerajaan Berau kemudian, hingga pada keturunan ke-13, Kesultanan Berau terpisah menjadi dua yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Kini masih dapat disaksikan peninggalan bersejarah kesultanan keraton dan museum Sambaliung dengan rajanya yang terakhir Sultan M. Aminuddin (1902-1959).

Kalau saja memiliki waktu agak longgar berada di Tanjung Redeb, rasanya sayang kalau tidak menyempatkan mengunjungi berbagai obyek wisata di sana. Ada pesona wisata yang belum banyak terjamah oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Tinggal pintar-pintar saja bagaimana pemerintah Berau menjualnya.

Di Tanjung Redeb tidak sulit menemukan tempat untuk menginap. Kota ini juga memiliki banyak pilihan penginapan, mulai dari hotel kelas bintang, melati hingga kelas backpakker yang murah-meriah.

Untuk mencapai Tanjung Redeb pun tidak terlalu sulit. Meskipun belum ada pesawat besar yang menyambangi, setidaknya pesawat kecil masih midar-mider baik langsung dari Balikpapan maupun melalui Tarakan lalu disambung dengan kapal ferri. Mau mencoba lewat darat menyusuri jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb juga bisa jadi petualangan yang mengasyikkan. Mudah-mudahan kelak tidak perlu lagi 20 jam lewat darat, untuk menikmati pesona wisata yang luar biasa yang ditawarkan kabupaten Berau.

Yogyakarta, 12 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(3).   Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb

masjidWilayah kabupaten Berau yang luasnya sekitar 34 ribu kilometer persegi dan kini barangkali hanya dihuni oleh sekitar 150 ribu jiwa penduduknya, relatif merupakan kawasan yang masih sangat longgar. Sebagian besar penduduknya terkonsentrasi di wilayah ibukota Tanjung Redeb. Kecepatan pertumbuhan kotanya banyak dipengaruhi oleh karena banyaknya kaum pendatang. Mayoritas masyarakat etnis Bugis dan Jawa berada di kawasan ini, sedangkan sisanya adalah campuran antara penduduk asli suku Banua, etnis Cina dan pendatang lainnya.

Semula saya mengira penduduk asli Berau adalah suku Dayak, tapi rupanya dugaan saya keliru. Penduduk asli Berau adalah suku Banua yang merupakan turunan dari suku bangsa Melayu. Memang di bagian pedalaman wilayah Berau juga dijumpai komunitas suku Dayak, seperti hanya pedalaman Kalimantan di wilayah lainnya.

Pusat kota Tanjung Redep ditandai dengan adanya kawasan perkantoran bupati Berau yang cukup mentereng. Ada taman kota Cendana yang asri di depan kompleks kantor bupati. Juga ada masjid agung Baitul Hikmah yang tergolong megah dengan dominasi warna hijau dan dengan lima buah menaranya. Kemegahan masjid ini mengingatkan saya pada kemiripannya dengan masjid di kota Tanah Grogot ibukota kabupaten Pasir, dan dalam ukuran lebih besar adalah masjid Islamic Center di kota Samarinda.

Salah satu menara masjidnya yang konon tingginya mencapai 70 meter, sebelumnya sering dimanfaatkan masyarakat untuk wisata angkasa (maksudnya melihat pemandangan dari ketinggian). Mbayar, tentu saja…. Tapi gara-gara sekarang menara itu dihuni secara liar oleh ribuan burung walet untuk menyimpan sarangnya, dan konon ada ratusan sarang walet nyangkut di dinding menara yang siap dipanen setiap bulan, maka wisata ketinggian pun bubar. Untung saja pihak pengelola masjid tidak berniat membangun menara lagi agar dapat menampung lebih banyak burung walet……
Kalau kini melihat geliat ekonomi di Tanjung Redeb semakin pesat, itu antara lain berkat naluri bisnis para pendatang yang mengimbangi pertumbuhan sektor industri yang didominasi oleh industri perkayuan dan pertambangan batubara.

Seperti diketahui bahwa wilayah di provinsi Kalimantan Timur ini juga kaya akan sumberdaya alam batubara, selain minyak. Dan kabupaten Berau adalah salah satu kabupaten yang juga menyimpan kekayaan alam batubara. Sebuah perusahaan batubara, PT Berau Coal, kini masih aktif beroperasi di wilayah itu. Untuk alasan yang masih terkait dengan batubara pula saya jauh-jauh menjelajah ke wilayah Berau.

Menjadi harapan semua pihak tentunya agar kekayaan alam yang luar biasa itu mampu dikelola dengan arif dan bijaksana oleh pihak penguasa setempat demi kesejahteraan masyarakat Berau, bukan hanya pejabatnya. Sudah cukup banyak pelajaran serupa yang terjadi di tempat lain. Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik oleh pemerintah Berau.  

***

Salah satu sentra keramaian di Tanjung Redeb adalah kawasan yang disebut dengan Tepian. Ini mirip-mirip Tepian di Samarinda, hanya beda luas dan panjang arealnya. Sesuai namanya, kawasan ini memang berada di tepi sungai Segah, atau terkadang disebut sungai Berau yang lebarnya lebih 100 m dan tinggi muka airnya kurang dari satu meter dari daratannya. Makanya di sepanjang tepian ini sekarang sudah dibangun tanggul tembok guna mengatasi air pasang. Sungai Segah atau sungai Berau ini merupakan pertemuan dari dua buah sungai besar yang mengalir di wilayah kabupaten Berau, yaitu sungai Kelay dan Segah.

Kawasan Tepian ini panjang arealnya hanya beberapa ratus meter saja. Tapi setiap sore hingga malam ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati aneka jajanan makanan dan minuman sambil bersantai menikmati pemandangan malam sungai Segah yang sebenarnya remang-remang tapi tampak kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Terlebih saat malam Minggu tiba, kawasan ini seperti pasar malam. Ini memang tempat mangkalnya anak-anak muda Berau. Jalan A. Yani yang membentang di sepanjang tepian sungai pun jadi padat.

Di sebelah selatannya adalah kawasan pasar, orang menyebutnya pasar Bugis karena memang banyak pedagangnya yang berasal dari Bugis. Sedangkan pada penggal jalan di sebelah utaranya adalah tempat berkumpulnya puluhan warung tenda yang menyediakan segala macam menu makanan. Warung-warung tenda ini juga buka hanya pada waktu sore hingga malam hari. Menilik tulisan warna-warni yang ada pada setiap kain penutup warung tenda itu mudah ditebak bahwa mereka pasti pedagang pendatang dari luar Berau.

Pada sekitar awal dekade tahun 70-an, diantara para pendatang dari Sulawesi masuk ke Berau dengan becaknya (maksudnya merantau untuk menjadi tukang becak, kalau datangnya ya naik kapal…..). Pendatang dari Jawa pun tidak mau kalah menyemarakkan dunia perbecakan di Tanjung Redeb. Namun belakangan pemerintah Tanjung Redep mulai merasa risih melihat bahwa populasi becak semakin tidak terkendali.

Dan, ketika masyarakat pembecak berinteraksi dengan para penyepedamotor, ditambah kurang sopannya berlalulintas di tengah kota, maka lalulintas kota pun terlihat semakin semrawut. Becak terpaksa dikalahkan. Pemerintah akhirnya memutuskan menghapus becak dari bumi Tanjung Redep. Maka sejak dua-tiga tahun yang lalu, kota Tanjung Redeb yang dijuluki sebagai kota “Sanggam” yang katanya berarti cantik, pun menjadi kota tanpa becak.

Namanya juga becak, jarang ada yang parasnya cantik (apalagi tukang becaknya…..), sehingga bak penampakan dari dunia lain, becak dianggap mengganggu upaya Tanjung Redeb untuk menjelma tampil cantik, atau “sanggam” seperti julukannya. Kalau ada kota di dataran rendah yang tidak ada becaknya, maka Tanjung Redeb adalah salah satunya.

Yogyakarta, 13 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(4).   Ketika Gadis Jawa Tertipu Di Teluk Bayur

perahu3Niatnya mau mencari jalan terobosan dari jalan raya menuju ke tepian sungai Segah. Tapi rupanya sulit. Semak dan rawa menghadang. Terpaksa kudu mencari jalan lain, dan satu-satunya jalan adalah mengambil jalan memutar menyusuri sungai Segah. Berarti harus menyewa ketinting atau perahu motor di pelabuhan Teluk Bayur.

Siang itu panas cukup terik di tengah cuaca yang masih tidak menentu, karena tiba-tiba angkasa bisa berubah menjadi mendung dan turun hujan. Agar perjalanan berikutnya lebih bersemangat, kami istirahat makan siang dulu. Tempat yang kami pilih adalah Taman Hutan Wisata “Sei Tangap”. Di dekat gerbang taman ini kami duduk lesehan di tanah sambil menikmati bekal makan siang yang sudah disiapkan sejak pagi. Hawa sejuk di bawah kerimbunan pepohonan membuat suasana santai dan menyenangkan.

Hutan Wisata “Sei Tangap” adalah kawasan hutan milik Inhutani I yang dulu pernah menjadi kebanggaan masyarakat Berau sebagai taman rakyat. Di sana ada aneka jenis tanaman yang dirawat dan dikelola dengan baik. Konon ada juga koleksi hewan liar yang ada di hutan Berau. Ya, itu dulu pada masa jayanya industri perhutanan. Sebab sekarang taman itu tampak sekali tidak terurus, kotor dan tidak ada menarik-menariknya babar blass…. Kecuali tinggal pintu gerbang masuknya yang masih utuh. Itu pula yang paling pantas difoto.

Kini, hewan-hewan koleksi taman ini tidak jelas kemana perginya, entah dipelihara orang, dijual, mati atau malah kabur menyelamatkan dirinya masing-masing, ya dirinya hewan-hewan itu. Kalau pepohonannya jelas masih ada di sana, lha siapa yang mau ngangkut…., tapi tidak terurus dan tampak rimbun dengan semak belukar. Sayang sekali sebenarnya.

***

Setelah perut terisi, perjalanan dilanjutkan menuju pelabuhan Teluk Bayur. Langsung saja kami menghampiri deretan ketinting yang tertambat di dermaga kayu (maksudnya dermaga yang terbuat dari konstruksi kayu, bukan dermaga untuk mengangkut kayu). Setelah tawar-menawar, lalu disepakati biayanya Rp 150.000,- untuk jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Harga itu sudah termasuk sewa perahu, jasa sopirnya dan BBM. Termasuk murah, karena di tempat lain ada yang sampai 2-3 kali lipat biaya sewanya. Tapi ya itulah satu-satunya cara untuk menuju tepian sungai yang menjadi tujuan semula.

Sebuah ketinting berukuran sedang segera meninggalkan pelabuhan Teluk Bayur ke arah hulu sungai. Perahu berjalan santai, terkadang di sisi kiri sungai, terkadang menyeberang di sisi kanan sungai. Padahal lebar sungainya sekitar 75 meteran dengan tanaman bakau mendominasi di sepanjang pinggiran sungai, selain semak belukar. Tidak banyak terlihat pemukiman penduduk kecuali yang ada di seputar pelabuhan Teluk Bayur.

Belum jauh melaju ke hulu, terlihat kawasan pelabuhan batubara dan tongkang-tongkang yang sedang memuat batubara yang diangkut dari tambang. Perjalanan saya menyusuri sungai Segah ini memang masih terkait dengan pelabuhan pemuatan batubara. Ketika tiba di lokasi yang sudah direncanakan yang semula hendak ditembus lewat darat, perahu kami berhenti sebentar sambil sekilas mengamati keadaan sekeliling, memetakan lokasinya dan mendokumentasikannya. Inilah lokasi yang dipandang ideal untuk dibangun infrastruktur pelabuhan pemuatan batubara sebagai bagian dari tahapan proses penambangan batubara. Jaraknya sekitar 45 menit berketinting dari pelabuhan Teluk Bayur ke arah hulu.

Teluk Bayur adalah kota kecamatan yang jaraknya sekitar 6 km dari kota Tanjung Redeb ke arah hulunya. Sama-sama terletak di tepian sungai Segah. Rumah-rumah kayu mendominasi kawasan pemukiman di pelabuhan nelayan Teluk Bayur.

Wilayah kecamatan Teluk Bayur dapat dibilang sebagai kota tua di Tanjung Redeb atau Berau. Di daerah inilah dahulu bangsa Belanda banyak bermukim. Maka tidak heran kalau di wilayah ini masih banyak dijumpai bangunan-bangunan tua sisa peninggalan Belanda. Pasti menjadi rumah para meneer yang berkuasa atas operasi penambangan batubara. Hingga kini aktifitas yang terkait perbatubaraan di kecamatan Teluk Bayur pun masih berlanjut. Bahkan semakin marak dengan munculnya para investor, tak terkecuali para spekulan lahan.

Kalau tentang batubaranya sendiri sebenarnya tidak membuat saya heran. Siapapun yang menggeluti dunia pertambangan pastinya tahu bahwa di daerah itu memang banyak memiliki potensi sumberdaya alam, termasuk batubara. Justru yang membuat saya heran adalah kenapa wilayah kecamatan itu dinamai Teluk Bayur? Tadinya saya menduga barangkali di kawasan itu banyak perantau yang berasal dari ranah Minang atau Sumatera. Rupanya tidak. Justru banyak pendatang dari Sulawesi dan Jawa.

Rasa penasaran saya akhirnya “agak” terjawab setelah mendengar cerita dari pak sopir yang mobilnya saya sewa. Saya katakan “agak”, karena sebenarnya cerita itu masih dapat diperdebatkan dan berbau “plesetan”.

***

Alkisah, pada jaman penjajahan Belanda dulu (jaman Belanda adalah sebuah jaman yang sering dijadikan kambing hitam atas cerita yang tidak jelas ujung-pangkalnya). Ada seorang londo Belanda datang ke Jawa. Rupanya sang Londo kepincut dengan seorang gadis Jawa. Sang perawan Jawa pun tak bertepuk sebelah tangan. Lebih-lebih ketika diiming-iming bahwa kalau menikah nanti bakal diboyong ke Teluk Bayur.

Wow… Dalam bayangan sang perawan Jawa ini, Teluk Bayur adalah sebuah tempat di pinggir pantai barat Sumatera nan indah, elok bin menawan. Pendeknya, tempat yang sangat mengasyikkan. Impian pun membawa gadis Jawa itu bak terbang melayang membayangkan sebuah firdaus yang bernama Teluk Bayur.

Namun apa lacur. Entah kenapa, sang Walondo muda dan tampan itu tidak jadi ke Teluk Bayur di pantai barat Sumatera. Barangkali ada rotasi kerja atau mutasi pindah tugas dinasnya, sehingga sebagai anggota kumpeni pun dia tidak bisa menolak surat tugas dari sesama kumpeni yang pangkatnya lebih tinggi.

Sang Londo ternyata harus menyeberang ke Kalimantan. Sama-sama menyeberang dari Jawa, tapi tidak jadi ke Teluk Bayur, Sumatera Barat, melainkan ke kawasan sungai Segah di Berau, Kalimantan Timur. Demi agar tidak mengecewakan gadis pujaannya, maka sang Londo pun berkata kepada gadisnya bahwa mereka tiba di pelabuhan Teluk Bayur. Sang gadis pun meyakini telah berada di Teluk Bayur hingga akhir hayatnya. Maka sampai sekarang kawasan tempat dimana gadis Jawa itu tertipu, disebut sebagai Teluk Bayur.

Benarkah demikian? Wallahu-a’lam, hanya Pangeran Yang Maha Kuasa yang tahu. Bukan soal kebenaran ceritanya yang menarik perhatian saya. Melainkan, kenapa dari dulu yang namanya penjajah itu kok ya senengnya menipu?. Dan hampir semua bangsa yang terjajah di dunia ini, dulunya adalah korban penipuan. Bangsa Indonesia dijajah tiga setengah abad oleh Belanda dan Jepang adalah juga dalam kerangka ditipu, tertipu dan tidak jauh-jauh dari intrik pu-tippu….

Penjajahan hanyalah sebuah sarana, akar persoalannya adalah ekonomi atau bisnis. Suksesnya bisnis VOC adalah karena suksesnya Belanda menerapkan trik tipu-menipu yang sangat sistematis di jaman itu. Siapa lebih cerdas menipu maka dia akan dengan mudah mengelabuhi korbannya dan meraih keuntungan bisnis yang nyaris tak terbatas boanyaknya. Dan sialnya, kok ya bangsa Indonesia yang menjadi korbannya itu. Salahnya sendiri, kaya kok bodoh…… Eh, maaf, bukan bodoh, hanya belum pintar menyadari kekayaannnya dan belum mempunyai kemampuan mengelolanya. 

Tentu saja ini trik sukses sebuah bisnis raksasa yang mestinya tabu untuk ditiru, hanya perlu diambil pelajaran dan hikmahnya. Kecuali kalau tidak ketahuan. Dan yang tidak ketahuan itu rupanya sampai sekarang pun banyak jumlahnya. Hanya saja caranya lebih santun, halus, terhormat dan invisible.

Tapi, yang lebih menghueranken (pakai akhiran ken) lagi, sampai sekarang pun kita tetap menjadi bangsa yang sering tertipu, kena tipu, bahkan naga-naga-nya justru senang kalau ditipu, diakalin, dibodohin, dikelabuhin……. Apalagi kalau dampaknya bisa memberi keuntungan untuk diri sendiri atau lazim disebut oknum (oknum tapi kok banyak?). Tobaaat…. tobat…… (Saya bertobat mudah-mudahan pikiran saya salah).

Yogyakarta, 18 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(5).   Penumpang Kepagian

bandara2Akhirnya saya harus meninggalkan Tanjung Redeb. Tidak seperti ketika berangkatnya perlu 20 jam melewati jalan darat dari Balikpapan. Saat kembali ke Balikpapan saya sudah pesan tempat untuk menggunakan moda angkutan udara dari Tanjung Redeb.

Menurut jam penerbangan yang terulis di tiket, pesawat Trigana Air jurusan Tanjung Redeb – Balikpapan akan tinggal landas jam 6:45 pagi Waktu Indonesia Tengah. Jam 5:30 pagi saya sudah meninggalkan hotel dan berjalan kaki ke persimpangan jalan untuk mencari taksi yang akan mengantarkan saya ke bandara. Yang disebut taksi di Tanjung Redeb (juga di banyak kota umumnya di luar Jawa) adalah angkutan kota.

Tidak terlalu lama saya berdiri sendiri di pagi hari yang sepi di perempatan jalan terdekat (di pinggirnya tentu saja), hingga kemudian sebuah taksi berlalu dan menawarkan diri untuk ditumpangi. Saya lalu naik dan bergabung dengan beberapa penumpang yang sudah lebih dulu ada di dalamnya. Para penumpang itu rupanya semua menuju ke pasar. Maka selepas pasar, tinggal saya satu-satunya penumpang yang tinggal.

Mengetahui tujuan saya adalah bandara Kalimarau, pak sopir taksi yang ternyata berasal dari Jember itu menawari saya agar taksinya dicarter saja sehingga langsung menuju bandara dan tidak menarik penumpang di jalan. Ongkosnya seperti biasanya Rp 40.000,- katanya. Khawatir terlambat tiba di bandara, saya lalu menyetujuinya.

Di perjalanan pak sopir bertanya : “Ke bandara kok pagi sekali, pak?”. Saya tidak langsung menjawab, melainkan feeling saya mengendus sepertinya ada sesuatu yang tidak biasa. Tapi apa?

Baru kemudian saya menjawab : “Iya, pesawatnya jam 6:45”. Pak sopir hanya bergumam pendek : “Oo…, biasanya kok agak siang”. Saat itu hari memang masih tampak pagi sekali dan masih gelap seperti malam. Mulailah detector pada indra perasaan saya pertajam. Jangan-jangan saya kepagian. Jangan-jangan saya salah melihat tulisan jam di tiket. Jangan-jangan pak sopir benar bahwa biasanya memang penerbangan agak siang. Atau, jangan-jangan jam di handphone saya (saya tidak biasa pakai arloji) masih jamnya WIB. Berbagai jangan-jangan lalu berkecamuk di dalam otak saya. Ah, sebodo teuing, yang penting segera tiba di bandara.

Jarak dari kota Tanjung Redeb ke bandara Kalimarau memang hanya sekitar 7 km, melewati jalan yang menuju ke arah Teluk Bayur, lalu belok ke kiri sekitar satu kilometer. Maka tidak terlalu lama akhirnya saya dan taksi sewaan tiba di bandara Kalimarau.

Lha, rak tenan……! Kekhawatiran saya menjadi kenyataan. Bandara masih sepi mamring….. Rasanya seperti sedang berdiri di depan gerbang rumah suwung dalam film horror. Hari masih pagi umun-umun, ketika saya dan taksi sewaan tiba persis di depan pintu gerbang bandara. Moncong taksi berhenti pada jarak dua meteran dari pintu gerbang bandara yang masih tutup.

Njuk piye iki …(harus bagaimana ini…?). Saya tolah-toleh tidak ada manusia satu pun di seputaran bandara. Untuk meyakinkan, saya tanya pak sopir taksinya, apa benar ini bandaranya. Pak sopir pun menjawab dengan meyakinkan bahwa memang itu bandaranya. Lalu pak sopir taksi saya minta agar menunggu dulu sesaat, sementara saya mencoba melihat-lihat kembali tiket saya di bawah penerangan remang-remang lampu kabin taksi. Pertama, saya pastikan lagi bahwa jam yang tertulis di tiket benar. Kedua, baru saya cari nomor tilpun agen Trigana Air yan tertulis di sana.

Agen Trigana Air Tanjung Redeb saya tilpun tidak ada yang mengangkat. Menilpun agen Balikpapan juga tidak ada yang mengangkat. Lalu agen Yogayakarta tempat saya membeli tiket dan agen Jakarta apalagi, mungkin petugasnya masih pada ngrungkel, menarik selimut. Tujuan saya menilpun sebenarnya hanya ingin memastikan bahwa apakah penerbangan Tanjung Redeb – Balikpapan hari itu ada, atau ditunda, atau malah dibatalkan. Agar saya tahu apa yang harus saya lakukan di pagi yang masih rada gelap dan sepi, sendiri ditemani sopir taksi (sendiri tapi ditemani….).

Setelah lima belas menitan saya tidak berhasil memperoleh informasi apapun. Akhirnya saya persilakan pak sopir taksi untuk meninggalkan saya sendiri (kali ini baru benar-benar sendiri tiada yang menemani…). Kasihan pak sopir taksi yang sebenarnya harus mengejar setoran. Pak sopir pun saya bayar Rp 50.000,- termasuk tip untuk menemani saya yang lagi bingung di depan gerbang bandara. Jadi, ada ongkos menemani orang bingung Rp 10.000,-

Namun sebelum pak sopir pergi, dia membantu saya membuka pintu pagar bandara. Rupanya pintu gerbangnya mudah dibuka, hanya diikat rantai saja tanpa gembok. Saya lalu jalan melenggang menuju teras bandara. Saya geleng-geleng kepala, bandara kok kotor dan seperti tidak terurus dengan baik.

Setelah tengok sana, tengok sini, longok sana dan longok sini, akhirnya saya lihat ada pos penjagaan yang ketika saya intip ternyata petugasnya sedang tidur ditonton oleh pesawat televisinya yang sedang menyiarkan siaran sepak bola. Pura-pura tidak tahu kalau penjaganya sedang tidur, saya ketok pintunya agak keras. Lalu saya tanyakan kepada petugas jaga yang kaget saya bangunkan, jam berapa jadwal pesawat ke Balikpapan. Dijawabnya, biasanya jam 8-an.

Lhadhalah….., berarti saya kepagian tiba di bandara, kecepatan hampir 2 jam. Saya segera menyimpulkan bahwa agen penjual tiket di Yogya pasti salah menuliskan jamnya. Bodohnya saya, kenapa tidak saya cek dulu sebelumnya……

***

Kejadian ini tidak seharusnya saya alami, kalau saja saya mau menyempatkan sebelumnya untuk melakukan rekonfirmasi kepada agen Trigana Air tentang tiket keberangkatan saya ke Balikpapan hari itu. Gara-gara kelewat yakin, karena sebelumnya tidak pernah terjadi kesalahan semacam ini. Ada baiknya, kita melakukan rekonfirmasi tiket pesawat setiap kali sebelum melakukan perjalanan udara. Meski sebelumnya tidak pernah terjadi kesalahan penulisan tiket, tapi menjadi menjengkelkan kalau sekalinya terjadi justru kita yang mengalami.

Siwalan…! Hari itu saya telah melakukan kebodohan yang semestinya bisa dihindari. Pihak penjual tiket di Yogya memang salah telah menuliskan jam penerbangan 2 jam lebih cepat. Tapi ketika kesalahan itu telanjur terjadi dan berakibat menimbulkan ketidaknyamanan diri kita, njuk lalu mau marah sama siapa….?

Klimaks kejengkelan terjadi di saat orang-orang masih pada tidur, di tempat yang jauh jaraknya. Kalau pun bisa marah lewat tilpun, ya menghabis-habiskan pulsa saja alias sia-sia (heran juga saya, marah kok masih bisa mikir untung-rugi). Paling-paling ya marah atas kebodohan diri sendiri. Sambil duduk bersandar di bangku tunggu di depan pintu masuk bandara, sambil kaki dijulurkan ke lantai yang kotor, sambil menulis SMS untuk dikirim ke penjual tiket langganan saya di Yogya.

Isinya maki-maki? Tidak. Terlalu sayang rasanya kalau hari indah saya harus saya awali dengan marah. Kira-kira saya bilang begini : “Hari ini saya kepagian tiba di bandara Tanjng Redeb, malah saya yang membuka gerbang bandaranya. Jam yang tertulis di tiket ternyata kecepatan 2 jam. Mudah-mudahan sekarang sudah punya jadwal yang baru”. Ponsel saya tutup, lalu memejamkan mata sambil dheleg-dheleg…… mengiringi matahari yang semakin terang menyinari bumi…..

(Untungnya kejadian itu menimpa orang yang sudah terbiasa mengalami banyak hal yang tidak mengenakkan dan yang lebih penting….. bisa menikmatinya. Sebab bisa menjadi bahan cerita, meski cerita tentang kebodohan, agar dapat dihikmahi oleh orang lain. Huh! Enak sekali jadi orang lain…..).

Orang pertama yang kemudian tiba di bandara setelah saya adalah pengelola kantin yang berada di sisi sebelah kanan bandara. Segera saya susul ke kantin. Seorang ibu yang sedang menyiapkan perlengkapan kantin sebelum buka, saya mintai tolong untuk mendahulukan menjerang air agar segera bisa disiapkan segelas kopi panas. Ibu itu mau juga. Barangkali saya pembeli pertama yang dianggapnya sebagai penglaris. 

Sekitar jam 8:15 ketika bandara mulai agak ramai, saya tinggalkan kantin dan masuk ke bandara seperti penumpang lainnya. Ada sepenggal kebanggaan, ketika melewati semua proses pemeriksaan di depan petugas security, lalu mengurus chek-in, lalu membayar pajak, lalu membeli asuransi, lalu menyapu pandang kepada segenap penumpang yang sudah lebih dahulu duduk di ruang tunggu, dan terakhir ketemu orang di toilet (sudah kebelet sejak tadi…..)  Kebanggaan? Kalau saja mereka tahu, bahwa hari itu sayalah yang membuka pintu gerbang bandara…..

Yogyakarta, 20 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Matoa (2)

23 Maret 2008

Di Papua sendiri, buah matoa ini tidak dijumpai di semua wilayah. Ada daerah-daerah tertentu dimana buah matoa banyak dijumpai, sementara di daerah yang lain rada susah menemukannya. Buah matoa dari Jayapura lebih dikenal orang daripada yang berasal dari kota-kota lain di Papua. Katanya, rasanya lebih enak dan daging buahnya lebih tebal. Sedangkan buah matoa dari daerah lain, buahnya kurang bagus.

Cerita ini tidak jauh berbeda dengan tanaman matoa yang tumbuh di daerah Jawa. Adakalanya tanaman ini bisa berbuah, namun banyak juga yang tumbuh saja terus dan enggak muncul-muncul buahnya. Orang bilang tanahnya beda. Ya memang beda, wong yang satu tanah Papua yang lainnya tanah Jawa.

Kulit buah matoa ini tergolong tipis dan mudah terkelupas. Oleh karena itu, penanganannya memang rada susah, apalagi kalau masih ditangani, misalnya cara pengepakan (packing), yang masih tradisional. Sekali kulitnya terluka, biasanya menjadi tidak tahan lama, kecuali langsung disimpan di lemari es.

Sebelumnya saya mengira tanaman matoa ini berbuah sepanjang tahun. Rupanya ada seorang teman yang memberitahu, bahwa meskipun matoa berbunga sepanjang tahun, namun matoa ini ternyata termasuk tanaman yang berbuah musiman dan biasanya pada akhir tahun. Sama halnya ada musim buah rambutan, duku, durian dsb. Itu kalau di Papua. Entah kalau tanaman matoa yang tumbuh di tempat lain.

Seperti halnya tanaman matoa yang sudah lama ditanam di lingkungan PT Caltex Pacific Indonesia atau di Minas, Rumbai, di daratan Sumatera. Barangkali karena Pak Johand Dimalouw sebagai pelopor penanamnya adalah seorang yang asli berasal dari Papua maka tanaman matoa ini dipilih untuk ditanam sebagai tanaman penghijauan di sana. Siapa tahu bisa tumbuh dan berbuah sepanjang tahun, sehingga kelak ada matoa Sumatera atau paling tidak matoa Rumbai.

***

Seorang rekan bercerita tentang buah matoa, begini penggalan ceritanya :

Matoa adalah jenis buah tropis yang berasal dari tanaman kehutanan yang umumnya tumbuh liar di hutan-hutan dataran rendah di daerah Papua dan Kalimantan. Kayu dari batang pohon matoa bernilai ekonomis tinggi, termasuk golongan kayu kelas 2, sehingga tidak jarang menjadi obyek illegal logging oleh orang-orang Jakarta.

Musim buah matoa terjadi sekali setahun, biasanya pada akhir tahun. Jadi kalau mau ambil cuti, pada bulan November saja ke Jayapura.

Buah matoa bentuknya lonjong, sedangkan bagian buah yang dimakan adalah daging buah berwarna putih seperti rambutan, letaknya menyelimuti biji berwarna coklat kehitaman, ditutup oleh lapisan kulit luar yang agak keras. Buah matoa rasanya manis dengan aroma seperti durian, kadangkala ada dijual di shopping center dengan harga yang lumayan mahal. Bagi yang belum pernah merasakan buah matoa maka cukup membayangkan saja, bahwa matoa adalah kelengkengnya orang Papua, sedangkan kelengkeng adalah matoanya orang Jawa……..

Rupanya bagi sebagian orang di Papua, buah matoa ini juga dapat membangkitkan kisah kenangan tersendiri. Seorang rekan bernostalgia dengan kisahnya, begini :

Jaman aku SD ketika Mendikbud-nya Daoed Joesoef, lagu matoa cukup terkenal pada tahun 1970-an di kalangan anak-anak di Papua (bahkan mungkin masih dinyanyikan di sekolah-sekolah hingga sekarang). Potongan syair lagu tsb. begini :

Buah matoa enak dimakan
Marilah kawan coba rasakan
Dimana terdapat buah matoa
Banyak terdapat di Irian Jaya

Pendeknya jika ada kesempatan, tidak ada ruginya sekali waktu mencoba mencicipi rasanya buah matoa Papua ini. Apalagi, kalau kebetulan sempat singgah di Jayapura.

(Namun sebaiknya hati-hati : Kalau melafalkan kata buah matoa hendaknya yang jelas, salah-salah nanti kedengaran seperti sedang mengucapkan kata buah maitua, yaitu dialek Manado yang sering dipergunakan dalam bahasa pergaulan di Indonesia timur, yang berarti istri…..)

Tembagapura, 10 Juni 2003
Yusuf Iskandar

Scoleciphobia

22 Maret 2008

Misty Chapell sempat kamitenggengen (tertegun seperti tidak percaya), menatap seonggok cacing yang tampak pating krungkel (saling belit-membelit menjadi satu). Bukan karena kaget atau kagum, melainkan karena dia harus segera memakan cacing-cacing itu. Ya, Misty mesti mengambil cacing-cacing itu, lalu mengunyah dan menelannya. Rasa jijik, kotor, mau muntah, mual, jorok, bercampur menjadi satu.  

Mula-mula Misty merasa begitu tegar, sedikitpun tidak ada rasa takut atau khawatir. Ia menyangka akan mudah melakukan hal itu. Namun menjadi lain ceritanya, ketika dia harus menjadi orang pertama yang memakan cacing-cacing itu, mendahului dan disaksikan oleh rekan-rekannya. Ia begitu kaget menjadi orang pertama yang harus melakukannya.

Adegan di atas bukanlah kisah fiksi dalam sebuah film, melainkan benar-benar terjadi dan harus dilakukan oleh Misty tahun lalu. Misty Chapell adalah satu dari enam orang peserta kontes melawan rasa takut. Sebuah kontes adu berani dan adu nekad yang terkenal dengan nama “Fear Factor”. Acara ini diselenggarakan oleh stasiun televisi NBC yang secara rutin mengadakan kontes ini dan ditayangkan di televisi. Kini acara itu dapat disaksikan melalui saluran televisi AXN.

Setiap peserta dari setiap kontes “Fear Factor” dituntut keberaniannya untuk melakukan berbagai hal yang seringkali tampak rada gila, nekad, dan enggak masuk akal. Termasuk diantaranya harus makan cacing atau kecoa hidup, meloncat dari helikopter, meluncur dari ketinggian dengan kaki diikat dan kepala di bawah, meniti papan dengan sepeda menyeberangi atap dua gedung tinggi, telanjang di tempat umum, makan jeroan kambing atau ikan mentah, menelan telur busuk yang sudah disimpan lama, diseret kuda, dikerubuti tikus atau lebah, menyelam, dan macam-macam ide gila lainnya.

Tapi, lha wong namanya lomba, mau tidak mau setiap peserta harus melakukannya. Atau jika tidak, artinya mundur menyerah atau kalah. Dan kehilangan kesempatan untuk membawa pulang hadiah uang tunai US$50,000, kalau menang.

Lalu bagaimana Misty harus melakukan pekerjaan yang bagi orang waras tentu sangat menjijikkan itu?. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, namun Misty langsung saja memasukkan semua cacing-cacing itu ke dalam mulutnya sampai mucu-mucu (mulutnya menggembung karena kepenuhan), lalu mengunyahnya. Dia kesulitan untuk menelannya karena mulutnya kelewat penuh. Dia merasa seperti keseredan (ada yang nyangkut di tenggorokan), tapi dia terus mengunyah dan mengunyah, sementara cacing-cacing itu masih terus bergerak dan tidak mati di dalam mulutnya.

Akhirnya semua cacing itupun ditelannya. Dan, Misty tersenyum penuh kemenangan. Satu tahapan adu keberanian telah berhasil dilakukannya. Setiap peserta dalam setiap kontes “Fear Factor” harus melalui tiga tahapan adu keberanian yang jenisnya dirahasiakan hingga saatnya lomba akan dimulai.

“Fear Factor” adalah sebuah acara televisi sungguhan yang dapat diduga memang penuh dengan nuansa entertainment. Berbeda dengan sebuah buku yang berjudul sama “The Fear Factor” karya Dr. Barry S. Philipp yang lebih bernuansa ilmiah, kajian atas berbagai hal tentang rasa takut atau phobia.

***

Sebenarnya tidak hanya kaum perempuan, banyak pula kaum laki-laki yang mempunyai perasaan yang sama terhadap cacing. Jangankan memakannya, menyentuhnya pun tidak semua orang merasa nyaman melakukannya. Kecuali mereka yang dulu waktu di kampung hobinya mancing dengan menggunakan cacing sebagai bangi atau umpannya.

Orang yang takut dengan cacing disebut juga Scoleciphobia atau Vermiphobia. Sedangkan kalau merasa sampai kelewat takut diganggu atau diserang cacing disebut juga Helminthophobia. Dalam istilah bahasa Inggris, rasa takut cacing (worm) ini terkadang juga disebut Wormophobia. Misty Chapell dalam kisah di atas tentu tidak termasuk sebagai penderita Scoleciphobia. Tidak saja karena tidak takut atau jijik dengan cacing, malah cacingpun dimakannya.

Para penderita Scoleciphobia tentu tidak cocok kalau harus mengembangkan bisnis ternak cacing. Tidak juga menguntungkan bagi mereka yang hobi berkebun atau menanam bunga. Hal ini akan bertentangan dengan hobinya tanam-menanam karena cacing justru sangat dibutuhkan oleh media tanam dalam sangat bermanfaat dalam menyuburkan tanah.

Penyakit Scoleciphobia atau Vermiphobia ini tentunya tidak dikenal oleh orang-orang desa yang umumnya bekerja sebagai buruh tani. Cacing sudah menjadi bagian dari hidup kesehariannya. Dengan kata lain, munculnya rasa takut atas sesuatu itu biasanya sebagai akibat dari situasi atau kebiasaan yang tanpa disadari telah terkondisikan sejak kecil sehingga demikian tertanam kuat dalam alam bawah sadarnya. Coba saja, biasakan anak kita diberitahu : “Di situ gelap, nanti ada hantunya”, dan kata-kata sejenis lainnya yang menjadi semacam afirmasi. Maka kelak si anak akan memetik buahnya, benar-benar menjadi takut dan perlu waktu lama untuk bebas darinya.

Takut cacing sebenarnya adalah rasa takut yang wajar, sebagaimana dialami oleh manusia dengan berbagai rasa takut yang berbeda-beda. Ada ratusan jenis rasa takut atau phobia sejenis ini, termasuk takut kecoa , takut hantu, takut tampil di depan umum, takut sakit, takut ketinggian, takut gelap, takut sex, takut jalan sendirian, dsb. Dan semua itu tidak ada hubungannya dengan monopoli jenis kelamin tentang siapa penderitanya. Siapapun bisa mengalami salah satu rasa takut. Takut apa saja.

Dalam bahasa politik, bebas dari rasa takut merupakan hal elementer yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Bebas dari rasa takut adalah satu dari hak asasi manusia yang (semestinya) tidak boleh direnggut atau diberangus oleh siapapun juga dari diri seseorang. Tapi, lha wong namanya politik, buku sejarah dunia ini justru penuh oleh peristiwa-peristiwa yang asal-muasalnya berhubungan dengan kebebasan atas rasa takut.

Dijaman modern ini, urusan bebas dari rasa takut yang menjadi salah satu hak asasi manusia ini sudah ada wadahnya, yaitu Komnas HAM atau Amnesty International. Tapi ya jangan coba-coba kalau Anda takut cacing lalu pergi melapor ke Komnas HAM. Jangan-jangan malah Komnas HAM-nya nanti yang takut kepada Anda dan lari terbirit-birit.

Kalau ada rasa takut yang justru harus dijaga, dibina dan dipertahankan, maka itu adalah takut kepada Tuhan. No question asked!

Tembagapura, 19 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Hari Tanpa Tembakau Di Lorong Asap

22 Maret 2008

Sehabis subuh, bersiap hendak terbang ke Bengkulu. Secangkir Coffee-Mix sudah siap di meja. Sambil menunggu taksi, sambil menyeruput kopi campur. Dan, tidak ketinggalan sebatang rokok putih, yang ternyata tinggal sebatang dalam bungkusnya yang berwarna merah-putih. 

Setelah membaca koran pagi, barulah saya ingat bahwa hari itu adalah tanggal 31 Mei sebagai Hari Tanpa Tembakau (World No Tobacco Day). Dunia memperingati hari itu dengan mengajak atau menganjurkan masyarakat perokok untuk tidak merokok. Sehari saja!. Sebagai tetenger (tanda) agar masyarakat dan khususnya perokok menyadari dampak negatif dan potensi bahaya dari aktifitas merokok. Kalau tembakaunya sebenarnya baik-baik saja, tapi merokoknya itu……

Lalu, niat ingsun (meski terlambat) untuk berpartisipasi memenuhi anjuran tidak merokok sehari saja. Apa untungnya atau apa manfaatnya? Tidak tahu! Pokoknya ikut merayakan. Terbersit sebuah semangat untuk membuktikan bahwa saya bisa. Tiga tahun yang lalu saya berhasil. Dua tahun yang lalu saya lupa. Setahun yang lalu saya sengaja tidak ambil bagian. Maka, tahun ini kembali ingin membuktikan bahwa saya (masih) bisa. 

Detik-detik yang sangat menantang biasanya terjadi ketika minum kopi di bandara, atau duduk tepekur menunggu pesawat, atau kemlakaren sehabis makan, atau ngobrol menjelang tidur. Sementara oknum perokok di sekitar klepas-klepus…

***

Ketika memasuki ruang tunggu terminal A bandara Cengkareng, menuju ke salah satu lorong dari tujuh galeri yang ada. Sebuah papan nama berdiri menghalangi jalan di tengah lorong, sehingga siapapun pasti membaca tulisan berwarna merah di papan putih itu. Bunyi tulisannya suangat jelas : “Dilarang Merokok” lengkap dengan terjemahannya “No Smoking”.

Namun apa daya….., tulisan itu diterjemahkan oleh oknum perokok sebagai dilarang merokok di atas papan nama itu. Artinya kalau merokok di seputarnya, boleh. Dan memang itu yang terjadi.

Alkisah, dari ujung lorong bak cuaca buruk sedang melanda ruang tunggu bandara. Itu karena asap rokok menyelaputi lorong menuju ruang tunggu. Rupanya para ahli hisap berkerumun di sepanjang salah satu sisi lorong di seputaran papan nama, sambil menduduki corongan pengatur udara (yang padahal bentuk corongan itu sebenarnya sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tidak enak untuk diduduki). Maka tak pelak lagi, asap pun menggumul di lorong.

Boro-boro tahu atau ingat hari itu adalah World No Tobacco Day. Wong tidak ada sosialisasi. Tidak ada publikasi. Tidak ada kampanye seperti pilkada, sedang pilkada saja suka mencuri start berkampanye. Tanggal 31 Mei pun berlalu tanpa kesan, tanpa greget.

Beberapa mbak dan ibu, berjalan cepat menerobos cuaca buruk di lorong sambil mengipas-ngipas hidungnya dengan telapak tangannya, padahal hidungnya sedang tidak kepanasan. Tidak ada yang menegur (atau mengingatkan) dan tidak ada yang perduli. Papan nama adalah satu kejadian dan merokok di sekitarnya adalah kejadian lain yang seolah-olah tidak ada hubungannya. Kedua kejadian berlangsung di lorong asap menuju ruang tunggu bandara terminal A.

Pengalaman berbeda terjadi dua minggu sebelumnya di lorong menuju ruang tunggu bandara Juanda yang masih terlihat baru. Ketika ada satu, dua atau tiga orang yang mencoba merokok sambil duduk di deretan kursi. Ada petugas yang dengan sopan mempersilakan kalau mau merokok sebaiknya di tempat yang telah disediakan. Toh, oknum perokok itu mau menurut juga. Kalaupun dari 10 oknum yang ditegur ada satu yang mbandel, kiranya itu masih sebuah prestasi. Secara akal waras, orang yang ditegur mestinya malu. Dengan perkataan lain, hanya orang yang tidak waras saja yang bisa ngeyel. Untung bukan saya…..

***

Alhasil, sehari itu, tanggal 31 Mei yang lalu, saya berhasil melewati uji nyali tidak merokok sehari (meskipun sempat kecolongan di awal pagi). Sungguh tidak ada untungnya dan manfaatnya sebenarnya. Wong tanggal 1 Juninya pak Sastro mulai merokok lagi……

Tapi ada sebuah hikmah, bahwa ternyata : saya bisa kalau saya mau! (Pada titik tertentu dalam episode hidup, ternyata hikmah ini menjadi modal berharga saya. Jauh lebih berharga ketimbang uang atau peluang).

Jadi bagi saya (bagi saya, lho…..), masalah stop merokok sebenarnya bukan soal telanjur kecanduan atau telanjur sulit, apalagi telanjur sayang……, melainkan karena belum mau. Buktinya? Stop 24 jam di tanggal 31 Mei bisa. Stop 14 jam sebulan penuh di Ramadhan juga bisa.

Kalau begitu, kenapa tidak stop total saja? Nah, justru menjawab pertanyaan ini yang saya belum bisa (atau belum mau?) …… 

Bengkulu, 1 Juni 2007
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Yang (Maksudnya) Baik

22 Maret 2008

Pagi itu, kira-kira sebulan yang lalu, saya mesti buru-buru menuju bandara Cengkareng. Menurut tiket pesawat yang sudah di tangan, saya akan kembali ke Yogya dengan pesawat Mandala penerbangan pagi. Sebenarnya saya rada ogah-ogahan naik pesawat ini. Waktu berangkat ke Jakarta kemarinnya naik Garuda, tapi kembali ke Yogya terpaksa menggunakan jasa pesawat Mandala karena kehabisan tiket Garuda.

Akhir-akhir ini pesawat Garuda banyak dipilih penumpang udara. Termasuk saya yang semula juga ngotot kudu naik pesawat Garuda pergi-pulang Yogya-Jakarta, sampai terbukti bahwa untuk hari itu dan jam itu tiket Garuda sudah tandas tak bersisa. Memang, sejak Adam Air ditengarai amblas laut bak Werkudoro yang slulup ke laut dalam sekali, menancapkan kukunya ke dasar samudra dan tidak njumbul lagi, banyak calon penumpang beralih ke Garuda. Tanya kenapa… Tanya kenapa… Sehingga maskapai non-Garuda seperti ditinggal pelanggannya, kecuali terpaksa. Dan, pagi itu saya termasuk yang terpaksa.

Cerita tentang raibnya pesawat Adam Air pun masih merebak menjadi buah bibir. Menghiasi halaman koran dan layar televisi, hampir setiap hari. Juga di pagi itu. Tak luput saya pun ngobrol sama sopir taksi tentang tragedi awal tahun yang menimpa Adam Air. Kebetulan rute yang kami lalui menuju Cengkareng cukup lancar membelah Jakarta, atau tepatnya belum padat, sehingga oborolan pun ikut lancar mengisi waktu.

Taksi yang saya naiki disopiri oleh seorang muda. Dari logatnya saya menebak kalau dia pasti setanah tumpah darah dengan Wapres negeri tetangganya Republik Mimpi, yaitu dari Solo….. Solowesi, maksudnya. Cara bicaranya ramah, bersahabat dan rasanya jarang-jarang saya ketemu sopir taksi seperti yang nyopiri saya pagi itu. Suasana dalam taksi sepanjang perjalanan menuju bandara serasa jadi nyaman.

Menjelang memasuki bandara, sang sopir menanyakan saya naik pesawat apa. Ketika saya jawab Mandala, dia sudah tahu mesti menuju ke terminal sebelah mana. Hingga sampailah taksi yang saya tumpangi, berhenti di depan terminal keberangkatan yang tampak sudah mulai ramai.

Setelah membayar ongkosnya, plus sekedar tip atas keramah-tamahannya, saya lalu membuka pintu taksi sebelah kiri hendak keluar. Baru sesisih kaki melangkah keluar, mas sopir taksi tiba-tiba memanggil (untung saya tidak meloncat gedrug bumi seperti presiden Bush waktu di Bogor), sehingga saya sempat mendengar suara mas sopir taksi.

Lalu kata mas sopir taksi : “Hati-hati, Pak. Jangan lupa berdoa…..”.

Spontan saya pun menjawab : “Ya, terima kasih….”.

Setiba di teras bandara, sejenak saya tercenung. Pertama, saya teringat kebaikan mas sopir yang berbaik hati mengingatkan saya. Kedua, pikiran saya tiba-tiba melayang jauh, memunculkan flash-back penggal-penggal berita tragedi Adam Air. Apa kalau berdoa, lalu akan selamat……., dan kalau tidak berdoa, tidak selamat…….. Begitu pokok soal lamunan saya.

Pesan yang disampaikan oleh mas sopir taksi sebenarnya sangat simpatik. Tapi entah kenapa kesan yang melintas di pikiran saya jadi sepertinya sedang menakut-nakuti……

Kalau sebelum berangkat ada yang wanti-wanti agar berdoa, tentu enak didengar. Tapi justru ketika hendak naik pesawat yang semula mau saya hindari, lalu ada yang mengingatkan agar jangan lupa berdoa, rasanya kok hati ini malah jadi deg-degan.

Dalam hati saya nggrundel, sopir taksi yang (mungkin bermaksud) baik, tapi siwalan (pakai “w” di tengah)…! Wong, berniat baik kok tidak lihat waktu dan tempat…….

Yogyakarta, 17 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Sapa Suru Datang Jakarta

22 Maret 2008

Hari sudah gelap di Kemang Timur. Akhirnya dapat taksi juga setelah agak lama menunggu di tepi jalan, gerimis lagi. Begitu duduk di jok belakang kiri, segera terasa bahwa kondisi kendaraan masih agak baru. Meski rada remang-remang, interior dalamnya terlihat bersih, tidak kusam, tidak terkesan jorok, tidak bau apek.  Pendeknya, sudah lama tidak ketemu taksi yang kondisinya seperti yang saya tumpangi pada petang menjelang malam itu.

Terasa nyaman dan enak ditumpangi (tentu saja mbayar…!). Pengemudinya terlihat masih sangat muda. Saya duga usianya setengah usia saya atau lebihnya sedikit, mungkin 24-an tahun. Bicaranya lembut dan sopan, malah terkesan pemalu.

Tiba giliran menyebut alamat tempat tujuan, dengan sopan sang sopir memohon. Kira-kira beginilah bunyinya : “Tolong bapak yang menunjukkan arah jalannya ya, pak…..”. Lho!?

Lha, salah satu alasan saya naik taksi petang itu adalah karena saya tidak tahu jalan dan agar diantar sampai alamat je…. Ini kok sopir taksi malah minta ditunjukkan jalannya. Karena itu saya lalu menjawab : “Ya, kalau begitu yuk kita sama-sama mencari jalannya, mas…..”.

Ini Jakarta, petang menjelang malam hari. Pertama-tama saya merasa tidak bersalah untuk berprasangka buruk.  Jangan-jangan ini adalah awal dari sebuah fragmen “goro-goro”. Meski arah jalan utamanya kami sepakat, tapi kami berdua tidak tahu persis mesti belok kemana di sebelah mana.

Sambil nyopir perlahan-lahan (sopir taksinya, bukan saya…) di tengah kepadatan lalulintas, sambil saya meng-interview sang sopir dan mengamati responnya, sambil tetap waspada jangan-jangan ada sesuatu yang mencurigakan. Sang sopir pun selalu menjawab pertanyaan saya dengan sopan dan rangkaian jawabannya pun logis. Di tengah jalan saya sempat berhenti dua kali untuk tanya kepada orang di pinggir jalan. Saya yang menentukan tempat berhentinya.

Hal lain yang saya perhatikan, sang sopir ini kelewat hati-hati dan terlihat tidak santai. Tidak sebagaimana biasanya sopir taksi yang selalu terlihat terburu-buru dan gesit menyerobot jalan, berbuat serong ke kanan dan ke kiri. Sedikit nyerempet pun jadi.

Hampir sepanjang perjalanan saya berbicara dengan sopir, dengan membolak-balik pertanyaan layaknya petugas screening untuk memperoleh surat keterangan bersih diri dan lingkungan di jaman Orba dulu. Hingga sampailah pada kesimpulan, bahwa sopir taksi itu tidak sedang berbohong dan tidak mengandung unsur tipu-tipu.

Rupanya, orang muda sopir taksi warna kuning nyeter yang ngakunya berasal dari Wonogiri itu adalah sopir anyar gress….., baru mengantongi 8 jam terbang. Dia benar-benar baru pertama kali jadi sopir sejak dilepas dari pool pada jam 11 siangnya, setelah selesai menjalani test dan training. Saya adalah penumpangnya yang keenam di hari pertama itu. Dan sebagai sopir taksi, malam itu adalah malam pertamanya. Pantesan aksi dan gayanya masih rada kaku.

Belum setahun dia lulus sarjana jurusan keperawatan di Solo. Lalu mengadu nasib ke Jakarta dengan menjadi perawat kontrak selama enam bulan di kawasan Depok.  Namanya Tri Wahyudi (seperti tertulis di kartu identitasnya).

Tanggal 6 Januari nanti mas Tri ini mau nikah di Cirebon. Calon istrinya sesama perawat di tempat kerjanya. Karena mau nikah, maka kontrak kerja mas Tri tidak diperpanjang sebab salah satu harus keluar. Mas Tri memilih mengalah keluar dan mencari pekerjaan lain. Hingga akhirnya banting setir menjadi seorang sopir taksi.

Dasar perawat, nyopirnya pun halus sekali (meski tidak semua perawat berperilaku halus, ada juga perawat yang seperti mantan sopir taksi…). Tampak masih takut-takut main serobot dan belum luwes menerobos di tengah kemacetan Jakarta malam itu.

***

Baiklah, lupakan saja dulu perihal pengalaman jadi navigator dadakan sopir taksi. Melainkan saya melihat lebih jauh lagi. Seorang sarjana yang akhirnya jadi sopir taksi karena kehabisan pilihan jenis pekerjaan yang sesuai. Dan, haqqun-yakil mas Tri ini bukan satu-satunya sarjana di Indonesia yang kehabisan pekerjaan. Masih lebih baik tidak menempuh jalan pintas.

Meski ini bukanlah hal yang luar biasa di era reformasi dan keterbukaan ini (termasuk keterbukaan aurat untuk diabadikan dengan ponsel). Cerita semacam inipun sudah berulang kali saya dengar. Tapi malam itu kok tiba-tiba mak gregel….. di hatiku. Setidak-tidaknya sepenggal pengalaman kecil ini mengingatkan saya, bahwa rasanya tidak lama lagi anak-anak saya (juga anak-anak teman sebaya saya) akan berada menjadi bagian dari dunia yang sama. Dunia persilatan rebutan sepotong kue lapangan kerja yang sempit dan tidak lapang (padahal yang namanya lapangan itu mestinya ya luas).

Bagaimanapun saya merasa perlu untuk memberi apresiasi terhadap semangat kerja dan kejujuran mas Tri (termasuk jujur ngajak mencari jalan bareng-bareng malam itu). Maka kalau akhirnya saya memberi ongkos lebih, itu saya niatkan untuk nyumbang rencana pernikahannya dan menyertainya dengan doa.

Bagaimana sebaiknya melihat hal ini? Padahal sebagai seorang sarjana mestinya mas Tri ini punya skill keperawatan. Tapi kenapa mesti keukeuh harus di Jakarta yang sudah umplek-umplekan…… Sapa suru datang Jakarta….!

Apakah memang tempat yang lebih layak sebagai seorang sarjana sudah tertutup bagi mas Tri ini? Mudah-mudahan menjadi sopir taksi hanyalah batu loncatan sebelum terjun ke dunia persilatan entrepreneurship yang tentunya akan bisa membuka lapangan kerja bagi teman-temannya yang lain. Mudah-mudahan tidak kedarung keenakan membanting setir taksi yang dikemudikannya.

Itu kalau tidak keburu keterusan berada dalam comfort zone yang tidak comfortable babar blasss….. hingga tahun 2026. Yang pasti pada saat itu gaya nyopirnya sudah semakin lincah dan gesit srobat-srobot wal serang-serong.

Yogyakarta, 15 Desember 2006
Yusuf Iskandar

Sepotong Roti

22 Maret 2008

Jam limo keliwat limo (05:05) pagi, sepur Argo Dwipangga jurusan Solo – Jakarta memasuki statsimun Jatimanaraga (Jatinegara, mangsudnya…..). Saya terbangun dari mimpi karena selimut pinjaman pramugari sepur ditarik-tarik sama yang tadi meminjaminya, sesaat sebelum kereta memasuki Jatinegara. “Hampir sampai…..”, katanya seperti terburu-buru sembari tidak perduli.

Mata masih agak siut-siut, antara melek dan merem. Saya lihat jatah konsumsi yang disuguhkan pramugari kereta api tadi malam masih utuh terselip di depan saya. Secepat kilat saya sempat berpikir lugu, kalau jatah makanan itu tidak saya makan sementara sepur keburu berhenti di Gambir, maka makanan itu jadi mubazir. Kereta api akan segera dibersihkan lalu sampahnya dibuang oleh tukang bersih-bersih kereta api.

Sebenarnya perut saya tidak lapar-lapar amat. Namun dengan pertimbangan kilat daripada mubazir itu, akhirnya saya ambil kardus jatah konsumsi di depan saya. Saya buka isinya ternyata dua potong roti dalam bungkus plastik tersimpan dalam sebuah kardus besar. Sebenarnya, ukuran kardusnya tidak proporsional dengan ukuran rotinya. Ya sudahlah. Barangkali kardusnya sudah telanjur lebih dahulu dicetak banyak-banyak pada akhir tahun anggaran setahun yang lalu, sementara isinya baru dipesan kemarin sesuai dengan kondisi dan situasi ekonomi “oknum” jawatan persepuran pada saat memesan roti.

Tanpa pikir panjang lagi, sepotong roti saya kunyah habis. Lalu potongan kedua menyusul lhek demi lhek….. Akhirnya kedua potong roti pun bablas tinggal kardus kosongnya. Bersamaan tertelannya kunyahan terakhir…..lhek….., muncul anak laki-laki kecil berpakaian lusuh, usia bangsa 12 tahunan sebaya anak kedua saya, masuk menyusuri gerbong di belakang para porter yang menawarkan jasanya.

Sembari tolah-toleh serong ke kiri dan serong ke kanan, lalu anak itu berhenti di seberang tempat duduk saya, dan ngomong kepada penumpang yang juga masih terkantuk-kantuk di sana. Si anak bertanya kepada penumpang di seberang saya : “Om, rotinya boleh untuk saya?”.

Mak deg atiku….., mendengar pertanyaan memelas anak itu. Setelah diiyakan oleh yang punya roti, si anak pun secepat kilat menyambarnya dan ngeloyor pergi.

Saya ngong-bengngong….., lha barusan kunyahan terakhir masuk ke tembolok saya, ndadak ada anak kecil pagi umun-umun minta roti di sebelah saya. Sementara kedua anak saya di Yogya barangkali masih bobok manis menjelang berangkat ke sekolah, tanpa kurang suatu rotipun jua.

Mestinya….., perut anak itu lebih membutuhkan dua potong roti yang telanjur saya makan tadi daripada perut saya…… Kalau saya mau agak bersabar sedikiiiit saja, mestinya saya tahu bahwa tidak ada yang mubazir di dunia fana ini…..

Jakarta, 8 Mei 2006
Yusuf Iskandar

Sampah Kita Sendiri

21 Maret 2008

Pengantar :

Cerita di bawah ini saya tulis karena terinspirasi oleh cerita sahabat saya (Mas Mimbar Saputro) tentang crew drumband yang merangkap tukang sampah di Singapura. Sebagian dari cerita di bawah ini pernah saya singgung dalam tulisan saya beberapa tahun yll. Namun tidak ada salahnya saya singgung lagi untuk menambah kelengkapan ilustrasi – yi

——-

Orang Jakarta pernah bingung ketika tidak bisa membuang sampahnya. Semakin kalang kabut ketika kawasan tetangga Jakarta yang biasanya tidak ada masalah untuk ditimbuni sampah, kemudian menolaknya. Itu karena jumlah sampahnya bergunung-gunung. Sementara ketika jumlah sampah di dalam rumah kita masih seukuran asbak atau sekantong tas kresek, seringkali kita kurang perduli. Nyaris tidak pernah terpikir akan diapakan atau dibuang kemana sampah itu nantinya, kecuali sebatas membuangnya ke tong sampah atau tempat pengumpulan sampah di kampung kita.

Jika kita berada di pedesaan di mana masih banyak kawasan terbuka dan tanah kosong yang belum padat penduduknya, urusan sampah nyaris jauh dari agenda keseharian kita, apalagi pemerintah.

Kalau Singapura sangat ketat dan keras untuk mengatur urusan sampah, tentu karena mereka menyadari bahwa sampah adalah urusan yang sangat serius mengingat terbatasnya luas daratan yang mereka miliki, yang harus dikapling-kapling untuk berjuta peruntukan dan kepentingan. Maka logis saja kalau kemudian kesadaran masyarakat akan keberadaan sampah harus dipaksakan. Mereka (tanpa pandang bulu, kulit, rambut atau ekor) yang sembrono, sangsinya denda yang tidak main-main. Bagi yang main-main, “Bayar S$ 5000…..!”. Tidak ada tawar-menawar.

***

Karnaval dan Peserta Terakhirnya

Di New Orleans, Louisiana, Amerika, setiap tahun digelar pesta rakyat yang disebut Mardi Gras. Biasanya diadakan pada sekitar bulan Pebruari-Maret. Mardi Gras adalah pesta masyarakat dan karnaval yang diselenggarakan di semua kawasan kota. Karnaval yang penuh nuansa hura-hura dan terkadang gila-gilaan ini diselenggarakan selama dua – tiga minggu penuh dan dua hari puncaknya dijadikan sebagai hari libur umum. Selain agar segenap masyarakatnya dapat menikmati pesta rakyat itu, juga bagi mereka yang terlibat dalam karnaval tidak perlu mbolos kerja atau sekolah.

Namanya juga karnaval, maka di sana ada barisan bendera, umbul-umbul, drumband, penari, kendaraan hias, dan segala macamnya. Namun karnaval Mardi Gras yang mempunyai ciri khas dominasi warna hijau-kuning-ungu, juga selalu disertai dengan membagi-bagikan kalung beraneka motif dan warna serta berbagai souvenir, dengan cara melempar dari atas kendaraan. Maka penonton akan ramai berebut memperolehnya, apalagi anak-anak.

Disebut gila-gilaan, karena di lokasi-lokasi tertentu, para perempuan peserta pesta hura-hura dan karnaval terkadang tidak malu-malu untuk mengangkat tinggi-tinggi bagian depan baju kaosnya sehingga terlihat bagian tubuh yang sebelumnya tertutupi oleh kaosnya itu. Saya tidak tahu apakah bagian terakhir ini yang kemudian menarik wisatawan asing maupun domestik dari penjuru Amerika untuk ingin berkunjung ke New Orleans ketika ada pesta Mardi Gras.

Ada yang menarik pada setiap kali ada karnaval Mardi Gras. Di bagian paling belakang dari peserta karnaval selalu ada peserta dari Dinas Kebersihan Kota. Sekelompok orang di barisan terakhir ini tugasnya mengumpulkan semua sampah yang ditinggalkan oleh barisan karnaval di depannya di sepanjang jalan yang dilalui. Lalu diikuti oleh mobil penyemprot air, mobil penghisap sampah dan mobil pengepel jalan (seperti mesin pel lantai yang bagian bawahnya berupa sapu putar yang menggosok dan mengepel). Maka ketika karnaval selesai, sepanjang jalan yang dilalui segera bersih seperti semula dan siap dibuka kembali untuk lalu lintas umum, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. 

Pesta dan hura-hura adalah kebutuhan rekreatif masyarakat, tapi lingkungan yang bersih adalah juga kebutuhan lain yang tidak boleh dikorbankan. Artinya, bukan tujuan pemenuhan kebutuhan saja yang diutamakan, melainkan janganlah lalu dikesampingkan dampaknya.

***

Sampah Rumah Tangga dan Beruang

Di Juneau, Alaska, Amerika, suatu ketika saya membaca pengumuman dari kantor Pemda setempat di sebuah media lokal tentang aturan membuang sampah rumah tangga. Bahkan aturan itu dibuat sedemikian rincinya. Kesadaran tentang tata cara menangani sampah rumah tangga bukan hanya ditujukan bagi diri individu masyarakat sendiri melainkan masyarakat juga diminta melaporkan kepada pemda atau polisi kalau mereka melihat ada orang lain yang tidak mau mengikuti aturan tersebut. Bagi yang mengabaikan aturan ini dapat dikenakan denda minimum US$100.  

Untuk apa harus diatur tentang prosedur membuang sampah? Rupanya di sana banyak berkeliaran beruang liar yang dilindungi. Dengan tidak membuang atau menyimpan sampah sembarangan, maka para beruang liar tidak akan tertarik untuk keluar dari hutan dan makan sembarangan di tempat-tempat sampah yang dapat berakibat sakit atau matinya hewan langka yang dilindungi itu. Jadi pengaturan penyimpanan dan pembuangan sampah itu memang tujuan utamanya bukan demi masyarakat melainkan demi beruang. Luar biasa. Jika kita bandingkan dengan keprihatinan kita atas saudara-saudara kita yang tidak beruntung yang menggelandang di kota-kota besar yang seringkali justru hidup dari mengais sisa-sisa makanan, tanpa banyak yang dapat kita perbuat.

Terlepas dari soal beruang Alaska. Menyimpan, menimbun atau membuang sampah rumah tangga secara asal-asalan memang bisa runyam. Kita memang sering berpikir praktis saja soal sampah domestik ini. Kita kira kalau sudah dibungkus dari rumah lalu dilempar ke tong sampah di luar rumah atau di pinggir jalan, sudah bayar uang bulanan ke tukang sampah (apalagi yang masih nunggak mbayar…..), maka tanggung jawab kita perihal sampah ini sudah tuntas.

Ya, memang hanya sampai di situ saja, apa lagi….? Entahlah, soal bagaimana cara kita membungkus dan menempatkan bungkusan sampah di dalam tong sampah di luar rumah seringkali kita anggap sebagai soal lain yang tidak ada hubungannya…………

***

Kisah Sepuntung Rokok di Madison

Di Madison, Wisconsin, Amerika, suatu siang saya istirahat sejenak dari sebuah perjalanan panjang, di halaman parkir sebuah supermarket menunggu istri dan anak-anak saya membeli perbekalan. Sambil menunggu di mobil, sambil menghisap sebatang Marlboro. Tanpa saya sadari, seorang ibu memperhatikan ulah saya ketika saya membuang puntung rokok di samping mobil yang saya parkir. Sang ibu menegur saya. Tidak cukup itu, diapun masih menegur saya dengan mimik serius, sampai saya benar-benar mengambil kembali puntung rokok yang tadi saya buang.

Sungguh saya dibuat malu sekali……, malu pada diri sendiri. Sampai saya terbengong-bengong. Padahal tidak ada seorang pun melihat kejadian di siang yang panas itu, di tengah halaman parkir yang sangat luas dan sedang sepi. Betapa masih ada warga masyarakat yang begitu perduli dengan setitik sampah yang mengotori kotanya. Ya…., hanya sepuntung Marlboro di tengah lapangan parkir yang luasnya lebih dari lapangan sepakbola.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Kata Tjuta

Di Taman Nasional Kata Tjuta, Northern Territory, Australia, suatu sore karena hari hujan saya berteduh di bawah shelter tempat istirahat. Sambil memainkan kamera, saya menyadari bahwa sebatang Marlboro yang sejak tadi menyelip di jari tangan kiri rupanya sudah pendek. Karena setelah saya tolah-toleh tidak terdapat tempat sampah, dengan tanpa salah sedikitpun puntung rokok lalu saya jatuhkan di pojok shelter.

Tanpa saya duga, tiba-tiba ada seseorang yang kalau saya tilik wajahnya adalah turis Jepang, berjongkok lalu mengambil puntung yang barusan saya jatuhkan. Lalu dimasukkan ke dalam wadah kertas yang dibawanya, karena dia juga sedang merokok. Dasar orang Jepang, dia pintar membuat kerajinan tangan Origami, kertas yang dilipat-lipat sehingga membentuk wadah menyerupai kotak kecil.

Bukan kerajinan kertasnya yang membuat saya terperangah, melainkan caranya memandang saya sehabis mengambil puntung rokok yang tadi saya buang. Sambil menganggukkan kepala dia tersenyum menyambut ucapan “I’m sorry” dan “thank you” saya. Di sekitar saya banyak turis yang juga sedang berteduh. Memang tidak ada yang memperhatikan saya, tapi sungguh si Jepang benar-benar membuat saya salah tingkah. Pokoknya, malu abizzzz…… Mau cepat-cepat pergi rasanya, tapi tidak bisa, wong hujan sedang turun dengan lebatnya ditambah kilatan petir yang menyambar.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Bandara Taipei

Suatu malam ketika transit di bandara Taipei, Taiwan, saya sedang sangat ingin sekali merokok karena sejak berangkat dari Jakarta dalam perjalanan menuju Los Angeles, tidak bisa merokok sebatangpun. Cilakanya, saya tidak menemukan “Smoking Room”, tapi juga tidak menemukan tulisan “No Smoking”. Sambil tengok kanan-kiri, saya temukan di sudut lorong ada pot bunga besar yang rupanya di sekitar tanamannya banyak tumbuh puntung rokok. “Ini dia…..”, pikir saya.

Maka, serta-merta saya curi kesempatan untuk mojok. Lalu cepat-cepat menghisap sebatang rokok, sambil agak melengos malu-malu kucing setiap kali ada orang lewat. Cepat saja, lalu puntung rokoknya saya tanam di sekitar tanaman yang ada di pot. Saya tahu bahwa ini tindakan curang, memanfaatkan situasi entah siapa yang pertama kali memulai menanam puntung rokok di pot bunga tersebut. Terbersit rasa malu dan penyesalan yang dalam, mudah-mudahan kelak saya tidak kembali berada dalam situasi yang tidak menyenangkan itu. Tidak menyenangkan bagi saya dan tidak menyenangkan bagi pemerintah Taiwan.

***

“Bungkusnya Dikantongin Dulu…..”

Suatu saat di Tembagapura, Papua, diadakan acara “Tembagapura Bersih”. Segenap lapisan masyarakat yang umumnya karyawan beserta keluarganya, dan anak-anak sekolah mengambil bagian untuk membersihkan kota Tembagapura. Di akhir acara, seorang anak ditanya oleh panitia, tentang apa yang paling banyak dijumpai di halte bis kota. Jawab keras sang anak : “Puntung rokok dan bungkus permen”.

Lalu sang anak ditanya lagi : “Bagaimana kalau pas di dalam bis kamu ingin makan permen dan tidak ada tempat sampah?”. Jawab sang anak : “Bungkusnya dikantongin dulu, nanti dibuang di tempat sampah ketika turun dari bis”. Sebuah jawaban lugu, jujur dan……. rasanya masuk akal. Lebih penting lagi, kita bisa belajar dari sang anak itu. Kalau mau …….

***

Soal sampah, memang bukan soal ada tempat sampah atau tidak. Bukan soal ada tulisan “Dilarang Buang Sampah Sembarangan”, atau tidak. Bukan soal jumlah sedikit atau banyak. Bukan soal sudah ada yang mengurusi atau belum. Masalah sampah, adalah masalah perilaku. Masalah kepedulian bahwa kita butuh lingkungan yang bersih. Masalah tanggung jawab sosial.

Enak sekali kedengarannya. Semua orang juga tahu. Tapi mari kita lihat asbak dan tempat sampah di rumah kita masing-masing, sebelum kita melihat tempat sampah orang lain. Ya, sampah kita sendiri. Bersih-bersih yuk……!

Tembagapura, 7 Agustus 2004.
Yusuf Iskandar

Hamster

21 Maret 2008

Anak laki-laki saya yang baru naik ke kelas 5 SD sangat menyukai hamster piaraannya. Prejengan (profil tubuh) hamster yang kecil imut-imut, lucu dan bersih itu barangkali yang menjadikan anak-anak banyak yang menyukainya. Sepulang dari liburan dua minggu yang lalu, induk hamsternya beranak lagi untuk ketiga kalinya. Padahal umurnya baru tujuh bulan.

Ketika umur hamsternya baru tiga bulan sudah beranak enam ekor, tapi mati satu. Kesemua anaknya habis diminta teman-teman anak saya. Beranak yang kedua waktu umurnya lima bulan, juga enam ekor jumlah anaknya. Empat ekor diantaranya juga diminta teman-teman anak saya. Lalu kini beranak lagi 12 ekor, tapi sayang di hari ketiga tinggal enam ekor, selebihnya dimakan oleh induknya.

Anak saya membeli hamster saat liburan semesteran bulan Januari awal tahun yang lalu. Pada suatu siang dia minta uang Rp 20.000,- pada ibunya untuk membeli hamster di pasar Ngasem. Ngasem adalah nama pasar burung di Yogya, meskipun tidak hanya burung yang dijual di pasar ini. Segala macam hewan berkaki dua ada di sini, termasuk ayam, bebek, menthok (itik), dsb. Ada juga ikan hias, termasuk kelinci dan hamster juga ada, serta hewan-hewan ukuran kecil lainnya.

Tanpa tanya ini-itu, setengah tidak perduli ibunya lalu memberinya uang yang diminta. Rupanya anak saya siang itu mengajak teman mainnya di Bintaran Kulon pergi ke pasar Ngasem dengan berjalan kaki. Jarak antara Bintaran dengan Ngasem sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 1,5 km saja. Tapi untuk mencapai Ngasem dia harus berjalan kaki melintasi pinggir kali Code, lalu menyeberang jembatan, terus menyusuri jalan besar utara plengkung Yudonegaran menuju alun-alun utara kraton. Setelah menyeberang alun-alun lalu ke selatan menuju pasar Ngasem.

Tidak berapa lama, anak saya pulang dengan membawa kantong kertas berwarna coklat yang ternyata berisi seekor hamster berwarna putih yang baru berumur tiga mingguan. Masih terlihat kecil sekali. Saya jadi merasa kasihan dengan kesungguhan anak saya yang ingin memelihara hamster. Kasihan yang kedua adalah terhadap hamsternya sendiri, masak hanya hidup sendiri tanpa pasangan di kandangnya yang hanya berupa kotak kardus kecil (belakangan saya baru tahu bahwa sebenarnya tidak ada masalah jika memelihara seekor hamster tanpa pasangan). Maka kemudian dia saya ajak untuk kembali ke penjualnya di Ngasem, sekalian bersama ibunya dan kakak perempuannya. Kali ini tidak berjalan kaki tentunya.

Si penjual hamster yang menempati petak agak di tengah pasar masih ada di sana. Ada banyak pasangan hamster yang ditawarkan. Harganya sepasang Rp 30.000,- Berumur rata-rata tiga mingguan. Masih terlalu kecil tampaknya, tetapi memang hewan ini sudah bisa dipisah dari induknya setelah berumur lebih dua minggu. Kali ini saya bilang kepada anak saya agar pasangannya yang berwarna krem dibeli sekalian saja, agar si hamster tidak kesepian sendiri. Lalu, sebuah kandang pun dibeli juga seharga Rp15.000,-, yaitu sebuah kandang kecil terbuat dari anyaman kawat yang di dalamnya ada mainan roda putarnya, seperti roda putar kandang tupai.

Tiba saatnya harus kembali ke Papua dan anak saya ingin membawa kedua hamsternya untuk dipelihara di Tembagapura. Artinya, hamster-hamsternya akan naik pesawat Garuda. Bagaimana caranya? Pasti ada aturan tersendiri untuk membawa binatang naik pesawat. Setelah tanya-tanya ke kantor Garuda, katanya biaya membawa binatang naik pesawat cukup mahal. Untuk dibagasikan bersama kandangnya kok kasihan. Maka perlu diakalin.

Kedua anak saya sepakat untuk berbagi tugas. Kedua hamster yang baru berumur tiga mingguan, masih sangat kecil tapi bulu-bulunya sudah tumbuh penuh, dimasukkan ke dalam sebuah tas cangklong kecil yang sengaja dikosongkan kecuali diisi makanan hamster. Ketika harus melewati pemeriksaan X-ray, mereka bersembunyi dulu dan terkadang bergantian ke toilet untuk memindahkan hamster dari tas cangklong ke saku celananya yang mempunyai ukuran saku cukup longgar. Setelah melewati pemeriksaan X-ray, mereka menuju toilet lagi dan memasukkan kembali hamster-hamsternya ke dalam tas cangklong. Demikian, SOP (Standard Operating Prosedur) ini dipraktekkan berulang-ulang, baik ketika di bandara Yogya maupun di Denpasar. Sementara kandangnya dimasukkan bagasi.

Maka selamatlah sang hamster tiba di bandara Timika, dan akhirnya di Tembagapura. Untungnya tidak diperlukan jaket khusus bagi hamster untuk hidup di Tembagapura yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya cuacanya cukup dingin bagi hamster yang nenek-moyangnya hidup di kawasan gurun.

***

Hamster adalah binatang sejenis tikus, ukuran tubuhnya juga kecil seperti tikus pithi atau curut. Bedanya hamster lebih bersih dan tidak jorok seperti tikus. Karena itu hewan ini banyak digemari anak-anak sebagai hewan piaraan. Seperti halnya tikus, hewan kecil ini suka ngrikiti (mengerat) apa saja. Jadi jangan mengira karena ukurannya kecil lalu ditempatkan dalam kandang yang terbuat dari kayu, apalagi kardus. Tidak lama, hamster akan berhasil membuat lubang untuk lolos.

Hamster jelas bukanlah hewan asli Indonesia. Habitat asal hewan ini sebenarnya di daerah dekat-dekat gurun. Di alam aslinya binatang suka membuat sarang di dalam liang-liang yang dalam seperti tikus tanah. Makanya memelihara hewan kecil ini sangat mudah, tidak perlu repot-repot memberi minum. Bukan tidak membutuhkan air, melainkan kebutuhan airnya biasanya cukup terpenuhi dari makanannya. Makanannya pun mudah, paling suka dengan jagung, terkadang divariasi dengan wortel, dan sayuran hijau seperti kangkung, bayam, kacang, boncis, kol, sawi, dsb. Sesekali diberi buah apel. Rakus sekali kalau diberi telur ayam, rebus maupun goreng.

Nama hamster sendiri berasal dari kata hamstern, bahasa Jerman yang artinya menimbun. Binatang kecil ini memang suka menimbun makanannya di dalam sarangnya. Diberi makanan sebanyak apapun akan disikatnya. Mula-mula disimpan di dalam mulutnya sehingga kedua pipinya menjadi gemuk. Setelah itu dia sembunyi ke sarangnya, lalu ditimbunnya makanan tadi di dekat sarangnya.

Di dunia ini ada banyak jenis hamster, tapi hanya sedikit saja yang biasanya dipelihara sebagai hewan piaraan di rumah, diantaranya jenis Syrian, Dwarf, Chinese dan Roborovski. Sedangkan species-species lainnya tidak lazim dipelihara orang. Warnanya pun bermacam-macam, ada putih coklat, abu-abu, hitam atau krem. Bulu-bulunya juga ada yang pendek dan ada yang panjang. Di alam aslinya, hamster ini termasuk binatang malam, kalau siang dia suka tidur dan kalau malam mulai aktif mencari makan.

Tentang hamster yang dibeli anak saya di pasar Ngasem, saya sendiri tidak tahu jenisnya. Penjualnya juga tidak tahu. Tapi kalau saya amat-amati, lebih dekat ke jenis Dwarf. Kata penjualnya, induknya dulu dibawa dari Australia oleh seorang pedagang Cina. Untuk jenis-jenis tertentu, harga di toko binatang bisa mencapai puluhan ribu bahkan lebih seratus ribu rupiah. Demikian halnya harga kandangnya jika membeli di toko. Anak saya menyimpan hamsternya di dalam ember plastik yang permukaannya lebar, agar hamster lebih leluasa bermain-main. Kandang dari ember ini cukup bagus dan aman karena hamster susah untuk mengerat permukaannya yang licin yang juga susah dipanjat.

Di dalam ember diberi sobekan-sobekan kertas yang lunak (sejenis kertas tissue), bisa juga serpihan-serpihan kayu. Yang agak merepotkan adalah harus rajin membersihkan kandang atau wadahnya. Tahinya kecil-kecil seperti beras tapi lebih besar sedikit, normalnya berwarna hitam, persis e’ek tikus. Tapi kencingnya cukup banyak, dan jika tidak rajin membersihkan kandangnya, baunya cukup mengganggu.

Perkembangbiakannya cepat sekali. Jika punya sepasang hamster yang sudah berumur 2 – 3 bulan, siap-siap untuk punya banyak hamster. Beberapa kali mereka bercinta, dalam waktu empat hari sang ibu segera hamil. Umur kehamilannya 16 sampai 18 hari, lalu melahirkan. Anaknya bisa berjumlah enam sampai 12 ekor. Ada yang sampai 17 ekor, tapi rata-rata 6 – 7 ekor. Ketika lahir, anak-anaknya seperti cindhil (anak) tikus, sebesar jari kelingking, berwarna merah, belum tumbuh bulu dan matanya masih tertutup. Setelah umur seminggu baru tampak warna bulunya, dan umur dua minggu baru terbuka matanya dan mulai keluyuran menjauh dari induknya.

Setelah melahirkan jangan coba-coba mengganggu anaknya sampai seminggu kemudian, jika induknya marah dia akan menelantarkan anaknya atau malah memakannya. Demikian juga kalau ada anaknya yang sakit, induknya akan tahu. Biasanya akan dimakan sendiri oleh induknya. Setelah berumur 2 – 3 minggu, anak-anak hamster sudah bisa hidup mandiri dan dapat dipisahkan dari induknya.

Setelah melahirkan, sebaiknya induk dan anak-anaknya dipisah dari hamster-hamster lainnya. Jika sudah siap untuk beranak lagi, baru dicampur dengan yang lain. Jadi dapat dibayangkan, betapa cepatnya perkembangbiakan hamster. Seperti dituturkan penjual hamster di pasar Ngasem, dari semula hanya memiliki sepasang hamster, kini sudah ratusan ekor keturunannya. Hamster memang termasuk binatang berumur pendek. Umur setahun biasanya sudah tampak tua dan tidak gesit. Umurnya rata-rata hanya 2 tahunan. Jika hanya ingin memelihara hamster untuk hiasan, sebaiknya ditempatkan hanya seekor dalam satu kandang.

***

Kini kedua hamster anak saya dan kedua anaknya hidup rukun dan damai di Tembagapura. Sebagian anak-anaknya dan saudara-saudaranya sudah hidup terpisah karena dibagikan kepada teman-teman anak saya. Paling tidak sudah ada sembilan ekor yang kini membina rumah tangganya masing-masing. Dan siap-siap untuk beranak-pinak, tergantung keinginan pemiliknya. Untuk enam ekor anaknya yang baru lahirpun sudah ada daftar pemesannya.

Menarik juga mengamati hamster-hamster ini. Kecil imut-imut, lucu, jinak (untuk jenis tertentu ada juga yang galak), tidak bersuara dan menggemaskan. Termasuk jenis binatang yang jarang membawa penyakit. Bisa menjadi hiburan yang mengasyikkan ketika pikiran sedang penuh sesak dengan urusan lain. Sama mengasyikkannya seperti ketika memandangi ikan-ikan di aquarium saat pikiran sedang stress. Boleh dicoba…..

Atau, melihatnya sebagai peluang bisnis? Seperti yang diceritakan oleh penjual hamster di pasar Ngasem, katanya hamsternya laku cukup keras. Harga untuk hamster seperti milik anak saya, sebut saja hamster “kampung”, harganya cukup murah. Banyak anak-anak yang suka. Bisa jadi klangenan anak-anak….. Habis, lucu sih …..

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 1 Agustus 2004.

Mbah Poniman Dan Kaweruh-nya

21 Maret 2008

Sebagaimana di daerah-daerah lain di Indonesia, perayaan menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-58, 17 Agustus 2003, kemarin juga diselenggarakan di Tembagapura, sebuah kota kecil di daratan Papua tengah. Demikian pula upacara pengibaran Merah Putih dan detik-detik proklamasi.

Namun, Tembagapura yang letaknya berada di ketinggian sekitar 1990 meter di atas permukaan laut, tentu mempunyai karakteristik agak berbeda, yaitu soal cuaca. Kabut dan awan mendung menyelimuti Tembagapura hampir setiap hari dan sudah menjadi pemandangan biasa. Semua masyarakat Tembagapura mafhum bahwa setiap saat awan akan dengan cepat berubah menjadi hujan. Maka lalu ada kekhawatiran setiap menjelang dilaksanakannya upacara 17-an, yaitu bagaimana kalau saat upacara lalu tiba-tiba hujan deras mengguyur?

Rupanya panitia selalu sudah mengantisipasi. Konon, seorang pawang hujan selalu disiapkan untuk membantu menjinakkan hujan. Entah apa terminologi yang tepat untuk kerja sang pawang ini, menjinakkan, mencegah, menunda atau mengalihkan turunnya hujan. Intinya adalah agar hujan tidak turun saat upacara sedang berlangsung sehingga tidak mengganggu kekhusyukan pengibaran Sang Merah Putih dan detik-detik proklamasi.    

Selama ini saya kurang tertarik dengan soal pawang hujan ini. Namun tanggal 17 Agustus 2003 kemarin ini pikiran saya rada terusik untuk ingin tahu lebih jauh tentang apa benar ada seorang pawang yang disewa panitia untuk menjinakkan hujan.

Usai upacara pengibaran bendera, lalu saya cari yang namanya pawang hujan itu. Akhirnya saya jumpai seorang kakek sedang santai-santai di belakang luar arena upacara. Menilik busananya saya langsung dapat menebak, pasti ini orang Jawa. Berbusana lusuh khas kampung di Jawa yang berwarna serba hitam dan mengenakan blangkon.

Setelah berbasa basi sedikit, ala Jawa, lalu saya tanya apakah beliau yang jadi pawang hujan. Dengan merendah beliau menjawab bahwa beliau cuma sekedar diminta untuk membantu agar tidak hujan saat acara sedang berlangsung. Kerendah-hatian yang kalau menilik gaya bahasa yang digunakannya memang khas orang desa di Jawa.

***

Itulah sekilas sosok Mbah Poniman yang kini sudah menginjak usianya yang ke-72, berarti saat proklamasi dikumandangkan Mbah Poniman ini berusia 14 tahun. Mbah Poniman ini asli Surabaya, dan sudah lama tinggal di dataran rendah kota Timika, tepatnya di kawasan Satuan Pemukiman transmigrasi wilayah 1, sering disebut dengan SP-1.

Menurut keterangan Mbah Poniman, keahliannya untuk “bermain-main” dengan hujan ini sudah ditekuninya sejak 37 tahun yang lalu, tepatnya sejak beliau berusia 35 tahun. Menilik jam terbangnya, tentu beliau sudah kategori expert untuk keahliannya itu. Dan katanya, dari tiga orang anaknya tidak ada yang tertarik mewarisi ilmunya. “Inggih lare sameniko, Pak…” (Ya maklumlah anak jaman sekarang, Pak), komentarnya pendek.

Itu sebabnya, beliau saat ini sedang “mengkader” seorang warga Papua, bernama Alex. Pak Alex, yang asal Biak dan tentu saja berambut keriting, sering diajak menemani gurunya ini kalau kebetulan Mbah Poniman dapat orderan, seperti yang dilakukannya kemarin ini di Tembagapura. Pak Alek hanya senyam-senyum dan berkata : “Saya cuma membantu saja”.

Mbah Poniman sehari-hari bekerja sebagai petani. Tentang keahliannya itu, beliau keberatan kalau disebut punya ilmu, atau disebut pawang hujan. Beliau lebih suka kalau keahliannya itu disebut dengan memiliki kaweruh. Istilah bahasa Jawa halus yang sebenarnya juga berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Lagi-lagi, saya menangkap kerendah-hatian khas Jawa.

Lalu apa yang dilakukan oleh Mbah Poniman kalau sedang dapat orderan mengendalikan hujan? Beliau menuturkan, sudah sejak tiga hari yang lalu menjalani laku puasa dan tidak tidur sama sekali (dalam hati saya berkata, mestinya ikut saja kontes touch the car di Mall Taman Anggrek, Jakarta, pasti pulang membawa mobil baru).

Selain itu ada rapalan (ucapan doa atau mantera) lainnya, yang ditulis dalam tulisan pego (tulisan Arab gundul berbahasa Jawa). Malah rapalan itu sempat diperdengarkan di depan saya, yang tentu saja tidak mudah untuk saya ingat. Ketika saya tanyakan apa maksudnya? Mbah Poniman itu menjelaskan bahwa yang penting memohon kepada Gusti Allah agar mengabulkan permohonan atau hajatnya. Ya hajat apa saja, termasuk yang berkaitan dengan harta, jabatan, keluarga, kehidupan, dsb. 

Tidak itu saja, saya ditunjukkan sebuah sesaji komplit yang diletakkan di salah satu sudut lapangan upacara. Di sebelahnya ada sebuah tombak yang dipancangkan dengan bagian ujungnya menghunjam ke atas. Entah apa maksudnya, yang tentu bisa panjang ceriteranya kalau saya tanyakan hal itu. Nah, di luar arena upacara beliau membakar kemenyan. Maka pada pagi kemarin itu, siapapun peserta upacara tahu bahwa saat itu ada kemenyan sedang dibakar karena memang baunya cukup menyengat.

Faktanya kemarin pagi, hujan tidak turun saat upacara pengibaran bendera berlangsung. Padahal saat itu Tembagapura sedang diselimuti awan sangat tebal, menggantung diam tidak bergerak, seperti tinggal tunggu waktu pecahnya bisul yang sudah matang. Tidak seperti hari-hari biasanya awan atau kabut bergerak berarak dihembus angin gunung.

Mbah Poniman memberitahu saya : “Meniko mboten saged dangu-dangu, amargi menyanipun kantun sekedik” (ini tidak akan berlangsung lama, karena kemenyannya tinggal sedikit). Maksudnya bahwa karena persediaan kemenyannya hampir habis maka beliau tidak bisa menahan tidak turun hujan terlalu lama. Beliau sudah memberitahu panitia, kalau ingin lebih lama tidak hujan maka perlu dibelikan tambahan kemenyan. Rupanya persediaan kemenyannya sudah terkonsumsi cukup banyak pada malam sebelumnya dimana Tembagapura diguyur hujan deras cukup lama sejak sore hingga tengah malam 17 Agustus. Begitu katanya.

Dalam hati saya membatin, lebih baik demikian. Daripada, konon pada perayaan 17-an tahun lalu, Mbah Poniman ini “keasyikan” mbakar kemenyan, sehingga kebablasan, yang berakibat seminggu kemudian Tembagapura kering tanpa hujan dan debu berhamburan dimana-mana.

Faktanya kemarin sore, hujan turun mengguyur lapangan dan peserta upacara pada saat upacara penurunan bendera sedang berlangsung. Usai upacara, saat hari mulai senja, saya cari-cari Mbah Poniman. Rupanya sudah kabur. Tidak saya lihat lagi sesaji dan tombak yang terpancang seperti yang saya lihat pagi harinya. Hanya bekas arang dan abu kemenyan yang basah oleh siraman hujan. Dalam hati saya membatin, barangkali “Service Agreement” dalam orderan untuk Mbah Poniman memang hanya sampai kemenyan habis, tidak ada klausul tentang suplai tambahan kemenyan. Apakah memang karena kemenyan Mbah Poniman habis, sehingga kemarin sore hujan mengguyur peserta upacara penurunan bendera? Wallahu a’lam.

Ada cerita lain dari Mbah Poniman, bahwa di sekitar Tembagapura ini ada dayangnya atau dalam istilah Jawa sering disebut Yang mBahurekso atau mahluk halus penguasa teritorial Tembagapura. Barangkali ini cerita yang pas untuk acara kisah misteri di saluran televisi.

Pada malam 17-an kemarin Mbah Poniman bercengkerama dengan dayang Tembagapura. Sang dayang bernama Mapuri, bertubuh pendek, hitam, berpakaian putih, berambut keriting, tapi anehnya bisa berbahasa Jawa. Menurut cerita Mbah Poniman, rupanya Mapuri keukeuh (ngotot) tidak bersedia pindah ke pemukiman lain. Sehingga dalam upaya penjinakan hujan ini Mbah Poniman perlu berkolaborasi dengan penguasa dunia permahlukhalusan Tembagapura. Mapuri lebih suka tinggal di pojokan lapangan tempat dimana sesaji diletakkan oleh Mbah Poniman. (Barangkali sang dayang Mapuri ini dulunya hobi main sepak bola, maka dengan tetap tinggal di pojok lapangan dia jadi bisa lebih sering nonton permainan sepakbola).

Di akhir obrolan dengan Mbah Poniman kemarin, beliau menawari saya. Kalau saya mau menyempatkan mampir ke rumahnya, maka saya akan diajari kaweruh-nya untuk menjinakkan hujan itu.

***

Mbah Poniman dan kaweruh-nya dan dunianya, adalah realitas hidup yang tak terpungkiri. Adalah fenomena menarik yang di jaman modern dan jaman informasi ini ternyata masih mempunyai nilai yang dibutuhkan orang, sekalipun dari lintasan yang paling pinggir yang nyaris tak terjamah oleh kesibukan modernitas di lintasan yang lebih dalam.

Satu hal yang patut dicontoh, terlepas dari apakah orang lain akan setuju atau tidak setuju dengan yang dilakukan oleh Mbah Poniman, apakah kaweruh-nya itu benar atau tidak benar menurut agama Islam yang dipeluknya, adalah sikap hidupnya yang sangat rendah hati. Sekalipun beliau punya kaweruh yang luar biasa, bahkan katanya mampu membantu melakukan approach dengan Gusti Allah agar mengabulkan setiap hajat pemintanya. Toh Mbah Poniman tetap biasa-biasa saja, sederhana dan bersahaja, tetap menjadi seorang petani dan tidak pernah bercita-cita menjadi konglomerat. Wallahu a’lam.

Tembagapura, 18 Agustus 2003
Yusuf Iskandar

Kisah Tentang Pak Wahib Dan Bu Inul

21 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah penggalan email (setelah saya revisi sedikit agar lebih sesuai untuk pembaca umum) yang pernah saya tulis untuk sebuah kelompok diskusi kecil di Tembagapura tentang tokoh Ahmad Wahib dengan bukunya “Pergolakan Pemikiran Islam” dan fenomena si ratu goyang ngebor Inul Daratista. Lalu meluncurlah catatan kecil “Kisah tentang Pak Wahib dan Bu Inul” ini. Sekedar untuk selingan saja.-
———–

(1)

Ing sawijining dino……. (pada suatu hari………)

Ahmad Wahib dengan pergolakan pemikirannya (sendiri dan sendirian), tidak pernah menyangka kalau catatan pribadinya kelak menyebabkan dirinya bakal diomongin orang (yang sebagian di antaranya “memusuhi” pemikirannya), dan dikafir-kafirin. Biarlah, Pak Wahib ini pernah berjuang dengan dunianya dan pemikirannya, bukan untuk siapa-siapa.

Inul Daratista dengan pergolakan kreatifitasnya (juga, sendiri dan sendirian), tidak pernah menyangka kalau bakal dikenal dan dibicarakan banyak kalangan (yang sebagian diantaranya “menyiriki” kreasinya), dan diharam-haramin. Biarlah, Bu Inul yang sedang berjuang memperoleh label “halal” dari MUI ini tenang menikmati produknya (entah labelnya nanti mau ditempel di mana).

Kini, Pak Wahib, Insya Allah, sudah tenang di alamnya — rest in peace. Dan, kita respek dengan pergolakan pemikiran Islamnya dan sikap amal sholehnya.

Pun, Bu Inul, sedang menikmati kreatifitasnya. Satu lagu konon dihargai Rp 6 juta (kini pasti lebih mahal lagi), complete with drilling style, FOB Jakarta. Kalau FOB Papua, barangkali jadi Rp 10 juta per lagu. Jadi kalau Bu Inul presentasi di kota Tembagapura, Kuala Kencana, Timika dan sekitarnya misalnya, masing-masing dengan 6 lagu, maka total purchasing cost-nya Rp 180 juta + bonus “saweran”. Lha iya, siapa yang tidak ngiri. Yang paling nyebelin ‘kan kalau ngiri-nya pakai embel-embel “nambahin gelar”, “mengatas-namakan”, dsb.

Nuwun sewu, saya bukan anggota FBI (Fans Berat Inul), hanya tertarik mencermati, atas dua alasan :

Pertama, Inul adalah fenomena yang bisa terjadi setiap saat di depan mata kita, untuk tema apa saja (kebetulan saat ini bertema drilling style).

Kedua, Inul adalah representasi kaum marginal yang di-fait-accompli (diterpaksakan) oleh kemarginalannya, sehingga harus struggling to surrender di haribaan “Sang Raja yang mengatas-namakan” (Anda pasti tahu, siapa Sang Raja ini. Bisa dibayangkan betapa nelangsa dan makan hatinya untuk berada dalam suasana seperti ini).

Maka tentang inul-menginul ini, saya mendukung gerakan FPI (Front Pembela Inul), bukan Inul sebagai Inul Daratista yang gedrug-gedrug di acara Duet Maut SCTV, melainkan Inul sebagai representasi kaum marginal yang termarginalkan semarginal-marginalnya. Mudah-mudahan beribu-ribu Inul lainnya yang ada di depan kita ini tidak lupa bahwa doanya sangat dekat di sisi Tuhannya. Kalau tidak, “Kasihan, deh lu…..”.-

Tembagapura, 30 April 2003
Yusuf Iskandar

——-
*) Ahmad Wahib — Salah seorang pelaku Angkatan ’66 yang kumpulan catatan hariannya dibukukan dengan judul “Pergolakan Pemikiran Islam”.

*****

(2)

Sejujurnya, saya sebenarnya juga merasa risih ketika enak-enak nonton TV bersama anak-anak dan istri kemudian muncul iklan produk “HORE”, dan lalu disuguhi bokong-nya Bu Ainur Rohimah meghal-meghol kayak menthok (itik manila). Saya bayangkan saat itu orang tua saya, mertua saya, tetangga saya, guru ngaji saya, para pejabat, Rhoma Irama dan termasuk alim ulama anggota IKADI (Ikatan Da’i Indonesia) beserta keluarganya, berada dalam suasana yang mirip-mirip yang saya alami. Karuan saja kalau kemudian mereka mencak-mencak : “Busyet…, Ini haram…!”.

Noval, anak saya yang kini kelas 3 SD, sambil tertawa bilang : “ngebornya kayak bey blade, ya Pak….”. Jangankan di luar sana, di rumah saya sudah jatuh korban. Sekali waktu Noval dimarahin ibunya, maka sambil cengengesan spontan dia membelakangi ibunya dan pantatnya di-meghal-meghol-kan menirukan ngebornya Inul. “Tuobat tenan….”, kata ibunya.

Jadi, Inul harus berhenti ngebor? Enteng saja Bu Inul yang penampilannya terkesan lugu, ndeso dan tidak neko-neko ini bilang : “Lha, saya sudah belajar 8 tahun untuk bisa ngebor kayak gini, kok sekarang disuruh berhenti”. Nah lu…!

Diam-diam, kaum ibu pun memuja Bu Inul, saking gemasnya dan kepinginnya bisa meniru lenturnya dan gemulainya liak-liuk tubuh Bu Inul ini. Para ibu berbusana muslimah pun berebut memeluk Bu Inul ketika ada kesempatan ketemu.

Dan…, “Kenapa harus Inul yang disalahkan?”, kira-kira demikian kilah para ibu. Di keramaian Jakarta, di pelosok Jawa Timur atau di Tembagapura, ada ratusan orang yang juga suka meliak-liukkan tubuhnya, tidak hanya Bu Inul.

Akhirnya, fatwapun dijatuhkan oleh IKADI, bahwa goyang ngebor Inul hukumnya haram. Agak “lega” sudah, setidak-tidaknya keputusan sudah dibuat (entah oleh siapa pun saja), dan kontroversi yang berkembang (untuk sementara) mereda.

Implikasinya adalah, barangsiapa mendukung, memfasilitasi, membantu, akan terselenggarakannya kegiatan dan tontonan ngebor-mengebor ala Inul, maka mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menjadi bagian dari perbuatan yang haram itu tadi. Demikian setidak-tidaknya yang hendak disampaikan oleh IKADI. Termasuk, penyelenggara acara TV, pemasang iklan, pendukung acara, penontonnya, dan pesawat TV-nya sendiri (berapa inch pun ukuran TV Anda).

Kini pertanyaannya : “Kenapa harus Inul?”. Pertanyaan yang cukup mengganggu, bagi orang yang tidak suka mikir yang lurus-lurus.

Ya, kenapa bukan para penari dan penyanyi latar yang beberapa tahun terakhir ini justru tampak lebih seronok dan erotis dan merangsang penampilannya?

Kenapa bukan Akbar Tanjung yang menyelewengkan dana Bulog yang diharamkan, sehingga semua pejabat Golkar yang mendukung keberadaannya kini juga akan termasuk orang-orang yang berbuat haram?

Kenapa bukan Tommy Suharto yang diharamkan, sehingga semua orang yang ada di sekitarnya adalah termasuk yang melakukan perbuatan haram?

Kenapa bukan para penguasa yang sepertinya membiarkan peredaran VCD porno merajalela?

Kenapa bukan mereka yang seakan menutup mata terhadap peredaran bebas minuman keras dan narkoba?

Atau, kenapa bukan mereka, ribuan “Inul-Inul” lainnya yang jauh lebih “Inul” daripada Inul.

Seorang rekan di milis ini berkomentar gusar : “…..padahal jaman sekarang ini susah lho, orang yang mampu meraih prestasi dan sukses dengan tanpa KKN, tanpa katabeletje, melainkan dengan usaha keras, merangkak dari bawah, seperti yang dilakukan Inul”.

Tahun depan, konon kalau jadi, rencananya Inul akan membiayai ibunya naik haji. Ibunya Inul saat ini tengah menerawang jauh, gamang memikirkan bagaimana dia harus melafalkan kalimat : “Kupenuhi panggilan-Mu Ya Allah….”, beruang-ulang. Ya, “kepenuhi panggilan-Mu” dengan uang haram, karena dia ingat uang pemberian Inul kini berstempel haram (menurut fatwa IKADI).

Jadi, Kenapa harus Inul?

Pertanyaan yang barangkali iramanya sama : Kenapa harus Marsinah, Kenapa harus Pak De (“pembunuh” Dice), Kenapa harus Prabowo Subianto, Kenapa harus Ahmad Wahib? Kenapa harus Abu Bakar Ba’asyir? Mereka adalah bagian dari orang-orang yang terpaksa terpinggirkan menjadi korban “pranata salah mangsa” (sistem salah musim).

Sistemnya sendiri sudah ada sejak dulu. Juga tidak ada yang salah. Namun, pada “musim-musim” tertentu sistem bisa saja salah, disalah-salahkan atau dipersalahkan. Apalagi kalau “musim penghujan yang basah”, sistem bisa menjadi licin dan rentan untuk terpeleset atau dipelesetkan. Wallahua’lam…..

Wassalam,

Tembagapura, 13 Mei 2003
Yusuf Iskandar

Auld Lang Syne

21 Maret 2008

Auld Lang Syne, bukanlah nama Cina dan bukan juga kata-kata bahasa Mandarin, meskipun sepertinya mirip-mirip. Auld Lang Syne adalah judul sebuah lagu yang teramat popular sebenarnya. Tapi kalau hanya membaca atau mendengar judulnya saja barangkali tidak banyak yang tahu, lagu apakah gerangan?. Meskipun demikian, saya sangat yakin bahwa setiap orang mulai dari anak-anak TK hingga orang dewasa mengenal lagu ini, setidak-tidaknya pernah mendengarkan, atau bahkan mungkin bisa rengeng-rengeng menirukannya.

Auld Lang Syne adalah judul lagu perpisahan. Lagu ini biasa dinyanyikan dalam acara-acara perpisahan, dalam suasana formal maupun non-formal, kampungan maupun kenegaraan, oleh rakyat jelata maupun penguasa kaya. Pendeknya, nyaris menjadi lagu “kebangsaan” untuk acara-acara perpisahan.

Hari Kamis malam yang lalu saya diundang menghadiri acara perpisahan beberapa orang guru sekolah SD-SMP Yayasan Pendidikan Jayawijaya, di Tembagapura, yang segera akan memasuki masa persiapan pensiun (MPP). Di penghujung acara, dinyanyikanlah lagu Auld Lang Syne. Seperti diingatkan, serta-merta muncul rasa ingin tahu saya tentang lagu yang selama ini tidak pernah saya bisa menyebutkan judulnya, kecuali sekedar mengatakannya sebagai pokoknya lagu perpisahan. Entah apa judulnya, yang pasti ingat melodinya. Yang pasti juga, banyak orang kalau mendengar lagu ini akan segera mengingat kembali kenangan jauh ke belakang tentang saat-saat berkesan dalam hidupnya.

***

Secara tradisional lagu Auld Lang Syne (dibaca : old lang sain) yang berasal dari daratan Skotlandia dan Inggris Utara ini biasa dinyanyikan pada tengah malam menjelang tahun baru. Tersurat dalam bahasa Inggris berarti old long ago. Tersirat dalam bahasa sekarang lebih pas kalau diterjemahkan menjadi saat-saat yang (pernah) indah.

Di Skotlandia sendiri lagu ini suka dinyatakan sebagai lagu yang tak seorangpun mengetahuinya, maksudnya tidak ada yang tahu persis bunyi syair aslinya. Hampir-hampir tidak ada yang dapat menyanyikanya bersama-sama dengan benar, melainkan setiap orang memiliki versinya masing-masing. Rupanya lagu ini memang mempunyai sejarah yang sangat panjang, sepanjang perubahan-perubahan dan gubahan-gubahan serta versi-versi syairnya yang beraneka macam, termasuk banyak versi yang kemudian tergubah dalam bahasa Indonesia. Namun, nampaknya justru di situlah letak kekayaan dan keabadian lagu ini.

Mula bukanya syair dan musik lagu Auld Lang Syne ini adalah sebuah lagu suangat lama, pada sekitar abad 15, yang dijumpai dalam sebuah puisi yang tak diketahui siapa penulisnya. Disebutkan bahwa melodi lagu ini diadaptasi dari irama tradisional yang ada di Skotlandia.

Catatan pertama tentang lagu ini ditemukan dalam surat seorang penyair bernama Robert Burns kepada seorang temannya bernama Mrs. Dunlop. Surat ini sendiri bertanggal 17 Desember 1788. Dalam surat itu Robert menyertakan gubahan lagu Auld Lang Syne dan menyertainya dengan kata-kata sentimentil : “There is an old song and tune which has often thrilled through my soul”.

Barangkali karena ini adalah dokumentasi pertama yang berhasil diketahui tentang gubahan lagu Auld Lang Syne, maka Robert Burns yang lahir di Ayr, Skotlandia, tanggal 25 Januari 1759 dan meninggal tahun 1796, kemudian lebih dikenal sebagai penggubah pertama lagu Auld Lang Syne. Di luar itu, Robert Burns yang menuliskan syair-syairnya dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Skotlandia, memang seorang penyair yang cukup produktif di masanya.

Sejak jamannya Robert Burns tahun 1788 itu hingga puluhan tahun kemudian, lagu Auld Lang Syne ini mengalami banyak versi gubahan. Bahkan hingga kini, lagu ini pun digubah, malah dipeleset-pelesetkan, sesuai dengan selera setiap penyanyinya dalam bahasa masing-masing. Tapi kok ya enak saja kedengarannya.

Tidak banyak yang tahu teks aslinya yang dalam bahasa Inggris pun banyak versinya. Dalam bahasa Indonesia juga digubah menjadi macam-macam, namun semua bernada sendu dan sedih dan sentimentil. Ya, namanya juga nyanyian perpisahan. Saya masih ingat waktu sekolah TK duluuuuu…… sekali, oleh ibu guru TK saya lagu ini digubah menjadi berjudul Sampun Wancinipun (sudah tiba saatnya), yang maksudnya sudah tiba saatnya untuk pulang sekolah.

Jika kemudian ada yang ingin mengetahui salah satu versi bait syairnya yang berbahasa Inggris yang kini banyak dipilih untuk dinyanyikan adalah sbb. :

            Should auld acquaintance be forgot,
            And never brought to mind?
            Should auld acquaintance be forgot,
            And auld lang syne?

            For auld lang syne, my dear
            For auld lang syne,
            We’ll tak’ a cup o’kindness yet,
            For auld lang syne!

Semoga dapat menjadi bekal untuk rengeng-rengeng, setidak-tidaknya biar kelihatan lebih gaya bisa menyanyikannya dalam bahasa sononya, jika sewaktu-waktu diperlukan untuk bernyanyi bersama dalam acara perpisahan.

Tembagapura, 14 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Matoa (1)

21 Maret 2008

Matoa adalah nama buah. Bentuknya lonjong, bulat agak memanjang, seperti buah kelengkeng, seukuran telur burung puyuh besar dan ada juga yang lebih besar lagi sedikit. Warna kulit buahnya, kalau masih muda berwarna kuning kehijauan, ada juga yang menyebut hijau-kekuningan dan kalau sudah matang berubah menjadi coklat kemerahan.

Rasa buahnya “ramai”, dan susah didefinisikan. Coba saja tanya kepada yang pernah memakannya, maka ada yang bilang rasanya masin, seperti antara rasa buah leci dan buah rambutan. Ada juga yang merasakannya sangat manis seperti buah kelengkeng. Ada yang bilang manis legit. Ada lagi yang merasakan aromanya seperti antara buah kelengkeng dan durian. Pendeknya, buah matoa berasa enak, kata mereka yang suka.

Selama ini orang mengenal buah matoa berasal dari Papua, padahal sebenarnya pohon matoa tumbuh juga di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa pada ketinggian hingga sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Selain di Indonesia pohon matoa juga tumbuh di Malaysia, tentunya juga di Papua New Guinea (belahan timurnya Papua), serta di daerah tropis Australia.

Di Papua sendiri pohon matoa sebenarnya tumbuh secara liar di hutan-hutan. Ini adalah sejenis tumbuhan rambutan, atau dalam ilmu biologi disebut berasal dari keluarga rambutan-rambutanan (Sapindaceae). Sedangkan jenisnya dalam bahasa latin disebut pometia pinnata.

Di Papua New Guinea, buah matoa dikenal dengan sebutan taun. Sedangkan di daerah-daerah lainnya, sebutannya juga bermacam-macam, antara lain : ganggo, jagir, jampania, kasai, kase, kungkil, lamusi, lanteneng, lengsar, mutoa, pakam, sapen, tawan, tawang dan wusel. Artinya, buah ini sebenarnya juga dijumpai di daerah-daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, meskipun orang lebih mengenai buah matoa ini berasal dari Papua, namun jangan heran kalau di sebuah shopping center di Yogya Anda akan menjumpai buah matoa dari Temanggung.

Buah matoa yang dijumpai di Jawa atau tempat-tempat lain, pada umumnya tidak sebagai hasil budidaya, melainkan sekedar hasil sampingan dari tanaman hias yang tumbuh di halaman-halaman yang cukup luas, atau bahkan hasil dari pohon matoa yang tumbuh liar. Di Papua, pohon matoa yang semula tumbuh liar kini menjadi semakin naik gengsinya. Apalagi semenjak presiden Megawati mencanangkan penanaman berbagai jenis pohon asli Indonesia seperti cempaka Aceh, meranti Kalimantan dan matoa Papua sebagai pohon lestari, di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta, pada awal Maret yll.

Dalam rangka program penghijauan nasional itulah, maka Menteri Negara Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim dan Gubernur Papua JP Solossa, pada Maret yll. mengawali penanaman 1000 pohon matoa di Kabupaten Mimika.

***

Hari Sabtu, 7 Juni 2003 akhir pekan lalu, Departemen Lingkungan (Environmental) PT Freeport Indonesia melanjutkan gerakan penanaman 1000 pohon matoa. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk kegiatan rekreasi yang melibatkan segenap jajaran management, karyawan dan keluarganya, diselingi dengan acara-acara lomba dan hiburan bagi anak-anak. Maka, 1000 pohon matoa pun segera selesai ditanam beramai-ramai. Penanaman dilakukan di lahan bekas penimbunan tailing (pasir buangan) sisa hasil pengolahan tembaga, di tepi selatan sungai Aijkwa, atau di sisi utara kota Timika.

Dari pohon matoa, selain diambil buahnya, batang kayunya juga sangat bermanfaat dan bernilai ekonomis. Tinggi pohonnya dapat mencapai 40-50 meter dengan ukuran diameter batangnya dapat mencapai 1 meter hingga 1.8 meter. Batang kayu pohon matoa termasuk keras tetapi mudah dikerjakan. Banyak dimanfaatkan sebagai papan, bahan lantai, bahan bangunan, perabot rumah tangga, dsb. yang ternyata tampilan kayunya juga cukup indah.

Maka, dapat dimaklumi kalau umumnya masyarakat Papua akan dengan bangga menyebut buah matoa sebagai buah khasnya propinsi Papua. Pohon ini berbunga sepanjang tahun, maka pohon matoa pun dapat dikatakan berbuah hampir sepanjang waktu. Oleh karena itu, buah matoa relatif mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional di Papua.

(Namun sebaiknya hati-hati : Kalau ada yang menawarkan matoa yang ukurannya sangat besar dan menjadi makanan kesukaan butho (raksasa), maka itu pasti matoahari….. ..)

Tembagapura, 9 Juni 2003
Yusuf Iskandar

Sehari Tanpa Udut (1)

21 Maret 2008

Besok, Sabtu tanggal 31 Mei 2003, adalah Hari Tanpa Rokok Sedunia (World No Tobacco Day). Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly), sebuah badan di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization), telah menetapkan bahwa pada akhir setiap bulan Mei setiap tahunnya dihimbau kepada masyarakat dunia untuk stop udut (berhenti merokok) selama sehari. Tema global yang dikumandangkan diantaranya tempat kerja yang bebas dari rokok, tumbuh dan berkembang tanpa rokok, media dan rokok.

Niat WHO ini sebenarnya sangat mulia, memberi dukungan kepada para perokok yang ingin berhenti merokok dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya merokok atau dampaknya terhadap kesehatan. Karena itu, para perokok dihimbau agar mensukseskan Hari Tanpa Rokok Sedunia, dengan cara TIDAK MEROKOK pada tanggal 31 Mei 2003. Sehari saja, dalam 365 hari. Atau, hanya 1/365 tahun. Tapi jangan tanya kepada para perokok, sehari tanpa udut, bukan main kecut-nya…….

Pariwaranya memang menyeramkan : 3,5 juta orang per tahun di dunia meninggal karena rokok, atau gampangnya setiap hari 10,000 orang di dunia meninggal karena rokok. Di Inggris, 120 ribu orang meninggal setiap tahun karena rokok. Di Amerika, 346 ribu orang meninggal setiap tahun karena rokok. Di Indonesia, “hanya” 57 ribu yang setiap tahun meninggal karena rokok. Lho, kok sedikit sekali? Padahal jumlah penduduknya saja sedikit di bawah Amerika dan peredaran komoditas hisap-menghisap ini luar biasa bebasnya, nyaris tanpa kendali, dibanding di negara-negara maju.

Peraturan untuk maksud pengendalian sebenarnya sudah ada, yaitu PP No. 81 tahun 1999, tentang pengamanan rokok bagi kesehatan. Tapi, ya peraturan tetap saja peraturan. Pelaksanaan dari peraturan itu bisa jadi ceritera yang berbeda. Menurut Komite Nasional Penanggulangan Masalah Merokok (KNPMM), pemerintah tidak tegas dalam pelaksanaannya. Saking gemasnya, KNPMM pada tahun 2000 melemparkan sinyalirnya bahwa sekitar 85 juta penduduk Indonesia berusia remaja saat ini akan menjadi perokok berat dan 12 sampai 13 juta diantaranya akan tutup usaia dalam usia setengah baya. Nah, lu….

Para “ahli-hisap” ini kini dihadapkan dengan fakta yang menyatakan bahwa dari jumlah 1000 orang, 1 (satu) orang meninggal karena pembunuhan, 6 (enam) orang meninggal karena kecelakaan dan 250 orang meninggal karena rokok (termasuk tentunya hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan aktifitas merokok). Dengan kata lain, ada angka statistik yang cukup menakutkan : 3 dari 10 orang meninggal karena rokok.

Seorang rekan bertanya kepada saya : “Piye, Mas…?”.

Maka sambil cengengesan saya berkomentar : “7 dari 10 orang meninggal karena tidak merokok……!”

Bagaimanapun juga, sejujurnya harus saya katakan, bahwa tidak merokok itu lebih baik dari pada merokok, kalau mau. Lha, kalau tidak mau? Resiko ancaman kesehatan serius menanti Sampeyan semua para “ahli-hisap”, cepat atau lambat.

Maka — Insya Allah — saya berniat memenuhi ajakan simpatik kali ini : “Jadikan tanggal 31 Mei sebagai hari pertama dalam hidup Anda tanpa asap rokok”. Indah sekali!.

Tembagapura, 30 Mei 2003.
Yusuf Iskandar

(Yang merasa menyesal minggu lalu menipu dokter dengan mengatakan sehari hanya menghisap 5 batang rokok, padahal sebenarnya menghabiskan hampir satu pak).-