Archive for the ‘AMERIKA’ Category

Hari Bapak

13 November 2008

Sembilan puluh empat tahun yang lalu, di kota Spokane, negara bagian Washington, seorang perempuan sedang mendengarkan wejangan Hari Ibu. Hatinya gundah. Ia enam bersaudara, ibunya meninggal saat melahirkan saudaranya yang keenam. Maka ayahnya, seorang veteran perang sipil bernama William Smart, lalu menjadi orang tua tunggal membesarkan keenam anaknya di kawasan pedesaan di bagian timur negara bagian Washington.

Perempuan itu, Sonora Louise Smart Dodd, ingin menunjukkan rasa terima kasihnya sebagai wujud penghargaan kepada ayahnya yang di mata Sonora telah berjuang bertahun-tahun tanpa kenal lelah membesarkan dan mendidik keenam anak-anaknya. Melebihi perjuangannya di medan perang. Menurut Sonora, ayahnya sangat mencintai anak-anaknya dan tabah dalam membesarkan mereka sebagai seorang bapak tanpa istri atau menjadi single parent selama 21 tahun.

Bagi Sonora dan kelima saudaranya, dengan tidak dimilikinya figur seorang ibu alias piatu, tentu tidak berarti mereka tidak memilik sorga, sebagaimana pepatah mengatakan “sorga terletak di telapak kaki ibu”. Ayahnya, sebagai orang tua tunggal yang ber-dwifungsi dalam menjalankan roda keluarganya, ya sebagai ayah, ya sebagai ibu, perjuangannya tidak dipungkiri bernilai setara sebagai perjuangan layaknya seorang ibu.

***

Pada tahun 1909, Sonora mengusulkan sebuah hari untuk menghormati ayahnya yang lahir pada tanggal 5 Juni. Hari itu dinamakannya sebagai Hari Bapak. Usulan itu memperoleh dukungan dari masyarakat. Namun dengan alasan tidak cukup waktu untuk mempersiapkannya, Hari Bapak yang pertama baru diperingati pada tanggal 19 Juni 1910 di Spokane, Washington.

Salah satu dukungan datang dari Harry C. Meek, Presiden Lion Club Chicago yang memberi andil kuat untuk diadakannya Hari Bapak. Ia berkampanye ke seluruh Amerika, menyampaikan tentang perlunya ada sebuah hari untuk menghormati kaum ayah. Hingga pada tahun 1920, Lion Club Amerika menganugerahkan jam emas kepada Harry sebagai “Originator of Father Day”.

Pada tahun 1924, pada masa pemerintahan Presiden Calvin Coolidge, sebagai presiden Amerika yang ke-30, ia menyatakan dukungannya untuk menjadikan tanggal 19 Juni sebagai Hari Nasional. Namun, baru pada tahun 1966, Presiden Lyndon Johnson sebagai presiden Amerika ke-36, memproklamirkan Hari Bapak sebagai hari nasional yang diperingati pada setiap hari Minggu ketiga bulan Juni. Kini, Hari Bapak diperingati di seluruh Amerika dan Kanada.

Bunga mawar dipilih untuk menandai Hari Bapak. Orang akan menyematkan bunga mawar merah jika ayahnya masih hidup dan akan mengenakan bunga mawar putih jika ayahnya sudah meninggal. Sama halnya ketika Hari Ibu tiba, pada Hari Bapak banyak warga Amerika memberi hadiah kepada suami, kakak laki-laki atau ayah mereka. Beraneka ragam kreasi dasi biasa dipilih sebagai hadiah pada Hari Bapak, selain tentunya juga perlengkapan kantor, barang elektronik, pakaian atau wewangian (meskipun barangkali uangnya juga minta kepada Sang Bapak). Maka tidak heran kalau kemudian toko-toko dan pusat perbelanjaan atau mall dipadati pembeli.

Orang-orang pun biasa memberikan aneka surprise kepada sang ayah tercinta setiap Hari Bapak tiba. Untuk tahun 2003 ini, Hari Bapak di Amerika jatuh pada tanggal 15 Juni 2003, sebagai hari Minggu ketiga di bulan Juni.

Menurut alkisah, jika pada tahun 1909 ide Sonora Dodd tentang Hari Bapak muncul di belahan barat laut daratan Amerika, maka setahun sebelumnya yaitu tahun 1908 Dr. Robert Webb telah meluncurkan acara Hari Bapak dalam suatu kebaktian di gereja Central di kota Fairmont, negara bagian West Virginia, di belahan timur daratan Amerika. Sebagian orang Amerika meyakini, saat itulah sebenarnya kali pertama Hari Bapak dirayakan.

***

Begitulah cerita tentang Hari Bapak di Amerika. Betapa seorang ayah juga sudah semestinya dihargai jasanya sebagaimana orang merayakan Hari Ibu untuk menghargai jasa-jasa seorang ibu. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah tidak perlu diadakan perayaan Hari Bapak? Agar kaum bapak juga senang memperoleh penghargaan sebagaimana penghargaan bagi kaum ibu.

Jawabannya, ngngng…., barangkali memang tidak perlu. Karena para bapak, dan Bapak-bapak, di Indonesia ini sudah cukup neko-neko….., kebanyaken (pakai akhiran ken) acara, dan sudah cukup manggut-manggut menerima perlakuan ABS (Asal Bapak Senang) setiap hari.

Kalaupun, setelah melalui referendum misalnya, terpaksa Hari Bapak itu harus diadakan di Indonesia, lalu tanggal lahir bapaknya siapa yang pantas dipilih?

Tembagapura, 19 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Memperpanjang Waktu Siang

12 November 2008

Layaknya ritual tahunan orang Amerika, maka mulai hari Minggu, 2 April 2000 ini hampir di seluruh wilayah Amerika memajukan putaran jamnya sebanyak satu jam. Tepatnya pada  jam 2:00 dini hari orang-orang Amerika memutar jamnya menjadi jam 3:00. Ini yang disebut dengan “Daylight Saving Time” (DST) guna menambah atau memperpanjang waktu siang hari, mengawali datangnya musim panas. Sebagai ilustrasi, kalau menurut Waktu Standard untuk periode Oktober – April beda waktu antara Jakarta dan New Orleans adalah 13 jam lebih awal, maka setelah DST untuk periode April – Oktober waktu di Jakarta menjadi 12 jam lebih awal dibandingkan dengan di  New Orleans.

DST dimulai setiap hari Minggu pertama bulan April dan akan diakhiri pada hari Minggu terakhir bulan Oktober, saat mana orang-orang Amerika akan kembali memundurkan jamnya satu jam, kembali ke Waktu Standard. Untuk tahun ini, akhir DST jatuh pada tanggal 29 Oktober 2000, sehingga tepat pada jam 2:00 dini hari, orang-orang Amerika akan memutar jamnya kembali dengan memundurkannya menjadi jam 1:00.

(Yang agak membingungkan bagi kita adalah istilah dimajukan dan dimundurkan. Kita terbiasa mengatakan kalau suatu acara dimajukan satu jam, artinya yang semula jam 8:00 dirubah menjadi jam 7:00. Sedangkan dalam pengertian DST, dimajukan artinya semula jam 8:00 bergerak maju menjadi jam 9:00. Demikian pula untuk dimundurkan).

Meskipun Kongress Amerika telah menyetujui tentang tata cara DST pada tahun 1966 melalui “Uniform Time Act”, ternyata tidak semua wilayah Amerika menerapkannya. Negara bagian Hawaii dan wilayah teritorial Amerika seperti Puerto Rico, Kepulauan Virgin, American Samoa dan Guam adalah wilayah-wilayah yang memilih untuk tidak ikut ritual tahunan DST. Kalau itu saja barangkali masih masuk akal, karena letak geografisnya memang terpisah dari daratan benua Amerika. Yang mengherankan ternyata negara bagian Arizona, dan lebih “aneh” lagi hanya sebagian dari wilayah negara bagian Indiana yang mengikuti aturan DST sedang sisanya tidak mau memutar-mutar jarum jamnya dua kali setahun (Apakah ini cermin “demokratisnya” Amerika, atau hanya sekedar “ingin tampil beda”, saya tidak tahu).

Terakhir aturan tentang awal dan akhir DST di Amerika ini dituangkan dalam amandemen tahun 1986, yang ditandatangani oleh Presiden Ronald Reagen, atas “Uniform Time Act” 1966 yang semula menetapkan awal DST adalah hari Minggu terakhir bulan April dan berakhir pada hari Minggu terakhir bulan Oktober. Namun sebelum itu, aturan tentang DST ini ternyata telah melalui sejarah yang panjang.

***

Tidak hanya di Amerika, ada sekitar 70 negara di dunia yang hingga saat ini menerapkan pola memperpanjang waktu siang hari di musim panas, tentunya dengan ketentuan waktu awal dan akhir yang berbeda-beda. Di Eropa tata cara ini dikenal dengan sebutan “Summer Time”. Negara-negara di dunia yang menerapkan DST antara lain adalah : Mesir dan Namibia (di Afrika); Israel, Irak, Iran, Libanon, Palestina, Syria, Mongolia dan negara-negara Eropa serta bekas Rusia (di Asia); Australia, Selandia Baru, Fiji dan Tonga (di Australasia); Rusia, negara-negara Uni-Eropa dan Greenland (di Eropa); USA, Canada, Mexico, Cuba, Brasil, Chili, Paraguay dan Antarctica (di Amerika).

Referensi tentang DST ini dimulai sejak Benjamin Franklin pertama kali melemparkan idenya dengan gaya humor lewat essainya yang berjudul “Turkey vs. Eagle. Cauley is my Beagle” di tahun 1784. Namun lebih satu abad kemudian baru disarankan kembali oleh seorang berkebangsaan Inggris, William Willett, di tahun 1907. Dari hasil pengamatannya, ia menulis sebuah pamflet yang berjudul “The Waste of Daylight”. Tahun 1916, sebuah Undang-undang Parlemen di Inggris mengangkat ide Willet ke dalam pengantar “British Summer Time”. Negara Inggris menegaskan bahwa bangsanya dapat menghemat energi dan merubah jamnya selama Perang Dunia I.

Tahun 1918 pada Perang Dunia II, Kongres Amerika mengetengahkan tentang DST, ternyata tidak populer. Ketika Amerika terlibat perang lagi di tahun 1942, kembali Kongres memberlakukan DST guna menghemat energi dengan memperpanjang waktu siangnya (mengurangi waktu gelapnya), hingga tahun 1945. Tahun 1945 hingga 1966, tidak ada peraturan di Amerika tentang DST, sehingga setiap negara bagian dan daerah bebas untuk menerapkan DST atau tidak, dengan tata cara masing-masing kapan mulai dan kapan berakhir.

Bisa dibayangkan apa yang kemudian terjadi. Terjadilah “kebingungan nasional”, terutama mereka yang bergerak di bidang industri siaran dan transportasi. Bukan saja karena pimpinan nasional mereka yang tidak mau repot-repot mengatur tentang waktu di pelosok wilayahnya, tetapi lebih-lebih masyarakatnya yang jadi sangat repot akibat setiap tempat menerapkan aturan yang berbeda-beda. Stasiun radio dan TV setiap saat mesti mengumumkan saat awal dan akhir DST dari setiap kota dan wilayah. Penumpang dan sopir bis antar kota antar negara bagian dalam sepanjang jalur perjalanannya harus sekian kali mengubah-ubah jam tangannya tergantung tempat dan aturan waktu yang berlaku. Para petani pun dibuat repot sehubungan dengan adanya penambahan waktu siang hari. Hingga akhirnya Kongres memutuskan untuk mengakhiri masa “kebingungan nasional” mereka, setelah terlanjur berjalan lebih 20 tahun. Presiden Lyndon Johnson menandatangani “The Uniform Time Act” pada tanggal 13 April 1966.

***

Di balik semua itu, keuntungan apa sebenarnya yang bisa diperoleh dengan perpanjangan waktu siang hari. Departemen Transportasi Amerika (yang mengurusi tata cara DST) melakukan studi dan menyimpulkan bahwa DST ternyata membawa keuntungan, antara lain : Pertama, menghemat energi. Dalam periode 1974-1975 (setelah perang Arab – Israel dan embargo minyak Arab tahun 1973), DST mampu menghemat kebutuhan minyak hingga 600.000 barrel per tahun. Kedua, menyelamatkan jiwa dan mencegah cedera akibat kecelakaan lalulintas. Akibat DST memungkinkan para pekerja dan pelajar pulang ke rumah di hari yang masih terang (jam belajar di Amerika hampir sama dengan jam kerja, berbeda dengan di Indonesia). Perjalanan di hari yang masih terang dipandang lebih aman dibanding jika hari sudah gelap. Ketiga, mencegah tindak kejahatan. Juga karena siang hari lebih panjang maka mengurangi kemungkinan orang terkena tindak kejahatan yang umumnya terjadi saat hari gelap.

Datangnya DST oleh Bagian Keselamatan dimanfaatkan untuk menganjurkan agar pada saat menggeser jarum jam sekaligus mengganti batu baterei “smoke detector” yang ada di rumah atau bangunan. Nyatanya di Amerika ini 90% perumahan dilengkapi dengan alat pendeteksi asap kebakaran, tetapi diperkirakan sepertiganya tidak berfungsi karena lalai mengganti batereinya.

Yang menarik, kalau sekarang Anda tanya kepada orang Amerika kenapa ada DST ? Umumnya mereka akan kesulitan menjawab, paling-paling akan terdengar jawaban : “karena Perang Dunia”, atau “agar orang-orang punya waktu lebih banyak berkegiatan di luar akibat waktu siang lebih panjang”, atau “untuk membantu petani”. Padahal, umumnya petani justru menolak DST. Petani biasanya bangun tidur mengikuti irama matahari, tidak perduli jam berapa. Dengan adanya DST, para petani jadi repot harus menyesuaikan jadwal hidupnya untuk menjual hasil pertaniannya kepada orang-orang yang mengikuti DST. Agaknya inilah yang terjadi di sebagian negara bagian Indiana yang para petaninya enggan untuk ikut-ikutan dengan aturan DST.

New Orleans, 2 April 2000
Yusuf Iskandar

(Disarikan dari berbagai sumber).-

Ibu Guru Teladan

12 November 2008
Betsy Rogers

Betsy Rogers

Seorang guru sekolah dasar dari negara bagian Alabama, terpilih sebagai guru terbaik tahun ini di Amerika Serikat. Presiden George Bush menghormatinya di Gedung Putih pada tanggal 30 April yll, dalam acara pemberian penghargaan yang sangat bergengsi “2003 National Teacher of the Year Award”.

Ibu guru teladan itu bernama Betsy Rogers. Sebagai guru terbaik tahun ini, Ibu Rogers akan menghabiskan waktunya tahun depan sebagai duta besar internasional untuk bidang pendidikan. Ibu Rogers akan meninjau ke seluruh Amerika Serikat dan negara lain, dan mengajurkan agar guru-guru sekolah terus diberi kursus lanjutan yang lebih baik.

Ini memang berita terlambat. Pertama kali membaca berita itu, sejujurnya, saya kurang tertarik. Pikiran saya terlanjur skeptis, paling-paling ya seperti pemilihan Pelajar Teladan atau Guru SD Teladan atau ribuan teladan lainnya, saat perayaan 17-an di Jakarta. Itu saja. Namun, ketika kedua kali saya menerima dan membaca berita yang sama, saya mengendus ada hal yang tidak biasa di balik pemilihan guru teladan itu.

Rupanya benar. Ada sesuatu yang menurut saya luar biasa. Ibu Roger ini ternyata memang bukan sembarang guru SD. Dr. Helen Betsy Roger adalah seorang ibu berusia 51 tahun, seorang sarjana lulusan Samford University tahun 1974 dan menyandang gelar Master dan Doctor di bidang pendidikan. Beliau telah menjadi guru selama 22 tahun dan memilih mengajar murid-murid kelas satu dan dua Sekolah Dasar di sekolahan kecil dan ndeso yang murid-muridnya berusia antara 5 hingga 7 tahun, dan kebanyakan anak-anak orang miskin (jangan lupa, di Amerika juga banyak orang miskin). SD itu bernama Leeds Elementary School, di Jefferson County, di luar kota Birmingham, negara bagian Alabama.

Seperti diberitakan oleh Voice of America, bahwa menurut Ibu Rogers, salah satu masalah utama sekolah-sekolah yang ada di daerah miskin adalah bahwa sekolah-sekolah ini tidak memperoleh cukup dana. Dia juga menghendaki agar lebih banyak guru yang bersedia datang mengajar ke sekolah-sekolah anak kaum miskin. Dia bersama suaminya pindah ke daerah pertanian dekat Sekolah Dasar Leeds Elementary pada awal tahun 1980-an. Mereka menghendaki kedua putra mereka mengenal anak miskin dan keturunan ras lain. Sejak itu sampai sekarang ia mengajar di sekolah tersebut.

Bagi Betsy Rogers, cara mengajar sangat beraneka ragam. Dia menganjurkan kepada para guru lain agar jangan sekali-kali menganggap bahwa seorang siswa tidak dapat belajar atau bodoh. Sebaliknya, ia menyarankan agar para guru mencoba teknik baru untuk memberi penjelasan.

Betsy Rogers menggunakan lukisan, musik, dan memasak sebagai bagian dari alatnya untuk mengajar. Dia berhasil meyakinkan sekolah tersebut agar memulai suatu program dimana guru-guru mengikuti perkembangan siswa dari mulai awal kelas satu sampai akhir kelas dua. Ini memungkinkan guru dapat mengukur kemajuan anak. Teknik ini di Amerika Serikat disebut looping. Sekolah-sekolah lain di negara bagian Alabama sekarang menggunakan teknik tersebut.

alam karirnya, Ibu Rogers yang nenek dan ibunya juga seorang guru ini, dikenal atas komitmennya terhadap para anak didik di luar jam sekolah. Sebelum jam sekolah dimulai, beliau memberikan pelajaran tambahan kepada murid-muridnya yang membutuhkan bantuan ekstra untuk belajar membaca. Ibu Rogers juga berminat pada kehidupan siswanya di luar ruang kelas. Dia menghadiri pesta anak-anak dan pertandingan olah raga mereka. Beliau aktif di Komite Sekolah. Beliau juga membantu keluarga para anak didiknya yang kurang beruntung melalui kelompok-kelompok gereja dan paguyuban atau organisasi social kemasyarakatan. Untuk berkomunikasi dengan semua anggota keluarga siswa, dia bahkan mengirim e-mail kepada orang tua siswa (perlu diketahui bahwa sarana email dan internet sudah menjadi sarana komunikasi umum bagi sebagian besar masyarakat Amerika).

Selama bertahun-tahun, Ibu guru Rogers telah bekerja keras untuk memastikan agar anak-anak didiknya memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa mempedulikan status ekonomi mereka. Beliau berargumentasi bahwa sekolah-sekolah yang kinerjanya rendah harus memiliki guru-guru yang terbaik. Beliau mencita-citakan agar kelasnya menjadi tempat dimana anak-anak merasa aman dan memberikan suasana yang membantu anak-anak mengembangkan dirinya. Beliau juga menginginkan agar para guru menjadi bangga terhadap profesi mereka dan mengetahui akan pengaruh peran mereka terhadap anak didik melalui cara-cara yang mungkin tidak terlihat.

***

Betsy Rogers terpilih mendapat kehormatan nasional di antara 54 orang guru teladan yang mewakili masing-masing negara bagian untuk berdiri di samping Presiden Bush menyampaikan sambutannya di Gedung Putih. Dalam pesan yang disampaikannya dalam kesempatan itu, Betsy Rogers sempat mensitir sebuah ucapan yang sangat puitis, bahwa “anak-anak kita adalah pesan yang hendak kita kirimkan menuju ke suatu masa yang kita tidak pernah melihatnya. Betapa ini adalah tanggungjawab yang mengagumkan dan luar biasa bagi kita sebagai pendidik, untuk bekerja menuju masa depan Amerika”.

Betsy Rogers juga menghimbau murid-muridnya untuk saling membantu. Dikatakannya : “Tidak perduli seperti apapun keadaan hidupmu, kalian tetap dapat memberi”.

Guru-guru seperti Ibu Betsy Rogers ini, menempatkan anak-anak di atas jalan untuk menjadi warga masyarakat yang baik, terlebih lagi menjadi orang tua yang berhasil. Mereka itu menunjukkan kepada para muridnya bahwa di sepanjang jalan itu ada banyak orang-orang yang perduli dan siap untuk membantu. Demikian kata Presiden Bush.

Apa yang dilakukannya sepulang dari Gedung Putih dan tiba di sekolahnya? Ibu guru Rogers menyampaikan pesan-pesannya di forum pertemuan untuk anak-anak TK sampai kelas dua SD. Kemudian dilanjutkan dengan berpidato di depan anak-anak kelas tiga sampai kelas lima SD. Murid-muridnya bangga karena seorang gurunya memperoleh penghargaan tertinggi dari Presidennya. Ibu Rogers pun bangga dapat berbagi cerita dan pengalaman di depan murid-muridnya.

Kelak ketika Ibu Rogers mengambil paket MPP, betapa bangganya para murid bersama-sama menyanyikan lagu “Auld Lang Syne”…… old long ago……saat-saat yang (pernah) indah…..

Semoga kisah tentang ibu guru Betsy Rogers ini dapat mengilhami kita semua (sebagai bagian kecil dari bangsa besar yang lagi terpurukruk-ruk-ruk-ruk ini) untuk berbuat sesuatu……..

Tembagapura, 18 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Mengawali Hari Di Guam

12 November 2008

Pernah dengar kata Guam? Guam adalah nama sebuah tempat, atau tepatnya nama sebuah daratan yang terletak di sisi agak ke barat Samudra Pasifik, yang membatasinya dengan Laut Philipina, atau kira-kira 2,500 km di sebelah utara daratan Papua (Irianjaya). Saya sempat transit di wilayah ini dalam perjalanan dari Honolulu menuju Denpasar.

Guam adalah bagian dari wilayah teritorial Amerika Serikat (barangkali semacam commonwealth untuk Inggris). Daerah ini mempunyai sistem pemerintahan sendiri yang dipimpin oleh seorang Governor yang saat ini dijabat oleh Carl T.L. Gutierrez, seorang putra daerah Guam asli. Sebagai salah satu dari 13 wilayah teritorial-nya Amerika, Guam bukan merupakan negara bagian Amerika, dan hubungannya dengan pemerintah Amerika adalah sebatas pada bantuan ekonomi dan militer. Menariknya, penduduk Guam ternyata tercatat berkewarganegaraan Amerika dan memperoleh fasilitas sebagaimana warga negara Amerika.

Bulan Juli nanti masyarakat setempat akan melakukan pemungutan suara untuk memilih akan tetap menjadi bagian dari wilayah territorial Amerika atau berdiri sendiri. Pengalaman Puerto Rico barangkali bisa menjadi cermin. Puerto Rico adalah wilayah territorial Amerika terbesar, berada di Laut Karibia. Tiga kali wilayah ini pernah melakukan pemungutan suara untuk menjadi negara bagian (state) Amerika ke-51, dan ternyata penduduknya lebih memilih tetap berstatus “persekemakmuran”, di antaranya karena dengan status ini mereka tidak harus membayar pajak pendapatan Federal.

Luas daratan Guam yang merupakan daratan vulkanik ini hanya sekitar 550 km2, membentang sepanjang kira-kira 48 km timur laut –  barat daya. Tempat ini terkenal sebagai tujuan wisata pantai, karena memang itulah pesona wisata andalannya sebagaimana umumnya banyak daerah kepulauan yang banyak membentang di Samudra Pasifik, tentunya selain dari kehidupan tradisional penduduk aslinya. Saking sedemikian dibanggakannya pesona wisata pantai di Guam, hingga bendera lambang pemerintahannya pun bergambar nyiur melambai dan perahu layar di atas dasar warna biru bergaris kotak merah. Agaknya yang membedakan antara Indonesia dengan Guam, meskipun sama-sama bangga dengan nyiur melambainya, adalah bahwa di Guam tidak ada lagu “Rayuan Pulau Kelapa”.

Guam kini telah menjadi salah satu pilihan bagi kebanyakan wisatawan dari Jepang. Terbukti dari banyaknya jalur penerbangan langsung yang menghubungkan Guam dengan paling tidak ada delapan kota di Jepang, sementara dengan Philipina diwakili kota Manila, Taipei di Taiwan dan dengan Indonesia diwakili Denpasar. Barangkali karena itu maka bahasa Jepang menjadi bahasa kedua setelah Inggris, yang dipergunakan untuk ber-halo-halo di pesawat dari dan ke Guam. Selama beberapa dekade, Guam sangat dipengaruhi oleh kultur masyarakat Jepang, dampak dari para turis Jepang yang mencari pantai tropis terdekat, yang di situ ternyata mereka bias mendapatkan tas-tas produk Chanel yang bebas pajak. Akibatnya secara perlahan masyarakat Guam menerima bahasa, makanan, pakaian dan agama pendatang Jepang.

Daratan Guam yang ibukotanya bernama Hagatna (Agana) dan tidak lebih luas dari wilayah Jakarta itu ternyata tidak padat penduduknya, hanya ditunggui sekitar 153,000 orang yang menggunakan bahasa Inggris dan Chamorro sebagai bahasa resmi, selain juga bahasa Jepang. Bahasa Chamorro ini dalam perkembangannya sebagai salah satu bahasa di wilayah Mikronesia ternyata kalau ditilik-tilik mengandung unsur bahasa Malaysia, Indonesia dan Philipina. Dan kini ternyata masyarakat setempat merasa “kehilangan” dengan budaya asli Chamorro, sebagai dampak dari masuknya budaya barat dan juga terutama dari budaya Jepang. Meskipun penduduknya sedikit, sepengetahuan saya Guam ini tidak pernah absen ikut pentas kejuaraan Ratu Ayu se-Jagat, meskipun jarang masuk final. (Barangkali karena kaum perempuannya sudah terlatih berbikini di pantai. Bedanya kalau di Indonesia yang diperlukan adalah yang sudah terlatih nekad, bukan naked).

Tempat ini dulunya, pada jaman Perang Dunia II, merupakan salah satu pangkalan militer Amerika. Karena itu tidak mengherankan kalau di daratan yang tidak terlalu luas ini banyak dijumpai bekas-bekas peninggalan perang.

Sebagai bagian dari wilayah teritorial Amerika, Guam adalah wilayah teritorial yang terletak di ujung paling barat dari wilayah Amerika lainnya. Letaknya yang berada di sebelah barat garis batas penanggalan internasional, menjadikan kalau kita berada di Guam ini satu hari lebih awal dibandingkan dengan wilayah Amerika lainnya.

Hari Senin jam 15.30 sore saya berangkat dari Honolulu, tiba di Guam jam 19:00 malam tapi ternyata sudah hari Selasa, padahal perjalanan ditempuh sekitar 7,5 jam. Pantesan masyarakat Guam sangat bangga dengan slogannya : “Where Amerika’s Day Begins”, lha wong di belahan Amerika lainnya masih Senin, di Guam sudah Selasa.

Tembagapura, 16 Maret 2000
Yusuf Iskandar

Pak Gubernur Akan Mogok Bersama Para Guru

12 November 2008

Di Jakarta – 18 April 2000, unjuk rasa besar-besaran para guru yang berdatangan ke pusat pemerintahan untuk menuntut kenaikan gaji dan perbaikan nasib. Para wakil rakyat (DPR) dan para pejabat Depdikbud pada intinya mendukung keluhan para bapak dan ibu guru itu. Bahkan Presiden Gus Dur juga menjanjikan akan memperhatikan dan memperbaiki nasib para guru yang kini merasa “tersinggung” disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Di New Orleans – 19 April 2000, beberapa kelas sekolah negeri meliburkan muridnya. Ada apa gerangan? Rupanya para gurunya berbondong-bondong menuju Baton Rouge (ibukota negara bagian Louisiana) guna berunjuk rasa besar-besaran menghadap Gubernur menuntut kenaikan upah.

Apakah mereka sudah semayanan (janjian) hingga peristiwa unjuk rasa itu terjadi berturut-turut di tempat berbeda? Tentu tidak……! Tapi pasti mereka telah sama-sama merasakan bahwa nasib mereka perlu perbaikan.

Hingga kemarin saya masih menganggap kedua peristiwa itu adalah kejadian yang biasa-biasa saja. Ada pihak yang merasa kurang diperhatikan. Lalu karena mengeluh dengan cara yang baik dan enak tidak mempan, ya ditempuhlah cara yang tidak baik dan tidak enak. Itu saja.

Baru ketika saya membaca koran lokal “The Times-Picayune” hari ini, saya merasakan ada hal yang aneh. Di Jakarta, Presiden Gus Dur (yang adalah orang upahan, kata Emha Ainun Nadjib) telah mengabulkan tuntutan para guru, meskipun tentu saja belum memuaskan. Di Louisiana, sudah sebulan ini belum ada tanda-tanda akan dipenuhinya tuntutan para guru. Sampai-sampai keluar tekad Pak Gubernur Mike Foster yang kira-kira jawa-nya berkata demikian : “Kalau DPRD tidak melakukan apa-apa, dan Anda (para guru) merasa harus mogok, maka saya akan ada di sana bersama Anda”. Lho…, Pak Gubernur akan ikut mogok bersama para guru ?

Kejadian itu terasa aneh bagi saya (yang sudah terbiasa hidup dalam berdemokrasi Pancasila). Trias politika murni agaknya memang diterapkan di Amerika. Jika perlu eksekutif akan bertarung dengan legislatif atau yudikatif (tidak ada konspirasi tilpun-tilpunan). Ya, seperti tekadnya Pak Gubernur itu. Ternyata Pak Gubernur memang ngiras-ngirus (sekaligus) sedang berupaya untuk menggolkan usulan menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) melalui usulan kenaikan pajak usaha yang hingga kini belum juga disetujui pihak legislatif. Sebagian dari penambahan pemasukan dari pajak itu rencananya akan dialokasikan untuk menaikkan gaji guru.

Perasaan aneh saya semakin menjadi-jadi, ketika saya mencoba menganalogikan (meskipun ini analogi yang tidak tepat), peristiwa di Louisiana dengan di Jakarta. Seandainya, Pak Presiden Gus Dur ikut berunjuk rasa bersama para guru di gedung DPR/MPR ……-

New Orleans, 18 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Mantan Gubernur Itu Kini Sedang Terpuruk

12 November 2008

Namanya Edwin Washington Edwards. Tahun 1964 dia terpilih menjadi anggota Senat dan tahun 1965 dia menjadi anggota Congress. Lalu tahun 1972 dia terpilih menjadi Gubernur negara bagian Louisiana yang ke-56. Karir politiknya cukup mengesankan, terbukti dia berhasil menjadi Gubernur Louisiana hingga empat kali masa jabatan, meskipun tidak secara berturut-turut, dalam periode 1972 hingga meninggalkan kantor gubernuran awal 1996.

Namun sayang, menjelang kelengserannya sebagai Gubernur keempat kalinya, dia tersandung dengan urusan yang saat itu “dikiranya” wajar-wajar saja, tetapi kini oleh pengadilan Federal dinyatakan sebagai perbuatan yang sangat salah. Hari Selasa yang lalu (9 Mei 2000) dia dinyatakan bersalah atas 17 dari 26 perkara yang dituduhkan. Dia tidak sendirian, ada 4 terdakwa lainnya yang juga dinyatakan bersalah oleh juri, dan satu diantaranya adalah putranya sendiri. Mereka terbukti telah bersekongkol melakukan pemerasan atas beberapa perusahaan yang mengajukan ijin pengoperasian usaha perjudian, senilai lebih US$ 3 juta. Tentunya cara pemerasan yang dilakukan oleh mereka tidak sama dengan cara yang dilakukan para preman jalanan, meskipun kejadiannya serupa. Kita semua tentu paham itu.

Banyaknya jumlah perkara yang dituduhkan karena cara pembuktiannya tidak dilakukan secara bongkokan menjadi satu gepok perkara : “pokoknya Sampeyan korupsi 3 juta dollar”. Melainkan setumpuk perkara berbau korupsi itu diurai kasus per kasus, lalu masing-masing dibuktikan benar atau salah. Perlu waktu 18 bulan bagi pengadilan Federal untuk menuntaskan kasus itu hingga amar putusan dijatuhkan.

Hari-hari ini mantan Gubernur itu sedang terpuruk. Pak Edwin kini berusia 72 tahun (kurang lebihnya sebaya dengan mantan Presiden kita, Pak Harto; bedanya Pak Edwin masih bersedia menghadiri pemeriksaan dan sidang pengadilan dengan gagah dan jiwa besarnya, dan Pak Edwin punya istri cantik berusia 35 tahun bernama Candy Edwards), dan dia sedang diancam untuk menjalani hukuman 255 (dua ratus lima puluh lima) tahun penjara. Artinya kalau hukuman itu dijalani, tahun 2255 dia “baru” akan bebas, dan saat itu usianya “sudah” mencapai 327 tahun. Selain hukuman penjara, dia juga harus mengembalikan uang sebesar US$ 2,5 juta (sebuah koran lokal menulis : apakah dia saat ini punya uang sebanyak itu?). Dalam keterpurukannya hari-hari ini, dia dan pengacaranya sedang memikirkan upaya banding. Kalau ternyata tidak berhasil, maka segera dia harus masuk penjara untuk menjalani hukumannya.

Itulah hasil kerja keras FBI selama lebih 3 tahun terakhir, mengumpulkan bukti-bukti guna menjerat sang mantan Gubernur. Ternyata Edwin Edwards ini memang sudah sejak lama, bahkan sejak masa jabatannya yang kedua, sudah diincar FBI untuk dijerat dengan hukum atas perkara yang berbau-bau korupsi. Tetapi setiap kali sang Gubernur berhasil menang di pengadilan.

***

Melihat kenyataan bahwa Edwin Edwards telah empat kali terpilih menjadi Gubernur, tentu bukan prestasi politik yang biasa-biasa saja. Kalau tidak, tentunya sebagian besar rakyat Louisiana tidak bodoh mempercayai Edwin sebagai pemimpinnya. Sebab kita tahu bahwa sistem pemilihan dilakukan secara langsung. Rakyat langsung mencoblos namanya saat pemilihan, bukan tanda gambar yang akan memilih perwakilan mereka. Artinya, jasanya bagi masyarakat Louisiana pada masa itu memang diakui, hingga empat kali periode kepemimpinannya.

Namun, barangkali inilah tradisi demokrasi masyarakat Amerika. Pada saat dia layak dipercaya, maka dia akan dipercaya sepenuhnya. Saat sebagian besar rakyatnya memilihnya sebagai pemimpin (meskipun sebagian sisanya barangkali menolaknya), maka diangkatlah dia sebagai pemimpin. Saat dia menunjukkan performance-nya yang baik dan melakukan hal yang benar, ya dihargailah keberhasilannya itu. Akan tetapi juga, saat dia melakukan kesalahan, ya diberilah hukuman atas kesalahannya itu.

Jasa-jasanya di masa yang lalu ternyata tidak harus menjadi pertimbangan untuk memaafkan kesalahannya, meskipun jasa-jasanya itu diakui. Sampai-sampai Edwin ngayem-ayemi (menenangkan perasaan) dirinya sendiri saat menghadapi wartawan dengan mengatakan : “Barangkali ini adalah bab terakhir dalam hidup saya, tetapi ada banyak bab-bab sebelum ini. Banyak hal telah terjadi di bawah kepemimpinan saya selama saya menjabat sebagai Gubernur negara bagian ini dan sebagai anggota Congress”. Maksudnya tentu agar rakyat atau masyarakat Louisiana tidak begitu saja melupakan jasa-jasanya sebagai Gubernur dan anggota Congress.

***

Melihat episode tragis seorang mantan Gubernur itu, yang kemudian terlintas dalam pikiran saya adalah pertanyaan : Mungkinkan esensi keadilan yang demikian itu terjadi di negara kita Indonesia?. Tanpa harus bersembunyi di balik jargon klasik : beda kultur, beda tradisi, beda sistem, dan beda-beda lainnya yang hanya akan melegalisir faktor sungkan dan ewuh-pakewuh….  Ah, yo embuh…….!

New Orleans, 14 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Info Korupsi

12 November 2008

Seorang teman di Indonesia mengirimi saya majalah Tempo layak baca. Ada sebuah artikel yang menarik perhatian saya, berjudul : “Koruptor Mati, Hiduplah Korupsi”, yang diturunkan dalam edisi 13-19 Maret 2000 yang lalu. Pertama, karena di jaman reformasi ini ternyata kasus-kasus beraroma korupsi yang dulu sepertinya tertutup-tutupi, sekarang ini menjadi lebih transparan dan terbuka untuk umum (meskipun ujung-ujungnya ya balik tertutup lagi). Kedua, semakin mudah terbukanya kasus-kasus korupsi itu, semakin terbuka pula demikian mudahnya untuk tertutup lagi. Ketiga, kelihatannya sudah tidak perlu lagi bisik-bisik untuk menuding kasus korupsi, lha wong memang sudah jelas-jelas terjadi (setidak-tidaknya demikian menurut berita media massa).

Ada cerita lain dengan apa yang saya jumpai di sini, setidak-tidaknya di New Orleans. Sejak setahun terakhir ini, entah sudah berapa puluh kali saya jumpai iklan berhadiah di harian “The Times-Picayune”, yang menjanjikan hadiah sampai US$ 100,000 (kira-kira senilai dengan Rp 750 juta) jika Anda punya info tentang perbuatan ilegal, antara lain korupsi, atau perbuatan tidak etis yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah.  Iklan dua kolom itu dipasang oleh The Metropolitan Crime Commission (MCC), yaitu sebuah kelompok LSM yang sangat gencar mengkampanyekan tentang kehidupan pemerintahan yang bersih.

Menurut informasinya, selama lima dekade terakhir ini sebenarnya MCC seperti tidak punya gigi, tidak punya popularitas, dan dianggap enggak ada apa-apanya. Namun tahun-tahun terakhir ini telah berkembang menjadi institusi di luar pemerintahan yang menanjak popularitasnya, cukup bikin kesal (baca : disegani) oleh terutama kalangan hakim dan sheriff, karena memang banyak menyisir polah tingkah dunia peradilan dan kepolisian. Tidak mengherankan kalau keberadaan MCC sempat mengundang cemoohan dari kedua kalangan itu. Keadaan ini mengingatkan saya dengan apa yang sedang menjadi isu hangat di Indonesia, yang juga kedua kalangan itulah yang kini sedang gerah karena sering menjadi sorotan.

Tentang info yang berhadiah besar ini, kalau Anda punya informasi apapun yang ingin disampaikan (tentang tindakan ilegal dan tidak etis), maka Anda tinggal angkat tilpun ke nomor tertentu yang disebut dengan “Watch Dog Corruption Hotline” dan sangat dijamin kerahasiaannya. Setelah itu, info itu akan dikaji lebih jauh oleh MCC, eh siapa tahu, layak untuk diberi imbalan yang sangat menggiurkan untuk hanya sebuah info.

Di bagian akhir dari iklan itu tertulis sebuah ajakan yang sangat menarik : bergabunglah dengan kami untuk menciptakan agar komunitas kita menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk hidup, bekerja dan membina keluarga. Sebuah ajakan yang sangat membangkitkan simpati dan menjadi idaman masyarakat manapun.

Sesungguhnya bukan soal tawaran imbalannya yang menarik perhatian saya, melainkan di balik itu ada mencerminkan betapa perbuatan ilegal dan tidak etis di kalangan pemerintahan, setidaknya di New Orleans, sedemikian menjadi kepedulian umum dalam sistem bermasyarakatnya. (Atau justru sebaliknya, makanya dipasang iklan?. Entahlah). Namun yang patut digaris-bawahi, saya menangkap kesan bahwa hal itu bukan sekedar pemanis wacana politik masyarakatnya.

Dalam hati saya berkhayal : kalau saja itu terjadi di sebuah kumpulan kampung nun jauh di katulistiwa sana yang bernama (saya bangga menyebutnya) Indonesia. Rasanya kita masih boleh berharap banyak kelak di kemudian hari, dengan langkah-langkah yang sudah, sedang dan akan terus dilakukan antara lain oleh Indonesian Corruption Watch. Dan juga mudah-mudahan oleh anak-anak bangsa lainnya yang tidak terbutakan hatinya.

New Orleans, 9 April 2000.-
Yusuf Iskandar

Nonton Festival Jazz Di New Orleans

12 November 2008

Kota New Orleans punya gawe, yang diberi judul “New Orleans Jazz & Heritage Festival 2000”. Ini adalah pesta musik jazz tahunan terbesar (karena masih ada beberapa pesta musik lainnya yang berskala lebih kecil), yang orang biasa menyebutnya dengan “Jazz Fest 2000” saja, dan tahun ini adalah tahun penyelenggaraan yang ke-31.

Ukuran besarnya pesta memang tidak tanggung-tanggung. Selama periode tujuh hari dalam dua akhir pekan yll (28-30 April dan 4-7 Mei 2000), digelar 10 panggung utama yang setiap harinya di setiap panggung tampil 5-6 kelompok musik mulai sekitar jam 11:00 pagi hingga jam 19:00 sore (saat ini jam 19:00 di Amerika masih terang benderang). Sampai-sampai saya sendiri kesulitan menghitung jumlah kelompok musik yang tampil, yang pasti lebih dari 400 kelompok. Ya benar, lebih 400 kelompok telah tampil. Mulai dari kelompok universitas, sekolah musik, kelompok gereja, kelompok kampung maupun profesional. Ada yang main solo, duet, trio, kuartet, group, hingga rombongan orkestra.

Ada banyak jenis musik, khususnya jazz serta berbagai kembangannya yang juga divariasi dengan musik apa saja. Maka pilihan musik menjadi banyak, ada jazz rock, tradisional maupun kontemporer, ada blues, dixie, rap, R&B, reggae, funk, brass dan country, ada irama latin, brazil, karibia, afrika dan indian, ada musik gospel, musik cajun (tradisional New Orleans), dan ada yang baru bagi saya yaitu musik tradisional zydeco.

Saking banyaknya pilihan musik, sehingga perlu waktu tersendiri sebelum memutuskan untuk datang ke arena pertunjukan, yaitu untuk mencermati jadwal acara guna memilih mau nonton group yang mana, di panggung sebelah mana, hari apa dan jam berapa. Bagi saya yang membawa keluarga tentu mesti mempertimbangkan juga, nanti anak-anak disuruh ngapain, karena pasti mereka belum bisa menikmati suasana seperti ini. Perencanaan semacam ini memang akan sangat berguna dalam hal effisiensi waktu, mengingat arena cukup luas dan padat pengunjung, sementara waktu kita terbatas.

Diantara pemusik terkenal yang tampil diantaranya Chick Corea, Gary Burton, Diana Krall, Sting, Lenny Kravitz (sebagaimana juga dilansir Astaga.com), juga beberapa penampil yang memperoleh sambutan meriah penonton seperti Temptations, Marva Wright, Neville Brothers, serta musik-musik khas tradisional. Maka wajar kalau pesta ini menjadi salah satu kebanggaan New Orleanian (sebutan untuk orang New Orleans). Selain tampil di panggung-panggung terbuka di siang hari, beberapa kelompok juga tampil di malam hari di gedung, hotel maupun tempat pertunjukan lain yang lebih selektif penontonnya. Maka selama tujuh hari pertunjukan, tidak kurang dari 500.000 pengunjung tumplek-bleg (tumpah ruah) di arena terbuka.

Tentu harus mbayar untuk bisa masuk ke arena, dewasa $20.00 dan anak-anak $2.00. Belum lagi jajanan dan minuman, yang tidak bisa tidak pasti dibeli. Lha wong tidak diperkenankan membawa bekal dari luar, sementara cuaca cukup panas, sekitar 90-an. Ini kebiasaan orang Amerika untuk menyebut temperatur, yang maksudnya sekitar 90 derajat Fahrenheit (atau setara dengan 32-33 derajad Celcius). Suhu udara yang cukup panas bagi orang Amerika.

***

Mengajak keluarga untuk hadir di tengah pertunjukan semacam ini memang tidak mudah, sekalipun Panitia juga menyediakan kegiatan khusus bagi anak-anak, serta ada puluhan parade (karnaval) yang berjalan mengelilingi arena. Jelas suasananya sangat riuh, padat dan panas menjadi satu, belum lagi sesekali angin yang bertiup membawa debu. Anak-anak tentu tidak jenak (nyaman, bisa menikmati) dalam suasana seperti ini, sementara kedatangan saya adalah untuk menikmati musik.

Jalan keluarnya? Anak-anak dibelikan makanan dan minuman, lalu disuruh main di bawah tenda raksasa yang digunakan untuk pameran mobil mewah (sehingga tidak kepanasan), dan ibunya diminta dengan hormat untuk mengawasinya, sementara bapaknya ngeluyur dari panggung ke panggung, berdesakan di sela-sela penonton lain.

Maka ada dua tontonan yang ternikmati (awalan ter, artinya tidak sengaja), pertama tentu pertunjukan musiknya, kedua adalah kaum perempuan Amerika yang dalam cuaca panas itu memilih untuk mengenakan (atau tidak mengenakan?) pakaian atasnya hanya ber-kutang ria. Pemandangan ini menjadi biasa, dan (ini yang enggak enak) juga bagi anak-anak. Tapi, itulah yang memang tidak terhindarkan. Anak laki-laki saya yang TK Besar berkomentar : “kok tidak malu, ya”. Karena saya kesulitan menimpali komentarnya, sayapun nyeletuk sekenanya (menirukan gaya orang Medan) : “Ini Amerika, Le…” (Le : panggilan ala kampung untuk menyebut anak laki-laki).-

Minggu siang itu lebih 3 jam saya berada di arena pertunjukan menikmati musik di bawah terik matahari, dan sempat berjalan dari panggung ke panggung. Setiap kelompok mempunyai durasi tampil yang berbeda-beda. Kelompok-kelompok lokal dan amatir biasanya hanya 30 menit, sedang kelompok profesional yang lebih punya nama bisa sampai 2 jam. Sesekali saya tidak bertahan lama berdiri di satu tempat, karena terganggu oleh bau bir dari botol atau gelas yang dibawa penonton di sebelah saya, atau bau sejenis mariyuana yang (sebenarnya khas dan enak) tapi mengganggu.

Setiap kali berdiri ditengah penonton, saya sempat memperhatikan sekeliling. Nampaknya cara saya menikmati musik berbeda dengan orang Amerika. Saya  cukup menikmatinya dengan diam dan dengan perasaan nglaras, tapi orang Amerika menikmatinya dengan gerakan. Maka begitu alat musik bunyi, tangan, kepala, badan dan pantat mereka langsung megal-megol, lenggak-lenggok, goyang-goyang. Wah …, satu tontonan lagi ternikmati.

Itulah “Jazz Fest”, dan itulah New Orleans. Bagi penggemar dan pecinta musik, maka New Orleans adalah tempatnya, terutama musik jazz dengan berbagai varian serta derivatifnya. Masyarakatnya yang heterogen, yang datang dari berbagai etnis lokal maupun dunia, turut mewarnai jenis musik yang berkembang, dan tentunya enak dinikmati.

New Orleans, 9 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Berakhir Pekan Di Festival Strawberry Ponchatoula

12 November 2008

Selama dua hari di akhir pekan ini, Sabtu-Minggu, 7-8 April 2001, di sebuah kota kecil bernama Ponchatoula digelar acara tahunan yang disebut “Ponchatoula Strawberry Festival”. Tahun ini adalah tahun ke-30 sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1972. Menilik sebutan acaranya, memang keramaian ini berkaitan dengan buah strawberry.

Ponchatoula memang terkenal sebagai penghasil utama buah strawberry, khususnya untuk wilayah negara bagian Louisiana. Bahkan para Ponchatolian (sebutan untuk penduduk Ponchatoula) sangat bangga menyebut kotanya sebagai “Strawberry Capital of the World!”. Sebutan yang kedengarannya berlebihan. Namun karena saya tidak menjumpai fakta statistiknya, maka begitulah saya juga menyebut kota Ponchatoula. Setidak-tidaknya sebutan itu sah karena tertuang dalam Perda (ordinance) kota Ponchatoula.

Selain terkenal dengan hasil pertanian buah strawberry, Ponchatoula juga dikenal dengan sebutan sebagai “Antique City of Ponchatoula”. Bukan karena ini kota tua dan antik, melainkan karena di kota ini banyak dijumpai toko-toko yang memperdagangkan barang-barang antik dan kerajinan.

Ponchatoula hanyalah sebuah kota kecil yang terletak di barat laut New Orleans. Untuk mencapai kota yang berjarak sekitar 50 mil (80 km) dari New Orleans ini diperlukan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan. Ke kota inilah kami sekeluarga berakhir pekan di hari Minggu ini, menikmati acara festival strawberry. Berangkat dari New Orleans sekitar jam 10:30 pagi langsung menuju ke jalan bebas hambatan I-10 ke arah barat, lalu berpindah ke I-55 menuju utara mengitari sisi selatan dan barat danau Ponchartrain.

Sekitar jam 12:00 siang kami sudah berada di kepadatan lalu lintas kota kecil Ponchatoula. Berjalan merambat di jalan Highway 51 sambil mencari tempat parkir. Terlihat di sisi kanan-kiri jalan sudah penuh dengan kendaraan parkir, hingga akhirnya saya masuk ke sebuah lapangan luas yang berfungsi sebagai tempat parkir umum dan gratis.

Keluar dari tempat parkir, kami masih harus berjalan kaki agak jauh menuju arena keramaian. Namun terasa enak saja karena banyak pengunjung lain yang juga melakukan hal yang sama. Semakin mendekat ke arena festival, barulah saya tahu bahwa beberapa pemilik lahan di pinggiran jalan memanfaatkan halamannya untuk tempat parkir dengan membayar US$5. Semakin dekat lagi menuju pusat kota ongkos parkirnya menjadi US$10. Jadi, ya pantes kalau tadi saya parkir gratis, wong lokasinya agak jauh.

***

Festival ini sendiri digelar di sebuah blok di kota Ponchatoula. Selain karena kekhasan acaranya dimana buah strawberry menjadi tema sentralnya, maka selebihnya adalah acara keramaian biasa. Puluhan anjungan (booth) ketangkasan digelar di seputaran arena festival. Anjungan ketangkasan yang kalau di Indonesia sudah diteriaki berbau judi, tapi rupanya “penciuman” masyarakat Amerika memang berselera beda. Jadi, ya anjungan sejenis itulah yang juga banyak diminati.

Sudah umum bahwa arena ketangkasan seperti ini di Amerika biasanya menjanjikan hadiah berupa jenis-jenis mainan anak dan boneka kain (yang kalau di Indonesia sering diidentikan dengan nama boneka “panda”, meskipun bentuknya ada kucing, anjing, beruang, kura-kura, buaya, monyet, tokoh cerita anak-anak, dsb.). Nyaris tidak dijumpai yang menjanjikan hadiah barang menggiurkan atau uang.

Maka dapat ditebak, kalau banyak orang dewasa atau orang tua beradu ketangkasan dengan membayar US$1-5 per permainan, maka pasti mengangankan hadiah buat anak, cucu, keponakan atau adiknya. Itulah sebabnya barangkali bau judi dari permainan ini seakan-akan termanipulasi. Kalau mau berjudi ya datang ke casino, demikian kira-kira kalau ada yang berkilah.

Para pedagang makanan juga mremo (mengambil kesempatan dengan menjajakan jualannya). Lebih-lebih pedagang minuman dingin yang laku keras, mengingat saat ini cuaca sudah mulai panas. Berbagai sarana bermain juga banyak diminati anak-anak maupun orang dewasa. Beberapa panggung untuk pementasan musik pun didirikan. Yang membedakan pentas musik di sini dengan di beberapa pentas musik yang pernah saya lihat sebelumnya adalah dipasangnya tulisan besar berbunyi “No Dancing”.

Buah strawberry, sebagai identitas utama festival ini, banyak dijajakan oleh para pedagang. Sebagian diantaranya dengan menyebutkan nama pemilik kebunnya. Tentu sebagai lambang kebanggaan bagi pemilik kebun yang menghasilkan strawberry. Selain dalam bentuk buah segar, juga ditawarkan produk olahannya seperti jam, jelly, kue, anggur, dsb. Jika dibandingkan dengan membeli buah strawberry di supermarket, maka membeli di arena ini akan diperoleh buah strawberry segar dengan harga lebih murah.

Acara festival strawberry ini sebenarnya lebih meriah di hari pertama kemarin. Menurut agendanya, kemarin ada karnaval keliling kota yang diikuti oleh puluhan kendaraan, parade mobil antik, lomba makan strawberry, serta penampilan “King and Queen Strawberry”. Jadilah selama dua hari ini kota Ponchatoula dipadati para pendatang. Menurut catatan yang ada, tidak kurang dari 225.000 pengunjung memadati festival ini setiap tahunnya. Entah bagaimana cara mencatatnya, wong untuk masuk ke arena tidak dipungut biaya.

Festival strawberry ini dengan bangga setiap tahunnya digelar oleh Pemda Ponchatoula karena akan menjadi media promosi pariwisata yang efektif bagi kota itu yang pasti terkait dengan beredarnya dollar ke Ponchatoula dan tambahan pemasukan melalui pajak bagi Pemda Ponchatoula.

***

Di balik penyelenggaraan festival ini, ada latar belakang sejarah yang menarik. Pada tahun 1968, seorang anggota Dewan Kota bernama Dr. Charles H. Gideon merasa prihatin akan kehidupan ekonomi kota Ponchatoula yang kurang bergairah. Dia melihat kota Hammond, yaitu kota tetangga Ponchatoula yang memang lebih besar, ternyata lebih dikenal orang dengan sebutan sebagai “Strawberry Capital of Louisiana”.

Pikiran “usil dan kreatif” Dr. Charles menggelitiknya untuk mencari tahu kenapa bukan kota Ponchatoula yang lebih terkenal, padahal produksi strawberry dari wilayah Ponchatoula jauh lebih besar dibandingkan yang dihasilkan kota Hammond. Mulailah dikumpulkannya data-data statistik tentang produksi strawberry dari kedua kota itu yang ternyata memang membuktikan kebenaran anggapannya. Tapi sejauh itu kurang ada warga Ponchatoula yang perduli.

Berbekal data-data statistik itu, Dr. Charles lalu menemui Walikota dan para pejabat kota tetangganya, Hammond. Intinya adalah bahwa Dr. Charles meminta pengakuan bahwa sebenarnya kota Ponchatoula yang lebih layak menyandang sebutan sebagai “Strawberry Capital”. Sekalipun para pejabat Hammond mengakui kebenaran data statistik, namun tetap bergeming, apalagi untuk menyerahkan sebutan kebanggaan yang sudah terlanjur disandang oleh Hammond.

Nekatlah Dr. Charles, dilobinya Walikota Ponchatoula dan para anggota Dewan Kota lainnya untuk mendukung diundangkannya Perda tentang sebutan Ponchatoula sebagai “Strawberry Capital”. Setelah itu, disuratinya Walikota Hammond dan “diancam” agar dalam tempo 30 hari melepaskan semua atribut, tanda-tanda, dan segala macam sebutan tentang “Strawberry Capital” bagi kota Hammond yang disandangnya selama ini.

Maka, setelah itu resmilah Ponchatoula menyandang sebutan yang tidak tanggung-tanggung sebagai “Strawberry Capital of the World”. Kehidupan kota menjadi seperti hidup kembali dengan ditemukannya kebanggaan baru. Para petani strawberry pun semakin menggairahkan kehidupan ekonomi. Berkat pikiran “usil dan kreatif” (plus sedikit kenekatan) Dr. Charles, selanjutnya pada tahun 1972 diproklamirkan tentang tradisi tahunan “Ponchatoula Strawberry Festival”.

Memang hanya sebuah sebutan, tak bedanya dengan “Kota Kembang” untuk Bandung atau “Kota Apel” untuk Malang. Namun dampaknya secara ekonomi terbukti cukup meyakinkan.

***

Sekitar jam 03:00 sore kami baru meninggalkan arena festival. Kami kembali ke New Orleans melalui rute yang berbeda dari berangkatnya, yaitu dengan menyusuri jalan State Road 22 ke arah timur hingga tiba di kota Mendeville di sisi utara danau Ponchartrain. Dari Mendeville lalu ke selatan menyeberangi jembatan tol Lake Ponchartrain Causeway menuju New Orleans. Jembatan Lake Ponchartrain Causeway adalah jembatan suuuangat panjang yang membelah danau Ponchartrain sepanjang 28 mil (sekitar 45 km).

New Orleans, 8 April 2001.
Yusuf Iskandar

Lafayette : Gumbo, Crawfish dan Alligator

12 November 2008

Sekedar tambahan informasi tentang makanan khas daerah Lafayette dan Louisiana selatan umumnya :

gumbo3bg_122499_rGumbo : adalah masakan khas masyarakat Cajun yang tinggal di daerah Lafayette dan sekitarnya, atau umumnya kawasan Louisiana bagian selatan. Orang Louisiana bilang, ini sayur sup tapi merupakan campuran ada sayurnya, ada daging atau seafood-nya, ada tepungnya, ada pedas-pedasnya, sehingga menjadi kental dan nglentrek-nglentrek. Lidah Indonesia akan bilang enak kalau sedikit, kalau banyak jadi nuuuek….

crayfish
Crawfish : adalah jenis seafood yang banyak dijumpai di daerah Louisiana bagian selatan. Sebenarnya juga ada di daerah lain, tetapi Louisiana adalah penghasil terbesarnya baik dari hasil budidaya maupun yang liar di rawa-rawa. Binatang laut
ini berbentuk seperti udang tetapi di kepalanya mempunyai capit seperti kepiting atau rajungan atau karakah. Bagi yang suka seafood, pasti akan menyukainya. Rasanya ya seperti campuran antara udang dan kepiting. Bagi yang belum pernah mencicipinya, bisa dicoba sendiri di rumah : makan udang dan kepiting bersama-sama ….(sebaiknya dimasak dulu, agar tidak terjadi pertempuran di dalam perut).

800px-two_american_alligators_r

Selain itu ada alligator : adalah sejenis buaya yang umum dijadikan bahan makanan dan banyak dijual di restoran. Hewan ini banyak dijumpai di rawa-rawa Amerika sebelah selatan. Selain Louisiana, juga di Texas hingga ke ujung timur Florida. Bentuk binatang ini sepintas sama persis seperti buaya (crocodile). Sama-sama menakutkan. Bedanya : buaya umumnya bisa tumbuh lebih besar dan lebih agresif (apalagi yang jenis buaya darat). Sedangkan alligator relatif tidak sebesar buaya dan (katanya) agak kurang agresif. Meskipun demikian, kalau Anda ketemu binatang sejenis ini di jalan, lebih baik tidak usah mendeskripsi ini buaya atau alligator. Cepat-cepat saja kabur….

Musik tradisonalnya disebut zydeco, semacam jenis musik campuran antara irama jazz, dixie dan country, dengan instrumen terompet (bukan saxofon) dan akordion mendominasi.

zydeco_players

Adalah Pak Suseno (sering dijuluki lurahnya orang Indonesia di Lafayette), beliau orang Malang yang sudah malang-melintang di sektor non-formal di Louisiana sejak lebih 20 tahun yll. Beliau pernah bekerja di Tembagapura sewaktu tambang Freeport masih tahap konstruksi. Lalu kecantol dengan cewek bule yang kebetulan anak seorang expatriate yang juga bekerja di Freeport. Akhirnya menikah dan pindah ke Amerika hingga kini. Pak Seno ini sesekali hadir dalam pertemuan perhimpunan masyarakat Indonesia-Amerika, New Orleans.

Adalah Ibu Erlie Boerhan yang pernah tampil mengisi acara hiburan dalam rangka perayaan HUT kemerdekaan RI tahun 2000 yll di New Orleans. Waktu itu masyarakat Indonesia-Amerika mengadakan perayaan 17-an dan beliau bersama kelompok tarinya menyajikan tari Bali.

Silahkan bernostalgia, bagi mereka yang pernah tinggal di Lafayette atau di daerah sekitar-sekitar Louisiana.

Salam,

New Orleans, 7 Maret 2001
Yusuf iskandar

Mengunjungi Teman Seperguruan di Lafayette

12 November 2008

Berawal dari rencana untuk menghadiri acara social gathering keluarga masyarakat Indonesia-Amerika (Indonesian-American Community Association – IACA) di sebuah desa di luar kota New Orleans. Desa itu terletak di bilangan kota kecil Thibodaux, kira-kira berjarak 60 mil (sekitar 96 km) arah barat daya dari New Orleans. Mengingat acaranya akan diselenggarakan pada sore hari (tepatnya hari Sabtu malam Minggu) di lokasi yang agak jauh, maka sekalian saja kami menyusun rencana melakukan perjalanan keluar kota menjelajahi belahan lain dari wilayah negara bagian Louisiana yang belum pernah kami kunjungi.

Sekalian saya merencanakan untuk mengunjungi keluarga seorang teman seperguruan yang sekian tahun lalu pernah sama-sama berguru di sebuah perguruan tinggi di Yogya, UPN “Veteran” Yogyakarta. Mas Anton Maladi (TM-1977) yang sekarang bergabung dengan sebuah perusahaan minyak Unocal, bersama keluarganya saat ini sedang bertugas di kota Lafayette. Rute jalan yang menuju Lafayette ini kira-kira searah atau sekurang-kurangnya tidak terlalu jauh menyimpang dari rute menuju ke Thibodaux.

Hari Kamis malam sebelumnya, Mas Anton saya hubungi dan lalu direnacanakanlah acara silaturrahmi atau gathering kecil-kecilan antar kedua keluarga kami, bertempat di rumah Mas Anton di Lafayette pada hari Sabtu siang.

***

Sabtu pagi, 3 Maret 2001, cuaca New Orleans rada kurang bersahabat. Bukan tidak memperhatikan ramalan cuaca, namun saya berharap ramalannya agak meleset. Ternyata saya terlalu berprasangka buruk kepada peramalnya. Ya maklum, sewaktu di Indonesia saya terbiasa berprasangka buruk kepada sang peramal cuaca. Sejak pagi awan hitam sudah menggantung di langit New Orleans, hujan deras pun menyusul disertai petir menyambar-nyambar.

Rencana berangkat agak pagi jadi tertunda. Malahan sudah siap-siap angkat tilpun untuk memberitahu Mas Anton bahwa rencana silaturrahmi tidak dapat terpenuhi. Namun syukurlah, sekitar jam 10:30 cuaca buruk agak mereda. Langit masih hitam, namun hujan dan petir tidak lagi semenakutkan sebelumnya. Maka sekitar jam 11:00, kami lalu memutuskan untuk segera berangkat menuju Lafayette yang berjarak sekitar 135 mil (216 km) di arah barat New Orleans.

Belum lama meninggalkan New Orleans, hujan deras kembali mengguyur, meskipun tidak lagi disertai petir. Sebenarnya jarak New Orleans – Lafayette tidak terlalu jauh, normalnya dapat saya tempuh paling lama 2,5 jam perjalanan melalui jalan bebas hambatan Interstate 10 (I-10). Namun karena sekitar tiga-perempat perjalanan siang itu kami lalui dalam hujan, maka saya perlu agak mengendalikan kecepatan kendaraan, di bawah batas maksimum yang diperbolehkan (speed limit). Sesekali mencuri batas kecepatan ketika sedang berada di jalanan yang agak kering

Menjelang tiba di kota Lafayette, saya keasyikan melaju di jalan Highway 90 (Hwy 90), sehingga kurang memperhatikan rambu petunjuk arah membelok ke barat. Akibatnya saya kebablasan di rute yang salah. Terpaksa kemudian mencari jalan tembus untuk memutar kembali ke Lafayette, melalui kota kecil Iberville. Baru sekitar jam 2:30 siang kami tiba di rumah Mas Anton.

Kami pun disambut dengan hangat oleh Mas Anton, istri dan kedua putra-putrinya, meskipun terlambat tiba dari waktu yang direncanakan semula. Sambutan hangat layaknya seperti bertemunya teman lama yang tidak pernah ketemu. Dan, memang sebenarnya kami belum pernah ketemu sebelumnya. Hanya ikatan almamaterlah yang membuat pertemuan kami siang itu serasa akrab. Apalagi sama-sama merasa berada di tempat yang jauh dari kampung halaman di Yogya sana.

Siang itupun kami terlibat dalam obrolan mengasyikkan tentang masa sekolah dulu. Lengkap dengan “saat-saat tidak menguntungkan” ketika harus bertahan bertahun-tahun untuk dapat menyelesaikan sekolah di perguruan tinggi tidak negeri (sementara teman-teman lain yang lebih beruntung dapat bersekolah di perguruan tinggi negeri hanya perlu beberapa tahun saja). Ceritera tentang teman-teman lama yang sudah pada bertebaran di mana-mana, juga menjadi bagian dari reuni kecil-kecilan kami siang itu. Saya jadi tahu kalau Mas Heru Pramono yang sekarang ada di Balikpapan sebenarnya juga suka tulis-menulis.

Perbincangan tentang traveling di Amerika tidak kami lewatkan, karena rupanya Mas Anton dan keluarganya sudah punya rencana untuk “keliling setengah Amerika”. Lalu saya jadi ingat Mas Wahyu Suharyo (TM-1988) yang sekarang bergabung dengan perusahaan Halliburton dan tinggal di kota Hobbs, negara bagian New Mexico. Di tengah kesibukannya menyelesaikan program Doktor, Mas Wahyu juga menyimpan rencana untuk “keliling setengah Amerika”, mungkin malah akan lebih dari setengah.

Ujung-ujungnya, sajian makan siang (menjelang sore) dengan menu Indonesia yang ….. uuuenak sekali, hasil masakan istri Mas Anton, melengkapi acara silaturrahmi kami siang itu. Tidak terasa, waktu telah menjelang jam 05:00 sore. Teriring ucapan terima kasih, kami lalu berpamitan untuk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan kota Lafayette.

***

Kota Lafayette yang terletak pada elevasi sekitar 12 m di atas permukaan laut dan berpopulasi sekitar 95,000 jiwa, siang itu tampak cukup padat. Ini memang kota kecil yang pernah berjaya, antara lain karena berkembang pesatnya industri perminyakan. Dapat dikatakan kota ini dahulu pernah menjadi pusat industri minyak dan gas di kawasan lepas pantai Teluk Mexico. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang industri perminyakan yang membuka kantornya di kota ini, meskipun belakangan ini mulai berkurang.

Kota Lafayette dulunya bernama Vermillionville. Mulai berkembang sejak dibangunnya jaringan kereta api yang menghubungkan kota New Orleans (Louisiana) dan Houston (Texas) pada tahun 1881. Tiga tahun kemudian kota ini berganti nama menjadi Lafayette sebagai penghargaan kepada seorang jendral berkebangsaan Perancis, bernama Marquis de Lafayette, di jaman Revolusi Amerika.

Penduduk asli Lafayette adalah para petani asal Perancis yang pernah terdampar di daratan Nova Scotia, di ujung tenggara Canada dekat dengan ujung timur negara bagian Maine. Ketika datang bangsa Inggris pada tahun 1700-an, para pendatang dari Perancis yang kemudian disebut French Acadian ini terusir dari Nova Scotia dan lalu menempuh perjalanan sangat panjang menuju ke wilayah baru di sisi barat daya Louisiana.

Keturunan dari masyarakat French Acadian ini kemudian dikenal dengan sebutan masyarakat Cajun yang hingga kini masih banyak mempraktekkan dialek bahasa Perancis dan masih mengembangkan tradisi budaya leluhurnya. Oleh karena itu tidak heran kalau di kawasan Lafayette dan umumnya wilayah barat daya Louisiana kini banyak ditemui nama-nama atau sebutan yang berbau Perancis.

***

Dari Lafayette, kami langsung menuju ke jalan Hwy 90 menuju ke arah tenggara. Saya dapat memacu kendaraan pada kecepatan maksimum karena lalu lintas sore yang cukup cerah saat itu tidak terlalu padat. Untuk mencapai kota Thibodaux saya perkirakan akan memakan waktu sekitar 1,5 jam melalui jalan Hwy 90 yang melintas di sisi selatan kota-kota New Iberia, Franklin dan Morgan City, sebelum akhirnya saya berpindah ke Hwy 20 yang menuju ke utara.

Hari sudah gelap sebelum saya mencapai kota Thibodaux. Kondisi ini membuat saya kurang tajam memperhatikan tulisan nama-nama jalan. Maka …, kebabalasan lagi! Akhirnya kami terlambat tiba di tempat acara social gathering keluarga masyarakat Indonesia-Amerika (IACA). IACA adalah wadah berhimpunnya segenap warga masyarakat Indonesia-Amerika maupun para simpatisan, khususnya yang tinggal di kawasan New Orleans dan sekitarnya. Arisan adalah salah satu kegiatan yang dipandang menarik. Menarik, karena tidak cukup dengan satu-dua kalimat untuk menjelaskan arti sebuah kata ini dalam bahasa Inggris.

Akhirnya, menjelang tengah malam kami baru tiba kembali di New Orleans setelah menempuh perjalanan santai lebih satu jam dari sebuah desa di sebelah utara Thibodaux.-

New Orleans, 6 Maret 2001
Yusuf Iskandar.

Pemilu Amerika 2004 : Ternyata George Bush Terpilih Kembali

12 November 2008

Mengesankan…..!. Itulah ekspresi saya sambil menyelesaikan makan sahur tadi pagi, sambil mencermati pidato kekalahan John Kerry. Di depan pendukungnya di Boston, dengan sangat simpatik Kerry menyampaikan pidato kekalahannya sesaat setelah dia menilpun George Bush dan menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan Bush dan mengakui kekalahan dirinya. Saya tidak menyangka perjuangan pasangan John Kerry – John Edwards melawan George Bush – Dick Cheney di saat kedudukan Too Close To Call akan berakhir mudah dan mengundang simpati.

Sampai tadi malam sebelum tidur saya masih membayangkan bahwa proses pemilihan presiden Amerika tahun ini akan berjalan panjang, mirip-mirip kejadian empat tahun yll. Bedanya kalau pada pemilihan presiden tahun 2000 antara pasangan George Bush melawan Al-Gore posisinya sangat ketat memperebutkan 25 jatah suara (electoral vote) dari negara bagian Florida, sedangkan tahun ini John Kerry akan melawan George Bush untuk memperebutkan 20 jatah suara negara bagian Ohio. Menjadi menegangkan karena siapapun yang menang di negara bagian tersebut, maka dialah yang akan jadi presiden.

Kita lihat apa yang terjadi di Ohio : Pada saat kedudukan jatah suara nasional sementara Bush unggul atas Kerry dengan 254 : 252, masih menyisakan 3 negara bagian (New Mexico, Iowa dan Ohio) yang belum menuntaskan perhitungan suaranya dari semua TPS yang ada. Untuk mencapai garis finish melampaui angka “ajaib” 270, jatah suara dari New Mexico dan Iowa yang masing-masing 5 dan 7 menjadi tidak urgen lagi nilainya, melainkan kedua kubu harus dapat memenangkan 20 jatah suara Ohio.

Kubu Bush begitu yakin akan kemenangannya di Ohio, sementara kubu Kerry menganggap perjuangan belum berakhir sampai hasil perhitungan akhir diumumkan. Dari jumlah kartu suara (popular vote) di Ohio, Bush memang lebih unggul sekitar 135.000 suara di atas suara yang dikumpulkan Kerry. Sementara Kerry tampaknya masih berharap keberuntungan, atau lebih tepat disebut belum mau menyerah hingga titik darah penghabisan.

Kenapa kubu Kerry ngotot? Karena di luar masih ada sekitar 250.000 suara yang belum ketahuan menjadi milik siapa. Suara di luar itu berasal dari provisional ballots dan absentee ballots. Provisional ballots adalah suara dari mereka yang sebenarnya berhak nyoblos tapi ternyata waktu pergi ke TPS namanya tidak ada dalam daftar pemilih, sehingga tidak jadi nyoblos. Suara inilah yang akan diurus oleh Kerry dengan harapan mampu mendongkrak perolehannya. Sedangkan absentee ballots adalah suara dari mereka yang sedang bertugas di luar negeri yang umumnya para anggota militer, dan suara mereka biasanya dikirimkan via pos.

Nah, dari suara yang masih di luar itulah kubu Kerry mengharapkan keajaiban untuk mampu mengungguli suara Bush. Jika hal itu terjadi, maka akan diperlukan waktu belasan hari lagi untuk menuntaskan perhitungan akhir di Ohio. Atau skenario buruknya, Kerry akan mampu mempersempit selisih kekalahan suaranya hingga kurang dari seperempat persen. Jika ini yang terjadi maka menurut peraturan di negara bagian Ohio, akan terbuka peluang untuk dilakukannya perhitungan ulang. Itulah yang terjadi di Florida, dan itulah kenapa saya membayangkan kejadiannya akan berlarut-larut seperti di Florida empat tahun lalu.

Namun, kelihatannya kemudian Kerry mencoba lebih realistis. Rasanya berat bagi kubu Demokrat untuk menguasai 250.000 suara yang masih tersisa. Para anggota militer kecenderungannya akan berada di pihak Republik. Karena itulah, demi alasan the unity (mulia sekali kedengarannya), akhirnya Kerry dengan legowo menyatakan kekalahannya. Usailah sudah drama pemilihan presiden Amerika tahun 2004 yang dimenangkan kembali oleh Gus Bush.

***

Meskipun kejadian di Ohio berpotensi untuk menjadi seperti di Florida, seperti yang saya bayangkan pada mulanya, namun sebenarnya memang tidak sedramatis di Florida empat tahun lalu sehingga waktu itu kubu Al Gore demikian gigih tidak mau menyerah begitu saja.

Bagi yang tertarik dengan peristiwa pemilu presiden di Amerika, mari kita lihat sejenak dimana beda antara yang terjadi di Ohio sekarang dibandingkan dengan yang terjadi di Florida empat tahun lalu.

Tahun 2000, pada saat kedudukan akhir sementara jatah suara nasional adalah 260 : 246 untuk keunggulan Al Gore, masih menyisakan dua negara bagian lagi yang belum selesai, yaitu Oregon dan Florida yang masing-masing dengan 7 dan 25 jatah suara (electoral vote). Jelas suara Oregon tidak lagi menentukan, melainkan suara Florida harus dikuasai jika ingin menang.

Meskipun dari total electoral vote sementara waktu itu Gore lebih unggul dan dari popular vote secara nasional Gore juga masih unggul tipis, akan tetapi di wilayah negara bagian Florida Bush justru lebih unggul atas Gore dengan selisih angka yang sangat tipis (hingga titik terendah kurang dari 400 popular vote) dan masih menyisakan absentee ballots. Dari sisi inilah makanya Bush yakin akan menguasai 25 jatah suara Florida, sementara Gore ngotot karena secara nasional dia lebih unggul. Yang terjadi kemudian adalah dua kubu yang saling tidak mau mengalah tapi juga saling melihat peluang karena peraturan perundang-undangan memang memungkinkan. Jadilah proses peradilan pemilu silih berganti dan berlarut-larut untuk menuntaskan masalah jatah suara Florida, hingga perlu waktu 36 hari sebelum akhirnya Gore menyerah.

***

Menyimak kembali pidato kekalahan John Kerry, saya jadi berandai-andai. Kalau saja bulan lalu Megawati mau melakukan hal yang sama kepada SBY, it’s beautiful…….

Sayang sekali…… Nun jauh di sana, John Kerry, atas nama the unity memilih untuk realistis dan menyampaikan pidato kekalahannya dalam emosi yang terkendali dan santai. Nun dekat di sini, Megawati, entah atas nama apa atau siapa memilih untuk dieeeeemmm aja… dalam emosi sentimentil keibuannya.

Tembagapura, 4 Nopember 2004
Yusuf Iskandar

Pemilu Amerika 2004 : George Bush atau John Kerry?

12 November 2008
George W. Bush

George W. Bush

John Kerry

John Kerry

Empat tahun yang lalu, 7 Nopember 2000, saya menyempat-nyempatkan melototin TV sampai larut malam di New Orleans karena penasaran ingin segera mengetahui siapa yang bakal menjadi presiden Amerika : George Bush atau Al Gore.

Hari ini, 2 Nopember 2004 malam waktu Amerika, peristiwa yang sama terulang kembali. Pemilunya dan penasarannya yang sama, tapi melototnya tidak lagi. Siapa bakal presiden Amerika 2004-2008 : George Bush atau John Kerry.

Kalau sempat melihat saluran TV CNN tentu lagi seru-serunya. Karena masih tengah hari di kantor, sambil teklak-tekluk menyertai puasa, saya coba membuka website CNN. Kedudukan sementara Bush unggul lawan Kerry, 193 vs 112 electoral vote (untuk mudahnya saja, saya terjemahkan electoral vote dengan jatah suara, sementara popular vote dengan kartu suara). Ini masih sementara, hasil dari 32 negara bagian yang sudah menutup TPS-nya dan menyelesaikan perhitungan kartu suaranya.

Angkanya masih terus bergerak naik. Apalagi suara dari negara-negara bagian yang padat penduduknya seperti Florida dan California belum tuntas. Sebagian negara bagian lainnya masih melangsungan perhitungan kartu suara atau bahkan kawasan sebelah barat masih melangsungkan pencoblosan. Siapa yang lebih dahulu melewati jumlah angka keramat 270 suara, dialah yang akan keluar sebagai pemenang. Oleh karena itu tidak selalu harus menunggu sampai semua TPS menyelesaikan perhitungannya untuk mengetahui hasilnya.

Sekedar mengingat, pemilu Amerika tahun 2000 merupakan pemilu paling rumit sepanjang sejarah Amerika. Bagaimana media Amerika menjuduli dengan Too Close To Call, hasil pengumpulan suaranya terlalu ketat untuk dapat memutuskan siapa pemenangnya. Ini merujuk kepada hasil pencoblosan di negara bagian Florida yang selisih suara antara untuk Bush dan untuk Gore kurang dari setengah persen, padahal suara Florida akan menentukan siapa menang dan siapa kalah. Menurut peraturan yang berlaku di Florida, maka perlu dilakukan penghitungan ulang. Namun ternyata proses ini sangat berlarut-larut sehingga harus diselesaikan melalui proses peradilan yang melelahkan. Akibatnya, untuk menentukan siapa presiden baru Amerika diperlukan waktu hingga 36 hari sejak hari coblosan.

Akankah pemilu presiden Amerika tahun ini juga menghasilkan angka yang Too Close To Call? Kita lihat saja nanti sore, beberapa jam lagi. Menurut beberapa jajak pendapat, George Bush akan unggul atas John Kerry. Wah, ciloko tenan…. yen presiden-ne Gus Bush maneh………

Tembagapura, 3 Nopember 2004
Yusuf Iskandar

Pemilu Amerika 2000 : Para Kandidat Presiden Amerika

7 November 2008

Tadi malam, setiba saya di rumah dari perjalanan ke Phoenix, Arizona, saya sempat melihat di TV, meski terlambat, siaran langsung hari terakhir dari Konvensi Nasional Partai Demokrat. Kandidat presiden Al Gore (yang saat ini adalah Wakilnya Bill Clinton) telah menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat presiden Amerika ke 43 yang akan memulai masa jabatannya awal tahun 2001 nanti. Sehari sebelumnya, Joe Lieberman juga melakukan hal yang sama untuk kandidat wakil presiden dari Partai Demokrat.

Konvensi nasional ini adalah puncak dari tahap pemilihan kandidat presiden dan wakil presiden dari masing-masing partai. Kali ini Partai Demokrat menggelar Konvensi Nasionalnya di gedung Staple Center, Los Angeles, California, di sisi barat dataran Amerika, selama tanggal 11 – 17 Agustus2000.

Seperti sudah diduga sebelumnya, pidato semacam ini sekaligus sebagai ajang kampanye dan penggalangan massa, banyak berisi kata-kata manis dan program-program indah. Dari komentar-komentar yang disampaikan via tilpun ke CNN oleh warga Amerika secara langsung seusai Konvensi malam itu juga, dapat disimak bagaimana warga Amerika mengekspresikannya. Ada yang memujinya sebagai “pidato terbaik yang pernah didengar”, ada yang spontan mengatakan “sebagai simpatisan Partai Republik saya akan beralih memilih Al Gore”, sebaliknya ada pula yang dengan sinis mengatakan : “janji, janji dan janji”. Ternyata pada dasarnya ya sami mawon (sama saja) dengan pidato kampanye di Indonesia.

Dua minggu sebelumnya (tanggal 2 Agustus 2000) ketika saya baru saja tiba di kota Phoneix, lalu menyetel TV di hotel, Dick Cheney sedang menyampaikan pidato penerimaannya untuk dicalonkan sebagai kandidat wakil presiden dari Partai Republik. Esok harinya, giliran George W. Bush (yang saat ini adalah Gubernur negara bagian Texas, dan anak dari George Bush mantan presiden Amerika ke 41), menyampaikan pidato penerimaannya sebagai kandidat presiden juga dari Partai Republik. Konvensi nasional Partai Republik sendiri sudah diselenggarakan di gedung First Union Center, Philadelphia, Pensylvania, di sisi timur dataran Amerika, pada tanggal 28 Juli hingga 3 Agustus 2000 yang lalu.

Kedua agenda politik Amerika itu memang telah disiarkan melalui media cetak maupun elektronik secara besar-besaran. Setiap harinya stasiun-stasiun TV seperti berlomba menyiarkannya secara langsung dari arena Konvensi, disertai dengan berbagai komentar, analisis, tanya-jawab, peristiwa-peristiwa terkait, dan sampai digunakannya media chatting di internet yang bisa diikuti oleh siapa saja.

Tanpa publikasi yang seheboh Konvensi Partai Republik dan Demokrat, ternyata Partai Reformasi juga menyelenggarakan Konvensi Nasionalnya di kota Long Beach, California, pada tanggal 10-13 Agustus 2000, dengan kandidat presidennya Pattrick J. Buchanan. Ini adalah bagian dari kegiatan partai penggembira yang selalu muncul menyisip sebagai partai independen, selain ada juga Partai Hijau, Partai Sosialis, Partai Konstitusi, Partai Hukum Alam, dan Partai Libertarian. Mereka adalah sekelompok partai gurem yang keberadaannya tidak diabaikan, sekalipun tidak pernah memperoleh jumlah suara yang meyakinkan.

***

Konvensi Nasional semacam ini memang menjadi semacam seremoni formalitas bagi partai-partai untuk mengumumkan kandidatnya masing-masing, baik bagi presiden maupun wakil presiden pasangannya. Selanjutnya, para kandidat ini akan bersafari ke segenap pelosok negeri untuk berkampanye menggalang suara bagi kemenangannya.

Sejauh ini dari hasil berbagai jajak pendapat, George Bush nampaknya masih lebih unggul dibandingkan Al Gore. George Bush diuntungkan dengan adanya dukungan dari sebagian besar gubernur negara bagian yang berasal dari partai yang sama, yaitu para Republikan. Namun masih banyak kemungkinan dapat terjadi, tergantung keberhasilan mereka berkampanye, menjual program, dan terutama menarik simpati dari pendukung tradisional partai lawan agar beralih mendukungnya, dan hal semacam ini sudah jamak terjadi.

Pacuan kandidat presiden dan wakil presiden akan terus berlangsung, hingga hasil akhirnya baru akan diketahui pada tanggal 7 Nopember nanti saat rakyat Amerika menuju ke TPS-TPS (sengaja tidak saya katakan berduyun-duyun, karena kabarnya urusan coblos-menyoblos ini di Amerika tidak segegap-gempita di Indonesia). Saat itu rakyat Amerika akan memencet tombol mesin pemungut suara, dan lalu menunggu hasil perhitungannya secara nasional. Kita lihat saja nanti, siapakah yang akan memimpin negara adikuasa mulai tahun 2001 nanti.

New Orleans, 18 Agustus 2000
Yusuf Iskandar

Pemilu Amerika 2008 : Sebuah Penyelesaian Indah

6 November 2008

obama_us_election_r3Tidak sampai 24 jam sejak pemilu presiden Amerika dimulai pada tanggal 4 Nopember 2008, hasilnya sudah dapat diketahui. Dan, pemenangnya adalah Barack Obama. Hal ini ditandai dengan telah dilewatinya batas minimal suara Dewan Pemilih (electoral vote) yang harus dikumpulkan, yaitu 270 suara (dari total 538 suara).

Hingga saat ini, hasil sementara pengumpulan electoral vote adalah 349 untuk Barack Obama dan 163 untuk John McCain, masih menyisakan 11 dan 15 suara masing-masing dari negara bagian Missouri dan North Carolina yang belum selesai dihitung. Sedangkan hasil pengumpulan sementara kartu suara (popular vote), masing-masing adalah  64,058,827 (52%) untuk Barack Obama dan 56,500,053 (46%) untuk John McCain.

Kemenangan mutlak Obama ini menjadikan pemilu presiden Amerika tahun 2008 ini dapat dikatakan telah berlangsung dengan mulus, cepat dan tuntas, tanpa menyisakan ganjalan-ganjalan atau persengketaan yang tidak perlu. Sangat bertolak belakang dengan kejadian pemilu Amerika tahun 2000 yang telah tercatat sebagai pemilu terburuk dalam sejarah Amerika.

Bukan soal kemenangan partai Demokrat, bukan juga soal kecepatan diperolehnya hasil akhir pemilu, melainkan kekalahan partai Republik yang diterima dan disikapi dengan sangat sportif, elegan dan legowo oleh McCain dan kubunya, itulah yang pantas dicontoh dan diambil hikmahnya. Pengakuan kekalahan McCain dan kemudian berbalik menjadi dukungan atas kemenangan Obama, adalah sebuah penyelesaian akhir pemilihan presiden yang sangat indah untuk disaksikan dan dikenang. Bukan demi McCain dan para republikan atau demi Obama dan para demokrat, melainkan demi United States of Amerika, begitu bunyi kata kuncinya.

Barack Obama, sebuah simbol fenomenal dalam perpolitikan Amerika saat ini, seolah mempertontonkan indahnya ke-bhinneka-tunggal-eka-an Amerika. Dunia seolah turut bersuka cita menyambut kemunculannya. Dunia pun seolah turut larut memilikinya, termasuk Indonesia…… (hiks…hiks...).

Sambil harap-harap cemas menunggu sepak dan terjang presiden Obama….. “Nyuwun sewu, mas Obama. Sampeyan ojo lali kalau pernah empat tahun tinggal dan sekolah di Indonesia, lho. Bahkan menurut ngelmu pernah-pernahan-nya orang Jawa, Sampeyan itu juga orang Indonesia. Tapi, kalau soal ke-bhinneka-tunggal-eka-annya Indonesia dan kebiasaan sedulur-sedulur Sampeyan di Indonesia dalam membuat penyelesaian akhir, tolong jangan dicerita-ceritakan kepada warga Sampeyan yo…..Suwun“.

Yogyakarta, 6 Nopember 2008
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000

2 November 2008

Pengantar :

Hari Selasa tanggal 4 Nopember 2008 ini rakyat Amerika akan melangsungkan pesta demokrasi untuk memilih Presiden Amerika ke-44. Dua kandidat presiden telah siap bertarung memperebutkan suara pilihan segenap warga Amerika, yaitu Barack Obama (Partai Demokrat) dan John McCain (Partai Republik). Di atas kertas, dan juga dari hasil jajak pendapat berbagai lembaga independen sebelum pemilu, menunjukkan bahwa Obama lebih unggul dibanding McCain. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang dari pacuan presiden Amerika tahun ini? Kita tunggu saja hasilnya.

Barack Obama

Barack Obama

John McCain

John McCain

Sekedar memberi gambaran tentang pemilu presidan Amerika, berikut ini saya ketengahkan catatan lama saya ketika ada pemilihan presiden Amerika tahun 2000, dimana bertarung antara George Bush (Partai Republik) dan Al Gore (Partai Demokrat). Pemilu presiden Amerika tahun 2000 ternyata menjadi sebuah pengalaman yang sangat menarik, karena inilah pemilu Amerika yang sepanjang sejarah Amerika akan tercatat sebagai pemilu yang paling rumit, paling melelahkan dan menjadi catatan buruk sistem demokrasi dalam perpemiluan Amerika. Bahkan media Amerika menjulukinya sebagai pemilu paling ora karuan.

George W. Bush

George W. Bush

Al Gore

Al Gore

Catatan-catatan yang lebih menyerupai reportase itu saya tulis bersambungan dalam 35 bagian saat saya tinggal di New Orleans, dan saya kirim kepada teman-teman di Indonesia mulai tanggal 6 Nopember s/d 14 Desember 2000. Semoga catatan lama ini dapat membantu untuk memahami apa yang terjadi dalam demokrasi sistem pemilu di Amerika.

Yogyakarta, 1 Nopember 2008
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (1)

2 November 2008

New Orleans, 6 Nopember 2000 – 11:00 CST (7 Nopember 2000 – 12:00 WIB)

Hari Selasa besok Amerika punya hajatan Pemilu. Masyarakat Amerika yang mempunyai hak pilih akan menggunakan hak pilihnya melalui mesin-mesin pemungutan suara di berbagai tempat. Di negara bagian (state) Louisiana, tempat-tempat pemungutan suara (TPS) akan mulai dibuka Selasa, 7 Nopember 2000 jam 6:00 pagi (Di Indonesia, Selasa, 7 Nopember 2000, jam 19:00 WIB) hingga ditutup jam 8:00 malam. Namun di beberapa negara bagian lain jam bukanya bervariasi antara jam 6:00 hingga jam 9:00 pagi, demikian halnya jam tutupnya antara jam 6:00 hingga jam 9:00 malam.

Hari Selasa pertama setiap bulan Nopember adalah “Hari Pemilu” di Amerika. Ya Pemilu apa saja : Presiden, anggota Konggres, anggota Senat, Gubernur negara bagian, Kepala Polisi, Kepala-Kepala Departemen, Walikota, Sekwilda, Kepala Kejaksaan, dsb. Tentunya bagi jabatan-jabatan yang pas menjelang berakhir masa jabatannya. Hanya saja tahun ini agak berbeda, sebagaimana setiap empat tahun sekali karena bertepatan dengan berakhirnya masa jabatan Bill Clinton, yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang baru.

Pada dasarnya besok bukan hari libur nasional, tetapi sekolah-sekolah pada meniadakan kegiatan belajar-mengajar, karena guru-guru dan karyawannya akan meninggalkan sekolah ikut coblosan. Kegiatan perkantoran juga biasanya menghindari agenda-agenda penting di hari itu, karena memberi kesempatan kepada setiap karyawannya yang berhak memilih untuk menuju ke TPS-TPS.

***

Untuk tidak sekedar mengetahui hasilnya saja siapa yang akan jadi pemenang antara pasangan ganda Partai Republik George W. Bush – Dick Cheney melawan pasangan Partai Demokrat Al Gore – Joe Lieberman, ada baiknya kita lihat cara penghitungan suaranya.

Dari jumlah pemilih yang ada di Amerika akan direpresentasikan dengan sejumlah 538 electoral vote (saya tidak tahu apa padanan bahasa Indonesianya yang pas, maka selanjutnya saya sebut saja dengan jatah suara). Ke-538 jatah suara ini tersebar ke seluruh 50 negara bagian yang ada plus ibukota Washington DC. Setiap negara bagian mempunyai jatah suara yang berbeda-beda, tetapi jumlahnya proporsional dengan populasinya dan biasanya juga sama dengan jumlah anggota konggres yang diwakilinya.

Sebagai contoh : negara bagian Montana, Wyoming atau Vermont yang tidak padat penduduknya, hanya mempunyai jatah suara (electoral vote) masing-masing 3 saja. Sebaliknya negara bagian Texas, New York dan California yang padat penduduknya, mempunyai jatah suara (electoral vote) masing-masing 32, 33 dan 54. Sedangkan negara bagian Louisiana dimana saya tinggal, mempunyai jatah suara 9.

Sistem perolehan suara ini umumnya digunakan patokan winner-take-all, artinya siapa kandidat yang menang di sebuah negara bagian (mengantongi jatah suara lebih dari 50%), maka dia berhak memperoleh semua jatah suara dari negara bagian tersebut. Sedangkan yang kalah tidak memperoleh jatah suara. Kecuali negara bagian Nebraska dan Maine yang membagi jatah suaranya berdasarkan distrik perwakilan konggresnya. Lagi-lagi saya tidak tahu pasti kenapa untuk aturan yang bersifat nasional ini, ada juga negara bagian yang ingin mempunyai aturan sendiri. Otonomi dalam berdemokrasi?

Oleh karena itu tidak heran kalau setiap kandidat saling berusaha agar dapat menang di negara bagian yang jatah suaranya banyak, sehingga dengan hanya menang di California misalnya, akan sama artinya dengan menang di beberapa negara bagian sekaligus yang mempunyai jatah suara sedikit.

Dengan demikian, kandidat yang secara nasional dapat mengumpulkan jatah suara (electoral vote) minimal setengah ditambah satu, atau 270 suara, maka dia berhak menjadi pemenangnya. Angka 270 suara adalah jumlah dari pengumpulan jatah suara dari negara-negara bagian yang berhasil dimenanginya.

Meskipun tak seorangpun melihat kemungkinan akan terjadinya hasil seri (269 vs 269), namun jika hal itu terjadi juga, maka pemenangnya akan dipilih oleh perwakilan Kongres dengan setiap perwakilan Kongres mempunyai satu hak suara. 

Dari hitung-hitungan di atas, maka secara teoritis seorang kandidat yang menang di lebih banyak negara bagian belum tentu menjadi pemenang pemilihan jika ternyata dia hanya menang di negara-negara bagian yang jatah suaranya kecil. Sebaliknya seorang kandidat yang menang di lebih sedikit negara bagian tetapi mempunyai jatah suara yang banyak, bisa jadi akan menjadi pemenangnya.

***

Siapa kira-kira yang bakal menjadi pemenangnya? Dari berbagai jajak pendapat hingga hari terakhir ini menunjukkan bahwa persaingan antara George Bush dan Al Gore semakin ketat, meskipun George Bush masih sedikit lebih unggul dalam popularitas. Jajak pendapat gabungan yang dilakukan oleh harian USA Today-CNN-Gallup menunjukkan dalam beberapa hari terakhir ini popularitas George Bush lebih unggul 47%-45% terhadap Al Gore. Padahal beberapa hari sebelumnya popularitas George Bush unggul 48%-43%.

Dari perkiraan angka yang ada hingga hari ini, menurut USA Today, George Bush diperkirakan unggul di sejumlah 26 negara bagian dengan mengumpulkan 224 jatah suara, sedangkan Al Gore unggul di 12 negara bagian dengan 181 jatah suara. Masih ada 12 negara bagian sisanya dengan jatah suara 133 yang mempunyai peluang sama untuk diungguli George Bush maupun Al Gore.

Apakah kira-kira George Bush yang akan jadi pemenangnya? Sejarah membuktikan, pernah terjadi seorang kandidat yang kalah dalam popularitas ternyata berhasil menang dalam pemilihan presiden.

Jadi? Kita lihat saja bagaimana hasilnya besok. Bagi mereka yang berminat, dapat melihat pergerakan angka-angka hasil pemilu ini dari waktu ke waktu melalui beberapa website, diantaranya dengan mengakses ke http://www.usatoday.com atau http://www.cnn.com. Tapi di Indonesia sedang malam hari, ya…. terpaksa baru besoknya bisa melihat hasilnya…..  Mudah-mudahan saya sempat mem-posting hasil pergerakan suaranya.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (2)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 13:30 CST (8 Nopember 2000 – 02:30 WIB)

Sehabis istirahat makan siang ini saya sempatkan membuka-buka internet untuk mengetahui bagaimana perkembangan sementara pemilu Amerika hari ini (saya lakukan ini karena saya tertarik dengan pesta demokrasinya rakyat Amerika).

Dari beberapa sumber yang sempat saya akses, ternyata hasil pengumpulan suara tidak langsung dipublikasikan dari waktu ke waktu. Hasil tercepat kelihatannya secara resmi baru dapat diketahui umum pada Selasa sore nanti sekitar jam 05:00 PM waktu Amerika Tengah (Rabu pagi jam 6:00 WIB). Meskipun beberapa media on-line sudah mengabarkan hasil sementara di beberapa kota di wilayah timur Amerika. Diantaranya, George Bush unggul atas Al Gore di sebuah kota kecil Dixville Notch di wilayah negara bagian New Hampshire. Secara tradisional, kota Dixville Notch ini memang menjadi salah satu kota pertama di wilayah Amerika timur yang mengawali coblosan.

Hingga menit terakhir sebelum hari pemilu, ada perkembangan menarik dari popularitas kedua kandidat utama presiden. Menurut jajak pendapat yang dilansir Reuters/MSNBC, popularitas Gore berhasil mengungguli Bush dengan 48% – 46%, sisanya diraih oleh Partai Hijau 5%, Partai Libertarian dan Partai Reformasi masing-masing 0,5%. Sedangkan jajak pendapat yang dilakukan USA Today/CNN/Gallup masih memproyeksikan Bush unggul atas Gore dengan 48% – 46%, dan sisanya dipegang oleh beberapa partai tambahan selain Republik dan Demokrat.

Berapapun pergerakan prosentase popularitas kedua kandidat utama ini, yang tampak jelas adalah bahwa hingga menit-menit terakhir ini belum ada yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi pemenang. Dalam sejarah pemilu di Amerika, sejak sekitar 40 tahun terakhir baru kali inilah berbagai jajak pendapat menunjukkan perbandingan prosentase yang sangat ketat. Berbeda halnya dengan beberapa pemilu sebelumnya, dimana dari berbagai jajak pendapat biasanya sudah tampak perbedaan prosentase yang signifikan sehingga sudah dapat diprediksi siapa yang bakal menang. Karena itu pemilihan presiden kali ini menjadi menarik untuk diperhatikan, termasuk bagi warga masyarakat Amerika sendiri.

Barangkali mirip-mirip dengan apa yang terjadi dalam sejarah pemilu di Indonesia. Orang cenderung untuk tidak terlalu antusias memperhatikan pemilu-pemilu dijaman Orde Baru, lha wong sudah pasti Golkar akan menang mutlak. Berbeda halnya dengan pemilu terakhir tahun 1999 yll, orang penasaran ingin tahu apa yang bakal terjadi, karena tidak ada lagi mayoritas tunggal melainkan adanya perimbangan popularitas partai-partai besarnya.

***

Apa komitmen politik yang dibawa Bush dan Gore untuk menarik simpati rakyat Amerika agar memilih mereka? Bush mengatakan : “I’m a uniter, not a devider” (Saya adalah pemersatu, bukan pemecah-belah). Gore mengatakan : “I will move country forward” (Saya akan membawa negeri ini melangkah ke depan).

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah : Apakah lalu masyarakat Amerika tertarik untuk memilih satu di antara kandidat yang ada, atau dengan kata lain apakah semua warga negara Amerika yang berhak memilih akan menggunakan hak pilihnya? Ini salah satu pertanyaan yang menarik, karena selama ini kita di Indonesia seringkali menjadikan tingkat kepedulian atau kesadaran berdemokrasi di negara maju sebagai acuan. Setiap kali kita bicara tentang pendidikan politik atau demokrasi, seringkali menggunakan negara maju sebagai acuannya, di antaranya ya Amerika ini.

Dalam sejarah pemilu di Indonesia, rata-rata di atas 90% warga masyarakat yang berhak memilih akan datang ke TPS-TPS untuk memberikan hak suaranya, baik untuk memilih maupun untuk tidak memilih alias golput. Di Amerika, bisa mencapai angka 70% adalah prestasi politik yang suuuangat bagus. Dua pemilu terakhir, tahun 1992 dan 1996, hanya sekitar 55% dan 49% saja warga yang mempunyai hak suara menyalurkan suaranya untuk memilih. Tahun 1996 adalah prosentase terburuk sejak tahun 1924.

Maka muncullah analogi berpikir coro bodon (cara bodoh) di otak saya : kalau begitu siapa sebenarnya yang tingkat pendidikan atau kesadaran berpolitik atau berdemokrasinya lebih tinggi? Siapa yang “lebih sadar” dan siapa yang “lebih tidak sadar” (atau semaput) dalam berdemokrasi?

Memang tidak sesederhana itu analoginya. Sebagai hasil pembangunan demokrasi dalam kehidupan masyarakat Amerika yang semakin mapan, maka masyarakat Amerika menjadi cuek dengan pemilu. Siapapun presidennya ya tidak ada bedanya, akan begitu-begitu juga dampaknya bagi “nasib” mereka. Demikian barangkali salah satu alasan yang dimiliki oleh separuh dari masyarakat Amerika yang berhak memilih tapi tidak menggunakan hak pilihnya.

Kok, kedengarannya sama seperti sikap skeptisnya para golput yang pernah ada di Indonesia. Jadi, pola kehidupan politik dan demokrasi di negara maju dan negara berkembang apakah berarti ya sami mawon (sama saja)?. Alasan di atas memang baru satu dari seribu yang mungkin ada. Saya tidak tahu 999 alasan lainnya yang bisa jadi akan menggugurkan kesimpulan di atas.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (3)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 17:30 CST (8 Nopember 2000 – 06:30 WIB)

Negara bagian Kentucky dan Indiana adalah dua negara bagian yang pertama kali menutup TPS-TPS-nya pada jam 06:00 sore waktu setempat atau jam 05:00 sore waktu New Orleans (Rabu, 06:00 WIB). Maka hasil pemilu pun sudah dapat diketahui dan George Bush ternyata unggul tipis atas Al Gore.

Dengan cara perhitungan winner-take-all, maka George Bush berhak mengantongi jatah suara (electoral vote) dari kedua negara bagian ini. Dengan demikian sementara George Bush sudah memperoleh 20 jatah suara (electoral vote) masing-masing 8 dan 12 dari negara bagian Kentucky dan Indiana, sedangkan Al Gore belum memperolehnya. Diperlukan minimal 270 jatah suara (electoral vote) untuk memenangi pemilihan presiden Amerika.

Ada hal yang menarik di kalangan analis politik Amerika, yaitu bahwa sejak tahun 1964 siapapun yang menang di Kentucky yang menjadi negara bagian yang pertama kali menutup TPS-nya dan menghitung suaranya, biasanya berhasil menjadi presiden terpilih. Apakah demikian yang akan terjadi dengan George Bush? Kita lihat saja nanti.

Negara bagian berikutnya yang akan menutup TPS-nya dan menghitung hasilnya pada Selasa sore jam 06:00 waktu New Orleans nanti (Rabu, 07:00 WIB) adalah Florida, Georgia, New Hampshire, South Carolina, Vermont dan Virginia.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (4)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 19:45 CST (8 Nopember 2000 – 08:45 WIB)

Hingga saat ini persaingan semakin ketat. Al Gore kini unggul tipis dengan 145 suara dari 12 negara bagian dan George Bush 130 suara juga dari 11 negara bagian. Masih cukup panjang jalan menuju angka kemenangan 270 suara hingga tengah malam nanti (tengah hari Rabu WIB), dan masih banyak kemungkinan dapat terjadi.

Kejar mengejar jumlah suara ini tentu mengingatkan kita pada Sidang Umum MPR yang lalu, ketika Gus Dur dan Megawati saling susul-menyusul dalam penghitungan perolehan suara. Hanya bedanya di sini tidak ada penggembira yang hobinya ngamuk (dulu, baru alasan dicari belakangan).

George Bush tadi siang mencoblos di kota Austin, negara bagian Texas, dimana dia saat ini menjabat sebagai Gubernur dan ternyata dia memang memenangi perolehan suara di kampungnya sendiri. Sementara Al Gore mencoblos di Tennessee, negara bagian di mana dia berasal, tepatnya di kota Elmwood yang hingga kini belum selesai penghitungan suaranya.

Kita tunggu perkembangan selanjutnya, karena setiap jam hingga tengah malam nanti beberapa negara bagian secara bertahap dari timur ke barat akan menutup TPS-nya dan menghitung jumlah perolehan suaranya.

Yusuf Iskandar