Posts Tagged ‘bisnis’

Memulai Usaha Minimarket

25 Oktober 2010

(1)

Seorang teman ingin buka minimarket sendiri (bukan waralaba), dan bertanya: “Bagaimana memulainya?”. Pertanyaan klasik dan selalu seperti itu. Jawabannya pun klasik: “Ya seperti kalau mau buka warung…”. Tentu ada kelanjutannya.

Kalau belum punya tempat, carilah yang strategis. Kalau sudah punya tempat, berjuanglah agar tokonya maju dan berkembang. Caranya? “Nanti ketemu sendiri…”.

(2)

Kok ketemu sendiri”? Kalau punya toko saja belum, tapi sudah ketakutan kalau tidak laku, ya malah nggak jadi buka toko. Yang saya maksud “ketemu sendiri” adalah, jika sudah telanjur punya toko maka siapapun pasti akan berjuang keras untuk mengatasi setiap kendala yang terjadi.

Maka biasanya saya tanya: “Apa sampeyan sungguh-sungguh menyintai dan siap menekuni bisnis minimarket?”. Kalau “Ya”, maka itulah aset gratis untuk menuju “ketemu sendiri” itu tadi.

Yogyakarta, 21 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Benar Tapi Tidak Dapat Dibenarkan

6 September 2010

Mau bukber, ujuk-ujuk anak lanang mampir toko berbelanja. Mentang-mentang toko milik ortunya, giliran ke kasir bilang ke ibunya: “Gak usah bayar ya, kan tokonya ibu…”. Jawab ibunya: “Lha kok enak?” –

Logika anak lanang benar. Tapi dalam bisnis, tidak setiap hal yang nampak “benar” itu dapat “dibenarkan” dan tidak setiap hal yang dapat “dibenarkan” itu “benar”. Intinya? Ya tetap harus bayar!

“Kalau gitu, minta uangnya…”, katanya. Woo…dasar!

(bukber : buka bersama)

Yogyakarta, 4 September 2010
Yusuf Iskandar

Resolusi Ramadhan Itu Perlu

14 Agustus 2010

(1)

Dalam beberapa kali kultum di awal Ramadhan, saya menggaris-bawahi tentang perlunya membuat Resolusi Ramadhan bagi setiap diri. Untuk urusan bisnis yang belum tentu untungnya dan bahkan urusan duniawi yang tidak jelas ujung-pangkalnya saja kita dengan gagah berani plus sedikit sombong, memancangkan Resolusi setiap tahunnya. Tapi untuk ibadah Ramadhan, bisnis yang digaransi pasti untung dunia wal-akherat, kenapa kita sepertinya ragu-ragu dan tidak berani membuat Resolusi?

(2)

Resolusi Ramadhan bagi setiap diri beriman itu perlu. Agar supaya bulan Ramadhan ini tidak sekedar numpang lewat sebagai bunga-bunganya orang Islam untuk tampil beda, sebulan dalam setahun. Agar supaya isi bulan Ramadhan ini tidak ngona-ngono wae (begita-begitu saja), monoton, klasik, ndeso, tanpa ada nilai tambah atas kebaikannya. Agar supaya di penghujung bulan nanti orang Islam pantas untuk berikrar: “Akulah sang pemenang dan akulah agen perubahan”.

(Kultum : kuliah tujuh menit. Istilah untuk agenda ceramah agama singkat, biasanya dilakukan sebelum sholat tarawih dan sesudah sholat subuh)

Yogyakarta, 14 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Bisnis Menjaga Amanah

14 Mei 2010

Bisnis menjaga amanah ternyata memang tidak mudah. Minggu pagi ini guru mengaji, tetanggaku, mengingatkan bahwa di balik setiap amanah yang dibebankan kepada kita, selalu mengandung unsur peluang dan tantangan….. Tinggal kita mau “mendayagunakan” amanah itu menjadi seperti apa. Bisa positif dan negatif saling bertentangan, bisa juga mengarah menuju keduanya positif atau negatif.

Yogyakarta, 9 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Kedatangan Tamu Kyai

14 Mei 2010

Siang tadi kedatangan tamu seorang Kyai dari sebuah pondok pesantren (jelas bukan Gus Dur, tapi Gus yang lain), minta dicarikan investor untuk tambang batubara. Ketika akan pulang, beliau wanti-wanti bahwa bisnis yang sedang dijalankan ini landasannya adalah (saling menjaga) amanah.

Rada deg-degan aku…, sebab salah satu sifat wajib Nabi saw ini adalah justru sifat yang paling banyak diabaikan oleh para pelaku bisnis, sengaja atau tidak sengaja.

Yogyakarta, 8 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Semakin Panas Di Jogja

3 Mei 2010

Jogja panas sekali siang ini. Makin panas karena ditawari mengambil alih bisnis yang sedang berkembang yang harganya em-eman. Lebih panas lagi saat mengotak-atik bagaimana caranya agar bank mau meminjami uang dengan agunan bisnis itu sendiri, alias saya mau mengambil bisnisnya tapi sebagian besar resiko saya pindahkan ke bank…

Yang sudah-sudah kalau kepanasen begini obatnya ya ngopi, ngudut, njuk dipikir karo turu… (dipikir sambil tidur). Mayday! Mayday! Mayday..!

Yogyakarta, 1 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Bisnis MLM?

7 April 2010

Saya menerima SMS isinya: “Mendapatkan 5 hal melalui 5 jalan“, diakhiri dengan: “…sebarkn sms ini kpd saudara muslim minimal 7 org sja. Insya Allah 2jam kmdian akn mndngar kabar BAIK” –

Benar, bahwa siapa menebar kebaikan maka akan menuai yang lebih baik lagi, karena itu memang janji Tuhan. Tetapi, menebar kebaikan kepada minimal 7 orang dan 2 jam kemudian akan mendengar kabar baik? Ugh.., sepanjang yang saya kenal, Tuhan bukan pelaku bisnis MLM…

Yogyakarta, 7 April 2010
Yusuf Iskandar

Nasehat Bapak Kepada Putrinya

22 Maret 2010

Nasehat seorang bapak kepada putrinya yang sedang belajar bisnis:

“Rebutlah rejeki pagi, jumlahnya sama deng rejeki siang, sore atau malam, tapi yang memperebutkan sedikit karena perebut-perebut lainnya masih pada mlungker berbungkus selimut, boro-boro sholat subuh (bagi perebut yang ber-KTP Islam)…”.

NB: Nasehat ini hanya ditujukan khusus kepada putrinya bapak itu.

Yogyakarta, 21 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Improvisasi Itu (Terkadang) Perlu – Bag. 3

25 April 2009

Anak lelaki saya minta ibunya membelikan buah melon, tapi ibunya lupa. Kebetulan suatu siang saya berada di dekat kios buah pinggir jalan di Jogja, maka langsung saja saya membelikan sebutir melon, sebelum nanti lupa lagi. Kepada penjual buah saya utarakan maksud saya, kemudian saya minta dipilihkan yang bagus, sekalian dimasukkan ke tas kresek, saya tanya harganya, lalu saya bayar tunai begitu saja.

Kami (saya dan tukang buah) siang itu menjalankan bisnis kepercayaan. Saya tepis jauh-jauh pikiran bagaimana kalau ternyata saya dibohongi dengan dipilihkan buah melon yang jelek, toh buahnya tidak saya lihat lagi setelah dimasukkan ke dalam tas kresek warna hitam. Atau bagaimana kalau ternyata harganya dimahalkan atau kemahalan, sebab saya langsung membayarnya begitu saja dengan tanpa menawar sedikitpun atas harga yang disebutkannya.

Sampai di rumah saat sorenya, sebutir melon yang beratnya dua kilogram setengah lebih sedikit itu saya pamerkan ke istri. Tujuan saya tentu memberikan surprise karena kemarin dia lupa membelikan buah melon pesanan anak saya. Lalu istri saya bertanya : “Beli melon, berapa harganya?”.

“Sekilo enam ribu rupiah”, jawab saya.

“Ditawarkan berapa?”, tanya istri saya lagi.

“Ya, enam ribu rupiah”, jawab saya tanpa merasa ada yang salah. Ya, memang sebenarnya tidak ada yang salah kok

“Mestinya masih bisa ditawar lebih murah”, komentar istri saya kemudian sambil memotong setengah buah melon itu lalu mengirisnya menjadi tipis-tipis menyerupai bulan sabit. Dialog saya dan istri kemudian terhenti sebentar karena kami berpikir dengan jalan pikiran masing-masing.

Sesaat kemudian, sambil leyeh-leyeh di depan televisi saya berkata dengan nada datar : “Kapan ya…. terakhir kali kita membeli buah tanpa menawar…. Lima tahun lalu, sepuluh tahun lalu, atau malah belum pernah sama sekali…..”.

***

Dasar ibu-ibu, merasa belum afdol kalau belanja kok tidak nawar, kecuali di pasar moderen sekalipun tahu harga yang dipasang sebenarnya lebih mahal. Bila perlu mati-matian bertahan di depan bakul pasar hanya perkara uang seribu-dua ribu rupiah. Tapi itu memang sangat manusiawi (mungkin lebih tepat disebut ibuwi). Terkadang bukan masalah rupiahnya, melainkan kepuasannya.

Sama seperti ketika sekali waktu tawar-menawar dengan tukang becak di Jogja. Sang penumpang berlagak sok tahu bahwa biasanya biayanya tidak segitu. Dan sang tukang becak tidak mau kalah dengan berlakon memelas agar tawaran ongkosnya disetujui. Akhirnya mereka sepakat dengan ongkosnya. Begitu tiba di tujuan, sang penumpang malah menggandakan ongkos becaknya, tinggal sang tukang becak munduk-munduk berterima kasih. Kalau memang begitu kenapa tadi mesti buang-buang waktu untuk bernegosiasi alot menawar ongkosnya? Ya itu tadi, improvisasi atas nama kepuasan. Kepuasan telah berhasil memenangi negosiasi (menang melawan tukang becak kok sombong….), kepuasan memberi lebih banyak tanpa diminta kepada tukang becak (seringkali antara berharap pujian dan ikhlas batasnya tipis sekali), dan kepuasan melakukan improvisasi dalam hidup.

Ya, apa yang saya lakukan siang itu adalah sekedar ingin berimprovisasi. Keinginan itu terbersit begitu saja tanpa saya rencanakan. Bukan saya tidak bisa melakukan tawar-menawar. Sekali waktu saya pun bisa ikut menawar kalau lagi membeli buah. Sekedar ingin membuktikan bahwa saya juga bisa nyinyir bernegosiasi untuk bertahan memperoleh penghematan seribu-dua ribu rupiah. Suatu jumlah rupiah yang sebenarnya persentasenya relatif sangat kecil dibanding jumlah pengeluaran bulanan keluarga. Tapi kok ya dilakukan juga dan malah hampir selalu dilakukan.

Artinya, kalau sekali waktu kita melakukan improvisasi kecil melakukan bisnis kepercayaan semodel cerita di atas, sebenarnya kita sedang membicarakan sesuatu yang nyaris tidak terlihat, tidak berpengaruh, tidak ada artinya apa-apa dalam penggalan kehidupan kita. Tapi faktanya, susah nian melakukannya dengan sepenuh keikhlasan.

Yogyakarta, 25 April 2009
Yusuf Iskandar