Posts Tagged ‘freeport’

Catatan Harian Untuk Merapi (14)

28 Desember 2010

(115). Tak Sesederhana Mengirim Bantuan

Status Merapi masih AWAS. Radius Kawasan Rawan Bencana (KRB) diturunkan/dikurangi. Sebagian pengungsi pun berangsur pulang ke kampung halaman. Lalu setelah itu apa…? Kalau sekedar mengganti rumah dan infrastruktur yang rusak itu mudah. Tapi mengembalikan nafas kehidupan ekonomi? Tak sesederhana mengirim bantuan kepada pengungsi melalui posko-posko…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(116). Isi Perut Harus Tetap Dipenuhi

Mereka yang sebagian besar petani, peternak dan buruh lepas, butuh waktu panjang untuk menemukan kembali kehidupannya, memulihkan roda ekonominya, setelah semua hancur tak bersisa. Bahkan untuk sekedar memulai!

Tanah harus diolah dari nol, pohon yang masih hidup perlu waktu untuk diguna, bibit dan pupuk tak terbeli, pakan ternak harus dicari… Sementara hasil dinanti, isi perut harus dicari tapi nggak janji, tak seperti perut Merapi yang tak pernah ingkar janji…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(117). Sampai Kapan Menunggunya?

Sekitar 50 KK warga dusun Soronalan, Sawangan, Magelang, kini tak berkutik setelah diusik abu panas Merapi (5/11). Menunggu…, itu yang dapat mereka lakukan sementara ini. Ya, menunggu bantuan. Ya, menunggu saat aman untuk memulai bekerja. Bertani, beternak, berkerajinan, entah apa lagi… Tapi sampai kapan menunggunya? Dan apa masih ada yang diharapkan untuk ditunggu?

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(118). Mengirm Bantuan Ke Dusun Soronalan Magelang

Menyusuri jalan desa yang menanjak dan menurun selebar cukup satu mobil, membelah ladang-ladang yang rusak oleh abu vulkanik dan pemukiman penduduk, akhirnya sampai ke dusun Soronalan, Sawangan, Magelang.

Menilik lokasinya, pantas saja kalau tak tersentuh bantuan. Seorang relawan mandiri yang perduli dengan nasib tetangga-tetangganya yang hanya makan keladi dan singkong, pontang-panting mencari bantuan. Ke sanalah saya dkk. siang ini mengirim bantuan logistik.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(119). Ada Kebahagiaan Di Wajah Anak-anak Itu

Wajah anak-anak itu begitu ceria, begitu juga ibu-ibunya. Bersama kaum bapaknya berkumpul menyambut bantuan yang “tidak seberapa” yang untuk pertama kali datang ke dusun mereka.

Bekal kue dan makanan ringan yang kami bawa masih tersisa cukup banyak. Dan ketika dibagikan…, mereka, anak-anak dan ibunya, berebut sambil tertawa canda. Mereka menyalami kami. Masya Allah… Tak pernah terbayang menyaksikan kebahagiaan seperti itu…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(120). Kerja Keras Seorang Relawan Mandiri

Dari dusun Soronalan kami menuju dusun Babadan. Jaraknya sekitar 4 km. Jumlah penduduknya sekitar 185 KK, kondisinya tidak jauh beda dengan Soronalan. Kegiatan ekonomi lumpuh, belum ada yang dapat dikerjakan masyarakat. Beruntung di dusun ini ada seorang relawan mandiri yang gesit dan lincah, biasa disapa pak Inggo yang adalah seorang guru. Berkat kerja kerasnya, kemudian bantuan dari luar menjangkau. Malah bisa dibagi ke dusun-dusun lain yang senasib, “seret” bantuan…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(121). Mereka Yang Mencari Kelebihan Bantuan

Di Babadan ketemu kepala dusun Ngaglik yang sedang mencari bantuan. Kelincahan pak Inggo rupanya berhasil mendatangkan bantuan yang selama ini jarang mampir ke lokasi-lokasi yang “tidak populer”, apalagi susah dicapai. Karena itu dusun Babadan menjadi tujuan dusun-dusun lain untuk mencari kelebihan bantuan.

Seperti dusun Ngaglik yang lokasinya sekitar 1 km di atas Soronalan. Sayangnya saya baru tahu itu setelah meninggalkan Soronalan, mestinya tadi bisa sekalian diampiri.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(122). Dana Saweran Tertunda Penyalurannya

Dana saweran dari teman-teman di Jakarta dan Surabaya yang saya terima kemarin, semula tadi pagi mau saya belanjakan logistik untuk dikirim ke dusun Soronalan. Tapi rupanya teman-teman pensiunan Freeport sudah lebih dulu siap dengan logistik dan minta ditemani menyalurkannya, maka saya arahkan ke Soronalan. Sedangkan dana yang saya terima kemarin saya tunda penyalurannya dan akan saya tujukan untuk dusun Ngaglik, yang kondisinya sama seperti dusun Soronalan.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

Iklan

Dunia Tak Selebar Buah Merah

29 Mei 2010

Wee…, lha anak lanang ini sekarang mulai ‘berani’ menyalahkan bapaknya:

“Bapak ini dulu kenapa keluar dari Freeport segala. Kalau tidak keluar kan saya mudah kalau mau mendaki Cartenz…”.
Jawabku: “Bapak keluar dari Freeport itu karena biar kau tahu kalau di luar Papua ada banyak gunung yang bisa didaki”. Anak lanang pun nyengenges…

(Terjemahan jawaban saya itu sebenarnya adalah agar dia tidak ‘terlambat tahu’ bahwa dunia ini tidak selebar buah merah).

Yogyakarta, 24 Mei 2010
Yusuf Iskandar

“Selamat Jalan Anakku…”

5 April 2010

“Rasanya belum lama kau kuantar ke Jakarta, nak. Kemarin petang kau kecelakaan dan tak sadarkan diri, lalu pagi ini kau harus segera berangkat menuju keabadian. Bahkan salam perpisahan pun belum sempat kuucapkan. Selamat jalan, anakku…”.

Begitu kira-kira, betapa galau hati kedua orang tuanya. Dan orang tua itu adalah sahabatku, ex-teman kerja di Papua, Bp/Ibu Sriyono. Kami berdoa, Allah swt. pasti telah memilihkan jalan yang terbaik bagi ananda dan keluarganya.

(Turut berduka atas berpulangnya ananda Ria Octarianti, 16 tahun, putri kedua dari Bp/Ibu Sriyono, karyawan PT Freeport Indonesia. Jenazah dimakamkan di dusun Karangwetan, Tegal Tirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta)

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Buku “The Art of Practical Leadership”

13 Maret 2010

Hari ini saya menerima kiriman 3 exp buku berjudul “The Art of Practical Leadership – Memimpin Puluhan Ribu Karyawan Menuju Sukses” oleh Armando Mahler (Presdir PT Freeport Indonesia), tebal 261 halaman, tahun 2009, penerbit CV Aksara Buana, dimana saya dipercaya menjadi editor merangkap ghost writer. Rencananya akan saya distribusikan 1 exp untuk Perpustakaan Tambang UPN, 1 exp untuk Paguyuban Pensiunan Freeport, 1 exp untuk arsip pribadi.

(Jurusan Tambang UPN “Veteran” Yogyakarta adalah almamaterku — Buku tersebut dapat diperoleh di toko buku Gramedia))

Yogyakarta, 11 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (I)

15 November 2009

( 1 )

Sebenarnya saya juga tidak habis pikir, kenapa sekelompok orang desa yang dilarang gresek (mengais-ngais) emas di saluran pembuangan tailing (limbah tambang) di tambang Freeport di pegunungan Papua sana, kok gedung Plaza 89 Kuningan yang ditimpuki batu oleh sekelompok calon pemimpin bangsa berpendidikan tinggi di Jakarta? Lebih tidak mudeng (paham) lagi, yang di desa sana kemudian menuntut penambahan porsi pembagian dana yang 1% dari pendapatan Freeport, tapi yang di Jakarta menuntut penutupan tambang.

Andaikan saya adalah pemilik Freeport, rasanya su pecah kitorang pu kepala ….. (sudah pecah kami punya kepala) karena kelewat pening mengurai benang kusut. Bagaimana tidak? Dari hanya satu soal tidak boleh mendulang tailing, lalu beranak-pinak jadi belasan soal yang harus dicarikan solusinya sak deg sak nyet (saat ini juga). Dari hanya soal bisnis lokal menyangkut segram-dua gram emas bagi masyarakat setempat, menjadi skala bisnis milyaran dollar bagi masyarakat dunia, menyangkut isu lingkungan, isu HAM, isu politik tentang PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat), isu “konspirasi” antar bangsa, isu penutupan tambang, sampai ke isu NKRI. Sak jane ki piye …..(sebenarnya bagaimana sih)?

Sebagai seorang mantan professional tukang insinyur tambang yang sekarang nyambi jadi CEO bisnis mracangan ritel di pinggiran Jogja, wajar kalau saya turut gundah dan gulana. Namun bagaimanapun juga saya harus berpikir jernih….., agar bisa tetap berpikir professional dan proporsional. Saya menerjemahan kata professional ini dengan mudah saja, yaitu mereka yang berpikir dan bertindak berlandaskan SOP (Standard Operating Procedure) atau tata kerja yang benar di bidang masing-masing. Karena itu mereka yang berpikir dan bertindak tidak atas dasar SOP yang semestinya (seumpama berdasarkan rumor, katanya, kabarnya, tampaknya, bajunya, warnanya, baunya, dsb.), di mata saya tak ubahnya seperti acara infotainment atau infomezzo.

Cilakak duabelas-nya, kalau yang berpikir dan bertindak tidak sesuai SOP itu ternyata seorang penjabat (pakai sisipan”n”), tokoh atau orang yang keminter, maka meroketlah dia menjadi seorang bintang infotainment baru. Kalau hanya untuk sekedar bahan guyonan atau plesetan, daripada bengong, okelah…….., saya juga suka dengan infomezzo untuk bekal haha-hihi….. mengusir sentress (pakai sisipan”n”). Tapi kalau kemudian dilempar ke tengah forum publik yang diliput media? Kalau dikatakan tidak professional….., nanti tersinggung. Tapi kalau mau dibilang professional….., kok bau-baunya ngawur……….

Itulah hal pertama yang membuat saya turut belasungkawa dan menyedihi diri sendiri. Sebab akhir-akhir ini saya banyak mendengar dan membaca komentar para tokoh dan pakar terkait dengan kemelut di depan gawangnya Freeport. Sebagian di antaranya kedengaran professional dan proporsional. Namun sebagian yang lain pathing pecothot….. (kata lain untuk tidak professional).

Lho, mereka juga para ahli. Iya…! Tapi, ibarat seorang ahli tinju yang mengulas soal teknik-teknik menjahit baju (akan lain soalnya kalau ahli tinju ini pernah ikut kursus menjahit misalnya). Atau, ahli bikin bakso berformalin membahas tentang bagaimana seharusnya mengatasi penyakit flu burung (akan lain soalnya kalau si tukang bakso ini pernah jadi petugas lapangan penyuluh kesehatan misalnya). Ya bolah-boleh saja….. wong ini negeri demokrasi, yang (sebaiknya) tidak boleh dan tidak etis adalah kalau njuk menyalahkan bahkan malah mengadili pihak lain.

Alangkah indahnya kalau sebelum menjatuhkan vonis terlebih dahulu mempelajari berkas perkaranya dengan cermat, teliti, adil dan tidak emosional. Bila perlu observasi lapangan dengan membawa koco-benggolo (suryakanta), sehingga tahu persis seluknya dan beluknya dan bukan hanya kabarnya dan kabarinya.

Jangan-jangan mereka yang beringas di Plaza 89 Kuningan dan bahkan di Jayapura itu adalah generasi muda Papua yang belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri (melainkan mata kepala orang lain yang rentan terhadap praktek manipulasi dan provokasi) operasi penambangan Freeport dan (apalagi) memahami bagaimana Freeport akhirnya menginvestasikan uang milyaran dollar di Papua dan terus bertambah, sejak 40 tahun yang lalu.

Lha kalau investor kelas kakap seperti Freeport sudah mulai merasa tidak man-nyamman, bagaimana dengan investor-investor besar lainnya? Apalagi yang kelas teri? Lalu muncul dua kepentingan :

Pertama, kepentingan karena khawatir kalau-kalau calon investor kakap lainnya pada lari nggembring membatalkan rencana penanaman modalnya dan Kedua, kepentingan karena khawatir kalau-kalau masyarakat lokal menjadi pihak yang selalu terkalahkan. Padahal mestinya kedua belah pihak bisa di-guyub-rukun-kan untuk hidup berdampingan dalam kerangka simbiose mutualisme untuk kesejahteraan bersama.

Adalah fakta bahwa ada yang perlu dibenahi dalam pengelolaan penambangan Freeport sebagai sebuah sistem (bukan sub-sistem) bisnis. Tapi adalah opini emosional kalau kemudian ditemukan adanya masalah kok lalu tambangnya ditutup saja. Janganlah seperti man-paman petani di kampung saya yang membakar sawahnya gara-gara judeg (kehabisan akal) karena sawahnya diganggu tikus. Atau, man-paman Bush yang membakar Afghanistan karena dikira tikusnya ngumpet di sana.

***

Hal kedua yang membuat saya sangat prihatin adalah bahwa saya haqqun-yakil potensi konflik atau kemelut di depan gawangnya Freeport sekarang ini mestinya sudah teridentifikasi sejak lebih 35 tahun yang lalu. Tapi seperti pernah saya singgung sebelumnya, jangan-jangan…………

“sang pimpro gagal mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh stakeholders proyeknya, atau sebenarnya tahu permasalahannya tetapi gagal menempatkannya dalam prioritas problem solving and decision making. …….Pada waktu itu, barangkali memang para stakeholders itu senyam-senyum dan oka-oke saja karena segenap kepentingannya tidak (atau belum) terganggu, fasilitas hidupnya terpenuhi dan tampaknya aman-aman saja ….. Tapi ketika jaman berganti dan permasalahan yang terpendam itu kemudian meledak karena ketemu pemantik, tinggal sang pimpro dan rombongan shareholders-nya kebakaran jenggot”.

Sebagai seorang sopir yang baru saja bermanuver banting setir atau alih profesi, saya melihat agaknya cerita tentang Freeport ini adalah cerita rakyat tradisional tentang sopir-sopir besar yang mengabaikan penumpang-penumpang kecilnya. Masa-masa 35 tahun yang lalu, penumpang-penumpang kecil ini sepertinya tidak terlihat oleh sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio adalah penguasa dan pengusaha. Kalaupun terlihat, ya hanya nylempit di antara bagasi-bagasi besar penumpang lainnya. Sehingga tampak benar-benar keciiiiiil….. sekali, malah masih pada ber-pornoaksi telanjang, enggak pakai baju, ingusan. Akibatnya, menurut ngelmu manajemen resiko……. cincai-lah itu, adalah faktor threats (ancaman) yang dapat dieliminasi pada saat itu juga, tanpa perlu berpikir panjang, apalagi melalui polling SMS……

Namun agaknya ada yang terlupakan. Jaman telah berganti, sopir-sopir cadangan juga bermunculan, penumpang pun berganti generasi. Masa 35 tahun adalah masa yang sangat cukup bagi penumpang-penumpang kecil yang dahulu ingusan dan telanjang untuk berbenah, berdandan dan mematut-matut diri. Sementara sopir-sopir itu tetap saja menganggap mereka seperti 35 tahun yang lalu. Menganggap bahwa senyam-senyum, oka-oke dan manggut-manggutnya mereka sekarang adalah sama dengan lebih 35 tahun yang lalu.

Maka jadilah bom waktu yang tinggal menunggu pemicu. Maka begitu ketemu pemicu, bukan masalah bomnya yang meledak. Kalau hanya bomnya….. kecil lah itu. Melainkan multiple effect kerusakannya ternyata merambat kemana-mana, menjadi pemicu atas timbunan daftar panjang ganjalan yang sudah terendap dan terakumulasi selama periode berbenah diri, sampai ke urusan yang tidak masuk akal sekalipun.

Tahulah saya sekarang, kenapa urusan tidak boleh mendulang emas di saluran pembuangan limbah tailing di puncak pegunungan nun jauh di sana bisa menyublim di ujung dunia lainnya menjadi keberingasan menuntut tambang ditutup. Rupanya timbunan permasalahan penumpang-penumpang yang dulu dianggap kecil itu memang sambung-menyambung menjadi satu, seperti nyanyian ….. Dari Mimika Sampai Jakarta ….. yang berjajar pulau-pulau, dan itulah Indonesia…..

( 2 )

Freeport riwayatmu kini……. Apakah kejadian akhir-akhir ini akan dipandang sebagai hanyalah sebutir kerikil yang nyisip di antara jari kaki ataukah sebongkah gunung es? Tidak ada bedanya. Toh periode lebih 35 tahun sudah terlewati dan nampaknya tidak terlalu sulit untuk diatasi. Barangkali periode 35 tahun ke depan pun bisa diatasi sebagaimana periode 35 tahun yang lalu. Mudah-mudahan jaman tidak berubah. Tapi ….., siapa yang bisa menggaransi? Maka disitulah baru muncul bedanya…….

Bumi Papua sedang dilanda angkara……. Sialnya kok ya di sana ada Prifot (demikian orang awam suka menyebut perusahaan tambang raksasa ini. Membolak-balik pengucapan huruf “f” dan hurup “p” memang lebih mudah dan lebih enak didengar, seperti menyebut pilem, prei, paham, pilsapat, parmasi, palsapah, dan sebaliknya juga fagi-fagi fergi ke fasar lufa fakai celana fendek karena kefefet kefingin fifis…….).

Konplik demi konplik mewarnai romantika bisnis milyaran dollar. Kemelut demi kemelut merundung di depan gawangnya Freeport. Padahal mestinya ada yang bisa dilakukan untuk menghindari blunder dengan cara yang arif dan bijaksana. Mundur selangkah untuk maju sekian langkah. Kalau mau ……….. (Ijinkan saya menirukan kata “Atasan” saya Yang (Maha) Satu : ….. Tidak ada kesulitan melainkan di baliknya ada kemudahan — QS. 94:5-6).

Ibarat sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio pengusaha dan penguasa ini dan itu, yang terlena lebih 35 tahun. Sopir yang satu lebih suka status quo….. (Habis enak sih…..!). Sopir yang satu memilih menjadi seperti paman petani atau paman Bush. Sementara sopir-sopir lainnya sudah terbangun dari terlenanya, tapi ketika mencoba bermanuver banting setir kepalanya nyampluk (membentur) kaca spion sehingga hanya bisa melihat dari sisi yang berbalikan (sayangnya tidak setiap kaca spion tertulis peringatan seperti di luar negeri : “objects in mirror are closer than they appear”) .

Kalau saya……., kalau saya ini lho….., lebih baik terlena 35 tahun tapi ada yang membangunkan. Perkara siapa yang membangunkan ya mestinya bukan soal benar. Kata orang sonoan dikit : perhatikan “what”-nya dan bukan “who”-nya. Menyitir pesan Kanjeng Nabi Muhammad saw. : (simaklah) apa yang dikatakan dan bukan siapa yang mengatakannya ….. (bahasa londo-Arabnya : maa-qoola walaa man-qoola).

Kini threats (ancaman) sudah di depan hidung dan mata. Bukan sekedar mendulang tailing, bukan sekedar soal lingkungan, bukan sekedar praktek HAM. Itu isu yang sudah usang, sudah mataun-taun (bertahun-tahun) diungkat-ungkit-ungkat. Melainkan lebih serius lagi soal nyanyian Dari Sabang Sampai Merauke…… yang sedang diublek-ublek oleh penumpang-penumpang kecil yang 35 tahun yang lalu masih telanjang dan ingusan….., karena di jaman itu belum ada kompor minyak masuk pedalaman Papua, sehingga tidak ada yang ngomporin……

***

Berhubung saya yang hanya sopir kendaraan kecil yang ex-officio CEO “Madurejo Swalayan”, sebuah bisnis ritel ndeso, ini selalu optimis dan terkadang kelewat percaya diri, maka saya keukeuh untuk mengatakan bahwa di balik setiap threats (ancaman) pasti ada opportunities (peluang). Dan peluang itu tidak akan pernah habis digali dan tidak akan pernah selesai digarap.

Merubah ancaman menjadi peluang memang bukan pekerjaan seperti membalik telapak tangan (kalau telapak kaki memang rada sulit). Perlu perjuangan panjang dan melelahkan. Perlu kerja keras semua pihak. Dan lebih berat lagi adalah perlu good will dan hati legowo dari para sopir untuk melakukan banting setir secara terencana, terukur, terarah dan tidak emosional.

Pendeknya, matahari harus dibangunkan…..!. (Ben tambah nggegirisi……!). Kalau perlu jangan biarkan dia selalu tenggelam di horizon barat, melainkan tenggelamkan dia di ufuk timur. Paradigma community development harus dirombak-mbak…..! Tidak ada tawar-menawar…..! Paradigma lho, bukan paraturan (peraturan atau kebijakan). Kalo paraturan mah suke-suke nyang bikin aje….

Suka tidak suka, saya tetap mengatakan, jangan biarkan stakeholders selalu berarti obyek, melainkan subyek. Setidak-tidaknya ajari mereka agar berkompeten menjadi subyek. Kalau paradigma tidak berubah, maka action plan-nya pasti akan tambal sulam saja, gali lubang tutup lubang. Nampaknya, “ngelmu gaib” pun harus diyakinkan. Dan yang paling penting, bahwa peluang itu sebenarnya ada di depan mata.

***

Sesungguhnya ini bukan hanya monopoli sopir-sopir kendaraan besar seperti Freeport. Freeport saja yang sedang ketiban apes, duluan diobok-obok. Meskipun sesungguhnya ada fakta lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Bahkan oleh para antropolog pun tidak pernah disinggung-singgung adanya satu faktor sosio-kultural-antropologis (embuh panganan opo iki……) yang terkait dengan etos kerja.

Tapi baiklah, hal itu dikesampingkan saja. Masih banyak sopir-sopir kendaraan besar berpangkat penguasa dan pengusaha di tempat-tempat lain yang seprana-seprene (sengaja) terlena dan enggan dibangunkan. Dan agaknya perlu mulai mawas diri dan belajar dari apa yang sedang dirundung oleh Freeport. Tidak ada buruknya kalau mau belajar dari kemelut di depan gawangnya Freeport, mumpung belum kedarung (telanjur) menjadi blunder.

Omong-omong soal menggarap peluang, rasanya kok tidak ada kata terlambat. Sopir-sopir boleh udzur, boleh meninggal duluan (kalau menginginkan), boleh malas mikir, boleh over-sek (saya suka terjemahan baru ini, untuk menyebut : usia lebih seketan, lebih limapuluhan), tapi kernet dan penumpang kecilnya pasti semakin pintar dan cerdas. Lha, mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana menggali, menangkap dan menggarap peluang-peluang yang ada. Agar hubungan sesrawungan (silaturahmi) antara segenap anasir stakeholders dan shareholders tampak lebih manis, mesra dan profitable.

Tapi perlu pengorbanan dan biaya tidak sedikit? Lha iya….., sudah dibilangin …….., mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana memasukkan biaya-biaya dan peluang-peluang itu sekaligus ke dalam analisis bisnis yang diperbaharui. Mencari tambahan kernet-kernet yang lebih terampil dan trengginas (lincah) juga bukan hal yang tabu. Jer basuki mawa bea…….. Kalau kepingin hidup aman, nyaman, damai, tenteram, sejahtera, gemah ripah loh jonawi tata tentrem kerta raharja, keuntungan dan kekayaannya terus melimpah dan menggunung, ya jelas perlu pengorbanan dan biaya.

Tidak lain agar anak-cucu sopir-sopir yang sudah over-sek itu tetap bisa menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke dengan penuh semangat, langkah tegap, kepala tegak dengan rona kebanggaan di wajahnya, entah berambut lurus atau keriting, entah berkulit sawo bosok, kuning langsat atau gelap gulita …….

Madurejo, Sleman — 5 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (II)

15 November 2009

( 3 )

Saya rada terhenyak membaca tulisan berjudul “Bongkar Kejahatan Freeport” yang berisi wawancara dengan Amin Rais. Bukan soal kejahatannya. Kalau yang namanya kejahatan (bila memang terbukti benar) di manapun juga ya harus diberantas dan jangan dibiarkan meraja dan melela. Saya justru nglangut….. (menerawang jauh) perihal bongkarnya. Bukankah bangsa ini terkenal dengan sindiran pandai mbongkar tidak bisa masang (kembali)? Kata lain untuk pandai mengacak-acak setelah itu kebingungan untuk memperbaiki dan merapikannya kembali.

Di berbagai forum milis di internet, sempat muncul banyak tanggapan dan silang pendapat tentang topiknya Amin Rais ini. Sebenarnya saya agak enggan untuk memikirkannya (mendingan saya ngurusi toko saya “Madurejo Swalayan” agar semakin maju). Biar sajalah menjadi porsinya para ahli untuk membahasnya. Tapi lama-lama saya terusik juga dengan beberapa komentar rekan-rekan (yang pernah) seprofesi yang berada di dekat saya. Seorang rekan lain mengirim email agar saya menelaah lebih dalam tentang hal ini.

Sejujurnya, saya tidak memiliki kapasitas sedalam itu. Sedang wadah organisasi profesi maupun asosiasi industri yang lebih berkompeten pun tidak kedengaran suaranya. Karena topik ini sebenarnya sudah menyangkut banyak dimensi. Oleh karena itu saya akan mencoba menuliskan pikiran saya dan membatasi hanya dari sudut pandang seorang mantan pekerja tambang dan sesuai peran sosial saya sebagai anggota masyarakat, agar pikiran saya tetap jernih, netral dan logis.

***

Sekitar tahun 1996 (atau 1997, saya lupa persisnya), Amin Rais pernah datang ke Tembagapura atas undangan Himpunan Masyarakat Muslim (HMM) di lingkungan PT Freeport Indonesia (PTFI). HMM adalah organisasi sosial keagamaan yang menjadi wadah bagi kegiatan keagamaan segenap keluarga besar PT Freeport Indonesia, kontraktor maupun perusahaan privatisasi, mencakup segenap karyawan dan keluarganya, yang tersebar dari puncak gunung Grassberg hingga pantai Amamapare. Organisasi yang belakangan saya sempat dipercaya untuk memimpinnya, dua tahun sebelum saya banting setir.

Menilik siapa pengundangnya, tentu saja Pak Amin Rais ini diundang dalam kerangka misi dakwah di lingkungan PTFI, setidak-tidaknya menyangkut peran belau sebagai tokoh Muhammadiyah dan dosen UGM. Maka selama di Tembagapura dan sekitarnya, selain mengisi berbagai kegiatan dakwah juga diskusi di masjid. Semua berlangsung sangat konstruktif dan menambah wawasan. Sebagai tamu HMM, beliau tentunya juga tamu PTFI, maka ada kesempatan bagi beliau untuk berkeliling melihat serba sekilas (baca : waktunya terlalu singkat untuk dapat mendalami) proses operasi pertambangan dari ujung ke ujung.

Semua kegiatan beliau di lingkungan PTFI telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur standar yang berlaku di perusahaan. Pak Amin Rais pun ketawa-ketiwi, manggut-manggut dan puas dengan berbagai penjelasan tentang berbagai tahapan produksi dan segala macamnya. Tidak sedikitpun muncul komentar bernada negatif dari mulut beliau. Para panitia dari HMM pun senang mendampingi beliau selama kunjungannya. Ya, siapa yang tidak bangga berada dekat dengan seorang tokoh sekaliber Amin Rais ini.

Namun apa yang kemudian terjadi esok harinya sungguh membuat kuping semua aktifis HMM dan pejabat PTFI merah dibuatnya. Baru sehari setelah meninggalkan Tembagapura dan Timika, Amin Rais sudah melempar komentar tajam tentang PTFI kepada wartawan dan masih dilanjutkan di DPR. Maka kalang kabutlah semua pejabat PTFI, terlebih aktifis HMM yang “terpaksa” menjadi pihak paling bertanggungjawab atas kehadiran Amin Rais.

***

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya pulang kampung ke Kendal, seorang adik ipar saya bercerita tentang peluang berinvestasi untuk pembuatan batu bata. Pada saat itu adik ipar saya ini memang sedang menekuni bisnis pembuatan batu bata. Lokasinya di pinggiran sungai, tepatnya memanfaatkan tanah lempung hasil pengendapan yang membentang di sepanjang bantaran sungai. Tanah laterit endapan sungai itu memang dimanfaatkan oleh banyak masyarakat di sekitarnya untuk pembuatan batu bata.

Bahkan di tempat-tempat lain terkadang tanah persawahan pun dimanfaatkan untuk pembuatan batu bata. Tanah lempung sungai dan sawah memang paling bagus untuk bahan pembuat batu bata. Kalau kemudian ditanyakan apa sungai dan sawahnya lalu tidak rusak dan tergerus semakin dalam karena diambil tanah lempungnya? Maka jawabnya, itulah anugerah Sang Pencipta Alam agar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan penghuninya. Adakalanya tanahnya habis terkikis, adakalanya bertambah lagi endapan tanah di atasnya. Sang Pencipta Alam telah dengan sungguh-sungguh mencipta setiap butir tanah. Maka penghuninya pun mesti dengan sungguh-sungguh mendayagunakannya dengan bijaksana.

Di situlah kuncinya. Bijaksana. Maka jika diperlukan pengaturan atas segala sesuatunya, mesti dirancang dan diarahkan untuk menuju kepada pendayagunaan yang bijaksana. Bijaksana bagi alam ciptaan-Nya dan bijaksana bagi pengambil manfaatnya. Maka kalau kini kita sedang membangun, jangan lupa bahwa batu bata yang kita gunakan itu berasal dari galian ratusan bantaran sungai dan ribuan hektar sawah. Entah kita sedang membangun rumah, kantor, sekolah, mal, rumah sakit, pasar, pabrik, jembatan, bendungan, saluran irigasi atau monumen.

( 4 )

Pertambangan adalah industri yang padat modal dan beresiko tinggi. Maka wajar kalau tidak setiap pengusaha punya nyali untuk menanamkan investasinya di industri pertambangan, apalagi yang berskala raksasa. Terlebih pada masa itu, pada masa negeri ini sedang bangkit, pada masa pemerintah belum sepenuhnya siap menangani investasi asing yang sak hohah dollar (buanyak sekali) nilainya. Maka kalau pada tahun 1967 Freeport mau menanamkan modalnya di Papua, itu hasil perjuangan tidak mudah oleh para pelobi kelas tinggi di jajaran pejabat pemerintah Indonesia.

Banyak kekurangan pada mulanya memang, karena menangani Freeport adalah pengalaman pertama pemerintah Indonesia dalam menangani modal asing bidang pertambangan. Belum lagi lokasinya di kawasan yang masih sangat terpencil dan jauh dari pusat pemerintahan. Namun tahun demi tahun kekurangan itu semakin diperbaiki hingga sekarang. Bangsa ini pun semakin pandai, baik dari segi teknis maupun manajerial.

Adalah fakta bahwa dalam perkembangannya, Freeport tidak tinggal mengeruk keuntungan. Kontribusi kepada pemerintah dan masyarakat juga semakin meningkat dalam berbagai bentuknya. Meskipun seperti pernah saya singgung sebelumnya, perlu ada perubahan paradigma dalam community development. Freeport mestinya tidak mengingkari akan hal ini. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya. Bahwa kondisi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi dimana tambang Freeport berada saat ini berbeda jauh dengan kondisi lebih 35 tahun yang lalu, dimana masyarakatnya masih hanya bisa tolah-toleh kesana-kemari, kami tenggengen….. (bengong).

Adalah fakta bahwa masyarakat di sekitar Freeport berada, kini sebagian di antaranya sudah semakin pandai dan terdidik. Dan memang demikian seharusnya. Tidak bodoh turun-temurun, melainkan harus ada yang berani menjadi pandai. Sehingga mampu berpikir lebih komprehensif dan berwawasan luas tentang bagaimana masa depan masyarakat dan desanya.

Adalah fakta bahwa sekitar 90% saham Freeport kepemilikannya berada di tangan pihak asing (yang kebetulan berbangsa Amerika) dan pihak Indonesia hanya mengantongi sekitar 10% (saya sebut sekitar karena saya tidak hafal koma-komanya). Maka pembagian keuntungannya pun tentunya kurang lebihnya akan seperti itu juga. Dengan kata lain, hasil yang dibawa ke Amerika akan 9 kali lebih banyak daripada yang ditinggal di Indonesia. Akan tetapi hal ini pun harus dipahami karena memang sejak semula (meski sempat bertambah dan berkurang) pembagian porsi sahamnya demikian. Itulah kesepakatan yang ada sejak sebelum industri pertambangan itu dimulai. (Konyol sekali kalau saya urun 10% untuk investasi pembuatan batu-bata kok keuntungannya minta bagian 50%, misalnya).

Adalah fakta bahwa Freeport sudah menunaikan kewajiban pajaknya sesuai dengan kesepakatan Kontrak Karya yang pernah ditandatangani (yang kemudian pernah juga direvisi). Rasanya, saya tahu persis bahwa tidak ada satupun policy terselubung yang diterapkan Freeport untuk mengelabuhi sistem peraturan perpajakan yang sudah disepakati. Kalau kemudian ternyata dipandang bahwa sistem perpajakan yang berlaku itu merugikan Indonesia dan menguntungkan Freeport, maka tidak bijaksana kalau kemudian Freeport-nya yang disalahkan.

Adalah fakta bahwa ada kondisi lingkungan yang rusak sebagai akibat dari dampak operasi penambangan. Akan tetapi, hal yang perlu dipahami adalah bahwa semua sistem pengelolaan lingkungan itu sudah dikaji sangat mendalam dan memakan waktu bertahun-tahun, hingga akhirnya disetujui oleh pemerintah Indonesia yang notabene diwakili oleh para pakar di bidangnya, sebagai alternatif terbaik dalam pengelolaan dampak lingkungan pertambangan.

Adalah fakta bahwa keberadaan Freeport baik secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan lebih duapuluh ribu lapangan pekerjaan bagi orang Indonesia. Jika mereka yang bekerja di lingkungan Freeport itu rata-rata, katakanlah, menanggung seorang istri dan seorang anak, berarti ada puluhan ribu orang yang hidupnya bergantung dari perusahaan ini.

Adalah fakta bahwa sebagian posisi tertentu dalam manajemen Freeport masih dikuasai oleh tenaga kerja asing. Maka menjadi tugas pemerintah dan tanggung jawab pemilik perusahaanlah yang semestinya berbaku-atur bagaimana sebaiknya kebijakan ketenagakerjaan diterapkan. Taruhlah pemerintah mau menerapkan policy ketenagakerjaan yang ketat, tidak ada alasan bagi Freeport untuk mengelaknya. Tinggal pilihannya kemudian adalah : Pertama, sang pemerintah ini mau atau tidak…..? Kedua, tenaga kerja domestiknya siap atau tidak…..? Pilihan yang tidak sulit sebenarnya, asal kedua niat baik itu dapat dijembreng (digelar) dengan lugas dan tuntas, tanpa sluman-slumun-slamet…..

Adalah fakta bahwa yang namanya pertambangan itu ya pasti menggali tanah atau batu karena barang tambangnya berada di dalamnya. Karena mineral bijih tembaga, emas dan perak itu ada nyisip dalam bongkah batuan, maka untuk mengambilnya tentu berarti harus mengambil bongkah batuannya. Sama persis seperti kalau mau mengambil pasir ya harus menggali timbunan pasir. Untuk mengambil batatas (ubi) ya harus menggali akar tanaman batatas (ubi). Untuk mengambil sagu ya harus menebang dan menguliti pohon sagu. Untuk memperoleh batu bata ya harus mengambil endapan tanah lempung di bantaran sungai atau sawah. Yang menjadi masalah adalah kalau mau mengambil ubi tapi mencuri tanaman ubi orang lain, atau mengacak-acak lahan milik orang lain, atau tanah hasil galiannya ditimbun begitu saja di kebun orang lain. Atau penggalian pasir dan pembuatan batu bata itu dilakukan di halaman rumah orang lain tanpa ijin.

Pertanyaannya menjadi : Kalau kemudian dinilai ada yang salah dengan Freeport, apakah semua kerja keras itu akan di-stop atau diberhentikan sekarang juga? Dengan tanpa memperhitungkan rentetan akibat dan dampaknya, baik secara teknis, politis, ekonomis, sosial dan aneka sudut pandang lainnya?. Untuk menjawab pertanyaan ini biarlah menjadi porsi para pakar di bidangnya dan para pengambil keputusan. Lebih baik saya tinggal tidur saja, apalagi barusan sakit gigi yang minta ampun sakitnya……

Namun kalau saya ditanya bisik-bisik (jangan keras-keras lho ya…..), saya akan mengatakan bahwa hanya orang yang lagi esmosi (emosi, maksudnya) dan berpikiran cupet (dangkal) saja yang akan menjawab : “Ya”.

Tapi penambangan Freeport di Papua itu sangat merugikan?. Nah, kalau masalah itu yang dianggap biang keladinya, ya mari dikumpulkan saja semua pihak yang terkait. Pemilik Freeport, pemerintah dan masyarakat yang berkepentingan untuk duduk bersama dengan kepala dan hati dingin, bagaimana merubah yang merugikan itu menjadi menguntungkan semua pihak. Semua kerumitan kemelut itu terjadi sebagai akibat dari adanya sistem peraturan dan pengaturan yang kurang pas yang selama ini telah diberlakukan dan disepakati. Tidak perlu ngeyel atau ngotot-ngototan. Hukum alam mengatakan, bahwa sesuatu itu terjadi pasti karena ada sesuatu yang lain yang tidak pas atau tidak seimbang.

Namun kabar baiknya adalah, selama sesuatu itu masih bernama peraturan (bukan hukum Tuhan), maka pasti merupakan hasil karya manusia. Ya tinggal mengumpulkan manusianya yang membuat peraturan dan kesepakatan itu, untuk kemudian bersepakat merubahnya. Pihak pemerintah memang menjadi juru kunci, maksudnya pihak yang memegang kunci untuk mengurai kemelut di depan gawangnya Freeport. Saya kok sangat yakin, meski sesungguhnya tidak mudah, bahwa banyak cara bisa dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki dan membenahi kekurangan, kekeliruan, ketidakadilan, kerugian, kegagalan, dan hal-hal lainnya, selain pokoknya di-stop saja.

( 5 )

Di sisi lain, kalau kemudian dari fakta-fakta di atas panggung dan di depan layar seperti yang saya kemukakan di atas, ternyata dijumpai ada penari latar yang numpang jingkrak-jingkrak lalu dapat honor gede, ya cancang (ikat) saja kakinya. Dan jika diketemukan indikasi adanya tindak penyelewengan, korupsi, kolusi, nepotisme, kejahatan, dan segala macam hal-hal buruk lainnya, ya bongkarlah dan berantaslah itu. Tangkap penjahatnya, adili dan kenakan sangsi hukuman yang setimpal. Tidak boleh ada kejahatan yang dilindungi atau ditutup-tutupi. Siapapun dia, tidak pandang bulu, kulit, rambut, warna atau baunya dari pihak manapun. Begitu saja kok freeport…..

Jangan karena ada fakta-fakta yang buruk atau tidak menguntungkan, lalu fakta-fakta yang baik dan menguntungkan malah dikorbankan. Sementara untuk meraih fakta-fakta yang baik dan menguntungkan itu diperlukan usaha dan waktu yang tidak sedikit dan tidak mudah.

Hanya masalahnya, ya jangan hanya pintar membongkar, setelah itu dibiarkan saja tidak dipasang lagi. Inilah yang membuat saya nglangut…… Kita cenderung suka mbongkar-mbongkar, mengacak-acak, mengobrak-abrik, setelah itu tidak bisa memperbaiki, menata ulang dan membenahinya menjadi lebih baik.

(Semalam saya bermimpi menjadi pemilik Freeport, lalu saya berpidato di depan khalayak. Begini pidato saya : “Wahai segenap karyawan Freeport, masyarakat Papua, pejabat pemerintah Indonesia, yang sangat saya cintai dan hormati. Sebagai seorang pengusaha tulen, maka saya akan mencari dan menggarap setiap peluang guna meraih keuntungan sebuuuanyak-buuuanyaknya, dengan tetap menjunjung tinggi peraturan dan kesepakatan yang pernah saya tandatangani……..”. Ketika kemudian saya terbangun, saya celatu : “Apa ya saya salah kalau punya pikiran seperti itu…..?”)

Madurejo, Sleman — 13 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Maaf, Saya Ke Papua Tanpa Pamit

3 April 2009
Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Tembagapura, Papua (Foto : Widodo Margotomo)

Mohon maaf, blog ini saya tinggalkan selama tiga minggu karena pergi ke Papua tanpa pamit. Semula saya pikir saya akan mudah mengakses internet di sana. Tapi rupanya saya mengalami beberapa kendala non-teknis yang menyebabkan saya tidak bisa meng-update Catatan Perjalanan saya, praktis selama sebulan.

Tepatnya, dari tanggal 10-31 Maret 2009 saya jalan-jalan ke Papua, tepatnya ke kota Tembagapura dan Timika. Perjalanan ini terlaksana atas undangan teman-teman saya yang bekerja di PT Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang tembaga dan emas. Ini mirip-mirip perjalanan nosalgia, karena saya pernah bekerja di sana selama periode tahun 1995 hingga 2004.

Selama berada di Tembagapura dan sekitarnya yang lokasinya berada naik-turun di ketinggian antara 2000 – 2400 m di atas permukaan laut, saya mengalami keterbatasan mengakses internet. Fasilitas internet milik perusahaan sangat terbatas. Sementara fasilitas internet yang selama ini saya gunakan, yaitu IM2 dan Smart ternyata tidak dapat saya gunakan karena rupanya hanya sinyal Telkomsel saja yang “berani” naik gunung. Walhasil, saya hanya bisa membuat catatan-catatan kecil yang Insya Allah akan saya posting menyusul.

Itu alasan pertama. Alasan keduanya, meskipun saya ke sana dalam rangka jalan-jalan, tapi acara jalan-jalan itu terlaksana akibat dari sebuah komitmen. Maka saya berkewajiban menjaga amanat penderitaan komitmen. Sekali sebuah komitmen dibuat, maka semestinya siap dengan segala konsekuensi yang terjadi, termasuk kesibukan yang seringkali baru selesai hingga malam. Komitmen yang terbingkai dalam acara jalan-jalan dibayarin.

Masih ada alasan ketiga, yaitu bahwa selama di sana saya sering diundang oleh teman-teman lama saya untuk sekedar diajak berbagi tentang pengalaman saya bagaimana mengisi waktu setelah tidak lagi menjadi pegawai alias pensiun alias pengangguran. Teman-teman saya ingin tahu bagaimana saya memulai dan merintis bisnis atau berwirausaha. Tentu saja acara ini hanya bisa dilakukan saat malam hari di sisa waktu yang ada.

Demikian, kini saya kembali ingin melanjutkan catatan-catatan dan dongengan apa saja untuk sekedar berbagi unek-unek, pengalaman, info, curhat, termasuk cerita-cerita yang tidak seberapa bermutu, sekedar sebagai bacaan yang (mudah-mudahan) menghibur kepada siapa saja yang menyukainya. Salam….    

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar

Perang Tuku

8 Januari 2009

Berikut ini adalah posting tulisan lama :

Kabar seru kembali datang dari kota Timika, di Papua bagian tengah sebelah selatan. Ada perang tuku, maksudnya perang suku (orang angsli Papua biasa melafal huruf ‘s’ dengan ‘t’, dan sebaliknya). Tepatnya keributan antar suku di daerah Kwamki Lama, yang kalau terjadinya di Jakarta biasa disebut tawuran. Akan tetapi karena, keseharian masyarakatnya memang berbusana sangat sederhana; juga mereka tidak biasa menggunakan clurit atau golok melainkan panah dan tombak; juga melibatkan kelompok sekampung (di Papua umumnya beda kampung sudah beda suku), maka kejadian tawuran antar kelompok bisa berubah kesan menjadi perang (antar) suku.

Meskipun judulnya perang suku, namun jangan heran kalau peserta perangnya ada yang pakai safety googgles (kacamata keselamatan), rubber booth (sepatu keselamatan), safety helmet (topi keselamatan), atau kalau cuaca agak mendung ada juga yang pakai rain coat (jas hujan) warna kuning. Darimana lagi kalau bukan “keluaran” Freeport. Maklum, sebagian matarakas (maksudnya, masyarakat) yang berperang adalah karyawan perusahaan tambang PT Freeport Indonesia.

Kalau sudah begini, para supervisor Freeport dibuat kelabakan, anak buahnya pada bolos kerja untuk ikut perang. Setelah perangnya usai, mereka masuk kerja dan melapor kemarin tidak kerja karena ikut perang. Bagi Freeport jadi serba salah, antara mau dianggap mangkir (dan oleh karena itu terkena sangsi dan potong gaji) atau ditolerir saja. Kalau dibiarkan, kejadian sejenis ini sering sekali dan selalu dimanfaatkan oleh mereka yang malas-malas kerja untuk absen, apapun sukunya. Akhirnya, mereka dianggap sebagai cuti tanpa bayar (secara peraturan tidak ada yang dilanggar oleh mereka, namun gajinya dipotong). Dengan kata lain, ketidak hadirannya “diijinkan”. Namun perlu diketahui bahwa “ijin perang” diberikan setelah perang terjadi, dan bukan sebelum perang.

Menangani soal ijin-mengijin ini memang gampang-gampang susah. Orang-orang asli Papua ini sangat lihai mencari alasan untuk tidak masuk kerja. Umumnya orang akan minta ijin kalau ada lelayu, atas saudara dekatnya yang meninggal, misalnya ayah, ibu, mertua, suami, istri, anak, dan kerabat dekat lainnya. Tapi itu saja ternyata tidak cukup bagi orang Papua, saudara jauh, pernah apanya-siapa, tetangga sekampung, bahkan babi piaraannya mati pun akan minta ijin tidak masuk kerja.

Ihwal perang juga aneh. Meskipun semangat kemarahan untuk membalas, melawan, memusuhi sedimikian memuncaknya, namun dijamin pada saat jam istirahat kedua belah pihak akan berhenti dan makan dulu. Demikian pula jika tiba waktunya untuk jeda minum (istilah sekarangnya coffee break), kedua belah pihak akan serentak berhenti dan beristirahat. Kemudian perang akan dimulai lagi setelah itu. Tidak ada gerilya, malam ya istirahat. Namun, jika korban jatuh tidak berimbang, amarah untuk membalas dendam terus membara.

Tentang sebab-musabab perang bisa macam-macam, rasanya tidak berbeda jauh dengan yang biasa menyebabkan tawuran. Lebih-lebih umumnya orang asli Papua hobi minum minuman keras sebagai hasil serapan budaya modern, maka tidak terlalu sulit untuk membuat pemicu. Belum lagi, situasi semacam ini rentan untuk dimanfaatkan oleh kalangan yang sudah agak berpikiran maju, yang dalam bahasa sekarang disebut provokator.

Yusuf Iskandar
(19/04/2004)

Sisi Lain Dari Insiden Timika

8 Januari 2009

Berikut ini adalah posting dari tulisan lama :

Banyak orang sudah tahu, setidak-tidaknya membaca atau mendengar berita tentang insiden di Timika, Papua. Tepatnya yang terjadi di lingkungan area kerja PT Freeport Indonesia pada hari Sabtu, 31 Agustus 2002 yll. Tiga orang tewas jadi korban penembak gelap. Gelap karena pada saat kejadian terhalang kabut tebal dan gelap karena hingga kini tidak ketahuan siapa mereka, apa motifnya dan lalu kemana perginya setelah menembak.

Bagi saya dan kita semua, kiranya hanya bisa turut merasa prihatin. Insiden memang sudah terjadi. Korban juga sudah terlanjur berjatuhan. Tinggal menyisakan PR (yang seringkali tidak pernah terjawab tuntas) bagi pemerintah dan aparat keamanan.

Melihat tragedi insiden Timika, lalu mencoba melongok ke layar lebih luas, yaitu Indonesia, terasa ada hal kecil yang mengganjal di sisi kemanusiaan kita. Sampai-sampai seorang rekan di Tembagapura menulis : “Bangsa lain, dalam momen paling sedihpun masih memikirkan kepentingan bersama. Bangsa kita, any moment, tilep uang rakyat !”. Apa pasalnya sehingga rekan saya ini demikian geram?

Rupanya rekan saya itu membaca berita di media. Isinya : Lembaga Swadaya Masyarakat di Sulawesi Utara meminta Presiden Megawati Soekarnoputri untuk tidak mengizinkan pimpinan dan seluruh anggota DPRD Sulut tour keliling Eropa dengan menggunakan dana APBD 2002. “Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi, tanpa mau melihat kehidupan rakyat Sulut sedang terhimpit kemiskinan dan kemelaratan akibat krisis ekonomi”, demikian kata Ketua Forum Advokasi Pemantau Parlemen (Foraper) Minahasa, Sulut. Sungguh ini ide dan rencana yang luar biasa. Dana APBD yang akan digunakan untuk tour ke Eropa tentu tidak sedikit jumlahnya.

Pada saat yang bersamaan, kita dengar tragedi gelombang pengungsi TKI di Nunukan, Kaltim. Betapa banyak dari mereka, orang dewasa maupun anak-anak, yang akhirnya meninggal akibat berbagai masalah kesehatan yang tak tertangani dengan baik. Betapa pemerintah (baca : saudara-saudara kita yang kebetulan sedang berkuasa) terkesan begitu lamban dan kurang cekatan menghadapi masalah kemanusiaan yang memerlukan penanganan cepat semacam ini.

Sementara di Tembagapura, beberapa hari setelah insiden Timika, ada pengumuman kepada masyarakat. Isinya : bagi masyarakat yang bersimpati kepada dua orang korban asal Amerika dan ingin menyampaikan sumbangan uang duka, maka diminta agar uang tersebut disampaikan kepada lembaga sosial di Amerika yang telah ditunjuk oleh masing-masing ahli waris, lengkap beserta alamatnya. Dalam kedukaan yang mendalam akibat tragedi penembakan, mereka masih ingin menyisihkan sebagian hatinya untuk sesamanya.

Lalu, dimana sebagian hati kita saat bencana kemanusiaan sedang melanda saudara-saudara kita lainnya, di belahan Indonesia lainnya? Mudah-mudahan rangkaian fragmen lelakon ini menjadi cermin kecil yang layak untuk dilongak-longok, apakah tampak di wajah kita bahwa kita masih punya sedikit hati untuk perduli kepada sesama.

Tembagapura, 6 September 2002
Yusuf Iskandar

Lafayette : Gumbo, Crawfish dan Alligator

12 November 2008

Sekedar tambahan informasi tentang makanan khas daerah Lafayette dan Louisiana selatan umumnya :

gumbo3bg_122499_rGumbo : adalah masakan khas masyarakat Cajun yang tinggal di daerah Lafayette dan sekitarnya, atau umumnya kawasan Louisiana bagian selatan. Orang Louisiana bilang, ini sayur sup tapi merupakan campuran ada sayurnya, ada daging atau seafood-nya, ada tepungnya, ada pedas-pedasnya, sehingga menjadi kental dan nglentrek-nglentrek. Lidah Indonesia akan bilang enak kalau sedikit, kalau banyak jadi nuuuek….

crayfish
Crawfish : adalah jenis seafood yang banyak dijumpai di daerah Louisiana bagian selatan. Sebenarnya juga ada di daerah lain, tetapi Louisiana adalah penghasil terbesarnya baik dari hasil budidaya maupun yang liar di rawa-rawa. Binatang laut
ini berbentuk seperti udang tetapi di kepalanya mempunyai capit seperti kepiting atau rajungan atau karakah. Bagi yang suka seafood, pasti akan menyukainya. Rasanya ya seperti campuran antara udang dan kepiting. Bagi yang belum pernah mencicipinya, bisa dicoba sendiri di rumah : makan udang dan kepiting bersama-sama ….(sebaiknya dimasak dulu, agar tidak terjadi pertempuran di dalam perut).

800px-two_american_alligators_r

Selain itu ada alligator : adalah sejenis buaya yang umum dijadikan bahan makanan dan banyak dijual di restoran. Hewan ini banyak dijumpai di rawa-rawa Amerika sebelah selatan. Selain Louisiana, juga di Texas hingga ke ujung timur Florida. Bentuk binatang ini sepintas sama persis seperti buaya (crocodile). Sama-sama menakutkan. Bedanya : buaya umumnya bisa tumbuh lebih besar dan lebih agresif (apalagi yang jenis buaya darat). Sedangkan alligator relatif tidak sebesar buaya dan (katanya) agak kurang agresif. Meskipun demikian, kalau Anda ketemu binatang sejenis ini di jalan, lebih baik tidak usah mendeskripsi ini buaya atau alligator. Cepat-cepat saja kabur….

Musik tradisonalnya disebut zydeco, semacam jenis musik campuran antara irama jazz, dixie dan country, dengan instrumen terompet (bukan saxofon) dan akordion mendominasi.

zydeco_players

Adalah Pak Suseno (sering dijuluki lurahnya orang Indonesia di Lafayette), beliau orang Malang yang sudah malang-melintang di sektor non-formal di Louisiana sejak lebih 20 tahun yll. Beliau pernah bekerja di Tembagapura sewaktu tambang Freeport masih tahap konstruksi. Lalu kecantol dengan cewek bule yang kebetulan anak seorang expatriate yang juga bekerja di Freeport. Akhirnya menikah dan pindah ke Amerika hingga kini. Pak Seno ini sesekali hadir dalam pertemuan perhimpunan masyarakat Indonesia-Amerika, New Orleans.

Adalah Ibu Erlie Boerhan yang pernah tampil mengisi acara hiburan dalam rangka perayaan HUT kemerdekaan RI tahun 2000 yll di New Orleans. Waktu itu masyarakat Indonesia-Amerika mengadakan perayaan 17-an dan beliau bersama kelompok tarinya menyajikan tari Bali.

Silahkan bernostalgia, bagi mereka yang pernah tinggal di Lafayette atau di daerah sekitar-sekitar Louisiana.

Salam,

New Orleans, 7 Maret 2001
Yusuf iskandar

Kandang Itu Kini Berubah Jadi Cantik

29 Juli 2008

(Terminal Baru Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua)

Dalam perjalanan dari Jayapura menuju Jakarta hari Rabu, 23 Juli 2008 yang lalu, burung Garuda yang saya tumpangi transit di Timika dan Denpasar. Saat transit di bandara Timika selama 30 menit, pramugari mengumumkan bahwa penumpang diberi pilihan untuk tetap menunggu di pesawat atau boleh juga kalau mau turun ke ruang tunggu.

Mulanya saya agak ragu hendak turun. Sebab segera terlintas di benak saya kondisi ruang tunggu di terminal keberangkatan bandara Timika yang oleh sebagian teman yang pernah transit di sana diolok-olok seperti kandang (terjemahannya, mana ada kandang yang menyenangkan….). Dan memang seperti itulah kesan dalam ingatan saya sejak terakhir saya ada di sana sekitar tiga setengah tahun yang lalu.

Namun seperti kebiasaan saya, selalu berharap siapa tahu ada yang berbeda atau ada pengalaman baru yang barangkali dapat mengungkit ide atau inspirasi. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut turun dari pesawat menuju ke terminal ruang tunggu keberangkatan.   

Sebelum memasuki bangunan terminal, mulailah ada yang saya rasakan agak beda, kok saya disuruh masuk ke ruang kedatangan. Padahal seingat saya terminal keberangkatan termasuk bagi penumpang transit berada di bangunan terpisah sekitar 250 meter dari terminal kedatangan. Dalam keraguan lalu saya tanyakan kepada mbak security alias satpam perempuan bandara : “Untuk yang transit dimana?”. Dijawabnya : “Masuk saja, pak”.

Begitu masuk ruang kedatangan, barulah saya lihat tampilan ruang kedatangan yang kini terlihat bagus, bersih, tertata rapi, dan pokoknya jauh berbeda dengan ruang kedatangan bandara Timika yang saya kenal sebelum ini. Penumpang transit kemudian diarahkan ke pintu keluar lalu masuk lagi ke ruang tunggu keberangkatan di sebelahnya.

Saat di luar depan bandara inilah saya baru tahu bahwa bandara ini sudah direnovasi. Semakin surprise ketika tiba di dalam ruang tunggu. Semua tampak baru, lantai dan dindingnya terlihat bersih, bangku-bangku tertata rapi, tata ruang dan dekorasinya terkesan indah, suasananya sejuk ber-AC, berhiaskan aneka informasi tentang kegiatan tambang PT Freeport Indonesia (mudah ditebak, pasti perusahaan tambang inilah yang mbangun) dengan display yang apik dan menarik.

Lalu saya masuk ke toiletnya, tercium bau harum (dalam arti sebenarnya) dan terlihat bersih bak toilet hotel berbintang. Saya pun dibuat kagum. Bukan kagum kepada bandara barunya, melainkan kagum kepada diri sendiri kenapa baru sekarang saya mengalaminya…. (bukan sepuluh tahun atau sebelum sepuluh tahun yang lalu, misalnya).

Sangking penasarannya, saya pun bertanya bodoh kepada seorang petugas yang ada disana : “Bandaranya baru, ya pak?”. Dengan bangga bapak petugas itu pun menjawab : “Iya pak, baru diresmikan Menteri Perhubungan beberapa hari yang lalu”.

Ooo…, pantesan….. Masih bau SIRSAT….. SIRSAT yang saya maksud bukanlah nama buah melainkan kependekan dari pasir sisa tambang, padanan bahasa Indonesia untuk pasir tailing yang berupa pasir atau material halus yang dihasilkan dari kegiatan penambangan.

Terminal baru bandara Mozes Kilangin, Timika (ibukota kabupaten Mimika), memang baru saja diresmikan pada tanggal 18 Juli 2008 oleh Menteri Perhubungan. Hal yang membanggakan, bahwa rupanya konstruksi bangunan bandara itu terbuat dari hasil pemanfaatan pasir sisa tambang (SIRSAT) yang memang jumlahnya melimpah ruah nyaris tak terhingga.   

Kalau boleh disebut bahwa prestasi pemanfaatan limbah SIRSAT ini sebagai sebuah kesuksesan, maka semestinya pemerintah dan masyarakat kabupaten Mimika pada umumnya akan bisa memanfaatkannya bagi kemudahan kegiatan pembangunan mereka, baik untuk keperluan pemerintah, kemasyarakatan maupun individual. Lha wong jumlahnya enggak bakal habis dipakai hingga tujuh turunan….. Tentu saja mesti ada aturan main yang benar.

***

Bandara Timika pertama kali dibangun tahun 1970 sebagai bandara perintis, terutama untuk menunjang operasi penambangan PT Freeport Indonesia. Lalu pada awal tahun 1990-an bandara ini diperbesar, diperlebar dan diperpanjang, hingga kini memiliki panjang landas pacu 2930 m. Tahun 2002 secara resmi nama bandara Mozes Kilangin mulai digunakan.   

Keberadaan sebuah bandara bagi sebagian besar kota kabupaten di kawasan Papua adalah sebuah pintu gerbang bagi kemudahan transportasi ke dan dari wilayah lain, apalagi lintas pulau dan negara. Ketertinggalan dan keterbatasan sarana transportasi darat antar wilayah di Papua ini agaknya mendesak untuk diatasi secepatnya, kalau tidak ingin begita-begitu saja perkembangan ekonominya. Perlu orang-orang yang berwawasan ke depan untuk membangunkan raksasa yang seprana-seprene dibiarkan tidur tidak bangun-bangun.  

Kini masyarakat kabupaten Mimika dan sekitarnya boleh bangga memiliki terminal baru bandara berkelas internasional dengan segala kelengkapan fasilitasnya yang jauh lebih baik dibanding sebelum tanggal 18 Juli yang lalu. Begitu pun bu Maria Kilangin boleh tersenyum bangga nama almarhum suaminya diabadikan sebagai nama bandara Timika yang kini tampil lebih cantik, nyaman dan “layak”.

(Sebenarnya dalam hati saya kepingin bertanya : kira-kira sampai kapankah kebersihan, kecantikan dan kerapiannya itu akan mampu bertahan? Tapi, enggak jadilah…. Nanti dikira berprasangka buruk dan sinis…..).

Singkat kata, berada di terminal bandara Mozes Kilangin kini…., benar-benar serasa sedang berada di terminal bandara……. (Lho, memang sebelumnya tidak? Ya serasa berada di dalam kandang, itu tadi……).

Yogyakarta, 27 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Matoa (1)

21 Maret 2008

Matoa adalah nama buah. Bentuknya lonjong, bulat agak memanjang, seperti buah kelengkeng, seukuran telur burung puyuh besar dan ada juga yang lebih besar lagi sedikit. Warna kulit buahnya, kalau masih muda berwarna kuning kehijauan, ada juga yang menyebut hijau-kekuningan dan kalau sudah matang berubah menjadi coklat kemerahan.

Rasa buahnya “ramai”, dan susah didefinisikan. Coba saja tanya kepada yang pernah memakannya, maka ada yang bilang rasanya masin, seperti antara rasa buah leci dan buah rambutan. Ada juga yang merasakannya sangat manis seperti buah kelengkeng. Ada yang bilang manis legit. Ada lagi yang merasakan aromanya seperti antara buah kelengkeng dan durian. Pendeknya, buah matoa berasa enak, kata mereka yang suka.

Selama ini orang mengenal buah matoa berasal dari Papua, padahal sebenarnya pohon matoa tumbuh juga di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa pada ketinggian hingga sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Selain di Indonesia pohon matoa juga tumbuh di Malaysia, tentunya juga di Papua New Guinea (belahan timurnya Papua), serta di daerah tropis Australia.

Di Papua sendiri pohon matoa sebenarnya tumbuh secara liar di hutan-hutan. Ini adalah sejenis tumbuhan rambutan, atau dalam ilmu biologi disebut berasal dari keluarga rambutan-rambutanan (Sapindaceae). Sedangkan jenisnya dalam bahasa latin disebut pometia pinnata.

Di Papua New Guinea, buah matoa dikenal dengan sebutan taun. Sedangkan di daerah-daerah lainnya, sebutannya juga bermacam-macam, antara lain : ganggo, jagir, jampania, kasai, kase, kungkil, lamusi, lanteneng, lengsar, mutoa, pakam, sapen, tawan, tawang dan wusel. Artinya, buah ini sebenarnya juga dijumpai di daerah-daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, meskipun orang lebih mengenai buah matoa ini berasal dari Papua, namun jangan heran kalau di sebuah shopping center di Yogya Anda akan menjumpai buah matoa dari Temanggung.

Buah matoa yang dijumpai di Jawa atau tempat-tempat lain, pada umumnya tidak sebagai hasil budidaya, melainkan sekedar hasil sampingan dari tanaman hias yang tumbuh di halaman-halaman yang cukup luas, atau bahkan hasil dari pohon matoa yang tumbuh liar. Di Papua, pohon matoa yang semula tumbuh liar kini menjadi semakin naik gengsinya. Apalagi semenjak presiden Megawati mencanangkan penanaman berbagai jenis pohon asli Indonesia seperti cempaka Aceh, meranti Kalimantan dan matoa Papua sebagai pohon lestari, di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta, pada awal Maret yll.

Dalam rangka program penghijauan nasional itulah, maka Menteri Negara Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim dan Gubernur Papua JP Solossa, pada Maret yll. mengawali penanaman 1000 pohon matoa di Kabupaten Mimika.

***

Hari Sabtu, 7 Juni 2003 akhir pekan lalu, Departemen Lingkungan (Environmental) PT Freeport Indonesia melanjutkan gerakan penanaman 1000 pohon matoa. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk kegiatan rekreasi yang melibatkan segenap jajaran management, karyawan dan keluarganya, diselingi dengan acara-acara lomba dan hiburan bagi anak-anak. Maka, 1000 pohon matoa pun segera selesai ditanam beramai-ramai. Penanaman dilakukan di lahan bekas penimbunan tailing (pasir buangan) sisa hasil pengolahan tembaga, di tepi selatan sungai Aijkwa, atau di sisi utara kota Timika.

Dari pohon matoa, selain diambil buahnya, batang kayunya juga sangat bermanfaat dan bernilai ekonomis. Tinggi pohonnya dapat mencapai 40-50 meter dengan ukuran diameter batangnya dapat mencapai 1 meter hingga 1.8 meter. Batang kayu pohon matoa termasuk keras tetapi mudah dikerjakan. Banyak dimanfaatkan sebagai papan, bahan lantai, bahan bangunan, perabot rumah tangga, dsb. yang ternyata tampilan kayunya juga cukup indah.

Maka, dapat dimaklumi kalau umumnya masyarakat Papua akan dengan bangga menyebut buah matoa sebagai buah khasnya propinsi Papua. Pohon ini berbunga sepanjang tahun, maka pohon matoa pun dapat dikatakan berbuah hampir sepanjang waktu. Oleh karena itu, buah matoa relatif mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional di Papua.

(Namun sebaiknya hati-hati : Kalau ada yang menawarkan matoa yang ukurannya sangat besar dan menjadi makanan kesukaan butho (raksasa), maka itu pasti matoahari….. ..)

Tembagapura, 9 Juni 2003
Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (5)

2 Maret 2008

Brisbane, 2 Nopember 2000 – jam 7:00 (4:00 WIB)

Sebelum memasuki ruang sidang kemarin, saya melihat dari dua sesi yang akan berjalan paralel banyak topik-topik menarik berada di kelompok sesi caving methods. Penilaian ini memang subyektif, karena kebetulan pekerjaan saya banyak berkaitan dengan metode penambangan ini. Karena itu saya memutuskan dari pada mesti berpindah-pindah ruangan, lebih baik mengikuti kelompok ini saja terus sampai selesai sorenya.

Makalah pertama tentang tambang tembaga Palabora di Afrika Selatan, disambung dengan tambang intan Premier juga di Afrika Selatan. Lalu tentang tambang tembaga El Teniente di Chili dan tambang tembaga DOZ (Deep Ore Zone) PT Freeport Indonsia di Papua. Saya tertarik mengikuti pembahasan ini karena selain membahas tentang metode caving juga karena akan membahas beberapa kajian khusus tentang desain, permasalahan yang dihadapi, pemikiran-pemikiran baru serta visi ke depan dari perencanaan tambangnya.

Banyak hal positif yang saya peroleh dari paparan mereka, terutama yang berkaitan dengan bagaimana melakukan operasi tambang bawah tanah secara effektif dan effisien. Istilah effektif dan effisien memang berkesan umum dan kabur kalau tidak disertai dengan contoh kasus dan pencapaiannya. Tentu tidak cukup waktu untuk mengungkapkan semuanya di catatan ini. Tetapi kira-kira, sepintas saya dapat menggambarkan istilah itu mengacu kepada operasi tambang yang tidak boros uang, tidak boros tenaga kerja, aman, memberi hasil produksi tinggi, memberi nilai tambah bagi ketrampilan dan keahlian karyawannya, dsb.

Sesi berikutnya diisi dengan paparan upaya perbaikan rancangan tambang, pendekatan dan pengembangan baru dari metode caving yang ada yang diterapkan antara lain di tambang nikel Trojan di Zimbabwe, tambang nikel Perseverance di Australi dan tambang bijih besi Kiruna di Swedia dan tambang bijih molibdenum Henderson di USA, tambang tembaga dan emas Northparkes di Australia dan tambang tembaga Kennecott di USA. Selain itu juga disajikan beberapa hasil studi tentang kestabilan batuan, aliran bijih dengan gravitasi, dan draw control.

Belajar dari keberhasilan perusahaan-perusahaan tambang itu, terkadang terlintas keinginan (lebih tepat saya katakan “impian”) untuk sekali waktu berkunjung ke sana guna melihat dan belajar langsung bagaimana mereka menerapkannya di lapangan.

***

Saat istirahat makan siang ada kejadian yang membuat surprise. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama saya, ternyata dia adalah mantan General Manager saya sewaktu saya bekerja di tambang emas bawah tanah PT Lusang Mining di Bengkulu. Namanya Donald Hunter, waktu itu biasa disapa dengan Pak Don. Sejak Pak Don yang asal Afrika Selatan ini meninggalkan Bengkulu sekitar tahun 1992, saya tidak tahu lagi kemana beliau bekerja. Rupanya setelah keliling-keliling ke Australia, Suriname dan Chili, akhirnya kini mendarat di kota Brisbane.

Benar kata sementara orang : “dunia tambang itu sempit”. Kemanapun perginya, selalu saja ada kesempatan untuk ketemu. Ya melalui ajang seminar, konferensi, pertemuan atau kunjungan-kunjungan tambang. Seperti halnya dengan rekan-rekan yang bekerja sebagai inspektur tambang di Direktorat Jendral Pertambangan Umum. Sekalipun kita berpindah-pindah tempat kerja, ya di sana pula ketemu lagi dan ketemu lagi.

***

Hingga hari ketiga kemarin, nampaknya memang banyak topik-topik menarik yang dibahas. Buktinya, saya benar-benar dapat mengikuti dan menikmati konferensi ini dengan tanpa mengantuk. Biasanya kalau sehabis makan siang adalah saat-saat kritis untuk mempertahankan mata tetap membuka, apalagi saya baru melakukan perjalanan jauh sekitar 20 jam yang membuat siklus hidup berubah. Saat-saat kritis ini biasanya sering saya alami setiap kali mengikuti acara seminar, konferensi, kursus atau sejenisnya. Dulu sewaktu kuliah kalau saya ikut Pertemuan Ilmiah Tahunan Geofisika atau pertemuan sejenis itu, saat-saat kritis ini selalu saya atasi dengan mengajak teman ngobrol di luar ruangan sambil merokok atau ngemil.

Semula saya ada niat untuk sore hari kemarin mau meninggalkan arena konferensi dan jalan-jalan di Brisbane. Tapi kemudian berubah pikiran, karena merasa sayang untuk meninggalkan beberapa topik menarik lainnya yang dipresentasikan siang hingga sore harinya. Terpaksa keinginan untuk mencuri waktu buat jalan-jalan sore saya batalkan.

Malam harinya saya bersama rekan-rekan yang datang dari Tembagapura dijamu oleh seorang kolega makan malam di sebuah restoran seafood di Brisbane. Wah, cocok sekali. Hingga keenakan dan ngantuk. Kali ini benar-benar terus tidur, dan tidak mencoba-coba menghidupkan laptop.

***

Hari keempat ini akan dilanjutkan dengan acara workshop dengan pokok bahasan tentang metode penambangan caving. Karena forumnya workshop, tentu akan lebih banyak kesempatan untuk berdiskusi dibandingkan forum konferensi sejak hari pertama hingga ketiga yang kesempatan diskusinya sangat terbatas. Kelihatannya akan ada diskusi menarik kalau melihat topik-topik kertas kerja yang akan dipresentasikan. Mudah-mudahan saya masih dapat melewati saat-saat kritis di hari keempat atau hari terakhir konferensi ini.

Yusuf Iskandar