Archive for Februari, 2011

Ketika PLN Mencandai Warga Kampungku

19 Februari 2011

Malam ini adalah malam ketiga berturut-turut PLN mencandai warga kampungku karena setiap menjelang jam 21 pasti ML (mati lampu) sampai beberapa jam. Ndeso tenan… (sambil agak jengkel). Untung langit agak cerah, sehingga bulan setengah purnama menerangi aura luar rumah. Sedang aura di dalam rumah ya tetap saja gulap-gelita…

Yogyakarta, 11 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Dua Perempuan Cantik Dan “Boss” Saya

19 Februari 2011

(1)

Dua pemuda tanggung bertatto nyaris memplekotho (memperdaya) toko Bintaran Mart. Kebetulan “boss” saya sedang jaga di toko sendirian dan spontan beliau langsung beraksi menunjukkan “jati dirinya”.

Dua pemuda itu diancamnya: “Kalau kamu tidak keluar sekarang dan berani kembali lagi, tak hajar kamu…!”. Lalu dua pemuda itu pun munduk-munduk seperti Tom dipenthelengi (dipelototi) Jerry, lalu kabur dengan sepeda motornya…

(2)

Dua pemuda itu ternyata perempuan cantik…haha…. Yang satu tampil manis berkerudung, yang satu tampil seksi ada tatto di pahanya.

Kubilang kepada “boss” saya: “Kok enggak manggil aku?”.
“Memang kenapa?”, tanya balik “boss” saya.
Dan jawabku: “Aku cuma pingin lihat tattonya gambar apa…”.

Yogyakarta, 11 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Ngurus Warung Seperti Ngurus Negara

19 Februari 2011

Lebih lima tahun yll, ketika saya sedang mempersiapkan membuka usaha toko “Madurejo Swalayan” di Prambanan, Sleman, DIY, seorang teman berkomentar guyon: “Ngurus warung kecil di desa saja kok seperti memikir negara”.

Jawabku: “Lebih baik ngurus warung seperti ngurus negara daripada ngurus negara seperti ngurus warung…”.

Note:
Lihat tulisan: Ketika Seorang Geolog Menemukan Lokasi Singkapan

Yogyakarta, 11 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Pohon Apel Bulu

19 Februari 2011

(1)

Dua hari kemarin saya mengisi waktu dengan memangkas pohon di halaman depan yang sudah sangat rimbun (lebih baik mengisi waktu dengan panjat-panjat dan bersih-bersih daripada nimpuk-nimpuk dan bakar-bakar).

Sekian banyak orang selalu tanya, itu pohon apa? Aku sendiri tidak yakin itu pohon apa, tapi menurut si pemberi bibit dulu, namanya pohon mertega atau apel bulu. Bukan tanaman langka, tapi langka orang menanamnya, makanya banyak orang tidak mengenal pohon itu.

(2)

Pohon di depan rumah itu belum pernah berbuah, walau terus berbunga. Batangnya getas (mudah patah), daunnya mudah dibakar walau belum kering, juga mudah rontok. Banyak semut-semut hitam berkomunitas di daunnya. Buahnya (katanya) menyerupai apel tapi lebih kecil dan berbulu halus. Saya juga belum pernah makan buahnya.

Bibitnya dulu dibawa dari hutan Pacitan (Jatim) saat baru tunas dari bijinya. Semoga cepat berbuah agar saya bisa cerita…

(Pertumbuhannya tergolong cepat. kalau saya amati lebih 1 meter dalam satu tahun)

Yogyakarta, 11 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Pembantu Baru

10 Februari 2011

Seorang ibu di Tembagapura Papua heran, kemarin sudah memberitahu pembantu yang baru datang dari Jawa itu untuk menaruh udang yang baru dibelinya ke freezer di kulkas atas. Tapi kok sekarang udangnya bau busuk nggak karuan.

Ditanyalah sang pembantu baru itu: “Dimana kamu simpan udangnya kemarin?”.
“Seperti pesan ibu, di atas kulkas…”, jawab sang pembantu.
Huuuhhhhh…, si ibu gemezzz…

(Kisah lama yang tiba-tiba teringat).

Yogyakarta, 9 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Ketika Tuhan “Memaksa”

10 Februari 2011

Kesialan, ketidak-beruntungan, keburukan dan bencana, hampir setiap saat kita jumpai. Tapi tidak setiap saat kita dapat melihat kebaikan yang ada di baliknya.

Berikut ini kumpulan cersta (cerita status) saya di Facebook, sekedar ingin berbagi…

(1)

Akhirnya benar-benar terjadi. Mobilku tidak bisa keluar karena terhalang bangunan di pojok jalan kampung. Orang lain yang bersengketa, mobilku yang jadi korban (kalau pemiliknya baik-baik saja). Yo wiss, bensinnya utuh…

Sudah 3 hari saya pergi ke toko Bintaran naik sepeda (uuuh.., sudah lama tidak bersepeda). Siang kemarin ke toko Madurejo menempuh jarak lebih 30 km pp. bersepeda motor boncengan dengan “boss” (hmmm.., untuk pertama kali kami lakukan ini sejak toko itu berdiri lebih lima tahun yll).

(Repotnya kalau membangun rumah di tengah persawahan ketika belum tahu kawasan itu kelak akan menjadi seperti apa. Tapi karena niat awal membangunnya adalah untuk tujuan ibadah, ya biar saja Tuhan yang mengurus jalan keluarnya…, maksudnya benar-benar jalan agar mobilku bisa keluar…)

(2)

Tertutupnya akses jalan mobil di rumah adalah satu hal. Bersepeda ke toko adalah hal lain. Tapi berboncengan sepeda motor jarak jauh adalah cara Tuhan “memaksa” saya untuk lebih kompak bekerja berdua “boss”.

Hmmm… Sebab filosofinya adalah, tidak ada hal yang kebetulan melainkan ada dalam perencanaan-Nya. Maka bersepeda motor ke Madurejo untuk yang pertama kali itu pun sesuai rencana-Nya.

(3)

Berboncengan sepeda motor, dengan kecepatan 30-40 km/jam, membelah persawahan di wilayah kecamatan Berbah yang padinya mulai menguning dan sebagian mulai panen… Uuugh, serasa seperti sedang yang-yangan (pacaran).

Dengan “menutup” akses mobil di kampung, Tuhan sedang “memaksa” memberi kesempatan kami untuk melakukan “revitalisasi”. Kami pun bisa bersepeda motor ke Madurejo dengan santai sambil cengengesan… Untung tidak kehujanan…

(Seorang teman “cemburu”… Saya katakan, bayangkan seperti melihat adegan kemesraan dalam film-film jadul, bukan dalam film-film jaman sekarang…)

(4)

Pulang dari Madurejo saat sore. Mampir ke warung sate kambing “Pak Tarno”, di Jl. Piyungan-Prambanan km 4,5. Seporsi sate yang terdiri dari enam tusuk dengan potongan kecil-kecil, empuk sekali dagingnya… Seporsi gule melengkapinya.

Jam terbang Pak Tarno yang lebih 22 tahun menekuni dunia persatean di Jogja, tidak diragukan lagi kompetensinya untuk menyajikan seporsi sate kambing…, hmmm..! Terbukti dua ekor kambing ludes dimakan pelanggannya tiap hari.

(Memang tidak ada hubungannya antara kemesraan dengan sate kambing. Sate kambing itu sepenuhnya hak prerogatif lidah hingga perut untuk mak nyus atau tidak , sedang kemesraan itu seperti angin segar yang berhembus di persawahan karena selalu diharapkan agar jangan cepat berlalu…)

Yogyakarta, 9 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

NB:
Catatan ini kupersembahkan kepada sahabat-sahabat saya yang kini usianya telah berada di ambang atau sekitar periode “over-sek” (lebih seket, lebih lima puluh tahun). Teriring salam hormat semoga selalu berbahagia bersama keluarga.

Bukan Agama Yang Kukenal

10 Februari 2011

Sepanjang pengalamanku ber-KTP Islam. Agama itu begitu indah. Ketika aku merasa sedih, bingung, tak berdaya, aku tidak malu menangis kepada Yang Telah Meridhoi agamaku. Bahkan ketika banyak pertanyaan tak terjawab, agama menyediakan jawabannya.

Maka jika kemudian ada orang yang ber-KTP sama denganku mencari jawaban sendiri atas pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, sungguh sepertinya itu bukan agama yang kukenal selama ini…

Yogyakarta, 8 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Obong-obong Dan Amuk Temanggung

10 Februari 2011

Salah satu kesukaanku di rumah kalau sedang tidak ada pekerjaan adalah obong-obong (bakar-bakar). Jika sudah telanjur asyik obong-obong seringkali begitu exciting sampai tidak sempat mikir yang lain-lain. Itu pun dengan senang hati kudahului dengan mengumpulkan sampah dan daun-daun kering yang berserakan.

Melihat berita TV tentang amuk di Temanggung hari ini. Jangan-jangan orang-orang yang bakar-bakar begitu asyiknya hingga tidak sempat mikir dengan akal sehat itu juga orang-orang yang tidak punya pekerjaan….

Yogyakarta, 8 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Blitzkrieg Yang Mematikan

10 Februari 2011

Dua hari ini saya mencermati kematian Adjie Massaid yang konon (pasti kabarnya) meninggal mendadak karena serangan jantung (musuh yang mulai saya waspadai). Tapi menilik riwayat gaya hidupnya, sepertinya pak Adjie ini “tidak layak” meninggal karena serangan jantung.

Perokok? Bukan. Olahraga? Teratur. Pola makan? Terkontrol. Pola hidup? Normal saja. Jadi kalau begitu, dimana lengahnya sehingga serangan jantung seolah blitzkrieg yang mematikan?

(blitzkrieg : serangan kilat)

Yogyakarta, 7 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Upah Dari “Boss”

10 Februari 2011

Sedang enak-enak ML (Melamun dan Leyehan) di rumah, Senin pagi, tiba-tiba ditilpun kalau komputer toko trouble. Segera berangkat menjalankan “tugas Negara”, naik sepeda ke toko Bintaran Mart. Kutak-katik-kutak…, sejam kemudian mission accomplished. Upah dari “boss” ditunaikan sebelum keringatku kering. Nyottooo…, panas dan pedas… Uuuhhhmmm….

Yogyakarta, 7 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Tentang Banjir Lahar Dan Anak Sekolah Desa Sirahan

10 Februari 2011

Berikut ini catatan dari mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, pada tanggal 4 Pebruari 2011 dalam rangka mencari informasi lebih lengkap tentang kemungkinan untuk memberi bantuan bagi sekolah TK dan SD yang hancur terkena hempasan banjir lahar dingin Merapi. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi semoga menjadi inspirasi…

***

(1)

Hari masih siang sebenarnya ketika saya dan teman-teman tiba di desa Sirahan, kecamatan Salam, Jum’at kemarin. Tapi mendung tampak menggelayut merata hingga ke utara ke arah Merapi. Siluet gunung Merapi sesekali membayang.

Saat kami tiba di Sirahan, beberapa orang yang rencananya mau ketemuan ada yang sudah meninggalkan desa. Mendung tebal dan merata adalah tanda-tanda awal untuk siaga penuh bagi masyarakat di sepanjang aliran kali Putih.

(2)

Beruntung kami masih sempat menjumpai dua orang guru TK. Bu Watik (guru TK Pertiwi) yang bangunan sekolahnya lenyap tanpa bekas dan bu Ida (Kepala TK Ibnu Hajjar) yang setengah bangunan sekolahnya hilang dan kini porak poranda. Keduanya terkena terjangan banjir lahar dingin dua minggu yll. Kedua orang guru TK itu pun sudah siap-siap hendak meninggalkan lokasi.

(3)

Bu Watik kini sibuk mengalihkan kegiatan belajar ke-25 anak didiknya ke sebuah rumah warga, tidak jauh dari lokasi TK Pertiwi semula, tapi posisinya lebih aman. Belajarnya sambil duduk lesehan di atas tikar seperti makan gudeg lesehan Malioboro. Alat peraganya seadanya sebab tak satu lembar buku dan sebatang kapur tulis pun selamat dari hempasan lahar dingin.

(4)

Bu Ida harus kami jemput ke tenda posko di tepi sungai agar bisa ngobrol di tempat yang lebih aman yaitu di selasar masjid Sirahan. Kegiatan belajar ke-119 anak didiknya di TK Ibnu Hajjar kini tersebar di tiga lokasi berjauhan ditangani sembilan orang bu gurunya. Ada yang dekat barak pengungsian, ada yang di desa utaranya dan ada yang di selatan desa yang antar keduanya aksesnya terputus. Ketiga lokasi belajar itu tentu saja dalam kondisi darurat.

(5)

Praktis dari kedua sekolah TK itu tak satu pun perlengkapan belajar yang masih dapat digunakan. Walau satu ruang kelas TK Ibnu Hajjar masih nampak utuh, tapi rupanya isi di dalamnya sudah diambil alih digantikan oleh timbunan pasir. Meja-kursinya entah terpindahkan kemana.

Maka bantuan berupa apapun akan sangat berarti bagi anak-anak, begitu kira-kira kata kedua guru itu. Sarana bermain, diharapkannya. Agar anak-anak tidak hanya berlarian tiap hari.

(6)

Datangnya banjir lahar dingin memang begitu cepat. Lebih-lebih tidak disangka bakal sedahsyat itu sehingga tidak melakukan tindakan penyelamatan apapun.

Menurut bu Ida yang pada malam kejadian itu sedang ada di masjid di dekat TK-nya: “Datangnya kurang dari 30 menit sejak dikabarkan dari lereng Merapi akan datang banjir lahar”. Sedangkan TK Ibnu Hajjar sebenarnya tidak berada dekat aliran sungai Putih, bahkan masih terpisah dengan jalan aspal Gulon-Ngluwar…

(7)

Pada malam terjadinya banjir lahar (16/01/11) sebenarnya bu Ida hendak tidur di sekolah TK-nya karena alasan mengungsi dari rumahnya yang ada di dekat kali Putih. Namun “sayang”, kunci sekolahnya tertinggal di rumahnya. Akhirnya pindah ke masjid dekat sekolah bersama beberapa orang lainnya.

Saat banjir itu benar-benar datang, dalam keremangan malam disaksikannya sendiri bagaimana banjir itu menerjang bangunan sekolahnya hingga roboh dan lenyap.

(8)

Bagi bu Ida dan beberapa orang warga desa Sirahan lainnya yang sempat menyaksikan dahsyatnya hempasan banjir lahar, kejadian malam itu sungguh sebuah mimpi buruk yang tak kan pernah terlupakan dalam hidupnya.

Belum lagi kalau ingat betapa semua orang menjadi panik ketika kemudian banjir itu juga mengepung dan nyambangi mereka hingga masuk ke dalam masjid. Sangat dipahami kalau kemudian ada salah seorang anak murid TK yang trauma setelah melihat kejadian itu.

(9)

Bincang-bincang dengan kedua guru TK menjelang sore di selasar masjid itu hendak dilanjutkan sambil jalan-jalan berkeliling melihat lokasi bencana. Namun tiba-tiba tersebar berita bahwa banjir besar sedang bergerak turun dari lereng Merapi.

Serta-merta semua orang waspada dan sebagian bergegas menjauh dari lokasi atau kembali ke pengungsian. Tak terkecuali kedua ibu guru itu pun segera pamit meninggalkan kami. Ya, kami memang harus memahami situasinya…

(10)

Kami jadi kebingungan sendiri. Antara mau langsung meninggalkan lokasi tapi ingat masih ada rencana ke SD Sirahan I yang hendak dituju dan seorang gurunya sudah dihubungi, sementara aksesnya terputus dan harus jalan memutar agak jauh. Antara ingin menyaksikan datangnya banjir lahar tapi sadar kalau sedang berada di zona bahaya di desa Sirahan.

Akhirnya kami putuskan untuk pulang saja meninggalkan lokasi bencana desa Sirahan.

(11)

Sore setelah meninggalkan desa Sirahan, saya memperoleh berita dari pak Kadus Salakan bahwa banjir lahar memang benar-benar datang dan lumayan besar. Beruntungnya jalur aliran lahar yang sudah ada masih mampu menampung aliran banjir sore itu.

Hanya saja kata pak Kadus: “Areal sawah yang tertimbun pasir semakin luas”. Makin terpuruklah petani yang sawahnya mulai menguning…

(12)

Besarnya banjir lahar sore itu bisa diketahui dari makin terputusnya akses menuju desa Sirahan dari arah utara karena tebalnya endapan pasir. Untuk mencapai SDN Sirahan I menjadi lebih sulit.

Esoknya saya peroleh kabar dari Kepala Sekolahnya, bahwa pasir lahar kmbali sudah memasuki ke ruang-ruang kelas. Maka jelas kini ruang kelas tidak dapat lagi digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar. Mau dibersihkan seperti sebelumnya, jangan-jangan banjir besar datang lagi…

(13)

Besarnya banjir lahar sore itu kembali memutus jalan raya Jogja-Magelang untuk yang kesekian kalinya. Itu karena luberan aliran lahar dingin di kali Putih kembali meninggalkan timbunan material vulkanik dari gunung Merapi berupa pasir dan batu yang memenuhi jalan. Perlu waktu lama untuk membersihkannya. Kembali lalulintas jalan raya terganggu.

(14)

Pulang dari kawasan bencana lahar dingin desa Sirahan, mampir dulu ke kali Krasak yang juga sedang ramai ditonton orang karena banjir lahar. Kami turun ke bawah jembatan.

Sebenarnya bukan untuk melihat banjir lahar, melainkan makan sore nasi brongkos “Warung Ijo” Bu Padmo. Haha, ini bagian menariknya yang harus dicatat.., nasi brongkos mak nyusss…

Banjir kali Krasak sore ini, lebih dari aliran lahar dingin yang selama ini lewat kali Krasak.

(15)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan I yang ruang-ruang kelas sekolahnya dikudeta untuk ketiga kalinya oleh banjir lahar dingin Merapi (ruang kelasnya kini terisi pasir) memohon bantuan sepatu dan seragam pramuka untuk 82 orang muridnya. Semua muridnya kini menyebar di pengungsian, ada kelas darurat, juga numpang ke sekolah lain. Akses menuju sekolah ini harus memutar agak jauh karena jalan utama terputus…

(Puji Tuhan walhamdulillah. Seorang sahabat spontan menyatakan niatnya untuk membantu pakaian seragam pramuka. Sebanyak 82 stel seragam pramuka siap diambil. Sungguh membuat saya terharu. Semoga kebaikan itu, insya Allah akan tercatat di buku besar di langit ke tujuh dan memperoleh balasan yang jauh lebih baik. Matur nuwun kami haturkan)

Yogyakarta, 4-7 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Drama Satu Babak

10 Februari 2011

Drama satu babak siang ini… Di sebuah pertigaan jalan di Jogja. Ada dua Polantas, seorang gadis ketangkap melanggar lampu merah dan dua wanita terjatuh dari sepeda motor. Seorang Polantas berlari menolong wanita yang tertindih sepeda motor dan seorang Polantas lainnya sibuk menilang gadis yang melanggar lampu merah…

Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran masing-masing. Tapi saya tahu masing-masing memiliki alasan mengapa terjadi dan apa yang dikerjakannya…

Yogyakarta, 3 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Kebaikan Dan Rejeki Malam Jum’at

7 Februari 2011

Sore tadi sebenarnya saya berniat mengisi Maljum dengan tidur lebih awal karena rada nggak enak badan. Saya sudah berniat mbolos dari majelis taklim Maljum. Lha kok tidak biasa-biasanya, koordinator taklim tilpun membujuk untuk berangkat. Tilpun ke HP tidak saya angkat, lha kok malah tilpun ke istri dan “celakanya” saya belum koordinasi dengan istri.

Huahaha, terpaksa berangkat. Tuhan memang ruar biasa kalau sudah “memaksa” untuk memberi kesempatan meraih kebaikan…

(Maljum : Malam Jum’at)

***

Dari majelis taklim malam Jum’atan di selatan Jogja. Alhamdulillah, rejeki memang tidak akan kemana. Pulangnya dibekali bancakan dua kotak makan malam dan kue.

Dalam perjalanan pulang lewat jam 22:00 ketahuan ban mobil tertusuk paku. Alhamdulillah juga, rejeki memang tidak akan kemana. Pulangnya mampir tukang tambal ban. Ya rejeki bagi tukang tambal ban maksudnya.., dan saya tetap saja nunggu dan mbayar…

Yogyakarta, 3 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Sore Hujan Di Kinahrejo

7 Februari 2011

Catatan dari mengunjungi dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, pada tanggal 2 Pebruari 2011. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng sebagai selingan pengantar week-end…

***

(1)

Hujan deras sore ini mengguyur dusun Kinahrejo, desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman (desanya Mbah Maridjan). Kabut tebal menyelimuti dan menghalangi pandangan ‘bleger’ (sosok) Merapi. Aliran air hujan yang membawa pasir mengumpul dan menggelontor menuju hulu kali Opak, di lembah Kali Adem…

(2)

Rencana saya untuk menjelajahi desa Umbulharjo sore kemarin gagal. Hujan sangat deras dan lama tumpah di kaki Merapi, termasuk di dusun Ngrangkah 1-2, Pelemsari dan Kinahrejo. Hingga menjelang senja hujan tak juga reda.

Kabut makin tebal, jarak pandang makin terbatas, udara makin terasa dingin. Segelas kopi panas yang disuguhkan Bu Panut (anak pertama Mbah Maridjan, saya berteduh di warungnya) lumayan menghangatkan kebekuan inspirasi…

(3)

Berbeda dengan kawasan Glagaharjo, dusun Kinahrejo desa Umbulharjo dimana almarhum Mbah Maridjan tinggal dan meninggal, jauh lebih ramai pengunjung dan juga lebih banyak bantuan mengalir. Agaknya ke-roso-an Mbah Maridjan cukup menarik dan menjadi alasan untuk datang.

Kini ada puluhan warung berdiri di sana. Bukan saja milik warga asli Umbulharjo, tapi ada juga dari luar desa. Masing-masing mencoba menangkap peluang usaha yang ada, bisnis perwarungan…

(4)

Sebuah warung Mandiri dengan judul “Warung Bu Panut” sedang disiapkan bagi anak pertama Mbah Maridjan itu. Beberapa warung lainnya juga akan disiapkan bagi warga yang memang membutuhkan. Tentu saja tidak bagi semua warga, melainkan sesuai dengan kemampuan donatur yang menjadi sumber dana (hal yang sama juga dilakukan di desa Kepuharjo dan Glagaharjo).

Disanalah aku berdiri…, menunggu hujan tak kunjung reda kemarin sore…

(5)

Belum terlihat tanda-tanda warga desa Umbulharjo yang mulai membenahi apalagi membangun kembali rumahnya. Hampir semua bangunan (bedeng) yang ada adalah warung seadanya.

Namun upaya penghijauan terlihat lebih maju dibanding desa lainnya. Nampaknya bantuan untuk penghijauan memang lebih banyak yang tertuju ke Umbulharjo. Selain karena “nama besar” Kinahrejo dengan Mbah Maridjan-nya, juga kondisi lahan di kawasan itu memang nampak lebih kritis.

(6)

Panggilan hati menjadi relawan terkadang memang tidak masuk akal. Padahal tidak ada keuntungan materi diraih. Seperti Tuti, ibu muda yang anak bayinya baru 15 bulan digendong-gendong ke Umbulharjo, hanya agar bisa turut menemani suami dan teman-temannya sesama relawan bekerja.

Ketika hujan deras tiada reda dan hari hampir malam di Kinahrejo, bayinya pun nekat mau diajak menerobos hujan berbonceng sepeda motor. Uuugh, nggak tega…, akhirnya kuboncengkan naik Jazz…

(7)

Kalau bukan sedang mendung, berkabut dan hujan, bentang alam gunung Merapi terlihat menawan dipandang dari Umbulharjo, Cangkringan.

Kalau dulu sebelum erupsi sosok utuhnya terhalang oleh rimbunnya pepohonan dan pemukiman penduduk. Kini pandangan mata ke arah Merapi terasa lepas bahkan ke seluruh penjuru dengan latar depan kawasan gersang yang mulai sedikit menghijau. Obyek wisata bencana yang sayang untuk dilewatkan…

Yogyakarta, 2-4 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Setengah Hari Ke Purworejo

7 Februari 2011

Catatan dari perjalanan setengah hari ke Purworejo, pada tanggal 2 Pebruari 2011. Purworejo adalah sebuah kota kabupaten di wilayah Jawa Tengah yang terletak sekitar 66 km di sebelah barat Yogyakarta. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook.

***

Takziah

Langit mendung di angkasa pemakaman Kuncen, Baledono, Purworejo… Membantu mengangkat tubuh tua, lunglai, tak berdaya, berbungkus kain kafan putih, mengantarkannya masuk ke liang lahat, diiringi alunan lembut kumandang adzan…

Sebentar lagi akan bertemu dengan Yang Maha Indah. “Sugeng tindak Mbah Paiyem…”. Allahummaghfirlaha… (Ya Allah, ampunilah dia).

Di bawah pohon randu, di atas perbukitan makam Kuncen, Baledono, Purworejo. Beristirahatlah dengan tenang, mbah Paiyem…

Klanting

Di toko roti “92” Jl. A. Yani, Purworejo, saya temukan klanting, makanan khas Purworejo. Makanan berbahan tepung ketela, bentuknya mlungker-mlungker, rasanya gurih, suaranya kriuk-kriuk ketika dikunyah, cocok untuk yang giginya masih oke untuk mengunyah 33 kali makanan yang agak keras…

(klanting, atau ada juga yang menyebut lanting)

Geblek

Sudah puluhan tahun mbah Marni jualan gorengan termasuk geblek (huruf ‘e’ dibaca seperti pada kata ‘jelek’), di depan RSUD Jl. Sudirman, Purworejo. Usaha itu kini diteruskan oleh mbak Is, anaknya. Geblek adalah makanan khas Purworejo terbuat dari tepung ketela yang dicampur dengan garam, diuli, dibentuk rantai tiga lingkaran. Rasanya gurih. Digoreng dengan api kecil agar bisa mekar dan enak dimakan.

***

Saya membeli geblek (makanan khas Purworejo) mentah agar bisa saya nikmati di rumah sebagai oleh-oleh.

“Nanti digorengnya pakai minyak dingin”, kata yang jual.
“Lho?”, tanyaku.

Rupanya yang dimaksud adalah apinya kecil. Minyak dingin bukan berarti minyak tanpa api melainkan lawan dari minyak panas.

***

Ketika geblek saya goreng sendiri di rumah… Gak sabbaaar, api kompornya saya besarkan sedikiiit… saja. Voila! Benar juga, lebih cepat matang. Tapi yang tidak benar adalah matang hanya di bagian luarnya sedang bagian dalamnya belum. Walhasil, ketika makanan geblek sudah dingin, lebih cocok untuk nimpuk kirik (anak anjing) sangking kerasnya itu makanan…

***

Baru pada penggorengan yang ke tujuh kali saya benar-benar berhasil menggoreng geblek seperti yang seharusnya. Rupanya ada teknik tersendiri untuk menggoreng makanan itu. Maka saran saya jika hendak membeli geblek tidak usah gaya-gaya, belilah yang sudah digoreng dan siap dimakan, kecuali jika Anda ingin repot sendiri di rumah.

Yogyakarta, 2 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Desa Sirahan Pun Porak-Poranda Oleh Lahar Dingin

7 Februari 2011

Catatan dari mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, kabupaten Magelang (Jateng) pada Jum’at, 28 Januari 2011. Tulisan ini adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng…

***

(1)

Jum’at (28/01/2011) siang yll saya harus menuju desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang. Ini desa kedua setelah Jumoyo yang terkena bencana lahar dingin. Lokasinya di baratdaya Jumoyo. Dari arah Jogja saya harus melewati jembatan kali Putih.

Hal yang di luar perkiraan saya adalah jalur di Jumoyo ini muacet minta ampyuuun… Jalan yang tergerus aliran lahar telah menyebabkan badan jalan menyempit. Perlu waktu lebih 1 jam untuk menempuh penggal jalan sekitar 1 km. Huuuh..!

(2)

Bagi yang akan menempuh rute Jogja-Magelang melintas jembatan kali Putih di desa Jumoyo, Salam, sebaiknya mengalokasikan tambahan waktu 1-2 jam. Ada jalan alternatif tapi lebih jauh dan sempit.

Sementara ketika bersamaan dengan turunnya banjir lahar dingin (seringkali sore hari), rute ini ditutup. Lama-tidaknya tergantung besar-kecilnya banjir. Dan urusan buka-bukaan dan tutup-tutupan jalan ini sudah terjadi berulang kali. Maka, ya harus bar-sabbaaar

(3)

Setelah melewati kali Putih, saya bertemu seorang relawan yang akan menemani ke desa Sirahan. Waktunya sangat mepet untuk sholat Jum’at, maka segera ke masjid terdekat dengan lokasi bencana. Masjid yang ada di Sirahan sendiri “libur” karena semua warganya mengungsi.

Ada rasa batin berbeda saat Jum’atan di masjid An-Nur, dusun Tular, desa Seloboro. Itu karena khotbah Jum’at disampaikan dalam bahasa Jawa seutuhnya. Hmmm, sudah lama tidak saya alami…

(4)

Dari desa Seloboro berboncengan sepeda motor dengan seorang relawan segera menuju desa Sirahan yang lokasinya hanya sekitar 2-3 km dari jalan raya Jogja-Magelang.

Setiba di Sirahan, barulah saya tahu bahwa kondisinya lebih buruk dibanding Jumoyo. Jalan desa beraspal Gulon-Ngluar itu telah berubah menjadi sungai. Sepenggal jalan sepanjang lebih 200 m, sebagian tertimbun pasir cukup tebal, sebagian tergerus hingga kedalaman 5 m dari tinggi jalan aslinya.

(5)

Ketika terjadi banjir lahar, sungai Putih yang sebenarnya kecil tidak mampu menanggung beban aliran lahar dingin yang bercampur pasir dan batu-batu besar dalam volume luar biasa.

Maka aliran banjir pun mencari jalannya sendiri dan jalan aspal Gulon-Ngluar dipilihnya. Jalan itu pun tidak cukup, maka meluberlah ke perkampungan desa Sirahan menyapu apa saja dan menghempaskan rumah-rumah penduduk di lima dusun di sepanjang jalan itu… (kelak akan menjadi jalan kenangan)

‎(6)

Hampir 200 rumah di lima dusun (Salakan, Glagah, Jetis, Sirahan dan Gemampang) terkena dampak langsung dari banjir lahar dingin. Sebagian rumah tertimbun dan tenggelam oleh pasir, sebagian roboh, sebagian lainnya hilang terbawa banjir. Praktis semua rumah yang ada di pinggir jalan Gulon-Ngluar yang kini jadi sungai, kondisinya memprihatinkan bahkan lenyap tanpa bekas. Korban jiwa dapat ditekan, karena datangnya banjir lahar sudah diketahui sebelumnya.

(7)

Informasi datangnya banjir lahar dingin dalam skala sangat besar sudah dimonitor para relawan, satu diantaranya pak Sunaryo, Kepala Dusun Salakan. Segera para warga diminta mengungsi (sayang, ada seorang yang “ngeyel” dan akhirnya tewas terseret banjir).

Pergerakan banjir dimonitor dengan pesawat HT sejak di titik tertinggi lereng barat Merapi. Para relawan di sepanjang lintasan kali Putih saling memberi info situasi di lokasi masing-masing.

‎(8)

Sebagai Kepala Dusun, pak Naryo tergopoh-gopoh mengungsikan warganya dibantu para pemuda. Hal yang tidak terduga adalah kecepatan alirannya.

Pak Naryo mencatat, hanya dalam waktu 22 menit tsunami lahar dingin lengkap dengan pasir dan batunya menyapu desa Sirahan dengan dahsyatnya, sejak prtama kali dilaporkan di titik pantauan tertinggi di hulu kali Putih yang berjarak sekitar 22 km. Itu berarti kecepatannya sekitar 1 km/menit atau 17 m/detik. Waoow..!

(9)

Pak Naryo yang menjadi panglima tertinggi dalam situasi kritis di dusunnya, hanya bisa dheleg-dheleg (bengong dan tegang) menyaksikan datangnya banjir lahar yang begitu cepat, begitu dahsyat…

Sambil berdiri di posisi aman, malam itu pak Naryo menyaksikan detik-detik mendebarkan saat rumahnya diterjang banjir.., roboh.., lenyap.., begitu cepat.., dan baru esoknya melihat bekas rumah dan sekitarnya sudah berubah menjadi padang pasir…Top of Form

(10)

Murid-murid SDN Sirahan I baru beberapa hari selesai membersihkan sekolahnya dari endapan pasir banjir lahar dingin yang cukup besar Minggu sebelumnya. Tahu-tahu banjir kedua yang lebih besar datang seminggu berselang.

Maka tunai sudah urusan persekolahan. Ruang kelas kini berisi pasir, perlengkapan berantakan, belajar-mengajar terhenti, murid-murid mengungsi, pekerjaan lebih berat menanti. Beruntung bangunan sekolah tidak rusak berarti.

‎‎‎‎‎SDN Sirahan I, desa Sirahan, kec. Salam, Magelang, nyaris tenggelam oleh endapan pasir banjir lahar dingin. Sementara ini sekolah masih diliburkan karena ditinggal mengungsi semua muridnya.

(11)

Murid-murid SDN Sirahan I yang adalah warga desa Sirahan kini mengungsi ke barak pengungsian yang jauhnya lebih 3 km dari sekolah. Sebanyak 83 murid kesulitan menuju sekolahnya. Anak-anak itu merasa tidak nyaman untuk numpang belajar di sekolah lain. Anak-anak itu lebih cinta sekolah dan gurunya sendiri.

“Anak-anak kini tidak mau sekolah”, kata bu guru Purwaningsih ‘nglangut’. Anak-anak itu ingin ada kendaraan antar-jemput dari barak ke sekolah pp.

‎(12)

Transportasi menjadi kendala, terutama bagi anak-anak yang ortunya tidak memiliki motor. Jumlah mereka setengah dari jumlah murid. Seperti usul bu guru Purwaningsih: “Anak-anak perlu bantuan transportasi pak”.

Dapat dipahami. Memang tidak mudah membantu dalam bentuk jasa seperti ini. Lebih mudah membantu bentuk barang, sekali dibagi langsung selesai. Sedang bantuan jasa, lebih-lebih berkelanjutan entah sampai kapan, jelas lebih repot mengelolanya terutama bagi donatur personal.

(13)

Ketika terjadi banjir lahar yang pertama, sebenarnya sudah banyak bantuan mengalir untuk sekolah SDN Sirahan I dan murid-muridnya. Namun ketika terjadi banjir lahar kedua yang lebih parah, bantuan berupa buku, tas sekolah dan perlengkapan itu tertunda karena sekolah diliburkan. Murid-murid itu kini lebih butuh perlengkapan sekolah, terutama sepatu dan baju seragam yang banyak tak lagi dimiliki oleh murid yang rumahnya terkena dampak langsung banjir lahar…

(14)

Bangunan sekolah TK Ibnu Hajjar dusun Glagah, desa Sirahan, itu kini isinya porak-poranda dan taman bermainnya hilang, tinggal menyisakan setengah bangunannya. Anak-anak taman nak-kannak itu kini tak lagi punya wahana bermain. Apa boleh buat, alam menghendaki demikian…

Sama seperti hamparan sawah yang sedang mulai menguning itu sebagian kini berubah menjadi dataran pasir. Apa boleh buat, alam pun menghendaki demikian…

(15)

Saya pikir, melihat kondisi TK Ibnu Hajjar di dusun Glagah yang setengah bangunannya dihajar lahar itu sudah membuatku mengelus dada. Lha, begitu tiba di dusun Gemampang saya harus nambahi mengelus jidat.

TK Pertiwi yang ada di sudut pertigaan jalan itu malah bangunannya buablas tak berbekas kecuali secuil dindingnya, tak tahu kemana perginya… Posisinya digantikan oleh segelundung batu besar, yang juga tak tahu darimana datangnya…

(16)

Ya namanya juga anak-anak… Melihat sekolah TK-nya hilang, ya sudah, nggak mau sekolah. Untung ada yang berinisiatif membujuk pindah menempati rumah warga yang masih dapat digunakan sementara pemiliknya mengungsi.

Pak Danang (Kadus Gemampang) mengusulkan bantuan untuk anak-anak (baik yang di TK maupun yang tidak mau sekolah dan tetap di barak), seperti mainan dan buku cerita anak. Saya hanya mengangguk sambil pegang pelipis, mikir maksudnya…

(17)

Segenap warga lima dusun dari desa Sirahan, kecamatan Salam, kini tinggal di pengungsian yang letaknya cukup jauh. Sebagian besar mereka bekerja sebagai buruh (tani/bangunan/tambang pasir).

Siang itu saya lihat sebagian dari mereka yang memang benar-benar dibuat tak berkutik oleh bencana, tanpa pekerjaan, duduk-duduk, ngobrol, melamun, di barak pengungsian. Sampai kapan? Menilik potensi ancaman banjir lahar, jelas mereka akan ada di sana untuk waktu lama…

(18)

Anak-anak itu.., anak-anak yang tidak sekolah, bersuka-ria, bercanda, bermain, tertawa riang, di halaman barak pengungsian. Sekarang baru bicara hitungan hari hingga minggu. Sedang naga-naganya mereka akan di sana dengan hitungan bulan… Bagaimana dengan pekerjaan dan penghidupan tiap-tiap keluarga selanjutnya? Bagaimana dengan anak-anak itu dan sekolahnya?

Saya tidak ingin menjawab pertanyaan itu, saya hanya ingin bagaimana bisa menjadi bagian kecil saja dari kehidupan mereka…

Anak-anak bermain bola di halaman barak pengungsian, sementara para orang tua duduk-duduk menyaksikan dari jauh. Menunggu waktu…, mengisi waktu…, pekerjaan yang tak kan pernah selesai mereka jalani…

(19)

Para korban bencana itu perlu bantuan. Itu pasti. Tapi bantuan apa yang paling dibutuhkan? Riil dan jujur, yang paling dibutuhkan adalah uang..! Kita suka merasa jengah kalau mendengar kata uang.

Uang memang lebih fleksibel, mudah dilipat, juga ditilap. Tapi itulah kenyataan, mereka perlu pengganti penghasilan setelah tidak dapat bekerja. Walau logistik, pakaian dan kebutuhan lain tercukupi, mereka tetap perlu biaya transport, bensin, pulsa, dsb…

‎(20)

Walau uang yang paling mereka butuhkan, tidak serta-merta berarti tidak menerima bantuan non-uang. Apapun rupa bantuannya dan berapapun banyaknya, bantuan akan selalu disambut dengan suka cita. Bahkan sesama dusun dapat saling jujur dan adil dalam mendistribusi bantuan sesuai pesan pemberinya.

Tapi saya (juga banyak donatur, biasanya) lebih memilih untuk mengirimkannya langsung ke posko-posko mandiri yang ada di dusun-dusun ketimbang melalui posko utama.

(21)

Mengakhiri kunjungan saya ke desa Sirahan, sore itu saya berdiri di atas tanggul kali Putih. Nampak jelas permukaan sungai kini berada lebih tinggi dibanding desa Sirahan. Tanggul itu terus ditinggikan dengan mengeruk dasar sungainya dengan alat berat.

Namun setiap kali terjadi banjir lahar dingin, sungai akan penuh kembali. Sedang di atas lereng Merapi sana masih menunggu jutaan m3 material vulkanik siap digelontorkan… Masya Allah..!

(22)

“Kampungku Bencanaku 090111″… Ekspresi warga dusun Gemampang, desa Sirahan, terhadap bencana banjir lahar dingin berskala besar yang pertama, yang telah menghancurkan desanya dan mengantar sebongkah batu besar ke sudut pertigaan jalan desa. (Di batu besar itulah tulisan ekspresi kesedihan itu diabadikan).

Yogyakarta, 29 Januari – 1 Pebruari 2011
Yusuf Iskandar

Tsunami Harga Naik

1 Februari 2011

Ketika air laut tiba-tiba surut tak terkira, bersiaplah akan datangnya gelombang laut yang tiba-tiba naik dan bisa jadi itu petaka tsunami… Ketika stok barang para supplier tiba-tiba pada habis, bersiaplah akan datangnya harga baru yang tiba-tiba naik dan bisa jadi itu prahara daya beli…

Hari-hari ini beberapa jenis barang di tokoku menghilang dari peredaran karena tidak ada pasokan. Maka bersiaplah jika kemudian harga-harga bakal naik (mulai bulan Pebruari).

Yogyakarta, 30 Januari 2011
Yusuf Iskandar