Posts Tagged ‘parkes’

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (7)

2 Maret 2008

Parkes, 3 Nopember 2000 – jam 23:30 (19:30 WIB)

Sekitar jam 8:45 tadi pagi pesawat yang membawa rombongan 22 orang peserta MassMin 2000 untuk mengikuti kunjungan tambang ke tambang Northparkes di New South Wales berangkat meninggalkan Brisbane. Sekitar tengah hari saya tiba di bandara Sydney yang masih tampak baru bekas direnovasi untuk Olimpiade yll. Di Sydney saya harus menambah satu putaran jarum jam lebih cepat.

Dari Sydney disambung dengan penerbangan sekitar satu seperempat jam menuju bandara di kota kecil Parkes. Ada keterlambatan dalam penerbangan ini, sehingga akhirnya baru sekitar jam 15:00 tiba di tambang Northparkes yang terletak sekitar 27 km dari kota kecil Parkes.

***

Setelah mengisi buku tamu, beristirahat sejenak, lalu diberikan penjelasan singkat oleh Manajer Tambang, Iain Ross, tentang pencapaian tambang tembaga dan emas ini, termasuk masalah prosedur keselamatan kerja tambang, dsb., maka sekitar jam 16:00 sore kunjungan ke lapangan dimulai. Rombongan dibagi dua, separuh ke tambang terbuka dan separuhnya lagi ke tambang bawah tanah, dan selanjutnya bergantian.

Saya ikut kelompok yang ke tambang terbuka (open pit) lebih dahulu. Tambang terbukanya sementara ini memang sedang tidak beroperasi karena kelebihan stock pile (persediaan batu bijih yang sudah ditambang). Setelah mengunjungi ke dua lokasi tambang terbuka, lalu dilanjuytkan ke ore processing plant (pabrik pengolahan bijih).  Sekitar jam 17:45 sore saya baru menuju ke tambang bawah tanah yang beroperasi dengan metode block caving.

Dunia pertambangan mengenal Tambang Northparkes yang berproduksi pada tingkat 16.000 – 19.000 ton per hari, karena prestasinya yang tergolong luar biasa. Dibandingkan dengan tambang-tambang bawah tanah di dunia yang menerapkan metode penambangan yang sama, tambang ini mempunyai tingkat produktifitas yang membuat decak kagum.

Rata-rata lebih dari 70.000 ton perkaryawan bawah tanah pertahun dihasilkan tambang ini. Sementara tambang-tambang lainnya di dunia umumnya masih berada di bawah 40.000 ton. Sebagai pembanding, tambang IOZ di Freeport yang menerapkan metode penambangan yang sama masih berada di bawah 10.000 ton. Ongkos produksi tambang ini sekitar US3 per ton bijih, sementara tambang-tambang lain umumnya di atas US$4 per ton, sedangkan tambang IOZ di Freeport masih di atas US$5 per ton bijih.

(Catatan tambahan : Angka-angka tersebut adalah angka yang disajikan oleh tambang Northparkes sebagai pembanding, yang saya yakin pasti menggunakan data-data lama Freeport atau menggunakan kriteria berbeda dalam perhitungannya, karena produktivitas IOZ sekarang jauh lebih baik. Tapi tidak apalah, karena intinya adalah bahwa tambang Northparkes memang jauh lebih produktif)).-

Memasuki tambang bawah tanahnya Northparkes ini tidak seperti umumnya kalau kita masuk ke tambang bawah tanah yang sedang beroperasi. Tidak tampak kesibukan karyawan (miner) yang lalu-lalang di lorong-lorong tambang.

Baru saja kemarin saya mendengarkan presentasi tentang tele-mining dan menggagas tentang implementasinya ke depan. Hari ini saya sudah melihat satu contoh awal yang membuktikan bahwa tele-mining memang bakal tidak terhindarkan.

Operasi crusher (alat peremuk bijih) dan conveyor (alat angkut ban berjalan) di bawah tanah hanya dilakukan oleh seorang gadis manis bernama Linda. Dia hanya duduk di control room (ruang pengendali) yang menghadap ke beberapa layar monitor. Dari tempat duduknya itulah, dia mengoperasikan sistem crusher dan conveyor di seluas tambang bawah tanah.

Saat ini ada tiga buah LHD (load-haul dump, alat bergerak bawah tanah yang berfungsi untuk memuat, mengangkut, menumpah bijih hasil tambang) yang beroperasi secara manual oleh tiga orang operator yang duduk di kabinnya. Namun saya melihat bahwa di sana sudah tersedia perlengkapan tele-remote yang siap untuk mengoperasikan LHD. Kalau perlengkapan itu sudah mulai beroperasi, artinya sopir-sopir LHD tidak diperlukan lagi, diganti dengan operator yang duduk di ruang pengendali menemani Linda.

Sekian waktu mendatang, alat-alat untuk pekerjaan pemboran, peledakan, alat bantu pemecah batuan, alat angkut truck, juga akan menyusul ber-automation. Lha alat semacam itu memang di antaranya sudah ada dan sudah diuji coba, tinggal tunggu waktu kapan dibeli orang dan kapan dioperasikan.

Sekitar jam 20:00 malam saya baru meninggalkan tambang Northparkes menuju hotel di kota Parkes. Meskipun hanya sempat beberapa jam saja mengunjungi tambang ini, tapi sangat membawa kesan yang dalam akan adanya sebuah operasi tambang yang sangat effektif dan effisien. Pada gilirannya, tentu bukan tidak mungkin juga tambang-tambang di Indonesia akan mengikutinya. Sekalipun kita akan berhadapan dengan akibat sampingannya yaitu tentang sebuah industri yang sangat berorientasi padat modal tetapi tidak lagi bersifat padat karya.

***

Kota Parkes malam ini sangat sepi, saat saya tiba di hotel. Sekitar jam 21:00 malam saya sengaja berjalan kaki sekitar 1,5 km menuju pusat kota untuk mencari makan nasi di restoran Cina. Sementara kawan-kawan yang lain cukup makan di restoran hotel karena mereka tidak perlu nasi. Eh, lha kok di restoran Cina, yang kebetulan masih buka, saya ketemu dengan rekan-rekan dari Freeport yang baru besok pagi akan melakukan kunjungan ke tambang Northparkes. Ya, sama-sama kelaparan dan ingin makan nasi.

Sialnya malam ini, saya lupa mempersiapkan penyambung colokan listrik model Australia yang berkaki tiga. Colokan listrik yang saya bawa adalah model Amerika yang kedua kaki depannya tegak lurus, sedangkan model Australia kedua kaki depannya pengkor (seperti kaki kanguru, barangkali). Sementara hotel yang saya inapi tidak menyediakan fasilitas penyambung colokan listrik ini seperti halnya di Brisbane.

Terpaksa malam ini saya tidak dapat mengirimkan catatan ini tepat waktu. Ya sudah, wong baterei laptop saya juga sudah hampir habis. Besok saja di-posting-nya, kalau sudah dapat penyambung colokan listrik.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (8 – Selesai)

2 Maret 2008

Sydney, 4 Nopember 2000 – jam 23:45 (19:45 WIB)

Sekitar jam 1:00 siang saya sudah tiba di hotel di Sydney, setelah tadi pagi meninggalkan kota Parkes. Di bandara Sydney, saya dan rombongan saling besalaman dengan sesama peserta kunjungan tambang lainnya yang segera akan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Ada yang langsung nyambung pesawat ke USA, Swedia, Finlandia atau Afrika Selatan, atau pulang ke rumahnya di Australia. Ada juga yang masih mempunyai urusan bisnis atau jalan-jalan di Sydney, seperti peserta dari Jepang, Cina, Zimbabwe, dsb.

Yang pasti, rangkaian kegiatan konferensi MassMin 2000 sudah selesai. Seperti diinformasikan oleh panitia sebelumnya saat di Brisbane, bahwa konferensi MassMin berikutnya akan diselenggarakan di Chili pada tahun 2005. Diharapkan tentunya dalam periode lima tahun mendatang akan lebih banyak topik-topik dan hasil-hasil perkembangan baru dalam dunia tambang bawah tanah khususnya yang beroperasi dengan metode caving.

Saya sendiri akan tinggal di Sydney semalam untuk hari Minggu besok baru kembali menuju New Orleans. Sementara di Sydney, saya sudah janjian dengan Mas Yusram Rantesalu yang alumni Tambang UPN angkatan 1986 yang saat ini sedang menyelesaikan program S2 di University of New South Wales mengambil bidang studi Geomekanik.

***

Akhirnya, catatan ini saya sudahi. Insya Allah, setiba di New Orleans saya akan melanjutkan perjalanan “Keliling Setengah Amerika”. Eh, sebentar. Hari Selasa, 7 Nopember 2000 nanti Amerika pemilu, antara lain untuk memilih siapa di antara George W. Bush dan Al Gore yang bulan Januari tahun depan akan menuju Gedung Putih melengser Bill Clinton. Kita lihat saja nantilah, kalau tidak capek ingin saya infokan breaking news-nya. Wassalam. (Selesai).-

Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 30 Juli sampai 11 Agustus 2001 saya berkesempatan berada di sebuah kota kecil di negara bagian New South Wales, Australia. Nama kotanya Parkes. Perjalanan ini adalah dalam rangka melakukan kunjungan dan studi lapangan di tambang tembaga bawah tanah Northparkes. Beberapa surat saya tulis, namun berhubung kesulitan mengakses internet dari kota ini di awal-awal kedatangan saya, maka surat ini terlambat saya kirimkan.

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia
(2).    Tambang Northparkes
(3).    Terserang Flu Dan Pilek
(4).    Mengakses Internet Di Perpustakaan Umum
(5).    Menuju Ke Canberra
(6).    Tiga Jam Di Canberra
(7).    Melintasi Jalur Segitiga Parkes – Dubbo – Orange
(8).    Tambang Northparkes Menuju Mine Automation
(9).    Perusahaan Tambang Tanpa Buruh
(10).  Membaca Koran Dan Memburu Kanguru
(11).  Malam Terakhir Di Parkes
(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia

Pagi tadi sekitar jam 09:30 saya mendarat di kota kecil Parkes, di wilayah New South Wales, Australia. Mata masih terasa agak ngantuk. Itu karena ada beda waktu maju 3 jam dibanding waktu di Yogya. Sedangkan perjalanan itu sendiri dilakukan pada malam hari sehingga kebutuhan tidur malam di perjalanan tidak dapat terpenuhi sepenuhnya sejak berangkat dari Yogyakarta hari Minggu sore, 29 Juli 2001, kemarin.

Perjalanan dari Yogyakarta menuju Parkes saya tempuh estafet dengan ganti pesawat di Denpasar dan di Sydney. Meskipun kota Parkes ini hanyalah sebuah kota kecil, namun setiap harinya ada transportasi udara yang melayani penerbangan dari Sydney ke Parkes dan sebaliknya. Paling tidak, sehari ada tiga kali penerbangan, kecuali di akhir pekan hanya ada dua kali penerbangan.

Seperti yang saya alami tadi pagi, perusahaan penerbangan Hazelton dibawah bendera Ansett Australia menerbangkan 12 orang penumpang dengan pesawat kecil berkapasitas 19 tempat duduk yang bersusun dua-dua masing-masing di kiri dan kanan lorong pesawat. Bahkan untuk masuk ke pesawat pun mesti menundukkan kepala karena atapnya yang rendah. Pesawat baling-baling jenis Metro 23 ini hanya disertai oleh dua awak penerbangnya dengan tanpa pramugari.

Dari Sydney ke Parkes yang jarak daratnya sekitar 365 km normalnya ditempuh dalam satu jam perjalanan udara, akan tetapi pagi tadi ternyata mampu ditempuh oleh pesawat kecil ini selama kurang dari satu jam. Sekitar jam 09:30 pagi saya sudah mendarat di bandara kota Parkes.

Ini adalah kunjungan saya yang kedua di kota Parkes. Bulan Nopember tahun lalu saya pernah datang ke kota ini untuk mengunjungi tambang bawah tanah Northparkes. Waktu itu saya bersama rombongan hanya sempat tinggal di Parkes semalam saja. Kali ini untuk kedua kalinya saya akan berada di kota ini selam dua minggu.

Tujuan saya kali ini juga dalam rangka melakukan kunjungan tambang ke Northparkes Mine, namun kali ini lebih spesifik dalam rangka mempelajari banyak hal tentang penerapan metode penambangan bawah tanah “Block Caving”, yang dalam terminologi birokrat sering disebut dengan studi banding.

***

Begitu tiba di Parkes, seorang pegawai perempuan tambang Northparkes sudah menjemput di bandara. Sebuah sedan Holden Commodore warna putih, entah produksi tahun kapan, sudah menunggu untuk selanjutnya akan saya gunakan sebagai sarana transportasi ke dan dari lokasi tambang Northparkes.

Pegawai perempuan itu lalu menunjukkan jalan menuju ke sebuah rumah di kota Parkes dimana saya akan menempatinya selama dua minggu. Jarak dari bandara ke kota Parkes sekitar 5 km. Setelah beristirahat sebentar, saya langsung menuju ke lokasi tambang Northparkes dengan diantar oleh pegawai perempuan itu. Jarak ke lokasi tambang sekitar 30 km.

Mula-mula saya agak kagok mengemudikan mobil di Australia yang sistem lalulintasnya berjalan di sisi kiri, sama seperti di Indonesia. Ini karena dua minggu sebelumnya saya masih mengemudi dengan sistem lalulintas di sisi kanan di Amerika. Namun ini tidak berlangsung lama, selanjutnya menjadi biasa.

***

Parkes hanyalah sebuah kota kecil yang populasinya hanya sekitar 10.000 jiwa atau jika dihitung beserta kawasan sekitarnya yang disebut dengan The Parkes Shire jumlah penduduknya hanya sekitar 15.000 jiwa.

Di perbatasan kota sebelum memasuki kota ini terpampang tulisan yang sangat jelas terbaca : “Parkes is the 50 km/h town”, tentu maksudnya adalah bahwa semua jalan-jalan di dalam kota Parkes mempunyai batas kecepatan maksimum 50 km/jam. Perkecualian hanya di kawasan sekolah yang biasanya 40 km/jam.

Para pemakai jalan pun umumnya patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Hal ini membuat mengemudi menjadi enak dan mudah sepanjang saya juga patuh pada rambu-rambu yang ada. Rasanya selama dua minggu ini saya tidak akan mengalami kesulitan untuk berkendaraan sendiri di Parkes khususnya dan Australia umumnya.

Parkes, 30 Juli 2001.
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(2).    Tambang Northparkes

Saat ini matahari sedang beredar di bumi belahan utara, sehingga kalau Amerika utara dan Eropa sedang musim panas (summer) maka di Australia sedang musim dingin (winter). Namun kota Parkes bukanlah kawasan yang bersalju di saat musim dingin. Hanya saja cuaca cukup membuat saya kedinginan di bawah suhu udara sekitar 8-12 derajat Celcius.

Paling-paling kalau pagi hari kaca-kaca mobil tertutup lapisan es tipis, sehingga perlu memanaskan mesin agak lama sebelum mulai menjalankannya. Demikian halnya di lokasi tambang Northparkes suhu udara cukup dingin meskipun matahari bersinar cerah.

Tadi pagi, sekitar jam 07:30 saya berangkat menuju ke lokasi tambang. Kota Parkes masih terasa sangat lengang dan dingin karena matahari belum lama terbit. Jalan dua lajur dua arah yang menuju ke lokasi tambang pun sangat sepi. Jarak sekitar 30 km menuju tambang Northparkes dapat saya tempuh sekitar 20 menit, itu karena saya dapat melaju sedikit di atas batas kecepatan maksimum 100 km/jam.

Pemandangan di sepanjang rute yang saya lalui hanya berupa dataran terbuka yang sangat luas dengan di sana-sini terdapat pepohonan. Di kejauhan tambak bukit-bukit kecil seperti gundukan tanah yang sebagian besar merupakan ladang-ladang pertanian ribuan hektar luasnya. Yang perlu diwaspadai melaju di jalan ini adalah kalau ada rombongan ratusan ekor sapi-sapi yang sedang melintas jalan dalam perjalanannnya dari satu lokasi pertanian menuju ke lokasi pertanian lainnya. Entah siapa pemiliknya.  

***

Acara saya di hari kedua di tambang Northparkes ini adalah mengikuti “safety induction” sesuai dengan peraturan keselamatan kerja yang diterapkan oleh pihak perusahaan. Dengan kata lain, saya tidak diperbolehkan “ngeluyur” kemana-mana di lokasi tambang ini, apalagi di bawah tanah, sebelum saya menyelesaikan program keselamatan kerja ini meskipun saya hanya sebagai tamu.

Tambang Northparkes adalah perusahaan tambang tembaga yang sahamnya 80% dimiliki oleh Rio Tinto dan sisanya yang 20% dimiliki Sumotomo, Jepang. Selain menghasilkan tembaga, tambang ini juga menghasilkan emas dan perak. Saat ini produksi tambang Northparkes dipenuhi dari hasil tambang terbuka (open pit) dan tambang bawah tanah (underground) yang menerapkan metode “Block Caving”.

Tingkat produksi dari tambang ini sebenarnya tidak terlalu tinggi. Tahun ini mentargetkan akan menambang 5,3 juta ton bijih tembaga atau rata-rata sekitar 15.000 ton per hari. Namun tambang ini dikenal sebagai tambang yang mampu beroperasi secara effisien dengan biaya operasi yang rendah dan termasuk salah satu tambang yang unjuk kerja keselamatan kerjanya baik. Untuk mempelajari lebih jauh tentang hal itulah yang menjadi alasan dari tujuan kunjungan saya ke tambang Northparkes ini.   

Mulai besok saya baru akan terlibat lebih jauh dalam aktifitas tambang Northparkes terutama dari bidang operasi produksi tambang bawah tanah.

***

Tadi sekitar jam 19:00 malam saya menuju ke pusat kota guna mencari makan malam. Rupanya di kota kecil ini ada tiga restoran Cina. Dalam hati saya heran juga, kok bisa-bisanya imigran dari Cina ini membuka usahanya di kota yang sebenarnya tergolong kecil dan tidak padat penduduknya. Keheranan yang sama sering saya alami sewaktu “blusukan” di kota-kota kecil di Amerika. Kalau mau diambil benang merahnya, barangkali dalam darah masyarakat Cina pada umumnya memang mengalir naluri bisnis yang sukar ditandingi.

Suasana kota Parkes yang cukup dingin sudah tampak sangat sepi dan lengang, bahkan di pusat kotanya. Toko-toko umumnya buka hanya sampai jam 5 sore, itupun hanya Senin sampai Jum’at. Restoran pun tidak semuanya buka hingga malam. Untungnya ada pasar swalayan yang buka hingga jam 9 malam, sehingga masih memberi kesempatan saya untuk mencari sekedar “kletikan” (makanan kecil).

Clarinda Street adalah jalan utama di pusat kota Parkes. Selain itu ada sebuah jalan raya yang disebut Newell Highway. Hanya di penggalan kedua jalan itulah di kota yang tidak memiliki “traffic light” ini yang dilengkapi dengan lampu penerangan jalan seperti di kota-kota besar. Sebagian jalan-jalan lainnya hanya diterangi dengan lampu neon biasa sebagai penerangan jalan, sebagian sisanya gelap-gulita pada malam hari tanpa penerangan jalan. Oleh karena itu, jika malam tiba terasa sekali bahwa saya sedang berada di sebuah kota kecil yang sepi, di Australia.

Parkes, 31 Juli 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(4).    Mengakses Internet Di Perpustakaan Umum

Obat flu yang saya beli kemarin agaknya cukup manjur, setidak-tidaknya hari ini kondisi badan saya terasa ada perbaikan. Belum sembuh benar memang, masih bolak-balik mesti buang ingus, tapi nggreges-nya sudah mereda.

Hari ini baru terpikir oleh saya untuk mencari dimana kira-kira saya bisa mengakses internet untuk membuka email, setelah beberapa malam ini saya tidak berhasil on-line dengan laptop saya dari rumah. Mau mengakses email pribadi dari kantor berlama-lama pinjam komputer orang kok ada perasaan tidak enak. Akibatnya beberapa catatan yang sudah saya siapkan menjadi tertunda pengirimannya.

Sebelum pulang ke rumah sore tadi saya coba untuk datang ke Perpustakaan Umum yang ada di kota Parkes. Kebetulan sekali, ternyata di sana tersedia komputer yang dapat disewa untuk mengakses internet. Biayanya A$ 2.50 (sekitar Rp 12.000,-) per setengah jam dan harus membayar di muka. Sewanya dapat diperpanjang hanya jika tidak ada pengguna lain yang menunggu.

Kebetulan lagi, ternyata selewat setengah jam memang tidak ada orang lain yang akan menggunakan internet. Barangkali karena sudah agak malam yang bagi kota ini selepas matahari terbenam sudah tampak sangat sepi dan sepertinya kehidupan hari itu sudah berhenti. Bahkan hingga lebih satu jam saya masih bisa melanjutkan menggunakan komputer. Ketika pulang, ternyata saya tidak diminta untuk membayar biaya  tambahannya. Ya syukur.

Akhirnya beberapa nomor lanjutan catatan “Perjalanan Pulang Kampung” yang tertunda untuk saya kirimkan, malam ini dapat saya posting. Akan tetapi justru catatan “Surat Dari Australia” ini malah tadi malam saya lupa untuk memindahkannya ke disket sehingga tadi tidak terikut saya kirimkan. Mudah-mudahan besok atau besoknya lagi saya akan dapat mengirimkannya.

Parkes, 3 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(5).    Menuju Ke Canberra

Sejak hari Jum’at saya sudah berangan-angan. Apa yang akan saya lakukan di libur akhir pekan, Sabtu dan Minggu ini. Meskipun di luar cuaca cukup dingin, tapi tentu tidak akan saya pergunakan hanya untuk bermalas-malasan di rumah. Meskipun sebenarnya saya perlu menambah jam istirahat akiat gangguan flu dan pilek. Untuk sekedar putar-putar kota saja rasanya sayang, wong kalau hari Sabtu dan Minggu toko-toko pada tutup.

Akhirnya saya putuskan untuk melakukan perjalanan traveling ke luar kota. Hari Jum’at malam saya membeli peta wilayah negara bagian New South Wales di sebuah stasiun pompa bensin seharga A$7.50 (kira-kira Rp 30.000,-). Dari peta itu saya buat pilihan-pilihan. Ada beberapa kota besar dan agak besar yang layak untuk dikunjungi.

Untuk kota-kota besarnya ada Brisbane (ibukota negara bagian Queensland) di arah timur laut yang jauhnya 995 km. Lalu kota Sydney (ibukota negara bagian New South Wales) dan Wollongong di arah timur, masing-masing berjarak 365 km dan 403 km. Ke arah selatan ada kota Canberra (ibukota Australia) dan Melbourne (ibukota negara bagian Victoria) yang jaraknya masing-masing 306 km dan 721 km dari Parkes.

Canberra yang akhirnya menjadi pilihan saya. Selain karena saya belum pernah mengunjungi kota ini, jarak untuk mencapainya tidak terlalu jauh untuk perjalanan pulang-pergi dalam satu hari. Menilik jaraknya, maka untuk mencapai Canberra saya akan memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan atau rata-rata berkecepatan 100 km/jam.

Australia menerapkan sistem satuan metrik, sehingga lebih mudah bagi saya untuk membayangkan kuantitas sebuah angka seperti misalnya yang bersatuan meter, km, liter, dsb. Berbeda halnya di Amerika yang menggunakan satuan inch, mil atau gallon, yang terkadang mesti dua kali berpikir untuk membayangkan kuantitas sebuah angka.

***

Menjelang jam 09:00 pagi hari Sabtu kemarin saya sudah meninggalkan rumah dan langsung menuju ke jalan besar yang mengarah ke selatan. Seperti biasa, suasana kota Parkes masih sangat sepi seperti tidak berpenghuni saja. Berdasarkan peta, jarak sekitar 300 km menuju Canberra adalah jarak tersingkat yang akan melalui beberapa kota kecil dan melewati jalan-jalan raya maupun Highway.

Di Australia jalan-jalan ini disebut State Route dan National Route yang lalu disertai dengan nomor jalan. Sebagai pembanding, kalau di Amerika jalan-jalan ini disebut dengan State Road (biasa disingkat SR) dan Interstate (biasa disingkat I) lalu diikuti dengan nomor jalan. Hanya saja yang disebut National Route di Australia bisa berupa jalan Highway yang tidak selalu bebas hambatan  

Keluar dari Parkes saya langsung melaju ke arah tenggara menuju kota Eugowra. Jarak yang saya tempuh sekitar 39 km selama kurang lebih 20 menit. Jalanan masih sangat sepi, hanya sesekali saja saya berpapasan dengan kendaraan lain. Ini memang jalan kecil yang kondisinya cukup bagus sehingga saya dapat memacu kendaraan rata-rata sesuai dengan batas maksimum yang diperbolehkan, yaitu 100 km/jam.

Eugowra memang hanya sebuah kota kecil atau dapat saya sebut seperti kota Kecamatan di Indonesia. Populasinya hanya sekitar 1.400 jiwa. Dari Eugowra terus saja saya melanjutkan perjalanan ke arah tenggara sejauh 34 km hingga tiba di kota Canowindra. Kota ini agak lebih besar dibandingkan Parkes. Populasinya sekitar 12.000 jiwa.

Melewati tengah kota Canowindra, di sisi kiri dan kanan jalan banyak saya jumpai pertokoan. Namun di pagi hari menjelang jam 10:00 kota ini tampak sangat sepi. Meskipun saya lihat banyak kendaraan parkir di pinggiran jalan, namun hanya tampak satu-dua orang saja yang berseliweran di trotoarnya. Saya menjadi semakin terbiasa melihat pemandangan kota yang kelihatannya ramai tapi tampak lengang seperti ini.

Dari kota inipun saya terus saja melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju kota Cowra sejauh 33 km. Kali ini saya mulai mengikuti jalan State Route 81. Kondisi jalannya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan jalan sebelumnya, tetapi arus lalulintasnya sedikit agak ramai.

Kota Cowra tampak lebih besar dan ramai dibanding kota-kota lainnya. Saya tidak tahu berapa populasinya, namun pasti jauh lebih padat disbanding Canowindra maupun juga Parkes. Meskipun di luar kota batas maksimum kecepatan yang diperbolehkan adalah 100 km/jam, namun begitu masuk kota biasanya paling cepat hanya boleh 60 km/jam. Para pengemudi pun umumnya mematuhi rambu lalulintas ini.

Di luar kota-kota yang saya lalui sejak dari Parkes, pemandangan di sepanjang perjalanan nyaris membosankan. Sejauh mata memandang di kiri-kanan jalan hampir semuanya merupakan dataran terbuka yang banyak berupa ladang-ladang pertanian yang sangat luas dengan diselingi oleh pepohonan dan nyaris tidak saya jumpai pemukiman penduduk.

Oleh karena itu melaju dengan kecepatan maksimum 100 km/jam, dan seringkali saya mencuri kecepatan hingga 110-120 km/jam bahkan lebih, rasanya cukup percaya diri untuk tidak kepergok dengan penyeberang jalan, pengendara sepeda atau anak-anak bermain di pinggir jalan. Tetapi tetap perlu waspada mengingat kawasan sepi itu sering menjadi perlintasan kanguru. Hal ini terbukti dengan beberapa kali saya menjumpai bangkai kanguru tergeletak di pinggir jalan karena tersambar kendaraan.

Melewati kota Cowra saya terus melaju ke selatan menuju kota Boorowa yang berjarak 77 km dengan masih mengikuti jalan State Route 81. Dari kota ini jalan yang saya lalui mulai memasuki kawasan pegunungan meskipun tidak terlalu tinggi, namun cukup memberi suasana berbeda karena jalannya yang naik-turun dan agak berbelok-belok.

Dari Boorowa saya terus menuju ke arah selatan ke kota Yaas menempuh jarak 55 km. Sebelum masuk kota Yaas saya pindah ke jalan National Route 31 ke arah timur yang disebut Hume Highway. Tidak jauh kemudian pindah lagi ke jalan National Route 25 yang disebut Barton Highway. Jalan ini mengarah ke selatan langsung menuju ke kota Canberra sejauh 57 km.

Sekitar jam 12:00 siang lebih sedikit, akhirnya saya tiba di kota Canberra. Kota besar ini tidak terlalu padat jika melihat posisinya sebagai ibukota negara Australia atau yang dikenal dengan sebutan Australian Capital Territory (ACT) yang mencakup beberapa kawasan di sebelah selatannya. Saya langsung menuju ke Visitor Information dan itu tidak sulit untuk menemukan lokasinya yang berada di jalan Northbourne Avenue.

Parkes, 5 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(6).    Tiga Jam Di Canberra

Di Visitor Information ini saya memperoleh peta kota Canberra yang mesti saya ganti dengan biaya A$2.00. Saya lalu berhitung dengan waktu karena saya tentu tidak dapat berlama-lama berada di kota ini. Hari Sabtu sore, 4 Agustus 2001, itu juga saya mesti kembali ke Parkes. Saya agak khawatir kalau kemalaman di jalan. Bukan khawatir karena jalan yang pasti lebih sepi dibanding siang hari, melainkan khawatir kalau saya menjadi kurang jeli melihat rambu-rambu petunjuk jalan di saat hari sudah gelap.

Meskipun saya akan kembali ke Parkes melewati rute yang sama dengan ketika berangkatnya, namun mengemudi di daerah yang belum saya kenal di saat malam hari di Australia ini tidak semudah dibandingkan kalau melakukan hal yang sama di Amerika.

Di Australia, petunjuk arah jalan biasanya terdapat di seputaran kota atau setelah persimpangan jalan. Jika saya lengah tidak melihat petunjuk jalan, maka selanjutnya saya tidak akan tahu berada di jalan dan arah yang benar atau salah hingga tiba di kota berikutnya atau persimpangan jalan besar berikutnya. Berbeda dengan di Amerika yang setiap jarak tertentu pada setiap jalan selalu terdapat tanda nomor jalan dan arahnya, sehingga kalaupun salah, maka belum terlalu jauh untuk kembali.

Hal yang sama seperti di Australia ini sebenarnya juga berlaku di Indonesia. Hanya bedanya kalau di Indonesia, sewaktu-waktu kita bisa tanya ke tukang becak, tukang ojek, tukang tambal ban, kios rokok, warung pinggir jalan atau siapa saja yang kita temui.

***

Oleh karena itu, saya rencanakan bahwa saya akan berada di Canberra sekitar tiga jam saja. Artinya pada jam 3:00 sore saya sudah harus meninggalkan Canberra untuk kembali ke Parkes, sehingga tiba di Parkes belum gelap benar. Tempat-tempat yang akan saya kunjungi siang itu pun lalu saya pilih.

Dari sekian obyek wisata di kota Canberra yang saya anggap menarik dan perlu dikunjungi serta cukup dalam tiga jam adalah Gedung Parlemen (Parliament House). Rasa-rasanya ini adalah bangunan termegah di Canberra. Tempat kedua adalah Gedung Australian War Memorial yang letaknya berada pada garis lurus arah timur laut terhadap Gedung Parlemen. Di depan Gedung War Memorial ini terdapat pelataran luas yang lantainya berwarna merah bata yang panjangnya sekitar 1 km dengan lebar sekitar 150 m. Tempat ini disebut dengan Anzac Parade.

Parliament House terletak di Capital Hill dan dikelilingi oleh dua jalan lingkar, yang di dalam disebut Capital Circle dan yang di luar disebut State Circle. Untuk mencapai gedung ini dari Visitor Invormation saya tinggal berjalan lurus saja ke selatan mengikuti jalan Northbourne Avenue lalu bersambung ke Commonwealth Avenue yang menyeberang danau Lake Burley Griffin.

Gedung Parlemen terletak di ujung jalan Commonwealth Avenue, karena itu tidak sulit untuk dicapai asal tidak salah mengambil lajur jalan. Sebab kalau salah akan berakibat berjalan mengelilingi jalan lingar luar ataupun dalam sebelum menemukan lajur jalan yang benar menuju ke Gedung Parlemen.

Danau Burley Griffin ini adalah danau buatan di tengah kota Canberra yang kalau dilihat dari arah mana-mana tampak memberi pemandangan kota yang indah. Namanya saja danau buatan, maka tentu keindahan yang diberikan adalah keindahan yang direncanakan. Namun tidak dapat disangkal bahwa karya seorang arsitek Amerika bernama Walter Burley Griffin dalam merancang kota Canberra adalah karya besar yang dibanggakan oleh masyarakat Canberra.

Pembangunan kota Canberra karya Griffin ini peletakan batu pertamanya pada tahun 1913. Terjadinya Depresi Ekonomi yang juga melanda Australia pada tahun 30-an serta adanya dua kali Perang Dunia telah menyebabkan rencana besar pembangunan kota Canberra terbengkalai. Baru pada tahun 1950-an karya Griffin dilanjutkan.

Tahun 1979 Gedung Parlemen mulai dirancang melalui sebuah kompetisi yang dimenangkan oleh tiga orang arsitek, Mitchell, Giurgola dan Thorp. Hingga akhirnya keseluruhan proyek raksasa ini selesai dengan ditandai diresmikannya Gedung Parlemen Australia oleh Ratu Elizabeth pada tanggal 9 Mei 1988.

Gedung Parlemen ini dapat dikatakan sebagai gedung terbesar di Australia. Juga tidak berlebihan kalau dikatakan gedung ini memang sangat megah dan kaya akan sentuhan seni ketika melihat masuk ke bagian dalamnya. Kemegahannya sudah tampak sejak berada di depan gedung ini. Terletak di area seluas 32 hektar, gedung ini memiliki 4.500 ruangan. Dari jauh gedung ini mudah dikenali dengan adanya menara baja antikarat yang tampak berkilap berdiri di bagian tengahnya, menjulang tinggi dengan bendera negara Australia berukuran panjang 12,8 m dan lebar 6,4 m berkibar tinggi di angkasa Canberra.

***

Tidak terasa saya berada di kompleks gedung ini selama lebih dua jam. Oleh karena itu saya lalu buru-buru meninggalkan gedung parkir yang berada di bawah tanah di depan kompleks gedung dan menuju ke Gedung Australian War Memorial yang terletak di seberang danau Griffin arah timur laut. Saat menjelang menyeberangi danau Griffin, tenyata saya salah mengambil lajur yang benar. Tetapi justru ini membawa saya untuk berjalan agak menyusuri tepian danau yang memang berpemandangan indah.

Sebelum tiba di Gedung War Memorial jalan yang saya lalui berada tepat di pinggir barat laut pelataran luas Anzac Parade. Gedung Australian War Memorial terletak tepat di ujung timur laut jalan Anzac Parade. Dari kejauhan sebenarnya gedung ini tidak tampak megah. Kemegahannya baru terasa ketika mulai masuk ke pelataran dalamnya.

Agaknya ini adalah gedung sebagai kenangan atas para pahlawan Australia yang tewas di medan peperangan sebagai bagian dari pasukan perdamaian PBB. Di dinding dalam bangunan ini tertulis ribuan nama para pahlawan Australia itu yang pernah bertugas di berbagai belahan dunia sebagai pasukan PBB. Hanya saja ketika saya mencoba memeriksa pasukan Interfet yang bertugas di Timor Timur kok tidak saya temukan.

Akhirnya sekitar jam 3:00 sore lebih sedikit saya meninggalkan Gedung Australian War Memorial ini dan kembali ke arah jalan dimana saya datang tadi pagi. Sialnya, saya kurang jeli melihat tanda petunjuk arah sehingga kebablasan. Sekalian saja berhenti membeli bensin agar selanjutnya dapat terus melaju memacu kecepatan agar tidak kemalaman tiba kembali ke Parkes.

Akibat salah jalan dan berhenti ini saya kehilangan waktu setengah jam lebih. Akhirnya baru menjelang jam 7:00 malam saya tiba kembali di Parkes. Untungnya tidak mengalami salah jalan ketika hari mulai gelap sebelum tiba di Parkes.

Parkes, 5 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(7).    Melintasi Jalur Segitiga Parkes – Dubbo – Orange

Hari Minggu kemarin, 5 Agustus 2001, saya mempunyai rencana berbeda. Masih juga ingin melakukan perjalanan keluar kota, namun kali ini tidank menuju ke kota-kota yang jauh melainkan keliling ke beberapa kota yang ada disekitar kota Parkes. Jalur yang saya pilih adalah lintasan segitiga dari kota Parkes, lalu menuju kota Dubbo yang terletak di arah utara Parkes dan kota Orange yang terletak di arah timur Parkes. Saya sebut saja lintasan memutar ini sebagai segitiga Parkes – Dubbo – Orange.

Berangkat dari rumah agak siang, terlebih dahulu saya menuju ke Tourist Information yang ada di kota Parkes. Sekedar ingin tahu apa yang sekiranya dapat saya lihat di kawasan Parkes dan kota-kota di seputarannya. Yang saya sebut di seputaran adalah kota-kota terdekat yang jaraknya bisa hingga 100 km, akan tetapi masih dapat ditempuh dalam satu jam perjalanan atau lebih sedikit. Segera saya meninggalkan Parkes menuju ke utara melewati Jalan Clarinda dan Newell Highway

***

Kota Parkes mula-mula terbentuk sejak pertama kali diketemukannya endapan emas pada tahun 1862. Perkembangannya menjadi semakin pesat ketika diketemukan lagi tambang emas Bushman’s Gold Mine pada tahun 1871. Kota inipun lalu bernama Bushman. Pada tahun 1873 Perdana Menteri New South Wales, Sir Henry Parkes, berkunjung ke lokasi penggalian emas ini. Lalu pada tanggal 1 Desember 1873 nama kota ini pun berganti dari semula Bushman menjadi Parkes sebagai penghormatan atas Sir Henry Parkes. Kemudian pada tanggal 1 Agustus 1887, jalan utama di kota baru Parkes ini berganti nama menjadi Jalan Clarinda. Clarinda adalah nama baptis dari Nyonya Parkes.   

Kota Parkes yang bersaudara kembar (Sister City) dengan kota Coventry di Inggris ini terletak pada elevasi 339 m di atas permukaan laut. Meskipun terletak di daerah beriklim subtropics, suhu udara rata-ratanya relatif tidak berbeda jauh dengan umumnya di Indonesia, yaitu 30 derajat Celcius maksimum di musim panas dan 16 derajat Celcius maksimum di musim dingin. Pada saat musim dingin seperti bulan-bulan ini suhu udara di malam hari memang bisa turun menjadi sangat dingin.

Jalan Newell Highway sendiri adalah jalan utama yang membelah wilayah negara bagian New South Wales dari kota Tocumwal di selatan dekat dengan perbatasan negara bagian Victoria dan Goondiwindi di utara di perbatasan negara bagian Queensland. Oleh karena itu kota Parkes tergolong cukup sibuk disbanding kota-kota kecil lainnya karena berada di perlintasan ekonomi antar kawasan. Tidak heran kalau truk-truk pembawa kontainer-kontainer raksasa pun seringkali terlihat melintas di kota ini.

Sekitar 20 km di utara Parkes, saya keluar dari jalan raya membelok ke timur sejauh 6 km menuju ke sebuah area yang dikenal dengan nama Parkes Radio Telescope. Dari kejauhan sudah tampak sebuah piringan raksasa berdiameter 64 m berdiri di sebuah kawasan terbuka. Teleskop ini dikelola oleh CSIRO Australia Telescope Parkes Observatory. Ini adalah salah satu piranti riset astronomi terbesar yang berada di bumi belahan selatan. Sarana dimana benda-benda angkasa menjadi tampak dekat dan jelas untuk keperluan pengembangan ilmu dan teknologi di bidang astronomi.

Parkes Radio Telescope merupakan salah satu dari delapan antene (piringan) yang keberadaannya menyebar di tiga kawasan. Sebuah antene lainnya yang berdiameter 22 m terletak di Coonabarabran dan enam antene lainnya yang masing-masing juga berdiameter 22 m terletak di Narrabi. Kedelapan antene yang disebut The Australia Telescope ini diresmikan pada tahun 1988.

Ketiga kota Parkes, Coonabarabran dan Narrabi terletak di jalur lintasan Newell Highway. Bersama-sama dengan sarana riset dan observasi astronomi lainnya yang tersebar mulai kota Canberra di selatan hingga Narrabi di utara dan melintasi beberapa jalan Highway, maka jalur ini memperoleh julukan plesetan sebagai “Highway to the Star” menyerap sebuah judul lagunya kelompok Deep Purple.

***

Dari kawasan antene teleskop di Parkes ini saya melanjutkan perjalanan ke utara sekitar 100 km menuju ke kota Dubbo. Menjelang masuk ke dalam kota, saya membelok ke timur menuju ke kawasan kebun binatang yang disebut Western Plains Zoo. Mula-mula saya ragu untuk masuk, wong di kota kecil yang jauh dari mana-mana kok mempunyai kebun binatang. Paling-paling ya sesuai namanya, kebun yang ada binatangnya.

Setelah membayar tanda masuk seharga A$ 22.00 (sekitar Rp 100.000,-) dan diberi peta lokasi, saya baru tahu bahwa kawasan yang luasnya mencapai 300 hektar ini menyimpan lebih 1000 ekor binatang dari lebih 100 spesies yang berasal dari seluruh dunia.

Bedanya dengan kebun binatang umumnya adalah di tempat ini binatang-binatang tersebut dibiarkan lepas di alam terbuka. Untuk keperluan pengamanan biasanya diberi kolam air yang agak lebar dan pagar, sehingga pengunjung dapat melihat binatang-binatang tersebut seperti di alam aslinya.

Tempat ini rupanya menjadi semacam tempat penangkaran bagi binatang-binatang langka yang populasinya di dunia nyaris berkurang. Melalui rute sepanjang 6 km yang dapat dilewati kendaraan, saya dapat melihat bnatang-binatang langka antara lain badak hitam, badak putih, gajah Afrika, biri-biri Barbary, singa Asia, harimau Sumatra, kura-kura Galapagos, gibbon tangan putih, elang ekor baji, dsb.

Ada juga binatang-binatang yang jarang dijumpai atau namanya kedengaran aneh seperti unta, biri-biri Barbary, zebra Grants, eland, wapiti, rusa fallow dan rusa chital, antelope, bison, kuda Przewalski, dingo, koala, emu, kanguru merah dan abu-abu, wallaby, tapir, lemur, dsb. Di antara badak yang ada di situ salah satunya rupanya berasal dari Ragunan. Dari hasil penangkaran binatang-binatang itu kemudian di sebarkan ke kebun-kebun binatang di seluruh dunia.

Pendeknya, saya jadi lupa waktu berada di tempat itu. Sehingga hari sudah sore ketika akhirnya keluar dari kebun binatang dan menuju ke kota Dubbo. Tingkat kepadatan dan keramaian kota Dubbo sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Parkes. Suhu udara harian juga relatif sama. Saya memutuskan untuk tidak berhenti di kota ini.

Dari Dubbo saya berbelok arah ke selatan menuju kota Orange melalui jalan National Route 32 atau yang disebut dengan Mitchell Highway. Jarak yang harus saya tempuh menuju Orange adalah sekitar 150 km, melewati beberapa kota kecil di antaranya Wellington dan Molong. Pemandangan alam di sepanjang jalur ini cukup indah dinikmati karena melewati jalan-jalan di daerah dataran agak tinggi meskipun bukan kawasan pegunungan.

Hari sudah larut sore ketika memasuki kota Orange. Rencana untuk menjelajah kota ini saya batalkan karena hari sudah beranjak remang-remang dan suasana kota pun sudah sepi. Orange adalah kota di pegunungan yang populasinya lebih dari 36.000 jiwa, karena itu lebih besar dan lebih padat dibandingkan Parkes. Suhu udara kota ini di saat musim dingin dapat mencapai di bawah nol derajat Celcius. Oleh karena itu salju sering dijumpai di saat musim dingin seperti sekarang ini. Masyarakat Orange bangga dengan menyebut kotanya sebagai kota seratus taman karena banyaknya kawasan-kawasan hijau pepohonan melingkupi kota ini.

Dari Orange, saya berbelok ke barat untuk kembali menuju Parkes. Jalan yang saya lewati adalah jalan tembus menuju Parkes sejauh 100 km melalui beberapa kota kecil antara lain Boree dan Manildra. Akhirnya saya tiba kembali di Parkes sudah lewat jam 7:00 malam. Puas rasanya telah menjelajah kawasan kota-kota kecil di seputaran Parkes melalui jalur segitiga Parkes – Dubbo – Orange sepanjang 370 km di hari Minggu kemarin.   

Parkes, 6 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(11).  Malam Terakhir Di Parkes

Sore hari sepulang kerja saya menyempatkan untuk mampir dulu ke sebuah tempat menarik di kota Parkes. Nama tempat itu adalah Memorial Hill, yaitu sebuah bukit di tengah kota Parkes di mana di atasnya dibangun sebuah tugu atau monumen kenangan. Kenangan bagi para pejuang Parkes yang tewas di medan tugas di Asia di tahun-tahun sekitar masa Perang Dunia.

Kota Parkes memang mempunyai topografi yang  agak berbukit-bukit, sehingga kalau kita berdiri di puncak permukaan bukit yang di atasnya berdiri tugu kenangan itu akan tampak pemandangan kota Parkes dari ketinggian. Itu sebabnya daerah puncak bukit ini disebut Outlook Memorial Hill. Sebuah tempat yang cocok buat rekreasi, terutama di saat matahari belum tinggi atau sudah agak lengser. Sebab kalau di siang bolong tentu akan terasa panas berada di areal terbuka di atas bukit.

Seperti halnya yang saya lakukan senja tadi. Matahari pas menjelang tenggelam, tampak bulatannya yang bergerak amblas bumi di horizon barat kota Parkes. Berkas cahaya merahnya nampak semakin lama semakin menghilang ditelan cakrawala. Sebenarnya pemandangan yang biasa saja, tapi jarang sekali dapat saya jumpai kalau tidak sedang berada di tempat ketinggian atau di pantai.

***

Malam ini adalah malam terakhir saya di kota Parkes. Atas saran seorang rekan, saya makan malam di sebuah restoran Italia. Begitu disuguhi roti, salad, steak, satu poci teh dan nambah, semuanya bablass. Sampai pelayannya berkomentar : “Sampeyan pasti sedang lapar sekali”. Dan jawaban saya singkat saja : “Nyet….” (memang), sambil agak nyengenges (nyengir).

Wong nyatanya memang saya sedang lapar berat. Tadi siang saya hanya berbekal sebuah apel hijau. Sedangkan makan siang yang disediakan perusahaan sudah terlanjur dikirim ke kantor tambang bawah tanah, sementara saya berada di kantor di luar tambang. Jadi ya hanya sekedar ngemil makanan kecil saja. Untungnya saat di kantor tadi perut terasa biasa-biasa saja, justru rasa lapar berat baru datang saat di restoran tadi.

Besok hari Sabtu pagi saya akan meninggalkan kota Parkes yang telah saya tinggali hampir dua minggu. Yang saya ingat sebenarnya bukan dua minggunya, melainkan dua Jum’at, karena berarti sudah dua kali Jum’at saya tidak ikut sholat Jum’atan. Lha, kemana mau Jum’atan wong di Parkes tidak ada masjid dan tidak ada komunitas muslim. Masjid terdekat tentunya di kota Sydney yang berjarak 365 km atau sekitar empat jam kendaraan darat atau satu jam lewat udara.

Sejauh ini saya belum tahu bagaimana caranya ngakalin kalau tiba saatnya sholat Jum’at tapi sedang berada di tempat yang jauh dari masjid atau komunitas muslim. Setidak-tidaknya cara ngakalin yang dibenarkan menurut syari’ah (hukum agama Islam).

Padahal menurut rencana sebelumnya saya akan berada di Parkes selama enam minggu untuk mengerjakan rencana kerja yang berskala lebih besar. Kalau benar jadi demikian apa ya saya mesti setiap 2-3 kali Jum’at terbang ke Sydney untuk sholat Jum’atan agar lepas dari tiga kali berturut-turut tidak Jum’atan. Wah, mesti ada anggaran tambahan. “Untungnya” akhirnya program enam minggu diperpendek menjaqdi dua minggu saja.

Omong-omong soal Jum’atan (dan yang sebangsa itu) memang kedengarannya kuno karena tidak ada yang pernah membicarakannya, sehingga topik semacam ini “ditinggalkan” orang. Kalau demikian, ya nyuwun sewu… (mohon maaf) biar saya bicarakan sendiri saja.

Parkes, 10 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney

Hari ini, Sabtu, 11 Agustus 2001, saya meninggalkan kota Parkes dengan menggunakan pesawat Hazelton jurusan Sydney. Sebelum ke bandara saya menyempatkan untuk jalan-jalan sebentar di Jalan Clarinda, Parkes. Keluar-masuk toko melihat dan mencari kalau-kalau ada yang menarik untuk dibeli.

Di toko buku “Bookcase” saya menemukan sebuah buku kecil yang berisi kumpulan humor untuk anak-anak. Judulnya “What A Laugh”, harganya A$12.95 (sekitar Rp 60.000,-). Saya pikir ini pasti cocok buat oleh-oleh anak perempuan saya yang berumur 9,5 tahun. Keluar dari toko buku saya segera meluncur ke bandara yang berjarak sekitar 5 km di luar kota Parkes.

Bandara kecil ini rupanya tidak menerapkan prosedur pengamanan yang rumit. Tidak ada security check dan juga tidak ada pemeriksaan sinar-X. Cukup dengan menukar karcis pesawat dengan boarding pass, lalu tinggal menunggu panggilan untuk naik pesawat. Sederhana, seperti naik bis atau kereta api saja. Di ruang tunggu bandara disediakan minuman kopi, teh atau air putih. Tinggal membuatnya sendiri kalau menginginkannya.

Sekitar jam 10:45, bersama 10 orang penumpang lainnya, pesawat kecil tipe Metro 23 berkapasitas 19 orang segera terbang. Pesawat ini sempat mampir berhenti 15 menit di kota Bathurst untuk narik penumpang tambahan. Akhirnya sekitar jam 12:15 siang tengah hari saya sudah berada di terminal domestik bandar udara Sydney. Untuk menuju ke terminal internasional ternyata mesti naik shuttle bus dengan biaya A$3.00. Tidak sebagaimana waktu datang dua minggu yll, di terminal internasional terdapat counter untuk penerbangan domestik sehingga mereka menyediakan angkutan gratis antar terminal.

***

Di Sydney saya harus menunggu cukup lama pesawat lanjutan untuk menyeberang ke Denpasar. Saya punya waktu hampir enam jam. Lalu mau ngapain?

Semula saya merencanakan untuk jalan-jalan ke pusat kota Sydney. Buku panduan wisata Sydney sudah saya buka-buka. Mau ke jembatan Harbour Bridge, gedung Opera House atau pelabuhan Darling Harbour, saya sudah pernah ke sana tahun lalu. Waktu itu saya ditemani oleh Mas Yusram Rantesalu, seorang alumni Jurusan Tambang yang sedang mengambil S2 di University of New South Wales (kini saya kehilangan jejaknya, beliau ada di mana). Tentang perjalanan saya ke Sydney ini malah saya belum sempat menuliskan catatan perjalanannya keburu catatan kecil saya ketlingsut (terselip).

Mau jalan-jalan ke pantai Bondi yang terkenal itu, atau ke Kings Cross tempat ngumpulnya kaum gay dan lesbian serta jenis-jenis entertainment yang sewarna dengan itu, pasti cuacanya sedang panas sekali. Dan lagi, kalau siang tengah hari begini terus apanya yang bisa dinikmati, selain keramaian berseliwerannya orang dan keluar-masuk toko saja.

Sempat saya putuskan untuk jalan-jalan ke Royal Botanic Garden yang terletak di seberang gedung Opera House, dengan harapan akan menikmati udara segar di sebuah taman di saat siang yang cukup panas. Padahal Sydney sedang musim dingin, suhu udara sekitar 22 derajat Celcius, tapi panasnya cukup menyengat di kulit.

Saya lalu menuju ke stasiun kereta api bawah tanah yang ada di bandara. Ternyata stasiunnya tutup. Tidak ada kereta yang akan lewat untuk hari itu. Entah rusak, libur, dalam perbaikan, atau entah kenapa saya tidak tahu. Lalu saya pindah ke terminal bis yang akan menuju ke kota. Eh, lha ditunggu-tunggu bis yang jurusan kota kok tidak datang-datang. Tiba-tiba saya ingat, bahwa saya belum makan siang. Lalu semakin ingat lagi bahwa di Sydney ada rumah makan Padang.

Ini dia! Saya lalu pindah menuju ke pangkalan taksi dan segera minta diantarkan ke bilangan Kensington menuju ke rumah makan “Pondok Buyung”. Serta-merta nasi putih, gulai otak, gulai nangka muda dan ikan asin segera terhidang, dan segera pula terlahap habis.

Di Sydney memang ada cukup banyak restoran Indonesia. Tapi bagi saya, yang satu ini lebih bersuasana Indoensia, mengingat untuk pesan makanan saya tinggal langsung menuju ke deretan menu yang berjajar di meja yang diatapi kaca (seperti rumah makan Padang di Indonesia), lalu tinggal tunjuk mau makan apa. “Paket standard” ala mahasiswa kost, nasi putih plus tiga macam lauk harganya A$6,50.

Rumah makan “Pondok Buyung” yang beralamat di 124 Anzac Parade, Kensington, ini saya kenal setahun yll. ketika saya sempat berkunjung ke Sydney. Pemiliknya seorang haji bernama H. Peter Syarief yang sudah belasan tahun merantau. Waktu itu sewaktu saya makan malah ditemani oleh Wak Haji Syarief yang kemudian “menuduh” saya sebagai wartawan karena sambil makan saya terus ngajak omong dan tanya ini-itu. Sayangnya siang tadi Wak haji sedang pulang istirahat di rumahnya.

Dengan makan siang di “Pondok Buyung” ini saya jadi merasa diuntungkan. Pasalnya saya sekalian bisa numpang sholat di sebuah ruangan yang berada di bagian belakang warungnya yang memang disediakan untuk itu. Hal yang sama juga saya lakukan ketika saya makan di situ tahun lalu.

***

Menjelang jam 4:00 sore saya sudah kembali berada di bandara Sydney. Bandara ini rupanya dilengkapi dengan fasilitas gratis untuk mengakses internet. Lumayan, saya lalu menyempatkan diri untuk membuka-buka email. Setelah itu saya baru check-in.

Sebentar lagi saya akan meninggalkan negeri kanguru, Australia. Ini adalah negara yang saya merasa “tidak perlu” untuk mengingat nama kalau ketemu Aussie (sebutan untuk orang Australia).

Lho? Ya, karena semua orang Australia mempunyai nama panggilan sama, yaitu “Mike”. Di manapun jangan kaget kalau Anda dipanggil “Mike”, meskipun nama Anda Bejo atau Muhammad atau Vincent atau Bonar. Atau sebaliknya, tanpa perlu tahu namanya, panggil saja dia dengan “Mike”, pasti tidak keliru. Tentu saja ini berlaku untuk suasana yang tidak formal.

Jam 06:00 sore pesawat akan tinggal landas dari bandara Sydney dan menyeberang ke Denpasar. Tiba di Denpasar menjelang tengah malam, nginap semalam, lalu selanjutnya Insya Allah hari Minggu pagi sudah tiba di Yogya berkumpul kembali dengan anak-anak dan ibunya di sana.

Akhirnya, terima kasih dan wassalam.

Sydney, 11 Agustus 2001
Yusuf Iskandar