Archive for Juli, 2011

Hati-hati Dengan Kata “Gratis”

11 Juli 2011

Saya membeli makanan ringan di tokoku, sebungkus jagung goreng berat 25g harga Rp 500,- Di dalamnya ada bonus koin senilai Rp 500,- Maka saya belikan lagi. Pada saat sama saya lihat sebungkus jagung goreng, merek sama, bungkus beda, berat 18g dengan tulisan besar “Gratis +30%”, harga labelnya Rp 1000,- Dan laku dijual…

Barang sama, berat sama, tapi harga dua kalinya “hanya” dengan menambah tulisan “Gratis”. So? Hati-hati dengan efek hipnosis kata “Gratis”…!

Yogyakarta, 29 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Bunga Warna Ungu

11 Juli 2011

Bunga ungu, tidak tahu namanya (berbentuk corong, diameter 4-5 cm, mekar saat ada matahari, berdaun jarang ukuran kecil memanjang runcing), tumbuh di luar halaman rumah.

(Note: Seorang teman memberitahu, itu namanya bunga terompet)

Yogyakarta, 29 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Pelabelan Halal-Haram

11 Juli 2011

Haduuuh…. MUI ki piye to? Bukan saja menyebabkan oseng-oseng pare saya gosong, tapi pliiis deh…, jangan terburu-buru sehingga terjebak pada pelabelan (hanya pada) produk akhir premium haram dan halal.

Masih banyak urusan yang lebih strategis dan kritis untuk diolah, dimasak dan disiasati, sehingga sistem kehidupan keibadahan masyarakat yang dinaunginya ini menjadi lebih nyaman, berkah dan indah.., tanpa resah.

Yogyakarta, 29 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Dan Oseng-oseng Pare Itu Pun Gosong

11 Juli 2011

Karena buru-buru mau berangkat ke toko, istri saya yang sedang masak oseng-oseng pare (paria) pesan: “Tolong oseng-osengnya dibolak-balik, hampir masak, sebentar lagi kompornya dimatikan”.

Tapi.., haduh..! Gara-gara ada berita tentang MUI yang berwacana tentang fatwa haram BBM bersubsidi, saya jadi lupa dengan pesan istri saya. Dan, oseng-oseng pare yang memang pahit itu pun semakin pahit.., karena gosong (Segera kukirim permohonan maaf tertulis via SMS).

Yogyakarta, 29 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Mempertemukan Sudut Pandang Berbeda

11 Juli 2011

Pagi ini kedatangan tamu dua orang ibu. Mereka ibu dari temannya anak lanang yang terlambat pulang dari mendaki gunung tapi tidak memberi kabar ke ortunya. Sangat bisa dipahami. Dalam hati: “Dasar anak”. Begitulah anak-anak itu, suka menggampangkan persoalan seolah tidak menyadari kalau ortunya dilanda khawatir.

Mempertemukan dua persepsi dari dua sudut pandang berbeda, anak vs. ortu, memang tidak mudah. Dan sebaiknya tidak diabaikan.

Yogyakarta, 29 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Ayo Sholat

11 Juli 2011

Hari ini libur Isra’ Mi’raj. Tadi malam hadir di peringatan Isra’ Mi’raj di kampung. “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam…” (QS.17:1).

Walau agak terkantuk-kantuk (terkantuk-kantuk tapi agak), masih dapat saya serap intinya: “Ayo sholat!”. Sedemikian penting hingga Nabi harus diajak ber-“adventure” ke dimensi yang tak terjangkau sebelum menerima SK dari Tuhan.

Tapi sumpriiit…, sholat itu memang berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (QS.2:45).

Yogyakarta, 29 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Ikan Itu Tidur Atau Tidak?

11 Juli 2011

Sambil menikmati ikan koi di kolam, saat malam, di bawah lampu sorot kekuningan, berlatar gemericik air yang disirkulasi, ibunya anak-anak melihat ada seekor koi yang dari tadi banyak diam di pinggir, tak seceria teman-temannya. Tiba-tiba meluncur pertanyaan tak terduga: “Ikan itu tidur apa tidak?”. “Iya, ya, tidur apa tidak ya…”, gumamku.

Agar tidak perlu mikir berlama-lama, kukatakan saja: “Kalau yang itu bukan mau tidur tapi mau mati…”.

Yogyakarta, 28 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Petugas Pemantau Pendaki

11 Juli 2011

Salah satu hal yang saya apresiasi pada anak lanang ketika mendaki gunung adalah dia mau kirim kabar setiap ada sinyal. Memang itu yang selalu saya wanti-wanti. Sebagai ortu bukannya mau “memata-matai” atau tidak percaya, melainkan ada aspek lain yang sulit dijelaskan ketika komunikasi selalu terbangun.

Sambil bercanda saya katakan: “Kalau petugas pemantau gunung sudah ada, maka anggap saja bapak ini petugas pemantau pendakinya”.

Yogyakarta, 28 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Mempertimbangkan Cuaca

11 Juli 2011

Anak lanang mestinya hari ini pulang dari Merbabu. Tapi sampai malam tidak ada kabar. Tahu-tahu datang SMS: “Pak aku brusan smpe basecamp. Td kena badai jadi trun nya pending. Pulang besok”.

Menyadari jadwal pendakian molor, maka saya tanya: “Bekalnya cukup?”. “Bekal hbis!!”, jawabnya. Untung malam ini sudah sampai basecamp —

Cuaca sering menjadi salah satu hal yang diabaikan pendaki pemula. Apalagi kalau ingat cuaca Jogja yang selalu panas terik.

Yogyakarta, 28 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Ngurusin Tanaman

11 Juli 2011

Sedang asyik merawat tanaman, seseorang kirim SMS: “Lagi apa mas?”. Kujawab: “Lagi ngurusin tanaman”.

Tidak lama menyusul SMS: “Aku nggak mau ngurusin, tapi pingin ngegemukin, bisa nggak?”.

Ngngngng… Sebaiknya jangan, nanti obesitas…

Yogyakarta, 26 Juni 2011
Yusuf Iskanda

Pesan Standar Untuk Anak Lanang

11 Juli 2011

Pagi ini anak lanang jadi berangkat ke gunung Merbabu (3142 mdpl) dengan teman sekolahnya. Sahabat kecilku itu kini makin dewasa. Dulu saat ke Merbabu pertama kali aku begitu cerewet ceramah ini-itu dan kini ke Merbabu untuk keempat kali aku membatasi diri untuk cerewet.
Tapi SOP standar tetap perlu dijalankan sebagai ortu: “Jangan pernah meremehkan mendaki gunung betapapun sudah berpengalamannya. Dan jaga sholatmu”. “Iya, iya..!”, jawabnya.

Yogyakarta, 26 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Menikmati Anugerah Pagi

11 Juli 2011

Menikmati pagi Minggu yang cerah di rumah.
Merawat tanaman seadanya dan sederhana yang bukan tanaman mewah, tapi nikmat dengan nuansa alamiah.
Merawat kolam koi yang masih baru yang ikan-ikannya sudah mulai beradaptasi walau sesekali masih ada yang mati, bergerak lincah kian kemari, membangkitkan gairah pagi.

Segelas ‘hot blimwul tea’ (teh belimbing wuluh panas) menemani. Bercinta dengan anugerah pagi, mahakarya Illahi…

Yogyakarta, 26 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Minta Ijin Kepada Ibu

11 Juli 2011

Belum sehari pulang dari ‘hiking’ ke bukit Menoreh, anak lanang minta ijin ibunya mau mendaki ke gunung Merbabu. Ibunya ‘mencak-mencak’, katanya: “Pakaian yang kemarin saja belum kering dicuci, sudah mau mendaki lagi…”. Sangat ibuwi…

Dan bagian yang paling saya sukai adalah minta ijin kepada ibunya. Walau kalau tidak diijinkan akan memaksa juga, tapi “prosesi” itu harus dijalani. Okelah kalau bapaknya mau “dicuekin”, tapi jangan sekali-sekali kepada ibu untuk urusan apapun.

Yogyakarta, 26 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Tunggakan Uang Sekolah Anak Lanang

11 Juli 2011

Ketika mau ambil rapor anak lanang, saya baru tahu kalau ada kewajiban sekolah sejumlah sekian juta yang masih nunggak, padahal saya tidak siap dengan uang cukup. Untungnya rapor tetap bisa saya ambil.

Saat lapor ke ibunya, ditanyalah anak lanang: “Bapak kok bisa ambil rapor? Apa tidak ditagih dulu oleh sekolah?”. Anak lanang pun menjawab sekenanya: “Ustadz-nya kasihan sama bapak, karena bapak datang naik sepeda”. Dan tunggakan pun belum terbayar…

Yogyakarta, 26 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Premium Untuk Golongan Tidak Mampu

11 Juli 2011

Di sebuah SPBU di Jogja, ada stiker baru, berbunyi: “Premium Untuk Golongan Tidak Mampu”. Saya tanya yang jual: “Premium yang untuk golongan mampu yang mana?”. “Tidak ada”, jawabnya.
Karena hanya ada satu macam premium, “Berarti saya tidak salah kalau beli ini”, kataku. “Yang salah yang bikin stiker”, kata yang jual.
“Ya itu benar”, sergahku —

Paling enak memang mengiyakan kata orang walau salah, toh yang ngomong salah bukan kita. Coba saja perhatikan omong-omongan di TV…

(Note: Bukan saya tidak tahu maksudnya, tapi saya hanya ingin menunjukkan bahwa ada celah yang bisa “dimanfaatkan” akibat pembuatan slogan yang kurang teliti)

Yogyakarta, 25 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Hafalan Juga Perlu

11 Juli 2011

Pergi ke sekolah anak lanang naik sepeda. Ketemu wali kelasnya, Noval dinyatakan naik ke kelas 12, SMA Islam Terpadu Abu Bakar (tanpa Ba’asyir) Jogja. Rapor jadi saya ambil karena nilainya tidak jelek-jelek amat. Lumayan.., lumayan pas-pasan. Hanya nilai hafalan surat Qur’an yang masih tekor (namanya juga Islam Terpadu).

Hafalan memang bukan parameter kualitas seseorang, tapi hafalan dapat membuka jalan untuk paham. Maka sebaiknya jangan menafikan hafalan.

Yogyakarta, 25 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Potret Petualang Muda

11 Juli 2011

Kemarin petang anak lanang pulang dari ‘hiking’ bersama teman-temannya ke perbukitan Menoreh, Magelang. Saya tanya, perjalanan darimana ke mana, ke arah mana dan berapa lama. Ternyata dia kesulitan menjawab dan bahkan tidak tahu nama tempat saat memulai perjalanan. Lho?

Tapi ya seperti inilah potret petualang muda, sering mengabaikan aspek orientasi medan, padahal masih di bilangan perkotaan, belum di pelosok atau apalagi kawasan yang ‘adoh lor adoh kidul’…

Yogyakarta, 25 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Rapot Anak Lanang

11 Juli 2011

Anak lanang menyampaikan undangan dari sekolahnya untuk bapaknya mengambil rapot. Bapaknya tanya: “Kok bapak harus mengambil rapot itu apa hasilnya bagus?”.
“Ya jelas…”, jawabnya pede. “Memang kalau hasilnya jelek?”, lanjut anak lanang. “Ya dikembalikan lagi…”, kata bapaknya.

Yogyakarta, 25 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Oseng Pare

6 Juli 2011

Suatu hari ibunya anak-anak masak oseng-oseng buah (atau sayur?) pare atau paria. Anak wedok tidak suka, “Pahit…”, katanya. “Itu karena kemarin ibu salah masaknya”, kataku.

Ketika pagi ini ibunya masak pare lagi, anak wedok tetap tidak mau. “Masih pahit gitu…”. “Ooo berarti ibu salah lagi masaknya”, kataku.
“Kapan tidak salah masak?”.
“Nanti kalau oseng-oseng parenya sudah tidak pahit…”.

Yogyakarta, 24 Juni 2011
Yusuf Iskanda

Mengenali Pembeli

6 Juli 2011

“Boss” saya heran, harga segelas teh jahe biasanya Rp 1500,- tapi di warung sate itu Rp 3000,- Bukan soal selisih 1500-nya, tapi kenapa lebih mahal dan pembeli OK saja? Padahal teh, jahe dan gelasnya sama, Jawaban mudah saya: “Karena melayani pembeli sate yang harga seporsi Rp 20.000,- Coba kalau melayani pembeli nasi kucing, pasti lebih murah”. Maka kalau mau menaikkan harga jual yang dapat diterima konsumen, pertimbangkan siapa pembelinya dan dimana jualnya.

Yogyakarta, 23 Juni 2011
Yusuf Iskandar