Posts Tagged ‘balikpapan’

Berangkat Lebih Cepat

9 Oktober 2010

Seprana-seprene naik pesawat, yang sering terjadi adalah terlambat berangkat dari jadwalnya. Kalau bisa on-schedule, itu prestasi. Tapi Batavia Air jurusan Balikpapan – Jogja pagi ini tumben rada “nekat”, berangkat 15 menit lebih cepat. Pesawat yang harusnya berangkat jam 07:15 WITA itu belum jam 7 sudah nutup pintu dan bergerak meninggalkan tempat parkir. Rasanya ini bukan prestasi tapi “mencuri start” untuk menyelesaikan etape awal hari ini.

Yogyakarta, 6 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Kartu Magnet Vs HP

9 Oktober 2010

Semalam di Balikpapan… Kupilih menginap di hotel “Nuansa Indah”, hanya karena saya suka dengan namanya (selain karena baru direnovasi sehingga suasananya seindah nuansanya). Tapi sempat agak jengkel ketika kartu magnet yang berfungsi sebagai kunci kamar tidak bisa dipakai untuk membuka pintu lorong. Terpaksa turun lagi ke lobby. Kata mbak resepsionis: “Kartunya jangan didekatkan HP karena magnetnya rusak”. (Celathu… Kuterima juga penjelasannya, tapi benarkah?)

Balikpapan, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Lampu Penyeberang Jalan

9 Oktober 2010

Malam, di tempat penyeberangan “resmi” di Jl. Sudirman, Balikpapan. Mau nyeberang jalan saja susah 1/2 mati melebihi rasa rindu. Terbaca sebuah tulisan kecil di tiang lampu: “Menyeberang tekan tombol ini”. Langsung saya tekan saja tombolnya.

Ternyata benar, lampu tanda menyeberang berganti hijau dan lampu lalulintas berganti merah. Yang tidak benar adalah, pengguna jalan cuek bebek tetap saja tidak berhenti oleh lampu merah. Wooo.., tobil anak kadal!

Balikpapan, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Dagelan Di Atas Ketinggian

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan kemarin, sambil masih terkantuk-kantuk, sayup-sayup terdengar pemberitahuan: “Awak kabin segera akan membersihkan sisa makanan dan minuman di kursi Anda..”. Terang saja saya jadi terjaga, karena setahu saya tadi tidak ada pembagian konsumsi di pesawat, atau jangan-jangan karena saya tertidur lalu tidak diberi suguhan.

Setelah tolah-toleh, ya memang tidak ada pembagian konsumsi. Ah, dasar.., dagelan di atas ketinggian lebih 30000 kaki, ala Lion Air.

Samarinda, 5 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Bandara Sepi…

9 Oktober 2010

Menjelang mendarat di Balikpapan, mbak pramugari Lion Air JT 670 jurusan Jogja – Balikpapan, memberitahu: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara sepi…..”. (Lho, ada apa kok bandaranya sepi, pikirku penuh tanda tanya). Sejenak kemudian diulangi: “Sebentar lagi kita akan mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan”…. Wooo, mbak pramugarinya tersedak to… Tersedak saja kok milih yang sepi…

Samarinda, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Nggak Sabaaar…!

9 Oktober 2010

Meninggalkan bandara Sepinggan Balikpapan, langsung meluncur ke Samarinda sejauh 115 km. Ada komitmen penting yang harus dipenuhi hari ini. Eh maksudnya, komitmen untuk memenuhi undangan karena sudah ditunggu sama kepiting asap…. Nggak sabaaaaar…!

Balikpapan, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Di Antara Qur’an Dan Koran

9 Oktober 2010

Ketika sang burung Singa tinggal landas meninggalkan bandara Adisutjipto. Penumpang di sebelah kanan membuka kedua tangannya berdoa melafal ayat Qur’an. Penumpang di sebelah kiri membuka kedua tangannya membaca koran. Saya yang di tengah jadi merasa tenang, sambil membaca tulisan “Fasten seat belt while seated”.

Balikpapan, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Menembus Angkasa Berharap Keberkahan

9 Oktober 2010

Pagi berawan…. Tuhan, perkenankan hambamu menembus angkasa Jogja menuju Balikpapan (tapi numpang pesawat Lion Air). Berharap meraih keberkahan. Sebab Engkaulah sebaik-baik Yang Maha Mendaratkan… (anta khoiru munzilin).

Yogyakarta, 4 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

“CD Remix Special Edition” Penangkal Hujan

21 Februari 2009

Minggu lalu teman saya melepas masa lajangnya di Balikpapan. Menurut undangan, resepsi pernikahan diselenggarakan jam 10 pagi. Kebiasaan kita di tempat lain, pada undangan disebutkan resepsi dari jam sekian sampai jam sekian. Namun tradisi di Balikpapan rupanya agak berbeda, undangan acara resepsi biasa ditulis jam sekian sampai selesai. Maka kalau undangan mulai jam 10 pagi, berarti tuan rumah beserta mempelai harus siap-siap menyambut tamu hingga langkah tamu yang terakhir, jam berapapun datangnya.

Menurut pikiran teman saya, sang penganten lelaki, tentu saja ini situasi yang “kurang menguntungkan”. Hari sepertinya kok enggak malam-malam…… Selalu standby di pelaminan menunggu barangkali ada tamu yang baru bisa datang saat malam menjelang.    

Lain cerita tentang enggak malam-malam…., lain lagi cerita tentang keadaan cuaca. Sedari pagi hingga menjelang jam 10 saat resepsi hendak dimulai, ternyata hujan deras mengguyur Balikpapan seolah tak hendak berhenti. Tuan rumah pun gelisah. Kalau hujan tidak berhenti juga, bisa-bisa “jualan”-nya tidak laku.

Mertua teman saya yang sebenarnya juga orang Jawa tapi tinggal di Balikpapan, rupanya punya ide “nyleneh”. Sang pengantin lelaki dan perempuan diminta mengumpulkan CD (baca : cede) masing-masing satu eksemplar, lalu kedua benda itu dibungkus plastik. Bungkusan spesial berisi campuran dua CD jantan dan betina itu pun lalu dilempar ke atas atap rumah bagai meteor jatuh dari angkasa. Sayangnya, teman saya tidak tahu rumah siapa yang kejatuhan bungkusan berisi sepasang CD itu. Atau mungkin memang sebaiknya tidak perlu ada yang tahu. Takut kalau terus diambil lagi…..

Lha kok ndilalah….., hujannya kok ya terus berhenti, dan terus berhenti sampai malamnya, hingga langkah tamu terakhir meninggalkan gelanggang resepsi yang tak sudah-sudah sejak pagi. Aneh bin ajaib, pikir teman saya. Sebab kesimpulannya menjadi : Sepasang CD yang dilempar ke atas atap telah berhasil menangkal guyuran air hujan.   

Kalau ditanya apa hubungan antara CD yang dilempar ke atas atap dengan hujan? Ya, sama sekali tidak ada. Mau ditelisik dari disiplin ilmu apapun tidak akan ketemu perkaranya. Satu-satunya yang bisa menjelaskan adalah bahwa ada sebuah tradisi yang masih dipercaya oleh sebagian kalangan masyarakat Jawa tentang urusan lempar-melempar CD dikala sedang punya hajatan tapi hujan tak kunjung reda. Terkesan indah sekali (tradisinya tentu saja, bukan CD-nya…).

Barangkali karena merasa “gimana gitu….”, maka alternatifnya kini ritual lempar-melempar CD banyak ditinggalkan dan diganti dengan mengundang pawang hujan. Sebab kalau kemudian acaranya adalah upacara tujuhbelasan, lalu CD siapa saja yang mau dikumpulkan lalu dilempar, dan atap siapa yang mau ditimpukin CD…..

***

Tidak sampai seminggu kemudian, teman saya itu sudah boyongan bersama keluarga barunya ke Yogyakarta. Saat pertama kali bertemu di Yogya, saya mengusulkan kepada teman saya itu agar coba “CD Remix Special Edition” yang dilempar ke atas atap itu dicari dan diambil kembali. Baru seminggu berlalu, belum lama. Dan lagi, pasangan CD itu kan dibungkus plastik, pasti kondisinya masih baik. Teman saya tertawa ngakak. “Buat apa?”, katanya.

Ya, buat apa…. Seperti kurang kerjaan saja. Barangkali kita pun akan berkata begitu. Saya melihat sisi “nyleneh” lainnya. Benda “sakti” yang telah menangkal hujan itu kelak akan menjadi sebuah benda kenangan yang tak ternilai harganya. Sebuah memorabilia yang siapa tahu bernilai tinggi di pasar lelang Christy di New York. Tak seorang pun tahu, kalau 20 tahun lagi ternyata teman saya atau anaknya sukses menjadi seorang selebriti, syukur-syukur kelas dunia.

Lho, siapa yang menyangka anak laki-laki kecil, dekil, hitam, njelehi bernama Obama yang dulu pernah sekolah di Menteng itu kini jadi Presiden Amerika. Atau, Soeharto yang anak petani itu pernah menggegerkan Indonesia. Atau Tukul yang kelewat katrok dan tampak bodo itu penghasilannya susah dihitung. Atau, Inul yang penyanyi ndang ndut ndeso itu bisa mengundang simpati dan dielu-elu dimana-mana. Orang-orang ini hanyalah contoh. Diakui atau tidak, diam-diaman atau terang-terangan, punya memorabilia yang bagi sebagian orang bernilai tinggi.   

Bagian terakhir dari cerita ini memang berbau mengada-ada. Tapi yang pasti adalah kalau sekarang kita mengatakan “Ah, itu tidak mungkin…..”. Maka yang akan terjadi kelak adalah ketidakmungkinan itu. Lha, kalau sebaliknya? Maka diri kita akan menjadi seperti yang sebaliknya itu. Dan sesungguhnya yang mengatakan demikian itu bukan saya, melainkan kitab suci.

Jadi? Sebaiknya teman saya itu mempertimbangkan untuk mencari dan mengambil kembali “CD Remix Special Edition” yang sekarang entah berada di atas atap rumahnya siapa di Balikpapan sana. Kelak akan ada sebuah kisah yang tak kunjung habis untuk ditulis. Kisah tentang sebuah tradisi yang indah yang masih dilakoni oleh sebagian masyarakat Jawa. Kisah tentang memorabilia cinta kasih sepasang anak manusia. Kisah tentang janji Sang Pencipta Kitab Suci yang pasti akan ditepati. Kisah tentang orang yang kehabisan ide sampai sempat-sempatnya menuliskan kisah ini…..

(Sengaja tulisan ini tidak disertai ilustrasi foto….)  

Yogyakarta, 21 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar

20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

25 Juli 2008
Kijang Innova Terpaksa Ditarik

Kijang Innova Terpaksa Ditarik

Hari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan bersama teman-teman ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Kijang Innova Tertatih-tatih Melewati Kubangan Lumpur

Kijang Innova Tertatih-tatih Melewati Kubangan Lumpur

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova sambil tertatih-tatih berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km dengan berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Pilih Trekulu Atau Bandeng Bakar Di Warung Padaidi

5 Juni 2008

PadaidiKali ini saya ingin mencari warung makan murah-meriah di Balikpapan, budgeted food barangkali istilah Londo-nya. Rumah makan yang harganya cocok bagi mereka yang beranggaran pas-pasan, tanpa mengorbankan kepuasan dan kenikmatannya. Di Balikpapan memang banyak pilihan makan ikan-ikanan, mulai yang kelas menengah ke atas hingga atas sekali, sampai yang kelas menengah ke bawah hingga bawah sekali.

Lalu meluncurlah ke warung makan Padaidi. Kalau boleh ini saya kelompokkan ke dalam kelas menengah ke bawah, dari sisi harganya. Lokasinya tidak jauh dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Begitu keluar dari bandara langsung belok kanan, masih di Jalan Marsma Iswahyudi, mengikuti jalan alternatif yang menuju ke Samboja atau Muara Jawa. Tidak jauh dari bandara setelah melewati jembatan, warung Padaidi ada di sisi kanan jalan. Dari luar memang kurang telihat jelas keberadaan warung yang lebarnya hanya empat meteran ini. Kurang tampak tampilan warungnya karena tertutup oleh spanduk lebar berwarna hijau toscha pudar.  

Apa yang menarik dengan menu makan di warung ini? Pada spanduknya tertulis “sedia ikan bakar dan ayam bakar”. Namun cobalah untuk memesan menu ikan bakarnya dan pilihlah antara ikan trekulu bakar atau bandeng bakar. Inilah menu unggulannya.

Ikan bakar yang disediakan biasanya sudah dipotong-potong. Satu porsi bandeng atau trekulu bakar hanya berupa sepotong ikan yang berukuran sedang. Kira-kira setiap ekornya dipotong menjadi empat, satu bagian kepala, dua bagian badan dan satu bagian ekor. Dagingnya yang tebal dan padat, cukup untuk dihabiskan bersama sepiring nasi putih, secawan sambal dan lalapannya yang terdiri dari kol, mentimun dan kacang panjang. Nasinya disediakan dalam wadah tersendiri, sehingga bisa bebas kalau mau nambah.

Agak istimewanya, setiap porsi disertai dengan kuah sop kaldu ikan yang hanya berisi sedikit potongan kecil wortel, kentang dan daun bawang. Itupun hanya sepertiga mangkuk isinya. Sekedar membantu membangkitkan selera makan, memperlancar masuknya makanan menuju tembolok dan (sudah barang tentu) sedap benar rasa kaldu ikannya. Sambalnya yang tidak terlalu pedas juga enak dan membuat ingin terus mencocolnya.

Potongan-potongan ikan itu dibakar menggunakan bara api. Tingkat kematangannya bisa merata dan tidak sampai menimbulkan bagian-bagian kulit ikan yang kelewat gosong. Akibatnya tingkat keempukan daging ikannya juga merata. Pas untuk dicuwil pakai tangan, pas untuk dicocolkan sambalnya yang berwarna jingga dan sedap itu, dan pas untuk dikunyah 33 kali, kalau sabar…..

Meski hanya sebuah warung kecil, tapi bila tiba jam makan siang seringkali calon pemakan harus rela antri untuk dilayani. Sesuai kelasnya, kebanyakan pelanggannya adalah pegawai atau karyawan perusahaan yang banyak tersebar di sepanjang jalur alternatif Balikpapan – Samboja. Banyak juga yang pesan untuk dibungkus dibawa pulang, atau untuk makan siang di kantor.

“Padaidi”, nama warung ini, dalam bahasa Bugis berarti “bersama kita”. Siapa saja boleh meneruskan kata itu dengan apa saja, termasuk “bersama kita bisa” atau “bersama kita makan ikan” (saya lebih suka yang kedua…). Tapi Padaidi juga adalah nama sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Bisa jadi pemiliknya berasal dari sana.

Jam buka warung ini biasanya pagi, tapi jam tutupnya ternyata tidak tentu. Begitu persediaan ikan habis, ya tutup. Dan biasanya kalau cuaca lagi cerah, menjelang sore sudah habis. Seperti pengalaman saya ketika hendak mampir untuk kedua kalinya di waktu sore, ternyata sudah tutup. Entah kenapa pemilik warung yang orang asli Bugis, sudah enam tahun ini tidak berniat untuk menambah stok sehingga bisa buka sampai malam. Barangkali memang sesederhana itulah “strategi” bisnisnya.

Yogyakarta, 5 Juni 2008
Yusuf Iskandar

Naik Air Asia? Pilih Rebutan Atau Ngalah

4 Mei 2008

Terbang menuju Balikpapan dari Jakarta bersamaan arus balik usai lebaran. Tidak banyak pilihan pesawat, kecuali kalau sudah booking jauh hari sebelumnya. Maka dapatlah tiket pesawat Air Asia (dulu AWAIR). Maskapai yang diakui bertarip murah dan cukup nyaman, dengan semboyannya “Now everyone can fly”. Banyak penghargaan internasional telah berhasil diraih. Salah satunya untuk tahun 2007, maskapai ini juga meraih predikat World Airline Awards – Best Low Cost Airline in Asia by SkyTrax. Meski Air Asia sudah cukup lama mengangkasa di Indonesia, tapi siang itu adalah pengalaman pertama bagi saya.

Pada karcis boarding tidak tertulis nomor kursi. Ketika saya tanyakan, jawabannya adalah bahwa berlaku rejim tempat duduk bebas (bukan bebas tempat duduk, nanti dikira lesehan). Saya manggut-manggut saja. Ketika tiba di ruang tunggu dan tampak penumpangnya berjubel, langsung terbayang apa yang akan terjadi ketika nanti panggilan boarding dikumandangkan.

Jam keberangkatan tergolong on-time, telat-telat beberapa menit masih okelah…. Konon, ketepatan waktunya berada pada level 90%-an. Begitu panggilan boarding menggema, spontan semua penumpang berdiri dan mak grudug…. mendekat ke pintu lorong yang menuju ke pesawat. Tapi ada kebijaksanaan tambahan. Bagi yang membeli karcis Xpress Boarding (akan dipanggil namanya) dipersilakan untuk masuk pesawat duluan. Barulah kemudian para penumpang “penggembira” alias peserta antrian umum sisanya berebut menuju pintu lorong.

Fasilitas Xpress Boarding dijual kepada penumpang siapa saja. Untuk penerbangan domestik harganya Rp 25.000,- (dewasa) dan Rp 12.500,- (anak-anak dan usia lanjut). Untuk penerbangan internasional sekitar dua kalinya. Cukup murah. Tapi tampaknya tidak banyak yang memanfaatkan fasilitas ini. Padahal dengan fasilitas ini dijanjikan bisa masuk pesawat duluan yang berarti dapat memilih tempat duduk. Fasilitas ini diberikan gratis hanya kepada mereka yang sudah udzur, usia di atas 65 tahun. Saya bayangkan kalau suatu saat nanti banyak penumpang yang membeli fasilitas Xpress Boarding, akan berebutan juga jadinya.

Serunya justru ketika giliran penumpang “penggembira” dipersilakan mulai masuk pesawat. Seperti mau antri beli karcis kereta api mudik atau nonon sepak bola. Para penumpang berebut untuk duluan, agak dorong-dorongan, meski lebih sopan dan tidak separah antrian pembagian zakat. Tapi tetap saja kudu siap agak himpit-himpitan karena didorong antrian yang di belakangnya.

Tidak itu saja. Selepas lorong terminal rupanya pesawatnya parkir agak jauh. Jadi harus naik bis pengantaran penumpang menuju ke pesawat. Penumpang pun pada memilih untuk berdiri di dekat pintu dan rela bergelantungan agar nanti bisa duluan naik tangga pesawat. Sampai-sampai sopir bis dan petugasnya harus berteriak-teriak agar tempat duduk yang telah tersedia berada di bagian depan dan belakang bis supaya diisi terlebih dahulu.

Ketika bis tiba di dekat pesawat dan pintu otomatis terbuka, para “penggembira” ini berhamburan menuju tangga pesawat. Barulah setelah sampai di dalam pesawat, longak-longok dan tolah-toleh mencari tempat duduk dan memilih kalau masih ada. Kalau kebetulan berada di urutan belakang saat memasuki pesawat, terpaksa harus menerima tempat duduk mana saja yang masih kosong tersisa.

Karena saya baru pertama kali menggunakan jasa maskapai Air Asia, saya membayangkan apa iya setiap hari kejadiannya seperti itu. Padahal setiap hari ada banyak penerbangan Air Asia. Saya tidak tahu persisnya, apakah mengatur nomor tempat duduk ada kaitannya dengan harga tiket yang murah. Saya tidak paham hubungan-hubungan efisiensi ekonomisnya.

Yang saya tahu bahwa untuk naik pesawat Air Asia diperlukan bekal kesiapan tambahan, yaitu siap rebutan untuk masuk ke pesawat lebih dahulu atau siap (me)ngalah yang penting tetap bisa duduk di dalam pesawat.

Kalau ada pepatah Jawa, “wong ngalah gede wekasane” (orang yang mau mengalah akan meraih kebaikan di belakang hari). Mestinya juga ada pepatah “wong rebutan gede rekasane” (orang yang mau berebut memerlukan energi ekstra). Bedanya, kalau yang pertama tanpa modal, dan “imbalan”-nya entah apa dan kapan. Kalau yang kedua bermodal tenaga dulu baru kemudian dapat hasil sesaat, ya milih tempat duduk itu. Tinggal pilih yang mana, mau rebutan atau ngalah…..   

Yogyakarta, 31 Oktober 2007.
Yusuf Iskandar

Ketika Pasutri Bugis Dan Manado Membuka Rumah Makan

7 April 2008

Pak H. Tahir yang asal Bugis bergandengan dengan ibu Jetty yang asal Manado, lalu pasangan suami-istri itu menyapa masyarakat Balikpapan dengan “Hai”. Maka, jadilah rumah makan “Bumahai”.

Sesederhana itu. Mulanya rumah makan ikan bakar yang terletak di jalan Marsma R. Iswahyudi itu mau diberi nama “Sepinggan”, karena lokasinya memang berada di jalan utama menuju bandara Sepinggan, Balikpapan. Kurang dari sepuluh menitan dari bandara. Tapi mengingat kata sepinggan bisa berarti sepiring, Pak dan Bu Tahir ini ciut juga nyalinya. Jangan-jangan nanti pelanggannya hanya memesan sepiring dua saja lalu pergi. Akhirnya ditemukanlah judul “Bumahai” itu.

Apalah artinya sebuah nama. Tapi pilihan nama memang perlu karena dia adalah brand image, dan selalu ada harapan atau filosofi di baliknya. Perkara maknanya pas atau plesetan, itu soal lain.

***

Restoran yang menyediakan menu masakan Bugis dan Manado dengan bahan dasar ikan ini memang layak untuk disambangi. Sejak berdiri 12 tahun yang lalu ketika masih berada di pinggir jalan, hingga kini pindah agak masuk di belakang pertokoan dan menempati area yang lebih longgar, rumah makan ini banyak dan sering dikunjungi para pengudap dan penikmat makan. Racikan bumbu dan olahan setiap menunya tergolong huenak dan pas di lidah siapa saja. Bukan saja penggemar menu Bugis atau Manado.

Sebut saja aneka ikan baronang, terkulu, bawal, kakap, patin, kerapu, udang, cumi dan kawan-kawannya dari laut yang diolah menjadi menu gorengan atau bakaran. Salah satu menunya adalah woku belanga, yaitu ikan dimasak kuah ditambah dengan asam dan sedikit kunyit. Coba dan rasakan sruputan pertama kuahnya. Wuih….cesss…., kuah agak bening kekuningan mengalir di tenggorokan dengan taste yang khas.

Juga ikan bakar atau goreng dengan bumbu kuning, rica atau goreng biasa, rasa gurihnya terasa tidak berlebihan dan proporsional. Oseng kangkungnya divariasi dengan bunga pepaya (biasanya dari jenis pohon pepaya laki-laki, dan entah kenapa pohon pepaya perempuan kok tidak keluar bunganya sebanyak pepaya laki-laki), dengan ramuan bumbu khas Manado yang pas benar pedasnya. Sehingga bagi lidah Jogja yang terbiasa dengan rasa manis pun tidak terasa terganggu.

Daun ubi dicampur dengan daun pepaya rebus, dipadu dengan sambal tomat dan irisan bawang merah, memaksa saya menambah pesanan sepiring lagi. Perkedel jagungnya juga beda dari yang biasa saya jumpai di Jawa. Perkedel dengan prithilan jagungnya dibiarkan utuh, tidak diparut atau di-ulek (dihaluskan), dicampur dengan adonan tepung sehingga menyelaputi tipis saja. Tapi tetap terasa renyah, empuk dan butir jagungnya tidak menggangu kerja gigi untuk mengunyahnya.

Rasanya pantas kalau rumah makan “Bumahai” ini pada tahun 2001 pernah dianugerahi ASEAN Social and Economic Cooperation Golden Award, khusus bidang Food and Service. Hingga kini rumah makan “Bumahai” tetap ramai dikunjungi pelanggan, terutama pada jam-jam makan siang. Buka seharian hingga malam, kecuali kalau hari Minggu, sore hari sudah tutup.

Demi menjaga kualitas sajiannya, Bu Jetty turun tangan sendiri untuk masalah quality control terhadap bumbu dan cita rasa. Agaknya unit usaha rumah makan ini tetap menjadi andalan bagi keluarga Pak Tahir, kendati tetap menekuni bidang-bidang bisnis lainnya.

Harga yang mesti dibayar untuk kepuasan urusan selera lidah dan perut ini termasuk wajar untuk ukuran biaya hidup di Balikpapan yang rata-rata lebih tinggi dibanding kota-kota besar di Indonesia lainnya. Pelayanannya pun cukup memuaskan. Kalau ada kesempatan dibayari, rasanya saya tidak akan menolak untuk diajak mampir ke “Bumahai” lagi. Namanya juga dibayarin…, enggak ada ruginya….

Cengkareng, 9 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

Pengantar :

Berhubung tidak kebagian tiket pesawat Balikpapan – Tanjung Redeb, maka akhirnya saya dan 4 orang teman nekat menempuh perjalanan darat menyusuri jalan Trans Kalimantan atau juga disebut dengan jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb. Perjalanan ini adalah dalam rangka kunjungan ke lokasi tambang batubara di wilayah Kabupaten Berau, Kaltim, dari tanggal 4 sampai 7 Januari 2008. Berikut adalah catatan perjalanan saya, dan masih ada beberapa catatan kuliner yang saya tulis terpisah. Sekedar ingin berbagi cerita.  

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb
(2).   Pesona Wisata Yang Luar Biasa Ada Di Berau
(3).   Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb
(4).   Ketika Gadis Jawa Tertipu Di Teluk Bayur
(5).   Penumpang Kepagian

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Muara WahauHari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Yogyakarta, 11 Januari 2007.
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(5).   Penumpang Kepagian

bandara2Akhirnya saya harus meninggalkan Tanjung Redeb. Tidak seperti ketika berangkatnya perlu 20 jam melewati jalan darat dari Balikpapan. Saat kembali ke Balikpapan saya sudah pesan tempat untuk menggunakan moda angkutan udara dari Tanjung Redeb.

Menurut jam penerbangan yang terulis di tiket, pesawat Trigana Air jurusan Tanjung Redeb – Balikpapan akan tinggal landas jam 6:45 pagi Waktu Indonesia Tengah. Jam 5:30 pagi saya sudah meninggalkan hotel dan berjalan kaki ke persimpangan jalan untuk mencari taksi yang akan mengantarkan saya ke bandara. Yang disebut taksi di Tanjung Redeb (juga di banyak kota umumnya di luar Jawa) adalah angkutan kota.

Tidak terlalu lama saya berdiri sendiri di pagi hari yang sepi di perempatan jalan terdekat (di pinggirnya tentu saja), hingga kemudian sebuah taksi berlalu dan menawarkan diri untuk ditumpangi. Saya lalu naik dan bergabung dengan beberapa penumpang yang sudah lebih dulu ada di dalamnya. Para penumpang itu rupanya semua menuju ke pasar. Maka selepas pasar, tinggal saya satu-satunya penumpang yang tinggal.

Mengetahui tujuan saya adalah bandara Kalimarau, pak sopir taksi yang ternyata berasal dari Jember itu menawari saya agar taksinya dicarter saja sehingga langsung menuju bandara dan tidak menarik penumpang di jalan. Ongkosnya seperti biasanya Rp 40.000,- katanya. Khawatir terlambat tiba di bandara, saya lalu menyetujuinya.

Di perjalanan pak sopir bertanya : “Ke bandara kok pagi sekali, pak?”. Saya tidak langsung menjawab, melainkan feeling saya mengendus sepertinya ada sesuatu yang tidak biasa. Tapi apa?

Baru kemudian saya menjawab : “Iya, pesawatnya jam 6:45”. Pak sopir hanya bergumam pendek : “Oo…, biasanya kok agak siang”. Saat itu hari memang masih tampak pagi sekali dan masih gelap seperti malam. Mulailah detector pada indra perasaan saya pertajam. Jangan-jangan saya kepagian. Jangan-jangan saya salah melihat tulisan jam di tiket. Jangan-jangan pak sopir benar bahwa biasanya memang penerbangan agak siang. Atau, jangan-jangan jam di handphone saya (saya tidak biasa pakai arloji) masih jamnya WIB. Berbagai jangan-jangan lalu berkecamuk di dalam otak saya. Ah, sebodo teuing, yang penting segera tiba di bandara.

Jarak dari kota Tanjung Redeb ke bandara Kalimarau memang hanya sekitar 7 km, melewati jalan yang menuju ke arah Teluk Bayur, lalu belok ke kiri sekitar satu kilometer. Maka tidak terlalu lama akhirnya saya dan taksi sewaan tiba di bandara Kalimarau.

Lha, rak tenan……! Kekhawatiran saya menjadi kenyataan. Bandara masih sepi mamring….. Rasanya seperti sedang berdiri di depan gerbang rumah suwung dalam film horror. Hari masih pagi umun-umun, ketika saya dan taksi sewaan tiba persis di depan pintu gerbang bandara. Moncong taksi berhenti pada jarak dua meteran dari pintu gerbang bandara yang masih tutup.

Njuk piye iki …(harus bagaimana ini…?). Saya tolah-toleh tidak ada manusia satu pun di seputaran bandara. Untuk meyakinkan, saya tanya pak sopir taksinya, apa benar ini bandaranya. Pak sopir pun menjawab dengan meyakinkan bahwa memang itu bandaranya. Lalu pak sopir taksi saya minta agar menunggu dulu sesaat, sementara saya mencoba melihat-lihat kembali tiket saya di bawah penerangan remang-remang lampu kabin taksi. Pertama, saya pastikan lagi bahwa jam yang tertulis di tiket benar. Kedua, baru saya cari nomor tilpun agen Trigana Air yan tertulis di sana.

Agen Trigana Air Tanjung Redeb saya tilpun tidak ada yang mengangkat. Menilpun agen Balikpapan juga tidak ada yang mengangkat. Lalu agen Yogayakarta tempat saya membeli tiket dan agen Jakarta apalagi, mungkin petugasnya masih pada ngrungkel, menarik selimut. Tujuan saya menilpun sebenarnya hanya ingin memastikan bahwa apakah penerbangan Tanjung Redeb – Balikpapan hari itu ada, atau ditunda, atau malah dibatalkan. Agar saya tahu apa yang harus saya lakukan di pagi yang masih rada gelap dan sepi, sendiri ditemani sopir taksi (sendiri tapi ditemani….).

Setelah lima belas menitan saya tidak berhasil memperoleh informasi apapun. Akhirnya saya persilakan pak sopir taksi untuk meninggalkan saya sendiri (kali ini baru benar-benar sendiri tiada yang menemani…). Kasihan pak sopir taksi yang sebenarnya harus mengejar setoran. Pak sopir pun saya bayar Rp 50.000,- termasuk tip untuk menemani saya yang lagi bingung di depan gerbang bandara. Jadi, ada ongkos menemani orang bingung Rp 10.000,-

Namun sebelum pak sopir pergi, dia membantu saya membuka pintu pagar bandara. Rupanya pintu gerbangnya mudah dibuka, hanya diikat rantai saja tanpa gembok. Saya lalu jalan melenggang menuju teras bandara. Saya geleng-geleng kepala, bandara kok kotor dan seperti tidak terurus dengan baik.

Setelah tengok sana, tengok sini, longok sana dan longok sini, akhirnya saya lihat ada pos penjagaan yang ketika saya intip ternyata petugasnya sedang tidur ditonton oleh pesawat televisinya yang sedang menyiarkan siaran sepak bola. Pura-pura tidak tahu kalau penjaganya sedang tidur, saya ketok pintunya agak keras. Lalu saya tanyakan kepada petugas jaga yang kaget saya bangunkan, jam berapa jadwal pesawat ke Balikpapan. Dijawabnya, biasanya jam 8-an.

Lhadhalah….., berarti saya kepagian tiba di bandara, kecepatan hampir 2 jam. Saya segera menyimpulkan bahwa agen penjual tiket di Yogya pasti salah menuliskan jamnya. Bodohnya saya, kenapa tidak saya cek dulu sebelumnya……

***

Kejadian ini tidak seharusnya saya alami, kalau saja saya mau menyempatkan sebelumnya untuk melakukan rekonfirmasi kepada agen Trigana Air tentang tiket keberangkatan saya ke Balikpapan hari itu. Gara-gara kelewat yakin, karena sebelumnya tidak pernah terjadi kesalahan semacam ini. Ada baiknya, kita melakukan rekonfirmasi tiket pesawat setiap kali sebelum melakukan perjalanan udara. Meski sebelumnya tidak pernah terjadi kesalahan penulisan tiket, tapi menjadi menjengkelkan kalau sekalinya terjadi justru kita yang mengalami.

Siwalan…! Hari itu saya telah melakukan kebodohan yang semestinya bisa dihindari. Pihak penjual tiket di Yogya memang salah telah menuliskan jam penerbangan 2 jam lebih cepat. Tapi ketika kesalahan itu telanjur terjadi dan berakibat menimbulkan ketidaknyamanan diri kita, njuk lalu mau marah sama siapa….?

Klimaks kejengkelan terjadi di saat orang-orang masih pada tidur, di tempat yang jauh jaraknya. Kalau pun bisa marah lewat tilpun, ya menghabis-habiskan pulsa saja alias sia-sia (heran juga saya, marah kok masih bisa mikir untung-rugi). Paling-paling ya marah atas kebodohan diri sendiri. Sambil duduk bersandar di bangku tunggu di depan pintu masuk bandara, sambil kaki dijulurkan ke lantai yang kotor, sambil menulis SMS untuk dikirim ke penjual tiket langganan saya di Yogya.

Isinya maki-maki? Tidak. Terlalu sayang rasanya kalau hari indah saya harus saya awali dengan marah. Kira-kira saya bilang begini : “Hari ini saya kepagian tiba di bandara Tanjng Redeb, malah saya yang membuka gerbang bandaranya. Jam yang tertulis di tiket ternyata kecepatan 2 jam. Mudah-mudahan sekarang sudah punya jadwal yang baru”. Ponsel saya tutup, lalu memejamkan mata sambil dheleg-dheleg…… mengiringi matahari yang semakin terang menyinari bumi…..

(Untungnya kejadian itu menimpa orang yang sudah terbiasa mengalami banyak hal yang tidak mengenakkan dan yang lebih penting….. bisa menikmatinya. Sebab bisa menjadi bahan cerita, meski cerita tentang kebodohan, agar dapat dihikmahi oleh orang lain. Huh! Enak sekali jadi orang lain…..).

Orang pertama yang kemudian tiba di bandara setelah saya adalah pengelola kantin yang berada di sisi sebelah kanan bandara. Segera saya susul ke kantin. Seorang ibu yang sedang menyiapkan perlengkapan kantin sebelum buka, saya mintai tolong untuk mendahulukan menjerang air agar segera bisa disiapkan segelas kopi panas. Ibu itu mau juga. Barangkali saya pembeli pertama yang dianggapnya sebagai penglaris. 

Sekitar jam 8:15 ketika bandara mulai agak ramai, saya tinggalkan kantin dan masuk ke bandara seperti penumpang lainnya. Ada sepenggal kebanggaan, ketika melewati semua proses pemeriksaan di depan petugas security, lalu mengurus chek-in, lalu membayar pajak, lalu membeli asuransi, lalu menyapu pandang kepada segenap penumpang yang sudah lebih dahulu duduk di ruang tunggu, dan terakhir ketemu orang di toilet (sudah kebelet sejak tadi…..)  Kebanggaan? Kalau saja mereka tahu, bahwa hari itu sayalah yang membuka pintu gerbang bandara…..

Yogyakarta, 20 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Pantas Iri Dengan Kota Samarinda

19 Maret 2008

Orang akan mengatakan bahwa kota Balikpapan adalah pintu gerbang propinsi Kalimantan Timur, meskipun kota Samarinda adalah ibukotanya. Balikpapan memang telah beranjak menjadi kota besar, padat, ramai, dan berkembang pesat. Kelebihannya kota ini tergolong kota yang enak dikunjungi, rapi dan suasana kotanya relatif tertib.

Namun coba agak menjauh ke utara sejauh 115 kilometeran menuju kota Samarinda. Sungguh sayang, ibukota propinsi yang tahun depan akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional ini memang juga tergolong padat dan ramai, tapi suasana lalu lintas kotanya sungguh bertolak belakang. Cenderung semrawut.

Bagi mereka yang baru pertama kali mengemudikan kendaraan di kota ini rasanya mesti ekstra hati-hati. Dibandingkan dengan kota-kota besar ibukota propinsi lainnya di Indonesia, suasana berlalulintas di kota Samarinda terasa sekali sangat berbeda. Terutama dengan sopan-santun pengemudi kendaraan sepeda motor. Betapa begitu membahayakannya.

Kita akan dikejutkan dengan sliwar-sliwer-nya sepeda motor yang memaksa menyalip mak srunthul dari kiri dan dari kanan dengan kecepatan tinggi, mak jegagik memotong di depan, mak kluwer dari samping, dan pokoknya…… ampun deh…..! Sangat jarang saya jumpai pak polisi menjaga di persimpangan jalan, meki tentunya ketidakberadaan pak polisi bukanlah menjadi sebab.

Pendeknya, lalu lintas sepeda motor di Jakarta dan di Jogja yang konon sudah dianggap semrawut, maka itu masih kalah dibandingkan dengan di Samarinda. Ternyata pengalaman yang saya ceritakan ini memang dibenarkan oleh banyak teman, baik yang sering berkunjung ke Samarinda maupun yang sudah bertahun-tahun menetap di sana.

Puluhan kali saya jumpai di persimpangan jalan berlampu-lalulintas. Yang hampir selalu terjadi adalah, ekornya lajur jalan yang baru berubah menjadi merah akan tempuk dan bundhet dengan kepalanya lajur yang baru berubah menjadi hijau. Maka jangan hueran kalau meskipun lampu sudah berubah menjadi merah, tapi pengguna jalan dengan tenang saja masih nyelonong memaksa masuk ke persimpangan. Uh…!

***

Kendati demikian, agaknya kita pantas iri dengan kota Samarinda. Bagaimana tidak? Bulan lalu kota ini meraih penghargaan dari pemerintah berupa anugerah tropi Wahana Tata Nugraha, sebagai lambang ketertiban lalu lintas. Tidak tanggung-tanggung, anugerah ini adalah untuk yang kesembilan kalinya.

Luar biasa. Bagi saya ini adalah hal luar biasa. Luar biasa sulit dipahami. Bisa jadi pandangan saya sangat subyektif. Tapi melihat pengalaman selama ini, rasanya kok hil yang mustahal kalau bisa sembilan tahun berturut-turut meraih anugerah lambang ketertiban lalu lintas kota……

Rupanya warga kota Samarinda sendiri kelihatannya “risih” dengan penghargaan itu. Setiap kali tropi diraih, setiap kali pula diarak keliling kota, dan setiap kali pula warganya “cuek”, lebih memilih sibuk di warung kopi memperbincangkan kontroversi penghargaan yang diraih kota itu. Ini kata pak Walikotanya sendiri, yang saya baca di koran lokal.

Dan, pak Walikota pun bertekad untuk mempertahankan prestasi ini agar tahun depan berhasil menyabet penghargaan Wahana Tata Nugraha untuk digenapkan menjadi kesepuluh kali.

Dalam hati saya (mungkin juga sebagian warga kota Samarinda) bertanya-tanya, apanya yang sebenarnya hendak dipertahankan…… tropinya atau semrawutnya?

Yogyakarta, 27 Mei 2007
Yusuf Iskandar

Sambil Menyelam Minum Air, Antara Penajam – Kariangau

19 Maret 2008

Tengah hari di bulan lalu, di kapal fery dalam penyeberangan dari Penajam menuju Kariangau, Balikpapan. Duduk di salah satu bilik dek penumpang sambil menonton acara televisi yang terkadang gambarnya jelas terkadang blawur. Nonton TV yang dipaksakan. Sebab di sisi kiri dek ada yang buka counter jualan kaset, CD, VCD dan sebangsanya, dengan alat peraganya adalah (juga) televisi dan sistem tata suara yang disetel dengan volume tak kira-kira. Mendingan kalau sound system-nya baru diperbaiki seperti pentas “Sejati”, Emang bikin bangga….. Lha ini, ngudubilah budek kupingku……! Tapi, ya itulah pilihannya.

Di bilik dek penumpang sebelahnya yang agak luas, penumpangnya tidak terlalu penuh. Di sana sedang diperagakan oleh seorang awak kapal, tentang tata cara penggunaan alat pelampung. Ini dia….! Seingat saya, sebelumnya saya belum pernah menyaksikan peragaan busana baju musim keadaan darurat di air, di atas kapal penyeberangan.

Saya sempatkan untuk mengikuti agenda penting ini. Sebentar saja. Meski sudah berkali-kali saya mengalami ritual semacam ini setiap kali naik pesawat, namun tetap saja agenda ini tidak saya lewatkan. Tujuan saya satu. Bukan ingin tahu bagaimana cara menggunakannya. Sebab saya pikir tidaklah jauh berbeda dengan alat pelampung di pesawat, atau pernah juga terlihat di kolam renang (hasil kreatifitas oknum tidak bertanggugjawab….., maksudnya penumpang pesawat yang minta bonus dengan cara mencuri alat pelampung di pesawat).

Tujuan saya mengikuti agenda ini adalah ingin tahu di mana alat pelampung itu diletakkan. Sehingga kalau-kalau terjadi keadaan darurat di air, tahu mesti bergerak kemana untuk mengambilnya. Pasti tidak di bawah tempat duduk, wong di bawah tempat duduknya bisa untuk brobosan…..

Namun huerannya…. Pertama, meski acara penting sedang berlangsung, suara musik dari tukang jual kaset di dek sebelahnya tetap saja jedag-jedug… bunyinya. Kedua, tidak semua penumpang tertarik untuk mendengarkan penjelasan awak kapal. Malah sebagian penumpang memilih berdiri di pinggir luar sambil melihat pemandangan laut. Padahal mereka pastinya tidak membeli tiket berdiri seperti di kereta api.

Meskipun tidak ada aba-aba “tegakkan sandaran kursi dan kencangkan sabuk pengaman”, mestinya agenda ini tidak ditinggalkan. Bagi awak kapal tentu memerlukan persiapan sungguh-sungguh untuk menyelengarakan acara “baru” semacam ini. Demi keselamatan penumpang. Saya tidak tahu apakah di kapal-kapal penyeberangan yang lain juga ada ritual yang sama. Mestinya tragedi KM Senopati memberi hikmah pelajaran sangat berharga. Terlebih, yang terakhir tragedi tenggelamnya bangkai KM Levina I yang memakan korban wartawan TV dan anggota Puslabfor.

***

Saya memang hanya menyempatkan mengikuti acara penting ini sebentar saja. Kenapa hanya sebentar? Ya karena acaranya memang sebentar. Selebihnya yang lama justru acara ikutannya, dimana forum itu lalu dimanfaatkan sebagai media promosi. Bergantian para SPM (Sales Promotion Man) bak tukang obat menawarkan barang dagangannya. Mendingan kalau SPG kemayu berrok mini…….. Entah barang apa yang ditawarkan, saya tidak lagi tertarik mengikutinya. Lebih baik “terpaksa” nonton televisi bergambar blawur dengan iringan musik jedag-jedug….

Tidak salah juga sebenarnya memanfaatkan forum umum untuk promosi, sepanjang masih dalam koridor “fair play business”. Bagi pelaku bidang pemasaran, ini adalah peluang untuk menjual. Bagi pengusaha kapal, saya tidak tahu apakah ada fee yang diterima dari penjaja dagangannya, atau justru ini usaha sampingannya sang pengusaha kapal. Sekedar memanfaatkan momen opportunity, menangkap peluang bisnis. Seandainya saya jadi pengusaha kapal, sah-sah saja rasanya kalau saya juga buka counter swalayan di atas kapal dan berpromosi kepada para penumpang saya.

Barangkali bak kata pepatah, sambil menyelam minum air. Hanya masalahnya, pengusaha kapal yang menyelam, tapi penumpangnya yang kelhegen (terminum) air…….. 

Yogyakarta, 28 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 24 Juli sampai 29 Juli 2006, saya melakukan perjalanan darat menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan dari Banjarmasin (Kalsel) menuju Samarinda (Kaltim). Ini adalah perjalanan traveling dalam rangka urusan pekerjaan sambil jalan-jalan. Berikut ini adalah catatan perjalanan saya.

(1).   Pergi Ke Rantau
(2).   Sarapan Ketupat Haruan 
(3).   Pergi Ke Atas 
(4).   Mencari Batubara Di Pasir 
(5).   Menyantap Trekulu Bakar 
(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif
(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama
(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”
(9).   Menyeberang Ke Balikpapan
(10). Di Tepinya Sungai Mahakam
(11). Nggado Ikan Puyu Goreng Garing
(12). Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy
(13). Tenggarong Di Waktu Sore
(14). Rebutan Bukit Soeharto
(15). Tragedi Pembantaian Massal Di Kota Minyak
(16). Kenapa Disebut Balikpapan?