Archive for April, 2011

Kedondongku

28 April 2011

Kedondongku — Tinggi pohonnya kurang dari 2 meter. Terus berbunga, terus berbuah, dan akan terus kupetik, kubanting dan kubrakoti… (kumakan) setiap kali aku dinas ke tokoku di Madurejo, Prambanan, DIY. Seperti tak kan habis dalam semusim…

Yogyakarta, 26 April 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Menjengkelkan

28 April 2011

Anak lanang kalau sudah pelajaran bahasa Inggris di kelasnya suka “malas”. Tahu-tahu kirim SMS kepada bapaknya menanyakan arti sebuah kata yang asing dalam kosa katanya. Tidak perduli bapaknya lagi methentheng (konsentrasi) menyelesaikan hitung-hitungan laporan, menyusul kemudian sederet beberapa kata lagi ditanyakan artinya.

Giliran berikutnya kirim SMS lagi: “Pak, ‘miffed’ tu apa?”. Maka dengan cepat kubalas dalam bahasa Jawa: “njengkelke… (menjengkelkan)”.

Yogyakarta, 26 April 2011
Yusuf Iskandar

Kesal Tapi Syukur

28 April 2011

Sedang tergesa-gesa mau dinas ke toko, datang kiriman paket untuk anak kost. Uugh, kesalnya hatiku. Terpaksa mobil dimatikan dulu, menerima paket, balik ke rumah membawa paket. Ee.., lha ternyata pintu rumahku belum saya kunci, bahkan masih membuka sedikit. Kekesalan pun berubah menjadi kesyukuran.

Betapa sering Tuhan membantu kita dengan cara yang tidak disangka-sangka. Tapi kita jarang mengenangnya sebagai kebaikan yang layak dibalas. MengingatNya pun sering tak sempat.

Yogyakarta, 26 April 2011
Yusuf Iskandar

Paskah Membawa Berkah

28 April 2011

Satu toko yang dikelola ‘boss’ saya berlokasi di kawasan Bintaran, Jogja. Di seberangnya ada gereja Katholik yang terkenal dengan nama gereja mBintaran.

Akhir pekan Paskah kemarin di gereja tua ini banyak kegiatan keagamaan dan lebih ramai dikunjungi para jemaat dibanding biasanya. Walhasil, toko “Bintaran Mart” juga kecipratan barokah telur paskah, diampiri pengujung… Puji Tuhan walhamdulillah, Paskah membawa berkah…

Yogyakarta, 25 April 2011
Yusuf Iskandar

Huntara Prumpung Menanti Bantuan

28 April 2011

Mestinya hari ini saya ingin dapat hadir ke dusun Sudimoro, desa Adikerto, kecamatan Mntilan, Magelang. Di sana sedang berlangsung acara peresmian huntara (hunian sementara) bagi 10 warga Sudimoro yang rumahnya buablass disapu banjir lahar dingin Merapi yang melalui kali Pabelan.

Rumah berkonstruksi bambu di atas tanah sawah itu 100% dibangun dengan dana swadaya. Kini, huntara lain di desa Prumpung sedang dibangun dan menanti uluran bantuan…

Yogyakarta, 24 April 2011
Yusuf Iskandar

Nggak Enaknya Nggak Enak Badan

25 April 2011

Pengantar:

Beberapa hari yll saya merasa tidak enak badan karena terkena serangan gejala flu. Saya menceriterakan pengalaman nggak enak tentang nggak enaknya nggak enak badan, melalui cersta (cerita status) yang saya tulis di Facebook. Berikut ini kumpulan catatan saya itu. Seperti biasanya, sekedar ingin berbagi “dongeng” dari sudut pandang yang berbeda.

——-

(1)

Setelah beberapa hari kluntrak-kluntruk (lesu wal ogah-ogahan) karena tidak enak badan, meriang, nggreges (demam), gejala flu, tenggorokan gerok (serak), ingusan, akhirnya pada Jum’at Agung ini saya siap kembali ke Facebook.

Yang jadi soal bukan serangan sakitnya, melainkan selama periode sakit itu saya tetap kemana-mana. Haha…, pada batas tertentu saya tidak mau mengikuti irama sakitku, tapi sakit itu yang saya paksa harus mengikuti iramaku..

(Note: Lebih seminggu saya tidak buka-buka Facebook karena malas dan serangan nggak enak badan itu tadi…)

(2)

Ketika tiba-tiba merasa tidak enak badan, diawali dengan meriang dan nggreges, yang terpikir adalah tubuh sedang diserang di saat kondisi sedang drop. Maka pertahanan saya adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Cara yang biasa saya lakukan adalah menggenjot asupan vitamin C. Minuman berkadar vitamin C tinggi saya tingkatkan “dosis”-nya plus istirahat cukup (mestinya).

Dalam banyak kesempatan saya diserang, biasanya cara ini cukup ampuh, asal tidak terlambat bertindak.

(3)

Minuman berkadar vitamin C tinggi yang biasa saya tenggak melebihi “dosis” (maaf tidak bermaksud promosi melainkan berbagi, ceritanya… bukan minumannya…) adalah You C1000 dan Adem Sari. Dan yang saya maksud melebihi “dosis” adalah saya meminumnya lebih dari yang dianjurkan per hari.

Jika sampai tiga hari kondisi tubuh tidak mereda, maka barulah saya pertimbangkan untuk minum obat kimia komersial seperti yang pathing pecothot diiklankan di televisi…

(4)

Bagaimanapun juga, ketika badan terasa tidak enak, maka kita sendiri yang dapat menilai (memutuskan), ini serangan sakit “standar” biasa seperti yang saya alami atau karena ada sebab lain.

Sebaiknya tidak digeneralisir karena semua penyakit tanda awalnya akan mirip-mirip begitu. Jika ragu, tentu lebih baik tanyakan kepada ahlinya (dokter). Dalam cerita pengalaman ini adalah saya haqqun-yakil karena gangguan kesehatan “standar” saat kondisi tubuh sedang tidak fit saja…

(5)

Sudah lama saya memang menghindar dari minum obat kimia komersial. Kalau bukan karena situasi darurat (memaksa) atau tidak ada pilihan lain, maka minum obat kimia saya hindari. Saya memilih untuk menggunakan cara lain seperti menu herbal atau asupan vitamin C yang sebenarnya sederhana, bisa dipenuhi dari cukup makan sayur dan buah.

Hanya saja kita ini jenis manusia “pemalas” untuk kedua jenis makanan itu. Padahal itu lebih “fast” ketimbang fast food manapun…

(6)

Selain memperbanyak asupan vitamin C melalui minuman, sayur dan buah (selain buah kacang dan durian), saat nggak enak badan, maka acara minum kopi terkadang saya ganti dengan minum teh tapi ditambah jeruk nipis dan madu…. Uuuhh, segernya..!

Belum lagi kalau ada jambu kluthuk (batu) lalu dibuat setup (diiris, ditambah gula dan kayu manis, direbus), diminum hangat… Uuuff, makin suegerr..!

Kalau masih kurang suwegerrr.., mandi air panas…!

(7)

Hal paling luar biasa kurasakan ketika sedang tidak enak badan, meriang, demam, parau, puciiing.., adalah menikmati saat-saat tidak nikmat itu. Melamun sambil membandingkan rasa tak berdaya dengan saat bejujakan (banyak ulah) ketika sehat. Ternyata bagaimanapun sehat itu lebih nikmat daripada tidak sehat. Tapi herannya, saya baru merasakan nikmatnya sehat justru ketika sedang sakit.

Maka pesannya: sekali-sekali sakitlah agar tahu nikmatnya tidak sakit, lalu bersyukur!

(8)

Lha wong sedang tidak enak badan (beberapa hari yll) kok ujuk-ujuk anak lanang yang sedang libur musim UN mengajak mendaki gunung Semeru (Jatim). Yaa.., gimana ya? Terpaksa tidak bisa kupenuhi ajakannya (walau kepingin).

Akhirnya anak lanang bikin agenda sendiri bersama teman-temannya mendaki gunung Lawu. Dan ini pendakiannya yang ketiga untuk gunung yang sama… “Selamat, Le…!”.

(9)

Pagi-pagi Jum’at Agung harus hadir ke acara pernikahan saudara. Lha, kalau ini baru cocok untuk orang yang sedang tidak enak badan. Segera diatur strategi agar jangan sarapan dulu dari rumah.

Tiba acara makan, lontong sate ayam, nasi sate dan gule kambing, zuppa soup, buah, teh hangat…bablasss, ditutup dengan duduk di belakang mengeringkan keringat, sebelum akhirnya pamit pulang. Kok badan jadi enak? Maka lain kali kalau sakit lagi harus cari orang punya gawe

***

(10)

Seorang rekan yang mengalami serangan flu urutan setelah saya bercerita kalau dirinya sedang mampir menikmati makan enak di luar. Kutanya: “Menunya enak enggak?”. Dengan semangat dia menjawab: “Enak bangeeet…” (‘e‘-nya panjang).

Dan komentarku: “Ooo berarti kamu sudah hampir sembuh. Sudah bisa membedakan mana yang enak dan mana yang enak banget… Maka kalau nanti mau mengecek semakin sembuh atau tidak, pergi saja lagi ke tempat makan yang enak…”.

(11)

Sesama penderita flu harus saling berkirim kabar. Seorang teman lain yang juga kena gejala flu dengan senang mengabarkan bahwa kondisi badannya sudah lumayan. “Cuma kalau bangun tidur saja terasa lebih parah”, katanya.

Maka yang dapat kunasehatkan: “Berarti satu-satunya cara agar kalau bangun tidur tidak merasa lebih parah, ya nggak usah bangun… Tidur saja terus, kalau sekiranya sudah merasa baik baru bangun…”.

(12)

Badannya meriang, tenggorokannya gatal, hidungnya mulai ingusan, akhirnya ke dokter juga walau awalnya keukeuh tidak mau karena tidak suka minum obat. Pulangnya membawa segepok obat dan bilang: “Mau kubuang ke tempat sampah”.

Serta-merta kucegah: “Jangan dibuang!”. Obat itu sudah ditebus dengan harga mahal. Lalu kusarankan: “Beli kertas asturo dan lem. Tempelkan obat-obat itu, buatlah hiasan dinding”. Sama-sama tidak diminum tapi ada manfaatnya.

(13)

Serangan flu sudah mereda, tapi masih menyisakan ingus yang cukup mengganggu… Malam Minggu, walau badan terasa agak malas, hadir juga saya di kondangan. Maka saya tempuh strategi blitzkrieg (serangan kilat, perang gaya suku Jerman). Datang, salaman, bakso, siomay, soto, es krim, buah, teh hangat, pulang…

Kurang dari satu jam sudah leyeh-leyeh di rumah, perut kenyang, badan keringatan…, tapi ingus tetap saja mengalir bak banjir lahar dingin…

***

(14)

Guna menyempurnakan pertahanan tubuh melawan serangan flu, maka menu jamu suplemen zonder obat kimia komersial adalah back to nature. Rebusan pasak bumi (untuk daya tahan tubuh) berseling dengan rebusan ciplukan (untuk peredaran darah) melengkapi asupan vitamin C yang “over dosis”.

Jangan tanya rasa pahitnya, apalagi resep darimana, bahkan tidak ada hubungannya pun tidak jadi soal. Yang penting saya berhasil memaksa irama sakitku untuk mengikuti iramaku…

Yogyakarta, 21-23 April 2011
Yusuf Iskandar

Tumis Kangkung Di Minggu Paskah

25 April 2011

Tumis kangkung dan telur orak-arik — Mengawali aktifitas Minggu Paskah dengan memasak tumis kangkung dan telur sayur orak-arik. Tumisnya tanpa terasi melainkan diganti dengan tempe umur 3 hari yang baunya sudah agak semangit. Sarapan serasa….., uuuhhhmmm….!!!

Yogyakarta, 24 April 2011
Yusuf Iskandar

Cara Termudah Untuk Tidak Sakit

25 April 2011

“Terkadang satu-satunya obat adalah menerima kehidupan kita…, apa adanya” (kata pastur kepada Ben dalam film “The Lazarus Project”) — Dengan kata lain: Siap menerima dan menghadapi kenyataan hidup dengan ikhlas adalah cara termudah untuk tidak sakit, fisik apalagi psikis…

Yogyakarta, 22 April 2011
Yusuf Iskandar

Kembali ke Merapi – Menunaikan Amanah

23 April 2011

Pengantar:

Sementara waktu saya telah meninggalkan Merapi untuk melakukan beberapa aktifitas lain ke luar pulau. Maka kini saatnya kembali ke Merapi. Melalui cersta (cerita status) yang saya tulis di Facebok ini sekaligus saya ingin menyampaikan laporan kepada para sahabat yang telah menitipkan amanah melalui saya berupa bantuan dana untuk korban Merapi, dimana pun para sahabat ini berada. (Tidak semua nama yang saya tulis initialnya di bawah ini saya ketahui persis dimana mereka berdomisili. Mudah-mudahan tidak ada yang terlewat saya sebut initialnya). Semoga Tuhan Yang Maha Esa berkenan memberi balasan yang jauh lebih baik kepada para sahabat yang telah berbagi. Terima kasih.-

——-

(1)

Saya awali cersta saya dengan penyaluran bantuan untuk korban Merapi. Ancaman bahaya Merapi memang tak kunjung reda hingga kini, terutama ancaman banjir lahar dingin. Bantuan yang saya salurkan berasal dari beberapa sahabat.

Cersta ini sekaligus saya maksudkan sebagai laporan. Walau para sahabat tsb minta tidak disebutkan namanya, tapi saya merasa perlu menuliskan initialnya. Semoga dimaklumi.

(2)

Seseorang menitipkan uang zakat untuk disalurkan kepada korban Merapi. Ada “treatment” berbeda untuk penyaluran zakat.

Adalah 10 warga Glagaharjo yang layak menjadi mustahiq (orang yang berhak menerima zakat). Maka zakat pun saya bagi 10 lalu disampaikan kepada mereka bahwa ada zakat senilai sekian dan saya akan membantu membelikan gedhek (dinding) bambu untuk sekedar tambahan rumah daruratnya

(Thanks untuk mbak DSA).

(3)

Seorang sahabat menitipkan sejumlah dana untuk disalurkan sebagai bantuan sekolah. Setelah dilakukan cek dan ricek, akhirnya saya salurkan ke sebuah TK Aisyiyah di desa Patosan, Muntilan, Magelang.

Seorang relawan membantu belanja alat tulis dan APE (alat permainan edukatif). Betapa cerianya anak-anak itu karena sejak erupsi Merapi mereka tidak memiliki alat bermain. Bantuan yang ada baru cukup untuk memperbaiki bangunan TK-nya.

(Nuwun untuk mas SNS).

(4)

Lahar dingin yang mengalir di Kali Pabelan sempat mengamuk dan memutuskan jembatan jalan raya Jogja-Magelang. Tak terkecuali beberapa rumah di desa Prumpung pun tersapu.

Kini sebuah pemukiman huntara (hunian sementara) berkonstruksi rumah bambu sedang diselesaikan. Maka sejumlah dana dari Papua dan Surabaya kemudian saya salurkan untuk membeli gedhek dan aten-aten, dinding anyaman bambu.

(Suwun untuk kang JB dan pak PJ).

(5)

Dua buah warung Mandiri (mencari donatur sendiri) kini sudah berdiri dan beroperasi di desa Kepuharjo, Cangkringan. Pemilik sekaligus pengelolanya siap menambah pemasukan dari kebaikan pengunjung wisatawan lokal yang singgah dan seringkali memberi pembayaran lebih dari yang ditawarkan. Dengan bantuan tim relawan kedua warung itu bisa terselesaikan.

(Terima kasih untuk mbak ES).

(6)

MCK di Glagaharjo juga sudah dalam tahap penyelesaian. Tambahan biaya sudah diberikan. Biayanya membengkak dari yang direncanakan karena penambahan ruang WC dan penguatan resapan. Tapi.., tahapan pembuatan bak di sumber airnya, oleh pak Dukuh diminta menunggu acara selamatan dulu.

Ini dia yang aku suka..! Bukan selamatannya, tapi ingkung-nya ittuu.., alias suguhan ayam goreng utuh….

(Nuwun untuk mas RW).

***

(7)

Ada yang mendesak butuh warung Mandiri. Kebetulan ada dana zakat yang harus disalurkan. Maka ke desa Glagaharjo, Sleman, akhirnya zakat itu diserahkan dan sekaligus dibantu diwujudkan menjadi sebuah warung.

Selain itu juga masih ada dana yang minta disalurkan untuk membantu sekolah di desa Sirahan, Magelang. Maka disalurkanlah dana itu untuk dua buah TK yang hancur diterjang lahar dingin.

(Terima kasih untuk mbak NK).

(8)

Masih ada dana bantuan dari para sahabat untuk korban Merapi yang tertunda saya salurkan karena saya harus tebang ke luar pulau. Dana itu akan saya alokasikan untuk tambahan material bagi bangunan huntara di desa Prumpung, Magelang; sarana air bersih di desa Dukun, Magelang; dan rencana mushola di Glagaharjo, Sleman.

(Thanks sekali lagi untuk mbak NK, juga para sahabat di Papua).

(9)

Sejauh ini bangunan huntara (hunian sementara) bagi korban lahar dingin sungai Pabelan di desa Prumpung masih membutuhkan tambahan dana. Selain itu, beberapa barak pengungsian, antara lain di Tanjung, Jumoyo, Ngrajek dan Sirahan (semua di wilayah Magelang) juga sangat membutuhkan tambahan prasarana penampungan air bersih.

Seorang relawan menghubungi saya minta dicarikan bantuan, tapi terpaksa belum bisa saya jawab, kecuali “Insya Allah”…

(10)

Gunung Merapi memang mulai beranjak istirahat, walau masih klisikan (tak nyenyak tidur). Ancaman erupsi mereda, berganti dengan ancaman banjir lahar dingin yang masih tak terkira kapan sirna.

Sementara pemerintah dan masyarakat lain sudah mulai disibukkan dengan kepentingan keseharian lainnya. Sebagian pengungsi masih berkutat di tempat pengungsiannya lengkap dengan permasalahan hidupnya. Galau menatap hari esok… Lalu?

Yogyakarta, 12 dan 21 April 2011
Yusuf Iskandar

Parikan Nguras Kolam

18 April 2011

Menyang toko ngeterke bu “boss”,
boncengan numpak sepeda motor…

Nguras kolam ora pisan-pindo nganti gemrobyos,
ben ndang ditambal lapisan cat anti bocor…

(Gak sepiroa kliyengan…)

Nandur salam kok ngunduh dondong,
dondong dipetik dirujak sak kulite…

Nguras kolam ora kakehan ngomong,
ngomonge sitik bar nguras diajak nyate…

(Waaa, cocok tenan…)

Yogyakarta, 12 April 2011
Yusuf Iskandar

Berulangkali Gagal Mengecat Kolam

18 April 2011

Rencana mau ngecat kolam ikan dengan pelapis anti bocor kok ya gagal terus… Sudah dikeringkan tinggal ngecat, malamnya hujan, kolam terisi air. Esoknya dikuras, dikeringkan, malamnya hujan lagi, kolam terisi air. Dikuras lagi, dikeringkan lagi, ndilalah malah sepanjang sore-malam-pagi hujan, kolam semakin penuh air.

Maka hari ini kolamnya saya ancam. Ini terakhir saya kuras. Kalau hujan lagi, yo wiss terserah… Sebelum vertigoku kumat!

(Hahaha…, akhirnya kolam berhasil saya cat dengan pelapis anti bocor. Esoknya cuaca benar-benar cerah. Hingga larut sore saya berhasil menyelesaikan pengecatan dinding dan dasar kolam sampai sekaleng cat warna biru pun habis. Semoga tidak bocor lagi… Ya, saya tahu bahwa pelapisan dengan cat bukan solusi utama melainkan hanya sekedar pelapis tambahan saja)

Yogyakarta, 12 April 2011
Yusuf Iskandar

Berdoa

18 April 2011

Berdoa di hari raya Jum’at, tinggi nilainya. Ketika doa dilafalkan dalam bahasa Arab, cuek saja sambil oman-amin menengadahkan tangan. Tapi ketika doa dilafalkan dalam bahasa daripada Indonesia, uuuh.., terbersit rasa malu di hadapan Tuhan atas dosa-dosa yang dilakukan.

Maka kalau ingin cuek, berdoalah dalam bahasa Arab. Kalau ingin malu berdoalah dalam bahasa Indonesia. Namun akan lebih manstaf berdoa dalam bahasa Arab tapi tetap bisa malu alias paham maknanya.

Yogyakarta, 8 April 2011
Yusuf Iskandar

Jika Perut Mulas

18 April 2011

Ketika sedang jalan-jalan, seorang teman tiba-tiba mengeluh sakit perut. “Perutku mulas…”, katanya. Kusarankan: “Coba cari batu, dikantongin, lalu jongkok…” (itu resep di masa kecil saya dulu).

“Tapi susah cari batu…”, jawabnya.

“Kalau begitu ganti saja dengan donat, biar saya bawakan deh…”. (Minimal kalau mulasnya sembuh, donatnya bisa dimakan ramai-ramai. Tapi kalau ternyata mulasnya tidak sembuh, saya tetap bisa makan donat, sedang dia tidak…).

Yogyakarta, 8 April 2011
Yusuf Iskandar

Sego Pecel Dengan Bunga Turi

18 April 2011

Bunga turi, bayam, kacang panjang, tauge, sambal kacang…, maka menjelmalah SGPC (sego pecel) untuk sarapan dan tempe bungkus daun pisang digoreng (tempenya yang digoreng, bukan daun pisangnya). Usai jum’atan ternyata sayurnya masih banyak, terutama bunga turinya itu lho…, ya ‘mecel’ lagee…

Turi, turi putih, ditandur ning kebon agung…(tembang Jawa populer sekian puluh tahun yll).

Yogyakarta, 8 April 2011
Yusuf Iskandar

Rutinitas Yang Melenakan

18 April 2011

Rute jalan itu saya lalui hampir tiga kali seminggu setiap pergi menuju tokoku di Madurejo, Prambanan, Jogja. Nyaris saya hafal tiap belokannya (yang hanya ada dua, ke kiri dan kanan). En toch begitu, ketika ban mobil kempes tadi sore, saya tidak tahu dimana gerangan tukang tambal ban terdekat.

Hmmm, rupanya rutinitas telah melenakan saya sehingga kurang perhatian terhadap hal-hal yang mestinya bernilai strategis. Jangan-jangan rutinitas yang lain juga sama…

Yogyakarta, 7 April 2011
Yusuf Iskandar

Mengisi Waktu Luang

18 April 2011

(1)

Mengisi waktu luang dengan memperbaiki kolam ikan di belakang rumah yang bocor. Hari pertama; menguras dan membersihkan kolam. Hari kedua, membongkar bagian-bagian yang pecah dan menutup dengan adonan semen + pasir. Hari ketiga, melapis dengan semen.

Belum sempat semua selesai, hujan turun…. Dan, lapisan semen pun morat-marit. Yo wis, terserah saja pada dunia… (Ya mau marah sama siappaa…).

‎(2)

Menambal kolam bocor… Ini pekerjaan gampang-gampang susah dan ringan-ringan berat, terutama untuk manusia setengah abad yang rentan terhadap vertigo. Bisa saja sebenarnya saya minta tolong orang lain untuk mengerjakannya dan saya tinggal mengawasi.

Tapi… (ya ini repotnya), ada gairah dan kepuasan tersendiri kalau saya bisa mengerjakannya sendiri. Maka keseimbangan antara faktor U (Umur) dan faktor G (Gairah) harus benar-benar terkontrol…

Yogyakarta, 7 April 2011
Yusuf Iskandar

Setahun Kelamaan

18 April 2011

Seorang bapak tua agak brewokan sebagian memutih, berkaos kegedean, bercelana lusuh, bersandal jepit, membawa ketipung diikatkan di depan perutnya dengan tali rafia, berdiri di depan tokoku, bernyanyi: “Cinta satu malam, oh indahnya…tek dung, tek dung…”.

Habis satu lagu, seorang sales memberinya uang koin entah berapa, berkata: “Mbok jangan cuma satu malam”.

Sambil senyum dan ngeloyor pergi, si bapak menjawab (dalam bahasa Jawa): “Setahun kelamaan…”.

‎Yogyakarta, 7 April 2011
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau

13 April 2011

Pengantar:

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya ketika melakukan kunjungan ke lokasi survey pemboran batubara di wilayah kabupaten Berau, Kaltim, dari tanggal 25 -31 Maret 2011.

Penggalan catatan ini saya posting di status Facebook sebagai cersta (cerita status) selama periode tanggal 25 Maret s/d 3 April 2011. Tulisan ini sudah saya edit dari tulisan aslinya agar lebih mudah dibaca dan diikuti alur ceritanya. Sekedar ingin berbagi dongeng.

(1) Terbang Ke Tanjung Redeb
(2) Terjebak Kubangan Lumpur, Bermalam Di Jalan Hutan
(3) Menikmati Pagi Sunyi Di Jalan Hutan
(4) Keluar Dari Hutan Dengan Bantuan Bulldozer “Curian”
(5) Bermalam Lagi Di Tanjung Redeb
(6) Mencoba Tidak Menyerah Dengan Upaya Kedua Dan Ketiga
(7) Merenung Untuk Mencoba Sekali Lagi Esok Hari
(8) Berhasil Di Upaya Keempat
(9) Cerita Dari Penghuni Camp
(10) Blusukan Ke Hutan Dan Menemukan Gunung Sinyal
(11) Bersiap Meninggalkan Hutan
(12) Terpaksa Bermalam Di Bedeng Dekat Dermaga
(13) Antara Petuah, Doa Dan Kerja Keras
(14) Terbang Kembali Ke Jogja

Yogyakarta, 25 Maret – 3 April 2011
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (1)

13 April 2011

(1) Terbang Ke Tanjung Redeb

(1)

Jogja – Balikpapan – Tanjung Redep (Berau)… “Tidak ada kemudahan melainkan karena Engkau mudahkan, dan sebaik-baik kemudahan adalah kemudahan yang Engkau berikan”.

(Note: Catatan pembuka, sambil duduk di ruang tunggu bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Siap-siap terbang dengan pesawat Lion Air dari Jogja ke Balikpapan)

(2)

Mestinya pesawat Batavia itu siang ini terbang ke Berau dari Balikpapan. Telanjur kubayangkan orang lain pada jumatan di darat, aku tidak jumatan di udara. Tapi kok ya ndilalah.., pesawat ke Berau delay tiga jam.

Setelah Tuhan “memaksa” aku terbang ke Berau alih-alih kemarin ke Bandung untuk melayat guruku, aku tetap diberi kesempatan untuk jumatan di Balikpapan. Maka “dirusak”-Nya sebuah pesawat Batavia, sehingga harus ada yang delay terbang. Betapa Maha Hebatnya Dia.

(Note: Guruku yang saya maksud adalah alm. Prof. Ir. RM Partanto Prodjosoemarto yang meninggal dunia kemarin di Bandung. Sesungguhnya saya berniat melayat, tapi rupanya sesaat sebelum saya mendengar kabar duka itu, saya telanjur mengkonfirmasi hari ini terbang ke Berau)

(3)

Bukan sekedar jumatan, syukurku bertambah karena sempat silaturrahim dengan mantan teman kerja yang sudah lebih enam tahun tidak bertemu. Lalu jumatan bersama di masjid “Istiqomah” di kompleks Total-Pertamina Balikpapan, lalu makan rawon di kantin masjid yang bergaya lesehan… Puji Tuhan wal-hamdulillah… (kenyang banget karena sejak pagi belum sarapan, hanya sempat ngupi…).

(4)

Jam 16:30 WITA pesawat yang delay lebih tiga jam dari Balikpapan akhirnya mendarat di bandara Kalimarau Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau (Kaltim). Rencana mau langsung menuju lokasi survey ditunda besok karena sudah kesorean.

Leyeh-leyeh dulu di hotel. Semalam di Tanjung Redeb. Insya Allah besok pagi baru menuju lokasi survey…

(5)

Bandara Kalimarau… Ini bandara yang sekitar tiga tahun yll aku pernah menjadi tukang buka pintu pagar depannya, gara-gara kepagian tiba di bandara. Bahkan kubangunkan Satpam yang ketiduran ditonton pemain bola di TV.

Kini tampak tidak banyak berubah, melainkan sebuah bandara baru sedang dibangun di dekatnya. Tidak besar, terkesan minimalis, dilengkapi dengan dua belalai (garbarata) kecil. Saya suka dengan belalai kecilnya. Menarik, untuk ukuran bandara kecil.

(6)

Bandara baru Kalimarau, Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau (Kaltim) yang sedang dalam tahap penyelesaian. Bandara kecil yang dilengkapi dengan dua belalai kecil… Sebuah lambang kemajuan kota seiring dengan meningkatnya kesibukan ekonomi daerah dimana mulai banyak aktifitas eksplorasi dan eksploitasi potensi tambang terutama batubara.

(7)

Taksi dari bandara Kalimarau adalah angkutan kota yang dicarter. Ongkosnya Rp 40 ribu ke kota Tanjung Redeb. Sampailah ke hotel “Sederhana” yang akhirnya saya pilih. Alasannya sederhana, ya karena hotel ini memang sederhana.

Agenda pertama biasa.., langsung nggeblak merebahkan badan, menggeliat, leyehan… Tak sesederhana namanya, hotel ini layak untuk tempat menginap, leyehan dan buang hajat. Ada AC, air panas, TV, mudah cari makan di luar…

(8)

Sambil menikmati suasana malam, mampir makan di sebuah warung dekat hotel. Dari ujung selatan Jl. Pangeran Antasari sampai tepian sungai Segah berjajar warung-warung menyajikan menu ikan-ikanan (tapi ikan beneran), ayam dan bebek.

Pilihanku bandeng goreng racikan seorang ibu asal Mojokerto yang sudah 12 tahun marung (membuka warung) di Tanjung Redeb. Selalu hati-hati kalau makan bandeng karena duri halusnya betebaran di sekujur tubuhnya.

(Jum’at, 25 Maret 2011)
Yusuf Iskandar

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau (2)

13 April 2011

(2) Terjebak Kubangan Lumpur, Bermalam Di Jalan Hutan

(9)

Cuaca Tanjung Redeb siang ini panas sekali, padahal matahari sudah lewat condong ke barat. Segera saya tinggalkan kota Tanjung Redeb ke luar ke arah barat untuk menuju ke lokasi survey mblusuk ke hutan di kawasan bernama Sambarata.

Jarak tempuhnya sekitar 70-an km, tapi waktu tempuhnya bakal bisa 3-4 jam melintasi jalan tanah serta naik-turun perbukitan. Itu kalau cuaca tidak hujan. Kalau hujan? Nggak tahu, mungkin malah nggak bisa lewat…

(10)

Kata teman seperjalananku yang sudah lebih dahulu naik-turun ke lokasi survey, cuaca cerah bin panas ini karena hari Jum’at kemarin mulai cerah. Maksudnya? “Biasanya kalau Jum’atnya cerah, maka dua-tiga hari kemudian juga akan cerah”, katanya sambil cengengesan.

Anyway, bismillahi tawakkaltu ‘alallohu laa haula walaa quwwata illa billahi… Maka Allahlah sebaik-baik penjaga…

(11)

Namanya juga mblusuk ke hutan. Sekitar 5 km menyusuri jalan raya Tanjung Redeb – Tanjung Selor, menyimpang ke barat ke Jl. Birang (menuju kampung Birang). Jalan berbatu, bertanah merah, berkubangan lumpur, hanya pepohonan menghiasi, mobil pun terseok-seok, entah untuk berapa jam ke depan. Sinyal ponsel mulai putus-putus, sebentar pasti akan menghilang, habis…

Dan, cerita status ini pun akan terputus dan berlanjut esok, lusa atau esoknya lusa. Insya Allah.

(12)

Baru sekitar setengah jam perjalanan dari Tanjung Redeb, sekitar 25 km, mobil 4WD yang kutumpangi terperosok kubangan lumpur… Uuugh! Dicoba diatasi tak juga berhasil.

Sore semakin remang, senja pun lenyap, gelap hadir di tengah jalan hutan. Jam 19 masih tak berkutik. Beruntung cuaca begitu cerah, bintang bertaburan di angkasa. Namun geluduk terdengar di kejauhan. Hanya nyanyian serangga malam dan serangga-serangga kecil beterbangan menemani. ‎

(13)

Tidak ada lagi yang dapat dilakukan selain mencari pertolongan. Pak sopir mencoba berjalan menuju bulldozer perusahaan logging, tapi sudah tidak ada orang.

Mencoba berburu sinyal yang sesaat timbul, beribu saat tenggelam. Seorang teman mencoba memanfaatkan yang sesaat itu untuk mencari bantuan. Berharap bantuan datang, jam berapapun adanya. Sambil harap-harap cemas agar tidak keburu hujan. Jika terlambat, maka bantuan pun tak akan bisa menuju. ‎

(14)

Terperosoknya mobil yang kutumpangi ini sesungguhnya bukan karena semata-mata kondisi alam, tapi lebih disebabkan kecerobohan sang sopir. Sebab mestinya masih ada bagian jalan yang bisa dipilih untuk menghindari kubangan. Entah kenapa sang sopir pede sekali menerabas kubangan. Maka sang sopir dan teman satu lagi saling menyalahkan dan berbantahan. Walau dalam nuansa guyon, tapi terdengar getir di telinga. Toh, sudah terjadi… ‎

(15)

Semakin malam, gelap gulita. Ada mendung berjalan-jalan di langit, menutupi taburan gemintang. Semoga tidak kebelet mampir. Biar melanjutkan perjalanannya di atas sana…

Sang sopir yang kelelahan tidur terkapar di tanah. Lagu-lagi ndang-ndut muncrat dari HP-nya. Teman lain membuat perapian dengan membakar ranting kayu kering. Cahaya api menyibak gelapnya malam. Hanya ketika berada dalam kegelapan maka kita akan tahu artinya setitik cahaya. ‎

(16)

Jam 21 malam bantuan yang ditunggu tidak juga datang. Geluduk dan kilat bersahutan di batas cakrawala. Betapa bodohnya aku ini. Kenapa tadi mampir membeli bekal minum tapi tidak sekalian membeli sekedar makanan.

Mestinya, walau sedang tak berdaya di hutan, malam ini bisa menjadi sebuah pesta kecil, sambil tepekur bermalam Minggu di depan perapian. Bermusikkan nyanyian serangga malam dan geluduk, berpencahayaan kilat yang memantik di angkasa… ‎

(17)

Tiba-tiba teringat, aku belum sholat maghrib dan isya… Haruskah kulakukan sekarang? Air entah ada dimana. Atau nunggu nanti saja kalau sampai di lokasi yang layak? Tapi cukupkah kesempatannya? Tidak tahu jam berapa akan sampai. Atau absen dulu? Toh Tuhan pasti “maklum” dengan sikon yang sedang saya hadapi.

Tapi keputusanku adalah memanfaatkan segala fasilitas yang ada: tayamum, jama’-qoshor, di atas tanah terbuka, masih pakai sepatu, kira-kira menghadap kiblat… ‎

(18)

Jam 21:30 gerimis benar-benar turun dan menjadi hujan. Kami tinggalkan perapian lalu masuk mobil. Setengah jam kemudian gerimis reda. Sopir dan seorang teman mencoba lagi menangani mobil, menggali, mendongkrak, men-start, dalam gelap, tanpa hasil. Aku yang pegang senter. Hanya bisa setengah jam saja hingga gerimis kembali membesar.

Tipis harapan ada bantuan, semakin malam dan hujan. Tanpa komando kami masuk mobil, tidak lama kemudian semua terlelap… ‎

(19)

Bermalam di mobil adalah pilihan terbaik. Aku berusaha tidur senyaman mungkin di jok depan. Kubayangkan sama seperti ketika harus tidur di kereta malam, bis malam atau pesawat terbang malam.

Bukan sesuatu yang luar biasa. Yang luar biasa adalah, dan ini bagian menariknya, perut lapar tapi tidak membawa bekal… Untung masih ada air. Duduk leyehan di dalam mobil, membayangkan makan sego kucing dua bungkus dan teh jahe gula batu. ‎

(Sabtu, 26 Maret 2011)
Yusuf Iskandar