Archive for the ‘MINE CONFERENCE — MassMin 2000, Brisbane’ Category

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane

2 Maret 2008

Pengantar :

Selama sepekan ini saya berkesempatan berkunjung ke Australia dalam rangka mengikuti Konferensi Internasional Ke-3 The MassMin 2000, yaitu konferensi pertambangan khususnya tentang metode penambangan bawah tanah untuk endapan masif. Konferensi ini diselenggarakan dari tanggal 30 Oktober hingga 2 Nopember di Brisbane, Queensland, yang kemudian pada tanggal 3 Nopember dilanjutkan dengan kunjungan ke tambang tembaga bawah tanah Northparkes, New South Wales.

Melalui milis Upnvy dan Upntby saya ingin berbagi ceritera dan pengalaman selama mengikuti konferensi ini. Semoga apa yang akan saya sampaikan ini dapat menjadi tambahan informasi dan pengetahuan terutama bagi rekan-rekan yang bergerak di dunia pertambangan.

  1. Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 05:30 (14:30 WIB)
  2. Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 12:00 (21:00 WIB)
  3. Brisbane, 31 Oktober 2000 – jam 11:45 (20:45 WIB)
  4. Brisbane, 01 Nopember 2000 – jam 07:50 (4:50 WIB)
  5. Brisbane, 02 Nopember 2000 – jam 07:00 (4:00 WIB)
  6. Brisbane, 02 Nopember 2000 – jam 11:30 (20:30 WIB)
  7. Parkes, 03 Nopember 2000 – jam 11:30 (19:30 WIB)
  8. Sydney, 04 Nopember 2000 – jam 11:45 (19:45 WIB)

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (1)

2 Maret 2008

Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 17:30 (14:30 WIB) 

Konferensi Internasional Ke-3 The MassMin 2000 hari ini mulai digelar bertempat di Sheraton Brisbane Hotel, Queensland, Australia.  Selama empat hari dari tanggal 30 Oktober hingga 2 Nopember nanti, tiga hari pertama akan diisi dengan presentasi makalah dan akan diakhiri dengan workshop di hari keempat. Pada tanggal 3 Nopembernya akan diadakan kunjungan tambang ke tambang Northparkes, Sydney, New South Wales.

Konferensi MassMin 2000, kali ini adalah yang ketiga kali setelah konferensi sebelumnya yang pertama diadakan pada tahun 1981 di Denver, Colorado, USA. Lalu yang kedua tahun 1992 di Johannesburg, South Africa, dan di dekade ketiga ini diselenggarakan di Brisbane.

Dari sekitar 330 peserta yang mewakili 19 negara yang ambil bagian dalam konferensi ini, tampaknya tidak banyak dihadiri oleh delegasi dari Indonesia. Barangkali karena konferensi pertambangan ini bersifat lebih spesifik, yaitu membahas tentang berbagai isu dan pengalaman yang bekaitan dengan pengusahaan tambang endapan masif (massive mine) yang umumnya ditambang dengan metoda caving (block caving, sub-level caving, panel caving) dan stoping skala besar (sub-level stoping, longhole stoping), termasuk berbagai metode turunan atau pengembangannya (underground benching, front cave, inclined footwall, dsb.). Sepanjang pengetahuan saya tambang di Indonesia yang menerapkan metode penambangan masif seperti ini adalah tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia.

Pagi tadi tepat jam 8:30 (waktu Brisbane) MassMin 2000 telah dibuka oleh Presiden AusIMM (Australian Institute of Mining and Metallurgy), dan tidak tampak ada pejabat pemerintahan yang hadir. Sidang-sidang sesi pertama dan kedua pagi tadi sebelum saat makan siang dipimpin oleh Prof. ET Brown dari The University of Queensland.

Professor Brown ini adalah penulis dari beberapa buku “Rock Mechanic” yang sewaktu saya kuliah buku-bukunya sering dibolak-balik karena banyak memuat rumus-rumus hitungan (ya dibolak-balik saja, lha wong termasuk mata kuliah yang selalu perlu mikir setengah mati). Di antara bukunya (kalau tidak salah ingat) adalah “Underground Excavation” dan “Rock Mechanic for Underground Excavation”, yang kesemuanya banyak berurusan dengan rumus-rumus hitungan mekanika batuan yang berhubungan dengan penambangan bawah tanah.

Setelah setengah hari pertama banyak membicarakan topik-topik umum (overview), lazimnya sebuah konferensi atau seminar, maka seusai makan siang baru mulai masuk ke topik-topik yang lebih khusus. Dua topik di sesi ketiga dan keempat membahas tentang “Mass Mining Design Methodology” dan “Future Technologies”. Ada beberapa topik menarik di sesi ini antara lain presentasi yang dibawakan oleh WA Hustrulid, yang buku suuuangat tebalnya yang berjudul “Underground Mining Handbook” hingga kini menjadi buku pintarnya sekolah-sekolah tambang. Saking tebalnya hingga jarang mahasiswa yang memiliki fotokopinya, ya karena uang saku bulanannya tidak cukup untuk mengkopi buku yang tebalnya lebih seribu halaman.-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (2)

2 Maret 2008

Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 24:00 (21:00 WIB)

MassMin memang ajang pertemuan bagi para professional tambang endapan masif bawah tanah, karena itu banyak topik yang akan didiskusikan menyangkut berbagai pengalaman dan masalah-masalah yang dihadapi oleh tambang-tambang bawah tanah di dunia.

Beberapa topik yang diketengahkan dalam sesi pertama dan kedua tadi pagi sebagai bahasan overview mengawali konferensi ini antara lain mewakili Rio Tinto Ltd., group De Beers yang mengoperasikan banyak tambang intan di Afrika, Codelco yang mewakili kelompok BUMN-nya Chili yang berhasil mengoperasikan tambangnya secara effisien dan menyajikan visinya untuk go international, dan tentu tinjauan tentang keselamatan kerja oleh wakil dari pemerintah negara bagian Queensland, Australia.

Ada beberapa topik menarik yang dipresentasikan di sesi kedua dan ketiga. Di antaranya adalah membahas karakterisasi tambang bawah tanah ditinjau dari studi mekanika batuan, dan beberapa pemikiran baru dari WA Hustrulid tentang pemilihan metode penambangan untuk tambang bawah tanah berskala besar. WA Hustrulid adalah Professor of Mining, University of Utah dan juga seorang konsultan tambang di USA. Mengikuti paparan Pak Hustrulid ini serasa seperti sedang mengikuti kuliah. Sayangnya, sebagaimana seminar atau konferensi, waktu yang disediakan hanya 30 menit untuk setiap makalah, sehingga tentu tidak mungkin untuk membahasnya secara mendalam.

Dengan kata lain, untuk memahami lebih jauh tentang pemikiran baru Pak Hustrulid ini saya mesti mempelajari lagi naskah lengkap dari makalahnya yang cukup panjang. Topiknya Pak Hustrulid ini agaknya cukup menarik juga bagi peserta lain, terbukti dari cukup banyaknya pertanyaan dan tanggapan yang ditujukan kepada beliau seusai presentasi.

Ada satu topik lainnya yang cukup menarik adalah tentang optimasi pengoperasian alat angkut dan muat di tambang bawah tanah yang kini dikenal dengan istilah mine automation. Istilah ini sekarang mengacu kepada sistem pengoperasian alat bergerak di tambang bawah tanah secara kendali jarak jauh (remote control). Bagaimana mengoperasikan alat LHD (load haul dump) yang cukup dilakukan dari depan layar monitor termasuk pengaturan perjalanannya yang disesuaikan antara lain dengan rencana penambangan dan produksinya. Dengan demikian tidak diperlukan operator yang langsung berada di dalam kabin untuk mengemudikan LHD di lorong-lorong produksi tambang.

Sistem pengoperasian tele-remote LHD ini sekarang sudah diterapkan di tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia, terutama di lokasi wet muck (material timbunan yang basah) yang sewaktu-waktu dapat terjadi runtuhan material dalam jumlah banyak secara tak terkendali akibat adanya air yang terperangkap di dalamnya.

Terlepas bahwa presentasi makalah ini “berbau” promosi oleh pihak pembuat perangkat komputerisasinya, tetapi banyak informasi baru yang patut dikaji lebih dalam dari segi pengembangan dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi bagi operasi tambang bawah tanah. Terbukti sekarang ini sistem automation untuk alat LHD ini sudah menjadi semacam standard bagi tambang-tambang endapan masif di dunia. Dalam perkembangannya sistem ini juga akan masuk ke sistem pengoperasian alat angkut (truck) di bawah tanah.

***

Setelah selesai dengan segepok presentasi makalah di hari pertama ini, acara dilanjutkan sore dan malam harinya dengan Welcoming Cocktail Party di lantai 30 Sheraton Brisbane Hotel, tempat keseluruhan acara konferensi diselenggarakan. Acara minum-minum dan ngemil bersama sambil berdiri ini tentu saja menjadi semacam ajang pertemuan bagi segenap peserta. Dari yang serius membicarakan bisnis sampai yang hanya sekedar ngobrol ketemu teman-teman lama. Saya memilih menjadi kelompok yang kedua, sambil sesekali bicara serius biar tidak “ketinggalan jaman”. Bagaimanapun juga membina relasi tetap diperlukan. Eh, siapa tahu suatu saat saya butuh mengontak seseorang untuk mencari informasi atau rujukan bertukar pikiran, paling tidak sudah terbuka jalannya.

Konferensi MassMin ketiga ini diselenggarakan atas dukungan utama dari JKMRC (Julius Kruttschnitt Mineral Research Centre) Brisbane, Australia beserta perusahaan tambang De Beers dan Northparkes.-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (3)

2 Maret 2008

Brisbane, 31 Oktober 2000 – jam 23:45 (20:45 WIB)

Makalah-makalah yang disajikan di hari kedua konferensi MassMin 2000 mulai dikelompokkan temanya. Meskipun pembahasannya masih bersifat umum dan belum banyak yang membahas tema-tema yang lebih bersifat teknis atau kajian khusus tentang tambang endapan masif.

Jam 8:00 pagi tepat, sesi ke-5 dimulai, tapi ruangan sidang belum separuhnya terisi. Barangkali banyak peserta yang mengira acara dimulai seperti hari pertama kemarin yaitu jam 8:30. Atau, pesertanya pada kesiangan bangun karena pada teler kebanyakan minum tadi malam saat acara Cocktail Party. Atau, memang ini sudah hal yang lumrah?

Dari beberapa tema yang dipresentasikan, saya mencatat (menurut pandangan saya, tentunya) ada banyak topik menarik. Kriteria menarik menurut saya didasari pada hal-hal antara lain : mengandung informasi baru yang belum saya ketahui, membahas tema yang kebetulan pas dengan pekerjaan yang sedang saya geluti sehari-hari dan membahas kajian, teknologi atau ide-ide yang memang baru. Oleh karena itu, tema yang bagi saya menarik, bisa jadi tidak menarik bagi orang lain. Begitu pula sebaliknya.

Diantara tema-tema yang saya anggap menarik di sesi ke-5 adalah masalah material handling di tambang Olimpic Dam, Australia Selatan. Olimpic Dam adalah tambang yang menghasilkan tembaga, uranium, emas dan perak, dengan menerapkan metode sublevel stoping dan longhole stoping. Selain itu adalah tentang tambang tembaga El Teniente di Chili, yang menerapkan metode pre-undercut caving method.

Pada sesi ke-6 setelah jeda minum teh, beberapa tema yang saya anggap menarik antara lain tentang tambang bawah tanah Mount Isa yang beroperasi di lokasi paling dalam dan paling panas suhu udaranya di Australia, yang menghasilkan bijih zinc. Selain itu ada pembahasan tentang tambang emas Obuasi di Ghana, Afrika, yang tahun 1995 melakukan perubahan metode penambangan sehingga menjadi lebih efektif dan efisien, setidak-tidaknya menurut paparan mereka. Topik menarik lainnya adalah tentang penggunaan evaluasi kondisi permukaan guna penentuan kriteria-kriteria perencanaan tambang bawah tanah, dan simulation modeling.

Setelah istirahat makan siang (yang bukan nasi, sehingga saya merasa seperti belum makan), masuk ke sesi ke-7 dan ada satu tema yang memang saya tunggu-tunggu, yaitu bahasan tentang metode sublevel caving yang dimodifikasi dan diperbaiki sehingga menjadi lebih efektif dan efisien. Makalah ini ditulis oleh G. Bull dan C.H. Page. Selain paparannya yang menarik, juga di bagian akhir presentasinya ada peserta yang memberi tanggapan cukup “keras”. Tanggapan itu disampaikan oleh seorang professor dari Lulea University of Technology, Swedia, bernama Agne Rustan. 

Karena kebetulan “mike” yang biasa digunakan kalau ada orang bertanya, yang adanya di tengah-tengah peserta tiba-tiba mati. Maka pak Professor pun langsung saja maju ke depan mimbar berdiri di sebelah pembicara. Tanpa basa-basi atau halo-halo pembuka, Pak Professor langsung mengatakan bahwa terminologi tentang  draw column yang digunakan dalam makalah adalah salah, dan Pak Professor akan membahasnya secara lebih lengkap melalui makalahnya yang akan dipresentasikan di hari ketiga besok. Rupanya Pak Professor memang sudah melakukan studi yang lebih dalam tentang satu aspek yang berkaitan dengan hal yang baru saja dipresentasikan.

Tentu saja hal ini membuat para peserta agak terperangah, karena tidak menyangka akan ada tanggapan yang cara penyampaiannya terkesan “tembak langsung”, bahkan bagi orang Barat sekalipun. Seperti menyadari kalau kata-katanya cukup membuat kuping merah apalagi bagi pembicara yang masih berdiri di belakang mimbar berdampingan dengannya, Pak Professor pun mengakhiri tanggapannya dengan ndagel mengatakan bahwa gambar-gambar yang dipresentasikan tadi bagus-bagus. Hadirin pun menjadi “gerrrrr”. Dan sang pembicara hanya mengucapkan terima kasih.

Terlepas dari soal “tembak langsung”, tapi memang itulah tujuan dari seminar atau konferensi atau sebangsanya. Saling beradu argumentasi untuk memperoleh kesimpulan yang dianggap paling benar dan tepat. Untuk itu maka perlu dilakukan kajian yang mendalam sesuai dengan pokok kajian yang diambil. Kalaupun kemudian prosesnya membuat kuping merah, ya itu adalah bagian dari resiko mencari kebenaran dalam ngelmu.

***

Setelah agenda presentasi tersebut, saya tidak melihat ada topik-topik berikutnya yang saya angap menarik. Karena itu lalu saya keluar dari ruang sidang, dan menuju ke stand pameran yang menawarkan produk software untuk perencanaan tambang. Saya memang sudah janjian mau ketemu jam 14:15 untuk melihat demo software produk dari Prunge Pty. Ltd. Saya ingin tahu seperti apa software itu dan kemampuannya. Bersamaan dengan acara konferensi memang tersedia sarana untuk pameran “kecil-kecilan” sebagai pelengkapnya. Tentu saja hanya diikuti oleh sangat sedikit perusahaan yang umumnya juga menjadi sponsor penyelenggaraan konferensi MassMin 2000.

Seusai melihat demo dan ngobrol-ngobrol dengan salesman-nya, saya meninggalkan arena konferensi. Bersama dengan seorang kolega asal India yang sudah lama tinggal di Amerika dan dua orang mahasiswa Indonesia yang juga menjadi peserta konferensi, kami lalu menghabiskan waktu sore untuk jalan-jalan di kota Brisbane dalam perjalanan untuk mengunjungi kampus University of Queensland.

Malam harinya kami bertemu kembali dengan segenap peserta konferensi karena ada agenda acara makan malam bersama (Conference Dinner). Setelah acara makan-memakan sudah habis saya lalu meninggalkan ruangan, meskipun secara resmi acaranya belum ditutup. Soalnya mata sudah mulai merasa berat dan ngantuk. Eh, lha kok di kamar hotel malah menyalakan laptop dan membuat catatan ini. Ya…. sudah kadung (terlanjur) rampung catatannya.-

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (4)

2 Maret 2008

Brisbane, 1 Nopember 2000 – jam 7:50 (4:50 WIB)

Meskipun saya tidak bertemu dengan banyak delegasi dari Indonesia dalam MassMin 2000 ini, tapi paling tidak saya ketemu dua orang rekan kerja yang datang dari Tembagapura, seorang alumni ITB yang lulus S2 dari Colorado School of Mines dan seorang lagi adik kelas di Tambang UPN, Mas Rudy Poedjono. Selain itu saya juga ketemu dua orang mahasiswa yang sedang melanjutkan kuliah di UQ (University of Queensland), keduanya lulusan Tambang ITB, seorang mengambil S2 bidang Ventilasi dan seorang lagi dosen ITB yang sedang menyelesaikan S3 bidang Rock Mechanics.

Forum-forum semacam ini memang menjadi forum menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang sering tidak dilewatkan oleh para mahasiswa. Paling tidak, karena status student mereka memungkinkan untuk hadir dengan biaya yang lebih murah.

Saya agak kurang tahu apakah mahasiswa di Indonesia juga sering memanfaatkan forum-forum semacam ini. Tetapi saya punya pengalaman sewaktu kuliah dulu sempat beberapa kali memanfaatkan forum-forum pertemuan nasional dan internasional di Jakarta dengan status saya sebagai student. Terkadang berstatus student dalam periode yang cukup luuuamaaaa juga ada manfaatnya.

Jika di Jakarta ada pertemuan atau konferensi yang diselenggarakan oleh IMA (Indonesian Mining Association) dan saya berminat hadir, maka segera dengan berbagai cara akan saya hubungi Panitia guna memperoleh harga khusus, jika perlu saya melakukan lobby bagaimana agar bisa gratis. Untuk itu saya menggunakan sarana melalui surat-menyurat, tilpun atau fax. Perlu biaya? Ya pasti. Hanya perlu diketahui bahwa tidak harus beruang saku banyak untuk melakukan semua itu. Sekedar mengikuti pepatah : Banyak jalan (halal) menuju Roma.

Waktu itu email masih menjadi sesuatu yang baru dan belum memasyarakat seperti sekarang. Mestinya komunikasi semacam itu sekarang pasti lebih mudah. Sebagaimana yang sering terjadi di Amerika, seringkali semangat seperti ini dihargai oleh pihak Panitia. Nyatanya, saya bisa mendapatkan keringanan biaya. Ya…, saya sadar bahwa tidak ada added value yang tanpa pengorbanan biaya, karena itu adanya keringanan biaya sudah cukup membantu.

***

Agenda MassMin 2000 hari ketiga ini akan lebih banyak membicarakan makalah-makalah lebih teknis. Dari jadwal acaranya saya melihat bahwa hari ini konferensi akan dibagi menjadi dua bagian yang pertemuannya berjalan parallel. Satu rangkaian sesi akan memfokuskan pada topik-topik yang berkaitan dengan metoda penambangan bawah tanah caving methods dan satu rangkaian sesi lainnya membahas stoping methods.

Pagi ini saya sudah mulai memilih dan memilah topik-topik mana saja yang sekiranya menarik diikuti, menarik menurut kriteria saya. Sehingga saya sudah merencanakan kapan harus berpindah dari satu ruangan untuk ke ruangan yang lain. Juga kapan saya bisa tidak berada di kedua ruangan itu, alias ngobrol-ngobrol dengan kolega di luar arena sidang sambil menghisap rokok, atau ngobrol-ngobrol dengan para pedagang di arena eksibisi.

Eh, sudah menjelang jam 8:00 pagi, saya mau berangkat dulu menuju ke arena konferensi. Ooops….., saya lihat di BBC World berita tentang pesawat Singapore Airlines yang kecelakaan di Taiwan.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (5)

2 Maret 2008

Brisbane, 2 Nopember 2000 – jam 7:00 (4:00 WIB)

Sebelum memasuki ruang sidang kemarin, saya melihat dari dua sesi yang akan berjalan paralel banyak topik-topik menarik berada di kelompok sesi caving methods. Penilaian ini memang subyektif, karena kebetulan pekerjaan saya banyak berkaitan dengan metode penambangan ini. Karena itu saya memutuskan dari pada mesti berpindah-pindah ruangan, lebih baik mengikuti kelompok ini saja terus sampai selesai sorenya.

Makalah pertama tentang tambang tembaga Palabora di Afrika Selatan, disambung dengan tambang intan Premier juga di Afrika Selatan. Lalu tentang tambang tembaga El Teniente di Chili dan tambang tembaga DOZ (Deep Ore Zone) PT Freeport Indonsia di Papua. Saya tertarik mengikuti pembahasan ini karena selain membahas tentang metode caving juga karena akan membahas beberapa kajian khusus tentang desain, permasalahan yang dihadapi, pemikiran-pemikiran baru serta visi ke depan dari perencanaan tambangnya.

Banyak hal positif yang saya peroleh dari paparan mereka, terutama yang berkaitan dengan bagaimana melakukan operasi tambang bawah tanah secara effektif dan effisien. Istilah effektif dan effisien memang berkesan umum dan kabur kalau tidak disertai dengan contoh kasus dan pencapaiannya. Tentu tidak cukup waktu untuk mengungkapkan semuanya di catatan ini. Tetapi kira-kira, sepintas saya dapat menggambarkan istilah itu mengacu kepada operasi tambang yang tidak boros uang, tidak boros tenaga kerja, aman, memberi hasil produksi tinggi, memberi nilai tambah bagi ketrampilan dan keahlian karyawannya, dsb.

Sesi berikutnya diisi dengan paparan upaya perbaikan rancangan tambang, pendekatan dan pengembangan baru dari metode caving yang ada yang diterapkan antara lain di tambang nikel Trojan di Zimbabwe, tambang nikel Perseverance di Australi dan tambang bijih besi Kiruna di Swedia dan tambang bijih molibdenum Henderson di USA, tambang tembaga dan emas Northparkes di Australia dan tambang tembaga Kennecott di USA. Selain itu juga disajikan beberapa hasil studi tentang kestabilan batuan, aliran bijih dengan gravitasi, dan draw control.

Belajar dari keberhasilan perusahaan-perusahaan tambang itu, terkadang terlintas keinginan (lebih tepat saya katakan “impian”) untuk sekali waktu berkunjung ke sana guna melihat dan belajar langsung bagaimana mereka menerapkannya di lapangan.

***

Saat istirahat makan siang ada kejadian yang membuat surprise. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama saya, ternyata dia adalah mantan General Manager saya sewaktu saya bekerja di tambang emas bawah tanah PT Lusang Mining di Bengkulu. Namanya Donald Hunter, waktu itu biasa disapa dengan Pak Don. Sejak Pak Don yang asal Afrika Selatan ini meninggalkan Bengkulu sekitar tahun 1992, saya tidak tahu lagi kemana beliau bekerja. Rupanya setelah keliling-keliling ke Australia, Suriname dan Chili, akhirnya kini mendarat di kota Brisbane.

Benar kata sementara orang : “dunia tambang itu sempit”. Kemanapun perginya, selalu saja ada kesempatan untuk ketemu. Ya melalui ajang seminar, konferensi, pertemuan atau kunjungan-kunjungan tambang. Seperti halnya dengan rekan-rekan yang bekerja sebagai inspektur tambang di Direktorat Jendral Pertambangan Umum. Sekalipun kita berpindah-pindah tempat kerja, ya di sana pula ketemu lagi dan ketemu lagi.

***

Hingga hari ketiga kemarin, nampaknya memang banyak topik-topik menarik yang dibahas. Buktinya, saya benar-benar dapat mengikuti dan menikmati konferensi ini dengan tanpa mengantuk. Biasanya kalau sehabis makan siang adalah saat-saat kritis untuk mempertahankan mata tetap membuka, apalagi saya baru melakukan perjalanan jauh sekitar 20 jam yang membuat siklus hidup berubah. Saat-saat kritis ini biasanya sering saya alami setiap kali mengikuti acara seminar, konferensi, kursus atau sejenisnya. Dulu sewaktu kuliah kalau saya ikut Pertemuan Ilmiah Tahunan Geofisika atau pertemuan sejenis itu, saat-saat kritis ini selalu saya atasi dengan mengajak teman ngobrol di luar ruangan sambil merokok atau ngemil.

Semula saya ada niat untuk sore hari kemarin mau meninggalkan arena konferensi dan jalan-jalan di Brisbane. Tapi kemudian berubah pikiran, karena merasa sayang untuk meninggalkan beberapa topik menarik lainnya yang dipresentasikan siang hingga sore harinya. Terpaksa keinginan untuk mencuri waktu buat jalan-jalan sore saya batalkan.

Malam harinya saya bersama rekan-rekan yang datang dari Tembagapura dijamu oleh seorang kolega makan malam di sebuah restoran seafood di Brisbane. Wah, cocok sekali. Hingga keenakan dan ngantuk. Kali ini benar-benar terus tidur, dan tidak mencoba-coba menghidupkan laptop.

***

Hari keempat ini akan dilanjutkan dengan acara workshop dengan pokok bahasan tentang metode penambangan caving. Karena forumnya workshop, tentu akan lebih banyak kesempatan untuk berdiskusi dibandingkan forum konferensi sejak hari pertama hingga ketiga yang kesempatan diskusinya sangat terbatas. Kelihatannya akan ada diskusi menarik kalau melihat topik-topik kertas kerja yang akan dipresentasikan. Mudah-mudahan saya masih dapat melewati saat-saat kritis di hari keempat atau hari terakhir konferensi ini.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (6)

2 Maret 2008

Brisbane, 2 Nopember 2000 – jam 23:30 (20:30 WIB)

Seharian tadi rangkaian acara hari terakhir konferensi MassMin 2000 diisi dengan Workshop dan Diskusi Panel. Jumlah pesertanya tinggal kira-kira setengah dari hari-hari sebelumnya, karena memang sudah banyak peserta yang pulang meninggalkan arena konferensi dan tidak mengikuti acara diskusi panel. Peserta pameran juga sudah pada bubar.

Makalah-makalah yang dibahas seharian tadi cukup menarik, sehingga banyak peserta yang bertahan hingga selesai. Padahal selesainya agak molor hingga 45 menit, karena waktu yang disediakan untuk diskusi panel ternyata memang kurang panjang. Apa boleh buat, diskusi tetap harus diakhiri.

Agenda Workshop yang mengisi setengah hari pertama diisi dengan paparan beberapa tema yang terutama berkaitan dengan studi rock mechanic dalam kaitannya dengan penerapan sistem penambangan metoda caving. Di antaranya di tambang tembaga Philex di Philiphina, tambang tembaga Tongkuangyu di China, tambang tembaga El Teniente di Chili, tambang tembaga dan emas Freeport di Indonesia dan tambang tembaga dan emas Northparkes di Australia. Kajian tentang mekanika batuan ini memang mendominasi berbagai topik pembahasan selama konferensi karena mekanika batuan adalah parameter utama dalam penerapan metode caving endapan bijih massif.

Selepas istirahat makan siang, lalu memasuki forum diskusi panel yang mengetengahkan tiga topik berbeda, yaitu : “Cave Predictability”, “Equipment Selection and Future Technology” dan “Cave Planning and Construction”. Topik kedua tentang teknologi baru dalam operasi penambangan termasuk salah satu yang cukup menarik. Meskipun makalah yang disajikan oleh perusahaan alat-alat tambang Sandvik Tamrock selaku sponsor utama konferensi ini agak berbau promosi dagang, namun tetap saja ada hal-hal yang menarik untuk dikaji.

Presentasi dari Sandvik Tamrock yang dibawakan sendiri oleh Presidennya ini antara lain diisi dengan pengenalan alat-alat tambang, bawah tanah khususnya, yang berteknologi baru. Penggunaan alat-alat baru ini pada gilirannya akan merubah operasi suatu tambang dapat dilakukan dengan tele-mining, yaitu operasi penambangan yang dilakukan dari jarak jauh. Diperlihatkan melalui tayangan video bagaimana operasi pemboran, pengisian bahan peledak dan peledakan bawah tanah dapat dilakukan hanya oleh seorang operator yang duduk di depan layar monitor di ruang kontrol. Demikian halnya operasi pengerukan, pengangkutan dan penumpahan hasil peledakan dengan menggunakan alat LHD, termasuk operasi pengangkutan dengan truck.

Bagi mereka yang sempat hadir di forum Minexpo 2000 di Las Vegas awal Oktober yll. Tentunya akan dapat berceritera lebih lengkap tentang peralatan tambang berteknologi tinggi dan tele-mining. Namun secara umum dapat dibayangkan ilustrasi seperti ini :

Seorang wanita cantik berpenampilan bak sekretaris di Jl. Sudirman – Jakarta, masuk ruangan kaca ber-AC, duduk manis di kursi yang empuk menghadap layar monitor, tangan dan jemarinya yang berkutek menggerak-gerakkan stick dan sesekali memencet tombol, sambil terus menatap layar monitor memainkan gambar alat bor, alat muat dan alat angkut. Pada saat yang sama alat-alat tambang yang sebenarnya sedang bergerak dan berjalan sendiri layaknya sebuah mainan mengeruk bongkahan bijih, memuat ke atas truck, mengangkut ke mulut crusher dan menumpahkan isinya.

Lalu pada kemana para underground miner yang memakai pakaian kerja tambang lengkap dengan lampu di topinya dan membawa self rescuer, mengoperasikan alat bor, alat muat, alat angkut, pagi masuk tambang sore baru keluar atau sebaliknya? Ya digantikan oleh wanita cantik itu.

Agaknya ilustrasi di atas (bukan tidak munkin) tidak lama lagi bakal menjadi kenyataan, demikian yang sempat saya lihat dari tayangan video promosi alat-alat berteknologi tinggi untuk operasi tele-mining. Sudah barang tentu tidak semua jenis pekerjaan di tambang bawah tanah akan dapat di-tele-mining-kan. Barangkali pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kejadian seperti ilustrasi di atas bukanlah hanya sebuah khayalan.

Apakah cocok diterapkan di setiap tambang, termasuk Indonesia? Itu soal lain. Mestinya akan ada peraturan yang mengaturnya. Kalau tidak, lha njuk mau dikemanakan tenaga kerja tambang yang ada saat ini, terutama yang ada di perusahaan-perusahaan besar yang dari segi investasi dan sumber dananya tidak mengalami masalah. Yang ingin saya katakan sebenarnya adalah bahwa harus ada pihak-pihak yang sudah mulai memikirkan untuk mengantisipasi hal-hal semacam itu, yang jelas bukan hil yang mustahal. Siapa ? Ya, embuh….. Asal jangan terlambat start saja dengan peserta lomba lari dalam rangka menyambut globalisasi.

***

Meskipun agenda konferensi sudah berakhir tadi sore, namun masih ada satu rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan besok tanggal 3 Nopember 2000 yaitu kunjungan tambang. Tambang yang akan dikunjungi adalah tambang tembaga Northparkes yang berada di wilayah kota Parkes di negara bagian New South Wales, Australia. Tambang Northparkes ini dikenal sebagai tambang yang mempunyai produktivitas paling tingi sedunia.

Malam ini saya mau mengepak barang karena besok pagi akan bergabung dengan rombongan yang akan menuju ke tambang Northparkes. Direncanakan perjalanan akan ditempuh dari Brisbane naik pesawat ke selatan menuju Sydney, lalu disambung dengan penerbangan lagi kira-kira satu jam dari Sydney ke arah barat menuju kota Parkes.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (7)

2 Maret 2008

Parkes, 3 Nopember 2000 – jam 23:30 (19:30 WIB)

Sekitar jam 8:45 tadi pagi pesawat yang membawa rombongan 22 orang peserta MassMin 2000 untuk mengikuti kunjungan tambang ke tambang Northparkes di New South Wales berangkat meninggalkan Brisbane. Sekitar tengah hari saya tiba di bandara Sydney yang masih tampak baru bekas direnovasi untuk Olimpiade yll. Di Sydney saya harus menambah satu putaran jarum jam lebih cepat.

Dari Sydney disambung dengan penerbangan sekitar satu seperempat jam menuju bandara di kota kecil Parkes. Ada keterlambatan dalam penerbangan ini, sehingga akhirnya baru sekitar jam 15:00 tiba di tambang Northparkes yang terletak sekitar 27 km dari kota kecil Parkes.

***

Setelah mengisi buku tamu, beristirahat sejenak, lalu diberikan penjelasan singkat oleh Manajer Tambang, Iain Ross, tentang pencapaian tambang tembaga dan emas ini, termasuk masalah prosedur keselamatan kerja tambang, dsb., maka sekitar jam 16:00 sore kunjungan ke lapangan dimulai. Rombongan dibagi dua, separuh ke tambang terbuka dan separuhnya lagi ke tambang bawah tanah, dan selanjutnya bergantian.

Saya ikut kelompok yang ke tambang terbuka (open pit) lebih dahulu. Tambang terbukanya sementara ini memang sedang tidak beroperasi karena kelebihan stock pile (persediaan batu bijih yang sudah ditambang). Setelah mengunjungi ke dua lokasi tambang terbuka, lalu dilanjuytkan ke ore processing plant (pabrik pengolahan bijih).  Sekitar jam 17:45 sore saya baru menuju ke tambang bawah tanah yang beroperasi dengan metode block caving.

Dunia pertambangan mengenal Tambang Northparkes yang berproduksi pada tingkat 16.000 – 19.000 ton per hari, karena prestasinya yang tergolong luar biasa. Dibandingkan dengan tambang-tambang bawah tanah di dunia yang menerapkan metode penambangan yang sama, tambang ini mempunyai tingkat produktifitas yang membuat decak kagum.

Rata-rata lebih dari 70.000 ton perkaryawan bawah tanah pertahun dihasilkan tambang ini. Sementara tambang-tambang lainnya di dunia umumnya masih berada di bawah 40.000 ton. Sebagai pembanding, tambang IOZ di Freeport yang menerapkan metode penambangan yang sama masih berada di bawah 10.000 ton. Ongkos produksi tambang ini sekitar US3 per ton bijih, sementara tambang-tambang lain umumnya di atas US$4 per ton, sedangkan tambang IOZ di Freeport masih di atas US$5 per ton bijih.

(Catatan tambahan : Angka-angka tersebut adalah angka yang disajikan oleh tambang Northparkes sebagai pembanding, yang saya yakin pasti menggunakan data-data lama Freeport atau menggunakan kriteria berbeda dalam perhitungannya, karena produktivitas IOZ sekarang jauh lebih baik. Tapi tidak apalah, karena intinya adalah bahwa tambang Northparkes memang jauh lebih produktif)).-

Memasuki tambang bawah tanahnya Northparkes ini tidak seperti umumnya kalau kita masuk ke tambang bawah tanah yang sedang beroperasi. Tidak tampak kesibukan karyawan (miner) yang lalu-lalang di lorong-lorong tambang.

Baru saja kemarin saya mendengarkan presentasi tentang tele-mining dan menggagas tentang implementasinya ke depan. Hari ini saya sudah melihat satu contoh awal yang membuktikan bahwa tele-mining memang bakal tidak terhindarkan.

Operasi crusher (alat peremuk bijih) dan conveyor (alat angkut ban berjalan) di bawah tanah hanya dilakukan oleh seorang gadis manis bernama Linda. Dia hanya duduk di control room (ruang pengendali) yang menghadap ke beberapa layar monitor. Dari tempat duduknya itulah, dia mengoperasikan sistem crusher dan conveyor di seluas tambang bawah tanah.

Saat ini ada tiga buah LHD (load-haul dump, alat bergerak bawah tanah yang berfungsi untuk memuat, mengangkut, menumpah bijih hasil tambang) yang beroperasi secara manual oleh tiga orang operator yang duduk di kabinnya. Namun saya melihat bahwa di sana sudah tersedia perlengkapan tele-remote yang siap untuk mengoperasikan LHD. Kalau perlengkapan itu sudah mulai beroperasi, artinya sopir-sopir LHD tidak diperlukan lagi, diganti dengan operator yang duduk di ruang pengendali menemani Linda.

Sekian waktu mendatang, alat-alat untuk pekerjaan pemboran, peledakan, alat bantu pemecah batuan, alat angkut truck, juga akan menyusul ber-automation. Lha alat semacam itu memang di antaranya sudah ada dan sudah diuji coba, tinggal tunggu waktu kapan dibeli orang dan kapan dioperasikan.

Sekitar jam 20:00 malam saya baru meninggalkan tambang Northparkes menuju hotel di kota Parkes. Meskipun hanya sempat beberapa jam saja mengunjungi tambang ini, tapi sangat membawa kesan yang dalam akan adanya sebuah operasi tambang yang sangat effektif dan effisien. Pada gilirannya, tentu bukan tidak mungkin juga tambang-tambang di Indonesia akan mengikutinya. Sekalipun kita akan berhadapan dengan akibat sampingannya yaitu tentang sebuah industri yang sangat berorientasi padat modal tetapi tidak lagi bersifat padat karya.

***

Kota Parkes malam ini sangat sepi, saat saya tiba di hotel. Sekitar jam 21:00 malam saya sengaja berjalan kaki sekitar 1,5 km menuju pusat kota untuk mencari makan nasi di restoran Cina. Sementara kawan-kawan yang lain cukup makan di restoran hotel karena mereka tidak perlu nasi. Eh, lha kok di restoran Cina, yang kebetulan masih buka, saya ketemu dengan rekan-rekan dari Freeport yang baru besok pagi akan melakukan kunjungan ke tambang Northparkes. Ya, sama-sama kelaparan dan ingin makan nasi.

Sialnya malam ini, saya lupa mempersiapkan penyambung colokan listrik model Australia yang berkaki tiga. Colokan listrik yang saya bawa adalah model Amerika yang kedua kaki depannya tegak lurus, sedangkan model Australia kedua kaki depannya pengkor (seperti kaki kanguru, barangkali). Sementara hotel yang saya inapi tidak menyediakan fasilitas penyambung colokan listrik ini seperti halnya di Brisbane.

Terpaksa malam ini saya tidak dapat mengirimkan catatan ini tepat waktu. Ya sudah, wong baterei laptop saya juga sudah hampir habis. Besok saja di-posting-nya, kalau sudah dapat penyambung colokan listrik.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (8 – Selesai)

2 Maret 2008

Sydney, 4 Nopember 2000 – jam 23:45 (19:45 WIB)

Sekitar jam 1:00 siang saya sudah tiba di hotel di Sydney, setelah tadi pagi meninggalkan kota Parkes. Di bandara Sydney, saya dan rombongan saling besalaman dengan sesama peserta kunjungan tambang lainnya yang segera akan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Ada yang langsung nyambung pesawat ke USA, Swedia, Finlandia atau Afrika Selatan, atau pulang ke rumahnya di Australia. Ada juga yang masih mempunyai urusan bisnis atau jalan-jalan di Sydney, seperti peserta dari Jepang, Cina, Zimbabwe, dsb.

Yang pasti, rangkaian kegiatan konferensi MassMin 2000 sudah selesai. Seperti diinformasikan oleh panitia sebelumnya saat di Brisbane, bahwa konferensi MassMin berikutnya akan diselenggarakan di Chili pada tahun 2005. Diharapkan tentunya dalam periode lima tahun mendatang akan lebih banyak topik-topik dan hasil-hasil perkembangan baru dalam dunia tambang bawah tanah khususnya yang beroperasi dengan metode caving.

Saya sendiri akan tinggal di Sydney semalam untuk hari Minggu besok baru kembali menuju New Orleans. Sementara di Sydney, saya sudah janjian dengan Mas Yusram Rantesalu yang alumni Tambang UPN angkatan 1986 yang saat ini sedang menyelesaikan program S2 di University of New South Wales mengambil bidang studi Geomekanik.

***

Akhirnya, catatan ini saya sudahi. Insya Allah, setiba di New Orleans saya akan melanjutkan perjalanan “Keliling Setengah Amerika”. Eh, sebentar. Hari Selasa, 7 Nopember 2000 nanti Amerika pemilu, antara lain untuk memilih siapa di antara George W. Bush dan Al Gore yang bulan Januari tahun depan akan menuju Gedung Putih melengser Bill Clinton. Kita lihat saja nantilah, kalau tidak capek ingin saya infokan breaking news-nya. Wassalam. (Selesai).-

Yusuf Iskandar