Archive for the ‘> Sehari di Glagaharjo’ Category

Sehari di Glagaharjo

9 Januari 2011

(1)

Siang tadi menuju ke dusun Kalitengah Lor, desa Glagaharjo, Cangkringan, menyalurkan bantuan “Freeport Peduli”. Berombongan membawa seng, bibit tanaman, sekalian menyaksikan penyelesaian sebuah warung contoh, di tengah kawasan terbuka yang masih nampak gersang.

Atas sumbangan seorang rekan, sebuah HT juga disumbangkan bagi operasi Relawan di sana (terima kasih untuk mas Samesto).

(2)

Walau sebagian besar warga Glagaharjo masih berada di pengungsian, bantuan bibit tanaman keras seperti sengon, mahoni, petai, alpokat dan klengkeng, siang tadi diterima warga dengan sangat antusias. Sekedar sebagai langkah awal upaya penghijauan kembali kawasan yang nyaris tak satu pohon pun tersisa oleh hempasan awan panas. Masih dibutuhkan ribuan bibit tanaman apa saja, sementara belum ada tanda-tanda bantuan dari pemerintah…

(3)

Warung contoh itu sangat sederhana. Ukuran 3 m x 3 m, konstruksi bambu, atap asbes, dinding gedek (anyaman bambu), lantai semen. Biaya pembuatan Rp 1,8 juta, termasuk perlengkapan seperti termos, piring, gelas, kompor dan tabung gasnya, tapi belum modal isinya.

Beberapa warung sejenis rncananya akan disiapkan, bukan saja di Glagaharjo, (tapi) juga Kepuharjo dan Kinahrejo. Tergantung sumberdananya. Berharap pemerintah? Uuugh…

(4)

Sebut saja warung Mandiri (mencari donatur sendiri), “Biayanya murah banget”, kata seorang teman. Benar, karena bukan dibangun oleh pemborong alias tidak ada margin dalam pekerjaan penyiapannya, melainkan bergotong royong oleh sesama relawan dan warga.

Sebuah warung contoh hari ini diselesaikan, insya Allah menyusul berikutnya. Hanya diperuntukkan bagi warga yang benar-benar berjiwa wirausaha. Ya, selektif memang…

——-

(5)

Sebuah batu besar (orang setempat menyebutnya batu”macan”) yang terbawa lahar dingin dari hulu sungai Gendol, kini nongkrong di tengah jalan penghubung antara Bronggang (barat sungai) dan Gadingan (timur sungai) desa Agomulyo, Cangkringan, yang melintas di atas dam sabo.

——-

(6)

Mbah Sarto duduk santai di pinggir makam menghabiskan nasi bungkus makan siangnya. Mengaku sebagai keponakan Mbah Maridjan (tapi sama-sama Mbah), Mbah Sarto kini hampir saban hari ngrekso (menjaga) makam Mbah Maridjan di Glagaharjo.

Menurut Mbah Sarto, leluhur Mbah Maridjan memang berasal dari Glagaharjo walau di sisa usianya Mbah Maridjan menetap di Kinahrejo, desa di sebrang sungai Gendol dan sama-sama berada paling ujung di kaki Merapi.

(7)

Mbah Sarto Tiyoso (keponakan Mbah Maridjan) bangga bisa ngrekso (menjaga) makam Mbah Maridjan di Glagaharjo, Cangkringan. Makan Mbah Maridjan sendiri belum (atau tidak?) dibatu nisan dan nampak retak di seputar tanahnya akibat diguyur hujan terus menerus beberapa hari terakhir ini.

Yogyakarta, 6 Januari 2011
Yusuf Iskandar