Posts Tagged ‘bandara’

Pak Satpam Bandara

18 Februari 2010

Boarding belakangn, rada sepi. Seorang Satpam tiba-tiba mendekat dan berkata pelan: “Rokoknya pak”.
Karena saya rasa kata-kata ini aneh, sy balik tanya memastikan: “Apa pak?”.
Pak Satpam menjawab: “HP-nya tidak ketinggalan pak?”.
Spontan saya jawab: “Oo tidak pak”.

Sambil berjalan menuju pesawat saya berpikir: “Kok sepertinya aneh!”. Sesaat kemudian baru saya ‘ngeh’. …”Eee… alah, pak Satpam, pak Satpam…, caramu kurang manis utk mengharap kebaikan org lain…”.

(Peristiwa ini terjadi di bandara Adisutjipto, Yogyakarta, Gate 1, sewaktu boarding Lion Air menuju Jakarta)

Jakarta, 17 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Bocah Penyemir Bandara Cengkareng

11 Desember 2009

Siang tadi ketemu lagi dengan bocah penyemir sepatu (Muslim, 11th, kls 5, ortunya pemulung) yang setahun yll pernah saya ajak sarapan di KFC bandara Cengkareng. Cita-citanya ingin menjadi pilot. Setelah cerita-cerita sambil makan siang, lalu saya pegang bahunya sambil saya yakinkn dia: “Saya doakan insya Allah cita-citamu akan terwujud” (dasar tukang kompor…!), tapi saya serius…

(Pengalaman sarapan pagi bersama Muslim pernah saya lakukan tepat setahun yll. Lihat catatan : “Sarapan Pagi Bersama Yudi, Muslim dan Amat”)

Jakarta, 10 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Membangunkan Sopir Ngantuk

15 Agustus 2008

Niat ingsun mau menuju bandara Soeta (Soekarno – Hatta) naik taksi lalu meninggal tidur sopirnya. Maka begitu nyingklak taksi, segera mengomando sopirnya : “Ke bandara, pak”, dan lalu duduk santai. Pak sopir yang kelihatan sudah cukup tua, saya taksir umurnya 60an tahun, dengan lincahnya segera masuk ke jalan tol. Siang hari jalan menuju bandara masih relatif sepi, tidak kemruyuk seperti ketika hari beranjak sore. Taksi pun melaju lancar.

Belum lama melaju di jalan tol yang masih belum gegap-gempita, saya perhatikan gerak laju taksinya kok rada mereng-mereng. Injakan gasnya memunculkan bunyi mesin yang tidak konstan. Kendaraan lebih sering berada di atas marka pembagi lajur jalan (bukannya di antara garis putih putus-putus).

Tidak biasanya sopir taksi memilih berada di lajur paling kiri dengan kecepatan sedang-sedang saja (padahal jalanan lagi sepi dan longgar). Gerak-gerik sopirnya terlihat gelisah, kaki kirinya (kaki yang kanan tidak kelihatan) sering digoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Tangan kirinya (tangan yang kanan juga tidak kelihatan) sebentar-sebentar menggaruk kening yang sepertinya tidak gatal dan mengusap belakang kepala yang sepertinya dari tadi tidak ada apa-apanya. Sesekali berdehem, sengaja batuk dan melenguh seperti sapi.

Tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa pak sopir taksi sedang ngantuk berat. “Wah, bahaya, nih”, pikir saya. Terpaksa saya jadi ikut waspada memperhatikan jalanan di depan. Niat untuk tidur di taksi saya batalkan, sebab saya merasa sedang berada dalam situasi unsafe condition. Sekali saja pak sopir mak thekluk….., tersilap sedetik saja karena ngantuknya, maka bahaya mengancam keselamatan taksi dan penumpangnya. Gimana nih? Mau minta berhenti lalu ganti taksi di tengah jalan tol kok ya gimana gitu loh…..

Maka saya putuskan untuk mengajak ngobrol sopirnya. Itulah yang kemudian saya lakukan.

“Pak…”, panggil saya memecah keheningan (sebenarnya ya tidak hening, wong deru kendaraannya cukup bising). “Bapak kelihatannya capek sekali…”, kata saya.

“Iya pak, saya agak kurang tidur”, jawab pak sopir. “Kurang tidur kok agak. Ya tetap saja tidurnya kurang”, kata saya tapi dalam hati.

“Ngantuk ya pak?”, tanya saya lagi berbasa-basi memastikan, karena tujuan saya hanya untuk mengajak bicara (lha wong sudah jelas ngantuk kok ditanya juga….)

Di luar dugaan saya, pak sopirnya malah berkata jujur : “Iya pak, saya sendiri heran. Mungkin cobaan saya, ya…..”, sampai di sini saya masih belum ngerti apa maksud perkataan pak sopir. Lalu, lanjutnya : “Kalau sedang tidak narik penumpang, saya enak saja nyusup-nyusup jalan. Tapi kalau sedang membawa penumpang rasanya sering sekali ngantuk”.

“Waduh, gawat nih”, kata saya dalam hati. Lha, saat itu saya sedang jadi penumpang yang ditarik pak sopir je….. Ini kejujuran yang jelas tidak pada tempatnya. Ini adalah perilaku jujur yang tidak dianjurkan dan tidak terpuji (yang mau memuji ya siapa……). Jujur yang malah bikin takut.

Tiba-tiba saya ingat kalau di dalam saku tas ransel saya ada tersimpan permen “Davos”. Permen “Davos” adalah permen jadul (jaman dulu) yang bungkusnya berwarna biru tua dengan rasa peppermint yang tajam. Rasa pedasnya sangat nyegrak, sehingga sering membuat pengulumnya rada megap-megap. Tapi jangan heran kalau permen pedas ini masih banyak penggemarnya.

Segera saya rogoh saku ransel, saya ambil permennya, saya sobek bungkusnya, lalu saya tawarkan kepada pak sopir. Agak malu-malu tapi mau juga pak sopir menerimanya. Akhirnya saya dan pak sopir kompak mengulum permen “Davos” bersama-sama.

Entah karena kepedasan ngemut permen, entah karena kemudian saya ajak ngobrol, yang jelas kemudian pak sopir sudah tampak lebih sumringah, tidak lagi ngantuk seperti tadi. Tampaknya pak sopir sudah lupa dengan ngantuknya. (Aha… Ini dia. Tips baru untuk menghilangkan ngantuk, yaitu berusahalah untuk melupakan ngantuknya. Cuma cilakaknya, cara termudah untuk melupakan ngantuk, ya tidur….. Huh…!).

Permen pedas cap “Davos” berhasil menjadi pemecah kesuntukan yang dialami pak sopir taksi. Menit-menit berikutnya suasana berubah menjadi obrolan di dalam taksi. Obrolan yang makin asyik aja…. Apalagi kalau topiknya adalah kisah “kepahlawanan”. Maksud saya adalah kisah nostalgia pada jaman “perjuangan” episode kehidupan seseorang.

Bagi pak sopir taksi, kisah itu adalah tentang pekerjaannya sepuluh tahun yang lalu sebelum menjadi sopir taksi. Masa keemasan pak sopir ketika masih menjadi koordinator Satpam di kawasan pertokoan Mangga Dua. Dengan semangat empat-lima, pekerjaan hebatnya yang dulu itu diceritakannya dengan runtut sampai ke detil-detilnya, hingga akhirnya beliau terpaksa lengser keprabon saat terjadi kerusuhan Mei 1998. Dengan getir dituturkannya bahwa beliau akhirnya di-PHK karena saat terjadi kerusuhan rupanya banyak anak buahnya yang terbukti turut menjadi aktivis. Maksudnya, turut aktif menjarah toko-toko yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya.  

***

Ada dua pelajaran tidak terlalu penting tapi nyata. Pertama, tentang membangunkan sopir ngantuk. Kedua, tentang “menjinakkan” orang tua agar suka diajak bicara (tidak semua orang tua suka diajak cerita-cerita, lho…..)..

Untuk yang pertama, siapkanlah permen pedas. Semakin pedas semakin baik, asal bukan permen rasa sambal…. Untuk yang kedua, menggiring pembicaraan ke arah kisah “kepahlawanan”, “perjuangan”, “semangat empat-lima”, atau pokoknya yang sejenis itulah…..

Maka bagi kawan-kawan muda yang sedang mencari calon mertua, ada baiknya melakukan orientasi medan dan studi referensi tentang kisah “kepahlawanan” dari kandidat mertua. Hanya satu hal sebaiknya jangan dilakukan, yaitu ketika tahu sang kandidat mertua sudah ngantuk, janganlah lalu disuruh ngemut permen pedas…..

Yogyakarta, 15 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Kandang Itu Kini Berubah Jadi Cantik

29 Juli 2008

(Terminal Baru Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua)

Dalam perjalanan dari Jayapura menuju Jakarta hari Rabu, 23 Juli 2008 yang lalu, burung Garuda yang saya tumpangi transit di Timika dan Denpasar. Saat transit di bandara Timika selama 30 menit, pramugari mengumumkan bahwa penumpang diberi pilihan untuk tetap menunggu di pesawat atau boleh juga kalau mau turun ke ruang tunggu.

Mulanya saya agak ragu hendak turun. Sebab segera terlintas di benak saya kondisi ruang tunggu di terminal keberangkatan bandara Timika yang oleh sebagian teman yang pernah transit di sana diolok-olok seperti kandang (terjemahannya, mana ada kandang yang menyenangkan….). Dan memang seperti itulah kesan dalam ingatan saya sejak terakhir saya ada di sana sekitar tiga setengah tahun yang lalu.

Namun seperti kebiasaan saya, selalu berharap siapa tahu ada yang berbeda atau ada pengalaman baru yang barangkali dapat mengungkit ide atau inspirasi. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut turun dari pesawat menuju ke terminal ruang tunggu keberangkatan.   

Sebelum memasuki bangunan terminal, mulailah ada yang saya rasakan agak beda, kok saya disuruh masuk ke ruang kedatangan. Padahal seingat saya terminal keberangkatan termasuk bagi penumpang transit berada di bangunan terpisah sekitar 250 meter dari terminal kedatangan. Dalam keraguan lalu saya tanyakan kepada mbak security alias satpam perempuan bandara : “Untuk yang transit dimana?”. Dijawabnya : “Masuk saja, pak”.

Begitu masuk ruang kedatangan, barulah saya lihat tampilan ruang kedatangan yang kini terlihat bagus, bersih, tertata rapi, dan pokoknya jauh berbeda dengan ruang kedatangan bandara Timika yang saya kenal sebelum ini. Penumpang transit kemudian diarahkan ke pintu keluar lalu masuk lagi ke ruang tunggu keberangkatan di sebelahnya.

Saat di luar depan bandara inilah saya baru tahu bahwa bandara ini sudah direnovasi. Semakin surprise ketika tiba di dalam ruang tunggu. Semua tampak baru, lantai dan dindingnya terlihat bersih, bangku-bangku tertata rapi, tata ruang dan dekorasinya terkesan indah, suasananya sejuk ber-AC, berhiaskan aneka informasi tentang kegiatan tambang PT Freeport Indonesia (mudah ditebak, pasti perusahaan tambang inilah yang mbangun) dengan display yang apik dan menarik.

Lalu saya masuk ke toiletnya, tercium bau harum (dalam arti sebenarnya) dan terlihat bersih bak toilet hotel berbintang. Saya pun dibuat kagum. Bukan kagum kepada bandara barunya, melainkan kagum kepada diri sendiri kenapa baru sekarang saya mengalaminya…. (bukan sepuluh tahun atau sebelum sepuluh tahun yang lalu, misalnya).

Sangking penasarannya, saya pun bertanya bodoh kepada seorang petugas yang ada disana : “Bandaranya baru, ya pak?”. Dengan bangga bapak petugas itu pun menjawab : “Iya pak, baru diresmikan Menteri Perhubungan beberapa hari yang lalu”.

Ooo…, pantesan….. Masih bau SIRSAT….. SIRSAT yang saya maksud bukanlah nama buah melainkan kependekan dari pasir sisa tambang, padanan bahasa Indonesia untuk pasir tailing yang berupa pasir atau material halus yang dihasilkan dari kegiatan penambangan.

Terminal baru bandara Mozes Kilangin, Timika (ibukota kabupaten Mimika), memang baru saja diresmikan pada tanggal 18 Juli 2008 oleh Menteri Perhubungan. Hal yang membanggakan, bahwa rupanya konstruksi bangunan bandara itu terbuat dari hasil pemanfaatan pasir sisa tambang (SIRSAT) yang memang jumlahnya melimpah ruah nyaris tak terhingga.   

Kalau boleh disebut bahwa prestasi pemanfaatan limbah SIRSAT ini sebagai sebuah kesuksesan, maka semestinya pemerintah dan masyarakat kabupaten Mimika pada umumnya akan bisa memanfaatkannya bagi kemudahan kegiatan pembangunan mereka, baik untuk keperluan pemerintah, kemasyarakatan maupun individual. Lha wong jumlahnya enggak bakal habis dipakai hingga tujuh turunan….. Tentu saja mesti ada aturan main yang benar.

***

Bandara Timika pertama kali dibangun tahun 1970 sebagai bandara perintis, terutama untuk menunjang operasi penambangan PT Freeport Indonesia. Lalu pada awal tahun 1990-an bandara ini diperbesar, diperlebar dan diperpanjang, hingga kini memiliki panjang landas pacu 2930 m. Tahun 2002 secara resmi nama bandara Mozes Kilangin mulai digunakan.   

Keberadaan sebuah bandara bagi sebagian besar kota kabupaten di kawasan Papua adalah sebuah pintu gerbang bagi kemudahan transportasi ke dan dari wilayah lain, apalagi lintas pulau dan negara. Ketertinggalan dan keterbatasan sarana transportasi darat antar wilayah di Papua ini agaknya mendesak untuk diatasi secepatnya, kalau tidak ingin begita-begitu saja perkembangan ekonominya. Perlu orang-orang yang berwawasan ke depan untuk membangunkan raksasa yang seprana-seprene dibiarkan tidur tidak bangun-bangun.  

Kini masyarakat kabupaten Mimika dan sekitarnya boleh bangga memiliki terminal baru bandara berkelas internasional dengan segala kelengkapan fasilitasnya yang jauh lebih baik dibanding sebelum tanggal 18 Juli yang lalu. Begitu pun bu Maria Kilangin boleh tersenyum bangga nama almarhum suaminya diabadikan sebagai nama bandara Timika yang kini tampil lebih cantik, nyaman dan “layak”.

(Sebenarnya dalam hati saya kepingin bertanya : kira-kira sampai kapankah kebersihan, kecantikan dan kerapiannya itu akan mampu bertahan? Tapi, enggak jadilah…. Nanti dikira berprasangka buruk dan sinis…..).

Singkat kata, berada di terminal bandara Mozes Kilangin kini…., benar-benar serasa sedang berada di terminal bandara……. (Lho, memang sebelumnya tidak? Ya serasa berada di dalam kandang, itu tadi……).

Yogyakarta, 27 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Apa Yang Sedang Dilakukannya?

12 Juli 2008

Adisutjipto1

Sebuah kendaraan kecil yang rupanya mesin pengepel atau pembersih itu sedang berputar-putar tak tentu arah, ngalor-ngidul, mojok, memutar, tanpa berhenti, di pelataran bandara Adisutjpto Yogyakarta. Piranti pembersih yang menempel di bagian bawah depan kendaraan pun dalam posisi terangkat atau tidak sedang mengepel. Adegan itu saya saksikan selama lebih satu jam, sambil minum kopi menunggu pesawat yang terlambat.
 

Adisutjipto2

Sementara di sisi barat pelataran sedang sibuk dengan pesawat yang datang dan pergi, di sisi timur mesin pengepel itu midar-mider tak jelas tujuannya.

Apa yang sedang dilakukan sopirnya? Entahlah….
(Foto diambil pada tanggal 10 Juli 2008, sekitar jam 08:00 pagi).

 

Yogyakarta, 12 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Biarkan Alarm Berbunyi, Penumpang Tetap Berlalu

4 Mei 2008

Barangkali kini Nano alias Surya Erli Suparjan sedang sedih karena gagal terbang gratis ke Banjarmasin naik pesawat Lion. Atau muram karena berurusan dengan pihak berwajib (maksudnya pihak yang selalu merasa wajib membela diri dan wajib menyalahkan orang lan), gara-gara penyusupannya ke pesawat Lion dilaporkan oleh sang pramugari. “Oo…. kamu ketahuan……”, senandung mbak pramugari.

Tapi saya membayangkan, mas Nano kini justru sedang tersenyum karena berhasil mengelabuhi petugas bandara dengan memakai baju “Security” hingga masuk ke dalam pesawat, bak drama penyusupan di film-film asing (kalau film Indonesia biasanya dramanya agak konyol). Mas Nano pun bersenandung : “Oo…. kamu kecolongan……”.

Mestinya otoritas bandara memberi penghargaan kepada mas Nano karena sukses membuktikan kelemahan sistem keamanan bandara internasional yang dibangga-banggakan negara tetangganya Republik Mimpi.

Kecolongan? Kata ini memberi konotasi bahwa terjadinya baru sekali dan kebetulan ketahuan.

***  

Sabtu sore di bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Tiba di pintu keberangkatan, seorang Satpam memeriksa tiket pesawat lalu mempersilakan saya masuk. Segera disongsong oleh mesin pemeriksa barang dan penumpang. Gawangan scanner pun berbunyi “tit…tit…tit…” disertai lampu merah kecil nyala berkedip. Biasanya akan langsung disambut oleh petugas Satpam yang menyuruh mengangkat tangan dan menggeledah tubuh penumpang. Tapi kali itu kok sepi. Setelah tolah-toleh, tak seorang Satpam pun muncul untuk menggeledah. Ya, sudah. Saya ambil barang yang sudah melewati pemeriksaan sinar-X, lalu check-in.

Kemudian memasuki ruang tunggu. Untuk kedua kalinya peristiwa sken-menyeken harus dilalui. Melewati gawangan pemindai, alarm pun berbunyi dan lampu merah menyala. Kejadian seperti di depan tadi juga berulang. Juga sepi petugas. Juga sudah tolah-toleh. Juga tak seorang pun Satpam menghampiri. Ya, sudah. Ambil ransel dan laptop, lalu duduk di ruang tunggu sambil menyeruput kopi Bengkulu.

Kemana gerangan para petugas security yang bertanggungjawab terhadap keamanan bandara? Petugas yang ada di bagian depan yang memeriksa karcis pesawat terlihat cuek. Petugas di bagian pemeriksaan barang juga terlihat serius memelototi layar monitor. Tapi petugas yang menggeledah penumpang tidak ada.

***

Tiba di bandara Soekarno-Hatta langsung transit dengan pesawat yang menuju ke Yogyakarta. Memasuki galeri ruang tunggu, kembali harus melewati pemeriksaan barang dan penumpang. Pasti di bandara Soekarno-Hatta lebih ketat, wong ini bandara kelas dunia, pikir saya.

Ransel dan laptop berhasil melewati terowongan pemindai. Giliran pemiliknya melewati gawangan pemindai, alarm berbunyi dan lampu merah menyala. Tapi saya kok dibiarkan saja sama security yang ada di situ. Tidak satu pun dari dua orang security yang berdiri gagah di sana bergairah menyambut saya untuk menggeledah atau memeriksa darimana sumber bunyinya (mungkin benar, penampilan saya kurang menggairahkan karena lusuh pulang dari lapangan), Ya, sudah. Wong saya dicuekin saja, sayapun ambil barang lalu melenggang menuju ruang tunggu.

Lalu dimana fungsi pengamanan bandara? Setidak-tidaknya pada dua pengalaman pada hari yang sama di dua bandara yang masih ada hubungan suami-istri (Fatmawati Soekarno di Bengkulu dan Soekarno-Hatta di Jakarta). Jelas ini bukan kecolongan, melainkan kesengajaan.

“Ah, menyesal aku tidak membawa bom rakitan dari Bengkulu ke Jogja”, begitu kira-kira kata oknum teroris seandainya waktu itu ikut terbang bersama saya…..

Yogyakarta, 7 Desember 2007
Yusuf Iskandar

Yang Terpaksa Dan Yang Ingin

4 Mei 2008

Jam sudah menunjukkan lebih jam sepuluh malam di Yogya, ketika HP milik seorang teman tiba-tiba berdering memanggil-manggil. Di seberang sana terdengar suara seseorang meminta agar besok bertemu di Jakarta. Karena sisa waktu yang sangat sempit dan mendadak, maka satu-satunya cara untuk mencapai Jakarta dengan cepat adalah pagi-pagi besoknya pergi ke bandara lalu terbang.

Hanya masalahnya, teman yang mau ke Jakarta ini adalah seseorang yang agak-agak mengidap aviophobia (takut terbang). Tentu saja ini adalah situasi yang sangat tidak disukainya, karena berarti dia tidak punya alternatif untuk nyepur.

Semalaman sengaja dia tidak segera berangkat tidur, melainkan justru berusaha mengurangi jam tidurnya. Bagaimana agar sisa waktu tidur malamnya tinggal sesedikit mungkin, sebelum besok paginya naik pesawat ke Jakarta. Hal ini memang disengaja dan bukan karena didera rasa gelisah.

Hasilnya ternyata cukup mujarab untuk menyiasati atau menaklukkan rasa takut terbang. Begitu pantat menempel tempat duduk di dalam pesawat ketika masih di bandara Adisutjipto, tidak lama kemudian teman saya tertidur pulas. Hal yang sama terulang kembali sebelum pesawat mendarat di Cengkareng.

Maka, ketika teman saya ini terpaksa harus naik pesawat terbang juga, dia pun rela kehilangan detik-detik take-off dan landing……

***

Barangkali kita masih ingat ketika dulu pernah punya keinginan : bagaimana ya rasanya naik pesawat terbang?. Akhirnya kesampaian juga. Itupun karena naik pesawat kemudian menjadi bagian dari tuntutan pekerjaan. Terutama bagi mereka yang menjadi orang lapangan (maksudnya, bukan pekerja kantoran), sehingga harus mibar-miber kesana-kemari naik pesawat terbang.

Namun lain halnya kalau yang kepingin merasakan naik pesawat terbang itu adalah para kepala sekolah di sebuah kecamatan di lereng gunung Merbabu, tetangganya gunung Merapi yang mau njeblug itu. Boro-boro tuntutan pekerjaan, menuntut pun belum tentu kesampaian.

Maka beramai-ramailah para kepala sekolah beserta keluargnya urunan untuk melakukan darmawisata ke Jakarta dan Bandung tiga hari dua malam. Jangan dilupakan bahwa selain menjadi kepala sekolah, mereka umumnya adalah juga petani di desanya. Itinerary pun disusun, pokoknya berangkat naik pesawat terbang, pulangnya naik kereta api. Entah selama di Jakarta mau berdarma dan berwisata kemana tidak penting, asal ada acara naik pesawat dan naik kereta api. Pasalnya, dari 47 orang anggota rombongan itu hanya tiga orang.diantaranya yang pernah merasakan naik pesawat terbang dan hanya sepuluh orang diantaranya yang pernah merasakan naik kereta api.

Maka pada Jum’at pagi umun-umun kemarin berkumpullah serombongan kepala sekolah dan keluarganya turun gunung lalu berduyun-duyun menuju bandara Adisutjipto. Belum jam enam pagi mereka sudah bergerombol di depan terminal keberangkatan. Tidak ketinggalan masing-masing sudah membawa sekotak kardus berisi kue resoles, arem-arem dan klethikan untuk bekal sarapan pagi.

Lalu tiba saatnya sang pimpinan rombongan memberi komando kepada 47 orang berseragam kaos putih untuk memasuki terminal keberangkatan. Tidak lama lagi mereka bakal menikmati bagaimana rasanya naik pesawat terbang….. ngueng…ngueng…ngueeeeeng….., lalu lusa naik kereta api….. tut…tut…tuuuut……

Sayang, saya tidak berada dalam satu pesawat dengan rombongan itu. Terbayang betapa sang pimpinan rombongan harus pandai mengontrol urat sabarnya melayani anggota rombongannya. Pasti seru bin heboh di dalam kabin sana, atau sebaliknya malah sama sekali sunyi-senyap, tegang….. “Have a nice flight pak dan bu guru…..!”.

Cengkareng, 13 Mei 2006.
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(5).   Penumpang Kepagian

bandara2Akhirnya saya harus meninggalkan Tanjung Redeb. Tidak seperti ketika berangkatnya perlu 20 jam melewati jalan darat dari Balikpapan. Saat kembali ke Balikpapan saya sudah pesan tempat untuk menggunakan moda angkutan udara dari Tanjung Redeb.

Menurut jam penerbangan yang terulis di tiket, pesawat Trigana Air jurusan Tanjung Redeb – Balikpapan akan tinggal landas jam 6:45 pagi Waktu Indonesia Tengah. Jam 5:30 pagi saya sudah meninggalkan hotel dan berjalan kaki ke persimpangan jalan untuk mencari taksi yang akan mengantarkan saya ke bandara. Yang disebut taksi di Tanjung Redeb (juga di banyak kota umumnya di luar Jawa) adalah angkutan kota.

Tidak terlalu lama saya berdiri sendiri di pagi hari yang sepi di perempatan jalan terdekat (di pinggirnya tentu saja), hingga kemudian sebuah taksi berlalu dan menawarkan diri untuk ditumpangi. Saya lalu naik dan bergabung dengan beberapa penumpang yang sudah lebih dulu ada di dalamnya. Para penumpang itu rupanya semua menuju ke pasar. Maka selepas pasar, tinggal saya satu-satunya penumpang yang tinggal.

Mengetahui tujuan saya adalah bandara Kalimarau, pak sopir taksi yang ternyata berasal dari Jember itu menawari saya agar taksinya dicarter saja sehingga langsung menuju bandara dan tidak menarik penumpang di jalan. Ongkosnya seperti biasanya Rp 40.000,- katanya. Khawatir terlambat tiba di bandara, saya lalu menyetujuinya.

Di perjalanan pak sopir bertanya : “Ke bandara kok pagi sekali, pak?”. Saya tidak langsung menjawab, melainkan feeling saya mengendus sepertinya ada sesuatu yang tidak biasa. Tapi apa?

Baru kemudian saya menjawab : “Iya, pesawatnya jam 6:45”. Pak sopir hanya bergumam pendek : “Oo…, biasanya kok agak siang”. Saat itu hari memang masih tampak pagi sekali dan masih gelap seperti malam. Mulailah detector pada indra perasaan saya pertajam. Jangan-jangan saya kepagian. Jangan-jangan saya salah melihat tulisan jam di tiket. Jangan-jangan pak sopir benar bahwa biasanya memang penerbangan agak siang. Atau, jangan-jangan jam di handphone saya (saya tidak biasa pakai arloji) masih jamnya WIB. Berbagai jangan-jangan lalu berkecamuk di dalam otak saya. Ah, sebodo teuing, yang penting segera tiba di bandara.

Jarak dari kota Tanjung Redeb ke bandara Kalimarau memang hanya sekitar 7 km, melewati jalan yang menuju ke arah Teluk Bayur, lalu belok ke kiri sekitar satu kilometer. Maka tidak terlalu lama akhirnya saya dan taksi sewaan tiba di bandara Kalimarau.

Lha, rak tenan……! Kekhawatiran saya menjadi kenyataan. Bandara masih sepi mamring….. Rasanya seperti sedang berdiri di depan gerbang rumah suwung dalam film horror. Hari masih pagi umun-umun, ketika saya dan taksi sewaan tiba persis di depan pintu gerbang bandara. Moncong taksi berhenti pada jarak dua meteran dari pintu gerbang bandara yang masih tutup.

Njuk piye iki …(harus bagaimana ini…?). Saya tolah-toleh tidak ada manusia satu pun di seputaran bandara. Untuk meyakinkan, saya tanya pak sopir taksinya, apa benar ini bandaranya. Pak sopir pun menjawab dengan meyakinkan bahwa memang itu bandaranya. Lalu pak sopir taksi saya minta agar menunggu dulu sesaat, sementara saya mencoba melihat-lihat kembali tiket saya di bawah penerangan remang-remang lampu kabin taksi. Pertama, saya pastikan lagi bahwa jam yang tertulis di tiket benar. Kedua, baru saya cari nomor tilpun agen Trigana Air yan tertulis di sana.

Agen Trigana Air Tanjung Redeb saya tilpun tidak ada yang mengangkat. Menilpun agen Balikpapan juga tidak ada yang mengangkat. Lalu agen Yogayakarta tempat saya membeli tiket dan agen Jakarta apalagi, mungkin petugasnya masih pada ngrungkel, menarik selimut. Tujuan saya menilpun sebenarnya hanya ingin memastikan bahwa apakah penerbangan Tanjung Redeb – Balikpapan hari itu ada, atau ditunda, atau malah dibatalkan. Agar saya tahu apa yang harus saya lakukan di pagi yang masih rada gelap dan sepi, sendiri ditemani sopir taksi (sendiri tapi ditemani….).

Setelah lima belas menitan saya tidak berhasil memperoleh informasi apapun. Akhirnya saya persilakan pak sopir taksi untuk meninggalkan saya sendiri (kali ini baru benar-benar sendiri tiada yang menemani…). Kasihan pak sopir taksi yang sebenarnya harus mengejar setoran. Pak sopir pun saya bayar Rp 50.000,- termasuk tip untuk menemani saya yang lagi bingung di depan gerbang bandara. Jadi, ada ongkos menemani orang bingung Rp 10.000,-

Namun sebelum pak sopir pergi, dia membantu saya membuka pintu pagar bandara. Rupanya pintu gerbangnya mudah dibuka, hanya diikat rantai saja tanpa gembok. Saya lalu jalan melenggang menuju teras bandara. Saya geleng-geleng kepala, bandara kok kotor dan seperti tidak terurus dengan baik.

Setelah tengok sana, tengok sini, longok sana dan longok sini, akhirnya saya lihat ada pos penjagaan yang ketika saya intip ternyata petugasnya sedang tidur ditonton oleh pesawat televisinya yang sedang menyiarkan siaran sepak bola. Pura-pura tidak tahu kalau penjaganya sedang tidur, saya ketok pintunya agak keras. Lalu saya tanyakan kepada petugas jaga yang kaget saya bangunkan, jam berapa jadwal pesawat ke Balikpapan. Dijawabnya, biasanya jam 8-an.

Lhadhalah….., berarti saya kepagian tiba di bandara, kecepatan hampir 2 jam. Saya segera menyimpulkan bahwa agen penjual tiket di Yogya pasti salah menuliskan jamnya. Bodohnya saya, kenapa tidak saya cek dulu sebelumnya……

***

Kejadian ini tidak seharusnya saya alami, kalau saja saya mau menyempatkan sebelumnya untuk melakukan rekonfirmasi kepada agen Trigana Air tentang tiket keberangkatan saya ke Balikpapan hari itu. Gara-gara kelewat yakin, karena sebelumnya tidak pernah terjadi kesalahan semacam ini. Ada baiknya, kita melakukan rekonfirmasi tiket pesawat setiap kali sebelum melakukan perjalanan udara. Meski sebelumnya tidak pernah terjadi kesalahan penulisan tiket, tapi menjadi menjengkelkan kalau sekalinya terjadi justru kita yang mengalami.

Siwalan…! Hari itu saya telah melakukan kebodohan yang semestinya bisa dihindari. Pihak penjual tiket di Yogya memang salah telah menuliskan jam penerbangan 2 jam lebih cepat. Tapi ketika kesalahan itu telanjur terjadi dan berakibat menimbulkan ketidaknyamanan diri kita, njuk lalu mau marah sama siapa….?

Klimaks kejengkelan terjadi di saat orang-orang masih pada tidur, di tempat yang jauh jaraknya. Kalau pun bisa marah lewat tilpun, ya menghabis-habiskan pulsa saja alias sia-sia (heran juga saya, marah kok masih bisa mikir untung-rugi). Paling-paling ya marah atas kebodohan diri sendiri. Sambil duduk bersandar di bangku tunggu di depan pintu masuk bandara, sambil kaki dijulurkan ke lantai yang kotor, sambil menulis SMS untuk dikirim ke penjual tiket langganan saya di Yogya.

Isinya maki-maki? Tidak. Terlalu sayang rasanya kalau hari indah saya harus saya awali dengan marah. Kira-kira saya bilang begini : “Hari ini saya kepagian tiba di bandara Tanjng Redeb, malah saya yang membuka gerbang bandaranya. Jam yang tertulis di tiket ternyata kecepatan 2 jam. Mudah-mudahan sekarang sudah punya jadwal yang baru”. Ponsel saya tutup, lalu memejamkan mata sambil dheleg-dheleg…… mengiringi matahari yang semakin terang menyinari bumi…..

(Untungnya kejadian itu menimpa orang yang sudah terbiasa mengalami banyak hal yang tidak mengenakkan dan yang lebih penting….. bisa menikmatinya. Sebab bisa menjadi bahan cerita, meski cerita tentang kebodohan, agar dapat dihikmahi oleh orang lain. Huh! Enak sekali jadi orang lain…..).

Orang pertama yang kemudian tiba di bandara setelah saya adalah pengelola kantin yang berada di sisi sebelah kanan bandara. Segera saya susul ke kantin. Seorang ibu yang sedang menyiapkan perlengkapan kantin sebelum buka, saya mintai tolong untuk mendahulukan menjerang air agar segera bisa disiapkan segelas kopi panas. Ibu itu mau juga. Barangkali saya pembeli pertama yang dianggapnya sebagai penglaris. 

Sekitar jam 8:15 ketika bandara mulai agak ramai, saya tinggalkan kantin dan masuk ke bandara seperti penumpang lainnya. Ada sepenggal kebanggaan, ketika melewati semua proses pemeriksaan di depan petugas security, lalu mengurus chek-in, lalu membayar pajak, lalu membeli asuransi, lalu menyapu pandang kepada segenap penumpang yang sudah lebih dahulu duduk di ruang tunggu, dan terakhir ketemu orang di toilet (sudah kebelet sejak tadi…..)  Kebanggaan? Kalau saja mereka tahu, bahwa hari itu sayalah yang membuka pintu gerbang bandara…..

Yogyakarta, 20 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Hari Tanpa Tembakau Di Lorong Asap

22 Maret 2008

Sehabis subuh, bersiap hendak terbang ke Bengkulu. Secangkir Coffee-Mix sudah siap di meja. Sambil menunggu taksi, sambil menyeruput kopi campur. Dan, tidak ketinggalan sebatang rokok putih, yang ternyata tinggal sebatang dalam bungkusnya yang berwarna merah-putih. 

Setelah membaca koran pagi, barulah saya ingat bahwa hari itu adalah tanggal 31 Mei sebagai Hari Tanpa Tembakau (World No Tobacco Day). Dunia memperingati hari itu dengan mengajak atau menganjurkan masyarakat perokok untuk tidak merokok. Sehari saja!. Sebagai tetenger (tanda) agar masyarakat dan khususnya perokok menyadari dampak negatif dan potensi bahaya dari aktifitas merokok. Kalau tembakaunya sebenarnya baik-baik saja, tapi merokoknya itu……

Lalu, niat ingsun (meski terlambat) untuk berpartisipasi memenuhi anjuran tidak merokok sehari saja. Apa untungnya atau apa manfaatnya? Tidak tahu! Pokoknya ikut merayakan. Terbersit sebuah semangat untuk membuktikan bahwa saya bisa. Tiga tahun yang lalu saya berhasil. Dua tahun yang lalu saya lupa. Setahun yang lalu saya sengaja tidak ambil bagian. Maka, tahun ini kembali ingin membuktikan bahwa saya (masih) bisa. 

Detik-detik yang sangat menantang biasanya terjadi ketika minum kopi di bandara, atau duduk tepekur menunggu pesawat, atau kemlakaren sehabis makan, atau ngobrol menjelang tidur. Sementara oknum perokok di sekitar klepas-klepus…

***

Ketika memasuki ruang tunggu terminal A bandara Cengkareng, menuju ke salah satu lorong dari tujuh galeri yang ada. Sebuah papan nama berdiri menghalangi jalan di tengah lorong, sehingga siapapun pasti membaca tulisan berwarna merah di papan putih itu. Bunyi tulisannya suangat jelas : “Dilarang Merokok” lengkap dengan terjemahannya “No Smoking”.

Namun apa daya….., tulisan itu diterjemahkan oleh oknum perokok sebagai dilarang merokok di atas papan nama itu. Artinya kalau merokok di seputarnya, boleh. Dan memang itu yang terjadi.

Alkisah, dari ujung lorong bak cuaca buruk sedang melanda ruang tunggu bandara. Itu karena asap rokok menyelaputi lorong menuju ruang tunggu. Rupanya para ahli hisap berkerumun di sepanjang salah satu sisi lorong di seputaran papan nama, sambil menduduki corongan pengatur udara (yang padahal bentuk corongan itu sebenarnya sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tidak enak untuk diduduki). Maka tak pelak lagi, asap pun menggumul di lorong.

Boro-boro tahu atau ingat hari itu adalah World No Tobacco Day. Wong tidak ada sosialisasi. Tidak ada publikasi. Tidak ada kampanye seperti pilkada, sedang pilkada saja suka mencuri start berkampanye. Tanggal 31 Mei pun berlalu tanpa kesan, tanpa greget.

Beberapa mbak dan ibu, berjalan cepat menerobos cuaca buruk di lorong sambil mengipas-ngipas hidungnya dengan telapak tangannya, padahal hidungnya sedang tidak kepanasan. Tidak ada yang menegur (atau mengingatkan) dan tidak ada yang perduli. Papan nama adalah satu kejadian dan merokok di sekitarnya adalah kejadian lain yang seolah-olah tidak ada hubungannya. Kedua kejadian berlangsung di lorong asap menuju ruang tunggu bandara terminal A.

Pengalaman berbeda terjadi dua minggu sebelumnya di lorong menuju ruang tunggu bandara Juanda yang masih terlihat baru. Ketika ada satu, dua atau tiga orang yang mencoba merokok sambil duduk di deretan kursi. Ada petugas yang dengan sopan mempersilakan kalau mau merokok sebaiknya di tempat yang telah disediakan. Toh, oknum perokok itu mau menurut juga. Kalaupun dari 10 oknum yang ditegur ada satu yang mbandel, kiranya itu masih sebuah prestasi. Secara akal waras, orang yang ditegur mestinya malu. Dengan perkataan lain, hanya orang yang tidak waras saja yang bisa ngeyel. Untung bukan saya…..

***

Alhasil, sehari itu, tanggal 31 Mei yang lalu, saya berhasil melewati uji nyali tidak merokok sehari (meskipun sempat kecolongan di awal pagi). Sungguh tidak ada untungnya dan manfaatnya sebenarnya. Wong tanggal 1 Juninya pak Sastro mulai merokok lagi……

Tapi ada sebuah hikmah, bahwa ternyata : saya bisa kalau saya mau! (Pada titik tertentu dalam episode hidup, ternyata hikmah ini menjadi modal berharga saya. Jauh lebih berharga ketimbang uang atau peluang).

Jadi bagi saya (bagi saya, lho…..), masalah stop merokok sebenarnya bukan soal telanjur kecanduan atau telanjur sulit, apalagi telanjur sayang……, melainkan karena belum mau. Buktinya? Stop 24 jam di tanggal 31 Mei bisa. Stop 14 jam sebulan penuh di Ramadhan juga bisa.

Kalau begitu, kenapa tidak stop total saja? Nah, justru menjawab pertanyaan ini yang saya belum bisa (atau belum mau?) …… 

Bengkulu, 1 Juni 2007
Yusuf Iskandar

Sampah Kita Sendiri

21 Maret 2008

Pengantar :

Cerita di bawah ini saya tulis karena terinspirasi oleh cerita sahabat saya (Mas Mimbar Saputro) tentang crew drumband yang merangkap tukang sampah di Singapura. Sebagian dari cerita di bawah ini pernah saya singgung dalam tulisan saya beberapa tahun yll. Namun tidak ada salahnya saya singgung lagi untuk menambah kelengkapan ilustrasi – yi

——-

Orang Jakarta pernah bingung ketika tidak bisa membuang sampahnya. Semakin kalang kabut ketika kawasan tetangga Jakarta yang biasanya tidak ada masalah untuk ditimbuni sampah, kemudian menolaknya. Itu karena jumlah sampahnya bergunung-gunung. Sementara ketika jumlah sampah di dalam rumah kita masih seukuran asbak atau sekantong tas kresek, seringkali kita kurang perduli. Nyaris tidak pernah terpikir akan diapakan atau dibuang kemana sampah itu nantinya, kecuali sebatas membuangnya ke tong sampah atau tempat pengumpulan sampah di kampung kita.

Jika kita berada di pedesaan di mana masih banyak kawasan terbuka dan tanah kosong yang belum padat penduduknya, urusan sampah nyaris jauh dari agenda keseharian kita, apalagi pemerintah.

Kalau Singapura sangat ketat dan keras untuk mengatur urusan sampah, tentu karena mereka menyadari bahwa sampah adalah urusan yang sangat serius mengingat terbatasnya luas daratan yang mereka miliki, yang harus dikapling-kapling untuk berjuta peruntukan dan kepentingan. Maka logis saja kalau kemudian kesadaran masyarakat akan keberadaan sampah harus dipaksakan. Mereka (tanpa pandang bulu, kulit, rambut atau ekor) yang sembrono, sangsinya denda yang tidak main-main. Bagi yang main-main, “Bayar S$ 5000…..!”. Tidak ada tawar-menawar.

***

Karnaval dan Peserta Terakhirnya

Di New Orleans, Louisiana, Amerika, setiap tahun digelar pesta rakyat yang disebut Mardi Gras. Biasanya diadakan pada sekitar bulan Pebruari-Maret. Mardi Gras adalah pesta masyarakat dan karnaval yang diselenggarakan di semua kawasan kota. Karnaval yang penuh nuansa hura-hura dan terkadang gila-gilaan ini diselenggarakan selama dua – tiga minggu penuh dan dua hari puncaknya dijadikan sebagai hari libur umum. Selain agar segenap masyarakatnya dapat menikmati pesta rakyat itu, juga bagi mereka yang terlibat dalam karnaval tidak perlu mbolos kerja atau sekolah.

Namanya juga karnaval, maka di sana ada barisan bendera, umbul-umbul, drumband, penari, kendaraan hias, dan segala macamnya. Namun karnaval Mardi Gras yang mempunyai ciri khas dominasi warna hijau-kuning-ungu, juga selalu disertai dengan membagi-bagikan kalung beraneka motif dan warna serta berbagai souvenir, dengan cara melempar dari atas kendaraan. Maka penonton akan ramai berebut memperolehnya, apalagi anak-anak.

Disebut gila-gilaan, karena di lokasi-lokasi tertentu, para perempuan peserta pesta hura-hura dan karnaval terkadang tidak malu-malu untuk mengangkat tinggi-tinggi bagian depan baju kaosnya sehingga terlihat bagian tubuh yang sebelumnya tertutupi oleh kaosnya itu. Saya tidak tahu apakah bagian terakhir ini yang kemudian menarik wisatawan asing maupun domestik dari penjuru Amerika untuk ingin berkunjung ke New Orleans ketika ada pesta Mardi Gras.

Ada yang menarik pada setiap kali ada karnaval Mardi Gras. Di bagian paling belakang dari peserta karnaval selalu ada peserta dari Dinas Kebersihan Kota. Sekelompok orang di barisan terakhir ini tugasnya mengumpulkan semua sampah yang ditinggalkan oleh barisan karnaval di depannya di sepanjang jalan yang dilalui. Lalu diikuti oleh mobil penyemprot air, mobil penghisap sampah dan mobil pengepel jalan (seperti mesin pel lantai yang bagian bawahnya berupa sapu putar yang menggosok dan mengepel). Maka ketika karnaval selesai, sepanjang jalan yang dilalui segera bersih seperti semula dan siap dibuka kembali untuk lalu lintas umum, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. 

Pesta dan hura-hura adalah kebutuhan rekreatif masyarakat, tapi lingkungan yang bersih adalah juga kebutuhan lain yang tidak boleh dikorbankan. Artinya, bukan tujuan pemenuhan kebutuhan saja yang diutamakan, melainkan janganlah lalu dikesampingkan dampaknya.

***

Sampah Rumah Tangga dan Beruang

Di Juneau, Alaska, Amerika, suatu ketika saya membaca pengumuman dari kantor Pemda setempat di sebuah media lokal tentang aturan membuang sampah rumah tangga. Bahkan aturan itu dibuat sedemikian rincinya. Kesadaran tentang tata cara menangani sampah rumah tangga bukan hanya ditujukan bagi diri individu masyarakat sendiri melainkan masyarakat juga diminta melaporkan kepada pemda atau polisi kalau mereka melihat ada orang lain yang tidak mau mengikuti aturan tersebut. Bagi yang mengabaikan aturan ini dapat dikenakan denda minimum US$100.  

Untuk apa harus diatur tentang prosedur membuang sampah? Rupanya di sana banyak berkeliaran beruang liar yang dilindungi. Dengan tidak membuang atau menyimpan sampah sembarangan, maka para beruang liar tidak akan tertarik untuk keluar dari hutan dan makan sembarangan di tempat-tempat sampah yang dapat berakibat sakit atau matinya hewan langka yang dilindungi itu. Jadi pengaturan penyimpanan dan pembuangan sampah itu memang tujuan utamanya bukan demi masyarakat melainkan demi beruang. Luar biasa. Jika kita bandingkan dengan keprihatinan kita atas saudara-saudara kita yang tidak beruntung yang menggelandang di kota-kota besar yang seringkali justru hidup dari mengais sisa-sisa makanan, tanpa banyak yang dapat kita perbuat.

Terlepas dari soal beruang Alaska. Menyimpan, menimbun atau membuang sampah rumah tangga secara asal-asalan memang bisa runyam. Kita memang sering berpikir praktis saja soal sampah domestik ini. Kita kira kalau sudah dibungkus dari rumah lalu dilempar ke tong sampah di luar rumah atau di pinggir jalan, sudah bayar uang bulanan ke tukang sampah (apalagi yang masih nunggak mbayar…..), maka tanggung jawab kita perihal sampah ini sudah tuntas.

Ya, memang hanya sampai di situ saja, apa lagi….? Entahlah, soal bagaimana cara kita membungkus dan menempatkan bungkusan sampah di dalam tong sampah di luar rumah seringkali kita anggap sebagai soal lain yang tidak ada hubungannya…………

***

Kisah Sepuntung Rokok di Madison

Di Madison, Wisconsin, Amerika, suatu siang saya istirahat sejenak dari sebuah perjalanan panjang, di halaman parkir sebuah supermarket menunggu istri dan anak-anak saya membeli perbekalan. Sambil menunggu di mobil, sambil menghisap sebatang Marlboro. Tanpa saya sadari, seorang ibu memperhatikan ulah saya ketika saya membuang puntung rokok di samping mobil yang saya parkir. Sang ibu menegur saya. Tidak cukup itu, diapun masih menegur saya dengan mimik serius, sampai saya benar-benar mengambil kembali puntung rokok yang tadi saya buang.

Sungguh saya dibuat malu sekali……, malu pada diri sendiri. Sampai saya terbengong-bengong. Padahal tidak ada seorang pun melihat kejadian di siang yang panas itu, di tengah halaman parkir yang sangat luas dan sedang sepi. Betapa masih ada warga masyarakat yang begitu perduli dengan setitik sampah yang mengotori kotanya. Ya…., hanya sepuntung Marlboro di tengah lapangan parkir yang luasnya lebih dari lapangan sepakbola.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Kata Tjuta

Di Taman Nasional Kata Tjuta, Northern Territory, Australia, suatu sore karena hari hujan saya berteduh di bawah shelter tempat istirahat. Sambil memainkan kamera, saya menyadari bahwa sebatang Marlboro yang sejak tadi menyelip di jari tangan kiri rupanya sudah pendek. Karena setelah saya tolah-toleh tidak terdapat tempat sampah, dengan tanpa salah sedikitpun puntung rokok lalu saya jatuhkan di pojok shelter.

Tanpa saya duga, tiba-tiba ada seseorang yang kalau saya tilik wajahnya adalah turis Jepang, berjongkok lalu mengambil puntung yang barusan saya jatuhkan. Lalu dimasukkan ke dalam wadah kertas yang dibawanya, karena dia juga sedang merokok. Dasar orang Jepang, dia pintar membuat kerajinan tangan Origami, kertas yang dilipat-lipat sehingga membentuk wadah menyerupai kotak kecil.

Bukan kerajinan kertasnya yang membuat saya terperangah, melainkan caranya memandang saya sehabis mengambil puntung rokok yang tadi saya buang. Sambil menganggukkan kepala dia tersenyum menyambut ucapan “I’m sorry” dan “thank you” saya. Di sekitar saya banyak turis yang juga sedang berteduh. Memang tidak ada yang memperhatikan saya, tapi sungguh si Jepang benar-benar membuat saya salah tingkah. Pokoknya, malu abizzzz…… Mau cepat-cepat pergi rasanya, tapi tidak bisa, wong hujan sedang turun dengan lebatnya ditambah kilatan petir yang menyambar.

***

Kisah Sepuntung Rokok di Bandara Taipei

Suatu malam ketika transit di bandara Taipei, Taiwan, saya sedang sangat ingin sekali merokok karena sejak berangkat dari Jakarta dalam perjalanan menuju Los Angeles, tidak bisa merokok sebatangpun. Cilakanya, saya tidak menemukan “Smoking Room”, tapi juga tidak menemukan tulisan “No Smoking”. Sambil tengok kanan-kiri, saya temukan di sudut lorong ada pot bunga besar yang rupanya di sekitar tanamannya banyak tumbuh puntung rokok. “Ini dia…..”, pikir saya.

Maka, serta-merta saya curi kesempatan untuk mojok. Lalu cepat-cepat menghisap sebatang rokok, sambil agak melengos malu-malu kucing setiap kali ada orang lewat. Cepat saja, lalu puntung rokoknya saya tanam di sekitar tanaman yang ada di pot. Saya tahu bahwa ini tindakan curang, memanfaatkan situasi entah siapa yang pertama kali memulai menanam puntung rokok di pot bunga tersebut. Terbersit rasa malu dan penyesalan yang dalam, mudah-mudahan kelak saya tidak kembali berada dalam situasi yang tidak menyenangkan itu. Tidak menyenangkan bagi saya dan tidak menyenangkan bagi pemerintah Taiwan.

***

“Bungkusnya Dikantongin Dulu…..”

Suatu saat di Tembagapura, Papua, diadakan acara “Tembagapura Bersih”. Segenap lapisan masyarakat yang umumnya karyawan beserta keluarganya, dan anak-anak sekolah mengambil bagian untuk membersihkan kota Tembagapura. Di akhir acara, seorang anak ditanya oleh panitia, tentang apa yang paling banyak dijumpai di halte bis kota. Jawab keras sang anak : “Puntung rokok dan bungkus permen”.

Lalu sang anak ditanya lagi : “Bagaimana kalau pas di dalam bis kamu ingin makan permen dan tidak ada tempat sampah?”. Jawab sang anak : “Bungkusnya dikantongin dulu, nanti dibuang di tempat sampah ketika turun dari bis”. Sebuah jawaban lugu, jujur dan……. rasanya masuk akal. Lebih penting lagi, kita bisa belajar dari sang anak itu. Kalau mau …….

***

Soal sampah, memang bukan soal ada tempat sampah atau tidak. Bukan soal ada tulisan “Dilarang Buang Sampah Sembarangan”, atau tidak. Bukan soal jumlah sedikit atau banyak. Bukan soal sudah ada yang mengurusi atau belum. Masalah sampah, adalah masalah perilaku. Masalah kepedulian bahwa kita butuh lingkungan yang bersih. Masalah tanggung jawab sosial.

Enak sekali kedengarannya. Semua orang juga tahu. Tapi mari kita lihat asbak dan tempat sampah di rumah kita masing-masing, sebelum kita melihat tempat sampah orang lain. Ya, sampah kita sendiri. Bersih-bersih yuk……!

Tembagapura, 7 Agustus 2004.
Yusuf Iskandar

Hamster

21 Maret 2008

Anak laki-laki saya yang baru naik ke kelas 5 SD sangat menyukai hamster piaraannya. Prejengan (profil tubuh) hamster yang kecil imut-imut, lucu dan bersih itu barangkali yang menjadikan anak-anak banyak yang menyukainya. Sepulang dari liburan dua minggu yang lalu, induk hamsternya beranak lagi untuk ketiga kalinya. Padahal umurnya baru tujuh bulan.

Ketika umur hamsternya baru tiga bulan sudah beranak enam ekor, tapi mati satu. Kesemua anaknya habis diminta teman-teman anak saya. Beranak yang kedua waktu umurnya lima bulan, juga enam ekor jumlah anaknya. Empat ekor diantaranya juga diminta teman-teman anak saya. Lalu kini beranak lagi 12 ekor, tapi sayang di hari ketiga tinggal enam ekor, selebihnya dimakan oleh induknya.

Anak saya membeli hamster saat liburan semesteran bulan Januari awal tahun yang lalu. Pada suatu siang dia minta uang Rp 20.000,- pada ibunya untuk membeli hamster di pasar Ngasem. Ngasem adalah nama pasar burung di Yogya, meskipun tidak hanya burung yang dijual di pasar ini. Segala macam hewan berkaki dua ada di sini, termasuk ayam, bebek, menthok (itik), dsb. Ada juga ikan hias, termasuk kelinci dan hamster juga ada, serta hewan-hewan ukuran kecil lainnya.

Tanpa tanya ini-itu, setengah tidak perduli ibunya lalu memberinya uang yang diminta. Rupanya anak saya siang itu mengajak teman mainnya di Bintaran Kulon pergi ke pasar Ngasem dengan berjalan kaki. Jarak antara Bintaran dengan Ngasem sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 1,5 km saja. Tapi untuk mencapai Ngasem dia harus berjalan kaki melintasi pinggir kali Code, lalu menyeberang jembatan, terus menyusuri jalan besar utara plengkung Yudonegaran menuju alun-alun utara kraton. Setelah menyeberang alun-alun lalu ke selatan menuju pasar Ngasem.

Tidak berapa lama, anak saya pulang dengan membawa kantong kertas berwarna coklat yang ternyata berisi seekor hamster berwarna putih yang baru berumur tiga mingguan. Masih terlihat kecil sekali. Saya jadi merasa kasihan dengan kesungguhan anak saya yang ingin memelihara hamster. Kasihan yang kedua adalah terhadap hamsternya sendiri, masak hanya hidup sendiri tanpa pasangan di kandangnya yang hanya berupa kotak kardus kecil (belakangan saya baru tahu bahwa sebenarnya tidak ada masalah jika memelihara seekor hamster tanpa pasangan). Maka kemudian dia saya ajak untuk kembali ke penjualnya di Ngasem, sekalian bersama ibunya dan kakak perempuannya. Kali ini tidak berjalan kaki tentunya.

Si penjual hamster yang menempati petak agak di tengah pasar masih ada di sana. Ada banyak pasangan hamster yang ditawarkan. Harganya sepasang Rp 30.000,- Berumur rata-rata tiga mingguan. Masih terlalu kecil tampaknya, tetapi memang hewan ini sudah bisa dipisah dari induknya setelah berumur lebih dua minggu. Kali ini saya bilang kepada anak saya agar pasangannya yang berwarna krem dibeli sekalian saja, agar si hamster tidak kesepian sendiri. Lalu, sebuah kandang pun dibeli juga seharga Rp15.000,-, yaitu sebuah kandang kecil terbuat dari anyaman kawat yang di dalamnya ada mainan roda putarnya, seperti roda putar kandang tupai.

Tiba saatnya harus kembali ke Papua dan anak saya ingin membawa kedua hamsternya untuk dipelihara di Tembagapura. Artinya, hamster-hamsternya akan naik pesawat Garuda. Bagaimana caranya? Pasti ada aturan tersendiri untuk membawa binatang naik pesawat. Setelah tanya-tanya ke kantor Garuda, katanya biaya membawa binatang naik pesawat cukup mahal. Untuk dibagasikan bersama kandangnya kok kasihan. Maka perlu diakalin.

Kedua anak saya sepakat untuk berbagi tugas. Kedua hamster yang baru berumur tiga mingguan, masih sangat kecil tapi bulu-bulunya sudah tumbuh penuh, dimasukkan ke dalam sebuah tas cangklong kecil yang sengaja dikosongkan kecuali diisi makanan hamster. Ketika harus melewati pemeriksaan X-ray, mereka bersembunyi dulu dan terkadang bergantian ke toilet untuk memindahkan hamster dari tas cangklong ke saku celananya yang mempunyai ukuran saku cukup longgar. Setelah melewati pemeriksaan X-ray, mereka menuju toilet lagi dan memasukkan kembali hamster-hamsternya ke dalam tas cangklong. Demikian, SOP (Standard Operating Prosedur) ini dipraktekkan berulang-ulang, baik ketika di bandara Yogya maupun di Denpasar. Sementara kandangnya dimasukkan bagasi.

Maka selamatlah sang hamster tiba di bandara Timika, dan akhirnya di Tembagapura. Untungnya tidak diperlukan jaket khusus bagi hamster untuk hidup di Tembagapura yang berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya cuacanya cukup dingin bagi hamster yang nenek-moyangnya hidup di kawasan gurun.

***

Hamster adalah binatang sejenis tikus, ukuran tubuhnya juga kecil seperti tikus pithi atau curut. Bedanya hamster lebih bersih dan tidak jorok seperti tikus. Karena itu hewan ini banyak digemari anak-anak sebagai hewan piaraan. Seperti halnya tikus, hewan kecil ini suka ngrikiti (mengerat) apa saja. Jadi jangan mengira karena ukurannya kecil lalu ditempatkan dalam kandang yang terbuat dari kayu, apalagi kardus. Tidak lama, hamster akan berhasil membuat lubang untuk lolos.

Hamster jelas bukanlah hewan asli Indonesia. Habitat asal hewan ini sebenarnya di daerah dekat-dekat gurun. Di alam aslinya binatang suka membuat sarang di dalam liang-liang yang dalam seperti tikus tanah. Makanya memelihara hewan kecil ini sangat mudah, tidak perlu repot-repot memberi minum. Bukan tidak membutuhkan air, melainkan kebutuhan airnya biasanya cukup terpenuhi dari makanannya. Makanannya pun mudah, paling suka dengan jagung, terkadang divariasi dengan wortel, dan sayuran hijau seperti kangkung, bayam, kacang, boncis, kol, sawi, dsb. Sesekali diberi buah apel. Rakus sekali kalau diberi telur ayam, rebus maupun goreng.

Nama hamster sendiri berasal dari kata hamstern, bahasa Jerman yang artinya menimbun. Binatang kecil ini memang suka menimbun makanannya di dalam sarangnya. Diberi makanan sebanyak apapun akan disikatnya. Mula-mula disimpan di dalam mulutnya sehingga kedua pipinya menjadi gemuk. Setelah itu dia sembunyi ke sarangnya, lalu ditimbunnya makanan tadi di dekat sarangnya.

Di dunia ini ada banyak jenis hamster, tapi hanya sedikit saja yang biasanya dipelihara sebagai hewan piaraan di rumah, diantaranya jenis Syrian, Dwarf, Chinese dan Roborovski. Sedangkan species-species lainnya tidak lazim dipelihara orang. Warnanya pun bermacam-macam, ada putih coklat, abu-abu, hitam atau krem. Bulu-bulunya juga ada yang pendek dan ada yang panjang. Di alam aslinya, hamster ini termasuk binatang malam, kalau siang dia suka tidur dan kalau malam mulai aktif mencari makan.

Tentang hamster yang dibeli anak saya di pasar Ngasem, saya sendiri tidak tahu jenisnya. Penjualnya juga tidak tahu. Tapi kalau saya amat-amati, lebih dekat ke jenis Dwarf. Kata penjualnya, induknya dulu dibawa dari Australia oleh seorang pedagang Cina. Untuk jenis-jenis tertentu, harga di toko binatang bisa mencapai puluhan ribu bahkan lebih seratus ribu rupiah. Demikian halnya harga kandangnya jika membeli di toko. Anak saya menyimpan hamsternya di dalam ember plastik yang permukaannya lebar, agar hamster lebih leluasa bermain-main. Kandang dari ember ini cukup bagus dan aman karena hamster susah untuk mengerat permukaannya yang licin yang juga susah dipanjat.

Di dalam ember diberi sobekan-sobekan kertas yang lunak (sejenis kertas tissue), bisa juga serpihan-serpihan kayu. Yang agak merepotkan adalah harus rajin membersihkan kandang atau wadahnya. Tahinya kecil-kecil seperti beras tapi lebih besar sedikit, normalnya berwarna hitam, persis e’ek tikus. Tapi kencingnya cukup banyak, dan jika tidak rajin membersihkan kandangnya, baunya cukup mengganggu.

Perkembangbiakannya cepat sekali. Jika punya sepasang hamster yang sudah berumur 2 – 3 bulan, siap-siap untuk punya banyak hamster. Beberapa kali mereka bercinta, dalam waktu empat hari sang ibu segera hamil. Umur kehamilannya 16 sampai 18 hari, lalu melahirkan. Anaknya bisa berjumlah enam sampai 12 ekor. Ada yang sampai 17 ekor, tapi rata-rata 6 – 7 ekor. Ketika lahir, anak-anaknya seperti cindhil (anak) tikus, sebesar jari kelingking, berwarna merah, belum tumbuh bulu dan matanya masih tertutup. Setelah umur seminggu baru tampak warna bulunya, dan umur dua minggu baru terbuka matanya dan mulai keluyuran menjauh dari induknya.

Setelah melahirkan jangan coba-coba mengganggu anaknya sampai seminggu kemudian, jika induknya marah dia akan menelantarkan anaknya atau malah memakannya. Demikian juga kalau ada anaknya yang sakit, induknya akan tahu. Biasanya akan dimakan sendiri oleh induknya. Setelah berumur 2 – 3 minggu, anak-anak hamster sudah bisa hidup mandiri dan dapat dipisahkan dari induknya.

Setelah melahirkan, sebaiknya induk dan anak-anaknya dipisah dari hamster-hamster lainnya. Jika sudah siap untuk beranak lagi, baru dicampur dengan yang lain. Jadi dapat dibayangkan, betapa cepatnya perkembangbiakan hamster. Seperti dituturkan penjual hamster di pasar Ngasem, dari semula hanya memiliki sepasang hamster, kini sudah ratusan ekor keturunannya. Hamster memang termasuk binatang berumur pendek. Umur setahun biasanya sudah tampak tua dan tidak gesit. Umurnya rata-rata hanya 2 tahunan. Jika hanya ingin memelihara hamster untuk hiasan, sebaiknya ditempatkan hanya seekor dalam satu kandang.

***

Kini kedua hamster anak saya dan kedua anaknya hidup rukun dan damai di Tembagapura. Sebagian anak-anaknya dan saudara-saudaranya sudah hidup terpisah karena dibagikan kepada teman-teman anak saya. Paling tidak sudah ada sembilan ekor yang kini membina rumah tangganya masing-masing. Dan siap-siap untuk beranak-pinak, tergantung keinginan pemiliknya. Untuk enam ekor anaknya yang baru lahirpun sudah ada daftar pemesannya.

Menarik juga mengamati hamster-hamster ini. Kecil imut-imut, lucu, jinak (untuk jenis tertentu ada juga yang galak), tidak bersuara dan menggemaskan. Termasuk jenis binatang yang jarang membawa penyakit. Bisa menjadi hiburan yang mengasyikkan ketika pikiran sedang penuh sesak dengan urusan lain. Sama mengasyikkannya seperti ketika memandangi ikan-ikan di aquarium saat pikiran sedang stress. Boleh dicoba…..

Atau, melihatnya sebagai peluang bisnis? Seperti yang diceritakan oleh penjual hamster di pasar Ngasem, katanya hamsternya laku cukup keras. Harga untuk hamster seperti milik anak saya, sebut saja hamster “kampung”, harganya cukup murah. Banyak anak-anak yang suka. Bisa jadi klangenan anak-anak….. Habis, lucu sih …..

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 1 Agustus 2004.

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(1).  Tiba Di Bandara Fatmawati Soekarno

Ada yang berbeda dengan Adam Air yang saya tumpangi hari Minggu kemarin. Sejak dari Yogyakarta menuju Jakarta, lalu dilanjutkan menuju Bengkulu, semua pramugari Adam Air tidak mengenakan seragam seperti biasanya. Para pramugarinya tampil santai. Mereka hanya mengenakan kaos yang warnanya tidak seragam dipadu dengan celana denim biru berbagai merek. Kaos yang dikenakan ada yang berwarna dasar oranye, kuning, dan ada pula yang putih.

Didorong rasa penasaran, akhirnya saya tanyakan juga kepada salah dua dari mereka. Kenapa tidak memakai seragam? Jawabnya, memperingati World Cup. Piala Dunia kok diperingati. Tentu yang dimaksudkan adalah turut berpartisipasi merayakan pesta akbar pertandingan sepak bola dunia yang sedang digelar di Jerman. Makanya kaos yang dikenakan pun menyamai seragam kesebelasan sepak bola berbagai negara peserta putaran final, antara lain ya regu Belanda dengan warna dasar oranye dan regu Brasil dengan warna dasar kuning. Sayangnya (atau bagusnya) tidak mengenakan celana pendek kombor dan sepatu bola, melainkan blujin biru ketat berbagai merek dan sepatu olah raga putih.

Kesannya memang nanggung, bukan seragam pramugarinya yang nanggung melainkan ide dasarnya Adam Air ini. Kalau maksudnya berpartisipasi merayakan pesta Piala Dunia, kenapa hanya seragam peladen (pelayan) pesawat saja yang tampil beda. Sementara tak satupun ada atribut lain yang menandakan sedang turut merayakan hajatan sepak bola dunia. Tidak juga ada poster atau brosur atau atribut lainnya, sejak saat keberangkatan hingga kedatangan. Tapi, yo wis-lah….. Wong namanya turut berpartisipasi, ya sesukanya dan seikhlasnya…..

Kalau ada yang sedikit “berbeda” adalah ketika pesawat yang dari Jakarta hendak berangkat menuju Bengkulu, pintunya susah ditutup. Engselnya ngadat. Sekali, dua kali, tiga kali, sampai enam kali dicoba ditarik-tarik untuk ditutup, tetap tidak mau nutup juga. Mau tersenyum melihatnya, bagaimana seorang pramugara bersusah-payah menarik-narik pintu sambil sesekali memukul-mukul engselnya, didampingi oleh seorang pramugarinya, tetap tidak mau nutup juga. Tapi juga deg-degan, lha bagaimana nanti kalau tiba-tiba malah membuka sendiri sewaktu sedang di awang-awang? Setelah usaha yang kesekian kalinya, akhirnya semua lega ketika akhirnya pintu pesawat berhasil ditutup. Tidak perlu ada tepuk tangan untuk “kebodohan” semacam ini….. Kebodohan yang menakutkan…..

***

Sekitar jam 14:30 siang saya mendarat di Bengkulu, yang juga menyebut dirinya dengan bumi Raflesia. Entah mana tulisan yang benar, di bandara ada yang menulis besar-besar dengan Rafflesia (double “f”) dan ada yang menulis Raflessia (double “s”). Saya baru tahu kalau nama bandara Bengkulu yang dulu bernama bandara Padang Kemiling ini rupanya sejak direnovasi tahun 2001 telah berubah nama menjadi Fatmawati Soekarno Airport. Begitu nama resmi yang tertulis di sana.

Sebelas tahun lebih sedikit yang lalu, saya meninggalkan kota ini setelah enam setengah tahun sebelumnya midar-mider melalui kota ini saat masih bekerja di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara. Lebong Tandai, nama tempatnya.

Tahun 1995 terpaksa saya dan teman-teman lainnya eksodus dari perusahaan tambang yang mulai salah urus. Operasi tambang yang sebenarnya masih berprospek bagus itu ternyata pengelolaannya amburadul. Maka sebagian besar pegawainya, tidak staff tidak non-staff, akhirnya merelakan untuk melupakan satu-dua bulan gaji terakhirnya dan memilih eksodus meninggalkan lokasi kerja.

Pihak pemerintah daerah dan departemen teknis terkait yang sesungguhnya sangat diharapkan untuk turun tangan mencarikan jalan keluar, ternyata turun kaki pun tidak. Maka sekitar seribu lima ratus sisa pegawainya akhirnya bagai anak-anak ayam kehilangan induknya. Bubar mencari selamat masing-masing nyaris tanpa bekal. Patut bersyukur bagi mereka yang akhirnya bisa tiba di kampung halaman dengan selamat dengan sisa bekal yang ada.

Kota Bengkulu yang saya jumpai siang itu tampak damai dan sepertinya tidak banyak perubahan. Kota ini memang tidak terlalu ramai dan padat. Jalan-jalan kotanya lebar dan lalu lintas sangat lancar, hingga terasa enak sekali berkeliling kota ini. Sebagai sebuah ibukota propinsi, maka Bengkulu tergolong kota propinsi yang relatif sepi. Barangkali karena letak geografisnya kurang strategis. Bukan kota dagang, bukan juga menjadi kota perlintasan dagang. Belum banyak industri, selain beberapa perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan.

***

Hari pertama di Bengkulu saya sempatkan untuk napak tilas jalan-jalan dan tempat-tempat yang sebagian masih saya ingat arah, rute, lokasi dan namanya. Diantaranya kawasan simpang lima, pasar Minggu, daerah Kampung (tapi ada di pusat kota), daerah pantai dengan benteng Fort Marlborough dan Tapak Padri, pantai Panjang (karena memang pantainya puanjang), bekas rumah ibu Fatmawati dan rumah Bung Karno sewaktu dalam pengasingannya di Bengkulu.

Tidak lupa, tentu saja menikmati makan malam (untuk urusan yang satu ini wajib hukumnya…..). Pilihan jatuh pada menu pindang tulang, di rumah makan “Tanjung Karang”, Jl. Mayjen Sutoyo. Pokoknya ya mampir saja. Entah lagi lapar entah memang enak, pokoknya huenak tenan… Sehingga masuk kembali ke kamar hotel pun dapat nggeblak dengan nyaman.

Ee….., lha kok pas enak-enaknya mulai menyaksikan Piala Dunia babak enam belas besar, tiba-tiba bumi seperti digoyang-goyang. Meskipun goyangannya tidak keras, melainkan goyangan lembut dan mesra, feeling saya dengan cepat dapat mengidentifiksi bahwa sedang terjadi gempa bumi. Tentu saja, mak deg….. terbayang gempa Jogja. Untung hanya sekali saja dan tidak ada gempa-gempa susulan, sehingga tidak menimbulkan keresahan.

Esok hari baru saya memperoleh kepastian setelah melihat televisi, bahwa memang telah terjadi gempa di Bengkulu dengan kekuatan 5,2 skala Richter. Darimana lagi kalau bukan dari gerakan palung Jawa, masih segaris keturunan dengan gempa Aceh, Nias, Jogja, Padang dan terakhir Lampung. Barangkali karena efek getarannya sangat halus dan tidak mengagetkan, maka masyarakat Bengkulu sepertinya tidak terganggu, karena memang gempa-gempa lembut semacam ini sering dirasakan.

Saya hanya kepikiran, bahwa gempa yang sama dengan intensitas lebih lemah atau lebih kuat sepetinya tinggal menunggu tanggal mainnya saja bagi kawasan-kawasan lain yang berdekatan dengan palung Jawa. Tidak ada salahnya untuk waspada.

Bengkulu – 26 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(2).   Jemputan Yang Tak Kunjung Datang

Di lobby kedatangan bandara Adelaide kami duduk-duduk menunggu jemputan, setelah selesai berurusan dengan petugas imigrasi dan karantina di pagi tanggal16 Desember 2003. Sesekali melongok keluar bandara barangkali ada orang yang berdiri membawa tulisan nama saya. Menurut pegawai biro travel di Denpasar tempat saya mengatur rencana perjalanan, akan ada orang yang menjemput di bandara Adelaide. Selanjutnya saya harus menyelesaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan sewa-menyewa kendaraan dengan si penjemput itu.

Hampir setengah jam berlalu, tidak ada tanda-tanda adanya orang yang akan menjemput. Saya coba mencari-cari counter Budget, perusahaan yang akan saya sewa mobilnya. Ternyata masih tutup. Sementara di lobby kedatangan tidak juga muncul si penjemput yang dijanjikan.

Saya kemudian ingat, pegawai biro travel di Denpasar pernah menuliskan nomor tilpun yang harus saya hubungi jika ada masalah di Adelaide. Lalu saya cari tilpun umum. Untuk menilpun perlu koin Australia. Cara termudah untuk memperoleh koin di bandara adalah dengan menukarkan uang dollar Amerika dengan uang Australia, disertai permintaan khusus bahwa saya perlu uang koin untuk menilpun.

Saya kembali menuju ke kotak tilpun umum. Sejenak mempelajari aturan mainnya, lalu pencet-pencet tombol tilpun. Usaha pertama gagal, usaha kedua masih tulalit juga. Rupanya saya dibingungkan dengan penggunaan kode area. Usaha ketiga kali berhasil nyambung, tapi terdengar nada sibuk di seberang sana. Saya jadi kurang yakin, jangan-jangan ada yang salah. Saya coba tanya kepada petugas Satpam bandara yang kebetulan sedang lewat, tentang urut-urutan nomor yang harus dipencet sambil saya tunjukkan nomor yang akan saya hubungi. Ternyata yang tadi saya lakukan sudah benar. Hanya belum berhasil nyambung saja.

Usaha keempat barulah berhasil. Setelah berhalo-halo dan basa-basi sebentar, saya perhatikan suara wanita di seberang sana sepertinya tidak berdialek bahasa Inggris-Australi, melainkan Inggris-Indonesia. Maka, langsung saja saya lanjutkan dengan ngomong Indonesia, dan ternyata nyambung. Kebetulan, pikir saya. Jadi lebih enak suasana sebangsa dan setanah airnya. Lalu saya jelaskan duduknya persoalan. Si ibu di seberang sana, yang saya duga adalah dari partnernya perusahaan travel yang di Denpasar, meminta saya menutup tilpun dulu karena dia akan melakukan pengecekan. Saya diminta menilpun lagi beberapa menit kemudian. OK, permintaan saya turuti. Wong saya memang dalam posisi butuh bantuannya.

Sempat juga agak ragu, jangan-jangan dia hanya berkilah, yang kalau kemudian saya tilpun lagi pesawatnya sibuk terus. Ya maklum kalau ada prasangka seperti ini, soalnya sudah trauma dengan banyak pengalaman di dalam negeri yang mengajarkan hal yang demikian. Untungnya kekhawatiran saya tidak benar. Saat saya tilpun ulang, jawabannya sungguh melegakan. Saya diminta menunggu di luar bandara karena seseorang akan menjemput saya.

Lega rasanya, ketika si penjemput yang ramah muncul tidak lama kemudian. Lalu diibawanya kami memutar bandara dan diantarkan ke counter Budget di terminal kedatangan dalam negeri yang berada di seberang agak ke ujung dari terminal internasional, guna menyelesaikan urusan administrasi lebih dahulu. Wow, lha mestinya kan saya tidak perlu repot-repot tilpun dan menunggu cukup lama, seandainya sebelumnya saya diberitahu. Saya bisa langsung cari tumpangan untuk menuju ke terminal yang satunya. 

Urusan administrasi yang mesti diselesaikan antara lain meliputi pembayaran tambahan biaya sewa kendaraan, pendataan paspor dan SIM Internasional, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan perjanjian sewa-menyewa. Setelah urusan beres, lalu kunci kontak diberikan plus sedikit penjelasan rute yang harus saya lalui untuk menuju hotel. Barang bawaan rupanya sudah dipindahkan oleh si penjemput yang ramah tadi.

Meskipun biaya sewa kendaraan sebenarnya sudah saya bayar di Denpasar, tetapi perlu ada biaya tambahan yang harus saya urus sendiri. Ini karena saya mengambil kendaraannya di bandara Adelaide dan akan mengembalikannya di bandara Darwin. Jarak antara kedua kota itu lebih dari 3.500 km. Wajar kalau untuk itu dikenai biaya tambahan.

Sebelum men-start kendaraan, saya pergunakan beberapa menit pertama untuk mempelajari sejenak situasi kendaraan, termasuk tombol lampu depan, lampu belok, pengatur kaca spion, pengatur wiper, pengatur tempat duduk, pembuka bagasi, lokasi tanki BBM, serta indikator-indikator lainnya yang ada di dashboard mobil sedan Mitsubishi putih bergigi otomatis. Paling penting tentunya mempelajari peta dan rute untuk mencapai hotel. Maklum, dalam beberapa hari ke depan saya akan bertugas rangkap, ya sebagai driver, ya sebagai navigator. Bandara kemudian kami tinggalkan, memasuki kota Adelaide menuju ke hotel yang sudah kami pesan. Lokasi bandara sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 6 km di sisi barat kota Adelaide.

Pagi itu, kota Adelaide sudah mulai sibuk. Sebelum mencapai hotel, saya sempat salah mengambil lajur jalan. Semestinya saya berada di lajur paling kiri dari tiga lajur jalan yang ada, agar mudah untuk membelok ke arah kiri. Karena saya terlanjur berada di lajur tengah, maka kalau saya paksakan juga untuk belok ke kiri pasti akan dimaki oleh pengemudi lain. Daripada baru di hari pertama sudah memperoleh pengalaman buruk dimaki orang, lebih baik saya teruskan saja dulu untuk kemudian memutar lagi mengambil lajur yang benar sehingga mudah untuk berbelok masuk ke hotel. Untungnya, saya cukup berpengalaman untuk urusan salah jalan, sehingga tidak terlalu bingung kecuali memerlukan waktu tambahan untuk mempelajari ulang rute jalan yang benar, dan tentunya juga kehilangan waktu untuk menemukannya.

Saya memperoleh pelajaran berharga pada hari pertama di Adelaide. Pertama, perlunya memahami lebih dahulu situasi bandara yang belum dikenal, jika hendak menempuh perjalanan dengan menyewa kendaraan. Urusannya tidak terlalu repot jika perjalanan akan ditempuh dengan taksi atau ikut rombongan wisata. Kedua, mengantongi nomor-nomor tilpun penting yang terkait dengan rencana perjalanan. Ketiga, memiliki koin uang recehan akan sangat bermanfaat, karena terkadang kotak tilpun umum hanya menerima uang koin saja. Keempat, jika bepergian dengan mengemudi kendaraan sendiri, perlu memastikan terlebih dahulu lokasi tempat tujuan berada di sebelah mananya persimpangan jalan apa.

Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(1).   Jika Mendadak Harus Pulang Kampung

Hari itu, Jum’at, 11 Pebruari 2000. saya harus memutuskan untuk segera pulang kampung karena ibu saya dalam kondisi kritis dan sudah masuk ICU di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Sejak tiga hari sebelumnya ketika pertama kali menerima kabar dari kampung bahwa ibu saya masuk Rumah Sakit, saya memang sudah mulai berhitung untuk pulang ke tanah air. Tapi kapan ?

Ternyata memilih hari adalah keputusan yang tidak mudah. Barangkali karena saya punya pengalaman yang tidak menguntungkan, yaitu saat menanti kelahiran anak pertama saya. Tahun 1991, saat saya masih bertugas di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara, dimana komunikasi ke luar job-site masih jadi kendala. Saya berangkat cuti sekitar dua hari sebelum hari H yang diperkirakan dokter anak saya akan lahir.

Harap-harap cemas menyertai hari-hari cuti saya di Yogya. Lewat satu minggu cuti belum ada tanda-tanda bayi akan lahir. Hingga hari kesepuluh, masih juga belum. Hari ke-11, 12, 13, terlewati masih juga belum ada tanda-tanda istri akan melahirkan. Dalam hati saya sempat ngedumel : “doktere ngapusi” (dokternya bohong). Apa boleh buat, jatah cuti dua minggu habis, maka terpaksa pulang ke job-site tinggal membawa rasa cemas saja, rasa harapnya sudah saya titipkan istri saya di Yogya. Sebenarnya bisa saja memperpanjang cuti, tapi masalahnya harus jelas sampai kapan memperpanjangnya. Dan ini yang susah.

Hari kedua setiba di job-site, saya terima tilgram bahwa istri saya sudah melahirkan dengan selamat. Akhirnya, ya cuti lagi, tapi tidak menangi (sempat melihat atau mengalami) detik-detik kemerdekaan jabang bayi anak pertama saya. Pengalaman inilah yang membuat saya sulit untuk memutuskan kapan harus pulang menjenguk ibu yang sedang ada di Rumah Sakit. Meskipun akhirnya, hari Jum’at itu saya putuskan untuk secepatnya harus pulang.

Kemudian ternyata tidak mudah untuk memperoleh tiket penerbangan dari New Orleans menuju Semarang, sebelum nantinya saya sambung dengan taksi ke Kendal. Kesulitan memperoleh tiket ini disebabkan oleh dua alasan : mendadak dan di akhir pekan. Saya dan keluarga sempat bimbang, antara saya pulang sendirian atau bersama semua keluarga. Keputusan akhirnya, saya pulang sendirian. Bukan soal biayanya, melainkan karena pertimbangan cuti pamit dari kantor yang hanya dua minggu padahal perjalanan cukup jauh, juga lantaran anak-anak sedang enjoy dengan sekolahnya.

Anak saya yang kelas 3 SD kelihatan gelo (menyesal) untuk meninggalkan sekolah sewaktu mau saya ajak pulang ke kampung. Selain itu juga lebih sulit mendapatkan tiket untuk empat orang dalam keadaan mendadak. Dengan akhirnya saya berangkat sendirian, ternyata nantinya ini akan memudahkan perjalanan saya untuk ber-manouver lebih bebas guna mencari alternatif penerbangan yang lebih cepat dalam situasi emergency seperti ini.

Agaknya, di Amerika sarana transportasi udara sudah menjadi kebutuhan, layaknya kereta api atau bis malam di Jawa. Bukan lagi kemewahan untuk mendapatkan privilege. Jika harus membeli tiket pesawat mendadak, maka selain sulit untuk membuat pilihan-pilihan, juga mesti siap dengan harga tiket yang lebih tinggi.

Dalam situasi tidak mendadak, peluang untuk memperoleh harga tiket murah sangat dimungkinkan, bahkan bisa kurang dari seperempatnya. Demikian halnya di saat akhir pekan (biasanya hari Jum’at hingga Minggu) adalah saat padat penumpang yang akan liburan ke luar kota atau pulang ke daerah asalnya bagi para pekerja pendatang dari lain kota.

Untungnya soal harga tiket ini sudah tidak menjadi perhitungan saya, karena perjalanan saya dibiayai oleh kantor. Meskipun demikian toh saya tidak berhasil memperoleh tiket untuk hari Sabtu besoknya.

Berkat bantuan sekretaris kantor yang berbaik hati menguruskan tiket (meskipun saat itu dia sedang berakhir pekan), saya bisa berangkat hari Minggunya. Pemesanan tiket melalui layanan 24 jam tiket elektronik (e-ticket) melalui media internet, memudahkan saya untuk hari Minggunya tinggal datang saja langsung ke bandara. Dengan menunjukkan kartu identitas, maka tiket kertas (paper ticket) bisa dikeluarkan.

Rutenya adalah hari Minggu pagi berangkat dari New Orleans ke Dallas-Ft.Worth, langsung sambung ke Tokyo dan akan tiba di Tokyo hari Senin sore. Menginap semalam di Tokyo, untuk Selasa besoknya menuju Jakarta, dan dijadwalkan tiba di Jakarta sudah menjelang malam. Saat itu saya tidak terlalu memusingkan tentang rencana perjalanan tersebut. Bisa berangkat hari Minggu saja sudah senang rasanya.

Itu sebabnya, kemudian saya belakangan khawatir apa kira-kira masih bias nyambung ke Semarang malam itu juga untuk selanjutnya menuju ke Kendal. Jika tidak, artinya saya baru akan tiba di rumah hari Rabunya. Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi juragan milisi Upnvy*), siapa tahu beliau bisa membantu memberi info, karena saat itu saya sudah telanjur unsubscribe.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

__________

*) milisi Upnvy : sebutan untuk mailing list alumni UPN “Veteran” Yogyakarta, serta para simpatisan.

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(2).   Jika Kabar Duka Datang Tiba-tiba

Minggu pagi, 13 Pebruari 2000, jam 05:30, sekitar setengah jam sebelum saya berangkat menuju bandara New Orleans, tiba-tiba datang kabar duka dari Kendal bahwa ibu saya telah meninggal dunia sekitar satu  jam yang lalu, yang berarti Minggu sore di Kendal. Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.

Ternyata Tuhan telah merencanakan berbeda dari yang saya rencanakan. Sudah pasti saya tidak akan menangi almarhum ibu saya. Lha wong baru akan tiba di rumah hari Selasa malam atau mungkin malah hari Rabunya. Maka saat itu juga saya pesankan agar secepatnya dilakukan persiapan pemakaman tanpa perlu menunggu kedatangan saya.

Dengan perasaan tidak menentu di sepanjang perjalanan menuju bandara New Orleans, saya mantapkan niat bahwa musibah ini harus dihadapi dengan ikhlas dan tawakal. Hanya dalam doa di sepanjang perjalanan pulang dari New Orleans ke Kendal, saya bisa menyertai ibu saya yang sudah lebih dahulu menghadap Sang Maha Pencipta.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar