Bersama Keluarga, Kami Melancong ke Bledug Kuwu

Siap-siap... Siap-siap...

Siap-siap... Siap-siap...

Perjalanan bersama keluarga selalu menjadi bagian penting dan mengesankan dalam episode hidup setiap orang (kecuali keluarga yang berantakan…). Ke Blora adalah tujuan kami sekeluarga kali ini dalam rangka bersilaturrahim dengan pak de, bu de, pak lik, bu lik, eyang, serta segenap sanak-sedulur dari anak-anak saya.

Seperti biasanya sejak empat tahun yang lalu, sebuah kijang LGX 2000 cc warna hitam metalik senantiasa menjadi kebanggaan kami setiap kali melakukan perjalanan keluarga. Juga perjalanan ke Blora kali ini, seekor kijang kelahiran tahun 2002 itu pun tetap setia menemani kami. Sudah terbayang sebelumnya kalau kijang yang saya kemudikan sendiri bakal melintasi penggal jalan yang ngombak-banyu dan mbrenjul-mbrenjul antara Solo – Purwodadi – Blora. 

Dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Blora, melewati kota Solo dan Purwodadi, saya sempatkan untuk mampir sejenak di obyek wisata Bledug Kuwu. Ini adalah obyek wisata yang sebenarnya sangat menarik. Terletak di desa Kuwu, kecamatan Kradenan, kabupaten Grobogan. Di sana terdapat semburan lumpur dingin tidak sebagaimana lumpur Sidoarjo, atau lebih tepat disebut letupan-letupan lumpur yang mengandung garam. Letupan lumpur berwarna abu-abu kehitaman itu terjadi secara periodik. Setiap kali muncrat, mengeluarkan uap air, gas belerang dan air garam, menimbulkan bunyi bledag-bledug….., seperti mercon bumbung (bambu), makanya disebut Bledug Kuwu.

Di pertengahan antara Purwodadi dan Blora yang berjarak sekitar 60 km ada desa Wirosari. Dari Wirosari menuju selatan sekitar 7 km, maka sampailah ke lokasi Bledug Kuwu. Ada penunjuk jalan yang mudah diikuti. Sayang obyek wisata ini belum terlalu populer. Kalau bukan karena sedang dalam perjalanan antara Purwodadi – Blora, rasanya orang malas untuk sengaja datang ke sana. Apalagi kalau tahu kondisi jalan antara Purwodadi – Blora yang tidak pernah nyaman dilalui.

Untuk mencapai lokasi Bledug Kuwu memang kurang menyenangkan. Jalur jalan Purwodadi – Blora, juga Solo – Purwodadi, adalah jalur jalan yang tidak pernah bagus. Sekarang sudah semakin lumayan kondisinya, meski masih tetap mbrenjul-mbrenjul. Kondisi tanahnya memang tidak stabil. Diperbaiki seperti apapun, nampaknya jalan raya beraspal itu kok ya enggak bagus-bagus juga. Berbagai teknik sudah dikerjakan dan terakhir dicoba dibeton seperti lajur busway di Jakarta.

Melaju dengan kijang di sepanjang penggal jalan Purwodadi – Blora kudu ekstra hati-hati. Kendati jalannya tampak beraspal mulus, tapi ngombak-banyu, meliak-liuk bak roller coaster. Sesekali bisa melaju kencang, terkadang perjalanan bisa dinikmati sambil lenggut-lenggut kayak sapi, tapi kali lain mak jegagik…. ada lubang perlu dihindari. Sejauh itu, kijang yang saya kemudikan masih mampu bergerak lincah di tengah jalan buruk yang terkadang kudu jeli memilih-milih dan terkadang terpaksa dijalani begitu saja.

Agaknya pemda kabupaten Grobogan belum tergerak untuk “menjual” Bledug Kuwu secara maksimal. Kesan pertama ketika tiba di lokasi ini adalah kurang terjaga kebersihan dan perawatannya, serta kurang menariknya tata ruang di dalam kompleks kawasan Bledug Kuwu. Masih terkesan dikelola seadanya. Padahal untuk masuk ke lokasi harus mbayar. Sayang sebenarnya kalau mengingat keunikan fenomena alam ini. Meski tidak sensasional seperti semburan lumpur Sidoarjo, namun bledug gelembung lumpur yang mengandung air garam yang muncrat di dataran yang jauh dari laut, rasanya tidak ada duanya di Indonesia, bahkan mungkin dunia. Mestinya ada yang bisa diraih lebih dari yang ada sekarang.

Di Amerika ada dataran luas bernama Salt Lake (padang danau garam) yang berasal dari dangkalan laut kemudian berubah menjadi daratan sangat luas. Sedangkan daratan Bledug Kuwu di Grobogan, menurut ilmu geologi dulu-dulunya berada di dasar laut. Proses pengangkatan dan penumpukan muncratan material yang mengandung garam yang tiada henti jaman demi jaman, akhirnya sekarang menjadi daratan yang berada pada ketinggian lebih 53 m di atas permukaan laut, mencakup kawasan seluas lebih 45 ha dengan suhu sekitar 31 derajat Celcius. Makanya orang menyebutnya sebagai lumpur dingin, meski sebelumnya saya mengasosiasikan dingin ini dengan dinginnya air pegunungan. Tapi rupanya dingin di sini adalah tidak panas.

Adanya kandungan air garam, ada yang oleh masyarakat setempat kemudian dimanfaatkan untuk diolah secara tradisional menjadi garam dapur. Konon kemasyhuran garam Bledug Kuwu pernah tercatat dalam sejarah keraton Surakarta. Ada juga yang mengambilnya untuk digunakan sebagai lulur agar terhindar dari penyakit kulit. Barangkali daripada membeli lulur buatan pabrik beraroma macam-macam, mendingan tubuhnya ditemploki lumpur beraroma belerang. Toh, kalau dilulurkan ke wajah akan sama-sama mampu merubah penggunanya tampil menyerupai hantu…..

Tapi kenapa muncratan lumpur dingin yang mengandung garam ini hanya ada di desa Kuwu? Karena duluuuuu…., menurut sohibul-dongeng, keanehan itu disebabkan adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan laut selatan (pokoknya kalau ada cerita tentang kehidupan bawah tanah di Jawa, ujung-ujungnya pasti laut selatan). Cerita ini ada kaitannya dengan legenda Ajisaka yang memerintah di Medang Kamolan dan legenda seekor naga bernama Jaka Linglung yang mengaku sebagai anak Ajisaka. Saya yakin kalau anak-anak sekarang pasti tidak kenal dengan kisah Ajisaka dan Bajul Putih. Padahal di jaman saya kecil dulu, kisah ini sangat populer.

Kocaping carito….. Terdorong keinginan untuk diakui sebagai anak, Jaka Linglung menyanggupi permintaan Ajisaka untuk membunuh Dewata Cengkar, seorang mantan penguasa yang dholim dan suka makan daging manusia yang ketika lengser keprabon berubah menjadi buaya putih (makanya hati-hati kalau jadi penguasa, matine dadi boyo….. kalau meninggal jadi buaya, sebuah petuah agar jangan jadi penguasa yang zalim, begitu kata orang-orang tua). Jaka Linglung pun segera berangkat. Oleh Ajisaka, Jaka Linglung tidak diperkenankan melalui jalan darat agar tidak mengganggu ketenteraman penduduk. Maklum, Jaka Linglung ini termasuk bonek, daripada nanti ekornya nimpukin rumah penduduk. Sebaliknya, Ajisaka mengharuskan Jaka Linglung agar menempuh perjalanan  ke Laut Selatan melalui subway, lewat dalam tanah.

Beberapa kali Jaka Linglung mencoba muncul ke permukaan, karena mengira telah sampai di tempat yang dituju, ternyata belum. Hingga terakhir nyembul di desa Kuwu. Di Kuwu inilah, konon Jaka Linglung sempat melepas lelah. Dan tempat munculnya Jaka Linglung inilah yang kini dipercaya menjadi asal muasal munculnya Bledhug Kuwu. Tapi kok asin? Ya, karena sebelumnya Joko Linglung nenggak air laut kidul…..

***

Jadi, kalau kebetulan berkesempatan melancong ke Bledug Kuwu, kita akan takjub menyaksikan fenomena alam yang unik dan memberi berkah bagi masyarakat sekitarnya. Sebaiknya  kalau mau berkunjung ke Bledug Kuwu jangan di siang hari bolong. Sebab lokasinya gersang, tandus dan poanas, nyaris tanpa pepohonan, meski ada juga orang-orang yang menjual jasa menyewakan payung.

Iklan

Tag: , , , , , , ,

13 Tanggapan to “Bersama Keluarga, Kami Melancong ke Bledug Kuwu”

  1. en_me Says:

    pak yusuf, saya pun punya kijang, tapi di sini dipanggil ‘toyota unser’..
    waduh, interesting jugak membaca cerita dongeng itu yah..

  2. de_demmit@yahoo.co.id Says:

    wah,…senang rasanya ada yang mo menulis tentang Bledug kuwu, kebetulan saya tinngal tidak jauh dari tempat itu…sebenarnya di sebelah utara bledug kuwu sekitar 5km juga ada fenomena separti itu gundukan lumpurnya lebih tinggi -+7m dari permukaan tanah sekitarnya tepatnya di desa
    sendang rejo tp tak sebesar di bledug kuwu.

  3. Retty Says:

    Wah kayaknya lumayan banyak postingan yang masuk nominasi nih pak…semoga menang ya!
    Pasti seru dengar cerita Disneyland dari pak Yusuf he..he..he…

  4. Om Darto Says:

    Wah… mau mudik ke PATI lewat solo purwodadi… sedih juga ya Pak. Kaya lewat kali-asat. Tapi ya harus mudik besok….. Moga-moga lancar di jalan

  5. ronggo cs Says:

    makasih pak yusuf dah sudi mengakses cerita bledug kuwu

  6. komari Says:

    trimakasih telah mempublikasikan bledug kuwu,saya sebagai warga sekitar merasa bangga ada yang mempublikasikannya.

  7. madurejo Says:

    Pak Ronggo, Pak Komari, terima kasih kembali.
    Semoga banyak potensi daerah semakin dikenal. Slm.

  8. Nanang_careand Says:

    wah enak ya kalo jalan2 sekeluarga . . . 😀

    mampir yuk –>http://www.vidberry.com

  9. Pujieriyanto Says:

    Perjalanan laut kidul sampe bledug kuwu belum selesai karena joko linglong belum sampe rumahnya medang akhirnya joko linglung masuk dalam tanah lagi tiba tiba joko linglung naik ke permukaan bumi muncul di kesongo terus akhirnya joko linglung di suruh aji saka ayahnya untuk bertapa di kesongo. Kenapa di namakan kesongo karena joko linglung saat bertapa memakan 9 orang atau bahasa jawanya mangan wong songo

  10. hargatronik Says:

    mantap sekali, setiap perjalanan diceritakan dalam blog, keep up good work bang..

  11. angkisland Says:

    wah keren emang tempat ini… kijangnya keren om ajak” yah hehe

  12. Moh Dahlan Says:

    sejak jokowi naik jadi presiden jalan kuwu sekarang halus mulus pak.kalau mau ke kuwu dengan jalan mulus bapak bisa lewat yogya-bawen – beringin- gubug- purwodadi -kuwu. lebih banyak jalan mulusnya di banding jalan kubangan. sekarang sangat jauh berbeda dibanding sebelum era jokowi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: